Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

SEMINAR AKUNTANSI
Standar Akuntansi Keuangan Berbasis IFRS
- Lanjutan

INDRIANI AZZAHRA SYAHRANI


A311 12 022

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Hasanuddin

2015

KATA PENGANTAR
Segala Puji dan Syukur atas Kehadirat Allah SWT, shalawat serta salam semoga
selalu tercurah kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, Para sahabat serta
pengikutnya hingga akhir zaman. Alhamdulillahirabbil alamin, tiada kata yang
dapat kami sampaikan selain ucapan syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya
dengan ridho-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Mata
Kuliah Seminar Akuntansi yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan Berbasis
IFRS (Lanjutan).
Makalah ini berisikan tentang informasi yang membahas model dan
format SAK IFRS, perlakuan SAK IFRS dalam pelaporan keuangan, dan isu-isu
kritis terkait SAK IFRS.
Dalam penulisan makalah ini kami tidak lepas dari berbagai hambatan dan
rintangan, namun berkat bantuan dari berbagai pihak maka segala macam
hambatan dapat teratasi. Untuk itu kami ingin menyampaikan ucapan terima
kasih, semoga Allah SWT memberikan balasan atas kebaikan dengan limpahan
rahmat-Nya.
Akhir kata tak ada gading tak retak, begitu pun kami sebagai penulis
memiliki kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun akan selalu kamu terima demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan khususnya bagi kami sebagai penulis dan pembacanya. Amin.

Makassar, September 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Sampul Makalah ................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................... ii
Daftar Isi.............................................................................................................. iii
BAB I Pendahuluan
1.1.
1.2.

Latar Belakang ......................................................................... 1


Rumusan masalah ..................................................................... 2

BAB II Pembahasan
2.1.
2.2.
2.3.

Model dan format standar akuntansi keuangan berbasis IFRS. 3


SAK berbasis IFRS dalam pelaporan keuangan....................... 4
Isu-isu kritis terkait SAK berbasis IFRS................................... 13

BAB III Kesimpulan


3.1. Kesimpulan............................................................................... 15
Daftar Pustaka......................................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi informasi (TI) di lingkungan pasar yang terjadi
begitu cepat dengan sendirinya berdampak pada banyak aspek di pasar modal,
mulai dari model dan standar pelaporan keuangan, relativisme jarak dalam
pergerakan modal, hingga ketersediaan jaringan informasi ke seluruh dunia.
Dengan kemajuan dan kecanggihan TI pasar modal jutaan atau bahkan
miliaran investasi dapat dengan mudah masuk ke lantai pasar modal di seluruh
penjuru dunia. Pergerakan mereka tak bisa dihalangi teritori negara.
Perkembangan arus globalisasi dan teknologi informasi komunikasi seperti
ini mengakibatkan munculnya tuntutan sistem akuntansi dan pelaporan
keuangan yang seragam dan dapat diterima di berbagai negara untuk pasar
modal atau lembaga yang memiliki agency problem. Maka dari itu,
dibentuklah suatu standar yang bernama IFRS (International Financial
reporting standar) sebagai suatu pakem umum dalam usaha harmonisasi
standar akuntansi keuangan. Dengan adanya standar umum yang diterapkan
secara

internasional

diharapkan

akan

semakin

memudahkan

dalam

penyusunan laporan keuangan.


Saat ini IFRS belum menjadi one global accounting standard. Standar ini
telah digunakan oleh lebih dari 150-an negara, termasuk Jepang, China,
Kanada dan 27 negara Uni Eropa. Negara-negara tersebut telah mewajibkan
laporan keuangan mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan
domestik atau perusahaan yang tercatat (listed). Bagi Perusahaan yang go
international atau yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan
beberapa negara di Timur Tengah memang tidak ada pilihan lain selain
menerapkan IFRS.
Proses yang panjang tersebut akhirnya menjadi apa yang disebut IFRS,
yang merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan
keuangannya berdasarkan standar yang bisa diterima secara global. Jika
sebuah negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut sedang mengadopsi
bahasa pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan (bisnis)
bisa dimengerti oleh pasar dunia. Namun, beralih ke IFRS bukanlah sekedar

pekerjaan mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin akan


mengubah pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. (Akuntan
Indonesia edisi 17:2009)
1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimana model dan format standar akuntansi keuangan berbasis IFRS?
2) Bagaimana perlakuan SAK berbasis IFRS dalam pelaporan keuangan?
3) Apa isu-isu kritis terkait standar akuntansi keuangan berbasis IFRS?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Model dan format standar akuntansi keuangan berbasis IFRS
Laporan keuangan berbasis IFRS terdiri dari :
1) Laporan Posisi Keuangan
informasi yg disajikan dalam laporan posisi keuangan yaitu pembedaan
aset lancar dan tidak lancar, liabilitas jangka pendek dan jangka panjang.
2) Laporan Laba Rugi Komprehensif
informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif yaitu laba
rugi selama periode dan pendapatan komprehensif selama periode.
3) Laporan Perubahan Ekuitas
4) Laporan Arus Kas
5) Catatan Atas Laporan Keuangan, termasuk ringkasan kebijakan akuntansi
yang signifikan.
Selain komponen laporan keuangan, International Financial Reporting
Standards (IFRS) memiliki struktur yang mencakup:
1) International Financial Reporting Standards (IFRS) standar yang
diterbitkan setelah tahun 2001.
2) International Accounting Standards (IAS) standar yang diterbitkan
sebelum tahun 2001.
3) Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting
Interpretations Committee (IFRIC) setelah tahun 2001.
4) Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee
(SIC) sebelum tahun 2001.
5) Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statement
( Kerangka Kerja persiapan dan Penyajian laporan Keuangan ).
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi.
Pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau
informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi
untuk

menentukan

apakah

transaksi

tertentu

harus

dicatat

dan

dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.


Ke-dua adalah pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk
menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat

terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan


keuangan (pada tanggal neraca).
Ke-tiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang
digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen
tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan.
Ke-empat adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan.
Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan
bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan
keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca,
Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai
laporan keuangan (Chariri, 2009).
2.2 SAK berbasis IFRS dalam pelaporan keuangan
1. Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuagan atau yang sering disebut neraca, melaporkan asset,
liabilitas, dan modal entitas pada tanggal tertentu. Laporan ini merupakan
sumber informasi utama tentang posisi keuangan entitas karna merangkum
elemen-elemn yang berhubungan langsung dengan pengukuran posisi
keuangan, yaitu asset, liabilitas, adan ekuitas.
Kegunaan laporan posisi keuangan secara umum adalah untuk menilai
resiko-resiko entitas masa depan. Tujuan penggunaan laporan posisi
keuangan menggunakan laporan ini adalah sebagai berikut:
Mengevaluasi struktur pendanaan
Menganalisis likuiditas
Menilai solvabilitas
Menilai fleksibelitas keuangan. (Dwi Martini:2012)
Pos-pos lini berikut, sebagai sesuatu minimum yang harus disajikan di
dalam laporan posisi keuangan :
Aset. Asset adalah sumberdaya yang dikuasai oleh entitas sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dimasa
depan diharapkan akan diperoleh entitas. Yang termasuk asset (IAS 1):
Properti, pabrik dan peralaan, investasi properti, aset tidak berwujud,
aset keuangan, investasi yang dicatat dengan metode ekuitas, aset

pertanian, aset pajak tangguhan, aset pajak kini, persediaan, piutang


dagang, piutang lain-lain, kas dan setara kas.
Ekuitas. Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas setelah dikurangi
semua liabilitas. Yang termasuk ekuitas (IAS 1): Modal dan cadangan
modal yang diterbitkan yang diatribusikan kepada pemegang ekuitas
perusahaan induk, dan pemilik minoritas.
Liabilitas. Liabilitas merupakan kewajiban entitas masa kini yang
timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiannya diharapkan
mengakibatkan arus keluar sumberdaya entitas yang mengandung
manfaat ekonomi. Yang termasuk liabilitas (IAS 1): Hutang pajak
tangguhan, hutang pajak kini,
hutang keuangan, provisi dan hutang usaha dan hutang lainnya.
Aset dan Liabilitas yang dimiliki unntuk dijual. Total aset yang
diklasifikasikasn sebagai dimiliki untuk dijual termasuk didalamnya
kelompok yang dihentikan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki
untuk dijual, dan liabilitas termasuk di dalam kelompok yang
dihentikan yang diklasifikasikan sebagaiyang memiliki untuk dijual
sesuai Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) 5 mengenai
Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki Untuk Dijual Dan Penghentia
Operasi. (Ankarath danMartani:2012)
Asset Lancar dan Tidak Lancar
Asset lancar menurut PSAK dan IFRS:
Mangharapkan untuk merealisasikan asset, atau bermaksud untuk
menjual dan mengkonsumsinya dalam siklus operasi normalnya.
Asset yang dimiliki dengan tujuan untuk diperdagangkan.
Asset yang diharapkan akan terealisai dalam jangka waktu 12 bulan
sejak periode pelaporan.
Berupa kas dan setara kas, kecuali dibatasi pertukaran atau
penggunaannya untuk menyelesaikan liabilitas sekurang-kurangnya 12
bulan setelah periode akuntansi.
Asset yang tidak termasuk dalam kategori diatas termasuk asset tidak
lancer antara lain:

Investasi jangka panjang


Asset tetap.
Aset tak berwujud
Asset lain yang bersifat tidak lancar.

Liabilitas Jangka Pendek (Lancar) Dan Jangka Panjang (Tidak Lancar)


Entitas mengklasifikasikan suatu utang lancer PSAK 1 (revisi 2009) dan
IFRS:
Mengharapkan akan diselasikan dalam siklus operasi normalnya.
Liabilitas yang dimiliki untuk tujuan yang diperdagangkan misalnya
instrument derivative (PSAK 1), namun sebuah perubahan terhadap
IAS

akibat

dari

proyek

perbaikan

tahunan

baru-baru

inimengklasifikasikan liabilitas yang dimiliki untuk dijual dan


derivative tidak memerlukan unutk diklasifikasikan sebagai liabilitas
lancar.
Liabilitas jatuh tempo untuk dilunasi dalam 12 bulan setelah tanggal
pelaporan.
Entitas tidak

memiliki

hak

yang

tidak

kondisional

untuk

menangguhakan penyelesaian liabilitas paling tidak un utk 2 bulan


setelah pelaporan.
Liabilitas yang tidak termasuk kategori diatas diklasifikasikan sebagai
liabilitas jangka panjang.
Berikut Contoh Format Laporan Posisi Keuangan alias Neraca :

2. Laporan Laba-Rugi Komprehensif


Laporan laba rugi komprehensif adalah laporan yang mengukur
keberhasilan kinerja perusahaan selama periode tertentu. Informasi kinerja
perusahaan digunakan untuk menilai dan memprediksi jumlah dan waktu
atas ketidak pastian arus kas masa depan.
IAS 1 menawarkan pilihan penyajian terhadap semua pendapatan dan
beban yang diakui di dalam suatu periode; dalam pelaporan tunggal; atau
dalam dua laporan; yaitu suatu laporan yang menggambarkan komponen
laba atau rugi, bersamaan dengan laporan yang berawal dengan laba atau
rugi dan menggambarkan komponen perdapatan atau rugi komprehensif
lain.
Standar menetapkan, sebagai suatu yang minimum, pos-pos lini
berikut harus disajikan didalam suatu laporan laba-rugi komprehensif :
Pendapatan, biaya keuangan, bagian dari laba atau rugi dari
perusahaan asosiasi dan perusahaan patungan yang dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas, beban pajak, jumlah yang diharuskan

untuk diungkapkan menurut Standar Pelaporan Keuangan International


( IFRS ) 5 yang terkait dengan penghentian operasi.
Laba atau rugi periode pelaporan.
Setiap komponen laba-rugi komprehensif lainnya diklasifikasikan
berdasarkan sifatnya.
Setiap bagian dari laba-rugi komprehensif lainnya dari perusahaan
asosiasi

dan

perusahaan

joint

renture

yang

dicatat

dengan

menggunakan metode ekuitas, dan


Total laba-rugi komprehensif.
Laba atau rugi periode pelaporan sama halnya dengan total laba-rugi
komprehensif untuk periode yang diatribusikan kepada pemilik nonpengendali dan pemilik perusahaan induk diharuskan untuk diungkapkan
secara terpisah.
Karena IAS 1 menguraikan pengungkapan minimum pos lini, maka
suatu entitas diijinkan menyajikan tambahan pos lini, dan subtotal di
dalam laporan laba-rugi komprehensif dan laporan laba rugi terpisah (jika
entitas boleh memilih untuk menyajikan laporan ini). Tambahan
pengungkapan semacam ini diizinkan bilamana penyajian semacam ini
adlaah relevan dengan suatu pemahaman mengenai kinerja keuangan
entitas.
Suatu entitas harus mengakui semua pos pendapatan dan beban dalam
suatu periode yang memperoleh laba atau rugi, kecuali Standar Pelaporan
Keuangan Internasional (IFRS) mensyaratkan atau mengizinkannya. Suatu
entitas harus menyajikan suatu entitas analisis beban yang diakui dalam
laba atau rugi, dengan menggunakan suatu klasifikasi atas dasar sifat atau
fungsinya didalam entitas, memberikan informasi manakah yangdapat
diandalkan dan lebih relevan.
Berikut contoh laporan laba-rugi komprehensif :

3. Laporan Perubahan Ekuitas


Sebuah entitas diharuskan untuk menyajukan suatu laporan perubahan
ekuitas dengan memperlihatkan :
Total laba-rugi komprehensif untuk periode bersangkutan ( secara
terpisah mengungkapkan jumlah yang diatribusikan kepada pemilik
perusahaan induk dan kepada pemilik non-pengendali).
Untuk setiap komponen ekuitas, dampak dari penerapan berlaku surut
atau pernyataan kembali yang berlaku surut diharuskan oleh IAS 8
mengenai kebijakan akuntansi, perubahan entitas akuntansi, dan
kesalahan.
Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat
pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan
perubahan yang diakibatkan oleh laba atau rugi, setiap pos dari labarugi

komprehensif

lain,

transaksi

dengan

pemilik,

yang

memperlihatkan kontribusi secara terpisah oleh dan distribusi kepada

10

pemilik dan perubahan atas hak kepemilikan pada anak perusahaan


yang tidak menyebabkan kehilangan kendali.
Menurut PSAK 1 (revisi 2009) Penyajian Laporan Keuangan, laporan
perubahan ekuitas untuk suatu periode tertentu berisi informasi sebagai
berikut.

Total Laba Rugi Komprehensif, dengan penyajian terpisah untuk


jumlah yang dialokasikan untuk pemilik induk perusahaan dan alokasi

untuk kepentingan nonpengendali.


Dampak setiap pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian

kembali unutk setiap komponen ekuitas.


Rekonsialiasi atau perubahan selama periode berjalan untuk setiap
komponen ekuitas yang dihasilkan dari laba atau rugi setiap pos dari
pendapatan komprehensif lain, serta transaksi dengan pemilik, seperti

tambahan modal atau penarikan.


Dividen yang diakui dan jumlah dividen per saham. ( Dwi Martani:2012)

Contoh Laporan Perubahan Ekuitas :

4. Laporan Arus Kas


Prisip Prinsip IAS7 (Statement Of Cash Flow) Sesuai dengan kesepakatan
pemerintah Indonesia sebagai anggota G20. IFRS/IAS yang akan diadopsi

11

ke dalam PSAK 2 pada Tahun 2010 salah satunya adalah IAS 7 tentang
cash flow statements. Informasi tentang arus kas suatu perusahaan berguna
bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan
menilai kebutuhan perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut. Di
Indonesia informasi tentang arus kas diatur dalam PSAK 2, dimana
pernyataan

tersebut

mencakup

pengaturan

mengenai

komponen,

pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan laporan arus kas


dalam laporan keuangan.
Menurut IAS7 ( statement of cash flows ), arus kas adalah arus
masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Kas sendiri terdiri dari kas di
tangan ( cash on hand ) dan rekening deposito.
Penyajian Laporan Arus Kas
Arus kas harus dianalisis antara operasi, investasi dan pendanaan. prinsipprinsip kunci yang ditetapkan oleh IAS 7 untuk penyusunan laporan arus
kas adalah sebagai berikut:
Operating activities / aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama
pendapatan-entitas yang tidak investasi atau pendanaan, arus kas
operasi sehingga mencakup kasyang diterima dari pelanggan dan kas
kepada pemasok dan karyawan.
Investing activities / aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan
aset jangka panjang dan investasi lainnya yang tidak dianggap sebagai
setara kas.
Financing activities / aktivitas pendanaan adalah kegiatan yang
mengubah struktur modal dan pinjaman dari badan.
Arus kas bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan dapat
diklasifikasikan sebagaiaktivitas operasi, investasi, atau pembiayaan,
asalkan diklasifikasikan secara konsistendari waktu ke waktu.
Arus kas yang berasal dari pajak atas penghasilan biasanya
diklasifikasikan sebagaiaktivitas operasi, kecuali mereka secara khusus
dapat diidentifikasi dengan pembiayaanatau investasi aktivitas.

12

Untuk operasi arus kas, metode langsung penyajian dianjurkan, tetapi


metode tidak langsung diterima.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Catatan adalah suau bagian yang sangat penting dan bagian yang integral
dari laporan keuangan karena memberikan rincian mengenai pos-pos yang
disajikan di dalam komponen lain dari laporan keuangan sebagai
tambahan dalam penyediaan informasi mengenai dasar penyusunan
laporan keuangan, dan kebijakan akuntansi tertentu yang digunakan di
dalam penyusunan laporan keuangan tersebut.
Pengungkapan Kebijakan Akuntansi
Suatu entirtas harus mengungkapkan secara ringkas kebijakan akuntani
yang signifikan :
Dasar pengukuran (atau basis) yang digunakan dalam penyusunan
laporan keuangan, dan kebijkan akuntansi lainnya yang digunakan
adalah relevan bagi suatu pemahaman laporan keuangan.
Pertimbangan. Bagian dari estimasi yang terkait bahwa manajemen
melaksanakan proses penerapan kebijakan akuntansi dan yang paling
signifikan atas jumlah yang diakui di dalam laporan keuangan.
Informasi mengenai asumsi yang terjadi di masa datang , dan sumber
utama lainnya mengenai ketidakpastian padaa khir periode pelaporan.
Pengungkapan lain-lain
Suatu entitas harus mengungkapkan didalam catatan :
Jumlah dividen yang diusulkan atau dideklarasikan sebelum laporan
keuangan diotorisasi untuk diterbitkan tetapi tidak diakui sebagai suatu
distribusi kepada pemilik selama periode yang bersangkutan, dan
terkait jumlah per lembar sham.
Jumlah akumulasi dividen saham preferan yang tidak diakui.
Informasi yang menjadikan pengguna laporan keuangnya untuk
mengevaluasi tujuan , kebijakan dan proses entitas untuk pengelolaan
modal.
Suatu entitas harus menggunakan hal berikut apabila tidak diungkapkan
dalam informasi yang diterbitkan dengan laporan keuangan :
Domisili dan bentuk hukum entitas, negara asal perusahaannya, alamat
kantor terdaftar (tempat bisnis utama).

13

Suatu deskripsi sifat kegiatan operasional entitas dan aktivitas


utamanya.
Nama perusahaan induk dan perusahaan induk utama dari kelompok.
2.3 Isu-isu kritis terkait SAK berbasis IFRS
Tiga permasalahan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam melakukan
adopsi penuh IFRS :
Kurang siapnya infrastruktur seperti DSAK (Dewan Standar Akuntansi
Keuangan) sebagai financial accounting standard setter di Indonesia.
Dewasa

ini

banyak

munculnya

perusahaan

yg

bergerak

dalam

financial,dan mereka memiliki suatu sistem dlm mengatur financialnya


masing-masing. Sedangkan sistem tsb belum tentu memenuhi kriteria
SAK, seharusnya DSAK dan Pemerintah bekerjasama untuk dapat
mengaudit atau mengecek perusahaan tst agar memenuhi SAK.
Kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron dengan
IFRS. Pemerintahan Indonesia dalam membuat RUU mempertimbangan
beberapa hal yang mempengaruhi perekonomian Indonesia, sehingga
perundang-undangan yang ada belum tentu sinkron dengan IFRS.
Kurang siapnya sumber manusia dan dunia pendidikan di Indonesia.
Pengaruh pendidikan, sumber daya manusia dan perekonomian sangat
kuat, dalam hal ini peran pemerintah sangat penting dalam menciptakan
SDM yang baik untuk memperlancar Pembangunan.
Permasalahan lainnya yang dihadapi dalam impementasi dan adopsi IFRS
yaitu :
1.
2.
3.
4.

Translasi Standar Internasional


Ketidaksesuaian Standar Internasional dengan Hukum Nasional
Struktur dan Kompleksitas Standar Internasional
Frekuensi Perubahan dan Kompleksitas Standar Internasional Seperti
contoh IFRS menekankan pada fair value dan meninggalkan historical

value.
5. Seperti yang diketahui perekonomian Indonesia adalah berasaskan
kekeluargaan. Akan tetapi semakin ke depan perekonomian Indonesia
akan mengarah pada Kapitalis. Tidak bisa dipungkiri lagi kebudayaan
negara barat(negara capital) dapat mempengaruhi seluruh pola hidup dan

14

pola pikir masyarakat Indonesia dari kehidupan sehari-hari hingga


permasalahan ekonomi.

15

BAB III
KESIMPULAN
Standar pelaporan akuntansi berbasis IFRS memiliki lima komponen yaitu
laporan posisi keuangan, laporan laba-rugi komprehensif, laporan perubahan
ekuitas, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Masing-masing dari
komponen ini memiliki aturan masing-masing dalam penyusunan elemen dalam
tiap laporan. Aturan terkandung dalam PSAK yang berbasis IFRS.
Sedangkan terkait isu-isu kritis dalam penerapan IFRS yaitu kurang siapnya
infrastruktur, kondisi peraturan perundang-undangan yang belum tentu sinkron
dengan IFRS, ketidaksesuaian standar internasional dengan hukum nasional,
kurang siapnya sumber manusia dan dunia pendidikan di Indonesia dll.

16

DAFTAR PUSTAKA
Akuntansi, Jurnal. 2012. Conto format laporan posisi keuangan:
http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/05/contoh-format-laporanposisi-keuangan-neraca/ diakses pada 8 September 2015
Akuntansi, Magister. 2014. Contoh laporan keuangan sesuai IFRS:
http://magisterakutansi.blogspot.com/2013/03/contoh-laporan-keuangansesuai-ifrs.html diakses pada 8 September 205
Ankarath, Nandakumar et al,2012, Memahami IFRS: Standar Pelaporan
Keuangan lnternasional, Alih Bahasa: Priyo Darmawan, S.E, Ak, MBA,
Indeks, Jakarta.
Asbel, Eza. 2012. Dampak penerapan IFRS di Indonesia tahun 2012:
http://ezaasbel.blogspot.com/2012/11/dampak-penerapan-ifrs-diindonesia.html diakses pada 8 September 2015
Martani, Dwi et al, 2012, Akuntansi Keuangan Menengah: Berbasis PSAK, Buku
1, Salemba Empat, Jakarta.
Mytrf.
2013.
Penyajian
laporan
keuangan:
https://mytrf.wordpress.com/2013/10/03/penyajian-laporan-keuangan/
diakses pada 8 september 2015
Nurlola,
Siti.
2012.
Masala-masalah
IFRS:
http://hatisitinurlola.blogspot.com/2012/03/masala-masalah-ifrs.html diakses pada 8
September 2015
Refreandi.
2011.
Laporan
posisi
keuangan
IFRS:
http://refreandi.blogspot.com/2013/02/laporan-posisi-keuangan-ifrs.html
diakses pada 8 September 2015
Rumahorbo, Andriani. 2013. Isu-isu dalam akuntansi internasional : IFRS dan
PSAK:
http://andrianihere.blogspot.com/2013_12_01_archive.html
diakses pada 8 September 2015
Sagala, Wira. 2013. Perbedaan SAK ETAP VS PSAK IFRS:
http://sagalawira92.blogspot.com/2013/09/perbedaan-sak-etap-vs-psakifrs.html diakses pada 8 September 2015