Anda di halaman 1dari 9

JURNAL READING

Medical versus surgical treatment for early ethmoidal nasal polyps


Ashfaq Ahmed Malik, Fatima Usman, Ahmed Hasan Ashfaq, Naeema Ahmed
Holy Family Hospital Rawalpindi and Islamic International Medical College Rawalpindi,
Pakistan

Dipresentasikan Oleh:
Dini Fibriari Imarta (07711019)
Pembimbing: dr. Slamet Suwondo, Sp. THT. KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN THT-KL


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
RSUD SOEDONO MADIUN
2013

Tujuan
Untuk membandingkan antara terapi pengobatan dan pembedahan untuk polip nasal
etmoidal stadium awal.

Subyek dan Metode


60 pasien dengan polip nasal etmoidal stadium I dan II yang diseleksi menggunakan
tehnik non probabilitas sampling tipe convenience sampling. Mereka dibagi menjadi 2
kelompok; A, pasien yang mendapatkan terapi pengobatan seperti tablet prednisolon dengan
dosis 0.5mg/kg/hari selama 14 hari dalam dosis tapering bersama dengan obat flutikason
intranasal 2 kali semprot pada kedua kavitas nasal dengan dosis 50mcg/semprot selama 3 bulan,
sedangkan pada kelompok B, pasien yang diobati dengan pembedahan polipektomi intranasal
dengan etmoidektomi intranasal. Hasil dari kedua kelompok penelitian yang dibandingkan
didasarkan pada evaluasi terhadap reduksi ukuran dari polip, sumbatan hidung, indra penciuman,
postnasal drip dan mendengkur.

Hasil
Usia rata-rata pasien adalah 34.119.48 tahun. Perbandingan antara laki-laki dan
perempuan adalah 1.7:1. Dari total 60 pasien, 23 pasien menderita polip stadium I sedangkan 37
pasien menderita polip stadium II. Pada kelompok polip stadium I, 17 pasien di terapi dengan
obat sedangkan 6 lainnya di terapi dengan pembedahan. Pada kelompok polip stadium II, 13
pasien di terapi dengan obat sedangkan 24 lainnya di terapi dengan pembedahan. Hasil akhir
terapi, pada kelompok A, reduksi dari ukuran polip menjadi stadium 0 terlihat pada 66% pasien
dan 90% pasien pada kelompok B. Terdapat perbedaan reduksi yang signifikan pada sumbatan
hidung, postnasal drip dan mendengkur dengan terapi pembedahan sedangkan untuk indra
penciuman menunjukkan hasil perbaikan yang signifikan pada terapi pengobatan.

Penutup
Polipektomi intranasal dengan etmoidektomi intranasal lebih baik daripada obat oral
ditambah steroid intranasal dilihat dari reduksi pada ukuran polip, sumbatan hidung, postnasal
drip dan mendengkur. Sedangkan, hilangnya bau lebih terkontrol dengan terapi obat. (Rawad
Med J 2012;37:309-312).

Kata kunci
Polip nasal, prednison, etmoidektomi, flutikason.

PENDAHULUAN
Polip nasal mempengaruhi 1-4% dari keseluruhan populasi massa polipoid yang timbul
terutama dari membran mukosa hidung dan sinus paranasal. Pada kebanyakan kasus, polip ini
berasal dari meatus tengah dan celah daerah etmoid

( 1)

. Beberapa pilihan terapi yang

direkomendasikan, tergantung pada tingkat keparahan penyakit, yaitu meliputi terapi pengobatan
dan pembedahan. Pemberian terapi nasal oral dan topikal adalah terapi pengobatan utama untuk
polip nasal

(2)

. Namun, penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena

memiliki potensi yang berat untuk timbulnya efek samping. Pada orang dewasa, steroid oral
yang diberikan adalah prednison dengan dosis 0.5mg/kg/hari selama 4-7 hari dan di tapering
selama 1-3 minggu. Kebanyakan steroid nasal (seperti flutikason, beklometason, budesonid)
efektif untuk meringankan gejala

(3)

. Pembedahan endoskopi sinus adalah pilihan terapi

pembedahan tetapi peralatannya belum tersedia di beberapa daerah di Negara kita, polipektomi
intranasal dengan etmoidektomi intranasal masih tetap merupakan pilihan yang banyak
digunakan (4).
Karena adanya kejadian dari rhinitis alergi dan tingginya kejadian rekurensi dengan
pembedahan, terapi pengobatan dalam bentuk steroid intranasal dan topikal diadopsi oleh
beberapa ahli bedah ENT terutama untuk polip nasal stadium awal. Kejadian rekurensi dengan
pembedahan telah dilaporkan lebih dari 70%, namun dengan beberapa model terapi, tujuannya
adalah untuk meringankan hidung tersumbat, mengembalikan penciuman dan memperbaiki
drainase sinus dan untuk mengobati ancaman rhinitis yang menyertai

(5)

. Tujuan dari penelitian

ini adalah untuk membandingkan efektivitas dari terapi pengobatan dan pembedahan pada pasien
dengan polip stadium awal di populasi kami.

PASIEN DAN METODE


Penelitian ini berbasis pada rumah sakit, studi intervensi dimana dua jenis terapi
dibandingkan. Seratus pasien, dengan polip nasal etmoidal stadium I dan stadium II, dari ENT
OPD of Railway Hospital Rawalpindi, yang diseleksi dari November 2009 sampai Desember
2010, dengan metode non probabilitas sampling jenis convenience. Profil demografi mereka,
perjalanan medis, catatan kesehatan dan modalitas terapi sudah tercatat. Perjalanan secara rinci

tentang sumbatan hidung dan gejala lainnya dari polip nasal seperti post nasal drip, mendengkur,
dan indra penciuman yang berkurang ikut dimasukkan. Pasien yang didiagnosis mengalami
sindrom silia immotile, fibrosis kistik dan youngs sindrom dikeluarkan dari penelitian. Sama
halnya, pasien dengan pembedahan nasal sebelumnya, deviasi septum nasi, hipertrophi konka
inferior, diabetes mellitus, hipertensi, atau mendapatkan obat antikoagulan juga dikeluarkan dari
penelitian. Stadium polip nasal dikonfirmasi menggunakan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi. Informed consent diambil dari pasien dan persetujuan penelitian diambil dari komite
etika rumah sakit.
Semua pasien yang menjalani pembedahan akan di operatori oleh dokter bedah yang
sama menggunakan tehnik bedah yang sama pula. Pada kelompok A, pasien yang diberikan
terapi pengobatan seperti prednisolon 0.5mg/kg/hari secara oral selama 14 hari dalam dosis
tapering bersama dengan 2 kali semprot obat flutikason intranasal pada kedua kavitas nasal
dengan dosis 50mcg/semprot untuk 3 bulan. Pada kelompok B, pasien yang di terapi dengan
pembedahan polipektomi intranasal dengan etmoidektomi intranasal. Setelah pembedahan semua
pasien mendapatkan obat antibiotik dan analgetik yang sama. Mereka semua akan dipanggil
untuk follow up setelah 4, 8, dan 12 minggu pasca inisiasi terapi. Rinoskopi anterior dilakukan
pada setiap kunjungan dan ukuran polip dibedakan dalam stadium 0 sampai 3 untuk setiap
kavitas nasal, dimana 0: tidak ada polip, 1: polip ringan (polip berukuran kecil, tidak mencapai
tepi atas konka inferior, hanya menyebabkan sedikit sumbatan), 2: polip sedang (ukuran polip
medium antara tepi atas dan bawah dari konka inferior menyebabkan beberapa gejala), 3: polip
berat (polip besar keluar dari tepi bawah konka inferior menyebabkan hampir sumbatan total).
Keparahan sumbatan hidung dinilai dengan skala analog visual (0-10cm) dan skor yang
meliputi 0: tidak ada gejala, 1: ringan (0-3). 2: sedang (4-7), 3: berat (8-10). Indra penciuman,
post nasal drip dan mendengkur diikut sertakan. Data diolah dengan SPSS v 18 dan dianalisis.
Statistik Chi-square digunakan untuk membandingkan ukuran polip, sumbatan hidung, indra
penciuman, post nasal drip dan mendengkur. P value < 0.05 dinyatakan signifikan.

HASIL
Usia rata-rata pasien adalah 34.119.48 (jarak antara 20-63). Perbandingan laki-laki dan
perempuan adalah 1.7:1.
Tabel 1. Stadium polip setelah terapi pada kunjungan pertama
Stadium polip

Terapi yang diberikan

Total

Pengobatan

Pembedahan

20

27

47

10

13

Total

30

30

60

P=0.03
Rinoskopi anterior menemukan ukuran polip yang kecil (stadium 1-polip ringan) pada 23
pasien (38%), dan ukuran polip sedang (stadium 2-polip sedang) pada 37 pasien (62%). Pada
kunjungan sebelum dilakukan terapi, sumbatan hidung didapatkan pada 100% pasien. Adanya
penurunan indra penciuman didapatkan pada 83% pasien, post nasal drip pada 81% pasien dan
mendengkur pada 33% pasien.
Tabel 2. Stadium polip setelah terapi pada kunjungan kedua
Stadium polip

Terapi yang diberikan

Total

Pengobatan

Pembedahan

19

27

46

11

14

Total

30

30

60

P=0.01
Pada kelompok A, pada kunjungan pertama yaitu 4 minggu setelah terapi, 20 pasien
(66%) menunjukkan tidak ada polip (stadium 0) namun 10 pasien (34%) menunjukkan polip
berukuran kecil (stadium 1), (Tabel 1). Pada kunjungan kedua yaitu 8 minggu setelah terapi pada
kelompok A, 19 pasien (63%) menunjukkan tidak ada polip (stadium 0) namun 11 pasien (37%)
menunjukkan polip berukuran kecil (stadium 1), (Tabel 2). Pada kunjungan ketiga yaitu 12

minggu setelah terapi pada kelompok A, 20 pasien (66%) menunjukkan tidak ada polip (stadium
0) namun 10 pasien (34%) menunjukkan polip berukuran kecil (stadium 1), (Tabel 3).
Tabel 3. Stadium polip setelah terapi pada kunjungan ketiga
Stadium polip

Terapi yang diberikan

Total

Pengobatan

Pembedahan

20

27

47

10

13

Total

30

30

60

P=0.02
Pada kelompok B di kunjungan 4 minggu setelah terapi, 27 pasien (90%) menunjukkan
tidak ada polip (stadium 0), namun 3 (10%) menunjukkan polip berukuran kecil (stadium 1),
(Tabel 1). Hasil yang sama bertahan selama kunjungan kedua dan ketiga (Tabel 2 dan 3).
Perbaikan dari sumbatan hidung terlihat pada 80% pasien dikelompok B dan 23% pasien
dikelompok A. Post nasal drip menunjukkan perbaikan pada 67% pasien dikelompok B dan 47%
pasien dikelompok A. Perbaikan indra penciuman lebih baik dengan terapi pengobatan (61%)
dibandingkan dengan terapi pembedahan (47%). Sama halnya dengan kasus mendengkur dimana
perbaikan terjadi pada 30% pasien yang diterapi dengan pembedahan dibandingkan dengan 10%
pasien yang diterapi dengan medis.

PEMBAHASAN
Polip nasal etmoidal dapat dengan serius mempengaruhi kualitas hidup karena adanya
gejala seperti berkurangnya indra penciuman, sumbatan hidung, peningkatan sekret, sakit kepala
dan rasa tekanan yang berlebih di dalam sinus mereka. Guidelines mengenai the management of
nassal polyposis merekomendasikan pembedahan untuk menghilangkan polip nasal harus
dilakukan hanya pada pasien dengan polip yang berukuran sangat besar atau pada mereka yang
gagal merespon terapi kortikosteroid
kontroversi,

terapi

pembedahan

(6)

. Akan tetapi terapi dari polip nasal masih menjadi

atau

terapi

pengobatan

atau

kedua-duanya

telah

direkomendasikan dan disana tidak ada batasan yang jelas yang menunjukkan indikasi mutlak
dari satu atau pilihan terapi yang lainnya.

Perbaikan yang signifikan dengan oral prednison ditemukan pada gejala nasal (sumbatan,
sekret, bersin dan indra penciuman)

(7)

. Pada berbagai penelitian, steroid intranasal juga

digunakan selama pemberian steroid oral untuk melihat respon pada polip nasal etmoid. Gejala
tertentu dari polip nasal seperti berkurangnya indra penciuman membaik dengan terapi
pengobatan dibandingkan terapi pembedahan tetapi gejala yang lainnya masih bertahan sampai
batas tertentu. Mygind dan Lund menemukan respon yang lebih baik untuk indra penciuman
dengan pemberian steroid intranasal dan sistemik dibandingkan dengan terapi pembedahan
namun mereka melihat bahwa sumbatan hidung masih bertahan pada beberapa kasus bahkan
setelah terapi pengobatan

(8)

. Sebuah penelitian menunjukkan 82% rekurensi setelah terapi

pengobatan berbeda dengan yang mendapatkan terapi pembedahan (38%)

(9)

. Demikian pula,

etmoidektomi intranasal lebih unggul dibandingkan terapi pengobatan dengan tingkat kesuksesan
mencapai 88% (10).
Pada penelitian kami, di kunjungan ketiga pada 12 minggu setelah terapi di kelompok A,
66% pasien menunjukkan tidak ada polip (stadium 0), 34% pasien menunjukkan polip berukuran
kecil (stadium 1). Berbeda dari itu, di kelompok B, di kunjungan awal pada 4 minggu setelah
terapi 90% pasien menunjukkan tidak ada polip (stadium 0) namun 10% pasien menunjukkan
polip berukuran kecil (stadium 1) dan tidak terjadi adanya kejadian rekuren pada 2 kunjungan
berikutnya. Dalam penerapan tes signifikan, pasien di kelompok B cenderung memiliki hasil
yang lebih baik mengenai reduksi polip.
Sumbatan hidung lebih terkontrol dikelompok B dengan perbaikan sebanyak 80% pasien,
sedangkan 23% dikelompok A. Post nasal drip

menunjukkan perbaikan pada 67% pasien

dikelompok B dan 47% pasien dikelompok A. Namun, indra penciuman terkontrol lebih baik
dikelompok A dengan perbaikan sebanyak 61% pasien dibandingkan 47% pasien dikelompok B.
Sama dengan kasus mendengkur dimana mengalami perbaikan sebanyak 30% pada pasien yang
diterapi dengan pembedahan dibandingkan 10% pada pasien yang diterapi obat.

PENUTUP
Kesimpulannya, perbandingan dari 2 model terapi, menemukan bahwa polipektomi
intranasal dengan etmoidektomi intranasal lebih baik dibandingkan dengan tablet prednisolon
dengan flukitason intranasal dalam mereduksi ukuran polip, reduksi sumbatan hidung, post nasal

drip dan mendengkur. Namun, terapi pengobatan dengan steroid intranasal dan oral memberikan
respon yang lebih baik pada kasus indra penciuman.