Anda di halaman 1dari 25

MATA KULIAH

DOSEN

:
:

KEPERAWATAN ANAK II
A. ARNIYANTI, S. Kep, Ns

ASUHAN KEPERAWATAN
ANAK AUTISME

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK XII
NON REGULER B
SYAHARUDDIN
MUSDALIFAH
YULIANI
RISWANDI

(21406131)
(21406115)
(21406199)

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME


PROGRAM S1 KEPERAWATAN
2014
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat
serta karunianya-Nya kami dapat menyalesaikan makalah ini guna memenuhi
tugas dari mata kuliah Keperawatan Anak II dengan judul ASUHAN
KEPERAWATAN ANAK AUTISME.
Dengan selasainya makalah ini, kami mmengucapkan rasa terimakasih
kepada :
1.
2.

Ibu A. Arniyanti, S.Kep, Ns,sebagai dosen mata kuliah Keperawatan Anak II.
Teman-teman kelompok XII yang telah membantu dalam penulisan makalah.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana dan jauh dari

sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan untuk perbaikan makalah selanjutnya.
Akhirnya kami ucapkan terimakasih dan semoga saja makalah ini bermanfaat bagi
kita semua.

Makassar,

Desember 2014

Penulis
Kelompok XII

DAFTAR ISI
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

Hal
KATA PENGANTAR .....................................................................................

DAFTAR ISI ...................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................

A.LATAR BELAKANG MASALAH ...............................................


B.RUMUSAN MASALAH ...............................................................
C.TUJUAN MASALAH ..................................................................
D.MANFAAT PENULISAN .............................................................

1
1
2
3

BAB II KONSEP MEDIS ..............................................................................

A.DEFENISI ......................................................................................
B.KLASIFIKASI ...............................................................................
C.ETIOLOGI .....................................................................................
D.PATOFISIOLOGI ..........................................................................
E.MANIFESTASI KLINIS ...............................................................
F.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK ..................................................
G.PENATALAKSANAAN ...............................................................

4
5
6
8
10
12
13

PENYIMPANGAN KDM ..............................................................................

15

BAB III KONSEP KEPERAWATAN ...........................................................

16

A.PENGKAJIAN...............................................................................
B.DIAGNOSA KEPERAWATAN .....................................................
C.INTERVENSI KEPERAWATAN ..................................................

16
17
18

BAB IV PENUTUP ........................................................................................

21

A.KESIMPULAN ..............................................................................
B.SARAN ..........................................................................................

21
21

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

iii

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam Pendidikan Luar Biasa kita banyak mengenal macam-macam
Anak Berkebutuhan Khusus. Salah satunya adalah anak Autisme. Anak
Autisme juga merupakan pribadi individu yang harus diberi pendidikan baik
itu keterampilan, maupun secara akademik. Permasalahan yang ada
dilapangan terkadang setiap orang tidak mengetahui tentang anak Autisme
tersebut. Oleh kerena itu kita harus kaji lebih dalam tentang anak Autisme.
Dalam pengkajian tersebut kita butuh banyak informasi mengenai siapa anak
Autisme, penyebabnya dan lainnya. Dengan adanya bantuan baik itu
pendidikan secara umum. Dalam masyarakat nantinya anak-anak tersebut
dapat lebih mandiri dan anak-anak tersebut dapat mengembangkan potensi
yang ada dan dimilikinya yang selama ini terpendam karena ia belum bisa
mandiri. Oleh karena itu, makalah ini nantinya dapat membantu kita
mengetahui anak Autisme tersebut.
Autisme didapatkan pada sekitar 20 per 10.000 penduduk, dan pria
lebih sering dari wanita dengan perbandingan 4:1, namun anak perempuan
yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Beberapa penyakit
sistemik, infeksi dan neurologis menunjukkan gejala-gejala seperti-austik
atau memberi kecenderungan penderita pada perkembangan gejala austik.
Juga ditemukan peningkatan yang berhubungan dengan kejang.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari data pada latar belakang masalah pada Anak Berkebutuhan
Khusus Autisme, maka rumusan masalah Anak Berkebutuhan Khusus
Autisme adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan anak Autisme ?
2. Bagaimana jenis-jenis anak Autisme ?
3. Apa yang menyebabkan anak Autisme ?
4. Bagimana patofisiologi anak yang Autisme ?
5. Apa saja manifestasi klinis anak Autisme ?
6. Apa sajakah dan bagaimana pemeriksaan diagnostik pada anak Autisme ?
7. Apa saja penatalaksana anak autis?

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

8. Bagaimana Pengkajian pada klien anak dengan Berkebutuhan Khusus


Autisme.
9. Apa saja Diagnosa Keperawatan pada klien anak dengan Berkebutuhan
Khusus Autisme.
10. Apa saja Intervensi Keperawatan yang diberikan pada klien anak dengan
Berkebutuhan Khusus Autisme.
C. TUJUAN MASALAH
1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang Konsep Medis dan Konsep
Keperawatan Anak Berkebutuhan Khusus Autisme.
2. Tujuan Khusus
Konsep Medis Autisme :
a. Memperoleh informasi tentang pengertian Anak Berkebutuhan
Khusus Autisme.
b. Memperoleh informasi tentang jenis-jenis Anak Berkebutuhan
Khusus Autisme.
c. Memperolah pengetahuan tentang Etiologi Anak Berkebutuhan
Khusus Autisme.
d. Memperoleh

pengetahuan

bagaimana

patofisiologi

Anak

Berkebutuhan Khusus Autisme.


e. Dapat mengetahui manifestasi klinis Anak Berkebutuhan Khusus
Autisme.
f. Memperoleh pengetahuan tentang pemeriksaan diagnostik Anak
Berkebutuhan Khusus Autisme.
g. Dapat mengetahui penatalaksanaan pada Anak Berkebutuhan
Khusus Autisme.
Konsep keperawanan Autisme :
a. Memperoleh

informasi

tentang

pengkajian

pada

Anak

Berkebutuhan Khusus Autisme.


b. Memperoleh informasi tentang diagnosa keperawanan pada Anak
Berkebutuhan Khusus Autisme.
c. Memperoleh informasi tentang intervensi keperawanan pada
Anak Berkebutuhan Khusus Autisme.
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

D. MANFAAT PENULISAN
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk melatih
dan menambah pengetahuan tentang Anak Berkebutuhan Khusus Autisme.
Dan diharapkan agar menjadi acuan mahasiswa/mahasiswi dalam membuat
asuhan keperawatan Anak Berkebutuhan Khusus Autisme. Disamping itu juga
sebagai syarat dari tugas mata kuliah Keperawatan Anak II.

BAB II
KONSEP MEDIS
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

A. DEFENISI
Secara harfiah autisme berasal dari kata autos (diri) sedangkan isme
(paham/aliran). Autisme secara etimologi adalah anak yang memiliki
gangguan perkembangan dalam dunianya sendiri. Beberapa pengartian autis
menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Autisme merupakan suatu jenis gangguan perkembangan pada anak,
mengalami kesendirian, kecenderungan menyendiri. (Leo kanker handojo,
2003)
b. Autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang
mengalami kondisi menutup diri. Dimana gangguan ini mengakibatkan
anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan
perilaku Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak
Austistik. (American Psychiatic Association, 2000)
c. Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial,
komunikasi, perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan
perkembangan terlambat atau tidak normal. Autisme mulai tampak sejak
lahir atau saat masi bayi (biasanya sebelum usia 3 tahun). Sumber dari
Pedoman Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa (PPDGJ III)
d. Autisme adalah suatu kondisi yang mengenai seseorang sejak lahir
ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk
hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Hal ini mengakibatkan
anak tersebut terisolasi dari anak yang lain. (Baron-Cohen, 1993).
Jadi anak autisme merupakan satu kondisi anak yang mengalami
gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang dapat diketahui sejak
umur sebelum 3 tahun mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial serta
perilakunya. Anak autisme dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu:
a. Segi pendidikan : anak autisme adalah anak yang mengalami gangguan
perkembangan komunikasi, sosial, perilaku pada anak sesuai dengan
kriteria DSM-IV sehingga anak ini memerlukan penanganan/layanan
pendidikan secara khusus sejak dini.
b. Segi medis: anak autisme adalah anak yang mengalami gangguan/kelainan
otak yang menyebabkan gangguan perkembangan komunikasi, sosial,
perilaku sesuai dengan kriteria DSM-IV sehingga anak ini memerlukan
penanganan/terapi secara klinis.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

c. Segi psikologi: anak autisme adalah anak yang mengalami gangguan


perkembangan yang berat bisa ketahui sebelum usia 3 tahun, aspek
komunikasi sosial, perilaku, bahasa sehingga anak perlu adanya
penanganan secara psikologis.
d. Segi sosial: anak autisme adalah anak yang mengalami gangguan
perkembangan berat dari beberapa aspek komunikasi, bahasa, interaksi
sosial, sehingga anak ini memerlukan bimbingan keterampilan sosial agar
dapat menyesuaikan dengan lingkungannya.
Jadi Anak Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan
fungsi otak yang bersifat pervasive (inco) yaitu meliputi gangguan kognitif,
bahasa, perilaku, komunikasi, dan gangguan interaksi sosial, sehingga anak
autisme mempunyai dunianya sendiri.

B. KLASIFIKASI
Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder
R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah lingkup PDD
(Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder).
Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai
untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di
bawah lingkup PDD, yaitu:

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

1. Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan ditunjukkan


adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan
bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip pada minat dan
aktivitas.
2. Aspergers Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan
adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak menunjukkan
keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat intelegensia ratarata hingga di atas rata-rata.
3. Pervasive Developmental DisorderNot Otherwise Specified (PDD-NOS)
Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS berlaku bila
seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada diagnosa
tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4. Retts Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang
terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang normal
kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang dimilikinya;
kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan dengan
gerakan-gerakan tangan yang berulang-ulang pada rentang usia 14 tahun.
5. Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan
yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian tibatiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai sebelumnya.
C. ETIOLOGI
Penyebab autisme menurut banyak pakar telah disepakat bahwa
pada otak anak autisme dijumpai suatu kelainan pada otaknya. Apa
sebabnya sampai timbul kelainan tersebut memang belum dapat
dipastikan. Banyak teori yang diajukan oleh para pakar, kekurangan
nutrisi dan oksigenasi, serta akibat polusi udara, air dan makanan.
Diyakini bahwa ganguan tersebut terjadi pada fase pembentukan organ
(organogenesis) yaitu pada usia kehamilan antara 0 4 bulan. Organ
otak sendiri baru terbentuk pada usia kehamilan setelah 15 minggu.
Dari penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari banyak
negara diketemukan beberapa fakta yaitu 43% penyandang autisme
mempunyai kelainan pada lobus parietalis otaknya, yang menyebabkan

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

anak cuek terhadap lingkungannya. Kelainan juga ditemukan pada otak


kecil (cerebellum), terutama pada lobus ke VI dan VII. Otak kecil
bertanggung jawab atas proses sensoris, daya ingat, berfikir, belajar
berbahasa dan proses atensi (perhatian). Juga didapatkan jumlah sel
Purkinye di otak kecil yang sangat sedikit, sehingga terjadi gangguan
keseimbangan serotonin dan dopamine, akibatnya terjadi gangguan atau
kekacauan impuls di otak.
Ditemukan pula kelainan yang khas di daerah sistem limbik yang
disebut hippocampus. Akibatnya terjadi gangguan fungsi control
terahadap agresi dan emosi yang disebabkan oleh keracunan logam berat
seperti mercury yang banyak terdapat dalam makanan yang dikonsumsi ibu
yang sedang hamil, misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang
tinggi. Pada penelitian diketahui dalam tubuh anak-anak penderita autis
terkandung timah hitam dan merkuri dalam kadar yang relatif tinggi.
Anak kurang dapat mengendalikan emosinya, seringkali terlalu
agresif atau sangat pasif. Hippocampus bertanggung jawab terhadap
fungsi belajar dan daya ingat. Terjadilah kesulitan penyimpanan
informasi baru. Perilaku yang diulang-ulang yang aneh dan hiperaktif
juga disebabkan gangguan hippocampus. Faktor genetika dapat
menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel sel saraf dan sel otak, namun
diperkirakan menjadi penyebab utama dari kelainan autisme, walaupun
bukti-bukti yang konkrit masih sulit ditemukan.
Diperkirakan masih banyak faktor pemicu yang berperan dalam
timbulnya gejala autisme. Pada proses kelahiran yang lama (partus
lama) dimana terjadi gangguan nutrisi dan oksigenasi pada janin dapat
memicu terjadinya austisme. Bahkan sesudah lahir (post partum) juga
dapat terjadi pengaruh dari berbagai pemicu, misalnya : infeksi ringan
sampai berat pada bayi. Pemakaian antibiotika yang berlebihan dapat
menimbulkan tumbuhnya jamur yang berlebihan dan menyebabkan
terjadinya kebocoran usus (leaky get syndrome) dan tidak sempurnanya
pencernaan protein kasein dan gluten. Kedua protein ini hanya terpecah
sampai polipeptida. Polipeptida yang timbul dari kedua protein tersebut

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

terserap kedalam aliran darah dan menimbulkan efek morfin pada otak
anak. Dan terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang
diperlukan dalam pertumbuhan otak tidak dapat diserap oleh tubuh, ini terjadi
karena adanya jamur dalam lambungnya, atau nutrisi tidak terpenuhi karena
faktor ekonomi.
D. PATOFISIOLOGI
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls
listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu
(korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di bagian otak
berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat sinaps.
Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan. Pada
trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai pembentukan
akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar dua
tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa
bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini
dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai
brain growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan
akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan.
Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson,
dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan
kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan sinaps.
Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak
adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses proses
tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.
Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui
pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya
neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor,
neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene peptide)
yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk mengatur

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan


jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan

neurokimia

otak

secara

abnormal

menyebabkan

pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autisme terjadi


kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak tumbuh dan
mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel
saraf lain. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel
saraf tempat keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil
pada autisme. Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan
akson, glia (jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga
terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan
akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan
brain derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian
sel Purkinye.
Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder.
Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye merupakan
gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan karena ibu
mengkomsumsi makanan yang mengandung logam berat.
Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang,
kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye.
Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan
atau obat seperti thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal
mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensorimotorik, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak
kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses persepsi
atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi
lingkungan.
Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar bagian
depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Menurut kemper dan Bauman
menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan
amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses
memori).
Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain
kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng,
yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.
Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak
antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri,
infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
Meliputi kemampuan berbahasa dan mengalami keterlambatan atau
sama

sekali

tidak

dapat

bicara.

Menggunakan

kata-kata

tanpa

menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi


dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam
waktu singkat. Kata-katanya tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Tidak
mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
Ekolalia (meniru atau membeo), meniru kata, kalimat atau lagu tanpa tahu
artinya. Bicara monoton seperti robot.
2. Gangguan dalam bidang interaksi social
Meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak
menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang
atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang
yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknnya.
Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati
malah menjauh.
3. Gangguan dalam bermain
Diantaranya bermain sangat monoton dan aneh, misalnya menderetkan
sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada mobil dan
mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama. Ada kedekatan
dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus
dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

10

mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, gelang karet, baterai atau
benda lainnya. Tidak spontan, reflaks dan tidak berimajinasi dalam
bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai
permainan yang bersifat pura-pura. Sering memperhatikan jari-jarinya
sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak. Perilaku yang
ritualistik sering terjadi, sulit mengubah rutinitas sehari-hari, misalnya bila
bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila bepergian harus
melalui rute yang sama.
4. Gangguan perilaku
Dilihat dari gejala sering dianggap sebagi anak yang senang kerapian harus
menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat
hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia
datangi, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari dan
berlari-lari tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti dirinya sendiri
seperti memukul kepala di dinding. Dapat menjadi sangat hiperaktif atau
sangat pasif (pendiam), duduk diam bengong denagn tatap mata kosong.
Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada
satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal
sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri.
Gangguan kognitif tidur, gangguan makan dan gangguan perilaku lainnya.
5. Gangguan perasaan dan emosi
Dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah
tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum),
terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, bahkan bisa
menjadi agresif dan merusak. Tidak dapt berbagi perasaan (empati) dengan
anak lain.
6. Gangguan dalam persepsi sensori
Meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya (penglihata), pendengaran,
sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila
mendengar suara keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

11

rambutnya. Merasakan tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak


menyukai pelukan, bila digendong sering merosot atau melepaskan diri
dari pelukan.
7. Intelegensi
Dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara
fungsional. Kecerdasan sering diukur melalui perkembangan nonverbal,
karena terdapat gangguan bahasa. Didapatkan IQ dibawah 70 dari 70%
penderita, dan dibawah 50 dari 50%. Namun sekitar 5% mempunyai IQ
diatas 100. Anak autis sulit melakukan tugas yang melibatkan pemikiran
simbolis atau empati. Namun ada yang mempunyai kemampuan yang
menonjol di suatu bidang, misalnya matematika atau kemampuan memori.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat
menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-tes
secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya
autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah berkembang
dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:
Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme masa
kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970 yang
didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala hingga 15;
anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang, penggunaan
gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan mendengar dan
komunikasi verbal

The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar


pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk mendeteksi
anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron Cohen di awal
tahun 1990-an.

The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang


terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4 tahun
untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka
The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme
bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di Vanderbilt

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

12

didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu; bermain, imitasi motor


dan konsentrasi.
G. PENATALAKSANAA
Penatalaksanaan dibagi dua yaitu penatalaksanaan medis dan
penatalaksanaan keperawatan.
1. PENATALAKSANAAN MEDIS
Umunya terapi yang diberikan ialah terhadap gejala, edukasi dan
penerangan kepada keluarga, serta penanganan perilaku dan edukasi bagi
anak. Manajemen yang efektif dapat mempengaruhi outcome. Intervensi
farmakologi, yang saat ini dievaluasi, mencakup obat fenfluramine,
lithium, haloperidol dan naltrexone. Terhadap gejala yang menyertai.
Terapi anak dengan autisme membutuhkan identifikasi diri. Intervensi
edukasi yang intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi individual, staf
yang terlatih baik, peran serta orang tua dapat meningkat prognosis.
Terapi perilaku sangat penting untuk membantu para anak autis untuk
lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja guru yang
harus menerapkan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap anggota
keluarga di rumah harus bersikap sama dan konsisten dalam menghadapi
anak autis. Terapi peilaku terdiri dari tetapi wicara, terapi okupasi, dan
menghilangkan perilaku yang asosial. Dalam terapi farmakologi
dinyatakan belum ada obat atau terapi khusus yang menyembuhkan
kelainan ini. Medikasi (terapi obat) berguna terhadap gejala yang
menyertai, misalnya haloperidol, risperidone dan obat anti-psikotik
teradap perilaku agresif, ledakan-ledakan perilaku, instabilitas

mood

(suasana hati). Obat antidepresi jenis SSRI dapat digunakan terhadap


ansietas, kecemasan, mengurangi stereotip dan perilaku perseveratif dan
mengurangi ansietas dan fluktuasi mood. Perilaku mencederai diri sendiri
dan mengamuk kadang dapat diatasi dengan obat naltrexone.
2. PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan pada autisme bertujuan untuk:
1) Mengurangi masalah perilaku.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

13

2) Terapi perilaku dengan memanfaatkan keadaan yang terjadi dapat


meningkatkan kemahiran berbicara. menagement perilaku dapat
mengubah perilaku destruktif dan agresif.
3) Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangan terutama
bahasa.
Latihan dan pendidikan dengan menggunakan pendidikan (operant
conditioning yaitu dukungan positif (hadiah) dan dukungan negatif
(hukuman).
4) Anak bisa mandiri dan bersosialisasi.
Mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan praktis.

PENYIMPANGAN KDM

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

14

Partus lama

Keracunan
logam

Genetik

Gangguan
nutrisi dan
oksigenisasi

MK: Resti
infeksi

>>> neurotropin
dan neuropaptida

Infeksi jamur

Kerusakan pada
sel purkinye dan
hippocampus

Gg pada otak

Abnormalitas
pertumbuhan sel
saraf

Gg keseimbangan
serotonin dan
dopamin

Peningkatan
neurokimia secara
abnormal

Gg pada
otak kecil

Growth
without
guidance

Pemakaian
antibiotik
berlebihan

Reaksi atensi
lebih lambat

Kebocoran usus dan tidak


sempurna pencernaan
kasein dan gluten

Protein terpecah
sampai polipeptida

Kasein dan gluten


terserap kedalam
aliran darah

Menimbulkan
efek morfin pada
otak

AUTISME

Gg interaksi
sosial

Gg
komunikasi

Keterlam
batan dlm
berbahasa

MK: Gg
komunikasi
verbal dan
non verbal

Bicara
monoton
dan tidak
dimenger
ti orang
lain

Menga
baikan
dan
menghi
ndari
orang
lain

Acuh tak
acuh thd
lingku
ngan dan
orang
lain

Gg
perilaku

Peri
laku
yang
aneh

Gg persepsi
sensori

hiperaktif

Penglihatan

pendengaran

Sangat
agresif
thd
orang lain
dirinya
sendiri

Sensitif
thd
cahaya

Menutup
telinga bila
mendengar
suara

MK :
kelemahanBAB II
interaksi
sosial KEPERAWATAN
KONSEP

MK :
perubahan
persepsi
sensori

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

15

A. PENGKAJIAN
a. Identitas klien
Meliputi nama anak, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, suku
bangsa, tanggal, jam masuk RS, nomor registrasi, dan diagnosis medis.
b. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya anak autis dikenal dengan kemampuan berbahasa,
keterlambatan atau sama sekali tidak dapat bicara. Berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi
dalam waktu singkat, tidak senang atau menolak dipeluk. Saat bermain
bila didekati akan menjauh. Ada kedekatan dengan benda tertentu
seperti kertas, gambar, kartu atau guling, terus dipegang dibawa kemana
saja dia pergi. Bila senang satu mainan tidak mau mainan lainnya.
Sebagai anak yang senang kerapian harus menempatkan barang tertentu
pada tempatnya. Menggigit, menjilat atau mencium mainan atau bend
apa saja. Bila mendengar suara keras, menutup telinga. Didapatkan IQ
dibawah 70 dari 70% penderita, dan dibawah 50 dari 50%. Namun
sekitar 5% mempunyai IQ diatas 100.
Riwayat kesehatan dahulu (ketika anak dalam kandungan)
Sering terpapar zat toksik, seperti timbal.
Cidera otak
Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit
serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau
keturunan. Biasanya pada anak autis ada riwayat penyakit keturunan.
c. Status perkembangan anak.
Anak kurang merespon orang lain.
Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.
Anak mengalami kesulitan dalam belajar.
Anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.
Keterbatasan kognitif.
d. Pemeriksaan fisik
Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/sentuhan).
Terdapat ekolalia.
Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain.
Anak tertarik pada suara tapi bukan pada makna benda tersebut.
Peka terhadap bau.
e. Psikososial
Menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

16

Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem


Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
Perilaku menstimulasi diri
Pola tidur tidak teratur
Permainan stereotip
Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
Tantrum yang sering
Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu pembicaraan
Kemampuan bertutur kata menurun
Menolak mengkonsumsi makanan yang tidak halus
f. Neurologis
Respons yang tidak sesuai terhadap stimulus
Refleks mengisap buruk
Tidak mampu menangis ketika lapar
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelemahan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
percaya pada orang lain.
2. Gangguan komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan
keterlambatan dalam berbahasa.
3. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan sensitif terhadap
penglihatan.
4. Resiko tinggi infeksi behubungan dengan mikroorganisme (jamur).
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
1.

Diagnosa
keperawatan
Kelemahan
interaksi sosial
berhubungan
dengan
ketidakmampua
n untuk percaya
pada orang lain.

Tujuan
Klien mau
memulai
interaksi
dengan
pengasuh
nya

Kriteria hasil
Memulai
interaksi
dengan
pengasuh
nya

Intervensi
Mandiri :
Batasi jumlah
pengasuh pada
anak.
Tunjukan rasa
kehangatan/kera
mahan dan
penerimaan pada
anak.
Tingkatkan
pemeliharaan dan
hubungan
kepercayaan.
Motivasi anak
untuk
berhubungan
dengan orang
lain.

Rasional
Mandiri :
Memberikan kepada
klien untuk
mempermudah dalam
interaksi
Menunjukkan rasa
kehangatan akan
membuat klien
mudah percaya pada
pengasuh
Memelihara
kepercayaan akan
mempereat interaksi
antara klien dengan
pengasuhnya
Membuat klien akan
beirnteraksi dengan
lingkungan sekitar
klien

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

17

2.

Gangguan
komunikasi
verbal dan non
verbal
berhubungan
dengan
keterlamba
tan dalam
berbahasa

Agar pasien
dapat mengindikasi-kan
pemahaman tentang
maslah
komunikasi

Mengindiksikan pemahaman
tentang
masalah
komunikasi
Mem-buat
metode
komunika
si di mana
kebutuhan dapat
diekspresi
kan
Menggunakan
sumbersumber
dengan
tepat

Mandiri :
Mintalah pasien
untuk
mengucapkan
suara sederhana
seperti sh atau
pus

Kaji tipe/derajat
disfungsi, seperti
pasien tidak
tampak
memahami kata
atau mengalami
kesulitan
berbicara

Perhatikan
kesalahan dalam
komunikasi dan
berikan umpan
balik

Bicaralah dengan
nada normal dan
hindari
percakapan yang
cepat, berikan
pasien jarak
waktu untuk
merespon

Hargai
kemampuan
pasien sebelum
terjadi penyakit,
hindari pembicaraan yang
merendah-kan

Mengidentifikasi
adanya disatria sesuai
komponan motorik
dari bicara ( seperti
lidah, gerakan bibir,
kontrol napas ) yang
dapat mempengaruhi artikulasi
dan mungkin juga
tidak desertai afasia
motorik
Membantu
menentukan daerah
dan derajat kerusakan
serebal yang terjadi
dan kesuliatan pasien
dalam beberapa atau
seluruh tahap
komunikasi, dengan
mengucap-kan katakata dengan benar
Pasien mungkin
kehilangan
kemampuan untuk
memantau ucapan
yang keluar dan tidak
menyadari bahwa
komunikasi yang
diucapkan tidak
nyata
Pasien tidak perlu
merusak
pendengaran dan
meninggikan suara
dapat menimbul-kan
marah pasien/menyebabkan kepedihan.
Memfokus-kan
respons dapat
mengabitkan frustasi
dan mungkin
menyebab-kan pasien
terpaksa untuk bicara
otomatis, seperti
me-mutarbalikan
kata, berbicara,
kasar/kotor
Kemampuan pasien
untuk merasakan
harga diri, sebab
kemampuan
intelektual pasien
seringkali tetap baik

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

18

3.

Perubahan
persepsi sensori
behubungan
dengan sensitif
terhadap
penglihatan

pada pasien
Agar pasien Memulai
Mandiri :
dapat peka
atau mem- Evaluasi adanya
terhadap
pertahangangguan
penglihatan
kan tingkat
penglihatan, catat
kesadaran
penurunan lapang
dan fungsi
pandang,
per-septual
perubahan
Mengakui
ketajaman
persepsi
dan
perubah-an
adanya
dalam
pandangan ganda
kemampuan
dan adanya
Men
trasikan
Dekati pasien
perilaku
dari
daerah
untuk
penglihatan yang
mengkompe
normal, biarkan
nsasi
lampu menyala,
terhadap
letakkan benda
defisit hasil
dalam
jangkauan
lapang
penglihatan
yang normal

Ciptakan
lingkungan
yang sederhana,
pindahkan
perabot
yang
membahayakan

4.

Risiko tinggi
infeksi

Risiko
Mem-pert
infeksi pada
ahankan

Bicara
dengan tenang,
per-lahan
dengan
mengguna-kan
kalimat
yang
pendek, dengan
mempertahanka
n kontak mata
Anjurkan
pasien
untuk
mengamati
kakinya
bila
perlu
dan
menyadari
posisi
bagian
tubuh tertentu

Mandiri :
Berikan

Munculnya gangguan
penglihatan dapat
berdampak negatif
terhadap kemampuan
pasien untuk
menerima
lingkungan dan
mempelajari kembali
keterampilan
sensorik dan
meningkatkan
terjadinya cidera
Pemberian
pengenalan terhadap
adanya oranag/benda
dapat membantu
masalah persepsi,
mencegah pasien dari
terkejut. Pe-nutupan
mata mungkin dapat
menurunkan
kebingungan karena
adanya pandangan
ganda
Menurunkan atau
membatasi jumlah
stimulus penglihatan
yang mungkin dapat
menimbulkan
kebingungan
terhadap intepretasi
lingkungan;
menurunkan
terjadinya kecelakaan
Pasien mungkin
mengalami
keterbatasan dalam
rentang perhatiana
atau masalah
pemahaman

Penggunaan stimulus
penglihatan dan
sentuhan mem-bantu
dalam mengintregasikan sisi yang sakit
dan memungkinkan
pasien untuk
mengalami kelalaian
sensasi dan pola
gerakan normal
Cara pertama untuk

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

19

behubungan
dengan mikroorganisme
(jamur)

klien dapat
teratasi

nomoter
dari tandatanda
infeksi
Men-capai
penyembu
han luka
pada
waktu-nya

perawatan antisesptik,
pertahankan
cuci tangan
yang baik
Observasi
daerah yang
mengalami
kerusakan

Pantau suhu
tubuh secara
teratur

Berikan
perawatan
parienal

menghindari infeksi

Deteksi dini
perkembangan
infeksi
memungkinkan
untuk melakukan
tindakan dengan
segera dan
pencegahan tehadap
komplikasinya
Dapat
mengindikasikan
perkembangan yang
selanjutnya
memerlukan tindakan
dengan segera
Menurunkan
kemungkinan
terjadinya
pertumbuhan infeksi
mikroorganisme

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang
secara klinis ditandai oleh gejala gejala diantaranya kualitas yang kurang
dalam kemampuan interaksi sosial dan emosional, kualitas yang kurang
dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang terbatas,
perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan
(stereotipik). Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap
pengalaman sensorik, yang terlihat sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini
penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa hal yang dapat memicu
adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor yang
berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak
normal atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan
pada neurotransmitter, dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

20

perilaku pada penderita. Dalam kemampuan intelektual anak autis tidak


mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan sosial dan respon anak
terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan
dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal hal kecil yang bagi
orang lain tidak menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik.
Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup
dengan normal seperti anak pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
B. SARAN
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca ksususnya
bagi mahasiswa-mahasiswi STIK Makassar Yapma dapat memahami asuhan
keperawatan autisme pada anak dan khususnya bagi orang tua yang memiliki
anak autisme.

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

21

DAFTAR PUSTAKA
https://id.scribd.com/doc/192463554/ASUHAN-KEPERAWATAN-PADAANAK-DENGAN-AUTISME-docx#download. Diakses 1 desember 2014 pukul
13:46:58 wita.
http://dhie-akamoto.blogspot.com/2012/04/askep-autisme-pada-anak.html diakses
1 desember 2014 pukul 13:51:53 wita
Marilynn E.1999.rencana asuhan keperawatan.Edisi tiga.Jakarta:EGC
Sacharin, r.m, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2, EGC, Jakarta
Behrman, Kliegman, Arvin, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih
Bahasa Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K), EGC, Jakarta
Anonim,Http:// www.Dikdasmen.Com/Pendidikan anak Autisme.Html
Soetjiningsih (1994). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: FK Udayana.
Yupi Supartini, 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
Hidayat, Aziz Alimul.2006. pengantar ilmu keperawatan 2. Edisi pertama. Jakarta
:Salemba Medika

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME

iii