Anda di halaman 1dari 11

TERMOKIMIA

Termokimia merupakan ilmu kimia yang mempelajari perubahn kalor suatu zat yang menyertai sutu reaksi. Termo berkaitan dengan kalor atau panas, sedangkan dinamika mengandung gerak atau perubahan, oleh karena itu termokimia pada dasarnya mempelajari perubahan energi kalor yang menyertai proses kimia dan fisika. Perubahan energi tidak hanya terjadi pada makhluk hidup, tetapi dalam bidang ilmu kimia selalu dapat dibuat sebagai panas, yang biasanya disebut sebagai panas reaksi. Alat yang dipakai untuk mengukur panas reaksi adalah kalorimeter. Dalam reaksi-reaksi kimia tidak hanya yang menghasilkan energi, namun ada juga yang memerlukan energi. Perubahan energi yang terjadi dalam proses reaksi kimia ini berupa perubahan kalor salah satunya. Baik kalor yang dihasilkan maupun kalor yang diserap selama reaksi berlangsung. Proses perubahan energi ini dipelajari dalam ilmu kimia yaitu termokimia. Jumlah perubahan kalor sebagai reaksi dapat diukur dalam suatu kalorimeter (yang diukur adalah temperatur). kalorimeter terdiri atas suatu tabung yang dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak ada pertukaran atau perpindahan kalor dengan sekelilingnya, kalaupun ada pertukaran kalor harus sekecil mungkin sehingga dapat diabaikan. Sebagai kalorimeter sederhana dapat digunakan botol termos, gelas kimia atau botol plastik. Tujuan percobaan ini adalah untuk mempelajari tentang perubahan kalor, untuk mengetahui perubahan energi pada setiap reaksi, serta reaksi eksoterm dan endoterm dalam suatu reaksi kimia, untuk mengetahui perubahan dari suatu kalor yang akan mengalami pelepasan maupun penyerapan pada suatu reksi kimia. Prinsip percobaan ini adalah berdasarkan pada Hukum kekekalan Energi Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan tetapi dapat diubah dalam bentuk lain. Asas Black Kalor yang

diserap dama dengan kalor yang dilepaskan. Hukum Hess Jumlah panas yang dibutuhkan atau dilepaskan pada suatu reaksi kimia tidak bergantung pada jalannya reaksi tetapi ditentukan dari keadaan awal dan akhir. Hukum Termodinamika I Suatu sistem dapat diubah melalui kalor. Hukum Termodinamika II kalaor tidak dapat diubah seluruhnya menjadi kerja yang setara dan bahwa seluruh proses spontan mempunyai arah tertentu. Termokimia adalah bagian dari termodinamika yang membahas masalah perubahan panas reaksi kimia. Bias juga diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara energi panas dan energi kimia. Energi panas merupakan energi kinetik dari atom-atom dan molekulmolekul. Bila suatu zat panas harga rata-rata dari energi kinetik molekulnya besar dan panas yang dikandungnya banyak. Bila dingin, harga rata-rata energi kinetiknya kecil dan benda hanya mengandung panas sedikit. Sedangkan energi kimia adalah energi yang dikandung setiap unsur atau senyawa. Bila perubahan panas yang dikaitkan dengan suatu reaksi kimia dinyatakan dengan suatu reaksi, pernyataan lengkapnya dirujuk sebagai persamaan termokimia. Jika panas dikeluarkan untuk berlangsungnya suatu reaksi, maka reaksi dinamakan reaksi eksotermis, sedangkan jika sejumlah panas diserap oleh suatu reaksi dinamakan endotermis. Reaksi Endoterm dan Reaksi Eksoterm Ditinjau dari perubahan entalphi, dikenal dua jenis reaksi kimia yaitu : 1. Reaksi Endoterm Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor atau memerlukan energi. Sehingga hasil reaksinya memiliki entalpi yang lebih tinggi daripada zat semula. HB > HA HB HA > O HA = entalphi pereaksi HB = entalphi hasil reaksi Harga perubahan entalphi (H) adalah positif .

Reaksi endoterm pada umumnya membutuhkan adanya kalor untuk terjadinya suatu reaksi. Sehingga reaksi endoterm tidak dapat terjadi secara spontan (Team Ganeca Exact Bandung, 1984). 2. Reaksi eksoterm Reaksi eksoterm adalah reaksi yang melepaskan kalor atau menghasilkan energi. Akibatnya hasil reaksi mempunyai entalphi yang lebih rendah daripada zat semula. HB < HA HB HA < O HA = entalphi pereaksi HB = entalphi hasil reaksi Harga perubahan entalphi (H) adalah negatif (Irfan Anshory, 1997). Reaksi eksoterm pada umumnya dapat beraksi secara spontan dan kalor yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai suatu sumber energi panas. Bila suatu reaksi eksoterm dibalik persamaan reaksinya, maka reaksi tersebut akan endoterm. Besar perubahan entalphi suatu reaksi kimia tergantung pada jumlah kalor yang dilepaskan (eksoterm) atau jumlah kalor yang diserap (endoterm) selama reaksi kimia tersebut berlangsung pada tekanan konstan. Umumnya reaksi kimia berlangsung pada tekanan tetap sehingga energi panas yang diserap atau dilepaskan dinyatakan dengan H atau disebut juga dengan perubahan entalphi. Reaksi kimia selalu terjadi perubahan entalpi (H). Perubahan entalpi terjadi selama proses penambahan kalor atau pelepasan kalor. Perubahan entalpi pada suatu reaksi kimia disebut kalor reaksi. Perubahan entalpi reaksi adalah jumlah kalor yang dilepaskan atau diserap dalam suatu reaksi dinyatakan dengan satuan kilojoule (KJ). Perubahan entalpi reaksi bergantung pada massa, suhu, tekanan, dan wujud zat. Untuk menentukan besarnya perubahan entalphi reaksi digunakan kondisi standar, yaitu pada 250C dan tekanan 1 atmosfer. Perubahan entalphi reaksi pada kondisi standar dinyatakan dengan simbol H0 (2980K) atau hanya H. Istilah perubahan entalphi merujuk ke perubahan kalor selama suatu proses yang dilakukan pada suatu tekanan konstant. Jika energi itu harus dikhususkan secara cermat,

kondisi awal dan akhir dari tekanan dan temperatur haruslah diketahui. Besarnya perubahan entalpi adalah sama dengan selisih jumlah entalpi hasil reaksi dengan jumlah entalpi pereaksi yang dinyatakan dengan rumus H = H2 H1. H ialah peubahan entalpi, H2 adalah jumlah entalpi hasil reaksi (produk), dan H1 adalah jumlah entalpi pereaksi. Perubahan entalpi (H), dalam reaksi apa saja adalah perubahan kalor bila reaksi berlangsung pada tekanan konstan. Sedangkan entalpi pembentukan standar suatu zat ialah perubahan entalpi untuk reaksi dengan zat itu terbentuk dari unsurunsurnya dalam keadaan standar, dan kebalikannya dengan menerapkan Hukum. Perubahan entalpi standar adalah pembentukan 1 mol suatu zat yang berlangsung dari unsure-unsurnya dalam bentuk standar yang diukur pada 298 K atau 1 atm. Satuan untuk entalpi pementukan dalam Sistem Internasional ( SI ) adalah kilojuole per mol. Pada entalpi penguraian adalah kebalikan dari entalpi pembenukan. Entalpi suatu rekasi sama dengan entalpi kebalikannya, tetapi tandanya berlawanan. Jenis perubahan entalpi standar suatu reaksi dapat digolongkan menurut jenis reaksinya. Seperti entalpi pembentukan standar ( Hf ), entalpi penguraian standar (Hd), dan entalpi pembakaran standar ( Hc ). a) Entalpi pembentukan standar adalah kalor yang dilepaskan atau diperlukan pada reaksi pembentukan 1 mol senyawa dari unsur-unsurnya, pada keadaan standar. Berdasarkan konvensi, perubahan entalpi untuk unsur-unsur dalam bentuk paling stabil dikukuhkan sebesar 0 kj/mol. Misalnya keadaan stabil untuk karbon adalah grafit, untuk gas oksigen, hidrogen adalah gas diatom. b) Entalpi penguraian standar adalah penguraian senyawa menjadi unsurunsurnya. Karena itu, entalpi penguraian suatu senyawa menjadi unsur-unsurnya sama besar tetapi berlawanan tanda dengan entalpi dengan pembentukan standar. Jika entalpi pembentukan bertanda negatif (eksoterm), maka entalpi penguraiannya bertanda positif (endoterm) dengan nilai sama.

c. Entalpi pembakaran standar adalah kalor yang dilepaskan bila 1 mol zat dibakar sempurna pada keadaan standar. Untuk menentukan perubahan entalpi dari suatu sistem tidak dapat diukur secara langsung. Walaupun demikian, perubahan entalpi dapat ditentukan dari perubahan panas yang terjadi, dengan cara mengukur perubahan suhunya, karena suhu merupakan ukuran panas. Sedangkan panas sendiri menunjukkan kalor yang terbentuk selama terjadi perubahan energi. Karena itu, besarnya perubahan entalpi dapat ditentukan dari perubahan suhu atau suhu zat-zat yang bereaksi. Kalor reaksi pada tekanan tetap disebut entalpi reaksi, bergantung pada : 1. Jumlah zat yang bereaksi 2. Keadaan fisik zat-zat pereaksi dan hasil reaksi 3. Suhu Oleh karena itu, dalam memberikan harga pada H bagi suatu reaksi, kondisi reaksi harus dinyatakan dengan jelas dan tetap. Kapasitas kalor molar zat adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 mol zat sebesar satu derajat celsius atau satu kelvin. Karena kalor bukan fungsi keadaan, maka jumlah kalor yang diperlukan untuk menghasilkan perubahan keadaan bergantung pada jalannya proses. Oleh sebab itu, ada 2 jenis kapasitas kalor yang dikenal yaitu Cp untuk perubahan tekanan tetap, dan Cv untuk perubahan pada volum tetap. Energi adalah kemampuan suatu benda atau sistem untuk melakukan kerja. Energi yang biasa didefinisikan sebagai kemampuan melakukan usaha adalah sesuatu yang mempunyai zat yang dapat melakukan sesuatu. Suatu benda dapat mempunyai energi dalam dua cara, yaitu sebagai energi kinetik dan energi potensial. Energi potensial adalah energi simpanan, yaitu energi yang mempunyai benda karena benda itu tertarik atau ditolak oleh benda lain. Kalor reaksi pada perubahan kimia selalu terjadi perubahan entalpi (H). Perubahan entalpi terjadi selama proses penambahan atau pelepasan kalor.

Perubahan entalpi pada satu reaksi disebut kalor reaksi. Ada beberapa jenis kalor reaksi, diantaranya ialah kalor pembentukan, kalor pembakaran, kalor penetralan, dan kalor penguraian. Kalor pembentukan adalah kalor yang dilepas pada pembentukan 1 mol senyawa dan unsur-unsurnya pada reaksi yang dilakukan pada suhu 250C dan tekanan 1 atm. Kalor pembakaran (Hc) dalam keadaan standar (H0) adalah kalor yang dilepaskan atau diserap pada pembakaran 1 mol unsur atau senyawa. Perubahan entalpi reaksi pembentukan, Hc, yaitu jumlah kalor yang dibebaskan jika satu mol zat dibakar sempurna. Contoh : CH4 + CO2(g) CO2(gas) + 2H2O(l), Hc0 = -890 KJ mol-1. Kalor penetralan adalah panas yang dikeluarkan ketika 1 mol air dihasilkan dari reaksi asam dan basa. Perubahan entalpi reaksi penetralan, H0 penetralan yaitu jumlah kalor yang dilepaskan jika satu mol ion H+ bereaksi dengan satu mol ion OH- . Contoh H+(aq) + OH- (aq) H2O(l), H0 penetralan = -57,3 KJ mol-1. Kalor penetralan adalah kalor untuk menetralkan 1 mol asam dengan basa atau 1 mol dengan asam. Kalor penguraian merupakan kebalikan dari kalor pembentukan yaitu kalor yang dilepaskan atau diserap untuk menguraikan 1 mol senyawa ke unsurunsurnya pada keadaan standar. H penguraian adalah panas yang dikeluarkan atau yang diperlukan untuk menguraikan 1 mol senyawa menjadi unsurunsurnya. Persamaan reaksinya adalah H2O(l) H2 (g) + O2, H = + 286 KJ/mol. Alat-alat yang digunakan untuk percobaan ini adalah thermometer, thermostat, gelas kimia, statif, buret, kaki tiga, kawat kassa, pembakar Bunsen, batang pengaduk, tabung ukur. Bahan-bahan yang digunakan untuk percobaan ini adalah aquadest, CuSO4, Zn, etanol, NaOH, HCl. Metode yang digunakan pada saat melakuka percobaan adalah sebagai berikut:

1. Menentukan tetapan Kalorimeter

3. Penentuan kalor etanol

18 mi aquadest

aquadest dingin Etanol 29 ml

Aquadest dipanaskan Campuran Campuran Gambar 20. Kalor etanol Gambar 18. Penentuan tatapan kalorimetri Masukan 20 ml aquadest pada gelas kimia, lalu masukan lagi 20 ml aquadest pada thermostat, lalu aquadest diukur suhunya, setelah itu aquadest yang ada di dalam gelas kimia dipanaskan sehingga mencapai mendidih 900C kemudian campurkan aquadest yang telah dipanaskan kedalam thermostat, lalu diukur suhunya sampai 10 menit setiap 1 menit suhunya dicatat. 2. Penentuan kalor reaksi 20 ml NaOH 2M CuSO4 Campuran CuSO4 dan Zn Gambar 19. Kalor reaksi Masukan CuSO4 kedalam thermostat sebanyak 40 ml dan ukur suhunya, setelah itu masukan Zn kedalam CuSO4 kedalam thermostat, aduk dan ukur suhunya selama 2 menit selang waktunya setiap setengah menit dicatat perubahannya. Masukan 18 ml aquadest kedalam thermostat dan ukur suhunya. Etanol juga diukur suhunya lalu dicampurkan tunggu dan catat suhunya selama 4 menit dan tiap setengah menit dicatat perubahan suhunya. 4. Penentuan kalor penurunan NaOH + HCl

20 ml HCl 1M

Gambar 21. Penurunan NaOH dan HCl Masukan HCl kedalam gelas kimia, ukur suhunya dan masukan juga NaOH kedalam thermostat ukur suhunya, setelah itu campurkan dan ukur suhunya selama 5 menit dan selang waktunya setengah menit.

Hasil pengamatan dari percobaan tersebu adalah : Tabel 18. Hasil tetepan kalorimetri No Pengamatan Hasil 1 Penentuan Td= 260C 2990K tetapan Tp= 910C 3690K kalorimetri Tc= 560C 3290K 0 T1 = 30 C T2 = 400C

Tabel 19. Hasil CuSO4 dan HCl No Pengamatan Hasil 1 Penentuan Tc= 600C 3330K kalor reaksi Ta= 270C 3000K CuSO4 T1= 330C Q4 = 163 J Q5 = 6253,4 J Q6 = 6686,4 J H = 167160 a = 1506,2 b = -0,6 2 Penentuan a = 334,25 kalor reaksi b = -2,1 CuSO4 dan y1 = 333,2 Zn y2 = 330 Tabel 20. Hasil kalor etanol No Pangamatan Hasil 1 Penentuan Taquadest=270C kalor etanol 3000K Tetanol=260C 3030K a = 304,1 b = -0,08 y1 = 304,06 y2 = 303,78 TM = 299,50K TA = 303,920K T2J = 4,420C Q7 = 334,1 J Q8 = 246,1 J Q9 = 866,3 J Q10= 1446,5 J H = 63

Tabel 21. Hasil NaOH dan HCl No Pengamatan Hasil 1 Penentuan kalor NaOH=270C penurunan 3000K NaOH dan HCl HCl=260C 2990K a = 304,1 b = -0,05 y1 = 304,07 y10= 303,85 TM = 299,5 TA = 303,96 T3J = 4,460C Q11 = 547,5 J Q12 = 874,16 J Q13 = 1421,6 J Hn = 35540 Kalor adalah bentuk energi kalori yang dapat berpindah dari benda yang satu ke benda yang lain. Besarnya energi yang terlibat dalam suatu reaksi kimia dapat diketahui dengan alat kalorimeter. Perubahan entalphi (H) pada suatu reaksi adalah perbedaan tingkat energi antara zat-zat pereaksi dengan tingkat energi zat hasil reaksi, pada tekanan tetap. Besar perubahan entalpi suatu reaksi kimia bergantung pada jumlah kalor yang dilepas (eksoterm) atau jumlah kalor yang diterima (endoterm) selama reaksi berlangsung. Untuk reaksi eksoterm pada persamaan termokimia harga H ditulis negatif (-) dan untuk reaksi endoterm harga H ditulis positif (+). Pada reaksi eksoterm, lingkungan mendapatkan energi sedangkan pada reaksi endoterm lingkungan kehilangan energi, hal ini ditandai dengan menambahkan pada sisi kanan persamaan reaksi dari sejumlah kalor yang dilepaskan atau diabsorbsi ketika/saat reaksi berlangsung adalah antara jumlah molar antara tiap substansi dihasilkan dari persamaan reaksi. Jumlah ini diketahui sebagai kalor reaksi.Tanda positif menunjukkan bahwa kalor dilepaskan, dan tanda negatif menunjukkan bahwa kalor diserap. Pada reaksi eksoterm, sistem kehilangan energi. Perubahan energi dari sistem dinyatakan dengan H (delta H) yang menjadi negatif saat kalor dilepaskan. Pada

reaksi endoterm kalor diambil dari lingkungan dan diserap oleh sistem. Tepat atau tidaknya hasil perhitungan tetapan suatu kalorimeter, kalor penetralan, kalor reaksi, dan kalor pelarutan selain bergantung pada penggunaan kalorometernya juga tergantung pada ketelitian praktikan dalam melakukan percobaan, terutama dalam pencampuran larutan, dimana pencampuran larutan tersebut harus sesuai dengan volume yang tepat, yang berpengaruh pada ketelitian praktikan dalam pencatatan temperatur sistem. Pada saat melakukan percobaan termokimia ini, dalam menggunakan kalorimeter, dilakukan dengan tertutup rapat, maka kemungkinan adanya uap dari sistem yang keluar dapat diperkecil, dimana akan mempengaruhi hasil tetapan kalorimeter dan kalor reaksi suatu sistem. Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa kalor yang dihasilkan reaksi etanol-air (pelarutan etanol dalam air) adalah semakin kecil/ menurun, yang dapat diamati dari T larutan. Pada penetapan kalor pelarutan jumlah kalor yang terlibat bergantung dari jumlah air yang ditambahkan dalam sejumlah larutan terlarut. Jika konsentrasi larutan diencerkan, disitu ada perubahan kalor yang bergantung dari jumlah air yang ditambahkan, dimana kalor yang dihasilkan berangsur-angsur turun. Bagian dari ilmu kimia yang mempelajari tentang kalor reaksi disebut termokimia. Fokus bahasan dalam termokimia adalah mengenai jumlah kalor yang dapat dihasilkan oleh sejumlah pereaksi tertentu. Selain itu juga mengenai cara pertukaran kalor reaksi tersebut. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa pada setiap reaksi dapat berlangsung reaksi eksoterm yaitu reaksinya menghasilkan kalor dan endoterm yaitu menerima kalor. Dalam melakukan percobaan ketelitian praktikan dalam melakukan percobaan diperlukan sehingga hasil yang diperoleh tidak jauh dari yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Hiskia., (1993), Penuntun Dasar Dasar Praktikum Kimia, Kimia FMIP-ITB, Bandung. Brady, J.E, (1998). Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jilid I Edisi Kelima, Binapura Aksara, Jakarta. Keenan, Kleinfelter, Wood, (1995), Kimia Universitas, Edisi Ke-enam, Erlangga, Jakarta. Sunarya, Yayan, (2000), Kimia Dasar 1. Alkemi Grafisindo Press, Bandung. Underwood, A. L., dan Day, (1992), Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.

LAMPIRAN 1. Penentuan Kamorimetri Tabel 1. Kalorimeter n t t (y) x2 x.y (x) 1 1 325.5 1 325.5 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2 3 4 5 6 7 8 9 10 = 55 325 324 324 323.5 323 322.5 322 321 321 = 3231. 5 4 9 16 25 36 49 64 81 100 = 385 650 972 1296 1617.5 1938 2257.5 2576 2889 3210 = 17731.5

= Q3 T 1 = 1680 30

= 56

= ( y . x2 ) - ( x . xy ) n (x2 ) - (x )2 = ( 3231,5 x 385 ) ( 55 x 17731,5 ) 10 ( 385 ) ( 55 )2 = 1244127,5 - 975232,5 3850 3025 = 268895 = 325,9 825 = n ( xy ) ( x . y ) n ( x2 ) ( x )2 = 10 ( 17731,5 ) ( 55 x 3231,5 ) 10 ( 385 ) ( 55 )2 = 177315 177732,5 3850 3025

Td= 260C Tp= 910C Tc= 560C

2990K 3690K 3290K

= - 417,5 = - 0, 50 825 Yn = a + bxn Y1 = 325,9 + (- 0,50 ) x 1 = 325,4 Y2 = 325,9 + ( - 0,50 ) x 10 = 320, 9

T1 = Tc Td = 329 299 = 300K T2 = Tp Tc = 369 329 = 400K Q1 = m x c x T 1 = 40 x 4,2 x 30 = 5040 J Q2 = m x c x T 2 = 40 x 4,2 x 40 = 6720 J Q3 = Q 2 Q1 = 6720 5040 = 1680 J

2.

Penentuan kalor reaksi CuSO4 dan Zn x2 0,25 1 2,25 4 = 7,5 xy 150,5 300,5 450,75 600 = 1501,75

Tabel 2. CuSO4 n t(x) t(y) 1 2 3 4 0,5 1 1,5 2 =5 301 300,5 300,5 300 = 1202

Mj = 1,4 gr/cm3 Kj = 3,35 j/gr T1j = Tc Td Q4 = K x T1j Q5 = m . mj . kj . T1j Q6 = Q 5 + Q 4 H = Q6 n Zn Tc = 600C Ta = 270C T1j = Tc Td = 333 300\ = 330K Q4 = K . T1j = 56 x 33 = 1848 J Q5 = m . mj . kj . T1j = 40 x 1,4 x 3,35 x 33 = 6190,8 J Q6 = Q 4 + Q 5 = 1848 6190,8 = 8038,8 J nZn = gram Mr = 3 65,37 H = Q6 n Zn = 8038,8 0,04 a = ( y . x2 ) - ( x . xy ) n (x2 ) - (x )2 b = ( 1202 x 7,5 ) ( 5 x 1501,75 ) 4 ( 7,5 ) ( 5 )2 = 200970 = 0,04 a 3330K 3000K b

= ( 1915 ) ( 7508,75 ) 30 25 = - 5593,7 5 = -1118,7 = n ( xy ) ( x . y ) n ( x2 ) ( x )2 = 4 ( 1501,75 ) ( 5 x 1202 ) 4 ( 7,5 ) ( 5 )2 = 6007 6010 5 = - 0,6 Y1 = -1118,7 + (-0,6 ) x 0,5 = -1119,3 Y2 = -1118.7+ ( -0,6 ) x 2 = -1119,9

Tabel 3. CuSO4 dan Zn n t(x) t(y) 1 0,5 333 2 1 332,5 3 1,5 331 4 2 330 = =1326,5 5

x2 0,25 1 2,25 4 =7,5

xy 166,5 332,5 496,5 660 =1655,5

= ( y . x2 ) - ( x . xy ) n (x2 ) - (x )2 = (1326,5x 7,5 ) ( 5 x 1655,5 ) 4 ( 7,5 ) ( 5 )2 = ( 9948,75 ) ( 8277,5 ) 30 25 = 1671,25 5 = 334,25 = n ( xy ) ( x . y ) n ( x2 ) ( x )2

= 4 ( 1655,5 ) ( 5 x 1326,5 ) 4 ( 7,5 ) ( 5 ) = 6622 6632,5 5 = - 2,1 Yn = a + bxn Y1 = 334,25+ (- 2,1 ) x 0,5 = 333,2 Y2 = 334,25+ ( -2,1 ) x 2 = 330,05 3. Penentuan kalor etanol Tabel 4. kalor Etanol n t(x) t(y) x2 1 2 3 4 5 6 7 8 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 18 304 304 304 304 304 304 304 304 2431,5 0,25 1 2,25 4 6,25 9 12,25 16 51
2

= n ( xy ) ( x . y ) n ( x2 ) ( x )2 = 8 ( 5470 ) ( 18 x 2431,5 ) 8 ( 51 ) ( 18 )2 = 43760 - 43767 84 = - 0,08

Yn = a + bxn Y1 = 304,1 + ( -0,08 ) x 0,5 = 304,06 Y2 = 304,1+ ( - 0,08 ) x 4 xy 152 304 456 608 708 912 1064 1214 5470 = TA = y1
+

= 303,78 TM = T air T etanol 2 = 300 299 2 0,5 y8

2 = 304,06 + 303,78 2 = 607,84 = 303,92 2 T2j = TA TM = 303,92 0,5 = 303,420K Q7 = mair x 4,2 x T2j = 18 x 4,2 x 0,5 = 113,4 J Q8 = m etanol x 1, 92 x T2j = 29 x 1,92 x 0,5 = 27,84 J Q9 = K x T2j = 56 x 0,5 = 28 J

T aquadest = 270C T etanol = 260C Tc = 300C a

3000K 2990K 3030K

= ( y . x2 ) - ( x . xy ) n (x2 ) - (x )2 = ( 2431,5 x 51 ) ( 18 x 5470 ) 8 ( 51 ) ( 18 )2 = ( 124006.5 ) ( 98460 ) 408 - 324 = 25546,5 84 = 304,1

Q10 = Q7 + Q8 + Q9 = 113,4 + 27,84 + 28 = 169,2 J H = Q10 M etanol = 169,2 22,92 = 7,38 4. Penentuan kalor penurunan NaOH dan HCl Tabel 5. NaOH dan HCl n t(x) t(y) x2 xy 1 0,5 304 0,25 152 2 1 304 1 304 3 1,5 304 2,25 456 4 2 304 4 608 5 2,5 304 6,25 760 6 3 304 9 912 7 3,5 304 12,25 1060 8 4 304 16 1216 9 4,5 304 20,25 1368 10 5 303.5 25 1517,5 =27,5 = = = 3039,5 96,25 8357,5 NaOH = 270C HCl = 260C Tc = 31 a 3000K 2990K

= 83575 83586,2 206,25 = - 0,05 Yn = a + bxn Y1 = 304,1 + ( -0,05 ) x 0,5 = 304,07 Y2 = 304,1+ ( - 0,05 ) x 5 = 303,85 TM = T NaOH T HCl 2 = 300 299 2 = 0,5
+

TA = y1

y8

2 = 304,07+ 303,85 2 = 607,9 = 303,95

2 T3j = TA TM = 303,95 0,5 = 303,450K Q11 = mcam x 3,96 x T3j = 31 x 3,96 x 0,5 = 61,38 J Q12 = K x T3j = 56 x 0,5 = 28 J Q13 = Q11 + Q13 = 61,38 + 28 = 89,38 J Hn= Q13 M NaOH = 89,38 0,04 = 2234,5

= ( y . x2 ) - ( x . xy ) n (x2 ) - (x )2 = ( 3039,5 x 96,25 ) ( 27,5x 8357,5 ) 10 ( 96,25 ) ( 27,5 )2 = ( 292551,8) (229831,2 ) 962,5 756,25 = 62720,6 206,25 = 304,1 = n ( xy ) ( x . y ) n ( x2 ) ( x )2 = 10 ( 8357,5 ) ( 27,5 x 3039,5 ) 10 ( 96,25 ) ( 27,5 )2