Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG

Di era globalisasi persaingan di berbagai bidang sangat ketat, khususnya dalam


bidang ekonomi. Para pemilik perusahaan saling bersaing dengan perusahaan lain untuk
menghasilkan produk yang bermanfaat dengan harga yang murah. Semakin produk tersebut
bermanfaat dan murah, semakin banyak masyarakat yang akan mengkonsumsi produk
tersebut. Produk yang semakin disenangi masyarakat untuk dikonsumsi akan menghasilkan
laba yang tinggi bagi perusahaan.
Dalam menghasilkan laba yang tinggi, perusahaan harus berusaha memenuhi
permintaan pasar yang selalu meningkat dari tahun ke tahun. Usaha tersebut diwujudkan
dengan membuka pabrik baru dilokasi yang secara ekonomis menguntungkan sehingga hasil
produksi dapat memenuhi permintaan pasar. Selain perusahaan mendirikan pabrik yang baru,
perusahaan juga mendirikan anak perusahaan di bidang yang lain untuk menunjang kegiatan
produksi perusahaan induk, misalnya: anak perusahaan dalam bidang transportasi, anak
perusahaan dalam bidang pengemasan, atau anak perusahaan yang mengolah bahan baku.
Transaksi antar induk perusahaan yang memiliki hubungan istimewa dengan pihak lain atau
anak perusahaan dinamakan transaksi transfer pricing.

Ditinjau dari aspek pajak, transfer

pricing memiliki 2 pengertian. Pertama berasumsi bahwa transfer pricing adalah murni
merupakan strategi dan taktik bisnis tanpa motif pe ngurangan beban pajak. Kedua
berasumsi bahwa transfer pricing

dianggap sebagai usaha untuk menghemat beban pajak

secara keseluruhan dengan taktik, anta ra lain: menggeser laba ke negara yang beban
pajaknya kecil. (Gunadi, 1994:56).
Menurut pasal 18 ayat (2) Undang- Undang No. 36 tahun 2008

tentang Pajak

Penghasilan mengisyaratkan adanya kemungkinan pendistribusian laba oleh para wajib pajak
yang memiliki hubungan istimewa. Transfer pricing merupakan instrumen yang dapat
dipakai untuk melaksanakan maksud tersebut, sehingga transaksi tersebut dapat berpengaruh
terhadap besar kecilnya pajak yang akan dibayar. Pajak penghasilan yang akan dipungut
dihitung berdasarkan laba kena pajak, yaitu laba kotor dikurangi biaya - biaya yang terdapat
dalam pasal (6) Undang- Undang No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Untuk
menghindari maksud tersebut, maka transaksi yang memiliki hubungan istimewa perlu diteliti
secara seksama.
1

Dengan demikian diperlukan koreksi fiskal pajak penghasilan terhadap perusahaan


yang memiliki hubungan istimewa dengan pihak lain atau anak perusahaan. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana transaksi transfer pricing

yang dilakukan sesuai dengan

peraturan pajak yang berlaku, sehingga


tidak ada penghindaran pajak penghasilan yang dilakukan oleh wajib pajak

B.

TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui bagaimana praktek transfer pricing di Indonesia dan bagaimana
pengaruhnya terhadap perpajakan Indonesia.
2. Memenuhi tugas mata kuliah Pajak Internasional

PEMBAHASAN
ASPEK TRANSFER PRICING DALAM PERPAJAKAN INDONESIA
A.

DEFINISI TRANSFER PRICING

Menurut Charles T.Hongren :


Transfer price is the price one subunit (department or division) charges for product or
service supplied to another subunit of the same organization
Dr. Gunadi :
Transfer pricing adalah penentuan harga atau imbalan sehubungan dengan penyerahan
barang, jasa, atau pengalihan teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa dan suatu rekayasa manipulasi harga secara sistematis dengan maksud
mengurangi laba artifisial, membuat seolah-olah perusahaan rugi, menghindari pajak atau
bea di suatu negara
Dirjen Pajak :
Penetapan harga atas transaksi penyerahan barang berwujud, barang tidak berwujud, atau
penyediaan jasa antar pihak yang memiliki hubungan istimewa (transaksi afiliasi)
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa transfer pricing adalah hal yang
wajar dalam dunia usaha (definisi netral), namun menurut Prof. Dr. Gunadi (mantan direktur
pemeriksaan pajak) transfer pricing mempunyai konotasi negatif sebagai suatu praktik bisnis
yang tidak baik, yaitu pengalihan atas penghasilan kena pajak (taxable income) dari suatu
perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan multinasional ke negara-negara yang tarif pajaknya
rendah dalam rangka untuk mengurangi total beban pajak dari grup perusahaan multinasional
tersebut.

B.

TUJUAN PENETAPAN TRANSFER PRICING

Tujuan penetapan Transfer pricing adalah untuk mentransmisikan data keuangan di antara
departemen-departemen

atau

divisi-divisi

perusahaan

pada

waktu

mereka

saling

menggunakan barang dan jasa satu sama lain. Selain itu transfer pricing terkadang digunakan
untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli
menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan.

Menurut Horngren, Datar dan Foster (2008:375) penetapan Transfer pricing (transfer
pricing) seharusnya membantu mencapai strategi dan tujuan perusahaan dan sesuai dengan
struktur organisasi perusahaan. Secara khusus, transfer pricing seharusnya mendukung
kesesuaian tujuan dan tingkat usaha manajemen puncak. Subunit yang menjual produk atau
jasa seharusnya dimotivasi untuk menurunkan biaya mereka; subunit yang membeli produk
atau jasa seharusnya dimotivasi untuk memperoleh dan menggunakan input secara efisien.
Transfer Pricing seharusnya juga membantu manajemen puncak mengevaluasi kinerja dari
subunit individual dan manajer mereka. Jika manajemen puncak mendukung tingkat
desentralisasi yang tinggi, harga transfer seharusnya mendukung tingkat otonomi subunit
yang tinggi dalam pengambilan keputusan. Ini berarti manajer subunit yang ingin
memaksimalkan laba operasi dari sub unitnya seharusnya memiliki kebebasan untuk
melakukan transaksi dengan subunit lain dari perusahaan (atas dasar harga transfer) atau
untuk melakukan transaksi dengan pihak eksternal.
Menurut Suryana dalam Zenit (2012), tujuan dilakukannya transfer pricing, pertama
untuk mengakali jumlah profit sehingga pembayaran pajak dan pembagian dividen menjadi
rendah. Kedua, menggelembungkan profit untuk memoles (window-dressing) laporan
keuangan. Negara dirugikan triliunan rupiah karena praktik transfer pricing perusahaan asing
di Indonesia (Kontan, 20 Juni 2012).

C.

METODE PENENTUAN TRANSFER PRICING

Metode dalam penentuan transfer pricing antara lain:


1. Metode Tradisional
a. Comparable Uncontrolled Price Method (CUPM)
Metode perbandingan harga antara pihak yang independen (comparable
uncontrolled price) atau disingkat CUPM adalah metode penentuan harga transfer yang
dilakukan dengan membandingkan harga dalam transaksi yang dilakukan antara pihakpihak yang mempunyai hubungan istimewa dengan harga dalam transaksi yang
dilakukan antara pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa dalam kondisi
atau keadaan yang sebanding.
Kondisi yang tepat untuk menggunakan CUPM ini adalah :

Barang atau jasa yang ditransaksikan memiliki karakteristik yang identik dalamkondisi
yang sebanding; atau

Kondisi transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan


Istimewa dengan pihak-pihak yang tidak memiliki Hubungan Istimewa identik atau
memiliki tingkat kesebandingan yang tinggi atau dapat dilakukan penyesuaian yang
akurat untuk menghilangkan pengaruh dari perbedaan kondisi yang timbul.
Apabila tak ada kondisi di atas yang sesuai, maka CUPM tidak dapat digunakan
dan Wajib Pajak harus menggunakan metode lainnya yang sesuai.

b . Cost-Plus Method (CPM)


Harga pasar wajar ditentukan dengan menambahkan tingkat laba kotor wajar yang
diperoleh yang sama dari transaksi dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan
istimewa atau tingkat laba kotor wajar yang diperoleh perusahaan lain dari transaksi
sebanding dengan pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa pada harga pokok
penjualan yang telah sesuai dengan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha.

Kondisi yang tepat untuk menggunakan CPM adalah:

Barang setengah jadi dijual kepada pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa;

Terdapat kontrak/perjanjian penggunaan fasilitas bersama (joint facility agreement)


atau kontrak jual-beli jangka panjang (long term buy and supply agreement) antara
pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa; atau

Bentuk transaksi adalah penyediaan jasa Apabila tak ada kondisi di atas yang sesuai,
maka metode CPM tidak dapat digunakan dan Wajib Pajak harus menggunakan
metode lainnya yang sesuai.

c. Resale Price Method (RPM)


Metode harga penjualan kembali (resale price method) atau disingkat RPM adalah
metode penentuan harga transfer yang dilakukan dengan membandingkan harga dalam
transaksi suatu produk yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan
istimewa dengan harga jual kembali produk tersebut setelah dikurangilaba kotor wajar,
yang mencerminkan fungsi, aset dan risiko, atas penjualan kembali produk tersebut
kepada pihak lain yang tidak mempunyai hubungan istimewa atau penjualan kembali
produk yang dilakukan dalam kondisi wajar.
Kondisi yang tepat untuk menggunakan metode ini adalah :

Tingkat kesebandingan yang tinggi antara transaksi antara Wajib Pajak yang

mempunyai Hubungan Istimewa dengan transaksi antara Wajib Pajak yang tidak
mempunyai Hubungan Istimewa, khususnya tingkat kesebandingan berdasarkan hasil
analisis fungsi, meskipun barang/jasa yang diperjualbelikan berbeda dan

Pihak penjual kembali (reseller) tidak memberikan nilai tambah yang signifikan atas
barang atau jasa yang diperjualbelikan.

2. Metode Transactional Profit:


1. Profit Split

Metode ini digunakan apabila data pembanding tidak cukup lengkap.

Laba dari transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dapat
diketahui dengan cara melakukan analisis fungsi atas kegiatan usaha yang
dilakukannya.

2. Transactional Net Margin Method (TNMM)

Metode ini juga digunakan apabila data pembanding tidak cukup lengkap.

Membandingkan laba bersih dengan Harga Pokok Penjualan (HPP), Penjualan atau
aktiva yang dipergunakan untuk menghasilkan laba bersih tersebut, setelah itu laba
bersih atas transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.

3. Metode Lainnya
OECD Guidelines tidak memperkenankan metode lainnya untuk menentukan harga
pasar wajar karena metode ini tidak mencerminkan harga pasar wajar yang sesungguhnya.
Metode ini terdiri dari global split method dan juga formulary apportionment method.
Dalam Pasal 18 ayat (3) UU PPh, dinyatakan bahwa Direktur Jenderal Pajak berwenang
untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang
sebagai modal untuk menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak yang
mempunyai hubungan istimewa dengan Wajib Pajak lainnya sesuai dengan kewajaran dan
kelaziman usaha yang tidak dipengaruhi oleh hubungan istimewa dengan menggunakan
metode perbandingan harga antara pihak yang independen, metode harga penjualan kembali,
metode biaya-plus atau metode lainnya.
Maksud diadakannya ketentuan ini (pasal 18 ayat 3 UU PPh) adalah untuk mencegah
terjadinya penghindaran pajak yang dapat terjadi karena adanya hubungan istimewa. Apabila
terdapat hubungan istimewa, kemungkinan dapat terjadi penghasilan dilaporkan kurang dari
semestinya ataupun pembebanan biaya melebihi dari yang seharusnya. Dalam hal demikian,

Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan kembali besarnya penghasilan


dan/atau biaya sesuai dengan keadaan seandainya di antara para Wajib Pajak tersebut tidak
terdapat hubungan istimewa. Dalam menentukan kembali jumlah penghasilan dan/atau biaya
tersebut digunakan metode perbandingan harga antara pihak yang independen (Comparable
Uncontrolled Price Method), metode harga penjualan kembali (Resale Price Method), metode
biaya-plus (Cost-Plus Method) atau metode lainnya seperti metode pembagian laba (Profit
Split Method) dan metode laba bersih transaksional (Transactional Net Margin Method).

D.

KONSEP TRANSFER PRICING DALAM PERPAJAKAN DI INDONESIA

Transfer pricing merupakan isu klasik di bidang perpajakan, khususnya menyangkut


transaksi internasional yang dilakukan oleh korporasi multinasional. Dari sisi pemerintahan,
transfer pricing diyakini mengakibatkan berkurang atau hilangnya potensi penerimaan pajak
suatu

negara

karena

perusahaan

multinasional

cenderung

menggeser

kewajiban

perpajakannya dari negara-negara yang memiliki tarif pajak yang tinggi (high tax countries)
ke negara-negara yang menerapkan tarif pajak rendah (low tax countries). Di pihak lain dari
sisi bisnis, perusahaan cenderung berupaya meminimalkan biaya-biaya (cost efficiency)
termasuk di dalamnya minimalisasi pembayaran pajak perusahaan (corporate income tax).
Kunci utama keberhasilan transfer pricing dari sisi pajak adalah adanya transaksi karena
adanya hubungan istimewa.
Hubungan istimewa adalah hubungan kepemilikan antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain dan hubungan ini terjadi karena adanya keterkaitan, pertalian atau
ketergantungan satu pihak dengan pihak yang lain yang tidak terdapat pada hubungan biasa,
Oleh karena itu faktor hubungan istimewa akan menjadi penting dalam menentukan besarnya
penghasilan dan/atau biaya yang akan dibebankan untuk menghitung penghasilan kena pajak.
Pengertian mengenai hubungan istimewa menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK No.7) adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan yang melalui satu atau lebih perantara (intermediaries), mengendalikan,
atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan
perusahaan pelapor (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow
subsidiaries)
2. Perusahaan asosiasi (associated company)

3. Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu
kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan
anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota
keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi
perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahaan pelapor)
4. Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab
untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor
yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta
anggota keluarga dekat orang-orang tersebut
5. perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik
secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam 3 atau
4, atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut.

Pengertian hubungan istimewa menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 17


Tahun 2000 (UU PPh) adalah: hubungan istimewa dianggap ada apabila:
a) Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah
25% (dua puluh lima persen) pada Wajib Pajak lain, atau hubungan antara Wajib
Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada dua Wajib
Pajak atau lebih, demikian pula hubungan antara dua Wajib Pajak atau lebih yang
disebut terakhir; atau
b) Wajib Pajak menguasai Wajib Pajak lainnya atau dua atau lebih Wajib Pajak berada di
bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
c) Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan
lurus dan atau ke samping satu derajat

E. PENTINGNYA

ISU

TRANSFER

PRICING

DAN

BAGAIMANA

MENGANTISIPASINYA

Secara umum transfer pricing, dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan


penghasilan atau dasar pengenaan pajak dan/atau biaya dari satu wajib pajak ke wajib pajak
lainnya, yang dapat direkayasa untuk menekan keseluruhan jumlah pajak terhutang atas wajib
pajak-wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut. Praktek transfer pricing
dapat terjadi antar Wajib Pajak dalam negeri atau antara Wajib Pajak dalam Negeri dengan

pihak luar negeri, terutama yang berkedudukan di Tax Haven Countries (negara yang tidak
memungut/memungut pajak lebih rendah dari Indonesia).
Dari sudut pandang Dirjen Pajak, tidak diragukan lagi bahwa tansfer pricing sangat
berpengaruh terhadap penerimaan pajak negara. Berdasarkan perhitungan Dirjen Pajak
dinyatakan bahwa negara berpotensi telah kehilangan 1.300 Triliun Rupiah akibat dari
praktik tranfer pracing. Bahkan lebih dipertegas lagi menurut informasi internal Dirjen Pajak
bahwa kehilangan tersebut kebanyakan akibat adanya pembayaran Bunga, Royalti serta
Intragroup Service, sehingga Dirjen Pajak percaya bahwa dengan menyetop pembayaran
tersebut negara sudah tidak perlu menambah hutang lagi.
transfer pricing menjadi penting bagi wajib pajak karena setiapWajibPajak yang
mempunyai transaksi afiliasi diwajibkan mengisi form 3A atau 3B pada SPT badannya,
sehingga dari isian form ituDirjenPajak akan mudah mengetahui adanya transaksi transfer
pricing yang nantinya akan dijadikan bahan pemeriksaan. Meskipun sejak tahun 1993
keharusan itu telah ada, namun mulai tahun 2009 keharusan itu menjadi penting karena
format isian form 3A atau 3B lebih detail dan memaksa wajib pajak lebih transparan dalam
menginformasikan transfer pricing.
Skema transfer pricing sering dijadikan metode penghindaran pajak oleh perusahaan
multinasional dengan menggunakan berbagai cara. Skema transfer pricing yang sering
dilakukan oleh perusahaan multinasional adalah dengan cara mengalihkan laba mereka dari
negara yang tarif pajaknya tinggi ke negara yang tarif pajaknya rendah. Untuk mencegah
adanya pengalihan atas laba adalah dengan berbagai macam cara antara lain:
1. Otoritas pajak di berbagai Negara membuat aturan transfer pricing yang ketat seperti
penerapan hukuman atau sanksi.
2. Persyaratan dokumen yang lengkap.
3. Pemeriksaan pajak terhadap perusahaan yang melakukan praktik transfer pricing
Dalam hal pemeriksaan terhadap perusahaan yang melakukan praktik transfer pricing,
Direktorat Jenderal Pajak telah mengeluarkan surat Keputusan Direktur Jendral Pajak Nomor
: KEP-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak yang
Mempunyai Hubungan Istimewa, dalam Surat Keputusan ini diatur mengenai tahap-tahap
pemeriksaan yang perlu dilakukan oleh pihak yang berwenang berkaitan dengan adanya
praktek transfer pricing yaitu :

1. Mempelajari berkas Wajib Pajak dan berkas data. Tahap ini dilakukan dengan
mempelajari akte notaris dan perubahannya. Harus diteliti apakah dari struktur
pemilikan saham-saham Wajib Pajak yang diperiksa tampak adanya hubungan istimewa
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Pajak
Penghasilan No. 10 Tahun 1994 dan Undang-Undang No. 11 tentang Pajak
Pertambahan Nilai pasal 2 ayat (1).
Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui gambaran umum Wajib Pajak yang
antara lain adalah :

Mengenai usaha dan karakteristik perusahaan

Mengenai struktur kepemilikan saham, apakah ada kemungkinan hubungan


istimewa antara pemegang saham dan Wajib Pajak yang diperiksa.

Mempelajari struktur organisasi perusahaan terkait. Sedapat mungkin


diusahakan menggambarkan bagan organisasi perusahaan-perusahaan yang
mempunyai hubungan istimewa dan hubungan ekonomis dengan wajib pajak
yang diperiksa yang memberikan gambaran dan lokasi kegiatan

Mempelajari sifat dan jenis kegiatan usaha Wajib Pajak. Sedapat mungkin
digambarkan aktivitas usaha Wajib Pajak sejak adanya order hingga
penyelesaian order, baik itu mengenai pembelian maupun mengenai penjualan.

Mempelajari kemungkinan over/under invoicing. Pembelian/impor maupun


penjualan/ekspor yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang mempunyai
hubungan istimewa dengan pemasok maupun pelanggan yang terutama
berkedudukan di Tax Heaven Countries, harus dipelajari kemungkinan adanya
over dan under invoicing.

Mempelajari laporan pemeriksaan terdahulu. Hal ini bertujuan untuk


mengetahui hal-hal sebagaimana yang dimaksud dalam hurf b, c dan huruf d
di atas sehingga dapat dijadikan petunjuk di dalam pemeriksaan yang akan
dilaksanakan.

2. Menganalisa SPT dan Laporan Keuangan Wajib Pajak. Tujuan dilaksanakan analisa ini
adalah untuk mendeteksi ketidak-wajaran harga penjualan atau pembelian diantara
pihak yang mempunyai hubungan istimewa tersebut. Untuk melakukan hal ini
digunakan analisa rasio yang berlaku secara umum.
10

Untuk mencegah terjadinya praktek penghindaran pajak melalui transfer pricing,


pemerintah dapat dilakukan melalui ketentuan anti penghindaran pajak dalam peraturan
pelaksanaan perpajakan yang ketat, pemerintah dapat pula membuat kesepakatan dengan
wajib pajak mengenai konsep dan ketentuan dalam hal menentukan harga transaksi dengan
pihak yang mempunyai hubungan istimewa, serta memciptakan kesadaran wajib pajak
dalam memberikan informasi yang lengkap mengenai praktek bisnisnya.
Setelah memperhatikan betapa pentingnya isu tansfer pricing ini maka tidak bisa
dipungkiri lagi Wajib Pajak harus concern terhadap masalah ini dengan cara membenahi diri
agar tidak tersandung kasus transfer pricing, yaitu dengan cara melakukan tax review atas
kebijakan tansfer pricing selama ini dan melakukan tax planning berkaitan dengan tansfer
pricing ke depan serta bersiap diri kalau sewaktu-waktu diperiksa dengan membuat transfer
pricing documentation yang lengkap untuk menjustifikasi kewajaran harga transfer pricing di
atas 10 milyar dalam satu tahun yang dilakukan antar perusahaan satu grup terhadap cross
border transaction dan inbound transaction yang terdapat perbedaan tarif PPh badan.
Namun kenyataannya sampai saat ini praktik penghindaran pajak melalui transfer
pricing

diakui

sulit

dideteksi

oleh

Direktorat

Jenderal

Pajak.

Hal tersebut diungkapkan Dirjen Pajak Mochammad Tjiptarjo di DPR RI, Selasa (31/8).
"Berapa hitung-hitungnya susah kita deteksi karena itu kan per kasus, dan relatif pada waktu
kita inventarisir, persoalan transfer pricing ditangani secara administratif kita kalah mulu di
tingkat peradilan," ujarnya. Sebagai informasi, Pemerintah telah melakukan upaya-upaya dalam
mengurangi potensi kerugian negara atas praktik penghindaran pajak melalui transfer pricing,
seperti melakukan diklat transfer pricing kepada para pemeriksa, Account Representative (AR),
adanya Kepala KPP Madya, Khusus, dan LTO, serta Penelaah Keberatan dan Petugas banding,
baik di dalam maupun di luar negeri. Total pegawai yang telah diberikan diklat transfer pricing
sampai

dengan

bulan

Agustus

2010

mencapai

lebih

dari

1.100

pegawai.

Selain itu, adanya kewajiban untuk setiap KPP di lingkungan Kanwil DJP WP Besar, KPP di
lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, dan KPP Madya di seluruh Indonesia untuk
melakukan pemeriksaan khusus transfer pricing minimal 4 wajib pajak untuk setiap KPP.
Setiap Kanwil Ditjen Pajak yang berada di Wilayah Jakarta diwajibkan untuk melakukan
pemeriksaan simultan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di bawah satu grup,
minimal 1 grup untuk setiap Kanwil.

11

Selengkapnya aturan terkait transfer pricing adalah sebagai berikut :

F.

Pasal 18 ayat 3 dan 4 UU PPh

Pasal 2 ayat 1 dan 2 UU PPN

Pasal 28 ayat 1 UU KUP

Pasal 9 ayat 1 P3B (tax treaty) model konvensi PBB

KEP-01/PJ.7/1993

SE-04/PJ.7/1993

PER-43/PJ/2010

S-153/PJ.04/2010

PER-48/PJ/2010

PER-69/PJ/2010

PER-32/PJ/2011
PRAKTEK TRANSFER PRICING DI INDONESIA

Sebenarnya praktek transfer pricing ini sudah banyak dilakukan oleh banyak
perusahaan. Hanya saja tidak terlalu terasa efek pengurangan pajaknya apabila dilakukan
antar divisi dalam satu perusahaan yang sama. Lain halnya apabila transfer pricing itu
digunakan untuk menilai kinerja divisi.Pertanyaan yang timbul adalah mengapa transfer
pricing tidak terlalu berarti dari sisi pajak apabila dipraktekkan pada divisi yang sama dalam
suatu perusahaan.
Jawabannya adalah hal ini disebabkan karena praktek transfer pricing akan
memberikan hasil maksimal dalam hal ini meminimalkan jumlah pajak yang terutang apabila
timbul pengenaan tarif yang berbeda. Oleh karena itu apabila praktek tersebut dilakukan antar
divisi tidak memberikan hasil yang maksimal karena tarif pajak yang berlaku sama.
Adanya hubungan istimewa merupakan faktor penyebab utama timbulnya praktek
transfer pricing. Hubungan istimewa adalah hubungan kepemilikan antara satu perusahaan
dengan perusahaan lain dan hubungan ini terjadi karena adanya keterkaitan, pertalian atau
ketergantungan satu pihak dengan pihak yang lain yang tidak terdapat pada hubungan biasa,
faktor kepemilikan atau penyertaan, adanya penguasaan melalui manajemen atau penggunaan
teknologi, adanya hubungan darah atau karena perkawinan merupakan faktor penyebab
utama timbulnya hubungan istimewa. Oleh karena itu faktor hubungan istimewa akan

12

menjadi penting dalam menentukan besarnya penghasilan dan atau biaya yang akan
dibebankan untuk menghitung penghasilan kena pajak.
Praktek transfer pricing ini dapat mengakibatkan terjadinya pengalihan atau dasar
pengenaan pajak dan atau biaya dari satu wajib pajak ke wajib pajak lainnya, yang dapat
direkayasa untuk menekan keseluruhan jumlah pajak terutang atas wajib pajak-wajib pajak
yang mempunyai hubungan istimewa tersebut.

Kekurangwajaran dari adanya transfer pricing ini dapat terjadi atas (berdasarkan surat edaran
Dirjen Pajak No.SE-04/PJ.7/1993 tanggal 3 maret 1993) :

1.

Kekurangwajaran Harga Penjualan


PT A memiliki 25%saham PT B. Atas penyerahan barang PT A ke PT B, PT A
membebankan harga jual Rp. 160 per unit, berbeda dengan harga yang diperhitungkan atas
penyerahan barang yang sama kepada PT X (tidak ada hubungan istimewa)yaitu Rp. 200 per
unit.
Dalam contoh diatas, harga pasar sebanding (comparable uncontrolled price) atas
barang yang sama adalah yang dijual kepada PT X yang tidak ada hubungan istimewa.
Dengan demikian harga yang wajar (arms length price) adalah Rp. 200 per unit. Harga inilah
yang dipakai sebagai dasar perhitungan penghasilan dan atau penggenaan pajak.

2.

Kekurangwajaran Harga Pembelian


H Ltd Hongkong memiliki 25% saham PT B. PT B mengimpor barang produksi H
Ltd denga harga Rp. 3.000 per unit. Produk tersebut dijual kembali kepada PT Y (tidak ada
hub.istimewa) denga harga Rp. 3.500 per unit. Pada contoh tersebut diatas pertama-tama
dicari harga pasar sebanding untuk barang yang sama, sejenis atau serupa atas pembelian atau
impor dari pihak yang ada hub. Istimewa atau antar pihak-pihak yang tidak ada hub.istimewa,
apabila ditemui kesulitan, maka penddekatan harga jual minus dapat diterapkan yaitu dengan
mengurangkan harga kotor (mark-up) yang wajar ditambah biaya lainya yang dikeluarkan
wajib pajak dari harga jual barang kepada pihak yang tidak punya hubungan istimewa.
Apabila laba wajar yang diperoleh adalah Rp. 750 maka, harga wajar secara fiscal atas
pembelian barang dari H Ltd adalah Rp. 2.750 (Rp. 3.500-750). Harga ini merupakan dasar
perhitungan pokok PT B dan selisih Rp. 250 antara pembayaran utang ke H Ltd dengan harga
pokok seharusnya diperhitungkan sebagai pembayaran deviden terselubung.

13

3.

Kekurangwajaran Alokasi biaya administrasi dan umum (overhead cost)


Kantor pusat perusahaan (head office) di luar negeri dari BUT di Indonesia sering
mengalokasikan biaya administrasi dan umum (overhead cost) kepada BUT tersebut. Biaya
yang di alokasikan tersebut antara lain :

a.

Biaya training karyawan BUT di Indonesia yang diselenggarakan kantor pusat di luar negeri

b.

Biaya perjalanan dinas direksi kantor pusat tersebut di masing-masing BUT

c.

Biaya administrasi atau manajemen lainya dari kantor pusat yang merupakan biaya
penyelenggaraan perusahaan

d.

Biaya riset dan pengembangan yang dikeluarkan kantor pusat


Alokasi biaya-biaya tersebut diatas diperbolehkan sepanjang sebanding dengan manfaat
yang diperoleh masing-masing BUT dan bukan merupakan duplikasi biaya.

4.

Kekurangwajaran Pembebanan bunga atas pemberian pinjaman oleh pemegang


saham (shareholderloan)
H Ltd di Hongkong memiliki 80% saham PT C dengan modal yang belum di setor
sebesar Rp. 200 juta. H Ltd juga memberikan pinjaman sebesar Rp.500 juta dengan bunga
25% atau Rp. 125 juta pertahun. Tingkat bunga yang berlaku adalah 20%. Sehubungan
dengan transaksi diatas,diharuskan untuk menentukan kembali jumlah utang PT C. Pinjaman
sebesar Rp. 200 juta dianggap sebagai penyetoran modal terselubung,sehingga besarnya
hutang PT C yang dapat diakui adalah sebesar Rp.300 juta (Rp.500 juta-Rp. 200 juta). Biaya
bunga yang boleh dibebankan atas transaksi pinjam-meminjam diatas adalah sebesar Rp.60
juta ( 20%x Rp.300 juta) yang berarti timbul koreksi.

5.

Kekurangwajaran Pembayaran komisi,lisensi,franchise,sewa,royalty,imbalan atas


jasa manajemen, imbalan atas jasa teknik dan imbalan atas jasa lainnya.
PT A perusahaan komputer memberikan lisensi kepada PT X (tidak ada
hub.istimewa) sebagai distributor tunggal di Negara X untuk memasarkan program
komputernya dengan royalti 20% dari penjualan bersih. Selain itu PT B di Negara B (ada
hub.istimewa) sebagai distributor tunggal dan membayar royalty 15% dari penjualan bersih.
Atas transaksi diatas maka royalty PT B juga harus 20%. Hal ini disebabkan karena program
computer yang dipasarkan PT B sama dengan yang dipasarkan PT X.

14

6.

Kekurangwajaran Pembelian harta perusahaan oleh pemegang saham (pemilik) atau


pihak yang mempunyai hubungan istimewa yang lebih rendah daripada pasar.
A adalah pemegang 50% saham PT B. harta perusahaan PT B berupa kendaraan dibeli
A dengan harga Rp.10 juta. Nilai buku kendaraan tersebut adalah Rp.10 juta.Harga pasaran
kendaraan sejenis dalam keadaan yang sama Rp 30 juta. Dari transaksi di atas dapat dilihat
bahwa harga pasar sebanding untuk kendaraan tersebut adalah 30 juta, maka penghasilan
kena pajak PT B dikoreksi positif Rp. 20 juta (Rp.30 juta-Rp.10 juta). Sedangkan bagi A
selisih harga Rp. 20 juta merupakan penghasilan berupa deviden yang oleh PT B harus
dipotong PPh pasal 23.

7.

Kekurangwajaran Penjualan kepada pihak luar negeri melalui pihak ketiga yang
kurang atau tidak mempunyai subtansi usaha (misalnya dummy company, letter box
company atau reinvoicing center)
PT I di Indonesia yang mempunyai hub.istimewa dengan H Ltd di Hongkong.duaduannya adalah anak perusahaan K di Korea.Dalam usahannya PT I mengekspor barang yang
langsung dikirim ke X di Amerika serikat atas peermintaan H Ltd di Hongkong.Harga pokok
barang tersebut adalah Rp 100 dan PT I di Indonesia selalu menagih dengan harga Rp 110.
Sedang H Ltd Hongkong menagih X di Amerika Serikat. Informasi yang diperoleh dari
Amerika Serikat menunjukkan bahwa X membeli barang dengan harga Rp 175. Keterangan
lebih lanjut menunjukkan bahwa H Ltd hongkong hanya berupa Letter Box Company
(reinvoicing centre) tanpa substansi bisnis. Oleh karena tarif pajak di Hongkong lebih rendah
dari di Indonesia,maka terdapat petunjuk adanya usaha wajib pajak untuk mengalihkan laba
kena pajak dari Indonesia ke hongkong agar diperoleh penghematan pajak. Dengan
memperhatikan fungsi (substansi bisnis) dari H Ltd Hongkong, maka perantara transaksi
demikian (untuk penghitungan pajak) dianggap tidak ada, sehingga harga jual PT di
Indonesia dikoreksi sebesar Rp 65 (Rp 175-Rp 110)

15

PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Transfer Pricing didefinisikan sebagai harga yang ditentukan oleh satu bagian dari
sebuah organisasi atas penyerahan barang atau jasa yang dilakukannya kepada bagian lain
dari organisasi yang sama. Transfer pricing dapat juga diartikan sebagai nilai atau harga jual
khusus yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan divisi
penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli (buying division). Dilihat dari aspek
perpajakan, pengertian transfer pricing adalah harga yang dibebankan oleh suatu perusahaan
atas barang, jasa, harta tak berwujud kepada perusahaan yang mempunyai hubungan
istimewa.
Tujuan penetapan harga transfer adalah untuk mentransmisikan data keuangan di antara
departemen-departemen

atau

divisi-divisi

perusahaan

pada

waktu

mereka

saling

menggunakan barang dan jasa satu sama lain. Selain itu transfer pricing terkadang digunakan
untuk mengevaluasi kinerja divisi dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli
menuju keputusan-keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Namun dalam praktik, seringkali ditemukan transaksi antar anggota perusahaan multinasional
yang tidak luput dari rekayasa transfer pricing. Bagi perusahaan berskala global
(multinational corporations), transfer pricing dipercaya menjadi salah satu strategi yang
efektif untuk memenangkan persaingan dalam memperebutkan sumber daya yang terbatas.
Perusahaan cenderung berupaya meminimalkan biaya-biaya (cost efficiency) termasuk di
dalamnya minimalisasi pembayaran pajak perusahaan (corporate income tax). Hal ini telah
mendorong dilakukannya praktik transfer pricing untuk menghindari pajak (tax avoidance).
Transfer pricing diyakini mengakibatkan berkurang atau hilangnya potensi penerimaan pajak
suatu

negara

karena

perusahaan

multinasional

cenderung

menggeser

kewajiban

perpajakannya dari negara-negara yang memiliki tarif pajak yang tinggi (high tax countries)
ke negara-negara yang menerapkan tarif pajak rendah (low tax countries).
Untuk mencegah praktik penghindaran pajak karena penentuan harga tidak wajar (non
arm's length price), maka Dirjen Pajak menetapkan pedoman penentuan harga transfer yang
membahas penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arms length principles) terkait
transaksi antara wajib pajak dengan pihak yang memiliki hubungan istimewa. Aturan ini
mengharuskan wajib pajak untuk menggunakan nilai pasar wajar dalam bertransaksi dengan

16

pihak berelasi (related parties). Dirjen Pajak memiliki kewenangan untuk menentukan harga
transaksi antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa (Advance Pricing
Agreement/APA) yaitu kesepakatan antara Wajib Pajak dan Direktur Jenderal Pajak
mengenai harga jual wajar produk yang dihasilkannya kepada pihak-pihak yang mempunyai
hubungan berelasi (related parties). Dengan ditetapkannya APA, diharapkan dapat
mengurangi

terjadinya

praktik

penyalahgunaan

transfer

pricing

oleh

perusahaan

multinasional.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi praktik transfer pricing
(Suryana, 2012) antara lain dengan mengaktifkan peran akuntan publik untuk menguji
kewajaran perhitungan jumlah related parties transaction yang diungkapkan dalam laporan
keuangan, memperluas kriteria transfer pricing tidak hanya related parties, tetapi melebar ke
semua transaksi yang diindikasikan di bawah harga pasar wajar, termasuk dengan perusahaan
non afiliasi, menggunakan data pembanding eksternal dari pelaporan DHE (Devisa Hasil
Ekspor) untuk mendeteksi aliran dana dan underlying transaksi ekspor, mengumumkan ke
publik tentang proses banding oleh wajib pajak yang melakukan transfer pricing, sebagai
bentuk tekanan moral, menyediakan data center, seperti Indonesian Coal Index, serta
membentuk single document window (SDW) antar negara yang telahNmenerapkan tax treaty,
dan forum multilateral, seperti APEC.

17

DAFTAR PUSTAKA

Horngren, Datar dan Foster. (2008). Akuntansi Biaya, Penekanan Manajerial. Jilid 2 ed 12.
Penerbit Erlangga, Jakarta.
Zenit. (2012). Aspek Perpajakan Dalam Transfer Pricing dan Problematika Praktik
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance). jurnal akuntansi keuangan.vol. 1 no. 3,
desember 2012 hal 210-221.

http://tikettraining.com/info-training/makalah-transfer-pricing

http://www.ortax.org/ortax/?mod=berita&page=show&id=10051

http://spectrumkonsul.blogspot.com/2008/08/konsep-transfer-pricing-dalam.html

http://shantykie.blogspot.com/2011/09/transfer-pricing.html

18