Anda di halaman 1dari 12

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH


Topik 1 :
SINERGITAS ANTAR INSTANSI PEMBINA LALU LINTAS
DAN KAMSELTIBCAR LANTAS
Judul :
OPTIMALISASI PERAN FORUM LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
DALAM REVITALISASI KAWASAN TERTIB LANTAS DI POLRES X
GUNA MEWUJUDKAN KETERTIBAN DAN KELANCARAN LALU LINTAS
DALAM RANGKA TERCAPAINYA PEMBANGUNAN DAERAH

I.

PE N DAH U LUAN
1. Latar Belakang
Permasalahan lalu lintas selalu saja tumbuh lebih cepat dari upaya pemecahan
permasalahan transportasi sehingga mengakibatkan permasalahan menjadi bertambah
kompleks dan rumit seiring berjalannya waktu. Polri, yang didasarkan kepada undangundang kepolisian No 2 tahun 2002 dan tertuang pada pasal 14 point b yang mengatakan
bahwa dalam melaksanakan tugas pokok, Polri bertugas menyelenggarakan segala
kegiatan dalam menjamin kamtibcarlantas di jalan. Klausul tersebut memberikan dasar
hukum bagi penyelenggaraan fungsi teknis lalu lintas kepolisian yang meliputi pembinaan
ketertiban lalu lintas, registrasi dan identifikasi pengemudi dan kendaraan bermotor serta
pengkajian masalah lalu lintas. Satuan Lalu lintas diberikan amanah untuk dapat
menjalankan fungsi teknis lalu lintas salah satunya adalah manajemen rekayasa lalu lintas.
Kesemuanya bertujuan agar arus pergerakan manusia dan barang dapat berjalan aman,
tertib dan lancar, sehingga dapat menunjang tercapainya pembangunan daerah setempat.
Jalan raya merupakan fasilitas umum yang disediakan Negara sebagai infrastruktur
suatu daerah. Disisi lain, jalan yang seharusnya memiliki kontribusi positif bagi gerak
langkah kemajuan dan pembangunan suatu daerah, namun juga menyisakan sederet
permasalahan serius. Menurunnya daya dukung jalan dan semakin meningkatnya jumlah
kendaraan dari tahun ke tahun menjadi penyebab terjadinya kemacetan arus lalu-lintas
yang cukup meresahkan. Kerugian bbm yang terbuang, waktu yang tersita dan polusi dari
kamacetan tersebut, telah memaksa pemerintah untuk segera turun tangan mencari
solusinya.

Untuk

itu,

para

stakeholders

yang

diberikan

kewenangan

dalam

penyelenggaraan lalu lintas, perlu berperan aktif menyikapi permasalahan yang sudah ada
di depan mata. Perlu kiranya diambil creative breakthrough sebagai bentuk rekayasa
lalu-lintas atas dasar kajian dan analisa yang pernah dilakukan di kota-kota lain, demi
mewujudkan ketertiban dan kelancaran berlalu lintas.

Menghadapi permasalahan tersebut diatas, salah satu upaya yang dapat dilakukan
adalah dengan pemberdayaan peran Forum Lalu lintas Dan Angkutan Jalan. Didasari oleh
amanah Undang-undang dan Peraturan Pelaksananya1, wahana koordinasi antarinstansi
penyelenggara lalu lintas dan angkutan jalan ini diberikan kewenangan dalam
penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dalam kegiatan pelayanan langsung
kepada masyarakat. Forum ini bertugas melakukan koordinasi antar instansi
penyelenggara yang memerlukan keterpaduan dalam merencanakan dan menyelesaikan
permasalahan lalu lintas dan angkutan jalan. Tentunya, termasuk dalam Revitalisasi
Kawasan Tertib Lalu lintas (KTL) di wilayah tersebut, dalam rangka menumbuhkan
budaya tertib berlalu lintas di masyarakat.
2. Permasalahan
Dari uraian di atas, maka Penulis mengangkat

permasalahan : Bagaimana

Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi
KTL Di Polres X Guna Mewujudkan Ketertiban Dan Kelancaran Lalu-Lintas
Dalam Rangka Tercapainya Pembangunan Daerah?
3. Persoalan
Adapun persoalan yang dihadapi Polres X dalam Upaya Optimalisasi Peran Forum
Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL , guna mewujudkan
ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas, yaitu :
a. Bagaimana Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan dalam mewujudkan
ketertiban dan kelancaran lalu-lintas saat ini?
b. Mengapa diperlukan Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan
Dalam Revitalisasi KTL di Polres X?
c. Bagaimana Upaya Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan
Dalam Revitalisasi KTL guna mewujudkan tertib dan lancar berlalu-lintas?
4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penulisan ini dibatasi pada pembahasan tentang Optimalisasi
Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL Di
Polres X Guna Mewujudkan Ketertiban Dan Kelancaran Lalu-Lintas Dalam
Rangka Tercapainya Pembangunan Daerah.
II.

PE M B AH AS AN

1 Pasal 13 ayat (2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahu 2009 Nomor 96; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025) dan Peraturan Pemerintah No. 37
Tahun 2011 tentang Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 73).

Daerah Hukum Polres X terletak pada garis Bujur Timur 108,05 109,06 dan garis
Lintang Selatan 6,01 7,05, memiliki luas wilayah sekitar 1.202,46 km2, yang membawahi
23 Polsek, terdiri dari : 26 Kecamatan, 13 Kelurahan dan 325 Desa. Dari aspek demografi,
diperoleh data jumlah penduduk sebanyak 1.207.520 jiwa. Dari data tersebut, wilkum Polres
X memiliki kepadatan penduduk mencapai 964 Jiwa / km 2. Adapun Jumlah personil Polres X
secara keseluruhan sebanyak 804 orang (DSP sejumlah 1.767 orang, masih kurang 963
orang) terdiri dari anggota Polri berjumlah 56 Perwira dan 748 Bintara (DSP Perwira : 425
dan Bintara : 1.342 orang) ditambah dengan 29 PNS (DSP : 83 orang). Secara umum
pemenuhan kekuatan riil hanya 45,5 % dari DSP yang telah ditentukan. Di sisi lain,
perbandingan jumlah personil Polres X dengan jumlah penduduk, diperoleh Police Ratio yaitu
1 : 1.635 Jiwa.
Berkaitan dengan infrastruktur di Kabupaten X, tersedianya jalan merupakan prasarana
pengangkutan darat yang penting guna memperlancar kegiatan perekonomian. Artinya, jalan
yang berkualitas akan meningkatkan usaha pembangunan khususnya dalam upaya
memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang suatu daerah ke daerah
lain. Jenis jalan yang terdapat di Kabupaten X meliputi jalan negara, jalan propinsi dan jalan
kabupaten. Secara keseluruhan panjang jalannya mencapai 864,424 Km, dimana kesemuanya
merupakan jalan aspal.

KEADAAN JALAN
I

II

III

Jenis Permukaan Jalan


a. Diaspal
b. Kerikil
c. Tanah
d. Tidak Terinci
Total
Kondisi Jalan
a. Baik
b. Sedang
c. Rusak
d. Rusak Berat
Total
Kelas Jalan
a. Kelas I
b. Kelas II
c. Kelas III
d. Kelas IIIA
e. Kelas IIIB
f. Kelas IIIC
g. Tidak Terinci
Total

JALAN NEGARA
2009
2010

PANJANG JALAN (KM)


J ALAN P RO P I NS I
J ALAN KABUPATE N
2009

2010

2009

2010

25,895
25,895

25,895
25,895

122,929
122,929

122,929
122,929

693,100
693,100

693,100
22,500
715,600

25,895
25,895

25,895
25,895

62,929
28,000
32,000
122,929

67,940
41,989
7,000
6,000
122,929

271,100
248,200
145,800
28,000
693,100

362,080
107,850
166,970
78,700
715,600

25,895
25,895

25,895
25,895

55,329
67,600
122,929

55,329
67,600
122,929

693,100
693,100

715,600
715,600

DATA JUMLAH PELANGGARAN LANTAS THN 2011

DATA JUMLAH KECELAKAAN LANTAS THN

Dalam Forum tersebut, diharapkan dapat terjalin koordinasi antar instansi penyelenggara
lantas yang mengedepankan keterpaduan dalam menyelesaikan permasalahan Lalu Lintas.
Sedangkan keanggotaan forum tersebut terdiri atas Bupati (Ketua Harian), Dishubkomintel,
Disperindag, Akademisi dan Masyarakat. Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan di Kabupaten
X dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati X, yang berfungsi sebagai wadah koordinasi untuk
dapat melakukan tugas pokok dan fungsinya dalam setiap penyelenggaraan Lalu lintas dan
Angkutan Jalan dalam penyelenggaraan di bidang Lalu lintas dan angkutan jalan yang
memerlukan keterpaduan dalam perencanaan dan penyelesaian permasalahan di bidang Lalu
lintas dan angkutan jalan yang bersifat komplek. Kriteria penanganan permasalahan Lalulintas
dan angkutan jalan yang bersifat komplek dan memerlukan keterpaduan adalah terganggunya
Lalulintas dan angkutan jalan yang berdampak negatif terhadap sosial-ekonomi serta
penyelesaiannya yang memerlukan kewenangan dan tanggung jawab antar instansi
penyelenggara. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui Revitalisasi Kawasan Tertib
Lalintas, yang bertujuan untuk menentukan daerah rawan kecelakaan dan pelanggaran lalu
lintas sebagai KTL, maupun menindaklanjuti KTL yang telah ada melalui langkah inovasi
tertentu, sehingga dapat menumbuhkan kesadaran berlalulintas bagi para pengemudi.
4

5. Fakta Fakta
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan di Polres X, penulis

belum

menjumpai pemahaman yang komprehensif dari Kasatker maupun Kasat lantas dalam
pemberdayaan peran Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan, utamanya dalam menghadapi
permasalahan di bidang lalu-lintas, diantaranya dalam Revitalisasi KTL . Pembentukan
KTL merupakan salah satu bentuk Rekayasa lalu lintas itu sendiri adalah suatu
penanganan yang berkaitan dengan perencanaan, perancangan geometrik dan operasi lalu
lintas jalan serta jaringannya, terminal, penggunaan lahan serta keterkaitan dengan moda
transportasi lainnya.2 Dari beberapa rambu yang sering ditemui, bagi masyarakat awam
justru menimbulkan multi tafsir yang terkesan mencibir yaitu plang yang bertuliskan
Anda Memasuki Kawasan Tertib Lalu Lintas. Papan pemberitahuan (Plang) ini
seharusnya bermanfaat sebagai peringatan agar kita menjadi lebih tertib ketika
memasuki jalan tersebut. Namun pada kenyataannya, plang tersebut malah menjadi
tidak bermanfaat disebabkan oleh beberapa alasan, yaitu seolah tidak ada bedanya ketika
kita sudah melewati plang tersebut, belum tercipta disiplin berlalu lintas yang baik.
Masih dibutuhkan upaya penegakan hukum dalam menertibkan jalan dan menindak
tegas pengemudi yang melanggar lalu lintas. Selain itu, plang tersebut memunculkan
anggapan sebagian masyarakat bahwa sebelum melewati plang tersebut, diperbolehkan
tidak tertib berlalu lintas, boleh melanggar lalu lintas dan polisi tidak berhak menindak,
karena tidak termasuk kawasan tertib lalu lintas. Padahal sejatinya, semua kawasan
adalah area tertib lalu lintas, kita harus tertib dimanapun berada. Hal ini menunjukkan
bahwa sosialisasi tentang pengertian, ketentuan dan manfaat dari KTL itu sendiri belum
dipahami sepenuhnya oleh masyarakat.
Demikian pula yang berlaku di wilayah hukum Polres X, walaupun sejauh ini telah
terlaksana tugas penyelenggaran lalu lintas oleh Sat lantas dengan baik, namun Tak
ada gading yang tak retak adalah adagium yang paling tepat dalam merepresentasikan
pelaksanaannya. Masih ditemukan berbagai kelemahan dalam unsur maupun fungsi
manajemen dalam pelaksanaan Revitalisasi KTL yang selama ini hanya dilaksanakan
sepihak oleh instansi tertentu, dan belum dilaksanakan terpadu oleh Forum Lalu Lintas
dan Angkutan Jalan. Sementara pada tataran pelaksanaan rekayasa lalu lintas dan upaya
penegakan hukumnya diserahkan kepada Polri, yaitu Sat Lantas Polres X. Permasalahan
ini kemungkinan besar juga merupakan problematika di seluruh KOD sebagai classical

2 Wolfgang S. Homburger; James H. Kell, Fundamentals of Traffic Engineering, 9th Edition, University of California, 1977. Hal.
98.

syndrome, sebagaimana dikategorikan dalam Management Theory by George.R.


Terry3, yaitu :
a. SDM Polri (Man).
1) Secara Kuantitas. Masih belum tercukupinya personel Sat Lantas, hanya 80
orang dari DSP : 185 orang, masih kurang = 105 orang (bahkan kekuatan riil
perwira hanya 4 orang, dari DSP : 23 orang).
2) Secara Kualitas, Kasatker belum pahami peran sebagai anggtoa Forum dan
personil yang ditunjuk di fungsi Sat Lantas hanya 6 personil yang memiliki
kualifikasi dikbangspes manajemen rekayasa lantas.
b. Anggaran (Money)
1) Tidak ada mata anggaran khusus dari DIPA untuk mendukung kegiatan
pemberdayaan Forum tersebut dalam manajemen rekayasa lantas, khususnya
Revitalisasi KTL, sehingga cenderung swadaya dari pimpinan satker.
2) Masih terjadi penyimpangan anggaran, seperti : pemotongan anggaran
untuk kebutuhan operasional dan adanya subsidi silang yang rawan
penyimpangan dalam pertanggungjawabannya.
c. Sarana dan Prasarana (Materials)
Polres X sendiri belum memiliki piranti keras (hardware) berupa gedung,
ranmor, peralatan khusus (Alsus) dan Alat Komunikasi (Alkom) serta piranti
lunak (software) dalam pelaksanaan Forum ini.
d. Sistem dan Metoda (Methods).
1) Belum terdapat MOU antar anggota Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan,
sebagai dasar hukum koordinasi penyelesaian permasalahan Lalu lintas.
2) Belum ada SOP sebagai pedoman pelaksanaan tugas masing-masing
anggota Forum, utamanya dalam Revitalisasi KTL ,
3) Belum ada pelibatan pakar Traffic Engineering (Akademisi) dalam
Revitalisasi

KTL,

sehingga

kurang

efektif

dalam

pelaksanaan

penanggulangannya.
6. Analisis Permasalahan
Akselerasi Transformasi Polri (Quick Wins) adalah salah satu pedoman dalam
pelaksanaan tugas
mampu

dalam upaya memberikan pelayanan lalu lintas yang diharapkan

membawa Polri menuju Polri yang mandiri, professional dan dipercaya

masyarakat hingga maksimal dalam memberikan pelindungan, pengayoman dan


pelayanan yang baik kepada masyarakat, Polri harus mampu menciptakan Trust Building
yang merupakan dukungan dan kerjasama masyarakat dengan landasan kepercayaan serta
menciptakan Partnership Building dalam membangun kerjasama dengan berbagai pihak
3 Terry, George. R., Prinsip-prinsip Manajemen, Jakarta : Bumi Aksara, Tahun 1986, hal 56.
6

yang terkait dengan tugas dan fungsi Polri serta dapat membangun pelayanan publik yang
baik dan dapat dipercaya oleh masyarakat.
Berangkat dari permasalahan tersebut, sudah seharusnya, sebagai Kasatker, harus
dapat mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki, baik internal maupun eksternal.
Sebagaimana diamanahkan oleh Undang-undang dan Peraturan pelaksananya, sebagai
anggota Forum Lalu lintas dan Angkutan jalan, Kasatker bersama-sama dengan Kasat
Lantas memiliki tugas pokok :
a. Memberikan saran, masukan dan pertimbangan kepada Bupati mengenai berbagai
masalah di bidang transportasi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing
satuan kerja perangkat daerah.
b. Melakukan koordinasi antar instansi penyelenggara dalam merencanakan dan
menyelesaikan masalah lalu linas dan angkutan jalan.
c. Merencanakan pelaksanaan kegiatan yang berskala besar dan memerlukan
pertimbangan lintas sektoral dalam bidang manajemen dan rekayasa lalu lintas,
perencanaan

transportasi,

manajemen

angkutan

umum

dan

pelaksanaan

pembangunan yang dapat menimbulkan permasalahan di bidang transportasi.


Kawasan Tertib Lalu Lintas itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan Kamseltibcar
lantas, mengurangi angka kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas serta menumbuhkan
kesadaran masyarakat pengguna jalan akan tertib berlalu lintas. Pembentukannya pada
hakekatnya didahului oleh pengkajian secara komprehensif dan terpadu dari instansi
pembina lalu lintas. Begitu pula dalam pelaksanaannya tetap diperlukan pembahasan
bersama. Dasar dari pembentukan kawasan tertib berlalu lintas adalah adanya surat
keputusan baik walikota maupun bupati. Surat keputusan tersebut kemudian dituangkan
dalam peraturan daerah untuk ditaati dan dipatuhi oleh seluruh pengguna jalan. Hal ini
sebagaimana diatur dalam pasal 8 UU No 22 tahun 2009 tentang lalu lintas angkutan jalan
dimana dalam penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan diperlukan peran
pemerintah daerah.
Adapun dari hasil pengamatan yang dilaksanakan terhadap optimalisasi Peran
Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL guna mewujudkan
ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas, dapat diambil suatu analisa permasalahan,
sebagai berikut :
a. SDM Polri (Man).
1) Secara Kuantitas, agar dapat meng-cover kepentingan masyarakat,
seyogyanya dipenuhi jumlah anggota sesuai DSP.
7

2) Secara Kualitas, Kasatker perlu memahami peran sebagai anggota Forum


Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan, sehingga permasalahan di bidang Lalu
lintas dapat diatasi secara terpadu. Selain itu, perlunya pemahaman tentang
manajemen rekayasa Lalu-lintas oleh seluruh anggota Lantas.
b. Anggaran (Money)
1) Tidak adanya anggaran yang mendukung kegiatan pemberdayaan Forum ini,
membuat pelaksanaannya menjadi terkesan setengah hati dan belum
digunakan sebagai media pemecahan permasalahan Lantas secara optimal.
2) Penyimpangan anggaran melalui dana subsidi silang, disebabkan masih
adanya justifikasi penggunaan dana untuk operasionalkan kegiatan yang
kering dari sumber yang basah. Namun, seyogya cara seperti ini
dihindari, mengingat banyak yang tersandung permasalahan hukum di
kemudian hari.
c. Sarana dan Prasarana (Materials)
Optimalisasi Peran Forum tersebut menggunakan anggaran dari Pemda,
sehingga Polri terkesan numpang kegiatan. Konsekuensinya, tidak ada anggaran
yang dialokasikan sebagai sekedar uang lelah bagi anggota pelaksananya,
sehingga kurang menarik pada tataran implementasinya.
d. Sistem dan Metoda (Methods).
Revitalisasi KTL kerap menemui kendala diakibatkan oleh:
1) Belum terdapat MOU dengan instansi pembina lalu-lintas lainnya, yang
disebabkan

over-confidence

dan

egosektoral

instansi

yang

mengenyampingkan keterpaduan, sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri,


serta kurangnya komitmen dan inovasi dari masing-masing pimpinan instansi
sehingga koordinasi antar instansi berjalan kurang harmonis.
2) Belum terdapat SOP sebagai pedoman pelaksanaan Optimalisasi Peran
Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL ,
membuat pelaksana bekerja sesuai persepsi yang belum tentu benar adanya.
3) Belum ada pelibatan pakar Traffic Engineering (Akademisi) dalam
Revitalisasi KTL, sehingga tidak didasarkan pada perhitungan yang
akurat.
7.

Upaya Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam
Revitalisasi KTL .
Dalam rangka mewujudkan Kota X yang tertib dan lancar berlalu lintas, maka perlu
dilaksanakan upaya serius dan sungguh-sungguh, salah satunya melalui Revitalisasi
8

KTL. Indikatornya adalah dengan menurunnya angka kecelakaan dan pelanggaran lalulintas dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengemudikan kendaraan
secara aman dan tertib. Seluruh kegiatan tersebut perlu dilaksanakan dengan sungguhsungguh dan menyentuh dasar permasalahan. 4 Oleh karenanya, dalam pelaksanaan
Optimalisasi Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan dalam Revitalisasi KTL di
Polres X, diperlukan upaya pemberdayaan melalui pemenuhan sumber daya organisasi
dan tahapan fungsi manajemen, yaitu :
a. Pemenuhan kebutuhan SDM Polri dalam Pelaksanaan Optimalisasi Forum Lalu
lintas dan Angkutan Jalan dalam Revitalisasi KTL, ditinjau dari aspek :
1) Kuantitas, yaitu dengan penambahan personil Sat Lantas sesuai DSP.
2) Kualitas, yaitu upaya glorifikasi semangat kebersamaan optimalisasi Forum
Lalu lintas dalam diri Kasatker untuk dapat melakukan internalisasi melalui
pelatihan kepada seluruh anggota Sat Lantas.
b. Upaya menyediakan dukungan anggaran guna mendukung optimalisasi Forum
Lalu lintas dan Angkutan Jalan dalam Revitalisasi KTL, yang bersumber dari
DIPA (RKA-KL), dengan cara revisi DIPA. Bila belum dapat terpenuhi, maka
dapat disiasati dengan dana yang diperoleh dari dukops Kapolres, hibah pemda
(APBD), maupun hibah dari masyarakat. Agar dalam penggunaan dana tersebut
dapat terlaksana secara tertib, transparan dan akuntabel, maka Kapolres perlu
menggiatkan pengawasan dan pengendalian secara melekat dan menghindari
timbulnya dupluikasi penggunaan anggaran.
c. Upaya penyediaan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, melalui :
pembangunan piranti keras (hardware) dan piranti lunak (software) guna
mendukung pelaksanaan kemitraan dengan stakeholders dalam Revitalisasi KTL.
d. Upaya pelaksanaan Sistem dan Metode yang sistematis dan terarah, melalui
tahapan manajemen5, yaitu :
1) Tahap Perencanaan :
a) Melaksanakan Rapat Koordinasi dengan

Forum Lalu lintas dan

Angkutan Jalan, sehingga terjalin kerjasama yang sinergis, utamanya


dalam Revitalisasi KTL, yang dikuatkan legalitasnya melalui Surat
Keputusan Bupati (Selaku Ketua).
b) Sosialisasi kepada seluruh masyarakat atas pencanangan KTL di daerah
tersebut, sehingga menumbuhkan budaya tertib lalu lintas, sebelum
dilakukan penindakan tegas terhadap pelanggar.
4 Commander Wish Kapolri, Pedoman Penjabaran Program Revitalisasi Polri Menuju Pelayanan Prima Guna Meningkatkan
Kepercayaan Masyarakat, Mabes Polri, Jakarta, Tahun 2011, hal 56.

5 Henri Fayol, Administration, idustrielle et generale, Paris Pers, Paris, 1949, hal, 254.
9

c) Mempersiapkan perlengkapan seperti rambu, marka, dan kebutuhan lain


dalam persiapan pencanganan KTL, serta dilaksanakan secara persuasif.
d) Mempersiapkan jalur khusus bagi kendaraan umum, pribadi, sepeda
motor, sepeda dan pejalan kaki di area KTL.
2) Tahap Pengorganisasian.
a) Mengadakan pelatihan secara berkala dan berkesinambungan dalam
upaya peningkatan skill, knowledge & attitude dari setiap personil
Sat Lantas Polres X, utamanya dalam pemahaman peran Sat lantas
dalam Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan, serta Revitalisasi KTL.
b) Melakukan Briefing dan keluarkan Sprin distribusi tugas kepada
personil yang dilibatkan (siapa berbuat apa).
c) Kapolres memberikan dukungan anggaran dan logistik kepada
seluruh personil yang terlibat sesuai dengan jumlah riil dan tanpa
adanya potongan, sehingga akan menumbuhkan motivasi kerja.
3) Tahap Pelaksanaan
a) Membuat yellow crossing pada setiap perempatan KTL sebagai
sarana keselamatan pengguna jalan di tempat tersebut.
b) Memasang moving sign lalu lintas untuk himbauan kepada
masyarakat pengguna jalan agar senantiasa mentaati peraturan lalu
lintas.
c) Memasang CCTV di perempatan, sebagai pengontrol kepadatan arus
lalu lintas dan pemantauan pelanggaran lalu lintas di persimpangan.
d) Melaksanakan Pelatihan Smart Driving untuk meningkatkan
kesadaran berlalu lintas secara aman dan baik bagi para pengemudi.
e) Melaksanakan tindakan simpatik berupa teguran hingga berakhir
masa sosialisasi dan dingatkan kepada pelanggar bila diulangi, maka
akan dilakukan tindakan tegas berupa tilang.
f) Melaksanakan penegakan hukum Lantas (tilang) di wilayah KTL,
secara rutin dan berkesinambungan, dengan sanksi denda yang
diperberat sesuai ketentuan.

4) Tahap Pengendalian.
a) Kapolres X melakukan pengawasan dan pengendalian secara melekat
terhadap Upaya Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan
Jalan dalam Revitalisasi KTL guna mewujudkan ketertiban dan
kelancaran berlalu-lintas.
b) Kapolres X melaksanakan analisa dan evaluasi Pelaksanaan Upaya
Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan dalam
10

Revitalisasi KTL, yang telah dilaksanakan melalui analisis


terhadap turunnya angka kecelakaan, pelanggaran dan bila
memungkinkan juga turunnya tingkat kepadatan lalu lintas,
sehingga dapat ditentukan keberhasilan maupun feedback bagi
kegiatan berikutnya.
III. P E N U T U P
8. Kesimpulan
Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bersifat lintas sektor dan harus
dilaksanakan secara terkoordinasi oleh para pembina beserta para pemangku kepentingan
(stakeholders) lainnya. Guna mengatasi permasalahan yang sangat kompleks, dibentuk
Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang merupakan badan ad hoc yang berfungsi
sebagai wahana untuk men-sinergiskan tugas pokok dan fungsi setiap instansi
penyelenggara Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka menganalisis permasalahan,
menjembatani, menemukan solusi, serta meningkatkan kualitas pelayanan. Forum Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan menyelenggarakan pertemuan secara rutin dan insidental. Usul
pertemuan disampaikan oleh satu atau lebih anggota dari unsur Pembina dan/atau
Penyelenggara Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kepada Sekretariat Forum Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan.
Oleh karena itu, Penulis berkesimpulan bahwa Polres X perlu melaksanakan
optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL
guna mewujudkan ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas. Adapun dari hasil
pengamatan, Penulis mengambil kesimpulan bahwa pelaksanaan pemberdayaan Peran
Forum tersebut oleh Polres X sejauh ini, adalah:
a. Pada prinsipnya Polres X telah melaksanakan kegiatan umum bidang lantas,
namun belum memberdayakan Forum Lalu lintas dan Angkutan Jalan,
utamanya dalam Revitalisasi KTL, sehingga terkesan berjalan seadanya dan
belum memberikan pemecahan permasalahan lalu lintas.
b. Polres X perlu mengoptimalkan Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan
Dalam Revitalisasi KTL, agar dapat mencari jalan keluar terhadap permasalahan
lalu lintas secara terpadu bersama anggota forum lainnya, guna mewujudkan
ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas.
c. Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi
KTL guna mewujudkan ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas, seyogyanya
dapat terlaksana melalui pemenuhan Sumber Daya Organisasi (SDO) berupa :
11

man, money, materials dan methods, serta terlaksana secara terpadu melalui
tahapan-tahapan fungsi manajemen yang sistematis, runtut, transparan dan terukur,
sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan maupun kegagalannya sebagai
bahan perbaikan (feed-back) di kemudian hari.
9. Saran dan Rekomendasi
Dalam upaya optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam
Revitalisasi KTL, maka dipandang perlu disampaikan saran dan rekomendasi, yaitu :
a. Kepada Kapolres, perlu dilaksanakan pemenuhan unsur Sumber Daya
Organisasi pada Sat Lantas guna melaksanakan upaya optimalisasi Peran Forum
Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL

melalui tahapan

fungsi manajemen, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lancar.


b. Kepada Pemda (Bupati) X, perlu melibatkan Polri dalam pelaksanaan manajemen
rekayasa lalu lintas, utamanya dalam pencanangan Kawasan Tertib Lalu lintas
(KTL), sehingga antara analisa teori dan tataran pelaksanaan di lapangan serta
penegakan hukumnya dapat berjalan selaras.
c. Kepada kesatuan induk (Mabes Polri dan Polda Y), perlu realisasi dukungan
sarana dan prasana guna mendukung kegiatan Optimalisasi Peran Forum Lalu
Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi KTL

guna mewujudkan

ketertiban dan kelancaran berlalu-lintas.


d. Perlu dilaksanakan analisa dan evaluasi secara periodik terhadap pelaksanaan
Optimalisasi Peran Forum Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan Dalam Revitalisasi
KTL yang dilaksanakan oleh Sat Lantas Polres X, sehingga dapat diketahui
tingkat keberhasilan maupun feed-back untuk dilaksanakan perbaikan terhadap
kelemahan pada pelaksanaan selanjutnya.

12