Anda di halaman 1dari 96

ESTIMASI KEDALAMAN BATUAN DASAR

MENGGUNAKAN METODA GEOLISTRIK TAHANAN JENIS


KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DI UNIVERSITAS NEGERI
PADANG KAMPUS AIR TAWAR

SKRIPSI
untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar sarjana sains

MEDIA FEBRINA
NIM. 01984

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012

ABSTRAK

Media Febrina :Estimasi Kedalaman Batuan Dasar Menggunakan Metoda


Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Dipole-dipole di
Universitas Negeri Padang Kampus Air Tawar
Keberadaan batuan dasar di Universitas Negeri Padang (UNP) kampus Air
Tawar belum diketahui. Mengingat pentingnya fungsi UNP sebagai penghasil
tenaga-tenaga ahli dan profesional serta seringnya terjadi aktivitas tektonik di
wilayah ini, maka perlu dilakukan penelitian keberadaan batuan dasar. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan kedalaman, nilai tahanan jenis dan jenis batuan
dasar sehingga menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan di
UNP kampus Air Tawar, serta menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya baik
dibidang Geologi maupun dibidang Geofisika lainnya yang berkaitan dengan
batuan dasar.
Penelitian dasar yang bersifat deskriptif dilakukan menggunakan metoda
geolistrik tahanan jenis konfigurasi Dipole-dipole. Lokasi penelitian ini yaitu di
UNP kampus Air Tawar tepatnya di 4 lintasan. Data yang diperoleh dari hasil
pengukuran kemudian diolah menggunakan software Res2dinv dengan inversi
Robust Constraint sehingga diperoleh model 2D bawah permukaan bumi.
Interpretasi dan analisa data dilakukan dengan cara membandingkan tahanan jenis
yang diperoleh dengan tabel tahanan jenis dan kondisi geologi daerah
pengukuran.
Hasil penelitian ini yaitu diduga terdapat batuan dasar di Lintasan 1 dan 2
pada kedalaman lebih dari 25,2 m, tepatnya di sekitar titik sounding dengan nilai
tahanan jenis 513 622 m dan 632 2150 m. Lintasan 3 juga ditemukan
batuan dasar dengan nilai tahanan jenis 596,5 - 734 m pada kedalaman lebih
dari 21,85 m yaitu di sekitar titik sounding. Lintasan 4 tidak ditemukan adanya
batuan dasar, kemungkinan batuan dasar di Lintasan 4 terdapat pada kedalaman
lebih dari 29,5 m. Batuan dasar tersebut ditafsirkan sebagai batuan dasar Andesite
yang menjadi dasar bagi batuan-batuan di atas lapisannya.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaian skripsi yang berjudul
Estimasi Kedalaman Batuan Dasar Menggunakan Metoda Geolistrik
Tahanan Jenis Konfigurasi Dipole-dipole di Universitas Negeri Padang
Kampus Air Tawar.
Adapun penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian
persyaratan memperoleh gelar sarjana sains pada Program Studi Fisika, Jurusan
Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Padang. Penulis mendapatkan bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak
selama penyelesaian skripsi ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada:
1. Bapak Drs. Akmam, M.Si sebagai pembimbing I dan sebagai Ketua Jurusan
Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri
Padang.
2. Ibu Fatni Mufit, S.Pd, M.Si sebagai pembimbing II.
3. Bapak Dr. H. Ahmad Fauzi, M.Si, Bapak Drs. Mahrizal, M.Si, Bapak
Dr. Hamdi, M.Si dan Bapak Harman Amir, S.Si, M.Si selaku tim penguji.
4. Bapak Drs. Masril, M.Si sebagai Penasehat Akademis.
5. Ibu Dra. Yurnetti, M.Pd sebagai Sekretaris Jurusan Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang.
6. Ibu Dra. Hidayati, M.Si sebagai Ketua Prodi Fisika, Jurusan Fisika, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang.
7. Bapak dan Ibu staf Pengajar Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Padang.
8. DP2M DIKTI yang telah memberikan bantuan dana penelitian ini melalui
PKM.
2

9. Teman satu perjuangan selama penyelesaian skripsi, Elvi Novia S dan Nelvira
Rizalmi terima kasih atas bantuan dan kerja samanya.
10. Edi Kurnia, S.Si, Elsi Ariani, S.Si, Sesri Santurima, S.Si, Nofri Hardisal, Yogi
Refiyon dan teman-teman tim geolistrik 2009, terima kasih atas bantuan
teknis selama pengambilan data.
11. Bapak Tunsri Febrison dan Bapak Ahmad Syamsuardi yang telah membantu
perbaikan alat sehingga pengambilan data dapat diselesaikan.
12. Kedua orang tua yang selalu mendukung penulis.
13. Teman-teman seangkatan dan seperjuangan.
14. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu.

Padang ,

Agustus 2012

Media Febrina
Nim. 01984

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
3

B.
C.
D.
E.
F.
G.
BAB II
A.

Identifikasi Masalah ......................................................................... 4


Batasan dan Rumusan Masalah ....................................................... 4
Pertanyaan Penelitian ....................................................................... 5
Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
Manfaat Penelitian ........................................................................... 6
Definisi Istilah ................................................................................. 6
KERANGKA TEORITIS
Kajian Teori ..................................................................................... 8
1. Batuan Dasar .............................................................................. 8
2. Tahanan Jenis Batuan ................................................................. 16
3. Metoda Geolistrik Tahanan Jenis ............................................... 20
4. Konfigurasi Dipole-dipole .......................................................... 25
5. Kondisi Geologi Daerah Penelitian ............................................ 27
6. Metoda Inversi Robust Constraint............................................... 31
B. Penelitian-penelitian yang Relevan ................................................. 33
C. Kerangka Berfikir ............................................................................ 34
BAB III METODA PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ................................................................................ 36
B. Waktu dan Tempat Penelitian .......................................................... 36
C. Parameter yang Diamati .................................................................. 38
D. Instrumentasi / Alat dan Bahan ....................................................... 38
E. Prinsip Kerja Ares Multielectrode ................................................... 39
F. Prosedur Penelitian .......................................................................... 42
G. Teknik Analisis dan Interpretasi Data ............................................. 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deksripsi Data ................................................................................. 46
B. Analisa dan Interpretasi Data .......................................................... 49
C. Pembahasan ..................................................................................... 68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................73
B. Saran ................................................................................................73
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................74
LAMPIRAN ...................................................................................................77

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman
4

1. Batuan Sedimen Klastik beserta Nama Partikel dan Endapannya


...............................................................................................................
13
2. Tahanan
Jenis
Batuan
Beku
dan
Metamorf
...............................................................................................................
17
3. Tahanan
Jenis
Batuan
Sedimen
...............................................................................................................
18
4. Data Kedalaman Sumur Air Tanah di Sekitar UNP Kampus Air
Tawar
...............................................................................................................
30
5. Data Kedalaman Maksimum dan Panjang Lintasan pada Setiap
Lintasan
Pengukuran
...............................................................................................................
47
6. Nilai Tahanan Jenis Semu Minimum dan Maksimum pada Setiap
Lintasan
...............................................................................................................
48
7. Hasil Interpretasi Data Lintasan 1 (FE FIS) dengan inversi Robust
Constraint
0,001
...............................................................................................................
53
8. Hasil Interpretasi Data Lintasan 1 (FE FIS) dengan inversi Robust
Constraint
0,005
...............................................................................................................
54
9. Hasil Interpretasi Data Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
...............................................................................................................
57
10. Hasil Interpretasi Data Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,005
...............................................................................................................
59
5

11. Hasil Interpretasi Data Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) dengan


inversi
Robust
Constraint
0,001
...............................................................................................................
61
12. Hasil Interpretasi Data Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,005
...............................................................................................................
63
13. Hasil Interpretasi Data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar)
dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
...............................................................................................................
66
14. Hasil Interpretasi Data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar)
dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
...............................................................................................................
67
15. Nilai Tahanan Jenis dan Kedalaman Batuan Dasar Masing-masing
Lintasan
...............................................................................................................
69

DAFTAR GAMBAR
Gambar

Halaman

1. Karakteristik
9

Reservoir

Batuan

Dasar

2. Titik Sumber Arus pada Permukaan dari Medium Homogen


21
3. Dua Elektroda Arus dan Dua Elektroda Potensial di Atas Permukaan
Tanah yang Homogen Isotropis dengan Resistivitas
22
4. Susunan
25

Elektroda

pada

Konfigurasi

Dipole-dipole

5. Kedalaman yang Dapat Dicapai Konfigurasi Dipole-dipole


25
6. Peta

Geologi

Kota

28
7

Padang

7. Kerangka
35

Berfikir

Penelitian

8. Desain Lintasan Pengukuran di UNP Kampus Air Tawar


37
9. Ares

Multielectrode
40

10. Display Data


45

Kedalaman

pada

Pengukuran

Geolistrik

11. Penampang Model 2D Lintasan 1 (FE FIS) dengan inversi Robust


Constraint
0,001
50
12. Penampang Model 2D Lintasan 1 (FE FIS) dengan inversi Robust
Constraint
0,005
53
13. Penampang Model 2D Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
56
14. Penampang Model 2D Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,005
58
15. Penampang Model 2D Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
60
16. Penampang Model 2D Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) dengan
inversi
Robust
Constraint
0,005
62
17. Penampang Model 2D Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar)
dengan
inversi
Robust
Constraint
0,001
64
18. Penampang Model 2D Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar)
dengan
inversi
Robust
Constraint
0,005
66

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Data Lintasan 1 (FE FIS) ...................................................................... 77
2. Data Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) ..................................................... 78
9

3. Data Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) ..................................................... 79


4. Data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) ................................. 80

10

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kota Padang merupakan salah satu wilayah yang sering terjadi
gempabumi dengan kekuatan cukup besar yaitu lebih dari 5 SR, bahkan pada
tanggal 30 September 2009 terjadi gempabumi dengan kekuatan 7,6 SR.
Menurut Munir (1995: 143), Gempabumi yang dasyat akan mengakibatkan
berubahnya susunan lapisan bumi. Berdasarkan hal tersebut diperkirakan
gempabumi yang sering terjadi di Kota Padang dapat menyebabkan
berubahnya struktur batuan termasuk batuan dasar.
Universitas Negeri Padang (UNP) kampus Air Tawar merupakan salah
satu lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang menghasilkan tenagatenaga ahli dan profesional baik dibidang Kependidikan maupun non
Kependidikan. Mengingat pentingnya fungsi kampus ini untuk kemajuan
bangsa serta seringnya terjadi aktivitas tektonik di wilayah ini maka perlu
dilakukan penelitian-penelitian tentang Kebumian di wilayah ini baik
dibidang Geofisika maupun dibidang Geologi, salah satunya penelitian
tentang keberadaan batuan dasar.
Batuan dasar merupakan batuan yang paling tua diantara batuan yang
ada di sekitar wilayahnya. Batuan dasar memiliki sifat yang sangat kompak
pada lapisan bagian bawah, sementara pada lapisan atas cenderung
mengalami pelapukan. Proses pelapukan yang terjadi pada lapisan atas batuan

dasar akan membentuk lapisan batuan baru. Lapisan batuan baru tersebut juga
akan mengalami pelapukan sehingga terbentuk jenis batuan yang lain.
Berdasarkan sifat tersebut diketahui bahwa batuan dasar dapat menjadi dasar
bagi jenis-jenis batuan yang berada di atas lapisannya sehingga keberadaan
batuan dasar dapat menjadi salah satu acuan dalam studi tentang struktur
batuan di suatu daerah.
Keberadaan dan jenis batuan dasar di UNP kampus Air Tawar belum
diketahui. Mengingat UNP kampus Air Tawar masih dalam tahap
pembangunan, maka informasi tentang keberadaan dan jenis batuan dasar
sangat dibutuhkan. Informasi tersebut dapat menjadi salah satu bahan
pertimbangan dalam perencanaan pembangunan di UNP kampus Air Tawar.
Keberadaan dan jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan
bumi dapat diperkirakan menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis
melalui estimasi kedalaman dan nilai tahanan jenis batuan dasar. Metoda ini
dilakukan dengan cara mengalirkan arus listrik ke dalam permukaan bumi
melalui dua elektroda arus dan mengukur beda potensial listrik yang
ditimbulkan di permukaan bumi, sehingga nantinya dapat diketahui nilai
tahanan jenis dan kedalaman lapisan bawah permukaan bumi. Nilai tahanan
jenis ini mengidentifikasikan penyusun lapisan bawah permukaan bumi
tersebut.
Metoda geolistrik memiliki beberapa konfigurasi yaitu Wenner,
Schlumberger, Pole-dipole, Pole-pole, Dipole-dipole dan Square. Penelitian
ini menggunakan konfigurasi Dipole-dipole untuk mengestimasi kedalaman
batuan dasar. Konfigurasi Dipole-dipole dapat mencapai kedalaman yang lebih

dalam dibandingkan dengan konfigurasi Wenner dan Schlumberger dan


sensitif terhadap variasi nilai tahanan jenis secara lateral.
Penelitian mengenai batuan dasar menggunakan metoda geolistrik
tahanan jenis telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Astuti (2011)
telah melakukan penelitian menentukan kedalaman batuan dasar (Basement)
menggunakan pengukuran tahanan jenis di Desa Pacekelan, Kecamatan
Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Rasimeng dkk (2007) dan
Margoworo (2009) juga telah melakukan penelitian identifikasi batuan dasar
di Sumberjaya, Lampung Barat dan di Desa Kroyo, Karangmalang, Kabupaten
Sragen. Ketiga penelitian tersebut berhasil menggunakan metode geolistrik
tahanan jenis dalam menentukan kedalaman batuan dasar dan identifikasi jenis
batuan dasar.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
yang berjudul Estimasi Kedalaman Batuan Dasar Menggunakan Metoda
Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Dipole-dipole di Universitas Negeri
Padang Kampus Air Tawar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi tentang kedalaman dan jenis batuan dasar sehingga
menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan
serta dimanfaatkan untuk penelitian selanjutnya baik dibidang Geologi
maupun dibidang Geofisika lainnya berkaitan dengan batuan dasar di UNP
kampus Air Tawar.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, terdapat


beberapa identifikasi masalah yaitu:
1. Gempabumi yang sering terjadi di Kota Padang diduga menyebabkan
berubahnya struktur batuan termasuk batuan dasar di wilayah ini.
2. Belum diketahui kedalaman dan nilai tahanan jenis batuan dasar penyusun
lapisan bawah permukaan bumi di UNP kampus Air Tawar.
3. Belum diketahui jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah permukan
bumi di UNP kampus Air Tawar.
C. Batasan dan Rumusan Masalah
Penulis membatasi masalah pada penelitian ini mengingat adanya
keterbatasan waktu dan kemampuan penulis. Batasan masalah dalam
penelitian ini yaitu:
1. Jumlah lintasan pengukuran pada penelitian ini adalah 4 lintasan dengan
panjang lintasan mulai dari 155 m sampai 425 m.
2. Lokasi lintasan pengukuran yang dipilih adalah lokasi yang dapat
merentangkan kabel elektroda,
3. Analisa data dilakukan menggunakan software Res2dinv dengan inversi
Robust Constraint.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah
diuraikan, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini yaitu Berapakah
kedalaman batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan bumi di UNP
kampus Air Tawar?
D. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah diuraikan maka beberapa hal yang
menjadi pertanyaan pada penelitian ini adalah:
1. Berapakah nilai tahanan jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah
permukaan bumi di UNP kampus Air Tawar?

2. Berapakah kedalaman batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan


bumi di UNP kampus Air Tawar?
3. Apakah jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan bumi di
UNP kampus Air Tawar?
E. Tujuan Penelitian
Agar penelitian ini lebih terarah dan dapat menjawab pertanyaan
penelitian yang telah diuraikan, maka ditetapkan beberapa tujuan penelitian
ini yaitu:
1. Mengetahui nilai tahanan jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah
permukaan bumi di UNP kampus Air Tawar.
2. Mengetahui kedalaman batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan
bumi di UNP kampus Air Tawar.
3. Mengetahui jenis batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan bumi
di UNP kampus Air Tawar.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian tentang kedalaman batuan dasar ini diharapkan dapat
memberikan manfaat dan kontribusi yaitu:
1. Memberikan informasi tentang kedalaman dan jenis batuan dasar
penyusun lapisan bawah permukaan bumi di UNP kampus Air Tawar.
2. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan
pembangunan di UNP kampus Air Tawar.
3. Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya baik dibidang Geologi maupun
dibidang Geofisika lainnya yang berkaitan dengan batuan dasar di UNP
kampus Air Tawar.
G. Definisi Istilah
Berikut ini beberapa definisi istilah yang digunakan dalam penelitian
ini, antara lain:

1. Batuan dasar merupakan batuan yang tersingkap di sekitar tubuh gunung


api dan bertindak sebagai alas dari aneka jenis batuan yang dihasilkan oleh
gunung api tersebut.
2. Tahanan jenis merupakan sifat fisika yang menunjukkan kemampuan
bahan dalam menghambat aliran arus listrik.
3. Metoda geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu metoda geofisika
yang digunakan untuk mempelajari keadaan bawah permukaan bumi
dengan cara mempelajari sifat aliran listrik di dalam batuan di bawah
permukaan bumi.
4. Konfigurasi Dipole-dipole merupakan konfigurasi dalam eksplorasi
geolistrik dimana jarak antara kedua elektroda arus dengan jarak kedua
elektroda potensial sama.

BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Kajian Teori
1. Batuan Dasar
Batuan merupakan material yang mengandung satu atau beberapa
mineral dan berbentuk padatan. Batuan terbentuk dari campuran mineral
yang bergabung secara fisik menjadi satu. Mineral-mineral pembentuk
batuan ini dapat dijadikan acuan untuk mengenal jenis-jenis batuan.
Awalnya batuan berasal dari magma yang meleleh ke arah permukaan
bumi. Akibat suhu permukaan bumi lebih rendah daripada suhu di dalam
bumi maka terjadilah pembekuan magma yang membentuk batuan.
Menurut Samodra (2008: 279), Batuan dasar adalah batuan yang
tersingkap di sekitar tubuh gunung api dan bertindak sebagai alas dari
aneka jenis batuan yang dihasilkan oleh gunung api tersebut. Umumnya
batuan dasar menjadi dasar tipe batuan yang ada di atasnya.
Ciri-ciri batuan dasar yaitu: memiliki tekstur yang keras, bersifat
tidak menyerap air (impermeable) dan tidak memiliki zona pelapisan.
Menurut Luthi (2005: 96),
Karakteristik reservoir batuan dasar adalah sebagai berikut:
a. Reservoir batuan dasar dapat terbentuk dari posisi uplift (terangkat)
atau tertinggi hingga lapisan dasar seperti pada Gambar 1.
b. Reservoir batuan dasar terbentuk di bawah lapisan yang tidak selaras.
c. Ruang pori-pori batuan dasar terdiri dari celah tektonik dan patahan.
d. Semakin ke atas tingkat pelapukan batuan dasar semakin meningkat.

Gambar 1. Karakteristik Reservoir Batuan Dasar (Luthi. 2005: 96)


Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa reservoir batuan dasar
terdapat pada uplift (terangkat) atau tertinggi. Posisi uplift ini terus naik
secara kontinu selama peride waktu yang panjang tergantung pada waktu
pelapukan dan erosi. Struktur tinggi pada batuan dasar tersebut dibentuk
oleh patahan tektonik yang kemudian ditutupi oleh sedimen. Sedimen
muda yang terdapat pada bagian lereng ataupun bagian yang kontak
langsung dengan batuan dasar memberikan peluang untuk terbentuknya
jebakan minyak bumi pada batuan dasar sehingga memberikan peluang
adanya kandungan minyak bumi pada batuan dasar. Batuan dasar selalu
berada di bawah lapisan yang tidak selaras. Ketidakselarasan tersebut
berperan penting pada reservoir batuan dasar karena dapat menjadi jalur
untuk migrasi minyak bumi.
Batuan dasar memiliki nilai tahanan jenis yang cukup tinggi, artinya
arus listrik sulit mengalir melalui batuan dasar. Hal ini disebabkan karena
batuan dasar memiliki porositas dan permeabilitas yang sangat rendah.

10

Menurut Sircar (2004: 148), Batuan dasar memiliki nilai porositas


mendekati nol, sementara menurut Gutmanis (2010: 4), Nilai porositas
batuan dasar adalah antara 0,1 1% dan nilai permeabilitas batuan dasar
kecil dari 0,5% kecuali pada zona lapuk yaitu 5 10%. Nilai porositas
yang rendah menyebabkan batuan dasar bersifat kurang porus dan sedikit
memiliki

pori-pori,

sementara

nilai

permeabilitas

yang

rendah

menyebabkan batuan dasar memiliki sedikit kandungan air bahkan tidak


sama sekali sehingga kemungkinan arus listrik dapat mengalir melalui
batuan dasar sangat kecil.
Rendahnya nilai porositas yang dimiliki oleh batuan dasar
memungkinkan terjadinya porositas sekunder pada batuan ini. Menurut
Sircar (2004: 148),
Porositas sekunder yang terjadi pada batuan dasar dibagi atas 2.
a. Porositas Tektonik, yaitu berupa patahan, sesar dan sebagainya.
b. Dissolution Porosity yaitu efek dari adanya pelarutan pada wilayah
pelapukan ataupun dapat juga terjadi pada wilayah sesar sampai
wilayah yang dipengaruhi sirkulasi hidrotermal.
Batuan dasar dapat ditemukan di permukaan bumi sampai
kedalaman yang tak diketahui. Batuan dasar merupakan batuan yang
paling tua diantara batuan yang ada disekitar wilayahnya. Batuan dasar
yang dimiliki setiap daerah berbeda satu sama lainnya tergantung pada
sejarah geologi daerah tersebut sehingga batuan dasar dapat berupa batuan
beku, batuan sedimen maupun metamorf.
a. Batuan Beku
Menurut Getis et al (1988: 60), Batuan beku merupakan batuan
yang dibentuk melalui proses pendinginan dan pembekuan oleh

11

material-material bumi. Batuan beku disebut juga batuan induk, karena


merupakan fase awal terbentuknya batuan-batuan lain. Menurut Endarto
(2005: 23), Ciri khas batuan beku adalah kenampakannya yang
kristalin, yaitu kenampakan suatu massa dari unit-unit kristal yang
saling mengunci (interlocking).
Berdasarkan pembentukannya batuan beku terdiri dari 2 jenis,
yaitu batuan beku intrusive dan batuan beku extrusive. Batuan beku
intrusive terbentuk di bawah permukaan bumi yang berasal dari
pembekuan magma. Contoh batuan beku intrusive antara lain: batuan
granit, pegmatit, diabas (dolerit), basalt, gabbro dan monsonit. Batuan
beku extrusive terbentuk di atas permukaan bumi yang berasal dari
pembekuan lava. Contoh batuan ini antara lain: batuan basalt, andesite,
batu apung, dan obsidian (batu kaca).
Proses pembekuan magma lebih lambat daripada pembekuan
lava. Hal ini disebabkan karena magma berada di dalam perut bumi
yang tertutup dari pendinginan udara. Selama proses pembekuan
magma, silikon dan oksigen akan bercampur dengan magma sehingga
membentuk kuarsa (quartz) yaitu sejenis mineral yang keras dan padat.
Butiran-butiran kuarsa akan berkombinasi membentuk batuan yang
disebut granite (Getis et al. 1988: 60).
Lava yang keluar ke permukaan bumi dan bercampur dengan air
laut akan mengandung sodium atau calcium aluminosilicates yang
dapat membentuk mineral feldspar. Mineral feldspar berkombinasi
dengan pyroxene akan membentuk batuan basalt. Batuan basalt ini
merupakan batuan yang paling umum di bumi. Berbeda dengan lava

12

yang keluar dari erupsi gunung berapi dan langsung mengalami


pembekuan dengan cepat akan membentuk pumice dan obsidian. Jika
lava bercampur dengan air dan mengalami pembekuan maka lava akan
membentuk batuan glassiness.
b. Batuan Sedimen
Batuan sedimen berasal dari pemecahan batuan sebelumnya yang
mengalami proses pengendapan setelah dialirkan oleh medium air,
udara dan es sehingga terjadi perubahan secara fisik dan kimiawi. Jadi
batuan sedimen berasal dari batuan yang telah ada, baik batuan beku,
metamorf ataupun batuan sedimen lainnya yang mengalami pelapukan,
terbawa pergi dan pengendapan. Menurut Endarto (2005: 96),
Sifat-sifat utama batuan sedimen yaitu:
1) Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan
adanya proses sedimentasi.
2) Sifat klastik atau fragmen yang menandakan bahwa butir-butir
pernah lepas, terutama pada golongan detritus.
3) Sifat jejak atau adanya bekas-bekas tanda kehidupan (fosil).
4) Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya: gipsun, klasit,
dolomit dan rijing.
Batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu
Clastic Sediment, Chemically Precipitated Sediment dan Organic
Sediment (Strahler et al. 1984: 204).
1) Sedimen Klastik (Clastic Sediment)
Menurut Munir (1995:87), Sedimen klastik adalah akumulasi
partikel-partikel yang berasal dari pecahan batuan dan sisa-sisa
kerangka organisme yang telah mati. Sedimen klastik terdiri dari
mineral-mineral yang diperoleh dari pemecahan batuan sebelumnya
dimana batuan yang sangat besar pecah menjadi bagian yang sangat

13

kecil. Contoh batuan sedimen klastik beserta asal endapannya


ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1.
Batuan Sedimen Klastik beserta Nama Partikel dan
Endapannya.
Nama
Partikel

Batu besar
Kerikil kasar
Kerikil halus
Pasir
Debu
Liat

Kisaran
Ukuran
Diameter
(mm)
> 256
64 256
2 64
1/16 2
1/256 1/16
< 1/256

Nama
Endapa
n yang
Lepas
Kerikil
Kerikil
Kerikil
Pasir
Debu
Liat

Nama Batuan
Gabungan (Clastic
Sediment)
Konglomerat
Sedimen
Breksi
Batu pasir
Batu pasir
Batu liat, batu lumpur
dan shale

(Sumber : Munir.1995: 88)


Konglomerat merupakan batuan yang mengalami sedimentasi
dan menjadi padat dimana butir-butir kerikilnya berbentuk bulatbulat atau halus. Konglomerat ini ditemukan jauh dari sumbernya
karena mengalami proses transportasi yang jauh.
Breksi adalah batuan yang hampir sama dengan konglomerat
tetapi butir-butirnya berbentuk runcing tidak beraturan. Breksi
ditemukan tidak jauh dari sumbernya karena proses transportasinya
cukup dekat.
Batu pasir (sandstone) terbentuk dari butiran-butiran pasir
(quartz) yang ukurannya mencapai 2 mm. Batu pasir dapat terbentuk
hampir di semua tempat, namun lebih sering terbentuk di dasar laut
dan gurun (Taylor.2005: 69).
Batu lumpur berasal dari endapan partikel tanah liat yang kecil
(lumpur). Batu lumpur umumnya terjadi di daerah yang memiliki

14

aliran air yang tenang seperti danau ataupun laut dan sungai-sungai
yang memiliki aliran air cukup tenang.
2) Sedimen Kimia (Chemically Precipitated Sediment)
Sedimen kimia terdiri dari campuran mineral anorganik yang
mengendap setelah dialirkan laut. Salah satu contoh jenis batuan
sedimen ini adalah batu kapur. Batu kapur berasal dari kalsit dan
terbentuk di perairan tropis yang dangkal. Kalsit pada beberapa batu
kapur berasal dari sisa makhluk laut purba dan ada yang mengendap
di air secara kimia sebagai lumpur. Contoh batuan sedimen kimia
yang lain yaitu: evaporit, batu gamping, gipsum dan batuan sedimen
bersilika.
3) Sedimen Organik (Organic Sediment)
Sedimen organik terdiri dari jaringan tumbuhan dan hewan
yang telah mati dan mengalami pengendapan. Contoh batuan
sedimen jenis ini adalah Batu Bara. Batu Bara berasal dari timbunan
sisa-sisa tumbuhan di dasar danau atau rawa yang berubah menjadi
gambut kemudian menjadi Batu Bara muda dan terakhir menjadi
Batu Bara.
c. Batuan Metamorf
Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan
sebelumnya, sehingga ada beberapa mineral dari batuan asalnya
terdapat pula dalam batuan metamorf (Endarto.2005: 83). Batuan ini
terbentuk akibat pengaruh tekanan dan temperatur yang cukup tinggi
pada batuan beku dan sedimen, sehingga terjadi perubahan fisik dari
komposisi mineralnya. Misalnya shale yang merupakan batuan sedimen

15

berubah menjadi slate akibat tekanan tinggi, batu kapur menjadi marble
akibat kondisi tertentu, begitu juga dengan granite yang dapat menjadi
gneiss.
Komposisi mineral pada batuan metamorf yaitu:
1) Mineral-mineral pada batuan metamorf dan batuan beku, seperti:
kuarsa, feldspar, muskovit, bijih besi, piroksin dan olivin.
2) Mineral-mineral pada batuan metamorf dan batuan sedimen, seperti:
kuarsa, muskovit, kalsit dan dolomit.
3) Mineral-mineral petunjuk pada batuan metamorf, seperti: garnet,
andalusit, kianit, klorit, epidot, staurolit dan silimanit.
Menurut Noor (2009: 90), Perubahan pada beberapa mineral
hanya akan stabil pada kondisi tekanan dan temperatur tertentu. Jika
terjadi perubahan tekanan dan temperatur, maka mineral pada batuan
akan mengalami reaksi kimia hingga mineral tersebut menjadi stabil
pada tekanan dan temperatur tertentu. Beberapa contoh batuan
metamorf antara lain: marmer, skarn, hornfel, metaquartzit, schist dan
gneiss.
2. Tahanan Jenis Batuan
Tahanan jenis merupakan sifat fisika yang menunjukkan
kemampuan material dalam menghambat aliran arus listrik (Marescot.
2009: 7). Berdasarkan kemampuan dalam menghantarkan arus listrik,
material dikelompokkan menjadi tiga yaitu konduktor, semikonduktor dan
isolator. Konduktor merupakan material yang dapat menghantarkan arus
listrik karena banyak memiliki elektron bebas, sebaliknya isolator
merupakan material yang tidak dapat menghantarkan arus listrik karena
tidak memiliki elektron bebas. Semikonduktor merupakan material dapat

16

menghantarkan arus listrik, namun tidak sebaik konduktor. Menurut


Telford et al (1976:450),
Secara umum berdasarkan nilai tahanan listriknya, batuan dan mineral
dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. konduktor baik
: 10-8 m < < 1 m,
b. konduktor menengah
: 1 m < < 107 m,
c. isolator
: > 107 m.
Nilai tahanan jenis batuan beku, sedimen dan metamorf ditunjukkan
pada Tabel 2 dan 3.
Tabel 2. Tahanan Jenis Batuan Beku dan Batuan Metamorf
Batuan
Granite
Granite porphyry
Feldspar porphyry
Albite
Syenite
Diorite
Diorite porphyry
Porphyrite
Carbonatized porphyry
Quartz porphyry
Quartz diorite
Porphyry (various)
Dacite
Andesite
Diabase porphyry
Diabase (various)
Lavas
Gabbro
Basalt
Olivine norite
Peridotite
Hornfels
Schists
Tuffs
Graphite schists
Slates (various)
Gneiss (various)
Marmer
Skarn

Tahanan Jenis (m)


310 106
4,5103(basah) 1,3106(kering)
4103(basah)
3102(basah) 3,3103(kering)
102 106
104 105
1,9103(basah) 2,8104(kering)
10 5104(basah) 3,3103(kering)
2,5103(basah) 6104(kering)
3102 3105
2104 2106(basah) 1,8105(kering)
60104
2104(basah)
4,5104(basah) 1,7102(kering)
103(basah) 1,7105(kering)
20 5107
102 5104
103 106
10 1,3107(kering)
103 6104(basah)
3103(basah) 6,5103(kering)
8103(basah) 6107(kering)
20 104
2103(basah) 105(kering)
10 102
6102 4107
6,8104(basah) 3106(kering)
102 2,5108(kering)
2,5102(basah) 2,5108(kering)
2

17

Quartzites (various)
10 2108
(Sumber : Telford et al. 1976:454)

Tabel 3. Tahanan Jenis Batuan Sedimen


Batuan
Consolidated shales
Argillites
Conglomerates
Sandstones
Limestones
Dolomite
Unconsolidated wet clay
Marls
Clays
Alluvium and sands
Oil sands
(Sumber: Telford et al. 1976:455)

Tahanan Jenis (m)


20 - 2103
10 - 8102
2103 104
1 6,4108
50 107
3,5102 - 5103
20
3 70
1 100
10 800
4 - 800

Berdasarkan Tabel 2 dan 3 diketahui bahwa batuan beku memiliki nilai


tahanan jenis paling tinggi dan batuan metamorf memiliki nilai tahanan
jenis yang lebih rendah daripada batuan beku namun lebih tinggi daripada
batuan sedimen, sedangkan batuan sedimen memiliki nilai tahanan jenis
paling rendah diantara batuan-batuan tersebut.
Hubungan antara rapat arus J dengan kuat medan listrik E menurut
Hukum Ohm adalah
J=E

(1)

18

dimana adalah daya hantar listrik. Jika besar kuat medan listrik

V
L , maka diperoleh

V
L

J =

menjadi Persamaan (2).


I =JA=

E =

sehingga kuat arus I dapat ditulis

A
L V

(2)

Persamaan (2) memperlihatkan bahwa saat konstan, arus total I


sebanding dengan beda potensial V. Perbandingan antara V dengan I pada
konduktor disebut hambatan.
R=

V
I

(3)

Hubungan hambatan R dengan daya hantar listrik pada suatu


logam konduktor dinyatakan dengan menggunakan Persamaan (2) dan (3),
yaitu:
R

L
A

(4)

Hubungan antara tahanan jenis dengan daya hantar listrik bahan


dinyatakan pada Persamaan (5).

sehingga Persamaan (4) dan (5) menjadi


V
=
I

(5)
L
A

(6)

Berdasarkan Persamaan (6) dijelaskan bahwa tahanan jenis dengan


kuat arus memiliki hubungan berbanding terbalik. Semakin besar nilai
tahanan jenis suatu bahan maka arus listrik semakin sulit mengalir.
Sebaliknya, semakin kecil nilai tahanan jenis suatu bahan maka semakin
arus listrik semakin mudah mengalir melalui bahan tersebut. Jadi, tahanan

19

jenis juga memiliki hubungan berbanding terbalik dengan daya hantar


listrik, seperti dinyatakan pada Persamaan (5) di atas.
3. Metoda Geolistrik Tahanan Jenis
Metoda geolistrik merupakan metoda geofisika yang digunakan
untuk mengetahui kondisi atau struktur geologi di bawah permukaan bumi
dengan cara mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi. Menurut
Santoso (2002: 111), Beberapa metoda yang termasuk kelompok ini ialah:
tahanan jenis, tahanan jenis Head on, potensial diri, polarisasi terimbas,
EM VLF, magnetotelurik, arus telurik, dan elektromagnetik.
Metoda geolistrik tahanan jenis mempelajari sifat tahanan jenis
listrik pada lapisan batuan di bawah permukaan bumi. Metoda ini
menggunakan dua elektroda arus dan dua elektroda potensial. Arus listrik
dialirkan ke bawah permukaan bumi melalui dua elektroda arus, kemudian
beda potensial listrik yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial.
Tahanan jenis batuan di bawah permukaan bumi dapat dihitung dari hasil
pengukuran arus dan beda potensial listrik tersebut.
Hasil pengukuran arus listrik dan beda potensial untuk setiap jarak
elektroda tertentu, dapat ditentukan variasi harga tahanan jenis masingmasing lapisan di bawah titik ukur (Ardi dkk. 2009: 80). Variasi tahanan
jenis lapisan batuan dapat diamati dengan mengubah spasi elektroda sesuai
dengan konfigurasi yang digunakan saat pengukuran. Jadi besaran yang
diukur pada metoda geolistrik adalah arus listrik dan beda potensial listrik,
sedangkan besaran yang dihitung adalah tahanan jenis.

20

Aliran arus listrik di dalam bumi diasumsikan bahwa bumi


merupakan medium homogen isotropis. Ketika arus listrik dialirkan ke
dalam bumi, arus listrik akan mengalir ke segala arah dan berbentuk
setengah bola, seperti pada Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2.

Titik Sumber Arus pada Permukaan dari Medium Homogen


(Telford et al. 1976 : 635)

Jika medium homogen isotropis dengan luas A dilalui arus listrik I


maka kerapatan arus J dapat dihitung menggunakan Persamaan (2). Jika
Persamaan (5) disubstitusikan pada Persamaan (1), maka diperoleh
hubungan kerapatan arus J dengan tahanan jenis yaitu:
E
J=

(7)

Medan listrik E merupakan potensial gradien yaitu perbedaan


potensial atau jatuh tegangan antara kedua titik yang diinjeksikan arus
listrik sehingga dapat dinyatakan dengan Persamaan (8).
dV
E = V= dr

(8)

Medan listrik E pada Persamaan (7) disubstitusikan ke Persamaaan


(8) akan menunjukkan hubungan antara potensial gradien dengan tahanan
jenis dan kerapatan arus J pada Persamaan (9).

21

dV
dr

= J

(9)

Jika kerapatan arus J pada Persamaan (2) disubstitusikan ke


Persamaan (9) akan menghasilkan hubungan antara potensial gradien
dengan luas permukaan A dan arus listrik I.
dV
I
dr = A

(10)

dimana luas permukaan A adalah luas permukaan distribusi arus yaitu


setengah bola 2r2 sehingga perbedaan potensial dV terhadap distribusi
arus dr yaitu:
dV =

I
2
2r

dr

(11)

Persamaan (11) dapat diselesaikan dengan cara melakukan


pengintegralan sehingga diperoleh beda potensial V pada titik r yaitu:
I
V(r) = 2 r
(12)
Menurut Telford et al. (1976:635-636), Ketika jarak diantara dua
elektroda arus terbatas (lihat Gambar 3), potensial yang dekat pada titik
permukaan akan dipengaruhi oleh kedua elektroda arus tersebut.

Gambar 3.

Dua Elektroda Arus dan Dua Elektroda Potensial di Atas


Permukaan Tanah yang Homogen Isotropis dengan
Resistivitas (Telford et al. 1976 : 636)

22

Berdasarkan Berdasarkan Gambar 3 dapat diketahui bahwa r1 adalah jarak


antara P1 dengan C1, r2 adalah jarak antara P1 dengan C2, r3 adalah jarak
antara P2 dengan C1 dan r4 adalah jarak antara P2 dengan C2.
Potensial yang disebabkan oleh C1 pada P1 adalah
A 1
I
V 1=
=
r1
2 r1
I
2

A 1=

dimana

(14)

Sama halnya potensial yang disebabkan oleh C2 pada P1 adalah


A 2 I
V 2=
=
r2
2 r2
I
=
2

A 2=

dimana

(13)

(15)

A1

(16)

(17)

Kemudian, diperoleh

I 1 1

2 r 1 r2

V1 + V 2 =

Terakhir, dengan mengetahui potensial yang disebabkan oleh kedua


elektroda C1 dan C2 pada P2, dapat diukur perbedaan potensial antara P1
dan P2, yaitu:

V =

I
2

({ r1 r1 )( r1 r1 )}

(18)

V
I

(19)

dapat juga ditulis


=K

dimana

K=2

{(

1 1
1 1

r1 r2
r3 r4

)(

)}

(20)

23

dimana K adalah faktor geometri dari susunan elektroda, yang nilainya


berubah sesuai dengan perubahan jarak spasi antara elektroda-elektroda.
Persamaan (20) menunjukkan bahwa K bergantung pada susunan atau
konfigurasi yang digunakan.
Menurut Akmam (2004: 596), Secara umum tahanan jenis bumi
tidak homogen, berarti bahwa yang terhitung dengan Persamaan (19) di
atas adalah tahanan jenis semu (apparent resitivity, a). Tahanan jenis
semu tidak secara langsung menunjukkan nilai tahanan jenis medium,
namun mencerminkan distribusi nilai tahanan jenis medium. Hal ini
disebabkan karena bumi merupakan medium non homogen yang terdiri
dari banyak lapisan dengan tahanan jenis yang berbeda-beda sehingga
mempengaruhi potensial listrik yang terukur. Tahanan jenis semu
dilambangkan dengan a sehingga Persamaan (19) dapat ditulis menjadi:
a=K

V
I

(21)

Berdasarkan Persamaan (21) dapat disimpulkan bahwa jarak spasi


elektroda mempengaruhi tahanan jenis semu.
Berdasarkan variasi spasi elektroda, metoda geolistrik memiliki
beberapa konfigurasi yaitu Wenner, Schlumberger, Pole-dipole, Pole-pole,
Dipole-dipole dan Square. Penelitian ini menggunakan konfigurasi
Dipole-dipole.
4. Konfigurasi Dipole-dipole

24

Konfigurasi Dipole-dipole merupakan salah satu konfigurasi dalam


eksplorasi geolistrik dimana jarak antara elektroda arus dengan jarak
antara elektroda potensial sama. Susunan elektroda pada konfigurasi
Dipole-dipole dapat dilihat pada Gambar 4 berikut:

Gambar 4.

Susunan Elektroda pada Konfigurasi Dipole-dipole


(Marescot. 2009:44)

Pengukuran secara manual dilakukan dengan cara mengubah jarak antara


elektroda arus dengan jarak elektroda potensial atau mengubah jarak na.
Konfigurasi Dipole-dipole dapat mencapai kedalaman yang lebih
dalam dibandingkan dengan konfigurasi Wenner, Schlumberger dan
Square, selain itu konfigurasi ini sangat baik untuk pengukuran CST
(Constant Separation Traversing) (Reynolds. 1997: 433). Pengukuran CST
lebih dikenal sebagai metoda Profiling Horizontal yang digunakan untuk
menentukan variasi nilai tahanan jenis secara horizontal. Gambar 5
menunjukkan kedalaman yang dapat dicapai oleh konfigurasi Dipoledipole.

Gambar 5. Kedalaman yang Dapat Dicapai Konfigurasi Dipole-dipole


(Sumber: GF. Instrument)
Berdasarkan Gambar 5 diketahui bahwa panjang lintasan pengukuran yang
digunakan adalah 30 meter dan kedalaman yang dapat dicapai adalah 6

25

meter. Jadi, kedalaman yang dapat dicapai konfigurasi Dipole-dipole


adalah seperlima dari panjang lintasan yang digunakan.
Berdasarkan Gambar 4 diketahui bahwa jarak r1, r2, r3, dan r4
sebagai berikut:
r 1=na+ a=a(n+1)
r 2=na

(22)
(23)

r 3=2 a+ na=a (n+2)

(24)

r 4 =na+a=a (n+1)

(25)

Persamaan (22), (23), (24) dan (25) disubstitusikan ke Persamaan faktor


geometri K pada Persamaan (20) sehingga diperoleh faktor geometri K
untuk konfigurasi Dipole-dipole yaitu:
K=2 n ( n+1 ) (n+2)

(26)

Persamaan (26) disubstitusikan ke Persamaan (21) sehingga


diperoleh nilai tahanan jenis semu untuk konfigurasi Dipole-dipole seperti
Persamaan (27).
a=n ( n+1 ) ( n+2 ) a

V
I

(27)

dimana a merupakan jarak antara dua elektroda arus atau jarak antara dua
elektroda potensial, sementara na merupakan jarak antara spasi elektroda
arus dengan spasi elektroda potensial.

5. Kondisi Geologi Daerah Penelitian

26

Penelitian ini dilakukan di UNP kampus Air Tawar, Kota Padang.


Wilayah ini merupakan wilayah pesisir pantai Samudera Hindia dimana
sebelah barat Kota Padang merupakan dataran pantai yang landai. Sebelah
timur berbatasan dengan kaki Bukit Barisan. Sebelah utara berbatasan
dengan Kabupaten Pariaman dan sebelah selatan berbatasan dengan
Kabupaten Pesisir Selatan.
Sungai-sungai besar yang terdapat di Kota Padang antara lain
Sungai Anai dan Sungai Bintungan di utara, Sungai Muarapenjalin, Sungai
Setarung dan Sungai Batang Arau di Selatan.
Geologi daerah Kota Padang terdiri dari aluvium, batuan gunung
api, batuan intrusi, batuan metamorf dan batuan kapur. Batuan yang lebih
tua berada di bagian timur wilayah Kota Padang. Penyebaran batuan di
wilayah Kota Padang terlihat dari bentuk morfologinya. Morfologi landai
atau dataran rendah disusun oleh endapan aluvium. Endapan ini terdiri dari
lanau, pasir dan kerikil, selain itu juga terdapat endapan rawa. Kawasan
endapan rawa di perkotaan saat ini telah menjadi pemukiman penduduk,
termasuk di wilayah UNP kampus Air Tawar. Peta geologi Kota Padang
dapat dilihat pada Gambar 6 berikut:

27

Gambar 6.

Peta geologi Kota Padang (Dinas Energi dan Sumber Daya


Mineral Provinsi Sumatera Barat. 2012)

Keterangan gambar :
Alluvium: Lanau, pasir dan kerikil umumnya terdapat di
dataran pantai; termasuk endapan rawa di sebelah utara Tiku,
sebelah baratdaya Lubuk Alung dan sebelah timur Padang,
setempat kadang-kadang terdapat sisa-sisa batu apung tuf
(Qhpt atau Qpt).
Kipas Alluvium: Kebanyakan terdiri dari hasil rombakan
andesit berasal dari gunung api strato, Qtau. Permukaannya
ditutupi oleh bongka-bongkah andesit. Kipas Alluvium yang
terdapat pada lereng-lereng gunung api Kuarter dipetakan
sebagai hasil-hasil dari gunung api tersebut.
Aliran Yang Tak Teruraikan: Lahar, fanglomerat dan
endapan-endapan koluvium yang lain.
Tuf Kristal Yang Telah Mengeras: Terdapat di bagian selatan
daerah yang dipetakan, pejal dan tersemen baik. Di dekat
Sungai Buluh berwarna muda dan terdiri dari matriks yang
banyak mengandung serabut-serabut gelas dengan fragmenfragmen kuarsa, plagioklas dan fragmen-fragmen batuan
gunung api yang berkomposisi menengah hingga asam dengan
garis tengah sampai 10cm. Lebih ke selatan lagi warnanya
kelabu muda sampai kelabu tua kehijauan dan komposisinya
lebih mafik, matriks umumnya kloritik dan tuf mengandung
fragmen-fragmen batuan berkomposisi menengah sampai

28

mafik di samping kuarsa dan plagioklas, tak terdapat serabut


gelas; agaknya terdapat kontak selaras maupun kontak sesar
antara tuf dan andesit. Sumber tuf tidak diketahui.
Andesite dan Tuf: Berselingan dan / atau Andesite sebagai
inklusi di dalam tuf.
Berdasarkan Gambar 6 diketahui bahwa Alluvium tersebar dari utara
ke selatan Kota Padang seperti Kecamatan Nanggalo, Kecamatan Padang
Utara, Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Timur, sebagian
Kecamatan Kuranji dan sebagian Kecamatan Lubuk Kilangan.
Batuan gunung api merupakan batuan gunung berapi yang masih
aktif bewarna hitam keabu-abuan hingga putih yang terdiri dari Andesite
dan tufa. Batuan ini merupakan batuan yang paling mendominasi geologi
Kota Padang. Batuan ini tersebar dari utara ke selatan terutama di seluruh
dataran tinggi Kota Padang seperti Kecamatan Pauh, Kecamatan Koto
Tangah, sebagian Kecamatan Kuranji, sebagian Kecamatan Lubuk
Kilangan, Kecamatan Padang Selatan dan Kecamatan Lubuk Begalung.
Berdasarkan Gambar 6 terlihat bahwa Alluvium mendominasi
daerah Air Tawar. Alluvium mempunyai nilai tahanan jenis 10-800 m
(Telford et al, 1976:455). Alluvium merupakan batuan yang umumnya
terdiri dari lanau, lempung, pasir, kerikil, pasir lempungan, lempung
pasiran. Alluvium berasal dari butiran-butiran batuan lain yang
terendapkan oleh air mengalir seperti banjir, arus sungai dan arus laut,
selain itu Alluvium juga merupakan hasil rombakan atau pelapukan dari
batuan Andesite. Alluvium umumnya bersifat lunak dan tidak kompak.
Wilayah di sekitar UNP kampus Air Tawar juga terdapat air tanah
(Groundwater). Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa penduduk

29

yang menggunakan sumur air tanah sebagai sumber air. Tabel 4


menunjukkan kedalaman beberapa sumur air tanah yang terdapat di sekitar
UNP kampus Air Tawar.
Tabel 4. Data Kedalaman Sumur Air Tanah di Sekitar UNP Kampus Air
Tawar
No
1.
2.
3.
4.
5.

Lokasi
Jl. Hamka No 20A
Jl. Belibis Blok B No 14
Az Zahra 3, Simpang Patenggangan
LPMP (dekat FT)
Jl. Elang II No. 15 (dekat FE)

Kedalaman
8,0 m
6,0 m
7,0 m
9,0 m
9,0 m

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa air tanah di wilayah UNP kampus


Air Tawar sudah dapat ditemukan pada kedalaman 6 m hingga kedalaman
9 m.
6. Metoda Inversi Robust Constraint
Data lapangan yang diperoleh saat pengukuran mengandung
informasi mengenai sifat-sifat fisis batuan. Informasi tersebut biasanya
dapat diketahui jika persamaan matematika yang menghubungkan antara
data lapangan dengan sifat-sifat fisis batuan juga diketahui. Persamaan
matematika tersebut mengestimasi sifat fisis batuan yang belum diketahui
melalui proses inversi. Menurut Supriyanto (2007:1), Proses inversi
merupakan proses pengolahan data lapangan yang melibatkan tehnik
penyelesaian matematika dan statistik untuk mendapatkan informasi yang
berguna mengenai distribusi sifat fisis bawah permukaan bumi.
Inversi Robust merupakan metoda inversi yang digunakan jika
error dan distribusi data tidak normal serta terdapat titik point data yang
tajam. Menurut Guitton et al (2003: 1310) Metoda inversi Robust kurang

30

sensitif terhadap error pengukuran yang besar dibandingkan dengan


metoda Least Squares.
Pengolahan dan analisa data menggunakan metoda inversi Robust
pada software Res2dinv terbagi atas 2 yaitu Robust Constraint dan
Standart Constraint. Constraint merupakan batasan yang diberikan
sebagai informasi tambahan bagi solusi atau model hasil inversi
(Grandis.2009:8). Batasan tersebut dapat berupa interval atau nilai
minimum dan maksimum dari data geofisika untuk menentukan model
awal hasil inversi.
Inversi Robust Constraint memiliki 2 jenis nilai faktor cut-off yaitu
data faktor cut-off dan model faktor cut-off. Data faktor cut-off merupakan
nilai yang mengatur efek perbedaan antara data pengukuran dengan data
hasil perhitungan, misalnya nilai 0,05, artinya perbedaan antara data
pengukuran dengan data hasil perhitungan nilai tahanan jenis semu adalah
5%. Sementara model faktor cut-off merupakan nilai yang mengatur
tingkat model Robust Constraint yang digunakan. Jika nilai model faktor
cut-off yang digunakan besar, misalnya 1 maka model hasil inversi sama
dengan model hasil inversi menggunakan Least Squares. Jika nilai model
faktor cut-off yang digunakan sangat kecil, misalnya 0,001 maka model
hasil inversi akan mendekati nilai inversi Robust Constraint yang
sebenarnya.
Li et al (2009: 5) menyatakan persamaan inversi Robust seperti
Persamaan (28).

y =^ ( x , u ) + inv ( x ,u)

(28)

31

^
dimana u= (x , ) adalah pengontrol inversi dan x merupakan vektor
1

state dan y merupakan output yang mengandung dua parameter yaitu


kedalaman dan tahanan jenis. menyatakan input pengontrol pseudo dari
sistem inversi. Pengontrol inversi u dari persamaan (28) dapat dinyatakan
dengan Persamaan (29).
u=B1 (x ) [ y c A 1(x ) ]

(29)

dimana A(x) dan B(x) adalah fungsi nonlinier dari x. Kesalahan inversi

dari

inv

dapat dinyatakan dengan Persamaan (30).


^ x , u)
inv ( x ,u )= ( x , u )(

(30)

Inversi Robust Constraint dapat membatasi dan meminimalkan


perubahan mutlak pada nilai tahanan jenis dan dapat meminimalkan efek
outlier dalam data pada model inversi. Inversi ini menghasilkan model
antar muka yang tajam di antara daerah yang berbeda dengan nilai tahanan
jenis yang berbeda.

B. Penelitian-penelitian yang Relevan


Penelitian yang menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis telah
banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Rasimeng dkk (2007)
telah melakukan penelitian yang berjudul Identifikasi Struktur Batuan
Basement Menggunakan Metode Resistivitas 2D Sepanjang Jalan Lintas
Propinsi di Daerah Potensi Longsor Sumberjaya Lampung Barat. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa lapisan batuan di bawah jalan lintas propinsi di
daerah Sumberjaya sangat bervariasi. Lapisan batuan paling atas terdiri dari
endapan batuan gunung api muda yang bercampur dengan aluvium. Menurut

32

Rasimeng dkk (2007:157) lapisan inilah yang berpotensi longsor jika


terinfiltrasi oleh air hujan. Lapisan berikutnya adalah lapisan lempung tufaan
pada kedalaman 3 20 m yang berselang-seling tidak sempurna dengan pasir
tufaan. Lapisan terakhir diperkirakan merupakan batuan dasar jenis Andesite
yang lebih kompak pada kedalaman lebih dari 20 m dengan nilai tahanan
jenis 200 m.
Margaworo (2009:27) juga melakukan penelitian yang berjudul
Identifikasi Batuan Dasar di Desa Kroyo, Karangmalang Kabupaten Sragen
Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Dipole-dipole. Penelitian ini
menyimpulkan bahwa di daerah Kroyo untuk pembangunan pondasi
konstruksi ringan sudah dapat dilakukan pada kedalaman 3 m dan untuk
batuan dasar di daerah Kroyo sudah dapat ditemukan hingga kedalaman 100,9
m.
Astuti (2011) juga telah melakukan penelitian yang berjudul
Pengukuran Resistivitas untuk Menentukan Kedalaman Batuan Dasar
(Basement) (Studi Kasus Desa Pacekelan Kecamatan Purworejo Kabupaten
Purworejo Jawa Tengah). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tiap-tiap
penampang lapisan terbagi atas tiga lapisan batuan dan batuan dasar
ditemukan pada lapisan ketiga dengan nilai tahanan jenis lebih dari 30 m
pada kedalaman lebih dari 50 m. Batuan dasar dapat ditemukan pada tiap-tiap
lintasan pada lapisan ketiga, kecuali pada titik 8 Lintasan 4 karena pada
kedalaman 96,71 m belum menunjukkan kedalaman batuan dasar.
C. Kerangka Berfikir
Kerangka berpikir pada penelitian ini menggunakan metoda geolistrik
tahanan jenis. Metoda ini dilakukan dengan cara mengalirkan arus listrik ke

33

bawah permukaan bumi melalui elektroda arus dan elektroda potensial.


Susunan elektroda tersebut harus sesuai dengan konfigurasi yang digunakan,
untuk penelitian ini menggunakan konfigurasi Dipole-dipole seperti pada
Gambar 7.
Saat arus listrik dialirkan ke bawah permukaan bumi, beda potensial
akan terukur di permukaan bumi. Jadi variabel yang terukur pada metoda ini
adalah kuat arus, beda potensial dan jarak spasi elektroda. Variabel-variabel
yang terukur ini kemudian diolah dan dianalisa menggunakan software
Res2dinv dengan inversi Robust Constraint sehingga diperoleh tahanan jenis
lapisan bawah permukaan bumi. Kedalaman akan diperoleh berdasarkan jarak
spasi elektroda. Semakin panjang jarak spasi elektroda maka semakin dalam
kedalaman yang diperoleh.
Metoda Geolistrik Tahanan Jenis
Konfigurasi Dipole-dipole

Kuat Arus Listrik

Beda Potensial

Spasi / Jarak Elektroda

Gambar
7. Kerangka Berfikir Penelitian
diinjeksikan
Tahanan Jenis
Kedalaman
Gambar 7 menjelaskan bahwa data tahanan jenis diinterpretasikan
dengan cara membandingkan dengan tabel tahanan jenis dan geologi daerah
interpretasi
penelitian sehingga diperoleh suatuinterpretasi
kesimpulan yaitu lapisan batuan dasar
Peta Geologi
Tabel Tahanan Jenis
bawah permukaan bumi.

Batuan Dasar

34

BAB III
METODA PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian dasar yang bersifat deskriptif
dimana penelitian ini membutuhkan penelitian lanjutan agar hasil penelitian
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sumarmin dkk
(2010:7), Penelitian deskriptif adalah penelitian yang mendeskripsikan suatu
gejala, fakta, peristiwa atau kejadian yang sedang atau sudah terjadi.
Penelitian ini mendeskripsikan fenomena alam yaitu menggambarkan struktur
batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan bumi yang terdapat di UNP
kampus Air Tawar melalui estimasi kedalaman dan tahanan jenis batuan dasar
menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis konfigurasi Dipole-dipole.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan yaitu Bulan Maret sampai
Bulan Juli 2012, mulai dari survei lokasi penelitian, persiapan, pengambilan
data, pengolahan data, analisa data dan interpretasi data. Pengambilan data
dilakukan di UNP kampus Air Tawar yaitu sebanyak 4 lintasan seperti pada
Gambar 8.

36

37

Gambar 8. Desain Lintasan Pengukuran di UNP Kampus Air Tawar


(Sumber: Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi
Universitas Negeri Padang. 2010)
Berdasarkan Gambar 8 diketahui bahwa Lintasan 1 dimulai dari
sebelah Utara Fakultas Ekonomi tepatnya pada koordinat 0005341,6 LS dan
10002059,2 BT menuju ke arah barat daya sampai koordinat 0005346,5 LS
dan 10002100,4 BT yaitu sebelah Utara Fakultas Ilmu Sosial dengan titik
sounding pada koordinat 0005344,6 LS dan 10002100,5 BT yaitu di depan
Jurusan Geografi. Lintasan 2 dimulai pada koordinat 0005353,0 LS dan
10002104,5 BT yaitu gerbang utama UNP menuju ke arah Utara sampai
koordinat 0005349,4 LS dan 10002054,8 BT yaitu di sebelah Timur
Fakultas Tehnik dengan titik sounding di koordinat 0005351,8 LS dan
10002100,5 BT yaitu di depan Bank Nagari UNP. Lintasan 3 terbentang dari

38

sebelah Selatan Fakultas Ilmu Keolahragaan tepatnya pada koordinat


0005354,4LS dan 10002050,6BT menuju ke arah Timur sampai koordinat
0005340,7LS dan 10002059,9BT yaitu sebelah Selatan Laboratorium
Biologi. Titik sounding Lintasan 3 terletak pada koordinat 0005350,8 LS
dan 10002050,8 BT yaitu di depan Laboratorium FIK. Lintasan 4 terbentang
dari koordinat 0005358,0 LS dan 10002101,6 BT yaitu sebelah Selatan
Balai Bahasa UNP menuju ke arah Tenggara sampai koordinat 00 05353,5
LS dan 10002103,1 BT yaitu sebelah Utara Mesjid Al-Azhar. Titik sounding
lintasan ini yaitu di dekat Mesjid Al Azhar.
C. Parameter yang Diamati
Ada dua jenis parameter pada penelitian ini yaitu parameter yang
diukur dan parameter yang dihitung. Parameter yang diukur merupakan
parameter yang diperoleh langsung pada saat pengukuran di lapangan yaitu
kuat arus listrik (I), beda potensial (V) dan spasi jarak elektroda. Parameter
yang dihitung merupakan parameter hasil perhitungan dan analisa dari
parameter yang diukur. Parameter yang dihitung pada penelitian ini adalah
kedalaman batuan dasar dan tahanan jenis semu (a) batuan dasar.
D. Instrumentasi / Alat dan Bahan
Beberapa instrumentasi dan alat yang digunakan pada penelitian ini
adalah:

39

1. Satu set Ares (Automatic Resistivitymeter) Multielectrode, terdiri dari:


a. Ares Main Unit.
b. 4 gulung kabel elektroda dimana masing-masing terdiri dari 8
elektroda dengan jarak spasi maksimal antar elektroda yaitu 5 meter.
c. 32 elektroda.
d. 32 karet.
e. 2 palu.
f. T-piece.
g. Kabel penghubung aki.
h. RS232 dan USB communication cables.
i. AC adapter.
2. 4 gulung kabel elektroda manual.
3. Aki 12 V.
4. Meteran.
5. GPS (Global Positioning System),
6. Komputer Windows XP.
7. Payung.
8. Sarung tangan.
j.
E. Prinsip Kerja Ares Multielectrode
k.
Ares (Automatic Resistivitymeter) merupakan salah satu
instrumentasi yang digunakan dalam pengukuran metoda geolistrik dimana
arus listrik yang bersumber dari aki diinjeksikan melalui elektroda ke dalam
permukaan bumi sehingga dihasilkan variasi beda potensial. Arus listrik dan
variasi beda potensial akan mengakibatkan variasi tahanan jenis semu.
l.
Ares Multielectrode seperti pada Gambar 9 dapat melakukan
pengukuran geolistrik baik secara otomatis maupun secara manual.

m.
n.
o.

Gambar 9. Ares Multielectrode

40

p. Pengukuran secara otomatis menggunakan 4 gulung kabel elektroda yang


nantinya dihubungkan ke Ares menggunakan T-piece melalui 2 ujung yaitu
male dan female. Satu gulung kabel elektroda terdiri dari 8 elektroda sehingga
jumlah elektroda yang digunakan adalah 32 elektroda secara bersamaan, oleh
karena itu disebut multielectrode. Jarak spasi maksimal antar elektroda adalah
5 meter sehingga panjang lintasan maksimal pengukuran secara otomatis
adalah 155 meter.
q.
Berbeda dengan pengukuran secara otomatis, pengukuran secara
manual menggunakan 4 gulung kabel elektroda manual yang nantinya
dihubungkan ke Ares menggunakan T-piece melalui 4 lobang yaitu lobang
merah untuk C1, lobang biru untuk C2, lobang kuning untuk P1 dan lobang
hitam untuk P2. Panjang lintasan untuk pengukuran secara manual adalah tak
terbatas tergantung pada panjang kabel elektroda manual yang dimiliki.
r.
Prinsip kerja pengukuran secara otomatis adalah 4 gulung kabel
elektroda otomatis dipasang sesuai dengan spasi yang ditentukan secara
bersamaan. Setelah kabel elektroda dan aki terhubung dengan Ares,
selanjutnya dilakukan input data berupa jenis pengukuran (untuk pengukuran
secara otomatis, dipilih 2D/3D Multicable), nama file, lokasi pengukuran,
tanggal pengukuran, konfigurasi yang digunakan, beda potensial, error dan
data-data lainnya sesuai dengan perintah yang muncul pada display Ares.
Kemudian Ares akan mendeteksi secara otomatis pada tiap elektroda yang
terpasang dan melakukan pengukuran kuat arus listrik, beda potensial,
tahanan jenis semu dan standar deviasi. Data yang terukur akan langsung

41

tersimpan pada Ares Main Unit dan dapat didownload menggunakan


komputer Windows XP.
s.
Prinsip kerja pengukuran

secara

manual

berbeda

dengan

pengukuran secara otomatis. Pengukuran secara manual menggunakan 4


gulung kabel elektroda manual yang terdiri dari 4 elektroda yaitu C 1, C2, P1
dan P2. Input data pengukuran secara manual hampir sama dengan
pengukuran secara otomatis, perbedaannya yaitu pada jenis pengukuran. Jenis
pengukuran untuk pengukuran secara manual adalah RP (Resistivity
Profiling). Data yang diperoleh pada pengukuran ini hanya untuk satu titik
pengukuran saja dan tidak tersimpan pada Ares Main Unit, sehingga data
harus dicatat yaitu berupa arus listrik, beda potensial, tahanan jenis semu dan
standar deviasi.
t.
u.
F. Prosedur Penelitian
v.
Prosedur penelitian ini diawali dengan tahap persiapan yaitu
melakukan kajian melakukan kajian kepustakaan mengenai teori-teori yang
mendukung penelitian, survei ke daerah pengukuran atau lokasi pengambilan
data untuk menentukan lintasan pengukuran yang akan dilakukan,
menentukan panjang lintasan dan koordinat geografis lintasan menggunakan
GPS (Global Positioning System), serta mengetahui struktur geologi daerah
pengukuran. Selain itu, pada tahap ini penulis juga mempersiapkan semua
instrumentasi dan alat yang dibutuhkan pada saat pengukuran nantinya.
w.
Tahap selanjutnya melakukan pengukuran atau pengambilan data
sesuai dengan rancangan pengukuran yang telah dibuat. Berikut ini beberapa
langkah kerja yang dilakukan saat pengukuran, antara lain:

42

a. Menentukan lintasan pengukuran yang akan dilakukan pada daerah


pengukuran.
b. Menentukan spasi elektroda yang akan dibuat pada lintasan pengukuran.
c. Mengukur lintasan pengukuran sesuai dengan panjang lintasan dan spasi
elektroda yang telah ditentukan, yaitu panjang lintasan 155 m dengan spasi
5 m untuk pengukuran otomatis dan panjang lintasan 425 m dengan spasi
25 m untuk pengukuran secara manual.
d. Menanam elektroda pada setiap spasi elektroda yang telah ditentukan.
e. Menghubungkan kabel elektroda pada lintasan tadi dan aki dengan Ares
Multielectrode.
f. Mengaktifkan Ares Multielectrode.
g. Memastikan kondisi aki terisi minimal 85%.
h. Memasukkan input data seperti: jenis pengukuran (2D multicable untuk
pengukuran secara otomatis atau RP Resistivity Profilling untuk
pengukuran secara manual),

nama file, lokasi pengukuran, tanggal

pengukuran, jenis konfigurasi, panjang dan spasi lintasan, potensial,


stacking, error maximum dan sebagainya, sesuai dengan perintah pada
display Ares.
i. Melakukan pengukuran.
j. Data yang diperoleh langsung tersimpan pada Ares Main unit.
x.
G. Teknik Analisis dan Interpretasi Data
y.

Data yang tersimpan pada Ares Main unit didownload dengan cara

menghubungkan Ares Multielectroda dengan komputer windows XP. Data


tersebut disimpan dengan tipe file *.dat kemudian diolah menggunakan
software Res2dinv.
z.
Res2dinv merupakan suatu program komputer yang dapat
menentukan penampang model 2D bawah permukaan bumi berdasarkan nilai
tahanan jenis semu di sepanjang lintasan pengukuran. Sumbu y menunjukkan

43

kedalaman lapisan bawah permukaan bumi dan sumbu x menunjukkan posisi


elektroda secara horizontal. Penampang tersebut terdiri dari beberapa warna
yang menunjukkan nilai tahanan jenis. Warna yang sama menunjukkan nilai
tahanan jenis yang sama.
aa.
Program Res2dinv didesign untuk melakukan inversi data dalam
jumlah yang banyak yaitu sekitar 200 hingga 21000 data atau setara dengan
data hasil pengukuran menggunakan 25 hingga 16000 elektroda. Pengolahan
dan analisis data menggunakan Res2dinv dapat dilakukan dengan beberapa
metoda inversi seperti: Least Square, Robust Standart, Robust Constraint,
Marquardt and Occam, Time Lapse dan sebagainya.
ab.
Penelitian ini melakukan pengolahan

dan

analisa

data

menggunakan metoda inversi Robust Constraint. Inversi Robust Constraint


merupakan metoda inversi yang digunakan jika error dan distribusi data tidak
normal atau terdapat titik point data yang tajam. Inversi Robust Constraint
mampu meminimalkan perubahan mutlak pada nilai tahanan jenis. Inversi ini
menghasilkan model antar muka yang tajam diantara daerah yang berbeda
dengan nilai tahanan jenis yang berbeda.
ac.
Inversi Robust Constraint memiliki 2 jenis nilai faktor cut-off yaitu
data faktor cut-off dan model faktor cut-off. Nilai data faktor cut-off yang
dipilih pada pengolahan data ini adalah 0,05, sementara nilai model faktor
cut-off

yang dipilih adalah 0,001 sehingga model hasil inversi akan

mendekati nilai inversi Robust Constraint yang sebenarnya. Persamaan


Robust Constraint dinyatakan pada Persamaan (28).
ad.
Data yang telah diolah kemudian diinterpretasikan dengan cara
membandingkan nilai tahanan jenis yang diperoleh dari data olahan dengan

44

tabel tahanan jenis berdasarkan referensi dan dibandingkan juga dengan


kondisi geologi daerah pengukuran, sehingga diperoleh suatu kesimpulan
berupa batuan dasar penyusun lapisan bawah permukaan bumi beserta
kedalaman dan nilai tahanan jenisnya.
ae.
Kedalaman yang dapat dihitung di bawah lapisan permukan bumi
menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis dinyatakan pada Gambar 10.
af.

ag.
ah.
ai.

Gambar 10.
Display Data
Geolistrik (Loke. 1999: 6).

Kedalaman

pada

Pengukuran

Berdasarkan Gambar 10 dapat dijelaskan bahwa saat pengukuran

dengan spasi elektroda a maka data yang diukur adalah data ke-1 hingga data
ke-17 yaitu pada n=1. Selanjutnya spasi elektroda ditambah menjadi 2a maka
data yang diukur adalah pada n=2 yaitu data ke-18 hingga data ke-31. Hal ini
terus berlaku hingga pengukuran data ke-56 pada n=6. Sementara kedalaman
yang dapat dicapai adalah seperlima dari panjang lintasan karena konfigurasi
yang digunakan adalah konfigurasi Dipole-dipole. Jika pengukuran
menggunakan Station 1 pada Gambar 10, maka kedalaman yang dicapai

45

adalah 3/5 a. Jika pengukuran menggunakan Station 2, maka kedalaman yang


dapat dicapai adalah 6/5 a, dan seterusnya.
aj.
ak. BAB IV
al. HASIL DAN PEMBAHASAN
am.
A. Deskripsi Data
an.
Data yang diperoleh dari pengukuran geolistrik menggunakan Ares
Multielectrode baik secara otomatis maupun manual adalah beda potensial
(V), kuat arus listrik (I), tahanan jenis semu (a) dan standar deviasi (st-dev).
Data tersebut kemudian diolah menggunakan software Res2dinv sehingga
diperoleh bentuk penampang 2D lapisan bawah permukaan bumi beserta nilai
tahanan jenis semu (a) dan kedalaman (h).
ao.
Pengukuran dilakukan di UNP kampus Air Tawar pada empat
lintasan yang berbeda. Pengukuran yang dilakukan di Lintasan 1, 2 dan 4
adalah pengukuran secara otomatis, sementara pengukuran yang dilakukan di
Lintasan 3 adalah gabungan pengukuran secara otomatis dan manual sehingga
data kedalaman yang diperoleh lebih dalam.
ap.
Lintasan 1 terletak di Fakultas Ekonomi (FE) pada koordinat
0005341,6 LS dan 10002059,2 BT sampai Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada
koordinat 0005346,5 LS dan 10002100,4 BT dengan panjang lintasan 155
m, spasi elektroda 5 m dan jumlah data yang diperoleh adalah 290 data. Titik
sounding lintasan ini berada di depan Jurusan Geografi, tepatnya pada
koordinat 0005344,6 LS dan 10002100,7 BT .
aq.
Lintasan 2 terletak pada koordinat 0005352,7 LS

dan

10002102,6 BT yaitu di gerbang utama UNP sampai koordinat 00 05353,5

46

LS dan 10002103,1 BT yaitu di Fakultas Tehnik (FT) dengan titik sounding


berada di depan Bank Nagari UNP koordinat 00 05351,8 LS dan
10002100,5 BT. Jumlah data yang dipeloleh pada Lintasan 2 adalah 121
data dengan panjang lintasan 155 m dan spasi elektroda 5 m.
ar.
Lintasan 3 dimulai pada koordinat 0005354,4LS

dan

10002050,6 BT yaitu di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) sampai


koordinat 0005340,7LS dan 10002059,9BT yaitu di Laboratorium Biologi
dengan titik sounding di depan Laboratorium FIK koordinat 0005350,8 LS
dan 10002050,8 BT. Pengukuran secara otomatis dan manual yang
dilakukan di Lintasan 3 memperoleh data sebanyak 237 data dengan panjang
lintasan 425 meter.
as.
Lintasan 4 menghasilkan data sebanyak 300 data dengan panjang
lintasan 155 m dan spasi elektroda 5 m. Lintasan 4 ini terletak pada koordinat
0005358,0 LS dan 10002101,6 BT yaitu di Balai Bahasa UNP sampai
koordinat 0005353,5 LS dan 10002103,1 BT di dekat Mesjid Al Azhar
dengan titik sounding di dekat Mesjid Al Azhar.
at.
Perbandingan antara data kedalaman (h) yang diperoleh dengan
panjang lintasan ditunjukkan pada Tabel 5 berikut.
au.
Tabel 5.
Data Kedalaman Maksimum dan Panjang Lintasan
pada Setiap Lintasan Pengukuran
av.
aw. ax.
L
az.
Ked ba.
Panja
No intasan
alaman
ng Lintasan
ay.
Lokasi
keMaksimum
(m)
(m)
bb. bc.
1 bd.
FE FIS
be.
29,5
bf.
155
1
bg. bh.
2 bi.
Gerbang UNP
bj.
29,5
bk.
155
2
FT
bl. bm. 3 bn.
FIK Lab.
bo.
104
bp.
425
3
Biologi

47

bq.
4
bw.

br.

bs.
Balai Bahasa
bt.
29,5
bu.
155
Mesjid Al azhar
bv.
Tabel 5 menunjukkan bahwa semakin panjang lintasan pengukuran

maka kedalaman yang dicapai akan semakin dalam. Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) dengan panjang lintasan 425 m mampu mendeteksi sampai
kedalaman 104 m, sementara Lintasan 1 (FE FIS), 2 (Gerbang UNP FT)
dan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) dengan panjang lintasan 155 m hanya
mampu mendeteksi sampai kedalaman 29,5 m.
bx.
Nilai tahanan jenis semu dari pengukuran geolistrik
langsung diperoleh tanpa melakukan perhitungan secara manual, karena
pengukuran ini menggunakan Ares (Automatic Resistivitymeter) sehingga
nilai tahanan jenis semu langsung diperoleh secara otomatis. Nilai tahanan
jenis semu yang diperoleh pada setiap lintasan ditunjukkan secara umum pada
Tabel 6 berikut.
by.
Tabel 6.
Nilai Tahanan Jenis Semu Minimum dan
Maksimum pada Setiap Lintasan
bz.
ca. cb.
L
cf.
cc.
Lokasi
ce.
I
N intasan
cd.
a (m)
V
Pengukuran
(mA)
o
ke(mV)
cj.
ck.
0 cl.
1 cm.
cg.
ci.
FE ,34
20.91
0,08
a min
ch.
1
cq.
cr.
4 cs.
4 ct.
1
FIS
93,2
,92
25,74
a maks
cx.
cy.
0 cz.
2 da.
cu.
cw.
Gerban a min
,35
58,36
0,5
cv.
2
de.
df.
1 dg.
1 dh.
2
g UNP - FT
767,38
2,88
4,15
a maks
dl.
dm. 0 dn.
1 do.
di.
dk.
FIK
,31
02,36
0,02
a min
dj.
3
ds.

dt.
3
du.
5
dv.
3
Lab. Biologi
76,12
7,58
4,74
a maks
dw. dx.
4 dy.
Balai
dz.
ea.
1 eb.
5 ec.

48

4
ek.
el.

Bahasa
Mesjid Al
Azhar

min
,41
20,2
0,1
eg.
eh.
7 ei.
5 ej.
86,66
,01
41,82
a maks
a

Tabel 6 menunjukkan nilai tahanan jenis semu maksimum dan

minimum beserta kuat arus dan beda potensialnya pada setiap lintasan.
Lintasan 1 (FE FIS) memiliki nilai tahanan jenis semu minimum 0,34 m
dengan kuat arus 120,91 mA dan beda potensial 0,08 mV, sementara nilai
tahanan jenis semu maksimumnya 493,2 m dengan kuat arus sebesar 4,92
mA dan beda potensial 25,74 mV. Nilai tahanan jenis semu minimum pada
Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) adalah 0,35 m dan nilai tahanan jenis
maksimum 1767,38 m, dengan kuat arus 258,36 mA dan 12,88 mA, beda
potensial 0,5 mV dan 4,15 mV.
em.
Nilai tahanan jenis semu minimum pada Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) adalah 0,31 m dengan kuat arus 102,36 mA dan beda potensial
0,02 sedangkan nilai tahanan jenis semu maksimumnya adalah 376,12 m
dengan kuat arus 57,58 mA dan beda potensial 4,74 mV. Tahanan jenis semu
minimum pada Lintasan 4 (Balai bahasa Mesjid Al Azhar) adalah 1,41 m
dengan kuat arus 520,2 mA dan beda potensial 0,1 mV, sedangkan tahanan
jenis maksimumnya adalah 786,66 m dengan kuat arus 5,01 mA dan beda
potensial 41,82 mV.
en.
B. Analisa dan Interpretasi Data
eo.
Hasil pengolahan data menggunakan software Res2dinv adalah
penampang model 2D bawah permukaan bumi yang menunjukkan nilai
tahanan jenis dan kedalaman bawah permukaan bumi. Penampang tersebut
terdiri dari beberapa warna yang berbeda-beda. Perbedaan warna ini

49

menunjukkan variasi nilai tahanan jenis semu di bawah permukaan bumi serta
menunjukkan jenis material yang terdapat di bawah permukaan bumi. Warna
yang sama menunjukkan nilai tahanan jenis semu yang sama juga.
Penampang model 2D ini kemudian diinterpretasikan dengan cara
membandingkan nilai tahanan jenis semu pada penampang model 2D dengan
tabel tahanan jenis (lihat Tabel 3 dan 4) dan geologi daerah pengukuran.
1. Lintasan 1 ( FE FIS)
ep.
Lintasan 1 terbentang dari koordinat 0005341,6 LS dan
10002059,2 BT sampai koordinat 0005346,5 LS dan 10002100,4 BT
yaitu dari Fakultas Ekonomi (FE) sampai Fakultas Ilmu Sosial (FIS)
dengan panjang lintasan 155 m dan spasi elektroda 5 m. Titik sounding
lintasan ini terletak di depan Jurusan geografi, tepatnya koordinat
0005344,6 LS dan 10002100,5 BT. Gambar 11 menunjukkan hasil
pengolahan data Lintasan 1 (FE FIS) menggunakan software Res2dinv
dengan inversi Robust Constraint 0,001 yaitu berupa penampang model
2D.
eq.

er.

Gambar 11. Penampang Model 2D Lintasan 1 (FE FIS)


dengan inversi Robust Constraint 0,001

50

es.
et.

Berdasarkan Gambar 11 diketahui bahwa rentang nilai tahanan

jenis pada Lintasan 1 (FE FIS) adalah 0,89 622 m dengan persentasi
kesalahan sebesar 7,9% pada iterasi ke-3. Pengukuran pada Lintasan 1 (FE
FIS) mencapai kedalaman hingga 29,5 m.
eu.
Warna-warna pada Gambar 11 menunjukkan kandungan lapisan
bawah permukaan bumi berdasarkan nilai tahanan jenis. Daerah di bawah
sekitar titik sounding yaitu di depan Jurusan Geografi terdapat beberapa
lapisan batuan. Berdasarkan Gambar 11 diketahui bahwa di sekitar titik
sounding terdapat lapisan warna orange hingga merah dengan nilai
tahanan jenis 85,8 513 m dari permukaan hingga kedalaman 4,62 m.
Lapisan ini diinterpretasikan sebagai Alluvium dan Sands. Berdasarkan
Tabel 3 diketahui bahwa Alluvium dan Sands memiliki rentangan nilai
tahanan jenis 10 800 m.
ev.
Selanjutnya terdapat lapisan warna kuning di bawah lapisan
Alluvium dan Sands. Lapisan ini memiliki nilai tahanan jenis 62,65 85,8
m dan diinterpretasikan sebagai Sandstones. Sandstones memiliki
rentangan nilai tahanan jenis 1 6,4 108 m (Telford et al. 1976: 455).
Sandstones ditemukan pada kedalaman 4,62 5,76 m. Kedalaman
berikutnya yaitu 5,76 8,04 m terdapat lapisan warna hijau yang memiliki
nilai tahanan jenis 13,29 62,65 m. Lapisan ini diinterpretasikan sebagai
Clays. Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa Clays memiliki rentangan
nilai tahanan jenis 1 100 m.
ew.
Gambar 11 menunjukkan bahwa lapisan Clays berada di sekitar
lapisan warna biru tua hingga biru muda yang memiliki nilai tahanan jenis

51

0,89 13,29 m. Lapisan ini berada pada kedalaman 8,04 18,05 m dan
diinterpretasikan sebagai Groundwater. Groundwater memiliki rentangan
nilai tahanan jenis 0,5 300 m. Berdasarkan data kedalaman sumur air
tanah pada Tabel 4 diketahui kedalaman sumur air tanah di sekitar lintasan
ini adalah 9 m. Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi data penelitian ini
benar, karena mengacu pada data kedalaman sumur tersebut diketahui
bahwa kedalaman pipa sumur di sekitar lintasan ini adalah 9 m dimana
posisi pipa tersebut diletakkan lebih dalam daripada kedalaman atas
Groundwater agar air dapat ditemukan. Sementara berdasarkan hasil
penelitian ini, Groundwater ditemukan pada kedalaman 8,04 m.
Kedalaman tersebut merupakan kedalaman atas Groundwater.
ex.
Lapisan berikutnya ditemukan lagi Clays dan Sandstone secara
berurutan dengan kedalaman masing-masing 18,05 19,72 m dan 19,72
21,4 m. Selanjutnya terdapat lapisan Alluvium dan Sands pada kedalaman
21,4 25,2 m.
ey.
Lapisan terakhir adalah lapisan dengan nilai tahanan jenis 513
622 m. Lapisan ini diduga merupakan lapisan batuan dasar. Lapisan
batuan dasar tersebut terdapat pada kedalaman lebih dari 25,2 m. Batuan
dasar yang terdapat pada lapisan ini diduga merupakan batuan dasar jenis
Andesite. Menurut Telford et al (1976: 454) Andesite memiliki rentangan
nilai tahanan jenis 1,7 102 4,5 104 m. Hasil interpretasi data
Lintasan 1 (FE FIS) ini ditunjukkan pada Tabel 7.
ez.
fa.
fb.
Tabel 7.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 1 (FE FIS)
dengan inversi Robust Constraint 0,001
fc.

52

fe.

fd.
Warna

Tahanan
Jenis (m)

ff.

Ke
dalaman (m)

fg.

Mater
ial

fh.
fi.
fj.
fn.

fk.
85,8 513

fl.
per
mukaan 4,62

fm.
Alluvi
um dan Sands

fo.
62,65 85,8

fp.

fq.
tones

Sands

ft.
13,29 62,65

fu.

fv.

Clays

fz.
0,89 13,29

ga.

gb.
ndwater

Grou

ge.
13,29 62,65

gf.

gg.

Clays

gi.
62,65 85,8

gj.

19,

gk.
tones

Sands

go.
85,8 513

gp.

21,

gq.
Alluvi
um dan Sands

gs.
513 - 622

gt.
Le
bih dari 25,2

4,6
2 5,76

fr.
fs.

5,7
6 8,04

fw.
fx.

8,0
4 18,05

fy.
gc.
gd.
gh.

18,
05 19,72

72 21,4

gl.
gm.

4 25,2

gn.
gr.
gv.
gw.

gu.
Batua
n dasar jenis
Andesite

Data Lintasan 1 (FE FIS) juga diolah menggunakan inversi

Robust Constraint 0,005 seperti ditunjukkan pada Gambar 12.

53

gx.

gy.

Gambar 12. Penampang Model 2D Lintasan 1 (FE FIS)


dengan inversi Robust Constraint 0,005
Berdasarkan Gambar 12 diketahui bahwa rentangan nilai tahanan

gz.

jenis Lintasan 1 (FE FIS) menggunakan inversi Robust Constraint 0,005


adalah 0,9 625 m dengan persentasi kesalahan sebesar 7,8% pada
iterasi ke-3. Kedalaman maksimum yang dapat dicapai yaitu 29,5 m. Hasil
ini terdapat sedikit perbedaan dengan pengolahan data menggunakan
inversi Robust Constraint 0,001. Perbedaan tersebut dapat diketahui dari
rentangan nilai tahanan jenis dan persentasi kesalahannya. Rentangan nilai
tahanan jenis hasil pengolahan data menggunakan Robust Constraint 0,001
adalah 0,89 622 m dengan persentasi kesalahan 7,9%, sementara
kedalaman maksimum yang dapat dicapai sama yaitu 29,5 m. Interpretasi
hasil pengolahan data Lintasan 1 (FE FIS) menggunakan inversi Robust
Constraint 0,005 ditunjukkan pada Tabel 8.
ha.
Tabel 8.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 1 (FE FIS)
dengan inversi Robust Constraint 0,005
hb.
hc.
Warna
hg.

hd.
T
he.
K
ahanan Jenis
edalaman (m)
(m)
hj.
8 hk.
p

hf.

Materi
al

hl.

Alluvi

54

hh.
hi.
hm.

6,3 515,5

ermukaan 4,62

hn.
3,05 86,3

6 ho.

4,

hs.
3,44 63,05

1 ht.

hy.
,9 13,44

0 hz.

id.
3,44 63,05

ih.
3,05 86,3

in.
6,3 515,5

ir.
15,5 - 625

5 is.
L
ebih dari 25,2

um dan Sands
hp.
ones

Sandst

hu.

Clays

ia.
dwater

Groun

if.

Clays

ij.
ones

Sandst

ip.
Alluvi
um dan Sands

62 5,76

hq.
hr.

5,
76 8,04

hv.
hw.

8,
04 18,05

hx.
ib.
ic.
ig.

ie.

1
8,05 19,72

ii.
9,72 21,4

ik.
il.

io.
1,4 25,2

im.
iq.

iu.
iv.

it.
Batuan
dasar jenis Andesite

Berdasarkan Tabel 7 dan Tabel 8 dapat diketahui perbandingan

antara hasil interpretasi data menggunakan Robust Constraint 0,001


dengan Robust Constraint 0,005. Perbedaan terdapat pada rentangan nilai
tahanan jenis masing-masing material dengan perbedaan yang relatif kecil,
sementara kedalaman dan posisi elektroda material menunjukkan nilai
yang sama.
iw.
2. Lintasan 2 (Gerbang UNP FT)

55

ix.

Lintasan

berada

pada

koordinat

0005352,7

LS

dan

10002102,6 BT yaitu di gerbang utama UNP sampai koordinat


0005353,5 LS dan 10002103,1 BT yaitu di Fakultas Tehnik (FT)
dengan titik sounding pada koordinat 0005351,8 LS dan 10002100,5
BT, tepatnya di depan Bank Nagari UNP. Panjang lintasan pada Lintasan 2
(Gerbang UNP FT) yaitu 155 m dengan panjang spasi elektroda 5 m.
Gambar 13 menunjukkan hasil pengolahan data Lintasan 2 (Gerbang UNP
FT) menggunakan software Res2dinv metoda inversi Robust Constraint
0,001 berupa penampang model 2D. Gambar 13 memperlihatkan bahwa
rentangan nilai tahanan jenis pada Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) adalah
2,79 2150 m dengan persentase kesalahan sebesar 6,5% pada iterasi
ke-3 serta kedalaman yang dapat dicapai adalah 29,5 m.
iy.
iz.

ja.
jb.
jc.

Gambar 13.
Penampang Model 2D Lintasan 2 (Gerbang
UNP FT) dengan inversi Robust Constraint 0,001
Berdasarkan Gambar 13 diketahui diketahui bahwa di bawah titik

sounding terdapat lapisan dengan nilai tahanan jenis 95,2 632 m, yaitu
lapisan warna orange hingga merah. Lapisan ini diinterpretasikan sebagai

56

Alluvium dan Sands. Alluvium dan Sands ditemukan mulai dari permukaan
hingga kedalaman 6,9 m. Lapisan warna kuning tampak berada di bawah
lapisan Alluvium dan Sands. Lapisan ini terdapat pada kedalaman 6,9
8,04 m dengan nilai tahanan jenis 59,4 95,2 m dan diinterpretasikan
sebagai Sandstones.
jd.
Kedalaman berikutnya yaitu 8,04 19,72 m terdapat lapisan warna
hijau yang memiliki nilai tahanan jenis 12,3 59,4 m. Lapisan ini
diinterpretasikan sebagai Clays. Lapisan selanjutnya ditemukan lagi
Sandstone serta Alluvium dan Sands dengan kedalaman masing-masing
19,72 21,4 m dan 21,4 25,2 m. Lapisan terakhir adalah lapisan pada
kedalaman lebih dari 25,2 m dengan nilai tahanan jenis yang cukup tinggi
yaitu 632 2150 m. Lapisan ini diduga merupakan lapisan batuan dasar
jenis Andesite.
je.
Lintasan ini juga ditemukan adanya Groundwater, namun berada
pada posisi yang agak jauh dari titik sounding yaitu di posisi elektroda
42,5 62,5 m pada kedalaman 8,04 14,7 m dan posisi elektroda 92,5
112,5 m pada kedalaman 8,04 112,5 m. Sementara titik sounding berada
pada posisi elektroda 77,5 m. Groundwater pada lintasan ini memiliki nilai
tahanan jenis 2,79 12,3 m. Berdasarkan data kedalaman sumur air
tanah pada Tabel 4 diketahui bahwa kedalaman sumur air tanah di sekitar
lintasan ini adalah 9 m. Hal ini menunjukkan bahwa interpretasi data
penelitian ini benar. Hasil interpretasi data Lintasan 2 (Gerbang UNP FT)
ini ditunjukkan pada Tabel 9.
jf.
Tabel 9.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 2 (Gerbang UNP
FT) dengan inversi Robust Constraint 0,001
jg.

57

ji.

jh.
Warna

Tahanan
Jenis (m)

jj.

Ke
dalaman (m)

jk.

Mater
ial

jl.
jm.
jn.
jr.

jo.
95,2 - 632

jp.
per
mukaan 6,9

jq.
Alluvi
um dan Sands

js.
59,4 95,2

jt.

ju.
tones

Sands

jx.
12,3 59,4

jy.

jz.

Clays

kc.
2,79 12,3

kd.

kg.
59,4 95,2

kh.

km.
95,2 - 632

kn.

kr.
632 2150

ks.
Le
bih dari 25,2

6,9
8,04

jv.
jw.

8,0
4 19,72

ka.
kb.
kf.

8,0
4 14,7

ke.
Grou
ndwater (jauh dari
sounding)

19,

ki.
tones

21,

ko.
Alluvi
um dan Sands

72 21,4

Sands

kj.
kk.

4 25,2

kl.
kp.
kq.
ku.
kv.

kt.
Batua
n dasar jenis
Andesite

Hasil pengolahan data Lintasan 2 (Gerbang UNP FT)

menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 ditunjukkan pada Gambar


14.

58

kw.

kx.
ky.
kz.

Gambar 14. Penampang Model 2D Lintasan 2 (Gerbang UNP


- FT) dengan inversi Robust Constraint 0,005
Gambar 14 menunjukkan bahwa rentangan nilai tahanan jenis

Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) menggunakan inversi Robust Constraint


0,005 adalah 2,8 2120 m dengan persentasi kesalahan sebesar 6,4%
pada iterasi ke-3. Kedalaman maksimum yang dapat dicapai yaitu 29,5 m.
Sama halnya dengan Lintasan 1 (FE FIS), hasil ini terdapat sedikit
perbedaan dengan pengolahan data menggunakan inversi Robust
Constraint 0,001. Perbedaan tersebut dapat diketahui dari rentangan nilai
tahanan jenis dan persentasi kesalahannya. Rentangan nilai tahanan jenis
hasil pengolahan data menggunakan Robust Constraint 0,001 adalah 2,79
2150 m dengan persentasi kesalahan 6,5% sementara kedalaman
maksimum yang dapat dicapai sama yaitu 29,5 m. Interpretasi hasil
pengolahan data Lintasan 2 (Gerbang UNP - FT) menggunakan inversi
Robust Constraint 0,005 ditunjukkan pada Tabel 10.
la.
Tabel 10.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 2 (Gerbang UNP
FT) dengan inversi Robust Constraint 0,005
lb.
lc.
ld.
le.
Ke lf.
Mater

59

Warna

Tahanan
Jenis (m)

dalaman (m)

ial

lj.
94,6 - 626

lk.
per
mukaan 6,9

ll.
Alluvi
um dan Sands

ln.
59,2 94,6

lo.

lp.
tones

Sands

ls.
12,3 59,2

lt.

lu.

Clays

lx.
2,8 12,3

ly.

mb.
59,2 94,6

mc.

mh.
94,6 - 626

mi.

mm.
626 - 2120

mn.
Le
bih dari 25,2

lg.
lh.
li.
lm.

6,9
8,04

lq.
lr.

8,0
4 19,72

lv.
lw.
ma.

8,0
4 14,7

lz.
Grou
ndwater (jauh dari
sounding)

19,

md.
tones

21,

mj.
Alluvi
um dan Sands

72 21,4

Sands

me.
mf.

4 25,2

mg.
mk.
ml.
mp.
mq.

mo.
Batua
n dasar jenis
Andesite

Perbandingan antara hasil interpretasi data menggunakan Robust

Constraint 0,001 dengan Robust Constraint 0,005 dapat dilihat pada Tabel
9 dan Tabel 10. Perbedaan terdapat pada rentangan nilai tahanan jenis
masing-masing material dengan perbedaan yang relatif kecil, sementara
kedalaman dan posisi elektroda material menunjukkan nilai yang sama.
Hal yang sama juga terjadi pada lintasan sebelumnya.
mr.
3. Lintasan 3 ( FIK Lab. Biologi)

60

ms.

Lintasan 3 dimulai dari Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) hingga

Laboratorium Biologi yaitu pada koordinat 0005354,4 LS dan


10002050,6 BT sampai 0005340,7 LS dan 10002059,9BT dengan titik
sounding terletak di depan Laboratorium FIK koordinat 00 05350,8 LS
dan 10002050,8 BT. Panjang lintasan pada Lintasan 3 adalah 425 m
dimana pengukuran yang dilakukan merupakan gabungan pengukuran
otomatis dan manual.
mt.
Gambar 15 menunjukkan penampang model 2D hasil pengolahan
data Lintasan 3 menggunakan software Res2dinv metoda inversi Robust
Constraint 0,001. Berdasarkan Gambar 15 diketahui bahwa rentangan nilai
tahanan jenis semu pada Lintasan 3 adalah antara 0,388 734 m dengan
persentase kesalahan 6,5% pada iterasi ke-3. Kedalaman yang diperoleh
Lintasan 3 adalah 104 m.
mu.

mv.
mw.
mx.

Gambar 15. Penampang Model 2D Lintasan 3 (FIK


Lab. Biologi) dengan inversi Robust Constraint 0,001
Berdasarkan Gambar 15 diketahui bahwa terdapat lapisan dengan

nilai tahanan jenis sangat rendah yaitu 8,405 51,95 m di bawah titik

61

sounding yaitu dekat Lab. FIK. Lapisan ini diduga merupakan lapisan
Sands. Lapisan ini ditemukan mulai dari permukaan hingga kedalaman
11,8 m. Selanjutnya lapisan yang memiliki nilai tahanan jenis 0,776
8,405 m terletak di kedalaman 5,23 14,48 m. Lapisan ini
diinterpretasikan sebagai Groundwater. Berdasarkan hasil survei pada
Tabel 4 diketahui Groundwater di lintasan ini sudah dapat ditemukan pada
kedalaman 6 m yaitu berdasarkan data di Jalan Belibis Blok B. No.14. Hal
ini sesuai dengan hasil penelitian.
my.
Lapisan dengan nilai tahanan jenis 51,95 74,1 m terdapat pada
kedalaman 9,62 11,8 m. Lapisan ini diduga merupakan lapisan
Sandstones. Lapisan warna orange hingga merah keunguan berada di
bawah lapisan Sandstones. Lapisan ini memiliki nilai tahanan jenis 74,1
596,5 m dan diinterpretasikan sebagai Alluvium. Alluvium ditemukan
pada kedalaman 11,8 21,85 m.
mz.
Lapisan terakhir adalah lapisan dengan nilai tahanan jenis 596,5
734 m pada kedalaman lebih dari 21,85 m. Lapisan ini ditafsir
merupakan lapisan batuan dasar jenis Andesite. Hasil interpretasi data
Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) ini ditunjukkan pada Tabel 11.
na.
Tabel 11.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) dengan inversi Robust Constraint 0,001
nb.
nc.
Warna

nd.
Tahanan Jenis
(m)

ne.

Ke

nf.

dalaman (m)

Mate
rial

ng.
nh.
nl.
nm.

ni.
8,405 51,95

nj.

per
mukaan -11,8

no.
0,776 8,405

np.

5,2
3 14,48

nk.

Sand
s

nq.

Grou
ndwater

62

nn.
nr.

ns.
51,95 74,1

nt.

ny.
74,1 596,5

nz.

9,6

nu.

2 11,8

Sand
stones

nv.
nw.

11,

oa.

8 21,85

Alluv
ium

nx.
ob.

of.

oc.
596,5 - 734

od.
ih dari 21,85

Leb

oe.
an
dasar
Andesite

Batu
jenis

Data Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) juga diolah menggunakan

inversi Robust Constraint 0,005 seperti pada Gambar 16.


og.

oh.
oi.
oj.

Gambar 16.
Penampang Model 2D Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) dengan inversi Robust Constraint 0,005
Sama halnya dengan lintasan-lintasan sebelumnya, perbedaan hasil

pengolahan data menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 dengan


inversi Robust Constraint 0,001 adalah rentangan nilai tahanan jenis dan
persentase kesalahan. Rentangan nilai tahanan jenis pada Lintasan 3 (FIK
Lab. Biologi) menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 adalah
0,401 736 m dengan persentasi kesalahan sebesar 6,4% pada iterasi ke-

63

3. Kedalaman maksimum yang dapat dicapai yaitu 104 m. Sementara


rentangan nilai tahanan jenis pengolahan data menggunakan inversi
Robust Constraint 0,001 adalah 0,4015 736 m dengan persentasi
kesalahan 6,5% pada iterasi ke-3. Perbedaan tersebut sangat kecil dan
masih bisa diterima. Interpretasi hasil pengolahan data Lintasan 3 (FIK
Lab. Biologi) menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 ditunjukkan
pada Tabel 12.
ok.
Tabel 12.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) dengan inversi Robust Constraint 0,005
ol.
om.
Warna

on.
Tahanan Jenis
(m)

oo.

Ke

op.

dalaman (m)

Mate
rial

oq.
or.

os.
8,565 52,7

ot.

per
mukaan -11,8

oy.
0,805 8,565

oz.

pc.
52,7 75,1

pd.

pi.
75,1 598,5

pj.

ou.

Sand
s

ov.
ow.

5,2

pa.

3 14,48

Grou
ndwater

ox.
pb.

9,6

pe.

2 11,8

Sand
stones

pf.
pg.

11,
8 21,85

pk.

Alluv
ium

ph.
pl.

pp.
pq.

pm.
598,5 - 736

pn.
ih dari 21,85

Leb

po.
an
dasar
Andesite

Batu
jenis

Berdasarkan Tabel 11 dan 12 diketahui bahwa terdapat perbedaan

antara hasil interpretasi data menggunakan Robust Constraint 0,001


dengan Robust Constraint 0,005. Perbedaan terdapat pada rentangan nilai

64

tahanan jenis masing-masing material dengan perbedaan yang relatif kecil,


sementara kedalaman dan posisi elektroda material menunjukkan nilai
yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada Lintasan 1(FE FIS) dan
Lintasan 2 (Gerbang UNP FT).
pr.
4. Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar)
ps.
Lintasan 4 dimulai dari Balai Bahasa UNP, tepatnya pada koordinat
0005358,0 LS dan 10002101,6 BT hingga Mesjid Al Azhar yaitu pada
koordinat 0005353,5 LS dan 10002103,1 BT dengan titik sounding di
dekat Mesjid Al Azhar. Panjang lintasan pada Lintasan 4 adalah 155 m
dengan spasi elektroda 5 m. Gambar 17 menunjukkan penampang model
2D Lintasan 4.
pt.
pu.

pv.
pw.
px.

Gambar 17.
Penampang Model 2D Lintasan 4 (Balai
Bahasa Mesjid Al Azhar) dengan inversi Robust Constraint
0,001
Gambar 17 menunjukkan penampang model 2D hasil pengolahan

data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) menggunakan software


Res2dinv metoda inversi Robust Constraint 0,001. Berdasarkan Gambar 17
diketahui bahwa rentangan nilai tahanan jenis pada Lintasan 4 (Balai

65

Bahasa Mesjid Al Azhar) adalah antara 1,01 931 m dengan


persentase kesalahan 4,5% pada iterasi ke-3. Kedalaman yang diperoleh
Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) adalah 29,5 m.
py.
Berdasarkan Gambar 17 dapat diketahui bahwa di sekitar titik
sounding terdapat lapisan dengan nilai tahanan jenis 191,5 - 931 m mulai
dari permukaan hingga kedalaman 4,62 m. Lapisan ini diinterpretasikan
sebagai Sands. Lapisan warna kuning memiliki nilai tahanan jenis 52,2
85,1 m terdapat di kedalaman 4,62 6,9 m. Lapisan ini diduga
merupakan

lapisan

Sandstones.

Selanjutnya

lapisan

warna

hijau

diinterpretasikan sebagai lapisan Clays dengan nilai tahanan jenis 10,3


52,2 m. Clays terdapat menyebar di sela-sela batuan pada kedalaman
6,918,05 m.
pz.
Lapisan yang terdapat pada kedalaman 6,9 11,94 m memiliki
nilai tahanan jenis 1,01 10,3 m. Lapisan ini diinterpretasikan sebagai
Groundwater. Hal ini sesuai dengan data kedalaman sumur pada Tabel 4
yang menyatakan bahwa kedalaman sumur di lintasan ini adalah 8 m. Pipa
sumur harus diletakkan lebih dalam beberapa meter dari kedalaman air
tanah yang sebenarnya agar air tanah dapat diperoleh. Hal ini yang
membuktikan bahwa interpretasi data ini benar.
qa.
Lapisan Sandstone juga ditemukan lagi di lapisan bawah, tepatnya
pada kedalaman 18,05 21,4 m. Lapisan terakhir yaitu kedalaman lebih
dari 21,4 m memiliki nilai tahanan jenis 85,1 191,5 m. Lapisan ini
diinterpretasikan sebagai Alluvium.
qb.
Berdasarkan interpretasi data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al
Azhar) diketahui bahwa pada lintasan ini tidak ditemukan adanya batuan

66

dasar. Batuan dasar diduga berada pada kedalaman lebih dari 29,5 m. Hasil
interpretasi data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) ditunjukkan
pada Tabel 13.
qc.
qd.
qe.
qf.
qg. Tabel 13.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 4 (Balai Bahasa
Mesjid Al Azhar) dengan inversi Robust Constraint 0,001
qh.
qi.
Warna
qm.

qj.
T
qk.
K
ahanan Jenis
edalaman (m)
(m)
qo.
1 qp.
p
91,5 - 931
ermukaan 4,62

qq.
s

Sand

qs.
2,2 85,1
qx.
0,3 52,2

5 qt.
62 6,9
1 qy.
9 18,05
qz.

4,

qu.
stones
ra.
s

Sand

re.
,01 10,3

1 rf.
9 11,94
rg.

6,

rh.
ndwater

Grou

rk.
2,2 85,1

5 rl.
8,05 21,4

rm.
stones

Sand

rp.
5,1 191,5

8 rq.
bih dari 21,4

le

rr.
ium

Alluv

ql.

Mate
rial

qn.
qr.
qv.
qw.
rb.
rc.

6,

Clay

rd.
ri.
rj.
rn.
ro.

rs.
rt.

Data Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) juga diolah

menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 seperti ditunjukkan pada


Gambar 18.

67

ru.

rv.
rw.
rx.

Gambar 18.
Penampang Model 2D Lintasan 4 (Balai
Bahasa Mesjid Al Azhar) dengan inversi Robust Constraint
0,005
Berdasarkan Gambar 17 dan 18 diketahui bahwa perbedaan hasil

pengolahan data menggunakan inversi Robust Constraint 0,005 dengan


inversi Robust Constraint 0,001 adalah rentangan nilai tahanan jenis dan
persentase kesalahan. Rentangan nilai tahanan jenis pada Lintasan 4 (Balai
Bahasa Mesjid Al Azhar) menggunakan inversi Robust Constraint 0,005
adalah 1,005 - 933 m dengan persentasi kesalahan sebesar 4,5% pada
iterasi ke-3. Kedalaman maksimum yang dapat dicapai yaitu 29,5 m.
Sementara rentangan nilai tahanan jenis pengolahan data menggunakan
inversi Robust Constraint 0,001 adalah 1,01 - 931 m dengan persentasi
kesalahan 4,5% pada iterasi ke-3. Perbedaan tersebut sangat kecil dan
masih bisa diterima. Interpretasi hasil pengolahan data Lintasan 4 (Balai
Bahasa Mesjid Al Azhar) menggunakan inversi Robust Constraint 0,005
ditunjukkan pada Tabel 14.
ry. Tabel 14.
Hasil Interpretasi Data Lintasan 4 (Balai Bahasa
Mesjid Al Azhar) dengan inversi Robust Constraint 0,005
rz.
sa.

sb.

T sc.

sd.

Mate

68

Warna
se.

ahanan Jenis
edalaman (m)
(m)
sg.
1 sh.
p
91,5 - 933
ermukaan 4,62

si.
s

Sand

sk.
2,1 85,05
sp.
0,2 52,1

5 sl.
62 6,9
1 sq.
9 18,05
sr.

4,

sm.
stones
ss.
s

Sand

sw.
,005 10,2

1 sx.
9 11,94
sy.

6,

sz.
ndwater

Grou

tc.
2,1 85,05

5 td.
8,05 21,4

te.
stones

Sand

th.
5,05 191,5

8 ti.
bih dari 21,4

le

tj.
ium

Alluv

rial

sf.
sj.
sn.
so.
st.
su.

6,

Clay

sv.
ta.
tb.
tf.
tg.

tk.
tl.

Berdasarkan Tabel 13 dan 14 diketahui bahwa terdapat perbedaan

antara nilai tahanan jenis masing-masing material hasil interpretasi data


menggunakan Robust Constraint 0,001 dengan Robust Constraint 0,005.
Perbedaan tersebut relatif kecil sehingga tidak mempengaruhi jenis
material yang diperoleh, sementara kedalaman dan posisi elektroda
material menunjukkan nilai yang sama.
tm.
C. Pembahasan
tn.
Perbandingan hasil pengolahan data antara inversi Robust
Constraint 0,005 dengan inversi Robust Constraint 0,001 menunjukkan
perbedaan yang sangat kecil. Hasil inversi yang mendekati nilai inversi

69

Robust Constraint yang sebenarnya harus menggunakan Constraint yang


kecil, misalnya 0,001. Oleh karena itu pembahasan hasil interpretasi data
akan lebih fokus pada Constraint 0,001.
to.
Berdasarkan hasil interpretasi data inversi Robust Constraint 0,001
diketahui bahwa pada Lintasan 1 (FE FIS) terdapat lapisan yang memiliki
nilai tahanan jenis yang tinggi yaitu sekitar 513 622 m di kedalaman lebih
dari 25,2 m tepatnya di sekitar titik sounding yaitu di sekitar Jurusan
Geografi. Lapisan ini diduga merupakan lapisan batuan dasar. Lintasan 2
(Gerbang UNP FT) juga diduga terdapat batuan dasar pada kedalaman lebih
dari 25,2 dengan nilai tahanan jenis 632 2150 m. Batuan dasar di lintasan
ini juga ditemukan di sekitar titik sounding di depan Bank Nagari UNP.
tp.
Batuan dasar dengan ketebalan yang paling tebal ditemukan pada
Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi). Batuan dasar pada lintasan ini ditemukan di
kedalaman lebih dari 21,85 m yaitu di sekitar titik sounding di depan
Laboratorium FIK dengan nilai tahanan jenis 596,5 734 m. Berbeda
dengan Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar), lintasan ini tidak
ditemukan adanya lapisan batuan dasar. Kemungkinan lapisan batuan dasar di
lintasan ini terdapat pada kedalaman lebih dari 29,5 m sehingga bagi peneliti
selanjutnya disarankan agar melakukan pengukuran dengan panjang lintasan
yang lebih panjang.
tq.
Hasil analisa dan interpretasi data nilai tahanan jenis serta
kedalaman batuan dasar masing-masing lintasan ditunjukkan pada Tabel 15.
tr.
Tabel 15. Nilai Tahanan Jenis dan Kedalaman Batuan Dasar Masingmasing Lintasan.
ts.
tt.
Lintasan

tu.

Lokasi

tv.
T
ahanan Jenis

tw.
Ke
dalaman (m)

tx.

P
osisi

70

(m)
ty.
1

tz.
FIS

uf.
6
32 2150

ug.

ue.
Gerba
ng UNP FT
uj.
FIK
Lab. Biologi

uk.
5
96,5 734

ul.

uo.
Balai
Bahasa Mesjid Al
Azhar

up.

uq.

ud.

ui.

un.
4

us.
ut.

FE -

ua.
5
13 622

ub.

>
25,2
>
25,2
>
21,85

uc.

S
ekitar
sounding
uh.
S
ekitar
sounding
um.
S
ekitar
sounding
ur.
-

Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa nilai rentangan tahanan jenis

batuan dasar paling tinggi terdapat pada Lintasan 2 (Gerbang UNP FT)
yaitu 632 2150 m, sedangkan kedalaman batuan dasar yang paling
dangkal terdapat pada Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi). Lintasan 3 mampu
melakukan pengukuran hingga kedalaman 104 m karena pengukuran di
lintasan ini menggabungkan pengukuran secara otomatis dan manual.
Lintasan 1, 2 dan 4 hanya melakukan pengukuran secara otomatis karena
banyaknya bangunan yang menghalangi lintasan ini sehingga kabel elektroda
tidak dapat direntangkan dan lintasan pengukuran menjadi lebih pendek.
uu.
Berdasarkan hasil interpretasi data diketahui bahwa batuan dasar
di UNP kampus Air Tawar memiliki nilai tahanan jenis yang cukup tinggi
yaitu antara 513 2150 m. Nilai tahanan jenis yang tinggi tersebut
disebabkan karena batuan dasar memiliki nilai porositas dan permeabilitas
yang rendah. Nilai porositas yang rendah menyebabkan batuan dasar bersifat
kurang porus dan memiliki sedikit pori-pori sehingga kemungkinan arus
listrik dapat mengalir pada batuan dasar sangat kecil. Nilai permeabilitas yang

71

rendah juga menyebabkan arus listrik sulit mengalir karena kandungan air
yang dimiliki batuan dasar sangat sedikit bahkan tidak ada.
uv.
Umumnya batuan dasar pada penelitian ini ditemukan pada lapisan
paling bawah yaitu kedalaman lebih dari 21,85 m dan 25,2 m. Batuan dasar
tersebut menjadi dasar bagi lapisan-lapisan batuan yang berada di atasnya.
Berdasarkan jenis batuan yang terdapat di atas lapisan batuan dasar,
diperkirakan bahwa batuan dasar ini semakin kompak pada kedalaman yang
lebih dalam. Artinya semakin menuju permukaan batuan dasar semakin cepat
mengalami pelapukan. Hal ini dibuktikan dengan jenis-jenis batuan yang
berada di atas lapisan batuan dasar yaitu batuan-batuan yang merupakan hasil
pelapukan dari batuan dasar seperti Sandstone, Alluvium, Clays dan Sands.
uw.
Batuan dasar yang terdapat di UNP kampus Air Tawar diduga
merupakan batuan Andesite. Menurut Telford et al (1976: 454) Andesite
memiliki rentangan nilai tahanan jenis 1,7 102 4,5 104 m. Berdasarkan
peta geologi Kota Padang pada Gambar 6 diketahui bahwa Kota Padang
terutama wilayah Air Tawar Barat didominasi oleh Alluvium yang terdiri dari
lanau, pasir (Sands) dan kerikil yang mengendap akibat aliran air. Alluvium
juga merupakan hasil rombakan batuan Andesite yang berasal dari gunung api
strato. Batuan Andesite yang mengalami pelapukan akan membentuk batuanbatuan baru diatas lapisannya. Berdasarkan hasil penelitian ini, batuan-batuan
baru tersebut diduga merupakan Alluvium, Sands, Sandstones dan Clays. Hal
ini sesuai dengan geologi daerah Kota Padang. Berdasarkan jenis-jenis batuan
yang diperoleh dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam perencanaan pembangunan di UNP kampus Air Tawar.

72

ux.

Menurut hasil penelitian Rasimeng dkk (2007:157) menyatakan

bahwa, Lapisan yang lebih kompak dengan nilai tahanan jenis 200 m
ditafsirkan sebagai batuan dasar jenis Andesite berada di kedalaman lebih dari
20 m. Menurut Margoworo (2009:27) batuan dasar sudah dapat ditemukan
hingga kedalaman 100,9 m. Sementara Astuti (2011) juga telah melakukan
penelitian Batuan Dasar di Purworejo, Jawa Tengah dan menyimpulkan
bahwa batuan dasar ditemukan pada kedalaman lebih dari 50 m dengan nilai
tahanan jenis lebih dari 30 m. Berdasarkan hasil penelitian di atas
kedalaman batuan dasar tersebut memenuhi nilai kedalaman batuan dasar
yang ditemukan pada penelitian ini.
uy.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Rizalmi (2012)
menggunakan metoda geolistrik tahanan jenis konfigurasi Schlumberger di
UNP kampus Air Tawar, diketahui bahwa Lintasan 1 (FE FIS) tidak
ditemukan adanya batuan dasar, diduga batuan dasar pada lintasan ini
terdapat pada kedalaman lebih dari 31,3 m. Lintasan 2 (Gerbang UNP FT)
ditemukan adanya batuan dasar pada kedalaman lebih dari 23,85 m dengan
nilai tahanan jenis 21,9 97,7 m. Lintasan 3 (FIK Lab. Biologi) juga
terdapat batuan dasar pada kedalaman lebih dari 43,4 m dengan nilai tahanan
jenis 88.6 179.8 m, sementara Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al
Azhar) tidak ditemukan adanya batuan dasar, diduga batuan dasar terdapat
pada kedalaman lebih dari 26,2 m. Jenis batuan dasar yang diperoleh dari
hasil penelitian tersebut adalah batuan Andesite.
uz.
va.
vb.
vc.

73

vd.
ve.
vf.
vg.
vh.
vi.
vj.
vk.
vl.
vm.
vn.
vo.
vp.
vq.
vr. BAB V
vs. PENUTUP
A. Kesimpulan
vt.
Berdasarkan hasil penelitian dari empat lintasan pengukuran di
UNP kampus Air Tawar, diketahui bahwa terdapat batuan dasar pada Lintasan
1 (FE FIS) dengan nilai tahanan jenis 513 622 m pada kedalaman lebih
dari 25,2. Lintasan 2 (Gerbang UNP FT) dan Lintasan 3 (FIK Lab.
Biologi) juga terdapat batuan dasar dengan masing-masing nilai tahanan jenis
632 2150 m dan 596,5 734 m pada kedalaman lebih dari 25,2 m dan
lebih dari 21,85 m. Lintasan 4 (Balai Bahasa Mesjid Al Azhar) tidak
ditemukan adanya batuan dasar. Batuan dasar yang ditemukan penelitian ini
diduga merupakan batuan dasar jenis Andesite yang menjadi dasar batuan
bagi lapisan batuan di atasnya yaitu Alluvium, Sandstones, Sands dan Clays.
vu.
B. Saran
1. Panjang lintasan pada penelitian ini adalah 155 m dan 425 m sehingga
mencapai kedalaman 29,5 m dan 104 m dengan spasi elektroda 5 m.
Penelitian berikutnya disarankan agar menggunakan lintasan yang lebih

74

panjang dan spasi elektroda yang lebih pendek sehingga kedalaman yang
diperoleh lebih dalam dan jenis batuan dasarnya juga lebih jelas.
2. Ares Multielectrode sangat sensitif terhadap suhu panas sehingga
disarankan agar saat pengambilan data sebaiknya alat harus dijaga suhu di
sekitarnya.
vv.

Daftar Pustaka
vw.

vx.

vy.
vz.

wa.
wb.

wc.
wd.
we.
wf.
wg.
wh.
wi.
wj.
wk.
wl.
wm.
wn.
wo.

Akmam. (2004). Existence of Spring in Batulimbak Village Simawang


Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanahdatar. Jurnal Prosiding Seminar
PPD Forum HEDS 2004 Bidang MIPA, ISBN 979-95726-7-3. Hlm 593608.
Ardi, Nanang Dwi, dan Iryanti, Mimin. (2009). Profil Resistivitas 2D
pada Gua Bawah Tanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi WennerSchlumberger (Studi Kasus Gua Dago Pakar, bandung). Jurnal
Pengajaran MIPA Vol 14 No. 2. Hlm. 79-86.
Astuti, Dwi Umi Widy. (2011). Pengukuran Resistivitas untuk
Menentukan Kedalaman Batuan Dasar (Basement) (Studi Kasus Desa
Pacekelan Kecamatan Purworejo Kabupaten Purworejo Jawa Tengah).
Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi. (2010). Denah
Lokasi Kampus 1 Air Tawar Universitas Negeri Padang. Padang:
Universitas Negeri Padang.
Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sumatera Barat. (2012).
Peta Geologi Kota Padang. Padang.
Endarto, Danang. (2005). Pengantar Geologi. Surakarta: UNS Press.
Getis, Arthur. Getis, Judith and Fellmann, Jerome. (1988). Introduction to
Geography. Lowa: Wm. C. Brown Publishers.
GF Instruments, s.r.o. Short Guide for Resistivity Imaging. Jecna.
Geophysical Equipment and Services.
Grandis, Hendra. (2009). Pengantar Pemodelan Inversi Geofisika.
Bandung: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia.

75

wp.
wq.
wr.
ws.
wt.
wu.
wv.
ww.
wx.
wy.
wz.
xa.
xb.

xc.
xd.
xe.
xf.
xg.
xh.

xi.
xj.
xk.
xl.

Guitton, Antoine. Symes, William. (2003). Robust Inversion of Seismic


Data Using the Huber Norm. Jurnal. Geophysics Vol 68. No 4 JulyAugust 2003. Hlm. 1310-1319.
Gutmanis, Jon. (2010). Hydrocarbon Production From Fractured
Basement Formation. Jurnal. Geoscience Limited Versi 9. Hlm. 1-40.
Li, Chuanfeng. Wang, Yongji. Deng, Zhixiang, dan Wu, Hao. (2009).
Adaptive Dynamic Inversion Robust for BTT Missile Based on Wavelet
Neural Network). Jurnal. Proc of SPIE Vol. 7496. Hlm 1-10.
Loke, M.H. (1999). Electrical Imaging Surveys for Environmental and
Enginering Studies, A Practical Guide to 2-D and 3-D Surveys. Malaysia:
Minden Heights.
Luthi, S,M. (2005). Fractured Reservoir Analysis Using Modern
Geophysical Well Techniques: Application to Basement Reservoirs in
Vietnam. Jurnal. Geological Society. Hlm. 95-106.
Marescot, Laurent. (2009). Electrical Surveying. Swiss: University of
Fribourg.
Margaworo, Ayu. (2009). Identifikasi Batuan Dasar di Desa Kroyo,
Karang malang Kabupaten Sragen Menggunakan Metode Geolistrik
Konfigurasi Dipole-Dipole. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Munir, Moch (1995). Geologi dan Mineralogi Tanah. Malang: Pustaka
Jaya.
Noor, Djauhari. (2009). Pengantar Geologi. Bogor: Universitas Pakuan.
Rasimeng, Syamsurijal. Dasaputra, Andius dan Alimuddin. (2007).
Identifikasi Struktur Batuan Basement Menggunakan Metode
Resistivitas 2D Sepanjang Jalan Lintas Propinsi di Daerah Potensi
Longsor Sumberjaya Lampung Barat. Jurnal SIGMA ISSN Vol 10 No 2,
Juli 2007. Hlm.151-158.
Reynolds, J.M. (1997). An Introduction to Applied and Environmental
Geophysics. New York: Jhon Geophysicsin Hidrogeological and Wiley
and Sons Ltd.
Rizalmi, Nelvira. (2012). Estimasi Kedalaman Batuan Dasar
Berdasarkan Nilai Tahanan Jenis Menggunakan Metoda Geolistrik
Konfigurasi Schlumberger di Universitas Negeri Padang Kampus Air
Tawar. Skripsi. Padang: Universitas Negeri Padang.

76

xm.
xn.
xo.
xp.
xq.
xr.
xs.
xt.
xu.
xv.
xw.
xx.
xy.
xz.
ya.
yb.

Samodra, Hanang. 2008. Geologi Batuan Dasar Gunung Ciremai Jawa


Barat. Jurnal Geologi Indonesia 4(5). Hlm. 279-287.
Santoso, Djoko. (2002). Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: ITB
Sircar, Anirbid. (2004). Hydrocarbon Production from Fractured
Basement Formations. Jurnal. Current Science. Vol.87. No.2. Hlm 147151.
Strahler, Arthur N. Strahler, Alan H. (1984). Elements of Physical
Geography. New York: John Wiley & Sons, Inc.
Sumarmin, Ramadhan, dkk 2010. Pedoman Penyusunan Skripsi
Mahasiswa MIPA. Padang: UNP.
Supriyanto. (2007). Analisis Data Geofisika: Memahami Teori Inversi.
Jakarta: Universitas Indonesi.
Taylor, Barbara. (1995). Batuan, Mineral dan Fosil. Jakarta: Erlangga.
Telford, W.M. Geldart, L.P, Sheriff R.E and Keys, D.A. (1976). Applied
Geophysics. USA: Cambridge University Press.

yc.
yd.
ye.
yf.
yg.
yh.
yi.
yj.
yk.
yl.
ym.
yn.
yo.
yp.
yq.
yr.
ys.
yt.
yu. Lampiran 1
yv.
yw.Data Lintasan 1
yx.

77

yy.

Lokasi
:
Fakultas Ekonomi (FE) Fakultas Ilmu
Sosial (FIS)
Koordinat :
0005341,6 LS dan 10002059,2 BT 0005346,5 LS dan 10002100,4 BT
Konfigurasi
:
Dipole-dipole
Panjang Lintasan :
155 m

yz.
za.
zb.
zc.
zd. I
(m
A)

ze. V
(m
V)

zh. 8,7
4

zi. 24,
81

zl. 4,9
2

zm.25,
74

zp. 7,5

zq. 24,
7

zt. 29,
08

zu. 50,
19

zx. 25,
54

zy. 62,
75

aab.
23,36
aaf.41,
46
aaj.44,
87

aac.
45,13
aag.
64,25
aak.
84,71

aan.
95,2
aar.28,
45

aao.
84,2
aas.
56,3

aav.
108,83

aaw.
60,11

Ap
pR
es
(
m)
zj. 26
7,3
7
zn. 49
3,3
2
zr. 31
0,3
9
zv. 16
2,6
7
zz. 23
1,5
7
aad.
182,08
aah.
146,06
aal.17
7,9
2
aap.
83,35
aat.18
6,5
2
aax.
52,06
zf.

zg. Stde
v
(%
)
zk. 0

zo. 0

zs. 0

zw. 0

aaa.
0
aae.
0
aai.0
aam.
0
aaq.
0
aau.
0,4
aay.
0

78

aaz.
28,36
abd.
23,73
abh.
abi.abj.abk.
abl.abm.
abn.
abo.
abp.
-

aba.
33,06
abe.
26,8
abq.
abr.abs.
abt.abu.
abv.
abw.
abx.
aby.
-

abc.

acs.
7,02

abb.
109,87
abf.
106,44
abz.
aca.
acb.
acc.
acd.
ace.
acf.acg.
ach.
act.45,
12

acr.41
2,1
6
acv.
157,77
acz.
638,96
add.
219,94
adh.
640,61
adl.25
2,4
3

acw.
4,82
ada.
4,98
ade.
3,62
adi.5,2
2
adm.
10,48

acx.
45,1
adb.
38,98
adf.
45,21
adj.45,
06
adn.
177,41

acy.

adp.
adq.
adr.
ads.
adt.
adu.

Lampiran 2

0
abg.
0
aci.acj.ack.
acl.acm.
acn.
aco.
acp.
acq.
-

acu.
0,6

0,8
adc.
8,1
adg.
2,9
adk.
0,9
ado.
2,3

79

adv.

Data Lintasan 2

adw.
adx.
ady.
adz.
aea.
aeb.

Lokasi
:
Gerbang UNP Fakultas Tehnik (FT)
Koordinat :
0005352,7 LS dan 10002102,6 BT 0005353,5 LS dan 10002103,1 BT
Konfigurasi
:
Dipole-dipole
Panjang Lintasan :
155 m
aec.
I (mA)

aed.
V
(m
V)

aeg.
9,94

aeh.
35,87

aek.
18,51
aeo.
15,23
aes.
15,18
aew.
16,72
afa.16,
79

ael.20,
16
aep.
57,61
aet.90,
21
aex.
45,39
afb.
69,84

afe.53,
63
afi. 24,
51
afm.
18,36
afq.
52,07
afu.
67,46
afy.74,
14
agc.
39,11
agg.

aff. 66,
67
afj. 35,
88
afn.
37,01
afr. 68,
4
afv.95,
48
afz.88,
41
agd.
20,81
agp.

Ap
pR
es
(
m)
aei.34
0,1
6
aem.
102,65
aeq.
356,58
aeu.
559,94
aey.
255,91
afc.39
2,0
4
afg.
117,15
afk.
137,99
afo.
190
afs.12
3,8
afw.
133,4
aga.
112,39
age.
50,14
agy.
aee.

aef.
St-dev
(%
)
aej.0

aen.
0
aer.0
aev.
0
aez.
0,1
afd.
0
afh.
0
afl. 0
afp.
0,1
aft. 0
afx.
0
agb.
0
agf.
0
ahh.

80

agh.

agq.

agi.agj.agk.
agl.agm.
agn.
ago.
-

agr.ags.
agt.agu.
agv.
agw.
agx.
-

agz.
aha.
ahb.
ahc.
ahd.
ahe.
ahf.

ahi.ahj.ahk.
ahl.ahm.
ahn.
aho.
ahp.
-

ahg.
-

ahq.
250,3
ahu.
307,19
ahy.
314,34
aic.21
1,3
9
aig.25
1,8
9
aik.31
4,8
7

ahr.0,2
3
ahv.
2,75
ahz.
3,69
aid.2,7
6

ahs.
39,9
ahw.
32,34
aia.39,
51
aie.32,
62

aht.10,
5
ahx.
0,6
aib.0,2

aih.3,6
5

aii. 32,
69

aij. 1,5

ail. 2,9
7

aim.
32,95

ain.1

aio.
aip.
aiq.
air.
ais.Lampiran 3
ait.
aiu.
aiv.

Data Lintasan 3

aif. 0,4

81

aiw.
aix.
aiy.
aiz.
aja.

Lokasi
:
Fakultas Ilmu Keolahragaan Laboratorium
Biologi
Koordinat :
0005354,4LS dan 10002050,6BT 0005340,7LS dan 10002059,9BT
Konfigurasi
:
Dipole-dipole
Panjang Lintasan :
425 m
ajb.
I (mA)

ajc.
V
(m
V)

aje.
St-dev
(%
)

ajg.11,
35
ajk.24,
52
ajo.15,
95
ajs. 25,
77
ajw.
30,19
aka.
33,83

Ap
pR
es
(
m)
ajh.16,
39
ajl. 27,
25
ajp.17,
34
ajt. 34,
06
ajx.29,
31
akb.
27,83

ajf. 65,
29
ajj. 84,
78
ajn.86,
72
ajr. 71,
31
ajv.97,
07
ajz.11
4,5
6
akd.
97,27
akh.
102,51
akl.88,
82
akp.
64,97
akt.69,
19
akx.
63,25
alb.69,
84
alf. alg.alh.-

ake.
21,35
aki.38,
17
akm.
25,46
akq.
19,41
aku.
24,45
aky.
23,53
alc.26,
71
alo.alp.alq.-

akf.
20,69
akj.35,
09
akn.
27,02
akr.28,
16
akv.
33,31
akz.
35,06
ald.36,
05
alx.aly.alz.-

akg.

ajd.

aji. 0,6
ajm.
0,3
ajq.0
aju.0,3
ajy.0
akc.
0

0
akk.
0,1
ako.
0
aks.
0,1
akw.
0,2
ala.0,1
ale.0
amg.
amh.

82

ali. alj. alk.all. alm.


aln.-

alr. als. alt. alu.alv.alw.


-

ama.

ami.

amb.

amj.

amc.

amk.

amd.

aml.

amm.

ame.

amf.

amn.
amo.
-

amp.
68,4
amt.
82,4
amx.
68,25
anb.
98
anf.
0,10
anj.0,1
3

amq.
0,59
amu.
0,48
amy.
0,41
anc.
0,25
ang.
758,52
ank.
444,32

amr.
71,35
amv.
54,95
amz.
56,61
and.
10,53
anh.
19,12
anl.66,
10

ann.
ano.
anp.
anq.
anr.
ans.

Lampiran 4
ant.

Data Lintasan 4

anu.
anv.
anw.
anx.
any.
anz.

Lokasi
:
Balai Bahasa Mesjid Al Azhar
Koordinat :
0005358,0 LS dan 10002101,6 0005353,5 LS dan 10002103,1 BT
Konfigurasi
:
Dipole-dipole
Panjang Lintasan :
1555 m

ams.
3,3
amw.
3,6
ana.
4,7
ane.
10,5
ani.16,
30
anm.
0,9

83

aoa.
I (mA)

aob.
V
(m
V)

aoe.
6,74
aoi.9,7
8
aom.
14,36
aoq.
17,93
aou.
22,32
aoy.
25,27
apc.
26,88
apg.
48,64

aof.
21,83
aoj.25,
03
aon.
39,27
aor.46,
41
aov.
52,42
aoz.
73,71
apd.
59,13
aph.
53,17

apk.
22,9
apo.
37,48
aps.
25,64
apw.
26,77
aqa.
41,26
aqe.
aqf.
aqg.
aqh.
aqi.aqj.-

apl.31,
07
app.
61,5
apt.58,
92
apx.
75,15
aqb.
71,06
aqn.
aqo.
aqp.
aqq.
aqr.aqs.

Ap
pR
es
(
m)
aog.
305,32
aok.
241,27
aoo.
257,78
aos.
244
aow.
221,39
apa.
274,86
ape.
207,34
api.10
3,0
4
apm.
127,9
apq.
154,64
apu.
216.56
apy.
264,59
aqc.
162,34
aqw.
aqx.
aqy.
aqz.
ara.arb.
aoc.

aod.
St-dev
(%
)
aoh.
0
aol.0
aop.
0
aot.0
aox.
0,1
apb.
0
apf.
0
apj.0

apn.
0
apr.0
apv.
0
apz.
0
aqd.
0
arf. arg.
arh.
ari. arj. ark.
arl. -

84

aqk.
aql.aqm.
aro.
350,84
ars.46
4,0
1
arw.
625,16
asa.
351,65
ase.
466,5
asi. 35
7,3
8
asm.
asn.

aqt.aqu.
aqv.
arp.
0,88
art. 1,1
8

arc.ard.
are.-

arm.

arq.
20,89
aru.
21,05

arr. 0,7

arx.
0,45
asb.
1,09
asf.0,7
7
asj. 1,2
1

ary.6,0
2
asc.
29,23
asg.
15,46
ask.
13,71

arz.2

arn.
-

arv.3

asd.
0,9
ash.
0,7
asl. 0,9