Anda di halaman 1dari 22

Suppositoria

SUPPOSITORIA
I. DEFINISI Menurut Farmakope Indonesia ed. IV supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rectal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh (FI ed. IV, hal 16). II. TEORI SEDIAAN Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar supositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul, dan ester asam lemak polietilen glikol. Bahan dasar supositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal karena disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal. a. Supositoria Lemak Coklat Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah kecenderungan beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan dasar. Yang penting, supositoria meleleh pada suhu tubuh. Perkiraan bobot supositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini. Supositoria yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang disebutkan dibawah ini. Supositoria rektal. Supositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. Supositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Supositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sebaiknya pada suhu dibawah 30 derajat (suhu kamar terkendali) b. Pengganti Lemak Coklat Supositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai minyak nabati, seperti minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi dengan

Suppositoria

esterifikasi, hidrogenasi, dan fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dansuhu lebur (misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini dapat dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu sifat yang diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu melebur dan suhu memadat dan jarak lebur juga dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi dan keadaan iklim. c. Supositoria Gelatin Tergliserinasi Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi, dengan menambahkan sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang 70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air. Supositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35 derajat. d. Supositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu badan telah digunakan sebagi bahan dasar supositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar lebih ditentukan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka masalah dalam pembuatan dan penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding masalah yang disebabkan oleh jenis pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol dengan kadar tinggi dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket supositoria polietilen glikol harus tertera petunjuk basahi dengan air sebelum digunakan, meskipun dapat disimpan tanpa pendinginan, supositoria ini harus dikemas dalam wadah tertutup rapat. e. Supositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol dapat digunakan sebagai bahan pembawa supositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan pembawa supositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam air. Ettapi harus hati-hati dalam penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas terapetik. f. supositoria kempa atau supositoria sisipan Supositoria vaginal da[at dibuat dengan cara mengempa massa srbuk menjadi bentuk yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak. (FI ed. IV hal 16-17) II.1. TUJUAN PENGGUNAAN 2.1.1 Efek Lokal Pada umumnya untuk pengobatan wasir, konsipasi, infeksi dubur. Zat aktif yang biasa digunakan adalah Anastetik lokal (benzokain, tetrakain) Adstringen (ZnO, Bi-subgalat, Bi-subnitrat) Vasokonstriktor (efedrin HCL) Analgesik (turunan salisilat) Emollient (balsam peru untuk wasir) Konstipasi (glisin bisakodil)
2

Suppositoria

Antibiotika untuk infeksi 2.1.2. Efek Sistemik Meringankan penyakit asma (teofilin, efedrin, amonifilin) Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol) Anti arthritis, radang persendian (fenilbutason, indometasin) Hipnotik & sedatif (turunan barbiturat) Trankuilizer dan anti emetik (fenotiazin, klorpromazin) Khemoterapetik (antibiotik, sulfonamida) (Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, hal 24) II.2. KARAKTERISASI DOSIS 1. Umumnya dosis pada pemberian rektal besarnya 1 1 2 2 kali dosis oral. 2. Dosis yang benar tergantung pada kecepatan pelepasan obat dari supo. Ini berarti basis supo dan jumlah obat harus dipertimbangkan secara bersamaan. 3. Karena pembawa dapat merubah kecepatan absorbsi obat jumlah obat yang diberikan dalam supo tergantung pada pembawa dan sifat fisik obat. II.3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORPSI REKTAL Dosis obat yang digunakan melalui rektum mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada obat yang dipakai secara oral, tergantung kepada faktor-faktor seperti keadaan tubuh pasien, sifat fisika kimia obat dan kemampuan obat melewati penghalang fisiologi untuk absorpsi dan sifat basis supositoria serta kemampuannya melepaskan obat supaya siap untuk diabsorpsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dalam rektum pada pemberian obat dalam bentuk supositoria yaitu : i) Faktor fisiologis Antara lain ada tidaknya feses dalam rektum, sirkulasi darah di rektum, beberapa kondisi patologik seperti diare sehingga terjadi dehidrasi pada tubuh, pH cairan rektal, juga selaput lendir pada dinding rektum. Untuk memberikan efek yang optimal rektum harus dikosongkan dulu. Cairan rektal memiliki kapasitas dapar yang rendah, sehingga zat aktif yang ada di dalamnya ditentukan oleh pH sekelilingnya. Bila diatur pH kritis untuk memperoleh efisiensi absorpsi yang optimal maka dibutuhkan penambahan dapar ke dalam formula. Selaput lendir bisa menghambat absorpsi terutama bila selaput lendir tersebut kental dan tebal. Penempatan supositoria di dalam rektum, bila terlalu dalam akan menuju vena hemoroidal atas. ii) Faktor fisikokimia Antara lain koefisien partisi lemak-air dari zat aktif, kecepatan hancurnya basis, kecepatan disolusi zat aktif dalam cairan rektal, keadaan zat aktif dalam supositoria (jika terlarut, maka dalam basis biasanya proses pelepasan dan disolusi zat aktif menjadi lebih lambat), kelarutan zat aktif dalam cairan rektal, ukuran partikel zat aktif. iii) Adanya zat tambahan khusus ke dalam basis Misalnya surfaktan, dapat merubah tegangan permukaan selaput mukosa pada rektal sehingga absorpsi zat berkhasiat menjadi lebih baik. Surfaktan dapat memperbesar

Suppositoria

kelarutan suatu zat berkhasiat sehingga diabsorpsi lebih cepat, tapi juga dapat membentuk suatu kompleks senyawa baru yang lambat diabsorpsi. iv) Faktor aliran darah Makin banyak pembuluh darah di sekitar supositoria maka absorpsi obat akan semakin cepat. Tetapi luas permukaan absorpsi terbatas di daerah kolon dan tidak ada perbedaan luas permukaan yang mencolok di daerah kolon, baik di pinggir, di tengah maupun di dalam daerah kolon. Setelah obat diabsorpsi dari usus halus obat dialirkan melalui vena hepatic portal ke hati. Hati memetabolisme obat tersebut, dapat berupa modifikasi atau mengurangi efek obat tersebut. di lain pihak jumlah yang lebih banyak dari obat yang sama dengan di atas akan diabsorpsi melalui anorektal. Vena haemoroid halus yang mengelilingi kolon dan rectum masuk vena kava inferior sehingga tidak masuk ke hati. Vena haemoroid menuju ke vena portal dan bermuara di hati. Tetapi lebih dari setengah pemberian melalui rectal diabsorpsi langsung ke sirkulasi tubuh. Sirkulasi limfa juga membantu absorpsi obat melalui rectal dan mengalihkannya dari hati. Rectal tidak mempunyai daya kapasitas buffer. Menurut Schumber, asam dan basa lemah lebih cepat diabsorpsi daripada asam/basa kuat dan yang terionisasi kuat lainnya.

II.4. BASIS SUPOSITORIA Basis supositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang dikandungnya. Salah satu persyaratan pertama bagi suatu basis supositoria adalah basis yang selalu padat dalam suhu ruangan tetapi akan melunak, melebur atau melarut dengan mudah pada suhu tubuh sehingga obat yang dikandungnya dapat sepenuhnya diperoleh segera setelah dimasukkan (H.C. Ansel, 1989). Menurut Farmakope Indonesia IV, basis supositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol. Basis supositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapeutik. Yang perlu diperhatikan untuk basis supositoria adalah : a. Asal dan komposisi kimia b. Rentang pelelehan c. Titik pemadatan d. Bilangan sabun (saponifikasi) e. Bilangan iodida f. Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak) g. Bilangan asam Syarat basis yang ideal antara lain : a. melebur pada temperatur rektal b. tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi c. dapat dicampur dengan berbagai obat d. tidak berbentuk metastabil e. mudah dilepas dari cetakan f. memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi g. bilangan airnya tinggi h. stabil baik secara fisika ataupun kimia.
4

Suppositoria

i. tidak mempengaruhi efektivitas obat j. memberi bentuk yang sesuai untuk memudahkan pemakaiannya k. mempengaruhi pelepasan bahan aktif. Pelepasan yang cepat dibutuhkan apabila bahan aktif untuk tujuan sistemik, dan pelepasan yang lebih lambat apabila bahan aktif untuk tujuan lokal. l. cara fabrikasi mudah Tipe basis supositoria yaitu : a. Basis supositoria yang meleleh (Basis berlemak) - Keuntungan : Tidak berbahaya Mudah dibentuk Tidak reaktif Melebur pada suhu tubuh - Kerugian : Dapat tengik Melebur pada udara panas Mencair jika bereaksi dengan obat-obat tertentu Memberntuk polimorfisa jika dipanaskan berlebihan - Sifat-sifat : Trigliserida yang terdiri dari olea palmito stearin dan oleo distearin Lemak, padat, berwarna kuning keputihan agak getas dengan bau coklat Melebur pada 30-350 C Bilangan iod 34-38 Bilangan asam < 4 Mudah tengik dan meleleh harus disimpan di tempat sejuk dan kering terhindar dari cahaya. - Bentuk polimorfisa Bentuk melebur pada 24oC diperoleh dengan pendinginan secara tibatiba sampai 0oC. Bentuk deperoleh dari cairan oleum cacao yang diaduk pada suhu 18230 C titik leburnya 28-31oC Bentuk stabil diperoleh dari Bentuk melebur pada 34-35oC diikuti dengan kontraksi volume Bentuk -1 melebur pada suhu 18oC diperoleh dari oleum cacao dingin dengan suhu 20oC sebelum dipadatkan ke dalam wadah yang didinginkan pada suhu 0oC. Pembentukan polimorfisa ini tergantung dari derajat pemanasan. Proses pendinginan dan keadaan selama proses. Pembentukan kristal non stabil dapat dihindari dengan cara : jika massa tidak melebur sempurna pembentukan krsital non stabil. sisa-sisa krsital mencegah

Suppositoria

Sejumlah kristal stabil ditambahkan ke dalam leburan untuk mempercepat perubahan dari bentuk non stabil ke bentuk stabil. Leburan dijaga pada temperature 28-32oC selama 1jam atau 1hari.

Hal-hal yang harus diperhatikan : Gunakan panas minimal pada proses peleburan Jangan memperlama proses pemanasan Jika melekat pada cetakan gunakan lubrikan Titik pemadatan oleum cacao terletak 12-13oC dibawah titik leburnya untuk itu massa harus dijaga tetap cair pada suhu tubuh tersebut. Penambahan tween 65 sebanyak 5-10% akan meningkatkan absorpsi air sehingga membentuk zat yang tidak larut/terdispersi dalam oleum cacao Kestabilan suspensi dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan-bahan seperti Al-monostearat atau silica yang memberikan leburan oleum cacao bersifat tiksotropik. Untuk obat-obat yang dapat menurunkan titik lebur oleum cacao digunakan campuran malam atau spermaceti (lemak ikan paus).

b. Basis supositoria larut air Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi dan basis polietilen glikol. Basis gelatin tergliserinasi mengandung air 10%, gliserin 70%, dan gelatin 20%. Basis ini terlalu lunak untuk dimasukkan dalam rektal sehingga hanya digunakan melalui vagina dan uretra. Polietilen glikol merupakan polimer dari etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantainya. Polietilen glikol tersedia dalam berbagai macam berat molekul mulai dari 400 sampai 8000. Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata dari masing-masing polimernya. Polietilen glikol yang memiliki berat molekul rata-rata 200-700 berupa cairan bening tidak berwarna dan yang mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari 1000 berupa lilin putih, padat dan kepadatannya bertambah dengan bertambahnya berat molekul. Basis polietilen glikol dapat dicampur dalam berbagai perbandingan untuk mendapatkan basis dengan titik leleh dan kecepatan disolusi yang diinginkan dan untuk mengkompensasi turunnya titik leleh oleh zat aktif. Supositoria dengan polietilen glikol tidak melebur ketika terkena suhu tubuh, tetapi perlahan-lahan melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu basis ini tidak perlu diformulasi supaya melebur pada suhu tubuh. PEG Titik Leleh (oC) 1000 38-41 1500 38-41 1540 43-46 4000 53-55 6000 58-61

Suppositoria

Keuntungan PEG : - Tidak berbentuk polimorfisa - Stabil dan tahan terhadap mikroba PEG baik untuk pentobarbital, secobarbital, aminofilin, kloralhidrat, asam tanat, klorbutanol. Tidak bercampur dengan fenol, resorsinol, balsam peru, tannin, kampora, parasetamol, barbiturate-Na, asam salisilat, kamfer mengkristal dalam PEG. Asam salisilat konsentrasi tinggi PEG akan melunak sedangkan aspirin membentuk komplek dengan PEG. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk formula PEG : - Cetakan harus kering karena PEG larut air - Massa leburan harus dibiarkan dingin sebelum dituang - Tidak memerlukan lubrikan karena tidak lengket pada cetakan. c. Basis surfaktan Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat digunakan tanpa penambahan zat tambahan lain. Surfaktan juga dapat dikombinasikan dengan basis lain. Keuntungan : - Dapat disimpan pada suhu tinggi - Mudah penanganannya - Dapat bercampur dengan obat

III. FORMULASI SUPOSITORIA III.1. Metode Pembuatan (Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 260-262) 3.1.1. Cetak dengan tangan (manual) Metode ini merupakan metode paling sederhana, praktis dan ekonomis untuk memproduksi sejumlah kecil supositoria. Caranya adalah dengan menggerus basis sedikit demi sedikit dengan bahan obat dalam mortir hingga homogen. Kemudian massa supositoria yang mengandung bahan aktif digulung menjadi bentuk silinder lalu dipotong-potong sesuai dengan diameter dan panjangnya. Bahan obat dicampurkan dalam bentuk serbuk halus atau dilarutkan dalam air. Untuk mencegah melekatnya basis pada tangan maka digunakan talk. 3.1.2. Pencetakan kompresi dinding Dibuat dengan cara mencetak massa yang dingin ke dalam cetakan dengan bentuk yang diinginkan. Alat kompresi ini terdapat dalam berbagai kapasitas yaitu 1, 2, dan 5 gram. Prinsipnya: suatu roda tangan beredar menekan piston terhadap massa supositoria sehingga massa bisa dimasukkan ke dalam cetakan. Metode ini dapat mencegah sedimentasi padatan yang larut dalam basis supositoria. Kerugiannya: untuk mencetak tipe lemak terjadi

Suppositoria

pemasukan udara sehingga dapat mengacaukan pengontrolan bobot dan adanya oksidasi basis/zat aktif. 3.1.3. Pencetakan dengan cara penuangan Metode ini sering digunakan untuk pembuatan skala industri. Teknik ini juga sering disebut teknik pelelehan. Cara ini dapat dipakai untuk membuat supositoria dengan hampir semua pembawa. Cetakannya dapat digunakan untuk membuat 6 sampai 600 supositoria. Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode ini adalah melelehkan basis dalam penangas air, menghaluskan zat aktif, mencampurkan zat aktif dengan basis dalam penangas hingga homogen, membasahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah melekatnya supositoria pada dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi supositoria, selanjutnya pendinginan bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada lemari pendingin suhu -10C), dan melepaskan supositoria dari cetakan. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari baja tahan karat, aluminium, tembaga atau plastik. Cetakan yang dipisah-pisah dalam sekatsekat, umumnya dapat dibuka secara membujur. Pada waktu leburan dituangkan, cetakan ditutup dan dibuka lagi bila akan mengeluarkan supositoria yang sudah dingin. Tergantung pada formulasinya, cetakan supositoria mungkin memerlukan pelumas/lubrikan sebelum leburan dimasukkan ke dalamnya, supaya memudahkan terlepasnya supositoria dari cetakan. Bahan-bahan yang mungkin menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa seharusnya tidak digunakan sebagai pelumas cetakan supositoria. Contoh langkah pembuatan supositoria dengan teknik pelelehan: Basis dilelehkan dalam penangas air untuk menghindari pemanasan yang berlebih (untuk oleum cacao < 40C). Zat aktif dihaluskan. Campur zat aktif dengan basis dalam penangas hingga homogen. Cetakan dibasahi dulu dengan gliserin untuk mencegah melekat pada dinding cetakan. Massa didinginkan secukupnya dan dituang ke dalam cetakan. Diamkan dulu di suhu kamar, lalu masukkan ke dalam kulkas bagian bawah (bukan freezer), dan terakhir masukkan ke dalam freezer. 3.1.4. Pencetakan dengan mesin otomatis 3.1.5. Pencetakan langsung kemas

III.2. Pendekatan untuk melakukan formulasi suppositoria (Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 262-263) 1. Apakah untuk tujuan sistemik atau lokal? 2. Di mana lokasi pemberian supositoria? Vaginal atau rektal? 3. Bagaimana efek yang diinginkan? Cepat atau lambat? a. Supositoria untuk tujuan sistemik Basis yang digunakan ekonomis. Zat aktif harus terdispersi baik dalam basis dan dalam cairan tubuh. Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.

Suppositoria

b.

Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan untuk mempertinggi kelarutannya. Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis sebaiknya digunakan pelarut yang melarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan sebelum dicampur dengan basis. Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain yang tercampur dalam basis, dilarutkan dulu sebelum dicampur dengan basis. Zat aktif yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu diayak dengan ayakan 100 mesh.

Supositoria untuk efek lokal Untuk hemoroid, anestetika lokal dan antiseptik. Basis tidak diabsorpsi, melebur dan melepaskan obat secara perlahan-lahan. Efek lokal umumnya terjadi selama hingga 4 jam. Jika zat aktif larut dalam lemak, digunakan basis lemak. Jika zat aktif larut air, digunakan basis larut air.

III.3. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi supo (Lachman, Disperse System, 537-547) 3.3.1. Pemilihan Obat/Zat Aktif Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk supositoria jika: 1. Dapat diabsorpsi baik melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar dalam darah untuk terapetik. 2. Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa saluran pencernaan. 3. Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui rute oral). 4. Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas. 5. Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina. Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk supositoria: 1. Sifat fisik Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida. Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat (melalui peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi pada ampula rektal. Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian supositoria ke cetakan, dan juga memperlambat resorpsi zat aktif. Adanya zat aktif berupa kristal kasar (apakah karena keadaan zat aktif saat ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif. 2. Densitas bulk Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan eksipien akan menyulitkan homogenitas produk. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini yaitu dengan menurunkan ukuran partikel atau meningkatkan viskositas produk. Peningkatan viskositas produk dapat dicapai dengan penambahan

Suppositoria

bahan pengental, atau dengan menurunkan suhu campuran agar mendekati titik solidifikasi sehingga fluiditasnya turun. 3. Kelarutan (solubilitas) Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas produk, tetapi menyulitkan/mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi kecenderungan yang besar dari zat aktif untuk tetap berada dalam basis. Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat misibilitas dari kedua komponen supositoria. 3.3.2. Pemilihan Basis Peran utama basis supositoria: a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk supositoria dengan tepat dalam karakteristik fisikokimia dan kebutuhan dari pembuat. b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran medikasi pada tempat absorpsinya. Karakteristik basis yang menentukan pada selama produksi: a. Kontraksi Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume supositoria diinginkan untuk memudahkan pengeluaran dari cetakan. b. Ke-inert-an (inertness) Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif. c. Solidifikasi Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu pendek maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu panjang waktu solidifikasi menjadi lama sehingga laju produksi supositoria menurun. d. Viskositas Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan membentuk sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir. Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan: a. Ketidakmurnian (Impurity) Kontaminasi bakteri/fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-nutritif dengan kandungan air minimal. b. Pelembekan (softening) Supositoria harus diformulasi agar tidak melembek atau meleleh selama transportasi atau penyimpanan. c. Stabilitas Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau cahaya. Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan: a. Pelepasan Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran yang optimal dari bahan aktif ke tempat target. b. Toleransi Supositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan iritasi jaringan mukosa rektal yang sensitif.

Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:

10

Suppositoria

a. Rentang suhu leleh Spesifikasi suhu leleh basis supositoria (terutama basis lemak) menyatakan suatu rentang suhu leleh daripada suatu titik leleh tunggal. Hal ini karena terdapat suatu rentang suhu antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme bahan tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis umumnya cenderung menurunkan suhu leleh dari supositoria akhir, sehingga disarankan penggunaan basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan sejumlah besar serbuk fine akan meningkatkan viskositas produk, sehingga diperlukan basis dengan suhu leleh yang lebih rendah. b. Bilangan iodin Rancidifikasi (oksidasi) basis supositoria dapat menjadi masalah. Karena sensitivitas dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar basis supositoria yang meleleh, maka antioksidan yang memiliki potensi mengiritasi tidak dianjurkan digunakan dalam supositoria. Untuk mencegah penggunaannya, sebaiknya digunakan basis dengan bilangan iodin kurang dari 3 (dan lebih diutamakan kurang dari 1). c. Indeks hidroksil Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas yang lebih baik dalam kasus di mana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal hidroksil. 3.3.3. Pemilihan Ajuvan Ajuvan digunakan untuk: 1. Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif Peningkatan jumlah serbuk kandungan aktif dapat mengganggu integritas supositoria dengan menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga menghambat alirannya ke dalam cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk mengatasi hal ini yaitu: Mg karbonat, minyak netral (gliserida asam lemak jenuh C-8 hingga C-12 dengan viskositas rendah) 10% dari bobot supositoria, dan air (1-2%). 2. Meningkatkan hidrofilisitas Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat disolusi supositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan dengan konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar malah menurunkan absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat menyebabkan iritasi lokal. Contoh bahan ini yaitu: a. surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil alkohol plus 10% Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril sulfat (1%), Na stearat (1%), dan trietanol amin stearat (3-5%); b. surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari sorbitan (Span, Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi (Tween), ester dan eter teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj, eter polietilenglikol dari alkohol lemak), minyak natural termodifikasi (Labrafil M2273, Cremophor EL, lesitin, kolesterol); c. gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam lemak tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin monostearat dan gliserin monooleat), monogliserida asam stearat dan palmitat, mono- dan digliserida dari asam palmitat dan stearat. 3. Meningkatkan viskositas

11

Suppositoria

4.

5.

6.

7.

8.

Pengaturan viskositas dari lelehan supositoria selama pendinginan diperlukan untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan yaitu: asam lemak dan derivatnya (Al monostearat, gliseril monostearat, asam stearat), alkohol lemak (setil, miristat dan stearil alkohol), serbuk inert (bentonit, silika koloidal). Meningkatkan suhu leleh Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan asam stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol), hidrokarbon (parafin), dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam carnauba). Meningkatkan kekuatan mekanis Pecahnya supositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan basis sintetik. Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat, minyak jarak (castor oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan propilenglikol. Mengubah penampilan Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti menjamin keseragaman (uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk membedakan produk, dan menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti eksudasi atau kristalisasi permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan insolubel dapat digunakan untuk mewarnai supositoria. Melindungi dari degradasi Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka supositoria mengandung bahan asal tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH larutan berair dari zat aktif kurang dari 6. p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga dapat digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal perlu dipertimbangkan. Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk mencegah ketengikan (rancidity) pada formulasi supositoria yang menggunakan lemak coklat (cocoa butter). Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan digunakan untuk mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks. Contohnya: campuran tiga bagian BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu bagian asam sitrat memberikan hasil memuaskan pada penggunaan 0,01%. Mengubah absorpsi Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu ditambahkan bahan untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan telah digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam supositoria. Sebagai contoh, penambahan enzim depolimerisasi (mukopolisakarase) telah dipelajari untuk meningkatkan penetrasi beberapa zat aktif.

IV. MASALAH DALAM FORMULASI SUPO A. Sumber: Art of Compunding Masalah-masalah dalam peracikan sediaan Suppositoria dengan contoh kasus Theobroma Oil Untuk masalah yang sering timbul dalam peracikan dan pembuatan suppositoria dengan menggunakan theobroma sebagai zat aktif dapat diatasi dengan cara : 1. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh dari theobroma oil. 2. Penambahan senyawauntuk dapat menaikkan titik leleh dari theobroma oil. 3. Penambahan senyawa yang dapat bercampur.
12

Suppositoria

4. Penambahan pelarut. 5. Masalah ketika senyawa aktif yang akan dibuat berada dalam jumlah dosis yang besar (large volume of medicinal) 1. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh Titik leleh dari theobroma oil dapat diturunkan dengan penambahan volatile oil dan senyawa larut minyak tertentu seperti kamper, kloral hidrat, kreosot, fenol, dan salol. Besarnya penurunan titik leleh bergantung pada jenis senyawa itu sendiri dan jumlah senyawa yangditambahkan. Jermstad & Frethein menemukan bahwa kurang dari 18% dari spermaceti dapat menurunkan titik leleh dari theobroma oil (juga dapatmeningkatkan titik leleh dari lemak coklat), tetapi pada penambahan 20% tidak terjadi penurunan titik leleh yang lebih lanjut, sedangkan pada penambahan 28% spermaceti dapat menaikkan titik leleh melebihi suhu tubuh. Selain itu wax jug dapat digunakan untuk menurunkan titik leleh. Kurang dari 3% wax dapat menurunkan titik leleh theobroma oil, sedangkan pada penambahan 5% dapat menaikan titik leleh diatas suhu tubuh. Wax yang digunakan sebaiknya 4%. Penggunaan wax 3-5% dapat meningkatkan absorpsi dari air oleh basis suppo tanpa secara signifikan menaikkan titikleleh dari suppo. Lebih dari 50% larutan dapat dicampurkan dengan basis yang terdiri atas 5% wax dan 95% theobroma oil. 2. Penambahan senyawa yang dapat menurunkan titik leleh Silver nitrat dan lead acetate dapat digunakan untuk meningkatkan titik leleh dari theobroma oil diatas suhu badan. Penambahan sejumlah kecil peanut oil dapat menurunkan titik leleh dibawah suhu badan. Seperti penjelasan diatas penggunaan spermaceti dapat meningkatkan titik leleh dari theobroma oil. Contoh resep dengan penggunaan spermaceti untuk meningkatkan titk leleh lemak coklat : R/ Chloralis hidrat gr XXX Cetacei gr XX Ol. Theobroma gr liv M Ft Suppo no VI 3. Penggunaan Cairan yang dapat bercampur Contoh cairan yang dapat bercampur dengan theobroma oil adalah alkohol 4. Penggunaan pelarut Ketika pilular extract digunakan dalam formulasi suppositoriamaka sebaiknya ekstrak dihaluskan dan dibuat menjadi semisolid dengan penambahan sedikit alkohol encer. Pada ekstrak yang berbentuk serbuk/powder tidak membutuhkan penambahan pelarut bahkan umumnya sangat baik digunakan dalam formulasi suppo mengandung ekstrak. Beberapa senyawa seperti dyes dan proteinsilver juga harus dihaluskan atau dilarutkan dengan mengunakansedikit air atau alkohol encer. Jumlah pelarut yangdigunakan dalamformulasi harus sesedikit mungkin. Hydrous wool fat sangat berguna sebagai ajuvan padasuppositoria yang mengandung ekstrak dalam jumlah besar atau cairan karena dapat mengabsorbsi cairan yang juga terjadi pada ekstrak(ekstrak umumnya higroskopis).. Untuk ekstrak Belladonna dapat dihaluskan dengan beberapa tetes alkohol 65%. Morfin sulfat dapat dilarutkan dalam 1 ml air hangat dan dengan sedikit penambahan lanolin untuk meningkatkan distribusi ekstrak beladonnadalamsuppositoria.

13

Suppositoria

5. Suppositoria dengan Jumlah Zat aktif yang besar Pada suppo dengan volumebesar akibat jumlah zat aktif akan sangat sulit untuk membuat massa suppo bersifat plastis dengan metode apapun. Untuk memperbaiki sifat reologinya dapat ditolong dengan penambahan sejumlah kecil wool fat. Selain itu juga dapat dilakukan dengan penambahan lanolin. B. Sumber : Pharmaceutical Dosage Form : Disperse System Vol 2 Penambahan Ajuvan Untuk Mengatasi Masalah Dalam Formulasi Penambahan ajuvan sangat diperlukan untuk meningkatkan homogenitas dari produk akhir, meningkatkan kelarutan dari zat aktif, penanganan terhadap zat aktif yang sulit untuk dibuat menjadi suppo, memfasilitasi produksi (dalam artian membuat produksi menjadi lebih mudah). 1. Meningkatkan incorporasi dari senyawa aktif Zat aktif dapat mempengaruhi integrasi produk akhir suppo dengan meningkatkan viskositas dari lelehan secara berlebihan,akibatnya menurunkan penetrasi zat aktif untuk diabsorpsi. Untuk mengatasi ini dapat dilakukan dengan penambahan ajuvan kedalam basis antara lain : - Magnesium Carbonat : dapat mempermudah inklorporsi gliserin pada produksi kipidic suppositoria basis demikian juga untuk ekstrak kering terutama yang bersifat higroskopis. - Minyak Netral : Minyak dengan viskositas rendah yang jenuh C-8 sampai C-12 dari asam lemak gliserida ( Labrafac Lipo, Labrafac Hydro, Neobee, Miglyol, dan dan Syndermin) digunakan pada level 10% dari berat suppo. Senyawa aktif sebaiknya dihaluskan dengan mencampurkan dengan minyak. Penggunaan minyak ini juga dapat memodifikasi titik leleh dan viskositas. - air : formulasi dengan 1-2% air (tergantung dari daya absorpsi basis) dapat digunakan untuk serbuk kering. 2. Meningkatkan Hidrofilisitas Hal ini penting untuk meningkatkan dissolusi dari zat aktif . Umumnya ajuvan ini jika digunakan pada konsentrasi rendah dapat meningkatkan absorpsi sedang jika digunakan pada konsentrasi tinggi dapat menurunkannya. - Surfaktan anionik : Bile salts, kalsium oleat, cetylstearil alkohol plus sodium alkil sulfat, sodium dioktilsulfosuksinat, sodium lauril sulfat 1%, sodium stearat 1%, dan trietanolamin stearat 3-5%. - Surfaktan Nonionik dan ampoterik : asam lemak ester dari sorbitan, asam lemak ester dari etoksilated sorbitan (Tween), etoksilatedester dan eter (polietilenglikol 400 miristat, polietilen 400 stearat),naturalmodified oil (polioksietilenpalm oil terhidrogenasi, castor oil teretoksilasi) - gliserida parsial : mono dan digliseridamengandung asam lemak gliserol, stearat dan asam palmitat monogliserida. 3. Meningkatkan viskositas Control viskositas penting untuk menghindari sedimentasi.Selain itu juga dapat mengontrol titik leleh : - asam lemak dan turunannya : aluminium monosterat, gliseril monostearat, dan asam stearat. - Lemak alkohol : cetyl, miristat, dan steril alkohol - Serbuk netral : bentonit, silika koloidal
14

Suppositoria

4. Mengatur Titik Leleh - Menurunkan titk leleh : basa prokain, fenol, kloral, minyak atsiri - Basis semisintetik yang memiliki temperatur tinggi : asam lemak dan turunannya, lemak alkohol, dan wax 5. Meningkatkan kekuatan mekanik Hal ini penting untuk mengatasi suppo yang pecah atau retak-retak terutama ketika basis sintetik digunakan. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan : polisorbat, castor oil, asam lemak monogliserida, gliserin, dan propilen glikol. 6. Merubah penampilan (meningkatkan penampilan) Dapat dengan penambahan pewarna 7. Untuk melindungi terhadap degradasi Dapat dengan penambahan pengawet terutama jika menggunakan material yang yang berasal dari tanaman, antioksidan spt BHA, BHT 8. Memodifikasi absorpsi Contohnya dengan inkorporasi depolymerizing enzymes (mucopolysaccharases) pada beberapa zat aktif. MASALAH DALAM PEMBUATAN ATAU PRODUKSI Polimorfisme Umumnya terjadi pada basis lemak. Semisintetik dan natural gliserida memperlihatkan sifat termal yang kompleks. Perubahan polimorfisme akibat peningkatan suhu menghasilkan manifestasi yang timbul berupa peningkatan titik leleh selama penyimpanan, peningkatan kekerasan suppo yang sejalan dengan penyimpanan. Selain polimorfisme hal ini dapat juga diakibatkan oleh penambahan lecitin. Oleh karena itu penyebab terjadinya polimorfisme perlu diperhatikan untuk menghindari bentuk polimorfis yang merugikan yang terjadi akibat selama proses produksi.

Masalah Splitting, pitting, & cracking

TROUBLE SHOOTING GUIDE Penyebab Kontraksi eksipien yang sangat kuat

Solusi

Gunakan eksipien yang mengkristal secara lebih lambat Kurangi perbedaannya dengan menurunkan pouring temperatur jika mungkin atau meningkatkan cooling temperatur atau keduanya Gunakan peralatan yang sesuai Perlama molding period

Terlalu besarnya perbedaan temperatur antara pouring dan cooling

Sticking to mold

Improper molds atau alveoli suppo Prematur removal from

15

Suppositoria

mold Kontraksi eksipen yang lemah sekali Cooling yang tidak cukup Zat aktif larut saat panas dalam eksipien; proporsi serbuk zat aktif yng halus besar Stirring yang kurang Temperatur pouring yang terlalu tinggi Cooling terlalu lambat ataulemah Inklusi ir Eksipien yang tidak tepat Gunakan eksipien yang mengkristal dengan cepat Turunkan temperatur cooling Gunakan massa mengandung zat anti kristalisasi

Thickening prior to pouring

Poor Product Homogeneity

Perbaikan teknik Kurangi suhu pouring jika mungkin Naikkan suhu cooling jika mungkin Cek level stirring dan tipe alat Gunakan eksipien dengan resistensi mekanikal yang tinggi Penurunan suhu pelelehan, dan cek sifat dari zat aktif Reformulsi larutan cair; gunakan eksipien mengandung emulsifier

Product Insufficiently solid

Surface anomalies ; fat bloom, whitening Exudation

Eksipien meleh pada suhu diatas 60 derajat C Eksipien yang tidak tepat dalam komposisi dengan zataktif

Fase Fisik Zat Aktif Kelarutan dalam eksipien Masalah yang mungkin muncul

MASALAH AKIBAT SOLUBILITY PADAT

CAIR

Larut

Tidak Larut

Larut

Tidak Larut

Peningkatan Titik leleh

Peningkatan viskositas

Penurunan Titik leleh

Larutan cair Gliserin, glikol, PEG Ekstrak alkohol

Rekristalisasi Kristalisasi gliserida

Migrasi Ukuran partikel yang sulit

Perubahan kristalisasi gliserida

Eksudasi tidak cair

16

Suppositoria

V. PERHITUNGAN SUPOSITORIA Ada tiga peristilahan dalam sediaan supositoria untuk menyatakan jumlah basis yang dapat digunakan oleh sejumlah bahan obat ataupun bahan pembantu. Tiga istilah tersebut adalah : 1. Density factor 2. Displacement Value 3. Replacement Factor 1. Density Factor Merupakan jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1 gram basis. Contoh : Supositoria Aspirin Jumlah supo yang dibuat 12 buah Jumlah aspirin 5 gram Dibuat dengan cetakan berkapasitas 30 gram Basis adalah oleum cacao Jumlah aspirin total adalah : 12 x 5 = 60 gram Density factor aspirin adalah 1,1 Jadi 1,1 gram aspirin setara dengan 1 gram oleum cacao 60 x1 = 54,5 gram oleum cacao Maka 60 gram aspirin = 1,1 Jadi untuk membuat 12 supo dibutuhkan oleum cacao sebanyak : (12x30) - 54,5 = 305,5 gram 2. Replacement Factor Replacement factor adalah jumlah oleum cacao yang dapat digantikan oleh bahan obat. Jika f = 0,81 berarti bahwa 0,81 gram oleum cacao dapat digantikan oleh 1 gram bahan obat. f dapat diturunkan dari persamaan berikut : ( E G) f = 100 x (GxX ) E : Berat supo yang hanya terdiri dari basis G : Berat supo dengan zat aktif X : % bahan obat G.X : Jumlah bahan obat dalam supo Dalam perhitungan apabila diketahui maka f dapat langsung dikalikan dengan jumlah bahan obat. 3. Displacement Value Adalah jumlah zat aktif yang dapat menggantikan oleum cacao. Contoh perhitungan : - Buat dan timbang 6 supo olem cacao tanpa bahan obat, misalnya diperoleh bobot 6,0 gram. - Buat supo dengan 40% zat aktif diperoleh bobot 8,8 gram

17

Suppositoria

60 x8,8 = 5,28 gram 100 40 Jumlah zat aktif : x8,8 = 3,52 gram 100 Jadi jumlah oleum cacao yang dapat digantikan oleh 3,52 gram zat aktif adalah : (6,0-5,28) gram = 0,72 gram 3,52 Displacement value zat aktif adalah : = 5 (dibulatkan) 0,72 5 gram Zat aktif dapat menggantikan 1 gram oleum cacao

Jumlah Oleum Cacao :

60 % oleum cacao : 5,28 gram

40 % zat aktif : 3,52 gram

6 gram CONTOH SOAL :

8,8 gram

Data kesetaraan zat aktif dengan basis diketahui


R/ Aminofilin 10 % density factor : 1,1 Fenobarbital 1 % replacement factor : 0,81 mf supo no VI @ 2 gram

Jawab : Jika diminta membuat 6 buah supo maka umumnya dibuat berlebih, misalnya 8 buah. Langkah pengerjaan : 1. Buat dan timbang 8 supo yang terbuat dari oleum cacao saja, misal diperoleh bobo total 8 supo adalah 16, 8 gram. Maka bobot rata-rata 1 supo adalah 2,1 gram. 16,8 = 2,1 gram ) ( 8 2. Zat aktif ditimbang : 10 Aminofilin : x8 x 2,1 gram = 1,68 gram 100 Fenobarbital : 1 x8 x 2,1 gram = 0,168 gram 100

3. Dihitung kesetaraan zat aktif dengan oleum cacao : - Aminofilin menggantikan :

18

Suppositoria

1,68 gram = 1,53 gram oleum cacao 1,1 0,168 - Fenobarbital menggantikan : gram = 0,14 gram oleum cacao 0,81 4. Jumlah total oleum cacao yang ditimbang : 16,8 gram (1,53+0,14) = 15,13 gram 5. Buat 8 supo yang terdiri dari oleum cacao dan bahan obat kemudian lakukan evaluasi terhadapnya dan serahkan 6 supo yang baik.

Data kesetaraan zat aktif dengan basis tidak diketahui


Vioform 250 mg mf supo no VI @ 2 gram Langkah pengerjaan : 1. Buat dan timbang 8 supo yang terbuat dari oleum cacao saja, misal diperoleh bobot total adalah 16,8 gram, berarti bobot rata-rata satu supo adalah 2,1 gram. 2. Kemudian dibuat supo orientasi dengan 250 mg Vioform dan oleum cacao 1500 mg. Kedua bahan tersebut dicampurkan dan dituangkan ke dalam cetakan (lubang cetakan seharusnya belum terisi penuh), sisa volume diisi dengan lelehan oleum cacao lainnya sampai melua. Supo yang dihasilkan ditimbang misal diperoleh bobot 2,3 gram. Maka jumlah oleum cacao adalah : 2,3-0,25 gram = 2,05 gram Jadi jumlah oleum cacao yang dapat digantiikan oleh 250 mg Vioform adalah (2,12,05) gram = 0,05 gram 0,25 Displacement value Vioform adalah : =5 0,05 3. Jumlah vioform yang ditimbang adalah : 0,25 gr x 8 = 1,5 gram Jumlah oleum cacao yang ditimbang : 2,05 gr x 8 = 16,4 gram 4. Campurkan kedua bahan tadi dan tuang ke dalam 8 lubang cetakan. Lakukan evaluasi terhadapnya dan serahkan supo yang baik. R/

VI. PEMBUATAN
Supositoria dengan basis PEG tidak mempersyaratkan perhatian-perhatian tertentu. Pemanasan berlebihan harus dihindari dan basis yang telah dilelehkan dituang ke dalam cetakan pada suhu sedikit di atas titik pembekuan untuk: 1. mencegah kristalisasi basis yang dapat menyebabkan supositoria retak. 2. mencegah presipitasi obat yang tidak larut dalam basis ke ujung supositoria dan mencegah patahnya supositoria. Cetakan sebaiknya dilubrikasi. Cetakan yang baru masih memiliki permukaan yang mengkilat dan dapat melepaskan supositoria secara cepat, tetapi setelah beberapa kali pemakaian dapat timbul goresan yang dapat menghambat pelepasan supositoria dari cetakan. Lubrikan yang dibutuhkan tergantung dari jenis cetakan. Lubrikan terbaik adalah yang tidak bercampur (immisibel) dengan basis. Untuk supositoria dengan basis oleum cacao gunakan gliserin dan minyak mineral. Untuk supositoria dengan basis campuran PEG gunakan minyak mineral secara tipis.

19

Suppositoria

Teknik lain untuk memudahkan pengeluaran supositoria akhir dari cetakan adalah dengan mendinginkan cetakan sebentar di freezer setelah supositoria membeku pada suhu kamar. Kontraksi tambahan dapat melepaskan supositoria lebih mudah dari permukaan logam.

VII. PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN Pengemasan Supositoria gliserin dan gelatin umumnya dikemas dalam wadah gelas ditutup rapat supaya mencegah perubahan kelembapan dalam isi supositoria. Supo yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus terpisah-pisah atau dipisahkan satu sama lainnya pada ceah-celah dalam kotak untuk mencegah terjadinya hubungan antar supo tersebut dan mencegah perekatan. Supo dengan kandungan obat yang sedikit pekat biasanya dibungkus satu persatu dalam bahan tidak tembus cahaya seperti lembaran metal (alufoil). Sebenarnya kebanyakan supositoria yang terdapat di pasaran dibungkus dengan alufoil atau bahan plastik satu per satu. Beberapa di antaranya dikemas dalam strip kontinu berisi supositoria yang dipisahkan dengan merobek lubang-lubang yang terdapat di antara suppositoria tersebut. Supo ini biasa juga dikemas dalam kotak dorong (slide box) atau dalam kotak plastik. Penyimpanan Karena supo tidak tahan pengaruh panas, maka perlu menjaga dalam tempat dingin. Suppo yang basisnya oleum cacao harus disimpan di bawah 30 0F dan akan lebih baik apabila disimpan di bawah lemari es. Suppo yang basisnya gelatin gliserin baik sekali bila disimpan di bawah 35 0F. Suppo dengan basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan pada suhu ruang biasa tanpa pendinginan. Suppo yang disimpan dalam lingkungan yang kelembapan nisbinya tinggi mungkin akan menarik uap air dan cenderung menjadis eperti spon, sebaliknya bila disimpan dalam tempat yang kering sekali mungkin akan kehilangan kelembapannya sehingga akan menjadi rapuh. VIII. EVALUASI SUPPOSITORIA 1. Appearance Tes ini lebih ditekankan pada distribusi zat berkhasiat di dalam basis supo. Supo dibelah secara longitudinal kemudian dibuat secara visual pada bagian internal dan bagian eksternal dan harus nampak seragam. 2. Keragaman bobot (BP 2001, A250) timbang masing-masing suppo sebanyak 20, diambil secara acak. Lalu tentukan bobot rata-rata. Tidak lebih dari 2 supo yang bobotnya penyimpang dari bobot rata-rata lebih dari % deviasi, yaitu 5 %. 3. Waktu hancur / disintegrasi (BP 2001, A235) uji ini perlu dilakukan terhadap supo kecuali supo yang ditujukan untuk pelepasan termodifikasi atau kerja lokal diperlama. Supo yang digunakan untuk uji ini sebanyak 3 buah.

20

Suppositoria

Supo diletakkan di bagian bawah perforated disc pada alat, kemudian dimasukkan ke silinder yang ada pada alat. Lalu diisi air sebanyak 4 liter dengan suhu 36-37oC dan dilengkapi dengan stirer. Setiap 10 menit balikkan tiap alat tanpa mengeluarkannya dari air. Disintegrasi tercapai ketika supo : a. terlarut sempurna b. terpisah dari komponen-komponennya, yang mungkin terkumpul di permukaan air (bahan lemak meleleh) atau tenggelam di dasar (serbuk tidak larut) atau terlarut (komponen mudah larut) atau dapat terdistribusi di satu atau lebih cara ini. c. Menjadi lunak, dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi komponennya, massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan terhadap tekanan dari pengaduk kaca. Supo hancur dalam waktu tidak lebih dari 30 menit untuk supo basis lemak dan tidak lebih dari 60 menit untuk supo basis larut air.

4. Ketegaran supo caranya masukkan bagian batang supo yang tumpul ke dalam tabung lipstick kemudian bagian leher supo digantung kantung plastik besar yang diberi kawat halus dan ke dalam kantung plastik tersebut ditetesi aquadest melalui buret 50 mL sampai supo putus menjadi 2 bagian. Pada saat itu dicatat jumlah penggunaan aquadest. Ketegaran supo adalah hasil kali volume aquadest yang tercatat dengan berat jenis aquadest pada suhu percobaan dalam gram. Percobaan dilakukan dengan 1-2 supo. 5. Penentuan titik leleh dilakukan dengan 1 supo, caranya : Sekeping supo dimasukkan dalam pipa yang kedua ujungnya berlubang dan pipa tersebut dimasukkan ke dalam chamber kosong yang sebagian terendam dalam air. Pasang termometer utama dan termometer pembantu pada lubang yang telah disediakan untuk mencatat suhu leleh supo yang diuji. Panaskan air dalam chamber dengan pemanas elektrik. Suhu yang dicatat pada pada saat kepingan supo yang berada di dalam pipa tepat menetes. Titik leleh supo : Tr = T + 0,00015 N (N.t) Keterangan : Tr : titik leleh supo yang telah dikoreksi T : suhu yang tercatat pada termometer utama t : suhu yang tercatat pada termometer pembantu N : jumlah skala termoeter pembantu terhitung dari permukaan penangas pada saat kepingan supo tepat menetes 6. Keseragaman kandungan (BP 2001, A250) IX. CONTOH-CONTOH SUPO DI PUSTAKA 1. Suppositoria aminofilin ( Fornas ) 2. Suppositoria bibaza / anusol ( Fornas ) 3. Suppositoria bisakodil ( BP 2001 ; Fornas ) 4. Suppositoria klorpromazin ( BP 2001) 5. Suppositoria etamifilin ( BP 2001) 6. Suppositoria flurbiprofen ( BP 2001) 7. Suppositoria gliserol ( BP 2001) 8. Suppositoria indometasin ( BP 2001) 9. Suppositoria metronidazol ( BP 2001)
21

Suppositoria

10. Suppositoria morfin ( BP 2001) 11. Suppositoria naproxen ( BP 2001) 12. Suppositoria parasetamol ( BP 2001) 13. Suppositoria pentazosin ( BP 2001)

22