Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suatu mesin terdiri dari elemen-elemen yang jumlahnya relatif besar mencapai
lebih dari ribuan. Kesemuanya itu saling mendukung untuk menghasilkan suatu gerak
yang terpadu. Untuk terjadinya kesinambungan antar komponen mesin tersebut haruslah
direncanakan terlebih dahulu. Hal yang perlu untuk diperhatikan dalam perencanaan
adalah kesesuaian antar komponen, faktor keamanan, umur, efisiensi, dan biaya serta
ketahanan komponen tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Pada

tugas

perencanaan

elemen

mesin

ini,

kami

mengambil

judul

Perencanaan Roda Gigi Kerucut Pada Mesin Gerinda Tangan .


Roda gigi adalah suatu komponen mesin yang berfungsi untuk meneruskan daya
yang besar dari roda gigi ke roda gigi yang lain untuk digerakkan dengan melalui motor.
Dalam ilmu elemen mesin dikenal beberapa cara pembuatan roda gigi atau
penggabungan dua atau lebih komponen mesin yang terpisah. Pada dasarnya roda gigi
terbagi atas beberapa terminologi utama, yaitu :
a. Adendum yaitu jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran
puncak.
b. Dedendum yaitu jarak radial dari bidang bawah (bottom land) dengan
lingkaran puncak.

c. Circular Pitch (Jarak Lengkung Puncak) adalah jarak yang diukur pada
lingkaran puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke satu titik yang berkaitan
pada gigi sebelahnya.
Jadi, roda gigi termasuk juga pada jenis sambungan tidak tetap, karena roda gigi
merupakan pemindah daya dari putaran poros roda gigi yang dihasilkan oleh motor
penggerak ke

motor yang digerakkan dan juga sebagai alat yang berfungsinya

menghentikan roda gigi yang digerakkan meskipun motor penggerak tetap bekerja.
Mesin Gerinda Tangan merupakan satu alat dari beberapa alat yang menggunakan
perencanaan roda gigi kerucut dengan pengerjaan mekanik. Dikatakan sebagai roda gigi
kerucut Spiral karena bentuk visualnya yang mirip dengan kerucut dan alur giginya yang
berbentuk spiral. Selain itu pada mesin gerinda tangan ini bila ditinjau dari letak poros
roda giginya adalah termasuk roda gigi dengan poros berpotongan dengan sudut porosnya
sebesar 90.

B. Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan Penulisan
a. Untuk memenuhi syarat mengikuti Ujian Ahir Semester mata kuliah Elemen Mesin
III.
b. Untuk menerapkan kajian teoritis yang diperoleh dari kuliah ke dalam bentuk
rancangan elemen mesin.
c. Untuk menghitung bagian-bagian roda gigi dan mengetahui cara kerjanya.

2. Manfaat Penulisan
a. Melatih kami mendalami dan memahami fungsi dan karakteristik dari suatu
elemen mesin.
b. Mampu merencanakan elemen mesin (roda gigi) yang berdasarkan atas
perhitungan-perhitungan yang bersumber dari literatur.

C. Pembatasan Masalah
Dalam tugas perencanaan elemen mesin II ini kami hanya akan membahas
mengenai roda gigi kerucut Spiral (hipoid) pada mesin gerinda tangan.

D. Metode Penulisan
Pada tugas perencanaan ini pembahasan dilakukan dengan menggunakan literatur
dan buku-buku yang memuat data serta rumus-rumus yang berkaitan dengan masalah yang
kami bahas.

BAB II
LANDASAN TEORI

Jika dari dua buah roda berbentuk silinder atau kerucut yang saling bersinggungan
pada kelilingnya salah satu diputar, maka yang lainnya akan ikut berputar pula. Alat yang
menggunakan cara kerja semacam ini untuk mentransmisikan daya disebut roda gesek. Hal ini
untuk meneruskan daya kecil dengan putaran yang tidak perlu tepat.
Namun untuk menghasilkan daya yang besar dan putaran yang tepat, kedua roda gesek
ini harus dibuat bergigi pada kelilingnya sehingga penerusan daya dilkukan oleh gigi-gigi
kedua roda yang saling berkait. Roda gigi semacam ini, yang dapat berbentuk silinder atau
kerucut disebut roda gigi.
A. Klasifikasi Roda Gigi
Klasifikasi Roda Gigi
No
.

Letak Poros

Roda Gigi

Keterangan

Roda gigi lurus (a)


Roda gigi miring (b)
Roda gigi miring ganda (c)

(Klasifikasi atas dasar


bentuk alur gigi)

Roda gigi luar


Roda gigi dalam dan pinyon (d)
Batang gigi dan pinyon (e)

Arah putaran berlawanan


Arah putaran sama
Gerakan lurus dan berputar

1.

Roda gigi dengan


poros sejajar

2.

Roda gigi kerucut lurus (f)


Roda gigi kerucut spiral (g)
Roda gigi kerucut Zerol
Roda gigi dengan Roda gigi kerucut miring
poros berpotongan Roda gigi kerucut miring
ganda
Roda gigi permukaan dengan
poros berpotongan (h)

(Klasifikasi atas dasar


bentuk jalur gigi)

No
.

Letak Poros

Roda Gigi
Roda gigi miring silang (i)
Batang gigi miring silang

3.

Roda gigi dengan


poros silang

Keterangan
Kontak titik
Gerakan lurus dan berputar

Roda gigi cacing silindris (j)


Roda gigi cacing selubung ganda
(globoid) (k)
Roda gigi cacing samping
Roda gigi hiperboloid
Roda gigi hipoid (l)
Roda gigi permukaan silang

Tabel 1.
Klasifikasi Roda Gigi

Gambar 1. Klasifikasi Roda Gigi


5

Roda gigi pada umumnya dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu :
a

Roda gigi lurus (Spurs gear)


Roda gigi lurus, yaitu suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai
penerus daya dan putaran dari poros penggerak ke poros yang digerakkan
tanpa terjadi slip, dimana sumbu kedua poros tersebut terletak saling sejajar.
Roda gigi ini bersifat tetap yang mana dalam artinya tidak dapat dilepas
pada saat mesin dalam keadaan berputar.

b Roda gigi miring (Helical)


Roda gigi miring yaitu elemen mesin yang mempunyai jalur gigi yang
membentuk ulir pda siloinder jarak bagi, berfungsi sebagai penghubung antara
roda gigi yang digerakkan dengan roda gigi penggerak dengan putaran dan
daya yang sama serta dapat dilepaskan dari kedua.
c

Roda gigi Cacing


Roda gigi ini meneruskan putaran dengan perbandingan reduksi yang
besar. Tetapi untuk beban yang besar roda gigi cacing dapat dipergunakan
dengan perbandingan sudut kontak yang lebih besar. Roda gigi ini meliputi
roda gigi cacing slindris, selubung ganda (globoid), roda gigi cacing samping.

d Roda gigi kerucut


6

Merupakan roda gigi yang paling sering dipaka tetapi roda gigi ini
sangat berisik dengan perbandingan kontak yang kecil, macam-macam roda
gigi ini meliputi roda gigi kerucut lurus, spiral, miring, Zerol.

B. Tata Nama Roda Gigi


Terminologi dari roda gigi digambarkan pada (Gambar 2). Lingkaran Puncak
(pitch circle) dari sepasang roda gigi yang berpasangan adalah saling bersinggungan satu
terhadap yang lain.

Gambar 2.
Tata Nama Roda Gigi
Pinyon adalah roda gigi yang terkecil diantara dua roda gigi yang berpasangan.
Yang lebih besar sering disebut Roda Gigi (Gear).
Jarak Lengkung Puncak (circular pitch), p adalah jarak yang diukur pada
lingkaran puncak, dari satu titik pada sebuah gigi ke suatu titik yang berkaitan pada gigi di

sebelahnya. Jadi jarak lengkung puncak adalah sama dengan jumlah tebal gigi (tooththickness) dan lebar antara (width of space).

d
m
N
p jarak lengkung puncak
d diameter puncak (mm)
N jumlah gigi
m mod ule (mm)
p

Modul (module), m adalah perbandingan antara diameter puncak dengan jumlah


gigi. Modul adalah indeks dari ukuran gigi pada standar SI.
d
N
m mod ule
m

Puncak diametral (diametral pitch), P adalah perbandingan antara jumlah gigi


pada roda gigi dengan diameter puncak. Atau kebalikan dari module. Puncak diametral
dinyatakan dalam jumlah gigi per inci (dalam satuan Inggris).
N
d
P puncak diametral ( gigi per inci )
P

maka:
pP
Addendum a adalah jarak radial antara bidang atas (top land) dengan lingkaran
puncak. Dedendum b adalah jarak radial dari bidang bawah (bottom land) ke lingkaran
puncak. Tinggi keseluruhan (whole depth) ht adalah jumlah addendum dan dedendum.

Lingkaran

kebebasan

(clearance

circle)

adalah

lingkaran

yang

yang

bersinggungan dengan lingkaran addendum dari pasangan roda gigi tersebut. Kebebasan
(clearance), c adalah an-punggung (bock-lash) adalah besaran yang diberikan oleh lebar
antara dari satu roda gigi kepada tebal gigi dari roda gigi pasangannya diukur pada
lingkaran puncak.

C. Roda Gigi Kerucut


Roda gigi yang termasuk dasar adalah roda gigi dengan poros sejajar, dan dari
jenis ini yang paling dasar adalah roda gigi lurus. Namun, bila diingini transmisi untuk
putaran tinggi, daya besar dan bunyi kecil antara dua poros sejajar, pada umumnya roda
gigi yang dipakai adalah roda gigi miring.
Sedangkan untuk roda gigi kerucut biasanya dipakai untuk memindahkan gerakan
antara poros yang berpotongan. Dengan sudut perpotongan antara kedua poros sebesar
90. Namun roda gigi bisa dibuat untuk semua ukuran sudut. Giginya bisa dituang,
dimilling, atau dibentuk.
Jarak Kebebasan pada roda gigi kerucut adalah merata (Uniform Clearance).
Roda gigi kerucut lurus adalah jenis roda gigi kerucut yang mudah dan sederhana
pembuatannya dan memberikan hasil yang baik dalam pemakaiannya bila dipasangkan
secara tepat dan teliti. Sama halnya dengan roda gigi lurus, roda gigi ini menjadi bising
pada harga kecepatan garis puncak yang tinggi.

Profil Roda Gigi Kerucut Lurus


9

Sepasang roda gigi kerucut yang saling berkait dapat diwakili oleh dua bidang
kerucut dengan titik puncak yang berhimpit dan saling menggelinding tanpa slip.
Kedua bidang kerucut ini disebut kerucut jarak bagi. Besarnya sudut puncak kerucut
merupakan ukuran bagi putaran masing-masing porosnya. Roda gigi kerucut yang alur
giginya lurus dan menuju ke puncak kerucut dinamakan roda gigi kerucut lurus.
Keterangan lebih lanjutnya dapat dilihat pada (Gambar 3).

Gambar 3. Nama Bagian-bagian Roda Gigi Kerucut

10

Sumbu poros pada roda gigi kerucut biasanya berpotongan dengan sudut 90.
Bentuk khusus dari roda gigi kerucut dapat berupa roda gigi miter yang mempunyai
sudut kerucut jarak bagi sebesar 45 dan roda gigi mahkota dengan sudut kerucut jarak
bagi sebesar 90. Dimana diperlihatkan pada (Gambar 4).

Gambar 4. Roda Gigi Kerucut Istimewa


Sudut puncak pada roda gigi kerucut dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
tan

NP
NG

dan

tan

NG
NP

dim ana : P pinyon


G roda gigi ( gear )

sudut puncak pinyon


sudut puncak roda gigi
Berikut ini adalah gambar roda gigi dan pinyon kerucut lurus.

Gambar 5. Roda Gigi Dan Pinyon Kerucut Lurus


11

Gigi lurus standar dari roda gigi kerucut dipotong dengan menggunakan sudut
tekan 20, addendum dan dedendum yang tidak sama, dan kedalaman gigi yang penuh.
Hal ini menambah perbandingan kontak, menghindari kurang potong, dan menambah
kekuatan dari pinyon.
Pada suatu pemasangan roda gigi kerucut yang khas yaitu satu diantara luar
dari bantalan. Ini berarti bahwa lendutan poros bisa lebih nyata dan mempunyai
pengaruh yang lebih besar dari pada persinggungan gigi tersebut. Kesulitan yang
timbul dalam memperkirakan tegangan pada gigi roda gigi kerucut adalah bahwa gigi
ini berbentuk tirus. Jadi untuk mendapatkan persinggungan garis yang sempurna
melalui pusat kerucut gigi tersebut haruslah melentur yang lebih besar dibandingkan
pada ujung yang kecil. Untuk mendapatkan kondisi ini memerlukan adanya
keseimbangan yang lebih besar pada ujung yang besar. Karena variasi beban di
sepanjang muka gigi ini, maka dianjurkan untuk lebar muka sedikit pendek.
2

Cara Kerja Alat Pemarut Es


Cara pengoperasian alat pemarut es mekanik adalah dengan cara
menghubungkan motor dengan sumber arus, motor tersebut menghasilkan daya yang
kemudian dittansmisikan ke pully alat pemarut es melalui sabuk. Daya yang
ditransmisikan oleh sabuk pemutar poros horizontal. Roda gigi kerucut yang dipasang
pada poros tersebut akan ikut berputar dan akan mengerakkan pinyon yang terhubung
dengan roda gigi. Pada diameter dalam dari pinyon dimasukkan batang penekan dan
diberi pasak. Batang penekan berulir memutar turun karena diberi pasangan, yaitu roda
12

gigi miring yang letaknya di atas pinyon dan dikunci oleh baut pengunci roda gigi
miring. Batang penekan berulir turun sambil memutar balok es. Pada landasan tempat
balok es tersebut diputar terdapat mata pisau bergigi pada suatu tempat dan diberi
lubang persegi empat untuk menurunkan potongan-potongan es. Balok es yang
berputar akan menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian akan turun melalui
lubang ke tempat penadah. Jika balok es sudah menjadi tipis, maka pedal gas akan
dilepas untuk menghentikan kerja dari alat tersebut. Kemudian baut pengunci dari roda
gigi dikendurkan dan dengan memutar roda kemudi yang dihubungkan dengan roda
gigi miring pada pinyon sehingga akan memutar batang penekan berlawanan arah
kerja tadi, maka batang penekan berulir akan naik ke atas ke posisi semula.

Gambar 6. Alat Pemarut Es Mekanik


Keterangan gambar pemarut es mekanik adalah :
1. Roda gigi miring
13

2. Batang tekan
3. Pinyon kerucut
4. Roda gigi kerucut
5. Poros
6. Pasak
7. Bantalan

BAB III
PERHITUNGAN

A. Perencanaan Roda Gigi


Pada

perencanaan roda gigi ini

dimana satu roda gigi

dipakai dua buah roda

gigi

kerucut lurus,

berfungsi sebagai roda gigi penggerak (gear) dan yang lainnya

sebagai roda gigi yang digerakkan (pinyon). Adapun bahan dari roda gigi dan pinyon
adalah besi cor FC 18 dengan kekuatan lentur 4,0 kg/mm2.
Data perencanaan adalah :
1. Putaran motor (nc)

1500 rpm

2. Daya motor (P)

0,25 kW

3. Reduksi transmisi

14

4. Reduksi roda gigi kerucut

1,5

5. Faktor koreksi (fc)

1 (untuk daya nominal)

6. Jumlah roda gigi kerucut (Ng)

27

7. Jumlah roda gigi pinion (Np)

18

8. Puncak diametral (P)

3 gigi/in

9. Sudut tekan ()

20o

Maka daya penggeraknya (Pd) adalah :


Pd

= P x fc
= 0,25 x 1
= 0,25 kW

Dari harga reduksi puli dan sabuk yang telah diketahui, maka putaran roda gigi kerucut
dapat diketahui pula, yaitu :
I

dimana :

nc
ni

nc = putaran motor listrik = 1500 rpm


ni = putaran roda gigi kerucut
I = reduksi puli = 5

Sehingga :
5

1500
ni

ni 300
rpm

Reduksi pada roda gigi kerucut :

15

Z1
1,5
Z2
Z 1 n1

Z 2 n2

Dimana :

n1 = putaran roda gigi kerucut


n2 = putaran pinion
Maka :

1,5 = n1/n2
n2 = 300 x 1,5
n2 = 450 rpm

Torsi pada roda gigi kerucut :


T = 9,74 x 105 x Pd/n1
Sehingga : T = 9,74 x 105 x 0,25/300

= 811,6 kg mm

1. Sudut puncak pinion


tan-11 = Np/Ng ................................................ (Shigley hal. 239)
= 18/27
1 = 33,6
2. Sudut Puncak roda gigi
tan-1 2 = Ng/Np ............................................... (Shigley hal. 239)
= 27/18
2 = 56,3
3. Diameter puncak pinion (dp) ........................ (Shigley hal. 175)
dp = Np/P

16

= 18/3 = 6 in = 152,4 mm
4. Diameter puncak roda gigi (dg)
dg = Ng/P
= 27/3 = 9 in = 228,6 mm
5. Lebar muka gigi (F)
F = 10/P
= 10/3 = 3,33 in = 84,67 mm
6. Faktor perubahan kepala (X1 dan X2)
X1 = 0,46 [1-(18/27)2]
= 0,46 [1-0,4]
= 0,276
X2 = - 0,27
7. Untuk pinion
Tinggi kepala (Adendum)
hk1 = (1 + X1) m
Dimana : m = modul
= dp/Np
= 152,2 /18 = 8,46 mm
hk1 = (1 + 0,276) 8,46 = 10,8 mm
Tinggi kaki (dedendum)
hf1 = (1 0,276) m + Ck
Dimana : Ck = kelonggaran puncak
17

Ck = 0,188 P 0,0508 mm
= 0,188 3 0,0508 mm
= 0,11 mm
hf1 = (1 0,276) x 8,46 + 0,11
= 6,23 mm
8. Untuk roda gigi
Tinggi kepala (adendum)
hk2 = (1 X1) m
= (1 0,276) 8,46
= 6,12 mm
Tinggi kaki (dedendum)
hf2 = (1 + X1) m + C k

= (1 + 0,276) 8,46 + 0,11 = 10,9 mm

9. Diameter lingkaran kepala pinion


dp1 = dp + 2hk1 cos 1
= 152,4 + 2 .10,8 cos 33,6
= 170,3 mm
10. Diameter lingkaran roda gigi
dg2 = dg + 2hk2 cos 2
= 228,6 + 2 . 6,12 cos 56,3
= 235,33 mm
11. Jarak dari puncak kerucut sampai puncak luar gigi untuk pinion
X1 = (dp/2) hk1 sin 1
18

= (152,4/2) 10,8 sin 33,6


= 70,26 mm
12. Jarak kerucut (R)
R = dp/2 sin 1
= 152,4/2 sin 33,6
= 138,5 mm
13. Pemeriksaan keamanan terhadap tegangan dan kekuatan lentur
Wt = 60 . 103 . H/ dn
H = P . fc
= 0,25 kW
Wt = 60 . 103 . 0,25/3,14 . 12 . 1500
= 0,26 kN
14. Diameter puncak rata-rata dari roda gigi besar
dav = dg F sin 2 .............................................. (Shigley hal 244)
= 228,6 84,67 sin 56,3
= 158,16 mm = 6,23 in
15. Kecepatan garis puncak pada puncak rata-rata
V = dav . . n/12 .............................................. (Shigley hal 175)
= 6,23 . 3,14 . 300/12
= 489,06 ft/menit
16. Faktor kecepatan
Kv = 50 / 50 V ............................................ (Shigley hal 181)
19

50 / 50 489,56

= 0,693
17. Tegangan lentur pada roda gigi
= Wt . P/kv . F . J .......................................... (Sularso hal 242)
J = 0,22 ; untuk faktor geometri
0,22.3 gigi / in.1 / 25,4.10 3
3
= 0,693.84,67.0,22.10

= 0,698 kPa
18. Tegangan yang diizinkan :
a = 4 kg/mm2

4 x 9,81 kg
6
2
= 1.10 m
= 3,924 . 104 kPa
Karena < a maka roda gigi dalam keadaan sangat aman.

B.

Perencanaan Poros dan Pasak


Puli

D = 100 mm
I =5
Dimana : D = diameter puli
I = reduksi puli
Maka : d = D/I

............................................... (Sularso hal. 166)


20

= 100/5 = 20
Sehingga : V = . d . n/(60x1000) .................. (Sularso hal. 166)

3,14 x 20 x1500
60000
=
= 1,57 m/s

F1 F 2V
102

Po =

........................................... (Sularso hal. 171)

Dimana : Po = Daya yang direncanakan


Po = 0,25 kW
V = kecepatan

F1 F 21,57
Maka : 0,25 =

102

F1-F2 = 16,24

Sabuk
Panjang sabuk (L) dipilih panjang 1016 mm
Jarak sumbu C dapat diketahui dengan menggunkan persamaan sebagai berikut :
b b 2 8 D d
8
C=

.............................. (Sularso hal. 170)

Dimana :
b = 2L (100 + 20) ........................................ (Sularso hal. 170)
b = 2L (100 + 20)
= 2(1016) 3,14(120)
= 2032 376,8
21

= 1655,2
Maka :
b b 2 8 D d
8
C=
1655,2

1655,2 2 8100 20 2

= 411,85
Besarnya sudut kontak adalah :
57(D d)
C
57(100 20)
180 o
411,85
180 o

168,93o

169o
Maka :
F1/F2 = e.
Dimana : = koefisien gesek = 0,2
F1/F2 = e.
F1/F2 = e0,2.169
F1/F2 = e33,8
F1 = 4,78 F2
16,24 = F1 F2
16,24 = (4,78 F2 F2)

22

16,24
3,78
F2 4,30 kg
F2

F1 20,54 kg

Sehingga jumlah sabuk yang diperlukan adalah :


N

Pd
Po .K ....................................................... (Sularso hal. 173)

0,25
0,25 x 0,97
N 1,03 1 buah
N

Dengan jenis sabuk yang dipakai adalah sabuk V dengan tipe sabuk sempit 3 V.

1.

Perencanaan Poros
Wt = T/rav ......................................................... (Shigley hal. 238)
Dimana rav = dav/2
dp F sin 1
2
=

152,4 84,67 sin 33,6


2
=
= 52,77 mm
Wt = 811,6/52,77

23

= 15,4 kg
Wa = Wt tan sin ........................................ (Shigley hal. 238)
= 15,4 tan 20 sin 33,6
= 3,10 kg
Wr = Wt tan cos ....................................... (Shigley hal. 238)
= 15,4 tan 20 cos 33,6
= 4,67 kg

Momen di titik C

F1 . CD + Wr . AC + Rby . BC = Wa . AE
Rby = Wa . AE Wr . Ac F1 . CD

3,10 x5,277 4,67 x14 18,64 x32


9
Rby =
= - 12,07 kg

fy = 0
24

Wr + Rby + Rcy = Ftot


Rcy = 18,64 4,67 + 12,07
= 26,04 kg
Mcz = 0
Rby . BC = Wt . AC

15,4.14
9
Rbz =
= 24 kg

Fz = 0

Rby + Rcz = Wt
Rcz = 15,4 24
= -8,6 kg

T = 0

T = Wt . AE (dimana AE = rav)
= 15,4 . 52,77
= 804,96 kg.mm

Rb =
=

Rby 2 Rbz 2

12,07 2 24 2

= 26,8 kg

25

Rc =
=

Rcy 2 Rcz 2

26,04 2 8,6 2

= 25,5 kg
2
2
W = Wt Wr

= 16,09 kg

26

Selanjutnya :
Wt = T/rav
T = 811,6 kgmm = 70,46 lb.in
n = 2,6
Mtot =

(233,5) 2 (770) 2 804,63 kg.mm 69,93 Ib.in

Dengan perencanaan :
Bahan G 10500 AISI 1050 ditarik dingin
Sut = 100 kpsi
Sy = 84 kpsi
27

Ka = 0,75 ......................................................... (Shigley hal. 177)


Kb = 0,865
Kc = 0,868 , faktor keandalan 95 %
Kd = Ke = 1
Kf = 1,33
Se = 0,5 Sout = 50 kpsi
Se = KaKbKcKdKeKfSe
= 0,75.0,865.0,868.1.1.1,33.50
= 37,45 kpsi

48n T S
ds =

M Se

1/ 3
2 1/ 2

= 48 x 2,6 / 3,14 70,46 / 84 x10

3 2

............ (Shigley hal. 270)

69,93 / 37,45 x 10 3

2 1/ 2 1/ 3

= 0,43 in = 10,92 mm 11 mm
2.

Perencanaan Pasak
Dalam pasak poros transmisi baja karbon AISI 1010 diroll panas
ut = B = 47.000 psi
B = 33,06 kg/mm2
diameter poros 11 mm
penampang pasak b x h = 3mm x 3mm
tegangan geser yang diijinkan pada pasak
ka = b/ Sfk 1 . Sfk 2 ..................................... (Sularso hal 27)
Sfk 1 = 6
28

Sfk 2 = 2,5 ; untuk tumbukan ringan


ka = 33,06/(6.2,5) = 2,2 kg/mm2
Panjang pasak (li) berdasarkan tegangan geser pasak yang diizinkan
T = 811,6 kg.mm
F = T/r
= 2T/d
= 811,6 . 2 / 11
=147,56 kg
ka F/li . b ...................................................... (Sularso hal. 25)
2,2 147,56 / li . 3
li 22,4 mm
panjang pasak (l2) berdasarkan tekanan permukaan yang diizinkan :
Pa = 8kg / mm

t1 = 2,5 mm

F
Pa l .t1
8 147,56 / l2 . 2,5
l2 7,4 mm
Maka dapat diambil ketentuan
a. Ukuran pasak = b x h = 5 x 5 (mm)
b. Lebar pasak adalah = 5 mm
c. Panjang pasak yang dipakai adalah L = 15 mm

29

Lk/ds = 13/11 = 1,2

C.

(0,75 < 1,36 < 1,5 adalah baik)

Perencanaan Bantalan
Dalam perencanaan ini jenis bantalan yang digunakan yaitu bantalan gelinding bola
tunggal.

1.

Bantalan pada titik B


Beban ekivalen dinamis (Pr)
Pr = XVFr + Yfa ............................................. (Sularso hal. 135)
Dimana : Fr = beban radial = 24,4 kg
Fa = beban aksial = 3,10 kg
X= 1;V=1;Y=0
e Fa / V. Fr .................................................. (Sularso hal. 135)
= 3,10 /1 . 24,4
= 0,13
Pr = 1 . 1 . 24,4 + 0,310
Pr = 24,4 kg
Umur bantalan : L = 60 . n2 . Lh ..................... (Sularso hal. 136)
Dimana : Lh = 5 x 365
= 1825 jam
Maka L = 60. 450 . 1825
= 49,275 . 106 rev
C/Pr = L1/3
30

C = Pr.L1/3
= 24,4(49,275)1/3
= 89,45 kg

2.

Bantalan di titik C
Beban ekvivalen dinamis (Pr)
Pr = XVFr + Yfa
Dimana : Fr = beban radial = 13,6 kg
Fa = beban aksial = 3,10 kg
X= 1;V=1;Y=0
e Fa/VFr = 3,10/13,6.1 = 0,227
Pr = 1.1.13,6 + 0.3,10
= 13,6 kg
Umur bantalan : L = 60.n2. Lh
Dimana : Lh = 5 x 365 = 1825 jam
Maka : L = 60.450.1825 = 49,275. 106 rev
C / Pr = L1/3
C = Pr. L1/3 = (49,275)1/3.13,6
C = 49,85 kg

31

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil perhitungan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik beberapa
kesimpulan mengenai ukuran bagian-bagian roda gigi pada mesin gerinda tangan , yaitu
sebagai berikut :
1. Alat penggerak
Daya motor

= 0,25 kW

Putaran motor

= 1500 rpm

Reduksi transmisi sabuk

=5

Reduksi transmisi roda gigi

= 1,5

2. Roda gigi kerucut


Jumlah roda gigi (gear)

= 27 gigi

Jumlah roda gigi (pinion)

= 18 gigi

Modul

= 8,46 mm

Bahan roda gigi

= FC 18

Kekuatan tegangan izin

= 3,924.104 kPa

3. Poros
Bahan poros

= G 10500 AISI 1050 ditarik dingin

Panjang poros

= 172 mm

32

Diameter poros

= 11 mm

4. Pasak
Penampang pasak

= 5 x 5 (mm)

Panjang pasak

= 15 mm

Kedalaman pada poros

= 3 mm

Kedalaman pada naf

= 2 mm

5. Bantalan
Bahan bantalan

= JIS 6001

Umur bantalan

= 49,275 , 106 rev

Beban dinamis

= 69,65 kg

33

DAFTAR PUSTAKA

1. Shigley, J.E dan LD. Mitchell, Perencanaan Teknik Mesin, Jilid 2, Edisi
Keempat, Erlangga, Jakarta, 1984.
2. Sularso, Ir, MSME dan K. Suga, Dasar Perencanaan Dan Pemilihan Elemen
Mesin, Cetakan Kesembilan, Pradnya Paramita, Jakarta, 1997.
3. Daryanto, Drs, Pengetahuan Dasar Teknik, Cetakan Pertama, Bina Aksara,
Jakarta, 1988.
4. http://www.scribd.co.id/univeritas-sriwijaya
5. http://www.google.com

34

LAMPIRAN

35