Anda di halaman 1dari 21

ISOLASI DAN PEMURNIAN MIKROBA

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

OLEH :

NAMA : AYU MAULIDA PUTRI


NIM : H1E107001
KELOMPOK : 10 (SEPULUH)
ASISTEN : DESY FITRIYANI

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARBARU

OKTOBER, 2009
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Populasi mikroba di alam sekitar kita sangat besar dan komplek. Beratus-

ratus spesies berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam bagian tubuh

kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Sebagai contoh, sekali bersin

dapat menyebarkan beribu-ribu mikroorganisme. Satu tinja dapat mengandung jutaan

bakteri (Pelczar, 1986).

Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba

tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.

Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu

sel tunggal (Pelczar, 1986).

Pekerjaan memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang

baru harus dilakukan secara teliti. Terlebih dahulu harus diusahakan agar semua alat-

alat yang ada sangkut pautnya dengan medium dan pekerjaan inokulasi itu benar-

benar steril. Hal ini untuk menghindari kontaminasi, yaitu masuknya

mikkroorganisme yang tidak diinginkan (Budiarti, 2009).

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari teknik-teknik isolasi

mikroba dan pemurniannya.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bakteri tersebar sangat luas baik ditanah, air dan udara, bila hendak

mengisolasi bakteri dari tanah/ benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut,

atau zat cair lain, maka dilakukan serangkaian pengenceran (dilution series) terhadap

zat tersebut. Sumber isolat dari bakteri benda yang liat atau padat, misatnya daging

maka zat tersebut dihancurkan terlebih dahulu. Terhadap bakteri yang hanya terdapat

dipermukaan maka pengenceran dilakukan terhadap air tempat zat tersebut

dicelupkan/ direndam. Dan jika bakteri hendak diisolasi dari udara, cukup dengan

membuka cawan Petri yang berisi media agar steril beberapa saat.

Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba

tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.

Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu

sel tunggal (Pelczar, 1986).

Kultur murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu

untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri

cultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang

terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993). Sifat organisme

dalam suatu biakan murni dapat dipelajari dengan metode yang amat keras dengan

hasil yang sangat akurat karena pengaruh sel hidup yang lain dapat ditiadakan (Volk,

1993).

Terdapat beberapa cara untuk mencegah masuknya mikroorganisme yang

tidak diinginkan dan untuk menanam suatu species yaitu :


1. Penanaman dengan penggoresan

Merupakan cara rutin yang dipakai untuk mengasingkan mikroba agar

didapatkan biakan murni.

2. Penanaman lapangan

Dilakukan dengan membasahi seluruh permukaan lempeng agar

dengan suspensi mikroba.

Cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan biakan murni terdapat

beberapa, yaitu :

1. Pengenceran

2. Penuangan

3. Penggesekan

4. Single cell isolatiom

5. Inokulasi hewan (Budiarti, 2009)

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan isolasi mikroba

yaitu:

1. Sifat setiap jenis mikroba yang akan diisolasi

2. Tempat hidup atau asal mikroba tersebut

3. Medium pertumbuhan yang sesuai

4. Cara menginokulasi mikroba

5. Cara menginkubasi mikroba

6. Cara menguji bahwa mikrobia yang diisolasi telah berupa kultur

murni dan sesuai dengan yang dimaksud

7. Cara memelihara agar mikrobia yang telah diisolasi tetap merupakan

kultur murni
Penggunaan media bukan hanya untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan

mikroba, tetapi juga untuk tujuan-tujuan lain, misalnya untuk isolasi, seleksi,

evaluasi, dan deferensiasi biakan yang didapatkan. Artinya penggunaan beberapa

jenis zat tertentu yang mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan

perkembangbiakan mikroba, banyak dilakukan dan dipergunakan. Sehingga tiap-tiap

media mempunyai sifat (spesifikasi) tersendiri sesuai dengan maksudnya (Baker,

1986).

Bakteri adalah salah satu contoh mikroorganisme yang penting dan memiliki

bentuk yang beragam. Pada umumnya bakteri berhubungan dengan makanan.

Adanya bakteri dalam bahan pangan dapat mengakibatkan pembusukan yang tidak

diinginkan atau menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui makanan atau dapat

melangsungkan fermentasi yang menguntungkan (Buckle, 1987).

Dilakukan serangkaian pengenceran terhadap zat tersebut untuk mengisolasi

bakteri dari tanah/benda padat yang mudah tersuspensi atau terlarut atau zat cair.

Misalnya suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam

suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain

(Dwidjoseputro, 1994). Pertumbuhan bakteri pada medium agar pada umumnya

berbentuk koloni berupa lendir dan mengkilap. Pemurnian dengan suhu inkubasi

30ºC selama 2 x 24 jam (Cappuccino & Sherman, 1983).

Selain bakteri, di alam masih terdapat mikroorganisme lain seperti khamir

dan fungi. Khamir termasuk fungi, tetapi dapat dibedakan dari kapang karena

bentuknya yang uniseluler, dan memiliki ukuran 5 dan 20 mikron (Fardiaz, 1992).

Biasanya berukuran 5 sampai 10 kali lebih besar dari bakteri. Sumber khamir
terutama terdapat pada daun-daun, bunga-bunga, eksudat dari tanaman, buah lewat

masak, tanah kebun buah, serta khamir yang banyak di jual dipasaran.

Khamir/yeast dapat tumbuh dalam media cair dan pada dengan cara yang

sama dengan bakteri. Penampakan pada medium akan tampak seperti koloni bakteri,

hanya saja koloninya tidak mengkilap (Buckle, 1987).

Fungi/kapang sangat berlawan dengan bakteri dan khamir/yeast, seringkali

dapat dilihat oleh mata. Bentuk khas yang dimiliki oleh kapang adalah adanya

filamen (miselium) (Fardiaz, 1992). Inilah yang membedakannya dengan

mikroorganisme lainnya.

Fungi mempunyai bentuk seperti kapas dan biasanya terlihat pada kertas-

kertas koran basah, kulit yang sudah usang, dinding basah, buah-buahan yang

membusuk dan bahan pangan lain seperti keju dan selai. Sumber fungi hampir sama

dengan bakteri, hanya saja perbedaannya populasi fungi di air lebih sedikit dan fungi

lebih menyukai pH lingkungan yang rendah (Buckle, 1987). Pemurniannya dengan

suhu inkubasi 28ºC selama 2 x 24 jam.

Pengukuran kuantitatif populasi suatu mikroba dapat dilakukan dengan

penentuan jumlah sel dan penentuan massa sel (Fardiaz, 1992). Ada berbagai macam

cara untuk mengukur jumlah sel antara lain dengan hitungan cawan, hitungan

mikroskopis langsung, atau dengan alat colony counter (Hadioetomo, 1993).


BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 5 Oktober 2009

bertempat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas MIPA Unlam Banjarbaru.

3.2 Alat dan Bahan

Alat – alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah tabung reaksi steril,
cawan petri steril, vortex mixer, ependorp pipet, pipet volumetric, kertas label,
holly stick, jarum inokulasi, labu erlenmenyer, karet gelang, waterbath,
inkubator, lampu spritus, aluminium foil, kapas.
Bahan - bahan yang digunakan adalah medium nutrient agar (NA), alkohol
70%, spritus, aquadest/larutan fisiologis steril, sumber bakteri, media PDA,
bayklin.

3.3 Prosedur Kerja

Isolasi dan Pemurnian Bakteri

1. Dibuat medium Nutrient Agar

2. Dimasukkan sebagian ke dalam tabung reaksi @ 5 ml

3. Dimasukkan sebagian ke dalam labu erlenmeyer

4. Disterilkan pada 121oC selama 15 menit.

5. Dibuat serangkaian pengenceran sampel 101-105

6. Disuspensikan ke dalam cawan petri steril sebanyak 1 ml dari pengenceran

tertinggi

7. Diratakan pada dasar cawan dengan menggoyangnya


8. Dituang 10-15 ml sampel agar bersuhu 45oc

9. Digoyang membentuk angka 8

10. Dibiarkan hingga memadat

11. Diinkubasi terbalik pada 30oc selama 24 jam

12. Dimurnikan secara goresan koloni yang terpisah

13. Dipindah ke media agar miring

Isolasi dan Pemurnian Yeast / Khamir

1. Dibuat medium PDA

2. Dimasukkan sebagian ke dalam tabung reaksi @ 5 ml

3. Dimasukkan sebagian ke dalam labu erlenmeyer

4. Disterilkan pada 121oC selama 15 menit.

5. Dibuat serangkaian pengenceran sampel 101-105

6. Dimasukkan dari pengenceran tertinggi 1 ml suspensi khamir ke dalam

cawan petri steril

7. Diratakan pada dasar cawan dengan menggoyangnya

8. Dituang cawan-cawan yang berisi suspensi dengan 10-15 ml dengan media

PDA bersuhu 45 oC

9. Dibiarkan hingga memadat

10. Diinkubasi terbalik pada 30oC selama 2x24 jam

11. Dimurnikan secara goresan koloni yang terpisah

12. Dipindah ke media agar miring


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil yang dapat diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

Table 1. Hasil Praktikum


Tabel 1.1 Sampel Air Kemasan (1x24 jam)

No. Gambar Konsentrasi Jumlah Koloni

1.

10-2(1) 1

2.

10-2(2) 8

3.

10-3(1) 3

4.

10-3(2) 2
Tabel 1.2 Sampel Air Sumur (1x24 jam)

No. Gambar Konsentrasi Jumlah Koloni

1. 10-4(1) -

2. 10-4(2) -

3. 10-5(1) -

4.

10-5(2) 1

5.

10-6(1) 2

6. 10-6(2) -

Tabel 1.3 Sampel Air Ledeng (1x24 jam)

No. Gambar Konsentrasi Jumlah Koloni

1.

10-4(1) 1

2.
10-4(2) -
3.

10-5(1) 16

4.
10-5(2) 29

5.
10-6(1) 12

6.
10-6(2) 9

Tabel 1.4. Sampel Tanah Kebun (2x24 jam)

No. Gambar Konsentrasi Jumlah Koloni


1.

10-4(1) -

2.

10-4(2) 2
3.

10-5(1) -

4.

10-5(2) -

5.

10-6(1) -

6.

10-6(2) rusak

Table 1.5 Sampel Tanah Dekat Sampah (2x24 jam)

No. Gambar Konsentrasi Jumlah Koloni

1.

10-4(1) 3
2.

10-4(2) 2

3.

10-5(1) 2

4.

10-5(2) -

5.

10-6(1) -

6.

10-6(2) Rusak
4.2 Pembahasan

Pengisolasian merupakan suatu cara untuk memisahkan atau memindahkan

mikroba tertentu dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan

murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan

dari satu sel tunggal.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengisolasi mikroba antara

lain dengan cara goresan (streak plate), cara tuang atau taburan (pour plate), cara

pengenceran (dilution method), serta micromanipulator.

Beberapa teknik ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada

teknik pengenceran, apabila kita hanya mengambil 1 ml, kemungkinan akan di dapat

satu koloni saja, tetapi apabila kita tidak yakin dengan koloni tersebut kita dapat

melakukan pengenceran ulang. Piaraan murni yang dihasilkan akan lebih terjamin

apabila kita melakuka isolasi dengan penuangan. Dimana metode ini yaitu dengan

mengambil sedikit sampel campuran bakteri yang sudah diencerkan dan sampel itu

kemudian disebarkan di dalam suatu medium. Dulu digunakan medium kaldu atau

gelatin, sekarang digunakan dengan medium agar. Metode dengan penggesekan,

sekarang banyak digunakan karena hemat waktu, tetapi bakteri anaerob tidak dapat

tumbuh. Dengan metode micromanipulator, kita memerlukan kesabaran dalam

pengerjaannya selain itu harganya sangat mahal, tetapi dengan menggunakan alat

micromanipulator ini kita dapat dapat memungut satu bakteri dari sekian banyak,

dengan tiada ikut sertanya bakteri lain.

Percobaan kali ini digunakan beberapa sampel tanah dan air. Teknik yang

digunakan dalam pengisolasiannya adalah metode tuang untuk sampel air dan

metode sebar untuk sampel tanah. Sampel yang digunakan adalah air ledeng, air
sumur, air kemasan, tanah kebun dan tanah dekat sampah. Pertama-tama dilakukan

pengenceran beberapa kali terhadap sampel yang digunakan. Kemudian disebarkan

ke dalam media. Untuk air menggunakan media Nutrient Agar (NA) dan tanah

menggunakan media Potato Dextrose Agar (PDA).

Pertama-tama yang dilakukan adalah membuat medium. Dalam percobaan ini

dibuat medium Nutrient Agar (NA) dan Potato Dextrose Agar (PDA). Setelah dibuat,

medium tersebut kemudian dimasukkan sebanyak 5 ml masing-masing ke dalam 5

tabung reaksi yang berbeda selanjutnya disterilkan dengan otoklaf. Kemudian 1 ml

sampel air dimasukkan ke dalam tabung reaksi 1, 1 ml sampel dari tabung reaksi 1

dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2, begitu seterusnya. Hal ini bertujuan untuk

melakukan pengenceran terhadap sampel air.

Setelah mencapai titik pengenceran yang tertinggi, diambil 1 ml dan

dimasukkan ke dalam cawan petri, langkah selanjutnya cawan petri diisikan dengan

medium NA dan medium PDA. Medium yang sudah diiisi dengan mikrobia harus

diletakkan terbalik saat diinkubasi di dalam inkubator, hal ini dimaksudkan agar

cairan yang dihasilkan dari metabolisme mikrobia pada medium tersebut tidak jatuh

pada medium, sehingga akan menyebabkan rusaknya medium tumbuh tersebut.

Harus diingat, dalam melakukan percobaan ini dilakukan sterilisasi terhadap alat-alat

yang digunakan dengan menggunakan lampu spiritus. Sterilisasi dilakukan baik

sebelum atau pun sesudah memasukkan bahan ke dalam alat. Kondisi yang steril dari

alat, bahan, maupun praktikan mutlak diperlukan dalam pengisolasian dan pemurnian

mikrobia. Hal ini berguna untuk menjaga atau mencegah terjadinya kontaminasi.

Karena itu dalam setiap prosedur kerja, baik saat pengenceran ataupun saat menyebar
mikrobia ke dalam medium perlu kehati-hatian agar tidak terjadi kontaminasi yang

dapat merusak hasil percobaan.

Media NA menggunakan sampel air dan media PDA menggunakan sampel

tanah. Hal ini dilakukan karena media NA berfungsi sebagai media pertumbuhan

bakteri, sehingga dengan menggunakan media ini dapat diketahui bakteri apa saja

yang ada di dalam sampel air yang digunakan. Sedangkan untuk media PDA

berfungsi sebagai media pertumbuhan jamur, sehingga dengan menggunakan media

ini dapat diketahui ada tidaknya jamur dari tanah sampel yang digunakan.

Pengamatan pun dilakukan terhadap sampel selama 2 x 24 jam. Pada

pengamatan pertama yaitu pada saat 1 x 24 jam, terlihat pertumbuhan bakteri pada

semua sampel baik air maupun tanah. Untuk media NA yang digunakan sebagai

media pertumbuhan bakteri dengan sampel air, pertumbuhan bakteri yang paling

banyak terdapat pada air ledeng dengan titik pengenceran 10-5 (2). Hal ini terjadi

karena dalam sistem distribusi air dari reservoir ke pelanggan melalui sistem

perpipaan dapat terjadi kontaminasi di sepanjang pipa. Sementara untuk air sumur,

sampel yang diambil berasal dari sumur bor (air tanah dalam) sehingga kontaminasi

bakteri sangat sedikit.

Jumlah koloni yang paling sedikit terdapat pada air kemasan. Hal ini karena

untuk air kemasan telah dilakukan sterilisasi sebelum pengemasan oleh pabrik. Air

kemasan dapat langsung diminum sehingga diusahakan agar benar-benar terbebas

dari bakteri untuk memenuhi standar kelayakan air minum. Pada pengamatan ini

dilakukan 3 kali pengenceran saja karena jika dilakukan pengenceran lebih tinggi,

kemungkinan sudah tidak terdapat bakteri lagi. Terlihat dari sedikitnya jumlah koloni

yang tampak hanya dengan pengenceran sampai 10-3. Pengamatan untuk media NA
hanya dilakukan sekali, yaitu 1 x 24 jam. Sedangkan untuk pengamatan media PDA

dilakukan selama 2 x 24 jam.

Setelah pengamatan selama 2x24 jam terhadap media PDA didapatkan hasil

bahwa hanya tanah kebun dengan pengenceran 10-4 (2), tanah dekat sampah dengan

pengenceran 10-4 (1), 10-4 (2), dan 10-5 (1) yang ditumbuhi oleh jamur. Dengan

masing-masing jumlah koloninya untuk tanah kebun 2, tanah dekat sampah berturut-

turut 3, 2, dan 2.

Koloni jamur yang paling banyak terdapat pada tanah sampah dengan

konsentrasi 10-4 (1) yaitu sebanyak 3. hal ini dikarenakan tanah yang berada di dekat

sampah umumnya lembab sehingga mudah ditumbuhi oleh jamur. Sedangkan untuk

jumlah koloni yang paling sedikit terdapat pada tanah kebun dengan konsentrasi 10-4

(2). Hal ini dikarenakan tanah kebun memiliki tingkat kelembaban yang lebih sedikit

dibanding tanah dekat sampah, karena pada tanah kebun hanya ditanami oleh

tanaman yang ada di kebun itu saja, sedangkan pada tanah dekat sampah terdapat

beberapa macam sampah yang memiliki komposisi yang berbeda sehingga lebih

lembab dan memudahkan jamur untuk tumbuh.

Kebanyakan dari hasil percobaan terhadap sampel tanah tidak hanya

ditumbuhi oleh jamur, tetapi juga oleh mikroba lain seperti bakteri. Hal ini

disebabkan karena terjadi kontaminasi pada saat pengerjaan, baik sterilisasi alat yang

tidak benar, atau kesalahan praktikan saat mengerjakan percobaan ini serta tidak

menggunakan antibiotik ketika mengerjakannya. Selain itu pula pada sampel tanah

kebun dengan pengenceran 10-6 (2) dan tanah dekat sampah dengan pengenceran

yang sama terjadi kerusakan media. Hal ini juga dikarenakan kesalahan praktikan
saat menuang media ke dalam cawan petri terlalu banyak atau teralu keras pada saat

menggoyangnya.

Dilakukannya isolasi dan pemurnian mikroba memiliki alasan tersendiri. Hal

ini karena dalam setiap percobaan yang menggunakan mikroba haruslah mempunyai

persediaan mikroba yang diperlukan. Untuk menggampangkan praktikan dalam

melakukan percobaan dengan menggunakan mikroba. Sehingga tidak perlu susah

lagi dalam mengerjakannya.

Manfaat dilakukannya isolasi dan pemurnian mikroba adalah setelah

mendapatkan kultur murni maka dapat ditelaah dan diidentifikasi mikroorganisme,

termasuk penelahaan ciri-ciri cultural, morfologis, fisiologis maupun serologis,

karena untuk itu diperlukan suatu pupolasi yang terdiri dari satu macam

mikroorganisme saja.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan

sebagai berikut :

1. Isolasi adalah cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu

dari lingkungannya, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni.

2. Teknik isolasi yang digunakan dalam percobaan ini adalah teknik sebar untuk

isolasi sampel air dan tuang untuk isolasi sampel tanah.

3. Media yang digunakan dalam percobaan ini adalah media Nutrient agar (NA)

untuk sampel air dan media Potato Dextrose Agar (PDA) untuk sampel tanah.

4. Dari hasil percobaan didapatkan untuk sampel air jumlah koloni bakteri yang

tumbuh paling banyak terdapat pada sampel air ledeng dengan pengenceran

10-5 (2) dengan jumlah koloni 29, dan yang paling sedikit pada sampel air

kemasan.

5. Dari hasil percobaan didapatkan untuk sampel tanah jumlah koloni jamur

yang tumbuh paling banyak terdapat pada sampel tanah dekat sampah dengan

pengenceran 10-4 (1) dengan jumlah koloni 3, sedangkan yang paling sedikit

pada sampel tanah kebun 10-4 (2) dengan jumlah koloni 2.

6. Banyaknya sampel yang tidak ditumbuhi oleh mikroba, atau ditumbuhi oleh

mikroba lain, disebabkan terjadinya kontaminasi pada saat pengerjaannya

atau sterilisasi alat yang tidak benar. Selain itu penuangan media yang terlalu

banyak juga menyebabkan rusaknya media, sehingga tidak dapat ditumbuhi

oleh mikroba.
7. Pemurnian dan isolasi mikroba penting dilakukan agar didapatkan kultur

murni dan sebagai stock mikroba, sehingga tidak perlu repot lagi ketika

melakukan percobaan yang menggunakan mikroba.

5.2 Saran

Dalam pengerjaan percobaan isolasi dan pemurnian mikroba ini harus benar-

benar steril sehingga tidak terjadi kontaminasi dan kerusakan media dan di dapatkan

kultur murni sesuai yang diinginkan.


DAFTAR PUSTAKA

Baker Fj, Silverton RE, 1986. Microssopy and Microbiology. Saunder Collage

Publishing, London.

Buckle, K.A. 1987. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Budiarti, Lia Yulia. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Terintegrasi. Penerbit

Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung

Mangkurat, Banjarbaru.

Cappuccino, J. G. dan Natalie. S. 1983. Microbiology A Laboratory Manual.

Addison-Wesley Publishing Company, New York.

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Djambatan. Jakarta.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hadietomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT Gramedia, Jakarta.

Pelczar, Jr et al. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas Indonesia

(UI Press), Jakarta.

Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga, Jakarta.