Anda di halaman 1dari 19

BAB I

STATUS PASIEN
A. IDENTITAS
Nama
Tempat tanggal lahir
Umur
Agama
Pekerjaan
Tanggal MRS
Alamat

: Ny. D
: 24 september 1996
: 18 Tahun
: Islam
: Ibu Rumah Tangga
: 26 Desember 2014
: Jl. Pancong RT/RW 021/02 kecamatan : Sukapura, Kota:
Jakarta Utara

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama :

Perdarahan dari jalan lahir sejak 2 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :


P1A0 dirujuk dari BPS mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak 2 jam SMRS.
Pasien sebelumnya melahirkan secara spontan di BPS dan mengatakan ari-ari hanya
keluar sebagian. Pasien mengaku melahirkan tanggal 25 Desember 2014 pukul 23.49.
Darah yang keluar berwarna merah dan bergumpal, perdarahan dirasakan terus menerus.
mulas-mulas disangkal keluhan puasing disangkal pasien

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien mengaku ini merupakan hamil yang pertama
Riwayat infeksi kandungan dan genitalia disangkal
Riwayat abortus disangkal
Riwayat trauma disangkal
Asma (-), HT (-), DM (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :
DM disangkal.
Hipertensi disangkal.
Asma disangkal.
Riwayat Pengobatan :
Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan
Riwayat Alergi :
Obat-obatan disangkal
Makanan disangkal
Cuaca disangkal
1

Riwayat Psikososial :
Merokok disangkal
Alkohol disangkal
Riwayat Operasi :
Riwayat operasi disangkal
Riwayat Perkawinan :
Perkawinan pertama, masih kawin, lama kawin 10 bulan
Riwayat Haid :
Haid pertama kali umur 12 tahun
Frekuensi haid : lamanya 7 hari, siklus 28 hari teratur dan tidak sakit.
HPHT : 10 maret 2014
TP : 17 desember 2014
Riwayat Persalinan:
Gravida (0), Aterm (+), Premature (-), Abortus (-), Anak Hidup (1), SC (-)
Temp
N

at

Penolo

Tahu

Ater

bersa

ng

lin
BPS

Bidan

2014

Ater

Jenis
persalin
an
spontan

Penyul

Sex

Anak
BB
Keada
an

it
Rest

pr

350

Plasen

ta

gra
m

C. PEMERIKSAAN FISIK
KU
: Baik
Kesadaran
: Compos Mentis
Tanda Vital :
Tekanan darah

: 140/90 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36oC

Antropometri :
Berat badan

: 71 Kg

Tinggi badan

: 152 cm

Status generalis
2

Hidup

Kepala
Mata

: Normocephal, deformitas (-)


: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
(+/+), reflex cahaya (+/+)
Hidung
: Septum deviasi (-), sekret (-/-)
Mulut
: Mukosa oral basah, lidah kotor (-), tremor (-), faring
hiperemis (-)
Leher
: Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Pemeriksaan Thorax
Paru
Inspeksi

: Pergerakan dinding dada simetris

Palpasi

: Vokal Fremitus kanan dan kiri simetris

Perkusi

: Sonor pada ke 2 lapang paru

Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midcalvicularis


sinistra

Perkusi

: Batas atas

: ICS III linea parasternalis sinistra

Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra


Batas kiri

: ICS V linea midclavicularis sinistra

Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Pemeriksaan Abdomen
striae gravidarum (+), linea nigra (+), , nyeri tekan abdomen (-), bising usus
(+) dalam batas normal, TFU 3 jari dibawah pusat.
Genitalia :
Vulva/Vagina : darah (+)
Pemeriksaan dalam : stolsel (+), pembukaan portio cervix 4 jari
Ekstremitas :
Atas : Udem (-/-), turgor kulit baik, akral hangat, sianosis (-),
CRT < 2 detik
Bawah : Udem (-/-), turgor kulit baik, akral hangat, sianosis (-),
CRT < 2 detik

D. STATUS OBSTETRI
Pemeriksaan luar
TFU
: 3 jari dibawah pusat
Pemeriksaan Dalam
Vaginal toucher
:
Vulva/Vagina
: darah (+)
3

Pemeriksaan dalam

: stolsel (+), pembukaan portio

cervix 4 jari
o
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
Tanggal 25 Desember 2014
Pemeriksaan
Pembekuan
- Massa perdarahan
- Massa pembekuan

Hasil

Satuan

Nilai normal

230
430

menit
menit

1-3
2-6

Hematologi
Hemoglobin

9,2

Leukosit

15.900 /mm3

g/dl

28.0

233

ribu/mm3

Keterangan

L=13.8-17,0
P=11.3-15.5
L=4.5-10.8
P=4.3-10.4
L=40.0-54.0

- Hematokrit
- Trombosit

P=38.0-47.0
L=185-402
P=132-440

F. RESUME
Ny. DL 18 tahun, P1A0 datang dari BPS mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak
2 jam SMRS. Pasien sebelumnya melahirkan secara spontan di BPS dan mengatakan ariari hanya keluar sebagian. Pasien mengaku melahirkan tanggal 25 Desember 2014 pukul
23.49. Darah yang keluar berwarna merah dan bergumpal, perdarahan dirasakan terus
menerus.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
Tekanan darah

: 140/90 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36oC

Pemeriksaan luar
TFU
: 3 jari dibawah pusat
Pemeriksaan Dalam
Vaginal toucher
:
Vulva/Vagina
: darah (+)

Pemeriksaan dalam

: stolsel (+), pembukaan portio

cervix 4 jari
G. Tindakan Operasi Yang Dilakukan
kuretase
H. DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KERJA PRE OPERASI

P1A0 dengan HPP ec Rest Plasenta

DIAGNOSIS KERJA POST OPERASI

P1A0 dengan HPP ec Rest Plasenta

I. Laporan Hasil Post Operasi


1. Pasien posisi terlentang
2. Disinfeksi lapangan operasi dengan betadine
3. Lapangan operasi ditutup dengan duk streril
4. Katerisasi kandung kemih 30cc
5. Sonde uretus 17cm
6. Bersihkan cavum uteri dengan abortus tang dilanjutkan dengan kuret tajam dan
tumpul hingga kesan bersih
7. Cek perdarahan 35cc, jaringan 20cc
8. Operasi selesai

I. PENGOBATAN/TINDAKAN

Cefadroxil 500mg
Mefinal 500mg
Pospargin
Hemafort

3x1
3x1
3x1
2x1

J. FOLLOW UP
Tanggal
26/12/20
14

S
Os mengeluhkan
pusing

O
KU : Tampak sakit sedang
Kes : CM
Tanda Vital :
TD : 120/90
Nadi : 88x/menit
Suhu : 36,5oC
RR : 20x/menit
Mata : CA -/- , SI -/Abdomen :
Striae gravidarum (+), linea

P1A0 Post
kuretase a/i
HPP ec Rest
Plasenta
HR-I

Terapi
lanjut

nigra (+), TFU 3 jari


dibawah umbilikus, timpani,
BU (+) normal

5/1/2015

Kontrol post kuret

Genitalia : Darah (+)


Ekstremitas:
Akral hangat, CRT < 2 detik,
udema -/KU : tampak sehat
Kes : CM
Tanda Vital :
TD : 90/60
BB :64kg
USG :

PROGNOSIS
ad vitam

: dubia ad bonam

ad sanationam : dubia ad bonam


ad functionam

: dubia ad bonam

Post
partum +
rest
placenta

Ketoconaz
ol salf no.I

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PERDARAHAN PASCAPERSALINAN (PPP)
2.1.Definisi
Perdarahan pascapersalinan (perdarahan postpartum/ Hemorraghic postpartum)
adalah perdarahan yang melebihi 500 ml setelah bayi lahir (pada kala III). 3,4
2.2. Klasifikasi4,6,7
Berdasarkan waktunya, perdarahan pascapersalinan dibedakan atas :
a. Perdarahan pascapersalinan primer / dini (early postpartum hemorrhage),
Adalah perdarahan 500 cc yang terjadi pada 24 jam pertama setelah persalinan.
Etiologi dari perdarahan pascapersalinan dini biasanya disebabkan oleh:
1. atonia uteri
2. laserasi jalan lahir
3. ruptura uteri
7

4. inversio uteri
5. plasenta akreta
6. gangguan koagulasi herediter
b. Perdarahan pascapersalinan sekunder / lambat (late postpartum hemorrhage)
Merupakan perdarahan sebanyak
500 cc yang terjadi setelah 24 jam
pascapersalinan. Etiologi dari perdarahan pascapersalinan lambat biasanya disebabkan
oleh:
1.

sisa plasenta

2.

subinvolusi dari placental bed

Perdarahan pasacapersalin dini lebih sering terjadi, melibatkan perdarahan yang masif
dan menimbulkan morbiditas, dan terutama paling sering disebabkan oleh atonia uteri.3,4,6

B. SISA PLASENTA (PLACENTAL REST)


1. Definisi
Perdarahan pascapersalinan dini dapat terjadi
sebagai akibat tertinggalnya sisa plasenta atau selaput
janin. bila hal tersebut terjadi, harus dikeluarkan secara
manual atau di kuretase disusul dengan pemberian obatobat uterotonika intravena.9
Perlu dibedakan antara retensio plasenta dengan
sisa plasenta (rest placenta). Dimana retensio plasenta
adalah plasenta yang belum lahir seluruhnya dalam
setengah jam (30 menit) setelah janin lahir.

4,7

Sedangkan sisa plasenta merupakan

tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum
primer atau perdarahan post partum sekunder.7

Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tidak
dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan. Gejala dan
tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontraksi tetapi tinggi fundus
tidak berkurang.
2. Etiologi 4

Plasenta belum lepas dari dinding uterus

Plasenta sudah lepas tetapi belum dilahirkan

Penyebab Retensio Plasenta4 :


a. Fungsional
- His kurang kuat (penyebab tersering)
- Plasenta sukar terlepas karena tempatnya (insersi di sudut tuba); bentuknya
(plasenta membranasea, plasenta anularis); dan ukurannya (plasenta yang sangat
kecil). Plasenta yang sukar lepas dari uterus karena penyebab di atas disebut
plasenta adhesive.
b. Patologi-anatomi
- Plasenta akreta : implantasi plasenta menembus desidua basalis dan Nitabuch layer
- Plasenta inkreta : plasenta sampai menembus miometrium
- Plasenta perkreta : vili korialis sampai menembus perimetrium.
Faktor predisposisi terjadinya plasenta akreta adalah plasenta previa, bekas seksio
sesarea, riwayat kuret berulang, dan multiparitas.
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan, jika lepas sebagian
terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasenta belum lepas
dari dinding uterus bisa karena: 7
1.

Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ( plasenta adhesiva)

2.

Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menembus desidua
sampai miometrium.
Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan

tidak adanya usaha untuk melahirkan, atau salah penanganan kala tiga, sehingga terjadi
lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta.7

Faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta :


1.

Kelainan dari uterus sendiri, yaitu : Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan
plasenta (plasenta adhessiva).
9

Plasenta adhesiva, yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam. Kontraksi uterus
kurang kuat untuk melepaskan plasenta. Plasenta adhesiva merupakan implantasi yang
kuat dari jonjot korion plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi
fisiologis
2.

Kelainan dari plasenta, misalnya : Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh
sebab villi khorialis menembus desidua sampai miometrium sampai dibawah peritoneum
(plasenta akreta-perkreta)4.
Plasenta akreta, yang mana villi khorialis menembus lebih kedalam dinding rahim
(miometrium) tetapi belum menembus serosa (sampai kebatas atas lapisan otot rahim).
Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki sebagian lapisan miometrium. Lebih
sering terjadi pada pasien yang sebelumnya pernah operasi seksio sesarea.6
Plasenta inkreta, dimana villi khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
sampai ke miometrium. Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan
miometrium
Plasenta perkreta , kalau villi khorialis menembus lapisan otot dan mencapai serosa atau
peritoneum dinding rahim dan menembusnya. Implantasi jonjot korion menembus lapisan
otot sampai lapisan serosa dinding uterus.6

3.

Kesalahan manajemen kala III persalinan, seperti : manipulasi dari uterus yang tidak
perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta dapat menyebabkan kontraksi yang tidak
ritmik, pemberian uterotonik yang tidak tepat waktunya juga dapat menyebabkan serviks
kontraksi (pembentukan constriction ring) dan menghalangi keluarnya plasenta
(inkarserasio plasenta).
3. Plasenta8
Plasenta (uri) adalah yang sangat penting bagi janin karena plasenta
merupakan alat pertukaran zat antara ibu dan anak dan sebaliknya, juga sebagai penghasil
hormon. Jiwa anak bergantung pada plasenta. Baik tidaknya anak bergantung pada baik
buruknya faal plasenta.

Setelah nidasi, sel-sel trofoblas menyerbu kedalam desidua

sekitarnya sambil menghancurkan jaringan. Diantara massa trofoblas timbul lubanglubang sehingga menyerupai susunan spons.

Lubang ini kemudian berisi darah ibu

karena dinding pembuluh-pembuluh darah juga termakan oleh kegiatan troblas.

10

Mula-mula sel-sel yang dihancurkan menjadi bahan makanan bagi telur,


kemudian makanan diambil dari darah ibu. Sel-sel trofoblas yang menyerbu kemudian
berubah menjadi batang-batang yang masing-masing bercabang pula dan akhirnya
membentuk jonjot korion (vili korialis). Sementara itu, trofoblas yang membentuk
dinding vilus sudah terdiri dari dua lapisan.
1. Lapisan luar atau sinsitiotrofoblas
2. Lapisan dalam atau sitotrofoblas (sel-sel Langhans)
Sebelah dalam villus terisi oleh mesoderm. Dalam mesoderm ini terbentuk sel-sel
darah merah dan pembuluh-pembuluh darah yang lambat laun sambung menyambung dan
akhirnya berhubungan dengan peredaran darah janin melalui pembuluh-pembuluh darah
di dalam tali pusat.
Pada kehamilan muda, seluruh korion mempunyai vili, tetapi vili dalam desidua
kapsularis akan mati, sedangkan vili dalam desidua basalis tumbuh terus dan merupakan
bagian fetal dari plasenta. Sebagian vili ada yang menanamkan diri kedalam desidua, vili
ini disebut jonjot panjang (Haftzotte) karena memancangkan telur pada desidua. Ada juga
vili yang ujungnya tidak sampai ke desidua, tetapi terapung dalam darah ibu. Vili ini
terutama bertugas mencari makanan. Mula-mula vili itu berbentuk batang saja, tetapi
kemudian mengeluarkan cabang-cabangnya. Hal ini sangat memperluas permukaan
filtrasi vili tersebut dan berguna karena kebutuhan janin bertambah seriring usianya.
Pada minggu ke-16, sel-sel Langhans mulai menghilang. Hal ini
menguntungkan bagi kecepatan pertukaran zat antara darah anak dan ibu. Darah anak dan
ibu tidak dapat bercampur karena terpisah oleh jaringan yang dinamakan membran
plasenta, terdiri dari dua lapisan sinsitium, lapisan sel Langhans, jaringan ikat vilus dan
lapisan endotel kapiler. Dengan hilangnya satu lapisan, membran plasenta akan menjadi
lebih tipis dan pertukaran zat lebih lancar. Pada akhir bulan ke IV, daya serbu trofoblas

11

berhenti dan pada batas antara jaringan janin dan ibu terdapat lapisan jaringan yang
bersifat nekrotik, disebut lapisan fibrin Nitabuch.

Pada akhir kehamilan, plasenta akan berbentuk seperti cakram dengan garis
tengah 15-20 cm, tebal 2-3 cm, dan berat 500 gr. Plasenta tadi terletak pada dinding
rahim sebelah depan atau belakang di dekat fundus.
Permukaan fetal adalah permukaan plasenta yang menghadap ke janin,
warnanya keputuh-putihan dan licin karena tertutup oleh amnion. Di bawah amnion,
tampak pembuluh-pembuluh darah.
Permukaan maternal adalah permukaan plasenta yang menghadap ke dinding
rahim, warnanya merah dan terbagi-bagi oleh celah-celah. Celah ini tadinya terisi oleh
septa (sekat) yang berasal dari jaringan ibu. Oleh celah-celah ini, plasenta terbagi
dalam 16-20 kotiledon.
Pada penampang sebuah plasenta yang masih melekat pada dinding rahim,
tampak bahwa plasenta terdiri dari dua bagian :
1. Bagian dari jaringan anak, disebut lempeng penutup atau membrana korii, yang
dibentuk oleh amnion, pembuluh-pembukuh darah janin, korion, dan vili
2. Bagian yang terbentuk oleh jaringan ibu, disebut lempeng desidua atau lempeng basal,
yang terdiri dari desidua kompakta dan sebagian desidua spongiosa, yang kelak ikut
lepas bersama plasenta.
4. Etiologi dan Patogenesis
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi. Kontraksi dan retraksi
otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir persalinan. Sesudah berkontraksi, sel
miometrium tidak relaksasi, melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan
kontraksi yang berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum uteri
mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecilan mendadak uterus ini disertai
mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta.
12

Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta yang tidak dapat
berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan yang ditimbulkannya menyebabkan
lapis dan desidua spongiosa yang longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di
tempat itu. Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat otot
miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini menekan pembuluh darah
dan retaksi otot ini mengakibatkan pembuluh darah terjepit serta perdarahan berhenti.
Pengamatan terhadap persalinan kala tiga dengan menggunakan pencitraan
ultrasonografi secara dinamis telah membuka perspektif baru tentang mekanisme kala tiga
persalinan. Kala tiga yang normal dapat dibagi ke dalam 4 fase, yaitu:
1. Fase laten, ditandai oleh menebalnya dinding uterus yang bebas tempat plasenta, namun
dinding

uterus

tempat

plasenta

melekat

masih

tipis.

2. Fase kontraksi, ditandai oleh menebalnya dinding uterus tempat plasenta melekat (dari
ketebalan

kurang

dari

cm

menjadi

>

cm).

3. Fase pelepasan plasenta, fase dimana plasenta menyempurnakan pemisahannya dari


dinding uterus dan lepas. Tidak ada hematom yang terbentuk antara dinding uterus dengan
plasenta. Terpisahnya plasenta disebabkan oleh kekuatan antara plasenta yang pasif dengan
otot uterus yang aktif pada tempat melekatnya plasenta, yang mengurangi permukaan tempat
melekatnya

plasenta.

Akibatnya

sobek

di

lapisan

spongiosa.

4. Fase pengeluaran, dimana plasenta bergerak meluncur. Saat plasenta bergerak turun,
daerah pemisahan tetap tidak berubah dan sejumlah kecil darah terkumpul di dalam rongga
rahim. Ini menunjukkan bahwa perdarahan selama pemisahan plasenta lebih merupakan
akibat, bukan sebab. Lama kala tiga pada persalinan normal ditentukan oleh lamanya fase
kontraksi. Dengan menggunakan ultrasonografi pada kala tiga, 89% plasenta lepas dalam
waktu satu menit dari tempat implantasinya.
5. Diagnosa4
Diagnosis retensio plasenta ditegakkan atas dasar lamanya plasenta lahir
setelah kelahiran bayi. Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah yang
mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin padat, uterus meninggi ke
arah abdomen karena plasenta yang telah berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat
yang keluar lebih panjang. Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka tekanan
yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta meluncur ke arah bagian bawah
rahim atau atas vagina.

13

Kadang-kadang, plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan interabdominal. Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat
mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan artifisial untuk
menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang biasa dikerjakan adalah dengan
menekan dan mengklovasi uterus, bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat
Untuk mengetahui plasenta sudah lepas dari tempatnya dapat dipakai beberapa
perasat, yaitu :

Perasat Kustner : tangan kanan meregangkan tali pusat, tangan kiri menekan
daerah diatas simfisis. Bila tali pusat masuk kembali kedalam vagina, berarti tali

pusat belum lepas.


Perasat Strassman : tangan kanan meregangkan tali pusat, tangan kiri mengetok
fundus uterus. Bila terasa pada tali pusat yang diregangkan berarti tali pusat

belum terlepas.
Perasat Klein : pasien disuruh mengedan, tali pusat tampak turun ke bawah. Bila
pengedanannya berhenti dan tali pusat masuk kembali ke dalam vagina, berarti
plasenta belum lepas dari dinding uterus.

Pada kasus perdarahan pasca persalinan karena sisa plasenta di dalam kavum uteri,
seringkali disebabkan karena plasenta akreta, yaitu plasenta yang melekat erat pada dinding
kavum uteri, vili korialis menanamkan diri lebih dalam ke dinding rahim, yang pada plasenta
normal, hanya menanamkan diri sampai batas atas lapisan otot rahim. Plasenta akreta
dibedakan menjadi plasenta akreta kompleta (jika seluruh permukaan melekat erat pada
dinding rahim), dan plaseta akreta parsialis (hanya beberapa bagian dari plasenta yang
melekat erat dengan dinding rahim).
Plasenta akreta yang kompleta, plasenta ipnkreta, dan plasenta perkreta jarang terjadi.
Penyebab plasenta akreta adalah kelainan desidua, misalnya desidua yang terlalu tipis..
Plasenta akreta menyebabkan retensio plasenta.
6.Penanganan4
Inspeksi plasenta segera setelah bayi lahir. jika ada plasenta yang hilang, uterus harus
diekspl orasi dan potongan plasenta dikeluarkan khususnya jika kita menghadapi perdarahan
post partum lanjut.

14

Jika plasenta belum lahir, harus diusahakan mengeluarkannya. Dapat dicoba dulu
parasat Crede, tetapi saat ini tidak digunakan lagi karena memungkinkan terjadinya inversio
uteri. Tekanan yang keras akan menyebabkan perlukaan pada otot uterus dan rasa nyeri keras
dengan kemungkinan syok.
Cara lain untuk membantu pengeluaran plasenta adalah cara Brandt, yaitu salah satu
tangan,

penolong memegang tali pusat dekat vulva. Tangan yang lain diletakkan pada

dinding perut diatas simfisis sehingga permukaan palmar jari-jari tangan terletak
dipermukaan depan rahim, kira-kira pada perbatasan segmen bawah dan badan rahim.
Dengan melakukan penekanan kearah atas belakang, maka badan rahim terangkat. Apabila
plasenta telah lepas maka tali pusat tidak tertarik keatas. Kemudian tekanan diatas simfisis
diarahkan kebawah belakang, ke arah vulva. Pada saat ini dilakukan tarikan ringan pada tali
pusat untuk membantu megeluarkan plasenta. Tetapi kita tidak dapat mencegah plasenta tidak
dapat dilahirkan seluruhnya melainkan sebagian masih harus dikeluarkan dengan tangan.
Pengeluaran plasenta dengan tangan kini dianggap cara yang paling baik. Tehnik ini kita
kenal sebagai plasenta manual.

15

Indikasi Plasenta manual7

Perdarahan pada kala III persalinan kurang lebih 500 cc

Retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir

Setelah persalinan yang sulit seperti forceps, vakum, perforasi dilakukan eksplorasi
jalan lahir.

Tali pusat putus

Tehnik Plasenta Manual4


Sebelum dikerjakan penderita
disiapkan

pada

posisi

litotomi.

Keadaan umum penderita diperbaiki


sebesar mungkin, atau diinfus Ringer
Laktat. Operator berdiri atau duduk
dihadapan vulva, lakukan desinfeksi
pada genitalia eksterna begitu pula
tangan dan lengan bawah si penolong
(setelah menggunakan sarung tangan).
Kemudian labia dibeberkan dan tangan
kanan masuk secara obstetris ke dalam vagina. Tangan luar menahan fundus uteri. Tangan
dalam sekarang menyusun tali pusat yang sedapat-dapatnya diregangkan oleh asisten.
Setelah tangan dalam sampai ke plasenta, maka tangan pergi ke pinggir plasenta dan
sedapat-dapatnya mencari pinggir yang sudah terlepas.
Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking, plasenta dilepaskan ialah antara
bagian plasenta yang sudah terlepas dengan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar
dengan dinding rahim.Setelah plasenta terlepas seluruhnya, plasenta dipegang dan dengan
perlahan-lahan ditarik keluar.
Penanganan Retensio Plasenta atau sebagian sisa plasenta
Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan
plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan
lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan
perdarahan
Penanganan sebagai berikut :

16

a. Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan kateter yang berdiameter
besar serta pemberian cairan kristaloid (sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat
yang hangat, apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan saturasi
oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan
darah. Bila kadar Hb<8 gr% berikan transfusi darah. Bila kadar Hb>8 gr%, berikan sulfas
ferosus 600 mg/hari selama 10 hari. 5
b. Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer laktat atau NaCl 0.9%
(normal saline) sampai uterus berkontraksi.
c. Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips
oksitosin untuk mempertahankan uterus.
d. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. .
e. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan
tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa
plasenta dilakukan dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati
karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus.
f. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat
uterotonika melalui suntikan atau per oral.
g. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi
sekunder. Berikan antibiotika, ampisilin dosis awal 1g IV dilanjutkan dengan 3 x 1g oral
dikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan dengan 3 x 500mg oral.
Plasenta akreta parsialis masih dapat dilepaskan secara manual, tetapi plasenta akreta
kompleks tidak boleh dilepaskan secara manual karena usaha ini dapat menimbulkan
perforasi dinding rahim. Terapi terbaik plasenta akreta totalis adalah histerektomi.

17

DAFTAR PUSTAKA
18

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC, Wenstrom
KD. Uterine Leiomyomas. In : Williams Obstetrics. 22 ndedition. Mc Graw-Hill. New
York : 2005
2. Sheris j. Out Look : Kesehatan ibu dan Bayi Baru Lahir. Edisi Khusus. PATH.
Seattle : 2002
3. Johanes C. Mose. Gestosis, dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi,
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Edisi 2. EGC. Jakarta: 2004.
4. Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo..
Jakarta. 2008.522
5. Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri Patologi. Ilmu Kesehatan Produksi. Edisi 2.
Jakarta : EGC. 2004.
6. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi Jakarta :
EGC, 1998
7. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadi T. Perdarahan Post Partum. Dalam : Ilmu
Bedah Kebidanan. Edisi 3. Jakarta : YBP-SP. 2002.
8. Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri Fisiologi. Ilmu Kesehatan Produksi. Edisi 2.
Jakarta : EGC. 2004.50p.
9. Available at http//www.jurnaldokter.com. Kala3. Tahap Pengeluaran
Plasenta.Accessed on August 20, 2011

19