Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar belakang.
Tantangan tugas Polri dewasa ini menjadi semakin berat dan kompleks
sejalan dengan pesatnya perkembangan Zaman dan ilmu pengetahuan serta
tekhnologi, karena itu Polisi Republik Indonesia dituntut adanya kesiapan dan
kemampuan / Profasional dan Proporsional, sehingga untuk mengantisipasinya
harus dilakukan melalui intensifikasi pelaksanaan tugas pokoknya secara
professional, transparan dan akuntabel sebagai penegak hukum, pemelihara
kamtibmas serta pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat yang
merupakan prasyarat didalam rangka mewujudkan Polri yang dipercaya
masyarakat.
Pada tingkat implementasi pelaksanaan tugas pokoknya, Kepolisian
Negara Republik Indonesia

telah banyak mengukir berbagai prestasi yang

membanggakan tidak saja bagi institusi Polri sendiri melainkan


masyarakat

dan

bangsa

Indonesia

juga

bahkan dunia internasionalpun

mengakuinya, namun sebaliknya Polri juga tidak memungkiri akan


penyimpangan - penyimpangan yang dilakukan
didalam

rangka

bermasyarakat

melaksanakan tugas
sehingga

sebelumnya menjadi

berbagai

bagi

oleh

maupun

keberhasilan

adanya

anggotanya
didalam
yang

baik

kehidupan

telah

dicapai

tidak berarti dimata masyarakat, merugikan institusi

Polri dan pada akhirnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri kembali


memudar.
Penyimpangan

yang

dilakukan

oleh

anggota

Polri

baik

didalam

pelaksanaan tugasnya maupun didalam kehidupan bermasyarakat, merupakan


bentuk pelanggaran disiplin dalam tata kehidupan Polri sebagaimana yang
1

diatur dalam pasal 3, 4, 5 dan pasal 6 Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri,
karena itu penegakan hukum disiplin tersebut perlu dilakukan secara konsisten
untuk menumbuh-kembangkan prilaku disiplin setiap Anggota Polri sekaligus
dalam rangka pemulihan citra Polri guna mewujudkan Polri yang dipercaya
masyarakat.
Kehadiran Biroprovos Divpropram Polri untuk melaksanakan tugas
pemeriksaan dalam rangka penegakan hukum disiplin di lingkungan satuan
organisasi pada tingkat Markas Besar dan kewilayahan Polri belum
sepenuhnya mendapatkan atensi yang signifikan akibat terjadi perbedaan
persepsi tentang pelaksanaan ketentuan hukum disiplin, hingga berujung pada
disharmonisasi hubungan kerja yang kontra produktif antara Divpropam Polri
dengan para Ankum dari anggota Polri yang melakukan pelanggaran disiplin,
meskipun hal tersebut telah diatur dan di amanatkan baik oleh PP RI No.2
Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri maupun ketentuan acara
pelaksanaannya berdasarkan Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep / 43 / IX / 2004,
tanggal

30

september 2004 tentang tata cara penyelesaian pelanggaran

disiplin anggota Polri, serta berdasarkan Keputusan Kapolri No.Pol.: Kep / 97 /


XII / 2003 tanggal 31 Desember 2003 tentang organisasi dan tata kerja
Divpropram Polri, kondisi tersebut merupakan tantangan yang perlu disiasati
dengan strategi yang tepat sehingga penegakan hukum disiplin tersebut dapat
berjalan dalam suasana yang kondusif, lancar tanpa hambatan yang berarti.
Tujuan penegakan hukum disiplin Anggota Polri adalah terwujudnya
integritas prilaku disiplin setiap Anggota Polri sehingga didalam pelaksanaan
tugasnya baik dalam bidang penegakan hukum, pemeliharaan Kamtibmas serta
perlindungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat dapat dilaksanakan

dengan profesional, obyektif, transparan dan akuntabel dan pada gilirannya


kehadiran Polri yang dipercaya masyarakat juga dapat diwujudkan.
B.

Pemilihan Judul.
Latar belakang sebagaimana yang diuraikan tersebut diatas dan sejalan
dengan tema Melalui pendidikan Sekolah Inspektur Polisi kita tingkatkan
pelayanan kamtibmas prima untuk memberikan perlindungan, pengayoman,
pelayanan dan bimbingan kepada masyarakat, penegakkan hukum yang tegas,
menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia serta anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
guna memantapkan keamanan dalam Negeri, telah mendorong penulis
memilih judul tulisan Naskah Karya Perorangan ini yaitu :
Optimalisasi Penegakan Hukum Disiplin Anggota Polri

dalam Upaya

Pelaksanaan Sidang Disiplin Guna Mewujudkan Polri Yang Dipercaya


Masyarakat .
C.

Permasalahan dan Persoalan.


1.

Permasalahan.
Dalam pembuatan naskah karya perorangan ini penulis merumuskan
permasalahan

dengan

merujuk

kepada

judul

guna

memudahkan

pembahasan, yaitu Bagaimana Optimalisasi penegakan hukum disiplin


Anggota Polri dalam upaya Pelaksanaan Sidang Disiplin

guna

mewujudkan Polri yang dipercaya masyarakat .


2.

Persoalan.
Dengan mengacu pada permasalahan tersebut di atas, selanjutnya
dirumuskan persoalan-persoalan sebagai berikut :
a.

Bagaiman pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota Polri saat


ini ?

b.

Apa faktor-faktor yang mempengaruhi ?

c.

Bagaimana pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota Polri


yang diharapkan ?

d.

Bagaimana Optimalisasi penegakan hukum disiplin Anggota Polri


dan Pelaksanaan Sidang Disiplin Guna mewujudkan Polri yang
dipercaya masyarakat ?

D.

Ruang Lingkup.
Lingkup materi tulisan dalam naskah karya perorangan ini dibatasi pada
kegiatan pemeriksaan pelanggaran disiplin Anggota Polri, yang dimulai dari
pelaksanaan pemeriksaan oleh pemeriksa Provos Polri sampai dengan
pemeriksaan dan penjatuhan sanksi hukuman disiplin melalui sidang disiplin
oleh Ankum.

F.

Maksud dan Tujuan.


1.

Maksud
Maksud dari penulisan Naskah Karya Perorangan ini adalah untuk
memberikan gambaran tentang bagaimana Optimalisasi penegakan
hukum disiplin Anggota Polri dalam upaya Pelaksanaan Sidang Disiplin
guna mewujudkan Polri yang dipercaya masyarakat serta untuk
memenuhi salah satu persyaratan kelulusan Sekolah Inspektur Polisi
(SIP) Dikreg Ke-44 T.A. 2015.

2.

Tujuan
Sebagai bahan masukan kepada lembaga maupun Pimpinan Polri
sekaligus sebagai sumbang saran penulis guna merumuskan bagaimana
Optimalisasi penegakan hukum disiplin anggota Polri dalam Upaya
Pelaksanaan Sidang Disiplin guna mewujudkan Polri yang dipercaya
masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Kondisi Saat ini Personel Penegak Hukum Disiplin


Pembahasan mengenai kondisi umum Personel Penegak Hukum Disiplin
(Anggota Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri),

meliputi daftar nama,

jabatan, tingkat Pendidikan (Umum, Polri dan Kejuruan). Dalam bahasan di


bawah ini disajikan tabel 1 S/D 5 dan Gambar 1 s/d 3 yang terkait dengan
kondisi umum Personel dalam pelaksanaan Penegakan Hukum Disiplin
Anggota Polri.
Tabel 2.1
Daftar Nama & Jabatan Personel
Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri
NO
1
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

NAMA
PANGKAT
2
3
Drs. ALEKS ALIM KBP
REWOS
BAMBANG DWI
AKBP
ATMODJO, SH
MOH. ASLEM
AKBP
HOLLE
LAILAWATI, SH
AKBP
RISTAWATY
AKBP
TAMPUBOLON,SH
USMAN SUBHAN, KOMPOL
SH
BAYU SRIYANTO
KOMPOL
CECEP NURHAYADI KOMPOL
TATAG UDJIONO
AKP
YANI MUSLIM
AKP
HERLINA
AIPDA
GONO ASMORO,
BRIPKA
SH
MADE ADMAZ
BRIPKA
KRISNA P, SH
KASAN
BRIPKA
SUNTORO
BRIPKA
ANDRIAYANTO
PRABOWO
SURYOKOCO, SH
BAMBANG ARI
WIBOWO

JABATAN
4
KABAGGAKKUM
KASUBBAG
RIKUM
KASUBBAG
RIKSUS
KASUBBAG WAS
KASUBBAG
SIDKUMTAH
KAURMIN
PAUR WAS
PAUR RIKUM
PAUR RIKSUS
PAMIN RIKSUS
BAMIN URMIN
BAMIN RIKUM
BAMIN RIKUM

BRIGADIR

BAMIN RIKSUS
BAMIN
SIDKUMTAH
BAMIN WAS

BRIGADIR
BRIPTU

BAMIN RIKSUS
BAMIN RIKUM

KET
5

19
20
21
22
23

I WAYAN HADI
SANDI KURNIA
PUTRA
IMAM AHMAD
KUKUH
OBY SUHENDRA

BRIPDA
BRIPDA

BAMIN URMIN
BAMIN RIKUM

BRIPDA
BRIPDA
BRIPDA

BAMIN WAS
BAMIN RIKSUS
BAMIN
SIDKUMTAH
Sumber : Data personil Baggakum Biro Provos Divpropam Polri 2015

Jumlah Personel Baggakum Biro Provos Divpropam Polri yang berjumlah


23 personel tersebut diatas, dirasakan masih kurang. Apalagi dalam prakteknya
seluruh petugas tersebut juga dilibatkan didalam Operasi keluar Daerah dan
dari Satker lain sering melibatkan anggota tersebut diatas untuk melakukan
Pemeriksaan di Satker yang membutuhkannya. Sehingga terjadi keterlambatan
terhadap tugas pokoknya di Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri.
Tabel 2. 2
Pendidikan Umum Personel Baggakkum Biro Porvos Divpropam Polri
NO
1
2
3
4

JENJANG DIK

JUMLAH
KET
SMP
SMU/SEDERAJAT
15
D-3
S-1
8
JUMLAH
32
Sumber : Data Baggakum Biro Provos Divpropam Polri tahun 2015

Personel Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri secara umum


merupakan lulusan SMU atau sederajat, yaitu sebanyak 15 orang, sedangkan
sisanya sebanyak 8 personel adalah lulusan S-1.
Tabel 2.3
Pendidikan Polri
NO

JENJANG DIK

JUMLAH

1
2
3
4

CABA
SETUKPA
PPSS
AKPOL

13
9
1
6

KETERANGAN

JUMLAH
23
Sumber : Data Urtu Biro Provos Divpropam Polri tahun 2015
Sedangkan dari aspek pendidikan Kepolisian, dari

23 Personel, 13

personel berpendidikan Secaba, sedangkan 9 personel berpendidikan Stukpa


(Secapa) dan 1 Personel berpendidikan AKPOL.
Tabel 3.4
Pendidikan Kejuruan Provos
NO
1
2

DIKJUR
JUMLAH
KET
Dasar Provos
6
Lanjutan Provos
2
JUMLAH
8
Sumber : Data Urtu Biro Provos Divpropam Polri tahun 2015

Jumlah Personel Baggakum Biro Provos Divpropam Polri

yang telah

mengikuti pendidikan kejuruan Dasar Provos 6 Personel dan Pendidikan


Kejuruan Lanjutan Provos sebanyak 2 Personel sedangkan sisanya sebanyak
15 Personel Baggakum Biro Divpropam Polri belum pernah mengikuti
Pendidikan Provos.
B.

Pelaksanaan Pemeriksaan.
1.

Dasar hukum Pelaksanaan.


a.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Polri pada pasal 13


sampai dengan pasal 16 yang menegaskan tentang tugas dan
wewenang Polri serta pada pasal 27 yang mengamanatkan untuk
pembuatan

Peraturan

Pemerintah

tentang

Peraturan

Disiplin

Anggota Polri.
b.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2003


tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri pada pasal 17 ayat (2) huruf
d dan pasal 22 yang menegaskan bahwa Provos Polri berwenang
melakukan pemanggilan dan pemeriksaan pelanggaran disiplin,

membantu pimpinan menyelenggarakan pembinaan dan penegakan


disiplin, serta memelihara tata tertib kehidupan anggota Polri.
c.

Kep Kapolri No. Pol.: Kep/97/XII/ 2003 tanggal 30 Desember 2003


tentang Organisasi dan Tata Kerja Divpropam Polri pada pasal 22
ayat

(3)

huruf

yang

menegaskan

bahwa

Biro

Provos

menyelenggarakan pemeriksaan dalam rangka menegakkan hukum


disiplin terhadap personel tingkat Markas Besar Polri dan personel
tertentu sesuai kebijakan dan perintah Kapolri termasuk pengawasan
dan pengendalian atas Penegakan hukum oleh satuan-satuan
organisasi dalam lingkungan Markas Besar dan kewilayahan Polri.
d.

Keputusan Kapolri No.Pol. : Kep/43/IX/2003 tanggal 30 September


2004 tentang tata cara penyelesaian pelanggaran disiplin anggota
Polri pada pasal 18 dan pasal 23 tentang tugas Provos Polri untuk
menindak lanjuti laporan yang diterima, melakukan pemanggilan
guna

pemeriksaan

terhadap

anggota

Polri

yang

melakukan

pelanggaran disiplin.
Akan tetapi umumnya pemeriksa Provos Polri pada umumnya
tidak memiliki banyak referensi produk hukum dan perundangundangan serta Juklak juknis pelaksanaan Pemeriksaan, baik yang
berlaku umum maupun terutama yang berlaku khusus di Internal
Polri yang dapat digunakan untuk menentukan produk hukum apa
yang telah dilanggar serta wujud perbuatan apa yang telah dilakukan
oleh terperiksa terkait dengan pelanggaran disiplin yang terjadi.
Kemudian Pemeriksa Provos Polri tidak memiliki kewenangan
melakukan upaya paksa berupa tindakan penangkapan terhadap
terperiksa meskipun pelanggaran yang terjadi adalah pelanggaran

disiplin

tertentu

yang

sifatnya

memberatkan,

meresahkan

masyarakat dan berdampak pada citra Polri, tetapi faktanya hal


tersebut tetap dilaksanakan meskipun

hal tersebut tidak diatur

dalam PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang peraturan disiplin anggota


Polri maupun dalam Kep Kapolri No.Pol.:Kep / 43 / IX / 2004 tanggal
30 September 2004 tentang tata cara Penyelesaian pelanggaran
disiplin anggota Polri.
Tabel 2. 5
Kondisi Dasar hukum pelaksanaan proses pemeriksaan
NO
1
2
3
4
5

2.

KONDISI
DASAR HUKUM
KET
PEMERIKSAAN
ADA
TIDAK ADA
UU. No. 2 tahun 2003
x
PP. No. 2 tahun 2003
x
Kep Kapolri No. 43/IX/2004
x
Juknis / Juklak Pemeriksaan
x
Peraturan
lain
sebagai
pendukung, PP. No. 2 /2003,utk
x
proses Pemeriksaan
Sumber : Data Baggakum Biro Provos Divpropam Polri tahun 2015

Realita pelaksanaan pemeriksaan.


Berawal dari adanya laporan dan pengaduan yang masuk dan
diterima baik yang berasal dari masyarakat, instansi pemerintah/swasta
maupun

dari

lingkungan

internal

Polri

sendiri

tentang

terjadinya

pelanggaran disiplin tersebut dalam pasal 3, pasal 4, pasal 5 dan pasal 6


PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri, oleh
pemeriksa Provos Polri kemudian menindak lanjutinya dengan realita
Pelaksanaan pemeriksaan saat ini sebagai berikut :
a.

Atas dasar surat perintah tugas untuk melakukan penyelidikan dan


pemeriksaan atas dugaan terjadinya pelanggaran disiplin yang
dilakukan oleh anggota Polri, kegiatan penyelidikan lebih banyak
dilakukan bersamaan waktunya dengan kegiatan pemeriksaan,
9

sehingga

menjadi

lambat

didalam

proses

Berkas

Perkara

Pelanggaran Disiplin.
b.

Pemanggilan untuk pemeriksaan terhadap saksi anggota Polri


umumnya dihadiri tidak tepat waktu dengan alasan bahwa pada
waktu yang bersamaan yang bersangkutan sedang melaksanakan
tugas penting dari Ankum/atasannya yang tidak dapat ditinggalkan,
sehingga penyelesaian Berkas Perkara Pelanggaran Disiplin menjadi
lambat.

c.

Dalam kasus pelanggaran disiplin tertentu yang meresahkan


masyarakat dan berdampak pada citra Polri belum adanya
kewenangan
Penahanan)

melakukan
serta

Upaya

memerlukan

Paksa
percepatan

(Penangkapan

dan

pemeriksaan

dan

pelaporan kepada pimpinan, malah justru pemeriksaan terhadap


saksi dan terperiksa dilakukan pada waktu yang bersamaan atau
bahkan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap terperiksa
sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi.
d.

Masih ada diantara pemeriksa Provos Polri (Personel Bagagkum


Biro Provos Divpropam Polri) yang belum memahami dan mengerti
ketentuan

tentang

pelanggaran

disiplin

sebagaimana

yang

disebutkan dalam PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang peraturan disiplin


anggota Polri, sehingga penerapan pasal atas pelanggaran disiplin
yang dilakukan oleh anggota Polri menjadi tidak tepat karena tidak
bisa membedakan disaat kapan pelanggaran disiplin tersebut terjadi.
e.

Rumusan pada pasal pelanggaran

disiplin anggota Polri yang

tersebut dalam PP RI No. 2 Tahun 2003, maupun dalam Kep Kapolri


No.Pol.:Kep / 43 / IX / 2004 tanggal 30 September 2004 tentang tata

10

cara Penyelesaian pelanggaran disiplin anggota Polri, bersifat umum


dan multi tafsir, sehingga menimbulkan penafsiran yang subyektif
dari pemeriksa Provos Polri dalam pemeriksaan, terbuka peluang
terjadinya manipulasi dalam penegakannya apa lagi jika ada pihak
tertentu yang menyusupkan kepentingannya dicelah-celah aturan
hukum yang multi tafsir tersebut, memudahkan Pemeriksa Provos
Polri dalam mencari dan menerapkan pasal pelanggaran tetapi
mendatangkan kerugian bagi pihak terperiksa sehingga akan sulit
terwujud

profesionalitas,

obyektifitas,

transparansi,

akuntabel,

keadilan dan kepastian hukum dalam penegakan hukum disiplin


Anggota Polri sepanjang aturan hukumnya tidak diubah.
f.

Umumnya
memberikan

Ankum
atensi

Atasan

terhadap

terperiksa
pelaksanaan

belum

sepenuhnya

pemeriksaan

yang

dilakukan oleh Provos Polri khususnya terhadap dugaan terjadinya


pelanggaran peraturan disiplin yang dilakukan oleh penyidik jajaran
Reskrim Polri, terkait dengan proses penyidikan tindak pidana yang
telah dan sedang ditangani, bahkan timbul perbedaan persepsi
karena melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang
berbeda dan berujung pada disharmonisasi hubungan kerja yang
kurang kondusif. Hal ini karena kurangnya refrensi hukum yang
digunakan sebagai dasar menentukan kesalahan anggota.
g.

Masih adanya anggota Polri yang sedang dalam proses pemeriksaan


Provos

Polri,

dimutasikan

ke

kesatuan

lain,

hal

tersebut

bertentangan dengan ketentuan Kep Kapolri No.Pol. : Kep / 828 / XI


/ 2004 tanggal 1 Nopember 2004, tentang pedoman administrasi
pemberhentian sementara dari jabatan dinas Polri, sehingga akan

11

menyulitkan

pemeriksa

provos

dalam

menuntaskan

kasus

pelanggaran disiplin anggota Polri yang bersangkutan.


Tabel 2. 6
Daftar Perkara Pelanggaran Disiplin yang dilaporkan
dan Penyelesaian Perkaranya
JUMLAH PERKARA
NO
TAHUN
KET
Yang
Selesai
Dalam
Dilaporkan
Diproses
Proses
1
2012
154
128
26
2
2013
231
201
30
3
2014
85
50
35
Sumber : Data Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri tahun 2015
Jumlah Perkara Pelanggaran Disiplin yang dilaporkan baik oleh
Irwasum, Ankum, LSM dan Masyarakat Pada tahun 2014, sebanyak 154
kasus, dapat diselesaikan sebanyak 128 kasus (83,11%), tunggakan sebanyak
26 kasus, Pada tahun 2013, sebanyak 231 kasus, dapat diselesaikan
sebanyak 201 kasus (87,01%), tunggakan sebanyak 30 kasus, kemudian
Pada tahun 2014, sebanyak 85 kasus, dapat diselesaikan sebanyak 50 kasus
(58%),

tunggakan sebanyak 35 kasus. Dari data tersebut menggambarkan

lambatnya personil Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri.


Gambar 2.1
Proses Penyelesaian Pelanggaran Disiplin Anggota Polri

C.

Pelaksanaan Sidang Disiplin dan Penjatuhan Sanksi Hukuman Disiplin.


12

1;

Pelaksanaan Sidang Disiplin.


a.

Ankum tidak menepati tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sejak


diterimanya Berkas Perkara Pelanggaran Disiplin ( BPPD ) dari
Provos untuk melaksanakan sidang disiplin terhadap terperiksa,
sebagaimana yang telah diatur dalam Kep Kapolri No. Pol.: Kep /
44 / IX / 2004 tanggal 30 September 2004 tentang tata cara sidang
disiplin.

b.

Anggota Polri yang ditunjuk oleh Ankum sebagai penuntut dalam


sidang

disiplin,

tidak

memiliki

banyak

pengetahuan

tentang

peraturan perundang-undangan dengan perkara yang sedang


diperiksa. sehingga tidak mampu perbuat banyak dalam mengajukan
pertanyaan, saran kepada pimpinan sidang disiplin.
c.

Anggota Polri yang ditunjuk oleh Ankum sebagai penuntut dalam


sidang disiplin, hadap terperiksa, tidak banyak memahami posisi
kasus yang sedang diperiksa sehingga tidak mampu membuktikan
dalam sidang disiplin atas perbuatan terperiksa yang diduga telah
melakukan pelanggaran disiplin.

d.

Anggota Polri yang bertindak sebagai pendamping terperiksa telah


memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada dalam PP RI No.2
Tahun 2003 tentang peraturan disiplin anggota Polri dan Kep Kapolri
No. Pol.: Kep / 43 / IX / 2004, tanggal 30 September 2004, tentang
tata

cara

penyelesaian

Pelanggaran

disiplin

dalam

rangka

mendampingi terperiksa.
2.

Penjatuhan Sanksi Hukuman Disiplin.


a.

Ankum cenderung menjatuhkan sanksi hukuman disiplin yang paling


ringan bahkan membebaskan terperiksa sehingga putusan hukuman

13

disiplin tersebut tidak memiliki efek jera bagi terperiksa dan daya
cegah bagi Anggota Polri lainnya untuk tidak melakukan pelanggaran
disiplin.
b.

Ankum dalam menjatuhkan Sanksi hukuman disiplin terhadap


terperiksa melalui sidang disiplin, cenderung tidak Obyekrif karena
disamping

terperiksa

sebagai

anggota

bawahannya

yang

mempunyai hubungan emosional yang kuat, juga memungkinkan


dilakukan karena jenis sanksi hukuman disiplin sebagaimana yang
diatur dalam pasal 9 PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang peraturan
disiplin anggota Polri dan pasal 14 Kep Kapolri No. Pol. : Kep / 43 /
IX / 2004, tanggal 30 September 2004, tentang tata cara
penyelesaian Pelanggaran disiplin, tidak secara tegas menyebutkan
jenis sanksi bentuk pelanggaran disiplin yang tercantum dalam pasal
3, 4, 5, dan 6 PP RI No. 2. Thn 2003, tentang peraturan disiplin
anggota Polri.
c.

Terhadap Anggota Polri yang melakukan pelanggaran disiplin,


berdampak pada turunnya citra Polri. Ankum mengambil keputusan
dalam bentuk sanksi hukuman disiplin sebagaimana tersebut dalam
pasal 9 PP RI No. 2 Tahun 2003, tentang peraturan disiplin anggota
Polri dan pasal 14 Kep Kapolri No. Pol.: Kep / 43 / IX / 2004 tanggal
30 September 2004 tentang tata cara penyelesaian Pelanggaran
disiplin.
Gambar 2. 2
Mekanisme Pelaksanaan Sidang Disiplin Anggota Polri

PAT
SUS

30 HR

BINKUM
SRN/ PAT HKM

TERIMA
PUTUSA

14

LAKS
KUMPLIN

PROV

BEBAS
WAS
6 BLN

7 HR
BERKAS PRKARA DISIPLIN
ANKUM

BAG
PERS

SIAP
SIDPLI
N

PROV

1. PERANGKAT
2. SRN /
PR
AS
RN
3. MINSID :
A. TATIB
B. SPRIN/
SK
EP
4. ACR SIDANG

LAKS
SID
1.Prangkat
sidang siap
2.Buka Sidng
3.Hadapkan
Terperiksa.
4.Baca
Sangkaan.
5.Riksa
Terperiksa.
6.Baca
Tuntuan.
7.Baca
Hukuman.
8.Tutup
Sidang.

PUT
HUK

TOLAK
14 HR
AJUKAN
KEBERATAN

ATASAN
ANKUM
VIA
ANKUM

TERIMA
TOLAK/
TERIMA
SEBAGIA
N

BINKUM
SRN/ PAT HKM

SKEP ANKUM

1. Kuat
2. Batal
3.Meruba

d.

Rekom

30 HR

PUT
AKHIR

Perkara pelanggaran disiplin anggota Polri yang telah selesai


dilaksanakan sidang disiplin, telah mendapatkan dan melaksanakan
putusan hukuman disiplinnya, masih terlambat

bahkan tidak

dilaporkan atau tidak disampaikan tembusan surat keputusan


hukuman disiplin terperiksa kepada pejabat Polri yang brkepentingan
dalam hal pengembangan karir anggota yang bersangkutan.
e)

Sanksi hukuman disiplin terhadap terperiksa yang telah dijatuhkan


oleh Ankum melalui sidang disiplin, tidak diketahui oleh Masyarakat
luas terutama pihak korban karena tidak diberitahukan secara
tertulis, menimbulkan kesangsian bagi masyarakat atas proses
penegakan hukum disiplin Anggota Polri.
Gambar 2.3
Denah Pelaksanaan Sidang Disiplin

15

D.

Faktor Faktor yang mempengaruhi :


1.

Faktor Internal.
a.

Faktor Kekuatan.
1)

Adanya

Peraturan

Perundangan

yang

menjadi

dasar

pelaksanaan tugas Provos Polri dalam penegakan hukum


disiplin Anggota Polri.
2)

Adanya struktur organisasi dan fungsi Provos Polri yang


tergelar dari tingkat Markas Besar Polri sampai dengan tingkat
satuan kewilayahan Polri terendah.

3)

Adanya komitmen yang kuat dari pimpinan Polri untuk


mewujudkan

sosok

Polri

yang

Profesional,

Obyektif,

Transparan dan Akuntabel dalam pelaksanaan tugasnya.


4)

Adanya kebijakan Pimpinan Polri yang konsisten untuk


memberikan tindakan hukum yang tegas (punishmen) bagi
Anggota Polri yang melakukan pelanggaran hukum dan
memberikan penghargaan (Reward) bagi yang berprestasi
dalam pelaksanaan tugasnya.

b.

Faktor Kelemahan.

16

1)

Dalam Peraturan Perundang undangan tentang Pelaksanaan


Penegakan hukum disiplin Anggota Polri masih ada aturan
hukumnya yang tidak jelas dan tegas, multi tafsir sehingga
menimbulkan ketidak pastian hukum dan keadilan, akibatnya
penerapan hukumannya bersifat subyektif.

2)

Masih ada diantara pimpinan satuan selaku Ankum yang belum


sepenuhnya memberikan Atensi atas pelaksanaan tugas
Provos Polri dalam penegakan hukum disiplin.

3)

Tingkat pemahaman dan penerapan aturan hukum oleh


Penyidik Provos Polri dalam penyidikan perkara pelanggaran
disiplin masih rendah.

4)

Tingkat disiplin, kesadaran dan kepatuhan Anggota Polri atas


peraturan disiplin yang mengikat dan berlaku baginya masih
relatif rendah sehingga pelanggaran disiplin tetap terjadi.

2.

Faktor External .
a.

Faktor Peluang.
1)

Adanya lembaga Kompolnas yang bertugas memberikan saran


kepada Presiden tentang penyelenggaraan tugas Polri yang
Profesional dan Mandiri.

2)

Meningkatnya peran serta mass media cetak dan elektronik


dalam

menyebarluaskan

informasi

tentang

keberhasilan

pelaksanaan tugas Polri dalam penegakan hukum.


3)

Peran LSM yang positif mendorong dan mengawasi kinerja


Polri, khususnya bidang Penegakan hukum.

17

4)

Masyarakat relatif masih percaya terhadap Polri dalam


penegakan hukum khususnya penegakan hukum disiplin
Anggota Polri.

b.

Faktor Kendala.
1)

Lembaga Kompolnas belum sepenuhnya berfungsi karena


pengesahan keberadaannya masih relatif baru.

2)

Masih ada LSM yang bersifat Skeptis atas pelaksanaan tugas


Polri khususnya dalam penegakan hukum.

3)

Pemanfaatan media massa untuk menyebar luaskan informasi


adanya KKN dalam tubuh Polri.

4)

Masih adanya sebagian masyarakat yang kurang percaya atas


pelaksanaan tugas Polri dalam penegakan hukum.

E.

Kondisi yang diharapkan


1. Kondisi Umum Personil Penegak Hukum Disiplin.
Bertitik tolak dari realita pelaksanaan penegakan hukum disiplin
Anggota Polri saat ini yang telah diuraikan pada Bab II diatas, maka untuk
kedepan pelaksanaan penyidikan dalam rangka pelaksanaan penegakan
hukum disiplin Anggota Polri, diharapkan sebagai berikut :
Jumlah Personel Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri yang
berjumlah 23 personel tersebut diatas, menjadi 40 (empat puluh) dapat
ditambah karena dengan adanya penambahan personel tersebut anggota
tersebut juga dapat dilibatkan didalam Operasi keluar Daerah dan Satker
lain yang akan meminta bantuan untuk melakukan Pemeriksaan dapat
terpenuhi. Sehingga

tidak lagi terjadi keterlambatan terhadap tugas

pokoknya di Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri.

18

Personel Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri secara umum


merupakan lulusan SMU atau sederajat, yaitu sebanyak 16 orang,
sedangkan sisanya sebanyak 8 personel adalah lulusan S-1. untuk itu
kedepannya

personel Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri

seluruhnya adalah lususan Sarjana (S-1).


Kemudian Jumlah Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri yang
telah mengikuti pendidikan kejuruan Dasar Provos 6 Personel dan
Pendidikan Kejuruan Lanjutan Provos sebanyak 2 Personel sedangkan
sisanya sebanyak 16 Personel Baggakkum Biro Provos Divpropam Polri,
belum pernah mengikuti Pendidikan Provos. Maka nantinya Personel
Baggakum Biro Provos secara keseluruhan

telah mengikuti Kejuruan

Dasar maupun Lanjutan Provos.


F.

Pelaksanaan Pemeriksaan.
1.

Atas dasar surat perintah tugas untuk melakukan penyelidikan dan


penyidikan atas dugaan terjadinya pelanggaran disiplin yang dilakukan
oleh anggota Polri, kegiatan penyelidikan hendaknya

terpisah dengan

kegiatan pemeriksaan dalam rangka penyidikan.


2.

Pemanggilan untuk pemeriksaan terhadap saksi anggota Polri umumnya


dihadiri harus tepat waktu agar penyelesaian pemeriksaan saksi maupun
terperiksa menjadi cepat.

3.

Dalam kasus pelanggaran disiplin tertentu yang meresahkan masyarakat


dan berdampak pada citra Polri harus ada piranti lunak tentang
kewenangan melakukan Upaya Paksa (Penangkapan dan Penahanan)
guna percepatan pemeriksaan dan pelaporan kepada pimpinan.

4.

Penyidik Provos Polri (Personel Den B Pusprov Divpropam Polri) harus


sudah memahami dan mengerti ketentuan tentang pelanggaran disiplin

19

sebagaimana yang disebutkan dalam PP RI

No. 2 Tahun 2003 tentang

peraturan disiplin anggota Polri, sehingga penerapan pasal atas


pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh anggota Polri cepat dan tepat.
5.

Rumusan aturan pada pasal pelanggaran peraturan disiplin anggota Polri


yang tersebut dalam PP RI No. 2 Tahun 2003 maupun dalam Kep Kapolri
No.Pol.:Kep / 43 / IX / 2004 tanggal 30 September 2004 tentang tata cara
Penyelesaian pelanggaran disiplin anggota Polri, bersifat umum dan harus
sama persepsinya sehingga dapat dilakukan dengan
penyidik Provos Polri dalam penyidikan, tidak
penegakan hukum. Secara

subyektif dari

memanipulasi dalam

profesionalitas, obyektifitas, transparansi,

akuntabel, keadilan dan kepastian hukum dalam penegakan hukum


disiplin Anggota Polri sepanjang aturan hukumnya tidak diubah.
6.

Ankum harus memberikan atensi terhadap pelaksanaan penyidikan yang


dilakukan oleh Provos Polri khususnya terhadap dugaan terjadinya
pelanggaran peraturan disiplin yang dilakukan oleh penyidik jajaran
Reskrim Polri terkait dengan proses penyidikan tindak pidana yang telah
dan sedang ditangani, agar tidak

timbul perbedaan persepsi suatu

permasalahan sehingga dapat melaksanakan tugasnya dengan harmonis


dan kondusif.
7.

Tidak lagi ditemukan adanya anggota Polri yang sedang dalam proses
pemeriksaan Penyidik Provos Polri, dimutasikan ke kesatuan lain yang
bertentangan dengan Kep Kapolri No.Pol. : Kep / 828 / XI / 2004 tanggal
1

Nopember

2004

tentang

pedoman

administrasi

pemberhentian

sementara dari jabatan dinas Polri, sehingga akan menyulitkan penyidik


provos dalam menuntaskan kasus pelanggaran disiplin anggota Polri yang

20

bersangkutan. Sehingga Penyerahan Berkas Perkara Pelanggaran


Disiplin (BPPD) terperiksa kepada Ankum menjadi cepat.
G.

Pelaksanaan Sidang dan Penjatuhan Sanksi Hukuman Disiplin.


1.

Dalam Pelaksanaan Sidang Disiplin.


a.

Ankum dapat menepati tenggang waktu 30 ( tiga puluh ) hari sejak


diterimanya Berkas

Perkara

Pelanggaran

Disiplin

( BPPD )

dari Provos Polri untuk melaksanaan sidang disiplin terhadap


terperiksa, sebagaimana yang telah diatur dalam Kep Kapolri No.
Pol.: Kep / 44 / IX / 2004 tanggal 30 September 2004 tentang tata
cara sidang disiplin.
b.

Kepada Anggota Polri yang ditunjuk oleh Ankum untuk bertindak


sebagai penuntut perkara dalam sidang disiplin terhadap terperiksa,
memiliki banyak pengetahuan tentang hukum dan peraturan
perundang-undangan lainnya yang terkait dengan perkara yang
sedang diperiksa dalam sidang disiplin, sehingga akan mampu
berbuat

banyak

dalam

mengajukan

pertanyaan,

mengajukan

tuntutan serta pertimbangan kepada pimpinan sidang disiplin dalam


upaya membuktikan perbuatan pelanggaran terperiksa.
c.

Anggota Polri yang ditunjuk oleh Ankum sebagai penuntut dalam


sidang disiplin, hadap terperiksa, tidak banyak memahami posisi
kasus yang sedang diperiksa sehingga tidak mampu membuktikan
dalam sidang disiplin atas perbuatan terperiksa yang diduga telah
melakukan pelanggaran disiplin.

d.

Kepada

Anggota

Polri

yang

bertindak

sebagai

pendamping

terperiksa dalam sidang disiplin, memiliki komitmen yang kuat akan


perwujudan integritas disiplin anggota Polri dalam pelaksanaan

21

tugasnya

maupun

dalam

kehidupan

bermasyarakat

demi

mewujudkan Polri yang dipercaya masyarakat, dengan demikian


kelemahan-kelemahan yang ada dalam PP RI No.2 Tahun 2003
tentang peraturan disiplin anggota Polri, Kep Kapolri No. Pol.: Kep /
43 / IX / 2004 tanggal 30 September 2004 tentang tata cara
penyelesaian Pelanggaran disiplin untuk sementara dikesampingkan
namun tetap dalam batas toleransi untuk kepentingan institusi Polri
yang lebih besar.
2.

Penjatuhan Sanksi Hukuman Disiplin.


a.

Agar sanksi hukuman disiplin yang dijatuhkan terhadap anggota Polri


yang melakukan pelanggaran disiplin dapat menimbulkan efek jera
bagi yang bersangkutan dan daya cegah bagi Anggota Polri lainnya
untuk tidak melakukan pelanggaran disiplin.

b.

Agar ankum dalam menjatuhkan Sanksi hukuman disiplin terhadap


terperiksa melalui sidang disiplin, harus Obyektif

jangan melihat

bahwa terperiksa sebagai anggota bawahannya yang mempunyai


hubungan emosional yang kuat, juga memungkinkan dilakukan
karena jenis sanksi hukuman disiplin sebagaimana yang diatur
dalam pasal 9 PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang peraturan disiplin
anggota Polri dan pasal 14 Kep Kapolri No. Pol. : Kep / 43 / IX /
2004, tanggal 30 September 2004, tentang tata cara penyelesaian
Pelanggaran disiplin, tidak secara tegas menyebutkan jenis sanksi
bentuk pelanggaran disiplin yang tercantum

dalam pasal 3, 4, 5,

dan 6 PP RI No. 2. Thn 2003, tentang peraturan disiplin anggota


Polri.

22

c.

Setiap keputusan penghukuman terhadap anggota Polri yang


berbentuk sanksi hukuman disiplin

dalam

pasal 9

PP RI No. 2

Tahun 2003 tentang peraturan disiplin anggota Polri, karena nyatanyata telah melakukan pelanggaran disiplin tertentu yang sifatnya
memberatkan, meresahkan masyarakat agar tidak berdampak pada
turunnya citra Polri, maka penjatuhan hukuman disiplin melalui
proses sidang disiplin sebagaiman

disebutkan

dalam

pasal 14

ayat ( 2 ) PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang peraturan disiplin Anggota


Polri.
d.

Setiap perkara pelanggaran disiplin anggota Polri yang telah selesai


diperiksa dan dijatuhi hukuman disiplin melalui sidang disiplin dan
putusan hukuman disiplinnya telah selesai dilaksanakan, dilaporkan
tepat waktu kepada pejabat polri yang berkepentingan dalam hal
pengembangan karier anggota Polri yang bersangkutan.

e.

Agar setiap sanksi hukuman disiplin terhadap anggota Polri yang


telah melakukan pelanggaran disiplin diketahui oleh masyarakat luas
terutama kepada pihak korban diberitahukan secara tertulis,
sehingga tidak timbul kesan bahwa Polri melindungi anggotanya dan
tidak menegakkan hukum disiplin anggota Polri dengan profesional,
obyektif, transparan dan akuntabel.

H.

Pemecahan Masalah
Bahwa kemampuan Personil Penegak Pelanggaran Hukum Disiplin
anggota Polri, masih rendah hal ini didasarkan kepada indikator pada aspek
kemampuan

baik peraturan perundang undangan yang belum jelas dan

tegas serta kemapuan Personil penegak hukum pelanggaran Disiplinya yang


rendah, menyadari hal demikian, Penulis berupaya mengoptimalisasikan

23

Penegakkan Hukum Disiplin, guna terwujudnya Personil Polri yang disiplin


dalam pelaksanaan tugas dan penegakan hukum, pemeliharaan Kamtibmas
serta perlidungan, pengayoman dan pelayanan masyarakat secara Profesional,
Transparan dan Akuntabel. Pada akhirnya dipercaya masyarakat.
I.

Kebijaksanaan
Kebijaksanaan dalam rangka mengimplementasikan Penegakan hukum
disiplin Anggota Polri guna mewujudkan Polri yang dipercaya masyarakat perlu
di

formulasikan

dalam

suatu

kebijaksanaan

sebagai

berikut

Mengoptimalisasikan Penegakan Hukum Disiplin Anggota Polri dalam Upaya


Pelaksanaan Sidang Disiplin melalui
1.

Menegakkan Hukum Disiplin Anggota Polri secara Profesional, Obyektif,


Transparan &

Akuntable untuk menjamin kepastian Hukum dan rasa

keadilan.
2.

Melakukan perbaikan mutu Aturan Hukum Disiplin guna mendukung


Penegakan hukum Disiplin Anggota Polri yang Profesional, Efektif dan
Efisien.

3.

Meningkatkan kemampuan aparat Penyidik Provos dalam

melakukan

Penegakkan Hukum Disiplin Anggota Polri.


4.

Meningkatkan kesadaran Anggota Polri untuk mematuhi Peraturan Disiplin


Anggota Polri.

guna mewujudkan Polri yang dipercaya masyarakat.


J.

Strategi.
Atas kebijaksanaan tersebut diatas, maka Optimalisasi

tersebut di

lakukan dengan Strategi sebagai berikut :


1.

Program Jangka Pendek, dititik beratkan pada kegiatan peningkatkan


kualitas Pemeriksa Provos Polri, membangun pemahaman dan kesamaan

24

paham tentang Pelaksanaan Penegakan Hukum Disiplin Anggota Polri,


Pengadaan dan pengelolaan sarana pendukung tugas penegakan hukum
disiplin.
2.

Program Jangka Sedang, dititik beratkan pada kegiatan perbaikan mutu


aturan hukum ketentuan tata cara penyelesaian Pelanggaran Disiplin
Anggota Polri, menyusun produk tentang Hubungan Tata Kerja (HTCK)
pelaksanaan Penegakan hukum disiplin Anggota Polri.

3.

Program Jangka Panjang, dititik beratkan pada perbaikan mutu Peraturan


Pemerintah Republik Indonesia No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan
Disiplin Anggota Polri, menyusun Produk tentang standar operasional
pelaksanaan tugas fungsi fungsi Polri.

K.

Upaya.
1.

Program Jangka Pendek( Tahun 2015 - 2017 ) :


a.

Peningkatan kualitas Pemeriksa Provos Polri:


1)

Menyusun rencana kegiatan pelatihan teknis pelaksanaan


pemeriksaan perkara Pelanggaran Displin, rencana kegiatan
rapat kerja tehnis Internal Provos Polri, rencana kegiatan
pelaksanaan supervisi Internal Provos Polri.

2)

Memberangkatkan Personel Provos untuk mengikuti pendidikan


kejuruan Provos. khususnya Personel Baggakkum Biro Provos
Divpropm Polri.

3)

Melaksanakan kegiatan pelatihan teknis pelaksanaan Penyidik


perkara pelanggaran disiplin sesuai rencana kegiatan yang
telah disusun.

4)

Melaksanakan kegiatan rapat kerja teknis internal Provos Polri


sesuai rencana kegiatan yang telah disusun.

25

5)

Melaksanakan kegiatan Supervisi internal Provos Polri sesuai


rencana kegiatan yang telah disusun guna mengevaluasi
sejauh mana implementasi hasil pelaksanaan pelatihan yang
telah dilaksanakan.

b.

Membangun

kesepahaman didalam

pelaksanaan penegakan

hukum disiplin Anggota Polri.


1)

Menyusun rencana pelaksanaan sosialisasi tentang ketentuan


hukum pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota Polri
kepada para Pimpinan kesatuan Polri selaku Ankum dan
kepada Anggota Polri secara keseluruhan.

2)

Melaksanakan kegiatan Sosialisasi tentang ketentuan hukum


pelaksanaan penegakan disiplin baik kepada para Pimpinan
Kesatuan Polri selaku Ankum maupun kepada Anggota Polri
secara keseluruhan.

3)

Mengevaluasi sejauh mana terwujudnya Pemahaman dan


kesamaan paham tentang Pelaksanaan Penegakan Hukum
Disiplin Anggota Polri.

2.

Program Jangka Sedang (Tahun 2015 s/d Tahun 2018 )


Dilaksanakan secara paralel dengan pelaksanaan kegiatan pada
program jangka Pendek, dengan melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
a.

Perbaikan mutu aturan Hukum.


1)

Menginventarisir permasalahan yang belum terakomodir dalam


perturan tentang ketentuan tata cara penyelesaian Pelanggaran
Disiplin Anggota Polri yang termuat dalam Kep. Kapolri No. Pol.
: Kep / 43 / IX / 2004, tanggal 30 September 2004.

26

2)

Membentuk kelompok kerja untuk menyusun perbaikan Kep.


Kapolri No. Pol. : Kep / 43 / IX / 2004, tanggal 30 September
2004 tentang tata cara penyelesaian Pelanggaran Displin
Anggota Polri.

3)

Menyelesaikan perbaikan dalam rangka perubahan Kep.


Kapolri No. Pol. : Kep / 43 / IX / 2004, tanggal 30 September
2004 menjadi Peraturan Kapolri sehingga sesuai dengan
Undang Undang No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang Undangan.

b.

Mengkoordinasikan kegiatan untuk menyusun Produk tentang


Hubungan dan Tata Cara Kerja (HTCK) pelaksanaan Penegakan
Hukum Disiplin Anggota Polri.
1)

Membentuk kelompok kerja penyusunan Produk tentang


Hubungan

dan

Tata

Cara

Kerja

(HTCK)

pelaksanaan

Penegakan Hukum Disiplin Anggota Polri, dengan melibatkan


para Pimpinan kesatuan Polri selaku Ankum dan Pejabat Polri
tertentu

yang memiliki kemampuan pengetahuan yang

berkaitan dengan penegakan Hukum Disiplin.


2)

Menyelesaikan Penyusunan Produk tentang Hubungan dan


Tata Cara Kerja ( HTCK) untuk selanjutnya diajukan kepada
Kapolri guna pengesahannya.

3)

Mensosialisasikan Produk Hubungan dan Tata Cara Kerja


(HTCK) yang telah disyahkan oleh Kapolri kepada seluruh
Anggota Polri untuk diketahui, dipahami dan dilaksanakan
sebagaimana mestinya.

3.

Program Jangka Panjang ( 2015 s/d 2020)

27

Dilaksanakan secara Paralel bersamaan dengan Pelaksanaan


kegiatan pada program Jangka Pendek dan Jangka Sedang, dengan
melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
a.

Perbaikan / Revisi PP RI No.2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin


Anggota Polri.
1)

Mengkoordinasikan untuk pembuatan produk perbaikan PP RI


No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Polri.

2)

Membentuk Kelompok kerja berdasarkan Sprin Kapolri tentang


Perbaikan PP RI No. 2 Tahun 2003, tentang Peraturan Disiplin
Anggota Polri.

3)

Menginventarisir permasalahan yang belum terakomodir dalam


PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Displin Anggota
Polri untuk dibahas oleh kelompok kerja yang telah dibentuk
berdasarkan Sprin Kapolri.

4)

Menyelesaikan Revisi PP RI No. 2 Tahun 2003, tentang


Peraturan Disiplin Anggota Polri untuk selanjutnya diajukan
oleh Kapolri kepada Menteri Sekretaris Negara untuk dibahas
lebih lanjut sebelum ditandatangani dan disyahkan oleh
Presiden RI.

b.

Mengkoordinasikan

kegiatan

penyusunan

produk

tentang

standar

operasional pelaksanaan tugas fungsi fungsi Polri.


1)

Mengkoordinasikan penyusunan produk tentang standar operasional


pelaksanaan tugas fungsi fungsi Polri yang dilaksanakan oleh
masing masing Kasat Organisasi / fungsi Polri.

28

2)

Mengajukan produk naskah standar operasional pelaksanaan tugas


fungsi fungsi Polri kepada Kapolri untuk ditandatangani dan
disyahkan pelaksanaannya.

29

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan.
1.

Pelaksanaan Penegakan Hukum Disiplin Anggota Polri saat ini, didalam


kegiatan pemeriksaan dalam rangka Penyelidikan dan Pemeriksaan
dalam upaya pelaksanaan Sidang disiplin serta penjatuhan Sanksi
Hukuman Disiplin terhadap Terperiksa, belum sepenuhnya berjalan secara
Profesional, Obyektif, Transparan dan Akuntabel, seperti pelaksanaan
penyelidikan, pemeriksaan Saksi dan Terperiksa, Pemberkasan dan
Penyerahan

Berkas

Perkara,

Pelaksanaan

Sidang

Disiplin

dan

Penjatuhan Sanksi Hukuman Disiplin terhadap Terperiksa.


2.

Faktor faktor yang mempengaruhi Realita pelaksanaan penegakan


hukuman Disiplin Anggota Polri saat ini adalah :
a.

Aparat Penyidik Provos Polri tidak menyidik dan menerapkan pasal


pelanggaran disiplin yang tepat dan profesional karena keterbatasan
pemahaman tentang ketentuan Hukum.

b.

Umumnya Penyidik Provos tidak mempunyai Banyak refrensi yang


dapat mendukung pelaksanaan Proses Penyidikan diantaranya
adalah Juknis dan Juklak

Proses Penyidikan Pelnggaran Disiplin

dan tidak mempunyai Undang-undang didalam melakukan Upaya


Paksa terhadap Pelaku Pelanggaran Disiplin.
c.

Anggota Polri yang terkait dengan Peraturan Disiplin, masih relatif


rendah disiplin, kesadaran dan kepatuhan hukumnya karena
pemahaman hukum yang terbatas.

3.

Strategi yang ditempuh untuk mensiasati pelaksanaan penegakan hukum


disiplin Anggota Polri saat ini guna mewujudkan pelaksanaan Penegakan

30

Hukum disiplin yang diharapkan akan dapat berjalan secara Profesional,


Obyektif, Transparan dan Akuntabel serta dipercaya Masyarakat adalah :
a.

Strategi Jangka Pendek dalam tahun 2015 yang dititik beratkan pada
peningkatan kualitas Penyidik dengan wujud kegiatan pelatihan
tehnis penyidikan, melaksanakan Pendidikan Kejuruan Provos dan
rapat kerja teknis Internal Polri, membangun kesepahaman tentang
pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota Polri dengan wujud
kegiatan sosialisasi.

b.

Strategi Jangka Sedang dalam tahun 2015 s/d tahun 2018 yang
dilaksanakan secara paralel bersamaan dengan strategi Jangka
Pendek dititik beratkan pada program perbaikan mutu aturan Hukum
dalam wujud kegiatan membentuk kelompok kerja penyusunan
Revisi Kep Kapolri No. Pol. : Kep / 43 / IX / 2004 menjadi Peraturan
Kapolri tentang Tata Cara Penyelesaian Pelanggaran Displin
Anggota Polri, agar sesuai dengan Perundang Undangan,
membentuk kelompok kerja penyusunan produk Hubungan dan Tata
Kerja ( HTCK ) pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota
Polri.

c.

Strategi Jangka Panjang dalam tahun 2015 s/d 2020 yang


dilaksanakan secara paralel bersamaan dengan Strategi Jangka
Pendek dan Strategi Jangka Panjang dititik beratkan pada program
perbaikan / Revisi PP RI No. 2 Tahun 2003 tentang Peraturan
Disiplin Anggota Polri dengan wujud kegiatan membentuk kelompok
kerja untuk menyusun dan menyelesaikan Revisi PP RI No. 2 Tahun
2003, Mengkoordinasikan dengan para Kasat fungsi fungsi Polri

31

untuk menyusun produk standar operasional pelaksanaan tugas


masing masing fungsi Polri.
B.

Saran .
1.

Perlu dilakukan perbaikan mutu Peraturan yang berhubungan dengan


pelaksanaan penegakan hukum disiplin Anggota Polri yaitu :
a)

Merevisi PP. RI. Nomor 2 tahun 2003, tentang Peraturan Disiplin


Anggota Polri.

b)

Merevisi Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep / 42 / IX / 2004,


Keputusan Kapolri No. Pol : Kep / 43 / IX / 2004 , Keputusan Ka polri
No. Pol : Kep / 44 / IX / 2004 masing masing tertanggal 30
September 2004, menjadi 1 (satu) Peraturan Kapolri tentang Tata
Cara Penyelesaian Pelanggaran Displin Anggota Polri yang isinya
memuat

ketentuan

tentang

Pelaksanaan

Penyelidikan

dan

penyidikan perkara pelanggaran displin Anggota Polri, ketentuan


tentang Ankum dan ketentuan tentang tata sidang disiplin, dengan
memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Undang - Undang
Nomor 10 Tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang undangan.
2.

Perlu menyusun naskah tentang standar operasional pelaksanaan tugas


fungsi fungsi Polri yang dapat dijadikan pedoman baku bagi seluruh
Anggota Polri dalam pelaksanaan tugasnya sebagai Penegak Hukum,
pemelihara

Kamtibmas

serta

pelindung,

pengayom

dan

pelayan

masyarakat sehingga proses penegakan hukum disiplin Anggota Polri


dapat dilaksanakan secara professional, obyektif, transparan dan
akuntabel yang pada gilirannya akan dapat mewujudkan Polri yang disiplin
dan dipercaya masyarakat.

32

33