Anda di halaman 1dari 57

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I

Materi :
ARGENTO-GRAVIMETRI

Oleh :
Kelompok

: VII/Selasa Siang

Joe Epridoena Sinulingga

NIM : 21030113130118

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2013

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I

Materi :
ARGENTO-GRAVIMETRI

Oleh :
Kelompok

: VII/Selasa Siang

Joe Epridoena Sinulingga

NIM : 21030113130118

Laboratorium Dasar Teknik Kimia I


Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum

: Argento-Gravimetri

Kelompok

: 1. Gika Putri Ariani

NIM : 21030113140114

2. Naufal Rilanda

NIM : 21030113120004

3. Joe Epridoena Sinulingga NIM : 21030113130118

Telah disahkan pada :


Hari

: Jumat

Tanggal

: 20 Desember 2013

Semarang, 20 Desember 2013


Telah menyetujui,
Asisten

Shafrizal
NIM 21030110130115

ii


PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa berkat rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan resmi Praktikum Dasar Teknik
Kimia I dengan lancar dan sesuai dengan harapn kami.

Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada :


1. Bapak Dr. Widayat ST, MT selaku dosen penanggung jawab Laboratorium
Dasar Teknik Kimia I
2. Semua asisten yang telah membimbing sehingga tugas laporan resmi ini dapat
terselesaikan
3. Teman-teman yang telah membantu baik dalam segi waktu maupun motivasi
4. Bapak Rustam dan Ibu Dini selaku Laboran Laboratorium Dasar Teknik
Kimia I

Laporan resmi praktikum dasar teknik kimia I ini berisi materi tentang argentogravimetri. Argento-gravimetri merupakan cara analisa kuantitatif yang berdasarkan pada
pengendapan dimana zat yang dipisahkan digunakan untuk membentuk suatu endapan
padat. Tujuan dari percobaan untuk argentometri adalah menganalisa kandungan Cldenagn metode Mohr dan Fajans, sedangkan tujuan dari percobaan untuk gravimetri
adalah menentukan kadar Ba2+ dalam sampel dengan metode gravimetri.

Laporan resmi ini merupakan laporan resmi terbaik yang saat ini bisa kami
ajukan, namun kami menyadari pasti ada kekurangan yang perlu kami perbaiki. Maka
dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Penyusun

iii


DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR PENGESAHAN ........ii
PRAKATA .........iii
DAFTAR ISI ......iv
DAFTAR TABEL .......v
DAFTAR GAMBAR .....vi
INTISARI.......vii
SUMMARY ..................viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...1
1.2. Tujuan Percobaan ...1
1.3. Manfaat Percobaan .1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Metode Mohr.. ...2
2.2. Metode Volhard ..3
2.3. Metode Fajans ....4
2.4. Fisis dan Chemist Reagen ..6
2.5. Fungsi Reagen ....8
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan .9
3.2. Gambar Alat dan Keterangan ....9
3.3. Cara Kerja ....10
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Percobaan ...12
4.2. Pembahasan .12
BAB V PENUTUP ....................16
5.1. Kesimpulan ..16
5.2. Saran ........16
DAFTAR PUSTAKA ...................................17
INTISARI.......18
SUMMARY ...........19
BAB I PENDAHULUAN
iv


1.1. Latar Belakang ..20
1.2. Tujuan Percobaan ..20
1.3. Manfaat Percobaan ....20
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori yang Menunjang .........21
2.2. Aplikasi Analisa Gravimetri 21
2.3. Keuntungan Gravimetri ...22
2.4. Teori Kopresipitasi, Peptisasi, Post Presipitasi .22
2.5. Fisis dan Chemist Reagen 23
BAB III METODE PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan ...24
3.2. Gambar Alat dan Keterangan ..........24
3.3. Cara Kerja ...25
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Percobaan ..26
4.2. Pembahasan .26
BAB V PENUTUP ............30
5.1. Kesimpulan ..30
5.2. Saran 30
DAFTAR PUSTAKA ...........31
LAMPIRAN
Lembar Perhitungan Argentometri ...A-1
Lembar Perhitungan Gravimetri ...A-2
Laporan Sementara ...B-1
Referensi ...C-1
Lembar Asistensi .D-1


DAFTAR TABEL

A. ARGENTOMETRI
Tabel 4.1. Hasil standarisasi AgNO3 .........12
Tabel 4.1. Hasil percobaan analisa Argentometri ......12

B. GRAVIMETRI
Tabel 4.1. Hasil percobaan analisa Gravimetri .......27

vi


DAFTAR GAMBAR

A.

ARGENTOMETRI

Gambar 3.3 Alat alat Praktikum Argentometri .9

Gambar 4.2 Bentuk molekul endapan Ag2CrO4 .........14


Gambar 4.2 Bentuk struktur molekul Fluoressein.......14

B.

GRAVIMETRI

Gambar 3.3 Alat alat Praktikum Gravimetri ..24

vii


INTISARI

Pengendapan merupakan metode yang sangat berharga dalam analisa kimia dan
analisisnya dibagi menjadi dua jenis, yaitu argentometri dan gravimetri. Argentometri
banyak digunakan dalam analisa kadar halogenida, misalnya Cl- yang berguna untuk
oseanografi, pangan, dan industri. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
menganalisa kadar Cl- dalam suatu sampel dengan menggunakan metode Mohr dan
Fajans.
Argentometri merupakan analisa kuantitatif volumetric dengan larutan standar
AgNO3 berdasarkan pengendapan. Argentometri digunakan untuk menentukan kadar Clyang melibatkan garam perak dengan indicator sesuai-. Metode pertama yang digunakan
adalah metode Mohr yang memiliki dasar pengendapan bertingkat dari AgCl dan setelah
semua mengendap kemudian terjadi endapan Ag2CrO4 (endapn merah cokelat). Metode
selanjutnya adalah metode Volhard yang menggunakan prinsip back to titration, dimana
pada sampel halogenida ditambah suatu larutan standar AgNO3 berlebih, kemudian sisa
AgNO3 dititrasi kembali dengan NH4CNS membentuk AgCNS hingga terbentuk endapan
merah darah saat bereaksi dengan ion Fe3+. Metode selanjutnya yang dikenal adalah
Fajans. Dimana metode ini menggunakan prinsip adsorbsi dengan Fluoressein dan
Fluoressein tersubtitusi sebagai indikator perak.
Analisa argentometri dimulai dengan menstandarisasi larutan AgNO3 kemudian
menganalisa sampel dengan metode Mohr dan Fajans. Standarisasi tersebut dilakukan
dengan cara mentitrasi larutan standar NaCl 0,05 N ditambah 0,4 N K2CrO4 dengan
AgCl. Perbedaan kedua analisa ini terletak pada indikator yang digunakan. Selain itu
terdapat langkah pemanasan pada metode Fajans. Setelah semua terpenuhi, sampel
akhirnya dapat dianalisa.
Pada sampel pertama, kami menggunakan metode Mohr dengan indikator
K2CrO4. Pada metode ini, kami menemukan kadar Cl- sebesar 155,75 ppm dengan
persentase error sebesar 31,15 %. Sedangkan pada sampel kedua, kami menggunakan
metode Fajans dan menemukan kadar Cl- sebesar 967,659 ppm dengan persentase error
sebesar 44,24 %.
Akhirnya kadar yang kami temukan dalam praktikum tidak memiliki ketepatan
yang cukup signifikan dengan sampel, dimana kadar yang kami temukan pada sampel
pertama adalah lebih kecil sementara pada sampel kedua adalah lebih besar dari kadar
yang sebenarnya. Sebagai saran, praktikan sebaiknya memeriksa alat terlebih dahulu,
apakah alat yang digunakan masih baik atau tidak. Begitu pula dengan pemakaian
indikator. Bersihkanlah semua alat-alat setelah menyelesaikan praktikum. Selain itu,
hindari faktor-faktor kesalahan eksternal seperti perusakan alat.

viii


SUMMARY

Precipitation is a valuable method in chemical analysis and also consist of two


kinds such Argentometric and Gravimetric. Argentometric is commonly used in
analyzing concentration of halogen as Cl- which is useful for oceanographic, food, and
industry. The goal point of this practice is to analyse concentration of Cl- in the sample
using Mohr and Fajans method.
Argentometric is quantitative analysis volumetric with standard solution of
AgNO3 based on precipitation. Argentometric is used to determine concentration of Clwhich involve silver salt with fitting indicator. First method which is used is Mohr
method which has basic level precipitation from AgCl then after all have precipitated, so
Ag2CrO4 precipitate will occurs. Next method is Volhard method which use back to
titration method, where sample of halogen is added by solution of AgNO3 excess, then
its remain is titrated again with NH4CNS to form AgCNS ubtil formed sorrel precipitate
when reacts with ion Fe3+. The next method which is known is Fajans. Where, this
method uses adsorbtion principle with Fluorescein and sub Fluorescein as silvers
indicator.
Argentometric which analyzed is started with standarisation of AgNO3 then
analyze the sample with Mohr and Fajans method. The standarisation is acted by
titrating standard solution of NaCl 0,05 N, added 0,4 ml K2CrO4 with AgCl. The
difference about this analysis is placed to the use of indicator. Beside that, there are
warming step in Fajans method. After all is complete, sample can be analyzed.
In first sample, we used Mohr method with K2CrO4 indicator. In this method, we
found the concentration of Cl- is 155,75 ppm with error percentage 31,15 %. In second
sample, we used Fajans method and found the concentration of Cl- is 967,659 ppm with
error percentage is 44,24 %.
So, concentration which is found by practicant is not accurate enough and not
significant towards sample, where concentration which is foun by practicant in first
sample is smaller and second sample is bigger than theoretical concentration. As
suggestion, practicant should check all of tools first, whether the tools is in good
condition or not. And also about the use of indicator. Clean all of tools after finishing the
practice. Beside that, avoid the external mistake such as tools destruction.

ix

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang
Pengendapan merupakan metode yang sangat berharga dalam memisahkan
suatu sampel menjadi komponen-komponennya. Proses yang dilibatkan adalah
proses dimana zat yang akan dipisahkan digunakan untuk membentuk suatu
endapan padat.
Reaksi pengendapan telah digunakan secara meluas dalam kimia analitis,
khususnya dalam metode argentometri dan gravimetri. Argentometri merupakan
analisa kuantitatif volumetrik dengan larutan standar AgNO3 berdasarkan
pengendapan. Argentometri digunakan untuk menentukan kadar suatu unsur
dalam titrasi yang melibatkan garam perak dengan indikator yang sesuai.
Kegunaan analisa argentometri ini adalah menentukan kadar halogenida,
misalnya Cl-, yang terkandung dalam sampel sehingga berguna untuk
oseanografi, pangan, dan industri.

I.2.

Tujuan Percobaan
A. Menganalisa kadar Cl- dengan metode Mohr
B. Menganalisa kadar Cl- dengan metode Fajans
C. Menganalisa kadar Cl- dengan metode Volhard

I.3.

Manfaat Percobaan
A. Mahasiswa dapat menganalisis kadar Cl- dalam sampel murni dengan metode
titrimetrik
B. Mahasiswa

dapat

menerapkan

metode

argentometri

untuk

sampel

praktis


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Argentometri adalah analisa kuantitatif volumetri untuk menentukan kadar halogen


dalam sampel dengan menggunakan larutan standar AgNO3. Pada argentometri titik
akhir titrasi ditentukan oleh terbentuknya larutan berwarna atau timbulnya kekeruhan
yang pertama.

II.1.

Metode Mohr
Digunakan untuk menetapkan kadar ion halogen yang dilakukan dalam
suasana netral dengan indikator K2CrO4 dan larutan standar AgNO3. Ion kromat
akan bereaksi dengan ion perak membentuk endapan merah coklat dari perak
kromat.
Reaksi: Ag+ + Cl- AgCl(s) (endapan putih)
2Ag+ + CrO42- Ag2CrO4(s) (endapan merah coklat)
Dasar titrasi dengan metode ini adalah suatu pengendapan bertingkat dari
AgCl dan setelah semua mengendap baru terjadi endapan Ag2CrO4. Untuk lebih
jelasnya kita dapat melihat contoh berikut.
Misal dalam larutan NaCl 0,1 M terdapat adanya indikator K2CrO4 yang
mempunyai konsentrasi 0,01 M, maka konsentrasi Ag+ untuk mengendapkan ion
Cl- dan CrO42- dapat dihitung.
A.

Untuk mengendapkan ion ClPada saat ini terjadi titik kesetaraan. Baik ion klorida maupun ion perak
tak ada yang berlebih, dan masing-masing konsentrasi adalah kuadrat (dari)
Ksp. Pada kurva titrasi titik ini disebut titik ekivalen (TE), yaitu titik pada
kurva yang menunjukkan jumlah gram ekivalen titran sama dengan jumlah
gram ekivalen zat yang dititrasi.
Ksp AgCl = 1,0 x 10-10
[Ag+] = [Cl-]
[Ag+]2 = 1,0 x 10-10
[Ag+] = 1,0 x 10-5

B. Untuk mengendapkan ion CrO42Ksp Ag2CrO4 = 2 x 10-12


[Ag+]2 [CrO42-] = 2 x 10-12
[Ag+]2 [10-2] = 2 x 10-12
[Ag+]2 = 2 x 10-10
[Ag+] = 1,4 x 10-5
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa banyaknya ion perak yang
dibutuhkan untuk mengendapkan ion kromat lebih besar dari yang
dibutuhkan untuk mengendapkan ion klorida. Jadi pada saat TAT terjadi, ion
klorida praktis telah mengendap semua, sehingga perak kromat baru
mengendap setelah semua ion klorida mengendap membentuk perak klorida.
Hal-hal yang diperhatikan dalam penggunaan metode Mohr:
1

Baik untuk menentukan ion klorida dan bromida tetapi tidak cocok untuk ion
iodida dan tiosianida.

2.

Titrasi dalam suasana netral atau sedikit alkalis, pH 7 10,5.

3.

Tidak cocok untuk titrasi larutan yang berwarna, seperti CuCl 2 (biru),
CaCl2 (perak), NiCl (hijau) karena akan menyulitkan pengamatan saat TAT.

4.

Tidak bisa untuk garam-garam Cl dan Br yang terhidrolisa, karena terbentuk


endapan yang tak diharapkan. Misal garam Cl atau Br dengan kation Al, Fe,
Bi, Sn, Sb, dan Mg.

5.

Larutan tidak boleh mengandung CO3 2-, SO4 2-, PO43- , C2O42- karena akan
mengendap dengan Mg.

6.

Larutan tidak boleh mengandung ion Pb2+

dan Ba2+

karena akan

mengendap sebagai garam kromat yang berwarna. Dihilangkan dengan


penambahan Na2CO3 jenuh.
II.2.

Metode Volhard
Metode ini menggunakan prinsip back to titration, yaitu pada sampel
halogenida ditambah suatu larutan standar AgNO3 secara berlebih, kemudian sisa
AgNO3 dititrasi kembali dengan larutan standar NH4CNS. Indikator yang dipakai
adalah Ferri Amonium Sulfat. Dalam prosesnya larutan harus bersifat asam
dengan tujuan untuk mencegah hidrolisa garam ferri menjadi ferri hidroksida
yang warnanya mengganggu pengamatan TAT. Suasana asam dapat dibuat
dengan menambahkan HNO3 pekat. Tetapi penggunaan HNO3 jangan terlalu
pekat karena akan menyebabkan NH4CNS akan teroksidasi menjadi NO dan CO2.
3NH4CNS + 13HNO3 16NO + 3CO2 + NH4HSO4 + 5H2O
3


Pada metode ini dalam mekanisme reaksinya akan terbentuk perak klorida
dan perak tiosianat.
Cl- + AgNO3 encer AgCl(s)
AgNO3 sisa + NH4CNS AgCNS(s)
CNS- sisa + Fe3+ Fe(CNS)3 merah darah (saat TAT)
Perak klorida lebih mudah larut daripada perak tiosianat, dan klorida itu
cenderung melarut kembali menurut reaksi.
AgCl(s) + SCN- AgSCN(s) + ClTetapan kesetimbangan reaksi ini ditentukan oleh angka banding tetapan
hasil kali kelarutan perak klorida terhadap perak tiosianat. Karena tetapan yang
pertama lebih besar daripada yang kedua, maka reaksi tersebut di atas sangat
cenderung untuk berjalan dari kiri ke kanan. Jadi tiosianat dapat dihabiskan tidak
hanya oleh ion perak yang berlebih, tetapi juga oleh endapan perak klorida itu
sendiri. Jika ini terjadi, akan diperoleh hasil yang terlalu rendah dalam analisis
klorida. Tetapi reaksi ini dapat dicegah dengan menyaring perak kloridanya.
Untuk penetapan kadar Br- tidak perlu penyaringan karena tetapan hasil kali
kelarutan AgBr lebih kecil daripada AgCNS, sedangkan untuk I- penambahan
indikator setelah mendekati TAT karena bila I- bertemu indikator Fe3+ terjadi I2
yang sering menyebabkan kesalahan titrasi.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam metode Volhard:
1.

Larutan harus bersifat asam, tujuannya untuk menghindari hidrolisa garam


ferri menjadi ferri hidroksida yang warnanya mengganggu pengamatan TAT.

2.

HNO3 yang digunakan untuk memberikan suasana asam jangan terlalu pekat
sebab akan mengoksidasi NH4CNS menjadi NO dan CO2. Dimana CO2 yang
terbentuk dapat bereaksi dengan H2O membentuk H2CO3 yang
bereaksi dengan Ag

dan menghasilkan Ag2CO3

dapat

yang berwarna putih

sehingga menyulitkan pengamatan saat TAT. Selain itu kadar Fe3+ akan
berkurang, sehingga kemungkinan TAT akan terjadi jauh.
3.

Endapan AgCl yang terbentuk harus disaring dulu, dicuci dengan air dan air
cucian dijadikan satu dengan filtrat baru dititrasi dengan NH4CNS.

II.3.

Metode Fajans
Dalam metode ini digunakan indikator adsorpsi. Bila suatu senyawa


organik yang berwarna diadsorpsi pada permukaan suatu endapan, dapat terjadi
modifikasi struktur organiknya, dan warna itu dapat sangat diubah dan dapat
menjadi lebih tua. Gejala ini dapat digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi
pengendapan garam perak.
Mekanisme bekerjanya indikator semacam itu berbeda dari mekanisme
apapun yang telah dibahas sejauh ini. Fajans menemukan fakta bahwa fluoresein
dan beberapa fluoresein tersubstitusi dapat bertindak sebagai indikator untuk
titrasi perak. Bila perak nitrat ditambahkan ke dalam suatu larutan natrium
klorida, partikel perak klorida yang sangat halus itu cenderung memegangi pada
permukaannya (mengadsorpsi) sejumlah ion klorida berlebihan yang ada dalam
larutan itu. Ion-ion klorida ini dikatakan membentuk lapisan teradsorpsi primer
dan dengan demikian menyebabkan partikel koloidal perak klorida itu bermuatan
negatif. Partikel negatif ini kemudian cenderung menarik ion-ion positif dari
dalam larutan untuk membentuk lapisan adsorpsi sekunder yang terikat lebih
longgar.
(AgCl) . Cl-

M+

Lapisan Primer

Lapisan Sekunder

Klorida Berlebih

Jika perak nitrat terus menerus ditambahkan sampai ion peraknya


berlebih, ion-ion ini akan menggantikan ion klorida dalam lapisan primer. Maka
partikel-partikel menjadi bermuatan positif, dan anion dalam larutan ditarik untuk
membentuk lapisan sekunder.
(AgCl) . Ag+

X-

Lapisan Primer

Lapisan Sekunder

Perak Berlebih

Fluoresein merupakan asam organik lemah yang dapat dilambang


-kan dengan HFI. Bila fluoresein ditambahkan ke dalam labu titrasi, anionnya, FI, tidaklah diserap oleh perak klorida koloidal selama ion-ion klorida masih
berlebih. Tetapi bila ion perak berlebih, ion FI- dapat ditarik ke permukaan
partikel yang bermuatan positif, seperti
(AgCl) . Ag+

FI-

Agregat yang dihasilkan akan berwarna merah muda, dan warna itu cukup
kuat untuk digunakan sebagai indikator visual.
Macam-macam indikator yang biasa digunakan antara lain:
1. Fluoresein untuk ion klorida, pH 7-8 / diklorofluoresein dengan pH 4


2. Eosin untuk ion bromida, iodida, dan tiosianida, pH 2
3. Hijau bromkresol untuk ion tiosianida, pH 4-5
Hal-hal yang diperhatikan dalam penggunaan metode Fajans:
1. Larutan jangan terlalu encer agar perubahan warna dapat diamati dengan jelas.
2. Ion indikator harus bermuatan berlawanan terhadap ion penitran.
3. Endapan yang terjadi sebaiknya berupa koloid sehingga luas permukaan
penyerap besar. Boleh ditambahkan zat pencegah koagulasi seperti dextrin
yang membuat endapan tetap terdispersi.
4. Indikator tidak boleh teradsorpsi sebelum ion utama mengendap sempurna
(sebelum TE) tapi harus segera teradsorpsi setelah TE terjadi.
5. Indikator yang terserap oleh endapan ikatannya tidak boleh terlalu kuat karena
ion indikator akan teradsorpsi oleh endapan sebelum TE tercapai.
6. Pemanasan hingga suhu 80C baru dititrasi sehingga menunjang hasil
pengamatan.

II.4.

Fisis dan Chemist Reagen


1. NaCl
a.

Fisis

BM= 58,45; BJ= 2,163 gr/cc; TD= 141,3C; TL= 800,4C


Kristal, tidak berwarna, kubik
Kelarutan dalam 100 bagian air panas= 39,8
Kelarutan dalam 100 bagian air dingin= 25,7
b.

Chemist
Dengan AgNO3 terbentuk endapan yang tidak larut dalam air. Reaksi:
AgNO3 + NaCl NaNO3 + AgCl(s)

2. AgNO3
a.

Fisis

BJ= 4,35 g/cc; BM= 168,8; n= 1,744; TL= 213C; TD= 244C
Larutan tidak berwarna
Kelarutan dalam 100 bagian air panas= 95,2
Kelarutan dalam 100 bagian air dingin= 22,2
b.

Chemist
Dengan H2SO4 bereaksi membentuk cincin coklat. Reaksi: AgNO3 +


H2SO4(p) AgHSO4 + HNO3
Dengan H2S dalam suasana asam / netral membentuk endapan Ag2S
Reaksi: 2AgNO3 + H2S Ag2S + HNO3
Dengan Na2CO3 membentuk endapan Ag2CO3 putih kekuningan.
Reaksi: 2AgNO3 + Na2CO3 Ag2CO3 + 2NaNO3
3. NH4CNS
a.

Fisis

BM= 76,12; n= 1,685; TL= 147,6C; TD= 170C


Larutan tak berwarna
Kelarutan dalam 100 bagian air panas= 170
Kelarutan dalam 100 bagian air dingin= 122
b.

Chemist

Dengan CuSO4 bereaksi membentuk endapan Cu(CNS)2


Reaksi: 2CNS- + Cu2+ Cu(CNS)2
Dengan Mg(NO3)2 membentuk endapan putih Mg(CNS)2
Reaksi: 2CNS- + Mg2+ Mg(CNS)2
Dengan FeCl3 berwarna merah darah
Reaksi: 3CNS- + Fe3+ Fe(CNS)3 merah darah
4. HNO3
a.

Fisis

BM= 63,02; n= 1,502; BJ= 1,42 g/cc


Larutan tidak berwarna
b.

Chemist

Merubah lakmus biru menjadi merah


Ditambah basa menjadi garam dan air
Reaksi: HNO3

NaOH NaNO3 + H2O

Dengan garam nitrat larut


5. K2CrO4
a.

Fisis

BM = 126; BJ = 2,732 gr/cc; TL = 97,5C


Kelarutan dalam 100 bagian air panas= 75,6
Kelarutan dalam 100 bagian air dingin= 52
b.

Chemist


Dengan BaCl2 bereaksi membentuk endapan kuning muda yang tidak
larut dalam air tetapi larut dalam asam mineral encer.
Reaksi: CrO42- + Ba2+ BaCrO4(s)
Dengan AgNO3 membentuk endapan merah coklat yang larut
dalam asam nitrat.
Reaksi: CrO42- + 2Ag+ Ag2CrO4(s)
Dengan Pb asetat membentuk endapan kuning yang tidak larut
dalam asam asetat, tapi larut dalam HNO3.
Reaksi: Pb2+ + CrO42- PbCrO4(s)

II.5. Fungsi Reagen


A. NaCl

: untuk menstandarisasi larutan AgNO3

B. AgNO3

: untuk menstandarisasi larutan NH4CNS dan untuk


mengendapkan Cl-

C. NH4CNS : untuk menitrasi sampel pada percobaan metode Volhard


D. HNO3

: untuk

memberikan

suasana asam

pada

larutan

sehingga mencegah hidrolisa garam ferri menjadi ferri


hidroksida yang warnanya mengganggu pengamatan TAT
E. K2CrO4

: sebagai indikator

F. Dextrin

: menjaga perak klorida dalam bentuk koloid

BAB III
METODOLOGI PERCCOBAAN

III.1. Bahan :
1. Larutan NaCl 0,05 N
2. Larutan AgNO3
3. Larutan NH4CNS
4. Larutan HNO3 6 N
5. Larutan Ferri amonium sulfat
6. Indikator K2CrO4 5%
7. Indikator Fluoresein
8. Dekstrin

III.2. Alat :
1. Buret, Statif, dan Klem

6. Kertas Saring

2. Corong

7. Labu Takar

3. Erlenmeyer

8. Pipet Volume

4. Beaker Glass

9. Pipet Ukur

5. Gelas Ukur

10.Pipet Tetes

III.3. Gambar Alat

Gambar 3.3.1 Alat-Alat Praktikum Argentometri


III. 4 Keterangan Alat
9

1.

Buret, Statif,dan Klem

: Rangkaian Alat yang dalam proses titrasi

2.

Corong

: Untuk Memindahkan zat ke tempat sempit

3.

Erlenmeyer

: Tempat mereaksikan zat dengan titran

4.

Beaker Glass

: Tempat mencampurkan zat

5.

Gelas Ukur

: Tempat menentukan volume fluida

6.

Kertas Saring

: Kertas untuk menyaring endapan setelah

7.

Labu Takar

: Tempat untuk mengencerkan

8.

Pipet Volume

: Untuk menggambil zat dengan suatu


volume

9.

Pipet Ukur

: Untuk mengukur volume larutan

10. Pipet Tetes

: Untuk mengambil sedikit cairan

III. 5 Cara Kerja


1. Standarisasi AgNO3 dengan NaCl 0,05 N
a. Ambil 10 ml larutan standar NaCl 0,05 N, masukkan dalam labu
erlenmeyer.
b. Tambahkan 0,4 ml K2CrO4
c. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah pertama yang tak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran AgNO3.
Perhitungan : N AgNO3 =

V.N NaCl
V.N Ag NO 3

2. Standarisasi larutan NH4CNS dengan AgNO3


a. Ambil 10 ml larutan AgNO3 yang sudah distandarisasi. Masukkan dalam
erlenmeyer.
b. Tambahkan 2 ml HNO3 6 N dan 0,4 ml Ferri amonium sulfat.
c. Titrasi dengan NH4CNS sampai timbul warna merah kecoklatan
pertama yang tak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.
Perhitungan : N NH4CNS =

V.N NaCl
V.N NH 4 CNS

3. Menetapkan kadar Cl- dengan metode Mohr


a. Masukkan 10 ml larutan sampel ke dalam erlenmeyer.
b. Tambahkan 0,4 ml K2CrO4

10

c. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah pertama yang tak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran AgNO3.
Perhitungan : Cl (ppm) =

V.N Ag NO 3 . BM Cl 1000
v yang dititrasi

fp

fp = faktor pengenceran
4. Menetapkan kadar Cl- dengan metode Fajans
a. Ambil 10 ml sampel dan masukkan dalam erlenmeyer.
b. Tambahkan 10 tetes indikator fluoresein, atur pH 7-8, panaskan
sampai 80C. (atau tambahkan dekstrin)
c. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah muda pertama yang
tak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.
Perhitungan : Cl (ppm) =

V.N Ag NO 3 .BM Cl 1000


v yang dititrasi

fp

fp = faktor pengenceran

11

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Percobaan
Tabel 4.1.1 Tabel Hasil Standarisasi AgNO3
Sampel

Volume TAT

Kadar

AgNO3

11,7 ml

0,0462 N

Tabel 4.1.2. Tabel Hasil Percobaan Analisa Argentometri


Unsur Cl- pada

Volume TAT

Sampel

Hasil

% Error

Sampel 1

2,3 ml

500 ppm

360,822 ppm

31,15 %

Sampel 2

5,9 ml

500 ppm

967,659 ppm

44,24 %

Sampel

IV.2

Pembahasan
IV.2.1. Kadar yang Ditemukan pada Sampel 1 Metode Mohr
Adapun kadar normalitas dari AgNO3 yang kami peroleh
berdasarkan perhitungan adalah sebesar 0,0462 N.
Kadar yang kami peroleh menjadi lebih kecil dibandingkan
kadar sampel sebenarnya disebabkan oleh beberapa faktor. Salah
satunya ialah pemilihan indikator tidak didasarkan pada perubahan
derajat keasaman (pH), tetapi didasarkan atas terbentuknya endapan.
Agar terjadi endapan, syaratnya hasil kali ion-ionnya melampaui
harga Ksp-nya. Sedangkan didalam praktiknya, konsentrasi
indikator

yang

diperoleh

adalah

terlalu

pekat

sehingga

mengakibatkan titik akhir titrasi mendahului titik ekuivalen, karena


endapan perak kromat terjadi sebelum semua halogen (sampel)
habis. Sedangkan menurut penelitian, konsentrasi yang sesuai
adalah 1,4 x 10-2 M. itulah sebabnya mengapa kadar Cl- yang
diperoleh sangat kecil karena yang terukur adalah endapan perak
kromat dan bukan halogen itu sendiri. Selain itu suasana larutan
harus dibuat senetral mungkin dengan menambahkan asam nitrat
(bukan HCl) atau Natriun Karbonat, sesuai dengan kebutuhan.

12

Karena dalam suasana sampel yang asam akan menyebabkan


perombakan Kalium Kromat menjadi bikromat sedangkan dalam
suasana basa maka akan terjadi pengendapan hiddroksida dari perak
yang sangat mengganggu.
(http://biomedica.setiabudi.co.id/index.php)

IV.II.2. Kadar yang Ditemukan pada Sampel 2 dengan Metode Fajans


Pada sampel kedua, kami menganalisa kada Cl- dengan
metode Fajans. Dari hasil rata-rata tiga percobaan, kami menemukan
kadar Cl- sebesar 360,822 ppm, dengan persentase error 44,24 %.
Hal ini dapat terjadi karena partikel-partikel koloid dan AgCl
bermuatan negatif, akibat adanya absorbsi ion Cl- dan sebelumnya
larutan di titik ekuivalen. Partikel ini menarik ion-ion positif dari
larutan untuk membentuk lapisan sekunder, yang lebih longgar
keadaannya. Pada titik ekuivalen, AgCl mengental menjadi partikelpartikel kasar dan hal ini akan mengurangi permukaan yang tersedia
untuk mengabsorbsi indikator, dimana dalam kasus ini ion-ion Htidak dapat ditarik ke permukaan partikel bermuatan positif secara
optimal.
(Situs Kimia Indonesia, Metode Fajans)

IV.II.3. Mekanisme Kerja Indikator Mohr


Indikator yang digunakan untuk metode Mohr adalah K2CrO4
yang pada titik akhir titrasi bereaksi dengan larutan titran
membentukj endapan yang berwarna merah bata.
Dengan reaksi : 2Ag+ + CrO42- > Ag2CrO4
Perak kromat lebih mudah larut (sekitar 8,4 x 10-5 mol/L)
daripada perak klorida (sekitar 10-5 mol/L). jika ion-ion perak
ditambahkan ke suatu muatan yang mengandung ion klorida dengan
konsentrasi besar dan ion kromat dengan konsentrasi kecil, perak
klorida akan mengendap terlebih dahulu. Perak kromat tidak
terbentuk sebelum konsentrasi ion perak meningkat sampai ke nilai
yang cukup besar untuk melebihi Ksp dari perak kromat.

13

Berikut bentuk molekul endapan Ag2CrO4 :

Gambar 4.2.3.1. Struktur molekul endapan Ag2CrO4


(Situs Kimia Indonesia. 2012. Metode Mohr)

IV.II.4. Mekanisme Kerja Indikator Fajans


Indikator

yang

digunakan

adalah

inidikator

absorbsi,

merupakan zat yang diserap pada permukaan endapan dan


menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan diatur pada titik
ekuivalen dengan memilih indikator dan pH larutan. Cara kerja
indikator absorbsi adalah indikator asam lemah atau basa lemah
organic yang dapat membentuk endapan dengan perak. Missal
Fluoressein (HFl) pada penetapan kadar Cl-. Dalam larutan
Fluoressein akan mengion. Ion HF- inilah yang akan diserap oleh
endapan AgX dan berwarna merah muda.
Berikut gambar struktur molekul Fluoressein :

Gambar 4.2.4.1. Struktur molekul Fluoressein


(Latif, Arul. 2012. Laporan Argentometri)

14

IV.II.5. Aplikasi Argentometri dalam Industri Kimia


Ada tiga tipe titik akhir yang digunakan untuk titrasi dengan
AgNO3 yaitu potensiometri, amperemetri, dan indikator kimia. Titik
akhir potensiometri ditandai pada potensial elektroda perak yang
dicelupkan ke dalam larutan analit. Titik akhir amperemetri
melibatkan penentuan arus yang diteruskan antara sepasang
mikroelektrode perak dalam larutan analit. Mikroelektrode inilah
yang sering dipakai dalam industry-industri.
Aplikasi titrasi argentometri dengan metode Mohr banyak
digunakan untuk menentukan kadar klorida dalam berbagai contoh
air, missal air sungai, air laut, air sumur, air hasil pengolahan
industry sabun, dan sebagainya. Titrasi dengan metode Mohr
dilakukan dengan kondisi pH kisaran 6,5 10 disebabkan karena ion
kromat adalah basa konjugasi dari asam kromat. Jika pH dibawah 6,5
maka ion kromat akan berprotonasi sehingga asam kromat akan
mendominasi didalam larutan, akibatnya dalam larutan yang bersifat
sangat asam konsentrasi ion kromat akan terlalu kecil untuk
memungkinkan terjadinya endapan Ag2CrO4 sehingga hal ini akan
berakibat sulitnya pendeteksian titik akhir titrasi.
Sedangkan, untuk aplikasi argentometri dengan metode
Volhard ini adalah penentuan konsentrasi halide. Kondisi titrasi
dengan metode Volhard harus dijaga dalam kondisi asam karena jika
larutan analit bersifat basa maka akan terbentuk endapan Fe(OH)3.
Jika kondisi analit adalah basa atau netral maka sebaliknya titrasi
dilakukan dengan metode Mohr atau metode Fajans.
(Anonim, 2009)

15

BAB V
PENUTUP

V.I. KESIMPULAN
1.

Kadar yang ditemukan pada sampel 1 adalah 360,822 ppm


dengan persentase error sebesar 31,15 %

2.

Kadar yang ditemukan pada sampel 2 adalah 967,659 ppm


dengan persentase error sebesar 44,24 %

3.

Indikator Mohr bekerja dengan metode pengendapan bertingkat

4.

Indikator Fajans bekerja dengan prinsip adsorbsi ion

5.

Aplikasi argentometri antara lain untuk analisis klorida dalam


penyulingan air, indikator sabun, dan lain-lain.

V.II. SARAN
1.

Cuci semua alat laboratorium setelah selesai digunakan

2.

Pada saat menggunakan buret, keran dipegang dengan tangan


kiri dan tangan kanan mengaduk Erlenmeyer

3.

Jangan meletakkan corong di atas dalam waktu lama jika tidak


digunakan

4.

Hati-hati dalam menggunakan alat laboratorium terutama saat


pencucian

5.

Lakukan pengadukan secara berkala selama titrasi berlangsung,


karena secara local akan menyebabkan terjadinya kelebihan
titran

6.

Pengaturan pH harus dilakukan dengan tepat agar tidak


mengubah kesetimbangan konsentrasi larutan.

16

DAFTAR PUSTAKA

Latif, Arul. 2012. Laporan Argentometri. http://www.arullatif.blogspot.com/


Pharma Chetical. 2012. Laporan Argentometri.
http://malapharmacheticalword.blogspot.com/.../argentometri_lapor
an_03.html
Perry, R.H. and C.H. Dikton. 1985. Chemical Engineering Hand Book 6th
edition. New York : Mc Graw Hill Book Co. Inc
Situs Kimia Indonesia. 2012. Metode Fajans. http://www.chem-is-try.org
Situs Kimia Indonesia. 2012. Metode Mohr. http://www.chem-is-try.org
Underwood, A.L. and Day, R.A. 1983. Analisa Kimia Kuantitatif 5th edition.
Diterjemahkan oleh R. Soendoro. Jakarta : Erlangga
Vogel, A.L. Buku Teks Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro.
Diterjemahkan oleh Ir. Sutiono dan Dr. A. Hadyono Pudjaatmadja.
Jakarta : Penerbit P.T. Kalmon Media Pustaka
www.biomedika.setiabudi.ac.id/
www.outreach.canterburyac.nz/chloride_mohr.pdf
www.outreach.canterburyac.nz/chloride_volhard.pdf

17

INTISARI

Pengendapan merupakan metode yang sangat berharga dalam memisahkan


suatu sampel menjadi komponen-komponennya. Reaksi pengendapan digunakan
secara meluas dalam kimia analisis, khususnya argentometri dan gravimetri.
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kadar Ba2+ di dalam sampel.
Gravimetri merupakan bagian dari analisa kuantitatif yang berhubungan
dengan pengukuran berat dengan memisahkan analit dari semua komponennya.
Sehingga dapat ditentukan kadar dari suatu zat yang sedang diteliti. Tujuan
percobaan gravimetri adalah menentukan kadar Ba2+. Salah satu persyaratan dalam
metode gravimetri adalah pemisahan harus cukup sempurna.
Analisa gravimetri dimulai dengan menimbang kertas whatman. Sampel
tersebut ditambahkan H2SO4 0,1 N dan diaduk. Endapan BaSO4 putih yang terbentuk
disaring dengan kertas saring whatman. Cuci endapan dengan H2SO4 encer. Air
cucian dijadikan satu dengan filtratnya untuk ditambahkan H2SO4 0,1 N. Lakukan
penyaringan dan pencucian hingga tidak terbentuk endapan lagi. Keringkan
endapan dalam oven pada suhu sekitar 100-110 oC kemudian timbang beratnya.
Pada percobaan gravimetri, kami mendapatkan kadar Ba2+ dalam sampel
sebesar 3841 ppm dengan persentase error sebesar 68,6 % (kadar asli 5600 ppm).
Kadar yang kami peroleh menjadi lebih kecil disebabkan oleh pembentukan endapan
yang tidak menimbulkan nukleasi, kemurnian endapan yang tidak baik, dan proses
pemijaran berlebih.
Akhirnya, hasil perhitungan dan pengukuran yang diperoleh berbeda cukup
signifikan (lebih kecil) karena berbagai faktor ( 3 alasan ). Sebagai saran, praktikan
sebaiknya memeriksa alat terlebih dahulu, apakah alat yang digunakan baik atau
tidak. Perhatikan oven secara berkala. Lebih teliti dalam melakukan penyaringan
dan pencucian endapan agar faktor error dapat diminimalisir.

18

SUMMARY

Precipitation is a valuable method in separate sample into its components.


Precipitate reaction is used widely in analytical chemistry, especially in
Argentometric and Gravimetric method. The goal point of this practice is to
determine concentration of Ba2+ in the sample.
Gravimetric method is one of quantitative analysis which has relationship
with weight measurement to separate analyte from all its component. So that, we can
determine the concentration of the substance which is reasearched. The goal point of
the experiment is determine the concentration of Ba2+. One of its term for
gravimetric method is separation must be perfect enough.
Gravimetric analysis is started with weighing Whatman paper. Added sample
with H2SO4 0,1 N and stirred. White precipitate of BaSO4 which is form will be
filtered with whatman paper. Wash the sediment with H2SO4 aqueous. Washed water
is combined with filtrate and added by H2SO4 then. Do the filtration and laundry
repeatedly until there are no precipitate again. Dry the sediment in the oven about
100-110 oC then weigh its mass.
In gravimetric experiment, we got the concentration of Ba2+ 3841 ppm in the
sample with error percentation is 68,6 % (teoritical concentration 5600 ppm).
Concentration which is found is smaller because the precipitate formation didnt
emerge nucleation, the wicked purity of precipitation, and over warming.
Finally, the result of calculation and measurement which is gotten is not
significant enough because of various factors (3 reason). As suggestion, practicant
should check the tools first, whether the tools is in good condition or not. Note at the
oven temporally. More precise in doing filtration and washing precipitate so that
error factors can be minimalized.

19

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Pengendapan merupakan metode yang sangat berharga dalam
memisahkan suatu sampel menjadi komponen-komponennya. Proses yang
dilibatkan adalah proses dimana zat yang akan dipisahkan digunakan untuk
membentuk suatu endapan padat. Reaksi pengendapan telah digunakan secara
meluas dalam kimia analitis, khususnya dalam metode argentometri dan
gravimetri. Gravimetri juga merupakan bagian dari analisa kuantitatif yang
berhubungan dengan pengukuran berat dengan memisahkan analis dari semua
komponen lainnya sehingga dapat ditentukan kadar suatu zat. Di samping zatzat anorganik, senyawa organik juga telah dianalisis dengan teknik
gravimetri, sebagai contohnya penetapan kadar kolesterol dalam sereal dan
laktosa dalam produk susu.

I.2

Tujuan Percobaan
Menentukan kadar Ba2+ dalam sampel

I.3

Manfaat Percobaan
Dapat mengetahui kadar Ba2+ dalam suatu sampel dengan prosedur gravimetri.

20

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Landasan Teori yang Mendukung


Analisa gravimetri adalah suatu metode pengukuran berat dengan
memisahkan analit dari semua komponen lainnya sehingga dapat ditentukan
kadar suatu zat dengan menggunakan faktor gravimetri. Suatu analisa
gravimetri biasanya berdasarkan reaksi:
aA + bB AaBb
Dengan ketentuan a adalah analit A bereaksi dengan b molekul B.
Hasil AaBb biasanya merupakan zat dengan kelarutan kecil sehingga dapat
ditimbang dalam bentuk itu setelah dikeringkan atau dibakar menjadi
senyawa lain yang susunannya diketahui dan kemudian ditimbang. Suatu
pereaksi B ekses biasanya ditambahkan untuk menekan kelarutan endapan,
contohnya pada penentuan Ca2+.
Ca2++C2O42-CaC2O4
CaC2O4 CaO + CO2 + CO
Persyaratan yang harus dipenuhi dalam metode gravimetri adalah:
A. Pada pemisahan harus cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang
tidak mengendap secara analit tidak ditentukan.
B. Zat yang ditimbang harus punya susunan tertentu dan harus murni.
Jika tidak hasil tidak dapat diperoleh.

II.2

Aplikasi Analisa Gravimetri


Gravimetri dapat dilakukan terhadap zat-zat organik seperti
penentuan kolesterol pada padi-padian. Selain itu analisa unsur dan senyawa
organik biasanya juga dilakukan dengan cara ini. Misalnya C dalam senyawa
organik dapat ditentukan dengan membakar sampel dalam oksigen dan
menyerap CO2 dan H2O yang dihasilkan pada absorpsi yang cocok. Tabung
absorbsi ditimbang sebelum dan sesudah pembakaran untuk memperoleh CO2
dan H2O yang dihasilkan.

II.3

Keuntungan Gravimetri

21

Walaupun gravimetri telah digantikan dari segi rutinnya dengan


instrumental, namun gravimetri sebenarnya lebih cepat dan teliti daripada
instrumen yang perlu dikalibrasi. Alat pada umumnya memberikan hanya
pengukuran relatif dan harus dikalibrasi atas dasar cara gravimetri atau
titimetri klasik. Jika analit merupakan suatu konstata pertama (> 1%)
ketelitian dari berbagai bagian perseribu dapat diharapkan, jika contoh tak
terlalu kompleks. Jika analit minoritas kurang dari 1%, cara gravimetri
biasanya tidak digunakan.

II.4

Teori Kopresipitasi, Peptisasi, Post Presipitasi


Kopresipitasi adalah proses membawa serta turun suatu zat yang
biasanya terlarut sewaktu pengendapan dari endapan yang dikehendaki.
Misalkan ion nitrat pada pengendapan barium sulfat menyebabkan endapan
mengandung barium nitrat sehingga dikatakan nitratnya mengalami
kopresipitasi dengan sulfat atau akibat adsorpsi ion ketika proses
pengendapan. Pada kejadian ini zat penyebab ketidakmurnian masuk ke
dalam sisi kristal dan ion-ion yang terserap terseret ke bawah pada waktu
koagulasi.
Prosedur yang digunakan untuk mengurangi kopresipitasi:
A. Cara penentuan 2 pereaksi ini dapat digunakan untuk mengendalikan
konsentrasi zat pengatur dan muatan listrik yang dibawa oleh partikel
primer endapan dalam dikendalikan dengan menggunakan pH yang
sesuai.
B. Pemuaian dengan gumpalan dan gelatin harus dengan larutan
elektrolit dalam larutan pencuci untuk menghindari presipitasi.
C. Pencemaran ini merupakan manfaat besar endapan kristalin, manfaat
yang cukup besar bagi endapan bergumpal tetap tidak digunakan
untuk gelatin.
D. Pengendapan ulang apabila endapan dengan mudah dapat dilarutkan
kembali terutama untuk oksidasi hidrolisi dan garam kristalin asam
lemak.
E. Pemisahan zat pengotor dapat dipisahkan/ sifat kimianya diubah
dengan suatu pencuci sebelum endapan terbentuk.

22

Penggunaan persyaratan yang menuju ke partikel lebih besar, yaitu


jika pengendapan cukup perlahan.

II.5

Fisis dan Chemist Reagen


H2SO4
Fisis :
Berat molekul = 98,08 gr/mol
Berat jenis = 1,83 gr/cc
Titik didih = 3400C
Titik leleh = 10,440C
Kelarutan dalam 100 bagian air dingin = 80
Kelarutan dalam 100 bagian air panas = 59
Chemist :
Merupakan asam kuat
Jika ditambah basa membentuk garam dan air

Dengan Pb2+ membentuk PbSO42Pb2+ + SO4 PbSO4

Dengan Ba2+ membentuk BaSO42Ba2+ + SO4 BaSO4

Fungsi : membentuk endapan BaSO4

23

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1

Bahan :
1. H2SO4 0,1 N
2. H2SO4 sangat encer
3. Aquadest

III.2

Alat :
1. Kertas saring Whatman
2. Pengaduk
3. Corong
4. Beaker glass
5. Gelas ukur
6. Pipet tetes

III.3

Gambar Alat :

Gambar 3.3.2 Alat-Alat Praktikum Gravimetri

24

III.4

III.5

Keterangan Alat :
1. Kertas saring Whatman

: Menyaring endapan BaSo4

2. Pengaduk

: Mempermudah terjadinya reaksi

3. Corong

: Memindahkan fluida ke tempat lain

4. Beaker glass

: Tempat mencampurkan dan mereaksikan

5. Gelas ukur

: Menentukan volume fluida

6. Pipet tetes

: Mengambil fluida sedikit demi sedikit

Cara Kerja :
1. Menimbang kertas saring Whatman
2. Ambil 10 ml sampel yang mengandung Ba2+ (volume sampel yang
diambil untuk diendapkan tergantung konsentrasi sampel).
3. Tambahkan H2SO4 0,1 N dan diaduk.
4. Endapan BaSO4 putih yang terbentuk disaring dengan kertas saring
Whatman yang diletakkan dalam corong. Tampung filtrat dalam beaker
glass.
5. Cuci endapan dengan H2SO4 sangat encer dan air cucian dijadikan satu
dengan filtrat untuk kemudian ditambahkan H2SO4 0,1 N lagi
6. Ulangi seperti langkah 4 dan 5 sampai penambahan H2SO4 tidak
menimbulkan endapan lagi.
7. Keringkan endapan dalam oven 100-110C tapi jangan sampai kertas
saring hangus.
8. Ditimbang berat kertas saring bersama endapan yang telah kering.
(W 2 W1).BMBa .1000

Perhitungan : Ba2+ (ppm) = BM BaSO 4 .V yang

diambil

25

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1

Hasil Percobaan
Tabel 4.1.2 Tabel Hasil Percobaan Analisa Gravimetri
Berat kertas saring mula-mula (W1)

0,94 gram

Berat kertas saring + endapan (W2)

0,97 gram

Kadar Ba2+ yang ditemukan


Kadar Ba2+ asli
% error

IV.2

3841,6 ppm
5600 ppm
68,6 %

Pembahasan
Dengan menggunakan metode gravimetri untuk menentukan kadar
Barium dalam sampel, kami mendapatkan kadar sampel lebih kecil dari kadar
aslinya.
Hal ini disebabkan oleh :
a. Pembentukan Endapan
Partikel hasil proses pengendapan ditentukan oleh proses nukleasi dan
pembentukan nucleus. Dalam analisa gravimetri harus selalu diupayakan
agar didapat endapan yang murni dan partikel-partikelnya cukup besar
sehingga mudah disaring dan dicuci. Pembentukan partikel endapan
terjadi dalam larutan lewat jenuh. Kation dan anion dalam larutan akan
bertambah dengan nucleus-nukleus itu dan melekat dengan ikatan kimia.
Namun, di dalam praktek tidak ditambahkan pereaksi sehingga tidak
menimbulkan nukleasi atau inti-inti hablur sehingga partikel-partikelnya
menjadi sangat kecil dan lolos dari saringan bersama dengan filtratnya.

b. Kemurnian Endapan
Setelah proses pengendapan, masalah berikut adalah bagaimana cara
mendapatkan endapan semurni mungkin untuk mendapatkan hasil analisis
seteliti mungkin. Ikut sertanya zat pengotor sangat mengganggu analisa
gravimetri yang dilakukan. Pada proses pemurnian, dengan melakukan
pencucian bukan hanya zat pengotor saja yang larut tetapi juga zat yang

26

dianalisis juga ikut larut, meskipun kelarutannya jauh lebih kecil. Dengan
demikian, penggunaan penggunaan pencuci harus sedemikian kecil
supaya kehilangan zat yang dianalisis masih dapat diabaikan, artinya
masih lebih kecil daripada sensitivitas timbangan yang digunakan.

c. Proses Pemijaran
Pada proses pemijaran kadang terjadi pemanasan berlebih serta sifat
zat yang diendapkan mudah menguap (volatile). Hal yang penting juga
adalah adanya beberapa endapan yang mudah tereduksi oleh karbon bila
disaring dengan kertas saring seperti perak klorida, sehingga harus
disaring dengan cawan penyaring (berpori). Selain itu, dapat juga
kelebihan pemijaran sehingga terjadi dekomposisi dan komposisi zat
menjadi tidak menentu. Kesalah juga terjadi dari suatu endapan yang
telah dipijarkan karena menimbang kertas dalam bentuk panas yang
berlebih sehingga banyak massa yang terkikis walaupun telah
menghindari penyerapan air dan karbondioksida selama pendinginan.
(http://tinagkung.blogspot.com)

IV.2.2. Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Praktikum Gravimetri


Di dalam praktikum gravimetri, ada banyak hal yang tak luput
dari kesalahan praktikan. Namun, sangat disayangkan bagi kita
bahwa pengetahuan mengenai kesalahan-kesalahan yang kami
temukan dan harus diperhatikan :
1. Komponen yang ditentukan harus dapat mengendap secara
sempurna (sisa analit yang tertinggal dalam larutan harus cukup
kecil, sehingga dapat diabaikan), endapan yang dihasilkan stabil
dan sukar larut.
2. Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah
dari larutan (dengan penyaring).
3. Endapan yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometri
tertentu (dapat diubah menjadi system senyawa tertentu) dan
harus bersifat murni dan dapat diasumsikan lebih lanjut.

27

4. Proses pemisahan endapan atau pengendapan analit dari


komponen lainnya harus berlangsung secara sempurna.
5. Endapan

analit

yang

dihasilkan

diketahui

dengan

tepat

komposisinya dan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, dan


tidak bercampur dengan zat pengotor.

Cara gravimetri pada dasarnya dapat dilakukan dengan cara-cara


berikut.
1. Gravimetri Cara Penguapan
Misalnya untuk menentukan kadar air (air kristal, atau air yang
ada dalam satu spesies)
2. Gravimetri Elektrolisa
Zat yang dianalisis ditempatkan pada sel elektrolisa, setelah
dilakukan elektrolisa, maka endapan logam pada katoda dapat
langsung ditimbang
3. Gravimetri Metode Pengendapan
Menggunakan pereaksi yang dapat menghasilkan endapan
dengan zat yang dianalisa sehingga mudah untuk dipisahkan
dengan cara penyaringan.

IV.2.3. Analisis Barium selain Menggunakan Gravimetri


1. Metode yang Sering Digunakan
a. AAS Direct Aspiration Method
Range konsentrasi optimal untuk menganalisa Barium dengan
AAS

(Atomic

Adsorbtion

Spectrophotometry).

Direct

Aspiration Method, menggunakan panjang gelombang 553,6


nm adlah 1-20 mg/L, dengan sensitivitas 0,4 mg/L dan batas
deteksi 0,03 mg/L (US EPA, 1979)
b. AAS-Teknik Furnace
Untuk konsentrasi Barium (0,2 mg/L). Range konsentrasi
optimal untuk menganalisa Barium dengan teknik furnace
adalah 10-200 /, batas deteksi 2 /. The Association of
Official Analytical Chemistry (AOAC, 1984) menggunakan

28

spektrofotografi emisi 4 untuk menghitung konsentrasi Barium


dalam jaringan tanaman.

2. Metode yang Digunakan untuk Penerapan Khusus


a. Spektro Massa
Karena

mahal

dan

spektrofotometri

massa

kurang
bukanlah

tersedianya
metode

yang

sampel,
sering

digunakan untuk menganalisa barium atau unsure lainnya.


Tetapi sampel barium yang berbentuk aqueous dimurnikan
dengan pertukaran ion dapat dianalisis dengan metode ini.
(Bacon and Edmand, 1972)
b. X-ray Fluoressein Spectrofotometry
Teknik ini telah digunakan untuk menentukan konsentrasi
barium dalam jaringan manusia (Forssen & Erametsa, 1974)
dan dalam sedimen sungai (Tsai et al, 1978)
c. Neutron Activation Analysis
Aktivasi neutron dapat digunakan untuk berbagai unsur.
Teknik ini telah digunakan untuk menentukan kadar barium
dalam lumpur (Nadkarni & Marission, 1947) dalam sedimen
laut (Show et al, 1928) dan jaringan biologi (Heffron et al,
1932).

29

BAB V
PENUTUP

V.I.

KESIMPULAN
1.

Berat Ba2+ yang ditemukan dalam sampel adalah 17652 ppm


dengan persentase error sebesar 68,6 %

2.

Kadar dalam sampel yang ditemukan lebih kecil dari sebenarnya


karena faktor kesalahan penegndapan, pemurnian, dan pemijaran

3.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam praktikum gravimetri antara


lain komponen endapan yang terbentuk dan endapan yang ditimbang

4.

Penentuan Ba2+ selain gravimetri adalah metode AAS Direct


Aspiration Method dan AAS Teknik Furnace

5.

Metode yang digunakan untuk penerapan khusus adalah spektro


massa, X-ray Fluoressein Spectrofotometry dan Neutron Activation
Analysis.

V.II.

SARAN
1.

Amati oven agar tidak terkena faktor kesalahan eksternal

2.

Cuci semua alat laboratorium setelah dipakai

3.

Lebih teliti dalam penambahan kadar H2SO4 hingga endapannya


hilang pada saat penyaringan

4.

Pada penambahan H2SO4 encer secara berkala, sebaiknya


diperhatikan volume yang akan diteteskan, sebab akan memakan
waktu banyak dalam analisa jika endapan terlalu banyak untuk
dihilangkan

5.

Gunakanlah pereaksi yang dapat menghasilkan endapan dengan zat


yang dianalisa sehingga mudah untuk dipisahkan dengan cara
penyaringan

6.

Amatilah endapan secara simultan, sehingga kita dapat mengetahui


komposisi dan menghasilkan kemurnian tinggi.

30

DAFTAR PUSTAKA

Chemister, Lenny. 2012. Makalah Kimia Analitik.


http://www.slideshare.net/lennychemister/makalah-kimiaanalitik.html
Manurung, Brean. 2011. Gravimetri.
http://breanmanurung.files.wordpress.com/2011/
Perry, R.H. and C.H. Dikton. 1985. Chemical Engineering Hand Book 6th
edition. New York : McGraw Hill Book Co. Inc
Underwood, A.L. and Day R.A. 1983. Analisa Kimia Kuantitatif 5th edition.
Diterjemahkan oleh R. Soendoro. Jakarta : Erlangga
Vogel, A.L. Buku Teks Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro.
Diterjemahkan oleh Ir. Sutiono dan Dr. A. Hadyono Pudjaatmadja. Jakarta :
Penerbit P.T. Kalman Media Pustaka
www.tinangkung.blogspot.com/2004/04/analisis_gravimetri.html
www.wikipedia.org/gravimetric_analysis.html

31

LEMBAR PERHITUNGAN ARGENTOMETRI

Hasil pengamatan dan perhitungan standarisasi AgNO3 dengan NaCl 0,05 N


.

Perhitungan : N AgNO3 =

. 3

10 .0,05
10,8

= 0,0462 N

Hasil perhitungan Cl- dengan metode Mohr


Perhitungan :

Cl- (ppm) =
=

. 3. .1000

2,2 0,0462 35,5 .1000
10

= 360,822 ppm

Hasil perhitungan Cl- dengan metode Fajans


Perhitungan :

Cl- (ppm) =
=

. 3. .1000

5,9 0,0462 35,5 .1000
10

= 967,659 ppm

A1

LEMBAR PERHITUNGAN GRAVIMETRI

Hasil perhitungan Ba2+ dengan metode gravimetri


Perhitungan : Ba2+ (ppm) =

21 .1000
4.

0,970,94 .137,34.1000
233,4.10

= 3841,6 ppm

A2

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA I

Materi :
Argento Gravimetri

NAMA

: JOE EPRIDOENA SINULINGGA

GROUP

: VII/ SELASA SIANG

NIM : 21030113130118

REKAN KERJA : 1. GIKA PUTRI ARIANI


2. NAUFAL RILANDA

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA I


TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

B1

MATERI

: ARGENTOMETRI

MATERI

: GRAVIMETRI

A. VARIABEL
Tidak ada

A.

VARIABEL
Tidak Ada

B. BAHAN DAN ALAT


BAHAN
1. Larutan NaCl 0.05 N
2. Larutan AgNO3
3. Larutan NH4CNS
4. Larutan HNO3 6 N
5. Larutan Ferri Amonium
Sulfat
6. Indikator K2CrO4 5 %
7. Indikator Fluoressein
8. Dekstrin
ALAT
1. Buret, statif, dan klem
2. Corong
3. Erlenmeyer
4. Beaker glass
5. Gelas ukur
6. Kertas saring
7. Labu takar
8. Pipet volume
9. Pipet ukur
10. Pipet tetes

B.

ALAT DAN BAHAN


BAHAN
1. H2SO4 0,1 N
2. H2SO4 sangat encer
3. Aquadest

C.

ALAT
1. Kertas saring
Whatman
2. Pengaduk
3. Corong
4. Beaker glass
5. Gelas ukur
6. Pipet tetes

CARA KERJA
ARGENTOMETRI
a. Standarisasi AgNO3 dengan NaCl 0,05 N
1. Ambil 10 ml larutan standar NaCl 0,05 N, masukkan dalam labu takar
erlenmeyer.
2. Tambahkan 0,4 ml K2CrO4.
3. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah pertama yang tak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran AgNO3
Perhitungan

N AgNO3 =

b. Standarisasi Larutan NH4CNS dengan AgNO3


1. Ambil 10 ml larutan AgNO3 yang sudah distandarisasi. Masukkan
dalam erlenmeyer.
2. Tambahkan 2 ml HNO3 6 N dan 0,4 ml Ferri Ammonium Sulfat.

B1

3. Titrasi dengan NH4CNS sampai timbul warna merah kecoklatan


pertama yang tak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.
Perhitungan

N NH4CNS =

3
4

c. Menetapkan kadar Cl- dengan metode Mohr


1. Masukkan 10 ml larutan sampel ke dalam erlenmeyer.
2. Tambahkan 0,4 ml K2CrO4.
3. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah pertama yang tak
hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran AgNO3.
Perhitungan

Cl- (ppm) =

3 1000

fp = faktor pengenceran
d. Menetapkan kadar Cl- dengan metode Fajans
1. Ambil 10 ml sampel dan masukkan dalam erlenmeyer.
2. Tambahkan 10 tetes indikator fluoressein, atur pH 7-8, panaskan
sampai 80 oC (atau tambahkan dekstrin).
3. Titrasi dengan AgNO3 sampai timbul warna merah muda yang
pertama yang tak hilang pada pengocokan. Catat kebutuhan titran.
Perhitungan

Cl- (ppm) =

3 1000

fp = faktor pengenceran

GRAVIMETRI
1. Menimbang kertas saring Whatman
2. Ambil 10 ml sampel yang mengandung Ba2+ (volume sampel yang
diambil untuk diendapkan bergantung pada konsentrasi sampel).
3. Tambahkan H2SO4 0,1 N dan diaduk.
4. Endapan BaSO4 putih yang terbentuk disaring dengan kertas saring
Whatman yang diletakkan dalam corong. Tampung filtrat dalam
beaker glass.
5. Cuci endapan dengan H2SO4 sangat encer dan air cucian dijadikan
satu dengan filtrat untuk kemudian ditambahkan H2SO4 0,1 N lagi
6. Ulangi seperti langkah 4 dan 5 sampai penambahan H2SO4 tidak
menimbulkan endapan lagi.
7. Keringkan endapan dalam oven 100-110C tapi jangan sampai kertas
saring hangus.
8. Ditimbang berat kertas saring bersama endapan yang telah kering.

Perhitungan

21 1000

Ba2+ (ppm) = 4

B2

D.

HASIL PERCOBAAN
ARGENTOMETRI
1. Volume TAT AgNO3 = 11,7 ml
Perhitungan

N AgNO3 =
=

3
10 .0,05
11,7

= 0,0427 N
2. Kadar Cl- dengan metode Mohr
Perhitungan

3 1000

Cl- (ppm) =


2,3 0,0462 35,5 1000
10

= 377,223 ppm
3. Kadar Cl- dengan metode Fajans
Perhitungan

3 1000

Cl- (ppm) =


5,9 0,0462 35,5 1000
10

= 967,659 ppm
4. % Error
a. Kadar Cl- dengan metode Mohr
% error =
=

500377,223
500

100 %

100 %

= 31,15 %
b. Kadar Cl- dengan metode Fajans
% error =
=



967,659 500
500

100 %

100 %

= 44,24 %

GRAVIMETRI

Perhitungan

21 1000

Ba2+ (ppm) = 4
=

0,970,94 137,34 1000


233,4 10

= 1762,2 ppm

I.

% Error
% error =

100 %

B3

5600 17652 ,2
5600

100 %

= 68,6 %

Praktikan,

(Joe Epridoena Sinulingga)

Mengetahui
Asisten,

( Udin Mabruro)

B4

REFERENSI
MAKALAH REVIEW
KONSENTRASI INDIKATOR TERKONTROL PADA ARGENTOMETRI MOHR
CONTROLLED INDICATOR CONCENTRATION ON ARGENTOMETRY MOHR
1

Soebiyanto ; Nur Hidayati ; Dewi Sulistyawati


1,2,3
Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Setia Budi Surakarta
Jl. Let. Jend. Sutoyo, Mojosongo, Surakarta 57127
ABSTRAK
Sebagian ahli kimia, masih ragu-ragu untuk melakukan analisis secara volumetri. Salah
satu alasannya adalah karena analisis secara volumetri memberikan kontribusi yang
besar terhadap kesalahan analisis. Alasan tersebut tidak sepenuhnya benar karena
keberhasilan suatu analisis tidak hanya ditentukan oleh ketepatan dalam memilih
metode, namun lebih ditentukan oleh peneliti dalam memahami prinsip analisisnya.
Dalam buku standar analisis bahan pangan dan minyak (AOAC) dekade sembilan
puluhan masih mencantumkan beberapa analisis volumetri, sebagai metode standar
analisis bahan pangan. Di dalam makalah ini akan dibahas bagaimana cara konsentrasi
indikator terkontrol harus dilakukan, agar analisis volumetri khususnya analisis
Argentometri diperoleh hasil yang terbaik atau kesalahan analisis dapat diperkecil.
Kata kunci : argentometri, indikator
.
ABSTRACT
Some of chemist arent sure with volumetric analysis, because the result has a larger
mistake. This reason was not exactly true . The analysis result not only depending the
method but also how did the chemist know and do it. On ninety decade, AOAC still
recommended volumetric analysis for some determination. This paper try to explained
how we can adjust concentration indicator, specially base on argentometric so the error
can minimize.
Key words: argentometric, indicator
PENDAHULUAN
Pada proses titrasi , pereaksi ditambahkan secara bertetes- tetes ke dalam
analit, biasanya menggunakan buret. Pereaksi adalah larutan standar yang
konsentrasinya telah diketahui dengan pasti dengan cara distandarisasi.
Penambahan pereaksi dilakukan terus menerus hingga teracapai ekivalen antara
pereaksi dan analit, keadaan ini disebut titik ekivalen. Agar dapat mengetahui kapan
terjadinya ekivalen antara pereaksi dan analit, para kimiawan menambahakan zat
kimia yang dinamakan indikator. Indikator akan memberikan tanggap berupa
perubahan warna larutan, terbentuknya endapan, atau terbentuknya senyawa
kompleks berwama. Saat terjadinya tanggap tersebut disebut titik akhir titrasi.
Diharapkan indikator memberikan tanggap tepat pada saat terjadinya ekivalen antara
pereaksi dan analit, dengan kata lain diharapkan titik akhir titrasi terjadi sedekat

C1

mungkin dengan titik ekivalen. Namun pada kenyataannya titik akhir titrasi selalu
bergeser dari titik ekivalen atau terjadi kesalahan titrasi. Kesalahan titrasi dapat
disebabkan oleh kesalahan pada pemilihan indikator, konsentrasi indikator yang tidak
sesuai dan karena kurang teliti dalam pengamatan (Day dan Underwood: 1994).
Menurut Khopkar (1990), kesulitan yang terjadi pada titrasi pengendapan adalah
sulitnya memilih indikator yang sesuai, sehingga kesalahan titrasi bisa diperkecil.
Pada tahun 1885 Mohr menemukan salah satu titrasi pengendapan yang
selanjutnya disebut sebagai metoda Mohr. Pada titrasi tersebut larutan standar yang
digunakan adalah perak nitrat. Larutan analit pada umumnya adalah halogen.
Indikator yang digunakan adalah kalium kromat. Prinsip dari titrasinya adalah, mulamula penambahan larutan standar akan menyebabkan terjadinya endapan perak
dengan halogen. Setelah semua halogen mengendap maka, sedikit kelebihan larutan
standar akan menyebabkan terjadinya reaksi terhadap indikator sehingga terbentuk
endapan merah bata dari perak kromat (Vogel, 1958). Karena terbentuknya endapan
mendasarkan pada harga konstanta hasil kali kelarutan (KSP), biasanya kesulitan
terjadi pada pemilihan konsentrasi dari indikator. Konsentrasi indikator harus diatur
sehingga perkalian konsentrasi dari ion kromat dengan konsentrasi kuadarat kation
perak saat titik ikivalen sedikit lebih besar dari harga KSPnya. Bila konsentrasi
indikator terlalu besar maka titik akhir titrasi terjadi sebelum titik ekivalen. Sebaliknya
bila indikator terlalu encer titik akhir titrasi terjadi setelah titik ekivalen. Oleh karena
itu harus diusahakan agar titik akhir titrasi terjadi bersamaan atau sedekat mungkin
dengan titik ekivalen dengan cara mengatur konsentrasi dari indikatornya.
Pada makalah ini akan dikaji berapakah konsentrasi indikator yang terbaik
supaya kesalahan titrasi menjadi yang terkecil (konsentrasi indikator terkontrol).
Makalah ini perlu disampaikan untuk memberikan beberapa teknik yang harus
dilakukan agar kesalahan analisis secara volumetri dapat diperkecil, sehingga tiada
keraguan lagi tentang keabsahannya.
STUDI PUSTAKA
Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan
endapan atau garam sukar larut (Khopkar, 1990). Pengendapan yang terjadi harus
cepat mencapai kestimbangan pada setiap penambahan titran, dan tidak terjadi
pengotoran endapan. Titrasi pengendapan banyak digunakan pada penentuan Cl , Br ,
dan I . Ion-ion tersebut bereaksi dengan perak nitrat membentuk endapan garam.
Karena standar yang dipakai adalah perak nitrat (argentum nitrat) maka titrasinya
disebut titrasi argentometri. Beberapa ahli kimia sudah jarang menggunakan metoda
tersebut, alasan utamanya adalah sulitmya memperoleh indikator yang sesuai untuk
mengetahui titik akhir pengendapan (Khopkar, 1990). Titik akhir pengendapan dapat
diketahui dengan menambahkan indikator kalium kromat (pembentukan endapan
berwarna), besi (III) nitrat (pembentukan senyawa kompleks berwarna), atau
penambahan indikator fluoresein (indikator adsorbsi).
a. Titrasi Pengendapan Mohr.
Pada tahun 1885 Mohr menemukan salah satu bentuk titrasi pengendapan. Titrasi
tersebut pada umumnya digunakan untuk menentukan konsentrasi dari klorida dan
bromida (halogen). Proses titrasinya menggunakan larutan standar perak nitrat, dan

C2

Proses pembentukan endapan terjadi secara bertingkat (fraksional), mula-mula


terbentuk endapan perak klorida dan kemudian perak kromat. Garam perak klorida
-10
memiliki konstanta hasil kali kelarutan (KSP) sebesar 1,2 X 10
dan garam perak
-12
kromat adalah 1,7 X 10 . Di dalam praktek konsentrasi perak nitrat yang digunakan
adalah 0,1 N yang dititrasikan pada larutan sampel dari halogen dan penambahan
indikator kalium kromat beberapa mili liter. Perak nitrat adalah garam yang lebih sulit
larut sehingga endapannya akan terjadi lebih awal, baru kemudian endapan perak
kromat. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut :
+
Ag + C1
AgCI (s)
(awal titrasi ) 1)
2 Ag + CrO4

Ag2CrO4 (s)

(akhir titrasi) .... 2)

Endapan perak klorida dan endapan perak kromat akan terjadi bila harga KSP nya
terlampaui.
Pada saat terjadi titik ekivalen, maka konsentrasi ion perak akan sama dengan
konsentrasi ion klorida. Menurut Vogel (1958) konsentrasi ion perak pada saat ekivalen
-5
adalah 1,1 X 10 M. Pada konsentrasi tersebut, maka secara teoritis konsentrasi kalium
kromat untuk membentuk endapan dapat dihitung. Pada prakteknya konsentrai indikator
yang digunakan cenderung lebih encer. Kelemahan penggunaan indikator yang encer
tersebut adalah terjadinya kesalahan titrasi, dalam hal ini akan terjadi titik akhir titrasi
terjadi setelah titik ekivalen, artinya dalam melakukan titrasi tersebut telah terjadi
kelebihan titran, yang menyebabkan konsentrasi analit yang diteliti menjadi lebih besar
dari yang sebenarnya.
b. Syarat-Syarat Titrasi Mohr.
Proses titrasi pengendapan secara Mohr harus dilakukan pada larutan yang netral. Bila
dilakukan pada larutan yang bersifat asam, maka akan terjadi penguraian ion kromat
menjadi ion dikromat. Penguraian tersebut dapat mengurangi konsentrasi indikator
kalium kromat dan menyebabkan larutan menjadi berwarna jingga. Bila larutan bersifat
basa, maka akan terjadi pengendapan perak hidroksida. Dua reaksi samping tersebut
tidak dikehendaki, oleh karena itu sebelum titrasi berlangsung harus dilakukan
pengecekan terhadap keasaman larutan. Bila larutan asam maka dapat ditambahkan
natrium karbonat bertetes-tetes hingga netral. Sebaliknya bila larutan basa ditambahkan
asam nitrat bertetes-tetes hingga netral. Penambahan kalsium karbonat juga disarankan
karena beberapa garam klorida dapat terhidrolisa pada larutan yang bersifat asam.
ULASAN
Tidak ada satupun metode analisis yang bebas dari kesalahan, bahkan untuk
analisis yang menggunakan alat-alat modern sekalipun kesalahan tetap terjadi. Pada
analisis secara intrumental, kesalahan dapat terjadi pada pembuatan larutan standar.
Karena larutan standar yang dibuat sangat encer (dalam bagian perjuta), bahkan lebih
encer lagi maka biasanya dilakukan dengan pengenceran berulang-ulang atau
pengenceran dengan jumlah volume pengambilan yang sangat kecil. Kedua-duanya
memberikan andil kesalahan yang sulit dihindari oleh peneliti. Sebagai contoh pada
pengguanaan alat FTIR, sampel yang sama dilakukan analisis oleh orang yang sama
ternyata spektrum yang dihasilkan jauh berbeda. Demikian pula penggunaan HPLC,
sampel yang diinjeksikan oleh orang yang sama hasilnya berbeda. Kejadian semacam
ini dapat terjadi pada alat-alat yang lain. Harus diakui bahwa dalam analisis volumetri
juga selalu terjadi kesalahan-kesalahan, misalnya betapa sulitnya menentukan warna

C3

merah akhir titrasi netralisasi (merahnya seperti apa?), tidak ada indikator yang memiliki
trayek pH yang sesuai dengan yang diinginkan (biasanya yang digunakan yang trayek
pH nya mendekati) dan kesalahan yang lain. Tapi ini tidak berarti bahwa analisis
volumetri harus ditinggalkan, apalagi jika alasannya hanya karena alatnya tidak modern.
Jika diamati dalam buku standar analisis bahan pangan dan minyak (AOAC), masih
banyak ditemukan analisis secara volumetri (misalnya peroksida, protein dll). Salah satu
pertimbangannya adalah karena penggunaan alat modern, kesalahan yang tedadi justru
semakin besar.
1. Cara memperkecil kesalahan
Tantangan yang dihadapi bagi pengguna analisis volumetri adalah meminimalkan
kesalahan titrasi. Beberapa diantaranya adalah memilih indikator yang benar-benar
memiliki trayek pH yang terdekat, meskipun kadang- kadang harganya mahal dan sulit
dicari. Teliti dalam pembuatan larutan standar, yang dapat dilakukan adalah membuat
larutan dalam jumlah besar (liter) sehingga bahan yang ditimbang banyak (menghindari
kesalahan penimbangan) dan menghindari pengenceran bertingkat. Gunakan ukuran
buret yang sesuai dengan keperluan, bila uji pendahuluan menunjukkan volume titrasi
yang kecil, lebih baik digunakan buret mikro. Pada kondisi tertentu, penggunaan larutan
blanko sangat disarankan untuk mengurangi kesalahan oleh zat pengotor.
2. Indikator pada Analisis Argentometri
Pada analisis secara argentometri pemilihan indikator tidak didasarkan oleh perubahan
derajat keasaman( pH), tetapi didasarkan atas terbentuknya endapan. Supaya terjadi
endapan syaratnya adalah hasil kali ion-ionnya melampaui harga KSP nya. Oleh karena
itu dalam analisis argentometri, pemilihan konsentrasi indikator sangat penting (dalam
asidi alkalimetri konsentrasi indikator tidak penting). Konsentrasi indikator yang terlalu
pekat menyebabkan titik akhir titrasi mendahului titik ekivalen, karena endapan perak
kromat terjadi sebelum semua halogen (sampel) habis. Demikian sebaliknya bila
konsentrasi indikator terlalu encer. Permasalahannya adalah berapa konsentrasi yang
-2
terbaik? Dari hasil perhitungan konsentrasi yang sesuai adalah 1,4 x 10 M. Hasil ini
diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :
Pada saat ekivalen, maka konsentrasi ion perak sama dengan konsentrasi ion klorida,
yaitu :
+

-10

[ Ag ] X
[Cl ]
= KSP AgCI = 1,2 10
+
Bila dihitung, maka konsentrasi [Ag ] = 1,1 x 1M
+2

[A g ] X

[CrO4 ] = KSP Ag2CrO4 = 1,7 X 10

3)
4)

-12

Konsentrasi ion kromat yang diperlukan supaya perak nitrat mengendap saat ekivalen
adalah:
KSP Ag2CrO4 ..................... 5)
-2
[CrO4 ]
=
+2

[Ag ]

Bila hasil ion Ag dari pers 4), dimasukkan pada pers. 5) maka akan diperoleh
-2
konsentrasi kalium kromat sebesar 1,4 x 10 M.
Pada konsentrasi indikator (kalium kromat) tersebut masih akan terjadi kesalahan
karena saat indikator ditambahakan akan terjadi pengenceran oleh volume sampel,
sehingga konsentrasinya menjadi lebih encer. Akibatnya titik akhir terjadi setelah titik
ekivalen atau terjadi kelebihan titran. Supaya kesalahan ini dapat diperkecil maka
diperlukan modifikasi konsentrasi indikator (konsentrasi indikator terkontrol). Caranya

C4

-1

adalah konsentrasinya dipekatkan 10 kalinya, yaitu 1,4 x 10 M, tetapi harus diikuti


dengan pengenceran sepuluh kalinya supaya konsentrasi akhirnya kembali semula. Hal
ini dapat terjadi bila kita mengambil sejumlah tertentu volume indikator dan sejumlah
tertentu volume sampel.
Perhitungan yang paling sederhana adalah mengambil 1 mL indikator dan
menambahkan sebanyak 9 mL volume sampel sehingga terjadi pengenceran sebanyak
sepuluh kali. Angka angka tersebut dapat diubah sesuai dengan hasil uji pendahuluan .
Bila volume titran dirasa terlalu besar maka pengambilan sampel dapat diperkecil,
demikian pula indikatornya. Dengan cara ini (konsentrasi indikator terkontrol) maka
kesalahan analisis argentometri dapat dikurangi, karena selalu dikondisikan konsentrasi
-2
indikator sebesar 1.4 x 10 M.
Selain mengatur konsentrasu indikator, ketelitian titrasi argentometri secara Mohr
juga dipengaruhi oleh derajad keasaman dari larutan sampel. Bila sampel terlalu asam
akan menyebabkan perombakan kalium kromat menjadi bikromat yang berwarna jingga.
Bila terlalu basa maka akan terjadi pengendapan hidroksida dari perak. Kedua keadaan
tersebut akan berpengaruh terhadap volume titrasi (kadar). Oleh karena itu larutan
harus dibuat menjadi netral dengan menambahakan asam nitrat (bukan HCI) atau
natrium karbonat,sesuai dengan kebutuhan.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diambil kesimpulan :
-2
1. Konsentrasi indikator yang terbaik adalah 1,4 x 10 M (konsentrasi setelah pengenceran), gunakan teknik konsentrasi indikator terkontrol untuk mengurangi
kesalahan analisis.
2. Analisis secara Volumetri tidak perlu diragukan kebenarannya (keabsahannya), bila
dilakukan dengan teknik yang benar.
3. Konsentrasi indikator (K2CrO4) sangat berpengaruh terhadap ketelitian analisis
secara argentometri.

C5

dapat disebabkan oleh kesalahan pada pemilihan indikator, konsentrasi indikator yang
tidak sesuai dan karena kurang teliti dalam pengamatan (Day dan Underwood: 1994).
Menurut Khopkar (1990), kesulitan yang terjadi pada titrasi pengendapan adalah
sulitnya memilih indikator yang sesuai, sehingga kesalahan titrasi bisa diperkecil.
Pada tahun 1885 Mohr menemukan salah satu titrasi pengendapan yang
selanjutnya disebut sebagai metoda Mohr. Pada titrasi tersebut larutan standar yang
digunakan adalah perak nitrat. Larutan analit pada umumnya adalah halogen.
Indikator yang digunakan adalah kalium kromat. Prinsip dari titrasinya adalah, mulamula penambahan larutan standar akan menyebabkan terjadinya endapan perak
dengan halogen. Setelah semua halogen mengendap maka, sedikit kelebihan larutan
standar akan menyebabkan terjadinya reaksi terhadap indikator sehingga terbentuk
endapan merah bata dari perak kromat (Vogel, 1958). Karena terbentuknya endapan
mendasarkan pada harga konstanta hasil kali kelarutan (KSP), biasanya kesulitan
terjadi pada pemilihan konsentrasi dari indikator. Konsentrasi indikator harus diatur
sehingga perkalian konsentrasi dari ion kromat dengan konsentrasi kuadarat kation
perak saat titik ikivalen sedikit lebih besar dari harga KSPnya. Bila konsentrasi
indikator terlalu besar maka titik akhir titrasi terjadi sebelum titik ekivalen. Sebaliknya
bila indikator terlalu encer titik akhir titrasi terjadi setelah titik ekivalen. Oleh karena
itu harus diusahakan agar titik akhir titrasi terjadi bersamaan atau sedekat mungkin
dengan titik ekivalen dengan cara mengatur konsentrasi dari indikatornya.
Pada makalah ini akan dikaji berapakah konsentrasi indikator yang terbaik
supaya kesalahan titrasi menjadi yang terkecil (konsentrasi indikator terkontrol).
Makalah ini perlu disampaikan untuk memberikan beberapa teknik yang harus
dilakukan agar kesalahan analisis secara volumetri dapat diperkecil, sehingga tiada
keraguan lagi tentang keabsahannya.
STUDI PUSTAKA
Titrasi pengendapan adalah golongan titrasi dimana hasil reaksi titrasinya merupakan
endapan atau garam sukar larut (Khopkar, 1990). Pengendapan yang terjadi harus
cepat mencapai kestimbangan pada setiap penambahan titran, dan tidak terjadi
pengotoran endapan. Titrasi pengendapan banyak digunakan pada penentuan Cl , Br ,
dan I . Ion-ion tersebut bereaksi dengan perak nitrat membentuk endapan garam.
Karena standar yang dipakai adalah perak nitrat (argentum nitrat) maka titrasinya
disebut titrasi argentometri. Beberapa ahli kimia sudah jarang menggunakan metoda
tersebut, alasan utamanya adalah sulitmya memperoleh indikator yang sesuai untuk
mengetahui titik akhir pengendapan (Khopkar, 1990). Titik akhir pengendapan dapat
diketahui dengan menambahkan indikator kalium kromat (pembentukan endapan
berwarna), besi (III) nitrat (pembentukan senyawa kompleks berwarna), atau
penambahan indikator fluoresein (indikator adsorbsi).
a. Titrasi Pengendapan Mohr.
Pada tahun 1885 Mohr menemukan salah satu bentuk titrasi pengendapan. Titrasi
tersebut pada umumnya digunakan untuk menentukan konsentrasi dari klorida dan
bromida (halogen). Proses titrasinya menggunakan larutan standar perak nitrat, dan
indikator kalium kromat. Pada akhir titrasi akan terbentuk endapan merah bata dari
perak kromat.

C6

Proses pembentukan endapan terjadi secara bertingkat (fraksional), mula-mula


terbentuk endapan perak klorida dan kemudian perak kromat. Garam perak klorida
-10
memiliki konstanta hasil kali kelarutan (KSP) sebesar 1,2 X 10
dan garam perak
-12
kromat adalah 1,7 X 10 . Di dalam praktek konsentrasi perak nitrat yang digunakan
adalah 0,1 N yang dititrasikan pada larutan sampel dari halogen dan penambahan
indikator kalium kromat beberapa mili liter. Perak nitrat adalah garam yang lebih sulit
larut sehingga endapannya akan terjadi lebih awal, baru kemudian endapan perak
kromat. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut :
+
Ag + C1
AgCI (s)
(awal titrasi ) 1)
2 Ag + CrO4

Ag2CrO4 (s)

(akhir titrasi) .... 2)

Endapan perak klorida dan endapan perak kromat akan terjadi bila harga KSP nya
terlampaui.
Pada saat terjadi titik ekivalen, maka konsentrasi ion perak akan sama dengan
konsentrasi ion klorida. Menurut Vogel (1958) konsentrasi ion perak pada saat ekivalen
-5
adalah 1,1 X 10 M. Pada konsentrasi tersebut, maka secara teoritis konsentrasi kalium
kromat untuk membentuk endapan dapat dihitung. Pada prakteknya konsentrai indikator
yang digunakan cenderung lebih encer. Kelemahan penggunaan indikator yang encer
tersebut adalah terjadinya kesalahan titrasi, dalam hal ini akan terjadi titik akhir titrasi
terjadi setelah titik ekivalen, artinya dalam melakukan titrasi tersebut telah terjadi
kelebihan titran, yang menyebabkan konsentrasi analit yang diteliti menjadi lebih besar
dari yang sebenarnya.
c. Syarat-Syarat Titrasi Mohr.
Proses titrasi pengendapan secara Mohr harus dilakukan pada larutan yang netral. Bila
dilakukan pada larutan yang bersifat asam, maka akan terjadi penguraian ion kromat
menjadi ion dikromat. Penguraian tersebut dapat mengurangi konsentrasi indikator
kalium kromat dan menyebabkan larutan menjadi berwarna jingga. Bila larutan bersifat
basa, maka akan terjadi pengendapan perak hidroksida. Dua reaksi samping tersebut
tidak dikehendaki, oleh karena itu sebelum titrasi berlangsung harus dilakukan
pengecekan terhadap keasaman larutan. Bila larutan asam maka dapat ditambahkan
natrium karbonat bertetes-tetes hingga netral. Sebaliknya bila larutan basa ditambahkan
asam nitrat bertetes-tetes hingga netral. Penambahan kalsium karbonat juga disarankan
karena beberapa garam klorida dapat terhidrolisa pada larutan yang bersifat asam.
ULASAN
Tidak ada satupun metode analisis yang bebas dari kesalahan, bahkan untuk
analisis yang menggunakan alat-alat modern sekalipun kesalahan tetap terjadi. Pada
analisis secara intrumental, kesalahan dapat terjadi pada pembuatan larutan standar.
Karena larutan standar yang dibuat sangat encer (dalam bagian perjuta), bahkan lebih
encer lagi maka biasanya dilakukan dengan pengenceran berulang-ulang atau
pengenceran dengan jumlah volume pengambilan yang sangat kecil. Kedua-duanya
memberikan andil kesalahan yang sulit dihindari oleh peneliti. Sebagai contoh pada
pengguanaan alat FTIR, sampel yang sama dilakukan analisis oleh orang yang sama
ternyata spektrum yang dihasilkan jauh berbeda. Demikian pula penggunaan HPLC,
sampel yang diinjeksikan oleh orang yang sama hasilnya berbeda. Kejadian semacam
ini dapat terjadi pada alat-alat yang lain. Harus diakui bahwa dalam analisis volumetri
juga selalu terjadi kesalahan-kesalahan, misalnya betapa sulitnya menentukan warna

C7

merah akhir titrasi netralisasi (merahnya seperti apa?), tidak ada indikator yang memiliki
trayek pH yang sesuai dengan yang diinginkan (biasanya yang digunakan yang trayek
pH nya mendekati) dan kesalahan yang lain. Tapi ini tidak berarti bahwa analisis
volumetri harus ditinggalkan, apalagi jika alasannya hanya karena alatnya tidak modern.
Jika diamati dalam buku standar analisis bahan pangan dan minyak (AOAC), masih
banyak ditemukan analisis secara volumetri (misalnya peroksida, protein dll). Salah satu
pertimbangannya adalah karena penggunaan alat modern, kesalahan yang tedadi justru
semakin besar.
1. Cara memperkecil kesalahan
Tantangan yang dihadapi bagi pengguna analisis volumetri adalah meminimalkan
kesalahan titrasi. Beberapa diantaranya adalah memilih indikator yang benar-benar
memiliki trayek pH yang terdekat, meskipun kadang- kadang harganya mahal dan sulit
dicari. Teliti dalam pembuatan larutan standar, yang dapat dilakukan adalah membuat
larutan dalam jumlah besar (liter) sehingga bahan yang ditimbang banyak (menghindari
kesalahan penimbangan) dan menghindari pengenceran bertingkat. Gunakan ukuran
buret yang sesuai dengan keperluan, bila uji pendahuluan menunjukkan volume titrasi
yang kecil, lebih baik digunakan buret mikro. Pada kondisi tertentu, penggunaan larutan
blanko sangat disarankan untuk mengurangi kesalahan oleh zat pengotor.
2. Indikator pada Analisis Argentometri
Pada analisis secara argentometri pemilihan indikator tidak didasarkan oleh perubahan
derajat keasaman( pH), tetapi didasarkan atas terbentuknya endapan. Supaya terjadi
endapan syaratnya adalah hasil kali ion-ionnya melampaui harga KSP nya. Oleh karena
itu dalam analisis argentometri, pemilihan konsentrasi indikator sangat penting (dalam
asidi alkalimetri konsentrasi indikator tidak penting). Konsentrasi indikator yang terlalu
pekat menyebabkan titik akhir titrasi mendahului titik ekivalen, karena endapan perak
kromat terjadi sebelum semua halogen (sampel) habis. Demikian sebaliknya bila
konsentrasi indikator terlalu encer. Permasalahannya adalah berapa konsentrasi yang
-2
terbaik? Dari hasil perhitungan konsentrasi yang sesuai adalah 1,4 x 10 M. Hasil ini
diperoleh dari perhitungan sebagai berikut :
Pada saat ekivalen, maka konsentrasi ion perak sama dengan konsentrasi ion klorida,
yaitu :
+

-10

[ Ag ] X
[Cl ]
= KSP AgCI = 1,2 10
+
Bila dihitung, maka konsentrasi [Ag ] = 1,1 x 1M
+2

[A g ] X

[CrO4 ] = KSP Ag2CrO4 = 1,7 X 10

3)
4)

-12

Konsentrasi ion kromat yang diperlukan supaya perak nitrat mengendap saat ekivalen
adalah:
KSP Ag2CrO4 ..................... 5)
-2
[CrO4 ]
=
+2

[Ag ]

Bila hasil ion Ag dari pers 4), dimasukkan pada pers. 5) maka akan diperoleh
-2
konsentrasi kalium kromat sebesar 1,4 x 10 M.
Pada konsentrasi indikator (kalium kromat) tersebut masih akan terjadi kesalahan
karena saat indikator ditambahakan akan terjadi pengenceran oleh volume sampel,
sehingga konsentrasinya menjadi lebih encer. Akibatnya titik akhir terjadi setelah titik
ekivalen atau terjadi kelebihan titran. Supaya kesalahan ini dapat diperkecil maka
diperlukan modifikasi konsentrasi indikator (konsentrasi indikator terkontrol).

C8

DIPERIKSA
KETERANGAN
NO
P1

TANGGAL
12 Desember 2013

P2

18 Desember 2013

P3

19 Desember 2013

TANDA
TANGAN

Perbaiki cover
Perbaiki lembar pengesahan
Header Footer
Perbaiki prakata
Perbaiki daftar isi, tabel, dan
gambar
Perbaiki intisari, summary
menyesuaikan
Perbaiki Bab IV
Perbaiki daftar pustaka
Perbaiki laporan sementara

Perbaiki lembar pengesahan


Perbaiki daftar isi, tabel, dan
gambar
Perbaiki Bab IV
Perbaiki laporan sementara dan
lembar perhitungan
Perbaiki lembar pengesahan

D-1