Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

RESUME HUKUM LAUT INTERNASIONAL


“Prinsip-Prinsip Pengukuran Laut dan Sejarah Rezim-
Rezim Hukum Laut”

Oleh :

LINGGOM SIBARANI
(B1A007104)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BENGKULU
2010
“Prinsip-Prinsip Pengukuran Laut dan Sejarah Rezim-
Rezim Hukum Laut”

1. PRINSIP-PRINSIP PENGUKURAN LAUT.

Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982 mengatur


mengenai beberapa hal, pertama mengenai laut teritorial. Penarikan
garis pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial harus sesuai dengan
ketentuan garis pangkal lurus, mulut sungai dan teluk atau garis batas
yang diakibatkan oleh ketentuan-ketentuan itu dan garis batas yang
ditarik sesuai dengan tempat berlabuh di tengah laut. Dan penerapan
garis batas laut teritorial antara negara-negara yang pantainya
berhadapan atau berdampingan, harus dicantumkan dalam peta
dengan skala atau skala-skala yang memadai untuk penetapan garis
posisinya (pasal 16 ayat 1).
Kedua, untuk perairan Zona Ekonomi Eksklusif penarikan garis
batas terliat ZEE dan penetapan batas yang ditarik harus sesuai
dengan ketentuan penetapan batas yang ditarik harus sesuai dengan
ketentuan penetapan batass ekonomi eksklusif antar negar yang
pantainya berhadapan (opposite) atau berdampingan (adjacent) harus
dicantumkan pada pea dengan sekala yang memadai untuk
menentukan posisi nya (Pasal 75 Ayat 1).
Ketiga, untuk landas kontinen. Penarikan garis batas terluar
landas kontinen dan penetapan batas yang ditarik harus sesuai dengan
ketentuan penentuan batas landas kontinen antara negara yang
pantainya berhadapan (opposite) atau berdampingan (adjacent), harus
dicantumkan pada peta dengan skala atau skala-skala yang memadai
untuk penentuan posisinya (pasal 84 ayat 1).
Konvensi Hukum Laut Internasional memberikan kesempatan
kepada negara pantai untuk melakukan tinjauan terhadap wilayah
landas kontinen hingga mencapai 350 mil laut dari garis pangkal.
Berdasarkan ketentuan UNCLOS jarak yang diberikan adalah 200 mil
laut, maka sesuai ketentuan yang ada di Indonesia berupaya untuk
melakukan submission ke PBB mengenai batas landas kontinen
Indonesia diluar 200 mil laut, karena secara posisi geografis dan
kondisi geologis, Indonesia kemungkinan memiliki wilayah yang dapat
diajukan sesuai dengan ketentuan penarikan batas landas kontinen
diluar 200 mil laut.

Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS 1982) juga


melahirkan delapan zonasi pegaturan (regime) hukum laut yaitu,
1. Perairan Pedalaman (Internal waters),
2. Perairan kepulauan (Archiplegic waters) termasuk ke dalamnya selat
yang digunakan untuk pelayaran internasional,
3. Laut Teritorial (Teritorial waters),
4. Zona tambahan ( Contingous waters),
5. Zona ekonomi eksklusif (Exclusif economic zone),
6. Landas Kontinen (Continental shelf),
7. Laut lepas (High seas),
8..Kawasan dasar laut internasional (International sea-bed area).

Konvensi Hukum Laut 1982 mengatur juga pemanfaatan laut


sesuai dengan status hukum dari kedelapan zonasi pengaturan
tersebut. Negara-negara yang berbatasan dengan laut, termasuk
Indonesia memiliki kedaulatan penuh atas wilayah perairan
pedalaman, perairan kepulauan dan laut teritorial; sedangkan untuk
zona tambahan, zona ekonomi eksklusif dan landasan kontinen,
negara memiliki hak-hak eksklusif, misalnya hak memanfaatkan
sumberdaya alam yang ada di zona tersebut. Sebaliknya, laut lepas
merupakan zona yang tidak dapat dimiliki oleh negara manapun,
sedangkan kawasan dasar laut Internasioal dijadikan sebagai bagian
warisan umat manusia.

2. Sejarah Rezim-rezim Hukum Laut.

Pada abad ke 16 dan ke 17, Negara-negara kuat maritim


diberbagai kawasan Eropa saling merebutkan dan memperdebatkan
melalui berbagai cara untuk menguasai lautan di dunia ini. Negara-
negara tersebut yaiut adalah Negara-negara yang terkenal kuat dan
tangguh di lautan yaitu antara Spanyol dan Portugis.
• Spanyol dan Portugis yang menguasai lautan berdasarkan perjanjian
Tordesillas thn 1494, ternyata memperoleh tantangan dari Inggris (di
bawah Elizabeth 1) dan Belanda.
• Konferensi Internasional utama yang membahas masalah laut
teritorial ialah “codification conference” (13 Maret – 12 April 1930) di
Den Haag, di bawah naungan Liga Bangsa Bangsa, dan dihadiri
delegasi dari 47 negara.
• Konferensi ini tidak mencapai kata sepakat tentang batas luar dari
laut teritorial dan hak menangkap ikan dari negaranegara pantai pada
zona tambahan. Ada yang menginginkan lebar laut teritorial 3 mil (20
negara), 6 mil (12 negara), dan
4 mil.
Setelah perdebatan panjang dan tidak menemukan kata
kesepakatan diantara negara-negara yang bersengketa tentang
wilayah maritim, maka PBB yang sebelumnya bernama Liga Bangsa-
Bangsa mengadakan konfrensi hukum laut pertama pada tahun 1958
dan konfrensi hukum laut yang kedua pada tahun 1960 yaitu yang
lebuh dikenal dengan istilah UNCLOS 1 dan UNCLOS 2.
Dalam konfrensi hukum laut pertama ini melahirkan 4 buah
konvensi, dan isi dari konvensi Unclos pertama ini adalah, yaitu:
1. Konvensi tentang laut teritorial dan jalur tambahan (convention on
the territorial sea and contiguous zone) belum ada kesepakatan dan
diusulkan dilanjutkan di UNCLOS II
2. Konvensi tentang laut lepas (convention on the high seas)
a. Kebebasan pelayaran
b. Kebebasan menangkap ikan
c. Kebebasan meletakkan kabel di bawah laut dan pipa-pipa
d. Kebebasan terbang di atas laut lepas
3. Konvensi tentang perikanan dan perlindungan sumber-sumber
hayati di laut lepas (convention on fishing and conservation of the
living resources of the high sea)
4. Konvensi tentang landas kontinen (convention on continental shelf).
Konvensi ini telah disetujui.

Pada tanggal 17 Maret – 26 April 1960 kembali dilaksanakn


konfrensi hukum laut yang kedua atau UNCLOS II, membicarakan
tentang lebar laut teritorial dan zona tambahan perikanan, namun
masih mengalami kegagalan untuk mencapai kesepakatan, sehingga
perlu diadakan konferensi lagi.
Pada pertemuan konfrensi hukum laut kedua, telah disapakati untuk
mengadakan kembali pertemuan untuk mencari kesepakatan dalam
pengaturan kelautan maka diadakan kembali Konferensi Hukum Laut
PBB III atau Unclos III yang dihadiri 119 negara. Dalam pertemuan ini,
disapakati 2 konvensi yaitu:
• Konvensi hukum laut 1982 merupakan puncak karya dari PBB
tentang hukum laut, yang disetujui di Montego Bay, Jamaica (10
Desember1982),ditandatangani oleh 119 negara.
• Ada 15 negara yang memiliki ZEE besar: Amerika Serikat, Australia,
Indonesia, New Zealand, Kanada, Uni Soviet, Jepang, Brazil, Mexico,
Chili, Norwegia, India, Filipina, Portugal, dan Republik Malagasi.

Dalam dekade abad ke-20 telah 4 kali diadakan usaha untuk


memperoleh suatu himpunan tentang hukum laut, diantaranya:
1. Konferensi kodifikasi Den Haag (1930) di bawah naungan Liga
Bangsa-Bangsa
2. Konferensi PBB tentang hukum laut I (1958) UNCLOS I
3. Konferensi PBB tentang hukum laut II (1960) UNCLOS II
4. Konferensi PBB tentang hukum laut III (1982) UNCLOS III
Kepentingan dunia atas hukum laut telah mencapai puncaknya
pada abad ke-20. Faktor-faktor yang mempengaruhi negaranegara di
dunia membutuhkan pengaturan tatanan hukum laut yang lebih
sempurna adalah:
• Modernisasi dalam segala bidang kehidupan
• Tersedianya kapal-kapal yang lebih cepat
• Bertambah pesatnya perdagangan dunia
• Bertambah canggihnya komunikasi internasional
• Pertambahan penduduk dunia yang membawa konsekuensi
bertambahnya perhatian pada usaha penangkapan ikan.

Dari penjelasan-penjelasan sejarah konfrensi hukum laut diatas,


terdapat 4 pengaturan hukum laut internasional yang telah
disepakati oleh beberapa Negara dalam konvensi-konvensi yang
selanjut nya dikatakan sebagai rezim-rezim hukum laut.
Daftar Pustaka

Peter Malacz Akehurst’s, Modern Introduction to International Law


karangan Routledge Press London, UK pada tahun 2003 (The Law of
The Sea).