0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan50 halaman

Rencana Bisnis Susu UHT Surya

PT. Surya Pagi Indonesia merupakan perusahaan pengolahan susu UHT yang berlokasi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Perusahaan ini didirikan untuk memasok susu UHT bagi masyarakat Jawa Tengah secara merata dengan menggunakan teknologi pengolahan susu UHT. Perusahaan ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam merevolusi industri susu di Indonesia.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan50 halaman

Rencana Bisnis Susu UHT Surya

PT. Surya Pagi Indonesia merupakan perusahaan pengolahan susu UHT yang berlokasi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Perusahaan ini didirikan untuk memasok susu UHT bagi masyarakat Jawa Tengah secara merata dengan menggunakan teknologi pengolahan susu UHT. Perusahaan ini diharapkan dapat mendukung program pemerintah dalam merevolusi industri susu di Indonesia.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUSINESS PLAN

SUSU UHT (ULTRA HIGH TEMPERATURE)


SURYA

PT. SURYA PAGI INDONESIA


Jl. Raya Baturraden No. 70 Desa Pandak, Kecamatan Baturraden,
Kabupaten Banyumas

Created by : Afduha Nurus Syamsi S.Pt (P2DA14014)


MAGISTER ILMU PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

Executive Summary

PT. Surya Pagi Indonesia merupakan perusahaan yang bergerak pada


bidang usaha pengolahan susu, dengan produk utamanya yaitu susu UHT (Ultra
High Temperature). Perusahaan didirikan sejak di wilayah Kabupaten Banyumas
dengan wilayah pemasaran yaitu di Provinsi Jawa Tengah. Pendirian perusahaan
dilatarbelakangi oleh permintaan masyarakat terhadap susu dan produk olahanya
yang meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan konsumsi susu tersebut
disebabkan karena kesadaran masyarakat atas pentingnya pemenuhan gizi dari
produk hewani terutama susu, selain itu juga didukung dengan peningkatan
perekonomian dan pendapatan perkapita masyarakat.
Pasar potensial perusahaan adalah wilayah Provinsi Jawa Tengah, karena
provinsi tersebut memiliki jumlah penduduk yang tinggi dan tingkat
perkembangan perekonomian cukup tinggi di Indonesia. Pemasaran produk susu
UHT menerapkan srategi 4P dan dengan market share yang cukup baik. Produk
susu UHT perusahaan memiliki nama branding Susu UHT Surya dan dikemas
dengan teknologi tinggi yaitu tetrapack. Harganya cukup bersaing di pasar karena
perusahaan memasarkan produk dengan harga di bawah rata-rata pasar.
Perusahaan juga didukung dengan teknologi tinggi dengan menggunakan
mesin-mesin modern seperti homgenizer, sterilizer dan teknologi pengemasan
tetrapack. Secara teknis perusaan berdiri di Jl. Raya Baturraden No. 70 Desa
Pandak, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
Kapasitas produksi perusahaan mencapai 75.000 liter/bulan atau 900.000
liter/tahun. Perusahaan termanajemen dengan baik oleh 70 pekerja yang handal
dibidangnya masing-masing. Perusahaan dipimpin oleh 1 manager, 4 supervisor
dan beberapa staf, operator dan satpam. Perusahaan memberikan bals jasa yang
sesuai dengan masing-masing pekerja dan disesuaikan dengan UMR yang berlaku
serta tingkat pendidikan dan lama bakti kepada perusahaan.
Secara ekonomi, sosial dan politik pendirian perusahaan sangat
bermanfaat, karena mampu mendukung roda perekonomian masyarakat sekitar.
Penyerapan tenaga kerja perusahaan 80% diserap dari masyarakat sekitar.
Pendirian perusahaan juga mampu meningkatkan devisa dan mentranser

pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat. Secara legal perusahaan berdiri


atau dengan izin pemerintah sehingga perusahaan dalam kondisi yang aman dari
ancaman tindakan penuntutan masyarakat. Perusahaan menjalin hubungan baik
dengan masyarakat dengan mengolah limbah sebaik mungkin dan mengelola
lingkungan sebaik mungkin.
Berdasarkan analisis neraca untung rugi liquiditas menunjukkan angka
1,26 yang artinya perusahaan mampu membayar hutang, rasio modal bersih
menunjukkan angka 1,14 yang artinya usaha perusahaan dalam kondisi lestari,
solvabilitas menunjukkan angka 55,56% dan D/E rasio 7,31. Secara finansial
perusahaan layak untuk dijalankan dengan kriteria investasi yang mendukung. Net
present value (NPV) perusahaan adalah Rp.14.202.124.220,-, internal rate return
27,20%, B/C ratio 0,11, R/C 1,11 dan BEP diatas impas. Perusahaan mampu
mengembalikan investasi / pay back period (PBP) dalam kurun waktu 3,3 tahun.
Rekomendasi bagi PT. Surya Pagi Indonesia kedepan adalah melaksanankan
produksi seoptimum mungkin dan berusaha mengembangkan produksi dari tahun
ke tahun diatas planing yang di rencanakan jika memungkinkan.

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Susu merupakan cairan putih yang disekresikan oleh kelenjar mamae dari
mamalia seperti sapi, kerbau, kambing dan lainya. Susu merupakan produk
peternakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi yaitu mengandung 3,3% protein,
4,8% laktosa, 3,8% lemak 0,65% mineral serta beberapa vitamin dan bahan lain.
Banyak penelitian yang menyatakan bahwa susu merupakan pangan yang sangat
baik untuk dikonsumsi karena mengandung mineral kalsium yang tinggi, asam
amino esensial dan non esensial yang lengkap dan beberapa komponen bioaktif
yang baik bagi manusia. Susu dianggap sebagai produk pangan yang sempurna dan
strategis karena disamping kandungan nutrienya yang sangat baik, tingkat
penyerapannya di dalam saluran cerna manusia juga tinggi yaitu hampir 100% dari
total nutrien yang dikandungknya.
Nilai strategis susu di Indonesia tidak hanya dapat ditilik dari sudut pandang
nutrienya saja, namun juga dapat dilihat dari potensi ekonominya. Potensi tersebut
dapat dilihat melalui grafik konsumsi susu yang terus mengalami kenaikan dari
tahun-ketahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 14,01%. Potensi ini yang
kemudian juga diwujudkan oleh pemerintah dalam program strategis swasembada
susu 2020. Susu sebagai produk yang strategis dianggap mampu mewujudkan citacita bangsa dalam mencerdasakan kehidupan bangsa dan diharapkan dapat
meningkatkan kesehjahteraan hidup masyarakat. Indonesia pada 2020 mendatang
diharapkan menjadi negara yang berdaulat pangan terutama pada produk susu nya.
Berdaulat dalam hal ini dapat diartikan bahwa kebutuhan susu di dalam negeri dapat
dipenuhi melalui produksi dalam negri sendiri dan harapan lebih tinggi dari itu
adalah bahwa setiap masyarakat indonesia akan mengkonsumsi susu setiap hari
sebagai pemenuh kebutuhan panganya. Saat ini konsumsi susu di Indonesia sebesar
11,9 liter/kapita/tahun dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa dan dapat
dibayangkan dengan upaya pemerintah dalam menggalakkan konsumsi susu
kedepan maka konsumsi susu di Indonesia akan meningkat pesat bahkan melebih
negara-negra di Asia tenggara yang konsumsi rata-ratanya adalah 20-30%.

Program pemerintah tersebut tentu akan menjadi hawa segar bagi


terciptanya usah baru di bidang persusuan di Indonesia. Bahkan saat ini, dimana
swasembada belum tercapai telah membuka peluang yang cukup luas bagi
terbukanya usaha baru di bidang persusuan. Peningkatan angka populasi ternak
perah dan produksi susu secara nasional menunjukkan angka yang meingkat setiap
tahunya yaitu peningkatan populasi rata-rata 3-4%/tahun dan produksi susunya
sekitar 2%/tahun. Terdapat sebuah kendala dimana persebaran pemasaran susu
yang belum merata. Sebagai contoh di Jawa Tengah sentra produksi susu terdapat
di boyolali, purwokerto, semarang dan beberapa tempat lainya, namun distribusi
susu ke seluruh plosok daerah yang ada di jawa tengah belum terlaksana dengan
baik. Artinya bahwa di Jawa Tengah sendiri yang notabene merupakan salah satu
sentra produksi susu nasional, distribusi susu ke setiap daerahnya belum merata.
Hal tersebut disebabkan karena susu merupakan produk pangan yang mudah rusak,
bahkan susu merupakan media perkembang biakan bakteri yang sangat baik
sehingga mudah busuk. Program pemerataan dapat didukung dengan penggunaan
teknologi dalam pengolahan susu. Salah satu teknologi yang cukup dikenal
masyarakat adalah UHT (Ultra High Temperature).
Susu UHT menurut SNI 01-3950-1998 merupakan produk susu yang
diperoleh dengan cara mensterilkan susu minimal pada suhu 1350C selama 2 detik,
dengan atau tanpa penambahan bahan makanan dan bahan tambahan makanan yang
dizinkan, serta dikemas secara aseptik. Pemasaran susu dengan tujuan pemeratan
jual susu keseluruh daerah potensial di Jawa Tengah dapat dilakukan dengan
teknologi UHT. Hal tersebut sangat menguntungkan karena susu dapat dikemas
secara aseptis sehingga memilik daya tahan yang jauh lebih lama dibandingkan susu
segar, karena susu dialirkan secara kontinyu dan dipanaskan secara cepat. Kondisi
nutrisi pada susu UHT juga tidak jauh berbeda dengan kondisi segarnya. Susu UHT
dapat menjadi sebuah produk olahan susu yang cepat diserap masyarakat, karena
pada perkembanganya susu UHT bukan merupakan produk yang baru bagi
masyarakat. Masyarakat telah akrab dan mudah dalam mengakses/membeli produk
susu UHT di supermarket, toko-toko kecil bahkan di pasar sekalipun. Berdasarkan
hasil penelitian tingkat pembelian susu UHT 3,86 - 4,75% dipengaruhi oleh atribut

produk yaitu merek, kemasan, kualitas atau mutu, harga, variasi rasa, kandungan
gizi dan jaminan halal.
Berdasarkan pada potensi konsumsi susu yang terus meningkat, kebutuhan
teknologi pengolahan susu demi tercapainya pemerataan distribusi susu di Jawa
Tengah serta potensi daya serap susu UHT yang tinggi dimasyarakat. Maka
diperlukan pengembangan industri pengolahan susu melalui PT. Surya Pagi
Indonesia. Perusahaan yang dibangun dengan basis pengolahan susu UHT ini
diyakini dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan produk yang
berkualitas dan terjangkau di masyarakat.
1.2 Profil Perusahaan
1. Nama Perusahaan
PT. Surya Pagi Indonesia
2. Alamat Perusahaan
Jl. Raya Baturraden No. 70 Desa Pandak, Kecamatan Baturraden,
Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah.
3. Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan pengolahan susu UHT yang terpadu dengan
manajemen yang berbasis pada sumber daya lokal dengan jaminan mutu
yang sempurna dan mendukung pembangunan nasional melalui
pemenuhan kebutuhan susu masyarakat.
4. Misi Perusahaan
a. Memproduksi susu UHT dengan jaminan mutu tinggi yang
berkesinambungan dengan pengembangan teknologi dan diversivikasi
olahan setiap tahunya.
b. Mendukung

program

pemerintah

mengenai

revolusi

putih

swasembada susu pada tahun 2020 melalui pemenuhan kebutuhan susu


dan melaksanakan pemerataan distribusi susu di Provinsi Jawa Tengah.
c. Menyerap susu dari petani lokal sebagai bahan baku produk.
d. Mensosialisasikan

pentingnya

mengkonsumsi

susu

dan

mensosialisasikan minum susu UHT sebagai produk olahan susu yang


baik dan sehat serta sama berkualitasnya seperti susu segar.

5. Manfaat Perusahaan
a. Membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, khususnya yang
berdomisili di provinsi Jawa Tengah atau yang berada di sekitar
perusahaan.
b. Mendukung pencapaian cita-cita bangsa dalam mencerdasakan
kehidupan bangsa melalui pemenuhan kebutuhan susu masyarakat.
c. Memberikan produk yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat.
d. Ikut melaksanakan program pensejahteraan masyarakat melalui
kegiatan sosial yang akan dirancang pada setiap RABP (Rancangan
Anggaran Belanja Perusahaan).
6. Owner/Pemilik Perusahaan
Prof. Dr. Sc.agr. Afduha Nurus Syamsi, S.Pt., MP. (OH NYU WENG)
7. Info dan Layanan Perusahaan
Telepon

: (0281) 632884

Fax

: (0281) 632885

Email

: Humas_Suryapagi@gmail.com

Kode Pos

: 53151

8. Bidang Usaha
PT. Surya Pagi Indonesia bergerak dalam bidang pengolahan susu
dengan produk utama dan satu-satunya yaitu susu UHT (Ultra High
Temperature). Perusahaan bergerak dengan menejemen mutu tinggi dan
dilaksanakan secara terpadu dengan berbasis pada pemanfaatan sumber
daya susu lokal.

II. ASPEK PASAR DAN PEMASARAN

2.1 Pasar Potensial


Pasar potensial adalah kumpulan konsumen yang memiliki tingkat minat
cukup besar terhadap penawaran pasar. Artinya bahwa pasar potensial susu UHT
adalah wilayah atau tempat yang sangat mungkin untuk dapat menyerap produk
susu UHT yang dikeluarkan oleh PT. Surya Pagi Indonesia. Pasar potensial dapat
di lihat berdasarkan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi dari suatu
wilayah. Pertumbuhan penduduk disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang baik
akan menentukan kesejahteraan yang baik bagi masyarakat, dan masyarakat
dengan tingkat kesejahteraan yang baik merupakan konsumen potensial bagi
produk susu UHT dan wilayah yang dihuni oleh konsumen-konsumen potensial
merupakan pasar yang potensial bagi pemasaran susu UHT.
Berdasarkan pengertian dari pasar potensial yang dipahami, maka PT. Surya
Pagi Indonesia memilih provinsi jawa tengah sebagai pasar potensial bagi
produknya yaitu susu UHT. Provinsi jawa tengah merupakan salah satu provinsi
dengan jumlah penduduk yang tinggi di Indonesia. Menurut data BPS jumlah
penduduk di Jawa Tengah pada tahun 2010 adalah sebanyak 32.451.600 jiwa dan
diproyeksikan akan terus meningkat pada tahun 2020 hingga 33.138.900 jiwa
dengan laju pertumbuhan sebesar 0,37%/tahun. Jika ditilik dari tingkat
pertumbuhan ekonominya, Provinsi Jawa Tengah juga merupakan salah satu
provinsi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik di Indonesia.
Perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan sebesar
5,8 persen dibanding tahun 2012.
Berdasarkan hasil penghitungan triwulan I sampai dengan triwulan IV,
PDRB (Pendapatan Daerah Regional Bruto) Jawa Tengah tahun 2013 atas dasar
harga berlaku meningkat sebesar Rp 67,3 triliun, yaitu dari Rp 556,5 triliun pada
tahun 2012 menjadi sebesar Rp 623,7 triliun pada tahun 2013. Jika dilihat dari
PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2013 mencapai Rp 223,1 triliun,
sedangkan pada tahun 2012 sebesar Rp 210,8 triliun. PDRB per kapita merupakan
PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Pada tahun 2013
angka PDRB per kapita atas dasar harga berlaku diperkirakan mencapai Rp 18,7

juta dengan laju peningkatan sebesar 11,2 persen dibandingkan dengan PDRB per
kapita tahun 2012 sebesar Rp 16,8 juta. Pendapatan perkapita riil Provinsi jawa
tengah mencapai 11.709 rupiah/kapita/tahun.
Berdasarkan jumlah penduduk yang terus meningkat dan berdasarkan atas
pertumbuhan ekonomi yang juga terus meningkan di Provinsi Jawa Tengah
menjadi dasar pertimbangan penetapan pasar potensial bagi produk susu UHT PT.
Surya Pagi Indonesia. Selain itu didukukung dengan revolusi putih yang
dicanangkan pada tahun 2020 oleh pemerintah menjadi peluang emas bagi
berkembangnya dan atau meningkatnya penyerapan atau konsumsi produk susu
UHT PT. Surya Pagi Indonesia di Provinsi Jawa Tengah.
2.2 Permintaan dan Penawaran
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan
perubahan-perubahan sosial masyarakat, membawa perubahan pada pola
konsumsi masyarakat yang lebih berorentasi pada selera dan mengutamakn gizi.
Salah satu alternatif pangan bergizi yang sedang berkembang saat ini adalah susu.
Susu dahulu merupakan pangan mewah yang diperkenalkan oleh bangsa Belanda
di masa penjajahanya. Seiring dengan berjalanya waktu, susu telah menjadi bagian
dari masyarakat Indonesia. Bahkan saat ini sentra peternakan sapi atau kambing
perah terus berkembang di Indonesia dan industri pengolahanya pun ikut
berkembang. Perkembangan industri pengolahan susu tersebut merupakan bentuk
respon dari produsen terhadap permintaan masyarakat akan susu dan
pendisersivikasian susu menjadi produk yang mudah di serap oleh masyarakat.
Sehingga hal tersebut akan meningkatkan permintaan dan penawaran susu dan
produk olahanya.
Secara Global di Indonesia konsumsi susu terus meningkat dari tahun ke
tahun, trend peningkatan susu tersebut cukup tinggi yaitu sebesar 14,01%/tahun.
Data terakhir menunjukkan bahwa konsumsi susu di indonesia mencapai 3.120
ton. Trend peningkatan susu tersebut merupakan gambaran permintaan akan
produk susu yang tinggi dan juga meningkat. Secara khusus permintaan susu di
jawa tengah mencapai berada pada indeks 91,70% dengan rata-rata konsumsi
11,09 liter/hari/kapita dan dengan jumlah penduduk sekitar 32.380.687 jiwa.
Sedangkan jika dilihat dari supplay/penawaran, produksi susu nasional juga

mengalami pertumbuhan sekitar 2% setiap tahunnya. Produksi susu nasional saat


ini mencapai 981,59 juta ton. Jawa Tengah menyumbang produksi susu terbesar
ketiga setelah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Produksi susu di Provinsi Jawa
Tengah mencapai

107.982 ton. Dan keseluruhan dapan mensuplay kebutuhan

susu termasuk di Jawa Tengah sendiri.


2.3 Persaingan Usaha Ditingkat Produsen
Perusahaan pengoalahan susu di Indonesia sudah cukup berkembang
dengan baik. Nilai investasinyapun sudah cukup tinggi. Data nilai Investasi
terakhir pada tahun 2009 mencapai US$ 56,757 juta atau Rp. 10,2 triliun. Hal ini
juga dibuktikan dengan diterbitkanya izin usaha tetap dan izin prinsip untuk
delapan perusahaan susu terbesar di Indonesia oleh BKPM. Delapan perusahaan
susu terbesar di Indonesia antara lain PT. Ajinomoto Calpis Beverage Indonesia,
PT. Frisian Flag Indonesia, PT. Puri Purnama Delodyeh, PT. Cisarua Mountain
Diary, PT. Sari Husada, PT. Danone Indonesia dan PT. Indolakto. Perusahaanperusahaan tersebut memproduksi berbagi jenis olahan susu mulai dari susu
bubuk, UHT, yogurt, susu kental manis dan lain-lain. Industri pengolahan susu di
Indonesia diprediksikan akan tumbuh 10%/tahun.
Delapan perusahaan besar yang telah memiliki branding yang kuat tersebut
yang menjadi tantangan bagi PT. Surya Pagi Indonesia untuk dapat
mengembangkan usaha produksi susu UHT. Berdasarkan analisis daya saing DRC
di Indonesia mencapai angka 0,23 yang berarti kurang dari satu atau dalam arti
lain daya saingnya cukup tinggi. Berdasarkan hasil skoring beberapa faktor daya
saing juga menunjukkan angka 90% yang berarti daya saing sangat tinggi.
Persaingan industri pengolahan susu cukup ketat dan menjadi tantangan bagi
perusahaan baru untuk mampu menghadirkan inovasi baru dalam produknya.
Produsen susu olahan atau perusahaan pengolahan susu terutama susu UHT lebih
banyak terkonsentrasi di Jawa Barat sedangkan di Jawa Tengah sendiri terdapat
beberapa anak cabang dari mega perusahaan yang mampu memproduksi dalam
kapasitas besar dan mendistribusikanya ke seluruh negeri. Susu UHT sudah cukup
akrab di masyarakat hal ini ditunjukkan dengan tingkat konsumsi yang cukup baik
yaitu 0,1197 kg/kapita/tahun dengan pertumbuhan sekitar 1,36%/tahun. Tingkat
persaingan yang ketat secara global di Indonesia dengan berkuasanya perusahaan-

perusahaan besar juga menjadi peluang bagi PT. Surya Pagi untuk tetap dapat
mengembangkan usaha produksi susu UHT nya. Pemilihan wilayah regional Jawa
Tengah diharapkan mampu bersaing karena perusahaan fokus pada permintaan
kelompok masyarakat yang sama dan dengan pertimbangan Jawa Tengah bukan
sebagai wilayah sentra industri pengolahan susu.
2.4 Market Share
Market share adalah bagian pasar yang dikuasai oleh suatu perusahaan dan
seluruh potensi jual, biasanya dinyatakan dalam pensentase. Saat ini secara global
di Indonesia dan tidak terkecuali di daerah regional Provinsi Jawa Tengah Market
share susu UHT dikuasai oleh tiga perusahaan besar yaitu Ultra Jaya, Nestle dan
Frisian Flag. Ultrajaya memimpin pasar dalam segmen susu cair segar (UHT)
dengan angka market share sebesar 54,38% di urutan kedua adalah Nestle dengan
angka markest share 20,45% dan Frisian Flag dengan angka market share 16,31%.
Angka pertumbuhan yang ditunjukkan oleh ketiga perusahaan tersebut juga sangat
sehat sekitar 20% per tahun, di atas rata-rata market.
PT. Surya Pagi Indonesia sebagai perusahaan baru dibidang pengolahan
susu UHT pada perkembanganya mungkin belum mampu melonjak melampaui
market share ketiga perusahaan tersebut. Seperti perusahaan skala kecil lainya
kemungkinan market share berada pada angka dibawah 2%. Namun perlu di ingat
bahwa distribusi dan pemasaran yang akan dilakukan oleh PT. Surya Pagi
Indonesia berada pada daerah regional Jawa Tengah saja. Maka dapat
dimungkinkan market share meningkat dengan strategi pemasaran yang berbasis
pada sumber daya lokal. Bagaimana perusahaan mampu meningkatkan revenue
nya dalam total pasar yang ada. Peningkatan revenue dengan strategi pemasaran
yang baik akan menigkatkan market share perusahaan.
2.5 Strategi Pemasaran
Sebagaimana kita ketahui bahwa produk ataupun jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan tidak mungkin dapat mencari sendiri pembeli ataupun peminatnya.
Oleh karena itu, produsen dalam kegiatan pemasaran produk atau jasanya harus
membutuhkan konsumen mengenai produk atau jasa yang dihasilkannya. Dalam
startegi pemasaran produk susu UHT PT. Surya Pagi Indonesia menerapakan

strategi marketing mix yang sering disebut dengan 4P (Produk, Price, Place and
Promotion).
1. Strategi Produk
Produk susu UHT PT. Surya Pagi Indonesia memiliki brand nama Surya
Pagi UHT Milk. Produk ini dikemas dengan kemasan tetrapack dengan
kombinasi bahan yang dapat meningkatkan daya tahan susu selama masa
penyimpanan (Gambar 1). Menjaga susu UHT dari cemaran udara, sinar
matahari, kelembaban dan cemaran bau disekitarnya. Kemasan tetrapack
tersebut menjamin mutu dan kualitas susu UHT sehingga aman dan sehat untuk
dikonsumsi

oleh konsumen.

Kemasan tetrapack

yang diusung juga

menimbulkan kesan menarik dengan gradasi warna yang juga menarik. Selain
unggul di dalam pengemasan, susu UHT juga menawarkan pilihan berbagai
macam rasa susu sehingga masyarakat dapat memilih rasa susu sesuai dengan
selera masing-masing.

Gambar 1. Lapisan perlindungan kemasan tetrapack

Gambar 2. Produk Susu UHT Surya Pagi

Selain unggul pada kemasan dan varian rasa yang ditawarkan susu UHT
surya pagi juga menawarkan susu dengan kualitas nutrisi yang baik. Proses
pemanasan susu dengan suhu yang tinggi (sekitar 1350) selama tidak lebih dari 2
detik menyebabkan nutrisi dari susu tidak jauh berbeda dibandingkan dengan
kondisi segarnya. Selain itu proses pemanasan pada suhu tersebut juga
dilaksanakan dengan sistem aseptis, sehingga susu terbebas dari cemaran mikroba
pembusuk atau yang bersifat patogenik lainnya. Informasi nilai gizi susu UHT
surya Pagi dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Informasi gizi susu UHT Surya Pagi

2. Strategi Harga
Dalam menentukan harga ada beberapa faktor yang berpengaruh, seperti,
biaya variabel, biaya tetap, jumlah pesaing dan sebagainya. Secara sederhana
perusahaan menetapkan harga seperti yang terlampir dalam proyeksi keuangan
pada BAB IX. Secara umum harga pasaran untuk susu UHT oleh beberapa
perusahaan di pasaran berbeda pada tiap ukuran kotak tetrapack. Umumnya
harga susu UHT dengan uuran 125 ml dari produsen adalah Rp. 2.000,-, ukuran
200 ml Rp. 3.200,- dan ukuran 250 ml adalah Rp. 4.200,-. Strategi yang di

siapkan oleh perusahaan adalah menawarkan susu UHT dengan harga di bawah
pasaran susu UHT dari perusahaan pesaing lainya.
3. Strategi Palcement
Target placement perusahaan dalam memasarkan susu adalah pada seluruh
wilayah regional kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah. Susu UHT akan
didistribusikan langsung pada para penjual tanpa perantara sehingga penetapan
harga susu di pasar dapat dipastikan lebih murah dibandingkan susu UHT dari
perusahaan lain. Susu akan diistribusikan hingga ke plosok desa di setiap
kabupaten dan kota dengan metode jemput bola. Sehingga seluruh toko-toko yang
ada mampu dikuasi oleh perusahaan untuk dapat menjual produk dari perusahaan.
4. Strategi Promosi
Strategi promosi yang diterapkan perusahaan adalah dengan promosi
melalui media elektronik (radio) dan media masa seperti koran lokal dan lainya.
Promosi belum pada tahap promosi pada media televisi mengingat jangkauan
placement yang masi terbatas pada regional Jawa Tengah. Seperti yang
diterangkan sebelumnya bahwa tekhnik promosi juga dilakukan dengan sistem
jemput bola. Perusahaan mendistribusikan sendiri produk ke para pedagang
dengan menawarkan harga yang lebih menguntungkan. Selain itu juga dilakukan
promosi dengan media pamflet yang dipasang pada toko-toko yang menjual
produk susu UHT Surya Pagi.

Gambar 3. Contoh Pamflet dalam Menjalankan Strategi Promosi

III. ASPEK TEKNIK DAN TEKNOLOGI

3.1 Lokasi dan Lahan


Lokasi usaha akan direncanakan di wilayah Kabupaten Banyumas, tepatnya
di Jl. Raya Baturraden No. 70 Desa Pandak, Kecamatan Baturraden, Kabupaten
Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Banyumas merupakan daerah yang
memiliki iklim investasi yang cukup baik dengan kemudahan izin pendirian usaha
yang mudah. Akses transportasi yang tidak sulit, didukung dengan ketersediaan
lahan industri yang masih banyak memudahkan pendirian tempat usaha di wilayah
Kabupaten Banyumas. Selain itu, letak wilayah strategis dan memiliki prospek
pasar yang cukup baik serta didukung dengan cukup tersedianya bahan baku
(susu) dari banyak peternaksapi perah di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.
Lahan yang dibutuhkan untuk pendirian usaha adalah sekitar 6.679 m2.
Lahan tersebut akan dibangun pabrik tempat proses produksi dilaksanakan skitar
3.000 m2. Kantor tempat proses administrasi dilaksanakan 400 m2, gedung quality
control dan pergudangan kurang lebih 1.700 m2 dan sisanya adalah infrastruktur
jalan dan instalasi penanganan limbah.
3.2 Skala Produksi
Skala produksi yang ditargetkan oleh perusahaan adalah sekitar 1.000.0000
liter per tahun atau sekitar 100.000 liter per bulannya. Bahan baku susu diserap
utamanya dari peternak-peternak lokal dengan standar mutu yang telah ditetapkan
dan sesuai dengan standar SNI. Skala produksi akan terus berkembang beriringan
dengan perluasan pasar yang dirancang pada evaluasi usaha berikutnya.
3.3 Denah dan Tata Letak Usaha
Bangunan perusahaan ditempatkan pada satu kompleks usaha dimana
distribusi dari tempat satu ke tempat yang lainya dapat mudah dilaksanakan. Tata
letak diperhitungkan selain diatur berdasarkan sisi kemudahan, juga diatur dengan
sisi keamananya. Bangunan perusahaan terdiri dari 1 bangunan produksi, 2
bangunan gudang dan quality control dan 1 gedung kantor. Denah sederhana
perusahaan dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Denah dan Tata Letak Usaha PT. Surya Pagi Indonesia

3.4 Teknologi, Mesin dan Peralatan


Teknologi yang digunakan dalam produksi adalah dengan ultra high
temperatur (UHT). Ultra high temperatur adalah salah satu proses pasteurisasi
susu yang menggunakan suhu tinggi. Suhu yang digunakan dalam proses
pemanasanya yaitu sekitar 137-1400 dan dilakukan dalam waktu yang amat sngkat
yaitu sekitar 2-3 detik. Selain itu teknologi pengemasan dengan tetrapack juga
dilakukan dengan sistem yang safety dan higienis. Prosesing susu UHT meliputi
beberapa tahapan yang runut dan sitematis, sehingga tercipta produk yang sesuai
dengan standard SNI. Prosesing susu UHT secara sederhana dapat dilihat pada
gambar 5.

Gambar 5. Prosesing Susu UHT


1. Penerimaan dan Pengujian Mutu
Susu umumnya disetor langsung oleh koperasi atau kelompok peternak
kepada perusahaan. Setelah dilakukan penerimaan susu, perlu diuji terlebih
dahulu. Uji mutu adalah kegiatan awal yang dilakukan sebelum prosesing
susu dalam mesin. Pengujian tersebut ditujukan untuk menguji kualitas susu
yang meliputi BJ susu dan juga uji alkohol. Apabila berdasarkan BJ dan uji
alkohol susu dinyatakan layak, maka dilanjutkan pada proses penyaringan.
2. Penyaringan/Penjernihan
Proses penyaringan dilakukan untuk menyaring partikel-partikel non susu
yang mungkin terbawa pada saat pemerahaan sampai pendistribusian oleh
koperasi atau kelompok peternak. Biasanya partikel berupa bulu atau kotoran
yang lainya, selain itu juga penjernihan yang bertujuan untuk menghilangkan
sebagian leukosit dan bakteri yang menyebabkan kerusakan susu selama
penyimpanan. Setelah itu susu dimasukkan ke dalam tangki penampungan.

3. Homogenisai
Susu dari tangki penampungan selanjutnya dialirkan menuju tangki
homogenisasi untuk menyama ratakan berat jenis dan partikel susu yang
berasal dari sumber berbeda.
4. Heating
Setelah dihomogenkan selanjutnya susu dialirkan menuju pemanas dengan
sistem mengalir cepat daam waktu 2 detik. Pemanasan dilakukan pada suhu
1350 C.
5. Cooling
Setelah susu mengalami pemanasan, selanjutnya dilakukan pendinginan
hingga susu susu turun menjadi stabil.
6. Mixing Esens
Setelah suhu susu kembai stabil dilakukan pencampuran esen pada tangki
yang berbeda sesuai dengan rasa yang diinginkan.
7. Finishing dan Pengemasan
Setelah susu di mixing dengan esens, selanjutnya dialirkan menuju automatic
filling/ mesin otomatis yang memasukkan susu pada kemasan-kemasan
tertrapack.
8. Storage
Setelah proses pengemasan selesai, susu disimpan pada suhu rendah untuk
mencegah kerusakan.
9. Uji Kualitas
Sebelum susu dipasarkan, dalam setiap produksi dilakukan sampling
beberapa kotak susu untu diuji kualitasnya. Kualitas susu tersebut meliputi
uji rasa dan uji cemaran bakteri. Jika lolos uji maka dapat dipasarkan.

Teknologi prosessing susu UHT tidak akan lepas dengan teknologi mesin
otomatis yang dapat melaksanakan produksi dengan cepat dan dengan kapasitas
yang besar. Mesin-mesin yang dibutuhkan dalam prosesing susu UHT antara lain
adalah homogenizer, sterilizer/heater, cooler, belt run dan lain-lain. Gambaran
mesin yang dibutuhkan dapat dilihat pada gambar 6 dan 7. Sedangkan denah tata
letak mesin secara umum dapat digambarkan seperti gambar 8.

Flow Chart Pembuatan Susu UHT

Penerimaan dan Pengujian Mutu


Uji BJ (Laktodensimeter) :1,028
Uji Alkohol 70%(bordextester) : tidak
menggumpal

Penyaringan dan Penjernihan


Menggunakan Kain saring Steril

Homogenisasi
Homoginezer selama 2-8 menit

Heating
Heating pada suhu 1350C selama 2 detik

Cooling
Suhu diturunkan Hingga 350C

Mixing Esens
Cooling

Mixing selama 10 menit

Pengemasan
Cooling

Filling dengan kapasitas 1500 Kotak/jam

Storage
Cooling

Penyimpanan pada suhu rendah <200C

Uji Kualitas Produk


Cooling

Uji organoleptik dan Mikrobiologis

(a)

(b)

Gambar 6. (a) Milk Homogenizer, (b) Milk Sterilizer

(a)

(b)

Gambar 7. (a) Cooler, (b) Milk filling dan tetrapack mechine

Gambar 8. Denah/Tata Letak Mesin

IV. ASPEK MANAJEMEN

4.1 Struktur Organisasi

4.2 Kebutuhan Tenaga Kerja


Pekerja yang dibutuhkan oleh perusahaan sebanyak 136 orang. Perusahaan
membutuhkan pekerja dengan berbagai tingkat pendidikan dan profesi.
Perusahaan membutuhkan beberapa lulusan sarjana seperti sarjana manajemen,
ekonomi, peternakan, farmasi, teknologi pangan dan tekhnik. Adapun komposisi
yang dibutuhkan adalah 1 orang untuk posisi manager, 6 orang pada staf HRD, 3
orang security, 4 supervisor, 13 staf divisi produksi, pemasaran dan QC dan 10
operator serta 86 pekerja lepas/buruh.
4.3 Sumber Tenaga Kerja
Sumber tenaga kerja dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat diambil
dari lulusan berbagai universitas yang berkopetens dan ahli dibidangnya. Selain
lulusa dengan kopetensi yang baik juga diharapkan pekerja merupakan orangorang yang sudah memiliki pengalaman kerja. Sedangkan pada pekerja lepas
seperti staf dan operator diutamakan 80% diserap dari penduduk sekitar
perusahaan.

4.4 Balas Jasa Tenaga Kerja


Bentuk apresiasi dan balas jasa atas kinerja yang dilakukan oleh pekerja
perusahaan sudah semestinya memberikan gaji pokok yang proposional. Selain
gaji pokok tersebut seluruh pekerja juga diasuransikan dan terdapat pemberian
insentif pada pencapaian prestasi kerja tertentu. Rincian gaji yang diberikan oleh
PT. Surya Pagi Indonesia dapat dijabarkan sebagai berikut.
1. Manager

: Rp. 4.000.000,-

2. Supervisor

: Rp. 2.300.000,-

3. Staff

: Rp. 1.800.000,-

4. Operator

: Rp. 1.500.000,-

5. Security

: Rp. 1.500.000,-

6. Tenaga Lepas

: Rp. 900.000,-

4.5 Job Description


1. Manager
Memimpin beberapa unit bidang fungsi pekerjaan dan atau mengepalai
seluruh manager operasional. Fungsi manager juga meliputi perencanaan,
strategi dan kebijakan yang menyangkut operasional perusahaan.
Menyusun anggaran dan program kerja, menjamin operasional produksi,
kontroling secara keseluruhan dalam perusahaan, memegang kendali atas
keputusan yang bersifat final terkait masalah regulasi dan finansial,
menjalankan visi dan misi perusahaan, mengatasi masalah interal dan
eksternal yang berkaitan dengan negosiasi terhadap perusahaan lain,
pemerintah dan juga masyarakat.
2. Administrasi dan Accounting
Bagian administrasi dan accounting bekerja sama dalam merekam
kegiatan produksi perusahaan dalam laporan pembukuan. Pengelolaan
keuangan dan perizinan serta pelaksanaan evaluasi produksi. Melaporkan
secara berkala mengenai penggunaan dan pemasukan dan perusahaan.
Melaporkan kegiatan kerja sama dan kegiatan perusahaan lainnya.
Mencatat pengadaan dana, bahan baku, barang-barang, mesin dan lainya.

Membuat laporan keungan tahunan. Mengatur A/R dan A/P perusahaan


serta pembayaran tanggungan perusahaan terhadap pajak atau perbankan.
3. Supervisor Pemasaran
Berwenang mengelola pemasaran perusahaan secara menyeluruh.
Menyusun perencanaan, strategi pemasaran yang jitu, penjualan, harga,
promosi serta berbagai hal yang berkaitan dengan pemasaran produk.
Mengawasi pelaksanaan pemasaran serta menjaga kontinuitas pemasaran.
Memberikan masukkan kepada manager terhadap perubahan dan peluang
pasar.
4. Supervisor Produksi
Berwenang mengelola produk dan proses produksinya dari awal hingga
akhir secara menyeluruh. Mengatur strategi produksi produksi seperti
inovasi dan lainya. Mengatur pengadaan dan inventory produk,
melaporkan kegiatan produksi pada staf manager dan melakukan
pengembangan produksi.
5. Quality Control
Mengawasi dan melakukan kontrol terhadap kualitas dan kuantitas
produksi. Kontrol dilakukan mulai dari kualitas dan kuantitas bahan baku
yang akan digunakan. Selanjutnya mengontrol kualitas produk hasil
produksi. Kualitas di kontrol melalui uji laboratorium.
6. Staf dan operasional
Bertugas menjalankan roda produksi mulai dari penanganan dan
pengaturan kerja mesin. Melakukan kerja langsung terhadap produk dan
melakukan kegiatan-kegiatan manual dalam mendampingi kerja mesin.

V. ASPEK EKONOMI, SOSIAL DAN POLITIK

5.1 Pendapatan Perkapita Masyarakat


Secara global pendapatan per kapita Indonesia atas dasar harga berlaku pada
2010 tercatat mencapai Rp 27 juta atau setara dengan 3.004,9 dollar AS. Jawa
Tengah merupakan salah satu provinsi dengan tingkat perekonomian yang baik di
Indonesia. Jawa tengah merupakan lima besar atau tepatnya urutan ke 4 PDRB
(Pendapatan Domestik Regional Bruto) tertinggi di Indonesia setelah DKI Jakarta,
Jawa Timur dan Jawa Barat. PDRB riil yang dimiliki Jawa Tengah adalah senilai
11.184 ribu rupiah dengan pertumbuhan triwulan terakhir tahun 2013 dibanding
triwulan sebelumnya yaitu 5,2%. Laju PRDB per kapita provinsi jawa tengah
adalah 4,80% atau Rp. 3.512.046,01.
5.2 Penyerapan Tenaga Kerja
Kementerian Perindustrian telah menetapkan industri pengolahan susu
sebagai salah satu industri yang akan terus diprioritaskan pengembangannya
sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2008 Tentang
Kebijakan Industri Nasional. PT. Surya Pagi Indonesia merupakan bagian dari
prioritas pemerintah tersebut. Artinya bahwa pembangunan perusahaan ini bukan
hanya berlandaskan nilai finansial saja tetapi membantu mengembangkan sosial
ekonomi masyarakat. Peran sosial ekonomi ini diwujudkan dalam penyerapan
tenaga kerja disekitar wilayah pembangunan perusahaan atau tepatnya di wilayah
Banyumas. Perusahaan baru dapat menyerap 70 tenaga kerja yang 80% nya
diserap dari masyarakat sekitar. Sedangkan sisanya di berikan kepada pekerja
yang ahli dibidang yang perusahaan butuhkan dari wilayah manapun di Idonesia
untuk kemudian di domisilikan di daerah Banyumas. Masih sedikitnya
penyerapan tenaga tersebut adalah berkaitan dengan pertimbangan teknologi
yang digunakan perusahaan sudah cukup tinggi dengan pengendalian otomatis
dan juga disebabkan karena pendirian perusahaan yang masih baru. Dengan
perkembangan perusahaan yang terus meningkat akan diikuti dengan penyerapan
tenaga kerja yang juga akan meningkat.

5.3 Penambahan Devisa


Pertumbuhan ekonomi melalui pertumbuhan sector perindustrian di
Indonesia memberikan kontribusi cukup besar dalam pembangunan negara.
Berdirinya industry susu UHT PT. Surya Pagi Indonesia memberikan dampak
positif terhadap penambahan devisa daerah maupun nasional secara lebih luas.
Hal ini sesuai amanat pemerintah yang mendukung pertumbuhan industry lokal
dan pertumbuhan perusahan-perusahaan baru dalam negeri sebagai ladang devisa
yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat melalui program pembangunan.
Industri pengolahan susu merupakan bagian dari industri makanan dan minuman
yang menyumbangkan devisa mencapai 35,73% bagi negara. Pembangunan
perusahaan ini dan perkembanganya dikemudian hari menjadi harapan dalam
meningkatkan sumbangsihnya dalam bentuk devisa bagi negara.
5.4 Keuntungan Trnasfer Pengetahuan/Teknologi
Pendekatan aspek social masyarakat dengan berdirinya Industry susu UHT
PT. Surya Pagi Indonesia melalui transfer ilmu pengetahuan atau teknologi
industry pengolahan susu. Penerapan teknologi dan sains dalam memproduksi
susu UHT secara modern diharapkan mampu memberikan rangsangan positif
dalam pengembangan pengetahuan masyarakat akan kemajuan teknologi.
Aplikasi teknologi pengolahan susu juga diharapkan dapat dipelajari oleh tenaga
kerja yang notabene merupakan masyarakat sekitar sehingga secara tidak
langsung tenaga kerja/masyarakat memperoleh transfer pengetahuan dan
teknologi mengenai Industry tersebut. Selain itu, pengetahuan mengenai manfaat
mengkonsumsi susu UHT diharapkan mampu terserap secara tidak langsung di
tengah masyarakat setelah mengetahui keberaaan industry susu UHT di
lingkungan masyarakat.
5.5 Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Proyek
Persepsi dan sikap masyarakat terhadap proyek pembangunan perusahaan
cukup positif. Hal ini dibuktikan dengan kemudahan perusahaan dalam
membebaskan lahan untuk pembangunan perusahaan. Keterbukaan masyarakat
didasarkan atas kesadaran mereka terhadap peluang ekonomi yang akan terjadi
kedepan. Berdirinya perusahaan di lingkungan mereka tentu akan meningkatkan
roda perekonomian dan penyerapan tenaga kerja bagi sekitar. Selain itu juga

diyakinkan dengan jaminan perusahaan dalam menangani limbah industri dan


juga pemeliharaan infrastruktur desa kedepanya.
5.6 Keamanan Lingkungan
Keamanan lingkungan perusahaan dan secara tidak langsung juga
lingkungan masyarakat akan dapat selarah dan harmonis dengan komitmen
perusahaan dalam memegang janjinya dan ikut mensejahterakan kehidupan
masyarakat sekitar. Perusahaan berusaha untuk menciptakan hubungan timbal
balik yang baik dengan masyarakat, menjalin hubungan yang baik juga dengan
tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh, serta terus berusaha menciptakan
program ditengah masyarakat sebagai wujud bakti persahaan kepada masyarakat.
Hubungan yang terjalin baik tersebut akan membantu perusahaan dalam menjaga
keamanan produksinya. Masyarakat ikut merasa memiliki perusahaan sehingga
tidak mudah diintervensi dan diprovokasi oleh kepentingan tertentu dalam
menghancurkan perusahaan.

VI. ASPEK REGULASI DAN LEGALITAS

6.1 Sistem Hukum yang Berlaku untuk Pendirian Perusahaan


Kebijakan pemerintah yang mengatur tentang investasi dan perijinan
industri pengolahan susu daiantaranya adalah Paket Kebijakan Pemerintah
tanggal 23 Mei 1995, berisi tentang DNI (Daftar Negatif Investasi). Penjelasan
tentang kebijakan ini adalah Industri pengolahan susu dalam negeri ditetapkan
sebagai industri yang tertutup bagi penanaman modal kecuali memenuhi
persyaratan terpadu dengan peternakan. Perpaduan antara industri pengolahan
susu dengan industri peternakan sapi perah diharapkan mampu mendorong
terbentuknya sistem agroindustri susu Indonesia berbasis sumber daya lokal.
Selain itu juga perusahaan memperhatikan mengenai peraturan daerah yang
berlaku. Perusahaan berusaha menerapkan sedemikan usahanya seperti tata aturan
dan hukum yang berlaku salah satunya seperti yang termaktub dalam Peraturan
Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Banyumas.
6.2 Persyaratan Administrasi Pendirian Perusahaan
Persyaratan admnistrasi untuk memperoleh persetujuan atau ijin yang
dikeluarkan pemerintah Kabupaten Banyumas sesuai dasar hukum : Keputusan
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No. 590/ MPP/ Kep/
10/99 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Industri, Izin Usaha
Perluasan dan Tanda Daftar Industri, ialah sebagai berikut.
1. Formulir permohonan (ijin industri SP 1 dan Pm II) yang telah diisi lengkap
dan benar.
2. Foto copy akte pendirian perusahaan dan foto copy surat keputusan
berwenang untuk Perusahaan Perseroan.
3. Foto copy akta pendirian koperasi yang telah mendapatkan pengesahan dari
instansi yang berwenang untuk perusahaan yang berbentuk koperasi.
4. Foto copy akta pendirian perusahaan yang telah didaftarkan pada pengadilan
negeriuntuk perusahaan persekutuan.
5. Foto copy KTP penanggungjawab Perusahaan/Koperasi.

6. Foto copy izin gangguan/AMDAL bagi kegiatan usaha perdagangan yang


dipersyaratkan.
7. Neraca awal perusahaan.
8. Pas foto penanggung jawab ukuran 4x6 sebanyak 2 lembar.
Berkaitan dengan aspek regulasi dan legalitas tersebut, PT. Surya Pagi
Indonesia memiliki kekuatan hukum berdasarkan kelengkapan berkas
persyaratan administrasi pendirian usaha, dan perizinan berdasarkan Peraturan
Perundang-undangan melalui keputusan Kementerian Perindustrian dan
Perdagangan Republik Indonesia.

VII. ASPEK LINGKUNGAN

7.1 Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL)


Analisis dampak lingkungan (dikenal dengan nama AMDAL) adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia.
AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan
memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Lingkungan
hidup yang dimaksud di sini adalah aspek abiotik, biotik dan kultural. Dasar
hukum AMDAL di Indonesia adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012
tentang "Izin Lingkungan Hidup" yang merupakan pengganti PP 27 Tahun 1999
tentang Amdal.
Studi kelayakan tempat yang dekat dengan masyarakat mengakibatkan
perusahaan PT.Surya Pagi Indonesia menimbulkan dampak, penting terhadap
lingkungan, baik pada tahap pra konstruksi, konstruksi, maupun pasca konstruksi.
Pendirian perusahaan ini ditilik dari perusahaan yang menjalankan usaha sejenis
mengenai dampak lingkungan yang mungkin terjadi adalah berkaitan dengan
penurunan kualitas udara dan air di sekitar lingkungan. Instalasi pengelolaan
limbah (IPAL) mungkin akan memberikan dampak bau busuk di sekitar
lingkungan, karena limbah susu mudah sekali terurai oleh mikroba patogenik.
Selain itu kebutuhan air yang besar dari perusahaan menyebabkan perusahaan
membangun instalasi sumur bor yang mungkin akan menurunkan ketersediaan air
di wilayah sekitar perusahaan.
7.2 Unit Pemantauan Lingkungan (UPL) dan Unit Kelola Lingkungan (UKL)
Pengertian sistem manajemen lingkungan menurut ISO 14001:2004 adalah
suatu sistem manajemen pengelolaan lingkungan yang telah diakui secara
internasional dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Badan Sertifikat di bawah
koordinasi Organisasi Standar Internasional (ISO : International Organization For
Standardization). Sistem Manajemen Lingkungan atau Environment Management
System (EMS) merupakan bagian dari keseluruhan sistem manajemen yang
meliputi struktur organisasi, rencana kegiatan, tanggung jawab, latihan atau

praktek, prosedur, proses dan sumber daya untuk pengembangan, penerapan,


evaluasi dan pemeliharaan kebijakan lingkungan. ISO 14001 pada prinsipnya
berisi syarat atau aturan komprehensif bagi suatu organisasi dalam
mengembangkan sistem pengelolaan dampak lingkungan yang baik dan
menyeimbangkan dengan kepentingan bisnis, sehingga upaya perbaikan kinerja
yang dilakukan akan disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki perusahaan.
Upaya Kelola Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) merupakan uraian kegiatan pengelolaan dan pemantauan yang bersifat
operasional. UKL dan UPL merupakan bagian dari amdal yang dimuat setelah
pelaksanaan analisis dampak lingkungan yang mungkin terjadi selanjutnya
disusunlah UKL dan UPL. Pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan adalah
pada dampak yang dapat timbul sepanjang proses produksi yaitu berupa
penurunan kualitas air dan udara sekitar. Sedangkan unit kelola berkaitan dengan
pengelolaan dampak dan pengelolaan masyarakat. UPL dilaksanakan dengan
melakukan kajian dan uji lab terhadap kualitas udara dan air di sekitar perusahaan.
Uji udara dan air misalnya kaitan dengan bau dan kandungan senyawa kimia
berbahaya yang mungkin ditimbulkan oleh limbah dan mesin-mesin pabrik. Unit
kelola lingkungan berkaitan dengan pengelolaan terhadap dampak yang timbul
dalam lingkungan akibat proses produksi. Serta pengelolaan masyarakat untuk
dapat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan peningkatan gaya hidup
sehat.
7.3 Upaya Pengelolaan Limbah
Aspek lingkungan merupakan bagian yang tidak bias dipisahkan dalam
suatu rencana pendirian industry. Aspek lingkungan yang meliputi aspek
pengelolaan limbah adalah kegiatan terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan
(minimization), segregasi (segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan
pengolahan limbah. Pengelolaan limbah di industri pengolahan susu yakni
menjalankan secara terintergrasi kegiatan pengurangan, segregasi dan handling
llimbah sehingga menekan biaya dan menghasilkan output limbah yang lebih
sedikit serta minim tingkat pencemarnya. Integrasi dalam pengelolaan limbah
tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih
(cleanerproduction), atau minimasi limbah (waste minimization).

Karakteristik limbah cair industri susu tidak jauh berbeda dengan limbah
cari industri makanan. Tetapi limbah cair yang berasal dari industri susu
mempunyai karakteristik khas yaitu kerentanannya terhadap bakteri pengurai
sehingga mudah terjadi pembusukan. Karakter air limbah industri susu
mengandung kadar organik yang cukup tinggi tetapi mudah terurai. Kadar BOD
pada air limbah susu + 4000 mg/L dan COD + 2000 mg/L. Perbandingan BOD
dan COD setiap pabrik bervariasi namun secara umum adalah 1.75:1. Sedangkan
kadar padatan tersuspensi (TSS) air limbah susu adalah + 800 mg/L.
Sumber utama air limbah pada proses pembuatan susu sebagian besar
berasal dari produk yang hilang yang ikut selama proses pencucian dan dihasilkan
dari tumpahan/ kebocoran selama proses produksi. Produk yang hilang selama
proses produksi diperkirakan mencapai 0.1%-3%. Kehilangan produk juga
disebabkan oleh manajemen house keeping dan sistem operasional yang kurang
baik terjadi saat pemindahan pipa saluran produksi, mesin evaporasi, proses
pengisian dan sisa bahan baku yang rusak. Air limbah yang cukup besar juga
dihasilkan dari air pendingin dan kondensat. Penanganan air buangan pendingin
tersebut biasanya dapat diatasi dengan melakukan recycle melalui sistem tertutup
sehingga dapat digunakan kembali.
Volume air limbah yang dihasilkan setiap pabrik sususangat bervariasi.
Namun di beberapa negara maju tingkat efisiensi sudah cukup baik, volume air
limbah yang dihasilkan dari pabrik susu dasar adalah 3.9 ltr/kg produk susu dan
untuk pabrik susu terpadu adalah 11.2 ltr/ kg produk. Untuk Indonesia rata-rata
volume yang dihasilkan dari sebuah pabrik susu adalah 2 ltr/kg produk susu.

VIII. ANALISIS RESIKO

Analisis resiko usaha merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan
dalam mengurangi tingkat kerugian suatu perusahaan. Analisis resiko yang
dilakukan yakni dengan mengamati indicator vital dalam proses produksi.
Indikator yang diamati meliputi :
1. Kenaikan harga bahan baku.
2. Kenaikan upah tenaga kerja.
3. Penurunan penjualan.
4. Kerusakan alat-alat produksi
5. Perluasan dampak limbah produksi
Berdasarkan asumsi indicator tersebut , PT. Surya Pagi Indonesia memiliki
langkah antisipasi dalam mengatasi kemungkinan terbutuk atau resiko usaha.
Adapun antisipasi resiko usaha tersebut sebagi berikut.
1. Pembelian Stock Bahan Bahan Baku dan Bahan Penolong
Perusahaan akan membeli stok bahan baku melalui kontrak kerjasama dengan
perusahaan rekanan membuat MoU yang saling menguntungkan. Untuk
menghindari kenaikan harga secara tiba-tiba, kontrak kerjasama pemenuhan
kebutuhan bahan baku selama satu tahun. Khusus bahan baku susu,
perusahaan

juga

memberlakukan

kerjasama

saling

menguntungkan

denganpeternak.
2. Membuat Kontrak Dengan Tenaga Kerja
Kontrak dengan tenaga kerja dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan upah
tenaga kerja.
3. Memperluas Saluran Distribusi Pemasaran
4. Membuat Inovasi Baru dan Promosi Produk
Salah satu indicator penurunan daya beli masyarakat yakni titik jenuh
masyarakat dalam mengkonsumsi produk yang sama tanpa ada inovasi.
Sebagai bentuk antisipasi penurunan daya beli masyarakat, PT. Surya Pagi
Indonesia membuat inovasi produk dengan menghimpun permintaan
konsumen sehingga perusahaan mampu memberikan produk unggulan yang
sesuai dengan keinginan konsumen.

5. Melakukan Maintenance Secara Berkala


Hal ini sangat penting dilakukan untuk mengantisipasi kerusakan alat-alat
produksi. Maintenance yang dilakukan secara berkala akan membantu
perusahaan dalam mengoptimalkan kinerja alat produksi sehingga dapat
memperpanjang usia produksi.
6. Mengoptimalisasi IPAL
Menerapkan sistem produksi bersih dan merancang terwujudnya zero waste.

IX. ANALISIS FINANSIAL

9.1 Biaya Investasi


No

Uraian Investasi

Bangunan
Pabrik Produksi
Kantor
Quality Control dan Gudang
Infrastuktur IPAL dan Jalan
Total
Mesin
Mesin Sterilizer (UHT)
Mesin Homogenizer
Mesin Packcaging (tetrapack) dan Filling
Mesin Coller
Total
Peralatan
Kantor
Laboratorium (QC)
Total
Kendaraan
Truk Tangki Susu
Truk Box
Mobil
Forklit
Total

Satuan

Harga/satuan

Total Harga

3.000 m2
400 m2
1.700 m2
1.579 m2
6.679 m2

Rp. 1.400.000,Rp. 2.300.000,Rp. 1.800.000,Rp. 300.000,-

Rp. 4.200.000.000,Rp. 920.000.000,Rp. 3.060.000.000,Rp. 473.700.000,Rp. 8.653.700.000,-

1 set
1 set
1 set
1 set
4 set

Rp. 350.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 450.000.000,Rp. 250.000.000,-

Rp. 350.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 450.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 1.300.000.000,-

1 set
1 set
2 set

Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,-

Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 300.000.000,-

2 unit
8 unit
1 unit
1 unit
12 unit

Rp. 320.000.000,Rp. 270.000.000,Rp. 120.000.000,Rp. 120.000.000,Total Investasi

Rp. 640.000.000,Rp. 2.160.000.000,Rp. 120.000.000,Rp. 120.000.000,Rp. 3.040.000.000,Rp. 13.293.700.000,-

9.2 Struktur Finansial


No
1
2
3
4

Uraian
Investasi
Modal Sendiri
Hutang Modal
Jangka Menegah
Deposito

Jumlah
Rp. 13.293.700.000,Rp. 5.000.000.000,Rp. 9.000.000.000,Rp. 9.000.000.000,Rp. 706.300.000,-

Keterangan
Bunga bank 13,5%
Jangka 10 tahun
Bunga deposito 8,75%/tahun

9.3 Estimasi Penjualan


Estimasi Produksi
No
1
2
3
4
5
6
7

Uraian
Utilitas susu/bulan
Utilitas susu/tahun
Hilangnya susu selama proses produksi
Penyerapan produk susu di pasar
Jenis/ukuran Produk
Penggunaan Gula
Penggunaan esens

Keterangan
150.000 liter
1.800.000 liter
5%
100 %
UHT tetrapcak 125 ml, 200 ml, 250ml
200 gram/liter susu
0,5 gram/liter susu

Estimasi Penjualan Produk/bulan (150.000 liter)


Kapasitas/bulan = 150.000 liter
Estimasi kehilangan 5%= 142.500 Liter =142.500.000 ml
No
1
2
3

Uraian Produk
125 ml
200 ml
250 ml

Susu terpakai
21.375.000 ml (15%)
42.750.000 ml (30%)
78.375.000 ml (55%)

Jumlah Kotak
171.000 Kotak
213.750 Kotak
313.500 Kotak

Ket. Harga/kotak
Rp. 1.950,Rp. 3.150,Rp. 4.150,-

Estimasi Penjualan Produk/tahun


No
1
2
3

Uraian Produk
125 ml
200 ml
250 ml

9.4 Estimasi Biaya Produksi


Penyusutan/tahun
No
Uraian Investasi
1
Bangunan
Pabrik Produksi
Kantor
QC dan Gudang
Infrastruktur
2
Mesin
Mesin Sterilizer (UHT)
Mesin Homogenizer
Mesin Packcaging
(tetrapack) dan Filling
Mesin Coller
3
Peralatan
Kantor
Laboratorium (QC)
4
Kendaraan
Truk Tangki Susu
Truk Box
Mobil
Forklit

Produksi/bulan
171.000 Kotak
213.750 Kotak
313.500 Kotak

Daya tahan

Produksi /tahun
2.052.000 Kotak
2.565.000 Kotak
3.762.000 Kotak
Total Pemasukan/tahun

Pemasukan/Tahun
Rp. 4.001.400.000,Rp. 8.079.750.000,Rp. 15.612.300.000,Rp. 27.693.450.000,-

Nilai Baru

Nilai Sisa

Penyusutan/tahun

20 th
25 th
20 th
20 th

Rp. 4.200.000.000,Rp. 920.000.000,Rp. 3.060.000.000,Rp. 473.700.000,-

Rp.2.000.000.000,Rp. 450.000.000,Rp.1.500.000.000,Rp. 150.000.000,-

Rp.110.000.000,Rp. 18.800.000,Rp. 78.000.000,Rp. 16.185.000,-

10 th
10 th

Rp.
Rp.

350.000.000,250.000.000,-

Rp.
Rp.

90.000.000,75.000.000,-

Rp. 26.000.000,Rp. 17.500.000,-

10 th

Rp.

450.000.000,-

Rp. 150.000.000,-

Rp. 30.000.000,-

10 th

Rp.

250.000.000,-

Rp.

75.000.000,-

Rp. 17.500.000,-

5 th
5 th

Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,-

Rp.
Rp.

50.000.000,75.000.000,-

Rp. 20.000.000,Rp. 15.000.000,-

15 th
15 th
15 th
15 th

Rp. 640.000.000,Rp. 2.160.000.000,Rp. 120.000.000,Rp. 120.000.000,-

Rp. 500.000.000,Rp. 1.500.000.000,Rp.


50.000.000,Rp.
50.000.000,Total Penyusutan

Rp. 9.333.333,33
Rp. 44.000.000,Rp. 4.666.666,67
Rp. 4.666.666,67
Rp. 411.651.666,70

Gaji Karyawan/tahun
No
Uraian Karyawan
1
Manager
2
Supervisor
3
Staff
4
Operator
5
Security
6
Tenaga lepas
Total Gaji Karyawan

Jumlah
1
4
19
10
3
86

Gaji/bulan
Rp. 4.000.000,Rp. 2.300.000,Rp. 1.800.000,Rp. 1.500.000,Rp. 1.500.000,Rp. 900.000,-

Total Gaji/Bulan
Rp. 4.000.000,Rp. 9.200.000,Rp. 34.200.000,Rp. 15.000.000,Rp. 4.500.000,Rp. 77.400.000,-

Sewa Lahan Diperhitungkan


Sewa lahan/m2/bulan
Jumlah Lahan terpakai
Sewa lahan/bulan
Sewa lahan/tahun

= Rp 2.000,= 6.679 m2
= Rp 2.000,- x 6.679 m2
= Rp. 13.358.000,-/bulan
= Rp. 13.358.000,-/bulan x 12
= Rp. 160.296.000,-

Cicilan Bank
Hutang Jangka Menengah
Bunga Bank
Jangka Peminjaman
Cicilan/bulan
Cicilan/tahun

= Rp. 9.000.000.000,= 13,5%


= 10 tahun/ 120 bulan
= (Rp. 9.000.000.000 + (Rp. 9.000.000.000,- x 13,5%))/120
= Rp. 85.125.000,= Rp. 85.125.000,- x 12
= Rp. 1.021.500.000,-

Total gaji/tahun
Rp.
48.000.000,Rp 110.400.000,Rp. 410.400.000,Rp. 180.000.000,Rp.
54.000.000,Rp. 928.800.000,Rp. 1.731.600.000,-

Pajak Penghasilan
Dihitung berdasarkan :
1. UU No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan,
2. UU. No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan dan
3. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2013 Tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha Yang Diterima atau Diperoleh Wajib
Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
PKP

= Gross Income Biaya Tanpa Pajak


= (Rp. 27.693.450.000,-) - (Rp. 20.850.227.667,-)
= Rp. 6.843.222.333,-

Pajak = (0,25-(Rp. 600.000.000,-/Gross Income)) x Penghasilan Kena Pajak (PKP)


= (0,25-(Rp. 600.000.000,-/ Rp. 27.693.450.000,-) x Rp. 6.843.222.333,= Rp. 1.562.541.882,-

Total Biaya Tetap/tahun


No
1
2
3
4
5
6
7

Uraian Biaya Tetap


Penyusutan
Sewa Lahan
Gaji Karyawan
Cicilan Bank
Pajak
Perawatan Mesin dan Kendaraan
Dana CSR (Corporate Social Responsibillity)
Total Biaya Tetap/tahun

Total
Rp. 411.651.666,70
Rp. 160.296.000,Rp.1.731.600.000,Rp.1.021.500.000,Rp.1.562.541.882,Rp. 50.000.000,Rp. 250.000.000,Rp. 5.145.347.717,70

Biaya Variabel/tahun
No
1
2
3
4

6
7
8

Item Biaya Variabel/tahun


Susu (liter)
Gula Pasir
Perasa/essens
Kemasan
125 ml
200 ml
250 ml
Listrik
Bahan Bakar
Promosi

Jumlah
1.800.000 Liter
360.000 Kg
900 Kg
2.052.000 kotak
2.565.000 kotak
3.762.000 kotak
12 bulan
150.000 liter
-

Harga Satuan
Rp. 5.500,Rp. 9.000,Rp. 5.000,Rp.225,Rp.350,Rp.415,Rp. 5.000.000
Rp. 8.500,Rp. 10.000.000,Total Biaya Variabel/tahun

Total (Rp.)
Rp.9.900.000.000,Rp.3.240.000.000,Rp.
4.500.000,Rp. 461.700.000,Rp. 897.750.000,Rp.1.561.230.000,Rp. 60.000.000,Rp.1.275.000.000,Rp. 50.000.000,Rp. 17.450.180.000,-

Harga Dasar
HD

= Total Biaya/Total Produk


NO
1
2
3

Produk
125 ml
200 ml
250 ml

Jumlah Produk
2052000 Kotak
2565000 Kotak
3762000 Kotak

Biaya
Rp. 1.396.438.402,Rp. 2.767.226.804,Rp. 4.988.604.141,-

Harga Dasar
Rp. 680,Rp. 1.079,Rp. 1.327,-

9.5 Cash Flow


Cash Flow
Satuan
In Flow
125 ml
200 ml
250 ml
Bunga Deposito
Total In flow
Out Flow
Investasi
Biaya Tetap
Biaya Variabel
Total Out Flow
Selisih/benefit

0
0
0
0
0
13.293.700
0
0
13.293.700

Tahun ke...
5
Rp.......(000)

10

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

4001400
8079750
15612300
61801,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

27755251,25

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

5145347,71770

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

17450180

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

22586394,348

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

5168856,902

-13.293.700

9.6 Proyeksi Neraca Untung Rugi

Current Asset/Aktiva Lancar


Susu kotak siap jual
Deposito
Intermediet Asset/Aktiva Menengah
Mesin Produksi
Peralatan Kantor
Peralatan Laboratorium
Fixed Asset/Aktiva Tetap
Bangunan
Kendaraan
Total Asset
Net Worth/Kekayaan Bersih

Rp. 27.693.450.000,Rp. 706.300.000,Rp. 1.300.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 150.000.000,Rp. 8.653.700.000,Rp. 3.040.000.000,Rp. 41.693.450.000,Total Asset-Total Hutang

Neraca Untung Rugi


Current Liabilities/Hutang Lancar
Biaya Produksi

Rp. 22.586.394.348,-

Intermediet Liabilities/Hutang Menengah


Hutang Bank
Rp. 9.000.000.000,Modal Pribadi
Rp. 5.000.000.000,Long Term Debt/Hutang Jangka Panjang
Tidak ada
Rp.0,Total Hutang
Rp. 41.693.450.000,- - Rp. 36.586.394.348,-

Rp. 36.586.394.348,Rp. 5.107.055.652,-

1. Menghitung Liquiditas
Liquiditas adalah kemampuan usaha (perusahaan membayar kewajibankewajiban finansial setiap saat atau menutup hutang-hutangnya dalam jangka
pendek tanpa mengganggu jalanya perusahaan.
Jika RJP >1 berarti hutang dapat dibayar (memiliki uang tunai)
RJP =1 berarti kekayaan sama dengan hutang
RJP <1 berarti perusahaan tidak dapat membayar hutang dan harus
menjual aset.
Rentang RJP yang baik adalah 1> RJP 2

=

RJP

= Rp. 28.399.750.000,-/ Rp. 22.586.394.348,= 1,26

Berdasarkan hasil perhitungan liquiditas perusahaan memiliki kemampuan


untuk membayar hutang dan memiliki uang tunai.
2. Menghitung solvabilitas
Solvabilitas adalah perhitungan yang membandingkan antara modal
pribadi dan modal pinjaman dalam persen. Bila solvabilitas 100% maka modal
yang digunakan seluruhnya dari modal probadi. Sebaliknya jika solvabilitas 0%
maka modal seluruhnya berasal dari pinjaman. Solvabilitas yang cukup baik
adalah diatas 50%.
=


100
( + )

Solvabilitas = (Rp. 5.000.000.000,-/Rp.9.000.000.000,-)x100


= 55,56%
Berdasarkan perhitungan solvabilitas diketahui bahwa solvabilitas
perusahaan berada pada posisi yang kuat/aman (>50%).
3. Menghitung Rasio Modal Bersih
Rasio modal bersih adalah perhitungan yang memberikan gambaran
kedudukan liquiditas dan solvabilitas usaha atau dapat dikatakan menunjukkan
kelestarian usaha. Jika hasil perhitungan > dari 1 maka usaha dapat dikatakan
lestari.

RMB

= Rp. 41.693.450.000,- / Rp. 36.586.394.348,= 1,14

Berdasarkan perhitungan RMB diketahui bahwa usaha yang dijalankan dalam


kondisi lestari.
4. Menghitung Rasio Debt/Equity (D/E)
D/E rasio merupakan perhitungan yang menunjukan rasio modal pinjaman
dan modal sendiri. Rasio ini berbalik dengan yang lain, makin kecil angkanya
makin menunjukkan kekuatan /posisi usaha.
/ =

D/E = Rp. 36.586.394.348,- / Rp. 5.000.000.000,= 7,31 /731%


D/E rasio pada usaha skla kecil angka maksimalnya adalah 2 atau hutang
200% atau 2 kali lipat dari modal yang dimiliki. Sedangkan pada skala
perusahaan besar dengan angka perputaran uang dengan satuan milyard setiap
tahunnya beragam antara 4-8 atau 400-800%. Diketahui bahwa D/E rasio PT.
Surya Pagi Indonesia pada kondisi medium dengan angka 7,31 atau hutang
perusahaan 7,31 kali lipat atau 731% dibandingkan modal pribadi. Hal ini
menunjukkan posisi perusahaan yang harus memaksimalkan produksi agar
posisinya benar-benar aman.

9.7 Kriteria Investasi


1. Net Present Value (NPV)
NPV adalah singkatan dari Net Present Value yang merupakan nilai sekarang dari
arus pendapatan yang diperoleh dari penanaman investasi. Seluruh angka net cash flow
yang digandakan atau dikalikan oleh diskon faktor pada tahun dan tingkat bunga yang
telah ditentukan. Discount faktor adalah tingkat bunga yang didasarkan atas inflansi,
sehingga nilai uang sekarang dan ditahun yang akan datang disamakan.
Cara mencari Discount faktor

NPV merupakan selisih uang yang diterima dan uang yang dikeluarkan dengan
memperhatikan time value money. Rumus time value money yang prsent value adalah
untuk mengetahui nilai uang saat ini. Oleh karena uang tersebut akan diterima di masa
depan, maka harus diketahui berapa nilainya jika diterima sekarang. NPV kemudian
dapat digunakan sebagai penyimpul suatu usaha dapat dilanjutkan atau tidak.

NPV > 0

Investasi yang dilakukan memberi manfaat Proyek


bagi perusahaan

NPV < 0

Investasi

yang

atau

usaha

diterima
dilakukan

akan Proyek atau usaha ditolak

menyebabkan kerugian bagi perusahaan.


NPV = 0

Investasi

yang

dilakukan

tidak Proyek

menyebabkan kerugian atau memberi atau


keuntungan bagi perusahaan.

dapat

diterima

ditolak,

dengan

mempertimbangkan
positioning perusahaan.

Net Present Value Pendapatan Usaha


Tingkat Bunga 13,5%
Tahun ke

Kas bersih

DF

PV Kas Bersih

-Rp.13.293.700.000

-Rp.13.293.700.000,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,88

Rp. 4.554.058.945,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,78

Rp. 4.012.386.736,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,68

Rp. 3.535.142.498,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,60

Rp. 3.114.662.994,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,53

Rp. 2.744.196.471,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,47

Rp. 2.417.794.247,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,41

Rp. 2.130.215.196,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,36

Rp. 1.876.841.582,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,32

Rp. 1.653.604.918,-

10

Rp. 5.168.856.902,-

0,28

Rp. 1.456.920.633,-

NPV

Rp. 14.202.124.220,-

Berdasarkan hasil perhitungan dan persamaan nilai rupiah di masa sekarang dan
yang akan datang pada dapat dinyatakan bahwa NPV usaha susu UHT PT. Surya Pagi
Indonesia lebih besar dari 0 yang artinya layak untuk dilaksanakan sampai 10 tahun
kedepan.
2. Internal Rate Return (IRR)
IRR adalah tingkat diskonto yang dapat membuat manfaat sekarang netto dari arus
manfaat netto tambahan atau arus uang tambahan sama dengan nol atau dengan kata lain
bahwa tingkat IRR merupakan tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar oleh proyek
sehubungan dengan sumberdaya yang digunakan. Biasanya hasilnya dibandingkan
dengan bunga deposito yang sedang berlaku.
= 1 1

21
21

P1

= tingkat bunga satu

P2

= tingkat bunga dua

C1

= NPV 1

C2

= NPV 2

Perhitungan Internal Rate Return Usaha


Tingkat Bunga 13,5%
Th ke

Kas bersih

DF

PV Kas Bersih

Tingkat Bunga 15%


DF

PV Kas Bersih

-Rp.13.293.700.000

-Rp.13.293.700.000,-

-Rp.13.293.700.000,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,88

Rp. 4.554.058.945,-

0.87

Rp. 4.494.658.176,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,78

Rp. 4.012.386.736,-

0.76

Rp. 3.908.398.414,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,68

Rp. 3.535.142.498,-

0.66

Rp 3.398.607.316,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,60

Rp. 3.114.662.994,-

0.57

Rp. 2.955.310.710,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,53

Rp. 2.744.196.471,-

0.50

Rp. 2.569.835.400,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,47

Rp. 2.417.794.247,-

0.43

Rp. 2.234.639.478,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,41

Rp. 2.130.215.196,-

0.38

Rp. 1.943.164.764,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,36

Rp. 1.876.841.582,-

0.33

Rp. 1.689.708.490,-

Rp. 5.168.856.902,-

0,32

Rp. 1.653.604.918,-

0.28

Rp. 1.469.311.731,-

10

Rp. 5.168.856.902,-

0,28

Rp. 1.456.920.633,-

0.25

Rp. 1.277.662.374,-

NPV

Rp. 14.202.124.220,-

= 13,5 . . . . ,

NPV

Rp. 12.647.596.853,-

1513,5
(...., )(....,)

IRR = 27,20%
Kisaran bunga deposito setiap bank berbeda dan IRR hasil perhitungan usaha PT.
Surya Pagi Indonesia menunjukkan diatas rata-rata bunga deposito yaitu 15%. Hal
tersebut menunjukkan bahwa modal usaha yang dilimpahkan pada usaha dapat dikelola
dengan baik atau dengan kata lain lebih baik digunakan sebagai modal usaha
dibandingkan dengan di depositokan.
3. Benefit/Cost (B/C) Ratio
Analisis manfaat-biaya merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui
besaran

keuntungan/kerugian

serta

kelayakan

suatu

proyek.

Analisis

ini

memperhitungkan biaya serta manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan suatu
program. Perhitungan manfaat serta biaya ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Analisis ini mempunyai banyak bidang penerapan. Salah satu bidang
penerapan yang umum menggunakan rasio ini adalah dalam bidang investasi. Sesuai
dengan dengan makna tekstualnya yaitu benefit cost (manfaat-biaya) maka analisis ini
mempunyai penekanan dalam perhitungan tingkat keuntungan/kerugian suatu program

atau suatu rencana dengan mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan serta
manfaat yang akan dicapai. Analisis manfaat dan biaya dalam pengembangan investasi
hanya didasarkan pada rasio tingkat keuntungan dan biaya yang akan dikeluarkan. B/C
yang baik adalah diatas 0 dan dapat didampingi dengan nilai R/C yang berada diatas
angka 1.
Perhitungan Benefit/Cost Ratio
th
ke

df
13.5%

Penerimaan

Cost

Benefit

PV
Penerimaan

PV Cost

PV Benefit

13293700000

-13293700000

13293700000

13293700000

0.881057

27755251250

22586394348

5168856902

24453965859

19899906914

4554058945

0.776262

27755251250

22586394348

5168856902

21545344369

17532957634

4012386736

0.683931

27755251250

22586394348

5168856902

18982682264

15447539765

3535142498

0.602583

27755251250

22586394348

5168856902

16724830188

13610167194

3114662994

0.53091

27755251250

22586394348

5168856902

14735533205

11991336735

2744196471

0.467762

27755251250

22586394348

5168856902

12982848639

10565054392

2417794247

0.412125

27755251250

22586394348

5168856902

11438633162

9308417966

2130215196

0.363106

27755251250

22586394348

5168856902

10078090892

8201249310

1876841582

0.319917

27755251250

22586394348

5168856902

8879375235

7225770317

1653604918

10

0.281865

27755251250

22586394348

5168856902

7823238093

6366317460

1456920633

2.77553E+11

2.39158E+11

38394869024

1.47645E+11

1.33442E+11

14202124220

Jumlah

NPV

Ket :
R/C

= NPV Revenue/NPV Cost


= Rp. 1.47645E+11/ Rp. 1.33442E+11
= 1,11 > 1

B/C

= NPV Benefit/NPV Cost


= Rp. 14202124220/ Rp. 1.33442E+11
= 0,11 > 0
Berdasarkan perhitungan B/C diketahui bahwa usaha PT. Surya Pagi Indonesia Layak

di Laksanakan.
4. Break Event Point (BEP)
Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak
mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). Sebelum memproduksi
suatu produk, perusahaan terlebih dulu merencanakan seberapa besar laba yang diinginkan.
Ketika menjalankan usaha maka tentunya akan mengeluarkan biaya produksi, maka dengan
analisis titik impas dapat diketahui pada waktu dan tingkat harga berapa penjualan yang
dilakukan tidak menjadikan usaha tersebut rugi dan mampu menetapkan penjualan dengan

harga yang bersaing pula tanpa melupakan laba yang diinginkan. Hal tersebut dikarenakan
biaya produksi sangat berpengaruh terhadap harga jual dan begitu pula sebaliknya, sehingga
dengan penentuan titik impas tersebut dapat diketahui jumlah barang dan harga yang pada
penjualan.
Perhitungan
Jumlah produk terjual disetarakan dengan ukuran 250 ml.
Estimasi menjadi produk 250 ml

= 142.500.000 ml / 250 ml
= 6.840.000 Kotak

Biaya variabel per unit

BEP dalam produk

: biaya variabel/jumlah produk terjual


: Rp. 17.450.180.000,-/ 6.840.000 Kotak
: Rp.2.551,19 /kotak

: /
Rp.5.145.347.717,70

: .4150.2.551,19
: 3.212.535,149 Kotak atau 3.212.536 kotak
Jika diestimasikan semua produk berukuran 250 ml, maka total produk yang
dihasilkan adalah 6.840.000 kotak dan lebih besar dibandingkan dengan 3.212.536 kotak,
sehingga produksi perusahaan lebih dari impas atau BEP.
BEP dalam rupiah

:
:

Rp.5.145.347.717,70

.2.551,19
.4.150

: Rp. 13.332.020.870,Jika diestimasikan semua produk berukuran 250 ml, maka total penerimaan yang
dihasilkan adalah

Rp. 28.386.000.000,- dan lebih besar dibandingkan dengan Rp.

13.332.020.870,-, sehingga produksi perusahaan mendapatkan penerimaan lebih dari


impas atau BEP.

5. Pay Back Period (PBP)


Merupakan tekhnik perhitungan yang digunakan untuk mengetahui berapa lama
modal yang ditanamkan akan kembali.
= +

n : tahun terakhir dimana jumlah arus kas masi belum dapat menutupi
investasi mula-mula.
a : jumlah investasi mula-mula
b : jumlah kumulatif kas pada tahun ke n
c

: jumlah kumulatif kas pada tahun ke n+1

Perhitungan PBP
Th ke
0
1
2
3
4 (n)
5
6
7
8
9
10

Kas bersih
-Rp.13.293.700.000
Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,Rp. 5.168.856.902,-

= 4 +

Tingkat Bunga 13,5%


DF
PV Kas Bersih
1
-Rp.13.293.700.000,0,88 Rp. 4.554.058.945,0,78 Rp. 4.012.386.736,0,68 Rp. 3.535.142.498,0,60 Rp. 3.114.662.994,0,53 Rp. 2.744.196.471,0,47 Rp. 2.417.794.247,0,41 Rp. 2.130.215.196,0,36 Rp. 1.876.841.582,0,32 Rp. 1.653.604.918,0,28 Rp. 1.456.920.633,NPV Rp. 14.202.124.220,-

Nilai Kumulatif
(Rp.13.293.700.000) (a)
Rp. 4.554.058.945,Rp. 8.566.445.680,Rp. 12.101.588.179,Rp. 15.216.251.173,- (b)
Rp. 17.960.447.643,- (c)
Rp. 20.378.241.891,Rp. 22.508.457.086,Rp. 24.385.298.669,Rp. 26.038.903.587,Rp. 27.495.824.220,-

Rp. 13.293.700.000 Rp. 15.216.251.173


1
Rp. 17.960.447.643 Rp. 15.216.251.173

= 3,3

Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa investasi dapat dikembalikan dalam


kurun waktu 3,3 tahun

BAB X
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

10.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari uraian dan analisis studi kelayakan usaha
yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya yaitu,
1. Berdasarkan pada aspek pasar dan pemasaran PT. Surya Pagi Indonesia
memiliki peluang yang sangat baik karena pasar yang dituju mampu
ditangani dengan strategi yang disiapkan perusahaan.
2. Berdasarkan aspek teknis dan teknologi serta aspek manajemen PT. Surya
Pagi Indonesia memiliki prospek dan kekuatan yang baik. Aspek tekhnis
didukung dengan topografi wilayah yang mendukung, aspek teknologi
didukung dengan penggunaan berbagai peralatan mesin yang berteknologi
tinggi dan aspek manajemen didukung dengan tenaga kerja yang handal
dibidangnnya.
3. Berdasarkan aspek ekonomi, sosial, politik, regulasi dan legalitas PT. Surya
Pagi Indonesia memiliki posisi yang safety karena didukung oleh
masyarakat sekitar perusahaan serta telah mengantongi izin resmi dari
pemerintah.
4. Berdasarkan aspek lingkungan dan resiko, PT. Surya Pagi Indonesia
memiliki dedikasi yang baik terhadap pemeliharaan lingkungan melalui
IPAL yang diterapkan.
5. Berdasarkan perhitungan neraca untung rugi diketahui bahwa perusahaan
memiliki kekayaan bersih dan mampu menjalankan usaha. Liquiditas
perusahaan dalam kondisi aman, solvabilitas baik, rasio modal bersih lestari
dan D/E rasio intermediet.
6. Berdasarkan analisis finansial yaitu hasil perhitungan NPV, IRR, B/C ratio
dan BEP menyatakan bahwa usaha susu UHT PT. Surya Pagi Indonesia
layak untuk dijalankan.
7. PT. Surya Pagi Indonesia mampu mengembalikan investasi dalam kurun
waktu 3,3 tahun.

10.2 Rekomendasi
PT. Surya Pagi Indonesia dalam semua analisis menunjukkan potensialnya
dalam menjalankan dan mengembangkan usaha, namun terkait dengan angka D/E
7,31 atau 731%, maka perusahaan harus sekuat tenaga mengoptimalkan produksi.
Selain itu perusahaan juga harus mengupayakan pengembangan produksi di atas
planing yang disusun setiap tahunya, agar usaha dapat semakin menguntungkan dan
berkembang. Perkembangan tersebut juga harus didukung dengan perluasan
wilayah pemasaran ke berbagai provinsi di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai