Anda di halaman 1dari 27

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH JAWA BARAT


RESOR BOGOR

OPTIMALISASI FUNGSI BINMAS GUNA


MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP
SISKAMSWAKARSA DALAM RANGKA HARKAMTIBMAS

1. Latar Belakang

Kamtibmas merupakan kondisi dinamis masyarakat sebagai prasyarat


terselenggaranya proses pembangunan nasional dalam rangka tercapainya
tujuan nasional yang ditandai oleh terjaminnya keamanan, ketertiban dan
penegakan hukum serta terwujudnya ketentraman yang mengandung
kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan kekuatan
masyarakat dalam menangkal, mencegah dan menanggulangi segala bentuk
pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat
meresahkan masyarakat. Situasi kondisi kamtibmas yang demikian
diharapkan dapat tetap terjaga kondusif, untuk memberikan jaminan rasa
aman bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya.

Mewujudkan kamtibmas yang kondusif merupakan domain tugas Polri,


dimana peran dan tugas pokok Polri1 adalah memelihara kamtibmas,
menegakkan hukum, melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.
Sebagai kekuatan inti Kamtibmas salah satu wewenang dan tugas Polri
adalah2 Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat,
kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap
hukum dan peraturan per-undang undangan.

Dalam menjalankan peran, fungsi dan tugas pokoknya, sesuai yang


diatur dalam aturan per-undang undangan, Polri telah melakukan upaya
upaya yang bersifat pre-emtif, preventif maupun represif, dengan

1
Pasal 13 UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
2
Pasal 14 UU nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
2

memaksimalkan fungsi Kepolisian yang ada. Akan tetapi dengan segala


keterbatasannya Polri tentunya membutuhkan dukungan bagi pelaksanaan
tugasnya dari seluruh komponen masyarakat. Untuk itulah dibutuhkan
adanya peran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung pelaksanaan
tugas Polri.

Dukungan atau partisipasi masyarakat terhadap Polri dalam


menjalankan tugas pokok dan fungsinya, perlu dibangun sehingga muncul
kepercayaan dan partisipasi masyarakat. Kepercayaan masyarakat
merupakan hal yang penting dan esensial yang harus dibangun oleh Polri,
agar dalam pelaksanaan tugasnya mendapat dukungan maupun legitimasi
masyarakat, sehingga berdampak pada timbulnya partisipasi masyarakat
dalam mendukung tugas tugas Kepolisian.

Bentuk partisipasi masyarakat dalam hal Kamtibmas diantaranya


adalah terwujudnya Siskamswakarsa. Pembinaan keamanan dan ketertiban
masyarakat swakarsa bertujuan untuk mewujudkan daya tangkal, daya
cegah dan daya penanggulangan masyarakat terhadap sumber-sumber
gangguan Kamtibmas di lingkungan sosialnya secara swakarsa baik dalam
bentuk gangguan nyata, ambang gangguan maupun faktor-faktor korelatif
gangguan. Pengembangan bentuk-bentuk pam swakarsa yang terjadi di
masyarakat sudah barang tentu memberikan kontribusi terhadap tugas-tugas
polisi dibidang preemtif dilingkungan tempat tugasnya masing-masing

Perlu adanya upaya dari Kepolisian dalam menumbuhkan partisipasi


masyarakat. Untuk itu salah satu upaya Kepolisian dalam menumbuhkan
partisipasi masyarakat adalah dengan melaksanakan tugas secara
profesional dan proposional dengan mengotimalkan fungsi Binmas. Salah
satu upaya yang akan dibahas untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
adalah sesuai dengan judul Naskah karya perorangan yang membahas
Optimalisasi fungsi Binmas guna meningkatkan partisipasi
masyarakat terhadap Siskamswakarsa dalam rangka terwujudnya
Harkamtibmas.
3

2. Permasalahan

Mengacu pada latar belakang di atas, dapat ditarik suatu


permasalahan yaitu belum optimalnya fungsi Binmas Polri untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka mewujudkan
Siskamswakarsa.

3. Pokok-pokok Persoalan

a. Perlunya dilakukan optimalisasi fungsi Binmas guna meningkatkan


partisipasi masyarakat, sehingga terwujud Siskamswakarsa.

b. Upaya yang diperlukan dalam rangka mengoptimalkan fungsi Binmas.

4. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembahasan pada naskah karya perorangan ini


dibatasi sebagai berikut :

a. Ruang Lingkup lokasi/ tempat pembahasan yang menjadi kegiatan


Optimalisasi fungsi Binmas guna meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam naskah ini adalah Polres x.

b. Ruang lingkup pembahasan terkait mewujudkan siskamswakarsa


dalam naskah karya perorangan ini adalah Siskamswakarsa di
wilayah hukum Polres Bogor.

c. Ruang lingkup dalam naskah karya perorangan ini dibatasi pada


kegiatan optimalisasi fungsi Binmas Polri sehingga muncul partisipasi
masyarakat dalam bentuk Siskamswakarsa.

5. Maksud dan Tujuan

a. Maksud

Penulisan naskah ini dimaksudkan untuk memenuhi


persyaratan ujian Sespim Polri Dikreg ke-51 TP. 2011 serta dan
selain itu dimaksudkan juga untuk mencoba mengembangkan
kemampuan berfikir kreatif yang dituangkan dalam suatu karya
ilmiah.
4

b. Tujuan.

Untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada Pimpinan


Polri tentang hal-hal yang perlu dijadikan pertimbangan dalam rangka
menentukan kebijakan lebih lanjut tentang optimalisasi fungsi Binmas
guna meningkatkan partisipasi masyarakat dalam rangka
terwujudnya Siskamswakarsa.

6. Metode dan Pendekatan

a. Metode Penulisan

Metode yang dipergunakan dalam makalah ini adalah Metode


Deskriptif analitis yaitu pendekatan tidak hanya menggambarkan
permasalahan saja tetapi juga dilihat dari peraturan-peraturan serta
teori yang mengatur dalam suatu tindakan serta bagaimana
pelaksanaannya dalam praktek.

b. Pendekatan Penulisan

Pendekatan dalam penulisan ini Pendekatan yang


dipergunakan adalah pendekatan secara Yuridis Empiris melalui
hasil pengamatan dan pengalaman tugas di lapangan diwilayah
hukum Polres Bogor.

7. Tata Urut (Sistematika)

Untuk memudahkan pembahasan, tulisan ini akan ditulis dalam


sistematika sebagai berikut :

a. BAB I PENDAHULUAN
Merupakan pendahuluan, dimana akan diuraikan secara
umum, latar belakang, pokok permasalahan dan persoalan yang akan
dibahas, serta memberikan gambaran ruang lingkup, maksud dan
tujuan penulisan, metode dan pendekatan, tata urut serta pengertian
yang berkaitan dengan judul naskah.
b. BAB II LANDASAN TEORI DAN YURIDIS
Dalam bab ini, memuat landasan Yuridis dan teori yang
digunakan untuk sebagai pisau analisis.
5

c. BAB III KONDISI SAAT INI


Dalam bab ini menggambarkan kondisi saat ini diwilayah
hukum Polres Bogor baik secara internal dan eksternal serta kegiatan
fungsi Binmas yang sedang dilaksanakan.
d. BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Dalam bab ini akan digambarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi baik ditinjau dari internal Polri dan eksternal Polri,
dengan menggunakan Teori SWOT.
e. BAB V KONDISI YANG DIHARAPKAN DAN UPAYA YANG
DILAKSANAKAN
Dalam bab ini akan dijelaskan kondisi ideal berupa optimalisasi
yang diharapkan serta upaya yang perlu dilakukan.
f. BAB VI PENUTUP

Merupakan Bab penutup berisikan tentang kesimpulan dari


penulis dan rekomendasi / saran yang diajukan.

8. Pengertian-Pengertian
a. Optimalisasi

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia karangan Drs. Ahmad


A.K. Muda, yang dimaksudkan Optimalisasi adalah sama dengan
meng-optimalkan dan mengandung arti Optimal berarti yang terbaik,
secara maksimal.3

b. Fungsi Binmas

Pengertian fungsi Binmas pada Naskah ini adalah salah satu


fungsi Kepolisian yang mempunyai tugas dan wewenang melakukan
kegiatan pembinaan masyarakat sesuai tugas pokoknya yang telah
diatur dalam sebuan peraturan atau Keputusan pimpinan.

c. Partisipasi masyarakat

Partisipasi masyarakat menurut Isbandi (2007: 27) adalah


keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah
dan potensi yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan

3
Kamus besar bahasa Indonesia karangan Drs. Ahmad AK ..hal
6

keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah,


pelaksanaan upaya mengatasi masalah, dan keterlibatan
masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjad

d. Terwujud

Dalam Kamus Bahasa Indonesia terwu-jud adalah


menjadikan berwujud (benar-benar ada dsb); 2 menyatakan;
melaksanakan (perbuatan, cita-cita, dsb); 3 menerangkan
(memperlihatkan) dengan benda yg konkret;4. Mewujudkan disini
berarti menjadikan sesuatu benar benar nyata sesuai harapan atau
cita cita.

e. Siskamswarkarsa

Suatu sistem keamanan dan ketertiban yang mengupayakan


hidupnya peranan dan tanggungjawab dalam embinaan dan
pengembangan Kamtibmas atas dasar kehendak dan kemampuan
masyarakat sendiri guna mewujudkan daya tangkal, daya cegah dan
daya penanggulangan masyarakat terhadap setiap kemungkinan
munculnya gangguan Kamtibmas.

4
Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan (web)
7

BAB II

LANDASAN YURIDIS DAN TEORI

Dalam Bab ini penulis mengetengahkan landasan yuridis maupun teori yang
akan membantu sebagai pisau analisis dalam pemecahan masalah berkaitan
dengan optimalisasi fungsi Binmas guna meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam rangka terwujudnya Siskamswakarsa.

9. Landasan Yuridis

a. Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia, Pasal 14 ayat (1) huruf (c) Kepolisian Negara
Republik Indonesia bertugas untuk membina masyarakat untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat
serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan
perundangan undangan.
b. Peraturan Kapolri Nomor 21 tahun 2007 tanggal 31 Oktober 2007
tentang Pembinaan, Penyuluhan, Keamanan dan Ketertiban
Masyarakat.
c. Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : SKEP/360/V/2005 tanggal 10 Juni
2005 tentang Grand Strategi Polri T.A. 2005 2025, dimana pada
tahap ke II adalah membangun kemitraan.
d. Perkap nomor 7 tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi
implementasi Polmas dalam penyelenggaraan tugas Polri.
10. Landasan Teori dan konsepsi

a. Teori yang membahas bentuk bentuk komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang


kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat,
atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung
8

(melalui media)5Teori ini membahas tentang 4 bentuk komunikasi


yaitu komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi
antar kelompok dan komunikasi massa.
b. Teori relationship marketing (Gronroos 1990),
Pada intinya adalah membahas bagaimana menjaga hubungan
yang telah terbangun antara penjual dan pembeli serta partner bisnis
sehingga terus menerus menghasilkan keuntungan bagi kedua belah
pihak (berkaitan dengan Naskah ini adalah Polri masyarakat) .
Dalam teori ini digabungkan tiga variable yaitu relationship
(hubungan), network (Jaringan) dan interaction (interaksi)

c. Konsep Grand strategy Polri tahap II 2010-2015 (partnership


building/membangun kemitraan).

Setelah melewati tahap membangun kepercayaan (trust


building), saat ini perjalanan Grand strategy Polri telah memasuki
tahap II yaitu membangun kemitraan, sebagai keberlanjutan dan
penyempurnaan dari tahap Grand strategy Polri tahap ke I yaitu
membangun kepercayaan (trust building).

d. Analisa SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor


yang mempengaruhi keberhasilan optimalisasi didasarkan pada
logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang
(Opportunities) yang secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Oleh karena itu,
analisis SWOT merupakan proses yang penting dan merupakan tahap
yang harus dilalui dalam sebuah proses dalam rangka
mengoptimalkan keberhasilan.

5
Onong Cahyana effendi .. definisi-definisi komunikasi
9

BAB III

KONDISI SAAT INI

Pada bab ini penulis akan menguraikan upaya yang dilakukan oleh Polri
khususnya di wilayah hukum Polres Bogor, dimana penulis bertugas, bagaimana
penerapan fungsi Binmas dalam rangka mewujudkan Siskamswakarsa. Sebagai
bahan bagi analisa pelaksanaan tugas dikaitkan dengan kondisi kewilayahan
Polres Bogor, maka Sebelumnya diuraikan secara singkat tentang kondisi wilayah
dan Kesatuan Polres Bogor yang cukup berpengaruh terhadap optimalisasi
pelaksanaan tugas fungsi Binmas. Selanjutnya diuraikan juga tentang upaya yang
sudah dilaksanakan Polres Bogor untuk mengoptimalkan fungsi Binmas saat ini
serta tingkat partisipasi masyarakat dalam melaksanakan Siskamswakarsa
berdasarkan data data yang bersifat kwantitatif dan kwlitatif.

11. Kondisi Wilayah dan Kesatuan.

Secara geografis wilayah Polres Bogor sebagai penyangga ibukota Negara


RI, Luas wilayah Polres Bogor 2284,32 km2 terdiri dari 38 Kecamatan dan 417
Desa/Kelurahan. Dengan jumlah penduduk sebanyak 4.165.242 jiwa , komposisi
penduduk di Kabupaten Bogor, heterogen dengan banyaknya pendatang yang
bermukim di wilayah Polres Bogor, terutama wilayah timur sebagai kawasan
industri. Komposisi pemeluk agama sebagian besar pemeluk agama Islam.
Disamping itu di wilayah Polres Bogor cukup kaya dengan sumber daya alam baik
hasil tambang, hasil bumi maupun wisata. Pancasila sebagai ideologi Negara, telah
diterima oleh sebagian besar masyarakat Kab. Bogor. Dari aspek Politik ,
dipengaruhi oleh perkembangan situasi Politik di Ibukota Negara, namun selama ini
kondisi politik cukup stabil dan kondusif. Dari aspek sosial budaya, kehidupan
masyarakat diwilayah Polres Bogor, di wilayah Barat sebagian besar masih
berpegang teguh pada adat istiadat nenek moyang suku sunda, demikian pula
10

halnya dengan kehidupan beragama. Fanatisme terhadap agama (Islam) cukup


tinggi. Sedangkan dikawasan yang timur yang berbatasan langsung dengan Ibukota
Negara social budaya masyarakat cukup heterogen, ini dikarenakan telah banyak
pendatang yang berbaur dan menetap diwilayah tersebut.

Situasi Kamtibmas diwilayah hukum Polres Bogor bila dilihat dari kwantitas
jumlah tindak pidana yang terjadi selama 3 tahun terakhir selalu menunjukkan
peningkatan, pada tahun 2008 angka kejahatan sebesar 4016 kasus, tahun 2009
sebanyak 4734 kasus dan tahun 2010 sebanyak 4982. kasus, dengan kasus
terbanyak adalah kasus Curat dan Curanmor.

Personel Kepolisian yang bertugas di Polres Bogor dan Polsek jajaran


sampai dengan bulan Pebruari tahun 2011 adalah sebanyak 1945 orang. Dengan
kondisi tersebut perbandingan Polisi dan jumlah penduduk di Kabupaten Bogor
(yang termasuk Wilkum Polres Bogor) adalah 1 : 2141, Polres Bogor terdiri dari
Polsek jajaran yang berjumlah 28 Polsek. Diantara 28 Polsek jajaran diwilayah
hukum Polres Bogor 10 Polsek yang wilayahnya meliputi 2 Kecamatan, dan untuk
itu dibentuk 8 Subsektor yang bertugas memback-up wilayah Polsek dan
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

12. Pelaksanaan tugas fungsi Binmas saat ini.

a. Kondisi SDM pengemban fungsi Binmas.

Berdasarkan pengamatan penulis, pelaksana fungsi Binmas diwilayah


Polres Bogor secara formal berdasarkan Kep Kapolri nomor :
Kep/336/VI/2010 tanggal 14 Juni 2010 tentang organisasi dan tata kerja
Polri, dilaksanakan oleh Sat Binmas Polres Bogor dan unit Binmas
Polsek jajaran Polres Bogor.Jumlah personel Polri yang mengemban
bertugas di Sat Binmas Polres Bogor sebanyak 4 orang (2 Perwira dan 2
Bintara) dibantu oleh 1 orang PNS serta 1 PHL, sedangkan anggota Polri
yang bertugas pada sebagai Babinkamtibmas di Polsek jajaran sebanyak
338 orang. Bila melihat jumlah personel Polres mempunyai pendidikan
kejuruan dalam bidang Bimmas hanya 5,5 % atau 105 orang dari jumlah
keseluruhan personel, atau 31,5 % dari personel yang mengemban fungsi
Binmas. Namun ada beberapa potensi yang dapat dimanfaatkan untuk
optimalisasi fungsi Binmas adalah ada sekitar 567 orang personel yang
11

telah mengikuti kursus/pelatihan tentang Pemolisian masyarakat di


Wisma kinasih Kec. bekerjasama dengan IOM (tahun 2005- 2006). Selain
itu untuk jabatan Perwira baik pada Sat Binmas Polres maupun unit
Binmas Polsek jajaran masih belum terpenuhi, sehingga kekurangan
jabatan yang ada disi oleh Bintara tinggi yang dirasa mampu memegang
jabatan Perwira.

b. Dukungan Sarana prasarana dan anggaran.

Dukungan sarana mobiltas bagi personel Binmas berjumlah 2 unit


R4 (digunakan oleh Sat Binmas Polres) serta 69 unit R2, yang digunakan
oleh unit Binmas Polsek dan Babinkamtibmas. Kondisi tersebut untuk
menjangkau wilayah pedesaan/ kelurahan sebanyak 417 Desa/kel.
Belum mampu secara masksimal terutama menjangkau wilayah yang
jauh dan tidak dapat dijangkau kendaraan R4.

Dukungan anggaran untuk fungsi Binmas bersumber dari DIPA


Polres, anggaran tersebut terutama untuk BBM kendaraan belum
mencukupi guna mendukung kegiatan operasional, untuk itu Polres
bekerjasama dengan Pemda setempat, sehingga bagi Babinkamtibmas
mendapat tunjangan bulanan sebesar Rp. 250.000,-/ bulan, yang
digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran yang ada.

c. Pola dan metode pelaksanaan fungsi Binmas

Tugas Sat Binmas berdasarkan Kep Kapolr6i adalah


menyelenggarakan pembinaan masyarakat yang meliputi pembinaan
teknis Polmas dan kerjasama dengan instansi
pemerintah/lembaga/organisasi masyarakat, pembinaan bentuk
bentuk pengamanan swakarsa serta pembinaan keamanan dan
ketertiban masyarakat dalam rangka memberdayakan upaya
pencegahan masyarakat terhadap kejahatan serta meningkatkan
hubungan sinergisitas Polri-masyarakat.

Berangkat dari uraian diatas, upaya yang sudah dilaksanakan


Binmas Polres Bogor dan unit Binmas Polsek jajarannya saat ini, dalam

6
Kep Kapolri nomor : Kep/336/VI/2010 tanggal 14 Juni 2010 tentang Organisasi dan tata kerja
Polri pasal 19 ayat (2)
12

mewujudkan Siskamswakarsa adalah dengan melakukan kegiatan yang


bersifat pembinaan dengan pola dan metode Binluh, sambang desa,
koordinasi lintas sektoral, pelatihan .

13. Sasaran dan bentuk Siskamswakarsa yang sudah terelisasi saat ini.

Dari upaya yang sudah dilaksanakan oleh Polres Bogor, realisisasi


dilapangan serta sasaran yang ditujua terhadap upaya pembentukan dan
pembinaan terhadap Siskamswakarsa adalah sebagai berikut :

a. Lingkungan kerja

Pembinaan siskamswakarsa di lingkungan kerja, dilaksanakan dalam


bentuk pembinaan terhadap Satpam baik yang berada pada instansi
pemerintah maupun Perusahaan swasta. Pada sasaran ini, bentuk
pembinaan yang sudah dilakukan adalah melakukan sambang,
sosialisasi peraturan, binluh , penertiban seragam, atribut dan KTA
Satpam sebagai upaya pemantapan wujud fisik dilapangan yang
menunjukan adanya perlindungan profesional dilingkungan tempat
tugasnya dalam rangka memelihara stabilitas kamtibmas yang kondusif,
peka dan waspada terhadap setiap peristiwa/kejadian dengan
mengutamakan pelayanan dan perlindungan. Implementasinya
dilaksanakan pelatihan rutin yang dilakukan oleh Sat Binmas maupun
unit Binmas Polsek (Babinkamtibmas).

b. Lingkungan pemukiman

Pembinaan siskamswakarsa di lingkungan pemukiman, dilaksanakan


dalam bentuk pembinaan terhadap siskamlaing, dan untuk memotivasi
kesadaran warga, dilaksanakan lomba Pos Kamling, yang secara rutin
dilaksanakan setahun sekali, sedangkan pembinaan Siskamling,
mengedepankan babinkamtibmas yang ada di Polsek jajaran.

c. Lingkungan pendidikan

Pelaksanaan siskamswakarsa di lingkungan pendidikan, diditerapkan


dengan sasaran para siswa sekolah, dengan bentuk kegiatan antara lain
PKS (patroli keamanan sekolah), Saka Bhayangkara serta PSA yang
bertujuan menumbuhkan kesadaran kepad anak usia dini dan siswa
13

sekolah tentang pentingnya Kamtibmas dan siskamswakarsa. Bentuk


pembinaannya adalah dengan melakukan kegiatan kunjungan ke
sekolah maupun mengundang para siswa pada saat tertentu untuk dilatih
mengenai teknik Siskamswakarsa.

d. Komunitas masyarakat

Pembinaan Siskamswakarsa dengan sasaran komunitas masyarakat


tertentu,yang dengan sukarela mau membantu Kepolisian dalam upaya
mewujudkan Kamtibmas seperti komunitas masyarakat yang memiliki
kesamaan hobi atau ormas. Seperti JKU Polmas (Jaring komunikasi
udara pemolisian masyarakat), FKPM, Pokdar Kamtibmas, Ulama
Kamtibmas,KBPPP (Keluarga besar putra putri Polri), ojek Kamtibmas
serta satgas Ormas maupun Parpol yang ada di wilayah Kab. Bogor.

e. Polsus

Polsus adalah instansi dan atau badan pemerintah yang oleh Undang-
undang diberi kewenangan untuk melaksanakan fungsi kepolisian di
bidang teknisnya masing-masing. Fungsi polsus melaksanakan usaha/
kegiatan pengamanan dalam rangka menjalankan peraturan perundang-
undangan dibidangnya masing-masing secara preemtif, preventif dan
represif.

Berikut ini data jumlah potensi Siskamswakarsa diwilayah hukum Polres


Bogor :

No Jenis siskamswakarsa Jumlah Ket

1 Satpam 4980 2103 (memiliki kualifikasi)


2 Polsus/Satpol PP 371 298 (sudah jalani Diklat)
3 PKS 96
4 Siskamling 3218 Pos Kamling
6 JKU Polmas 2000
7 Ojek Kamtibmas 15678
8 Ulama Kamtibmas 470
Pemuda Mitra Kamtibmas 408
9
FKPM 1151
10
14

Saka Bhayangkara 789


11
Masyarakat on-line 478
12 Jaringan internet

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Dalam membahas optimalisasi fungsi Binmas sangat dipengaruhi oleh


beberapa faktor antara lain faktor internal dan eksternal, dengan uraian sebagai
berikut :

17. Faktor Internal

a. Kekuatan

1) Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia, Pasal 14 ayat (1) huruf (c) Kepolisian
Negara Republik Indonesia bertugas untuk membina
masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat,
kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga
masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundangan
undangan.

2) Grand Strategi Polri 2011-2015 tahap II prioritas pembangunan


Kemitraan (partnership building) yang bisa digunakan sebagai
kekuatan mengoptimalkan untuk meujudkan Siskamswakarsa

3) Adanya arahan, Juklak maupun peraturan lainnya yang dapat


menjadi pedoman bagi pelaksanaan tugas fungsi Binmas..

4) Komitmen yang kuat dari pimpinan Polri untuk mengoptimalkan


fungsi Binmas sebagai upaya pre-emtif dan preventif dalam
upaya mewujudkan Kamtibmas..

5) Kesungguhan dan motivasi tugas anggota dilapangan..

6) Banyak anggota yang secara informal mempunyai hubungan


baik dengan masyarakat.
15

7) Walaupun tingkat pendidikan maupun pelatihan ketrampilan


anggota secara formal belum memadai, namun ditemukan
banyak anggota yang secara alamiah mempunyai kemampuan
komunikasi yang baik dengan masyarakat.

b. Kelemahan

1) Jumlah anggota polisi yang dibandingkan dengan jumlah


penduduk yang belum seimbang, dimana Police employee rate
memenuhi standar.

2) Masih adanya anggapan bahwa pengemban fungsi Binmas,


hanya anggota yang bertugas di sat Binmas, unit Binmas
maupun Babinkamtibmas.

3) Belum terpenuhinya DSPP anggota sat Binmas maupun Unit


Binmas Polsek, terutama untuk jabatan Perwira.

4) Masih ditemukan kemampuan komunikasi anggota yang belum


baik,.

5) Masih ditemukan perilaku anggota yang arogan dalam


melayani masyarakat, sehingga dapat berpengaruh terhadap
tingkat partisipasi masyarakat..

6) Minimnya sarana dan prasarana yang dimiliki baik itu berupa


alat transportasi maupun alat komunikasi.

7) Masih adanya sikap mental anggota yang buruk yaitu dalam


melaksanakan tugasnya melakukan penyalahgunaan
wewenang untuk kepentingan pribadi.

8) Masih ada anggota Polri yang belum dapat bersikap arif dalam
menerima kritik dan saran.

17. Faktor Eksternal

a. Peluang

1) Dukungan masyarakat terhadap keberhasilan tugas pokok


Polri masih baik, ini dtandai dengan masih banyak kelompok
16

masyarakat yang berempati serta berpartisipasi terhadap


tugas tugas Kepolisian.

2) Media pers baik cetak maupun elektronik yang memberikan


apresiasi tinggi terhadap tugas tugas Kepolisian terutama
dalam mewujudkan Siskamswakarsa..

3) Kepedulian dari tokoh masyarakat, LSM, para ahli yang


memberi masukan dan kritik kepada Polri.

4) Dukungan dari DPRD, Pemda dan instansi terkait terhadap


tugas Polri, baik berupa dukungan moral maupun materiil.

5) Keberadaan komunitas masyarakat, Ormas, satgas khusus


yang dapat dijadikan sebagai mitra dalam tugas tugas
Kepolisian.

6) Dimasukkannya kegiatan/program PSA, dalam dunia


pendidikan anak usia dini.

7) Tuntutan dari masyarakat yang menginginkan Kepolisian


dalam bertindak agar mengedepankan etika sipil dan
meninggalkan cara cara militerisme.

8) Antusias masyarakat yang cukup baik, terhadap setiap


program Kepolisian yang menjadikan masyarakat sebagai
mitra sehingga dapat dijadikan sebagai sarana mewujudkan
Siskamswakarsa.

9) Keinginan yang kuat dari masyarakat maupun instansi,


Perusahaan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban
dilingkungannya masing-masing.

10) Kemajuan teknologi informasi, sehingga dapat dimanfaatkan


untuk menyampaikan informasi secara on-line kepada
masyarakat.

b. Kendala
17

1) Dalam level pelaksana dilapangan terkadang koordinasi antara


Polres dan instansi terkait, masih ditemukan adanya ketidak
sepahaman dalam cara bertindak dilapangan.

2) Citra Kepolisian yang masih belum dianggap baik oleh


sebagian masyarakat, terutama dengan adanya permasalahan
yang dianggap melibatkan Polri.

3) Belum dimanfaatkannya secara maksimal, sarana dan


prasarana dalam mengoptimalkan fungsi Binmas.
18

BAB V

KONDISI YANG DIHARAPKAN DAN

UPAYA YANG DILAKUKAN

Pada Bab ini penulis akan menguraikan Kondisi yang diharapkan serta
upaya yang perlu dilakukan dalam rangka optimalisasi fungsi Binmas, sehingga apa
yang menjadi harapan yaitu terwujudnya partisipasi masyarakat dalam rangka
Siskamswakarsa dapat terwujud. Dalam upaya mencapai tujuan sesuai target yang
diharapkan, maka diperlukan adanya visi dan misi sebagai pedoman bagi
pelaksanaan tugas. Untuk itu visi dan misi fungsi Binmas berdasarkan Surat
SDEOPS POLRI Nomor : B / 581 / III / 2010 tanggal 24 Maret 2010 tentang
Keputusan Kapolri tentang Visi dan Misi fungsi Bimmas Polri, yaitu :.

VISI :
Menjadi sahabat dan mitra masyarakat dalam memecahkan masalah - masalah
sosial yang dapat mengganggu ketertiban dan keamanan lingkungan.
MISI :

Hadir ditengah - tengah masyarakat untuk melindungi, mengayomi dan


melayani masyarakat;

Membangun komunikasi yang efektif dan intensif dengan masyarakat baik


individu maupun kelompok / komunitas;

Mengidentifikasi masalah - masalah sosial dan keamanan yang timbul dalam


masyarakat serta menemukan jalan pemecahannya;

Bersama masyarakat mencegah dan menangkal timbulnya penyakit


masyarakat;

Bersama masyarakat menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan;

Membangun dan mengembangkan kemitraan dengan segenap komunitas


dalam memelihara situasi kamtibmas yang kodusif;
19

Mendorong partisipasi masyarakat dalam menumbuh kembangkan daya


cegah dan daya tangkal terhadap segala bentuk gangguan kamtibmas

Dari uraian tentang visi dan misi fungsi Binmas, beberapa point penting
diantaranya adalah adanya partisipasi dan kemitraan dengan masyarakat, sebagai
salah satu point landasan bagi terwujudnya Siskamswakarsa. Untuk itu kondisi yang
diharapkan serta upaya yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut :

14. Pelaksanaan tugas fungsi Binmas yang diharapkan.

a. Kondisi SDM pengemban fungsi Binmas.

1) Secara kwantitas jumlah anggota Binmas diharapkan sesuai


dengan DSPP, sehingga dapat mencover wilayah maupun
komunitas masyarakat yang belum terjangkau pembinaan
Siskamswakarsa.

2) Personel yang mengawaki sat/unit Binmas, mempunyai


kemampuan serta ketrampilan dalam hal komunikasi dan
membangun jaringan kemitraan serta berpengetahuan luas.

3) Jabatan Perwira yang masih belum terpenuhi baik pada Sat Binmas
setingkat Polres maupun Unit Binmas Polsek jajaran.

4) Babinkamtibmas sebagai ujung tombak tidak double job (rangkap


tugas) serta diupayakan 1 Desa 1 Babinkamtibmas.

5) Personel yang mengemban fungsi Binmas memiliki mental dan


perilaku baik, sehingga dapat menjadi tauladan serta dapat
dipercaya masyarakat.

6) Personel mempunyai kemampuan untuk mengembangkan


inovasinya dalam membina hubungan baik maupun kegiatan
pembinaan terhadap masyarakat.

b. Dukungan Sarpras dan anggaran

1) Terpenuhinya dukungan sarana prasarana, terutama sarana


mobilitas dan alat komunikasi.

2) Terpenuhinya dukungan anggaran operasional bagi personel.

c. Pola dan metode pelaksanaan fungsi Binmas.


20

1) Pembinaan sistem keamanan swakarsa merupakan suatu upaya


yang mematuhi kesepakatan sosial yang berlaku di lingkungan
yang dilayaninya dan berupaya untuk memahami kebutuhan rasa
aman masyarakat serta menyesuaikan dengan corak masyarakat
dan kebudayaannya. ), metode pembinaan siskamswakarsa
dilaksanakan secara proaktif dan bottom up atau tidak menunggu
perintah dari atasan tetapi mengembangkan kreatifitas dan
memberdayakan potensi-potensi yang ada dalam menciptakan dan
memelihara Kamtibmas.

2) Metode optimalisasi Fungsi Binmas tidak hanya difokuskan kepada


anggota Binmas atau babinkamtibmas, akan tetapi kepada seluruh
anggota Polri, serta dapat diimplementasikan dalam setiap bidang
penugasan fungsi Kepolisian lainnya (Sabhara, Reserse, Intelkam,
Lantas).

3) Bentuk kegiatan sambang, Binluh, kerjasama, kemitraan, pelatihan


terhadap Siskamswakarsa, intensitasnya terus ditingkatkan.

4) Mengadakan kegiatan yang bersifat silaturahmi antara Polisi dan


masyarakat, seperti olah raga bersama, kompetisi olah raga dan
kegiatan inovasi lainnya.

5) Mampu membangun kerjasama dan memelihara hubungan baik


dengan media elektronik dan cetak, sehingga dapat dijadikan
sebagai sarana penyampaian informasi bagi terwujudnya
Siskamswakarsa.

6) Fungsi Binmas yang mampu membentuk citra positif Polri ,


Membangun citra positif identik dengan kepercayaan publik agar
tercipta opini public yang baik, dalam lingkup internal maupun
eksternal Polri, diperlukan proses komunikasi yang baik dan
berkesinambungan. Proses komunikasi yang baik akan
menghasilkan hal positif dan menguntungkan bagi pencitraan Polri.
Dalam setiap kegiatan Kepolisian perlu dilandasi dengan
komunikasi yang baik. Ada empat fungsi komunikasi yaitu sebagai
berikut:
21

a) Public information Fungsi komunikasi sebagai public


information menekankan pemberian informasi kepada
masyarakat secara transparan

b) Public education fungsi komunikasi ini bertujuan mendidik


masyarakat melalui komunikasi

c) Public persuasion, fungsi komunikasi sebagai sarana untuk


mempengaruhi masyarakat tersebut ke arah perubahan sikap
dan perilaku yang diharapkan

d) Public entertainment fungsi komunikasi menjadikan sarana


seni hiburan untuk menyampaikan pesan Kamtibmas

Ada 4 tujuan yang ingin dicapai dari fungsi komunikasi antara lain :

a) Sosial Change / social participation Perubahan atau


partisipasi social, memberi informasi kepada masyarakat,
diharapkan akan muncul dukungan dan ikut terhadap apa yang
disampaikan melalui proses komunikasi

b) Attitude change Perubahan sikap, penyampaian informasi


dengan komunikasi yang baik, maka diharapkan akan terjadi
perubahan sikap

c) Opinion change/ membentuk opini, berbagai informasi yang


diberikan kepada masyarakat tujuan akhirnya supaya
masyarakat mau berubah pendapat dan persepsinya.

d) Behaviour change, perubahan perilaku Kegiatan memberikan


berbagai informasi pada masyarakat dengan tujuan supaya
masyarakat akan berubah perilakunya.

Bentuk komunikasi yang perlu diterapkan adalah :

a) Komunikasi intra personal, Komunikasi yang terjadi dalam


diri individu itu sendiri, tujuannya terbentuk kretivitas dalam
tugas yang bertujuan positif.
22

b) Komunikasi inter personel, Komunikasi yang terjadi antar


individu, dalam bentuk kontak langsung seperti individu
anggota dengan individu masyarakat.

c) Komunikasi kelompok, komunikasi tatap muka dan yang


memiliki susunan rencana kerja tertentu untuk mencapai tujuan
kelompok atau organisasi. (Seminar, rapat koordinasi).

d) Komunikasi massa, . komunikasi umum dan pesan yang


disampaikan kepada khalayak ramai. (Berita media).

7) Fungsi Binmas yang mempu menjaga relasi atau hubungan


dengan masyarakat, hal ini selaras dengan Teori relationship
marketing (Gronroos 1990), dimana pada intinya adalah
membahas bagaimana menjaga hubungan yang telah terbangun
antara penjual dan pembeli serta partner bisnis , sehingga terus
menerus menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Dalam
teori ini digabungkan tiga variable yaitu relationship (hubungan),
network (Jaringan) dan interaction (interaksi). Berkaitan
dengan kegiatan optimalisasi Fungsi Binmas bahwa ada 3 point
penting yang perlu di pelihara dan dijaga oleh Polisi dan
masyarakat yaitu hubungan yang terus terpelihara, jaringan
pertemanan yang luas dan adanya interaksi secara intensif dan
berkesinambungan.

15. Sasaran dan bentuk Siskamswakarsa yang diharapkan.

Hakekat pembinaan dan pengembangan sistem keamanan dan ketertiban


masyarakat swakarsa adalah menumbuh kembangkan suatu tata keamanan
dan ketertiban berdasarkan kehendak dan kemampuan masyarakat sendiri
dalam rangka mewujudkan dinamika sosial yang stabil dan untuk membangun
daya tangkal, daya cegah dan daya penanggulangan, agar masyarakat
memiliki ketangguhan yang tinggi sehingga secara mandiri menjadi
Polisi" bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungannya

Untuk itu Sasaran maupun bentuk dari Siskamswakarsa yang


diharapkan adalah yang terwujud karena adanya kesadaran dari masyarakat
untuk mendukung dan berpartisipasi dalam Siskamswakarsa. Realisasi dari
23

Siskamswakarsa terbentuk di semua lingkungan maupun komunitas


masyarakat. Disamping itu kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap
Siskamswakarsa dapat terbentuk sejak usia dini, sehingga pembinaan yang
dilakukan oleh fungsi Binmas dapat maksimal dilaksanakan.

16. Upaya yang dilakukan (Action Plan)

Agar optimalisasi fungsi Binmas dapat tercapai sesuai yang diharapkan yaitu
meningkatnya partisipasi masyarakat dalam rangka terwujudnya
Siskamswakarsa adalah sebagai berikut :

a. Internal

1) Pemenuhan kebutuhan personel yang mengawaki fungsi Binmas


serta jabatan untuk Perwira yang belum terpenuhi.

2) Pelatihan, Dikjur, kursus yang berkaitan dengan fungsi Binmas serta


pendidikan umum sebagai sarana untuk menambah wawasan dan
pengetahuan personel.

3) Pembinaan mental dan rohani personel, agar terwujud sosok Polri


yang berperilaku baik.

4) Menigkatkan peran aktif Babinkamtibmas, sebagai ujung tombak


pembinaan Siskamswakarsa.

5) Sosialisasi dan arahan kepada seluruh personel Polri, bahwa setiap


anggota Polri dapat berperan untuk mengemban fungsi Binmas yang
dipadukan dengan pelaksanaan tugas rutin Kepolisian.

6) Implementasikan kembali program Bimmastral dimana setiap angota


Polri wajib, mengenal lingkungan sekitar dalam radius 200 m-400 m,
serta implementasi program kemitraan Polri-masyarakat (sejuta
kawan) sebagai bagian dari Grand strategi Polri tahap II
(membangun kemitraan).

7) Pemberian Reward kepada anggota yang berprestasi serta


punishment kepada anggota yang melanggar, sebagai sarana untuk
meningkatkan motivasi anggota.
24

b. Eksternal

1) Kerjasama dengan Pemda setempat dan instansi terkait dalam


rangka pembinaan Siskamswakarsa.

2) Koordinasi dengan Pemda setempat untuk mencari dukungan


kekurangan sarpras dan anggaran.

3) Melakukan pembinaan dan penyuluhan, penggalangan dengan


tokoh masyarakat, serta terus meningkatkan intensitas tatap muka
secara langsung dengan seluruh lapisan masyarakat.

4) Melakukan kerjasama dengan media cetak/ elektronik serta


memanfaatkan jaringan online, untuk penyampaian informasi dan
komunikasi.

5) Meminta masukan dan saran para pakar, untuk keberhasilan


optimalisasi.
25

BAB VI

PENUTUP

17. Kesimpulan

a. Siskamswakarsa adalah Suatu sistem keamanan dan ketertiban yang


mengupayakan hidupnya peranan dan tanggungjawab dalam
pembinaan dan pengembangan Kamtibmas atas dasar kehendak dan
kemampuan masyarakat sendiri guna mewujudkan daya tangkal, daya
cegah dan daya penanggulangan masyarakat terhadap setiap
kemungkinan munculnya gangguan Kamtibmas.

b. Kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam rangka terwujudnya


Siskamswakarsa perlu dibentuk, sehingga system yang terbentuk dapat
berdaya guna secara maksimal sesuai tujuan yang diharapkan.

c. Fungsi Binmas sebagai pengemban fungsi Pre-emtif dan preventif,


perlu di optimalisasi dalam pelaksanaan tugasnya, sehingga terbentuk
partisipasi masyarakat terhadap Siskamswakarsa.

d. Faktor yang mempengaruhi optimalisasi, yang bersifat peluang perlu


dijadikan sebagai pedoman bagi peningkatan optimalisasi, sedangkan
faktor yang menghambat/kendala setidaknya dapat diminimalisir dalam
pelaksanaan optimalisasi.

e. Kondisi yang diharapkan dan upaya yang perlu dilakukan dalam


kegiatan optimalisasi fungsi Binmas, adalah dengan memperbaiki SDM
personel yang mengawakinya, kesadaran seluruh personel Polri bahwa
fungsi Binmas dapat di laksanakan di semua fungsi Kepolisian
bersamaan dengan pelaksanaan tugasnya sehari- hari, pemenuhan
jumlah personel Binmas sesuai DSPP, pemenuhan sarana dan
prasarana pendukung, dan dukungan anggaran serta pola dan metode
yang tepat dalam pelaksanaan optimalisasi fungsi Binmas, seperti
26

8) Pola sambang , Binluh, pelatihan, silaturahmi, koordinasi terus


ditingkatkan intensitasnya dalam pelaksanaan tugas fungsi
Binmas.

9) Pola kerjasama dengan Lembaga, instansi, media


cetak/elektronik serta secara individu dengn Tomas, Toda dan
Toga terus dipelihara.

10) Pola dan metode pembinaan internal Polri sebagai bentuk


peningkatan kwalitas anggota Polri dalam mengemban fungsi
Binmas.

18. Saran

a. Adanya buku pedoman/informasi, yang dapat dijadikan sebagai acuan


bagi personel dilapangan.

b. Pemenuhan kekuatan personel pengemban fungsi Binmas.

c. Pelatihan, Dikjur, Kursus bagi peningkatan kemampuan


profesionalisme anggota.

d. Pimpinan maupun Kesatuan atas dapat melakukan MOU atau


kerjasama, dengan berbagai pihak.

e. Dukungan sarana prasarana dan anggaran yang jelas, serta perbaikan


kesejahteraan sebagai sarana untuk meningkatkan motivasi dan kinerja
anggota.

Bogor, ..

Penulis,
27