Anda di halaman 1dari 20

SUMBER DAN DALIL HUKUM

YANG DISEPAKATI
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Penetapan hukum dalam agama Islam harus didasari dengan pijakan atau alasan yang
disebut sumber hukum. Dengan berkembangnya zaman, baik di bidang ekonomi, sosial politik,
teknologi dan informasi, adakalanya timbul permasalah-permasalahan baru. Oleh karena itu
dibutuhkan suatu penetapan hukum terhadap masalah tersebut.
Pada zaman Rosulullah SAW, permasalahan yang timbul dapat ditanyakan langsung
kepada Nabi SAW sebagai pengemban dan sumber hukum Islam. Namun setelah Nabi wafat,
kepada siapa kita bertanya? hanya al-Quran dan sunah Nabi SAW yang beliau waritskan.
Dalam makalah ini penyusun akan membahas masalah-masalah tersebut dengan
mengemukakan dalildalil al-Quran dan sunah.
2. Pembahasan Makalah
Dalam makalah ini akan dibahas tentang Sumber Dan Dalil Hukum Agama Islam Yang
Disepakati yang menjadi judul makalah ini.
3. Metode Penulisan
Makalah ini disusun dengan menggunakan metode literature atau kepustakaan yang
berhubungan dengan sumber-sumber hukum Islam.

BAB II
USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sumber Dan Dalil


1. Pengertian Dalil
Dalam kajian ilmu usul fiqh, para ulama usul mengartikan dalil secara etimologis dengan
sesuatu

yang dapat memberikan petunjuk kepada apa yang dikehendaki. Adapun secara

terminologis yang dimaksud dengan dalil hukum ialah segala sesuatu yang dapat dijadikan
petunjuk dengan menggunakan pikiran yang benar untuk menentukan hukum syara yang bersifat
amali, baik secara qoti maupun secara zanni.
Dari pengertian yang telah dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa pada dasarnya
yang disebut dalil hukm ialah: segala sesuatu yang dapat dijadikan landasan atau pijakan yang
dapat dipergunakan dalam upaya menemukan dan menetapkan hukum syara atas dasar
pertimbangan yang benar dan tepat. Oleh karena itu dalam ber-istinbat (penetapan hukum)
persoalan yang mendasar yang harus diperhatikan adalah menyangkut apa yang menjadi dalil
yang dapat dipergunakan dalam menetapkan hukum syara dari suatu persoalan yang dihadapi.
2. Pengertian Sumber
Terhadap dalil hukum ,ada sebutan lain di kalangan ulama ushul seperti istilah masadir al
ahkam,masadir al syariah ,masadir al tasyri atau yang diartikan sumber hukum.Istilah-istilah ini
jelas mengandung makna tempat pengambilan atau rujukan utama serta merupakan asal
sesuatu.Sedangkan dalil atau yang diistilahkan adillat al ahkam,ushul al ahkam,asas al tasyri dan
adillat al syariah mengacu kepada pengertian sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk sebagai
alasan dalam menetapkan hukum syara.Dalam konteks ini Al Quran dan As Sunah adalah
merupakan sumber hukum dan sekaligus menjadi dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya
seperti al ijma,al qiyas,dan lain lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber kecuali hanya sebagai
dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.
Akan tetapi, dalam perkembangan perkembangan pemikiran ushul fikih yang terlihat
dalam kitab-kitab ushul fikih kontemporer, istilah sumber hukum dan dalil hukum tidak
dibedakan. Mereka menyatakan bahwa apayang disebut dengan dalil hukum adalah dibedakan.
Mereka menyatakan bahwa apayang disebut dengan dalil hukum adalah mencakup dalil-dalil
lain yang dipergunakan dalam istinbat hukum selain Al Quran dan as sunnah. Sebab, keduanya
merupakan istilah teknis yang yang dipakai oleh para ulama ushul untuk menyatakan segala
USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
sesuatu yang dijadikan alasan atau dasar dalam istinbat hukum dan dalam prakteknya mencakup
Al Quran, as-sunnah dan dalil-dalil atau sumber-sumber hukum lainnya. Oleh karena itu,
dikalangan ulama ushul masalah dalil hukum ini terjadi perhatian utama atau dipandang
merupakan sesuatu hal yang sangat penting ketika mereka berhadapan dengan persoalanpersoalan yang akan ditetapkan hukumnya. Dengan demikian setiap ketetapan hukum tidak akan
mempunyai kekuatan hujjah tanpa didasari oleh pijakan dalil sebagai

pendukung ketetapan

tersebut.
Keberadaan dalil sebagai pijakan yang mendasari suatu ketetapan hukum mutlak harus
diperhatikan dan tidak bisa diabaikan. Jika dilihat dari segi keberadaannya, maka dalil dapat
dibedakan kepada dua macam, yaitu:
1. Al-Adillah Al-Ahkam Al-Manshushah atau dalil-dalil hukum yang keberadaannya
secara tekstual terdapat dalam nash. Dalil-dalil hukum yang dikategorikan kepada
bagian ini adalahAl Quran dan as sunnah atau disebut pula dengan dalil naqli.
2. Al-Adillah Al-Ahkam ghoirul Manshushah atau dalil-dalil hukum yang secara
tekstual tidak disebutkan oleh nash Al Quran dan as sunnah. Dalil-dalil ini
dirumuskan melalui ijtihad dengan menggunakan penalaran rayu dan disebut pula
dengan dalil aqli.
Adapun dalil-dalil yang dikelompokkan kepada kategori terakhir ini meliputi Ijma, Qiyas,
Istihsan, Mashalih Mursalah, Istishab, Urf, Syarun Man Qablana dan Qaul Shahabi. Ijma dan
Qiyas hampir seluruh mazhab mempergunakannya, sedangkan dalil-dalil yang keberadaannya
menimbulkan perdebatan di kalangan ulama mazhab ushul. Perbedaan ini muncul karena ketika
ulama ushul tidak menemukan dalil atau alasan yang mendasari suatu hukumdari Nash, maka
mereka menggunakan rayu mereka masing-masing dengan rumusan tersendiri.
Atas dasar ini para ulama ushul di berbagai mazhab menyusun dan berpijak pada
sistematika istinbat yang mereka susun masing-masing secara berurutan dengan menempatkan
dalil-dalil rayu setelah Al Quran dan as sunnah.
B. Sumber Hukum Islam
1. Al-Quran
a. Pendekatan Etimologi Dan Terminologi
Al-Quran menurut etimiologis adalah bacaan, kalamullah, kata al-Quran berasal dari
kata kerja qaraa yang berarti membaca dan bentuk masdarnya adalah quran yang berarti

USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
bacaan.
Al-Quran dengan makna bacaan dinyatakan oleh Allah SWT dalam beberapa
ayat, antara lain dalam surat al-Qiyamah, al-Baqarah dan lain sebagainya.

Sedangkan Al-Quran menurut terminologis adalah wahyu Allah yang berfungsi sebagai
mujizat bagi Rasulallah Muhammad SAW, pedoman hidup bagi setiap muslim dan sebagai
kolektor serta penyempurnaan terhadap kitab-kitab Allah sebelunnya yang bernilai abadi dan
bernilai ibadah bagi yang membaca, menghapal dan mengamalkannya.
Para ulama berbeda pendapat tentang hakikat al-Quran. Imam al-Ghazali menjelaskan
dalam kitab al-Mustasfa min Ilm al-Usul, bahwa hakikat al-Quran adalah kalam yang berdiri
pada Zat Allah SWT, yaitu salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah yang Qadim. Menurut
mutakallimin (ahli teologi Islam), hakikat al-Quran ialah makna yang berdiri pada Zat

Allah

SWT. Adapun menurut golongan Muktazilah, hakikat al-Quran adalah huruf-huruf dan suara
yang diciptakan Allah SWT. yang setelah berwujud lalu hilang lenyap. Dengan pendapat ini
kaum Muktazilah memandang al-Quran sebagai makhluk (ciptaan) Allah SWT. karena itu, alQuran bersifat baru, tidak qadim.
Sebagai mujizat, Al-Quran telah menjadi salah satu sebab masuknya orang-orang Arab
di zaman Rosullallah kedalam agama Islam, dan menjadi sebab penting bagi masuknya orangorang penting sekarang, dan bagi masa yang akan datang.
Muzijat menurut Imam as-Suyuti adalah sesuatu diluar kebiasaan yang disertai dengan
adanya tantangan. Menurut DR. Muhammad Quraish Shihab sesuatu dinamakan muzijat apabila
memenuhi 4 unsur yaitu:
1.
2.
3.
4.

Suatu hal yang ada di luar kebiasaan


Nampak pada diri seorang Nabi
Disertai dengan adanya tantangan
Sesuatu yang tidak sanggup ditantang orang

USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
Dari segi bahasa, ulama sepakat al-Quran memiliki uslub (gaya bahasa) yang tinggi,
fasahah (ungkapan kata yang jelas) dan balaghah (kefasihan lidah) yang dapat mempengaruhi
jiwa pembaca dan pendengarnya yang memiliki rasa bahasa Arab yang tinggi.
Dari segi kandungan isi muzijat al-Quran dapat dilihat dilihat dari 3 aspek:
1. Merupakan isyarat ilmiah. Al-Quran banyak berisi informasi ilmu pengetahuan
walaupun hanya dalam bentuk isyarat ilmiah, seperti informasi mengenai ilmu
pengetahuan alam. Antara lain dikatakan bahwa bumi dan langit sebenarnya
merupakan suatu yang padu dan setelah terpisah dijadikan segala sesuatu yang
hidup.

(Q.S. 21;30)
2. Merupakan sumber hukum. Al-Quran telah memberikan andil yang kuat dalam
pertumbuhan hukum, bahkan al-Quran tetap merupakan produk hukum yang
ideal hingga masa kini. Al-Quran merupakan sumber hukum utama dan pertama
dalam agama Islam.
3. Menerangkan suatu ibrah (teladan) dan kabar ghaib, baik yang terjadi pada masa
lalu, sekarang maupun yang akan datang. Al-Quran mengandung berita-berita
tentang hal-hal yang ghaib, seperti surga, neraka, hari kiamat dan hari
perhitungan. Selain itu al-Quran juga banyak mengungkapkan kisah-kisah para
Nabi dan umat masa lampau, seperti kisah Firaun, kisah kaum Ad dan Samud,
kisah Nabi
menyinggung

Yusuf AS. dan Nabi Ibrahim AS. al-Quran banyak pula


masalah-masalah yang belum terjadi di masanya, seperti

kemenangan bangsa Romawi

(Q.S. 30;1-3)
Ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, meyakinkan kita bahwa Al-Quran
adalah firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad SAW.
yang ummi, yang hidup pada awal abad keenam masehi (571 632 M). Allah SWT. berfirman :

USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI

(Q.S. 7;158)
Demikian juga dengan ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah tentang kekuasaan
Mesir, dapat menberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah bukan
ciptaan manusia. Ayat ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian
dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa romawi dan lain-lain, menjadi bukti kepada kita
bahwa A-Quran adalah wahyu Allah SWT. sebagaimana firman-Nya:

(Q.S. 30;2-4), (Q.S. 5;14)


Al-Quran adalah mujizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan susunan katanya
tidak dapat diketemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur namun
mudah dimengerti adalah merupakan cirri gaya bahasa al-Quran karena gaya bahasa demikian
itulah, Umar bin khathab masuk Islam setelah mendengar al-Quran awaql surat Thaha yang
dibaca adiknya.
Dan al-Quran mennyatakan bahwa sebab seseorang yang tidak menerima kebenaran
al-Quran sebagai wahyu Illahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu:
Tidak berfikir dengan jujur dan sungguh-sungguh;
Tidak sempat mendengar dan mengetahui al-Quran secara baik. Sebagaimana
firman-Nya:

USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI

(Q.S. 67;10), (Q.S. 4;82)


Sebagai jaminan al-Quran itu sebagai wahyu Allah, maka al-Quran sendiri menantang
setiap manusia, jin dan semua mahluk yang ada di jagat raya ini untuk membuat satu surat saja
yang senilai dengan al-Quran. Firman Allah:

(Q.S. 67;10), (Q.S. 17;28)


Sebagai pedoman hidup, al-Quran banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsipprinsip umum pengaturab hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah, manusia dengan
manusia dan mahluk lainnya.
Didalam al-Quran terdapat peraturan yang mereka tulis, mereka hafalkan dan sekaligus
mereka amalkan.Pada awal pemerintahan khalifah yang pertama dari Khulafaur Rasyidin, yaitu
Abu Bakar Shidiq, al-Quran telah dikumpulkan dalam mushhaf tersendiri. Dan pada zaman
khalifah yang ketiga, Ustman bin Affan, al-Quran telah diperbanyak. Dan Alhamdulillah alQuran yang asli sampai saat ini masih ada dan terawatt dengan baik.

USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
Dalam perkembangan selanjutnya, tumbuh pula usaha-usaha untuk menyempurnakan
cara-cara penulisan, penyeragaman bacaan, dalam rangka menghindari adanya kesalahankesalahan bacaan maupun tulisan. Karena penulisan al-Quran pada masa pertama tidak
memakai tanda baca (tanda titik dan harakat), maka al-Khalil mengambil inisiatif untuk
membuat tanda-tanda yang baru, yaitu huruf waw yang kecil diatas untuk tanda dhamah, huruf
alif kecil diatas untuk tanda fathah, alif kecil dibawah untuk tanda kasrah, kepala huruf sin
untuk tanda siddah, kepala ha untuk sukun, dan kepala ain untuk hamzah.kemudian tandatanda ini dipermudah, dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang kita saksikan
sekarang.
Perkembangan selanjutnya tumbuhlah beberapa macam tafsir al-Quran yang ditulis oleh
ulama Islam, yang sampai saat ini tidak kurang dari 50 macam tafsir al-Quran. Juga telah
tumbuh bermacam disiplin ilmu untuk menbaca dan membahas al-Quran.
b. Pembahasan Ilmu-ilmu Yang Berhubungan Dengan Al-Quran.
Ilmu-ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Quran, antara lain:
1. Ilmu Mawatil Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang tempat-tempat turunnya
al-Quran.
2. Ilmu Asbabul Nuzul, yaitu ilmu yang membahas tentang sebab-sebab turunnya alQuran.
3. Ilmu Tajwid, yaitu ilmu tentang membahas tentang teknik membaca al-Quran.
4. Ilmu Wajuh wa Nadhar, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat yang
memiliki banyak arti dan makna.
5. Ilmu Amtsalil Quran, yaitu ilmu yang membahas tentang perumpamaanperumpamaan dalam al-Quran.
6. Ilmu Aqsamil Qurqn, yaitu ilmu yang membahas tentang maksud-maksud
sumpah Tuhan dalam al-Quran.
7. Gharibil Qurqn, yaitu ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat yang asing
c.

artinya dalam al-Quran.


Isi Dan Kandungan Al-Quran

Al-Quran terdiri dari 114 surat dan 6666 ayat, 91 surat yang turun di Mekkah dan 23
surat lainnya turun di Madinah. Adapula yang berpendapat, 86 surat turun di Makkah dan 28
surat turun di Madinah. Menurut perhitungan ulama Kuffah, seperti Abdurrahman as-Salmi, alQuran terdiri dari 6.236. Menurut as-Suyuti, terdiri dari 6.000 lebih. Sedangkan menurut alAlusi, menyebutkan bahwa jumlah ayat al-Quran sekitar 6.616 ayat. Perbedaan jumlah ayat ini
USUL FIQIH

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
disebabkan adanya perbedaan pandangan di antara mereka tentang kalimah Basmalah pada awal
surat dan Fawatih as-Suwar (kata-kata pembuka surat), seperti Yasin, Alif Lam, Mim, dan Ha
Mim. Ada yang menggolongkan kata-kata pembuka tersebut sebagai ayat dan ada pula yang
tidak menggolongkannya sebagai ayat.
Surat yang turun di Mekkah dinamakan surat Makkiyah, masa turunnya selama 12 tahun,
5 bulan, 13 hari yang dimulai pada tanggal 17 Ramadhan pada saat usia Nabi 40 tahun. Surat
Makkiyah umumnya pendek-pendek, menyangkut prinsif kepada manusia. Sedangkan yang
turunnya di Madinah dinamakan surat Madaniyah, yang pada umumnya suratnya panjangpanjang, menyangkut peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan
atau seseorang dengan yang lainnya.
Atas inisiatif para ulama, maka kemudian al-Quran dibagi-bagi menjadi 30 juz, dalam
tiap-tiap juz dibagi-bagi menjadi setengah juz, seperempat juz, makro dan lain sebagainya.
Dari sejumlah ayat yang ada dalam al-Quran, 4.726 ayat adalah ayat-ayat Makkiyah.
Selebihnya adalah ayat-ayat Madaniyah. Apabila dilihat dari segi kandungan isinya, ayat-ayat
Makkiyah, yang merupakan tiga perempat dari isi al-Quran, pada umumnya mengandung
keterangan dan penjelasan tentang keimanan, perbuatan baik dan jahat, pahala bagi orang yang
beriman dan beramal shaleh, siksaan bagi orang yang kafir dan durhaka, kisah-kisah para Rosul
dan Nabi, cerita dari umat terdahulu, dan berbagai perumpamaan untuk dijadikan teladan dan
ibarat. Adapun ayat-ayat Madaniyah pada umumnya menjelaskan hal-hal yang erat hubungannya
dengan hidup kemasyarakatan atau masalah-masalah muamalah, antara lain hukum-hukum yang
berkenaan dengan perkawinan, waris, perjanjian dan perang.
Secara keseluruhan, isi al-Quran dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) pembahasan
pokok, yaitu:
1. Pembahasan mengenai prinsif-prinsif akidah (keimanan)
2. Pembahasan yang menyangkut prinsif-prinsif ibadah
3. Pembahasan yang menyangkut prinsif-prinsif syariat
d. Nama-nama Al-Quran.
Nama-nama al-Quran pada umumnya telah dijelasdkan dalam al-Quran itu sendiri,
berikut ini nama-nama al-Quran dan ayat yang menyebutkannya.
1. Al-Kitab

USUL FIQIH

: tulisannya lengkap

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
2. Al-Furqan

: memisahkan yang hak dan yang bathil.

3. Al-Mauidah

: nasihat

4. Al-Hikmah

: kebijaksanaan

5. Al-Khair

: kebaikan

6. Al-huda

: yang memimpin

7. Al-Hukmu

: keputusan

8. Asy-Syifa

: obat

9. Adz-Dzikru

: peringatan

10. Ar-Ruh

11. Al-Muththaharah
USUL FIQIH

: ruh

: yang disucikan
10

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI

e. Nama-nama Surat Al-Quran.


Susunan surat-surat al-Quran yang ada sekarang berdasarkan kepada bacaan Nabi
setelah melaksanakan haji wada adalah sebagai berikut:

No.
Surat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.

Nama Surat
Al-Fatihah
Al-Baqarah
Ali Imran
An-Nisa
Al-Maidah
Al-Anam
Al-Araf
Al-Anfal
At-Taubah
Yunus
Hud
Yusuf
Ar-rad
Ibrahim
Al-Hijr
An-Nahl
Al-Isra
Al-Kahfi
Maryam
Thaha
Al-Anbiya
Al-Hajj
Al-Muminun
An-Nur
Al-furqan
Asy-syuara
An-Naml
Al-qashosh
Al-Ankabut
Ar-Ruum
lukman
As-Sajdah
Al-Ahzab

USUL FIQIH

Arti Surat
Pembukaan
Sapi betina
Keluarga Imran
Wanita
Hidangan
Binatang ternak
Tempat tinggi
Rampasan perang
pengampunan
Nabi Yunus
Hud
Nabi Yusuf
guruh
Nabi Ibrahim
batu gunung
lebah
perjalanan malam hari
gua
Siti maryam
Thaha
Para nabi
haji
Orang yang beriman
cahaya
pembeda
Para penyair
semut
Cerita-cerita
Laba-laba
Bangsa romawi
lukman
sujud
Golongan yang bersekutu

Jenis Surat
Makkiyah
Madaniyah
Madaniyah
Madaniyah
Madaniyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Madaniyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Makkiyah
Madaniyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah

Jumlah
Ayat
7
286
200
176
120
165
206
75
129
109
123
111
43
52
99
128
111
110
98
135
112
78
118
64
77
277
93
88
69
60
34
30
73
11

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
34.
Saba
35.
Fathir
36.
Ya Sin
37.
Ash-Shafat
38.
Shod
39.
Az-Zumar
40.
Al-Mumin
41.
Fushshilat
42.
Asy-Syura
43.
Az-Zukhruf
44.
Ad-Dukhon
45.
Al-Zatsiah
46.
Al-Akhqaf
47.
Muhammad
48.
Al-Fath
49.
Al-Hujarat
50.
Qaf
51.

Adz-Dzariat

52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59
60.
61.
62.
63.

At-Thur
An-Najm
Al-Qamar
Ar-Rahman
Al-Waqiah
Al-Hadid
Al-Mujadalah
Al-Hasyr
Al-Mumtahanah
Ash-Shaff
Al-Jumuah
Al-Munafiqun

64.

At-Taghabun

65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.

Ath-Thalak
At-Tahrim
Al-Mulk
Al-Qalam
Al-Haqqah
Al-Maarij
Nuh
Al-Jinn
Al-Muzzammil
Al-Muddatsir
Al-Qiamah

USUL FIQIH

Kaum saba
pencipta
Ya sin
Yang bershaf
Shod
rombongan
Orang yang beriman
Yang dijelaskan
Musyawarah
Perhiasan
Kabut
Yang berlutut
Bukit-bukit pasir
Nabi Muhammad
Kemenangan
Kamar-kamar
Qaf
Angin yang
menerbangkan
Bukit
Bintang
Bulan
Yang maha pemurah
Hari kiamat
Besi
Wanita yang menggugat
Pengusiran
Wanita yang diuji
Barisan
Hari jumat
Orang-orang munafik
Hari dinampakan
kesalahan
Talak
Mengharamkan
Kerajaan
Kalam
Hari kiamat
Tempat-tempat naik
Nabi Nuh
Jin
Orang yang berselimut
Orang yang berkemul
Hari kiamat

Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Madaniyah
Makkiyah

54
45
83
182
88
75
85
54
53
89
59
37
35
38
29
18
45

Makkiyah

60

Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Madaniyah
Madaniyah
Makkiyah
Madaniyah
Madaniyah
Madaniyah

49
62
55
78
96
29
22
24
13
14
11
11

Madaniyah

18

Madaniyah
Madaniyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah

12
12
30
52
53
44
28
28
20
56
40
12

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
76.
Al-Insan
77.

Al-Mursalat

78.

An-Naba

79.

An-Naziat

80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.

Abasa
At-Takwir
Al-Infithar
Al-Muthaffifin
Al-Insyiqaq
Al-Buruj
Ath-Thariq
Al-Ala
Al-Ghasyiyah
Al-Fajr
Al-Balad
Asy-Syams
Al-Layl

93.

Adh-Dhuha

94.
95.
96.
97.
98.
99.

Al-Insyirak
At-Tin
Al-Alaq
Al-Qadr
Al-Bayyinah
Al-Zalzalah

100.

Al-Adiyat

101.
102.
103.
104.
105.
106.

Al-Qariah
At-Takatsur
Al-Ashr
Al-Humazah
Al-Fil
Al-Quraisy

107.

Al-Maun

108.
109.
110.
111.

Al-Kautsar
Al-Kafirun
An-Nashr
Al-Lahab

112.

Al-Ikhlas

113.
114.

Al-Falaq
An-Nas

USUL FIQIH

Manusia
Malaikat-malaikat yang
diutus
Berita besar
Malaikat-malaikat yang
mencabut
Yang bermuka masam
Menggulung
Terbelah
Orang-orang yang curang
Terbelah
Gugusan bintang
Yang dating di malam hari
Yang paling tinggi
Hari pembalasan
Fajar
Negeri
Matahari
Malam
Waktu matahari
sepenggalahan naik
Melapangkan
Buah tin
Segumpal darah
Kemuliaan
Bukti
Kegoncangan
Kuda perang yang berlari
kencang
Hari kiamat
Bermegah-megahan
Masa
Pengumpat
Gajah
Suku quraisy
Barang-barang yang
berguna
Nikmat yang banyak
Orang-orang kafir
Pertolongan
Gejolak api
Memurnikan ke-esaan
Allah
Waktu subuh
manusia

Makkiyah

31

Makkiyah

50

Makkiyah

40

Makkiyah

46

Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah

40
29
19
36
25
22
17
1
26
30
20
15
21

Makkiyah

11

Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah

8
8
19
5
8
8

Makkiyah

11

Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah
Makkiyah

11
8
3
9
5
4

Makkiyah

Makkiyah
Makkiyah
Madaniyah
Makkiyah

3
6
3
5

Makkiyah

Makkiyah
Makkiyah

5
6
13

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
2. As-Sunnah (Al-Hadits)
a. Pengertian
Secara etimologis hadits dapat diartikan: baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, cerita.
Menurut ahli hadits: segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad SAW. atau segala
berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW. berupa ucapan, perbuatan, takrir, maupun
deskripsi sifat-sifat Nabi SAW. Menurut ahli usul fiqh: segala perkataan, perbuatan, dan takrir
Nabi SAW yang bersangkut-paut dengan hukum.
Istilah lain untuk sebutan hadits ialah sunah, kabar dan asar. Menurut sebagian ulama,
cakupan sunah lebih luas karena ia diberi pengertian segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik
berupa perkataan, perbuatan, takrir, maupun pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup dan
baik itu terjadi sebelum masa kerasulan maupun sesudahnya. Selain itu titik berat penekanan
sunah adalah kebiasaan normatif Nabi SAW.
Kabar yang berarti berita atau warta, selain dinisbatkan kepada Nabi SAW, bias juga
kepada sahabat dan tabiin. dengan denikian kabar lebih umum dari hadits karena termasuk di
dalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi SAW. asar yang juga sebagai nukilan, lebih
sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi SAW, meskipun kadang-kadang
dinisbatkan kepada Nabi SAW. Dalam lingkup pengertian yang sudah dijelaskan, kata tradisi
juga dipakai sebagai padanan kata hadits.
Perbedaan pengertian yang diberikan tentang hadits dan tentang pengertian kata yang
semaksud dengannya (sunah, kabar, asar) disebabkan adanya perbedaan sudut pandang para
ulama dalam melihat Nabi Muhammad SAW dan peri kehidupannya. Ulama hadits melihat Nabi
SAW sebagai pribadi panutan umat manusia. Ulama usul fiqh melihatnya sebagai pengatur
undang-undang dan pencipta dasar-dasar untuk berijtihad. Sedangkan para fukaha

(ahli fiqh)

melihatnya sebagai pribadi yang seluruh perbuatan dan perkataannya menunjuk pada hukum
agama (syara). Perbedaan sudut pandang tersebut membawa pengertian hadits pada perbedaan
pengertian, baik yang memberi penekanan yang amat terbatas dan tertentu, maupun yang
memahaminya dengan cakupan yang lebih luas asal saja itu dinukilkan dari Nabi SAW.
Istilah hadits juga dikenal dalam teologi Islam. Dalam bidang ini kata hadits
(jamaknya hawaadits) digunakan untuk pengertian suatu wujud yang sebelumnya tidak ada atau
sesuatu yang tidak azali/tidak kekal.
b. Jenis Hadits Berdasarkan Sumbernya
Dilihat dari segi sumbernya, hadits dapat dibedakan menjadi 2 (dua) macam, yaitu :
USUL FIQIH

14

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
1. Hadits Qudsi
2. Hadits Nabawi
Hadits qudsi, yang juga disebut dengan istilah hadits Ilahi atau hadits Rabbani, adalah
suatu hadits yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi SAW, kemudian Nabi
SAW menerangkannya dengan menggunakan susunan katanya sendiri serta menyandarkannya
kepada Allah SWT. dengan kata lain, hadits qudsi ialah hadits yang maknanya berasal dari Allah
SWT, sedangkan lafalnya berasal dari Nabi Muhammad SAW. sedangkan hadits Nabawi yaitu
hadits yang lafal dan maknanya berasal dari Nabi SAW sendiri.
c. Macam-macam Sunah (hadits)
Sunah atau hadits dapat dibagi kepada beberapa macam, yaitu:
Ditinjau dari segi bentuknya
1. Fili yaitu perbuatan Nabi
2. Qauli yaitu perkataan Nabi
3. Taqriri yaitu perbuatan sahabat Nabi yang disaksikan oleh Nabi, tetapi Nabi
tidak menegurnya.
Ditinjau dari segi orang yang menyampaikannya
1. Hadits Mutawatir
2. Hadits Mansyur
3. Hadits Ahad
Ditinjau dari segi kualitasnya
1. Hadits Shahih
2. Hadits Hasan
3. Hadits Dloif
4. Hadits Maudlu
Ditinjau dari segi orang yang berperannya
1. Hadits Marfu
2. Hadits mauquf
3. Hadits Maqtu
Ditinjau dari segi jenis, sifat, redaksi dan lainnya
1. Hadis Muanan
2. Hadits Muanna
3. Hadits Awamir
4. Hadits Nawahi
5. Hadits Munqathi
d. Kitab-kitab Hadits
Para ulama pada umumnya menerima 6 (enam) kitab hadits sebagai kitab standar.
Keenam kitab tersebut dinamakan al-Kutub as-Sittah atau al-Kutub as-Shihhah. Secara berturutturut peringkat al-Kutub as-Sittah adalah:
USUL FIQIH

15

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
1. Shahih al-Bukhari, memuat 7.275 hadits, merupakan hasil saringan dari 600.000
2.
3.
4.
5.
6.

hadits.
Shahih Muslim, memuat 4.000 hadits, hasil saringan dari 300.000 hadits.
Sunan Abi Dawud, memuat 4.800 hadits, hasil saringan dari 500.000 hadits
Sunan at-Tirmizi.
Sunan an-Nasai, memuat 5.761 hadits.
Sunan Ibn Majah.
e. Kedudukan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam

Kedudukan hadits terutama sebagai sumber hukum Islam, sejak zaman yang masih dini
sudah dipersoalkan. Imam Syafii yang digelari Nashir al-Hadits (pembela hadits), pernah
menyebutkan adanya pendapat yang menolak hadits, mereka enggan mengamalkannya atau
bahkan menolak dengan dalih bahwa al-Quran sudah cukup sebagai sumber yang bersifat
universal dan umum.
Ulama-ulama yang menempatkan kedudukan hadits pada tingkat kedua setelah al-Quran
mendasarkan pendiriannya atas dalil-dalil al-Quran sebagai berikut:

USUL FIQIH

16

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI

(Q.S. 59;7), (Q.S. 3;132), (Q.S. 24;63)

USUL FIQIH

17

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
BAB III
KESIMPULAN

Hukum merupakan efek yang timbul dari perbuatan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Hukum juga merupakan khitab atau perintah Allah SWT yang menuntut mukallaf untuk
mengerjakan atau memilih antara mengerjakan dan tidak mengerjakan, atau menjadikan sesuatu
menjadi sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain.
Adapun pembagian hukum syara adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Ijab (wajib)
Mandub (sunah)
Makruh
Mubah
Haram

Dalam perdebatan para ulama untuk menetapkan hukum Islam, jika ada pendapat yang
diajukan tanpa landasan hukum, maka fatwa hukum yang dihasilkan dituduh tahakkum
(menentukan hukum sendiri tanpa dalil) atau tasyri bi al-hawa (menetapkan hukum berdasarkan
hawa nafsu atau secara subjektif). Oleh sebab iu dalam kitab-kitab fiqh disebutkan bahwa setiap
pendapat yang dikemukakan senantiasa dibarengi dengan hujjah.
Hujjah bisa berupa ayat al-Quran, hadits Nabi SAW, dan sebagainya. Biasanya seorang
mujtahid, dalam mengemukakan hujjah, tidak cukup hanya menggunakan salah satu dalil saja,
misalnya al-Quran saja, tetapi menyertakan hadits-hadits Nabi SAW, ijma, qiyas dan lain
sebagainya. Namun ijma qiyas dan yang lainya sifatnya hanyalah sebagai hujjah pendukung
bagi ayat al-quran dan hadits-hadits yang dikemukakan.
Al-Quran dan sunah sebagai sumber hukum Islam yang utama harus senantiasa dipegang
oleh seseorang yang mengemukakan pendapatnya. Artinya, hujjah yang dikemukakan untuk
mendukungnya atau menetapkan suatu hukum dalam Islam harus didasarkan kepada al-Quran
dan sunah. Ijma, qiyas dan metode penetapan hukum lainnya yang dianut oleh berbagai mazhab
tidak dapat berdiri sendiri tanpa didasarkan kepada kedua sumber hukum Islam tersebut.
Hujjah atau dalil yang disepakati para ulama dalam menetapkan hukum Islam adalah:

USUL FIQIH

18

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
1. Al-Quran
2. As-Sunah (hadits)
3. Ijma
4. Qiyas
Adapun istihsan, al-maslahah al-mursalah, urf, sad az-zariah, istishab dan sebagainya,
adalah hujjah yang tidak disepakati oleh seluruh ulama.

BAB IV
PENUTUP
USUL FIQIH

19

SUMBER DAN DALIL HUKUM


YANG DISEPAKATI
Kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat inayah-Nya, Kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Tidak lupa pula Kami haturkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, khusunya kepada
Dosen Bidang Studi Usul Fiqh, yang terhormat Ibu Hj. Marhamah Shaleh, Lc. MA, dan yang
terutama kepada suami/isteri Kami yang telah mensuport dan menjadi inspirator dalam
penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan Kami tentang sumber
hukum islam khususnya, umumnya tentang agama Islam itu sendiri, bagi para pembaca dan
umat islam sekalian.
Penulis menyadari, tentunya banyak kekurangan dalam penyusunan dan kesalahan dalam
penulisan makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif serta edukatif sangat
Kami harapkan untuk kesempurnaan makalah di masa mendatang.
Hanya kepada Allah jualah Kami berserah, semoga

limpahan pahala dan ridlo-Nya

tercurahkan kepada kita sekalian.

USUL FIQIH

20