Anda di halaman 1dari 22

Suppositoria

SUPPOSITORIA
I. DEFINISI
Menurut Farmakope Indonesia ed. IV supositoria adalah sediaan padat dalam
berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya
meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh (FI ed. IV, hal 16).
II. TEORI SEDIAAN
Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa
zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar supositoria yang umum digunakan
adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen
glikol berbagai bobot molekul, dan ester asam lemak polietilen glikol.
Bahan dasar supositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat
terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan
tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat diobati.
Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa antiseptik. Jika diharapkan
bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik, agar
diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas
dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen
glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan.
Bahan pembawa berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina,
karena membentuk residu yang tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang
digunakan melalui rektal karena disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak
keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal.
a. Supositoria Lemak Coklat
Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan
obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang
dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur
dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah zat
pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah kecenderungan beberapa obat,
(seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan dasar. Yang penting, supositoria
meleleh pada suhu tubuh.
Perkiraan bobot supositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini.
Supositoria yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang
disebutkan dibawah ini.
Supositoria rektal. Supositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau
kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g.
Supositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih
kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur
dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi.
Supositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik,
sebaiknya pada suhu dibawah 30 derajat (suhu kamar terkendali)
b. Pengganti Lemak Coklat
Supositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai minyak
nabati, seperti minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi dengan

Suppositoria

esterifikasi, hidrogenasi, dan fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dansuhu


lebur (misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini dapat
dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu sifat
yang diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu melebur dan suhu memadat dan
jarak lebur juga dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi dan keadaan
iklim.
c. Supositoria Gelatin Tergliserinasi
Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi, dengan
menambahkan sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang
70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air.
Supositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu
dibawah 35 derajat.
d. Supositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol
Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu
badan telah digunakan sebagi bahan dasar supositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar
lebih ditentukan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka masalah dalam pembuatan dan
penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding masalah yang disebabkan oleh jenis pembawa
yang melebur. Tetapi polietilen glikol dengan kadar tinggi dapat memperpanjang waktu
disolusi sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket supositoria polietilen glikol harus
tertera petunjuk basahi dengan air sebelum digunakan, meskipun dapat disimpan tanpa
pendinginan, supositoria ini harus dikemas dalam wadah tertutup rapat.
e. Supositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol dapat
digunakan sebagai bahan pembawa supositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester asam
lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat digunakan
dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan pembawa supositoria lain untuk
memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu keuntungan utama
pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam air. Ettapi harus hati-hati dalam penggunaan
surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi
dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas terapetik.
f. supositoria kempa atau supositoria sisipan
Supositoria vaginal da[at dibuat dengan cara mengempa massa srbuk menjadi bentuk
yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak.
(FI ed. IV hal 16-17)
II.1. TUJUAN PENGGUNAAN
2.1.1 Efek Lokal
Pada umumnya untuk pengobatan wasir, konsipasi, infeksi dubur. Zat aktif yang biasa
digunakan adalah
 Anastetik lokal (benzokain, tetrakain)
 Adstringen (ZnO, Bi-subgalat, Bi-subnitrat)
 Vasokonstriktor (efedrin HCL)
 Analgesik (turunan salisilat)
 Emollient (balsam peru untuk wasir)
 Konstipasi (glisin bisakodil)
2

Suppositoria

Antibiotika untuk infeksi

2.1.2. Efek Sistemik


 Meringankan penyakit asma (teofilin, efedrin, amonifilin)
 Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol)
 Anti arthritis, radang persendian (fenilbutason, indometasin)
 Hipnotik & sedatif (turunan barbiturat)
 Trankuilizer dan anti emetik (fenotiazin, klorpromazin)
 Khemoterapetik (antibiotik, sulfonamida)
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, hal 24)
II.2. KARAKTERISASI DOSIS
1. Umumnya dosis pada pemberian rektal besarnya 1 12 2 kali dosis oral.
2. Dosis yang benar tergantung pada kecepatan pelepasan obat dari supo. Ini berarti basis
supo dan jumlah obat harus dipertimbangkan secara bersamaan.
3. Karena pembawa dapat merubah kecepatan absorbsi obat jumlah obat yang diberikan
dalam supo tergantung pada pembawa dan sifat fisik obat.
II.3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORPSI REKTAL
Dosis obat yang digunakan melalui rektum mungkin lebih besar atau lebih kecil
daripada obat yang dipakai secara oral, tergantung kepada faktor-faktor seperti keadaan tubuh
pasien, sifat fisika kimia obat dan kemampuan obat melewati penghalang fisiologi untuk
absorpsi dan sifat basis supositoria serta kemampuannya melepaskan obat supaya siap untuk
diabsorpsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dalam rektum pada pemberian
obat dalam bentuk supositoria yaitu :
i) Faktor fisiologis
Antara lain ada tidaknya feses dalam rektum, sirkulasi darah di rektum, beberapa
kondisi patologik seperti diare sehingga terjadi dehidrasi pada tubuh, pH cairan rektal,
juga selaput lendir pada dinding rektum. Untuk memberikan efek yang optimal rektum
harus dikosongkan dulu. Cairan rektal memiliki kapasitas dapar yang rendah, sehingga
zat aktif yang ada di dalamnya ditentukan oleh pH sekelilingnya. Bila diatur pH kritis
untuk memperoleh efisiensi absorpsi yang optimal maka dibutuhkan penambahan dapar
ke dalam formula. Selaput lendir bisa menghambat absorpsi terutama bila selaput lendir
tersebut kental dan tebal. Penempatan supositoria di dalam rektum, bila terlalu dalam
akan menuju vena hemoroidal atas.
ii) Faktor fisikokimia
Antara lain koefisien partisi lemak-air dari zat aktif, kecepatan hancurnya basis,
kecepatan disolusi zat aktif dalam cairan rektal, keadaan zat aktif dalam supositoria (jika
terlarut, maka dalam basis biasanya proses pelepasan dan disolusi zat aktif menjadi lebih
lambat), kelarutan zat aktif dalam cairan rektal, ukuran partikel zat aktif.
iii) Adanya zat tambahan khusus ke dalam basis
Misalnya surfaktan, dapat merubah tegangan permukaan selaput mukosa pada rektal
sehingga absorpsi zat berkhasiat menjadi lebih baik. Surfaktan dapat memperbesar

Suppositoria

kelarutan suatu zat berkhasiat sehingga diabsorpsi lebih cepat, tapi juga dapat membentuk
suatu kompleks senyawa baru yang lambat diabsorpsi.
iv) Faktor aliran darah
Makin banyak pembuluh darah di sekitar supositoria maka absorpsi obat akan
semakin cepat. Tetapi luas permukaan absorpsi terbatas di daerah kolon dan tidak ada
perbedaan luas permukaan yang mencolok di daerah kolon, baik di pinggir, di tengah
maupun di dalam daerah kolon. Setelah obat diabsorpsi dari usus halus obat dialirkan
melalui vena hepatic portal ke hati. Hati memetabolisme obat tersebut, dapat berupa
modifikasi atau mengurangi efek obat tersebut. di lain pihak jumlah yang lebih banyak
dari obat yang sama dengan di atas akan diabsorpsi melalui anorektal. Vena haemoroid
halus yang mengelilingi kolon dan rectum masuk vena kava inferior sehingga tidak
masuk ke hati. Vena haemoroid menuju ke vena portal dan bermuara di hati. Tetapi lebih
dari setengah pemberian melalui rectal diabsorpsi langsung ke sirkulasi tubuh. Sirkulasi
limfa juga membantu absorpsi obat melalui rectal dan mengalihkannya dari hati. Rectal
tidak mempunyai daya kapasitas buffer. Menurut Schumber, asam dan basa lemah lebih
cepat diabsorpsi daripada asam/basa kuat dan yang terionisasi kuat lainnya.

II.4. BASIS SUPOSITORIA


Basis supositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang dikandungnya.
Salah satu persyaratan pertama bagi suatu basis supositoria adalah basis yang selalu padat
dalam suhu ruangan tetapi akan melunak, melebur atau melarut dengan mudah pada suhu
tubuh sehingga obat yang dikandungnya dapat sepenuhnya diperoleh segera setelah
dimasukkan (H.C. Ansel, 1989). Menurut Farmakope Indonesia IV, basis supositoria yang
umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi,
campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol.
Basis supositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapeutik.
Yang perlu diperhatikan untuk basis supositoria adalah :
a. Asal dan komposisi kimia
b. Rentang pelelehan
c. Titik pemadatan
d. Bilangan sabun (saponifikasi)
e. Bilangan iodida
f. Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)
g. Bilangan asam
Syarat basis yang ideal antara lain :
a. melebur pada temperatur rektal
b. tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi
c. dapat dicampur dengan berbagai obat
d. tidak berbentuk metastabil
e. mudah dilepas dari cetakan
f. memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi
g. bilangan airnya tinggi
h. stabil baik secara fisika ataupun kimia.
4

Suppositoria

i. tidak mempengaruhi efektivitas obat


j. memberi bentuk yang sesuai untuk memudahkan pemakaiannya
k. mempengaruhi pelepasan bahan aktif. Pelepasan yang cepat dibutuhkan apabila bahan
aktif untuk tujuan sistemik, dan pelepasan yang lebih lambat apabila bahan aktif
untuk tujuan lokal.
l. cara fabrikasi mudah
Tipe basis supositoria yaitu :
a. Basis supositoria yang meleleh (Basis berlemak)
- Keuntungan :
Tidak berbahaya
Mudah dibentuk
Tidak reaktif
Melebur pada suhu tubuh
- Kerugian :
Dapat tengik
Melebur pada udara panas
Mencair jika bereaksi dengan obat-obat tertentu
Memberntuk polimorfisa jika dipanaskan berlebihan
- Sifat-sifat :
Trigliserida yang terdiri dari olea palmito stearin dan oleo distearin
Lemak, padat, berwarna kuning keputihan agak getas dengan bau coklat
Melebur pada 30-350 C
Bilangan iod 34-38
Bilangan asam < 4
Mudah tengik dan meleleh harus disimpan di tempat sejuk dan kering
terhindar dari cahaya.
- Bentuk polimorfisa

Bentuk melebur pada 24oC diperoleh dengan pendinginan secara tibatiba sampai 0oC.

Bentuk deperoleh dari cairan oleum cacao yang diaduk pada suhu 18230 C titik leburnya 28-31oC

Bentuk stabil diperoleh dari Bentuk melebur pada 34-35oC diikuti


dengan kontraksi volume

Bentuk -1 melebur pada suhu 18oC diperoleh dari oleum cacao dingin
dengan suhu 20oC sebelum dipadatkan ke dalam wadah yang didinginkan
pada suhu 0oC.
Pembentukan polimorfisa ini tergantung dari derajat pemanasan. Proses
pendinginan dan keadaan selama proses. Pembentukan kristal non stabil
dapat dihindari dengan cara :

jika massa tidak melebur sempurna


pembentukan krsital non stabil.

sisa-sisa

krsital

mencegah

Suppositoria

Sejumlah kristal stabil ditambahkan ke dalam leburan untuk mempercepat


perubahan dari bentuk non stabil ke bentuk stabil.

Leburan dijaga pada temperature 28-32oC selama 1jam atau 1hari.

Hal-hal yang harus diperhatikan :

Gunakan panas minimal pada proses peleburan

Jangan memperlama proses pemanasan

Jika melekat pada cetakan gunakan lubrikan

Titik pemadatan oleum cacao terletak 12-13oC dibawah titik leburnya


untuk itu massa harus dijaga tetap cair pada suhu tubuh tersebut.

Penambahan tween 65 sebanyak 5-10% akan meningkatkan absorpsi air


sehingga membentuk zat yang tidak larut/terdispersi dalam oleum cacao

Kestabilan suspensi dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan-bahan


seperti Al-monostearat atau silica yang memberikan leburan oleum cacao
bersifat tiksotropik.

Untuk obat-obat yang dapat menurunkan titik lebur oleum cacao


digunakan campuran malam atau spermaceti (lemak ikan paus).

b. Basis supositoria larut air


Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi dan
basis polietilen glikol. Basis gelatin tergliserinasi mengandung air 10%, gliserin 70%,
dan gelatin 20%. Basis ini terlalu lunak untuk dimasukkan dalam rektal sehingga
hanya digunakan melalui vagina dan uretra. Polietilen glikol merupakan polimer dari
etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantainya. Polietilen
glikol tersedia dalam berbagai macam berat molekul mulai dari 400 sampai 8000.
Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata dari masing-masing
polimernya. Polietilen glikol yang memiliki berat molekul rata-rata 200-700 berupa
cairan bening tidak berwarna dan yang mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari
1000 berupa lilin putih, padat dan kepadatannya bertambah dengan bertambahnya
berat molekul. Basis polietilen glikol dapat dicampur dalam berbagai perbandingan
untuk mendapatkan basis dengan titik leleh dan kecepatan disolusi yang diinginkan
dan untuk mengkompensasi turunnya titik leleh oleh zat aktif. Supositoria dengan
polietilen glikol tidak melebur ketika terkena suhu tubuh, tetapi perlahan-lahan
melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu basis ini tidak perlu diformulasi supaya
melebur pada suhu tubuh.
PEG
Titik Leleh (oC)
1000
38-41
1500
38-41
1540
43-46
4000
53-55
6000
58-61

Suppositoria

Keuntungan PEG :
- Tidak berbentuk polimorfisa
- Stabil dan tahan terhadap mikroba
PEG baik untuk pentobarbital, secobarbital, aminofilin, kloralhidrat, asam tanat,
klorbutanol. Tidak bercampur dengan fenol, resorsinol, balsam peru, tannin, kampora,
parasetamol, barbiturate-Na, asam salisilat, kamfer mengkristal dalam PEG. Asam
salisilat konsentrasi tinggi PEG akan melunak sedangkan aspirin membentuk komplek
dengan PEG.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk formula PEG :
- Cetakan harus kering karena PEG larut air
- Massa leburan harus dibiarkan dingin sebelum dituang
- Tidak memerlukan lubrikan karena tidak lengket pada cetakan.
c. Basis surfaktan
Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat
digunakan tanpa penambahan zat tambahan lain. Surfaktan juga dapat dikombinasikan
dengan basis lain.
Keuntungan :
- Dapat disimpan pada suhu tinggi
- Mudah penanganannya
- Dapat bercampur dengan obat

III. FORMULASI SUPOSITORIA


III.1. Metode Pembuatan
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 260-262)
3.1.1. Cetak dengan tangan (manual)
Metode ini merupakan metode paling sederhana, praktis dan ekonomis untuk
memproduksi sejumlah kecil supositoria. Caranya adalah dengan menggerus basis sedikit
demi sedikit dengan bahan obat dalam mortir hingga homogen. Kemudian massa supositoria
yang mengandung bahan aktif digulung menjadi bentuk silinder lalu dipotong-potong sesuai
dengan diameter dan panjangnya. Bahan obat dicampurkan dalam bentuk serbuk halus atau
dilarutkan dalam air. Untuk mencegah melekatnya basis pada tangan maka digunakan talk.
3.1.2. Pencetakan kompresi dinding
Dibuat dengan cara mencetak massa yang dingin ke dalam cetakan dengan bentuk
yang diinginkan. Alat kompresi ini terdapat dalam berbagai kapasitas yaitu 1, 2, dan 5 gram.
Prinsipnya: suatu roda tangan beredar menekan piston terhadap massa supositoria sehingga
massa bisa dimasukkan ke dalam cetakan. Metode ini dapat mencegah sedimentasi padatan
yang larut dalam basis supositoria. Kerugiannya: untuk mencetak tipe lemak terjadi

Suppositoria

pemasukan udara sehingga dapat mengacaukan pengontrolan bobot dan adanya oksidasi
basis/zat aktif.
3.1.3. Pencetakan dengan cara penuangan
Metode ini sering digunakan untuk pembuatan skala industri. Teknik ini juga sering
disebut teknik pelelehan. Cara ini dapat dipakai untuk membuat supositoria dengan hampir
semua pembawa. Cetakannya dapat digunakan untuk membuat 6 sampai 600 supositoria.
Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode ini adalah melelehkan basis dalam penangas
air, menghaluskan zat aktif, mencampurkan zat aktif dengan basis dalam penangas hingga
homogen, membasahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah melekatnya supositoria pada
dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi supositoria, selanjutnya pendinginan
bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada lemari pendingin suhu -10C), dan
melepaskan supositoria dari cetakan. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari
baja tahan karat, aluminium, tembaga atau plastik. Cetakan yang dipisah-pisah dalam sekatsekat, umumnya dapat dibuka secara membujur. Pada waktu leburan dituangkan, cetakan
ditutup dan dibuka lagi bila akan mengeluarkan supositoria yang sudah dingin. Tergantung
pada formulasinya, cetakan supositoria mungkin memerlukan pelumas/lubrikan sebelum
leburan dimasukkan ke dalamnya, supaya memudahkan terlepasnya supositoria dari cetakan.
Bahan-bahan yang mungkin menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa seharusnya tidak
digunakan sebagai pelumas cetakan supositoria. Contoh langkah pembuatan supositoria
dengan teknik pelelehan:
Basis dilelehkan dalam penangas air untuk menghindari pemanasan yang berlebih
(untuk oleum cacao < 40C).
Zat aktif dihaluskan.
Campur zat aktif dengan basis dalam penangas hingga homogen.
Cetakan dibasahi dulu dengan gliserin untuk mencegah melekat pada dinding
cetakan.
Massa didinginkan secukupnya dan dituang ke dalam cetakan.
Diamkan dulu di suhu kamar, lalu masukkan ke dalam kulkas bagian bawah (bukan
freezer), dan terakhir masukkan ke dalam freezer.
3.1.4. Pencetakan dengan mesin otomatis
3.1.5. Pencetakan langsung kemas

III.2. Pendekatan untuk melakukan formulasi suppositoria


(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 262-263)
1. Apakah untuk tujuan sistemik atau lokal?
2. Di mana lokasi pemberian supositoria? Vaginal atau rektal?
3. Bagaimana efek yang diinginkan? Cepat atau lambat?
a.

Supositoria untuk tujuan sistemik


Basis yang digunakan ekonomis.
Zat aktif harus terdispersi baik dalam basis dan dalam cairan tubuh.
Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.

Suppositoria

b.

Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan
untuk mempertinggi kelarutannya.
Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis sebaiknya digunakan
pelarut yang melarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan sebelum dicampur
dengan basis.
Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain yang tercampur dalam basis,
dilarutkan dulu sebelum dicampur dengan basis.
Zat aktif yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu diayak
dengan ayakan 100 mesh.

Supositoria untuk efek lokal


Untuk hemoroid, anestetika lokal dan antiseptik.
Basis tidak diabsorpsi, melebur dan melepaskan obat secara perlahan-lahan.
Efek lokal umumnya terjadi selama hingga 4 jam.
Jika zat aktif larut dalam lemak, digunakan basis lemak.
Jika zat aktif larut air, digunakan basis larut air.

III.3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi supo


(Lachman, Disperse System, 537-547)
3.3.1. Pemilihan Obat/Zat Aktif
Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk supositoria jika:
1. Dapat diabsorpsi baik melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar dalam darah
untuk terapetik.
2. Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa saluran
pencernaan.
3. Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada
saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui rute
oral).
4. Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
5. Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.
Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk supositoria:
1. Sifat fisik
Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.
Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat (melalui
peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi pada ampula
rektal.
Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat
aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian
supositoria ke cetakan, dan juga memperlambat resorpsi zat aktif.
Adanya zat aktif berupa kristal kasar (apakah karena keadaan zat aktif saat
ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat
menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif.
2. Densitas bulk
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan eksipien
akan menyulitkan homogenitas produk. Usaha yang dapat dilakukan untuk
mengatasi hal ini yaitu dengan menurunkan ukuran partikel atau meningkatkan
viskositas produk. Peningkatan viskositas produk dapat dicapai dengan penambahan

Suppositoria

bahan pengental, atau dengan menurunkan suhu campuran agar mendekati titik
solidifikasi sehingga fluiditasnya turun.
3. Kelarutan (solubilitas)
Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas produk,
tetapi menyulitkan/mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi kecenderungan
yang besar dari zat aktif untuk tetap berada dalam basis.
Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat misibilitas
dari kedua komponen supositoria.
3.3.2. Pemilihan Basis
Peran utama basis supositoria:
a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk supositoria dengan tepat
dalam karakteristik fisikokimia dan kebutuhan dari pembuat.
b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran medikasi pada tempat absorpsinya.
Karakteristik basis yang menentukan pada selama produksi:
a. Kontraksi
Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume supositoria diinginkan untuk
memudahkan pengeluaran dari cetakan.
b. Ke-inert-an (inertness)
Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif.
c. Solidifikasi
Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu pendek
maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu panjang waktu
solidifikasi menjadi lama sehingga laju produksi supositoria menurun.
d. Viskositas
Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan membentuk
sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir.
Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:
a. Ketidakmurnian (Impurity)
Kontaminasi bakteri/fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-nutritif
dengan kandungan air minimal.
b. Pelembekan (softening)
Supositoria harus diformulasi agar tidak melembek atau meleleh selama transportasi
atau penyimpanan.
c. Stabilitas
Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau cahaya.
Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan:
a. Pelepasan
Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran yang optimal dari bahan aktif
ke tempat target.
b. Toleransi
Supositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan iritasi
jaringan mukosa rektal yang sensitif.

Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:

10

Suppositoria

a. Rentang suhu leleh


Spesifikasi suhu leleh basis supositoria (terutama basis lemak) menyatakan suatu
rentang suhu leleh daripada suatu titik leleh tunggal. Hal ini karena terdapat suatu
rentang suhu antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme
bahan tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis umumnya cenderung
menurunkan suhu leleh dari supositoria akhir, sehingga disarankan penggunaan
basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan sejumlah besar
serbuk fine akan meningkatkan viskositas produk, sehingga diperlukan basis dengan
suhu leleh yang lebih rendah.
b. Bilangan iodin
Rancidifikasi (oksidasi) basis supositoria dapat menjadi masalah. Karena
sensitivitas dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar basis supositoria
yang meleleh, maka antioksidan yang memiliki potensi mengiritasi tidak dianjurkan
digunakan dalam supositoria. Untuk mencegah penggunaannya, sebaiknya
digunakan basis dengan bilangan iodin kurang dari 3 (dan lebih diutamakan kurang
dari 1).
c. Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas yang lebih
baik dalam kasus di mana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal hidroksil.
3.3.3. Pemilihan Ajuvan
Ajuvan digunakan untuk:
1.
Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk kandungan aktif dapat mengganggu integritas
supositoria dengan menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga
menghambat alirannya ke dalam cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk mengatasi
hal ini yaitu: Mg karbonat, minyak netral (gliserida asam lemak jenuh C-8 hingga
C-12 dengan viskositas rendah) 10% dari bobot supositoria, dan air (1-2%).
2.
Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat disolusi
supositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan dengan
konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar malah
menurunkan absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat menyebabkan
iritasi lokal.
Contoh bahan ini yaitu:
a.
surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil alkohol
plus 10% Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril sulfat (1%), Na
stearat (1%), dan trietanol amin stearat (3-5%);
b.
surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari sorbitan
(Span, Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi (Tween), ester
dan eter teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj, eter
polietilenglikol dari alkohol lemak), minyak natural termodifikasi (Labrafil
M2273, Cremophor EL, lesitin, kolesterol);
c.
gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam lemak
tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin monostearat dan
gliserin monooleat), monogliserida asam stearat dan palmitat, mono- dan
digliserida dari asam palmitat dan stearat.
3.
Meningkatkan viskositas

11

Suppositoria

4.

5.

6.

7.

8.

Pengaturan viskositas dari lelehan supositoria selama pendinginan diperlukan untuk


mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan yaitu: asam lemak dan derivatnya
(Al monostearat, gliseril monostearat, asam stearat), alkohol lemak (setil, miristat
dan stearil alkohol), serbuk inert (bentonit, silika koloidal).
Meningkatkan suhu leleh
Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan
asam stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol), hidrokarbon
(parafin), dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam carnauba).
Meningkatkan kekuatan mekanis
Pecahnya supositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan basis
sintetik. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat, minyak
jarak (castor oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan propilenglikol.
Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti menjamin keseragaman
(uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk membedakan produk, dan
menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti eksudasi atau kristalisasi
permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan insolubel dapat digunakan untuk
mewarnai supositoria.
Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka supositoria mengandung bahan asal
tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH larutan berair dari
zat aktif kurang dari 6. p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga dapat
digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal perlu
dipertimbangkan.
Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk
mencegah ketengikan (rancidity) pada formulasi supositoria yang menggunakan
lemak coklat (cocoa butter).
Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan digunakan untuk
mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks. Contohnya: campuran tiga
bagian BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu bagian asam sitrat memberikan
hasil memuaskan pada penggunaan 0,01%.
Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu ditambahkan bahan
untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan telah digunakan untuk
meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam supositoria. Sebagai contoh,
penambahan enzim depolimerisasi (mukopolisakarase) telah dipelajari untuk
meningkatkan penetrasi beberapa zat aktif.

IV. MASALAH DALAM FORMULASI SUPO


A. Sumber: Art of Compunding
Masalah-masalah dalam peracikan sediaan Suppositoria
dengan contoh kasus Theobroma Oil
Untuk masalah yang sering timbul dalam peracikan dan pembuatan suppositoria dengan
menggunakan theobroma sebagai zat aktif dapat diatasi dengan cara :
1. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh dari theobroma oil.
2. Penambahan senyawauntuk dapat menaikkan titik leleh dari theobroma oil.
3. Penambahan senyawa yang dapat bercampur.
12

Suppositoria

4. Penambahan pelarut.
5. Masalah ketika senyawa aktif yang akan dibuat berada dalam jumlah dosis yang besar
(large volume of medicinal)
1. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh
Titik leleh dari theobroma oil dapat diturunkan dengan penambahan volatile oil dan
senyawa larut minyak tertentu seperti kamper, kloral hidrat, kreosot, fenol, dan salol.
Besarnya penurunan titik leleh bergantung pada jenis senyawa itu sendiri dan jumlah
senyawa yangditambahkan.
Jermstad & Frethein menemukan bahwa kurang dari 18% dari spermaceti dapat
menurunkan titik leleh dari theobroma oil (juga dapatmeningkatkan titik leleh dari lemak
coklat), tetapi pada penambahan 20% tidak terjadi penurunan titik leleh yang lebih lanjut,
sedangkan pada penambahan 28% spermaceti dapat menaikkan titik leleh melebihi suhu
tubuh.
Selain itu wax jug dapat digunakan untuk menurunkan titik leleh. Kurang dari 3%
wax dapat menurunkan titik leleh theobroma oil, sedangkan pada penambahan 5% dapat
menaikan titik leleh diatas suhu tubuh. Wax yang digunakan sebaiknya 4%. Penggunaan
wax 3-5% dapat meningkatkan absorpsi dari air oleh basis suppo tanpa secara signifikan
menaikkan titikleleh dari suppo. Lebih dari 50% larutan dapat dicampurkan dengan basis
yang terdiri atas 5% wax dan 95% theobroma oil.
2. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh
Silver nitrat dan lead acetate dapat digunakan untuk meningkatkan titik leleh dari
theobroma oil diatas suhu badan. Penambahan sejumlah kecil peanut oil dapat menurunkan
titik leleh dibawah suhu badan. Seperti penjelasan diatas penggunaan spermaceti dapat
meningkatkan titik leleh dari theobroma oil.
Contoh resep dengan penggunaan spermaceti untuk meningkatkan titk leleh lemak coklat :
R/
Chloralis hidrat
gr XXX
Cetacei
gr XX
Ol. Theobroma
gr liv
M Ft Suppo no VI
3. Penggunaan Cairan yang dapat bercampur
Contoh cairan yang dapat bercampur dengan theobroma oil adalah alkohol
4. Penggunaan pelarut
Ketika pilular extract digunakan dalam formulasi suppositoriamaka sebaiknya ekstrak
dihaluskan dan dibuat menjadi semisolid dengan penambahan sedikit alkohol encer. Pada
ekstrak yang berbentuk serbuk/powder tidak membutuhkan penambahan pelarut bahkan
umumnya sangat baik digunakan dalam formulasi suppo mengandung ekstrak.
Beberapa senyawa seperti dyes dan proteinsilver juga harus dihaluskan atau
dilarutkan dengan mengunakansedikit air atau alkohol encer.
Jumlah pelarut yangdigunakan dalamformulasi harus sesedikit mungkin. Hydrous
wool fat sangat berguna sebagai ajuvan padasuppositoria yang mengandung ekstrak dalam
jumlah besar atau cairan karena dapat mengabsorbsi cairan yang juga terjadi pada
ekstrak(ekstrak umumnya higroskopis)..
Untuk ekstrak Belladonna dapat dihaluskan dengan beberapa tetes alkohol 65%.
Morfin sulfat dapat dilarutkan dalam 1 ml air hangat dan dengan sedikit penambahan lanolin
untuk meningkatkan distribusi ekstrak beladonnadalamsuppositoria.

13

Suppositoria

5. Suppositoria dengan Jumlah Zat aktif yang besar


Pada suppo dengan volumebesar akibat jumlah zat aktif akan sangat sulit untuk
membuat massa suppo bersifat plastis dengan metode apapun. Untuk memperbaiki sifat
reologinya dapat ditolong dengan penambahan sejumlah kecil wool fat. Selain itu juga dapat
dilakukan dengan penambahan lanolin.
B. Sumber : Pharmaceutical Dosage Form : Disperse System Vol 2
Penambahan Ajuvan Untuk Mengatasi Masalah Dalam Formulasi
Penambahan ajuvan sangat diperlukan untuk meningkatkan homogenitas dari produk akhir,
meningkatkan kelarutan dari zat aktif, penanganan terhadap zat aktif yang sulit untuk dibuat
menjadi suppo, memfasilitasi produksi (dalam artian membuat produksi menjadi lebih
mudah).
1. Meningkatkan incorporasi dari senyawa aktif
Zat aktif dapat mempengaruhi integrasi produk akhir suppo dengan meningkatkan
viskositas dari lelehan secara berlebihan,akibatnya menurunkan penetrasi zat aktif untuk
diabsorpsi. Untuk mengatasi ini dapat dilakukan dengan penambahan ajuvan kedalam basis
antara lain :
- Magnesium Carbonat : dapat mempermudah inklorporsi gliserin pada produksi
kipidic suppositoria basis demikian juga untuk ekstrak kering terutama yang
bersifat higroskopis.
- Minyak Netral : Minyak dengan viskositas rendah yang jenuh C-8 sampai C-12 dari
asam lemak gliserida ( Labrafac Lipo, Labrafac Hydro, Neobee, Miglyol, dan dan
Syndermin) digunakan pada level 10% dari berat suppo. Senyawa aktif sebaiknya
dihaluskan dengan mencampurkan dengan minyak. Penggunaan minyak ini juga
dapat memodifikasi titik leleh dan viskositas.
- air : formulasi dengan 1-2% air (tergantung dari daya absorpsi basis) dapat
digunakan untuk serbuk kering.
2. Meningkatkan Hidrofilisitas
Hal ini penting untuk meningkatkan dissolusi dari zat aktif . Umumnya ajuvan ini jika
digunakan pada konsentrasi rendah dapat meningkatkan absorpsi sedang jika digunakan pada
konsentrasi tinggi dapat menurunkannya.
- Surfaktan anionik : Bile salts, kalsium oleat, cetylstearil alkohol plus sodium alkil
sulfat, sodium dioktilsulfosuksinat, sodium lauril sulfat 1%, sodium stearat 1%, dan
trietanolamin stearat 3-5%.
- Surfaktan Nonionik dan ampoterik : asam lemak ester dari sorbitan, asam lemak
ester dari etoksilated sorbitan (Tween), etoksilatedester dan eter (polietilenglikol 400
miristat, polietilen 400 stearat),naturalmodified oil (polioksietilenpalm oil
terhidrogenasi, castor oil teretoksilasi)
- gliserida parsial : mono dan digliseridamengandung asam lemak gliserol, stearat
dan asam palmitat monogliserida.
3. Meningkatkan viskositas
Control viskositas penting untuk menghindari sedimentasi.Selain itu juga dapat mengontrol
titik leleh :
- asam lemak dan turunannya : aluminium monosterat, gliseril monostearat, dan
asam stearat.
- Lemak alkohol : cetyl, miristat, dan steril alkohol
- Serbuk netral : bentonit, silika koloidal
14

Suppositoria

4. Mengatur Titik Leleh


- Menurunkan titk leleh : basa prokain, fenol, kloral, minyak atsiri
- Basis semisintetik yang memiliki temperatur tinggi : asam lemak dan turunannya, lemak
alkohol, dan wax
5. Meningkatkan kekuatan mekanik
Hal ini penting untuk mengatasi suppo yang pecah atau retak-retak terutama ketika
basis sintetik digunakan. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan : polisorbat, castor oil,
asam lemak monogliserida, gliserin, dan propilen glikol.
6. Merubah penampilan (meningkatkan penampilan)
Dapat dengan penambahan pewarna
7. Untuk melindungi terhadap degradasi
Dapat dengan penambahan pengawet terutama jika menggunakan material yang yang
berasal dari tanaman, antioksidan spt BHA, BHT
8. Memodifikasi absorpsi
Contohnya dengan inkorporasi depolymerizing enzymes (mucopolysaccharases) pada
beberapa zat aktif.
MASALAH DALAM PEMBUATAN ATAU PRODUKSI
Polimorfisme
Umumnya terjadi pada basis lemak. Semisintetik dan natural gliserida
memperlihatkan sifat termal yang kompleks. Perubahan polimorfisme akibat peningkatan
suhu menghasilkan manifestasi yang timbul berupa peningkatan titik leleh selama
penyimpanan, peningkatan kekerasan suppo yang sejalan dengan penyimpanan. Selain
polimorfisme hal ini dapat juga diakibatkan oleh penambahan lecitin. Oleh karena itu
penyebab terjadinya polimorfisme perlu diperhatikan untuk menghindari bentuk polimorfis
yang merugikan yang terjadi akibat selama proses produksi.

Masalah
Splitting, pitting, &
cracking

Sticking to mold

TROUBLE SHOOTING GUIDE


Penyebab

Solusi

Kontraksi eksipien yang


sangat kuat

Gunakan eksipien yang


mengkristal secara lebih
lambat

Terlalu besarnya perbedaan


temperatur antara pouring
dan cooling

Improper molds atau alveoli


suppo

Kurangi perbedaannya dengan


menurunkan pouring
temperatur jika mungkin atau
meningkatkan cooling
temperatur atau keduanya
Gunakan peralatan yang
sesuai

Prematur removal from

Perlama molding period

15

Suppositoria

mold

Thickening prior to
pouring

Poor Product
Homogeneity

Product Insufficiently
solid

Surface anomalies ; fat


bloom, whitening
Exudation

Fase Fisik Zat


Aktif
Kelarutan
dalam
eksipien
Masalah yang
mungkin
muncul

Kontraksi eksipen yang


lemah sekali

Gunakan eksipien yang


mengkristal dengan cepat

Cooling yang tidak cukup


Zat aktif larut saat panas
dalam eksipien; proporsi
serbuk zat aktif yng halus
besar
Stirring yang kurang

Turunkan temperatur cooling


Gunakan massa mengandung
zat anti kristalisasi

Temperatur pouring yang


terlalu tinggi

Kurangi suhu pouring jika


mungkin

Cooling terlalu lambat


ataulemah
Inklusi ir

Naikkan suhu cooling jika


mungkin
Cek level stirring dan tipe alat

Eksipien yang tidak tepat

Gunakan eksipien dengan


resistensi mekanikal yang
tinggi
Penurunan suhu pelelehan,
dan cek sifat dari zat aktif
Reformulsi larutan cair;
gunakan eksipien
mengandung emulsifier

Eksipien meleh pada suhu


diatas 60 derajat C
Eksipien yang tidak tepat
dalam komposisi dengan
zataktif

Perbaikan teknik

MASALAH AKIBAT SOLUBILITY


PADAT

Larut

Tidak Larut

CAIR

Larut

Tidak Larut

Peningkatan
Titik leleh

Peningkatan
viskositas

Penurunan Titik
leleh

Larutan cair
Gliserin,
glikol, PEG
Ekstrak
alkohol

Rekristalisasi
Kristalisasi
gliserida

Migrasi
Ukuran partikel
yang sulit

Perubahan
kristalisasi
gliserida

Eksudasi tidak
cair

16

Suppositoria

V. PERHITUNGAN SUPOSITORIA
Ada tiga peristilahan dalam sediaan supositoria untuk menyatakan jumlah basis yang dapat
digunakan oleh sejumlah bahan obat ataupun bahan pembantu.
Tiga istilah tersebut adalah :
1. Density factor
2. Displacement Value
3. Replacement Factor
1. Density Factor
Merupakan jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1 gram basis.
Contoh :
Supositoria Aspirin
Jumlah supo yang dibuat
12 buah
Jumlah aspirin
5 gram
Dibuat dengan cetakan berkapasitas
30 gram
Basis adalah oleum cacao
Jumlah aspirin total adalah : 12 x 5 = 60 gram
Density factor aspirin adalah 1,1
Jadi 1,1 gram aspirin setara dengan 1 gram oleum cacao
60
x1 = 54,5 gram oleum cacao
Maka 60 gram aspirin =
1,1
Jadi untuk membuat 12 supo dibutuhkan oleum cacao sebanyak :
(12x30) - 54,5 = 305,5 gram
2. Replacement Factor
Replacement factor adalah jumlah oleum cacao yang dapat digantikan oleh bahan
obat.
Jika f = 0,81 berarti bahwa 0,81 gram oleum cacao dapat digantikan oleh 1 gram
bahan obat.
f dapat diturunkan dari persamaan berikut :
( E G)
f = 100 x
(GxX )
E
: Berat supo yang hanya terdiri dari basis
G
: Berat supo dengan zat aktif
X
: % bahan obat
G.X : Jumlah bahan obat dalam supo
Dalam perhitungan apabila diketahui maka f dapat langsung dikalikan dengan jumlah
bahan obat.
3. Displacement Value
Adalah jumlah zat aktif yang dapat menggantikan oleum cacao.
Contoh perhitungan :
- Buat dan timbang 6 supo olem cacao tanpa bahan obat, misalnya diperoleh
bobot 6,0 gram.
- Buat supo dengan 40% zat aktif diperoleh bobot 8,8 gram

17

Suppositoria

60
x8,8 = 5,28 gram
100
40
Jumlah zat aktif
:
x8,8 = 3,52 gram
100
Jadi jumlah oleum cacao yang dapat digantikan oleh 3,52 gram zat aktif
adalah :
(6,0-5,28) gram = 0,72 gram
3,52
Displacement value zat aktif adalah :
= 5 (dibulatkan)
0,72
5 gram Zat aktif dapat menggantikan 1 gram oleum cacao

Jumlah Oleum Cacao :

60 % oleum cacao : 5,28 gram

40 % zat aktif : 3,52 gram

6 gram

8,8 gram

CONTOH SOAL :

Data kesetaraan zat aktif dengan basis diketahui


R/

Aminofilin
10 % density factor : 1,1
Fenobarbital
1 % replacement factor : 0,81
mf supo no VI @ 2 gram

Jawab :
Jika diminta membuat 6 buah supo maka umumnya dibuat berlebih, misalnya 8
buah.
Langkah pengerjaan :
1. Buat dan timbang 8 supo yang terbuat dari oleum cacao saja, misal diperoleh bobo
total 8 supo adalah 16, 8 gram. Maka bobot rata-rata 1 supo adalah 2,1 gram.
16,8
= 2,1 gram )
(
8
2. Zat aktif ditimbang :
10
Aminofilin :
x8 x 2,1 gram = 1,68 gram
100
Fenobarbital :

1
x8 x 2,1 gram = 0,168 gram
100

3. Dihitung kesetaraan zat aktif dengan oleum cacao :


- Aminofilin menggantikan :

18

Suppositoria

1,68
gram = 1,53 gram oleum cacao
1,1
0,168
- Fenobarbital menggantikan :
gram = 0,14 gram oleum cacao
0,81
4. Jumlah total oleum cacao yang ditimbang :
16,8 gram (1,53+0,14) = 15,13 gram
5. Buat 8 supo yang terdiri dari oleum cacao dan bahan obat kemudian lakukan
evaluasi terhadapnya dan serahkan 6 supo yang baik.

Data kesetaraan zat aktif dengan basis tidak diketahui


R/

Vioform
250 mg
mf supo no VI @ 2 gram
Langkah pengerjaan :
1. Buat dan timbang 8 supo yang terbuat dari oleum cacao saja, misal diperoleh bobot
total adalah 16,8 gram, berarti bobot rata-rata satu supo adalah 2,1 gram.
2. Kemudian dibuat supo orientasi dengan 250 mg Vioform dan oleum cacao 1500
mg. Kedua bahan tersebut dicampurkan dan dituangkan ke dalam cetakan (lubang
cetakan seharusnya belum terisi penuh), sisa volume diisi dengan lelehan oleum
cacao lainnya sampai melua. Supo yang dihasilkan ditimbang misal diperoleh
bobot 2,3 gram.
Maka jumlah oleum cacao adalah : 2,3-0,25 gram = 2,05 gram
Jadi jumlah oleum cacao yang dapat digantiikan oleh 250 mg Vioform adalah (2,12,05) gram = 0,05 gram
0,25
Displacement value Vioform adalah :
=5
0,05
3. Jumlah vioform yang ditimbang adalah : 0,25 gr x 8 = 1,5 gram
Jumlah oleum cacao yang ditimbang
: 2,05 gr x 8 = 16,4 gram
4. Campurkan kedua bahan tadi dan tuang ke dalam 8 lubang cetakan. Lakukan
evaluasi terhadapnya dan serahkan supo yang baik.

VI. PEMBUATAN

Supositoria dengan basis PEG tidak mempersyaratkan perhatian-perhatian tertentu.


Pemanasan berlebihan harus dihindari dan basis yang telah dilelehkan dituang ke
dalam cetakan pada suhu sedikit di atas titik pembekuan untuk:
1. mencegah kristalisasi basis yang dapat menyebabkan supositoria retak.
2. mencegah presipitasi obat yang tidak larut dalam basis ke ujung supositoria dan
mencegah patahnya supositoria.
Cetakan sebaiknya dilubrikasi. Cetakan yang baru masih memiliki permukaan yang
mengkilat dan dapat melepaskan supositoria secara cepat, tetapi setelah beberapa kali
pemakaian dapat timbul goresan yang dapat menghambat pelepasan supositoria dari
cetakan.
Lubrikan yang dibutuhkan tergantung dari jenis cetakan.
Lubrikan terbaik adalah yang tidak bercampur (immisibel) dengan basis.
Untuk supositoria dengan basis oleum cacao gunakan gliserin dan minyak mineral.
Untuk supositoria dengan basis campuran PEG gunakan minyak mineral secara tipis.

19

Suppositoria

Teknik lain untuk memudahkan pengeluaran supositoria akhir dari cetakan adalah
dengan mendinginkan cetakan sebentar di freezer setelah supositoria membeku pada
suhu kamar. Kontraksi tambahan dapat melepaskan supositoria lebih mudah dari
permukaan logam.

VII. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN


Pengemasan
Supositoria gliserin dan gelatin umumnya dikemas dalam wadah gelas ditutup rapat
supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria.
Supo yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau
dipisahkan satu sama lainnya pada ceah-celah dalam kotak untuk mencegah terjadinya
hubungan antar supo tersebut dan mencegah perekatan.
Supo dengan kandungan obat yang sedikit pekat biasanya dibungkus satu persatu
dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alufoil). Sebenarnya
kebanyakan supositoria yang terdapat di pasaran dibungkus dengan alufoil atau bahan
plastik satu per satu. Beberapa di antaranya dikemas dalam strip kontinu berisi
supositoria yang dipisahkan dengan merobek lubang-lubang yang terdapat di antara
suppositoria tersebut. Supo ini biasa juga dikemas dalam kotak dorong (slide box)
atau dalam kotak plastik.
Penyimpanan
Karena supo tidak tahan pengaruh panas, maka perlu menjaga dalam tempat dingin.
Suppo yang basisnya oleum cacao harus disimpan di bawah 30 0F dan akan lebih baik
apabila disimpan di bawah lemari es.
Suppo yang basisnya gelatin gliserin baik sekali bila disimpan di bawah 35 0F.
Suppo dengan basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan pada suhu ruang biasa
tanpa pendinginan.
Suppo yang disimpan dalam lingkungan yang kelembapan nisbinya tinggi mungkin akan
menarik uap air dan cenderung menjadis eperti spon, sebaliknya bila disimpan dalam tempat
yang kering sekali mungkin akan kehilangan kelembapannya sehingga akan menjadi rapuh.
VIII. EVALUASI SUPPOSITORIA
1. Appearance
Tes ini lebih ditekankan pada distribusi zat berkhasiat di dalam basis supo. Supo
dibelah secara longitudinal kemudian dibuat secara visual pada bagian internal dan bagian
eksternal dan harus nampak seragam.
2. Keragaman bobot (BP 2001, A250)
timbang masing-masing suppo sebanyak 20, diambil secara acak. Lalu tentukan bobot
rata-rata. Tidak lebih dari 2 supo yang bobotnya penyimpang dari bobot rata-rata lebih dari %
deviasi, yaitu 5 %.
3. Waktu hancur / disintegrasi (BP 2001, A235)
uji ini perlu dilakukan terhadap supo kecuali supo yang ditujukan untuk pelepasan
termodifikasi atau kerja lokal diperlama. Supo yang digunakan untuk uji ini sebanyak 3 buah.

20

Suppositoria

Supo diletakkan di bagian bawah perforated disc pada alat, kemudian dimasukkan ke
silinder yang ada pada alat. Lalu diisi air sebanyak 4 liter dengan suhu 36-37oC dan
dilengkapi dengan stirer. Setiap 10 menit balikkan tiap alat tanpa mengeluarkannya dari air.
Disintegrasi tercapai ketika supo :
a. terlarut sempurna
b. terpisah dari komponen-komponennya, yang mungkin terkumpul di permukaan air
(bahan lemak meleleh) atau tenggelam di dasar (serbuk tidak larut) atau terlarut
(komponen mudah larut) atau dapat terdistribusi di satu atau lebih cara ini.
c. Menjadi lunak, dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi
komponennya, massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan
terhadap tekanan dari pengaduk kaca.
Supo hancur dalam waktu tidak lebih dari 30 menit untuk supo basis lemak dan tidak lebih
dari 60 menit untuk supo basis larut air.

4. Ketegaran supo
caranya masukkan bagian batang supo yang tumpul ke dalam tabung lipstick
kemudian bagian leher supo digantung kantung plastik besar yang diberi kawat halus dan ke
dalam kantung plastik tersebut ditetesi aquadest melalui buret 50 mL sampai supo putus
menjadi 2 bagian. Pada saat itu dicatat jumlah penggunaan aquadest.
Ketegaran supo adalah hasil kali volume aquadest yang tercatat dengan berat jenis aquadest
pada suhu percobaan dalam gram. Percobaan dilakukan dengan 1-2 supo.
5. Penentuan titik leleh
dilakukan dengan 1 supo, caranya :
Sekeping supo dimasukkan dalam pipa yang kedua ujungnya berlubang dan pipa
tersebut dimasukkan ke dalam chamber kosong yang sebagian terendam dalam air. Pasang
termometer utama dan termometer pembantu pada lubang yang telah disediakan untuk
mencatat suhu leleh supo yang diuji. Panaskan air dalam chamber dengan pemanas elektrik.
Suhu yang dicatat pada pada saat kepingan supo yang berada di dalam pipa tepat menetes.
Titik leleh supo :
Tr = T + 0,00015 N (N.t)
Keterangan :
Tr
: titik leleh supo yang telah dikoreksi
T
: suhu yang tercatat pada termometer utama
t
: suhu yang tercatat pada termometer pembantu
N
: jumlah skala termoeter pembantu terhitung dari permukaan penangas pada
saat kepingan supo tepat menetes
6. Keseragaman kandungan (BP 2001, A250)
IX. CONTOH-CONTOH SUPO DI PUSTAKA
1. Suppositoria aminofilin ( Fornas )
2. Suppositoria bibaza / anusol ( Fornas )
3. Suppositoria bisakodil ( BP 2001 ; Fornas )
4. Suppositoria klorpromazin ( BP 2001)
5. Suppositoria etamifilin ( BP 2001)
6. Suppositoria flurbiprofen ( BP 2001)
7. Suppositoria gliserol ( BP 2001)
8. Suppositoria indometasin ( BP 2001)
9. Suppositoria metronidazol ( BP 2001)
21

Suppositoria

10. Suppositoria morfin ( BP 2001)


11. Suppositoria naproxen ( BP 2001)
12. Suppositoria parasetamol ( BP 2001)
13. Suppositoria pentazosin ( BP 2001)

22