Anda di halaman 1dari 27

TES PAULI

Emil Kraepelin seorang psikiater akhir abad 19 menciptakan alat tes kraepelin yang digunakan
sebagai alat bantu untuk mendiagnosa gangguan otak yaitu alzheimer dan dementia. Tes ini
sangat sederhana, siapapun yang bisa menghitung dapat mengikuti tes ini. Pada periode tidak
lama selanjutnya pada tahun 1938 Prof. Dr. Richard Pauli bersama Dr. Wilhelm Arnold serta
Prof. Dr. Vanmethod memperbaharui tes Kraeplin tadi sehingga dapat meningkatkan suatu
check method yang sangat menguntungkan dan dapat dipercaya. Metode ini disempurnakan
sedemikian rupa oleh Prof. Dr. Pauli sehingga memungkinkan untuk mendapatkan data tentang
kepribadian. Richard Pauli membuat tes Kraeplin tersebut sebagai tes yang distandarisasikan,
dan setelah Pauli meninggal pada tahun 1951, tes yang di standarisasikan tersebut dinamakan tes
Pauli.
Berdasar atas cara yang diajukan oleh Pauli, tes ini juga mempunnyai corak eksperimental. Pauli
juga menghubungkan metode eksperimental tersebut dengan karakterologi modern, sehingga tes
Pauli dapat dibandingkan dengan tes kepribadian.
Kegunaan Tes Pauli

Tujuan dari tes ini adalah mengumpulkan berbagai data berupa:


Daya tahan atau keuletan
Kemauan atau kehendak individu
Emosionalitas
Daya tahan untuk menyesuaikan diri
Stabilitas
Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi prestasi yang dicapai seseorang individu. Selain itu ada
faktor-faktor lain yang mempengaruhi achievement peserta, diantaranya:
Faktor fisik, yaitu kondisi badan kita pada pada saat tes
Faktor psikis, yaitu keadaan jiwa kita pada saat tes
Pengaruh faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan fase perkembangan yang sedang dilalui
seseorang, sebab keterkaitan dan dominasi faktor-faktor itu mempunyai kondisi yang tidak sama
pada fase perkembangan yang berbeda.
Tes PauIi mempunyai makna yang penting karena :
1. Tes Pauli merupakan alat diagnostik yang dapat dipercaya untuk memeriksa batas-batas
perbedaan individu.
2. Tes Pauli dapat untuk mendiagnosis perbedaan kostitutif. Hal itu antara lain didapat dari
hasil pemeriksaan yang menggunakan tes Pauli. Hasil itu antara lain menunjukkan bahwa
daya tahan wanita lebih besar dari pria, keajegan prestasi orang desa lebih tinggi dari
orang kota, dan sebagainya. Hal-hal tersebut juga menunjukkan bahwa tes Pauli bisa
dimamfaatkan untuk pemahaman psikologi sosial.
3. Tes pauli merupakan usaha pemeriksaan prestasi yang cukup baik.
4. Tes Pauli dapat digunakan untuk orang yang menderita luka/gangguan diotak, misal
terkena tembakan dikepala. Hasilnya menunjukkan bahwa luka pada parietal dan
frontal menunjukkan kurangnya prestasi yang besar, sedang luka pada occipital
menunjukkan kurangnya prestasi yang tak terlalu besar (paling minimal).
5. Tes Pauli dapat digunakan sebagai metode untuk mengetahui pengaruh peransangan dari
luar (misal narkotika).
6. Tes Pauli dapat digunakan sebagai diagnostik untuk mendeteksi anak-anak yang sukar
dididik. Pada tes itu terdapat kurve dengan bentuk-bentuk tertentu untuk mereka yang

terhambat perkembangannya. Untuk mereka yang tidak mempunyai pendirian (Hatloso)


dan mereka yang lemah diri.
7. Tes pauli ini digunakan sebagai metode pemeriksaan untuk orang yang buta meskipun
prestasinya bila dibandingkan dengan orang yang normal berkurang, akan tetapi prestasi
individuil masih terlihat didalam tes sebagai prestasi orang yang normal.
8. Tes Pauli digunakan sebagai dasar tipologi kepribadian.
9. Tes pauli ialah suatu metode experimental untuk mendapat pengaruh sikap kerja terhadap
prestasi kerja.
10. Tes Pauli merupakan alat pembantu experimental yang menjadi dasar untuk diagnostik
karakterologi.
Salah satu segi keuntungan dari tes pauli adalah menghilangkan variabel penting yang biasanya
dapat disembunyikan atau pura-pura (faking) dari subjek misal : sifat malu-malu, yang biasanya
sukar dihindari, pada tes ini tidak begitu berpengaruh pada percobaan-percobaan yang telah
dilakukan.
Faktor-faktor yang mendukung reliabitas tinggi adalah :
Ketidaksadaran Pribadi
Dalam waktu satu jam lamanya, subjek diberikan waktu yang cukup untuk dapat menyesuaikan
diri dan memindahkan dirinya, sampai pada kemampuan sebenarnya ditampilkan sejelasjelasnya. Pengalaman menunjukkan bahwa waktu sepuluh menit sampai dua puluh menit
pertama belum mendapat sesuatu gambaran yang sebenarnya atau bukan representasi
sesungguhnya dari subjek.
Dengan waktu yang lama menjadikan representasi subjek sesungguhnya dapat terlihat profil
kepribadian yang sesungguhnya.
Menjadi hal umum bahwa keadaan sadar bahwa saya sedang dites ini memegang peran yang
besar pada tiap eksperimen atau tes termasuk juga pada tes pauli ini.
Memunculkan Situasi Kebersamaan (togethnerness situation)
Perasaan-perasaan yang menghambat/merugikan dalam pelaksanaan tes biasanya dihinggapi
subjek, misalkan rasa malu atau takut, yang timbul ketika mengerjakan sesuatu dan diamati. Hal
ini akan hilang, atau setidak-tidaknya berkurang pada pelaksanaan tes ini apabila diberikan
secara klasikal.
Menimbulkan persaingan (competitiveness)
Karena pelaksanaannya bentuk klasikal, maka dengan sendirinya akan timbul persaingan dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Apabila seseorang individu telah menyelesaikan satu halaman, dan individu lain belum selesai
maka individu yang belum selesai akan berusaha menyamai atau mengejar individu yang sudah
selesai tadi.
Rendahnya pembelajaran
Peserta dapat saja belajar menghitung, mendapatkan saran atau sugesti dari orang lain sebelum
tes. Namun apabila tes sudah berlangsung, kesadaran akan pembelajaran dan saran dari orang
lain akan terlupakan ketika sudah mencapai pada menit ke-15 sampai 20, karena situasi psikis
akan banyak difokuskan pada penjumlahan yang harus dikerjakan.
Batasan usia
Sejak usia tujuh tahun bagi mereka yang telah dapat berhitung, dapat mengerjakan tes ini dengan
tidak memandang jenis kelamin,pendidikan, bakat, kemampuan umum dan atribut lain.
Tes Pauli dengan kekuatannya maka dengan jelas dapat dikatakan bahwa tes ini penting dan
memuat banyak potensi dari segi kepribadian. Aspek kepribadian yang dapat dilihat adalah:

1. Kekuatan kehendak/kemauan
2. Daya tahan/keuletan
3. Ketekunan/kosentrasi
4. Daya penyesuaian diri
5. Vitalitas
Selain itu juga bisa dilihatnya:
1. Kecermatan
2. Ketelitian
3. Stabilitas dan labilitas
Keseluruhan ini mempunnyai pengaruh prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam menjalankan
tes Pauli ini:
Untuk mendapat suatu prestasi yang setinggi-tingginya diperlukan berbagai faktor atau syarat
yang harus dipenuhi, diantaranya adalah:
Faktor-faktor yang bersifat umum:
1. Potensi intelegensi yang cukup
2. Stabilitas emosi
3. Pengalaman
4. Daya tahan
Faktor-faktor khusus sesuai dengan tugasnya
1. Bakat
2. Sikap seseorang terhadap tugasnya
3. Kemahiran tertentu
Faktor-faktor diatas dapat merupakan faktor yang mempengaruhi, baik menghambat maupun
mendorong untuk mempertinggi prestasi seseorang. Faktor-faktor tadi dapat dilihat dalam kurva
grafik kerja hasil kerja seseorang.
Dalam pelaksanaan tes pauli, untuk mencapai prestasi yang maksimal, individu diharapkan untuk
dengan cepat menguasai suatu keadaan atau tugas yang senada (menonton).
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa faktor stabilitas dari seseorang memegang peranan, apakah
irama kerja dari tes ini dapat dikuasai atau tidak, stabilitas ini tampak jelas pada grafik tes Pauli.
Mengenai kecermatan dan ketelitian dalan tes Pauli erat sekali hubungannya dengan prestasi baik
secara kualitatif maupun kuantitatif. oleh karena itu bisa dimengerti bahwa bagi mereka yang
kurang teliti atau kurang cermat, hasil kualitatif menjadi lebih kecil, sekalipun hasil
kuantitatifnya besar.
Dapat dikatakan bahwa bila individu yang secara kuantitas berprestasi tinggi tidaklah selalu
berprestasi tinggi pula secara kualitatif. Yang dimaksud kualitatif disini adalah prestasi yang
dicapai oleh seseorang individu tanpa memperhatikan jumlah kesalahan yang diperbuatnya.
Tes Pauli bersifat universal, artinya tes ini dapat digunakan tanpa melihat latar belakang
subjek,yang penting adalah subjek dapat berhitung. Adanya pendapat yang menolak adanya tes
Pauli adalah kurang beralasan.
Dari tes Pauli dapat diambil beberapa faktor, baik untuk diagnosis maupun keperluan lain pada
dasarnya sebagai berikut:
Stabilitas
Daya tahan
Vitalitas
Ketelitian
Emosionalitas

Daya penyesuaian
Ketekunan dan kosentrasi
Selain itu dalam pemeriksaan tes, harus diperhatikan faktor-faktor yang cenderung konstan yaitu:
Material tes Pauli
Prosedur pelaksanaan
Experimental
Waktu pelaksanaan tes, misalnya bila subjeknya banyak, pagi tak selesai, maka
hendaknya dilanjutkan besok pagi berikutnya untuk sisanya, jadi yang dilanjutkan pada
sore hari.
Situasi sekeliling
Faktor lain yaitu :
Sikap subjek terhadap tes
Faktor individu yang harus diperhatikan:
Kebudayaan
Keadaan sosial
Keadaan fisik
Pandangan hidup
Dorongan-dorongan
Usia
Pendidikan
Pengalaman-pengalaman
Lembaran tes Pauli dibagikan dan diletakkan disebelah kanan dari peserta, selanjutnya
peserta disuruh memperhatikan ke depan.
Ssetelah semuanya menghadap ke depan dan tenang, maka diberi instruksi bagaimana
malakukan atau mengerjakan tes ini.
Instruksi :
Kepada saudara telah dibagikan sehelah kertas tes
Ambilah lembaran tersebut dan tulislah
Nama.
Tanggal lahir.
Tanggal tes.. dll informasi penting yang ingin digali.
Jika sudah selesai letakkan alat tulis saudara dan perhatikan ke depan.
Sambil menunjukkan sehelai tes Pauli didepan para peserta, beritahukan bahwa :

Peserta harus menjumlahkan angka-angka yang tertera pada kertas itu dari
atas kebawah secara berturut-turut. Tetapi cara menjumlahnya adalah
dengan cara yang istimewa, yang akan saya tunjukkan nanti dipapan tulis.
Jumlahkan setiap angka dengan angka dibawahnya dan hasilnya ditulis
disebelah kanan diantara kedua angka yang saudara jumlahkan itu. Angka
puluhan dubuang. (Diberikan contoh di papan tulis) 7 + 5, 5 + 6, 6 + 4, 4 +
4, 4 +7, 7 + 8, 8 + 2, 2 +2
Setelah sampai dibawah, ganti baris berikutnya (ditunjukkan) dan mulai
menjumlah seperti tadi
Pada waktu saudara menjumlahkan angka-angka tadi, pada sewaktu-waktu
tertentu saudara akan mendengar aba-aba Garis atau Coret atau rekam
kode dengan suara tertentu yang sudah disetting selama 3 menit berbunyi di
laptop dan jangan lupa disambungkan ke pengeras suara.
Pada setiap aba-aba tersebut maka saudara harus memberi garis dibawah
angka hasil penjumlahan terakhir yang pada waktu itu saudara tuliskan dan
meneruskan pekerjaan penjumlahan saudara sampai terdengar aba-aba
BERHENTI
(instruktur memberikan contoh dipapan tulis dan menjelaskannya)
Andai saja anda sampai pada akhir lembaran ini (tunjukkan) maka masih
tersedia angka-angka dibelakangnya.
Lembaran ini dicetak agak istimewa, sehingga cara membalik lembaran ini
adalah demikian (tujuk contohnya)
Pekerjaan itu harus saudara kerjakan secepat-cepatnya, oleh karena itu
angka puluhan tadi perlu ditulis.
Untuk pekerjaan ini jangan sampai ada benda-benda yang menghalangi di
meja, dan cara duduk supaya diatur seenak-enaknya.
Ada pertanyaan?.

Mulai tes :
Setelah semua kertas tes dibagikan, pensil juga telah dibagikan, maka beri kejelasan caracara mengerjakannya.
Setelah semua peserta jelas, maka disuruh menulis nama, tanggal lahir, tanggal pemeriksaan,
dan jam pemeriksaan. Setelah siap semuanya, maka beri aba-aba Mulai Instruktur
menekan stopwach atau program suara dijalankan dari laptop, setelah selesai aba-aba
Mulai diberikan. Dan setiap 3 menit instruktur memberi aba-aba, instruktur juga harus
memberi tanda atau catatan sendiri untuk aba-aba yang telah diberikan.
Cara pemeriksaan :

Lihat coretan yang ada pada setiap lembaran. Apabila coretan itu ada 20,
berarti isian tes benar dalam mencoretnya.
Hitung per 3 menit, dan jumlahkan keseluruhannya dalam 1 jam. Sehingga
kita dapat mengecek apabila terjadi kesalahan hitung dalam per 3 menit.

Begitu juga kita jumlahkan kesalahan per 3 menit, dan kesalahan


keseluruhannya. Sehingga kita dapat mengetahui jumlah yang betul yang
dikerjakan oleh peserta.
Intepretasi Tes Pauli

Perlu diketahui, mengintepretasi tes pauli jangan dilihat sepotong-sepotong, misalkan hanya
dari jumlahnya saja atau dari tingkat kesalahannya saja.
Berikut rangkuman intepretasi kualitatif dari tes pauli:
Jumlah
Besar
Kecil (1500-2000)
Positif
Kemauan kuat, energik, dorongan Positif
Kritis
tinggi menyelesaikan tugas.
Cekatan, terampil, cepat
Detil, teliti
menyesuaikan diri.
Hati-hati
Tekun, dorongan berprestasi tinggi.
Pengamatan tajam.
Negatif
Ketahanan mental tinggi, dapat
mengendalikan situasi.
Energi/dorongan kerja rendah
Tidak cekatan
Negatif
Mudah terpengaruh dan cepat
cemas
Tidak luas pandangan
Sukar beradaptasi
Mengutamakan diri

Simptom kualitas kerja


Kesalahan
Kecil

Besar

Positif
Teliti.
Berupaya sebaik-baiknya.
Pengamatan tajam.
Tenang.

Negatif
Apabila jumlah kecil dan atau banyak
pembetulan

Ada kecemasan berbuat salah.


Kecenderungan detil tinggi sekali.
Mengutamakan diri

Positif
Berupaya terkesan
baik/menampilkan citra baik.

Negatif

Sulit berkonsentrasi
Mudah terpengaruh
Kurang pengendalian diri
Ragu

Pembetulan
Kecil
Positif

Besar

dengan kesalahan sedikit:

Teliti.
Bertanggung jawab.

Negatif

dengan kesalahan banyak:


Negatif
Terlalu acuh
Kurang bertanggung jawab
Tidak teliti

Kurang perhatian.
Mudah terpengaruh.
Konsentrasi rendah.

Simptom elevasi kurva


Tinggi-Rendah
Tinggi
Positif

dengan jumlah besar:

Rendah
Positif

dengan prestasi awal tinggi dan rata-rata


yang sesuai:

Kemauan kuat/drive tinggi.

Cekatan.
Pendekatan baik terhadap
masalah.
Dapat menyesuaikan diri dengan
baik.

Negatif
dengan prestasi awal rendah:

Takut
Peragu
Sukar membuka diri
Tidak mau menyesuaikan diri

Cekatan
Kesediaan memenuhi tugas
Negatif

Kemauan lemah
Kurang dorongan/kurang
terfasilitasi
Kurang cekatan
Mudah terpengaruh
Sulit menyesuaikan diri

Titik Puncak
Tinggi
Positif:
Tabah
Keras hati
Stabil
Daya tahan baik
Terkendali
Rajin
Tekun

Negatif:
dengan prestasi awal rendah:

Kurang ada dorongan


menyelesaikan tugas.
Prokastinasi tinggi
Kurang terfasilitasi

Rendah

Positif:

dengan prestasi awal tinggi,

Cepat bertindak tanpa banyak


pertimbangan
Keras kepala
Kecenderungan rajin

Negatif:

Kemauan lemah

Penyimpangan
Rendah
Positif:
Adanya keseimbangan.
Emosi stabil.
Dapat menyesuaikan diri.

Tinggi
Positif:
Emosional, bergejolak.
Dinamis.
Dikuasai oleh emosi/perasaan.

Kapasitas mental baik.

Negatif:
dengan slope rendah pada awal kurva,

Ketumpulan emosi.
Emosi rigid, kurang bersemangat

Negatif:

Lemah.
Temperamental.
Kontrol diri rendah.

Informasi lain mengenai intepretasi tes pauli dapat request ke jpsikologi@gmail.com, masih
banyak aspek yang dapat digali secara kualitatif. Bagi anda psikolog, hati-hati melakukan
judgment terhadap intepretasi tes pauli ini karena aspek positif dan negatif sebenarnya hanya
diibaratkan semacam sisi koin yang saling terkait.
Contoh penting adalah: apabila seseorang dengan slope kurva rendah, penyimpangan rendah
dan jumlah yang rendahmaka secara praktis tidak bisa diberikan label individu tersebut
memiliki stamina yang rendah, kurang konsentrasi, terlalu hati-hati dan berbagai label
negatif lain. Secara terapan individu tersebut juga memiliki konstruk positif, misalkan saja
individu tersebut dapat bekerja dengan sangat teliti, tahan terhadap rutinitas yang mungkin
untuk orang lain tidak akan betah atau tahan berlama-lama dihadapkan pada masalah yang
sama setiap harinya.

TES EPPS
EPPS adalah singkatan dari Edwards Personal Preference Schedule, suatu alat inventory yang
dikembangkan oleh Allen L. Edwards dari universitas washington USA. Tujuan awal dari alat ini
didesain awal sebagai alat penelitian dan konseling untuk menyediakan pengukuran yang sesuai
terhadap berbagai variabel independen kepribadian. Dasar penamaan variabel mengacu pada
definisi kepribadian H.A. Murray.
EPPS menyediakan 15 variabel kepribadian yaitu:
1. Achievement (ach)
2. Deference (def)
3. Order (ord)
4. Exhibition (exh)
5. Autonomy (aut)
6. Affiliation (aff)
7. Intraception (int)
8. Succorance (suc)

9. Dominance (dom)
10. Abasement (aba)
11. Nurturance (nur)
12. Change (chg)
13. Endurance (end)
14. Heterosexuality (het)
15. Aggression (agg)
Variabel
Skor Tinggi
Achievement
(ach)

Dorongan untuk bertindak lebih


baik, tertarik dengan tugas
menantang dan rumit.

Skor Rendah
Dorongan untuk meraih prestasi rendah,
cepat menyerah dengan situasi rumit atau
menghindar apabila dihadapkan pada
situasi kompleks.

Kecenderungan pribadi mudah


Tidak tertarik dengan kesuksesan orang
terpengaruh oleh orang lain,
lain, fokus pada diri sendiri, sulit patuh
Deference (def) ketertarikan akan kesuksesan orang
terhadap orang lain dan cenderung
lain, banyak tergantung dari orang
melakukan dengan caranya sendiri.
lain.
Kecenderungan memiliki
Cara kerja atau bertindak cenderung tidak
keteraturan yang tinggi, terorganisir, teratur, lebih dikuasai oleh situasi perasaan,
Order (ord)
rapi termasuk dalam perencanaan kurang terencana dalam bertindak dan
dan aktivitasnya.
sikapnya mudah berubah-ubah.
Ketidaktertarikan dengan situasi sosial,
Kecenderungan tinggi untuk pamer,
Exhibition
cenderung tidak peduli dengan apa yang
menampilkan apa yang dimiliki ke
(exh)
terjadi di sekitarnya, acuh terhadap apa
lingkungan sekitar.
yang dialami oleh orang lain.
Ketergantungan tinggi dengan figur lain,
harus mencari persetujuan orang lain untuk
Kemudahan pribadi untuk bertindak
bertindak, menghindari tindakan yang
Autonomy (aut) sesuai keinginan, tidak tergantung
dapat menjadi perhatian sosial dan
dari orang lain.
cenderung mencari figur perlindungan
sebelum bertindak.
Loyalitas tinggi terhadap situasi
Pribadi tertutup, introversi tinggi, sulit
Affiliation (aff) sosial, mudah berpartisipasi dan
bergaul dan tidak senang dengan aktivitas
beraktivitas.
sosial.
Terlalu mengabaikan perasaan, hampir
Mudah untuk berintrospeksi,
Intraception
tidak pernah mengevaluasi setiap tindakan
menilai dan mengevaluasi diri dan
(int)
berdasarkan perasaan, sikap lebih
perasaannya.
didominasi atas dasar logika atau kognitif.
Ketergantungan tinggi terhadap
Pribadi yang independen, tidak tergantung
orang lain, mencari support orang dengan situasi sosial, senang dengan
Succorance
lain untuk meyakinkan tindakannya aktivitas diri dan mengacuhkan situasi
(suc)
dengan meraih afeksi dan
sosial meskipun dirinya menjadi pusat
keramahan dari orang lain.
perhatian
Dominance
Dominasi tinggi terhadap situasi
Pribadi pengikut dalam kelompok, yes-

sosial, mudah mengendalikan dan


man terhadap otoritas, mudah
mengarahkan kelompok, termasuk
(dom)
dikendalikan. Sulit untuk mengatakan tidak
memimpin untuk bertindak sesuai
terhadap situasi kelompok.
keinginannya.
Kecenderungan pribadi mudah
Pribadi yang berpikir positif, tidak terlalu
merasa bersalah, menyesali diri,
mempedulikan kesalahan yang telah
Abasement
layak untuk dihukum akibat
dilakukan, terbuka, mudah memaafkan dan
(aba)
tindakannya. Pribadinya mengarah meminta maaf apabila terjadi kesalahan
pada inferioritas.
yang telah dilakukannya.
Pribadi terbuka, mudah membantu Ketertutupan pribadinya dianggap sebagai
Nurturance
orang lain, santun dan mudah
individu yang kaku, sulit bersimpati dan
(nur)
bersimpati.
mudah berkata kasar.
Ketertarikan tinggi pada situasi
Situasi rutin menjadikan dirinya nyaman,
baru, berubah-ubah termasuk dalam tenang dengan aktivitas harian yang
Change (chg)
tindakannya bekerja berupaya
monoton, mementingkan prosedur dan cara
dengan cara baru.
kerja berdasarkan kebiasaan.
Tanggung jawab tinggi terhadap
Daya tahan rendah terhadap situasi yang
pekerjaan, menyelesaikan apa yang
Endurance
menekan;konflik, ketidakjelasan situasi
telah dimulai. Tekun dan tidak
(end)
atau tujuan, mudah menyerah dan cepat
mudah jenuh dengan situasi yang
jenuh terhadap situasi yang tidak nyaman.
dihadapi.
Ketertarikan tinggi untuk bergaul Tidak mudah tertarik dengan lawan jenis,
Heterosexuality dengan lawan jenis, berupaya
tidak terlalu terpengaruh dengan lawan
(het)
mendapatkan afeksi dan perhatian jenis, sulit dipengaruhi oleh figur lawan
terhadap lawan jenis.
jenis.
Dorongan agresi tinggi, mudah
Pribadi tenang, mengandalkan kedamaian,
Aggression
terpicu dengan konflik dan senang
saling menerima, menghindari konflik dan
(agg)
dengan konfrontasi apabila terjadi
konfrontasi.
perbedaan pendapat.
Berikut hasil copy paste dari manual Edwards Personal Preference Chapter 1.
1. ach Achievement: to do ones best, to be successful, to accomplish tasks requiring skill
and effort, to be a recognized authority, to accomplish something of great significance, to
do a difficult job well, to solve difficult problems and puzzle, to be able to do things
better than others, to write a great novel or play.
2. def Deference: To get suggestions from others, to find out what others think, to follow
instructions and do what is expected, to praise others, to tell others that they have done a
good job, to accept the leadership of others, to read about great men, to conform to
custom and avoid the unconventional, to let others make decisions.
3. ord Order: To have written work neat and organized, to make plans before starting on a
difficult task, to have things organized, to keep things neat and orderly, to make advance
plans when taking a trip, to organize details of work, to keep letters and files according to
some system, to have meals organized and a definite time for eating, to have things
arranged so that they run smoothly without change.
4. exh Exhibition: To say with and clever things, to tell amusing jokes and stories, to talk
about personal adventures and experiences, to have others notice and comment upon

ones appearance, to say things just to see what effect it will have on others, to talk about
personal achievements, to be the center of attention to use words that others do not know
the meaning of, to ask questions others cannot answer.
5. aut Autonomy: To be able to come and go as desired, to say what one thinks about things,
to be independent of others in making decisions, to feel free to do what one wants, to do
things that are unconventional, to avoid situations where one is expected to conform, to
do things without regard to what others may think, to criticize those in positions of
authority, to avoid responsibilities and obligations.
6. aff Affiliation: To be loyal to friends, to participate in friendly groups, to do things for
friends, to form new friendships, to make as many friends as possible, to share things
with friends, to do things with friends rather than alone, to form strong attachments, to
write letters to friends.
7. int Intraception: To analyze ones motives and feelings, to observe others, to understand
how others feel about problems, to put ones self in anothers place, to judge people by
why they do things rather than by what they do, to analyze the behavior of others, to
analyze the motives of others, to predict how others will act.
8. suc Succorance: To have others provide help when in trouble, to seek encouragement
from others, to have others be kindly, to have others be sympathetic and understanding
about personal problems, to receive great deal of affection from others, to have others to
favors cheerfully, to be helped by others when depressed, o have others feel sorry when
one is sick, to have a fuss made over one when hurt.
9. dom Dominance: To argue for ones point of view, to be a leader in groups to which one
belongs, to be regarded by others as a leader, to be elected or appointed chairman of
committees, to make group decisions, to settle arguments and disputes between others, to
persuade and influence others to do what one wants, to supervise and direct the actions of
others, to tell others how to do their jobs.
10. aba Abasement: To feel guilty when one does something wrong, to accept blame when
things do not go right, to feel that personal pain and misery suffered does more good than
harm, to feel the need for punishment for wrong doing, to feel better when giving in and
avoiding a fight than when having ones own way, to feel the need for confession of
errors, to feel depressed by inability to handle situations, to feel timid in the presence of
superiors, to feel inferior to others in most respects.
11. nur Nurturance: To help friends when they are in trouble, to assist others less fortunate, to
treat others with kindness and sympathy, to forgive others, to do small favors for others,
to be generous with others, to sympathize with others who are hurt or sick, to show a
great deal of affection toward others, to have others confide in one about personal
problems.
12. chg Change: To do new and different things, to travel, to meet new people, to experience
novelty and change in daily routine, to experiment and try new things, to eat in new and
different places, to try new and different jobs, to move about the country and live in
different places, to participate in new fads and fashions.
13. end Endurance: To keep at a job until it is finished, complete any job undertaken, to work
hard at a task, to keep at a puzzle or problem until it is solved, to work at a single job
before taking on others, to stay up late working in order to get a job done, to put in long
hours of work without distraction, to stick at a problem even though it may seem as if no
progress i being made, to avoid being interrupted while at work.

14. het Heterosexuality: To go out with members of the opposite sex, to engage in social
activities with the opposite sex, to be in love with someone of the opposite sex, to kiss
those of the opposite sex, to be regarded as physically attractive by those of the opposite
sex, to participate in discussions about sex, to read books and plays involving sex, to
listen to or to tell jokes involving sex, to become sexually excited.
15. agg Aggression: To attack contrary points of view, to tell others what one thinks about
them, to criticize others publicly, to make fun of others, to tell others off when
disagreeing with them, to get revenge for insults, to become angry, to blame others when
things go wrong, to read newspaper accounts of violence.
Jadi dapat dikatakan alat EPPS merupakan alat diagnosa untuk penelitian dan konseling, namun
banyak dari kita menggunakannya sebagai alat seleksi. Menggunakannya alat tersebut sebagai
seleksi perlu diperhatikan secara lebih komprehensif, bukannya melihat satu variabel/aspek
dengan menghilangkan variabel lain dari EPPS tersebut.
Alat ini dapat digunakan sebagai konseling yang baik pada bidang pendidikan dan pekerjaan.
Perlu diperhatikan alat ini bersifat faking yang tinggi, apalagi alat ini sudah dikenal banyak oleh
kalangan umum sehingga alangkah baiknya untuk mendapatkan data, epps bukan sebagai
primary sources, melainkan sebagai data pendukung dari metode lain dalam mendapatkan data,
misalkan wawancara, atau integrasi dengan alat inventori lain.
Ketika skor epps mengalami konflik dengan bukti lain dari wawancara, perlu dicermati lebih
jelas terhadap konstruk dari epps ini. Misalkan individu dalam wawancara terkesan sangat
konformis namun memiliki skor agresi tinggi. Hal ini harus lebih diperhatikan dengan
pendalaman, agresi anak tersebut mungkin tinggi namun dalam bentuk yang lebih inner attitude,
sedangkan sikap yang ditampilkan dapat terkesan berbeda karena dihadapkan pada situasi
formal.
Edwards sendiri menyatakan bahwa skor tersebut bukan sebagai representasi diagnosa labelling
kepribadian dan penggunaan epps ini sebaiknya diberikan pada orang normal (non-klinis).

WORK ASSESMENT
Penilaian/asesmen terhadap pekerjaan adalah hal penting yang harus dilakukan oleh organisasi.
Karyawan adalah aset bergerak dan untuk mengoptimalkan aset dalam bentuk individu perlu
kiranya memperhatikan kualitas dari individu tersebut sesuai dengan kompetensi yang
dibutuhkan organisasi. Kemampuan dari individu berdampak besar terhadap tujuan organisasi
termasuk efektivitas manajemen, peningkatan penjualan, kualitas produk yang dihasilkan,
hubungan dengan customer dan masih banyak lagi. Assessment bukanlah fungsi HR dalam
organisasi, namun lebih sebagai dasar penting untuk melihat kemampuan dan pengelolaannya
dalam peran organisasi yang lebih luas.
Kualitas assessment yang baik akan berdampak besar pada kualitas dan produktivitas. Dalam hal
seleksi karyawan tentu investasi organisasi tidak akan sia-sia apabila mendapatkan kesesuaian
kompetensi dan potensi terhadap pekerjaan yang ada. Hal ini memudahkan manajemen menuju
pada isu strategis organisasi yang sedang ditempuh. Pada aspek pengelolaan aset, pengembangan
karyawan akan lebih mudah dan efisiensi tentu saja berpengaruh signifikan.
Kegiatan assessment yang efektif menjadikan pengembangan karyawan juga berjalan efektif.
Asesmen yang baik menjadikan individu dapat memahami kinerja yang dimiliki dan
hubungannya dengan tuntutan pekerjaan. Hal ini dapat memacu motivasi, menjadikan atasan
paham dengan tolok ukur pengembangan selanjutnya. Psikometrika berpengalaman dalam hal

ini dan dapat menyediakan berbagai tools yang simpel namun efektif untuk melihat potensi dan
kompetensi yang dituntut organisasi.
Behavior Assessment dan Personality Assessment
Asesmen kepribadian sudah dilakukan selama puluhan tahun dan sampai saat ini terus dilakukan
penelitian untuk meningkatkan validitas alat ukur. Tidak seluruhnya asesmen kepribadian dapat
memprediksikan asesmen behavioristik spesifik pada pekerjaan. Banyak psikolog atau praktisi
HR melakukan asesmen kepribadian dalam seleksi dan upayanya untuk memprediksi performa
dalam pekerjaan. Konsep seperti ini tidak seluruhnya berhasil apabila dalam melakukan asesmen
tidak mempertimbangkan faktor-faktor penting yang berhubungan dengan performa pekerjaan.
Terdapat beberapa faktor dalam melakukan Behavior Assessment yang efektif, yaitu:
Keragaman trait dalam pengukuran.
Fokus alat tertuju pada perilaku organisasi.
Kemampuan pertanyaan yang dapat dijawab sesungguhnya oleh individu dengan
meminimalisir fake.
Indikator kompetensi yang sesuai dengan karakteristik pekerjaan.
Kemampuan dalam memberikan kuantifikasi yang tepat terhadap nilai-nilai yang
dihasilkan terhadap spesifikasi jabatan tertentu.
Pengukuran adalah hal penting karena dapat menjadikan organisasi bertindak secara taktis dan
strategis untuk meningkatkan efektivitas. Sebelum dan sesudah proses asesmen baik untuk
seleksi, pengembangan dan manajemen kinerja dapat sebagai alat feedback dan acuan dasar dari
individu.
Assessment is carried out by organisations as a means of measuring the potential and
actual performance of their current (post-hire assessment) and potential future
employees (pre-hire assessment). (Bartram, 2004)
Kemampuan umum dan Kepribadian
Sudah lama penelitian menyatakan bahwa kemampuan umum dan kepribadian sebagai faktor
prediktor terhadap performa kinerja (Norman, 1963; Barrick & Mount, 1991; Matthew, 1997).
Secara ilmiah telah dibuktikan bahwa kuesioner kepribadian, tes kemampuan, biodata dan
wawancara terstruktur apabila dikombinasikan dapat menjadi prediktor yang baik terhadap
berbagai aspek dalam pekerjaan atau diistilahkan kompetensi manajerial atau soft skills.
Robertson & Callinan (1998) menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan prediksi antara
variabel kepribadian dengan komponen behavioristik apabila aspek kepribadian tersebut secara
spesifik mengacu pada sikap-sikap tertentu dalam pekerjaan. Sedikit teori mengenai sikap
dibahas pada topik yang berbeda.
Workforce Readiness
Pemerintah saat ini sudah ikut terlibat mengembangkan SDM melalui kompetensi. Pada awal
tahun 2000-an sangat populer istilah kompetensi sampai-sampai pendidikan kita melalui
Depdiknas mengeluarkan kebijakan pendidikan berbasis kompetensi, terutama pada sekolah
kejuruan. Diharapkan kesiapan dari awal pengelolaan kemampuan secara terstruktur dan benar
menjadikan individu semenjak dini diberikan modal dasar penting untuk terjun di dunia kerja. Di
Amerika sana, kebijakan untuk mempersiapkan semenjak dini dapat bekerja sesuai dengan iklim
industri yang semakin pesat telah diteliti pada akhir tahun 1980-an. Departemen Tenaga Kerja
Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan mengenai kemampuan penting yang harus
dipersiapkan semenjak Sekolah Menengah melalui proyek SCANS, Secretarys Commision on
Achieving Necessary Skills. SCANS sendiri bertujuan untuk: mendefinisikan kemampuan yang
dituntut dalam dunia kerja, meneliti batasan profisiensi yang dipersyaratkan, memberikan cara

efektif untuk mengembangkan profisiensi dan membuat strategi kebijakan yang dapat diterapkan
di sekolah-sekolah.
Komisi yang menangani SCANS telah banyak berdiskusi dengan entepreneur, pekerja, serikat
pekerja dan para manajer di berbagai industri mengidentifikasi kemampuan yang harus dimiliki,
yaitu: kemampuan secara efektif memanfaatkan sumber daya, kemampuan interpersonal,
informasi, sistem dan penguasaan teknologi. Masuk akal juga karena semisal tidak mungkin saat
ini dapat menduduki jabatan pada level staf tanpa bisa menguasai teknologi, seperti perangkat
komputer.
Di Amerika lagi, ASTD atau American Society for Training and Development sebuah asosiasi
non-profit menyajikan data dari 50.000 lebih praktisi, manajer, administrator, pendidik dan
peneliti di bidang HR. ASTD juga berkonsultasi dengan 400-an orang ahli mengenai penguasaan
yang harus dimiliki di bidang industri. Hasil menunjukkan terdapat 16 kemampuan yang harus
dimiliki sebagai prasyarat awal untuk dapat masuk ke dalam dunia industri secara efektif.
TABLE
Lima Kompetensi dari SCANS
Resources: Identifies, organizes, plans, and allocates resources
A.
Time Selects goal-relevant activities, ranks them, allocates time, and prepares and
follows schedules
B.
Money Uses or prepares budgets, makes forecasts, keeps records, and makes adjustments
to meet objectives
C.
Material and Facilities Acquires, stores, allocates, and uses materials or space efficiently
D.
Human Resources Assesses skills and distributes work accordingly, evaluates
performance and provides feedback
Interpersonal: Works with others
A.
Participates as Member of a Team Contributes to group effort
B.
Teaches Others New Skills
C.
Serves Clients/Customers Works to satisfy customers expectations
D.
Exercises Leadership Communicates ideas to justify position, persuades and convinces
others, responsibly challenges existing procedures and policies
E.
Negotiates Works toward agreements involving exchange of resources, resolves
divergent interests
F.
Works With Diversity Works well with men and women from diverse backgrounds
Information: Acquires and uses information
A.
Acquires and Evaluates Information
B.
Organizes and Maintains Information
C.
Interprets and Communicates Information
D.
Uses Computers to Process Information
Systems: Understands complex interrelationships
A.
Understands Systems Knows how social, organizational, and technological systems
work and operates effectively in them
B.
Monitors and Corrects Performance Distinguishes trends, predicts impacts on system
operations, diagnoses deviations in systems performance and corrects malfunctions
C.
Improves or Designs Systems Suggests modifications to existing systems and develops
new or alternative systems to improve performance
Technology: Works with a variety of technologies
A.
Selects Technology Chooses procedures, tools, or equipment, including computers and

related technologies
B.
Applies Technology to Task Understands overall intent and proper
procedures for setup and operation of equipment
C.
Maintains and Troubleshoots Equipment Prevents, identifies, or solves problems with
equipment, including computers and other technologies
Note. From U.S. Department of Labor, 1991, p. 12
ASTD Skills
I. The Foundation:
1. Learning How to Learn
II. Basic Competency
Skills:
2. Reading
3. Writing
4. Computation
III. Communication Skills:
5. Speaking
6. Listening
IV. Adaptability Skills:
7. Problem Solving
8. Thinking Creatively
V. Developmental Skills:
9. Self-Esteem
10. Motivation and Goal Setting
11. Career Development (Planning)
VI. Group Effectiveness
Skills:
12. Interpersonal Skills
13. Teamwork
14. Negotiation
VII. Influencing Skills:
15. Understanding Organizational Culture
16. Sharing Leadership

TES GAYA MANAJEMEN


Sebenarnya judul diatas kurang pas, dengan bahasan yang akan saya tulis dibawah ini. Saya
menggunakan istilah gaya manajemen karena di Indonesia sudah familiar dengan Management
Style Test yang ada dan sebenarnya didasarkan dari teori J. W. Reddin tentang 3 D theory of
managerial effectiveness, atau tiga dimensi gaya manajemen yang efektif. Dasar dari teori
Reddin mengacu pada situational leadership theory dari Hersey & Blanchard, dimana ciri
kepemimpinan memiliki orientasi sifat yang berbeda, yaitu task oriented (tugas) dan people
oriented (hubungan). Lebih lanjut Reddin menjelaskan kedua hubungan mengklasifikasikan
dalam empat kategori, yaitu:
Orientasi tinggi pada hubungan dan tugas diistilahkan sebagai integrated type.
Orientasi tinggi pada hubungan dan rendah pada tugas diistilahkan sebagai related type.

Orientasi rendah pada hubungan dan tinggi pada tugas diistilahkan sebagai dedicated
type.
Keduanya rendah diistilahkan sebagai separated type.
Selanjutnya Reddin menjabarkan gaya manajemen yang lebih spesifik dan dikelompokkan
menjadi 8 kategori, yaitu:
Deserter
Missionary
Autocratic
Compromiser
Biureaucratic
Developer
Benevolent Autocratic
Executive
Fakultas Psikologi UI mengistilahkan dengan :
Pelepas tanggung jawab
Pemurah hati (saya agak lupa, mungkin ini istilahnya)
Autokratik
Pengkompromi
Birokrat
Pembangun (atau pengembang kali ya)
Autokratik yang baik hati (agak lucu diterjemahinnya)
Eksekutif

Sumber: http://leadershipchamps.wordpress.com
Dari gambar diatas, Reddin menerangkan efektivitas kepemimpinan berdasarkan klasifikasi,
yaitu:

Kurang Efektif Tipe Dasar


Lebih Efektif
Deserter
SEPARATED
Bureaucratic
Missionary
RELATED
Developer
Autocratic
DEDICATED
Benevolent Autocratic
Compromiser
INTEGRATED
Executive
Pengertian dari kategori tersebut adalah:
Deserter
Pendekatan gaya manajemen tipe ini adalah suka mengabaikan masalah, mencuci tangan, tidak
mau bertanggung jawaba atau istilah kerennya adalah laisser-faire. Tipe gaya ini mengabaikan
berbagai keterlibatan atau intervensi yang dapat menjadikan situasi dianggap sulit atau rumit.
Sikapnya selalu mencoba netral terhadap apa yang terjadi di keseharian, mencari jalan untuk
menghindar dari aturan yang dianggap menyulitkan. Polanya adalah mencoba tetap
menyelaraskan antara atasan dan bawahan, menghindari perubahan perencanaan. Pola yang
tampak secara manajerial adalah defensif, misalkan ada kebijakan yang menyulitkan bawahan
maka ia mengatakan saya hanya menjalankan perintah, kebijakan dari atasan. Bukan berarti pola
seperti ini buruk, deserter hanya berupaya menjaga keadaan status-quo dan menghindari
perubahan drastis atau guncangan dalam manajemen.
Bureucratic
Pendekatan gaya manajemen ini adalah prosedural, berdasarkan aturan atau tata pelaksanaan,
menerima dengan tulus hirarki kewenangan dan menggunakan komunikasi sangat formal dalam
bersikap. Skor yang tinggi berarti sistematik. Fungsi dan peran birokrat akan sangat optimal pada
situasi yang terstruktur dengan pola prosedur yang jelas meskipun dapat saja prosedur yang ada
sebenarnya rumit, namun birokrat akan tetap tenang menghadapi sistem yang ada. Birokrat
berpegang pada sistem, gaya manajemen seperti ini tampak seperti otokrat, kaku dan dapat
membosankan bagi orang-orang yang fleksibel.
Missionary
Bisa jadi fakultas psikologi UI menerjemahkan menjadi pemurah hati adalah istilah yang paling
cocok, karena pendekatan gaya manajemen seperti ini adalah menggunakan unsur afektif yang
sangat kental. Missionary berupaya mendorong situasi positif dalam manajemen dengan
memberikan kandungan sensitivitas, kepedulian dan hal-hal yang mungkin dianggap penting
untuk meningkatkan kinerja melalui sentuhan emosi/perasaan. Model manajerial seperti ini
berupaya menjaga orang lain termasuk bawahan pada situasi bahagia dalam situasi apapun.
Perilaku mendorong atau mengajak menunjukkan bagian penting dari gaya yang ditunjukkan.
Mengapa dikatakan kurang efektif gaya manajemen seperti ini adalah karena kurang
ketersediaanya peluang konflik, berupaya tetap halus dalam bertindak dan kesulitan untuk
menolak atau berkata tidak, padahal banyak pekerjaan perlu ketegasan dalam manajemen.
Developer
Gaya manajemen developer adalah sisi efektif dari gaya missionary. Tujuan dari gaya seperti ini
adalah untuk bertindak secara profesional tanpa mengesampingkan aspek emosi. Bawahan
diberikan kesempatan untuk memberikan ide, pandangan atau peran lebih dari kebijakan yang
ada untuk mengembangkan potensi. Kontribusi diberikan dan perhatian untuk pengembangan
pun diperhatikan. Skor tinggi memiliki keyakinan optimis tentang individu untuk bekerja dan
menghasilkan. Sifat pendekatan berupa kolegial, bawahan sebagai partner bukan hanya sebagai
pembantu dalam mengerjakan sesuatu. Gaya seperti ini senang untuk berbagi pengetahuan dan
keahlian dan potensi bawahan dapat dioptimalkan.

Autocratic
Model pendekatan pengendalian dan pengarahan yang dianggap kurang efektif. Gaya seperti ini
lebih perhatian hanya pada produktivitas dan hasil. Skor tinggi dianggap sebagai manajer yang
formal, memberikan tugas ke bawahan berdasarkan instruksi dan mengawasi secara ketat proses
yang terjadi. Kesalahan tidak bisa ditolerir, penyimpangan harus dihindari yang penting jangan
sampai salah dalam mengerjakan sesuatu. Kebijakan adalah urusan atasan sementara bawahan
cukup melaksanakan apa yang harus dikerjakan tanpa ada alasan karena dianggap tidak perlu dan
membuang waktu. Gaya ini meminimalisir komunikasi, membatasi terhadap apa yang perlu saja.
Bawahan akan menganggap dingin atasan dengan gaya ini, terutama bagi mereka yang
membutuhkan lebih dari sekadar tugas yang harus dikerjakan seperti dorongan akan pengakuan
atau dukungan.
Benevolent Autocratic
Gaya ini dianggap efektif karena memberikan unsur komunikatif dalam melakukan gaya
otokratik. Gaya ini masih mengandalkan instruksi dan intervensi. Skor tinggi dapat dilihat
sebagai guru dalam memberi tugas, dimaana dapat memberikan instruksi dengan tidak
menesampingkan komunikasi kepada bawahan secara lebih fleksibel. Pola yang dilakukan tidak
meninggalkan bawahan dengan memberikan kesediaan untuk bertanya, membantu apabila ada
hal yang dianggap salah atau menyimpang. Pola keseharian terstruktur dalam menentukan target
kerja, produktivitas dan memberi perintah, tidak ragu memberikan hukuman namun bertindak
adil dalam menyikapinya. Gaya ini dapat bekerjasama dengan baik namun menghindari
hubungan keterdekatan antar personal.
Compromiser
Gaya ini mengandalkan tugas dan relasi yang seimbang, namun dianggap kurang efektif karena
kesulitan mengintegrasikan antara tuntutan tugas dan hubungan. Gaya ini akan merasa
kebingungan antara pengaturan tugas dan kebutuhan untuk berinteraksi. Dalam menghadapi
tekanan, maka akan cenderung kompromi sehingga berbagai tujuan seringkali menyimpang,
misalkan target waktu tidak kelar atau terjadi penyimpangan tujuan. Sensitivitas terhadap
hubungan seringkali mengubah alasan terhadap tujuan semula.
Executive
Gaya ini dianggap efektif karena dapat mengelola dengan baik antara tugas dan hubungan.
Model ini adalah sisi efektif dari gaya kompromis. Pola yang dilakukan dapat mengintegrasikan
antara tugas dan hubungan dengan baik, mengelola dan memanfaatkan kedua aspek dengan
sinergi yang optimal. Pendekatan ini dapat dikatakan sebagai pendekatan konsultatif, interaktif
dan pemecah masalah. Pendekatan ini memanfaatkan eksplorasi terhadap berbagai sumber daya,
keragaman informasi dan dapat memanfaatkan isu negatif menjadi dorongan untuk hasil yang
lebih optimal. Gaya ini melibatkan tim dalam perencanaan dan mengambil kesimpulan.
Komunikasi dilakukan terhadap bawahan untuk meningkatkan kualitas informasi yang dapat
menjadikan keputusan lebih baik. Manajer dengan gaya seperti ini dapat dianggap sebagai
motivator karena terbuka dengan berbagai hal baik yang mendukung atau menentang untuk
mendapakan komitmen bersama.

TES GRAFIS
Tes grafis adalah bagian dari tes proyektif di ilmu psikologi. Awal mula tes ini berkembang pada
abad 20 permulaan meskipun pada jauh dekade sebelumnya sudah terdapat berbagai aplikasi
grafologi berupa pembacaan tulisan tangan, tanda-tangan dan coretan-coretan manusia yang
dapat diintepretasikan. Tokoh penting akhir abad ke-19 seperti Fechne, Wundt dan Ebbinghaus

sebagai psikiater di bidang gangguan mental mempengaruhi teknik-teknik untuk melakukan


asesmen klinis terhadap para pasiennya. Di bidang grafologi salah satu tokoh penting tentu saja
Goodenough, Machover, Moch, Kinget, Wartegg dan lain sebagainya. Bidang ilmu ini
sebenarnya terus berkembang sampai saat ini dengan metode kualitatif maupun kuantitatif untuk
mengungkap proyeksi dari grafis.
Dengan berbagai aliran pencabangan mengenai tes grafis ini, kami hanya akan menerangkan alur
utama mengenai tes grafis dan klasifikasi dasar mengenai grafologi tersebut. Adapun tipe utama
tes grafis ini adalah:
Tes Draw A Man
Tes menggambar pohon
Tes analisa tulisan tangan
Tes Wartegg
Tes Draw A Man (Menggambar Orang)
Ada dua jenis utama tes grafis menggambar orang, yaitu berdasarkan teori goodenough-harris
dan dari teori machover. Tes goodenough-harris mengungkap kemampuan IQ dengan dasar
bahwa sebelum orang dapat membaca dan menulis, maka yang dilakukan adalah menggambar
atau melakukan coretan. Menurut Florence Laura Goodenough, individu melakukan coretan
lebih karena proses mental berdasarkan perkembangan intelektual.
Pada versi goodenough testee diminta untuk menggambar 1 figur manusia dan dinilai dalam 53
aspek. Penilaian sangat sederhana, apabila aspek tersebut muncul maka diberi nilai 1, apabila
tidak muncul diberi nilai 0. Nilai tersebut dikonversikan ke norma sesuai usia dan menghasilkan
nilai IQ. Sementara pada revisinya oleh Harris menjadi tes Goodenough-Harris, individu diminta
menggambar 3 gambar yaitu : laki-laki, perempuan dan gambar dirinya sendiri. Aspek yang
dinilai direvisi menjadi berjumlah 73. Tes tersebut pun dikonversikan ke nilai normatif sesuai
usia. Tes ini seringkali dipakai untuk melihat perkembangan mental anak (pada versi harris dapat
pula mengukur IQ remaja dengan aspek yang ditambahkan) dan sangat mudah digunakan
dibandingkan menggunakan tes Binet atau tes Weschler.
Sedangkan aliran dari teori Machover (dan tes ini seringkali dipakai di Indonesia untuk seleksi)
lebih mengungkap kondisi psikis berdasarkan teori psikoanalisa. Machover berasumsi individu
menggambar orang adalah merupakan cerminan atau persepsi diri dengan berbagai atribut yang
melatarbelakangi.

Proses perkembangan goresan dari 2 tahun sampai 6 tahun


Figur manusia yang digambarkan karena didasarkan dari asumsi bahwa gambar yang mudah
dikenali dari suatu objek adalah bentuk manusia dan semenjak dini individu sudah seringkali
menggambar orang dibandingkan menggambar bentuk atau objek lain.
Goodenough-Harris
Menurut Goodenough, gambaran anak kecil berhubungan erat antara konsep perkembangan
mental dan kemampuan intelegensi secaa umum. Goresan atau coretan anak lebih menunjukkan
suatu ekspresi diri daripada bentuk keindahan, gambar yang dibuat cenderung apa yang diketahui
dan bukan apa yang dilihat. Bentuk atau pola yang ditonjolkan merupakan ekspresi diri terhadap
apa yang penting. Dasar-dasar tersebut merupakan landasan dari perkembangan intelegensi dan
mental anak yang dapat diamati mengacu pada standar normatif yang harus dibuat. Selanjutnya
Dale B Harris merevisi bukannya mengubah skala goodenough dalam memberikan penilaian

terhadap bobot proyeksi tes untuk menguatkan aspek-aspek penting yang belum selesai
dikembangkan oleh goodenough. Skala-skala penting yang ditambahkan oleh harris termasuk
dalam tema yang dapat diamati pada fase remaja, penambahan item (menjadi 73) dan menambah
kekuatan tes melalui proyeksi diri.
Skala-skala tersebut adalah:
Kepala(skala 1)
Leher(skala 2)
Leher dua dimensi(skala 3)
Mata(skala 4)
Detail mata; alis atau bulu mata(skala 5)
Detail mata; pupil(skala 6)
Detail mata; lekukan mata(skala 7)
Hidung(skala 8 )
Hidung, dua dimensi(skala 9)
Mulut(skala 10)
dst sampai pada item pergerakan tangan(skala 72), pergerakan lengan(skala 73).

Contoh norma Goodenough-Harris untuk anak laki-laki usia 12-17 tahun


Sebenarnya tes ini tidak hanya mengukur kapasitas mental kuantitatif IQ namun juga dapat
digunakan untuk melihat konstruk kepribadian lain seperti kepribadian, penyimpangan sensory
dan perbedaan pembelajaran anak, entah kenapa di literatur Indonesia tes ini digeneralisir hanya
untuk melihat nilai IQ saja.
Versi Machover
Pada versi ini DAP (draw a person) merupakan cerminan atau persepsi diri. Banyak aspek yang
dapat diintepretasikan dari hasil coretan, baik berupa cara menggambar, posisi gambar, ruang
yang dipakai, gerak maupun bentuk gambar.
Ruang: Posisi figur ditempatkan di bagian atas, bawah, kanan atau kiri kertas.
Gerak: Arah coreta alat tulis membentuk figur. Ini mencakup intensitas coretan, tekanan garis
dan bayang atau arsir objek yang tergambar.

Bentuk: Seberapa berkualitas proporsi figur yang digambar, detil, penyimpangan objek dan
penggabungan berbagai objek dalam satu kesatuan objek manusia.
Fungsi lain yang perlu diperhatikan adalah penekanan bagian dari objek, apakah tangan, hidung,
leher, aksesoris, pengulangan objek, model arsir dan penebalan pada bagian-bagian tertentu.
Hilangnya bagian dari objek misalkan tangan pun dapat menjadikan informasi penting yang
harus dicermati. Penekanan dianggap sebagai konflik, atau opini lain menyatakan sebagai
perhatian penting pada situasi saat itu.
Hampir semua peneliti sepakat mengenai ukuran dari figur gambar, bahwa figur gambar yang
proporsional menunjukkan refleksi langsung dari penilaian diri subjek, sehingga gambar yang
terlalu besar menunjukkan agresi atau dominasi sedangkan figur yang terlalu kecil terkait erat
dengan ketidakpercayaan diri, rasa rendah diri dengan lingkungan sosial. Perlu diingat,
representasi gambar terlalu besar bukan aktualitas dari keinginan dominasi atau agresi semata
karena ada faktor tidak adekuat yang muncul yaitu kompensasi dari rendah diri.
Mari kita bahas detil mengenai bagian objek manusia itu.
Kepala
Dalam psikoanalisa kepala dapat diartikan sebagai super-ego, pusat dari kendali diri terhadap
aturan baik religi, sosial, keluarga termasuk aturan formal sebagai orang berwarga negara.
Simbolisasi kepala penting untuk melihat bagaimana individu menghadapi lingkungan sekitar
yang kompleks dan cara membawa diri terhadap lingkungannya.
Kepala dianggap sebagai simbol intelektualitas, fantasi, pusat dari dorongan utama subjek
terhadap berbagai konstruk emosi, kebutuhan bersosialisasi atau cara berkomunikasi dan
kematangan individu terhadap situasi sosial. Kepala merupakan figur sentral dorongan utama
terhadap kebutuhan subjek terhadap eksistensi diri. Dapat dikatakan apabila orang yang menarik
diri dari sosial cenderung mengabaikan bagian dari kepala. Analisa kepala sebaiknya lebih
diperdalam terhadap bagian-bagian dari kepala. Misalkan menonjolnya hidung sampai tidak
proporsional dapat dikatakan sebagai simptom grande atau waham grande. Penguatan di mata
dapat disimbolkan sebagai orang yang mencoba mendapatkan perhatian lebih dari lingkungan
sekitar. Bibir yang tebal atau penekanan pada bibir merupakan simbolisasi kebutuhan
berkomunikasi atau keinginan untuk menonjol di lingkungan sekitarnya. Orang yang cenderung
menutup diri, dibatasi oleh lingkungan akan mengabaikan aspek detil dari gambar kepala ini.
Perlu diingat representasi hidung dan mulut adalah fase perkembangan awal pada tahap oral dan
anal. Ketidakadekuatan hidung dan mulut juga dapat diartikan kecemasan karena pada fase akhir
oral dan anal ini individu sudah mulai mengenal rasa cemas yang mendasar.
Leher
Leher berarti penghubung antara super-ego dengan dengan kesadaran diri termasuk dorongan
naluri (id). Kekuatan pada leher dapat diartikan subjek memiliki perhatian besar terhadap kontrol
diri antara super-ego dan tuntutan keadaan diri yang disadari. Dapat diartikan penekanan pada
leher merupakan simbolisasi subjek merasa cemas atau terkekang terhadap hal-hal tertentu yang
belum diselesaikan. Apa yang dicemaskan perlu dihubungkan dengan objek-objek lain dari
keseluruhan gambar.
Badan
Kesadaran diri yang kompleks tertuang dalam asosiasi pada badan atau tubuh bagian tengah.
Banyak sekali simbol coretan yang dapat diintepretasikan dan merupakan sumber informasi
penting yang harus banyak digali. Varian dari bentuk badan adalah paling banyak dibandingkan
objek lain, karena dalam gambar badan memiliki anggota tubuh yang dapat digambarkan lebih
banyak termasuk berbagai aksesoris yang mungkin ikut digambarkan. Representasi dari badan

adalah pusat kesadaran diri (awareness). Anda dapat perhatikan coretan anak dengan coretan
remaja awal, dimana anak tidak terlalu memperhatikan bentuk badan karena kesadaran diri tidak
sekompleks coretan remaja awal yang sudah memiliki kebutuhan lebih banyak. Coretan anak
sangat simpel dapat berbentuk kotak, oval atau lonjong dengan bentuk sederhana. Pada coretan
subjek yang lebih dewasa akan lebih memperhatikan beragam aksesoris dari kancing baju, saku,
sabuk sampai dasi. Beragam kebutuhan tercermin dari aksesoris yang digambarkan, misalkan
dasi merupakan simbolisasi subjek ingin sukses dalam bekerja atau menampilkan status sosial
lebih tinggi dibandingkan keberadaan saat ini. Contoh lain misal cincin, jam atau kalung/gelang
merupakan asosiasi kebutuhan akan harta. Sekali lagi perhatikan kemenonjolan dari objek-objek
tersebut.
Bahu merupakan simbol kekuatan fisik. Penguatan pada bahu merupakan asosiasi dari
kebiasaan subjek melakukan kegiatan fisik atau dorongan subjek untuk melakukan intensitas
fisik yang tinggi. Ketiadaan bahu atau kecilnya bahu merupakan penghindaran aktivitas fisik
subjek. Intepretasi lebih mendalam lagi dan perlu didukung sumber data lain bahwa ketiadaan
bahu dapat berupa terjadinya gejala schizophrenic atau gangguan otak. Intepretasi lain
menyebutkan ketiadaan bahu berarti adanya ketidakberdayaan subjek terhadap hal-hal tertentu
terkait dengan kondisi fisik.
Lengan dan tangan mudah mengintepretasikan objek lengan dan tangan ini. Tangan
merupakan bagian tubuh yang sering sekali digunakan subjek untuk berkomunikasi non-verbal.
Ada dua dikotomi terhadap lengan dan tangan, yaitu keterbukaan atau ketertutupan. Keterbukaan
lengan dan tangan berarti kemampuan subjek menghadapi lingkungan sekitar dan ketertutupan
lengan dan tangan merupakan penolakan atau keengganan subjek terhadap lingkungan/sosial.
Tangan yang menunjukkan aktivitas gerak atau memegang objek lain misalkan cangkul atau palu
dapat diartikan beragam. Perhatikan berbagai gabungan objek untuk melakukan intepretasi ini.
Apabila aktivitas gerak cukup sesuai dapat menunjukkan keaktifan subjek terhadap sosial atau
ringan tangan, mudah membantu. Apabila aktivitas tangan dengan memegang benda tertentu dan
terjadi penguatan pada benda tersebut dapat diintepretasikan lebih ekstrim yaitu dorongan subjek
untuk dapat menguasai atau dominansi sosial. Kepalan tangan dapat berupa dendam atau
dorongan kuat untuk menyelesaikan sesuatu. Tangan yang disembunyikan atau disimpan dalam
saku dapat diartikan ketertutupan/introversi dapat pula diartikan sebagai situasi konflik. Subjek
memiliki sisi gelap (atau rasa minder) dengan tangan tersebut sehingga perlu disembunyikan.
Kaki dan Tungkai
Kaki adalah simbolisasi pergerakan, kestabilan, kekuatan subjek dalam membawa diri terhadap
lingkungan sekitar. Ketiadaan tungkai atau kaki menunjukkan situasi subjek tidak aman atau
nyaman dengan kondisi saat ini. Kaki dengan aktivitas misal berjalan atau meloncat berarti
subjek memiliki mobilitas tinggi atau dorongan untuk berubah terhadap beragam situasi, subjek
mudah jenuh terhadap situasi rutin. Menonjolnya kaki berarti kestabilan atau kemantapan diri
terhadap situasi lingkungan sekitar.
Bagaimana dengan stick-man?? Selama 3 tahun melakukan tes grafis pengalaman kami hanya
menemukan 2 kasus adanya gambar berupa stick-man, yang berarti 0,00 sekian persen muncul
figur stick-man ini. Intepretasi dari stick-man yang paling mudah adalah regresi atau
ketidakmatangan perkembangan mental tertentu. Subjek tidak mau terbebani secara sosial
dengan menginginkan situasi nyaman dan aman layaknya seorang anak tanpa ada beban sosial.
Menggunakan bahasa Freud, subjek mengalami fase rigid atau immature dan ingin kembali pada
fase awal perkembangan mental yaitu pada fase oral. Tidak adanya representasi super-ego dan
ego menjadikan subjek membuat figur dasar berupa coretan-coretan yang merepresentasikan id.

Catatan lain mengenai DAP ini adalah mengenai jenis kelamin yang digambarkan. Jangan sekalikali langsung memberi judgment apabila subjek laki-laki menggambar figur perempuan karena
adanya dorongan seksualitas yang tinggi. Gambar beda gender memiliki banyak arti dalam
psikoanalisa dan yang utama adalah disebabkan oleh peran orang tua. Bila subjek laki-laki
menggambar figur perempuan dapat diartikan hilangnya figur ayah menjadikan figur ibu sangat
kuat dalam benaknya dan kurang diimbangi dengan figur ayah. Kekosongan figur tersebut dapat
menjadikan subjek merepresikan identitas diri dan diproyeksikan kepada figur orang lain yang
lebih erat. Sehingga intepretasi mengenai dorongan seksual yang tinggi bukan sebab utama
karena dalam hal ini subjek mencari figur lain yang kosong dan subjek berharap dapat
memuaskan kekosongan figur tersebut.
Menggambar Pohon
Sebelum melakukan interpretasi gambar pohon sekiranya harus diperhatikan usia dan latar
belakang subjek. Kematangan usia menentukan bentuk objek yang digambarkan dan latar
belakang subjek cenderung berpengaruh dengan jenis pohon yang digambar. Apabila kita
melakukan tes di daerah Blora misalkan, banyak peserta menggambar pohon jati karena pohon
jati hampir ada dimana-mana dan secara tidak sadar subjek sudah merekam pohon jati dari awal
perkembangan hidupnya. Perihal usia, observasi gambar apakah kematangan atau isi dari objek
sesuai dengan kelompok usia atau munculnya hambatan atau retardasi dari kualitas gambar
tersebut.
Aspek awal yang diperhatikan dari objek adalah:
Ukuran terkait dengan kertas
Kecil, cenderung berhati-hati,teliti, irit misal terhadap harta atau waktu.
Besar, ambisius, cenderung melakukan kesalahan, berharap berlebih dari apa yang
dimiliki.
Kualitas garis
Goresan kuat, menunjukkan sisi agresi, pemenuhan diri.
Goresan lembut, menunjukkan kehalusan, ketertutupan diri, ketenangan diri.
Goresan berulang-ulang, menunjukkan keraguan, kecemasan.
Penempatan objek
Bagian atas, pribadi independen, memiliki banyak dorongan dalam hidup.
Bagian bawah, pribadi yang realistis, praktis, skeptis.
Bagian tengah, pribadi yang dapat mengatur diri sesuai kemampuan dengan situasi
sekitar, adekuat dalam perencanaan.
Detil objek
Sedikit garis, hanya garis utama, pola pikir konseptual, memandang secara keseluruhan
dan cenderung mengabaikan detil.
Banyak garis dan detil, perhatian terhadap detil.
Penampakan gambar
Tinggi, menunjukkan tinggi harapan, cara berpikir, besarnya ego.
Penguatan bagian atas, ambisius, energik.
Pendek melebar, menyenangi kestabilan, konsistensi, aturan dan keamanan.
Tertiup angin, aktivitas, goyah, dorongan untuk bergerak.
Dasar
Munculnya dasar tanah, indikator rasa aman dan perencanaan.

Adanya tanah, digambarkan secara lembut, menunjukkan kebahagiaan.


Digambarkan pada pot, menunjukkan pemberontakan, keinginan untuk berubah.
Digambarkan di lembah, dorongan untuk diperhatikan.
Akar
Atau roots adalah dasar dari asosiasi kepribadian subjek. Akar dapat diistilahkan sebagai id,
fondasi awal perkembangan subjek (terutama perkembangan seksual). Subjek yang lebih matang
menggambar akar dengan dua garis atau bahkan terkesan tiga dimensi (biasanya dengan arsir).
Ketidakadekuatan akar dapat berarti hambatan atau regresi pada fase-fase awal perkembangan.
Kuatnya akar menunjukkan subjek memiliki dorongan id yang kuat yang harus dihadapi.
Munculnya akar yang kuat dapat berarti konflik atau kecemasan karena subjek harus mengekang
dorongan itu yang direpresentasikan dengan kuatnya gambar batang pohon.
Pangkal Batang
Sangat berhubungan dengan akar. Apabila munculnya akar dan munculnya pangkal batang maka
dilihat proporsi kemiringan dari pangkal batang tersebut. Apabila ada kemiringan dalam pangkal
batang tersebut maka dapat dikatakan sebagai inhibisi atau hambatan dari fase awal
perkembangan pribadi.
Batang
Representasi batang adalah ego pribadi subjek. Fase awal individu akan lebih menggambar
batang dalam bentuk kerucut, dan pada fase lebih dewasa gambar lebih proporsional, lurus dan
serasi dengan penguatan pada garis baik 2 garis maupun bentuk 3 dimensi. Kuatnya batang
menunjukkan penekanan akan ego, dorongan untuk menonjolkan diri, diakui termasuk aspek
emosional-afeksi. Perhatikan pula pada penggelembungan atau penebalan. Penebalan berarti
penimbunan dengan indikasi adanya hambatan. Terlalu kuatnya garis atau tekanan pada batang
menunjukkan agresi atau penekanan. Kecenderungan untuk mendominasi sosial. Coretan yang
bergelombang menunjukkan emosionalitas dalam berhubungan sosial. Perhatikan juga apakah
ada arsiran atau ornament dalam batang, misalkan batang yang patah, lubang pada batang
menunjukkan bahwa subjek memiliki sesuatu dalam diri yang ingin disampaikan. Informasi
tersebut bisa berupa gangguan subjek dalam menjalin hubungan atau kecenderungan
intelektualitas subjek tinggi. Perhatikan representasi ornament batang dengan batangnya itu
sendiri.
Bayangan objek
Perhatikan bayangan objek bila ada. Representasi bayangan terhadap objek adalah keadaan
emosional yang ingin disampaikan. Kualitas bayangan yang lembut, arsiran yang memadai
menunjukkan kepekaan terhadap sosial, namun apabila bayangan cenderung gelap dapat
merepresentasikan kecemasan.
Diantara batang dan mahkota daun terdapat dahan. Dahan ini menunjukkan pesan psikis antara
ego dengan super-ego. Penekanan pada dahan berarti adanya perkembangan yang belum
sempurna terhadap sikap sehari-hari subjek dengan lingkungan. Apabila ada pemotongan dahan
berarti ada periode perkembangan yang berhenti menyangkut psikis.
Mahkota
Mahkota menunjukkan super-ego, penerimaan individu terhadap norma dan aturan. Kemampuan
menerima norma dilakukan sesuai kapasitas intelektual subjek. Selain itu mahkota dapat
digambarkan keterbukaan atau ketertutupan yang menunjukkan sikap subjek dalam menerima
lingkungan sekitar apakah cenderung terbuka atau tertutup.
Sumber Informasi Penting dapat didownload disini:

Bagian 1: Proyeksi Kepribadian Draw a Man dari Machover. (bhs inggris lo..)
Bagian 2: Prinsip Interpretasi dari Machover. (bhs inggris lo..)
Wartegg Drawing Completion Test
Tes wartegg yang banyak dikenal di Indonesia adalah versi Kinget. Pengembangan dari Kinget
awal mula dikembangkan oleh Krueger dan Sander dari Leipzig University dengan paham
Ganzheit Psychologie atau Wholistic Psychology. Pengembangan selanjutnya dilakukan oleh
Ehrig Wartegg dan Kinget.
Tes ini yang terdiri 4 deret kotak di bagian atas dan 4 deret kotak di bagian bawah dengan ukuran
1,5 x 1,5 inchi terdiri dari pola tertentu berupa titik, garis lengkung, garis kaku dengan berbagai
pola.Menurut Kinget dengan 8 stimulus tersebut dapat memberikan sarana untuk melakukan
eksplorasi terhadap berbagai nilai yang relevan untuk melakukan diagnosa terhadap subjek.
Menurut Sander, pola goresan tersebut dapat merepresentasikan berbagai aspek yaitu:
Emosi; pembedaan introversi dan ekstroversi.
Imajinasi; perbedaan antara imajinasi kreatif dan penggabungan. Imajinasi penggabungan
lebih didasarkan dari persepsi, penerimaan berbagai hubungan realitas yang ada dan
imajinasi kreatif lebih ditekankan pada tidak ada hubungan antara realitas dengan fantasi
pribadinya.
Intelektual; perbedaan antara intelegensi spekulatif dan praktis. Intelegensi praktis lebih
menekankan pada pola pikir sistematis, fakta, realitas konkret dan intelegensi spekulatif
lebih menekankan pada prinsip daripada fakta dan teori-teori praktis.
Aktivitas; perbedaan antara aktivitas dinamis dan terkontrol. Aktivitas dinamis
merepresentasikan individu dengan kesiapan untuk mengeksplorasi, antusiasme,
pemenuhan kebutuhan diri sementara aktivitas terkontrol menunjukkan lebih pada
kestabilan dalam pilihan dan tindakan.
Ada tiga tahap penting untuk melakukan interpretasi wartegg ini yaitu hubungan antar goresan
dengan gambar, isi dari gambar dan cara gambar dibuat atau dalam kuliah mungkin diajarkan
sebagai tahap Stimulus drawing relation, Content dan Execution.
Stimulus drawing relation
1. Titik; titik merupakan stimulus terkecil dan mudah untuk terabaikan, namun karena posisi di
tengah menjadikan mudah untuk dilihat. Subjek dikonfrontir dengan masalah yang kurang
signifikan terhadap hal-hal yang dianggap penting. Munculnya respon terhadap titik berarti
munculnya sensitivitas; afektif-kognitif, situasi nyaman, secara emosi stabil, spontan, sense of
detail. Tidak adanya atau pengabaian pada titik berarti perasaan terasing, ketegangan, rasa tidak
aman, secara afeksi labil dan kurang perhatian.
2. Wavy line; menyatakan sesuatu yang hidup. Munculnya respon berarti harmoni, relaks,
hubungan dengan sosial yang memadai. Tidak ada respon yang adekuat berarti keterasingan,
ketegangan dan kecemasan, antagonis, tidak aman dan hambatan afeksi.
3. Tiga garis vertikal menaik; menunjukkan kebiasaan, perintah atau kemajuan. Kepekaan respon
berarti kesesuaian terhadap fakta, intelegensi teoritis, pengaturan, kestabilan.
Ketidakpekaan/respon kurang memadai berarti kurang realistis, kurang aktif, tidak konsisten dan
rendahnya self-esteem.
4. Kotak hitam; menunjukkan solid, statis, kaku dan kesannya menekan. Kepekaan respon
berarti berpikiran faktual, kurangnya respon berarti kurang realistik dalam berpikir (praktis).
5. Dua garis hampir menyilang; menunjukkan konflik, dinamis, menunjukkan pola
konstruktif/teknis. Kepekaan terhadap respon berarti pola pikir faktual, teoritis, pengaturan,

kompetitif dan ambisius. Respon yang kurang peka berarti pola pikir praktis, kurang aktif,
kurang konsisten, pendiam.
6. Garis horisontal dan vertikal; garis kaku yang saling mengkonfrontir. Kepekaan terhadap
respon berarti pola pikir faktual, teoritis, pengaturan, kompetitif dan ambisius. Respon yang
kurang peka berarti pola pikir praktis, kurang aktif, kurang konsisten, pendiam.
7. Setengah lingkaran dot; menunjukkan kehalusan dan keluwesan. Kepekaan respon berarti
kognitif afektif, teoritis, pengaturan, relaks, interaksi sosial memadai, ketepatan dan detil.
Respon kurang peka berati keterasingan, tidak aktif secara sosial, ketegangan, kurang perhatian.
8. Kurva; terkesan besar, santai, pemenuhan dan mudah untuk merespon. Kepekaan respon
berarti santai, hubungan sosial yang memadai, kurang peka respon berarti keterasingan dan rasa
tidak aman.
Corak dalam 8 kotak dapat dibagi dua, yaitu berupa coretan maskulin dan coretan feminin.
Coretan maskulin terdapat pada kotak 3, 4,5,6 berupa garis kaku dan sisanya garis lengkung
dapat menunjukkan coretan feminin.
Content

<<to be continued>>