Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i


Daftar Isi......

BAB I
Pendahuluan .......

1. Latar Belakang ...................................................................................

2. Maksud Dan Tujuan...........................................................................

BAB II
Pembahasan.....................................................................................................

1. Definisi Batuan Metamorf..................................................................

2. Proses Metamorfisme.......................................................................... 3
3. Agen-Agen Metamorfisme.................................................................. 5
4. Fasies-Fasies Metamorfisme............................................................... 5
5. Jenis-Jenis Batuan Metamorf............................................................

6. Struktur Batuan Metamorf................................................................

10

7. Tekstur Batuan Metamorf..................................................................

14

8. Mineral-mineral Penyusun Batuan Metamorf.................................

16

9. Penamaan Dan Klasifikasi Batuan Metamorf.................................. 18


BAB III
Kesimpulan .....................................................................................................

21

Penutup............................................................................................................

22

23

Daftar Pustaka.................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Geologi adalah suatu bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian yang mempelajari
segala sesuatu mengenai planit Bumi beserta isinya yang pernah ada. Merupakan
kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang
membentuk bumi, struktur, proses-proses yang bekerja baik didalam maupun
diatas permukaan bumi,kedudukannya di Alam Semesta serta sejarah
perkembangannya sejak bumi ini lahir di alam semesta hingga sekarang. Ilmu ini
mempelajari dari benda-benda sekecil atom hingga ukuran benua, samudra,
cekungan dan rangkaian pegunungan.
Semua batuan pada mulanya dari magma. Magma keluar di
permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung berapi.
Gunung berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma
yang sudah mencapai permukaan bumi akan membeku. Magma
yang membeku kemudian menjadi batuan beku. Batuan beku
muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur
terurai selama terkena panas, hujan, serta aktifitas tumbuhan
dan hewan.
Selanjutnya hancuran batuan tersebut tersangkut oleh air, angin
atau hewan ke tempat lain yang pada akhirnya akan diendapkan.
Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan endapan atau
batuan sedimen. Baik batuan sedimen atau beku dapat berubah
bentuk dalam waktu yang sangat lama karena adanya
perubahan temperatur dan tekanan. Batuan yang berubah
bentuk disebut batuan malihan atau batuan metamorf.
Dalam makalah ini secara khusus membahas tentang batuan metamorf meliputi
pengertian batuan metamorf, agen-agen metamorfisme, jenis-jenis metamorfisme,
fasies metamorf, dan mineral-mineral penyusun batuan metamorf.

2.Maksud Dan Tujuan


Maksud dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai salah satu indikator penilaian
(tugas) mata kuliah Praktikum Geologi Fisik yang terkait dengan batuan
metamorf.
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu untuk menambah pengetahuan tentang
batuan metamorf utamanya yang terkait dengan pengertian batuan metamorf,
agen-agen metamorfisme, fasies-fasies metamorfisme, jenis-jenis metamorfisme,
dan Mengidentifikasi mineral-mineral penyusun batuan metamorf.
2

BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Batuan Metamorf
Batuan

metamorf (batuan

malihan)

adalah

salah

satu

kelompok

utama batuan yang merupakan hasil transformasi atau ubahan dari suatu tipe
batuan yang telah ada sebelumnya, protolith, oleh suatu proses yang disebut
metamorfisme, yang berarti "perubahan bentuk", dimana terjadi perubahan atau
alterasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan
pada temperatur dan tekanan tinggi dalam kerak bumi atau Batuan metamorf
adalah batuan yang berasal dari batuan induk yang lain, dapat berupa batuan beku,
batuan sedimen, maupun batuan metamorf sendiri yang telah mengalami
proses/perubahan mineralogi, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan
strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur yang
baru pula sebagai akibat pengaruh temperatur dan tekanan yang tinggi.

2. Proses Metamorfisme
Batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan oleh proses
metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses pengubahan batuan
akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia fluida/gas atau
variasi dari ketiga faktor tersebut. Proses metamorfosa merupakan proses
isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia pada batuan yang
mengalami metamorfosa. Proses metamorfosa terjadi dalam fasa padat, tanpa
mengalami fasa cair, dengan temperatur 2000C 6500C. Menurut Grovi (1931)
perubahan dalam batuan metamorf adalah hasil rekristalisasi dan dari rekristalisasi
tersebut akan terbentuk kristal-kristal baru, begitupula pada teksturnya.Menurut
H. G. F. Winkler (1967), metamorfisme adalah proses yang mengubah mineral
suatu batuan pada fase padat karena pengaruh terhadap kondisi fisika dan kimia
dalam kerak bumi, dimana kondisi tersebut berbeda dengan sebelumnya. Proses
tersebut tidak termasuk pelapukan dan diagenesa.

Disamping karena pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga


dipengaruhi oleh fluida, dimana fluida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara
butiran mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion
terlarut akan mempercepat proses metamorfisme. Aktivitas kimiawi fluida dan
gas yang berada pada jaringan antar butir batuan mempunyai peranan yang
penting dalam metamorfosa. Fluida aktif yang banyak berperan adalah air beserta
karbon dioksida , asam hidroklorik dan hidroflourik. Umumnya fluida dan gas
tersebut bertindak sebagai katalis atau solven serta bersifat membantu reaksi
kimia dan penyetimbangan mekanis (Huang, 1962).
Tahap-Tahap Proses Metamorfisme
Rekristalisasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini terjadi penyusunan
kembali kristal-kristal dimana elemen-elemen kimia yang sudah ada
sebelumnya sudah ada.

Reorientasi
Proses ini dibentuk oleh tenaga kristaloblastik, disini pengorientasian
kembali dari susunan kristal-kristal, dan ini akan berpengaruh pada tekstur
dan struktur yang ada.

Pembentukan mineral-mineral baru


Proses ini terjadi dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimiawi
yang sebelumnya telah ada.

Syarat syarat terjadinya metamorfisme adalah :

Adanya batuan asal ( protolith )

Adanya peningakatan suhu

Adanya peningkatan tekanan (stresses)

Adanya penambahan dan pengurangan fluida

Adanya faktor waktu (jutaan tahun)

Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka


akan membentuk magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali
dan menjadi batuan-batuan baru lagi.
Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi
oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut :

Komposisi mineral batuan asal


Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme
Pengaruh gaya tektonik
Pengaruh fluida

3. Agen-agen Metamorfisme
Adapun agen-agen atau faktor-faktor yang berperan dalam proses
metamorfisme yaitu :
1) Suhu atau Temperatur :
Suhu atau temperatur merupakan agen atau faktor pengontrol yang
berperan dalam proses metamorfisme. Kenaikan suhu atau temperatur
dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan rekristalisasi atau
pengkristalan kembali mineral-mineral dalam batuan yang telah ada
dengan tidak melalui fase cair. Pada kondisi ini temperatur sekitar 3501200 derajat celcius.
2) Tekanan atau Pressure :
Tekanan atau pressure merupakan faktor pengontrol atau agen dari proses
metamorfisme. Kenaikan tekanan dapat menyebabkan terjadi perubahan
dan rekristalisasi pada mineral dalam batuan yang telah ada sebelumnya.
Pada kondisi ini tekanan sekitar 1-10.000 bar (Jackson).
3) Cairan Panas/Aktifitas Larutan Kimia :
Aktivitas larutan kimia juga merupakan agen dari proses metamorfisme.
Adanya cairan panas/aktivitas larutan kimia dapat menyebabkan terjadinya
alterasi atau perubahan pada batuan yang telah ada sebelumnya.

4. Fasies-Fasies Metamorf
Fasies metamorfisme adalah suatu pengelompokan mineral mineral metamorfik
berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan
metamorf. Setiap fasies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan
berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat sifat fisik atau
kimia. Jadi, fasies metamorfisme intinya menyatakan bahwa pada komposisi
batuan tertentu, kumpulan mineral yang mencapai keseimbangan selama
metamorfisme di bawah kisaran kondisi fisik tertentu, termasuk dalam fasies
metamorfisme yang sama. Prinsip fasies metamorfisme bersamaan dengan
gradien hidrotermal dan kondisi geologi.
Fasies metamorfisme juga bisa dianggap sebagai hasil dari proses isokimia
metamorfisme, yaitu proses metamorfisme yang terjadi tanpa adanya penambahan
unsur-unsur kimia yang dalam hal ini komposisi kimianya tetap. Penentuan fasies
5

metamorf dapat dilakukan dengan dua cara yakni dengan cara menentukan
mineral penyusun batuan atau dengan menggunakan reaksi metamorf yang dapat
diperoleh dari kondisi tekanan dan temperature tertentu dari batuan metamorf.

Gambar diagram fasies metamorf (suhu vs tekanan)

Menurut Turner (1960), fasies metamorfisme secara garis besar dapat dibagi
menjadi dua bagian yakni fasies metamorfosa kontak dan fasies metamorfosa
regional.

1) Fasies Metamorfisme Kontak


Turner (1960) membagi fasies dari metamorfosa kontak berdasarkan penambahan
suhu (baik tekanan air konstan maupun berkurang). Metamorfosa kontak disini
berarti pengaruh suhu sangat dominan, sedangkan tekanan tidak begitu dominan.
Dibagi menjadi 4 fasies yaitu:
a. Fasies Hornfels Albit-Epidot : Biasanya terdapat dibagian paling luar suatu
daerah kontak sehingga rekristalisai dari reaksi metamorfosa cenderung
tidak sempurna, serta dicirikan oleh relic yang stabil
b. Fasies Hornfels Hornblende : Awal fasies batutanduk hornblende tercirikan
oleh hilangnya klorit dalam hal adakuarsa dan munculnya pertama sekali
diopsid, fosterit +kalsit, grossularite/andradite, kordierit, hornblende dan
ortoanfibol.
c. Fasies Hornfels Piroksen : Fasies ini oleh winkler (1967) disebut fasies
batutanduk K. feldsfar-kordierit,karena pertama sekali K. feldsfar dan

kordierit. Fasies ini terbentuk pada suhu yang tinggi dan tekanan yang
rendah. Mineral pencirinya adalah orthopiroksen.
d. Fasies Sanadinit : Fasies sanadinit adalah salah satu fasies langka karena
kondisi pembentukannya memerlukan suhu yang sangat tinggi, tetapi
tekanannya rendah. Oleh karenanya, kondisi ini hanya bisa dicapai di
sekitar daerah metamorfosa kontak tetapi dengan syarat suhu tertentu.
Karena jika suhu terlalu tinggi, maka batuan bisa melebur. Fasies ini
terdapatnya sebagai fragmen dalam tuf, xenolit dalam lava basa dan zona
kontak yang sempit disekitar pipa atau leher gunung api.

2) Fasies Metamorfosa Regional


Fasies ini meliputi daerah yang penyebarannya sangat luas dan selalu dalam
bentuk sabuk pegunungan (orogenic). Dibagi menjadi 7 fasies yaitu :
a. Fasies Zeolit : Fasies Zeolit adalah fasies metamorf tipe regional
dengan derajat terendah, dimana jika suhu dan tekanan berkurang maka
akan terjadi proses diagenesa. Pada batas diagenesa dan metamorfisme
regional, akan terjadi pengaturan kembali mineral lempung, kristalisasi
pada kuarsa dan K-feldspar, terombaknya mineral temperatur tinggi dan
pengendapan karbonat. Bila perubahan ini terjadi pada butiran yang
kasar, maka akan memasuki metamorfosa dengan fasies Zeolit.
b. Fasies Prehnite-Pumpellyite : Fasies ini terbentuk dengan kondisi suhu
dan tekanan rendah, tetapi sedikit lebih tinggi daripada fasies Zeolit.
Penamaan fasies ini berasal dari kandungan dua mineral dominan yang
muncul yakni mineral prehnite (a Ca Al phyllosilicate)
dan pumpellyite (a sorosilicate).
c. Fasies Greenschist (Sekis Hijau) : Terbentuk pada tekanan dan
temperatur yang menengah, tetapi temperatur lebih besar daripada
tekanan. Fasies ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya
sangat luas. Nama fasies ini sendiri diambil dari warna mineral
dominan penyusunnya yakni ada klorit dan epidot.
d. Fasies Blueschist (Sekis Biru) : Terbentuk pada tekanan dan temperatur
yang menengah, tetapi temperatur lebih kecil daripada tekanan. Fasies
ini merupakan salah satu fasies yang penyebarannya sangat luas. Nama
fasies ini sendiri diambil dari warna mineral dominan penyusunnya
yakni ada glaukofan, lawsonite, jadeite, dll. Contoh batuan asal yang
bisa membentuk fasies ini ialah basalt, tuff, greywacke dan rijang.
e. Fasies Amfibolit : Fasies amfibolit terbentuk pada tekanan menengah
dan suhu yang cukup tinggi. Penyebaran fasies ini tidak seluas dari
7

fasies sekis hijau. Batuan yang masuk dalam fasies ini adalah pelitik,
batupasir-feldspatik, basal, andesit, batuan silikat-kapur, batupasir
kapuran dan serpih amfibolit.
f. Fasies Granulit : Fasies ini terbentuk pada tekanan rendah hingga
menengah, tetapi pada suhu yang tinggi. Fasies ini adalah hasil dari
metamorfosa derajat tinggi, merupakan metamorfosa yang paling
bawah dari kelompok gneissic.
g. Fasies Eklogit : Fasies metamorf yang paling tinggi, terbentuk pada
tekanan yang sangat tinggi dan suhu yang besar jauh di dalam bumi.
Batuan ini biasanya sangat keras karena terbentuk pada kedalaman yang
besar di dalam bumi.

5. Jenis-Jenis Batuan Metamorf


Jenis-jenis atau macam-macam metamorfisme secara umum dapat
dibedakan menjadi 3 macam yakni :

1) Metamorfisme kontak/termal
Metamorfisme sentuh ini biasa juga disebut metamorfisme thermal atau
metamorfisme kontak. Faktor yang sangat berpengaruh pada metamorfisme
sentuh atau kontak ini adalah suhu yang panas, sedangkan tekanan relatif rendah
dan terjadi dekat dengan intrusi magma, yakni kontak antara tubuh intrusi
magma/ekstrusi dengan batuan di sekitarnya dengan lebar 2 3 km. Salah satu
contohnya pada zona intrusi yang dapat menyebabkan pertambahan suhu pada
daerah disekitar intrusi. Contohnya, batolit, sill ,lakolit, stock, dan dike. Luas zona
metamorfosis di sekitar batolit bisa mencapai puluhan kilometer persegi, di
sekitar stock sampai ribuan meter persegi, namun di sekitar sill dan dike zona
metamorfosis tersebut tidaklah begitu luas.Pada zona metamorfosis juga banyak

dijumpai mineral bahan galian yang letaknya teratur menurut jauh jaraknya dari
batuan induk. Makin jauh dari batuan induk makin berkurang pula derajat
metamorfosisnya karena temperatur makin rendah. Mineral-mineral bahan galian
yang terbentuk melalui proses metamorfosis antara lain besi, timah, tembaga, dan
zink dihasilkan dari batuan limestone, dan calcareous shale.

Metamorfisme sentuh dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu :


a. Pirometamorfisme merupakan jenis metamorfisme sentuh/kontak yang
terjadi akibatpengaruh langsung dari panas intrusi magma.
Contoh : hornfelsik, skarn, buchites, dan lain-lain.
b. Pneumatolysa merupakan jenis metamorfisme sentuh/kontak yang terjadi
akibat pengaruh dari gas-gas panas yang berasal dari magma yang sedang
naik yang dapat merubah batuan sekelilingnya dan membentuk mineralmineral baru.
Contoh : tourmaline-hornfels, tourmaline-slate, skarn, dan lain-lain.
c. Hydrothermal merupakan jenis metamorfisme sentuh atau kontak yang
terjadi akibat larutan panas pada waktu terjadi intrusi.
Contoh : Phyrophilite, schist, quarzite, dan lain-lain.

Tembaga

2) Metamorfisme Dynamo/dinamik/dislokasi/kinematik
Metamorfisme dynamo juga sering disebut dengan metamorfisme kinetik atau
dislokasi, akibat oleh adanya pergeseran atau dislokasi pada batuan. Misalnya
oleh sesar. Jadi faktor yang memegang peranan penting dalam metamorfisme
dynamo ini adalah tekanan atau pressure dengan daerah yang relatif sempit.
Tekanan yang berpengaruh disini ada dua macam, yaitu: hidrostatis, yang
mencakup ke segala arah; dan stress, yang mencakup satu arah saja. Makin dalam
ke arah kerak bumi pengaruh tekanan hidrostatika semakin besar. Sedangkan
tekanan pada bagian kulit bumi yang dekat dengan permukaan saja,
metamorfisme semacam ini biasanya didapatkan di daerah sesar/patahan. Adanya
tekanan dari arah yang berlawanan menyebabkan butiran-butiran mineral menjadi
pipih dan ada yang mengkristal kembali. contohnya, batu lumpur menjadi batu
tulis(Slate), Mylonite, Phyllonite, frictionbreccias, dan lain-lain.

Slate

3) Metamorf Pneumatolistis Kontak


Metamorf pneomatolistis kontak adalah batuan yang mengalami perubahan karena
adanya pengaruh gas-gas dari magma. Contohnya, kuarsa dengan gas borium akan
berubah menjadi turmalin dan kuarsa dengan gas fluorium akan berubah menjadi
topas.

Topaz

6. Struktur Batuan Metamorf


Struktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran,
bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut(Jackson, 1970).
Pembahasan mengenai struktur juga meliputi susunan bagian massa batuan
termasuk hubungan geometrik antar bagian serta bentuk dan kenampakan internal
bagian-bagian tersebut. (Bucher & Frey, 1994).
10

Secara umum struktur yang dijumpai di dalam batuan metamorf dibagi menjadi
dua kelompok besar yaitu struktur foliasi dan struktur non foliasi.

1) Struktur Foliasi
Struktur foliasi merupakan kenampakan struktur planar pada suatu massa
batuan (Bucher & Frey, 1994). Foliasi ini dapat terjadi karena adanya
penjajaran mineral-mineral menjadi lapisan-lapisan (gneissosity), orientasi
butiran(schistosity), permukaan belahan planar(cleavage) atau kombinasi dari
ketiga hal tersebut (Jackson, 1970).
Struktur ini meliputi :
a. Slaty Cleavage

Umumnya ditemukan pada batuan metamorf berbutir sangat halus


(mikrokristalin) yang dicirikan oleh adanya bidang-bidang belah planar yang
sangat rapat, teratur dan sejajar. Batuannya disebut slate (batusabak).

b. Phylitic
Srtuktur ini hampir sama dengan struktur slaty cleavage tetapi terlihat
rekristalisasi yang lebih besar dan mulai terlihat pemisahan mineral pipih
dengan mineral granular. Batuannya disebut phyllite (filit)

11

c. Schistosic
Terbentuk adanya susunan parallel mineral-mineral pipih, prismatic atau
lentikular (umumnya mika atau klorit) yang berukuran butir sedang sampai
kasar. Batuannya disebut schist (sekis).

d. Gneissic/Gnissose
Terbentuk oleh adanya perselingan., lapisan penjajaran mineral yang
mempunyai bentuk berbeda, umumnya antara mineral-mineral granuler
(feldspar dan kuarsa) dengan mineral-mineral tabular atau prismatic (mioneral
ferromagnesium). Penjajaran mineral ini umumnya tidak menerus melainkan
terputus-putus. Batuannya disebut gneiss.

2) Struktur Non Foliasi.


Yaitu struktur yang tidak memperlihatkan adanya penjajaran mineral
penyusun batuan metamorf. Struktur ini terbentuk oleh mineral-mineral
equidimensional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran (granular). Struktur
non foliasi yang umum dijumpai antara lain :
12

a. Hornfelsic/granulose
Terbentuk oleh mozaic mineral-mineral equidimensional dan equigranular dan
umumnya berbentuk polygonal. Batuannya disebut hornfels (batutanduk)

b. Kataklastik
Berbentuk oleh pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan
umumnya membentuk kenampakan breksiasi. Struktur kataklastik ini terjadi
akibat metamorfosa kataklastik. Batuannya disebut cataclasite (kataklasit).
c. Milonitic
Dihasilkan oleh adanya penggerusan mekanik pada metamorfosa kataklastik.
Cirri struktur ini adalah mineralnya berbutir halus, menunjukkan kenampakan
goresan-goresan searah dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral
primer. Batiannya disebut mylonite (milonit).

d. Phylonitic
Mempunyai kenampakan yang sama dengan struktur milonitik tetapi
umumnya telah terjadi rekristalisasi. Cirri lainnya adlah kenampakan kilap
sutera pada batuan yang ,mempunyai struktur ini. Batuannya disebut
phyllonite (filonit)

13

e. Flaser
Sama struktur kataklastik, namun struktur batuan asal berbentuk lensa yang
tertanam pada masa dasar milonit.
f. Augen
Sama struktur flaser, hanya lensa-lensanya terdiri dari butir-butir felspar dalam
masa dasar yang lebih halus.
g. Granulose
Struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya butirannya mempunyai
ukuran yang beragam.
h. Liniasi
Struktur yang memperlihatkan adanya kumpulan mineral yang berbentuk jarus
atau fibrous.

7. Tekstur Batuan Metamorf


Tekstur merupakan kenampakan batuan yang berdasarkan pada ukuran, bentuk
dan orientasi butir mineral individual penyusun batuan metamorf (Jackson, 1970).
Penamaan tekstur batuan metamorf umumnya menggunakan awalan blastoatau
akhiran blastic yang ditambahkan pada istilah dasarnya. Penamaan tekstur
tersebut akan dibahas pada bagian berikut ini.

1) Tekstur berdasarkan ketahanan terhadap proses metamorfosa


Berdasarkan ketahanannya terhadap proses metamorfosa ini tekstur batuan
metamorf dapat dibedakan menjadi :
a. Palimset/ Relict/Sisa
Tekstur ini merupakan tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan sisa
tekstur batuan asalnya atau tekstur batuan asalnya masih tampak pada batuan
metamorf tersebut. Awalan blasto digunakan untuk penamaan tekstur batuan
metamorf ini. Contohnya adalah blastoporfiritik yaitu batuan metamorf yang
tekstur porfiritik batuan beku asalnya masih bisa dikenali. Batuan yang
mempunyai kondisi seperti ini sering disebut batuan metabeku atau
metasedimen.
b. Kristaloblastik
Tekstur kristloblastik merupakan tekstur batuan metamorf yang terbentuk oleh
sebab proses metamorfosa itu sendiri. Batuan dengan tekstur ini sudah

14

mengalami rekristalisasi sehingga tekstur asalnya tidak tampak. Penamaannya


menggunakan akhiran blastik.

2) Tekstur berdasarkan ukuran butir


Berdasarkan ukuran butirnya, tekstur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
a. Fanerit, bila butiran kristal masih dapat dilihat dengan mata
b. Afanit, Bila butiran kristal tidak dapat dibedakan dengan mata

3) Tekstur berdasarkan bentuk individu kristal


Bentuk individu kristal pada batuan metamorf dapat dibedakan menjadi :
a. Euhedral, bila kristal dibatasi oleh bidang permukaan kristal itu sendiri
b. Subhedral, bila kristal dibatasi sebagian oleh bidang permukaannya sendiri
dan sebagian oleh bidang permukaan kristal disekitarnya.
c. Anhedral, bila kristal dibatasi seluruhnya oleh bidang permukaan kristal
lain disekitarnya.
Pengertian bentuk kristal ini sama dengan yang dipergunakan pada batuan beku.
Berdasarkan bentuk kristal tersebut maka tekstur batuan metamorf dapat
dibedakan menjadi :

Idioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh Kristal berbentuk euhedral

Xenoblastik/Hypidioblastik, apabila mineralnya dibatasi oleh kristal


berbentuk anhedral.

4) Tekstur berdasarkan bentuk mineral


Berdasarkan bentuk mineralnya, tekstur batuan metamorf dapat dibedakan
menjadi :
a. Lepidoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk tabular
b. Nematoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk prismatic
c. Granoblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular,
equidimensional, batas mineralnya bersifat sutured(tidak teratur) dan
umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
d. Granuloblastik, apabila mineral penyusunnya berbentuk granular,
equidimensional, batas mineralnya bersifat unsutured(lebih teratur) dan
umumnya kristalnya berbentuk anhedral.
Selain tekstur yang telah disebutkan diatas terdapat beberapa tekstur khusus
lainnya yang umumnya akan tampak pada pengamatan petrografi, Yaitu:

15

Porfiroblastik, apabila terdapat beberapa mineral yangh ukurannya lebih


besar tersebut sering disebut sebagai porphyroblasts
Poikiloblastik/Sieve Texture yaitu tekstur porfiroblastik dengan
porphyroblasts tampak melingkupi beberapa kristal yang lebih kecil.
Mortar teksture, apabila fragmen mineral yang lebih besar terdapat pada
massa dasar material yang berasal dari kirstal yang sama yang terkena
pemecahan (crushing).
Decussate texture yaitu tekstur kristaloblastik batuan polimeneralik yang
tidak menunjukkan keteraturan orientasi.
Sacaroidal Texture yaitu tekstur yang kenampakannya seperti gula pasir.

Batuan mineral yang hanya terdiri dari satu tekstur saja, sering disebut
bertekstur homeoblastik, sedangkan batuan yang mempunyai lebih dari satu
tekstur disebut bertekstur heteroblastik.

8. Mineral-mineral Penyusun Batuan Metamorf


Mineral-mineral yang terdapat pada batuan metamorf dapat berupa mineral yang
berasal dari batuan asalnya maupun dari mineral baru yang terbentuk akibat
proses metamorfisme sehingga dapat digolongkan menjadi 3,yaitu :
1. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan beku dan batuan metamorf
seperti kuarsa, felspar, muskovit, biotit, hornblende, piroksen, olivin dan
bijih besi.
2. Mineral yang umumnya terdapat pada batuan sedimen dan batuan
metamorf seperti kuarsa, muskovit, mineral-mineral lempung, kalsit dan
dolomit.
3. Mineral indeks batuan metamorf seperti garnet, andalusit, kianit, silimanit,
stautolit, kordierit, epidot dan klorit.
Proses pertumbuhan mineral saat terjadinya metamorfosa pada fase padat dapat
dibedakan
menjadi secretionary
growth,
concentrionary
growth dan replacement(Ramberg, 1952 dalam Jackson, 1970). Secretionary
growth merupakan pertumbuhan kristal hasil reaksi kima fluida yang terdapat
pada batuan yang terbentuk akibat adanya tekanan pada batuan
tersebut. Concentrionary growthadalah proses pendesakan kristal oleh kristal
lainnya untuk membuat ruang pertumbuhan. Sedangkan replacement merupakan
proses penggantian mineral lama oleh mineral baru.
Tekanan merupakan faktor yang mempengaruhi stabilitas mineral pada batuan
metamorf (Huang, 1962). Dalam hal ini dikenal dua golongan mineral yaitu stress
mineral dan antistress mineral.
1. Stress mineral merupakan mineral yang kisaran stabilitasnya akan semakin
besar bila terkena tekanan atau dengan kata lain merupakan mineral yang
tahan terhadap tekanan. Mineral-mineral tersebut umumnya merupakan
16

penciri batuan yang terkena deformasi sangat kuat. seperti sekis.


Contoh stress mineral antara lain kloritoid, stauroilit dan kianit.
2. Antistress mineral adalah mineral yang kisaran stabilitasnya akan menurun
pada kondisi tekanan yang sama. Mineral ini tidak tahan terhadap tekanan
tinggi sehingga tidak pernah ditemukan pada batuan yang terdeformasi
kuat. Contoh mineralnya antara lain andalusit, kordierit, augit, hypersten,
olivin, potasium felspar dan anortit.
Berikut adalah beberapa mineral yang ada di batuan metamorf :
a. Amphibole/Hornblende
Amphibole adalah kelompok mineral silikat yang berbentuk prismatik atau
kristal yang menyerupai jarum. Mineral amphibole umumnya mengandung
besi (Fe), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), dan Alumunium (Al), Silika
(Si), dan Oksigen (O). Hornblende tampak pada foto yang berwarna hijau
tua kehitaman. Mineral ini banyak dijumpai pada berbagai jenis batuan
beku dan batuan metamorf.
b. Biotite
Semua mineral mika berbentuk pipih, bentuk kristal berlembar
menyerupai buku dan merupakan bidang belahan (cleavage) dari mineral
biotite. Mineral biotite umumnya berwarna gelap, hitam atau coklat
sedangkan muscovite berwarna terang, abu-abu terang. Mineral mika
mempunyai kekerasan yang lunak dan bisa digores dengan kuku.
c. Plagioclase feldspar
Mineral Plagioclase adalah anggota dari kelompok mineral feldspar.
Mineral ini mengandung unsur Calsium atau Natrium. Kristal feldspar
berbentuk prismatik, umumnya berwarna putih hingga abu-abu, kilap
gelas. Plagioklas yang mengandung Natrium dikenal dengan mineral
Albite, sedangkan yang mengandung Ca disebut An-orthite.
d. Potassium feldspar (Orthoclase)
Potassium feldspar adalah anggota dari mineral feldspar. Seperti halnya
plagioclase feldspar, potassium feldspars adalah mineral silicate yang
mengandung unsur Kalium dan bentuk kristalnya prismatik, umumnya
berwarna merah daging hingga putih.
e. Mica

17

Mica adalah kelompok mineral silicate minerals dengan komposisi yang


bervariasi, dari potassium (K), magnesium (Mg), iron (Fe), aluminum (Al)
, silicon (Si) dan air (H2O). 6. Quartz Quartz adalah satu dari mineral yang
umum yang banyak dijumpai pada kerak bumi. Mineral ini tersusun dari
Silika dioksida (SiO2), berwarna putih, kilap kaca dan belahan (cleavage)
tidak teratur (uneven) concoidal.
f. Calcite
Mineral Calcite tersusun dari calcium carbonate (CaCO3). Umumnya
berwarna putih transparan dan mudah digores dengan pisau. Kebanyakan
dari binatang laut terbuat dari calcite atau mineral yang berhubungan
dengan lime dari batugamping.

9. Penamaan Dan Klasifikasi Batuan Metamorf


Tatanama batuan metamorf secara umum tidak sesismatik penamaan batuan beku
atau sedimen. Kebanyakan nama batuan metamorf didasarkan pada kenampakan
struktur dan teksturnya. Untuk memperjelas banyak dipergunakan kata tambahan
yang menunjukkan ciri khusus batuan metamorf tersebut, misalnya keberadaan
mineral pencirinya (contohnya sekis klorit) atau nama batuan beku yang
mempunyai komposisi yang sama (contohnya granite gneiss). Beberapa nama
batuan juga berdasarkan jenis mineral penyusun utamanya (contohnya kuarsit)
atau dapat pula dinamakan berdasarkan fasies metamorfiknya (misalnya granulit).
Selain batuan yang penamaannya berdasarkan struktur, batuan metamorf lainnya
yang banyak dikenal antara lain :

Amphibolit yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar
dan mineral utama penyusunnya adalah amfibol(umumnya hornblende)
dan plagioklas. Batuan ini dapat menunjukkan schystosity bila mineral
prismatiknya terorientasi.
Eclogit yaitu batuan metamorf dengan besar butir sedang sampai kasar dan
mineral penyusun utamanya adalah piroksen ompasit (diopsid kaya
sodium dan aluminium) dan garnet kaya pyrope.
Granulit, yaitu tekstur batuan metamorf dengan tekstur granoblastik yang
tersusun oleh mineral utama kuarsa dan felspar serta sedikit piroksen dan
garnet. Kuarsa dan garnet yang pipih kadang dapat menunjukkan struktur
gneissic.
Serpentinit, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineralnya hampir
semuanya berupa mineral kelompok serpentin. Kadang dijumpai mineral
tambahan seperti klorit, talk dan karbonat yang umumnya berwarna hijau.
Marmer, yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineral karbonat (kalsit
atau dolomit) dan umumnya bertekstur granoblastik.

18

Skarn, Yaitu marmer yang tidak murni karena mengandung mineral calcsilikat seperti garnet, epidot. Umumnya terjadi karena perubahan
komposisi batuan disekitar kontak dengan batuan beku.
Kuarsit, Yaitu batuan metamorf yang mengandung lebih dari 80% kuarsa.
Soapstone, Yaitu batuan metamorf dengan komposisi mineral utama talk.
Rodingit, Yaitu batuan metamorf dengan komposisi calc-silikat yang
terjadi akibat alterasi metasomatik batuan beku basa didekat batuan beku
ultrabasa yang mengalami serpentinitasi.

TABEL IDENTIFIKASI BATUAN METAMORF


GENESA

Kwarsa

Mika

- Abu-abu
kehitaman,
hijau, merah
- Kilap suram

KOMPOSISI
MINERAL
UTAMA
Klorit

SLATY CLEAVAGE

CIRI LAIN

NAMA
BATUAN

- Metamor BATU
fosa
SABAK
regional
(SLATE)
- Dari
mudstone,
siltstone,
claystone
dll

- Belahan
berkembang
baik
- Kehijauan
atau merah
- Kilap sutera

FILIT

- Foliasi
kadang-kadang
bergelombang
- Kadangkadang hadir
garnet

Amphibole

- Belahan
tidak
berkembang
baik
SESCHISTO

FOLIASI

STRUKT
UR

Metamorf
osa
Regional

SEKIS

19

- Warna beragam
- Lebih keras
dibanding kaca

KOMPOSISI
MINERAL
UTAMA

- Warna putih
sampai dengan
hitam
- Kadang masih
terdapat fosil
- Lebih keras
dibanding kuku jari

GENIS

NAMA
BATUAN
KWARSIT

KWARSA

- Warna gelap
- Berbutir halus
- Lebih keras
dibanding gelas

GENE
SA

KWARSA/MIKA

Termal/KontakMetamorfosa

CIRI LAIN

Metamorf
osa
Regional
Piroksen

GNEISSIC

NON FOLIASI

STRUK
TUR

Kwarsa dan
feldspar
nampak
berselang
seling dengan
lapisan tipis
yang kaya
amphibol dan
mika

HORNFELS

MARMER

DOLOMIT
Atau
KALSIT

- Bereaksi dengan
HCl
- Hijau terang

SERPENTIN

SERPENTIN
20

sampai gelap
- Kilap berminyak
- Lebih keras dari
kuku jari
- Hitam
- Pecahan
konkoidal

ANTRASITE
COAL

- Lebih keras dari


kuku jari
- Abu-abu hijau
sampai abu-abu biru
- Kilap berminyak

SOAP STONE
TALK

- Lebih lunak dari


kuku jari

BAB III
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang bisa ditarik dari makalah ini yaitu:
1. Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk yang lain,
dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf sendiri
yang telah mengalami proses yang disebut metamorfisme dimana terjadi
perubahan mineralogi, tekstur maupun struktur sebagai akibat pengaruh
temperatur dan tekanan yang tinggi.
2. Batuan metamorf terjadi karena adanya perubahan yang disebabkan oleh
proses metamorfosa. Proses metamorfosa merupakan suatu proses pengubahan
batuan akibat perubahan tekanan, temperatur dan adanya aktifitas kimia
fluida/gas atau variasi dari ketiga faktor tersebut tanpa melalui fase cair
(batuan tetap berada pada fase padat). Proses metamorfosa merupakan proses
isokimia, dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia pada batuan
yang mengalami metamorfosa.
3. Fasies metamorfisme adalah suatu pengelompokan mineral mineral
metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada
batuan metamorf. Setiap fasies pada batuan metamorf pada umumnya
dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat
sifat fisik atau kimia.
4. Secara umum batuan metamorf dapat dibagi menjadi :

21

Metamorfisme Kontak / Termal : Metamorfisme yang terjadi pada zona

kontak dengan tubuh magma, secara intrusif maupun ekstrusif.


Metamorfisme Dinamik / Kataklastik : Metamorfisme yang terjadi pada

zona sesar.
Metamorfisme Regional : Metamorfisme yang terjadi pada daerah yang
luas akibat orogenesis dan terletak di tepi benua (continental margins).

5. Mineral-mineral penyusun batuan metamorf merupakan mineral-mineral yang


ada pada batuan yang telah ada sebelumnya, baik mineral yang berasal dari
batuan beku, sedimen, maupun metamorf.
6. Prosedur penamaan batuan metamorf tidak sistematik seperti pada batuan
beku dan sedimen. Nama-nama batuan metamorf terutama didasarkan pada
kenampakan tekstur dan struktur. Nama yang umum sering dimodifikasi oleh
awalan yang menunjukkan kenampakan nyata atau aspek penting dari tekstur
(contoh gneis augen), satu atau lebih mineral yang ada (contoh skis klorit),
atau nama dari batuan beku yang mempunyai komposisi sama (contoh gneis
granit). Beberapa nama batuan yang didasarkan pada dominasi mineral
(contoh metakuarsit) atau berhubungan dengan facies metamorfik yang
dipunyai batuan (contoh granulit).

PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini
dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah
ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada
umumnya.

22

DAFTAR PUSTAKA
- http://id.wikipedia.org/wiki/Batuan_metamorf
- http://marshalchristiansimamora.wordpress.com/2012/07/22/geologi-danbatuan/
- http://anindyaestiandari.wordpress.com/2013/05/09/fasies-metamorfisme-fasiesmetamorfisme-adalah-sekelompok-batuan-yang-termetamorfosa/
- http://geograph88.blogspot.com/2013/03/jenis-batuan-metamorf.html
- http://tugasgeografi.wordpress.com/2011/05/08/batuan/
- http://anto-elnino.blogspot.com/
- http://www.seputarpengetahuan.com/2014/09/batuan-malihan-batuanmetamorf.html
- http://ptbudie.wordpress.com/2012/04/11/struktur-dan-tekstur-batuan-metamorf/

23