Anda di halaman 1dari 7

ILMU JADAL AL-QURAN

Posted on October 5, 2012


Al-Qur`n kata Syekh Muhammad Abduh mengandung berita bangsa-bangsa silam yang
dapat dijadikan contoh perbandingan bagi umat sekarang dan yang akan datang, ia memuat berita
pilihan yang dipastikan kebenarannya. al-Qur`n menceritakan hikayat para Nabi dan peristiwa-
peristiwa yang terjadi antara mereka dengan umatnya. Ia juga mensyariatkan kepada manusia
hukum-hukum yang sangat cocok dengan kemaslahatan kehidupan mereka. Sejalan dengan
keyakinan Abduh itu, Nashr menegaskan pula bahwa :
Al-Qur`n berisi petunjuk bagi manusia agar ia mampu memenuhi janjinya kepada Tuhan.
Karenanya al-Qur`n menjadi pusat kehidupan Islam. Al-Qur`n adalah dunia di mana seorang
muslim hidup. Ketika ia dilahirkan, di telinganya dibisikkan syahadat yang terdapat dalam al-
Qur`n. Ia mempelajari al-Qur`n sejak ia mulai bisa berbicara. Ia mengulangnya setiap hari
dalam shalat. Ia dinikahkan melalui pembacaan al-Qur`n. Dan ketika ia mati dibacakan al-
Qur`n kepadanya. Al-Qur`n adalah serat yang membentuk tenunan kehidupannya, ayat-ayat al-
Qur`n adalah benang yang menjadi rajutan jiwanya.
Posisi al-Quran sebagai kitab terakhir yang diturunkan Tuhan kepada manusia mengharuskannya
untuk selalu relevan dan mampu menembus ruang dan waktu (salih li kulli zaman wa al-makan).
Fenomena jadal al-Quran adalah salah satu bentuk nyata relevansi al-Quran, di mana ia selalu
berdialog dengan lokalitas dan temporalitas para pembacanya. Perkembangan studi al-Quran
kontemporer, khususnya kajian jadal al-Quran, justru berjalan kontra-produktif dengan tujuan
penurunan al-Quran itu sendiri. Para pengkajinya cenderung memahami fenomena jadal
menggunakan pendekatan moral dan hukum dengan status halal-haram dan tata cara berdebat
yang baik sebagai fokus kajiannya. Ironisnya, sebagian pihak malah menelan mentah-mentah
fenomena tersebut sehingga menghadirkan pemahaman yang meresahkan. Akhirnya al-Quran
hanya menjadi standard penentuan hukum dan kehilangan keluwesannya untuk berdialog dengan
siapapun yang membacanya.
Berbagai upaya dalam membantah kebenaran al-Qur`n, dilakukan manusia sejak masa turunnya,
namun selalu kandas. Sebab bantahan al-Qur`n selalu lebih kuat. Kekuatan bantahan al-Qur`n
ini, antara lain adalah dalam kedudukan uslub bahasanya yang juga bermuatan mujizat. Menurut
al Zarqani bahwa di antara kemukjizatan al-Qur`n terdapat pada kefasihan lafadznya serta
keindahan uslubnya yang tidak bisa ditandingi. Pembicaraan di sekitar bantah membantah dalam
al-Qur`n itulah yang kemudian dalam disiplin Ulum al-Qur`n dikenal dengan istilah Jadal al-
Qur`n. Tulisan ini, akan mencoba melihat permasalahan di sekitar Jadal al-Qur`n tersebut,
meliputi: pengertian Jadal, macam dan topiknya, tujuan dan metodenya.
A. Definisi Jadal al-Qurn
Allah menyatakandalam al-Qurn bahwa jadal (berdebat) merupakan salah satu tabiat manusia.
Seperti firman-Nya dalam Al-Qurn, (QS, al-Kahfi:54):


Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak debatannya
Secara etimologi, Jadal atau Jidal dalam bahasa Arab dapat dipahami sebagai perbantahan dalam
suatu permusuhan yang sengit dan berusaha memenangkannya.
Sedangkan secara terminologi, jadal adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan
masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau
pendapatnya dalam suatu perdebatan yang sengit (Hasbi, 2009:121).
Dalam kajian Ulum al-Quran Jadal al-Qur`n merupakan pembuktian-pembuktian serta
pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada orang-orang kafir
dan mematahkan argumentasi para penentang dengan seluruh tujuan dan maksud mereka,
sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia.
Daripada itu Rasulullah SAW diperintahkan untuk berdebat dengan kaum musyrikin dengan cara
yang baik sehingga mampu meredakan keberingasan mereka. Disamping itu Allah SWT
memperbolehkan manusia untuk bermunzarah (diskusi) dengan ahlu al-kitab namun dengan cara
yang baik. Sebagimana Munzarah ini bertujuan menampakkan hak kebenaran dan menegakkan
hujjah atas validitas al-Qurn. Maka dengan ini kita mengetahui esensi metode jadal al-Qurn
dalam memberikan petunjuk kepada orang kafirdan mengalahkan para penentang al-Qurn
B. Tujuan dan manfaat Jadal Al-Quran
Jadal al-Qur`n memiliki berbagai tujuan, yang dapat ditangkap dari ayat-ayat al-Qur`n yang
mengandung atau yang bernuansa Jadal. Secara umum, kegunaan Jadal A-Quran bagi kita umat
muslim ialah untuk memperkuat iman kita karena dengan adanya perdebatan-perdebatan dalam
Al-Quran mampu membuka cakrawala kita tentang kebenaran Allah, kitab Allah dan para
RosulNya. Serta menambah pengetahuan kita bahwa Allah dan kebenaran Al-Quran tidak
terbantahkan.
Sedangkan tujuannya secara khusus di antaranya adalah :
1. Sebagai jawaban atau untuk mengungkapkan kehendak Allah dalam rangka penetapan dan
pembenaran aqidah dan qaidah syariah dari persoalan-persoalan yang dibawa dan
dihadapi para Rasul, Nabi dan orang-orang shaleh.
2. Sebagai bukti-bukti dan dalil-dalil yang dapat mematahkan dakwaan dan pertanyaan-
pertanyaan yang muncul di kalangan umat manusia, sehingga menjadi jelas jalan dan
petunjuk ke arah yang benar.
3. Sebagai layanan dialog bagi kalangan yang memang benar-benar ingin tahu, ingin
mengkaji sesuatu persoalan secara nalar yang rasional , atau melalui ibarat maupun melalui
doa.
4. Untuk menangkis dan melemahkan argumentasi-argumentasi orang kafir yang sering
mengajukan pertanyaan atau permasalahan dengan jalan menyembunyikan kebenaran.
1. C. Tema (Maudlu) dalam Jadal Al-Quran
Adapun mengenai terma (maudlu) dalam Jadal al-Qur`n, cukup banyak tersebar dalam berbagai
surah dan ayat al-Qur`n. Al Almaaiy mengkategorikannya ke dalam enam kelompok terma
yakni :
1. Jadal dalam penetapan wujud Allah (Q.,s. al Jaatsiyah/45 : 24-28)
2. Jadal tentang penetapan Keesaan Allah (Q.,s. al Anbiya/21 : 22)
3. Jadal tentang Penetapan Risalah (Q.,s. Nuh/71 : 1-3)
4. Jadal tentang Kebangkitan dan Pembalasan (Q.,s. al Muminun/23 : 81-83 dan Q.,s. Qaaf/50 :
12-15)
5. Jadal tentang Tasyriat (Q.,s. al Nahl/16 : 36 & Q.,s. al Anbiya/21 : 25), 6. Jadal tentang aneka
tema lainnya, seperti:
a Jadal Bani Adam (Q.,s. al Maidah/5 : 27-31),
b. Jadal Ibrahim a.s. tentang kaum Luth (Q.,s. Hud/11 : 74-76).
c. Jadal antara Musa dan Hidlir a.s (Q.,s. alKahfi/18 : 60-72),
d. Jadal antar orang shabar yang miskin dan orang kafir yang kaya (Q.,s. al Kahfi/18 : 32-43)
e. Jadal Keluarga Firaun yang beiman dengan kaumnya (Q.,s. al Muminun/23 : 27-40)
f. Jadal Yahudi dan Nasrani tentang Ibrahim a.s. (QS. Ali Imran/3 : 65.
g. Jadal Munfiqin dengan Muminin (Q.,s. al Baqarah/2 : 11-14).
Di antara sekian maudlu Jadal dalam al-Qur`n menurut analisis Al Almaaiy terma yang
pertama dan kedua yakni tentang Wujud dan Keesaan Allah yang paling banyak mendapat
sorotan. Dengan menggunakan kerangka jenis/macam Jadal yang dikemukakan terdahulu, bila
dicermati secara baik, tentunya dapat diduga dari contoh-contoh tersebut di atas, mana yang
tergolong Jadal yang mahmud dan mana yang mazdmum.
D. Metode Jadal yang ditempuh al-Qurn
Al-Qurn tidak menempuh metode yang dipegang teguh para ahli kalam yang memerlukan
adanya muqaddimah (premis) dan ntijah (konklusi) seperti dengan cara beristidll dengan
sesuatu yang bersifat kully (universal) atas yang juzi (partial) atau sebaliknya. Akan tetapi al-
Qurn banyak mengemukakan dalil dan bukti yang kuat serta jelas yang dapat dimengerti
kalangan awam dan orang ahli sehingga mampu mematahkan setiap kerancuan dengan
perlawanan dalam tata bahasa yang konkrit, indah, dan tidak memerlukan pemerasan akal (al-
Qattan, 1998:427).
Seperti yang dikemukakan oleh Imam Najmuddn al-Sfi dan juga al-Zarkshi dalam kitabnya al-
Burhn Ulmi al-Qurn bahwa al-Qurn mencakup segala macam keterangan dalil dan bukti
dimana tidak ada satupun dalil atau bukti mengenai sesuatu baik berupa persepsi akal maupun
dalil naql yang universal kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah SWT
mengungkapkannya sejalan dengan kebiasaan bangsa Arab dan bukan dengan kebiasaan berpikir
ahli kalam (mutakallimn). Hal tersebut dikarenakan 2 sebab yaitu:
1. Ayat Al-Qurn (QS, Ibrahim:4), yang menyerukan bahwa Rasul diutus sesuai dengan
bahasa kaumnya, yaitu:


Dan kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya.
Orang yang cenderung memakai argumentasi yang pelik dan rumit justru sebenarnya ia tdak
mampu menegakkan hujjah dengan kalam agung. Karena ia mengungkapkan sesuatu dengan cara
yang kabur dan penuh teka-teki bahkan tidak jelas untuk dipahami banyak orang (Jalaluddin:80).
Namun daripada itu Allah SWT juga memaparkan seruan-Nya kepada makhluk-Nya dalam
bentuk argumentasi yang agung meliputi juga bentuk yang paling pelik dengan tujuan agar orang
awam memahami dari yang agung tersebut sehingga memuaskan mereka menerima hujjah-hujjah
dan dari celah keagungannya kalangan ahli pun mampu memahami sesuai dengan tingkat
pemahaman sastrawan.
Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih banyak tentu lebih
banyak pula pengetahuan tentang ilmu al-Qurn. Dengan itu Allah SWT selalu menyebutkan
hujjah ayat-ayatNya dengan hubungan kalimat mereka yang berakal dan mereka yang
berpikir, dengan tujuan mengingatkan bahwa setiap potensi-potensi tersebut dapat digunakan
untuk memahami hakikat hujjah-Nya (Al-Qattan, 1998:429). Seperti dalam firman Allah SWT
(QS, Al-Raad:4) :

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berakal.
Dan perlu kita ketahui bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat al-Qurn memerlukan ketajaman
pemikiran dan penggunaan bukti-bukti rasional. Contoh seperti firman Allah (QS, al-Anbiya:22)
:

Seandainya ada di langit dan di bumi Tuhan-tuhan selain Allah tentulah keduanya itu telah
hancur dan binasa.
Ayat diatas mengisyaratkan pembuktian tentang pencipta alam itu satu, maka dari itu ayat ini bisa
terbukti secara rasional. Sebab, jika alam ini mempunyai 2 pencipta maka akan terjadi 3
kemungkinan yaitu :
1. Pengendalian dan pengaturan alam tidak akan berjalan secara teratur karena terjadi
kontradiksi yaitu pemilahan kerja dari keduanya
2. Keinginan mereka tidak terlaksana maka menyebabkan bukti kelemahan mereka
3. Bila keinginan salah satunya tidak terlaksana maka menyebabkan bukti kelemahannya,
padahal Tuhan itu tidak mungkin lemah.
Adapun secara khusus, metode Jadal Al-Quran adalah:
1. Membungkam lawan bicara dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah
diakui dan diterima akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari. Seperti penggunaan
dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya Khalik, misalnya ayat (QS, al-Nur: 35-36)


Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka
sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak
meyakini (apa yang mereka katakan).
1. Mengambil dalil dengan mabda (asal mula kejadian) untuk menetapkan maad (hari
kebangkitan). Seperti firman Allah SWT (QS, al-Thariq:5-8):


Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari
air mani yang terpancar. Yang keluar diantara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada
perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya ( hidup
sesudah mati).
Termasuk beristidll dengan kehidupan bumi sesudah matinya untuk menetapkan kehidupan
sesudah mati untuk dihisab, seperti firman Allah SWT (QS, al-Anbiya:104):


Sebagaimana kami telah memulai penciptaan yang pertama.
1. Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan kebenaran kebalikannya, seperti
bantahan terhadap pendirian orang Yahudi, sebagaimana yang diceritakan Allah SWT
dalam firman-Nya (QS, al-Anam:91):


1. Menghimpun dan memerinci ( al-sabr wa al-taqsim) yakni menghimpun beberapa sifat dan
menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut bukanlah illah (alasan hukum) seperti firman
Allah SWT (QS, al-Anam:143) :


Delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing.
Katakanlah: apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina ataukah
yang ada dalam kandungan dua betinanya?. Terangkanlah padaku dengan berdasar
pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar.
Ayat ini menginpretasikan bahwa sesungguhnya ketika orang-orang kafir mengharamkan hewan
jantan dan kadang-kadang betinanya, Allah SWT membantahnya dengan cara sabru dan taqsim
dimana sesungguhnya segala penciptaan adalah milik Allah, Dia menciptakan dari segala yang
berpasangan baik jantan maupun betina, maka dengan alasan apa mereka mengharamkannya???
1. Membungkam lawan dan mematahkan hujjahnya dengan menjelaskan bahwa pendapat
yang mereka kemukakan adalah tidak masuk akal dan tidak dapat diakui. Misalnya dengan
firman Allah SWT (QS, al-Anam:101):


Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai
istri? Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia Mengetahui segala sesuatu.
Dapat kita ketahui dalam ayat diatas telah ditegaskan bahwa Allah tidak mempunyai anak seperti
apa yang mereka (orang musyrik) kemukakan, karena proses kelahiran anak tidak mungkin
terjadi dari sesuatu yang satu. Dengan kemahatauanNya akan segala sesuatu maka mustahil jika
Dia sama dengan benda-benda fisik alami yang melahirkan sesuatu. Dengan demikian maka tidak
benar menisbahkan Anak kepadaNya
Wallahualam Bishowb
DAFTAR PUSTAKA
Al-Suyuthi, Jalaluddin.Samudera Ulmu al-Qurn. Surabaya: Bina Ilmu Offset.2008
Al-Qattan, Manna Khalil.Terjemah Mabahis Fi Ulumil Quran. Jakarta: Pustaka al-Kautsar. 2006
Studi Ilmu-ilmu al-Qurn.Jakarta :PT.Pustaka Litera Antar Nusa. 1998
Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Ilmu-Ilmu al-Quran. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Edisi ketiga.
2009
Al-Quran danTerjemahan.
http://luthfi-damanhuri.blogspot.com/2009/05/amsal-aqsam-jadal-dalam-al-quran.html diakses 18
November 2011
http://Moh-Jainulanwar.blogspot.com/jadal-a-quran.html.diakses pada 20 November 2011