Anda di halaman 1dari 62

PENGARUH TINGGINYA KADAR GULA DARAH TERHADAP

KEJADIAN KATARAK PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI BALAI


KESEHATAN MATA MASYARAKAT SULAWESI SELATAN TAHUN 2014

NAMA

: Nur Hikmah M.Jihad

NIM

: 10542 0310 11

PEMBIMBING

: dr. Rahasiah Taufik, Sp.M

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirohim
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur tak terhingga penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat, inayah, dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Tingginya Kadar
Gula Darah Terhadap Kejadian Katarak Pada Pasien Diabetes Mellitus di Balai
Kesehatan Mata Masyarakat Sulawesi Selatan Tahun 2014. Proposal penelitian
ini merupakan syarat untuk melakukan penelitian dan menyelesaikan skripsi
dalam memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada orangtua tercinta H.M
Jihad, S.Sos dan Hj St.Haniah, S.Pd yang dengan doa dan kesabarannya dalam
mendidik,memberikan dukungan serta selalu memanjatkan doa sehingga penulis
mampu menyelelesaikan skripsi ini.
Secara khusus penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang
begitu mendalam kepada dr. Rahasiah Taufik, Sp.M selaku pembimbing yang
telah banyak meluangkan waktu dan sabar dalam membimbing, memberikan
arahan dan koreksi selama proses penyusunan skripsi ini selesai.
Selanjutnya penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dr. H. Machmud Gaznawi Sp.PA (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Makassar beserta jajarannya.
2. dr. Nurmila yang yang telah berkenan waktu untuk menjadi penguji sidang
ujian skripsi dan atas bimbingan serta masukan demi perbaikan skripsi ini.

3. Direktur Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sulawesi Selatan beserta


jajarannya yang telah memberikan kesempatan penulis untuk meneliti.
4. Wismoyo Indra Zoelman S.Ked atas inspirasi dan segala bantuannya
selama ini.
5. Teman-temanku Andi Ridha Annisa, Auliah Hidayat, St.Huzaifah,
,Humairah Bachmid, Rani Asriani, Nur Hanifah Muchtar, Nur Itha
Masyita, Nurul Huda, Sharina, St Sukainah, Nurul Rahmah, Andi Karina,
Sulhasni, Indah Pertiwi yang telah memberikan motivasi, membantu dan
menghibur penulis sampai skripsi ini selesai.
6. Semua teman-teman angkatan 2011 (Astrocyte) yang tak dapat disebutkan
satu-satu, yang telah berjuang bersama hingga sekarang ini, terima kasih
atas dukungan dan doanya.
Penulis menyadari bahwa apa yang ada dalam skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, besar harapan penulis kepada pembaca dapat
memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun, Akhir kata, semoga ini
dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 14 Februari 2015

Nur Hikmah M.Jihad


DAFTAR ISI

Sampul .
Kata Pengantar
3

Daftar Isi ..
Daftar Tabel .
Daftar Gambar
BAB I Pendahuluan
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang . 1
Identifikasi Masalah ..... 4
Batasan Masalah ... 4
Batasan Penelitian .... 4
Rumusan Masalah 5
Tujuan Penelitian ......... 5
Manfaat Penelitian 6
.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi Katarak .. 7
a. Anatomi Lensa ....... 7
b. Epidemiologi .. 8
c. Klasifikasi Katarak .... 8
d. Faktor Risiko 9
e. Gejala Klinis .. 14
f. Diagnosis ... 15
g. Penatalaksanaan 15
h. Komplikasi ... 18
i. Pencegahan .. 19
B. Katarak Diabetikum .. 20
a. Patofisiologi . 21
b. Gejala Klinis 21
c. Penatalaksanaan ... 22
BAB III KERANGKA KONSEP ..

A. Kerangka Teori .. 24
B. Kerangka Konsep .. 24
C. Hipotesis 25
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Penelitian .. 26
B. Metode Penelitian . 27
C. Variebel Penelitian 27
D. Teknik Pengumpulan Data ... 27
E. Teknik Pengambilan Sampel 28
F. Teknik Analisis Data 28
G. Etika Penelitian 28
BAB V HASIL PENELITIAN .
A. Profil BKMM .. 29
B. Hasil Penelitian .... 31
BAB VI PEMBAHASAN ..
A. Hubungan DM terhadap Kejadian Katarak 38
B. Hubungan Jenis Kelamin terhadap Kejadian Katarak 40
C. Hubungan Umur dengan terhadap Kejadain Katarak . 41
BAB VII TINJAUAN KEISLAMAN
A. Kajian Islam tentang DM . 42
B. Kajian Islam tentang Indera Penglihatan . 43
BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN ..
A. Kesimpulan .... 46
B. Saran .. 46
DAFTAR PUSTAKA 48
RIWAYAT HIDUP 53
LAMPIRAN 52
5

KRITIK DAN SARAN .. 60

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1.1 Konsentrasi Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa sebagai patokan
dan Diagnosis DM (mg/dl)
2. Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan Jenis Kelamin
3. Tabel 5.2 Distribusi responden berdasarkan Kelompok Umur
4. Tabel 5.3 Distribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diabetes Mellitus
6

5.
6.
7.
8.

Tabel 5.4 Disitribusi Responden Berdasarkan Kejadian Katarak


Tabel 5.5 Hubungan antara diabetes mellitus terhadap kejadian katarak
Tabel 5.6 Hubunghan antara Jenis Kelamin dengan Kejadian Katarak
Tabel 5.7 Hubungan antara Umur dengan Kejadian Katarak

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Presentase Penyakit Mata


Gambar 3.1 Kerangka Konsep

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tingginya kadar gula darah (hiperglikemia) yang sudah kronik pada
diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi atau
kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan
pembuluh darah.(1)
Kadar gula darah yang tinggi disebut dengan hiperglikemia. Diagnosis
DM dapat dapat didasarkan pada pemeriksaan gula darah. Untuk diagnosis,
pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara
enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Seseorang didiagnosis DM jika

kadar gula darah sewaktu, puasa, dan gangguan toleransi glukosa melebihi
batas normal.(1)
Tabel 1.2. Konsentrasi Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa sebagai
patokan dan Diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM

Konsentrasi

Belum pasti Diabetes


DM

Mellitus

Plasma vena

<100

100-199

200

sewaktu (mg/dl)

Darah

< 90

90-199

200

Konsentrasi

Kapiler
Plasma Vena

<100

100-125

126

Darah

<90

90-99

100

Glukosa

Glukosa

Darah

darah

puasa (mg/dl)
kapiler
Jika dibiarkan dan tidak dikelolah dengan baik, diabetes mellitus akan
menyebabkan terjadinya komplikasi kronik, baik mikroangiopati maupun
makroangiopati. Adanya pertumbuhan sel dan juga kematian sel yang tidak
normal merupakan dasar terjadinya komplikasi kronik diabetes mellitus.
Kelainan dasar tersebut sudah dibuktikan terjadi pada para penyandang
diabetes mellitus maupun juga pada berbagai binatang percobaan.(1)
Diabetes mellitus merupakan penyebab kematian ketiga di Amerika
Serikat dan penyebab utama kebutaan pada orang dewasa akibat retinopati
diabetic. Selain dari retinopati diabetic, DM diduga juga berpengaruh terhadap
kejadian katarak.(2)

Katarak adalah

setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat

terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa


terjadi akibat kedua-duanya. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia
lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital dan kelainan sistemik
atau metabolic seperti diabetes mellitus.(3)
Katarak merupakan penyebab utama kebutaan. Menurut WHO (2010),
secara global dari 39 juta orang yang mengalami kebutaan, 51% diantaranya
disebabkan oleh katarak.(4) Di Indonesia, hasil survei Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993-1996 menunjukkan angka kebutaan
nasional sebesar 1,5% dengan penyebab utama kebutaan tersebut adalah
katarak (0,78%).(5)
Penelitian dan studi klinik mengenai katarak telah banyak dilakukan
dan di antaranya adalah penelitian Wisconsin Epidemiologic Study of Diabetic
Retinopathy mengenai katarak dan menemukan insiden katarak pada penderita
diabetes melitus. Studi kohort oleh Beaver Dam Eye Study juga menemukan
adanya hubungan antara diabetes melitus dengan pembentukan katarak. Studi
ini menyatakan bahwa insiden dan perjalanan penyakit katarak posterior
subkapsular dan kortikal berhubungan dengan diabetes.(2)
UK Prospektive Diabetes Study Group menyatakan bahwa katarak
diderita oleh sekitar 15% individu yang menderita diabetes melitus tipe 2 dan
sering ditemukan pada saat diagnosis ditegakkan.(2)

10

Berdasarkan data laporan tahunan di Balai Kesehatan Mata


Masyarakat makassar didapatkan jumlah penderita katarak yang terdiri atas
katarak matur dan immaturdari tahun 2007 sampai dengan 2010 mengalalami
perubahan dari tahun ketahun. Pada tahun 2007 jumlah penderita katarak 4635
pasien, pada tahun 2008 sebanyak 3610 Pasien, tahun 2009 sebanyak 3966
Pasien, dan tahun 2010 sebanyak 5413 pasien.(6)
Kejadian Katarak yang setiap tahunnya mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun seperti yang dijelaskan dan berdasarkan penelitian di atas, maka

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kadar gula


darah yang tinggi pada pasien DM dengan tingkat kejadian katarak di Balai
Kesehatan Mata Masyarakat Sul-Sel tahun 2014.

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti membuat identifikasi
masalah dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan katarak ?
2. Apakah faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya katarak ?
3. Bagaimana pengaruh antara kadar gula darah yang tinggi pada pasien DM
terhadap terjadinya katarak ?
C. BATASAN MASALAH
Batasan masalah merupakan kriteria-kriteria atau kebijakan kualitatif
untuk mempersempit masalah-masalah yang akan diidentifikasi. Pengaruh
kadar gula darah yang tinggi pada pasien DM terhadap terjadinya katarak
merupakan batasan masalah dalam penelitian ini.

11

D. BATASAN PENELITIAN
Batasan penelitian merupakan

kriteria-kriteria

atau

kebijakan

kuantitatif yang dipergunakan untuk merealisasikan penelitian. Dalam


penelitian ini yang menjadi batasan penelitian meliputi beberapa aspek yaitu :
Waktu : Bulan November 2014
Tempat : Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sulawesi Selatan
Data : Data Sekunder (rekam medik pasien)
Objek : Pasien kasus baru pada tahun 2014 dan pasien
penderita katarak dengan penyakit DM.
E. RUMUSAN MASALAH
Berdasar latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan
permasalahan penelitian sebagai berikut : Apakah kadar gula yang tinggi
pada pasien DM berpengaruh terhadap kejadian katarak?

F. TUJUAN PENELITIAN
a. Tujuan Umum
- Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit mata katarak.
- Untuk mengetahui penyakit mata katarak yang disebabkan oleh kadar gula
darah yang tinggi.
b. Tujuan Khusus
-

Mengetahui angka kejadian katarak di BKMM Sul-Sel tahun 2014.

12

Mengetahui adanya pengaruh antara kejadian katarak dengan tingginya


kadar gula darah pada pasien diabetes mellitus dari hasil rekam medik di
Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sul-Sel tahun 2014.

Mengetahui adanya pengaruh antara jenis kelamin terhadap Kejadian


katarak dari hasil rekam medik di Balai Kesehatan Mata Masyarakat SulSel tahun 2014.

Mengetahui adanya pengaruh antara kelompok umur terhadap kejadian


katarak dari hasil rekam medik di Balai Kesehatan Mata Masyarakat SulSel tahun 2014.

G. MANFAAT PENELITIAN
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi perbandingan dengan
penelitian yang lain dengan tema yang sama.
b. Manfaat Aplikatif
Hasil dari penelitian ini dapat menjadikan pengalaman yang
bermanfaat bagi peneliti sendiri guna mengembangkan kemampuan/skill.
c. Manfaat Praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi
peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian dengan menggunakan
metode yang lebih sempurna.

13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI KATARAK
Lensa adalah sebuah struktur yang menakjubkan yang pada kondisi
normalnya berfungsi memfokuskan bayangan pada retina. Kejernihannya
dapat terganggu oleh karena proses degenerasi yang menyebabkan proses
kekeruhan lensa. Kekeruhan pada lensa disebut katarak.(7)
Katarak adalah suatu jenis penyakit pada mata karena lensa mata
menjadi keruh sehingga menghalangi cahaya yang masuk. Penglihatan
penderita katarak menjadi terganggu dan bahkan bisa menjadi buta bila
semakin parah dan tidak ditangani secara baik.(7)
Penuaan adalah penyebab katarak terbanyak, tetapi banyak juga
faktor lain yang terlibat, antara lain : trauma toksin, penyakit sistemik
(misalnya, diabetes mellitus), merokok, dan herediter.(7)
a. Anatomi Lensa
Lensa kristalina adala sebuah struktur yang menakjubkan yang
pada kondisi normalnya berfungsi memfokuskan bayangan pada retina.
Posisinya tepat disebelah posterior iris dan disangga oleh serat-serat
zonula yang berasal dari corpus ciliare. Serat-serat ini menyisipkan pada
bagian equator kapsul lensa. Kapsul lensa adalah suatu bagian membran
basalis yang mengelilingi substansi lensa. Sel-sel epitel dekat equator
lensa membelah sepanjang hidup dan terus berdiferensiasi membentuk
serat-serat lensa baru sehingga serat-serat lensa yang lebih tua

14

dipampatkan ke nucleus sentral. Serat-serat muda yang kurang padat,


disekeliling nucleus menyusun korteks lensa. Karena lensa bersifat
avaskuler dan tidak menyerupai persarafan, nutrisi lensa didapat dari
humor aqueous. Metabolisme lensa terutama bersifat anaerob akibat
rendahnya kadar oksigen terlarut didalam aqueous.(8)
b. Epidemiologi
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), katarak
merupakan kelainan mata yang menyebabkan kebutaan dan ganguan
penglihatan yang paling sering ditemukan seperti tecamtum pada gambar
berikut: (10)

Gambar. Presentase Penyakit Mata


c. Klasifikasi Katarak
Menurut Ilyas (2008), katarak dapat di kalsifikasikan ke dalam
golongan sebagai berikut(3)
a. Katarak perkembangannya (depelovmental) dan degenerative.
b. Katarak kongenital, juvenile dan senil
c. Katarak komplikata

15

d. Katarak Traumatik
Penyebab terjadinya kekeruhan lensa dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Primer , berdasarkan gangguan perkembangan dan metabolisme dasar
lensa.
b. Sekunder, akibat tindakan pembedahan lensa.
c. Komplikasi penyakit
Berdasarkan usia pasien, katarak dapat dibagi dalam golongan sebagai
berikut:
a. Katarak kongenital yaitu terlihat pada usia dibawa 1 tahun
b. Katarak juvenil yaitu katarak yang terlihat pada usia 1- 50 tahun
c. Katarak senil yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 50
tahun
d. Faktor Risiko
Faktor yang dikaitkan dengan katarak cukup banyak. Berdasarkan
teori segitiga epidemiologi, timbulnya suatu penyakit disebabkan oleh
faktor lingkungan (Enviromment), faktor penjamu (host), dan faktor
penyebab (agent). Banyak faktor dikaitkan dengan katarak, yaitu umur
sebagai faktor utama, dan faktor lainnya antara lain penyakit diabetes
melitus (DM), pajanan kronis terhadap sinar ultraviolet (sinar matahari),
konsumsi alkohol, nutrisi, merokok, tingkat sosial ekonomi, tingkat
pendidikan, dan pekerjaan (Tana dkk., 2009).(10)
Walaupun teknologi yang aman dan efektif telah tersedia untuk
memperbaiki penglihatan pada sejumlah besar penderita katarak, namun
katarak yang belum dioperasi masih merupakan beban yang terus

16

meningkat setiap tahunnya. Jumlah kasus katarak meningkat seiring


dengan meningkatnya usia harapan hidup, sedangkan jumlah dokter
spesialis mata tidak sebanding dengan jumlah katarak yang akan dioperasi
di samping biaya operasi yang relatif tinggi. Hal ini menimbulkan backlog
(penumpukan) penderita katarak yang akan dioperasi.
Meskipun tindakan operasi merupakan satu-satunya pilihan
pengobatan efektif yang ada, namun mengidentifikasi faktor risiko katarak
akan membantu untuk menentukan langkah-langkah pencegahan dan
strategi yang tepat, dan untuk memperlambat terjadinya katarak dapat
dilakukan sesuai dengan faktor risiko. Faktor risiko katarak antara lain.
1. Umur
Penuaan merupakan penyebab katarak terbanyak, tetapi banyak
juga faktor lain yang mungkin terlibat. Katarak akibat penuaan
merupakan penyebab umum gangguan penglihatan. Berbagi
studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada
individu berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50%; prevalensi
ini meningkat hingga 70% pada individu diatas 75 tahun.(7)
2. Jenis Kelamin
Menurut Rasyid, dkk (2010) kejadian katarak lebih banyak
terjadi pada perempuan dari pada laki-laki, ditujukan dengan
hasil penelitian yang menemukan 114 orang (71,7%) penderita
katarak berjenis kelamin perempuan, sedangkan 57 orang
(63,4%) penderita katarak berjenis kelamin laki-laki.(11)
3. Riwayat Keturunan

17

Katarak kongenital terjadi akibat penyakit keturunan, atau


infeksi ibu hamil akibat rubella, virus sitomegali, varisela,
sifilis, dan toksoplasmosis pada usia kehamilan 1-2 bulan.
Katarak congenital ini timbul sebagai kejadian primer atau
berhubungan dengan penyakit ibu dan janin local atau umum.(3)
4. Pekerjaan
Katarak erat kaitannya juga dengan pekerjaan yang berada di luar
gedung, dimana sinar ultraviolet (UV) merupakan faktor risiko
terjadinya katarak. Sinar ultraviolet yang berasal dari sinar
matahari akan diserap oleh protein lensa dan kemudian akan
menimbulkan reaksi fotokimia sehingga terbentuk radikal bebas
atau spesies oksigen yang bersifat sangat reaktif. Reaksi tersebut
akan

mempengaruhi

struktur

protein

lensa,

selanjutnya

menyebabkan kekeruhan lensa yang disebut katarak. (3)


5. Diabetes Mellitus
Diabetes melitus dapat menyebabkan berbagai

macam

komplikasi, salah satunya adalah katarak. Diabetes mellitus


menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas yaitu
kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam
masa lensa.(3)
Katarak yang berhubungan dengan DM akan meningkat dimasa
mendatang sejalan dengan meningkatnya prevalensi DM
dibeberapa negara di dunia, termasuk negara yang sedang
berkembang. (12)
Peningkatan enzim aldose reduktase dapat

mereduksi gula

menjadi sorbitol, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan

18

osmotik sehingga serat lensa lama-kelamaan akan menjadi


keruh dan menimbulkan katarak.(2)
Risiko katarak dilaporkan tinggi pada penderita DM, kadar
gula darah tinggi, kerusakan ginjal, dan penggunaan steroid.

(13)

Penderita DM menderita katarak 1,6 kali lebih sering terjadi


pada usia muda, dan lebih sering memburuk dibandingkan
dengan yang tidak menderita DM.(14)
Beberapa studi klinik telah menunjukkan bahwa perkembangan
katarak terjadi lebih sering dan lebih awal pada penderita
diabetes melitus dibanding penderita yang non-diabetes.
Meningkatnya jumlah penderita diabetes melitus di dunia baik
tipe 1 maupun tipe 2 menyebabkan tingginya insiden katarak
diabetik.(15)
Keluhan

yang

akan

diutarakan

penderita

adalah

pandangan yang mulai tidak jelas atau kabur. Semakin hari


keluhan akan semakin memburuk dan penderita akan sering
pergi ke optikal untuk memeriksa ketajaman penglihatannya,
tetapi penderita tidak menemukan kacamata yang cocok untuk
membantunya melihat lebih jelas. Katarak akibat DM
memberikan gambaran khas, yaitu kekeruhan tersebar halus
seperti lebaran kapas di dalam massa lensa.(15)
Katarak biasanya tejadi karena faktor usia yang semakin
tua sehingga lensa mengalami degenerasi dan menjadi keruh.
Namun pada penderita DM katarak dapat terjadi pada usia yang
lebih muda < 50 tahun. Kedua mata dapat terkena walaupun

19

dalam waktu yang tidak bersamaan. Kekeruhan lensa ini


menyebabkan cahaya yang masuk tidak sempurna karena
terhalang kekeruhan dan tidak bisa difokuskan tepat diretina
sehingga penderita tidak dapat melihat dengan jelas.(15)
6. Paparan Asap
Penelitian yang dilakukan oleh Suparlan (2009) menyebutkan
bahwa intensitas paparan asap dapur dapat meningkatkan
kejadian katarak 3,5 kali pada perempuan yang memasak di
dalam ruangan di Kabupaten Lombok Tengah.(16)
7. Merokok
Rokok berperan dalam pembentukan katarak melalui dua cara
yaitu, pertama paparan asap rokok yang berasal dari tembakau
dapat merusak membran sel dan serat-serat yang ada pada
mata. Kedua yaitu, merokok dapat menyebabkan antioksidan
dan enzim-enzim di dalam tubuh mengalami gangguan
sehingga dapat merusak mata.(17)
e. Gejala Klinis
Katarak biasanya tumbuh secara perlahan dan tidak menyebabkan
rasa sakit. Pada tahap awal kondisi ini hanya akan mempengaruhi sebagian
kecil bagian dari lensa mata dan mungkin saja tidak akan mempengaruhi
pandangan mata. Saat katarak tumbuh lebih besar maka noda putih akan
mulai menutupi lensa mata dan mengganggu masuknya cahaya ke mata,
pada akhirnya pandangan mata akan kabur.(3)
Adapun tanda dan gejala terjadinya katarak adalah: (3)
1. Terjadi pada usia lanjut sekitar usia 50 tahun ke atas

20

2. Merasa silau terhadap sinar matahari


3. Kadang merasa seperti ada film di depan mata.
4. Seperti ada titik gelap didepan mata.
5. Penglihatan ganda
6. Sukar melihat benda yang mengilaukan (fotofobia)
7. Halo, warna disekitar sumber sinar.
8. Warna manik mata berubah menjadi putih.
Sukar engerjakan pekerjaan sehari-hari.
9. Waktu membaca penerangan memerlukan sinar yang lebih cerah.
10. Sering berganti kacamata.
11. Penglihatan menguning.
12. Untuk sementara jelas melihat dekat.
Kecepatan terjadinya gangguan penglihatan akibat katarak pada
seseorang tidak dapat diprediksi, karena katarak pada setiap individu
berbeda. Tanda yang jelas terlihat pada katarak yang telah lanjut adalah
adanya kekeruhan atau warna keputihputihan pada pupil. Pemeriksaan
mata bagian dalam dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop.(3)
f. Diagnosis
Katarak biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan mata rutin.
Sebagian besar katarak tidak bisa dilihat oleh pengamat awam samapi
menjadi cukup padat (matur atau hipermatur ) dan menimbulkan kebutaan.
Namun, katarak pada stadium perkembangannya yang paling dini, dapat
diketahui melalui pupil yang dilatasi maksimun dengan opthalmoskop,
kaca pembesr atau slitlamp.(18)

21

Pemeriksaan katarak yang dilakukan pada pasien katarak adalah


pemeriksaan sinar celah (slitlamp) funduskopi pada kedua mata bila
mungkin, tono meter selain dari pada pemeriksaan prabeda yang
diperlukan lainya seperti adanya infeksi pada kelopak mata, konjungtiva.
Karena dapat menjadi penyulit yang berat berupa ponoftalmitis pasca beda
dan fisik umum.(3)
g. Penatalaksanaan
Pengobatan

terhadap

pasien

katarak

adalah

pembedahan.

Pembedahan dilakukan apabila tajam penglihatan sudah menurun


sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila
katarak ini menimbulkan penyulit seperti glakoma atau uveitis.
1. Operasi Katarak Ekstrakapsuler (EKEK)(19)
Tindakan pembedahan pada katarak dimana dilakukan pengeluaran
isi lensa dengan memecah atau merobek lensa anterior sehingga massa
lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan tersebut,
kemudian dikeluarkan mekakui insisi 9-10mm, lensa intraokuler
diletakkan pada kapsul posterior.
Termasuk kedalam golongan ini ekstraksi linier, aspirasi dan
irigasi. Pembedahan ini dilakukan pada pasien dengan katarak imatur,
kelainan endotel, keratoplasti, implantasi lensa ocular posterior,
implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan dilakukan bedah
glaucoma, predisposisi prolaps vitreus, sebelumnya mata mengatasi
ablasi retina dan sitoid macular edema.
2. Operasi Katarak Intrakapsuler(19)
Pembedahan dengan mengeluarkan separuh lensa bersama kapsul.
Dapat dilakukan dengan zonula Zinn telah rapuh atau berdegenerasi

22

dan mudah putus. Pada katarak ekstraksi intrakapsuler tidak akan


terjadi katarak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang
sangat lama popular. Pembedahan ini dilakukan dengan menggunakan
mikroskop dan pemakaina alat khusus, sehingga penyulit tidak banyak
seperti sebelumnya.
Katarak ekstraksi intrakapsuler ini tidak boleh dilakukan atau
kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 40 tahun yang masih
mempunyai ligament hialoidea kapsuler. Penyulit yang dapat terjadi
pada pembedahan ini antara lain : astigmat, glaucoma, uveitis,
endoftalmus dan pendarahan.
3. Fakoemulsifikasi(19)
Pembedahan dengan menggunakan vibrator ultrasonic untuk
menghancurkan nucleus yang kemudian diaspirasi melalui insisi 2,5-3
mm, dan kemudian dimasukkan lensa intraokuler yang dapat dilipat.
Keuntungan yang didapat dengan tindakan insisi kecil ini adalah
pemulihan visus lebih cepat, induksi astigmatis akibat operasi minimal,
komplikasi dan inflamasi pasca bedah minimal. Penyulit yang dapat
timbul pada pembedahan katarak ekstrakapsul, dapat terjadi katarak
sekunder yang dapat dikurangi dengan tindakan laser.
4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)(20)
Tehnik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang
merupakan tehnik pembedahan kecil. Tehnik ini dipandang lebih
mengutungkan karena lebih cepat sembuh dan murah.
Apa bila lensa mata penderita telah di angkat maka penderita
memerlukan lensa pengganti untuk memfokuskan penglihtannya
dengan cara sebagai berikut :

23

Kacamata afakia yang tebal lensanya

Lensa kontak
Lensa intra okuler, yaitu lensa permanenkan yang ditanamkan
di dalam mata pada saat pembedahan untuk mengganti lensa

mata asli yang diangkat.


h. Komplikasi(3)
1. Komplikasi Intra operatif
Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior, perdarahan atau
efusi suprakoroid, perdarahan efusi suprakoroid eksklusif, disrupsi
vitreus, incacerata kedalam luka serta retina light toxity.
2. Komplikasi dini segera setelah operatif
a. COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara
cairan yang keluar dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil
dan siliar, edema stroma dan epitel, hipotonus, , brown mclean
syndrom (edema kornea periferdengan daerah sentral bersi yang
paling sering terjadi)
b. Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus
c. Prolaps iris, umumnya disebabkan kerana penjahitan luka insisi yang
tidak adekuat yang

dapat menimbulkan komplikasi seperti

penyembuhan luka tdak sempurna, astigmatimus, uveitis anterior


kronik dan endoftalmitis.
d. Perdarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat elakukan insisi
3. Komplikasi lambat pasca operasi
a. Ablasio retina
24

b. Endoftalmitis kronik yang timbul karena organisme dengan virulensi


rendah yang tertangkap dalam katong kapsuler
c. Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah
malformasi lensa introkuler, ini jarang terjadi.
i. Pencegahan(7)(21)
Delapan puluh persen katarak kebutaan atau gangguan penglihatan
mata dapat dicegah atau dihindari. Edukasi dan promosi tentang masalah
mata dan cara mencegah gangguan mata. Sebagai sesuatu yang tidak bisa
ditinggalkan. Usaha itu melibatkan berbagai pihak.
Katarak dapat dicegah, diantaranya dengan senantiasa menjaga
kesehatan mata, mengesumsi makanan yang dapat melindungi kelainan
degeneratif pada mata dan antioksidan seperti buah buahan yang banyak
mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hijau, kacang
kacangan, kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan
makanan dengan kandunganvitamn E, selenium, dan tembaga tinggi dan
mejaga kadar gula darah selalu normal pada penderita diabetes mellitus.
Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E
merupakan antioksidan yang dapat meminilisasi kerusakan oksidatif pada
mata, sebagai salah satu penyebab katarak. Hasil penelitian yang dilakukan
terhadap 3. 000 orang dewasa selama 5 tahun menunjukkan, orang dewasa
yang mengkosumsi multivitamain atau suplemen lain yang mengandung
vitamin C dan E selama 10 tahun, ternyata resiko terkena katarak 60%
lebih kecil.

25

Seseorang dengan kosentrasi plasma darah yang tinggi lebih dua


atau tiga jenis antioksidan (vitamin C, vitamin E, karotenoid) memilki
resiko teserang katarak lebih renda dibandingkan orang yang konsentrasi
salah satu atau lebih antioksidan yang lebih rendah.
Hasil penelitian lainnya yang dilakukan di farida (1998 - 1999)
menujukkan, masyarakat yang pola makannya kurang ribovlapin (vitamin
B2) beresiko lebih tinggi terserang katarak. Menurut farida, ribovlapin
mempengaruhi aktivitas enzimglutation tereduksi, agar tetap menetralkan
radiakl bebas.
B. DEFINISI KATARAK DIABETIKUM
Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit
metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes Mellitus (DM)
menimbulkan komplikasi terhadap organ lain, salah satunya adalah
gangguan penglihatan.(22)
Katarak diabetikum merupakan katarak metabolik namun sering
juga diklasifikasikan sebagai katarak komplikata karena penyakit diabetes
mellitus. Diabetes mellitus menyebabkan peningkatan kadar gula darah
dan jika tidak terkontrol hal ini berakibat pula pada mata sehingga lensa
akan membengkak akibat kadar gula darah yang tinggi. Ketika kadar gula
darah turun maka pembengkakan lensa akan berkurang tetapi jika kadar
gula darah naik kembali maka lensa akan membengkak lagi. Hal ini terjadi
berulang-ulang sehingga menyebabkan kekeruhan pada lensa mata dan
disebut dengan katarak.(23)
a. Patofisiologi Katarak Diabetikum(23)

26

Pada penderita DM akan terjadi penimbunan sorbitol akibat


produksinya yang terlalu cepat dalam lensa. Penimbunan sorbitol akan
menyebabkan perubahan osmosis pada lensa sehingga terjadi
peningkatan cairan intraseluler sebagai respon peningkatan enzim
aldoreduktase yang berperan dalam mereduksi glukosa menjadi
sorbitol. Dengan adanya mekanisme ini lensa akan membengkak dan
terjadi perubahan biokimia dalam lensa yang menyebabkan terjadinya
apoptosis sel epitel lensa sehingga meningkatkan perkembangan
katarak.
b. Gejala Klinis(23)
Keluhan yang akan diutarakan penderita adalah pandangan yang
mulai tidak jelas atau kabur. Semakin hari keluhan akan semakin
memburuk dan penderita akan sering pergi ke optikal untuk memeriksa
ketajaman penglihatannya, tetapi penderita tidak

menemukan

kacamata yang cocok untuk membantunya melihat lebih jelas. Katarak


akibat DM memberikan gambaran khas, yaitu kekeruhan tersebar halus
seperti lebaran kapas di dalam massa lensa.
Katarak biasanya tejadi karena faktor usia yang semakin tua
sehingga lensa mengalami degenerasi dan menjadi keruh. Namun
paada penderita DM katarak dapat terjadi pada usia yang lebih muda <
50 tahun. Kedua mata dapat terkena walaupun dalam waktu yang tidak
bersamaan. Kekeruhan lensa ini menyebabkan cahaya yang masuk
tidak sempurna karena terhalang kekeuruhan dan tidak bias difokuskan
tepat diretina sehingga penderita tidak dapat melihat dengan jelas.
c. Penatalaksanaan(23)

27

Katarak dapat dihilangkan dengan tindakan operasi atau


pembedahan. Namun, pada kasus katarak akibat DM banyak hal yang
harus diperhatikan. Ketika penderita DM ingin melakukan operasi
untuk menghilangkan kekeruhan lensanya maka kadar gula darah
harus dalam keadaan terkontrol. Terapi yang utama harus dilakukan
oleh penderita katarak diabetikum adalah meregulasi gula darahnya.
Beberapa cara dapat dilakukan yaitu :
1. Berolahraga teratur sesuai anjuran dokter yang menangani penderita.
2. Memperbanyak makanan yang berserat dan menghindari makanan
dengan kadar gula dan garam yang tinggi.
3. Terapi obat anti diabetik oral.
4. Memeriksa kadar gula darah secara teratur sehingga kadar gula darah
dapat terkontrol.
5. Berkonsultasi dengan

dokter

mata

sehingga

dapat

dilakukan

pemeriksaan berkala sebelum terjadi katarak pada mata.


Terapi pembedahan yang paling banyak untuk mengatasi katarak
adalah fakoemulsifikasi. Fakoemulsifikasi memiliki komplikasi yang
jarang terjadi, seperti inflamasi. Lama kesembuhan dan kembalinya
tajam penglihatan lebih cepat. Operasi katarak disarankan sebelu
katarak tersebut menghalangi fundus. Walaupun hasil fakoemulsifikasi
sangat baik, namun pada penderita diabetes memiliki kemungkinan
penglihatannya lebih buruk dibandingkan dengan yang tidak DM.
Operasi juga meningkatkan cepatnya seseorang mengalami retinopati
dan komplikasi terburuk pada penderita DM setelah operasi adalah
edema macula ditandai dengan penurunan tajam penglihatan, melihat
benda dengan ukuran lebih kecil atau lebih besar.

28

Selain pembedahan, terapi yang saat ini sedang dikembangkan


adalah Aldose-reductase Inhibitor (ARI) dan Antioksidan. Pada
beberapa penelitian yang didapatkan, bahwa dengan ARI, tikus odel
diabetes, katarak diabetikum dapat dicegah. Proses yang terjadi pada
katarak diabetikum secara tidak langsung merupakan akibat dari
kerusakan oksidatif sebagai akibat akumulasi poliol (sorbitol) sehingga
diharapkan antioksidan dapat bermanfaat. Salah satu antioksidan yang
bermanfaat adalah piruvat, yang mampu menghambat terbentuknya
katarak

melalui

mengurangi

pembentukan

sarbitol

dan

lipid

peroksidase dalam lensa.


Berbagai terapi memang telah banyak dikembangkan, namun
cara yang paling mudah dan tepat untuk mencegah katarak diabetikum
adalah dengan pola hidup sehat dan teratur.

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. KERANGKA TEORI

Diabetes
Mellitus

Hiperglikemia

Terjadi perubahan biokimia dalam lensa


yang menyebabkan terjadinya apoptosis
sel epitel lensa

Memicu penimbunan
sorbitol dan fruktosa dalam
lensa
Menyebabkan perubahan
osmosis pada lenda dan
peningkatan cairan intraseluler

Kekeruhan
Katarak

29

B. KERANGKA KONSEP
VARIABEL INDEPENDEN
(Variabel Bebas)
Diabetes
Mellitus :
Keterangan

VARIABEL DEPENDEN
(Variabel Terikat)
Katarak

: Variabel yang diteliti (Variabel Independen)


: Keterkaitan antar variabel
: Variabel yang diteliti (Variabel Dependen)
C. HIPOTESIS
H0 : Tidak adanya hubungan kadar gula darah yang tinggi pada pasien
Diabetes Mellitus terhadap kejadian Katarak di BKMM Sul-Sel.
.

Ha : Adanya hubungan kadar gula darah yang tinggi pada pasien Diabetes
Mellitus terhadap kejadian Katarak di BKMM Sul-Sel.

30

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. OBJEK PENELITIAN
a. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi
Objek pada penelitian ini adalah semua pasien katarak yang pernah
berobat di BKMM Sul-Sel tahun 2014 dengan riwayat adanya penyakit
Diabetes Mellitus.
Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2014 di
bagian rekam medic BKMM Sul-Sel untuk pengumpulan data, kemudian
analisis dan pengolahan data dilakukan akan pada bulan Desember 2014Januari 2015.
b. Populasi dan Sampel

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien kasus baru pada
tahun 2014 kemudian di rata-ratakan perbulan di BKMM Sul-Sel
tahun 2014 yaitu sebanyak 1144 orang.

Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah bagian dari jumlah populasi.
Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan metode slovin
dengan rumus (24)

31

Ket :
n = Jumlah Sampel
N = Jumlah populasi
e = batas toleransi kesalahan (error tolerance) 5%
n = N / ( 1 + N e ) = 1144 / (1 + 1144 x 0,05) = 296,37 296.
Dengan demikian, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 296
pasien.
B. METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian ini merupakan Cross Sectional Study
untuk mengetahui pengaruh kadar gula darah yang tinggi pada pasien DM
terhadap kejadian katarak dibalai kesehatan mata masyarakat dan juga
digunakan analisis terhadap data-data yang dikumpulkan.
C. VARIABEL PENELITIAN
Variabel dalam penelitian ini terdapat variabel independen (X) dan
variabel dependen (Y), variabel independen tersebut adalah diabetes
mellitus dimana aspek yang menjadi subjek yang akan dilakukan
penelitian sedangkan variabel dependen adalah katarak.
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Pengumpulan data pada

penelitian ini yaitu menggunakan data

sekunder dari hasil rekam medik pasien yang pernah berobat di BKMM SulSel tahun 2014.

E. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling,
dimana sampel diambil secara acak sebanyak 296 dari buku rekam medik
di BKMM Sul-Sel mulai dari bulan Januari sampai Desember tahun 2014

32

F. TEKNIK ANALISIS DATA


Analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi Lambda yang
menilai seberapa besar peranan penyakit diabetes melitus dalam
menimbulkan katarak. Kemudian, data disajikan dalam tabel 2x2.
G. ETIKA PENELITIAN

Dalam melaksanakan penelitian, peneliti mengajukan permohonan


izin untuk mendapatkan persetujuan. Kemudian dilakukan penelitian
kepada subjek yang dengan menekankan pasa masalah etika yang
meliputi:
1. Anonimity (Tanpa Nama)
Merupakan masalah etika dalam penelitian untuk menjaga
kerahasiaan identitas subjek pada lembar pengumpulan data.
2. Confidentially
Informasi atau data pasien yang diberikan petugas rekam medik
akan terjamin kerahasiaannya karena peneliti menggunakan
dengan kebutuhan penelitian.

BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Profil Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sul-Sel(25)


1. Sejarah Singkat
Balai Kesehatan Mata Masyarakat sebelum berbentuk Seksi Mata
dibawah koordinasi dan pengawasan Kanwil Departemen Kesehatan
33

Provinsi Sulawesi Selatan dikepalai oleh Prof.DR.drWaraouw,DSM yang


awalntya berlokasi di jl. Gunung Latimojong No.10 Makassar.
Dalam rangka pengembangan Pelayanan Kesehatan Mata, maka
pemerintah melalui SK Menkes RI No.350 a/Menkes/SK/VI/1991
melembagakan 12 UPT di bidang Kesehatan Masyarakat, salah satu
diantaranya adalah BKMM Prop. Sul-Sel diresmikan oleh Dirjen
Binkesmas Depkes RI Dr.Leimena, MPH di Gedung Baru Komp.
Kesehatan Bantang-Bantaeng, JL.Wijaya Kusuma Raya No.19 Makassar.
Pada tanggal 10 Januari 2006 BKMM Sul-Sel melakukan
kerjasama dengan bagian Ilmu Kesehatan THT FK-Unhas mengadakan uji
coba kesehatan THT ter[adu dengan dukungan dari Depkes RI, maka pada
tanggal 08 Mei 2006 kerjasama tersebut dikukuhkan secara resmi.
Sesuai peraturan Menkes No.1652/Menkes/Per/XII/2005 struktur
dan organisasi BKMM Makassar meningkat dari Eselon IIIb menjadi
Eselon IIIa dengan wilayah kerja meliputi 13 Provinsi, saat ini sudah
menjadi 15 Provinsi.
Sejak dari Seksi Kesehatan Mata sampai sekarang telah beberapa
kali pergantian pemimpin.
1. Prof.Dr.Dr.Waraouw,DSM tahun 1955 sampai dengan 1970
2. Prof.dr.Umar,DSM tahun 1970 sampai dengan 1982
3. dr.Robert Sutjiadi,DSM tahun 1982 sampai dengan 1992
4. dr.Samuel R.Dundu,DSM tahun 1992 sampai dengan 1995
5. dr.Ny.Hj.Rahasiah Taufik,DSM tahun 1995 sampai 2003
6. dr.Hamzah,Sp.M tahun 2003 sampai 2011
7. Dr.dr.Noor Syamsu,Sp.M (K) MARS M.Kes 2011 sampai sekarang.
Dengan berubahnya struktur organisasi di Eselon I di Kementerian
Kesehatan, BKMM Makassar yang sebelumnya berada dibawah Direktorat
Bina Kesehatan Mata Masyarakat (BINKESMAS), bergbaung ke
Direktorat Bina Upaya Kesehatan (BUK) dan pada tanggal 28 Februari

34

2011 menjadi Badan Layanan Umum berdasarkan Surat Keputusan


Menteri Keuangan No: 56/KMK.05/2011 dengan status PK-BLU penuh.
2. Visi dan Misi
Visi
BKMM Makassar menjadi Center of Excellent kesehatan mata
dan THT di wilayah Indonesia Timur
Misi
1. Membangun citra pelayanan prima, bermutu serta professional
2. Menjalin kemitraan dengan semua pihak
3. Melaksanakan Diklat dan Penelitian bidang kesehatan mata dan THT
3. Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas Pokok (Kepmenkes No.1652/MENKES/PER/XII/2005)
Pelayanan Kesehatan Mata
Pendidikan dan Pelatihan Teknis
Peningkatan Kemitraan di Bidang Kesehatan Mata
Fungsi
1. Pelayanan kesehatan mata masyarakat
2. Urusan tata usaha dan RT BKMM
3. Pencegahan timbulnya gangguan kesehatan mata
4. Pelayanan penunjang dibidang kesehatan mata masyarakat
5. Pemulihan dan peningkatan fungsi penglihatan dan kebutaan
6. Pelaksanaan rujukan kesehatan mata masyarakat
7. Diklat tenaga kesehatan
8. Penelitian dan pengembangan teknologi tepat guna
9. Pelaksanaan kemitraan dan sosialisasi kesehatan mata masyarakat.
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data secara acak dari
buku rekam medik (data sekunder) di BKMM Sul-Sel mulai dari bulan Januari
sampai Desember tahun 2014 dan diinterpretasikan melalui tabel-tabel
dibawah ini:
1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden pada penelitian ini terdiri dari jenis kelamin dan
kelompok umur responden yang dapat dilihat pada tabel berikut:
a. Jenis Kelamin
Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pasien Di
BKMM Sul-Sel Tahun 2014

35

Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan

N
144
152

%
48,6
51,9

Total

296

100

Sumber : Data Sekunder, BKMM 2014

Berdasarkan tabel 5.1 menunjukkan bahwa pada penelitian ini terdapat


144 (48,6%) orang yang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan
perempuan sebanyak 152 (51,4%) orang.
b. Umur
Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Pasien Di
BKMM Sul-Sel Tahun 2014
Kelompok Umur
20 tahun
21-40 tahun
41-60 tahun
61-80 tahun
>80 tahun
Total

N
9
32
117
128
10
296

%
30
10,8
39,5
43,2
3,4
100

Sumber : Data Sekunder, BKMM 2014

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan bahwa pada penelitian ini


responden paling banyak adalah yang berumur antara 61-80 tahun
sebanyak 128 orang (43,2%), sedangkan responden paling sedikit
adalah yang berumur kurang atau sama dengan 20 tahun yaitu hanya 9
orang (3,0%) dari total responden sebanyak 296 orang (100%).

2. Variabel yang diteliti


Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, pada penelitian ini
ada dua hal yang menjadi variabel untuk diketahui yaitu Diabetes Mellitus
(variabel bebas) dan Katarak (variabel terikat).
a. Diabetes Mellitus
Tabel 5.3

36

Disitribusi Responden Berdasarkan Kejadian Diabetes Mellitus


Pada Pasien Di BKMM Sul-Sel Tahun 2014
Riwayat DM
Diabetes mellitus
Normal
Total

N
52
244
296

%
17,6
82,4
100

Sumber : Data Sekunder,BKMM 2014

Dari tabel 5.3 dapat diketahui bahwa pasien yang menderita Diabetes
Mellitus sebanyak 52 orang (17,6%) lebih sedikit dibandingkan
dengan yang normal sebanyak 244 orang (82,4%).
b. Katarak
Tabel 5.4
Disitribusi Responden Berdasarkan Kejadian Katarak Pada
Pasien Di BKMM Sul-Sel Tahun 2014
Katarak
Katarak
Tidak Katarak
Total

N
152
144
296

%
51,4
48,6
100

Sumber : Data Sekunder , BKMM 2014

Dari tabel 5.4 dapat diketahui bahwa pasien yang menderita Katarak
sebanyak 152 orang (51,4%) lebih banyak dibangingkan dengan yang
tidak katarak sebanyak 144 orang (48,6%).

3. Hubungan Antar Variabel


a. Hubungan Antara Diabetes Mellitus Terhadap Kejadian Katarak
Tabel 5.5
Hubungan antara diabetes mellitus terhadap kejadian katarak
pada pasien di BKMM Sul-Sel tahun 2014
Diabetes
Melltius

Kejadian Katarak
Katarak
Tidak Katarak
n
%
n
%

Diabetes Mellitus 49
Normal
Total

94,2

103 42,2
152 51,4

Total
n

Total

5,8

52

100

141
144

57,8
48,6

244 100
296 100

0,000

Sumber : Data Sekunder, BKMM 2014

37

Berdasarkan Tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 52 orang (100%) yang


memiliki riwayat Diabetes Mellitus terdapat 49 orang (94,2%) yang
menderita Katarak dan 3 orang (5,8%) yang tidak menderita katarak.
Sedangkan dari 244 orang (100%) yang memiliki GDS normal
terdapat 141 orang (57,8%) yang tidak menderita katarak dan 103
orang (42,2%) yang menderita katarak.
Hasil uji statistik menggunakan uji chi-square didapatkan nilai P
sebesar 0,000, Nilai P lebih kecil dari (0,05) maka H 0 ditolak dan Ha
diterima, artinya ada hubungan antara diabetes mellitus dengan
kejadian katarak pada pasien BKMM Sul-Sel tahun 2014.
b. Hubungan Antara Jenis Kelamin Dengan Kejadian Katarak
Tabel 5.6
Hubungan antara jenis kelamin terhadap kejadian katarak pada
pasien di BKMM Sul-Sel tahun 2014
Jenis
kelamin
Laki-laki
perempuan
Total

Kejadian Katarak
Katarak
Tidak Katarak
n
%
n
%

82

53,9

62

43,1

144 100

70
152

46,1
100

82
144

56,9
100

152 100
296 100

Total

Total
0,061

Sumber : Data Sekunder, BKMM 2014

Berdasarkan Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 152 orang (100%)


yang menderita katarak terdapat 82 orang (53,9%) laki-laki dan 70
orang (46,1%) perempuan. Sedangkan dari 144 orang (100%) yang
tidak menderita katarak terdapat 62 orang (43,1%) dan 82 orang
(56,9%) perempuan.
Hasil uji statistik menggunakan uji chi-square didapatkan nilai
p-value sebesar 0,061, Nilai P lebih besar dari (0,05) maka H 0

38

diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada hubungan antara jenis


kelamin dengan kejadian katarak BKMM Sul-Sel tahun 2014.
c. Hubungan Antara Umur Dengan Kejadian Katarak
Tabel 5.7
Hubungan antara umur terhadap kejadian katarak pada pasien di
BKMM Sul-Sel tahun 2014

Umur
<21 thn
21- 40 thn
41-60 thn
61-80 thn
>80 thn
Total

Kejadian Katarak
Katarak
Tidak Katarak
n
%
n
%
0

8
65
72
7
152

25,0
55,6
56,3
70
100

24
52
56
3
144

100

Total
n

Total

100

75,0 32
44,4 117
43,8 128
30,0 10
100
296

100
100
100
100
100

0,020

Sumber : Data Sekunder, BKMM 2014

Berdasarkan Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 152 orang (100%)


yang menderita katarak terdapat 72 orang (56,3%) pada kelompok
umur 61-80 tahun dan 8 orang (25,0%) pada kelompok umur 21-40
tahun. Sedangkan dari 144 orang (100%) yang tidak menderita katarak
terdapat 56 orang (43,8%) pada kelompok umur 61-80 tahun dan 3
orang (30,0%) pada kelompok umur >80 tahun.
Hasil uji statistik menggunakan uji alternative

kolmogorov-

smirnov test didapatkan nilai p-value sebesar 0,020. Nilai p lebih kecil
dari (0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan
antara umur dengan kejadian katarak BKMM Sul-Sel tahun 2014.

39

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Hubungan Kadar Gula Darah Yang Tinggi Pada Pasien DM


Terhadap Kejadian Katarak
Pada penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan
gula darah yang tidak terkontrol dengan baik, katarak dapat terjadi
pada usia yang lebih muda. Diperkirakan bahwa proses terjadinya
katarak pada penderita diabetes mellitus adalah akibat penumpukan
zat-zat metabolism gula oleh sel-sel lensa mata. Dalam keadaan kadar
gula darah normal, penumpukan zat-zat sisa ini tidak terjadi. Bila
kadar gula darah meningkat, maka perubahan glukosa oleh aldose
reduktase menjadi sarbitol meniungkat. Selain itu perubahan sorbitol
menjadi fructose relative lambat dan tidak seimbang sehingga kadar
sorbitol dalam lensa meningkat. Disusun suatu hipotesa bahwa
sarbitol menaikkan tekanan osmose intraseluler dengan akibat
meningkatnya water uptake dan selanjutnya secara langsung maupun
tidak langsung terbentuklah katarak. Pengaruh klinis yang lama

40

kelamaan akan mengakibatkan terjadinya katarak lebih dini pada


pasien diabetes dibandingkan pada pasien non-diabetes.(23)
Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan

chi-square

didapatkan nilai p-value sebesar 0,000. Nilai p < (0,05) artinya


terdapat hubungan yang signifikan (bermakna) antara kedua variabel
yaitu terdapat hubungan antara kejadian diabetes mellitus terhadap
kejadian katarak.
Penelitian ini juga sesuai penelitian yang dilakukan oleh
Wardani (2008) di Jombang, tentang pengaruh tingginya kadar gula
terhadap kejadian katarak pada pasien diabetes mellitus di RSUD
Jombang tahun 2008,menunjukkan adanya hubungan antara kejadian
diabetes mellitus dengan kejadian katarak dengan hasil pengujian
regresi

r=0,177

dengan

p=0,045

ini

menunjukkan

adanya

keterhubungan antara kejadian diabetes mellitus dengan kejadian


katarak.(26)
Penelitian ini juga sesuai dengan studi klinik mengenai katarak
telah dilakukan oleh penelitian Wisconsin Epidemiologic Study of
Diabetic Retinopathy mengenai katarak dan menemukan insiden
katarak pada penderita diabetes melitus. Studi kohort oleh Beaver
Dam Eye Study juga menemukan adanya hubungan antara diabetes
melitus dengan pembentukan katarak. Studi ini menyatakan bahwa
insiden dan perjalanan penyakit katarak posterior subkapsular dan
kortikal berhubungan dengan diabetes.(2)

41

UK Prospektive Diabetes Study Group menyatakan bahwa


katarak diderita oleh sekitar 15% individu yang menderita diabetes
melitus tipe 2 dan sering ditemukan pada saat diagnosis ditegakkan.(2)
B. Hubungan Jenis Kelamin Terhadap Kejadian Katarak
Jenis kelamin erat kaitannya dengan katarak menurut ilyas
bahwa adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian katarak
yang kebanyakan di derita oleh perempuan ini di sebabkan perempuan
mengalami menoupose pada usia 45 tahun, sehingga mengakibatkan
kemampuan metabolisme dalam tubuh semakin berkurang dan terjadi
kerusakan pada jaringan tubuh.(3)
Hasil penelitian dilapangan pada tahun 2014 di Balai Kesehatan
Mata Masyarakat dengan meggunakan data sekunder, didapatkan
proporsi

laki-laki

lebih

banyak

menderita

katarak

dibanding

perempuan yaitu 28 orang (19,4%) sedangkan perempuan sebanyak 24


orang (15,8%).
Berdasarkan hasil penelitian ini laki-laki didapatkan frekuensi
terkena katarak lebih banyak daripada perempuan, ini bertolak
belakang dengan teori yang mengatakan sebaliknya. Ini disebabkan
karena pada hasil analisis dengan tabel silang antara jenis kelamin
dengan DM didapatkan laki-laki yang paling banyak mengalami DM
sehingga mempengaruhi distribusi laki-laki menderita katarak.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Cahyani (2006) di jogjakarta terhadap 71 pasien, kebanyakan
42

penderita adalah berjenis kelamin perempuan dengan besaran


perbandingan antara 57,7% berbanding 42,3%. Walaupun berdasarkan
pengujian tidak terdapat adanya hubungan yang bermakna antara jenis
kelamin dengan kejadian katarak, akan tetapi kejadian katarak lebih
didominasi pasien berjenis kelamin perempuan dan ini bias dikatakan
bahwa jenis kelamin juga berpengaruh terhadap kejadian katarak.(27)
C. Hubungan Umur Dengan Kejadian Katarak
Berdasarkan teori yang di kemukakan oleh istiantoro bahwa
proses degenerative mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh
karena terjadi penurunan kerja metabolisme dalam tubuh. Artinya
semakin bertambahnya usia seseorang maka resiko terjadinya penyakit
katarak semakin besar pula.(28)
Menurut teori Ilyas, usia katarak dapat diklasifikasikan dalam:
1. Katarak Kongenital, katarak yang sudah terlihat dibawah 1 tahun
2. Katarak Juvenile, katarak yang terjadi pada usia 1-50 tahun
3. Katarak Senil, katarak setelah usia diatas 50 tahun.
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan pada tahun 2014 di
Balai Kesehatan Mata Masyarakat dengan meggunakan data sekunder,
didapatkan penderita katarak terbanyak pada kelompok umur 61-40
tahun yaitu 72 orang (47,4 %) dan jarang terjadi pada kelompok umur
21-40 tahun yaitu 65 orang (42,8%) serta tidak terjadi pada kelompok
umur <21 tahun.
Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil penelitian oleh
Daliena (1998), didapatkan usia merupakan faktor yang penting dalam
43

pembentukan katarak Usia 40 tahun memiliki 9 kali berisiko untuk


menderita katarakdibandingkan dengan mereka yang lebih muda.
BAB VII
TINJAUAN KEISLAMAN

A. KAJIAN ISLAM TENTANG PENYAKIT DIABETES


MELLITUS
Dalam Islam, tuntutan kehidupan bersumber pada dua kiblat utama
yakni Al-Quran dan Al-Hadist. Demikian juga dengan pola makan sehat
dalam Islam tercantum berbagai aturan dan disebutkan sebagai salah satu
perintah untuk mensyukuri nikmat Allah dengan mengelolah sumber daya
alam dengan baik.(29)
Makanan sehat dalam Ilam sangatlah penting untuk diketahui hal
ini bukan hanya pada persoalan hukum halal atau haram makanan tapi
kandungan gizi dan efek kesehatan makanan terhadap tubuh.(29)
Sebagaimana Firman Allah yang terdapat dalam Al-Quran Surat
Al-Araf ayat 31 :

Artinya : Hai anak Adam, kenakan pakaianmu yang indah disetiap


memasuki masjid, makan dan minumlah dan jangan berlebih-lebihan.

44

Sesungguhnya Allah tidak menytukai orang yang berlebih-lebihan. (Q.S


Al-Araf:31)
Sesungguhnya pangkal penyakit kebanyakan bersumber dari
makanan. Maka tak heran jika Rasulullah memberikan perhatian besar
dalam masalah ini karena makanan yang sehat akan membuat tubuh sehat.
Dalam Al-Quran prinsip makanan sehatadalah halal thayiban dan tidak
berlebih-lebihan.(29)
Perubahan pola hidup dan pola makan yang berlebihan
menyebabkan gangguan metabolisme zat-zat makanan baik berupa
karbohidrat, protein dan lemak yang menyebabkan penyakit diabetes
melitus. Penyakit Diabetes Melitus merupakan penyakit degeneratif yang
sangat terkait pola makan. Pola makan merupakan gambaran mengenai
macam-macam, jumlah dan komposisi bahan makanan yang dimakan tiap
hari oleh seseorang.(30)
Pola makan seringkali dikaitkan dengan pengobatan karena
makanan merupakan penentu proses metabolisme pada tubuh kita. Pola
hidup sehat dan pola makan yang sehat dapat mencegah terjadinya
penyakit diabetes mellitus.(30)
B. KAJIAN ISLAM TENTANG INDERA PENGLIHATAN
Manusia diciptakan begitu sempurna melebihi segala jenis
makhluk lain yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Bahkan malaikat
sekalipun yang sering dianggap sebagai simbol makhluk paling mulia,
sebenarnya manusia lebih mulia dan sebaik-baik bentuk dan sempurna.

45

Diantara sekian banyak organ yang ada dalam tubuh manusia, ada tiga
organ utama yang amat penting perannya bagi keberlangsungan hidup
manusia, organ tersebut adalah telinga untuk mendengar, mata untuk
melihat dan hati.(31)
Setiap manusia yang terlahir ke dunia tidak memiliki pengetahuan
sedikit pun, setinggi apapun ilmu, pangkat dan derajat seseorang ketika
dilahirkan dalam keadaan sama belum memiliki ilmu dan tidak membawa
harta, namun Allah memberikan modal yang luar biasa besarnya, dengan
modal pendengaran, penglihatan dan hati manusia bisa memimpin
kehidupan dunia, dan dengan ketiga modal tersebut Allah menjadikan
manusia sebagai khalifah fil ard (pemimpin di muka bumi). Sebagaimana
firman Allah dalam Al-Quran Surah An-Nahl ayat 78:(31)

Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam


Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. AnNahl : 78)
Pendengaran, penglihatan dan hati merupakan anugrah serta
kenikmatan yang amat besar, Allah pun hanya meminta rasa syukur dari
kita. Syukur dengan cara menggunakan ketiga potensi tersebut secara
optimal serta dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif sesuai dengan

46

perintah Sang Pencipta. Mendengar berarti mencari informasi dan ilmu


pengetahuan baik yang sifatnya wahyu ataupun penemuan-penemuan
manusia

yang

sudah

menjadi

teori.

Melihat

berarti

meneliti,

memperhatikan segala fenomena yang terjadi baik pada diri manusia


ataupun alam semesta yang lebih luas. Hati merupakan proses perenungan
dan berfikir untuk memahami segala sesuatu dan menjawab setiap
pertanyaan yang muncul.(31)

47

BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan adanya
pengaruh kadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes mellitus
terhadap kejadian katarak di Balai Kesehatan Mata Masyarakat
Sulawesi Selatan tahun 2014 dan berdasarkan jenis kelamin ditemukan
bahwa penderita katarak lebih banyak terjadi pada laki-laki
dibandingkan perempuan serta prevalensi terjadinya katarak tersering
pada umur 41-60 tahun dikarenakan adanya faktor degeneratif.

B. Saran
1. Bagi penderita Diabetes Mellitus sebaiknya menjaga pola makan
agar gula darah dalam tubuh dapat tetap normal sehingga tidak
memicu terjadinya kejadian katarak.
2. Pada pasien katarak dengan riwayat diabetes mellitus sebaiknya
diberi perhatian khusus oleh dokter atau petugas kesehatan untuk rutin
melakukan follow pemerikasaan gula darah dan pemeriksaan mata.
3. Pengobatan katarak saat ini hanya bisa dilakukan dengan operasi.
Hal ini memerlukan fasilitas dan tenaga medis tambahan agar mampu
48

melayani jumlah pasien katarak mengingat prevalensinya sangat


tinggi.
4. Diharapkan pemerintah dapat memberikan bantuan dan kontribusi
untuk melakukan operasi katarak secara gratis bagi pasien yang tidak
mampu.
5. Memberikan inforasi berupa poster dan leaflet kepada masyarakat
tentang gejala, penyebab, dan tanda tanda terjadinya katarak.
6. Diharapkan kedepannya banyak klinisi yang dapat melakukan
penyuluhan kepada masyarakat guna meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang kesehatan mata sehingga meningkatkan kesadaran
untuk melakukan pemeriksaan diri, sehingga tidak terjadi penyakitpenyakit kom-plikasi lain yang berbahaya.

49

DAFTAR PUSTAKA

Sudoyo, W Aru, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadibrata


K, Siti Setiati (2009), Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM, Jilid III,

Edisi V, Jakarta: Interna Publishing


Pollreisz A. Effort US (2010) . Diabetic of Cataract: Pathogenesis,

Epidemiology and Treatment, Journal of Opthalmology


Ilyas, S (2010), Ilmu Penyakit Mata, Edisi Ketiga, Jakarta : Balai Penerbit

FKUI
Mariotti.SP (2010), Global Data on Visual Impainments 2010,

Swizerland : World Health Organization


Kementrian Kesehatan RI (2008), Gangguan Penglihatan masih menjadi
Masalah Kesehatan, sumber:
http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/845-gangguanpenglihatan-masih-menjadi-masalah.htm (diakses tanggal 3 Oktober

2014)
Balai Kesehatan Mata Masyarakat, (2010), Laporan Tahunan Penyakit
Mata Tahun 2007, 2008, 2009, 2010, BKMM Provinsi Sulawesi Selatan,

Makassar: 2011
Vaughan G. D. Asbury T, (2009), OPTHALMOLOGI UMUM, Jakarta:
EGC

Author are the staff member of news-medical.net. Catarak History.


http://www.news-medical.net/health/Catarak-History.aspx

acces

on

October, 3rd 2014. UK, Australia : 2013


9

Resnikoff S, pascolini D, moriotti P. S, pokharel P. P. (2008) global


magnitude of visual impartment cause by uncorrected refractive error in

50

2004. Bulletin of World Health Organization. Volume 86. Number 1.


U.S.A.
10 Tana, L, Delima, Antonius, K.Y, (2009), Peranan Penggunaan Bahan
Bakar terhadap Katarak pada Ibu Rumah Tangga di Indonesia, Pusat
Penelitian Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan
Pengembangan

Kesehatan,

Departemen

Kesehatan

RI,

Majalah

Kedokteran Indonesia, 59 (8) : 363-369


11 Rasyid, R, Nawi, R, Zulkifli, A.A, (2010), Faktor yang Berhubungan
dengan Kejadian Katarak di Balai Mata Masyarakat Makassar Tahun
2010. Sumber: http://www.repository.unhs.ac.id/hendle/12345679915672
(diakses tanggal 3 Oktober 2014)
12 Doqoua
JJ.
Natural
Cataract

Prevention.

Avaailable

at

http://www.truestarhealth.com/embers/m-archives07ml4p1A21.html
accesed August 20, 2004.
13 World Health Organization. Management of Cataract in Primary Health
Care Service. 2nd edition. Geneva, 1996. p1-2 )
14 Eye Disease. Complications of Diabetes Mellitus. Available at
http://wonder.cdc.gov/wonder/prevguid/p0000063/p0000063.asp
Accessed October, 20, 2004
15 Rizkawati, (2012). Skripsi : Hubungan Antara Kejadian Katarak dengan
Diabetes Mellitus di Poli Mata RSUD Dr. Soedarso. Pontianak:
Universitas Tanjungputa
16 Suparlan, (2009), Tesis : Asap Dapur sebagai Faktor Resiko Kejadian
Katarak pada Perempuan yang Memasak dalam Ruangan di Kabupaten

51

Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2009, Yogyakarta:


Universitas Gadjah Mada
17 Sinha,R, Kumar,C., Titiyal, J.S, (2009). Etiopathogenesis of Cataract :
Journal Review. Indian Journal of Opthalmology.57(3):249
18 Murril A.C, Stanfield L.D, Vanbrocklin D.M, Bailey L.I, Denbeste P.B,
Dilomo C.R, et all. (2004). Optometric clinical practice guideline.
American optometric association: U.S.A
19 Ilyas S, Yulianti S.R, (2013). Ilmu Penyakit Mata. Edisi Keempat. Hal
206-214. Jakarta:FKUI
20 Titcomb, Lucy C. Understanding Cataract Extraxtion, last update 22
November 2010
21 Vajpayee,

Rasik.

Chataract,

Juni

2008,

available

at

www.cera.unimelb.edu, last Update 22 November 2010.


22 Price, A Sylvia, Lorraine M.Wilson. (2012) Patofisiologi: Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit. Jakarta:EGC
23 Kador RF, Biochemistry of The Lens : Intermediary Metabolisme and
Sugar Cataract Formation, in : Albert DM, Jakobiec FA, Basic Science
Principles and Practice of Opthalmology, Phiiladelphia : WB Saunders
Co, 1994:146-61.
24 Sevilla, Consuelo G. et. al. (2001). Research Methods. Rex Printing
Company, Quezon City
25 Kementrian Kesehatan RI (2012),

Profil Balai Kesehatan Mata

Masyrakat Sul-sel. Makassar : Raih WTP

52

26 Wardani, Marta, Dwi2010. Pengaruh Tingginya Kadar Gula Darah


Terhadap Kejadian Katarak Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di RSUD
Jombang. 2010

27 Cahyani ,Enni. 2008. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian


katarak di Yokyakarta 2007. Skripsi:Fakultas Kedokteran UGM,
Yogyakarta: 2007
28 Istiantoro, (2012). Besar Risiko Penderita Katarak Berdasarkan Usia
Sumber

http://www.healthtoday.com./who/int/risk-factors-

cataract/index.html Update May 2012.


29 Kesehatan

Dalam

Perpektif

Islam.

Sumber:

http://smartjayamakassar.wordpress.com/2012/06/05/makalah-agamaislam-kesehatan-dalam-perspektif-islam/ (diakses tanggal 1 Februari


2015)
30 Sumangke, Kartika (2005). Tesis : Hubungaan Pola Makan dengan Kadar
Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus. Universitas Diponegoro,
Indonesia.
31 Pendengaran,

Penglihatan,

Hati,

dan

Syukur.

Sumber:

http://tahfidzforkids.blogspot.com/2010/05/pendengaran-penglihatanhati-dan-syukur.html (diakses tanggal 1 Februari 2015)

53

RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP
Nama : Nur Hikmah M.Jihad
Tempat,Tanggal Lahir : Ujung Pandang, 2 Oktober 1992
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Poros Galesong Utara, Kec.Galesong Utara, Kab. Takalar
Orang Tua :
Ayah : H.M.Jihad S.Sos
Ibu : Hj.St.Hasniah S.Pd

54

Saudara :
Afdhal M.Jihad
Al-Sahid M.Jihad
Nur Islamiah M.Jihad
Riwayat Pendidikan :
a. SD Impres Batu-batu (Lulus Tahun 2004)
b. SMP Neg. 15 Makassar (Lulus Tahun 2007)
c. Pesantren Modern Tarbiyah Takalar (Lulus Tahun 2010)
d. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar (2011Sekarang

LAMPIRAN LAYOUT HASIL PENGOLAHAN DATA


Frequency Table
Jenis Kelamin

Valid

Laki-Laki
Perempuan
Total

Frequency
144
152
296

Percent
48.6
51.4
100.0

Valid Percent
48.6
51.4
100.0

Cumulative
Percent
48.6
100.0

Kelompok Umur

Valid

<21 thn
21-40 thn
41-60 thn
61-80 thn
>80 thn
Total

Frequency
9
32
117
128
10
296

Percent
3.0
10.8
39.5
43.2
3.4
100.0

Valid Percent
3.0
10.8
39.5
43.2
3.4
100.0

Cumulative
Percent
3.0
13.9
53.4
96.6
100.0

55

Diabetes Mellitus

Valid

Diabetes Mellitus
Normal
Total

Frequency
52
244
296

Percent
17.6
82.4
100.0

Valid Percent
17.6
82.4
100.0

Cumulative
Percent
17.6
100.0

Kejadian Katarak
Frequency

Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Katarak

152

51.4

51.4

51.4

Tidak Katarak

144

48.6

48.6

100.0

Total

296

100.0

100.0

LAMPIRAN LAYOUT HASIL PENGOLAHAN DATA


Crosstabs

56

Diabetes Mellitus * Kejadian Katarak Crosstabulation

Diabetes
Mellitus

Diabetes Mellitus

Normal

Total

Kejadian Katarak
Katarak
Tidak Katarak
49
3

Count
% within
Diabetes Mellitus
% within
Kejadian Katarak
% of Total
Count
% within
Diabetes Mellitus
% within
Kejadian Katarak
% of Total
Count
% within
Diabetes Mellitus
% within
Kejadian Katarak
% of Total

Total
52

94.2%

5.8%

100.0%

32.2%

2.1%

17.6%

16.6%
103

1.0%
141

17.6%
244

42.2%

57.8%

100.0%

67.8%

97.9%

82.4%

34.8%
152

47.6%
144

82.4%
296

51.4%

48.6%

100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

51.4%

48.6%

100.0%

Chi-Square Tests

Pearson Chi-Square
Continuity Correction a
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

Value
46.428b
44.369
54.874
46.271

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
.000
.000
.000

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

.000

.000

.000

296

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
25.30.

Crosstabs

57

Jenis Kelamin * Diabetes Mellitus Crosstabulation

Jenis Kelamin

Laki-Laki

Perempuan

Total

Diabetes Mellitus
Diabetes
Mellitus
Normal
28
116
19.4%
80.6%

Count
% within Jenis Kelamin
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Jenis Kelamin
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Jenis Kelamin
% within Diabetes
Mellitus
% of Total

Total
144
100.0%

53.8%

47.5%

48.6%

9.5%
24
15.8%

39.2%
128
84.2%

48.6%
152
100.0%

46.2%

52.5%

51.4%

8.1%
52
17.6%

43.2%
244
82.4%

51.4%
296
100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

17.6%

82.4%

100.0%

Chi-Square Tests
Value

Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

3.511a

.061

3.089

.079

3.519

.061

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

.064
3.500

.039

.061

296

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 70.05.
b. Computed only for a 2x2 table

58

Jenis Kelamin * Kejadian Katarak Crosstabulation

Jenis Kelamin

Laki-Laki

Perempuan

Total

Kejadian Katarak
Katarak
Tidak Katarak
82
62
56.9%
43.1%

Count
% within Jenis Kelamin
% within Kejadian
Katarak
% of Total
Count
% within Jenis Kelamin
% within Kejadian
Katarak
% of Total
Count
% within Jenis Kelamin
% within Kejadian
Katarak
% of Total

Total
144
100.0%

53.9%

43.1%

48.6%

27.7%
70
46.1%

20.9%
82
53.9%

48.6%
152
100.0%

46.1%

56.9%

51.4%

23.6%
152
51.4%

27.7%
144
48.6%

51.4%
296
100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

51.4%

48.6%

100.0%

Chi-Square Tests
Value

Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

3.511a

.061

3.089

.079

3.519

.061

Fisher's Exact Test

.064

Linear-by-Linear Association
N of Valid Cases

3.500

.039

.061

296

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 70.05.
b. Computed only for a 2x2 table

Jenis Kelamin * Diabetes Mellitus Crosstabulation


Diabetes Mellitus
Diabetes

Total

Normal

Mellitus
Jenis Kelamin

Laki-Laki

Count

28

116

144

25.3

118.7

144.0

% within Jenis Kelamin

19.4%

80.6%

100.0%

% within Diabetes Mellitus

53.8%

47.5%

48.6%

9.5%

39.2%

48.6%

Expected Count

% of Total

59

Count

24

128

152

26.7

125.3

152.0

% within Jenis Kelamin

15.8%

84.2%

100.0%

% within Diabetes Mellitus

46.2%

52.5%

51.4%

8.1%

43.2%

51.4%

52

244

296

52.0

244.0

296.0

17.6%

82.4%

100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

17.6%

82.4%

100.0%

Expected Count
Perempuan

% of Total
Count
Expected Count
Total

% within Jenis Kelamin


% within Diabetes Mellitus
% of Total

Chi-Square Tests
Value

Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

.682a

.409

.453

.501

.682

.409

Fisher's Exact Test

.447

Linear-by-Linear Association

.680

N of Valid Cases

296

.250

.410

a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 25.30.
b. Computed only for a 2x2 table

60

Kelompok Umur * Diabetes Mellitus Crosstabulation

Kelompok
Umur

<21 thn

21-40 thn

41-60 thn

61-80 thn

>80 thn

Total

Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total
Count
% within Kelompok Umur
% within Diabetes
Mellitus
% of Total

Diabetes Mellitus
Diabetes
Mellitus
Normal
0
9
.0%
100.0%

Total
9
100.0%

.0%

3.7%

3.0%

.0%
2
6.3%

3.0%
30
93.8%

3.0%
32
100.0%

3.8%

12.3%

10.8%

.7%
30
25.6%

10.1%
87
74.4%

10.8%
117
100.0%

57.7%

35.7%

39.5%

10.1%
19
14.8%

29.4%
109
85.2%

39.5%
128
100.0%

36.5%

44.7%

43.2%

6.4%
1
10.0%

36.8%
9
90.0%

43.2%
10
100.0%

1.9%

3.7%

3.4%

.3%
52
17.6%

3.0%
244
82.4%

3.4%
296
100.0%

100.0%

100.0%

100.0%

17.6%

82.4%

100.0%

Two-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Frequencies
Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus
Kelompok Umur

Normal

52

Test Statisticsa

Total

Most Extreme Differences

244
296 Kelompok Umur

Absolute

.121

Positive

.121

Negative

-.099

Kolmogorov-Smirnov Z

.795

Asymp. Sig. (2-tailed)

.553

a. Grouping Variable: Diabetes Mellitus

61

KRITIK DAN SARAN

62