Anda di halaman 1dari 21

TwTIH

LONCATAN HIDRAULIK

7.I

PENDAHULUAN

Salah satu kasus

ariran berubah berangsur-angsur yang paring sering


dijumpai adalah lon_
catan hidraulik (hidraulic jump) yang telah dibahas
t..uruiingtui Jata.n nau l. Beberapa hal aliran berubah berangsur-angsur yang lain
dibahas di dalam bab berikut. Loncatan hidraulik sangat penting dalam berbagai masalah praktek
dan dijeiaskan secara terperinci dalam bab ini.
Penelitian pertama-tama mengenai loncatan hidraulik
telah dilakukan oleh Bidone
pada tahun i818 dan masalah terseo-ut terus
menerima perhatian dari para peneliti walaupun saat ini sudah lebih 250 tahun dilaksanakan.
Penggunaan loncatan hidraulik
yang paling penting adalah daram peredaman
energi di bawali pelimparr, waduk, pintu,
dan lainJain, sehingga pengerusan yang tidak
diharapkan di hili; ,aluran dapat dihindari.
Hal itu telah pula digunakan untul m-enaikkan permukaan
air di hilir untuk menyediakan kebutuhan tinggi tekan untuk pengariran
ke dalam saluran aun3uguuntukmenam_
bah muatan berat air pbda rantai lindung (apron),
dengan cara demikian, menetralkan
tekanan angkat (uplift preszure) dan sehinggu
mengurangi ketebalan dari lantai lindung
beton yang diperlukan dalam bangu.run p-u-du pondasi
tak kedap air (permeable foundations)' Loncatan hidrairllk juga digunakan pada
sistim pengaliran air bersih perkotaan

untuk mencampur bahan kimia dan juga mengeluarkun


g.ir-tung-gel.*bung ,rdara.

7.2 JENIS-JENIS LONCATAN


Suatu loncatan hidraulik terjadi apabila aliran superkritis
harus berubah ke dalam aliran
subkritis. Terdapat suatu kenaikan yang tiba-tiba pada permukaan
air dan kehilangan
energi yang besar dalam loncatan hidraulik. perputaran
permukaan yang keras mulai
dari awal loncatan sampai mendekati ujung roncatan,
terbentuk seperti ditunjukkan dalam Gambar 7'l' Pusaran turbulen yang be.ukuran
besar terbentuk pada awal loncatan. Pusaran ini menarik energi dari ariran utama
dan pusaran terpecah-pecah menjadi

Aliran melalui Safuran Terbuka

186

Cl "l

(a) Loncatan dalam kontraksi aliran (vena contracta)

(b) Loncatan mundur

(cl Loncatan terendam


Gambar

7.1

Loncatan pada penyempitan

bagian-bagian yang lebih kecil sambil mengalir ke hilir. Energi itu diredamkan ke dalam
panas melalui pusaran-pusaran kecil ini. Selanjutnya, udara naik karena pecahnya se'
jumlah gelombang pada permukaan; udala ini diangkut ke hilir dan terlepas dalam
bentuk gelembung-gelembung udala yang disebabkan oleh daya apung. Aliran air superkritis sering sekali dijumpai di bawah pintu, pelimpah dan waduk;kombinasi kekasaran dan kemiringan sungai atau saluran di hilir umumnya adalah sedemikian rupa
sehingga aliran

itu subkritis pada kedalaman normal, dengan cara demikian, menimbul-

kan terbentuknya loncatan hidraulis. Gambar 7.1 menunjukkan aliran di hilir pintu
sadap ketika tinggi air hilir adalah sama dengan kedalaman konyugasi sehubungan
dengan kedalaman pada kontraksi aliran, loncatan terbentuk pada penampang kontraksi
aliran itu sendiri (lihat Gambar 7.1(a)). Jika kedalaman air hilir h'2 adalah lebih kecil daripada h'2 (lihat Gambar 7.1(b), loncatan itu didorong mundur melalui kurvaM3 (atau
kurva H3 sebagai kemungkinan kasus itu). Panjang kuwa M3 adalah sedemikian sehingga
fti konyugasi terhadap h/ .I-oncatan dalam wujud ini sering dinamakan loncatanmundur Qepeitea jumps). Loncatanyangdiperoleh pada kedalaman h2 dan hl adalah sedemikian rupa sehingga melalui pintu sadap tidak dipengaruhi oleh loncatan; dengan kata
lain, aliran itu bebas dan loncatan yang diperoieh dalam hal ini dinamakan loncatan
bebas (free jump).

Apabila kedalarnan air hilir h'| adalah lebih besar daripada h2,loncatan ittr tidak
itu bebas tapi tertrenam seperti ditutrJukkan dalam Gambar l.lc. Ioncat-

Lama setelah

Loncatan Hidraulis

r87

an yang demikian dinamakan loncatan terbenam (drowned jump)


atau loncotqn teymdam (submerged jump). Kehilangan energi dalam loncatan terendam adalah
lebih
kecil daripada yang ada dalam loncatan bebas. Sebagian
besar pembahasan dalam

bab
ini menyinggung loncatan bebas.
Biro Reklamasi Amerika serikat (usBR) sudah membuat
penelitian yang luas me_
ngenai jenis loncatan yang diperoreh pada bilangan Froude
yang berbeda. Antara bilang_
an Froude 1,0 dan 1,7, perubahan dari keadaan superkritis
ke keadaan subkritis tidak
mendadak dan hanya ada sedikit gangguan permukaan
air diperoleh. serangkaian
gulungan ombak kecil membuat pemunculannya dalam
besaran bilangan Froude 1,7
sampai 2,5. Pancaran air yang akan datang berkisar antara
dasar

dan bagian bawah per-

mukaan gulungan ombak daram besaran bilangan Froude 2,5


sampai aeng.n 4,5. Gerakan.aliran ini menyebabkan gerombang permukaan berlangsung
oalam jarak yang besar
di luar ujung loncatan dan dapat menyebabkan erosi tanggul. Loncatanyang
diperoleh
dalam besaran bilangan Froude 4,5 sampai dengan 9,0 adalah
roncatan tetap (steady)
dan menghasilkan peredaman energi yang baik. Permukaan
air di hilir loncatan dalam
hal ini adalah agak halus. Loncatan itujuga efektip dan
kuat pada bilangan Froude lebih
besar daripada 9,0, namun permukaan air dihilii loncatan
urnu*.ryu'agak kasar pada
bilangan Froude yang tinggi yang demikian. Loncatan yang
diperol.h;;;il;;;
Froude yang berbeda ini dapat dinamakan lemah,
bergetar,;*;p dan kuat seperti ditunjukkan dalam Gambar 7.2.

(a) F1 = 1.7 ke 2.5 (toncatan lemah)

-4;

#--t-

(b) F1 = 2.5 ke 4.5 (loncatan bergetar)

/'--/c
(c) f 1 = 4.5 ke 9.O {toncatan tetap)
Gambar

7.2

- ---'

---

(d) F1 )9.0 {toncatan kuat)

Pengaruh bilangan Froude terhadap jenis loncatan

7.3 LONCATAN HIDRAULIS DALAM SALURAN MENDATAR BENTUK


EMPAT
PERSEGI

Kasus loncatan hidraulis yang paling luas

diteliti adalah dalam saluran mendatar bentuk


empat persegi dan menghasilkan pembahasan yang terperinci.
Loncatan yang terbentuk
dalam saluran yang demikian yang halus dan luas dikenal sebagai
loncatan khsik. Hub-ungan kedalaman konyugasi, kehilangan energi dalam loncatandan beberapa karakter
aliran menengah dan turbulen dari loncatan yang demikian
dibahas dalam pasal ini.

i88

Aliran melalui Sahtran Terbul@

7.3.1 Hubungan Antara Kedalaman Konyugasi


Telah ditunjukkan dalam Bab I bahwa hubungan antara kedalaman sebelum loncatan
(pre-jump) dan setelah loncatan (post-jump) (yang dinamakan kedalaman berurutan
atau kedalaman konyugasi) adalah

h: trfi-=-srl- r;

(7.1)

Persamaan (7.1) dikenal sebagai persamaan momentum Bebnger dan diperoleh dengan
mengasumsikan bahwa (i) distribusi kecepatan adalah seragam dan distribusi tekanan
adalah hidrostatis pada kedua ujung loncatan, (ii) dasar adalah mendatar dan (iii) tegangan geser batas dapat diabaikan. Di sini F-1 adalah bilangan Froude pada penampang pertama dinyatakan dengan Url\/VF, (lihat Gambar 7.3). Beberapa bentuk alternatif Persamaan 7'.1 yang berguna dalam praktek dinyatakan sebagai Persamaan (7.2)
sampai (7.4).

*: *(tFq-1)

(7.2'

8Fr

Fz:

(7.3)

6/f+sFr-,-ty

hthz(h

h2\

2q2

(7.4',)

oo

Di sini'q adalah debit per satuan lebar danF2 adalah bilangan Froude pada penampang
2 dan sarna dengan u. l{6.
Sangat banyak data percobaan telah digunakan pada
masa yang lalu untuk memperlihatkan kebenaran Persamaan (7.1). Namun demikian,
alasan untuk setiap permulaan data percobaan dari Persamaan (7.1) akan menjadi jelas
dari beberapa pembahasan yang disajikan kemudian dalam pasal ini.
Energi spesifik pada penampang I dan 2 dapat ditulis sebagai

*
Ez: hz *
Er

ht

: h * qzl2sh?
U'zrlzs : hz * qzl2shtr

(?.s)

Ul12g

(7.6)

Kehilangan energi dalam loncatan Ey dengan nyata adalah sama dengan E, - E2 (hhat
Gambar 7.3). Diagram energi spesifik dan gaya spesifik dalam gambar ini, dengan jelas
menjelaskan bahwa Ez l Er apabila h1 dan h2 adalah berurutan (conjugate) satu sama
lain.

Er.:(hr-hz)*E
Dengan menggabung Fersamaan (7

E1-: (fu -

A)

(7.7)

dan (7 .7)

hz)

hthz(h

hz)&Z-

4h? hi

h?)

Loncatan Hidraulis

189

h2

Gaya

spesifik

trl

Diagram gaya
spesifik
Gambar

7.3

Diagram energi spesif ik

Diagram energi spesifik dan gaya spesifik untuk loncatan hidraulis.

Dengan menyederhanakan

n-

hrt
: (hz4hthz

(7.8)

Dengan menggabung Persamaan (7.8) dan (7.5) dan

8Fl

Et: w

_8,

2oF?

e .4) danmenyederhanakannya

(8F?+ l)3/,

(7.e)

20
Pers. (2.1)

24

20

-u.
h1

t.0

16

0.0

Pers. (7.9)

0.6

12

0.4

0.2

t2

l!
El

20

F1

Gambar7.4

Hubungah antarah2/h1, Ey/E1dan F1 untuk salu,ran mendatar bentuk empat persegi.

190

Alfuan melalui Sahtran Terbula

Persamaan (7.1) dan (7.9) ditunjukkan dalam bentuk grafik dalam Gambar 7.4. Faktor

Ez/Er,yang

sama dengan

I - +dinamakan
E1

ef*ensi loncatandan jumlah @,

- hr)

dinamakan tinggi loncatan. lJraian untuk kuantitas ini dapat pula diperoieh melalui
kombinasi dari persamaan yang relevan dan penyederhanaan seranjutnya.
CONTOH 7.I
, '
Air rnengalir. pada suatu saluran mendatar dengan kecepatan g,0 m/det pada kedalaman
1,0 m. Tentukan kedalaman konyugasi dan kehilangan energi dalam loncatan.
Penyelesaian

F1

U11,,/

gfi = 8/V9,8 x lp = 2,555

Maka aliran itu adalah superkritis

h2

(t/F4-rl

:t(/t+TVTS5F-1):3.148
"':;
1

.'.

hz:
Ea:
:
:
Er.

3,147 m
(h2
h1\114fuh2

(3.147

t)Y4x

3.147

xt :

0.786 m

0'786 m

7.3.2 Pengatuh Gesekan

Batas terhadap Hubungan Kedalaman Konyugasi

Persamaan (7.1) diperoleh dengan asumsi bahwa gesekan batas di dalam panjang loncat-

an dapat diabaikan. Rajaratnam telah membuat pengukuran yang terperinci mengenai


gesekan batas di dalam loncatan dengan menggunakan tabung Preston dan ini menunjuk-

kan bahwa gaya gesekan tidak dapat diabaikan. Koefisien gesekan setempat cg dirumuskan sebagai

vf
^t6:

@7i,

(7.10)

ditemukan secara unik dihubungkan dengan xfh2 seperti ditunjukkan dalam Gambar
7.5. Di sini re adalah tegangan geser dasar pada jarakx dari awalloncatan.Pengukuran
sesuai dengan Gambar 7.5 dilakukan dalam hal loncatan hidraulis yang terbentuk secara

praktis pada penampang loncatan di hilir pintu sadap. Dengan kata lain, distribusi kecepatan pada pintu masuk praktis telah seragam pada semua percobaan ini.
Rajaratnam menemukan gaya batas per satuan lebar .F6 dengan mengintegralkan

profil

tegangan geser yang diukur sebagai

Loncoton Hidraulis

191

Fa_ 1lLi- rodx

(7.11)

Jo

di mana L1 adalah panjang loncatan (akan dirumuskan kemudian). Dengan menguraikan.F6 sebagai
po

(7.12)

Klpg h2J2

Data untuk bilangan


Froude yang berbeda

x/ h2
Gambar7.5 Distribusi tegangan geser dasar di dalam loncatan hidraulisl

t0

K1

lt

246810
F1

Gambar

7.6

Variasi koefisien gaya batas dengan bilangan Froude.

192

Aliran metalui Salilran Terbuka

Kf,

Jcoefisien gesekan batas, telah dievaluasi dan diperoleh adalah fungsi dari .F'1 se-

perti ditunjukkan dalam Gambar 7.6, Dalam hal i;, kelihatannya sangat tidak logis
bahwa koefisien gesekan-batas semata-mata telah dihubungkan dengan bilangin
Froude. Kita harus memperkirakan bahwa ini seharusnya dihubungkun drngun ,if"t

bilangan Reynold. Paling tidak dalam besaran bilangan Reynolds. aspek ini memerlukan
penelitian lebih lanjut.
Persamaan momentum termasuk gesekan batas dapat ditulis sebagai
pch? 12

pch7l2

Fb

pc(Uz

- U)

(j .13)

Dengan menggabung Persamaan (7.12) dan (7.13) dan rnenyederhanakannya

(#)' - fiu - Kr *

zF?)+

2Fl

Persamaan (7.14) berubah menjadi Persamaan (7.1) apabila

:s

(7.r4)

Kf = 0. Rajaratnam

me-

nunjukkan bahwa data dari beberapa sumber menunjukkan persesuaian yang lebih
baik dengan Persamaan (7.14) daripada dengan persamaan (7.1) (lihat Gambar 7.7)
dengan memberikan dukungan terhadap pengambilan persamaan yang terdahulu lebih
baik daripada yar.g terakhir. Namun demikian, banyak peneliti lainnya seperti Bahkmeteff dan Matzke, Nagaratnam, Siao, Bliss dan chu, dan lain-lain yang dengan jelas

bekerja dengan distribusi kecepatan masuk berbeda dengan yang ada dalam percolaan
Rajaratnam, menemukan persesuaian data percobaan yang baik dengan persamaan
(7.1). oleh karena itu, meskipun illustrasi itu jelas oleh Rajaratnam tentang pengaruh
gesekan batas terhadap hubungan kedalaman konyugasi, para insinyur biasa menggunakan Persamaan (7.1) itu sendiri dalam perhitungan loncatan hidraulis.'

7.3.3 Pengaruh Distribusi Kecepatan pintu masuk terhadap Hubungan Kedalaman


Konyugasi

Distribusi kecepatan pada penampang masuk (yaitu penampang

l)

praktisnya adalah

- kecuali mungkin untuk lapisan batas tipis, yang dapat berupa laminer - apabila loncatan terbentuk pada penampang kontraksi aliran di hilir pintu sadap. Namun
aliran pada penampang pintu masuk kemungkinan adalah ditetapkan sebagian atau
sepenuhnya apabila loncatan itu mundur dari pintu oleh pembentukan kurva H3 atau
M3 atau di dalam hal suatu loncatan terbentuk pada kaki pelimpah. Dalam hal yang
seragam

demikian, pemasukan faktor aliran momentum turbulen dan juga pertimbangan


mengenai ketidakseragaman aliran dalam persamaan momentum kelihatannya logis,
meskipun keduanya ditunjukkan mempunyai pengaruh yang berlawanan. Leutheusser
dan Kartha3 mengadakan suatu penelitian semi-empiris dari loncatan hidraulis mundur
di hilir pintu sadap. Panjang kurva f13 dalam pecobaan mereka adalah sedemikian rupa
sehingga profil aliran turbulen berkembang sepenuhnya telah diperoleh pada p.nu*pung
pintu masuk. Percobaan mereka menghasilkan hubungan kedalaman konyugasi

Loncdtan Hidraulis

t93

ltnilni

F?:

'

"l
2.06

(#

r)

- ,t
-o.oz++

(7.15)

tL

Perbandingan kedalaman konyugasi yang dihiturrg dari persamaan


(7.i5) adarah kirakira 10 persen lebih kecil daripadu yung dihitu'g dari persamaan
1z.r; pada bilangan
Froude 12,0; perbedaannya adalah lebih kecil pada bilangan
Froude yangkecil. yang
menarik' data dari Leutheusser dan Kartha dalam loncatan hidraulis
dengan aliran yang
tidak berkembang menunl'uk-kg kegocokan yang lebih baik dengan
l*rru_uun (Z.tj
daripada dengan Persamaan (7.14). Ini berlawanan dengan p.n.-n,uun
Ra.yaratnaml .
Sehingga dalam hal ini akan tampak bahwa pengaruh dari g.r.kun
batas
dan
distribusi
"tingkat

kecepatan masuk

dihubungkan satu

ru-u ruin sampai

lertentu

sekarang belum sepenuhnya dimengerti.

14

t2
/
Pers. 7

t0

,t

-le
h1

F-,

fE.

Pers 7.14

ari sumber ;umber yan berbeda.

t0
F1
Gambar

7.7

Perbandingan dari data percobaan dengan kedalaman konyugasi.

sampai

194

Aliran melalui Sahtran TerUtkd

7.3.4 Panjang loncatan


Perencanaan kolam peredam energi jenis-loncatan yang semestinya mensyaratkan bahwa
keseluruhan loncatan ditahan di dalam kolam pada semua debit. Ini memungkinkan
hanya apabila panjang loncatan dapat diperkirakan. Walaupun hubungan teoritis tersedia
untuk tinggi loncatan, kita harus mengandalkan banyak sekali metode empiris dalam
mendntukan panjang loncatan, Jarak dari awal loncatan - yang biasanya dengan jelas
dirumuskan - sampai dengan wilayah subkritis dari aliran di mana permukaan air pada
dasamya adalah mendatar dan kedalaman maksimum dinamakan sebagai panjang
loncatan (lihat lampiran Gambar 7.8). Beberapa kesalahan pengaturan dalam memperkirakan panjang loncatan hidraulis akan timbul karena ujung hilir loncatan tidak dapat
ditempatkan dengan tingkat ketelitian yang besar. Data mengenai panjang loncatan

umumnya menunjukkan suatu penyebaran. Gambar 7.8 menunjukkan hubungan


panjang loncatan yang diusulkan oleh usBR di mana Llfh2 ditunjukkan menjadi fungsi
dari F1. Sebagai kemungkinan lain, suatu hubungan seperti

Li : A(h2 -h1),
di mana A bervariasi dari 5 p sampai 6,9 menurut para peneliti juga digunakan.
Panjang permukaan gulungan ombak adalah lebih kecil daripada panjang loncatan
seperti dapat dilihat dalam Gambar 7.8. Panjang gulungan ombak bertambah dari sekitar
O,4Li pada F1 = 3,0 sampai dengan kira-kira 0,7 L3 pada F, = 9,0.

Li:A(hz-ht\,

!r
h2

Gambar

7.8

Hubungan panjang loncatan hidraulis.pada lantai mendatar.

7.3.5 Profil Loncatan Hidraulis

Di dalam hal bangunan pelimpas yang ditempatkan pada pondasi tak kedap air, lantai
lindung beton dari kolam peredam energi perlu direncanakan untuk menahan tekanan
angkat. Tekanan angkat sebagian dinetralkan oleh muatan vertikal dari air yang sedang
mengalir dan sehingga berat beton yang diperlukan dapat disamakan dengan perbedaan antara tekanan angkat dan muatan air. Dalam hal konteks ini, bahwa penentuan profil loncatan hidraulis menjadi penting, karena hal itu mempengaruhi muatan bersih pada
lantai lindung dalam kolam peredam energi jenis loncatan yang ditempatkan pada

Loncatdn Hidtoulis

195

pondasi tak kedap air.. Suatu penelitian yang luas tentang profil loncatan hidraulis
telah dilakukan oleh Rajaratnam dan Subramanyao . Data dari sumber yang berbeda
dan pada bilangan Froude yang berbeda menunjukkan hubungan yang khas antara
y10,75(h2 - hr) dan xlX Qtnat Gambar 7.9). Di sini X adalah jarak dari awal loncatan
sampai dengan penampang di mana kedalaman seperti diukur di atas, sumbu x adalah
0,75(h2 - h). Panjang X- secara empiris telah dihubungkan dengan h1 dan F1 sebagai

X
hr
-=

5,08F1

-7,82

(1.11)

Persamaan (7.1) dan (7.17) bersama-sama dengan Gambar 7.9 memungkinkan penentuan profil loncatan dengan harya h y dan U 1 yang diketahui.

3
I

5o
0
q
o

y-t7
Gambar

7.9 Profil

loncatan hidraulis dalam suatu saluran bentuk empat persegi4.

7.3.6 Sifat Aliran Rata-Rata dan Turbulen dalam Loncatan


Pengetahuan yang berguna ke dalam pembenaran atau sebaliknya berbagai asumsi
yang dibuat dalam memperoleh Persamaan 7 .1 dapat diperoleh melalui pengukuran
kecepatan rata-raLa dan lapangan tekanan di dalam loncatan dan juga berbagai kuantitas turbulen. Pengukuran tegangan geser dasar dan juga implikasi dari pemasukan
faktor ini dalam persamaan momentum pada hubungan kedalaman konyugasi, telah dibahas lebih dahulu. Rajaratnam juga mengukur kecepatan ratarata dan lapangan
tekanan di dalam loncatan dan secara singkat dibahas di sini.
Gambar 7.10 menunjukkan variasi tekanan p pada setiap titik P di dalam loncatan
dalam bentuk tanpa dimensi pada dua bilangan Froude yang berbeda. Pengukuran itu
menyinggung perbedaan tegak sepanjang loncatan. Dengan jelas, plps(h - y) akan sama
dengan satu pada semua ketinggian jika distribusi tekanan adalah hidrostatis seperti
telah diasumsikan (untuk kedua ujung penampang) dalam memperoleh Persamaan (7.1).
Bahwa ini tidaklah demikian kecuali sangat dekat dengan dasar yang dengan jelas ditunjukkan oleh Gambar 7.10. Permulaan dari harga hidrostatis adalah cukup besar pada
bilangan Froude yang tinggi. Juga, permulaan itu adalah besar pada harga xfh2 yang
kecil namun distribusinya cenderung menjadi hidrostatis ke arah ujung hilir loncatan.
Tekanan umumnya lebih kecil daripada harga hidrostatis dan menunjukkan maksimum
pada y = O,2 h sampai dengan 0,5 h pada bilangan Froude yang tinggi. Kita dapat

t96

Alban rnelalui Sdhtran Terbuk4

menyimpulkan dari Gambar 7.10 bahwa asumsi disiribusi tekanan hidrostatis pada
ujung hilir loncatan adalah wajar. Asumsi itu menimbulkan masalah pada ujung hulu,
namun setiap permulaan distribusi hidrostatis pada penampang ini kemungkinan tidak

menyebabkan kesalahan yang besar karena kontribusi faktor tekanan sehubungan


dengan penampang

ini, di dalam

persamaan momentum adalah relatif kecil.

0.8

+ o(

0.0

Batasae dari

Fr'2

o,

og

1.0

dFstt'-Y1
Gambar

1+

xlh2=

0,26 sampai

Fr'9'os
, ,

0.6

0.8

,-qto
LO

dFgLn-vtJ

7.10 Distribusi tekanan terhadap vertikal dalam loncatan l.

Pengukuran fluktuasi tekanan pada dasar di dalam loncatan menunjukkan bahwa


intensitas maksimum dari fluktuasi terjadi pada kira-kira 8ft1 sampai 76h1 dari avtal
loncatan. Harga maksimumt/ p't adalah sebesar 0,085 pq P.
Profil kecepatan rata-rata pada penampang yang berbeda di dalam loncatan ditunjukkan untuk satu percobaan dalam Gambar 7.11. Distribusi tekanan di dalam
loncatan menunjukkan ketidakseragaman yang besar, walaupun aliran itu cenderung
menjadi kulang tak seragam setelah ujung hilir loncatan didekati. Pengasumsian bahwa
faktor koreksi momentum B adalah satu pada ujung hulu loncatan sesungguhnya adalah
wajar meskipun jika aliran itu berkembang sepenuhnya pada stasiun ini. Namun dem!
kian, Gambar 7.11 menunjukkan bahwa I dapat lebih besar daripada satu pada ujung
hilir loncatan, namun dengan mengasumsikan P = 1,0 pada penampang ini tidak akan
menimbulkan kesalahan besar, karena kontribusi pertambahan momentum pada penampang ini adalah kecil dalam hubungannya dengan besarnya kuantitas lain di dalam
persamaan momentum.
Pengukuran fluktuasi kecepatan turbulen dan tegangan geser telah dilakukan oleh
Resh dan Leutheusser6 dengan menggunakan suatu lapisan-panas anemometer. Pengukuran telah dibuat di hilir loncatan hidraulis dari suatu pintu sadap keduanya untuk
aliranpotensial dan aliran yang berkembang pada penampang masuk. Perbedaan kuantitas tanpa dimensi G-tU,
dan u'v'f{-rt- tprhadap ketinggian pada lokasi yang berbeda di dalam loncatan ditunjukkan dalam Gambar 7.12 untuk F1 = 6,0. Dalam hal
ini dapat dilihat bahwa intensitas turbulen di dalam hal aliran potensial adalah sangat
kurang daripada yang ada dalam loncatan hidraulis dengan aliran berkembang sepenuhnya pada.semua penampang. Dalam kedua hal, tegangan geser turbulen, praktis adalah
nol terhadap sebagian besar bagian kedalaman pada xfh" > 5,0. Selanjutnya, gulungan
ombak permukaan yang kuat menyebabkan intensitas turbulensi lebih tinggi dekat
permukaan daripada dekat dasar; dalam hal aliran saluran yang biasa, intensitas turbulensi dekat dasar adalah lebih tinggi.

t9'7

Loncatan Hdraulis

350

lr

iSimbol x mm t

r200

050

900

o
.
a

\ \

34t
432

560

\
-

3.90

?50

600

(50

300

r50

,)

0.2

{#

0.4
u

Gambar

0.6

0.8

r.0

/Ul

7.11 Disiribusi kecepatan di dalam loncatan hidraulisl.

a17 menirukan loncatan hidraulis dalam terowongan angin yang batasnya telah dibentuk menurut profil loncatan, dan membuat pengukuran pertama yang
diketahui mengenai karakter turbulensi di dalam loncatan. Mereka menggunakan segala
usaha untuk mengatasi segala kesulitan dalam membuat pengukuran turbulensi yang

Rouse

et

tepat dalam aliran udara naik yang diperoleh dalam suatu loncatan hidraulis.

Peng-

ukuran mereka pada biiangan Froude 6,0 hanya menunjukkan kecocokan yang kualitatif dengan pengukuran air dari Resh dan kutheusser. Perbedaan kuantitas dapat karena
perbedaan bilangan Reynolds dalam kedua bagian percobaan atau karena ketidaklengkapan peniruan loncatan dalam suatu model udara.

7.3.7 Kenaikan Udara dalam Inncatan


Telah ditunjukkan terdahulu bahwa udara naik dalam loncatan disebabkan oleh pecahnya gelombang pada permukaan gulungan ombak. Udara ini akhirnya meninggalkan
aliran ke arah hilir loncatan dalam bentuk gelembung-gelembung udara. Pengukuran
yang dilakukan oleh Rajaratnam telah menunjukkan bahwa wilayah aliran udara naik
umumnya lebih besar daripada panjang loncatan (lihat Gambar 7 .13). Pemusatan udara
ratatala dalam penampang vertikal naik dengan cepat dari awal loncatan sampai dengan

198

Alban melolui Soluran Terbukn


Skala

mendatar r_4 = 0.10

E
0
10

Skala

0
1S

mendatar

t-l=

0.025

Irr
x/h2 2

air
air
Pengukuran dalam udara
Pengukuran dalam
Pengukuran dalam

Pada

Aliran berkembang penuh


Aliran potensial
Aliran potensial

x/hz =2,O

Pengukuran dalam
Pada

ry
ul

udara

Aliran potensial

x/h2 =5,O

Gambar

7.72 Sifat turbulensi dalam loncatan hidraulis.

Gambar7.13 Naiknya udara dalam loncatan.

c* maksimum pada penampang sekitar h2 sampaizh2 lanknya dan setelah itu,


menurun ke nol secara linier pada penampang sedikit di luar ujung loncatan. Pemusatan
c* maksimum (dalarn persen menurut volume) dihubungkan dengan bilangan Froude

harga

Lonca.tdn Hidraulis

199

dengan hubungan

Cm

(7.18)

Fl'3s

7.4 LONCATAN HIDRAULIS DALAM SALURAN EMPAT PERSEGI MIRING


Loncatan hidraulis terjadi pada permukaan miring di bawah keadaan tertentu. Waduk
pelimpah dengan muka miring dan pelimpah adalah beberapa contoh dari situasi ketika
loncatan terjadi pada permukaan miring di bawah kombinasi debit t?rtentu dan keadaan tinggi air di hilir. Jika kemiringan cukup besar, hubungan loncatan yang diperoleh
dalam fasal yang dulu tidak berguna, karena komponen berat cairan dengan loncatan
dalam arah aliran berlaku di dalam hal lantai miring; komponen ini denganjelasadalah
nol pada saluran mendatar.

I
I

h2

tr.r-;

lGambar

I
l2 cqs

7.14

h2co3c

L,

sln :

So

-l

Sketsa def inisi loncatan dalam saluran miring.

Gambar 7.14 menunjukkan loncatan yang terjadi pada kemiringan positip dalam
saluran empat persegi dengan satuan lebar. Dengan mengabaikan gesekan batas dan
mengazumsikan distribusi tekanan hidrostatis, persamaan momentum antara penampang

dan 2 dapat ditulis sebagai

psrt

Zos3

2
Di sini U1

q
.ht cos 0

dan

pshtr Zos3

tv

sin 0

pq(uz
17

Ur: E*rU

Jika berat air dalam loncatan I{/ diasumsikan menjadi sama denganK

- ur)

(7.19)

(7.le)

,*t (L*b)

cos 0, PersamaanT.l9 dapat disederhanakan menjadi

(*)' -(zez* t)**2G2=o

(7.20',

200

Alban melalui gah)ran Terbuka

Di sini

Q-

dan

Fr:
. Ut
' {gh,
cos o

il

h1

(7.21,

cosu-ffi

(7.22)

t6
t2
8

I
0

10

12

_1t t6 r8

20

F1
Gambar

7.15 Hubungan kedalaman konyugasi untuk loncatan

pada lantai miring.

-:fT

"!"0',^'|

Jo = 0.05

lo:o.to

h2

- sTgrs

lt
,
3

So

=0.20

r= 0.25

02.

66810121Ir16t8
Fl

Gambar 7.16 Panjang loncatan hidraulis pada lantai miring.

20

Loncatan Hidraulis

201

Penyelesaian Persamadn (7 .20) adalah


h2

hl

II
\
Z\{l+8G2-1)

(7.23)

Kita dapat mendapatkan K dan L1l(hz - ft1) menjadi fungsi dari F1 dan 56. Sehingga
h2fh1 untuk saluran miring seharusnya dihubungkan dengan F1 dan ,56. Data percobaan pada saluran miring telah menghasilkan di dalam hubungan empiris yang ditunjukkan dalam Gambar 7.15 dan 7.16 untuk masing-masing perbandingan kedalaman
korryugasi dan panjang loncatan hidraulis. Harga L3 yang lebih rendah dalam hal lantai

miring sebagian dapat dihubungkan dengan definisi panjang loncatan yang agak
berbeda yang diambil dalam hal ini. Permukaan air terus bertambah walaupun setelah
ujung loncatan di dalam hal lantai miring dan sehingga maksimum ketinggian permukaan air (digunakan dalam hal lantai mendatar) tidak dapat digunakan untuk merumus-

kan ujung loncatan. Ujung dari permukaan gulungan ombak dalam hal lantai miring
telah digunakan sebagai ujung loncatan.
Persamaan empiris berikut ini diusulkan oleh Rajaratnam8 dapat pula digunakan
sebagai ganti Gambar 7.15 untuk mendapatkan G dalam Persamaan (7.23) dan sehingga
perbandingan kedalaman konyugasi

c2 = K1F?
dan

Kt =

1O\o21 0

(1.24)

(1.2s)

di mana d adalah dalam derajat.

7.5 LETAK LONCATAN PADA LANTAI MBNDATAR


Pertimbangkan aliran superkritis di bawah suatu pelimpas. Kedalaman aliran padir kaki
pelimpas itu adalah h1 dan kedalaman air hilir (ditentukan dengan satuan debit, kemiringan dan kekasaran saluran) adalah h2. Apabila keduanya adalah berurutan satu
sama lain, Ioncatan terbentuk pada lantai pelimpah. Seperti telah dijelaskan, loncatan itu dapat didorong ke hilir atau dapat menjadi terendam tergantung dari apakah
kedalaman air hilir adalah lebih kecil atau lebih besar daripada kedalaman yang berurutan dengan h1. Letak loncatan dalam hal yang terlebih dahulu menjadi penting
mengingat kebutuhan bahwa aliran air superkritis dan juga loncatan akan dimasukkan
pada lantai lindung beton untuk menghindarkan gerusan yang tidak diinginkan. Letak
loncatan di bawah suatu pelimpas dan juga loncatan di hulu bendungan yang di
bangun pada sungai dengan kemiringan curam dijelaskan dengan contoh berikut ini.

CONTOH 7.2
Setelah mengalir

di atas suatu pelimpah,4,2 rn2/det lewat di atas ketinggian lantai


(n
lindung beton
= 0,013). Kecepatan pada kaki pelimpah adaiah 12,5 m/det dan ke-

202

Alban mehfui Saluran Terbuka

dalaman air hilir adalah 3,0 m. Agar loncatan termasuk pada lantai lindung,
berapa
panjang lantai lindung yang seharusnya dibangun? Berapa besar energi yang
hilang
dari kaki pelimpas sampai dengan ujung hilir loncatan?
Penyelesaian

Kedalaman aliran h1 pada kaki pelimpas (lihat Gamba r

4.2
: fr:

.17)

o'336 m

Ft:ullil:

7#ffi:6.8e

GambarT.lZ Aliran di bawah pelimpah (Contoh 7.2)

Sehingga aliran

itu adalah superkritis

A)
Ur: f.O1.4 midet
Fz

: (Iz'
it/shz

1'4

/ffi.--:

0'258

sehingga aliran itu adalah subkritis dan loncatan hidraulis pasti terjadi. Kedalaman ft3
yang berurutan dengan h2 dapat diperoleh sebagai

hzthz:*(,vgW_r )
: 0.s(y'1 + 8x0158-2 -

ftc

0.119

:0.119x3

Sehingga loncatan

itu

0.357

didoroag .melalui kurva

jadi 0,357 m pada ujung kuwa.

0.336 m.

I/3, kedalaman 0,336

m berubah men-

Loncatdn Hidraulis

203

Panjang profil.F/3 telah ditunjukkan dalam Bab 6 sebagai

Untuk saluran empat persegiyanglebar M = 3,0 danl/ = 3,33.


Sehingga

" - klW
h": yffi: (+r)",

-(hglh')a'33

: 1.2t6

fulho: 0.294 den

q:
4.2

hllhc:

---!hlh'

m.

0.276

L1S'tgg'

: ffi
I

:
5" :

tt.zro)s/3sJ/2

76.92(1.385)Sl/2
(0.0394)2

1.554X

1frr

f _ 1.216 l-(0.2s+)t'tr !-r--554xT0=tl


f
_

(0.294\4'3t

_ '"-'1e3{ / 0.196 - 0.180 _


1.33
\
: 782.5(0.0120 - 0.0003)
: 9.16 m
Seandainya saluran

(0.226;t'rr
(0.276)1.3t

1
?33-J

- 0,00379\
4.33
l

0.00499

itu adalah miring, panjang profil permukaan dapat dihitung

nnetode bertahap atau metode integral

-o
F.

'

'

hs\/VE

A)
0,357

/9,8-TTF

6129

Menunjuk ke Gambar 7 .8 , Lif hz = 6 ,0.


Panjangloncatan =6X3 = 18,0m.
Sehingga panjang lantai lindung yang dibutuhkan = 9,10

Ez:hz++
:3.0

* #:3.lom

18,0 = 27 ,lA m

dengan

204

Aliran melalui Soluran Terbukn

Er: hr++

0.336

Sehingga total kehilangan energi

* #:

8,308

8.308 m
3,100 = 5,20g m.

coNToH 7.3
Kedalaman aliran seragam dalam saluran empat persegi yang lebarnya 5,0 m (n=0,02,
So = 4 X 10-2) adalah 0,50 m. Suatu bendungan rendah menaikkan air sampai kedalaman 2,0 m. Tentukan apakah loncatan hidraulis terjadi dan jika demikian pada jarak
berapa di hulu bendungan.
Penyelesaian

y: lpzrgrlz
n
t / 5 * 0.5
- 0.02\5
+ 2x0;.s )',t {o* to-)'t'
- 50X0.56x2x l0-l : 5.6 m/<iet
F- U,
:3-53
{ ch V9.8 xo.5
Aliran itu adalah superkritis
ho

: {qrls :
: 0.93 m

((5'6lq.t'z

)'/3

Karena kedalaman pada bendungan adalah lebih besar daripada h", aliran itu adalah
subkritis pada bendungan dan sehingga loncatan hidraulis pasti terjadi. Karena kemiringan itu curam, hubungan kedalaman konyugasi terhadap kemiringan lantai akan digunakan

cos

-A

JloF
:
d=
-- 106-

Sehingga
Maka

hcas|xh
F1=

2,53

Menunjuk ke Gambar 7. 15 , sehubungan dengan

;.

0,999

h2

h2 f h1

= 3,5

3,5X 0,5 = 1,75 m

Maka kurva s1 harus terbentuk dengan menaikkan kedalaman da:ii l,j5 m sampai 3,0
m sepanjang kurva (lihat Gambar 7.18)" Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan metode bertahap. Karena pertambahan kedalaman adalah kecil, tahapan tunggal

Loncatan Hidrdulis

205

dapat digunakan.

Ez- hz*

U/lzg

:1.75.[i#]'.#:
Et:

Gambar

ht

q#

t 2p0 =

1,875 m dan kecepatan ada-

tle3mtdet

Sr: 9lX'
R413

Panjang kurva,Sl

2.ro m

7.18 Loncatan hidraulis di hilir dari suatu bendungan (Contoh 7.3).

l
Kedalaman rata-ratadalam jarak itu adalah '75

hh

(W)'.#

u?tze: z.o.

1.88r m

(1.+ql)z x (0.02)z

t^875

5.0fr :

8.138

x l0-4

\-r.zs-l

E:2.10 - 1.881
:
- ,n-Sr* : 4x 10-2 - 0.081x
l0-2

5.59 m

Menunjuk ke Gambar 7.16,harga Lifhz = 4,3

:.

Li = 4.3 X

Sehingga loncatan terjadi pada jarak (7,53

1,75

= 7,53 m

+ 5,59) = 13,12 m dari bendungan.

7.6 GAYA LONCATAN HIDRAULIS


Telah ditunjukkal dalam fasai terdahulu bahwa loncatan dapat terbenam (atau terdorong) jika kedalaman air hilir adaiah lebih besar (atau lebih kecil) daripada kedalaman konyugasi yang dibutuhkan. Umumnya, dalam praktek kita seharusnya mengetahui
lebih dahulu suatu situasi apakah kedalaman air hiiir tidak sama dengan kedalaman
konyugasi yang diperlukan pada semua debit. Sehingga kedalaman dapat terbentuk
dekat dengan bangunan, akan terbenam atau terciorong ke hilir pada debit yang berbeda. Menurut teori loncatan seharusnya terbentuk dekat dengan bangunan dan alat-alat