Anda di halaman 1dari 14

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH JAWA BARAT


RESOR KOTA BOGOR

PEMBERDAYAAN FUNGSI SPK (SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN) GUNA


MENINGKATKAN KEMITRAAN POLISI DAN MASYARAKAT
DALAM RANGKA PENGAMANAN PEMILU LEGISLATIF TAHUN 2014

I. PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Pemilihan Umum pada hakekatnya adalah sebuah sebagai pesta


Demokrasi yang dilakukan sebuah Negara. Melalui Pemilu, rakyat
memunculkan para calon pemimpin dan menyaring calon-calon tersebut
berdasarkan nilai yang berlaku. Keikutsertaan rakyat dalam Pemilu, dapat
dipandang juga sebagai wujud partisipasi dalam proses Pemerintahan,
sebab melalui lembaga masyarakat ikut menentukan kebijaksanaan dasar
yang akan dilaksanakan pemimpin terpilih. Dalam sebuah Negara yang
menganut paham Demokrasi, Pemilu menjadi kunci terciptanya demokrasi.
Tak ada demokrasi tanpa diikuti Pemilu. Pemilu merupakan wujud yang
paling nyata dari demokrasi, dimana nasib sebuah Bangsa / Negara akan
sangat ditentukan dari keberhasilan penyelenggaran Pemilihan Umum, jika
Pemilu gagal atau mengalami kekacauan maka akan berdampak terhadap
keamanan dan ketertiban masyarakat, yang pada akhirnya mengganggu
sendi sendi kehidupan masyarakat.

Pada tahun 2014 Indonesia akan melaksanakan pesta Demokrasi


pemilihan umum Legislatif dan Presiden. Sesuai dengan tahapan dan
jadwal yang sudah ditentukan oleh KPU Pusat (Komisi Pemilihan Umum).
Berkaitan dengan hal tersebut maka pelaksanaan Pemilu tahun 2014,

.Untuk itu Kepolisian Republik Indonesia sebagaimana diamanatkan


dalam UU No.2 tahun 2002, yang mempunyai peran dan fungsi

1
Harkamtibmas, penegak hukum serta pelindung, pengayom dan pelayan
masyarakat, berkewajiban menjaga dan mengamankan kegiatan Pemilu
tahun 2014, sehingga dapat terselenggara dengan aman dan lancer.

Suksesnya pelaksanaan tugas pokok Polri sangat ditentukan oleh


kemampuan Polri dalam melakukan upaya penciptaan Kamtibmas yang
kondusif, sehingga masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya dengan
aman dan nyaman. Untuk itu upaya Polri dalam melakukan kegiatan
Harkamtibmas, perlu dilakukan dengan mensinergikan kegiatan yang
bersifat pre-emtif, preventif maupun represif. Keberhasilan upaya Polri
dalam melaksanakan kegiatan Harkamtibmas, salah satunya adalah dapat
terlihat dari kemampuan Polri melakukan pencegahan terhadap ancaman
gangguan Kamtibmas,\.

berbagai tindak kejahatan yang meresahkan, terutama kejahatan yang


dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat pada saat itu, seperti
kasus pencurian.

Salah satu target dan sasaran dari para pelaku kejahatan pencurian
saat ini adalah kawasan komplek perumahan. Untuk itu perlu adanya upaya
pencegahan oleh Polri agar tindak kejahatan pencurian dengan sasaran
kawasan perumahan dapat diminmalisir. Namun dengan adanya
keterbatasan personil maupun sarana prasarana yang ada, Polri tentunya
tidak dapat bekerja sendiri dalam melaksanakan tugas pokoknya. Hal inilah
yang mendasari perlunya dukungan dan partisipasi masyarakat dalam
membantu tugas tugas Kepolisian. Bentuk dukungan terhadap Polri
dapat berupa peningkatan kesadaran serta kepedulian warga masyarakat
terhadap keamanan lingkungan sekitarnya atau yang lazim disebut Pam
Swakarsa.

Sebagai salah satu bentuk dari pengamanan swakarsa, satuan


pengamanan atau Satpam di dalam komplek perumahan, perlu mempunyai
kemampuan dan ketrampilan dalam melakukan upaya antisipasi maupun
pencegahan terhadap berbagai kejahatan yang mengancam keamanan
warga terutama kasus pencurian. Untuk itu, Kepolisian sebagai institusi
yang diberikan kewenangan melakukan pembinaan terhadap keamanan
dan ketertiban masyarakat, perlu melakukan upaya pelatihan terhadap

2
anggota satuan pengamanan agar memiliki kapabilitas dan pengetahuan
dalam membantu tugas Polri untuk melakukan pencegahan tindak
kejahatan. Akan tetap disisi lain kemampuan anggota Polri, terutama yang
bertugas di fungsi Binmas belum semua memiliki ketrampilan untuk
memberikan pelatihan kepada anggota satuan pengamanan.

Belum diberdayakannya secara maksimal fungsi SPK dalam membangun


kemitraan dengan masyarakat alam memberikan pelatihan terhadap personel
satuan pengamanan dapat berdampak terhadap kemampuan dan pengetahuan
personel satuan pengamanan dalam upaya pencegahan tindak kejahatan
pencurian terutama di kawasan perumahan. Maka dari itu penulis tertarik untuk
membuat tulisan naskah karya perorangan (NKP) dengan judul l
PEMBERDAYAAN FUNGSI SPK (SENTRA PELAYANAN KEPOLISIAN)
GUNA MENINGKATKAN KEMITRAAN POLISI DAN MASYARAKAT
DALAM RANGKA PENGAMANAN PEMILU TAHUN 2014

2. Permasalahan

Dari uraian latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi


permasalahan dalam tulisan ini adalah : "Belum diberdayakannya fungsi
SPK secara maksimal guna meningkatkan kegiatan kemitraan antara
Polisi dan masyarakat, dalam rangka mendukung keberhasilan
pengamanan Pemilu tahun 2014 .

3. Pokok persoalan

a. Pemberdayaan fungsi SPK dalam mendukung kegiatan, belum


dilaksanakan secara khusus guna mendukung kegiatan Pengamanan
Pemilu 2014

b. Masih kurangnya Kemampuan komunikasi dengan masyarakat


berkaitan dengan kegiatan Pemilu 2014, oleh Perwira dan personel
yang bertugas di SPK Polres X masih kurang.

4. Ruang lingkup

Penulisan naskah karya perorangan (NKP) ini dibatasi pada upaya


pemberdayaan fungsi SPK dalam mendukung kegiatan pengamanan
Pemilu 2014, dengan kegiatan kemitraan antara Polisi dan masyarakat ,

3
sehingga dapat mendukung kegitan pengamanan Pemilu 2014 diwilayah
Polres X.

II. PEMBAHASAN

5. Fakta fakta

Secara geografis wilayah hukum Polres X, walaupun tidak berbatasan


langsung dengan ibukota Negara, akan tetapi dengan adanya akses jalur
Tol, maka jarak tempuh dari wilayah tersebut menuju Ibukota Negara,
dapat ditempuh dalam waktu yang cukup singkat. Hal ini menyebabkan
banyak pendatang yang memilih berdomisili di wilayah tersebut, namun
tetap melakukan mata pencaharian di Ibukota Negara. Berdasarkan data
yang ada 1 pada tahun 2010, jumlah penduduk wilayah Polres X, sebanyak
2.125.234 jiwa. Dengan luas wilayah sekitar 1.737,30 km2, maka
kepadatan penduduk sekitar 1212 km2/jiwa. Jika dibandingkan dengan
jumlah anggota Polri yang bertugas di Polres X, yang saat ini berjumlah
1323 personel, Police employee Rate yang ada adalah 1 : 1606.

Dengan kondisi tersebut maka perkembangan wilayah di kawasan


tersebut cukup pesat, terutama di sektor perumahan. Jumlah komplek
perumahan yang ada saat ini sebanyak 14 buah. Dari jumlah tersebut 4
buah merupakan komplek perumahan elite, dimana sebagian besar
penghuninya merupakan pendatang dari Ibukota Negara. Sistem
pengamanan pada komplek perumahan biasa dilakukan oleh warga
komplek sendiri dan dibantu oleh Linmas setempat, sedangkan untuk
perumahan elite menggunakan jasa pengamanan dari Yayasan atau
Badan Usaha Jasa pengamanan (BUJP) (out sourching). Jumlah Satpam
di kawasan perumahan yang terdata di Polres X saat ini sekitar 233 orang.
Untuk personil satuan pengamanan swakarsa yang berasal dari BUJP,
telah memiliki kemampuan dasar satuan pengamanan (memiliki sertifikat
Satpam), sedangkan satuan pengamanan yang dibentuk atas prakarsa
warga di kawasan perumahan rata rata belum memiliki ketrampilan dasar
Satpam.

Personel Satuan Binmas yang bertugas di Polres X, saat ini berjumlah

1
http://www.karawangkab.go.id/informasi-umum/indikator-makro/karawang-dalam-angka-2010/bab-iii-
penduduk-tenaga-kerja-dan-transmigrasi.html

4
7 personel. Dengan jumlah tersebut, maka kegiatan pembinaan dan
pelatihan bagi Satpam belum maksimal dilaksanakan, sehingga Polres X
melakukan upaya dengan memaksimalkan tugas Babinkamtibmas maupun
personel unit Binmas yang bertugas di 19 Polsek jajaran, untuk membantu
melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap satuan pengamanan. Akan
tetapi dengan kemampuan personel Binmas yang belum maksimal serta
kurangnya dukungan sarana dan prasarana, maka kegiatan pembinaan
dan pelatihan belum mencapai target yang diharapkan.

Untuk itu berdasarkan uraian diatas dan hasil pengamatan penulis,


serta berkaitan dengan pokok persoalan diatas, maka ditemukan fakta
fakta sebagai berikut

a. Belum optimalnya ketrampilan yang dimiliki oleh personel Binmas


Polres X, dalam memberikan pelatihan terhadap personel satuan
pengamanan di kawasan perumahan.

1) Kemampuan berkomunikasi personel Binmas polres X cukup baik,


akan tetapi pengetahuan umum maupun khusus yang berkaitan
dengan pelajaran dasar bagi anggota satpam seperti Interpersonal
Skill; Etika Profesi; Tugas Pokok, Fungsi dan Peranan Satpam,
Kemampuan Kepolisian Terbatas; Bela Diri; Pengenalan Bahan
Peledak; Barang Berharga dan Latihan Menembak; Pengetahuan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lainnya; Penggunaan
Tongkat Polri dan Borgol; Pengetahuan Baris Berbaris dan
Penghormatan, sebagian masih belum di kuasai2

2) Teknik mengajar oleh personel Binmas belum maksimal, karena


pemberian materi pelatihan sebagian besar hanya bersifat teori.
Personel Sat Binmas dalam memberikan arahan belum
memberikan materi yang bersifat simulasi maupun praktek
lapangan. Hal tersebut berakibat sebagian personel Satpam belum
memahami secara baik materi pelatihan yang diberikan.

3) Personel Sat Binmas, belum memahami tentang kurikulum


pelatihan serta peraturan yang mengatur tentang mekanisme

2
Perkap nomor 18 Tahun 2006 tentang pelatihan kurikulum Satpam.

5
pemberian materi latihan, sehingga sistem pengajaran yang
diberikan baru sebatas memberikan motivasi kepada satuan
pengamanan untuk berpartisipasi membantu tugas tugas
Kepolisian.

b. Kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk memaksimalkan


kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh personel Binmas terhadap
satuan pengamanan.

1) Sarana mobilitas untuk personel Sat Binmas belum memadai.


Kendaraan operasional Sat Binmas hanya ada satu kendaraan
roda empat, yang pemakaiannya tidak hanya untuk mobilitas
khusus bagi kegiatan pelatihan Satpam, akan tetapi digunakan
untuk operasional Satuan Binmas secara umum.

2) Dalam pemberian materi pelatihan yang bersifat praktek


dilapangan, alat peraga seperti borgol, tongkat polri, pengenalan
alat yang sering digunakan oleh pelaku kejahatan, OHP (overhead
proyektor) dan alat bantu lainnya masih kurang.

3) Makalah atau buku materi pelajaran atau buku yang berisi


peraturan perundangan untuk menambah pengetahuan satpam
sebagian belum ada.

4) Lokasi pelatihan untuk satuan pengamanan yang memadai


(lapangan atau ruang khusus), sehingga pada saat pemberian
materi pelatihan masih menggunakan posko Satpam yang ada di
komplek perumahan.

6. Analisa fakta fakta

Berdasarkan fakta fakta diatas, maka analisa terhadap yang


berkaitan dengan pokok persoalan dalam NKP ini, sebagai berikut:

a. Belum optimalnya ketrampilan yang dimiliki oleh personel Binmas


Polres X, dalam memberikan pelatihan terhadap personel satuan
pengamanan di kawasan perumahan.

1) Adanya kemampuan komunikasi personel satuan Binmas yang


cukup baik, perlu ditingkatkan sehingga mampu menarik perhatian
para petugas Satpam untuk mengikuti pelatihan. Disisi lain

6
kemampuan komunikasi yang baik perlu didukung juga dengan
tingkat wawasan dan pengetahuan yang baik tentang pelajaran
dasar (Gada Pratama) maupun umum sehingga satuan
pengamanan dapat menambah kemampuan maupun ketrampilan
dalam upaya antisipasi dan pencegahan tindak kejahatan.

2) Selain kemampuan komukasi yang baik dan didukung


pengetahuan personel Binmas yang baik, ketrampilan dalam
memberikan teknik pelatihan serta mengajar oleh personel Binmas
juga perlu ditingkatkan. Teknik mengajar diharapkan dapat
menggabungkan antara pemeberian materi secara teori maupun
praktek.

3) Selain memiliki kemampuan diatas, personel Sat Binmas perlu


mempunyai pemahaman bagaimana bentuk kurikulum pelatihan
serta peraturan yang mengatur tentang mekanisme pemberian
materi latihan, sehingga sistem pelatihan yang diberikan terencana
dengan baik dan tercapai tujuan daripada pelatihan.

b. Kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk memaksimalkan


kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh personel Binmas terhadap
satuan pengamanan.

1) Agar kegiatan pelatihan dapat dilaksanakan secara rutin, sehingga


manfaat pelatihan mampu membentuk kemampuan satuan
pengaman seperti yang diharapkan, maka dibutuhkan sarana
mobilitas khusus bagi personel Sat Binmas yang ditugaskan untuk
sebagai pelatih, sehingga setiap kali ada jadwal pelatihan, dapat
bertugas secara efektif dan efisien.

2) Dukungan alat peraga dan alat bantu lainnya akan bermanfaat bagi
anggota satuan pengamanan dalam mempercepat pemahaman
materi pelatihan yang diberikan, untuk itu alat peraga seperti
borgol, tongkat polri, pengenalan alat yang sering digunakan oleh
pelaku kejahatan, OHP (overhead proyektor) dan alat bantu
lainnya, sangat diperlukan untuk membantu pelatih dalam
memberikan materi pelatihan.

3) Selain alat peraga yang ada, dalam memberikan materi pelatihan

7
personel sat Binmas, perlu memiliki buku yang berisi materi
pelatihan khusus dan buku yang berisi pengetahuan tentang
peraturan perundangan yang berkaitan dengan tugas satuan
pengamanan.

4) Agar pelaksanaan pelatihan dapat dilaksanakan dengan baik,


maka diperlukan lokasi pelatihan yang cukup memadai baik itu
lokasi yang akan digunakan untuk pelatihan teori maupun praktek
lapangan. Selain itu dengan adanya fasilitas pelatihan yang
memadai kegiatan pelatihan dapat dilaksanakan secara
bersamaan antara petugas satuan pengamanan perumahan yang
ada di wilayah Polres X sesuai jadwal.

Dari uraian analisa fakta berdasarkan pokok persoalan diatas, maka


masih belum optimalnya ketrampilan personel Sat Binmas dalam
memberikan materi pelatihan dapat berpengaruh terhadap peningkatan
kemampuan serta pemahaman anggota satuan pengamanan terhadap
materi yang diberikan. Disisi lain kurangnya dukungan sarana prasana
pendukung, akan berpengaruh juga terhadap efektifitas dan efesiensi
kegiatan pelatihan.

Dari uraian diatas maka perlu adanya upaya optimalisasi kegiatan


pelatihan terhadap satuan pengamanan komplek perumahan, sehingga
setiap anggota satuan pengamanan memiliki keterampilan dan
kemampuan dalam mendukung tugas Kepolisian untuk pencegahan tindak
kejahatan, khususnya jenis kejahatan pencurian dengan sasaran komplek
perumahan.

7. Upaya pemecahan masalah.

Sebelum penulis menguraikan bagaimana pemecahan masalah,


dengan adanya pokok persoalan dalam NKP ini, maka penulis akan
menyampaikan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
upaya pemecahan masalah diantaranya :

a. Perkap Kapolri nomor 24 tahun 2007 tentang sistem manajemen


pengamanan organisasi, perusahaan dan/atau instansi lembaga

8
pemerintah.

Dalam pasal 1 point 6 Perkap nomor 24 tahun 2007 dijelaskan


tentang pengertian Satuan Pengamanan yang selanjutnya disingkat
Satpam adalah satuan atau kelompok petugas yang dibentuk oleh
instansi/badan usaha untuk melaksanakan pengamanan dalam rangka
menyelenggarakan keamanan swakarsa di lingkungan kerjanya.
Selanjutnya pada Pasal 6 ayat 3 (b) dijelaskan bahwa : Dalam
pelaksanaan tugasnya sebagai pengemban fungsi kepolisian terbatas,
Satpam berperan sebagai unsur pembantu Polri dalam pembinaan
keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan peraturan
perundang-undangan serta menumbuhkan kesadaran dan
kewaspadaan keamanan (security mindedness dan security
awareness) di lingkungan/tempat kerjanya.

b. Perkap Kapolri No. Pol 18 tahun 2006 tentang pelatihan dan kurikulum
satuan pengamanan.

Instruktur Pelatihan sebagai tenaga pendidik/pelatih dalam


pelatihan Satuan Pengamanan, wajib mempunyai kualifikasi formal
dan non-formal sebagai berikut: 3

1) Memiliki akta/sertifikat sebagai pelatih yang diperoleh melalui


pendidikan/ pelatihan formal yang dirancang khusus untuk
menjadi seorang instruktur.

2) Memiliki kompetensi atau kemampuan instruktur dalam menyusun


dan menyampaikan materi yang diperoleh melalui pendidikan,
pengetahuan maupun pengalaman.

3) Menunjukkan pengalaman tugas pengamanan, keahlian instruktur


pada kekhususan atau kejuruan tertentu sesuai dengan standar
yang diperuntukkannya.

4) menunjukkan tingkatan/strata kemampuan sebagai instruktur


dalam memberikan materi pelatihan pada Gada Pratama, Gada
Madya, atau Gada Utama.

3
Pasal 7 perkap Kapolri No.Pol : 18 tahun 2006 tentang pelatihan dan kurikulum satuan pengamanan.

9
a. Pendapat ahli ditinjau dari segi evaluasi hasil pelatihan.

Ditinjau dari segi evaluasinya, pelatihan akan memiliki keberartian


yang lebih mendalam. Evaluasi akan memperlihatkan tingkat
keberhasilan atau kegagalan suatu program. Beberapa kriteria yang
digunakan dalam evalusi pelatihan akan berfokus pada outcome (hasil
akhir). Menurut Veitzal Rifai (2004) dan Henry Simamora (2004),
menunjukkan bahwa kriteria yang efektif dalam mengevaluasi
pelatihan yaitu : 1) reaksi dari peserta, 2) pengetahuan atau proses
belajar mengajar, 3) perubahan perilaku akibat pelatihan dan 4) hasil
atau perbaikan yang dapat diukur.

Dari uraian tentang aturan dan teori berkaitan dengan judul dan pokok
persoalan NKP ini, maka penulis berpendapat bahwa dalam upaya
pemecahan masalah adalah sebagai berikut :

a. Belum optimalnya ketrampilan yang dimiliki oleh personel Binmas


Polres X, dalam memberikan pelatihan terhadap personel satuan
pengamanan di kawasan perumahan.

1) Kapolres melakukan inventarisir personel yang mempunyai


kemampuan komunikasi baik dari satuan fungsi Binmas maupun
personel satuan fungsi lainnya, kemudian diberikan pembinaan
teknis secara rutin maupun pelatihan untuk meningkatkan
ketrampilan yang berkaitan dengan pemberian materi pelatihan
Satpam. Keterlibatan satuan fungsi diluar Binmas sangat diperlukan
untuk mendukung personel Binmas, dalam memberikan materi
khusus pelatihan kepada Satpam sesuai bidang tugasnya.

2) Kapolres perlu melakukan kerjasama dengan Dinas pendidikan


setempat , untuk membantu memberikan materi pelatihan yang
efektif dan efisien bagaimanan teknik mengajar yang baik, sehingga
dapat dipahami dengan mudah oleh peserta pelatihan.

3) Melakukan kerjasama dengan BUJP yang sudah mempunyai


kualifikasi untuk memberikan pelatihan kepada Satpam, serta
mengajukan usulan kepada Kesatuan atas atau Lemdik Polri yang
seringkali melaksanakan kegiatan pelatihan Satpam.

10
b. Kurangnya dukungan sarana dan prasarana untuk memaksimalkan
kegiatan pelatihan yang dilaksanakan oleh personel Binmas terhadap
satuan pengamanan.

1) Untuk mengatasi kekurangan sarana mobilitas bagi personel


Binmas yang ditugaskan untuk kegiatan pelatihan Satpam, maka
Kapolres dapat memerintahkan untuk Subbag Sarpras untuk
menambah sarana mobilitas yang dapat digunakan oleh personel
Sat Binmas. Apabila sudah tidak ada sarana mobilitas yang dapat
digunakan, maka kekurangan dapat diajukan atau dimasukan
dalam rencana kerja tahun anggaran berikutnya.

2) Untuk mengatasi kekurangan alat peraga yang berfungsi sebagai


pendukung keberhasilan kegiatan pelatihan, Kapolres melakukan
kerjasama dengan pihak pengembang perumahan atau pemakai
jasa Satpam, untuk melakukan pengadaan peralatan secara
swadaya, dengan tetap berpedoman pada aturan pengadaan
barang dan jasa.

3) Kapolres secara langsung atau memerintahkan Kasat Binmas


untuk melakukan koordinasi dengan Polda atau Lemdikpol, untuk
meminta masukan dan saran, materi apa saja yang perlu diberikan
dalam kegiatan pelatihan satuan pengamanan.

4) Kapolres melalui Kasat Binmas mengundang para pengembang


perumahan maupun pihak Pemda agar mau berpartisipasi
menyediakan fasilitas lokasi pelatihan pada lahan kosong yang
belum dibangun serta pengembang perumahan dapat saling
bekerjasama untuk menyediakan secara swadaya bangunan untuk
kegiatan pelatihan, sehingga pelatihan dapat di pusatkan pada satu
lokasi.

Dari Uraian diatas dapat di ambil kesimpulan bahwa dalam melakukan


kegiatan pelatihan terhadap Satpam, sangat diperlukan adanya
ketrampilan personel Binmas dalam memberikan materi pelatihan, serta
dukungan sarpras yang memadai, sehingga hasil pelatihan dapat
bermanfaat bagi peningkatan kemampuan Satpam.

III. PENUTUP

11
8. Kesimpulan

a. Agar para anggota satuan pengamanan memiliki kemampuan yang


profesional sesuai peran dan fungsinya, terutama di kawasan
perumahan yang rawan terjadi tindak kejahatan pencurian, diperlukan
adanya kegiatan pelatihan bagi personel Satuan Pengamanan. Untuk
itu walaupun Sat Binmas tingkat Polres, tidak memiliki kewenangan
untuk menyelenggarakan pelatihan Satpam secara formal (pelatihan
untuk mengeluarkan sertifikat satpam), akan tetapi kegiatan
pembinaan Satpam untuk memberikan penyegaran dan menambah
pengetahuan satpam yang ada diwilayahnya perlu dilakukan secara
berkesinambungan (bentuk program Binkamswakarsa). Untuk itu
personel Binmas perlu memiliki keahlian dan keterampilan dalam
memberikan materi pelatihan kepada Satpam. Peningkatan
ketrampilan personel Sat Binmas dapat dilakukan dengan pembinaan
teknis, kerjasama dengan Diknas untuk pelatihan bagaimana teknis
mengajar yang baik serta kerjasama dengan BUJP yang sudah
mempunyai kualifikasi melatih Satpam maupun pihak Lemdikpol.

b. Kekurangan sarana dan prasarana yang ada dalam mendukung


kegiatan pelatihan dapat diatasi dengan memaksimalkan penggunaan
sarana prasarana Dinas yang ada dan jika belum memadai dapat
diajukan untuk pada rencana kerja tahun berikutnya. Selain itu dapat
dilakukan kerjasama dengan pihak pengembang perumahan dan
Pemda setempat untuk membantu secara swadaya pengadaan sarana
dan prasarana untuk mendukung kegiatan pelatihan. Disisi lain agar
materi pelatihan yang diberikan sesuai dengan bidang tugas Satuan
Pengamanan, maka diperlukan adanya koordinasi dengan Polda,
Lemdikpol atau BUJP untuk memberikan masukan dan saran bagi
kegiatan pelatihan.

9. Rekomendasi

a. Polda bekerjasama dengan Lemdikpol untuk mengadakan pelatihan


bagi personel Binmas Polres, untuk agar mempunyai kemampuan
yang profesional dalam memberikan pelatihan

12
b. Polda mengeluarkan pedoman khusus, bagi Polres bagaimana materi
pelatihan yang tepat bagi anggota Satuan Pengamanan yang ada di
wilayahnya.

Lembang, September 2011


Penulis

DAFTAR PUSTAKA

Buku/Bahan pelajaran
1. Paparan Kesatuan.2011. Polres X.
2. Hanjar. 2011. ................... Dikreg-51.
3. Website.2011. http://www.karawangkab.go.id/informasi-umum/indikator-
makro/karawang-dalam-angka-2010/bab-iii-penduduk-tenaga-
kerja-dan-transmigrasi.html
4. Website.2011. http://infointermedia.com/tag/teori-pelatihan
Peraturan dan Perundang-Undangan
5. UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian RI.
6. Perkap Kapolri No.Pol : 18 tahun 2006 tentang pelatihan dan kurikulum satuan
pengamanan.
7. Perkap Kapolri nomor 24 tahun 2007 tentang sistem manajemen pengamanan
organisasi, perusahaan dan/atau instansi lembaga pemerintah.

13
14