Anda di halaman 1dari 9

PERCOBAAN X

UJI ANGKA LEMPENG TOTAL


I. TUJUAN
Setelah melakukan praktikum mahasiswa diharapkan dapat menetapkan angka
cemaran bakteri yang terdapat dalam sediaan makanan, minuman, kosmetika, obat
atau obat tradisional.
II. PENDAHULUAN
Dalam berbagai makanan, minuman, kosmetika, sediaan obat, atau obat
tradisional yang telah melewati proses produksi dan dinyatakan steril belum tentu
bebas dari kontaminan terutama bakteri yang berukuran kecil (mikroskopis).
Produk yang tercemar mikroorganisme dapat memproduksi racun yang dapat
menyebabkan timbulnya suatu penyakit.
Faktor yang mempengaruhi kerusakan akibat mikroorganisme adalah ukuran
mikroorganisme, tipe mikroorganisme, pH, kandungan kelembapan, kadar air,
potensial redoks, struktur fisik, keberadaan gas O 2 dan CO2, keberadaan substansi
antimikroba alami, faktor nutrisi, dan desain pengepakan.
Obat berbentuk padat seperti tablet, kapsul, atau serbuk memiliki daya tahan
lebih lama dibandingkan obat berbentuk cairan. Perubahan yang terjadi pada obat
yang berbentuk cair kadang mudah diamati, misalnya obat cairan dari antibiotik
tetrasiklin diketahui telah rusak dari perubahan warna menjadi coklat kehitaman.
Selain dari perubahan warna, dapat diamati dari kelarutan obat. Apabila setelah
dikocok obat tidak dapat tercampur dengan baik maka obat tersebut dapat
dikatakan rusak. Obat berbentuk salep mudah diamati dari perubahan warna yang
terjadi, umumnya salep yang rusak akan berubah warna menjadi semakin tua.
(Pelczar, 1986).
Sedangkan cara menilai dan mendeteksi apakah suatu obat tradisional sudah
rusak dapat dilihat dari perubahan warna, bentuk (pecah, terdapat kristal, lembap),
rasa, bau, dan penguraian yang terjadi. Kelembapan umumnya sangat
mempercepat perubahan dan kerusakan obat. Sehingga harus diperhatikan cara
penyimpanan obat yang tertera pada etiket.
Dampak dari obat yang rusak adalah penurunan daya terapi, bahkan
menyebabkan efek yang membahayakan kesehatan. Kandungan senyawa aktifnya
dapat teroksidasi atau terurai membentuk senyawa lain yang mungkin bersifat lebih
toksik atau lebih beracun dibandingkan zat aslinya. Kerusakan ini dapat berupa
adanya biodegradasi ataupun biosintesis (biodegradasi protein, biodegradasi
karbohidrat, serta biodegradasi lemak dan minyak). (Pratiwi, 2008).
Pengujian cemaran mikroorganisme dalam sediaan obat tradisional meliputi
Uji Angka Lempeng Total (ALT) bakteri, Uji Angka Kapang/Khamir (AKK), serta Uji
Most Probability Number (MPN) untuk menguji adanya cemaran mikroorganisme

koliform dan uji cemaran mikroorganisme patogen seperti Eschericia coli,


Salmonella
sp,
Pseudomonas
aeruginasa,
Staphylococcus
aureus,
dan
mikroorganisme patogen yang lain.
Uji angka lempeng total merupakan metode yang umum digunakan untuk
menghitung adanya bakteri yang terdapat dalam sediaan yang diperiksa. Pada uji
angka lempeng total dapat dilakukan dengan dua teknik, yaitu :
1. Teknik cawan tuang (Pour Plate)
Pada teknik ini, media cair dituang ke cawan petri yang telah diberi
suspensi sampel yang akan diuji. Teknik ini sederhana karena cukup
menuang suspensi sampel yang diuji, menuangkan media, lalu
menggoyangkan petri agar rata atau homogen dengan sendirinya.
Keuntungan metode ini adalah dapat mendapatkan suspensi koloni
yang homogen, tidak memerlukan keahlian khusus dalam
pelaksanaannya, dan tidak memerlukan spreader glass untuk
meratakan medianya. Kerugiannya, teknik ini hanya cocok untuk
bakteri yang tahan pemanasan karena ada proses penuangan
media cair yang terjadi pada suhu 40 0C, dan sampel yang
digunakan jumlahnya lebih banyak daripada teknik cawan sebar.
2. Teknik sebaran (Spread Plate)
Pada teknik ini, media cair dituang ke cawan petri dan ditunggu
hingga memadat. Suspensi kemudian diletakkan pada permukaan
media menggunakan spreader glass. Penggunaan spreader glass
perlu diperhatikan agar suspensi sampel merata namun tidak
merusak media. Keuntungan dari metode ini adalah cocok untuk
segala macam bakteri termasuk bakteri yang tidak tahan terhadap
pemanasan, sampel yang digunakan lebih sedikit, seta
memudahkan dalam perhitungan karena sampel ada di permukaan
media. Sedangkan kerugian dari teknik ini adalah menggunakan
banyak alat seperti spreader glass, dan membutuhkan keahlian
khusus terutama saat meratakan sampel. Jika kurang sempurna
koloni tidak akan tumbuh merata sehingga sulit diamati dan sulit
dihitung jumlah koloninya. Prinsip perhitungan bakteri dengan
spread plate adalah meratakan bakteri yang terdapat di dalam
sampel dengan volume tertentu diatas media yang sesuai.
Kedua teknik tersebut pada prinsipnya dilakukan pengenceran
terhadap sediaan yang diperiksa, kemudian dilakukan penanam pada media
lempeng agar. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada lempeng akan
dihitung setelah dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai.
Perhitungan dilakukan terhadap petri dengan jumlah koloni bakteri antara 30-

300. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni bakteri hasil
perhitungan dikalikan dengan faktor pengenceran.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat
1.
2.
3.
4.
5.

10 petri
6 tabung reaksi
Labu Erlenmeyer
15 blue tip
Gelas ukur 10 mL

Bahan
1. Sampel yang diperiksa (serbuk jamu habbatus sauda)
2. Medium plate count agar (PCA) dan larutan fisiologis teril
IV. CARA KERJA
Ditimbang 1 ram sampel yang akan diperiksa, dilarutkan dalam 10 mL
larutan pengencer
Dilakukan penenceran hingga 10-5
Dituang 1 mL suspensi hasil pengenceran pada cawan petri
Dituang medium PCA yng telah disterilka (40C) ke dalam seetiap cawan
petri
Direplikasi 1 kali
Diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam dalam posisi terbalik
Dihitung koloni baktei yang tumbuh pada cawan petri, dihitung angka
lempeng totalnya

V. Data Pengamatan
Gambar

Pengenceran
10-1

Jumlah koloni
57

36

10-2

12

10-3

10-4

10-4

10-5

10-5

Perhitungan
1.
2.
3.
4.
5.

Konsentrasi 10-1, ALT = 360, 570


Konsentrasi 10-2, ALT = Konsentrasi 10-3, ALT = Konsentrasi 10-4, ALT = Konsentrasi 10-5, ALT = -

ALT rata-rata dari konsentrasi 10-1 ,10-2, 10-3, 10-4, 10-5 adalah.
VI. Hasil Pengamatan
Perhitungan
Rumus perhitungan angka lempeng total :

1
faktor pengenceran
gram sampel

jumlah koloni
ALT =

Hanya pada pengenceran 10-2 yang masuk dalam rentang 30 300


koloni, yaitu sejumlah 36 dan 57 koloni. Sehingga ALTnya dapat dihitung
sebagai berikut :

1
101
ALT =
=3 6,0 101
1 gram
36

Hasil perhitungan yang didapat adalah


3 6,0 102 kurang
sehingga data memenuhi aturan Departemen Kesehatan RI.
Pada replikasi, didapat ALT sebagai berikut

dari

106 ,

dari

106 ,

1
101
ALT =
=57 , 0 1
1 gram
57

Hasil perhitungan yang didapat adalah


57 , 0 102 kurang
sehingga data memenuhi aturan Departemen Kesehatan RI.

VII. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan cemaran bakteri yang
terdapat dalam makanan, minuman, kosmetika, obat atau obat tradisional. Uji
angka lempeng total merupakan metode umum yang digunakan untuk
menghitung adanya bakteri yang terdapat pada sediaan yang diperiksa.
Dalam berbagai sediaan tersebut, walaupun dinyatakan steril, tetapi belum
tentu bebas dari kontaminan terutama bakteri yang berukuran mikroskopis.
Maka itu, perlulah diketahui jumlah bakteri dan apakah jumlah koloni bakteri
dalam sediaan tersebut memenuhi aturan Departemen Kesehatan RI yaitu
kurang dari 106 jumlah angka lempeng totalnya. Jika jumlah koloni kurang dari
angka tersebut, sediaan dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi, tetapi jika
lebih dari 106 sangat mungkin akan menimbulkan masalah kesehatan bila
dikonsumsi karena sediaan tersebut mengandung banyak bakteri.
Uji ini dilakukan dengan melakukan pengenceran terhadap sediaan yang
diperiksa kemudian dilakukan penanaman pada media lempeng agar. Jumlah
koloni bakteri yang nantinya tumbuh pada lempeng agar dihitung setelah
inkubasi pada suhu dan waktu yang sesuai, yaitu pada suhu 37 o C dan selama
18 - 24 jam, dan dilakukan pada posisi terbalik agar air atau uap airnya
menempel di bagian tutup petri dan tidak membasahi permukaan media.
Permukaan media yang basah maka akan dapat mengganggu pertumbuhan
koloni bakteri. Selanjutnya dilakukan perhitungan terhadap jumlah koloni yang
tumbuh dalam petri. Angka lempeng total dinyatakan sebagai jumlah koloni
bakteri hasil perhitungan dikali faktor pengenceran.
Pada praktikum ini digunakan sedian serbuk dari kapsul jamu Royal Fit
Natural Supplement yang memadukan biji habbatus sauda ( jintan hitam )
dengan tanaman obat trandisional berkhasiat lainnya. Dipilih sediaan jamu

karena produk jamu merupakan produk yang sangat rentan terhadap tumbuhnya
cemaran bakteri, karena jamu berasal dari alam.
Pada percobaan ini dipilih metode cawan tuang (pour plate), yaitu dengan
melakukan pengenceran terhadap sediaan yang akan diperiksa. Pengenceran ini
bertujuan untuk memperkecil populasi mikroba atau mempersempit daerah/
area uji sehingga koloni bakteri yang dihasilkan tidak menumpuk/ terlalu banyak.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menimbang sampel jamu yang
diperiksa sebanyak 1 gram lalu dilarutkan dalam 10 ml larutan saline. Laruten
saline adalah larutan yang mengandung 0,9% NaCl (larutan fisiologis).
Penggunaan saline sebagai pelarut karena saline memiliki pH dan tekanan yang
sesuai dengan kondisi pertumbuhan bakteri, sehingga bakteri tidak mati.
Campuran dihomogenkan dalam tabung reaksi dengan penggojokan, kemudian
1 ml dari larutan campuran tersebut diambil dan dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang berisi 9 ml larutan saline sehingga didapatkan pengenceran 101 .
Pengenceran terus dilakukan sampai didapatkan tingkat pengenceran 105
(lima kali). Semua pekerjaan ini dilakukan dengan teknik aseptis di dalam LAF.
Setelah itu, diambil sebanyak 1 ml dari masing-masing pengenceran lalu
dituangkan ke cawan petri dan ditambahkan media PCA (Plate Count Agar) yang
sebelumnya telah disterilkan, dipanaskan hingga mencair. Sebelum dituangkan
ke cawan petri, tunggu terlebih dahulu sampai suhunya turun menjadi 40 C,
agar bakteri tidak mati karena suhu yang terlalu panas dan media tidak terlalu
dingin supaya tidak menjendal ketika dituangkan pada sampel. Jika media
menjendal ketika dituangkan, maka sampel tidak dapat tercampur dengan
homogen. Ketika penuangan media, tutup petri tidak perlu sampai dibuka semua
karena akan memperbesar kemungkinan masuknya bakteri lain dari udara,
walaupun kerja sudah dilakukan aseptis di dalam aseptis desk.
Pada percobaan ini, digunakan 1 cawan petri untuk kontrol media, yaitu
cawan petri yang hanya berisi media saja tanpa ada sampel. Hal ini dilakukan
untuk memastikan bahwa jika ada bakteri yang tumbuh pada petri yang diberi
sampel, adalah tidak berasal dari media yang digunakan. Media dituang, lalu
cawan petri digoyang-goyangkan supaya rata dan tercampur homogen dengan
sampel. Kemudian petri ditutup, antara wadah dan tutup petri diisolasi untuk
menghindari masuknya kontaminan kemudian diinkubasi pada suhu 37 C
selama 18 - 24 jam. Suhu ini merupakan suhu optimum bagi banyak
pertumbuhan bakteri, yaitu sama seperti suhu tubuh karena bakteri-bakteri ini
biasanya hidup dalam tubuh manusia. Saat diinkubasi, cawan perti dibalik
supaya tidak lembab.Setelah 18-24 jam, dilakukan pengamatan dan koloni yang
terbentuk dihitung. Tetapi pada percobaan ini, koloni belum dapat terbentuk
dalam 24 jam, melainkan setelah beberapa hari ( 3 hari ), barulah koloni
terbentuk.
Medium yang digunakan adalah PCA (Plate Count Agar) yang memiliki
komposisi tiap liternya yeast ekstrak 2,5 gram; pepton dari kosein 5,0 gram; D
(+) glukosa 1,0 gram; dan agar 14,0 gram. pH dari media ini adalah 7,0. Yeast
merupakan sumber vitamin B, nitrogen, dan senyawa karbon. Sedangkan pepton

adalah sumber nitrogen organik juga mengandung vitamin dan karbohidrat.


Glukosa merupakan sumber gula dan karbohidrat. Agar hanya sebagai pembeku,
diperoleh dari Algae Marine tertentu (Red Alga). Medium yang baik harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Susunan makanan harus memenuhi untuk pertumbuhan bakteri seperti
nitrogen, sumber karbon.
Tekanan osmose harus isotonis.
Derajat keasaman (pH) relatif netral.
Temperatur inkubasi sekitar 37 C.
Sterilitas harus terjaga dengan mengerjakannya secara aseptis.
Dari hasil pengamatan, data yang dimasukkan hanya satu data saja
yaitu, didapat data bahwa pada media sampel dengan pengenceran 101
dengan jumlah koloni yang ada di media adalah 36 dan 57 koloni. Sedangkan
jumlah koloni pada pengenceran yang lain tidak ikut dimasukkan karena
jumlahnya tidak masuk dalam range 30 300 koloni, media-media tersebut
ditumbuhi <30 koloni. Pada cawan petri pada seri pengenceran yang lain juga
didapati kontaminan pada sediaan yang diamati sehingga menyulitkan
pengamatan dan penghitungan jumlah koloni.
Tujuan dari dilakukannya pengenceran supaya jumlah koloni tidak terlalu
banyak sehingga dapat masuk rentang antara 30-300 koloni. Menurut teori,
pengenceran terbesar memiliki koloni terbesar, begitu juga sebaliknya.
Data yang diambil untuk pehitungan ALT (Angka Lempeng Total) adalah
data dari pengenceran 101 karena jumlah koloni yang ada didalamnya yaitu
36 koloni (ada diantara rentang 30-300 koloni), dan replikasinya yaitu 57 koloni.
Dari hasil perhitungan didapat ALT pada pengenceran
101 sebesar 3
b.
c.
d.
e.

6,0 101

dan replikasinya sebesar 57 , 0 101 , hasil ini kurang dari 106


sehingga memenuhi aturan jumlah ALT dari Departemen Kesehatan RI. Namun,
produk antimikroba yang digunakan, yaitu kapsul jamu Habatus Sauda, sudah
kadaluarsa sehingga seharusnya data yang didapat lebih dari aturan jumlah ALT
dari Departemen Kesehatan RI.
Suatu produk makanan, obat, obat tradisional (jamu) dikatakan rusak
secara mikrobiologi apabila terdapat metabolit yang bersifat toksik, konsentrasi
tinggi mikroorganisme yang berpotensial patogen, dan secara fisik maupun
kimia ditandai oleh perubahan bentuk, warna, rasa, dan bau. Zat pengawet
dapat digunakan dengan ketentuan tidak toksik atau tidak iritatif, mampu
membunuh kontaminan, stabil dan aktif, serta selektif dan tidak bereaksi
dengan bahan.
VII.

KESIMPULAN
1. Uji angka lempeng total merupakan metode umum yang digunakan untuk
menghitung adanya bakteri yang terdapat pada sediaan yang diperiksa.
2. Pada percobaan ini digunakan sediaan serbuk dari kapsul jamu karena
produk jamu merupakan produk yang sangat rentan terhadap tumbuhnya

cemaran bakteri, karena jamu berasal dari alam, namun jamu yang
digunakan sudah kadaluarsa.
3. Metode yang digunakan adalah metode cawan tuang atau pour plate.
4. Dari hasil perhitungan didapat ALT pada pengenceran 101 sebesar 3

6,0 101
106

dan replikasinya sebesar 57 , 0 101 , hasil ini kurang dari

sehingga memenuhi aturan jumlah ALT dari Departemen Kesehatan

RI yaitu tidak boleh lebih dari


VIII.

106 .

DAFTAR PUSTAKA
Bonang,G., 1987, Mikrobiologi Kedokteran untuk Laboratorium dan Klinik,
Gramedia, Jakarta
Jawetz dkk, 2001, Mikrobiologi Kedokteran Edisi IV, Depkes RI, Jakarta
T. Pratiwi, Sylvia, 2008, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, Jakarta