Anda di halaman 1dari 13

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

TOPIK :

PENGAWASAN INTERNAL POLRI TERHADAP OPERASI KEPOLISIAN

JUDUL :
OPTIMALISASI PERAN PENGAWASAN FUNGSIONAL POLRES DEPOK
GUNA MENCEGAH TERJADINYA PENYIMPANGAN PENYALAHGUNAAN
WEWENANG PADA PELAKSANAAN OPERASI PATUH JAYA
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumbuh kembangnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri sangat
ditentukan oleh persepsi masyarakat terhadap kompetensi, moralitas dan
profesionalisme Polri dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan jati diri sebagai
aparat pemerintahan yang memiliki tugas to serve and to protect. Sebagaimana
yang ditegaskan Satjipto Rahardjo terwujudnya kepercayaan masyarakat terhadap
Polri sangat ditentukan oleh kemampuan Polri dalam melaksanakan tugasnya,
karena struktur sosial, kultural dan ideologis dalam masyarakat telah menentukan
pemberian tempat kepada polisi, bagaimana polisi diterima masyarakat dan
bagaimana polisi harus bekerja Namun demikian kepercayaan masyarakat terhadap
Polri terkadang ternoda oleh sikap dan perilaku anggota Polri, penyimpangan yang
dilakukan oleh oknum anggota Polri yang tidak bertanggungjawab menimbulkan
sikap negatif masyarakat sehingga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat
terhadap Polri.
Salah satu upaya mewujudkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri adalah
mencegah terjadinya penyimpangan penyalahgunaan wewenang pada pelaksanaan
operasi patuh jaya yang lebih mengedepankan pada tindakan penegakkan hukum di
bidang Kamseltibcar Lantas. Operasi Patuh Jaya sejatinya merupakan upaya cipta
kondisi di bidang ketertiban dan kelancaran lalu lintas, dimana dalam
pelaksanaannya setiap personel diberi target untuk melakukan tindakan tilang
minimal 10 tilang perorang selama 14 hari pelaksanaan operasi patuh. Selain itu
operasi patuh juga didukung dengan pelayanan dan pembinaan penyuluhan di
bidang lalu lintas, sehingga melalui kegiatan operasi tersebut, masyarakat
diharapkan dapat berlaku tertib dalam berlalu lintas. Namun demikian tidak dapat
2

dipungkiri bahwa dalam pelaksanaannya kerap terjadi penyimpangan


penyalahgunaan wewenang, baik karena adanya pungli, diskriminatif maupun karena
sikap dan perilaku yang arogan. Kondisi tersebut tentunya mendapat reaksi negatif
dari sebagian masyarakat.
Mencermati hal tersebut, pimpinan terus berupaya melakukan berbagai
pembenahan terhadap kegiatan operasi tersebut, dimana salah satunya dengan
mengoptimalkan peran pengawasan fungsional yang dilakukan oleh seksi
pengawasan yang untuk selanjutnya disingkat Siwas. Dimana dalam melaksanakan
perannya Siwas bertugas menyelenggarakan monitoring dan pengawasan umum,
baik secara rutin maupun insidentil terhadap pelaksanaan kebijakan pimpinan oleh
semua unit kerja khususnya dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan
pencapaian rencana kerja, termasuk bidang material, fasilitas dan jasa serta
memberikan saran tindak terhadap penyimpangan yang ditemukan. Oleh karena itu,
melalui pengawasan fungsional yang dilaksanakan oleh Siwas Polres Depok, maka
diharapkan penyimpangan penyalahgunaan wewenang pada pelaksanaan operasi
patuh dapat di cegah, sehingga terwujud kepercayaan masyarakat.

B. Permasalahan
Mendasari uraian latar belakang di atas, maka pokok permasalahan yang akan
diangkat dalam penulisan NKP ini adalah bagaimana mengoptimalkan
pengawasan fungsional Polres Depok, agar dapat mencegah penyimpangan
penyalahgunaan wewenang pada pelaksanaan operasi patuh jaya, sehingga
kepercayaan masyarakat terwujud?.

C. Persoalan-persoalan
Berdasarkan permasalahan di atas, maka pokok-pokok persoalan dalam
penulisan NKP ini, adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kemampuan personel Siwas dalam melaksanakan pengawasan
fungsional?
2. Bagaimana prosedur pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi
patuh jaya?
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Judul
Judul dalam penulisan NKP ini adalah optimalisasi peran pengawasan
fungsional Polres Depok guna mencegah terjadinya penyimpangan penyalahgunaan
wewenang pada pelaksanaan operasi patuh jaya dalam rangka terwujudnya
kepercayaan masyarakat.
1. Variabel judul
a. Variabel - 1 : Optimalisasi peran pengawasan fungsional Polres Depok;
a. Variabel - 2 : Guna mencegah terjadinya penyimpangan penyalahgunaan
wewenang pada pelaksanaan operasi patuh jaya;
b. Variabel - 3 : Terwujudnya kepercayaan masyarakat.
2. Kata kunci variabel
a. Kata kunci variabel - 1 : Peran
b. Kata kunci variabel - 2 : Penyimpangan
c. Kata kunci variabel - 3 : Kepercayaan masyarakat.
3. Kriteria kata kunci
a. Kata kunci peran berdasarkan teori peran adalah expectations about
appropriate behavior in a job position Harapan tentang perilaku yang
tepat dalam posisi kerja, dimana terdapat 2 (dua) jenis perilaku yang
diharapkan dalam pekerjaan, pertama role perception, yaitu persepsi
mengenai perilaku yang diharapkan; dan kedua role expectation, yaitu
cara orang lain menerima perilaku. Dengan peran yang dimainkan, akan
terbentuk suatu komponen penting dalam hal identitas dan kemampuan
orang itu untuk bekerja;
b. Kata kunci penyimpangan dijelaskan berdasarkan definisi para ahli, yaitu
semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam
suatu sistem sosial;
c. Kata kunci Kepercayaan masyarakat dijelaskan dengan menggunakan
program grand strategi Polri (trust building), yaitu melakukan sesuatu
seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam satu pola
tindakan yang saling mendukung. Apabila Kepercayaan masyarakat
kepada Polri terwujud, maka akan ada dukungan masyarakat dalam
pelaksanaan tugas pokok Polri.
4

B. Kondisi Pokok Bahasan


Pelaksanaan operasi patuh jaya yang diselenggarakan secara rutin oleh Polres
Depok merupakan langkah awal untuk meningkatkan budaya tertib masyarakat
dalam berlalu lintas, namun demikian dalam pelaksanaannya kerap terjadi
penyimpangan dan penyalagunaan wewenang, seperti halnya Pungli, adanya
penyuapan, diskriminasi atau bahkan kasar / arogan. Hal tersebut seperti jelaskan
pada tabel berikut ini, berdasarkan laporan pengaduan yang dihimpun Siepropam.
Tahun
No Uraian Ket
2014 2015 2016
1 Penyuapan 2 1 3
2 Pungli 2 3 3
3 Kasar / diskriminasi 3 4 1
4 Di luar prosedur 1 1 -
Jumlah 8 9 7
Sumber data : Siepropam Polres Depok tahun 2017
Masih tingginya angka penyimpangan dan penyalahgunaan wewenang pada
pelaksanaan operasi patuh jaya disebabkan oleh beberapa faktor penting, terutama
pada aspek kompetensi personel dan prosedur yang diterapkan. Kondisi tersebut
seperti digambarkan berikut ini.
1. Kondisi faktual
a. Kemampuan personel Siwas dalam melaksanakan pengawasan fungsional
1) Jumlah personel hanya 6 personel belum sesuai dengan DSP yang
mencapai 9 personel, bahkan personel yang ada merupakan
pindahan dari satuan lain, seperti Satlantas yang indisiplier;
2) Knowledge, sebagian besar personel belum memiliki kualifikasi
pengawasan fungsional, sehingga kurang memahami tugasnya;
3) Skill, kemampuan melakukan analisa terhadap hasil temuan
penyimpangan masih lemah, sehingga kurang mampu memberikan
rekomendasi kepada pimpinan untuk tindakan lebih lanjut;
4) Attitude, kurang memiliki kesadaran untuk melaksanakan
pengawasan fungsional secara optimal dengan alasan kurang
meningkatkan prestasi dan atau karier sebagai anggota Polri;
b. Prosedur pengawasan fungsional pelaksanaan operasi patuh jaya
1) Pembuatan rencana pengawasan fungsional operasi patuh jaya,
seperti jadwal, obyek, kriteria pengawasan sampai dengan output
yang akan dicapai belum pernah dilaksanakan;
5

2) Pembentukan tim kerja pengawasan fungsional kurang


dilaksanakan, sehingga kegiatan tidak terarah dan terencana;
3) Laporan hasil pengawasan yang dibuat masih merupakan format
atau duplikasi laporan sebelumnya, sehingga kurang obyektif;
4) Prosedur kerja pengawasan fungsional belum dibuat secara jelas
dan terperinci, sehingga kurang memberi pedoman tentang tugas
yang harus dilaksanakan;
5) HTCK antar satuan fungsi, seperti Siwas dengan propam dan fungsi
lainnya belum sinergis, sehingga belum terpadu dalam bertindak.
c. Kurang optimalnya peran pengawasan fungsional Polres Depok terhadap
pelaksanaan operasi patuh jaya menimbulkan terjadinya penyimpangan
oleh anggota di lapangan sehingga berdampak negatif terhadap
kepercayaan masyarakat.
2. Kondisi ideal
a. Kemampuan personel Siwas dalam melaksanakan pengawasan fungsional
1) Jumlah personel sesuai beban tugas minimal sesuai DSP, dan
merupakan personel pilihan dari yang terbaik dan bukan merupakan
pindahan dari satuan lain;
2) Knowledge, seluruh personel memiliki kualifikasi dan sertifikasi
pengawasan fungsional, sehingga memahami peran dan tugasnya;
3) Skill, kemampuan melakukan analisa terhadap hasil temuan
penyimpangan lebih baik, sehingga mampu memberikan
rekomendasi kepada pimpinan untuk tindakan lebih lanjut;
4) Attitude, tumbuhnya sikap profesionalisme dalam melaksanakan
pengawasan fungsional dan memandang bahwa tugas yang
diemban dapat meningkatkan prestasi atau karier anggota Polri;
b. Prosedur pengawasan fungsional pelaksanaan operasi patuh jaya
1) Dibuatnya rencana pengawasan fungsional operasi patuh jaya,
seperti jadwal, obyek, kriteria pengawasan sampai dengan output
yang akan dicapai secara jelas dan terarah;
2) Pembentukan tim kerja pengawasan fungsional dibuat secara jelas
tentang tugas dan perannya, sehingga kegiatan lebih terarah;
3) Laporan hasil pengawasan merupakan hasil temuan secara obyektif
di lapangan, sehingga terjaga transparansi dan akuntabilitas;
6

4) Prosedur kerja pengawasan fungsional dibuat secara jelas dan


terperinci, sehingga menjadi pedoman tugas di lapangan;
5) HTCK antar satuan fungsi, seperti Siwas dengan propam dan fungsi
lainnya berjalan baik, sehingga lebih terpadu dalam bertindak.
c. Optimalnya peran pengawasan fungsional Polres Depok terhadap
pelaksanaan operasi patuh jaya diharapkan dapat mencegah terjadinya
penyimpangan penyalahgunaan wewenang oleh anggota di lapangan
sehingga menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi
1. Faktor Internal
a. Kekuatan
1) Komitmen pimpinan mencegah terjadinya penyimpangan pada
pelaksanaan operasi patuh jaya;
2) Penguatan pengawasan yang tertuang dalam program Kapolri
merupakan pedoman untuk meningkatkan pengawasan fungsional;
3) Adanya hubungan tata cara kerja antar (HTCK) satuan fungsi internal
Polres Depok da;am mendukung pengawasan fungsional;
4) Diterpakannya sistem penilaian kinerja terhadap seluruh personel
terutama personel Siwas untuk memotivasi kinerja;
5) Budaya keterbukaan dan akuntabilitas Polres Depok dalam
penyelenggaran operasi Patuh Jaya dengan mengoptimalkan
pengawasan fungsional.
b. Kelemahan
1) Sebagian besar personel Siwas belum memiliki sertifikasi
pengawasan fungsional, sehingga kualitas personel belum merata;
2) Adanya budaya kerja yang kurang baik, dengan melakukan
pembiaran terhadap anggota yang melakukan pelanggaran;
3) Pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi Patuh Jaya
kurang melibatkan fungsi lain, seperti Siepropam;
4) Belum tumbuhnya integritas personel untuk melaksanakan tugas
pengawasan fungsional secara sungguh-sungguh;
5) Atensi pimpinan terhadap kinerja fungsi pengawasan belum optimal,
sehingga belum memotivasi kinerja yang lebih baik.
7

2. Faktor Eksternal
a. Peluang
1) Dukungan Pemda terhadap pelaksanaan operasi patuh jaya secara
profesional dengan memberdayakan pengawasan fungsional;
2) Partisipasi masyarakat sebagai kontrol sosial dengan memberikan
penilaian obyektif terhadap kinerja anggota Polri di lapangan dalam
pelaksanaan operasi Patuh Jaya;
3) Terjalinnya kerjasama dengan lintas sektoral dalam mendukung
pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi Patuh jaya;
4) Pelibatan instansi terkait sebagai pengawas eksternal untuk
mendukung transparansi dan akuntabilitas kinerja;
5) Keberadaan media massa meliput pelaksanaan operasi patuh jaya,
sehingga dapat menekan penyimpangan oleh anggota di lapangan.
b. Kendala
1) Budaya masyarakat yang terlibat suap menyuap dalam
menyelesaian kasus, sehingga menyuburkan penyimpangan;
2) Masih tingginya angka pelanggaran lalu lintas, tidak sebanding
dengan operasi kepolisian;
3) Stigma negatif masyarakat masyarakat terhadap profesionalisme
Polres dalam melaksanakan tugas pokoknya;
4) Sikap ego sektoral masing-masing instansi dalam menjaln
kerjasama, sehingga dipandang belum sinergis;
5) Keberadaan lembaga pengawas eksternal belum berperan optimal
membantu meningkatkan pengawasan kinerja Polres.
D. Upaya Pemecahan Masalah
Upaya pemecahan masalah dilaksanakan melalui perumusan visi, misi, tujuan,
sasaran, kebijakan dan implementasi strategi / action plan, yaitu:
1. Visi
Terwujudnya peran pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi
patuh jaya, sehingga dapat mencegah penyimpangan penyalahgunaan
wewenang dalam upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat.
2. Misi
a. Meningkatkan kemampuan personel Siwas dalam melaksanakan
pengawasan fungsional;
8

b. Melaksanakan prosedur pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan


operasi patuh jaya.
3. Tujuan
a. Terlaksanannya pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan oeprasi
patuh jaya;
b. Tercapainya prosedur pengawasan fungsional secara efektif dan efisien.
4. Sasaran
a. Mengoptimalkan kinerja personel Siwas Polres Depok;
b. Menerapkan prosedur pengawasan fungsional sesuai peraturan.
5. Kebijakan
Melaksanakan pengawasan fungsional oleh Siwas Polres Depok sesuai
Perkap Nomor 6 Tahun 2014 tentang Pengawasan dan Pemeriksaan khusus di
Lingkungan Polri dan Perirwasum Polri Nomor 1 Tahun 2015 tentang
Penjabaran Tugas Siwas di lingkungan kepolisian Resort.
6. Strategi
Berdasarkan perhitungan IFAS dan EFAS, maka grand strateginya adalah
ST (terlampir), yaitu memaksimalakan kekuatan dengan meminimalisir kendala
(data terlampir)
7. Implementasi strategi / action plan
a. Jangka Pendek (1 tahun)
1) Melaksanakan pembinaan dan pelatihan terhadap personel Siwas
dalam pelaksanaan pengawasan fungsional, dengan cara:
a) Kabagsumda menginvetarisir personel kompeten bidang
pengawasan untuk ditempatkan di Siwas;
b) Kasiwas dan Kabagsumda melaksanakan sosialisasi tentang
mekanisme pengawasan fungsional
c) Kabagsumda menyelenggarakan pelatihan pengawasan
fungsional melalui kegiatan coaching clinic dan seminar.
2) Menekan terjadinya budaya kerja yang kurang baik, dengan cara:
a) Kapolres bersama unsur pimpinan membuat pakta integritas
yang memuat perihal budaya anti KKN;
b) Kabagsumda dan Kasiwas menyelenggarakan pembinaan
metal dan perilaku dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran,
adil, profesional, transparan dan akuntabel.
9

3) Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat sebagai langkah


mencegah terjadinya penyuapan, dengan cara:
a) Kasiwas dibantu kasat Binmas memberikan penerangan hukum
yang berkaitan dengan penyelesaian kasus lalu lintas;
a) Kasiwas dan Kasat Lantas memasang pengumuman yang
dapat diakses oleh masyarakat terkait penyelesaian kasus.
4) Menekan terjadinya pelanggaran lalu lintas dengan menggelar
operasi patuh jaya secara transparan dan akuntabel, dengan cara:
a) Kapolres bersama Bagops menyelenggarakan operasi patuh
secara rutin guna menekan terjadinya pelanggaran lalu lintas;
b) Kapolres melalui Kasiwas melaksanakan pengawasan
fungsional terhadap seluruh kegiatan operasi patuh jaya.
b. Jangka Sedang ( 2 tahun)
1) Mengimplementasikan komitmen pimpinan mencegah terjadinya
penyimpangan pada pelaksanaan operasi patuh jaya, dengan cara:
a) Menugaskan Kasiwas untuk menyelenggarakan kegiatan
pengawasan fungsional terhadap seluruh tahapan operasi;
b) Membentuk tim kecil lengkap yang difungsikan untuk
melaksanakan pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan
operasi patuh jaya.
2) Adanya hubungan tata cara kerja antar (HTCK) satuan fungsi internal
Polres Depok da;am mendukung pengawasan fungsional;
a) Kapolres bersama kabagops membuat prosedur tentang
metode komunikasi efektif antar satuan fungsi dalam
melaksanakan pengawasan fungsional;
b) Kabagops menyusun jalur koordinasi antara Siwas, Sipropam
dan Kasatfung guna pengawasan integratif dalam
penyelenggaraan operasi Patuh Jaya.
3) Partisipasi masyarakat sebagai kontrol sosial dengan memberikan
penilaian obyektif terhadap kinerja anggota Polri di lapangan dalam
pelaksanaan operasi Patuh Jaya, dengan cara;
a) Kapolres melalui Kasiwas dan Kasipropam membuka akses
pelaporan bagi masyarakat terkait adanya dugaan
penyimpangan pada pelaksanaan opeasi patuh jaya;
10

b) Kapolres melalui Kasiwas dan Kasipropam memberdayakan


website, email, FB, twitter, dan lain-lain untuk menampung
aspirasi masyarakat terkait dengan kinerja personel di lapangan
pada pelaksanaan operasi patuh.
c. Jangka Panjang (3 tahun)
1) Penguatan pengawasan yang tertuang dalam program Kapolri
merupakan pedoman untuk meningkatkan pengawasan fungsional,
dengan cara;
a) Kapolres membuat kebijakan tertulis yang berisi tentang
penguatan pengawasan fungsional terhadap kinerja
operasional anggota Polri di lapangan;
b) Kapolres memberdayakan peran aktif Siwas dan Siepropam
dalam setiap pelaksanaan operasi kepolisian utamanya operasi
patuh jaya.
2) Terjalinnya kerjasama dengan lintas sektoral dalam mendukung
pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi Patuh jaya,
dengan cara:
a) Kapolres menjalin kerjasama dengan berbagai pihak melalui
pertemuan rutin guna merumuskan peningkatan pengawasan
fungsional;
b) Kapolres membuat perjanjian tertulis dengan instansi terkait
yang kompeten dibidang pengawasan fungsional untuk
memberikan pembinaan dan pelatihan secara bertahap kepada
personel Siwas.
3) Keberadaan media massa meliput pelaksanaan operasi patuh jaya,
sehingga dapat menekan penyimpangan oleh anggota di lapangan,
dengan cara:
a) Memberdayakan media massa lokal untuk meliput seluruh
kegiatan operasi patuh yang diselenggarakan Polres Depok
guna transparansi pelaksanaan tugas;
b) Memanfaatkan peran media massa sebagai kontrol sosial
terhadap kinerja anggota Polri dalam melaksanakan operasi
patuh jaya.
11

BAB III
PENUTUP
Mendasari pembahasan di atas, dengan memperhatikan pokok permasalahan dan
pokok-pokok persoalan, maka kesimpulan yang dapat sampaikan adalah sebagai berikut:

A. Simpulan
1. Kemampuan personel Siwas dalam melaksanakan pengawasan fungsional
dipandang belum merata, mengingat personel yang ada merupakan pindahan
dari satuan lain yang bermasalah, belum memiliki kualifikasi pengawasan
fungsional, kemampuan melakukan analisa terhadap hasil temuan
penyimpangan masih lemah, kurang memiliki kesadaran untuk melaksanakan
pengawasan fungsional secara optimal. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan
dengan melaksanakan sosialisasi, menyelenggarakan pelatihan pengawasan
fungsional melalui kegiatan coaching clinic dan seminar;
2. Prosedur pengawasan fungsional terhadap pelaksanaan operasi patuh jaya
berdasarkan penelusuran belum sepenuhnya optimal, dimana masih terdapat
beberapa kelemahan yang memerlukan perbaikan dan pembenahan, seperti :
belum dibuatnya rencana pengawasan fungsional, pembentukan tim kerja
pengawasan fungsional kurang dilaksanakan, laporan hasil pengawasan masih
duplikasi, prosedur kerja belum jelas, sehingga perlu upaya pembenahan
dengan membuat prosedur baku sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas.

B. Rekomendasi
1) Kapolres merekomendasikan kepada Kapolda up. Irwasda dan Karo SDM agar
manambah kuota personel Siwas pada Polres jajaran dengan memperhatikan
latar belakang dan atau sertifikasi pengawasan fungsional, sehingga
diharapkan diperoleh personel yang berkualitas dalam pelaksanaan tugas;
2) Kapolres merekomendasikan kepada Kapolda up. Irwasda agar membuat
standar opeasioanl prosedur pengawasan fungsional yang berlaku seragam
bagi Polres jajaran dalam melaksanakan pengawasan fungsional.
12

DAFTAR PUSTAKA

Literatur:

Pearce and Robinson. 2011. Manajemen Strategik: Formulasi, optimalisasi dan


pengendalian, Jakarta
Rahardjo. Satjipto. 2002. Polisi Sipil Dalam Perubahan Sosial di Indonesia Buku
Kompas, Jakarta,
Rangkuti. Freddy. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT Gramedia, Jakarta
2009.
Spencer. M. Lyle and Spencer, M. Signe, 1993, Competence at Work Modelas for
Superrior Performance, John Wily & Son, Inc, New York, USA.

Perundangan;

Republik Indonesia Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia, lembaran Negara RI Nomor 4168 Tahun 2002
_______________, Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan
Organisasi Tingkat Polres Berita Negara RI tahun 2010 Nomor 478
_______________, Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik dan
Profesi
_______________, Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Pengawasan Dan Pemeriksaan khusus di Lingkungan Kepolisian Negara
Republik Indonesia
_______________, Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 11 Tahun 2014 tentang
Pengawasan Operasi Kepolisian.
_______________, Peraturan Inspektur pengawasan Umum Nomor 1 Tahun 2015
tentang Penjabaran Tugas Siwas di lingkungan kepolisian Resort
13

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................... 1
B. Pokok Permasalahan ................................................................ 2
C. Persoalan-persoalan ................................................................. 2

BAB II : PEMBAHASAN
A. Analisis Judul............................................................................. 3
B. Kondisi Pokok Bahasan ............................................................. 4
C. Faktor-faktor mempengaruhi ..................................................... 6
D. Upaya Pemecahan Masalah...................................................... 7

BAB III : PENUTUP


A. Simpulan .................................................................................. 11
B. Rekomendasi ............................................................................ 11
Daftar Pustaka
Alur Pikir
Pola Pikir