Anda di halaman 1dari 5

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Pembentukan suatu larutan tidak


menimbulkan pengaruh terhadap sifat-sifat
kimia zat penyusun larutan tersebut. Air
suling (air murni) dan air sumur (air yang
mengandung zat terlarut) memperlihatkan
reaksi yang sama jika misalnya direaksikan
dengan logam natrium. Akan tetapi sifat
fisik suatu zat berubah apabila zat itu
menjadi komponen larutan. Untuk itu
dipelajari sifat koligatif larutan yaitu sifatsifat fisis yang hanya ditentukan oleh jumlah
partikel dan tidak bergantung pada jenis zat
terlarut.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk
menentukkan penurunan tekanan uap,
kenaikan titik didih, penurunan titik
beku,dan tekanan osmotik.
Prinsip-prinsip percobaan ini adalah
berdasarkan
Hukum
Roult
yang
menyatakan bahwa tekanan uap jenuh suatu
komponen suatu larutan yang mudah
menguap sama dengan tekanan uap jenuh
komponen murni dikalikan fraksi molnya.
(1)Penurunan tekanan uap P = XP0,
(2)Penurunan titik beku Tf = Kf.m,
(3)Kenaikan titik didih Tb= Kb.M, dan
(4) Tekanan osmotik = MRT.
Sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat
fisis yang hanya ditentukan oleh jumlah
partikel zat terlarut, dan tidak bergantung
pada jenis zat terlarut. Kata koligatif berasal
dari
bahasa
latin
yaitu
colligare
(mengumpulkan). Artinya sifat-sifat ini
ditentukan oleh kumpulan partikel zat
terlarut. Penelitian sifat-sifat koligatif
larutan adalah sifat larutan yang tidak
bergantung pada macam-macam zat terlarut
tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh
banyaknya zat terlarut ( konsentrasi zat
terlarut ).
Apabila suatu pelarut ditambah dengan
sedikit zat terlarut maka akan didapat suatu
larutan yang mengalami :
1. Penurunana tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmotic

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan


oleh konsentrasi larutan dan sifat larutan itu
sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non
elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel
dalam
larutan
elektrolit,
walaupun
konsentrasi keduanya sama. Hal ini
dikarenakan larutan elaktrolit terurai
menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non
elektrolit tidak teurai menjadi ion-ion.
Dengan demikian sefat koligatif larutan non
elektrolit dan elktrolit.
Pada suatu suhu, zat cair selalu
mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini
adalh tekana uap jenuhnya pada suhu
tertentu. Penambahan suatu zat kedalam zat
cair menyebakan penurunana tekanan
uapnya. Hal ini disebabakan karena zat
terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi
dari pelarut sehingga kecepatan penguapan
berkurang.
Tekanan uap (vapor pressure) adalah
ukuran kecenderungan molekul-molekul
suatu cairan untuk lolos menguap. Makin
besar tekanan uap suatu cairan, makin
mudah molekul-molekul cairan itu berubah
menjadi uap. Harga tekanan uap akan
membesar (cairan makin mudah menguap)
apabila suhu dinaikkan.
Tekanan uap suatu cairan bergantung
pada banyaknya molekul di permukaan yang
memiliki cukup energi kinetik untuk lolos
dari tarikan molekul-moleku tetangganya.
Jika ke dalam cairan itu dilarutkan suatu zat,
maka kini yang menempati permukaan
bukan hanya molekul pelarut, tetapi juga
molekul zat terlarut. Karena molekul pelarut
di permukaan makin sedikit, maka laju
penguapan akan berkurang. Dengan kata
lain, tekanan uap cairan itu turun. Makin
banyak zat terlarut, makin besar pula
penurunan tekanan uap.
Besarnya tekanan uap dirumuskan
sebagai berikut :
P = P0 - P
menurut Raoult,
P = P o XA

maka,

Ket. :
Tbl
Tbp
m
Kb

P = P P
= P 0 P 0 . XA
= P0 ( 1- XA)
P = P0 . XB

atau

P = P0 x mol zat terlarut


mol seluruh zat

Keterangan :
P0
= tekanan uap pelarut murni
XA
= fraksi mol pelarut
P
= penurunan tekanan uap
XB
= fraksi mol terlarut
P0 > P (tekanan uap pelarut murni lebih
besar dibandingkan tekanan uap larutan).
Tekanan uap suatu zat cair akan
meningkat bila suhu dinaikkan sampai zat
cair itu mendidih. Suatu zat cair dikatakan
mendidih bila tekanan uapnya sama dengan
tekanan udara di atas cairan (tekanan udara
luar). Jika ke dalam cairan yang mendidih
ditambahkan zat yang tidak menguap maka
tekanan uap larutan yang terbentuk akan
lebih rendah dari tekanan uap pelarut murni.
Akibatnya, agar larutan itu mendidih
diperlukan
tambahan
kalor
sebesar
penurunan tekanan uap akibat penambahaan
zat terlarut yang tidak menguap itu.
Adanya penurunan tekanan uap jenuh
mengkibatkan titik didih larutan lebih tinggi
titik didihnya dari titik didih pearut murni.
Umtuk laturan non elektrolit kenaikan titik
didih dinyatakan dengan besarnya kenaikan
titik didih, Tb (relatif terhadap titik didih
pelarut murni) larutan berbanding lurus
dengan molalitas larutan.
Tb = Tbl Tbp
menurut Raoult,
Tb = m . Kb
m = Gram x 1000
Mr
P
Jadi,

Tb = Gram x 1000 x Kb
Mr

= titik didih larutan


= titk didih pelarut
= molalitas larutan
= konstanta titik didih molal
(tetapan titik didih molal)
P
= berat pelarut
Penurunan tekanan uap akibat zat
terlarut yang tidak menguap juga dapat
menyebabkan penurunan titik beku larutan.
Gejala ini terjadi karena zat terlarut tidak
terlarut dalam fasa padat pelarut. Contohnya
es murni selalu memisah ketika larutan
dalam air membeku. Agar tidak terjadi
pemisahan zat terlarut dan pelarut ketika
larutan membeku, maka diperlukan suhu
lebih rendah lagi untuk mengubah seluruh
larutan menjadi fasa padatnya.
Seperti halnya titik didih, penurunan
titik beku, Tf berbanding lurus dengan
molalitas larutan.
Tf = Tfp Tfl
menurut Raoult,

Tf = m . Kf

atau,
Tf = Gram x 1000 x Kf
Mr

Ket.
:
Tfp
= titik beku pelarut
Tfl
= titik beku larutan
m
= molalitas larutan
Kf
= konstanta titik beku molal
P
= berat pelarut
Suatu larutan yang encer memiliki
tekanan uap yang lebih besar daripada
larutan yang pekat. Artinya, molekulmolekul pelarut dalam larutan encer
memiliki kecenderungan lolos (escaping
tendency) yang lebih besar.
Tekanan osmotic adalah tekanan yang
diberikan kepada larutan sehingga dapat
mencegah mengalirnya molekul pelarut
memasuki selaput semipermeabel.
Misalnya suatu larutan encer dan suatu
larutan pekat dipisahkan oleh selaput
(membran) yang semipermeabel, yaitu
selaput yang dapat ditembus oleh molekul
pelarut, tetapi tidak mampu ditembus oleh
molekul zat terlarut. Selaput semipermeabel
ini dapat berupa gelatin, kertas perkamen,

lapisan film selofan, atau membrane sel


makhluk hidup. Maka terjadilah peristiwa
osmosis, yaitu perpindahan molekul pelarut
dari larutan yang memiliki konsentrasi lebih
rendah
(encer)
ke
larutan
yang
konsentrasinya lebih tinggi (pekat) melalui
membran semipermeabel.
Peristiwa
osmosis
menyebabkan
naiknya permukaan larutan pekat, sehingga
tekanan membesar yang pada gilirannya
akan memperlambat laju osmosis. Akhirnya
tercapailah suatu tekanan yang mampu
menghentikan osmosis atau perpindahan
molekul pelarut atau disebut tekanan
osmosis.
Tekanan osmosis merupakan salah satu
sifat koligatif yang terdapat kesamaan rumus
dengan gas ideal.
PV = n R T
Jika P adalah tekanan osmotic (),
sedangkan

n
adalah kemolaran (M), maka :
v
= MRT

atau

Ket.
M
R
T
V

dibandingkan dengan larutan nonelektrolit


yang tidak terionisasi.
Jacobus Henricus Vant Hoff
(1852-1911) dari Belanda menerangkan
bahwa untuk larutan elektrolit keempat
rumus hukum Raoult di atas harus dikalikan
dengan suatu faktor yang menerangkan
pengaruh ionisasi. Faktor ini disebut faktor
vant Hoff dengan lambang i .
i = 1 + (n-1)
Dengan, n = jumlah ion dari elektrolit
= derajat ionisasi elektrolit
Jadi, untuk larutan elektrolit, rumus-rumus
yang dipakai sebagai berikut :
P
= P 0 . XB . i
Tb
= m . Kb . i
Tf
= m . Kf . i

= MRT. i
Untuk elektrolit kuat pada pengenceran
tak terhingga harga = 1, maka berlaku
rumus berikut :
P
= P0 . XB .n
Tb
= m . Kb . n
Tf
= m . Kf . n

= MRT. N

= n xRxT
V

:
= mol/ l
= 0,082
= 0K ( 0C + 273)
= volume
Sejak awal penelitian, Raoult dan para
ilmuwan sudah mengamati bahwa rumusrumus yang telah dijelaskan di atas ternyata
tidak cocok untuk larutan-larutan asam,
basa, dan garam. Harga-harga P, Tb, Tf
dan dari larutan-larutan asam, basa dan
garam yang diamati melalui eksperimen
selalu lebih besar daripada harga-harga yang
dihitung dengan rumus-rumus hukum
Raoult.
Setelah Svante August Arrhenius
mengemukakan teori ion, barulah diketahui
bahwa elektrolit (asam, basa dan garam)
dalam larutan terurai menjadi ion-ion,
sehingga larutan elektrolit mengandung
partikel yang lebih banyak apabila

ALAT, BAHAN DAN METODE


PERCOBAAN
Alat yang digunakan dalam melakukan
percobaan ini adalah tebung reaksi, statif,
pembakaran, Bunsen, Kassa, Kaki tiga,
thermometer, penjepit, klem, gelas kimia.
Bahan-bahan yang digunakan dalam
melakukan percobaan ini adalah neftalen,
belerang, gula pasir, aquadest.
Metode percobaan yang digunakan
dalam melakuka percobaan ini adalah

Menentukan titk beku

Menentukan titik didih gula

Termometer
Termometer

Tabung reaksi

Statip

Air

Gelas Kimia

Statip

Larutan
gula

Gelas Kimia

Kaki Tiga
Kaki Tiga

Pembakar Bunsen

Gambar 1. Percobaan titik beku


1. Timbangan naftalen sebanyak 5 gram
lalu masukan kedalam tabung reaksi.
2. Tempatkan
tabung
reaksi
dalam
penangkas air, kemudian panaskan
penangkas sampai neftalen mendidih.
3. Pemanasan dihentikan lalu suhu dicatat
setiap satu menit sampai suhu menuju
700C
4. Dibuat tabel dan grafik penurunan suhu
dan waktunya
5. Larutan neftalen yang sudah membeku
dipanaskan lagi sehingga mencair
kembali.
6. Tambahkan belerang sebanyak 1 gram
dalam tabung reaksi yang berisi neftalen.
7. Belerang diaduk sampai larut dalam
neftlen dan perkiraan larut semua pada
suhu 900C
8. Hentikan pemanasan jika larutan
belerang sudah mencair.
9. Perubahan suhu diukur setiap satu menit
sekali hingga 700C.
10. Perubahan penurun titik didihnya
dihitung
11. Buat tabel dan grafik.

Pembakar Bunsen

Gambar 2. Menentukan titik didih gula


1. Memasukan aquadest kedalam gelas
kimia sebanyak 200 ml lalu panaskan
samapai mendidih dan diukur suhunya
( T1 ).
2. Masukan gula sebanayak 10 gram
kedalam air yang sudah dipanaskan lalu
amati hingga mendidih (T2).
3. Larutan gula yang mendidih suhu diatas
adalah suhu akhir.
4. Perubahan kenaikan titik didih dihitung
dan ditentukan titik didihnya.
Tabel 1. Hasil titik beku naftalen
No Pengamatan
Hasil
1
Penentuan titik Tf = 0.150C
beku naftalen
Tf = 5.6250C
Tf = - 5.6250C

Tebel 2. Hasil titik beku naftalen dan


belerang
No Pengamatan
Hasil
1
Penentuan titik Tfcamp=11,310C
naftalen
dan Tfcamp= -11,310C
belerang
Tabel 3. Titik didih gula
No Pengamatan
1
Penentuan titik
didih gula

Hasil
T=10C
Tb = 0.20
T1 = 96
T2 = 97
Kb = 6.840C

Pembahasan
Pada percobaan menentukan titik beku
yang menggunakan naftalen ( C10H8 ),
suhunya mencapai 940C dan berhenti pada
suhu 700C pada menit ke 13 dan detik ke 42.
Dan pada percobaan naftalen dan belerang
suhu melelehnya 910C dan berhenti pada
suhu 700C pada menit ke 11 dan detik ke 51.
Pada saat melakukan percobaan
menentukan titik didih aquadest yang
digunakan harus didihkan dahulu dan
dimasukan gula pasir ( C12H22O11 ).
Dalam percobaan sifat koligafit larutan
diagram fase dapat digunakan untuk
menunjukan kenaikan titik didih, penurunan
tekanan uap, penurunan titik beku, dan
tekanan osmotik. Jika kedalam larutan
ditambahkan zat yang tidak menguap, maka
larutan yang terbentuk akan memiliki titik
didih