Anda di halaman 1dari 16

Penyakit Gonore dan Terapinya

Citra anggar kasih masang


10-2010-139
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat. Email : citravictoryn@yahoo.co.id

Pendahuluan
Gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidens yang tinggi diantara P.M.S
(Penyakit Menular Seksual) atau STD (Sexually Transmitted Disease) yang dalam arti kata
luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh infeksi gonococcus (Neisseria
gonorrhoeae). Meningkatnya insidens uretritis gonore ini dilihat dari segi medis antara lain
disebabkan semakin banyaknya jalur N. gonorrhoeae yang resisten terhadap beberapa jenis
antibiotika serta adanya jalur N. gonorrhoeae yang menghasilkan penisilinase (beta
laktamase) yang disebut Neisseria Gonorrhoeae penghasil penisilinase atau Penicillinase
Producing Neisseria Gonorrhoeae (PPGP).
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital,
oro-genital dan ano-genital. Tetapi, disamping itu juga dapat terjadi secara manual melalui
alat-alat, pakaian, handuk, thermometer, dan sebagainya. Gonore juga menginfeksi lapisan
dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Gonore
bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.
Pada wanita, gonore bisa menjalar ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam
pinggul sehingga timbul nyeri pinggul dan gangguan reproduksi.1

A. Anamnesis 1,2
1 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara Anamnesis dapat langsung dilakukan terhadap pasien
(auto-anamanesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis).
Seperti pada kasus yang ada, pasien yang berusia 27 tahun datang ke poliklinik dengan
keluhan kencing nanah yang terasa sejak 3 hari yang lalu. Terjadi pembesaran kelenjar getah
bening inguinal dekstra dan sinistra, ostium uretra eksterna eritema, edema, sekret (+)
banyak, purulent. Hal-hal tersebut sesuai dengan gejala penyakit gonorrhoeae. Namun untuk
memastikan lebih baik lagi, anamnesis harus ditunjang dengan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
a. Identitas: menanyakan nama, umur, jenis kelamin, pemberi informasi

(misalnya

pasien, keluarga,dll), dan keandalan pemberi informasi.


b. Keluhan utama: pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang sedang
dihadapinya.
c. Riwayat penyakit sekarang (RPS): jelaskan penyakitnya berdasarkan kualitas,
kuantitas, latar belakang, waktu termasuk kapan penyakitnya dirasakan, faktor-faktor
apa yang membuat penyakitnya membaik, memburuk, tetap, apakah keluhan konstan,
intermitten. Informasi harus dalam susunan yang kronologis, termasuk test diagnostik
yang dilakukan sebelum kunjungan pasien. Riwayat penyakit dan pemeriksaan apakah
ada demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau
diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis.
d. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): Pernahkah pasien mengalami gejala yang sama
sebelumnya.
e. Pasien dewasa: Tanya apakah menderita penyakti DM, stroke, PUD, asthma, tyroid,
hepar dan ginjal, penyakit perdarahan, kanker, TB, hepatitis dan penyakit menular
seksual. Juga tanyakan tentang pemeliharaan kesehatan pasien. Pertanyaan pada
kategori ini tergantung umur dan jenis kelamin pasien tetapi dapat mencakup pap
smear dan pemeriksaan pelvis terakhir, pemeriksaan payudara, apakah pasien
memeriksa payudaranya sendiri, tanggal mammogram, imunisasi diphteri/ tetanus,
vaksinasi pneumococcal, influenza dan hepatitis B. Sampel feses untuk perdarahan
yang tersembunyi, sigmoidoskopi atau kolonoskopi. Kolesterol, kolesterol HDL,
penggunaan alarm kebakaran pada tiap lantai dirumah dan penggunaan sabuk
pengaman.
Pasien anak-anak: mencakup riwayat prenatal dan kelahiran, makanan, intoleransi

2 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

makana, riwayat imunisasi, temperatur pemanas aiat dan penggunaan helm waktu
bersepeda.
f. Riwayat Keluarga: umur, status anggota keluarga (hidup, mati) dan masalah
kesehatan pada anggota keluarga.
g. Riwayat psychosocial (sosial): stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat
tinggal), faktor resiko gaya hidup (makan makanan sembarangan).

B. Pemeriksaan Fisik 1,2


Biasanya pemeriksaan fisik dilakukan hanya dengan cara 2 dimensi, yaitu inspeksi dan
palpasi. Inspeksi yaitu melihat dan mengamati daerah keluhan pasien seperti pada alat
kelaminnya yang menjadi keluhan yaitu daerah orificium uretra eksterna apakah terdapat
kelainan, juga mengamati apakah terdapat udem, eritema, abses, dan lain-lainnya.
Sedangkan pada palpasi yaitu memegang daerah keluhannya pada alat kelaminnya
apakah terdapat kelainan seperti benjolan dan sebagainya yang tentunya kita
menggunakan sarung tangan guna untuk higien. Kemudian selain pemeriksaan tersebut,
pemeriksaan kulit dan sendi juga perlu dilakukan sebab seperti yang kita ketahui bahwa
sekitar 1-3% kasus dapat terjadi hematogen. Ini disebabkan adanya kelainan pertahanan
tubuh, misalnya defisiensi C6-9 atau bakteri yang kebal terhadap antibody dan
komplemen yang akibatnya terjadi manifestasi pada sendi dan kulit yang berupa arthritis,
tenosynovitis dan lesi kulit.
C. Pemeriksaan Penunjang 3,4
Untuk memastikan penyebab penyakit ini maka diperlukan adanya pemeriksaan
penunjang laboratorium yang terdiri atas 5 tahapan.
Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan Gram akan ditemukan diplococcus
negative-Gram, intraselular dan ekstraselular. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari
daerah fosa navikularis, sedangkan pada wanita diambil dari uretra, muara kelenjar
Bartolin dan endoserviks. Pemeriksaan Gram dari duh uretra pada pria memiliki
sensitivitas tinggi (90-95%) dan spesifitas 95-99%. Sedangkan dari endoserviks,
sensitivitasnya hanya 46-65%, dengan spesifitas 90-99%.
Kultur (biakan)
Untuk identifikasi bakteri penyebab perlu dilakukan kultur (pembiakan). Dua macam
media yang dapat digunakan ialah media transport dan media pertumbuhan.
1. Media transpor, yang pertama adalah media Stuart dimana hanya untuk transpor
saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan. Dan yang kedua
adalah media transgrow yaitu media yang selektif dan nutritive untuk N.

3 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

gonorrhoeae dan N. meningitides. Media ini merupakan modifikasi media Thayermartin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.
2. Media pertumbuhan, ada dua yaitu media Thayer-martin dan agar coklat McLeod.
Media Thayer-martin adalah media selektif untuk mengisolasi gonokokus.
Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negative-Gram, dan nistatin untuk
menekan pertumbuhan jamur. Sedangkan pada agar coklat Mcleod adalah media
yang dapat ditumbuhi kuman lain selain gonococcus.
Pemeriksaan kultur ini mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi yaitu 94-98%
pada duh uretra pria dan pada duh endoserviks 85-95%. Sedangkan spesivitas
keduanya sama yaitu 99%.
Tes definitive
1. Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang

mengandung

larutan

tetrametil-p-fenilendiamin

hidroklorida 1% ditambahkan koloni gonokokus pasien. Semua Neisseria


memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening
menjadi merah muda sampai merah lembayung.
2. Tes fermentasi
Tes oksidasi postif dilanjutkan dengan tes ferrnentasi memakai glukosa, maltose,
dan sukrosa. Kuman gonokokus hanya meragikan glukosa.
Tes beta-laktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung chromogenic
cephalosporin.

Apabila

kuman

mengandung

enzim

beta-laktamase,

akan

menyebabkan perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.


Tes Thomson
Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. Pada tes
ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur, urin dibagi dalam 2 gelas,
dan tidak boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2.
Tabel Hasil Pembacaan
Gelas 1
Jernih
Keruh
Keruh
Jernih

Gelas 2
Jernih
Jernih
Keruh
Keruh

Arti
Tidak ada infeksi
Infeksi uretritis anterior
Panuretritis
Tidak mungkin

Differential Diagnosis 4,5


Non-Spesifik Urethritis (NSU)

4 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Adalah infeksi pada genital yang bukan karena kuman spesifik (kuman yang dapat dideteksi
dengan pemeriksaan laboratorium sederhana/biasa yaitu gonokokus, candida albicans,
trichomonas vaginalis, dan escherichia coli). Kuman-kuman penyebab utama NSU adalah
Chlamydia trachomatis (serotype D-K), Ureaplasma urealiticum, Mycoplasma hominis, dan
virus HSV.
1. Chlamydia trachomatis, merupakan parasit obligat intraseluler, yang menyerupai bakteri
negatif-Gram dan penyebab NSU yang termasuk subgroup A dan mempunyai

tipe

serotype D-K. Dalam pengembangannya Chlamydia trachomatis mengalami 2 fase :


Fase 1 : disebut fase noninfeksiosa, terjadi keadaan laten yang dapat ditemukan pada
genitalia maupun konjungtiva. Pada saat ini kuman sifatnya intraselular dan berada di
dalam vakuol yang letaknya melekat pada inti sel hospes yang disebut badan inklusi atau
retikuler
Fase 2 : fase penularan, bila vakuol pecah kuman keluar dalam bentuk badan elementer
yang dapat menimbulkan infeksi pada sel hospes baru.

Sumber : http://scunthorpegayhelpline.webs.com/chamidia2men.jpg

Gejala klinis :
Dysuria + secret mucopurulent pada urethra. Pada pria dapat menjadi epididymitis,
prostatitis, proctitis (homoseksual), dan mungkin timbul reiters syndrome. Sedangkan
pada wanita dapat timbul cervicitis, salphingitis, endometritis, dan pelvic inflammatory
disease, tetapi juga dapat asymptomatic.
2. Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis
Ureaplasma urealyticum merupakan 25% penyebab NSU dan sering bersamaan dengan
Chlamydia trachomatis. Mycoplasma hominis juga sering bersama-sama dengan
Ureaplasma urealyticum. Mycoplasma hominis bersifat komensal yang dapat menjadi
pathogen

hanya

saat-saat

tertentu

saja.

Ureaplasma

urealyticum

merupakan

mikrorganisme paling kecil, negative-Gram, dan sangat pleomorfik karena tidak


mempunyai dinding sel yang kaku.

5 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Sumber : http://www.medchem.axel-schunk.de/harnsteine/bilder/ureaplasma_urealyticum.jpg

Gejala klinis:
Pada pria gejala baru timbul setelah 1-3 minggu kontak seksual dan biasanya tidak
seberat gonore. Gejalanya berupa dysuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering
kencing, dan keluarnya cairan seropurulen. Dibandingkan dengan gonore perjalanan
penyakit lebih lama dan cenderung residif. Komplikasinya dapat berupa prostatitis,
vesikulitis, dan epididimitis. Sedangkan pada wanita lebih sering pada serviks
dibandingkan dengan vagina. Seperti pada gonore biasanya asymptomatic. Sebagian
keluhan berupa disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis, dan disparenia.
Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda servisitis yang disertai adanya folikelfolikel kecil yang mudah berdarah.
3. Virus herpes simplex
Virus herpes simplex tipe-2 yang menyebabkan herpes genital yang dengan gejala lesi
vesikuler yang berisi cairan serous pada daerah genitalia dan anal, pria maupun wanita,
infeksi pertama biasanya lebih berat. Infeksi juga dapat asymptomatic, pada pria dapat
prostatitis dan uretritis, sedangkan wanita dapat servisitis yang merupakan sumber
penularan.

Sumber : http://habibmaulana.com/wp-content/uploads/2010/11/herpes-genital-pada-pria1.jpg

4. Trikomoniasis
Merupakan infeksi saluran urogenital pada bagian bawah wanita maupun pria, dapat
bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh trichomonas vaginalis dan penularannya
biasanya melalui hubungan seksual.

6 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Sumber

http://imaging.ubmmedica.com/consultantlive/images/articles/2003/10012003/0310ConPCZooA.jpg

Gejala klinis :
Pada pria yang diserang terutama uretra, ke selenjar prostat, dan kadang-kadang
preuputiumm vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran mirip gonore
seperti disuria, poliuria, dan sekeret mukopurulen. Sedangkan pada wanita, yang diserang
terutama adalah dinding vagina, yang akan terlihat secret seropurulen berwarna
kekuningan, kuning kehijauan, dan berbau tidak enak serta berbusa.

Working Diagnosis5
Diagnosis penyakit gonore didasarkan pada hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap
nanah untuk menemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak
ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium. GO juga bisa didiagnosa dari
biakan lendir yang berasal dari saluran kencing, anus atau tenggorokan. Pada pasien dengan
gejala sistemik seperti nyeri pada sendi atau gejala pada kulit, kuman GO bisa dibiakan dari
bahan darah.
Pada pria, gejala awal gonore biasanya timbul dalam waktu 2-7 hari setelah terinfeksi.
Gejalanya berawal sebagai rasa tidak enak pada uretra dan beberapa jam kemudian diikuti
oleh nyeri ketika berkemih serta keluarnya nanah dari penis. Sedangkan pada wanita, gejala
awal biasanya timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita seringkali tidak
merasakan gejala selama beberapa minggu atau bulan, dan diketahui menderita penyakit
tersebut hanya setelah pasangan hubungan seksualnya tertular. Jika timbul gejala, biasanya
bersifat ringan. Tetapi beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan
untuk berkemih, nyeri ketika berkemih, keluarnya cairan dari vagina, dan demam. Infeksi
dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra, dan rektum serta
7 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

menyebabkan nyeri pinggul yang dalam ketika berhubungan seksual. Jika cairan yang
terinfeksi mengenai mata, maka bisa menyebabkan terjadinya infeksi mata luar
(konjungtivitis gonore). Bayi yang baru lahir juga bisa terinfeksi gonore dari ibunya selama
proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan dari
matanya keluar nanah. Jika infeksi itu tidak diobati, maka akan menimbulkan kebutaan.
Maka agar diagnosis dapat ditegakkan harus berdasarkan atas anamnesis, pemeriksaan klinis,
dan pemeriksaan penunjang seperti yang telah dipaparkan di atas. Untuk pemeriksaan sediaan
langsung biasanya dilakukan di klinik luar rumah sakit/praktek pribadi dan klinik denga
fasilitas laboratorium terbatas. Pada pemeriksaan pembiakan atau kultur dan tes definitive ini
dianjurkan untuk dilakukan pada rumah sakit dengan fasilitas laboratorium yang lengkap.

ETIOLOGI 5,6
Gonore (GO) atau biasa disebut penyakit kencing nanah adalah penyakit menular
seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra,
leher

rahim,

rektum

dan

tenggorokan

atau

bagian

konjungtiva

mata

(Konjungtivitis gonore).
N. gonorrhoeae adalah Gram-negatif, berbentuk ginjal diplococcus, yang berdekatan
dengan permukaan agak cekung. Dalam noda exudates, diplococci sering dilihat di dalam
polymorphonuclear leukosit. N. gonorrhoeae juga dapat menyebabkan konjungtivitis,
faringitis, proktitis atau uretritis, prostatitis dan orkitis. Konjungtivitis adalah umum pada
neonates dan perak nitrat atau antibiotik sering diterapkan pada mata mereka sebagai
tindakan pencegahan terhadap gonore. Gonorrheal neonatal conjunctivitis adalah dikontrak
ketika bayi terkena N.gonorrhoeae di jalan lahir, dan dapat menyebabkan luka atau
perforasikornea.
Gonokokus termasuk diplokokus berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 m dan panjang 16
m, bersifat tahan asam. Karena selalu berpasangan, bakteri ini di sebut diplokokus. Pada

sediaan langsung dengan pewarnaan gram bersifat gram negative, terlihat diluar dan di dalam
leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak tahan suhu
di atas 39 derajat celcius dan tidak tahan zat desinfektan.

8 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Sumber : http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQG7JA0TX7o0dLTO

Secara morfologik gonokok ini terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili
yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunya pili dan bersifat nonvirulen.
Pilo akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang
paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang
belum berkembang, yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

PATOFISIOLOGI 7,8
Pada umumnya infeksi primer dimulai pada epitel silindris dari uretra, duktus periuretralis
atau beberapa kelenjar disekitarnya. Kuman juga dapat masuk lewat mukosa serviks,
konjugtiva atau rectum. Kuman menempel dengan pili pada permukaan sel epitel mukosa.
Pada hari yang ketiga, kuman mencapai jaringan ikat dibawah epitel, setelah terlebih dahulu
menembus ruang antar sel. Selanjutnya terjadi reaksi radang berupa infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Eksudat yang terbentuk dapat menyumbat saluran atau kelenjar sehingga
terjadi kista retensi dan abses. Penyebaran ke tempat-tempat lainnya lebih sering terjadi lewat
saluran getah bening daripada lewat saluran darah. Terjadinya kerusakan pada sel epitel oleh
gonokokus, menyebabkan terbentuknya celah pada mukosa, sehingga mempermudah dan
mempercepat masuknya kuman.

EPIDEMIOLOGI 5,6
9 | G o n o r e d a n Te r a p i n y a

Penyakit ini terjadi secara luas di seluruh dunia dengan porevalensi yang lebih tinggi di
berbagai Negara berkembang. Angka serangan paling tinggi pada 15-24 tahun yang tinggal di
kota, termasuk dalam social ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual, atau memiliki
riwayat PMS terdahulu.
Grafik perkembangan penyakit menular seksual

Sumber : http://www.lakartidningen.se/store/images/2/2704/large/05Kv1256.jpg

Penyakit ini sangat mudah ditularkan dengan angka infeksi 50% pada wanita dan 20% pada
pria setelah sekali terpajan vagina tanpa pelindung. Kira-kira 75% wanita asimtomatik,
dibanding hanya 5% pada pria heteroseksual. Lokasi infeksi ekstragenital termasuk orofaring,
mata, dan jaringan perihepatik; infeksi diseminata jarang terjadi. Insidensi meningkat secara
stabil antara tahun 1951 dan 1980, setelah itu insidensi menurun. Namun pada tahun-tahun
belakangan ini mulai meningkat lagi terutama pada pria homoseksual; kira-kira terdapat
12.000 kasus per tahun di inggris. Infeksi sistemik berat dab oftalmia neonatorum menjadi
jarang terjadi di Negara maju. Imunitas protektif tidak terbentuk dan reinfeksi umum terjadi
setelah pajanan ulang.

Manifestasi Klinik 6,7


a. Pria
Penularan gonore terutama terjadi lewat kontak seksual. Masa tunas bervariasi rata-rata 2-5
hari. Penderita mengeluh disuria dan mengeluarkan pus yang purulen pada waktu miksi
sehingga urin menjadi keruh. Kadang-kadang disertai demam dan terjadi leukositosis, namun
seringkali tidak dijumapi gejala sistemik lainnya. Sedangkan pada pria yang homoseksual
terjadi gonorea anorektal dengan gejala berupa nyeri perianal, pruritus, secret mukoid atau
10 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

mukopurulen atau perdarahan anus. Infeksi asimtomatik pada 60% kasus dimana proktitis
distal yang terlihat sebanyak 20% dan proktitis histology 40%.

Sumber :
http://2.bp.blogspot.com/_zj3TSZg592M/RrVNkeg16mI/AAAADA/O8apBV1k3S4/s320/image004.jpg

b. Wanita
Masa tunas gonore pada wanita sukar ditentukan karena pada umunya tidak menunjukkan
gejala-gejala. Bila ada, gejala dapat berupa disuria/poliuria, keluar getah dari vagina, demam
atau nyeri diperut. Selain itu dapat juga terjadi servisitis dan uretritis, dimana servisitis
ditandai oleh serviks eritematosa yang rapuh dan secret mukopurulen.

Sumber : http://www.consultantlive.com/image/image_gallery?img_id=1406884&t=1240424884574

11 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

c. Anak-anak
Pada umumnya infeksi pada anak terjadi pada masa perinatal, yaitu pada saat bayi lewat jalan
lahir. Manifestasinya dapat berupa infeksi pada mata yang biasa disebut opthalmia
neonatorum atau blenorhoeae dimana pada kasus ini jika tidak ada penganganan yang baik,
maka akan mengakibatkan kebutaan pada bayi.

Sumber : http://www.soc.ucsb.edu/sexinfo/images/gonorrhea_infant.JPG

PENATALAKSANAAN 8,9
a. Medikamentosa
1. Penisilin
Yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit+1 gram probenesid.
Obat ini dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.
2. Ampisilin dan amoksisilin
Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram+1 gram probenesid, dan amoksisilin 3 gram+1
gram probenesid. Angka kesembuhannya lebih kurang di banding penisilin sehingga
obat ini tidak dianjurkan. Suntikkan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya
ialah alergi penisilin. Untuk daerah dengan Neisseria gonorrhoeae penghasil
Penisilinase (N.G.P.P) yang tinggi, penisilin, ampisilin, dan amoksisilin tidak
dianjurkan.
3. Sefalosporin

12 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

Seftriakson (generasi 3) cukup efektif dengan dosis 250mg i.m. sefoperazon dengan
dosis 0,50 samapai 1,00 gram secara i.m. sefiksim 400mg per oral dosis tunggal
member angka kesembuhan >95%.
4. Spektinomisin
Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik untuk penderita yang alergi penisilin, yang
mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga
tersangka menderita sisilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.
5. Kanamisin
Dosisnya 2 gram i.m. angka kesembuhannya sekita 85%. Baik untuk penderita alergi
penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan tersangaks sifilis.
6. Tiamfenikol
Dosisnya 3,5 gram, secara oral. Angka kesembuhannya sekitar 97,7%. Tidak di
anjurkan pemakaiannya pada ibu hamil karena efek sampingnya.
7. Kuinolon
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400mg,
siprofloksasin

250-500mg,

dan

norfloksasin

800mg

secara

oral.

Angka

kesembuhannya cukup tinggi sekitar 100%. Mengingat beberapa tahun terakhir ini
resistensi terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin tinggi, maka golongan
kuinolon yang dianjurkan adalah levofloksasin 250mg per oral dosis tunggal. Obat
dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi adalah tetrasiklin, streptomisin dan
spiramisin.
b. Non Medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan tentang:
-

Bahaya penyakit menular seksual


Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat

dihindari.
Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.

KOMPLIKASI5-7
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal genitalia.
13 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

Komplikasi local pada pria biasanya berupa tisonitis (radang kelenjar Tyson),
parauretritis, littritis (radang kelenjar Littre), dan cowperitis (radang kelenjar cowper).
Selain itu, infeksi dapat pula menjalar ke atas (ascendens), sehingga terjadi prostatitis,
vesikulitis, funikulitis, epididimitis, dan trigonitis dengan gejala disuria, poliuria, dan
hematuria yang dapat menimbulkan infertilitas.
Pada wanita, infeksi pada serviks (servitis gonore) dapat menimbulkan komplikasi
salpingitis, atau pun penyakit radang panggul sehingga dapat berakibat infertilitas
atau kehamilan ektopik. Jika mengenai uretra dapat terjadi parauretritis, sedangkan
pada kelenjar Bartholin akan menyebabkan terjadinya bartolinitis.
Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa arthritis, miokarditis,
endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis. Kelainan yang timbul akibat
hubungan kelamin selain cara genito-genital, pada pria dan wanita dapat berupa
infeksi nongenital, yaitu orofaringitis, proktitis, dan konjungtivitis.
Kelainan yang timbul akibat hubungan kelamin selain cara genito-genital, pada pria dan
wanita dapat berupa orofaringitis, proktitis, dan konjungktivitis.

Pencegahan8
Pencegahan Pasien dengan Gejala Gonore :
1. Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang
terinfeksi.
2. Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali
risiko penularan penyakit ini
3. hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai.
4. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencegah infeksi lebih
jauh dan mencegah penularan
5. wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika
terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar
6. Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan
kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan.

Prognosis8

14 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

Gonore bila didiagnosis dini dan diobati tepat dan segera akan memberikan hasil prognosis
yang baik. Tetapi bila terinfeksi sampai tahap lanjut atau terlambat ditangani akan
memberikan prognosis yang buruk yaitu infertilitas (kemandulan).

Kesimpulan
Gonore adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae.
Gonore mempengaruhi baik laki-laki maupun perempuan yang ditularkan melalui hubungan
seksual vaginal, oral maupun anal dan dapat masuk ke dalam uretra, anus, tenggorokan,
15 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a

cerviks (leher rahim) atau rahim. Orang bisa juga mendapatkan infeksi dari mata. Pada lakilaki gejala yang timbul berupa terjadi uretritis, keluar cairan seperti nanah dari penis, uretra
meradang, perih saat buang air kecil, terjadi epididimitis. Sedangkan pada perempuan akan
timbul gejala berupa terjadi cervicitis, keluar cairan seperti nanah dari vagina, nyeri saat
buang air kecil, susah buang air kecil, menstruasi pendarahan. Gonore jika didiagnosis dini
dan pengobatan tepat dan segera menghasilkan prognosis baik, tetapi bila telah sampai pada
tahap lanjut memberikan prognosis buruk.

DAFTAR PUSTAKA
1. Daili SF, Judonarso J, dkk. Standardisasi diagnostic dan penatalaksanaan beberapa
penyakit menular seksual. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2000. Hal 143-48.
2. Winarno, Penyakit Kelamin Gonorhoeae, Maret 2009, diunduh dari :
http://winarno-ajo.com/2009/03/penyakit-kelamin-gonorrhoea.html, 14 April 2012
3. Daili SF, Judonarso J, dkk. Infeksi menular seksual. Edisi 3; jilid 2. Jakarta: balai
penerbit FKUI. 2007. Hal 65-76.
4. Djuanda A, Hamzah M, Alsah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 5; jilid 1.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2007. Hal 366-85.
5. Price SA, Wilson LM. Patafisiologi; konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6;
Vol. 2. Jakarta: Penerbit Buku Kodokteran EGC. 2006. Hal 133-143.
6. Chan ECS, Pelczar MJ. Dasar-dasar mikrobiologi II. Jakarta:UI-Press. 2001. Hal 78494.
7. Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H, Lobel B. European
Association of Urology : Guidelines on Urinary and Male Genital Tract Infections. 2nd
edition. China: Saunders Elsevier Inc. 2001. Hal 892-99.
8. Underwood JCE. Patologi umum dan sistemik. Edisi 2; Vol. 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2000. Hal 842-843.
9. Ganiswarna SG, dkk. Farmakologi dan terapi. Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

2005. Hal 622-50.

16 | G o n o r e d a n T e r a p i n y a