Anda di halaman 1dari 22

Non Union Old Fracture 1/3 Distal Os Femur Dextra

I.

KASUS
No. RekamMedik
NamaPasien
Umur
Jenis Kelamin
Alamat
Tempat/Tanggal lahir
Agama
Kebangsaan
Tanggal Pemeriksaan
Perawatan Bagian

: 64.07.72
: Tn. J
: 22 tahun
: Laki-laki
: Benteng raya palopo
: 07-03-1991
: Islam
: Indonesia
: 9 Desember 2013
: lontara 2 orthopedi kamar 7A/ kelas 3 RS. Wahidin
Sudirohusodo

1.1 Anamnesis :

Keluhan utama
: Berjalan pincang
Anamnesis terpimpin :
Riwayat keluhan utama: kurang lebih dua tahun lalu naik motor
tabrakan dengan mobil. Riwayat inap di rs palopo bulan 6 tahun 2011
selama1 bulan. Saat itu pasien menolak ORIF. Riwayat ke dukun patah
tulang

Riwayat psikososial :

Riwayat

konsumsi

minuman beralkohol dan merokok disangkal.


Riwayat keluarga
:
Riwayat
penyakit
yang sama dalam keluarga disangkal.

1.2 PemeriksaanFisis
Keadaan umum

Keadaan sakit sedang,

keadaan gizi cukup, kesadaran compos mentis.

(Status presens: SS/GC/CM)


Tanda Vital dan Antropometri
Tekanan darah
Nadi
Pernafasan

: 110/80 mmHg
: 80 kali/menit
: 20 kali/menit

Suhu
BB
TB
IMT

: 36,5oC
: - kg
: - cm
: - kg/m2

Region femur dextra:


I : tampak deformitas positif pada distal femur, tampak atrofi quadriceps
femoris & gastrocnemius, edemea (-), hematom (-)
P : nyeri tekan (-), pseudoathetosis (+)
ROM : Gerak aktif dan pasif HIP joint normal
Knee flexion 45
NVD : Sensibiltas baik, a.dorsalis pedis fraktur teraba, CRT < 2
LLD : 6 cm

1.3 Laboratorium
Laboratorium (06-12-2013)
Parameter
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT
Ureum
Kreatinin
SGOT
SGPT
GDS

Hasil
6,1
5,32
15,6
45,5
257
-

Nilai rujukan
4.00 10.0
4.00 6.00
12.0 16.0
37.0 48.0
150 400
10-50
<1,3
<38
<41
140

Unit
103/uL
106/uL
g/dL
%
103/uL
mg/dl
mg/dl
u/L
u/L
mg/dl

1.4 Radiologi
Foto Genu Dextra AP lateral

- Alignment pembentuk genu berubah


- Tampak fraktur komunitif dan non union old facture pada 1/3 distal
os femur kanan, callus forming (+)
- Callus forming (+) dengan tepi sklerotik pada aspek inferior os
patella
- Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik pada tulang
- Mineralisasi tulang berkurang (disuse osteoporosis)
- Celah sendi yang tervisualisasi baik
- Jaringan lunak sekitarnya baik
Kesan : Non union old fracture1/3 distal os femur dextra

Foto pelvis AP

Alignment pembentuk pelvis baik


Tidak tampak fraktur maupun destruksi tulang
Mineralisasi tulang baik
Kedua SI dan HIP joint baik
Jaringan lunak sekitarnya baik

KESAN : tidak tampak kelainan radiologi pada foto pelvis ini

Foto femur dextra AP/lateral

- Alignment femur berubah


- Tampak komunitif fraktur dan non union old fraktur pada 1/3 distal os
femur kanan dengan shortening 11cm, callus forming (+)
- Mineralisasi tulang berkurang
- Celah sendi sulit dinilai
- Jaringan lunak sekitarnya baik
KESAN : Non union old facture 1/3 distal os femur dextra
Diagnosis
-

Non Union Fracture 1/3 Distal Os Femur Dextra


1.5 Terapi
Plan ORIF dengan Nailing

II.

Diskusi
1. Pendahuluan
Fraktur tidak selalu disebabkan oleh trauma yang berat; kadangkadang trauma

ringan saja dapat menimbulkan fraktur bila tulangnya

sendiri terkena penyakit tertentu. Juga trauma ringan yang terus menerus

dapat menimbulkan fraktur. Berdasarkan ini, maka dikenal berbagai jenis


fraktur :
- Fraktur disebabkan trauma yang berat
- Fraktur spontan/patologik
- Fraktur stress/fatigue
Trauma dapat bersifat :
-

Eksternal : tertabrak, jatuh, dan sebagainya


Internal : kontraksi otot yang kuat dan mendadak seperti pada serangan

epilepsy, tetanus, renjatan listrik, keracunan striknin.


Trauma ringan tapi terus menerus
Fraktur patologik adalah fraktur yang terjadi pada tulang yang

sebelumnya telah mengalami proses patologik, misalnya tumor tulang


primer atau sekunder, myeloma multiple, kista tulang, osteomyelitis, dan
sebagainya. Trauma ringan saja sudah dapat menimbulkan fraktur.
Fraktur stress disebabkan oleh trauma ringan yang terus menerus,
misalnya fraktur march pada metatarsal, fraktur tibia pada penari balet,
fraktur fibula pada pelari jarak jauh dan sebagainya.
Bila secara klinis ada atau diduga ada fraktur, maka harus dibuat 2
foto tulang yang bersangkutan. Sebaiknya dibuat foto anteroposterior (AP)
dan lateral. Bila kedua proyeksi ini tidak dapat dibuat karena keadaan pasien
yang tidak mengizinkan, maka dibuat 2 proyeksi yang tegak lurus satu sama
lain. Perlu diingat bahwa bila ada hanya 1 proyeksi yang dibuat, ada
kemungkinan fraktur tidak dapat dilihat. Ada kalanya diperlukan proyeksi
khusus, misalnya proyeksi aksial, bila ada fraktur pada femur proksimal
atau humerus proksimal.
Dalam mengklasifikasikan fraktur diafisis os femur, konsep stabilitas
dari fraktur digunakan dalam menentukan penanganan selanjutnya.
Stabilitas yang dimaksud adalah persentase circumference dari kortex yang
intak

dan

kemiringan

dari

garis

fraktur

sebagai

indicator

pada

intramedullary nailing. Fraktur dengan kortex yang intak minimal 50% dan
kemiringan kurang dari 30 relative stabil terhadap pergeseran dan rotasi.
Berdasarkan Winquist-Hanson system, dikenal lima tipe:

Type A fraktur simple tranverse atau fraktur obliq pendek tanpa


communition
Type B fraktur dengan sedikit communition, tapi masih ada kontak kortikal
minimal 50% antara fragmen proximal dan distal. fraktur dengan 25%
fragment butterfly dapat digolongkan ke dalam tipe ini.
Type C fraktur dengan kortikal communition atau jumlah fragmen butterfly
besar yang melibatkan lebih dari 50% dari cortex, atau kontak kortikal di
bawah 50% antara fragmen proximal dan distal
Type D Fraktur dengan segmental communition
Type E Fraktur yang panjang dan obliq

Fraktur yang stabil adalah fraktur tipe A dan B sedangkan tipe C,D
dan E adalah fraktur tidak stabil.
Proses penyembuhan suatu fraktur dimulai sejak terjadi fraktur
sebagai usaha tubuh untuk memperbaiki kerusakan kerusakan yang
dialaminya.
Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa fase, sebagai
berikut :
1. Fase Reaktif
a. Fase hematom dan inflamasi
b. Pembentukan jaringan granulasi
7

2. Fase Reparatif
a. Fase pembentukan callus
b. Pembentukan tulang lamellar
3. Fase Remodelling
a. Remodelling ke bentuk tulang semula
Dalam istilah-istilah histologi klasik, penyembuhan fraktur telah
dibagi atas penyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder.

Proses penyembuhan Fraktur Primer


Penyembuhan cara ini terjadi internal remodelling yang meliputi
upaya langsung oleh korteks untuk membangun kembali dirinya ketika
kontinuitas terganggu. Agar fraktur menjadi menyatu, tulang pada salah
satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisi lainnya (kontak
langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis. Tidak ada hubungan
dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian
system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah
Ada 3 persyaratan untuk remodeling Haversian pada tempat fraktur
adalah:
1. Pelaksanaan reduksi yang tepat
2. Fiksasi yang stabil

3. Eksistensi suplay darah yang cukup


Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model osteotomi telah
diperlihatkan menyebabkan penyembuhan tulang primer. Remodeling
haversian aktif terlihat pada sekitar minggu ke empat fiksasi.

Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder


Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan
jaringan-jaringan lunak eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara
garis besar dibedakan atas 6 fase/stadium , yakni fase hematom
(inflamasi), fase cartilage formation dan angiogenesis, fase cartilage
calcification, fase cartilage removal, fase bone formation dan
remodelling.
1. Fase Inflamasi:
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan
berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam
jaringan yang cedera dan pembentukan hematoma di tempat patah
tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena
terputusnya pasokan darah terjadi hipoksia dan inflamasi yang
menginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel dan
migrasi menuju tempat fraktur untuk memulai penyembuhan.

Berkumpulnya darah pada fase hematom awalnya diduga akibat


robekan pembuluh darah lokal yang terfokus pada suatu tempat
tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnya hematom bukan
hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan
faktor-faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan
lokal. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2
3 minggu.
2. Fase Cartilage formation dan angiogenesis
Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk
benang-benang fibrin, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan
invasi

fibroblast

dan

osteoblast.

Fibroblast

dan

osteoblast

(berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan


menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada
patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan
(osteoid). Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus
tulang rawan tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada
tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak
struktur kalus. Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 3 setelah
terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 8.
3. Fase cartilage calcification
Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai
terbentuk jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai
tumbuh atau umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan.
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan
tulang digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang
serat matur. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen
tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrous.
Pusat dari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian
bersama osteoblast akan berdiferensiasi membentuk suatu jaringan
rantai osteosit, hal ini menandakan adanya sel tulang serta kemampuan
mengantisipasi tekanan mekanis.

10

Proses cepatnya pembentukan kalus lunak yang kemudian


berlanjut sampai fase remodelling adalah masa kritis untuk
keberhasilan penyembuhan fraktur.
4. Fase Cartilage Removal
Ketika tulang rawan sudah mengalami kalsifikasi, neoangigenesis
terjadi. Pembuluh darah yang baru terbentuk membawa sel
perivascular osteoprogenitor dan tulang rawan yang mengalami
kalsifikasi tersebut kemudian diserap kembali oleh chondroclast.
Tulang immature kemudian turun ke bawah untuk mengganti kartilago
ini.
5. Fase Bone formation
Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus,
tulang yang immature (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar
bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih kuat sehingga osteoklast dapat
menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti osteoblast
yang akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru.
Proses ini berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulan sebelum
tulang cukup kuat untuk menerima beban yang normal.
6. Fase Remodelling
Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat
dengan bentuk yang berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan
penyerapan tulang yang terus menerus lamella yang tebal akan
terbentuk pada sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan
terbentuk kembali dan diameter tulang kembali pada ukuran semula.
Akhirnya tulang akan kembali mendekati bentuk semulanya, terutama
pada anak-anak.
Pada keadaan ini tulang telah sembuh secara klinis dan radiologi.

11

Adapun hal hal yang harus diperhatikan pada pemeriksaan foto roentgen :
Adakah fraktur, di mana lokasinya ?
-

Tipe (jenis fraktur dan kedudukan fragmen


Bagaimana struktur tulang
o Biasa ?
o Patologik ?
Bila dekat/pada persendian
o Adakah dislokasi ?
o Fraktur epifisis ?
o Pelebaran sela sendi karena efusi ke dalam rongga sendi ?

Pemeriksaan radiologic selanjutnya adalah untuk control :


a. Segera setelah reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan
reposisi terbuka perlu diperhatikan keududukan pen intramedular
(kadanag-kadang pen menembus tulang), plate dan screw (kadang-kadang
screw lepas)
b. Pemeriksaan periodic untuk menilai penyembuhan fraktur
o Pembentukan callus
o Konsolidasi
o Remodeling : terutama pada anak-anak
o Adanya komplikasi
Fraktur kollum femoris terutama pada orang-orang tua dan yang tulangnya
porotik. Bila fraktur intrakapsuler, hal ini sering mengakibatkan nekrosis
avascular kaput femur karena terputusnya aliran darah ke kaput femur.

12

Pembentukan kallus pada fraktur kollum femur biasanya sedikit. Penentuan


konsolidasi terutama didasarkan adanya kontinuitas trabekula melalui garis
fraktur.
Gambar.

2. Resume Klinis
Seorang pria, 22 tahun, mengeluh berjalan pincang riwayat keluhan
utama kurang lebih dua tahun lalu naik motor tabrakan dengan mobil.
Riwayat inap di rs palopo bulan 6 tahun 2011 selama1 bulan. Saat itu
pasien menolak ORIF. Riwayat ke dukun patah tulang.
Dari hasil pemeriksaan fisis, pasien sakit sedang, composmentis.
Tanda vital: Tekanan darah: 110/80 mmHg, nadi

: 80 x/menit, suhu:

36,5 oC, pernafasan: 20 x/menit.


Regio Femur Dextra

13

I: tampak deformitas positif pada distal femur, tampak atrofi


quadriceps femoris & gastrocnemius, edemea negative, hematom

negative
P: nyeri tekan (-), pseudoathetosis (+)
ROM: Gerak aktif dan pasif HIP joint normal
Knee flexion 45
NVD : Sensibiltas baik, a.dorsalis pedis fraktur teraba, CRT < 2
LLD : 6 cm
3.

Diskusi Radiologi
Foto Genu Dextra AP lateral

Alignment pembentuk genu berubah


- Tampak fraktur komunitif dan non union old facture pada 1/3 distal
os femur kanan, callus forming (+)
- Callus forming (+) dengan tepi sklerotik pada aspek inferior os
patella
- Tidak tampak lesi litik maupun sklerotik pada tulang
- Mineralisasi tulang berkurang (disuse osteoporosis)
- Celah sendi yang tervisualisasi baik
- Jaringan lunak sekitarnya baik
Kesan : Non union old fracture1/3 distal os femur dextra
Pembahasan :

14

Pada foto radiologi di atas tampak non union old fracture pada 1/3 distal
os femur dextra dengan shortening 11 cm. Non Union biasanya karena imobilisasi
tidak sempurna. Juga bila ada interposisi jaringan di antara fragmen-fragmen
tulang. Radiologis terlihat adanya sklerosis pada ujung-ujung fragmen sekitar
fraktur dan garis patah menetap. Pembentukan kalus dapat terjadi di sekitar
fraktur, tetapi garis patah menetap.
Femur merupakan tulang terpanjang pada badan dimana fraktur dapat
terjadi mulai dari proximal sampai distal tulang yaitu fraktur leher femur, fraktur
trokanterik, fraktur subtrokantorik, fraktur diafisis, fraktur suprakondiler, dan
fraktur kondiler.

Gambar Lokasi fraktur femur


Fraktur diafisis os femur dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan
stabilitasnya. Lokasi terbagi atas 1/3 proximal, 1/3 middle, dan 1/3 distal.
Pada kasus ini pasien mengalami fraktur di 1/3 distal femur yaitu pada
daerah diafisis femur.
Pada fraktur semacam ini, segmen-segmen tulang yang patah direposisi
atau direduksi kembali ke tempatnya semula, maka segmen-segmen itu akan
stabil, dan biasanya fraktur pada dewasa muda diterapi secara tepat dengan
reduksi tertutup dan imobilisasi eksternal yg mudah dikontrol dengan bidai gips,
atau traksi. Pada foto di atas terlihat pembentukan kalus karena pasien mengalami
trauma kurang lebih 2 tahun.
Komplikasi Fraktur
Komplikasi pada fraktur yang dapat dilihat pada foto rontgen ialah :
15

Osteomielitis : terutama pada fraktur terbuka. Osteomielitis terbagi atas


osteomielitis akut dan osteomielitis kronik.
Patologi dan pathogenesis osteomielitis akut, dibagi atas dua cara penyebaran :
1. Penyebaran umum :
- Melalui sirkulasi darah berupa bakteremia dan septikemia
- Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifocal pada
daerah-daerah lain
2. Penyebaran local :
- Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periosteal
- Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai di bawah kulit
- Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septic
- Penyebaran ke medula tulang sekitanya sehingga system sirkulasi dalam
tulang terganggu. Hal ini menyebabkan kematian tulang lokal dengan
terbentuknya tulang mati yang disebut sekuestrum.

Patologi dan Patogenesis Osteomielitis Kronik : Infeksi tulang dapat


menyebabkan terjadinya sekuestrum yang menghambat terjadinya resolusi dan
penyembuhan spontan yang normal pada tulang. Sekuestrum ini merupakan benda
asing bagi tulang dan mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan
sinus (pada kulit). Sekuestrum diselimuti oleh involucrum yang tidak dapat
keluar/dibersihkan dari medula tulang kecuali dengan tindakan operasi. Proses
selanjutnya terjadi destruksi dan sklerosis tulang yang dapat terlihat pada foto
rontgen.

Gambar 9:Osteomielitis akut

Gambar 10 : Osteomielitis kronis

16

Table 1 : Perbedaan osteomielitis akut dan kronik

Osteomielitis akut

Osteomielitis kronik

< 2 minggu

> 2 minggu

Periosteal reaction
Osteolitik > sklerotik
Swelling (+)

Korteks menebal dan irregular


Osteolitik < sklerotik
Swelling (-)

Nekrosis Avaskuler : hilangnya/terputusnya supply darah pada suatu bagian


tulang sehingga menyebabkan kematian tulang tersebut
Sesuai dengan anatomi vaskuler, maka nekrosis avaskuler pascatrauma sering
terjadi pada kaput femoris yaitu pada fraktur kolum femoris, pada naviculare
manus, dan talus.
Nekrosis avaskular biasanya menyertai fraktur ataupun dislokasi dari
tulang panggul. Dapat juga diakibatkan oleh penyakit metabolik, seperti
daibetes melitus, sickle cell anemia, penyakit ginjal, alcoholism, penyakit Gout,
dan penyakit Gaucher. Selain itu, penggunaan steroid yang berkepanjangan
ataupun dosis yang berlebihan dapat juga mengaibatkan masalah ini.
Walaupun nekrosis avaskular dapat terjadi secara bilateral, pasien kadang
hanya merasakan nyeri pada sebelah tungkai. Pada awalnya, rasa sakit hanya
sedikit dan menjadi semakin progresif.
Diagnosis dari suatu nekrosis avaskular ditegakkan dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Selain itu dilakukan seperangkat uji diagnostik. MRI sejauh
ini merupakan uji yang paling sensitif untuk mendeteksi suatu tahap awal dari
nekrosis avaskular, ketika kemungkinan untuk menyebar ke tulang lain masih
dapat dicegah.
Gambaran radiologi yang khas pada nekrosis avaskular adalah crescent
sign. Hal ini berhubungan dengan perfusi yang inadekuat pada akhir segmen
dari tulang yang menimbulkan osteonekrosis dan penyembuhan. Gambaran ini
terlihat sebagai suatu gais radiolusen di bagian proximal dari kaput femur atau
kapur humerus. Selain itu dapat terlihat pula batas sklerotik yang dihasilkan
dari pembentukan tulang baru. Adanya gambaran crescent sign ini terdeteksi,
dipastikan area yang bersangkutan akan kolaps.

17

Legg-Calve-Perthes Disease. AP and frog-lateral views of both hips show a right capital
femoral epiphysis which is smaller in size (black arrows) than the left (white arrow), an
early sign of this disease.

Non Union : Biasanya karena imobilisasi tidak sempurna. Juga bila ada
interposisi jaringan di antara fragmen-fragmen tulang. Radiologis terlihat
adanya sklerosis pada ujung-ujung fragmen sekitar fraktur dan garis patah

18

menetap. Pembentukan kalus dapat terjadi di sekitar fraktur, tetapi garis patah
menetap.
Non union merupakan keadaan dimana fraktur gagal berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunions terjadi ketika tulang kurang kuat untuk menyokong dan menyuplai
darah.
Pasien dengan union biasanya merasakan nyeri disepanjang patahan
tulang. Nyeri ini mungkin berlangsung selama beberapa bulan atau bahkan
tahun. Ini mungkin berlangsung terus menerus pada patah tulang lengan atau
tungkai.
Untuk mendiagnosa nonunion, dokter menggunakan studi imaging.
Tergantung

dari

tulang

mana

yang

akan

dilihat,

termasuk

X-Ray

(Radiography), CT (Computed Tomography), and MRI (Magnetic Resonance


Imaging). Studi imaging memperlihatkan tulang yang patah dan proses dari
penyembuhan. Radiologis terlihat adanya sklerosis pada ujung-ujung fragmen
sekitar fraktur dan garis patah menetap. Pembentukan kalus dapat terjadi di
sekitar fraktur, tetapi garis patah menetap.
Nonunion didiagnosa bila dokter memnemukan 1 atau lebih dari petunjuk:
Nyeri persisten dari sisi patahan tulang
Adanya jarak dari penyambungan tulang
Tidak ada kemajuan dari penyembuhan tulang dari imaging

dibandingkan dari beberapa bulan sebelumnya


Tidak adekuatnya penyembuhan dalam periode waktu tertentu dari
waktu penyembuhan normal yang semestinya.
Pemeriksaan darah juga digunakan untuk mencari penyebab dari unions.

Ini bisa menunjukkan infeksi atau kondisi klinis lainnya yang mungkin
memperlambat penyembuhan tulang, seperti anemia atau diabetes.

19

Tibial non-union. Frontal radiograph of the distal tibia shows a smooth and
sclerotic line at the fracture ends (blue arrows) in a patient 14 months after the
original fracture, signs of non-union. There is some external callus formation
present (white arrow). There is also non-union of an associated fibular
fracture.

Delayed Union : Umumnya terjadi pada :


1. Orang-orang tua karena aktivitas osteoblast menurun
2. Distraksi fragmen-fragmen tulang karena reposisi kurang baik, misalnya
traksi terlalu kuat atau fiksasi internal kurang baik
3. Defisiensi vitamin C dan D
4. Fraktur patologik
5. Adanya infeksi

Delayed union

20

Mal-union : disebabkan oleh reposisi fraktur yang kurang baik, timbul


deformitas tulang.

Mal-union
Atrofi Sudeck : Suatu komplikasi yang relatif jarang pada fraktur ekstremitas,
yaitu adanya disuse osteoporosis yang berat pada tulang distal dan fraktur
disertai pembentukan jaringan lunak dan rasa nyeri

Atrofi Sudeck

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Elstrom, John A., Walter W. Virkus and Arsen M. Pankovich. Hand Book
of Fracture 3rd edition. United States of America: Mc-Graw Hill.2006
2. Ekayuda, Iwan. Tulang. Dalam : Rasad, Sjahriar. Radiologi Diagnostik.
Edisi ke-2. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2006.
3. Holmes EJ, Misra RR. Lower Limb. In: Holmes EJ, Misra RR, editors. AZ of Emergency Radiology. New York: Cambridge University Press; 2004.
4. Murtala B.Radiologi Trauma & Emergensi. Bogor: Percetakan IPB; 2012.
5. Lisle DA. Musculoskeletal System. In: Lisle DA, editor. Imaging for
Student. 91. London: Arnold; 2001.
6. Marincek, Boruc and Robert F. Donlinger. Emergency Radiology
Imaging and intervention. New York: Springer. 2007

22