Anda di halaman 1dari 3

FLIGHT TRANSPORTATION CORPORATION

Pelanggaran Standar oleh KAP :


1. Standar pekerjaan lapangan :
 Objektivitas yang ada dalam auditor sangat kurang, sehingga
opini audit tidak didasari dengan bukti-bukti yang kuat ataupun
bukti yang memadai.
2. Standar pelaporan :
 Integritas dalam pengauditan kurang bagus, dikarenakan auditor
tidak mencantumkan pernyataan bahwa laporan keuangan FTC
tidak sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum ( PABU ).
 Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan tidak
memadai, karena ketidaklengkapan dokumen pendukung dan
terdapat data yang tidak diberikan serta adanya data yang
dicurigakan.
 Pernyataan yang dikeluarkan salah.
3. Standar umum :
 Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan,
independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh
auditor,sedangkan dalam kasus ini kurang adanya independensi di
mana auditor memihak kepentingan kliennya dengan kemampuan
teknis yang ia miliki.
 Dalam pelaksanaan audit, auditor tidak menggunakan kemahiran
profesionalnya dengan cermat dan seksama.

Pelanggaran Kode Etik oleh KAP :


 Auditor tidak menjunjung tinggi peraturan dan etika profesi serta hukum
Negara dalam melaksanakan pekerjaanya.
 Dalam pelaksanaan audit tidak sesuai dengan standar teknis dan
professional yang relevan.
 Tidak dapat mempertahankan integritasnya dengan adanya indikasi
memihak kepada pihak klien.
 Tidak melaksanakan audit sesuai dengan SAP.
 Tidak adanya pelaporan atas tindakan yang melanggar kode etik.
 Tidak adanya kerahasiaan, di mana seorang akuntan profesional harus
menghormati kerahasiaan informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari
hubungan professional dan bisnis serta tidak boleh mengungkapkan
informasi apapun kepada pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik,
kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak professional dan
bisnis serta tidak boleh digunakan untuk keuntungan pribadi akuntan
professional atau pihak ketiga.
 Kurangnya perilaku professional.
Langkah yang harus dilakukan oleh Harrington selaku senior partner yang
professional :
 Mengganti opini yang telah dikeluarkannya yaitu unqualified opinion
menjadi disclaimer opini.
 Memberikan kembali pengarahan kepada Arnott tentang kode etik dan
standar akuntan.
 Memberikan pengarahan kepada pihak FTC agar memperbaiki internal
controlnya yang sangat lemah.

Masalah / kejadian yang perlu diperhatikan :


 Kenaikan pendapatan yang signifikan dari tahun 1980-1981.
 Alokasi pendapatan IAS ke pendapatan FTC, yang di akuinya sebagai
sumbangan dari IAS.
 Tidak adanya dokumen pendukung atas pendapatan yang berjumlah
signifikan.
 Adanya pembatasan ruang lingkup audit.
 Tidak adanya integritas dan objektifitas auditor.
 Tingkat independensi auditor yang perlu dipertanyakan.
 Kurangnya basis yang memadai bagi auditor dalam merumuskan suatu
pendapat.

Solusi atas masalah / kejadian yang memerlukan perhatian :


 Auditor perlu melakukan pengujian analitik ( analytical test ) – analisis
ratio, analisis laba bruto, analisis terhadap laporan keuangan perbandingan
( comparative financial statement ) merupakan cara yang umumnya
ditempuh oleh auditor untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan
secara garis besar mengenai keadaan keuangan dan hasil usaha klien –
sehingga auditor dapat menilai apakah kenaikan pendapatan TFC tahun
1980-1981 benar-benar pendapatan murni dari operasi perusahaan TFC.
 Pengujian substantive ( substantive test ) – pengujian yang bertujuan untuk
menemukan kemungkinan kesalahan moneter yang secara langsung
mempengaruhi kewajaran penyajian laporan keuangan, seperti :
o Penerapan prinsip akuntansi umum.
o Tidak diterapkannya prinsip akuntansi umum.
o Tidak konsistensinya penerapan prinsip akuntansi umum.
o Ketidaktepatan pisah batas ( cut off ) pencatatan transaksi.
o Perhitungan ( penambahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian ).
o Pekerjaan penyalinan, penggolongan, dan peringkasan informasi.
o Pencantuman pengungkapan ( disclosure ) unsure tertentu dalam
laporan keuangan.
 Membuat management letter di mana diungkapkan masalah- masalah dan
usulan atas pemecahan masalah tersebut dan diperlukannya surat
pernyataan manajemen di mana menegaskan pengungkapan compensating
balance, informasi yang berkaitan dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa dan jumlah yang berkaitan dengan piutang atau utang
dan pengungkapan lainnya yang diperlukan.
 Menelaah kewajiban bersyarat dan peristiwa kemudian serta kertas kerja
guna menetralkan kepemihakan yang masuk dalam pertimbangan auditor.

Kesimpulannya:

Dalam kasus ini terdapat kurangnya bukti yang memadai membuat tidak kompeten serta
tidak dilaksanakannya prosedur audit berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku.
Adanya pembatasan lingkup audit di mana manajemen menghalangi auditor dalam
memperoleh bahan bukti yang cukup dan kompeten serta masalah tersebut bersifat
material terhadap laporan keuangan; dan pendapat yang dikeluarkan oleh auditor tersebut
tidak tepat berkenaan dengan kurangnya bahan bukti audit yang memadai.
Dalam hal ini, auditor kurang independen dengan memperhatikan atau memihak terhadap
kliennya tersebut ( hal ini terlihat dari auditor yang takut akan kehilangan kliennya),
auditor tersebut gagal mengutamakan skeptisme profesional dan eksistensi bahan bukti
yang kompeten (administrative proceedings) sehingga menyebabkan terdapatnya celah
fraud yang material.
Di samping itu, prosedur auditing mungkin tidak efektif untuk mendeteksi salah saji yang
disengaja yang disembunyikan melalui kolusi di antara personel klien dan pihak ketiga
atau di antara manajemen.
Oleh karena pendapat auditor atas laporan keuangan didasarkan pada konsep
pemerolehan keyakinan memadai, auditor bukanlah penjamin dan laporannya tidak
merupakan suatu jaminan. Oleh karena itu, penemuan kemudian salah saji material, yang
disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan, yang ada dalam laporan keuangan, tidak
berarti bahwa dengan sendirinya merupakan
a. bukti kegagalan untuk memperoleh keyakinan memadai,
b. tidak memadainya perencanaan, pelaksanaan, atau pertimbangan,
c. tidak menggunakan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama, atau
d. kegagalan untuk mematuhi standar auditing yang berlaku.