Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PERCOBAAN 3

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN: PENURUNAN TITIK BEKU

Disusun Oleh:
KELOMPOK III
Maria Simbolon

(J2C009003)

Tifa Nurmaya

(J2C009021)

Tri Indri Mulyawati

(J2C009022)

Octafsari Kristiana Saputri

(J2C009023)

Ika Rissanti

(J2C009024)

Yudhi Richard

(J2C009025)

Yuga Pratama

(J2C009026)

Merry Gultom

(J2C009027)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009

PERCOBAAN 3
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN: PENURUNAN TITIK BEKU

I.

Tujuan Percobaan
I.1 Mampu menjelaskan pengaruh zat terlarut pada sifat fisik pelarut
murni.
I.2 Mampu menentukan konstanta penurunan titik beku suatu pelarut.
I.3 Mampu menentukan berat molekul suatu senyawa.

II.

Tinjauan Pustaka
II.1Sistem Larutan
Larutan adalah campuran homogen dari molekul atom maupun ion
dari dua zat atau lebih.Larutan disebut campuran karena susunannya
berubah-ubah.Larutan disebut homogen karena susunannya begitu
seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang
berlainan bahkan dengan mikroskop optis sekalipun.Dalam campuran
heterogen, permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara
bagian-bagian

atau

fase-fase

yang

terpisah.Meskipun

semua

campuran fase gas bersifat homogen dan karena itu disebut larutan,
molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tak dapat saling
menarik dengan efektif.Larutan fase padat sangat dikenal dan sangat
berguna.
Contoh : - Perunggu ( tembaga dan zink sebagai penyusun utama )
- Emas perhiasan ( biasanya campuran emas dan tembaga )
Biasanya, larutan berfase cair. Salah satu komponen larutan yaitu
pelarut harus berfase cair sedangkan zat terlarut dapat berbentuk gas,
padatan, atau larutan ( cairan ).
( Keenan, 1990 )
II.2Sifat Koligatif Larutan
Sifat koligatif karutan adalah sifat-sifat larutan yang hanya
ditentukan oleh jumlah partikel dalam larutan dan tidak tergantung
kepada jenis partikelnya.

( Sukardjo, 1985 )
Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau
kira-kira pada larutan yang ada.Jadi, sifat-sifat tersebut tidak
tergantung pada jenis terlarut.Keempat sifat tersebut ialah penurunan
tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan
tekanan

osmotik

yang

semuanya

dinamakan

sifat-sifat

koligatif.Kegunaan sifat-sifat koligatif banyak dan beragam.Juga,


penelitian sifat-sifat memainkan peranan penting dalam metoda
penetapan bobot molekul dan pengembangan teori larutan.
( Petrucci, 1987 )

Gambaran Sifat Koligatif


( Chemistry.org, 2009 )
II.3Penurunan Titik Beku
Titik beku adalah suhu pada saat larutan mulai membeku pada
tekanan luar 1 atm. Titik beku normal air adalah 0C. Jika air murni
didinginkan pada suhu 0C, maka air tersebut akan membeku dan
tekanan uap permukaannya sebesar 1 atm. Tetapi, bila kedalamnya
dilarutkan zat terlarut yang sukar menguap, maka pada suhu 0C
ternyata belum membeku dan tekanan uap permukaannya lebih kecil
dari 1 atm. Supaya larutan membeku tekanan uap permukaannya
harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat dicapai bila suhu larutan
diturunkan.

Setelah tekanan uap larutan uap mencapai 1 atm, larutan akan


membeku.besarnya titik beku larutan ini lebih rendah dari 0C atau
lebih rendah dari titik beku pelarutnya. Turunnya titik beku larutan
dari titik beku pelarutnya disebut penurunan titik beku ( Tf ).
Menurut Roult untuk larutan yang sangat encer berlaku :
Tf = Kf.m
Kf = Tetapan penurunan titik beku molal ( C/mol )

A : titik beku air pada 0C dan tekanan uap pada 1 atm


B : titik pada 0C dan tekanan uap kurang dari 1 atm, dimana larutan
belum membeku
C : titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih kecil dari 0C, dimana
larutan membeku.
( Yazid, 2005 )
II.3.1 Penurunan Titik Beku Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit dalam air akan terurai dan terionisasi
menjadi ion. Sehingga menghasilkan jumlah partikel yang
lebih banyak. Untuk larutan elektrolit, persamaan titik beku
adalah :
Tf = Kf.m.i
Dengan :
I = 1 = ( n-1 )
jumlah mol zat yang terionisasi
= jumlah mol zat yang dilarutkan
Keterangan :
Tf
: penurunan titik beku larutan

m
Kf

: molalitas zat terlarut


: tetapan penurunan titik beku
: derajat ionisasi
: bilangan total ion jika terdisosiasi sempurna.
( Petrucci, 1994 )

II.3.2 Penurunan Titik Beku Larutan Non-Elektrolit


Jika jumlah partikel terlarut suatu larutan semakin banyak,
maka larutan tersebut titik bekunya akan turun. Zat terlarut
dalam hal ini biasanya adalah zat yang tidak mudah menguap.
Hubungan antara penurunan titik beku terhadap pelarut dapat
dirumuskan :
Tf = Kf.m
Keterangan :
Tf
: penurunan titik beku larutan
m
: molalitas zat terlarut
Kf
: tetapan penurunan titik beku
( Brady, 1994 )
II.4Penurunan Tekanan Uap
Tekanan uap adalah ukuran kecenderungan molekul-molekul suatu
cairan untuk lolos menguap.Makin mudah molekul-molekul cairan
uap, makin besar tekanan uapnya.Besarnya tekanan uap bergantung
pada jenis zat dan suhu. Suatu zat yang memiliki gaya tarik antara
partikelnya relative besar, berarti sukar menguap dan akan
mempunyai tekanan uap kecil. Contoh,gula. Sebaliknya zat yang
memiliki gaya tarik menarik antara partikelnya lemah, berarti mudah
menguap atau atsiri ( volatile ) dan akan mempunyai tekanan uap
relatif besar. Contoh, eter.Harga tekanan uap suatu zat juga makin
besar bila suhu dinaikkan.
Bila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang sukar menguap,
maka tekanan uap larutannya menjadi lebih rendah daripada tekanan
uap pelarut murninya.Hal ini disebabkan pada permukaan larutan
terdapat interaksi antar zat terlarut dan pelarut, sehingga laju
penguapan pelarut berkurang.Akibatnya tekanan larutan menjadi
turun. Selisih antara tekanan uap pelarut murni dengan tekanan uap
larutan disebut penurunan tekanan uap ( p ).

P = P-P
Menurut Roult, jika zat terlarut sukar menguap, maka penurunan
tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol terlarut, sedangkan
tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol pelarut.
P
= Xpel . P
P
= P - (Xpel . P)
= P (1-Xter)P
= P-P+(Xter . P)
P
= Xter . P
( Yazid, 2005 )

II.5Kenaikan Titik Didih ( Tb )


Titik didih suatu cairan adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh
cairan itu sama dengan tekanan udara luar. Biasanya yang dimaksud
dengan titik didih adalah titik didih normal, yaitu titik didih pada
tekanan udara luar 1 atm. Titik didih normal air adalah 100C. Pada
suhu yang sama, adanya solut yang sukar menguap menyebabkan
tekanan uap larutan lebih rendah, akibatnya titik didih larutan menjadi
lebih tinggi dibandingkan titik didih pelarut murninya. Jika air murni
dipanaskan pada 100C, air tersebut akan mendidih dan tekanan uap
permukaannya sebesar 1 atm. Agar larutan mendidih tekanan uap
permukaannya harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat dilakukan dengan
menaikkan suhu larutan.

( Chemistry.org, 2009 )
Keterangan :
A = titik didih air pada suhu 100C dan tekanan uap 1 atm

B = titik pada 100C dan tekanan uap kurang dari 1 atm, dimana
larutan belum mendidih
C = titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih besar dari 100C,
dimana larutan mendidih.
Suhu pada saat akan tercapai tekanan uap larutan 1 atm, maka
larutan akan mendidih. Harga titik didih ini lebih besar dari 100C,
atau lebih tinggi dari titik didih pelarutnya disebut kenaikan titik didih
(Tb).
Tb = Tb - Tb
Tb = Kb .m
W 1000
.
Tb = Kb . M P
Keterangan :
Tb = titik didih pelarut
Tb
= titik didih larutan
Kb
= tetapan kenaikan titik didih molekul
M
= berat molekul zat terlarut
W
= massa zat terlarut
P
= massa zat pelarut
( Yazid, 2005 )
II.6Tekanan Osmosis ( )
Osmosis adalah suatu perpindahan / merambatnya molekul pelarut
dari larutan yang konsentrasinya rendah (encer) menuju larutan yang
konsentrasinya tinggi melalui selaput semipermeabel, sedangkan
tekanan osmotik adalah besarnya tekanan larutan yang digunakan
untuk mempertahankan perpindahan pelarut pada peristiwa osmotik,
dirumuskan :
=MRT

gr 1000

R T
Mr
P

Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut


isotonik. Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih besar
disebut hipertonik, sedangkan larutan yang tekanan osmotiknya lebih
rendah disebut hipotonik.

(Sukardjo, 1985)
II.7Fase Zat
Bila zat padat dipanaskan, mula-mula pada suhu sedikit dibawah
titik lelehnya. Kemudian suhunya mulai naik ketika lelehnya tercapai,
suhunya akan tetap sampai seluruh bagian zat meleleh, demikian juga
dengan proses pembekuan. Suhunya akan konstan sampai tercapai
titik beku zat tersebut. Super cooling terjadi saat suhu cairan turun
dibawah titik beku.
1. Diagram pemanasan

2. Dagram pendinginan

3.

Diagram Supercooling

( Brady, 1998 )
II.8Titik Leleh
Titik leleh merupakan salah satu sifat fisik yang penting untuk
karakterisasi suatu senyawa. Titik leleh ( melting point ) dari suatu
senyawa adalah temperatur yang menunjuk tepat pada saat proses
transformasi senyawa tersebut antara fasa padat dan cair.
( Wade, 1999 )
II.9Termostat

Alat yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat menjaga tetap


pada suhu yang diinginkan umumnya dapat dipilih dalam selang
harga yang cukup besar misalnya (0-90)0C.
( Pudjaatmaka, 2002 )
II.10 Fraksi Mol
Lambang x, ukuran banyaknya komponen dalam campuran. Fraksi

mol komponen A adalah xA =

nA
N , dengan nA adalah banyaknya

zat A dan N adalah jumlah seluruh zat campuran.


( Daintith, 1994)
II.11

Molaritas
Sistem konsentrasi ini didasarkan pada volume larutan dan dengan
demikian cocok untuk digunakan prosedur laboratorium yang volume
larutan merupakan jumlah yang diukur batasnya adalah sebagai
berikut :
Molaritas : jumlah mol solut perliter larutan
n
M= v
Dengan ketentuan :
M adalah molaritas
n adalah jumlah mol solut
v adalah volume larutan dalam liter
q
n=
dengan ketentuan
Karena
:
Bm
q = solut dan Bm = berat molekuler solut, maka
q
M= Bm . V

II.12

(Underwood, 1980)
Molalitas
Molalitas adalah banyaknya mol zat terlarut yang dilarutkan dalam
1 kg (1000g) pelarut, artinya :
mol zat terlarut

Molalitas
massa pelarut ( Kg)
(Chang,2009)

II.13 Analisa Bahan


II.13.1 Asam Stearat (CH3(CH2)6COOH)
Sifat Kimia :
Merupakan asam monoklinik
Larut dalam alkohol dan eter
Sifat Fisik :
Berwujud padat/ berupa lemak dan lunak
Tidak berwarna
Rapat massa 0,847
Titik didih 690C
Tidak larut dalam air dan mudah terbakar
Kegunaan :
Untuk obat-obatan
Alat-alat kecantikan
II.13.2 Asam Benzoat (C6H5COOH)
Sifat Kimia :
Merupak asam monoklinik
Mempunyai gaya karboksil lemak yang
sedikit larut dalam air.
Sifat Fisik

Berwujud kristal putih


Berat jenis 1,27
Titik leleh 127,40C
Titik didih 2490C

Kegunaan

Sebagai antiseptik dan pengawet


(Daintith, 1994)

II.13.3 H2O (Air)


Sifat Kimia :

Sifat Fisik

III.

Metoda Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat :
a. kertas saring

Dalam fase gas,cair terdiri dari 1 molekul

H2O dan sudut H-O-H 1050


Memiliki ikatan Hidrogen
Tidak berwarna
Titik didih 1000C
Titik beku 00C
Kf =1,86
(Daintith, 1994)

h. pengaduk

b. termometer
c. gelas beaker
d. penjepit
e. penggerus
f. tabung reaksi
g. neraca/ timbangan

i. hot plate
j. isolasi
k. pipa kapiler
l.kakitiga
m. tabung spiritus
n. termostat

3.1.2 Bahan
a. Asam Stearat
b. Asam benzoat
c. Air
3.2 Gambar Alat
1. Kertas Saring

2.Termometer

3. Gelas Beaker

4. Penggerus

5. Spiritus

6. Tabung Reaksi

7. Solasi

8. Neraca

9. Pipa Kapiler

10. Pengaduk

11. Penjepit

12. Hot

Plate

13.

Kaki Tiga

14. Termostat

3.3 Skema Alat


penjepit
Termometer
Tabung reaksi

Pipa kapiler Gelas beker


Air
Hot plat

3.4 Skema Kerja


3.4.1Preparasi Sampel
3 gr asam stearat
Gelas beaker
-penimbangan 0,2 gr asam benzoat
-pemanasan asam stearat diatas hot plate
sampai mendidih 50
-penambahan 0,2 gr asam benzoat
-pengadukan
-pendinginan dalam air dingin
-penghalusan
-pengamatan

Hasil

3 gr asam stearat
Gelas beaker

-penimbangan 0,4 gr asam benzoat


-pemanasan asam stearat diatas hot plate
sampai mendidih 50
-penambahan 0,4 gr asam benzoat
-pengadukan
-pendinginan dalam air dingin
-penghalusan
-pengamatan

Hasil

3 gr asam stearat
Gelas beaker
-penimbangan 0,6 gr asam benzoat
-pemanasan asam stearat diatas hot plate
sampai mendidih 50
-penambahan 0,6 gr asam benzoat
-pengadukan
-pendinginan dalam air dingin
-penghalusan
-pengamatan

Hasil

3.4.2

Pengukuran Titik Leleh


3 gr asam stearat + 0,2 gr asam benzoat
Pipa kapiler
-pengisian pipa kapiler 1 sampai 5 mm
-pengikatan pipa kapiler pada
termometer

-pengukuran titik leleh


-pengamatan dan pencatatan saat
terjadinya pelelehan
Hasil

3 gr asam stearat + 0,4 gr asam benzoat


Pipa kapiler
-pengisian pipa kapiler 1 sampai 5 mm
-pengikatan pipa kapiler pada
termometer
-pengukuran titik leleh
-pengamatan dan pencatatan saat
terjadinya pelelehan
Hasil

3 gr asam stearat + 0,6 gr asam benzoat


Pipa kapiler
-pengisian pipa kapiler 1 sampai 5 mm
-pengikatan pipa kapiler pada
termometer
-pengukuran titik leleh
-pengamatan dan pencatatan saat
terjadinya pelelehan
Hasil

IV. DATA PENGAMATAN


No
.
1

Perlakuan

Hasil

Preparasi Sampel

Asam stearat

-3gr asam stearat + pemanasan

meleleh ketika

50

+ 0,2gr asam benzoat +

pengadukan + pendinginan +
penghalusan
-3gr asam stearat + pemanasan
50

+ 0,4gr asam benzoat +

pengadukan + pendinginan +
penghalusan
-3gr asam stearat + pemanasan
50

dipanaskan. Saat
ditambah asam
benzoat dan diaduk
sambil didinginkan ,
mengkristal seperti
lilin berwarna putih
namun lebih keras.
Lalu dihaluskan
seperti bubuk.

+ 0,6gr asam benzoat +

pengadukan + pendinginan +
2

penghalusan
Pengamatan Titik Leleh
-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat

Kristal halus yang

+ 0,2 gr asam benzoat

ada di pipa kapiler

-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat

naik ke permukaan

+ 0,4 gr asam benzoat


-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat

sasat

+ 0,6 gr asam benzoat

gelembung

pertama muncul.

V. PEMBAHASAN
5.1 Preparasi Sampel
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh zat
terlarut pada sifat fisik pelarut murninya. Percobaan ini dilakukan
dengan cara menimbang 3 gr asam stearat (CH3(CH2)6COOH) tiga kali
berturut-turut, kemudian penimbangan 0,2 gr; 0,4 gr; dan 0,6 gr asam
benzoat (C6H5COOH).
Setelah melakukan penimbangan terhadap masing-masing sampel,
langkah selanjutnya adalah memanaskan 3 gr asam stearat pada 3
macam beaker glass yang berbeda, sampai meleleh, lalu tambahkan
0,2 gr; 0,4 gr; dan 0,6 gr asam benzoat pada masing-masing beaker
glass yang berbeda. Kristalkan larutan tersebut dengan cara
melakukan pengadukan, yang bertujuan agar reaksi berjalan dengan
cepat (sebagai katalisator). Selain dilakukan pengadukan, katalisator
dapat dilakukan dengan cara mencelupkan beaker glass yang berisi
larutan asam stearat dengan asam benzoat ke dalam penangas air yang
berisi air dingin sampai larutan tersebut mengkristal.
5.2 Pengukuran titik leleh
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui konstanta
penurunan titik beku suatu sampel. Setelah dilakukan preparasi
sampel hingga didapatkan kristal ( masing-masing dari 3 gr asam
stearat + 0,2 gr ,0,4 gr , 0,6 gr asam benzoat), masing-masing kristal
tersebut ditumbuk hingga halus agar bisa dimasukkan ke dalam pipa
kapiler. Setelah itu ikatlah pipa kapiler yang telah berisi kristal
dengan selotip pada termometer. Hal ini dilakukan melalui dua cara,
yaitu dengan menggunakan termostat primer dan termostat sekunder.

Pada termostat primer, digunakan gelas beaker untuk pemanasan.


Pada gelas beaker dimasukkan aquades dan dipanaskan sampai
mendidih. Setelah mendidih, dimasukkan termostat sekunder.
Termostat sekunder merupakan tabung reaksi yang kemudian diberi
aquades untuk pemanasan. Pada termostat sekunder, dimasukkan
termometer yang telah ditempelkan dengan pipa kapiler . Termostat
sekunder dimasukkan ke dalam termostat primer dan lakukan
pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan mengukur suhu dengan
melihat gelembung pertama yang muncul pada termostat sekunder.
Adapun Kf yang didapatkan melalui pemanasan pada termostat
primer adalah sebagai berikut :
1. 3 gr asam stearat + 0,2 gr asam benzoat dengan

Tf =2 C

memiliki Kf= 3,66 /mol


2. 3 gr asam stearat + 0,4 gr asam benzoat dengan

Tf

= 4C

memiliki Kf= 3,66 /mol


3. 3 gr asam stearat + 0,6 gr asam benzoat dengan
memiliki Kf= 1,83 /mol
Jadi, Kf rata-rata yang diperoleh adalah = 3.05 /mol

Tf = 3C

VI. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
a. Pada jenis sifat koligatif, pengaruh zat terlarut pada sifat fisik pelarut
murni yaitu dengan penambahan zat terlarut terjadi penurunan titik beku
pelarut murni.
b. Semakin besar massa zat terlarut (asam benzoat) yang dilarutkan
dalam zat pelarut (asam stearat) semakin besar pula penurunan titik
lelehnya.
c. Konstanta penurunan titik beku suatu pelarut yang diperoleh yaitu

konstanta rata-rata titik beku pelarut adalah 3,05

C
mol

6.2 Saran
Sebaiknya, sebelum dan sesudah melakukan percobaan praktikum,
alat-alat laboratorium terlebih dahulu dibersihkan agar alat bersih untuk
menghindari kesalah pada saat melakukan percobaan.

LAMPIRAN
1. Struktur Asam Stearat
CH3 CH2 (CH2)13 CH2 CH2 C

OH
Rumus : C17H35COOH
2. Struktur Asam Benzoat

Rumus : C6H5COOH
3. Titik leleh asam stearat menurut literatur adalah 700C.
4. Berat Molekul Asam Stearat dan Asam Benzoat
a.Berat MolekulAsam Stearat (CH3(CH2)6COOH)
BM =8.Ar C+16.Ar H+2.Ar O
=8(12)+16(1)+2(16)
=96+16+32
=144 gr/mol
b.Berat Molekul Asam Benzoat (C6H5COOH)
BM =7.Ar C+ 6.Ar H+ 2.Ar O
=7(12)+ 6(1)+ 2(16)

=84 +6 +32
=122 gr/mol

5. Perhitungan
Dik : T1= titik leleh larutan pertama adalah 540C
T2= titik leleh larutan ke-2 adalah 550C
T3= titik leleh larutan ke-3 adalah 500C
Massa asam benzoat ke-1= 0,2 gr
Massa asam benzoat ke-2= 0,4 gr
Massa asam benzoat ke-3= 0,6 gr
Massa asam stearat = 3 gr
BM asam benzoat = 122 gr/mol
Dit :
a.Tf..?
b.Kf0,2...?
c.Kf 0.4...?
d.Kf 0,6...?
e. Kf . ?
Jawab!

T 1+ T 2+T 3
54 C+ 55 C+50 C
a. Tf=
=
=530C
3
3
b.

Tf

0,2

= m 0,2. Kf 0,2

530C-510C =

20C

Kf 0,2 =

massaas .benzoat 1000


.
.
Kf 0,2
Bmas .benzoat
P
0,2 gr
1000
.
122 gr /mol 3

732
200

Kf 0,2= 3,66 /mol

. Kf 0,2

Tf

530C-490C

= m 0,4. Kf 0,4
massaas .benzoat 1000
.
.
=
Kf 0,4
Bm as .benzoat
P

40C

0,4 gr
1000
.
122 gr /mol 3

Kf0,4

1464
400

c.

0,4

. Kf 0,4

Kf 0,4 = 3,66 /mol


Tf

d.

0,6

530C-500C

= m 0,6. Kf 0,6
massaas .benzoat 1000
.
.
=
Kf 0,6
Bm as .benzoat
P

3C

0,4 gr
1000
.
122 gr /mol 3

Kf 0,6

1098
600

Kf 0,6 = 1,83 /mol


e.

f.

Kf = Kf0,2 + Kf0,4 + Kf0,6

= (3,66 + 3,66 + 1,83) /mol


= 9,15 /mol

Kf Rata-rata =

9,15
=3.05 /mol
3

. Kf 0,6

LEMBAR PENGESAHAN
Semarang, 23 Desember 2009
Praktikan,

Maria Simbolon

Tifa Nurmaya

J2C009003

J2C009021

Tri Indri Mulyawati

Octafsari Kristiana S.

J2C009022

J2C009023

Ika Rissanti

Yudhi Richard

J2C009024

J2C009025

Yuga Pratama

Merry Gultom

J2C009026

J2C009027
Mengetahui,
Asisten

Wanodya Sihita Strinariswari


J2C606019

DAFTAR PUSTAKA
Brady, James. 1994. Kimia Universitas Asas dan Struktur, jilid 1, edisi
kelima. Jakarta: Erlangga.
Chang, Raymond. 2009. Chemistry. USA: Random House.
Daintith, Jhon. 1994. Kamus Kimia Lengkap, Oxford edisi baru. Jakarta:
Erlangga.
Keenan, Charles. 1990.Ilmu Kimia untuk Universitas, edisi kelima.
Jakarta: Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1987. General Chemistry. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1994. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Pudjaatmaka,H. Kamus Kimia Organik. Jakarta: Depdikbud.
Sukardjo. 1985. Kimia Organik. Yogyakarta: Bina Aksara.
Underwood. 1980. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Wade.L. G. Jr. 1999. Organic Chemistry. USA: Prentice Hall.
Yazid,Estien. 2005.Kimia Fisika untuk Paramedis.Yogyakarta: CV. Andi
Offset.