Anda di halaman 1dari 24

I.

JUDUL PERCOBAAN

: TERMOKIMIA

II. TANGGAL PERCOBAAN

: 25 NOVEMBER 2014 JAM 07.00

III. SELESAI PERCOBAAN

: 25 NOVEMBER 2014 JAM 09.40

IV. TUJUAN PERCOBAAN

1. Membuktikan bahwa setiap reaksi kimia disertai penyerapan atau


pelepasan kalor
2. Menghitung perubahan kalor yang terjadi dalam berbagai reaksi kimia

V. TINJAUAN PUSTAKA

Termokimia adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara energi


panas dan energi kimia. Sedangkan energi kimia didefinisikan sebagai energi
yang dikandung setiap unsur atau senyawa. Energi kimia yang terkandung
dalam suatu zat adalah semacam energi potensial zat tersebut. Energi
potensial kimia yang terandung dalam suatu zat disebut panas dalam atau
entalpi dan dinyatakan dengan simbol H. selisih antara entalpi reaktan dan
entalpi hasil pada suatu reaksi disebut perubahan entalpi reaksi ( H).
Setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi dalam
bentuk kalor, yaitu dengan cara melepaskan sejumlah kalor, yaitu dengan cara
melepaskan sejumlah kalor (reaksi eksoterm) atau menyerap kalor (reaksi
endoterm). Termokimia mempelajari perubahan kalor dalam suatu reaksi
kimia. Jika suatu sistem reaksi diberikan sejumah energi dalamm bentuk
kalor (q), maka sistem akan melakukan kerja yang maksimum (W = p x

V).

Setelah kerja sistem menyimpan sejumlah energi yang disebut energi dalam
(U). Secara matematis, perubahan energi dalam dirumuskan sebagai berikut:
U=

Jumlah kalor dari hasil reaksi kimia dapat diukur dengan suatu alat
yang disebut kalorimeter. Jumlah kalor yang diserap kalorimeter untuk
menaikkan suhu satu derajat disebut tetapan kalorimeter, satuannya JK-1.
Kalorimeter yang digunakan dibuat dibuat sedemikian rupa sehingga
menyerupai termos ideal dimana tidak terjadi perpindahan kalor dari
kalorimeter ke isinya (campuran reaksi yang akan ditentukan kalor reaksinya)

atau sebaliknya. Oleh karena itu, harus ditera (yakni dengan menentukan
kalor yang diserap oleh calorimeter). Jumlah kalor yang diserap oleh
kalorimeter untuk menaikkan temperaturnya sebesar 1 derajat disebut tetapan
kalorimeter.
Dalam hal ini jumlah kalor yang dibebaskan atau diserap oleh reaksi
sama dengan jumlah kalor yang dibebaskan atau diserap oleh kalorimeter
ditambah dengan jumlah kalor yang dibebaskan atau diserap oleh larutan di
dalam kalorimeter. Oleh karena itu, energi tidak dapat diciptakan atau
dimusnahkan. Maka :
q reaksi + q calorimeter + q larutan = 0
Atau
q reaksi = - (q calorimeter + q larutan)
Jenis-jenis reaksi termokimia
1. Reaksi Eksoterm
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang disertai perpindahan kalor dari
Sistem ke Lingkungan. Dalam kata lain reaksi eksoterm melepaskan energi.
Saat terjadi reaksi ini suhu system naik.
Sistem melepaskan kalor kelingkungan karena adanya kenaikan suhu.
H = Hp Hr
Hp<Hr
H < 0
Reaksi eksoterm berharga NEGATIF.
2. Reaksi Endoterm

Reaksi endoterm adalah reaksi yang disertai perpindahan


kalor

dari lingkungan kesistem. Dalam kata lain reaksi eksoterm

menyerap energi. Saat terjadi reaksi ini suhu system turun.


Sistem menyerap kalor oleh system karena adanya penurunan suhu.
H = Hp Hr
Hp>Hr
H > 0
Reaksi Endoterm berharga POSITIF.
Termokimia focus pada perubahan energi, secara khusus pada
perpindahan energy antara system dengan lingkungan. Jika dikombinasikan
dengan entropi, termokimia juga digunakan untuk memprediksi apakah reaksi
kimia akan berlangsung spontan atau tak spontan. Dalam termokimia ada dua
hal yang perlu diperhatikan yang menyangkut perpindahan energi, Yaitu
system dan Lingkungan. Sistem merupakan pusat focus perhatian yang
diamati dalam suatu percobaan. Lingkungan merupakan hal-hal diluar sistem
yang membatasi system dan dapat mempengaruhi sistem.
Berdasarkan interaksinya dengan lingkungan, Sistem dibedakan menjadi 3
macam:
1. Sistem Terbuka:
Memungkinkan terjadinya perpindahan energy dan zat antara system
dengan lingkungan.
2. Sistem Tertutup:
Memungkinkan terjadinya perpindahan energy tetapi, tidak dapat terjadi
pertukaran materi antara system dan lingkungan
3. Sistem terisolasi:
Tidak memungkinkan terjadinya perpindahan energy dan zat antara
system dengan lingkungan.

Persamaan Termokimia

Adalah persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya (


DH ).

Nilai DH yang dituliskan di persamaan termokimia, disesuaikan dengan


stoikiometri reaksinya, artinya = jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi
kimia = koefisien reaksinya; ( fase reaktan maupun produk reaksinya harus
dituliskan).
Contoh : Pada pembentukan 1 mol air dari gas hidrogen dengan oksigen
pada 298 K, 1 atm dilepaskan kalor sebesar 285, 5 kJ
Persamaan termokimianya :Jika koefisien dikalikan 2, maka harga DH
reaksi juga harus dikalikan 2.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menuliskan persamaan


termokimia:
Koefisien reaksi menunjukkan jumlah mol zat yang terlibat dalam
reaksi.
Ketika persamaan reaksinya dibalik (mengubah letak reaktan dengan
produknya) maka nilai DH tetap sama tetapi tandanya berlawanan.
Jika kita menggandakan kedua sisi persamaan termokimia dengan
faktor y maka nilai DH juga harus dikalikan dengan faktor y tersebut.
Ketika menuliskan persamaan reaksi termokimia, fase reaktan dan
produknya harus dituliskan.

Entalpi dan perubahan entalpi


Entalpi adalah Jumlah energi yang dimiliki suatu zat dalam segala
bentuk. Dilambangkan dengan H (berasal dari kata Heat yang berarti
Panas). Entalpi suatu zat tidak bias diukur besarnya ,tetapi perubahan
entalpinya (H) dapat diukur. Perubahan entalpi diperoleh dari selisih
entalpi produk dengan entalpi reaktan.
H = Hp Hr
Perubahan entalpi zat sama dengan harga kalor reaksinya
H = q
Dalam hal tanda positif atau negative harus diperhatikan. Jika system
melepaskan kalor, dapat dituliskan H = -q. Sebaliknya, jika system
menyerap kalor, dapatdituliskan H = q
Jenis-Jenis Perubahan Entalpi

Perubahan entalpi yang diukur pada suhu 25 oC dan tekanan 1 atm


(keadaan standar) disebut perubahan entalpi standar (dinyatakan
dengan tanda DHo atau DH298).

Perubahan entalpi yang tidak merujuk pada kondisi pengukurannya


dinyatakan dengan lambang DH saja.

Entalpi molar = perubahan entalpi tiap mol zat (kJ / mol).


Perubahan entalpi, meliputi :

1. Perubahan
pembentukan

Entalpi

Pembentukan

Standar

(DHfo)=

kalor

Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pembentukan 1 mol


senyawa dari unsur-unsurnya pada suhu dan tekanan standar (25oC, 1 atm).
Entalpinya bisa dilepaskan maupun diserap. Satuannya adalah kJ / mol.
Bentuk standar dari suatu unsur adalah bentuk yang paling stabil dari
unsur itu pada keadaan standar (298 K, 1 atm).Jika perubahan entalpi
pembentukan tidak diukur pada keadaan standar maka dinotasikan dengan
DHf
Catatan :

DHf unsur bebas = nol

Dalam entalpi pembentukan, jumlah zat yang dihasilkan adalah 1 mol.

Dibentuk dari unsur-unsurnya dalam bentuk standar.

2. Perubahan Entalpi Penguraian Standar (DHdo)


Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penguraian 1 mol
senyawa menjadi unsur-unsur penyusunnya pada keadaan standar.Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHd. Satuannya = kJ / mol.Perubahan entalpi penguraian standar
merupakan kebalikan dari perubahan entalpi pembentukan standar, maka
nilainya pun akan berlawanan tanda.
3. Perubahan Entalpi Pembakaran Standar (DHco)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pembakaran 1 mol suatu
zat secara sempurna pada keadaan standar.Jika pengukuran tidak
dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHc.
Satuannya = kJ / mol.
4. Perubahan Entalpi Netralisasi Standar (DHno)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penetralan 1 mol asam
oleh basaatau 1 mol basaoleh asam pada keadaan standar.Jika pengukuran
tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHn.
Satuannya = kJ / mol.
5. Perubahan Entalpi Penguapan Standar (DHovap)

Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada penguapan 1 mol zat


dalam fase cair menjadi fase gas pada keadaan standar.Jika pengukuran
tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHvap.
Satuannya = kJ / mol.

6. Perubahan Entalpi Peleburan Standar ( DHofus )


Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada pencairan / peleburan 1
mol zat dalam fase padat menjadi zat dalam fase cair pada keadaan
standar.Jika pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka
dinotasikan dengan DHfus. Satuannya = kJ / mol.
7. Perubahan Entalpi Sublimasi Standar (DHosub)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi pada sublimasi 1 mol zat
dalam fase padat menjadi zat dalam fase gas pada keadaan standar.Jika
pengukuran tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan
dengan DHsub. Satuannya = kJ / mol.
8. Perubahan Entalpi Pelarutan Standar (DHosol)
Adalah perubahan entalpi yang terjadi ketika 1 mol zat melarut
dalam suatu pelarut (umumnya air) pada keadaan standar.Jika pengukuran
tidak dilakukan pada keadaan standar, maka dinotasikan dengan DHsol.
Satuannya = kJ / mol.

VI. ALAT DAN BAHAN


Alat-alat :
Kalorimeter
Pipet ukur
Gelas kimia 100 mL
Spatula
Termometer
Pembakar spiritus
Bahan-bahan :

CuSO4

0,1M

NaOH

1M

HCl

1M

Serbuk Zn

VII.

CARA KERJA:
1.

25 ml air

25 ml air

Dimasukkan ke dalam
gelas kimia

Dimasukkan ke dalam
kalorimeter dengan
pipet tetes

Dipanaskan hingga naik


100C dari suhu kamar

Diukur emperaturnya

Diukur emperaturnya
T2

T1

Dicampurkan
Dikocok
T

Dihitung ketetapan kalorimeternya


Tetapan Kalorimeter

2.

25 ml CuSO4

0,2 gram Zn

0,1 M
Dimasukkan ke
dalam kalorimeter
Diukur suhunya

Dimasukkan ke
dalam kalorimeter
yang telah diisi
CuSO4

T3
Dicampurkan
Diukur Suhunya
T4

Dihitung Kalor Reaksinya


Kalor Reaksi

3.
10 ml HCl

10 ml NaOH

1M

1M
Dimasukkan ke dalam
kalorimeter
Dicatat temperaturnya

Mengatur temperatur
sedemikian hingga
sama dengan temperatur
HCl

T5

Dicampurkan
Diukur Suhunya
T6

Dihitung Kalor Penetralannya


Kalor Penetralan

No
Perc

Prosedur Percobaan

Hasil Pengamatan

Dugaan/Reaksi

Kesimpulan

Sebelum
Air dingin 25
ml
dengan
suhu (T1) : 34
Air panas 25
ml
dengan
suhu (T2) : 42
C (Air tidak
bewarna)

1.

Sesudah
Campuran
air
dingin dengan air
panas dengan T :
38 C

H2O panas +
H2O
dingin
dapat
menghasilkan
tetapan
kalorimeter
dengan T1 <
T < T2

Dari
percobaan dan
perhitungan
yang
telah
dilakukan
diperoleh k :0
J/K

CuSO4 25 ml Campuran 25 ml
1 M dengan
CuSO4 1 M dan
suhu (T3) : 32
0,5 gr Zn dengan
C
(CuSO4
suhu (T4) : 34 C
bewarna
(Cu mengendap
biru)
dan
bewarna
Serbuk
Zn
hitam)
0,5 gr (Zn
bewarna abuabu)

CuSO4 (aq) +
Zn (s) Cu
(s) + ZnSO4
(aq)

Dari data dan


percobaan
yang
dilakukan
diperoleh Hr
:
-1136,67
J/mol

HCl 10 ml Campuran HCl


0,1
M
0,1
M
dan
dengan suhu
NaOH 0,1 M
(T5) : 32 C
dengan
suhu
(HCl
tidak
(T6) : 34 C
bewarna)
NaOH 10 ml
1 M dengan
suhu (T) : 32
C
(NaOH
tidak
bewarna)

HCl (aq) +
NaOH (aq)
NaCl (aq) +
H2O (l)

VIII. HASIL PENGAMATAN

IX. ANALISIS DATA


1. Penentuan Tetapan Kalorimeter

Menghasilkan
kalor reaksi

Menghasilkan
kalor
penetralan

Dari data dan


percobaan
yang
dilakukan
diperoleh Hn
:
-15203
J/mol

Pada percobaan pertama, kami memasukkan 25 mL air dengan suhu


normal kedalam kalorimeter. Kami mengukur temperaturnya (T1) yakni
sebesar 34 C atau sebesar 307o K. Kemudian, kami memanaskan air
sebanyak 25 mL sampai temperaturnya naik 10 C dari suhu T1 atau
hingga suhu air (T2) itu mencapai 42 C atau 3150 K. Selanjutnya air yang
telah dipanaskan tadi dicampurkan dengan air dingin yang berada dalam
kalorimeter. Lalu mengaduk hingga keduanya bercampur. Kami mengukur
suhu campuran (T) yakni sebesar 38 C atau 311 K. Tahap berikutnya
kami menghitung nilai dari kalor yang diserap oleh air dingin (q1) dengan
menggunakan rumus: q1 = mair dingin x cair x (T-T1) dengan catatan massa
jenis () air diangap konstan yakni 1 gr/mL dan kalor jenis (c) air sebesar
4,2 J/K. Kami memperoleh nilai dari q1 sebasar 420 J. Kami juga
menghitung kalor yang dilepas oleh air panas (q2) dengan menggunakan
rumus: q2= mair panas x cair x (T-T2), dan kami memperoleh nilai q2 sebesar
420 J. Sehingga, q3 = q2 q1 sebesar 0 J. Dengan demikian kami dapat
menghitung tetapan kalorimeter dengan mengunakan rumus :
k=
Maka akan diperoleh tetapan kalorimeter sebesar 0 J / oK
Perhitungan
Diketahui:

mair dingin= 25 mL x 1 g/ml = 25gram


mairpanas= 25 mL x 1 g/ml = 25gram
T1=34o C + 273o = 307o K
T2= 42o C + 273o = 315o K
T = 38 C+ 273o = 311o K

Ditanya:

k?

Jawab:

a. q1 = mair dingin x kalor jenis air x kenaikan suhu


= 25 gram x 4,2 J/gram K x (311-307) K
= 420 Joule
b. q2= mair panas x kalor jenis air x penurunan suhu
= 25 gram x 4,2 J/gram K x (311-315) K
= 420 J
c. q3= q2-q1

= 420 - 420
=0J
d.
=
= 0 J/Ko
2. Penentuan Kalor Reaksi Zn CuSO4
Dalam percobaan yang kedua kami memasukkan CuSO4 dengan
konsentrasi 0,1 M sebanyak 25 mL ke dalam kalorimeter. Lalu kami
mengukur suhu CuSO4 dengan menggunakan termometer sehingga
diperoleh suhu CuSO4 (T3) sebesar 32 C atau 305o K. Lalu kami
menimbang

serbuk

Zn

sebanyak

0,2

gram.

Kemudian

kami

mencampurkan serbuk Zn yang telah ditimbang dengan CuSO4 dalam


kalorimeter. Kemudian mengaduk campuran hingga tercampur rata lalu
mengukur suhu campuran tersebut dan diperoleh suhu campuran (T4)
sebesar 34 C atau 307o K. Kemudian menghitung q4 dengan mengalikan
tetapan kalorimeter dengan selisih suhu antara T4 dan T3 dan diperoleh
hasil sebesar 0 J. Selanjutnya dengan Reaksi :
Zn(s) + CuSO4(aq)

ZnSO4(aq)

Cu(s)

Kami menghitung kalor reaksi Zn dan CuSO4. Dengan cara, pertama-tama


kami menghitung mol larutan ZnSO4 yang terbentuk setelah mereaksikan
CuSO4 dengan Zn. Setelah itu kami mengalikan mol ZnSO4 dengan massa
molekul relatifnya, maka diperoleh massa ZnSO4 yang terbentuk.
Dengan mengetahui massa ZnSO4 yang terbentuk, kami dapat menghitung
kalor yang diserap larutan ( q5 ), yakni dengan menggunakan rumus: q5 =
mlarutan x clarutan x T dengan clarutan dianggap sebesar 3,52 J / gr K. Maka
kami memperoleh q5 sebesar 3,41 J. Lalu kami menghitung kalor yang
dihasilkan sistem reaksi (q6) dengan cara menambahkan q4dan q5, maka
kami akan mendapatkan q6 sebesar -3,41 J. setelah itu kami menghitung
kalor reaksi (Hr) antara Zn dan CuSO4 dengan cara membagi q6 dengan
mol ZnSO4yang terbentuk setelah reaksi. Maka akan diperoleh kalor reaksi
sebesar -1136,67 J /mol.

Perhitungan
kalor jenis larutan = 3,52 J/gram

Diketahui:

VCuSO4 = 25 mL = 0,025 Liter


mZn= 0,2 gram
Ar Zn= 65,4 ; Ar S = 32 ; Ar O =16
Mr ZnSO4= 161,4
T3= 32o C= 305o K
T4= 34o C= 307o K
Hr ?

Ditanya:

Jawab:
Mol Zn =

= 0,003 mol
Mol CuSO4 = M x V
= 0,1 M . 0,025 liter
= 0,0025 mol
Zn(s)
Awal

+ CuSO4(aq)

0,003

0,0025

Reaksi 0,003
Sisa

a. q4

ZnSO4(aq) + Cu(s)
-

0,003

0,003

0,003

0,005

0,003

0,003

= k (T4 T3)
= 0 J/K (307-305) K

=0J
b. q5 = mlarutan x kalor jenis larutan x kenaikan suhu
= 0,4842 gram x 3,52 J/gram K x (307-305) K
= 3,41
c. q6

= -(q5+q4)
= -(3,41 +0)
= -3,41 J

d.
=
= -1.136,67 J/mol

3. Kalor Penetralan HCl NaOH


Dalam percobaan yang ketiga ini pada awal percobaan, kami memasukkan
HCl dengan konsentrasi 1 M sebanyak 25 mL kedalam kalorimeter. Lalu
mengukur suhu HCl tersebut dan kami memperoleh suhu (T5) sebesar 32
C atau 273 K. Selanjutnya kami mengambil NaOH dengan konsentrasi 1
M sebanyak 25 mL dan mengatur suhunya agar sama dengan suhu HCl.
Lalu memasukkan NaOH tersebut ke dalam kalorimeter yang di dalamnya
telah terdapat HCl. Mengaduk campuran agar keduanya tercampur rata.
Kemudian mengukur suhu campurannya (T6) yang besar 34 C atau 307o
K. Reaksi antara HCl dan NaOH adalah sebagai berikut:
HCl(aq) + NaOH(aq)

NaCl(aq) +

H2O(l)

Setelah itu kami menghitung kalor penetralan HCl dan NaOH. Dengan
cara pertama-tama, menghitung massa NaCl yang terbentuk dengan cara
mengalikan volume larutan yang terbentuk dengan massa jenis larutan
NaCl. Diperoleh massa NaCl sebesar 20,6 gram. Kemudian menghitung
kalor yang diserap larutan (q7) dengan cara mengalikan massa larutan
NaCl dengan kalor jenis larutan dan kenaikan suhu larutan. q7 = mlarutan x
clarutan x T. Maka diperoleh q7 sebesar 152,03 J. kemudian kami
menghitung kalor yang diserap kalorimeter (q8 ) dengan cara mengalikan
tetapan kalorimeter dengan perubahan suhu. q8= k x (T6 T5). Maka

didapatkan kalor yang diserap kalorimeter (q8) sebesar 0 J. Dengan


diketahuinya q7 dan q8 maka dapat dihitung kalor yang dihasilkan sistem
reaksi (q9) dengan cara menambahkan kalor yang diserap larutan (q7) dan
kalor yang diserap kalorimeter (q8). Maka kalor yang dihasilkan sistem
reaksi (q9) sebesar

-152,03 J. Dengan demikian kami dapat

menghitung kalor penetralan yang dihasilkan dalam satu mol larutan


(Hn). Dengan cara membagi kalor yang dihasilkan sistem reaksi (q9)
dengan jumlah mol NaCl yang terbentuk.
Penghitungan mol NaCl dapat dilakukan dengan menghitung mol HCl dan
NaOH yang beraksi dengan mengalikan molaritas dengan volume larutan,
maka

diketahui mol NaCl yang terbentuk. Dengan demikian maka

diperoleh kalor penetralan (Hn) sebesar -15203 J/mol.


Perhitungan
Perhitungan
Diketahui:

Massa jenis larutan 1,03 gram/ml


Kalor jenis larutan= 3,69 J/gram K
T5=32o C + 273o = 305o K
T6= 34o C + 273o = 307o K

mNaCl =
= 1,03 x 20
= 20,6 gram
Hn ?

Ditanya:
Jawab:
Mol HCl = M x V

= 1 x 0,01
= 0,01 mol

Mol NaOH = M x V
= 1 M . 0,01
= 0,01 mol
HCl(aq)
Awal:

+ NaOH (aq)

0,01

0,01

Reaksi: 0,01
Sisa:

NaCl(aq) +
-

0,01

0,01

0,01

0,01

0,01

a. q7 = mlarutan x kalor jenis larutan x kenaikan suhu


= 20,6 gram x 3,69 J/gram K x (307-305) K
= 152,03 Joule
b. q8

= k x (T6 - T5)
= 0 x (307-305)
=0

c. q9

= -(q7+q8)
= -(152,03 + 0)
= -152,03 Joule

d.
=
= -15.203 J/mol

(aq)

X. PEMBAHASAN

Penentuan Tetapan Kalorimeter


Pada percobaan pertama tidak terjadi reaksi karena apabila air
direaksikan dengan air maka akan tetap menghasilkan molekul air (molekul
yang direaksikan sama). Reaksi ini termasuk reaksi Endoterm karena sistem
(air dingin) menerima kalor dari lingkungan (air panas). Dalam percobaan,
tidak hanya air dingin dan air panas yang terlibat, akan tetapi kalorimeter
juga seharusnya menyerap kalor. Tetapan kalorimeter dari hasil percobaan
adalah k = 0 J/K.
Tetapan kalorimeter yang didapat k = 0 J/K hal ini disebabkan karena
besar nilai kenaikan suhu dengan penurunan suhu sama, sehingga
menghasilkan nilai sebesar 0 J/K pada q3 (kalor yang diserap oleh
kalorimeter), hal ini menunjukkan bahwa reaksi tersebut tidak menyerap
kalor, padahal seharusnya reaksi tersebut menyerap kalor (endoterm)
dangan ditandai oleh adanya penurunan suhu pada sistem (T2

).

Ketidaksesuaian teori dengan percobaan dikarenakan saat pengamatan


mengukur suhu, suhu yang diukur masih dalam keadaan yang belum
konstan dan hal ini juga disebabkan karena saat percobaan, pada suhu T2
(suhu air yang dipanaskan) hanya mencapai 42o C yakni kenaikan suhu 8o C
dari suhu kamar (34o C) padahal seharusnya air yang dipanaskan tersebut
mencapai kenaikan suhu kira-kira 10o C dari suhu kamar (34o C) . Dengan
demikian, q3 (kalor yang diserap oleh kalorimeter) 0 J/K berakibat pada
nilai tetapan kalorimeter k = 0 J/K.

Penentuan Kalor Reaksi Zn CuSO4


Pada percobaan kedua terjadi reaksi Zn + CuSO4 ZnSO4 + Cu.
Reaksi ini termasuk reaksi eksoterm dimana sistem (Zn) menerima kalor
dari lingkungan (CuSO4). Kalor reaksi hasi percobaan Hr = -1136,67
J/mol.

Kalor Penetralan HCl NaOH


Pada percobaan ketiga terjadi reaksi HCl + NaOH NaCl + H2O
karena apabila asam klorida dan natrium hidroksida direaksikan maka,
menghasilkan natrium klorida dan air. Reaksi ini termasuk reaksi eksoterm
dimana sistem (NaCl) menerima kalor dari lingkungan (HCl). Kalor
penetralan hasil percobaan Hn= -15203 J/mol.

XI. KESIMPULAN
Pada ketiga percobaan yang telah kami lakukan yakni menentukan
tetapan calorimeter, penentuan kalor reaksi Zn dengan CuSO4 dan
penentuan kalor penetralan HCl dan NaOH membuktikan bahwa dalam
setiap reaksi kimia selalu disertai dengan pelepasan atau penyerapan kalor.
Ini dapat dilihat dari terjadinya kenaikan atau penurunan suhu setelah
berlangsungnya reaksi. Tetapan kalorimeter yang digunakan sebesar k =0
J/oK. Kalor yang dihasilkan dalam reaksi Zn dengan CuSO4 adalah 1136,67 J /mol. Sedangkan kalor yang dihasilkan pada reaksi penetralan
HCl dengan NaOH adalah sebesar -15203 J/mol.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2005.Kimia Dasar. Jilid I. Edisi Ketiga.Jakarta:Erlangga

Petrucci, Ralph H.1987.Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Edisi Keempat


Jilid 2.Bogor:Erlangga

Tim Kimia Dasar, 2014. PetunjukPraktikum Kimia Umum. : Surabaya


UniversitasNegeri Surabaya

http://ww.academia.edu/4916285/laporanpraktikumkimia
(diakses pada 22 November 2014 09.00)

http://diannovitasari.wordpress.com/persamaan-termokimia-2/
(diakses pada 26 November 2014 03.00)

http://www.ilmukimia.org/2013/05/termokimia.html
(diakses pada 26 November 2014 03.15)

LAMPIRAN

I.

Lampiran
Penentuann tetapan kalorimeter

1).

2).

3).

4).

Penentuan kalor reaksi Zn-CuSO4

1).

2).

3).

4).

Penentuan kalor penetralan HCl - NaOH

1).

3).

2).

4).

Mengetahui

Surabaya, 1 November 2014

Dosen/Asisten Pembimbing

Praktikan,

(Kelompok 10 Matematika 2014C)