Anda di halaman 1dari 14

TUMOR ESOFAGUS

Pendahuluan
Tumor esophagus merupakan jenis tumor yang paling sering terjadi di dalam sel yang melewati
dinding kerongkongan. Tumor esophagus ada yang bersifat jinak dan ada yang bersifat ganas.
Tumor jinak yang paling sering terdapat pada esofagus adalah tumor yang berasal dari lapisan
otot, yang disebut dengan leiomioma. Sedangkan tumor yang bersifat ganas sering dikenal
dengan kanker esofagus. Jenis yang paling sering terjadi pada kanker kerongkongan adalah
squamous cell carcinoma dan adenokarsinoma. Dari kedua tumor tersebut sekitar 95% tumor
yang ada di esofagus adalah tumor yang bersifat ganas.1
Kanker esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di daerah yang dikenal dengan
julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang terbentang dari tepi selatan laut Kaspia di sebelah
barat sampai ke utara Cina meliputi Iran, Asia Tengah, Afghanistan, Siberia, dan Mongolia.1,2
Kanker esofagus merupakan peringkat keenam penyebab kematian yang disebabkan oleh kanker.
Sekitar 80% kematian terjadi di Negara berkembang seperti Afrika Selatan dan CIna. Insiden
karsinoma esofagus sangat bervariasi di berbagai Negara, banyak ditemukan di China, Jepang,
Rusia, Hongkong, Skandinavia, dan Iran. Di Negara Negara barat seperti Amerika dan Inggris
jarang ditemukan karsinoma esofagus. Dilaporkan di China insiden karsinoma esofagus
19,6/100.000 pada laki laki dan 9,8/100.000 pada wanita, bahkan pada propinsi Hunan, Shanxi,
dan Hebey insiden mencapai 100/100.000 penduduk. Sedang di Amerika dilaporkan insiden
6/100.000 pada laki laki dan 1,6/100.000 pada wanita.1,3
Tumor Esofagus
Tumor esofagus terdiri dari tumor yang bersifat jinak dan yang bersifat ganas (kanker). Berbagai
jenis tumor yang bermassa jinak dapat tumbuh dan berkembang dari lapisan dinding yang
berbeda yang ada di esofagus. Tumor jenis ini biasanya tanpa gejala dan tumbuh secara lambat,
bahkan tumor jinak ini sering tercatat hanya sebagai temuan insidentil selama radiografi rutin
atau endoskopi. Tumor jinak yang paling sering terdapat pada esofagus adalah tumor yang
berasal dari lapisan otot, yang disebut leiomioma. Karena tumor berasal dari propria muskularis,
tumor tersebut ditutupi oleh submukosa yang utuh dan mukosa, sehingga sulit untuk dilakukan

biopsy secara endoskopi. Sedangkan tumor yang bersifat ganas sering dikenal dengan kanker
esofagus.1,4,5
Kanker esofagus adalah karsinoma yang berasal dari epitel berlapis gepeng yang melapisi lumen
esofagus. Kanker esofagus dimulai dari lapisan dalam (mukosa) dan tumbuh hingga ke
submukosa dan lapisan otot. Dari kedua tumor tersebut hampir 95% tumor yang ada di esofagus
adalah tumor yang bersifat ganas.5
Klasifikasi Tumor
Berdasarkan histopatologinya, kanker esofagus dibagi menjadi 4 jenis yaitu,
1. Tumor epitel
Merupakan jenis tumor yang berasa; dari lapisan epitel esofagus. Tumor jenis ini
merupakan tumor yang paling sering didapatkan pada esofagus. Tumor epitel dibagi
menjadi squamous cell carcinoma dan adenokarsinoma.5
2. Tumor metastase
3. Limfoma
Jenis tumor yang berasal dari sel kekebalan tubuh yang ada di esofagus.
4. Sarcoma
Merupakan jenis tumor yang berasal dari dinding muscular esofagus.
Berdasarkan jenis sel yang melapisi esofagus, maka kanker esofagus dibagi menjadi epitel
berlapis gepeng (squamous cell carcinoma) dan adenokarsinoma. Squamous cell carconima
dapat terjadi di sepanjang esofagus. Jenis kanker ini meliputi 95% kejadian kanker esofagus di
Amerika Serikat. Kanker yang terjadi di sel kelenjar disebut adenokarsinoma. Jenis sel ini
bukanlah sel yang biasanya ada dan menjadi bagian di lapisan dalam esofagus. Sebelum menjadi
adenokarsinoma, sel glandular menggantikan posisi sel squamous dan inilah yang sering disebut
dengan Baretts esophagus. Kanker tipe ini sering terjadi di bagian yang lebih bawah dari
esofagus, yang merupakan tempat terbanyak kejadian adenokarsinoma.
Epidemiologi
Kanker esofagus merupakan peringkat keenam penyebab kematian karena kanker. Sekitar 80%
kematian terjadi di nnegara berkembang seperti Afrika Selatan dan China. Di Amerika pada
tahun 2000, angka kejadian kasus baru mencapai angka 12.300 sedangkan angka kematian

mencapai 12.100 dalam 25 tahun terakhir ini, terjadi peningkatan kejadian adenokarsinoma
esofagus distal yang cukup signifikan.1,3,6
Kanker esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di daerah yang dikenal dengan
julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang terbentang dari tepi laut selatan Kaspia di sebelah
barat sampai ke utara Cina meliputi Iran, Asia Tengah, Afganistan, Siberia, dan Mongolia. Selain
itu kanker esofagus banyak terdapat di Finlandia, Islandia, Afrika Tenggara, dan Perancis Barat
Laut. Di Amerika Utara dan Eropa Barat, kanker esofagus lebih sering terjadi pada orang kulit
hitam dibandingkan dengan orang kulit putih. Squamous cell carcinoma adalah jenis kanker yang
sering terjadi pada orang kulit hitam, sedangkan adenokarsinoma sering terjadi pada orang kulit
putih. Berdasarkan jenis kelamin, laki laki beresiko terkena kanker esofagus 3 hingga 4 kali
lebih besar dibandingkan dengan wanita. Hal ini terutama dikaitkan dengan tingginya konsumsi
alcohol dan rook pada pria. Berdasarkan tingkatan usia, usia lebih dari 65tahun memiliki resiko
paling tinggi untuk menderita kanker esofagus. Sekitar 15% penderita didiagnosa menderita
kanker esofagus pada usia kurang dari 55 tahun. 1,2,5
Faktor Resiko
Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para peneliti percaya bahwa
beberapa factor resiko seperti merokok dan alcohol, dapat menyebabkan kanker esofagus dengan
cara merusak DNA sel yang melapisi bagian dalam esofagus, seperti yang terjadi pada GERD,
Baretts esophagus, dan akhalasia dapat memicu terjadinya kanker. Beberapa faktor resiko yang
dapat mempertinggi kejadian kanker esofagus diantaranya adalah :
1. Merokok dan konsumsi alcohol
Konsumsi alcohol dan merokok berkaitan dengan kejadian kanker esofagus. Alcohol dan
rokok dapat menyebabkan iritasi kronik pada mukosa esofagus. Orang yang merokok 1
bungkus per hari memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk menderita adenokarsinoma
esofagus dibandingkan dengan yang tidak merokok.
2. Obesitas
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki resiko tinggi untuk menderita
adenokarsinoma esofagus. Hal ini berkaitan denan peingkatan tekanan intra abdomen dan
refluk esofagus.
3. Gastro esophageal reflux disease (GERD)

Orang yang menderita GERD, beresiko 2 hingga 16 kali lebih tinggi untuk menderita
adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan orang normal. Resiko bergantung pada
seberapa panjang refluk dan gejala yang terjadi. Sekitar 30% kejadian kanker esofagus
dikaitkan dengan kejadian GERD.
4. Barrets esophagus
Jika refluk di bagian lower esophagus berlangsung terus menerus dan dalam jangka
waktu yang lama, maka refluk ini akan menyebabkan kerusakan pada dinding esofagus.
Hal ini dapat mengakibatkan sel skuamous yang melapisi esofagus menjadi hilang dan
digantikan oleh sel glandular. Sel glandular ini biasanya terlihat seperti sel yang melapisi
dinding lambung dan usus halus, dan lebihresisten terhadap asam lambung. Kondisi ini
dinamakan Baretts esophagus. Sekitar 10% orang dengan gejala GERD menderita
Baretts esophagus. Kebanyakan orang yang menderita Baretts esophagus memiliki
gejala dada rasa terbakar. Penyakit ini memiliki resiko 30 hingga 125 kali lebih besar
untuk menyebabkan terjadinya kanker esofagus dibandingkan orang normal. Hal ini
dikarenakan sel glandular pada Baretts espophagus menjadi abnormal hingga menjadi
dysplasia, kondisi prekanker.6,7
5. Diet
Makan makanan yang banyak mengandung buah buahan dan sayur sayuran, berkaitan
dengan berkurangnya angka kejadian esofagus. Buah buahan dan asyur sayuran
mengandung banyak vitamin dan mineral yang membantu dalam mencegah terjadinya
kanker.
6. Akhalasia
Pada penyakit ini, otot pada bagian bawah esofagus tidak berfungsi dengan baik.
Makanan dan cairan yang masuk ke dalam lambung menjadi tertahan dan cenderung
berkumpul di esofagus. Akibatnya, esofagus mengompensasi dengan melaukan dilatasi.
Orang dengan akhalasia memiliki resiko untuk mengalami kanker esofagus 15 kali lebih
besar dibandingkan dengan orang normal. Sekitar 6% (1 dari 20 orang) dari semua kasus
akhalasia berkembang menjadi kanker squamous cell carcinoma. Pada umumnya, kanker
terjadi sekitar 17 tahun setelah pasien didiagnosa akhalasia.
7. Bakteri lambung
Bakteri lambung, Helicobacter pylori dapat menyebabkan masalah lambung, termasuk
ulserasi dan beberapa jenis kanker lambung. Infeksi karena bakteri ini dapat diobati
dengan antibiotic dan tambahan obat yang mengurangi asam lambung. Orang yang
mendapat terapi H.pylori beresiko untuk mengalami kanker esofagus dibandingkan

dengan orang yang tidak mendapat terapi. Hal ini dikarenakan infeksi H.pylori.
menyebabkan asam lambung berdampak pada rendahnya refluks ke esofagus. Jadi infeksi
dapat menyebabkan banyak masalah di lambung, tetapi di lain pihak infeksi tersebut
membantu melindungi esofagus.
Manifestasi Klinis
Keterlambatan antara awitan gejala gejala dini serta waktu ketika pasien mencari bantuan
medis seringkali antara 12-18 bulan, biasanya ditandai dengan lesi ulseratif esofagus tahap
lanjut.
1. Disfagia
Gejala utama dari kanker esofagus adalah masalah menelan, sering dirasakan oleh
penderita seperti ada makanan yang tersangkut di tenggorokan atau dada. Ketika menelan
menjadi sulit, maka penderita biasanya mengganti makanan dan kebiasaan makannya
secara tidak sadar. Penderita makan dengan jumlah gigitan yang lebih sedikit dan
mengunyah makanan dengan lebih pelan dan hati hati. Seiring dengan pertumbuhan
kanker yang semakin besar, penderita mulai makan makanan yang lebih lembut dengan
harapan makanan dapat dengan lebih mudah masuk melewati esofagus, hingga akhirnya
penderita berhenti mengkonsumsi makanan pdat dan mulai mengkonsumsi makanan cair.
Akan tetapi, jika kanker tetap terus tumbuh, bahkan makanan cair pun tidak bisa
melewati esofagus. Untuk membantu makanan melewati esofagus biasanya tubuh
mengkompensasi dengan menghabiskan saliva. Hal ini juga yang menyebabkan orang
yang menderita kanker esofagus sering mengeluh banyak mengeluarkan mucus atau
saliva.1,5,8
2. Merasakan benjolan pada tenggorokan dan rasa nyeri saat menelan
3. Nyeri pada dada, regurgitasi makanan yang tak tercerna dengan bau nafas dan akhirnya
cegukan.
Nyeri dada sering dideskripsikan dengan perasaan tertekan atau terbakar di dada. Gejala
ini sering diartikan dengan gejala yagn berkaitan dengan organ lain, seperti jantung,
sehingga sering kali orang tidak menyadari kalau gejala tersebut adalah salah satu gejala
yang sering dikeluhkan pada penderita kanker.
4. Hemoragi, kehilangan berat badan dan kekuatan secaara progresif akibat kelaparan.
Sekitar sebagian dari pasien yang menderita kanker esofagus mengalami penurunan berat

badan. Hal ini terjadi karena masalah menelan sehingga penderita mendapat masukan
makanan yang kurang untuk tubuhnya. Penyebab lain dikarenakan berkurangnya nafsu
makan dan meningkatnya proses metabolism kanker yang diderita oleh pasien.1
Perdarahan juga bisa terjadi pada pasien kanker esofagus. Sel tumor mampu tumbuh
keluar aliran darah, menyebabkan terjadinya nekrosis dan ulserasi pada mukosa dan
menghasillkan perdarahan di daerah gastrointestinal. Jika perdarahan terjadi dalam
jumlah yang banyak, maka feses juga bisa berubah menjadi warna hitam tapi hal ini
bukan berarti tanda bahwa kanker esofagus pasti ada.
5. Pada pemeriksaan fisik tampak pasien menjadi kurus karena gangguan menelan dan
anoreksia. Jika telah lanjut, terdapat pembesaran kelenjar getah bening daerah
supraklavikula dan aksila, serta hepatomegali.
Stadium Kanker Esofagus
The American Joint Committee on Cancer staging 2007 membagi stadium tumor berdasarkan
TNMG sistem. T adalah tumor primer, N adalah pembesaran kelenjar limfe regional, M adalah
metastasis jauh, dan G adalah gradasi histologi. TNMG sistem dapat ditegakan dari hasil
pemeriksaan klinis, esofagoskopi, dan CT scan. 9,10

Tumor Primer (T)


Tx

Tumor primer tidak dapat dinilai

T0

Tidak ada bukti ada tumor primer

Tis

Karsinoma in situ

T1

Invasi ke lamina propia atau submukosa

T2

Invasi ke tunika muskularis propia

T3

Invasi ke tunika adventitia

T4

Invasi ke struktur sekitar


Regional Lymph Nodes

Nx

Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai

N0

Tidak ada metastasis jauh

N1

Ada metastasis ke KGB regional


Metastasis

Mx

Metastasis tak dapat dinilai

M0

Tak ada metastasis jauh

M1

Ada metastasis jauh


Klasifikasi Metastase
Tumor pada bagian bawah esofagus

M1a

Metastasis di limfa nodus ciliac

M1b

Metastasis jauh lainnya


Tumor pada bagian tengah esofagus

M1a

Tidak aplikabel

M1b

Nodus limfa non regional dan/atau metastasis jauh lainnya


Tumor pada bagian atas esofagus

M1a

Metastasis ke nodus servikal

M1b

Metastase ke tempat lain

Penegakan Diagnostik
Evaluasi diagnostik
Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan penunjang
termasuk di dalamnya imaging studies dan endoskopi.
1. Laboratorium
Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan di antaranya LED meningkat, terdapat
gangguan faal hati dan ginjal, dilihat dari nilai SGOT, SGPT, ureum, dan kreatinin yang
mengalami peningkatan.11
2. Imaging studies
a. Barium swallow
Pada uji ini, cairan yang disebut barium ditelan. Barium akan melapisi dinding
esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X), barium akan membentuk esofagus
dengan jelas. Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada kelainan pada
permukaan dinding esofagus. Tes ini biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat

penyebab

disfagia.

Bahkan

sebagian

kecil

tumor,

dapat

terlihat

dengan

mengguanakan tes ini. Tes barium tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa
jauh kanker telah bermetastase.
b. CT scan
CT scan biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker esofagus, tetapi CT
scan dapat membantu dalam menentukan penyebaran dari kanker esofagus. CT scan
dapat menunjukkan apakah pembedahan merupakan tatalaksana terbaik untuk kanker
esofagus. Sebelum gambar diambil, pasien diminta untuk minum cairan kontras,
sehingga esofagus dan bagian usus dapat terlihat jelas sehingga tidak terjadi
pembiasan pada daerah sekitarnya.12,13
3. Endoskopi
a. Upper Endoscopy
Endoskopi merupakan uji diagnostic yang paling utama untuk mendiagnosis kanker
esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker melalui selang dan
melakukan biopsy terhadap jaringan lain yang ada di sekitar kanker yang Nampak
tidak normal. Contoh jaringan yang telah diambil kemudian dikirim ke laboraorium,
dan dengan bantuan mikroskop dapat ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan
jaringan yang bersifat ganas (kanker). Jika kanker esofagus menutupi lumen esofagus,
maka lumen tersebut dengan bantuan alat dan endoskopi dapat dilebarkan sehingga
makanan dan cairan dapat melaluinya. 9,10
b. Endoscopic ultrasound
Merupakan jenis endoskopi yang menggunakan gelombang suara untuk melihat
gambar bagian dalam tubuh. Endoskopi jenis ini sangat berguna untuk menentukan
ukuran dari kanker esofagus dan seberapa jauh kanker tersebut telah menyebar ke
jaringan lain. Uji ini tidak memeiliki dampak radiasi, sehingga aman untuk
digunakan.
4. Bronkoskopi dan mediastinokopi
Bronkoskopi biasanya dilakukan, khususnya pada tumor pada sepertiga tengah dan atas
esofagus, untuk menentukan apakah trakea telah terkena dan untuk membantu dalam
menentukan apakah lesi dapat diangkat. Sedangkan mediastinoskopi digunakan untuk
menentukan apakah kanker telah menyebar ke nodus dan struktur mediastinal lain.

Penatalaksanaan
Sebelum merencanakan dan memberikan terapi pada karsinoma esofagus, perlu dilakukan
penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor. Penentuan tingkatan tumor ini
dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan jasmani yang teliti, dilengkapi dengan pemeriksaan
laboratorium. Prosedur dilanjutkan dengan esofagografi memakai suspense barium, fot dada, CT
scan dada dan abdomen. Pada kasus kasus tertentu perlu dilakukan bronkoskopi,
mediastinokopi, atau sidik tulang.11
Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk terapi kanker esofagus. Pilihannya adalah
pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari ketiga jenis pilihan. Sebagai contoh,
terapi radiasi dan kemoterapi dapat diberikan sebelum atau sestelah operasi. Pilihan terapi
bergantung pada beberapa hal, diantaranya :

Lokasi kanker di dalam kerongkongan

Apakah kanker telah menyerang struktur di sekitarnya

Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ tubuh lainnya

Gejala dan kondisi kesehatan secara umum

1. Operasi
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker kerongkongan. Jenis tergantung terutama di
mana kanker itu berada. Untuk pembedahan harus ditentukan apakah dapat dioperasi atau
tidak berdasarkan keadaan umum pasien secara klinis, tidak adanya fiksasi tumor ke
jaringan sekitar, atau tidak adanya metastasis ke organ lain. Pembedahan dapat
dikombinasikan dengan terapi lain seperti kemoterapi dan radioterapi. Pada stadium dini,
dimana besar tumor kurang dari 2 cm, dilakukan pembedahan enbloc esophagostomy.
Penderita akan merasakan nyeri pada masa awal setelah operasi. Namun obat obatan
akan membantu dalam mengurangi rasa sakit tersebut. Efek samping yang ditimbulkan
dari tindakan pembedahan di antaranya adalah meingkatnya resiko infeksi termasuk
pneumoni, perdarahan setelah pembedahan, dan gangguan pernafasan.1,3,11
Esofagektomi
Merupakan tindakan pembedahan yntuk mengangkat semua bagian dari esofagus,
termasuk sebagian kecil dari lambung. Saat esofagus diangkat maka limfa nodus yang
berada dekat dengan esofagus juga terangkat. Bagian atas esofagus sering dihubungkan

dengan bagian lambung yang tersisa, bagian lambung tersebut ditarik ke arah dada atau
leher menjadi bagian baru dari esofagus. Banyaknya esofagus yang diangkat, bergantung
pada staging tumor dan lokasi tumor berada. Jika tumor terletak di bagian distal esofagus,
maka bagian esofagus yang diangkat bisa mencapai 8 hingga 10 cm dari esofagus
normal.4,11
Beberapa metode esofagektomi :
a. McKeowns operation
Pendekatan 3 lapangan operasi, meliputi laparotomi, thorakotomi, dan insisi servikal,
dibuat anastomosis antara lambung ke esofagus di servikal.
b. Ivor Lewis operation
Pendekatan 2 lapangan operasi, meliputi laparotomi dan thorakotomi, dilakukan
anastomosis antara lambung dengan esofagus di toraks.
c. Laparoscopy-assisted esophagectomy\
Hampir sama dengan transhiatal approach tetapi menggunakan instrument
laparoskopi untuk mobilisasi esofagus intra torakal.
d. Open esophagectomy
Esofagus dapat diangkat dengan melakukan insisi melalui abdomen dan torak, yang
dikenal dengan nama esofagektomi transtorakal. Jika insisi dilakukan melalui
abdomen dan leher disebut esofagektomi transhiatal
e. Minimally invasive esophagectomy
f. Esofagus dapat diangkat melalui insisi yang kecil, tindakan ini disebut dengan
esofagektomi invasive minimal. Ahli bedah menggunakan sejenis teleskop yang tipis
melalui insisi. Alat ini akan mempermudah ahli bedah untuk melihat esofagus selama
operasi.14,15
Efek samping tindakan pembedahan
Seperti operasi lainnya, tindakan pembedahan pada esofagus juga memiliki beberapa
resiko. Serangan jantung atau pembentukan bekuan darah di paru dan di otak dapat
terjadi selama proses pembedahan. Komplikasi paru paru, seperti pneumoni, kebocoran
pada tempat penyambungan esofagus dan lambung, mual, dan muntah, meningkatkan
resiko infeksi, striktur esofagus dapat terjadi sebagai akibat dari tindakan pembedahan.
2. Terapi radiasi

Terapi radiasi (disebut juga radioterapi) menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
membunuh sel sel kanker. Sinar tersebut hanya mempengaruhi sel sel kanker, tidak
untuk sel sel di sekitarnya. Terapi radiasi dapat digunakan sebelum atau setelah operasi.
Bahkan dapat digunakan sebagai terapi tunggal, pengganti operasi. Terapi radiasi
biasanya dikombinasi dengan kemoterapi untuk mengo=bati kanker kerongkongan. Ada
dua jenis terapi radiasi dalam pengobatan kanker kerongkongan. 1,3,11
-

Terapi radiasi eksternal: radiasi berasal dari sebuah mesin besar di luar tubuh. Mesin
ini bertujuan untuk meradiasi kanker. Perawatan biasanya selama 5 hari dalam
seminggu selama beberapa minggu

Terapi radiasi internal (brachytherapy) : radiasi ini menggunakan semprotan anestesi


untuk daerah kerongkongan sehingga pasien merasa lebih nyaman sepanjang terapi.
Sebuah tabung/selang ditempatkan ke dalam kerongkongan. Zat radiasi akan keluar
melalui tabung tersebut. Ketika tabung diangkat, zat radioaktif juga akan hilang
bersamaan dengan keluarnya tabung, sehingga tidak meninggalkan sisa di dalam
tubuh. Untuk jenis terapi radiasi ini, biasanya pengobatan tidak dilakukan secara
kombinasi dengan terapi lainnya.
Efek samping terapi radiasi bergantung pada dosis dan tipe radiasi. Terapi radiasi
eksternal yang dilakukan pada daerah dada dan abdomen dapat menyebabkan radang
tenggorokan, atau nyeri pada perut dan usu. Efek samping lainnya yaitu mual dan
muntah. Selain itu, kulit di daerah yang mendapat terapi dapat menjadi merah, kering,
dan nyeri.
Terapi radiasi dapat menyebabkan masalah dalam proses menelan. Misalnya, kadang
kadang terapi radiasi dapat melukai esofagus dan menyebabkan kesulitan dalam
menelan. Atau, radiasi juga dapat menyebabkan esofagus menjadi sempit. Oleh
karena itu biasanya sebuah tabung plastic dimasukkan ke dalam esofagus untuk
menjaga agar esofagus tetap terbuka.

3. Kemoterapi
Kebanyakan orang dengan kanker kerongkongan mendapatkan kemoterapi. Kemoterapi
mengguankan obat untuk menghancurkan sel sel kanker. Obat obat untuk kanker
kerongkongan biasanya diberikan melalui pembuluh darah (intravena). Kemoterapi

biasanya diberikan dalam beberapa siklus. Setiap siklus memeiliki masa perawatan
diikuti oleh masa istirahat.11
Regimen yang sering digunakan untuk kemoterapi adalah :
-

5- fluorouracil

5- fluorouracil + Cisplatin

ECF (Epirubicin + Cisplatin + 5- fluorouracil)

IFL (Irinotecan + 5- fluorouracil + Leucovorin)

TLC (Paclitaxel + Ifosphamid + Carboplatin)

Efek samping tergantung tetrutama pada obat yang diberikan dan berapa banyak dosis
yang digunakan. Kemoterapi dapat membunuh sel kanker dengan cepat, akan tetttapi obat
tersebut juga dapat membahayakan sel sel normal yang ada di dalam tubuh yang
membelah dengan cepat seperti :
-

Sel darah : saat kemoterapi menurunkan kadar sel darah yang sehat, maka seseorang
dapat lebih mudah untuk mendapatkan infeksi, mudah memar, atau berdarah, dan
merasa sangat lemah dan lelah.

Sel sel pada akar rambut : kemoterapi menyebabkan rambut rontok.

Sel yang melapisi saluran pencernaan : kemoterapi dapat menyebabkan kurang nafsu
makan ,mual, muntah, diare, atau mulut dan bibir luka.

Efek samping lainnya yaitu ruam pada kulit, nyeri pada sendi, rasa baal atau mati rasa
pada tangan dan kaki, gangguan pendengaran dan pembengkakan kaki.
4. Terapi paliatif
Pada stadium lanjut dilakukan tindakan paliatif agar pasien dapat menikmati makanan
peroral
-

Dilatasi mekanik
Dilatasi mekanik digunakan ketika tindakan pembedahan dan radioterapi bersifat
kontraindikasi. Teknik dilatasi ini mengguanakan balon dilatators yang dimasukkan
ke esofagus dengan bantuan endoskopi. Karena resiko perforasi esofagus cukup
tinggi pada tindakan ini, maka dialtasi mekanik harus dilakukan secara perlahan dan
hati hati.1,11

Terapi Yag laser

Terapi ini cukup efektif untuk mengobati obstruksi yang disebabkan oleh tumor
esofagus. Massa tumor dpat dihancurkan dengan menggunakan laser sehingga lumen
bebas dari massa.
Prognosis
JIka terdiagnosis secara dini, secara keseluruhan tumor esofagus memiliki prognosisi yang baik.
Sebanyak 70% penderita mengalami metastase pada kelenjar limfa nodus. Jika tidak ada
keterlibatan limfa nodus, maka 50% pasien dapat bertahan hidup selama 5 tahun. Jika sudah
terjadi metastase, maka hanya 1 dari 8 penderita yang mampu bertahan hingga 5 tahun.1,5,9