Anda di halaman 1dari 41

0

OPTIMALISASI PEMBERDAYAAN ALTERNATIVE DISPUTE


RESOLUTION (ADR) GUNA PENYELESAIAN MASALAH HUKUM
YANG BER KEADILAN SOSIAL DALAM RANGKA
HARKAMTIBMAS

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang
UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri secara eksplisit
menyatakan bahwa tugas pokok Polri adalah memelihara Kamtibmas,
menegakkan

hukum,

melindungi,

mengayomi,

dan

melayani

masyarakat.1 Dalam rangka melaksanakan tugas pokok tersebut, Polri


telah merubah paradigma dari paradigma yang militeristik bergeser
menjadi paradigma polisi sipil (civilian police)2, mengaktualisasikan
kode etik profesi,3 dan mengimplementasikan strategi Polmas
(community policing)4 di era reformasi. Polri berkomitmen untuk
mematuhi peraturan disiplin anggota Polri dan etika profesi Polri
sehingga terwujud kinerja anggota Polri yang profesional, bermoral,
dan modern.
Polri mengalami transformasi dari orientasi abdi penguasa
yang militeristik, arogan, dan melanggar HAM pada masa Orde Baru
menuju Polri yang berorientasi pada nilai-nilai polisi sipil sebagai
paradigma baru dimana sikap dan perilaku anggota POLRI harus
humanis,

demokratis,

bermoral.

POLRI

protagonis,

menyadari

transparan,

bahwa

akuntabel,

masyarakat

dan

merupakan

stakeholder yang utama sehingga harus mendapatkan prioritas


1

Mabes Polri, Visi, Misi, Tupoksi Polri, Jakarta, 2009


Mabes Polri, Paradigma Baru Polisi Sipil, Jakarta, 2009
3
Mabes Polri, Etika Profesi Polri, Jakarta, 2009
4
Mabes Polri, Polmas (Community Policing), Jakarta, 2009
2

pelayanan. Sebagai pelayan masyarakat, Polri harus mampu


menjawab tuntutan dan harapan masyarakat agar supaya PolriI
mampu memberikan pelayanan yang cepat, tepat, efektif dan efisien
kepada masyarakat tanpa adanya diskriminasi, tanpa pandang bulu,
dan tanpa pilih kasih.
Dalam perspektif kepolisian modern, eksistensi Polisi sangat
dibutuhkan oleh masyarakat. Kehadiran Polisi di tengah masyarakat
merupakan sebuah keharusan mengingat Polisi merupakan sarana
mediasi, fasilitasi, dan katalisasi terhadap berbagai persoalan yang
terjadi di tengah masyarakat.

Pentingnya eksistensi polisi ini

kemudian melahirkan adagium dimana ada masyarakat disitu ada


polisi yang menegaskan bahwa polisi dan masyarakat merupakan
sesuatu yang bersifat inheren atau tidak dapat dipisahkan.
Dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat, Polri
mengeluarkan kebijakan dan program reformasi birokrasi Polri melalui
strategi QTAP (quick response, transparancy, accountability, dan
professional), dengan teknik quick wins (keberhasilan segera)
terhadap pelaksanaan tugas Polri5. Selanjutnya, Polri menerbitkan
Skep Kapolri No. 37 Tahun 2008 Tanggal 27 Oktober 2008 Tentang
Program Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri Yang Mandiri,
Profesional, Dan Dipercaya Masyarakat, yang merupakan penegasan
tekad untuk melakukan perubahan perilaku setiap anggota Polri dalam
menjalankan

tugas-tugasnya

menjawab

tuntutan

dan

harapan

masyarakat akan pelayanan prima Polri dan terwujudnya rasa aman


masyarakat.6
Sebagai

pengemban

fungsi

penegakkan

hukum

yang

merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara 7, Polri juga tidak


5

Mabes Polri, Polri Dalam Rangka Meraih Keberhasilan Segera (Quick Wins),
Jakarta, 2009
6
Lampiran Skep Kapolri No. 37 Tahun 2008 Tanggal 27 Oktober 2008 Tentang
Program Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri Yang Mandiri, Profesional, Dan
Dipercaya Masyarakat
7
Lihat Pasal 2 dan Pasal 3 UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia.

terlepas dari kritik, tuntutan dan harapan masyarakat yaitu Polri


profesional, transparan dan akuntabel melayani masyarakat secara
prima dalam pelaksanaan tugas pokok pemelihara kamtibmas,
pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dan selaku penegak
hukum yang dipercaya masyarakat. Oleh karena itu, Polri telah
berupaya melakukan perubahan-perubahan pada aspek instrumental,
struktural dan kultural agar selaras dengan dinamika tuntutan dan
harapan masyarakat tersebut. Perubahan pada aspek instrumental
dan struktural telah berjalan dengan baik hingga saat ini, namun
diperlukan konkretisasi dan akselerasi transformasi pada aspek
kultural yang dinilai masyarakat belum memuaskan. 8 Catatan
media yang gencar selama tahun 2009 tentang kasus Bibit Samad
dan Chandra Hamzah yang terbebas dari hukum dengan dukukungan
massa dan penanganan kasus Mbok Minah yang mencuri Buah
Kakao yang berakhir di meja hijau, berdampak pada penurunan
tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri secara umum. 9
Padahal

kepercayaan

masyarakat

menjadi

modal

dasar

bagi

terbangunnya peran serta masyarakat dalam rangka Harkamtibmas .


Tanpa dukungan dan partisipasi secara aktif oleh masyarakat
selaku stakeholders, efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tugas
pokok, fungsi dan peran Polri menjadi tidak optimal. Namun, peran
serta masyarakat hanya muncul apabila ada kepercayaan terhadap
institusi Polri. Maka, Grand Strategi Polri tahun 2005 2025 telah
meletakkan terwujudnya kepercayaan masyarakat sebagai sasaran
obyektif tahap I (pertama) tahun 2005-2009, kemudian terwujudnya
kemitraan dan networking (Partnership Buliding) pada tahap II (kedua)
tahun 2010 -2014 dan terakhir tahap III (ketiga) Polri menuju
organisasi unggulan yang mampu memberikan pelayanan prima
secara profesional, transparan dan akuntabel yang berorientasi pada
8

Strategi Polri beralih dari Trust Building menjadi Partnership and Networking,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4b3c13b8dea09/strategi-polri-beralih-dari-trustbuilding-menjadi-partnership-and-networking , diakses pada tanggal 3 Maret 2011.
9
Ahmad Bahar, TIMUR PRADOPO : Memberi keteladanan menuai kearifan, 2011,
Media Pressindo Jogyakarta, hal 22.

kesempurnaan (strive for excelence) tahun 2015-2025.10 Pada


hakekatnya perumusan tahapan Grand Strategi Polri selaras visi dan
misi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undangundang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional.11
Tantangan tugas yang makin berat dan perkembangan jaman
yang semakin maju, mendorong Polri untuk menggulirkan Program
Revitalisasi POLRI Menuju Pelayanan Prima Guna Meningkatkan
Kepercayaan Masyarakat, yang merupakan kebijakan KAPOLRI agar
Polri memiliki sikap yang melayani, pro-aktif, transparan, dan
akuntabel dalam rangka terwujudnya pelayanan prima, yang pada
gilirannya

akan meningkatkan kepercayaan

masyarakat dalam

kerangka terwujudnya reformasi birokrasi Polri. Program prioritas dan


revitalisasi POLRI dilaksanakan ke dalam 4 (empat) tahapan yang
dimulai dari bulan November 2010 sampai dengan bulan Desember
2013.12
Di era reformasi sekarang ini, Polri menghadapi ujian yang
sangat berat karena adanya berbagai kasus hukum yang diduga
melibatkan oknum anggota Polri sehingga mendapatkan liputan
pemberitaan media massa yang luas yang pada akhirnya mencoreng
citra penegakkan hukum Polri.13

Sebagai aparat penegak hukum,

Polri merupakan ujung tombak dalam mencegah, menangani,


mengungkap, dan memberantas berbagai tindak pidana dan kasus
10

Lihat buku I, II, dan III, Program Kerja Akselerasi Transformasi Polri Menuju Polri
Yang Mandiri, Profesional dan Dipercaya Masyarakat beserta Penjabaran dan Pedoman
Kerja.
11
Lihat lampiran UU No. 17 Tahun 2007 dimana tertuang bahwa salah satu misi
pembangunan nasional adalah mewujudkan Indonesia yang aman, damai dan bersatu yang
ditandai dengan Polri yang profesional dan partisipasi kuat masyarakat di bidang keamanan.
Maka arah pembangungan keamanan adalah untuk meningkatkan profesionalisme Polri
(yang dicapai melalui pembangunan kompetensi pelayanan inti, perbaikan police ratio,
pembinaan SDM, pemenuhan kebutuhan alut dan peningkatan pengawasan dan mekanisme
kontrol lembaga kepolisian) dan meningkatkan peran serta masyarakat yang dibangun
melalui mekanisme pemolisian masyarakat.
12
Arah Kebijakan KAPOLRI tentang Revitalisasi POLRI Menuju Pelayanan Prima
Guna Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Tahun 2010.
13
http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/01/18/289202/polri-akui-pelayananpenegak-hukum-buruk/

hukum yang terjadi di level kepemerintahan, kemasyarakatan, dan


instansi publik lainnya.
Maraknya kejahatan dan tindak pidana, mulai dari kejahatan
konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan terhadap kekayaan
negara, dan kejahatan yang berimplikasi kontijensi, telah mendorong
Polri untuk meningkatkan kemampuan, kualitas, dan kompetensi
sehingga diharapkan dapat menegakkan hukum secara transparan,
akuntabel, professional, dan humanis14. Tidak bisa dipungkiri bahwa
telah banyak prestasi yang diukir oleh Polri dalam menegakkan
hukum terhadap tindak pidana, khususnya tindak pidana narkoba dan
tindak pidana terorisme. Namun semua itu, tertutup oleh isu dan
pemberitaan adanya oknum penyidik yang dinilai kurang profesional
dan melanggar prosedur dalam penanganan tindak pidana korupsi.
Dalam menegakkan hukum, Polri menghadapi dilema hukum.
Di

satu

sisi,

Polri

berkomitmen

untuk

menegakkan

hukum

berdasarkan KUHP terhadap siapa saja yang melanggar hukum tanpa


pandang bulu, tanpa pilih kasih, dan tanpa diskriminasi. Hal ini
dibuktikan dengan penanganan berbagai tindak pidana / kasus baik
dalam

skala

besar

maupun

skala

kecil,

termasuk

misalnya

penanganan kasus bibit candra maupun penanganan kasus kakao di


Banyumas.15 Namun demikian, di sisi lain, Polri dituntut untuk
menerapkan hukum yang berkeadilan sosial masyarakat, yang
ditandai dengan protes elemen masyarakat terhadap pembebasan
bibit candra yang terindikasi melanggar hukum dan kasus kakao ibu
minah yang memang nyata melanggar hukum sekecil apapun yang
telah diatur oleh Hukum Positif kita.
Kondisi penegakkan hukum di Indonesia sekarang ini seolaholah telah dikalahkan oleh opini publik dan konsensus masyarakat
yang tentunya belum sepenuhnya benar. Kekuatan masyarakat
dipergunakan sebagai alat bagi kelompok tertentu untuk membuat
14

Sadjiono, Polri Dalam Perkembangan Hukum Indonesia, Yogyakarta, Laksbang


Pressindo, 2008
15
Sadjiono, Etika Profesi Hukum, Malang, UMM Press, 2006

konsensus masyarakat dan penciptaan opini publik untuk menekan


dan mempengaruhi Polri dalam menegakkan hukum sehingga
membuat wajah buram penegakkan hukum Indonesia dan menjadikan
beban psikologis khususnya bagi anggota Polri yang bertugas
melakukan penyelidikan dan penyidikan dibuat bingung, ragu,
khawatir, dan cemas. Penyidik Polri menjadi ragu dam bimbang
karena segala tindakan hukum yang dilakukan secara benar
berdasarkan KUHP ternyata seringkali dianggap salah oleh sejumlah
kelompok masyarakat. Inilah potret buram perjalanan penegakkan
hukum Indonesia pada era reformasi yang mengalami dinamika
paradoksal dan anomali hukum.
Dalam persepsi masyarakat, proses penegakkan hukum yang
dilakukan oleh Polri selama ini dinilai belum mengedepankan rasa
keadilan sosial masyarakat. Polri dianggap masih memakai kacamata
kuda dalam menangani, mengungkap, dan memberantas segala
tindak pidana yang terjadi di tengah masyarakat tanpa melihat aspek
sosiologi hukum masyarakat. Polri dipandang hanya memprioritaskan
penegakkan hukum formalistik tanpa mengindahkan aspek yang
berhubungan dengan sosiologis dan antropologis yang melingkupi
kasus / tindak pidana yang ditanganinya. Aspek sosiologis hukum di
sini maksudnya adalah sebagai cara pandang peraturan dengan cara
memperhatikan apa yang senyatanya terjadi dan bukan hanya yang
tercantum dalam naskah undang-undang.16 Rasa keadilan sosial yang
dinilai masyarakat kurang diindahkan tersebut tentunya bermuara
pada melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Padahal,
dalam konteks reformasi Polri, saat ini Polri telah mencapai pada
trust building dan mulai merajut pada partnership building dalam
rangka menuju strive for excellence.

16

Serafina Shinta Dewi. Perancang Peraturan Perundang-undangan Kanwil


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia DIY.diakses pada http://www.kumhamjogja.info/karya-ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/390-negara-modern-dan-sosiologi-hukum.

Polri perlu melakukan rekayasa sosial (social engineering)


sehingga setiap pihak yang terlibat dalam kasus hukum / tindak
pidana / sengketa dapat menerima kesepakatan dan usulan
perdamaian

berdasarkan

win-win

solution.

Polri

seyogyanya

menggali nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat dalam


menyelesaikan setiap permasalahan dan persoalan. Polri tidak boleh
secara kaku dan (bahasa jawa:saklek) untuk menyelesaikan setiap
persoalan hukum di tengah masyarakat.
Polri harus berprinsip bahwa langkah pertama dan utama
dalam menyelesaikan suatu kasus hukum / tindak pidana di tengah
masyarakat adalah menekankan pendekatan sosial budaya, kearifan
lokal, musyawarah mufakat, dan penyelesaian secara adat istiadat
setempat17.

Masyarakat

didorong

untuk

menyelesaikan

sendiri

persoalan mereka dan Polri hanyalah sebagai penengah / fasilitator /


mediator. Apabila cara-cara ini tidak dapat mendamaikan antar pihak
yang bertikai, maka barulah langkah terakhir ditempuh melalui jalur
hukum. Model penegakan hukum inilah yang disebut dengan ADR
(alternative dispute resolution).
Dalam menyelesaikan setiap kasus hukum yang terjadi di
tengah masyarakat, Polri perlu pula mengembangkan alternative
dispute resolution (proses penyelesaikan sengketa / kasus melalui
cara-cara alternatif di luar proses hukum), khususnya dalam
menangani kasus-kasus tindak pidana yang mempunyai kerugian
materi/ ekonominya kecil, telah disepakati oleh para pihak yang
berperkara dengan mengedepankan prinsip musyawarah mufakat
yang disaksikan oleh tokoh masyarakat setempat dengan melibatkan
dengan petugas Polmas sebagai garda terdepan. 18
Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa banyak kasus-kasus /
tindak pidana yang dilaporkan masyarakat kepada Polri di berbagai
wilayah (Polda, Polres dan polsek) berkategori tindak pidana ringan,
17

http://fhunipassingaraja.blogspot.com/2010/02/pengaturan-alternative-dispute.html
Surat Kapolri No.Pol. : B/3022/XII/2009/SDEOPS tentang Penanganan Kasus
Melalui Alternative Disbute Resolution
18

seperti pencurian ayam, pencurian kambing, pencurian buah,


penggelapan uang kurang dari 10 juta, pemukulan / penganiayaan
ringan, dan hutang piutang kurang dari 10 juta. 19 Dalam konteks
penanganan kasus ringan tersebut di atas sebagai contoh, Polri dapat
menerapkan ADR dengan mengundang berbagai pihak terkait dan
pihak yang bersengketa untuk duduk bersama mendiskusikan dan
memusyawarahkan kasus yang terjadi dan dicari solusi yang terbaik
dan dibuat perjanjian / kesepakatan lisan dan tertulis ditandatangani
oleh pihak yang bersengketa, disaksikan oleh aparat RT dan RW
setempat, dan difasilitasi / mediasi oleh petugas Polmas setempat,
tanpa harus diteruskan ke meja hijau / pengadilan.
Oleh karena itu, setelah menguraikan mengenai perkembangan
hukum di Indonesia dan dikaitkan dengan pelaksanaan tugas pokok
Polri sebagai pengemban fungsi Kamtibmas sebagaimana tertuang
dalam UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri, maka penulis tertarik untuk
menyajikan Naskah Karya Perorangan (NKP) dengan mengangkat
judul:

Optimalisasi

Pemberdayaan

Alternative

Dispute

Resolution (ADR) Guna Penyelesaian Masalah Hukum Yang


Berkeadilan Sosial Dalam Rangka Harkamtibmas.
2.

Pokok Permasalahan
Berdasarkaan latar belakang tersebut di atas, maka dapat
dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut :
Mengapa mekanisme alternative dispute resolution (ADR)
kurang optimal pemberdayaannya dalam proses penegakan
hukum, sehingga kurang mampu memberikan pemecahan
persoalan hukum yang berkeadilan sosial di masyarakat, yang
pada akhirnya berpengaruh terhadap Pemeliharaan Keamanan
dan Ketertiban Masyarakat?.

3.

Pokok-Pokok Persoalan

19

http://www.kesimpulan.com/2009/04/alternatif-penyelesaian-sengketa.html

Adapun pokok-pokok persoalan dalam tulisan ini diuraikan


dalam pertanyaan sebagai berikut :
a. Bagaimana kompetensi personil / anggota dalam memberdayakan
mekanisme ADR?.
b. Bagaimana sistem dan metode yang dikembangkan dalam
memberdayakan ADR?
4.

Ruang Lingkup
Dalam tulisan ini, penulis menetapkan ruang lingkup atau
pembatasan mengingat permasalahan dan persoalan yang dibahas
sangat luas. Pembatasan bidang didasarkan pada upaya nyata
Pimpinan dalam memberdayakan alternative dispute resolution (ADR),
yang dilihat dari aspek kompetensi personil dan sismet yang
dikembangkan

guna

menciptakan

penyelesaian

hukum

yang

berkeadilan sosial di masyarakat dalam rangka harkamtibmas.


Sedangkan pembatasan tempat / wilayah ditetapkan di satuan Polda
Jawa Timur.
5.

Maksud dan Tujuan


a.

Maksud
Maksud penulisan NKP ini adalah untuk memberikan
gambaran secara detail dan komprehensif tentang optimalisasi
pemberdayaan ADR guna menciptakan penyelesaian hukum
yang berkadilan sosial, sekaligus untuk memenuhi salah satu
persyaratan masuk dalam Pendidikan Sespimen Polri Dikreg
Ke-52 T.P. 2012.

b.

Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan NKP ini adalah untuk
memberikan masukan dan sumbangan pemikiran yang kiranya
dapat berguna dan bermanfaat bagi pelaksanaan tugas Polri di
masa mendatang, khususnya kepada pimpinan Polda Jawa
Timur yang terlibat langsung dalam penanganan penegakan
hukum yang berkeadilan sosial.

6.

Metode dan Pendekatan


a.

Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan NKP ini adalah
metode deskriptif analisis, yaitu metode yang mendasarkan
pada hasil pengumpulan data / fakta, sehingga dapat diperoleh
gambaran permasalahan yang ada, selanjutnya dikaji dan
dianalisa untuk dapat menemukan solusi permasalahan yang
ada.20 Teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan /
dokumentasi dan observasi empiris di lapangan sehingga
validitas dan reliabilitas data dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.21

b.

Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan NKP ini
dengan menggunakan pendekatan empiris, pendekatan fungsi
dan tugas, serta pendekatan manajemen. Pendekatan empiris
menekankan pada kejadian, gejala, peristiwa di lapangan
sehingga menjadi data yang dapat diolah dan dianalisis secara
ilmiah. Fakta yang dapat ditangkap dengan panca indera di
lokasi kajian akan dikumpulkan, diolah dan dianalisis melalui
metodologi ilmiah.22 Pendekatan fungsi dan tugas menekankan
pada tugas, wewenang, tanggung jawab normatif dan yuridis

20

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal.

21

Sudarwin Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, Jakarta, Pustaka Setia, 2001, hal. 68
Al Chaedar Wasilah, Pokoknya Kualitatif, Bandung, Pustaka Setia, 2004, hal 21 - 22

26.
22

10

Polri sebagaimana tertuang dalam UU No 2 Tahun 2002


Tentang Polri. Pendekatan manajemen menekankan pada tata
kelola

sumber

daya

organisasi,

baik

personil,

anggaran, dan sismet, di lingkungan organisasi Polri.


7.

Tata Urut
BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

LANDASAN TEORI

BAB III

KONDISI SAAT INI

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

BAB V

KONDISI YANG DIHARAPKAN

BAB VI

UPAYA PEMECAHAN MASALAH

BAB VII

PENUTUP

materiil,

11

BAB II
LANDASAN TEORI

8.

DEFINISI-DEFINISI
a.
Optimalisasi
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia 23, optimalisasi
adalah upaya, usaha, kegiatan untuk membuat sesuatu menjadi
paling baik, paling tinggi. Pada NKP ini, optimalisasi mengandung
arti segala upaya, usaha dan kegiatan Ditpolair Polda Jatim dalam
rangka memberdayakan seluruh potensi sumber daya yang ada
guna tercapainya tingkat kemampuan tertinggi dalam penegakkan
hukum di bidang pelayaran.
b.

Alernatif Disbute Resolution


Definisi secara akademis dikemukakan oleh Philip D. 24
Bostwick bahwa ADR merupakan serangkaian praktek dan teknikteknik hukum yang ditujukan untuk :
1) Memungkinkan

sengketa-sengketa

hukum

diselesaiakan

diluar pengadilan untuk keuntungan atau kebaikan para pihak


yang bersengketa
2) Mengurangi biaya atau keterlambatan kalau sengketa tersebut
diselesaikan melalui litigasi konvensional
3) Mencegah agar sengketa-sengketa hukum tidak di bawa ke
pengadilan
Dengan demikian ADR merupakan kehendak sukarela dari
pihak-pihak yang berkepentingan untuk menyelesaikan sengketa
mereka di luar pengadilan, dalam arti diluar mekanisme ajudikasi
standar konvensional. Oleh karena itu, meskipun masih berada
dalam lingkup atau sangat erat dengan pengadilan, tetapi

23

Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi keempat), Departemen P dan K, Jakarta,

24

http://id.shvoong.com/law-and-politics/1909002-mengenal-adr-alternative-dispute-

2008.
resolution/

12

menggunakan prosedur ajudikasi

non

standar, mekanisme

tersebut masih merupakan ADR.


Dalam praktik, hakikatnya ADR dapat diartikan sebagai
Alternative to litigation atau alternative to adjudication. Alternative
to litigation berarti semua mekanisme penyelesaian sengketa di
luar pengadilan, sehingga dalam hal ini arbitrase termasuk bagian
dari

ADR.

Sedangkan

Alternative

to

adjudication

berarti

mekanisme penyelesaian sengketa yang bersifat konsensus atau


kooperatif, tidak melalui prosedur pengajuan gugatan kepada
pihak ke tiga yang berwenang mengambil keputusan. Termasuk
bagian dari ADR adalah konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi,
dan pendapat ahli, sedangkan arbitrase bukan termasuk ADR. Di
Amerika sendiri, ADR diartikan sebagai alternative to adjudication,
karena output dari proses adjudikasi umumnya berupa win-lose
solution (menang-kalah), padahal yang dikehendaki pihak-pihak
yang bersengketa adalah win-win solution atau mutual acceptable
solution.
c.

Keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas)


Kamtibmas yaitu suatu kondisi dinamis masyarakat sebagai
salah satu prasyarat terselenggaranya proses pembangunan
nasional dalam rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai
dengan terjaminnya keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum,
serta terbinanya ketentraman yang mengandung kemampuan
serta mengembangkan potensi dan kekuatan masyarakat dalam
menangkal,

mencegah

dan

menanggulangi

segala

bentuk

pelanggaran hukum dan bentuk-bentuk gangguan lainnya yang


dapat meresahkan masyarakat.25

25

Undang-Undang No. 2 tahun 2002 Bab 1 Pasal 1 ayat 5, tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia

13

9.

Teori Hukum
Dalam Perspektif teori hukum26 dinyatakan bahwa negara
Indonesia adalah negara hukum sehingga setiap persoalan yang
terjadi di tengah masyarakat harus diselesaikan secara hukum. Unsur
penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan harus
saling bahu membahu melakukan penegakan hukum sehingga
tercipta kepastian hukum di tengah masyarakat dalam rangka
terwujudnya keadilan sosial. Penegakan hukum yang dilakukan oleh
Polri selalu didasarkan pada aturan perundang-undangan yang
berlaku yang dibuat oleh pemerintah dan DPR sehingga sah / legal
secara yuridis.
Dalam menegakan hukum, Polri telah menetapkan SOP
penegakkan hukum yang sering dikenal dengan langkah dan tindakan
preemptif, preventif, dan represif/gakkum. Polri harus terus melakukan
akselerasi untuk terlebih dahulu mengedepankan tindakan preemtif
dan preventif dibandingkan dengan langkah represif / gakkum.
Tindakan represif / gakkum dilakukan apabila langkah preemptif dan
preventif tidak mampu lagi menangani berbagai kasus yang terjadi di
tengah masyarakat.
Proses penegakan hukum yang dikembangkan oleh Polri juga
mengedepankan mekanisme ADR (alternative dispute resolution).
Artinya, proses penyelesaian masalah, persoalan, kasus, tindak
pidana dilakukan dengan menggunakan cara-cara lain di luar jalur
hukum, dengan memanfaatkan hukum adat, hukum sosial, norma dan
potensi kearifan lokal yang berkembang di suatu masyarakat masingmasing, di mana pihak yang bersengketa lebih mengutamakan
musyarawah mufakat dihadiri oleh para pihak yang terlibat, disaksikan
oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan petugas
Polri yang berperan sebagai mediator dan fasilitator.27
26

Andi Hamzah, Teori Hukum dan Keadilan Sosial, Jakarta, Pustaka Pelajar, 2004,

hal. 37
27

Widnyana, I Made. 2007. Arternatif Penyelesaian Sengketa (ADR). Jakarta:


Indonesia Business Law Center (IBLC) bekerjasama dengan Kantor Hukum Gani Djemat &
Partners.

14

Di dalam undang undang No.30 Tahun 1999 tentang


Penyelesaian Sengketa Alternatif (Alternative Dispute Resolution)
mencantumkan beberapa bentuk ADR yang dapat diterapkan dalam
penyelesaian

sengketa,

yaitu

Konsultasi,

Negosiasi,

Mediasi,

Konsiliasi dan Penilaian Ahli.28


1. Konsultasi. Konsultasi adalah upaya penyelesaian sengketa
dengan cara meminta masukan dari pihak yang diyakini sebagai
Narasumber berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dapat
memfasilitasi penyelesaian sengketa untuk mencapai tujuan
bersama. Biasanya, Narasumber yang dimintai konsultasi oleh
para pihak adalah Nara sumber yang levelnya lebih tinggi dan
memiliki kompetensi yang jelas.
2. Negosiasi. Negosiasi (berunding) berasal dari bahasa inggris
Negotiation yang berati perundingan. Namun secara umum
negosiasi dapat diartikan sebagai upaya penyelesaian sengketa
para pihak dengan cara berhadapan langsung mendiskusikan
secara transparan, harmonis suatu masalah atau sengketa untuk
mencapai kesepakatan bersama.
3.

Mediasi. Mediasi berasal dari bahasa inggris yaitu Mediation


artinya menengahi, penengah. Jadi, Penengah (Mediator)
adalah orang yang memediasi suatu kegiatan. Dalam kontek
penyelesaian sengketa, Pola mediasi adalah upaya penyelesaian
sengketa dengan cara menengahi para pihak yang bersengketa.
Fungsi Mediator adalah sebagai Wasit, yang memutuskan
sengketa adalah para pihak yang berperkara. Karena itu Mediator
harus benar-benar orang yang bersikap Netral dan dapat
diterima oleh pihak yang bersengketa. Mediator dapat dipilih dari
tokoh masyarakat, tokoh pendidik, tokoh permepuan, tokoh
agama, dll yang mengetahui, memahami dan mengerti pokok

28

Hadimulyo. 1997. Mempertimbangkan ADR (Kajian Alternatif Penyelesaian


Sengketa di Luar Peradilan). Jakarta: Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).

15

masalah yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa. Mediator


yang dipilih bisa bersifat tetap atau ad hoc.
4.

Konsiliasi. Konsiliasi dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai


usaha mempertemukan pihak yang berselisih untuk mencapai
persetujuan dalam rangka penyelesaian sengketa. Konsiliasi
dapat diserahkan kepada sebuah Tim (Konsiliator) yang berfungsi
menjelaskan fakta-fakta, membuat usulan-usulan penyelesaian,
tetapi sifatnya tidak mengikat. Konsiliator dapat dibentuk bersifat
tetap dan ad hoc.

5. Penilaian Ahli. Penilaian Ahli adalah suatu upaya mempertemukan


pihak yang berselisih dengan cara menilai pokok sengketa yang
dilakukan oleh seorang atau beberapa orang ahli di bidang terkait
dengan pokok sengketa untuk mencapai persetujuan. Penilaian
ahli berupa keterangan tertulis yang merupakan hasil telaahan
ilmiah berdasarkan keahlian yang dimiliki untuk membuat terang
pokok sengketa yang sedang dalam proses. Penilaian ahli ini
dapat diperoleh dari seseorang atau Tim ahli yang dipilih secara
ad hoc.
6. Penyelesaian Masalah Melalui Arbitrase. Arbitrase berasal dari
bahasa

latin

arbitrare

yang

berarti

kekuasaan

untuk

menyelesaikan suatu perkara menurut kebijaksanaan. Dalam hal


ini ditunjuk satu atau beberapa orang yang diberi kewenangan
untuk memutuskan suatu perkara. Hampir sama dengan mediasi
dimana penyelesaian perkara melibatkan pihak ketiga. Namun bila
dalam mediasi mediator tidak berhak memutus perkara sedang
arbitrator memiliki kewenangan untuk memutuskan suatu perkara.
7. Penyelesaian Masalah Melalui Pola Tradisi Lokal. Penyelesaian
masalah dengan pola tradisi lokal yang hidup dan berlaku di
masyarakat adat dapat dipandang cukup efektif dan efisien. Paling
tidak dari sisi waktu dan biaya penyelesaian sengketa tidak
memerlukan

waktu

dan

biaya

yang

cukup

lama.

Pola

penyelesaian dengan pendekatan ini tidak sama dengan pola

16

penyelesaian masalah ketika hukum adat masih berlaku. Agar


hasil keputusannya mempunyai kekuatan hukum, maka para
pihak wajib mendaftarkan ke Pengadilan Negeri untuk ditetapkan
dengan penetapan Pengadilan.

10.

Teori Manajemen Sumber Daya Organisasi


Menurut

Hadari

Nawawi,

manajemen

pada

dasarnya

mengandung pengertian upaya mendayagunakan dan mengarahkan


penggunaan

sumber

daya

organisasi

untuk

mencapai

tujuan

organisasi secara efektif. Efisiensi penggunaan sumber daya menjadi


ukuran yang tidak kalah pentingnya dari ukuran efektifitas 29. Dalam
pandangan George R Terry, dinyatakan bahwa secara harfiah,
manajemen adalah suatu proses yang tegas yang terdiri dari
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang
dilaksanakan

untuk

mencapai

tujuan

yang

telah

dinyatakan

sebelumnya dengan menggunakan sumber daya manusia dan


sumber daya yang lainnya.30
Organisasi adalah perkumpulan dua orang atau lebih yang
memiliki

komitmen

untuk

melakukan

kerjasama

yang

saling

menguntungkan dan bersinergis untuk mencapai tujuan bersama 31.


Antar anggota dalam organisasi bisa bersatu karena adanya cita-cita
dan

target

yang

sama

sehingga

soliditas,

kekompakan

dan

keterpaduan antar anggota organisasi diperlukan sehingga setiap


program dan kegiatan organisasi dapat tercapai dengan baik.
Agar supaya visi, misi, tujuan, dan target organisasi bisa
terwujud, maka diperlukan sumber daya organisasi. Sumber daya
organisasi meliputi sumber daya manusia, sumber daya materiil,

29

Hadari Nawawi, Dasar-Dasar Manajemen, Bandung, Mandar Maju, 1995


William H.Newman, Charless E Summer, dan E. Kirby Warren, The Process of
Management, Englewood Clifs N.J. Prentice Hall, Inc., 1967.
31
Sedarmayanti, Organisasi Publik Di Tengah Arus Globalisasi, Bandung, Mandar Maju,
1997
30

17

sumber daya anggaran, dan sumber daya sistem/metode organisasi. 32


Sumber daya organisasi harus dikelola dengan baik sehingga dapat
mendukung apa yang diinginkan oleh organisasi tersebut.
Sumber daya manusia atau sering pula disebut dengan
personil / personalia / human resource merupakan sumber daya
utama organisasi karena berperan mengawaki gerak laju dan
perjalanan organisasi. Sumber daya manusia menempati posisi
strategis

dalam

melaksanakan

setiap

program

dan

kegiatan

organisasi sehingga dapat berhasil dengan baik.


Sumber daya materiil atau sering disebut dengan dukungan
sarana prasarana, logistik, dan peralatan pendukung, merupakan
faktor

penunjang

dalam

pelaksanaan

program

dan

kegiatan

organisasi. Sebagus apapun sumber daya manusia dalam organisasi,


namun apabila sumber daya materiil kurang mendukung, maka
program dan kegiatan dalam organisasi akan mengalami hambatan
dan kendala.
Sumber daya anggaran yang sering pula disebut dengan
sumber daya keuangan atau sumber daya dana atau sumber finansial
merupakan faktor krusial keberhasilan dan kegagalan penerapan
program organisasi. Setiap program dan kegiatan yang direncanakan
dan diterapkan oleh suatu organisasi, apabila tidak didukung oleh
faktor pembiayaan / sumber daya anggaran, maka program dan
kegiatan tersebut akan mengalami kesulitan. Sumber daya anggaran
yang memadai akan mampu mengakselerasi visi dan misi organisasi.
Sumber daya yang berbasis pada sistem / metode / hubungan
tata cara kerja dalam organisasi sangat penting dirumuskan sehingga
akan terwujud sarana / wahana / media yang efektif dalam
melaksanakan suatu program atau kegiatan.
Dalam setiap program dan kegiatan yang akan diterapkan,
harus dirumuskan atau direncanakan terlebih dahulu tentang uraian
32

Rusadi Kantaprawira, Organisasi Sebagai Suatu Sistem, Bandung, UNPAD, 2002

18

kerja dan job description masing-masing anggota dan unit kerja dalam
melaksanakan program dan kegiatan tersebut. Pengorganisasian
program dan kegiatan, khususnya yang mengatur tentang siapa
berbuat

apa,

bagaimana

mengerjakannya,

metode

apa

yang

dipergunakan, kapan dikerjakan, dan mengapa dikerjakan, harus


tercermin dalam suatu program dan kegiatan yang dijalankan suatu
organisasi.
Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa manajemen adalah
suatu proses yang dilakukan melalui tahapan perencanaan (Planing),
pengorganisasian

(organizing),

penggerakan,

pelaksanaan

dan

pengendalian dengan memberdayakan sumber daya organisasi,


berupa personil, materiil, anggaran, sistem / metode yang dimiliki oleh
suatu organisasi dalam rangka memanfaatkan ilmu maupun seni, agar
dapat menyelesaikan tujuan organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya.33

11.

Teori Analisis SWOT


Dalam buku Manajemen Strategik karangan Sondang P.
Siagian34, menjelaskan bahwa perumusan strategik kegiatan yang
dilakukan serta untuk pengambil keputusan dalam suatu organisasi
memerlukan suatu strategi yang disebut SWOT yang mempunyai arti
Strengths atau kekuatan, Weaknesses atau kelemahan, Opportunities
atau peluang dan Threats atau ancaman. Faktor kekuatan dan
kelemahan terdapat dalam lingkungan tubuh suatu organisasi,
sedangkan faktor peluang dan ancaman merupakan faktor-faktor
lingkungan yang dihadapi oleh organisasi atau perusahaan yang
bersangkutan.
Analisis SWOT merupakan instrumen yang ampuh dalam
melakukan analisis strategik, keampuhan tersebut terletak pada

33
The Liang Gie, Administrasi Perkantoran Modern, Yogyakarta : Penerbit Liberti
bekerjasama dengan Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi, 1992, hal. 15
34
Sondang P. Siagian, Manajemen Strategik, Bandung, Rosdakarya, 1995

19

kemampuan para penentu strategi organisasi untuk memaksimalkan


peranan faktor kekuatan dan pemanfaatan sehingga sekaligus
berperan sebagai alat penekan dampak ancaman yang timbul dan
harus dihadapi.35 Berikut ini akan diuraikan mengenai empat unsur
dalam analisis SWOT tersebut :
a.

Strength (kekuatan) adalah suatu kenyataan tentang kondisi


sumber daya dan kemampuan yang dimiliki organisasi sebagai

b.

pembanding yang positif dalam suatu organisasi.


Weakness (kelemahan) adalah aspek negative dalam internal
organisasi yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi. Untuk
itu diperlukan penanganan yang baik dalam menutupi maupun
mengurangi kelemahan yang ada dengan cara memanfaatkan

c.

kemampuan dan sumber daya yang ada.


Opportunities (Peluang) adalah kondisi masa depan dalam
suatu lingkungan yang memungkinkan untuk dicapai demi
kelangsungan organisasi. Kondisi ini diyakini akan membawa
perubahan pada organisasi tersebut jika mampu mencapainya

d.

secara optimal terutama dalam jangka panjang.


Treaths (Ancaman), adalah sebuah kondisi yang akan terjadi
dimasa datang, yang secara potensial akan mempengaruhi
kelangsungan usaha suatu organisasi. Pengamatan lingkungan
masa depan yang baik serta penguasaan teknologi yang
selalau berkembang, tentunya akan membantu meminimalisir
ancaman yang ada.
Setiap organisasi tidak dapat mengelak dari keempat faktor

tersebut, kekuatan dan kelemahan adalah dimensi internal organisasi


yang harus dikenali secara akurat sehingga kekuatan yang dimiliki
harus dikelola dan dimanfaatkan secara optimal guna menghadapi
tantangan maupun memanfaatkan peluang yang ada. Kelemahan
yang telah dikenali menuntut dikelola agar kondisi itu tidak akan
mengganggu atau menggagalkan pencapaian tujuan organisasi.

35

Ibid.

20

Demikian pula peluang dan kendala merupakan dimensi


eksternal dari organisasi yang harus ditelusuri, dikenali (scanning)
agar situasi dan kondisi riil itu dapat diantisipasi. Peluang eksternal
harus dapat dipadukan dengan kekuatan atau dimanfaatkan untuk
meminimalkan kelemahan organisasi guna menghadapi tantangan
dan kendala sehingga organisasi tetap dapat mencapai tujuannya
dengan efektif dan efisien.

21

BAB III
KONDISI SAAT INI
12.

Kompetensi

Personil

Anggota

Dalam

Memberdayakan

Mekanisme ADR di Polda Jawa Timur Saat Ini


a.

Berdasarkan data dari

Laporan Satuan Polda Jawa Timur,

pada tahun 2012 terdapat data personil, kamtibmas dan


kriminalitas sebagai berikut:36
1) Data Personil
NO

KEPANGKATAN

JUMLAH
DSPP

JUMLAH
RIIL

KURANG

LEBIH

01
02
03
04
05
06
JUMLAH
Sumber : Lapsat Polda Jawa Timur Tahun 2012

2) Data Gangguan Kamtibmas


TAHUN
No

Uraian
Tahun 2011

Jumlah TP

Penyelesaian TP

Prosentase penyelesaian TP

4 Selang waktu terjadi TP


Sumber : Lapsat Polda Jawa Timur Tahun 2012

36

Laporan Satuan Polda Jawa Timur, Tahun 2010

Tahun
2012

Trend

22

3) Data Kasus Kriminalitas


NO

TAHUN
2011
L
S

URAIAN

TAHUN
2012
L
S

TREND
L

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

PERKOSAAN
KEBAKARAN
PERZINAAN
PERJUDIAN
PEMBUNUHAN
ANIRAT
ANISA
ANIRING
CURAT
CURAS
PENGGELAPAN
PENIPUAN
PENGRUSAKAN
CURANMOR
CABUL
UPAL
SAJAM
CURI BIASA
KROYOK
PERAMPASAN
PENADAHAN
NARKOBA/PSYKO
ILEGAL LOGING
LAIN-LAIN
JUMLAH
Sumber : Lapsat Polda Jawa Timur Tahun 2010

b.

Pengetahuan

Personil.

Pengetahuan

personil

dalam

memahami adat istiadat, budaya lokal, kebiasaan masyarakat


dan berbagai pranata sosial kemasyarakatan di wilayahnya
bertugas masih cukup lemah. Personil kurang memahami
pengetahuan

masyarakat

sehingga

kurang

mampu

memberdayakan mekanisme ADR ketika dibutuhkan dalam


penyelesaian tindak pidana, seperti pencurian ayam, pencurian
kambing, cekcok antar tetanga, dan konflik antar pemuda
kampung.
c.

Keterampilan

Personil.

Keterampilan

personil

melafalkan

bahasa daerah, menggali potensi kearifan lokal untuk sarana


resolusi

konflik,

dan

mengembangkan

kegiatan

sosial

23

keagamaan masih cukup lemah sehingga kurang mampu


pemberdayaan ADR ketika terjadi permasalahan hukum /
tindak pidana ringan di wilayah penugasannya masing-masing.
d.

Kepribadian

personil.

Kepribadian

personil

dalam

berkomunikasi, berkoordinasinasi, bersilaturahmi, bertutur kata,


bertatapmuka, dan bertindak di tengah masyarakat masih kaku,
saklek, dan antagonis sehingga cenderung kurang diterima
oleh komponen masyarakat yang pada akhirnya sulit untuk
memberdayakan ADR apabila muncul kasus hukum di tengah
masyarakat.
13.

Sistem Dan Metode Yang Dikembangkan Dalam Memberdayakan


ADR di Polda Jawa Timur Saat Ini
a.

SOP Tentang Pelaksanaan ADR. Sampai dengan saat ini


belum ada semacam SOP / prosedur kerja baku / buku
pedoman tentang pelaksanaan ADR yang detail, komprehensif
dan jelas. Selama ini mekanisme ADR hanya disosialisaikan
oleh pimpinan Polda melalui APP ataupun rapat koordinasi,
namun

masih

abstrak

sehingga

setiap

personil

belum

memahami secara jelas apa itu ADR, bagaimana ADR, dan apa
manfaat ADR bagi penegakan hukum.
b.

Uraian Kerja / Job Description. Selama ini belum ditetapkan


tentang siapa yang berhak melakukan mekanisme ADR, fungsi
teknis mana di satuan Polda yang berhak melakukan ADR,
apakah reskrim, lantas, intelkam, atau petugas Polmas. Sejauh
ini, belum dibuat juklak / juknis / jukmin tentang uarian kerja
setiap personil, setiap satuan kewilayahan (polres dan polsek)
dan satuan fungsional dalam melaksanakan ADR.

c.

Kejasama dengan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, dan Tokoh


Adat.

Kerjasama dengan instansi / pihak / lembaga lintas

sektoral dan stakeholder terkait dalam pemberdayaan ADR


masih lemah. Padahal, ADR dapat dilaksanakan dengan syarat

24

apabila terwujud mekanisme kerjasama, kemitraan, koordinasi,


dan komunikasi yang intensif antara Polda dengan instansi
terkait, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat,
dll.

BAB IV

25

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

14.

Internal
a.

Kekuatan
1)

UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri yang merupakan


payung hukum dan dasar yuridis dalam memberdayakan
alternative dispute resolution (ADR) di Polda Jawa
Timur.

2)

Tri brata dan catur prasetya yang merupakan pedoman


filosofis bagi Kapolda dalam memberdayakan alternative
dispute resolution (ADR) di Polda Jawa Timur.

3)

Kode etik profesi dan peraturan disiplin anggota Polri


yang dapat dijadikan sebagai koridor bagi anggota Polda
dalam memberdayakan alternative dispute resolution
(ADR) di Polda Jawa Timur.

4)

Renstra Polda Jawa Timur 2010-2014 yang dapat


dijadikan sebagai panduan perencanaan bagi Pimpinan
dan

jajarannya

dalam

memberdayakan

alternative

dispute resolution (ADR) di Polda Jawa Timur.


5)

Butir 10 pada 10 Komitmen Polri tahun 2012 hasil Rapim


Polri tahun 2012 yang bunyinya Mengoptimalkan
strategi

pemolisian

komunitas,

dalam

upaya

penyelesaian masalah sosial dalam masyarakat


dengan menggunakan pendekatan social justice,
yang didukung legitimasi
b.

Kelemahan
1)

Masih terbatasnya sarana prasarana, anggaran dan


sismet

Polda

sehingga

berpengaruh

dalam

memberdayakan alternative dispute resolution (ADR) di


Polda Jawa Timur.

26

2)

Masih

lemahnya

pemahaman,

penguasaan,

dan

pengetahuan setiap personil Polda tentang filosofi,


hakekat, dan manfaat ADR bagi proses penegakan
hukum di tengah masyarakat.
3)

Masih lemahnya komunikasi sosial anggota Polda


sehingga menyulitkan dalam menangani masalah /
sengketa melalui tradisi lokal masyarakat.

4)

Masih adanya oknum anggota Polri yang enggan


melakukan
sengketa

mekanisme
karena

ADR

dalam

penyelesaian

dianggap

akan

memperkecil

ketergantungan masyarakat terhadap Polri.


15.

Eksternal
a.

Peluang
1)

UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif


Penyelesaian Sengketa yang dapat dijadikan sebagai
pegangan hukum bagi Polri dalam memberdayakan
alternative dispute resolution (ADR) di Polda Jawa
Timur.

2)

Adanya

kebijakan

mencanangkan

pemerintah

penegakan

SBY

hukum

yang
yang

selalu
humanis

dengan mengadopsi potensi kearifan lokal masyarakat


agar supaya Polri bersinregi dengan masyarakat secara
berkelanjutan.
3)

Adanya dukungan komisi III DPR yang selalu melakukan


pengawasan mendalam terhadap perilaku, sikap dan
kinerja Polri dalam menegakan hukum di tengah
masyarakat.

4)

Adanya potensi kearifan lokal masyarakat, berupa


musyawarah

mufakat,

musyawarah

desa,

musyarawarah kelurahan, hukum adat, dan berbagai


resolusi konflik / sengketa sehingga dapat dijadikan oleh
Polri sebagai mekanisme ADR.

27

b.

Kendala
1)

Masih adanya sikap, perilaku dan emosi masyarakat


yang temperamental sehingga setiap sengketa selalu
berujung pada kekerasan, anarkisme dan kerusuhan
yang membehayakan kamtibmas.

2)

Belum adanya aturan teknis yang detail dalam bentuk


PP atau Perpres sebagai turunan dan penjabaran dari
UU No 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa sehingga menyulitkan Polri
dalam menerapkan ADR.

3)

Masih ada sebagian masyarakat yang belum memahami


tentang alternative penyelesaian sengketa di luar
pengadilan (ADR) sehingga setiap sengketa dilakukan
melalui jalur hukum formal yang kadangkala waktunya
lama, prosesnya lamban, dan biayanya besar.

28

BAB V
KONDISI YANG DIHARAPKAN

16.

Kompetensi

Personil

Anggota

Dalam

Memberdayakan

Mekanisme ADR Di Polda Jawa Timur Yang Diharapkan


a.

Diharapkan terwujud pengetahuan personil yang mampu


memahami, menguasai, dan menghayati berbagai potensi lokal
masyarakat baik adat istiadat, budaya, kebiasaan, kearifan
lokal, dan mekanisme hukum adat yang berkembang sehingga
dapat diberdayakan secara intensif untuk kepentingan ADR
terhadap sengketa yang terjadi di tengah masyarakat.

b.

Diharapkan terwujud keterampilan personil yang mampu mahir


berbahasa daerah / bahasa lokal / bahasa adat dan mampu
menggali berbagai mekanisme resolusi konflik lokal yang
berkembang sehingga mendukung pemberdayaan ADR di
tengah masyarakat.

c.

Diharapkan terwujud kepribadian personil yang sopan, santun,


ramah, luwes, simpatik, senyum, sapa, salam dan mawas diri
serta membaur di tengah masyarakat sehingga dapat diterima
oleh semua komponen dan potensi masyarakat sehingga
menjadi modal sebagai mediator terhadap setiap sengketa
yang terjadi di tengah masyarakat tanpa harus menempuh jalur
hukum.

17.

Sistem Dan Metode Yang Dikembangkan Dalam Memberdayakan


ADR di Polda Jawa Timur Yang Diharapkan
a.

Diharapkan terwujud SOP tentang pelaksanaan ADR sehingga


dapat dijadikan sebagai pedoman bagi setiap pihak dalam
menyelesaikan sengketa diluar pengadilan. Harapannya, dalam
menyelesaikan suatu kasus di tengah masyarakat harus
menekankan

pendekatan

sosial

budaya,

kearifan

lokal,

29

musyawarah mufakat, dan penyelesaian secara adat istiadat


setempat. Masyarakat didorong untuk menyelesaikan sendiri
persoalan mereka dan Polri hanyalah sebagai penengah /
fasilitator / mediator. Apabila cara-cara ini tidak dapat
mendamaikan antar pihak yang bertikai, maka barulah langkah
terakhir ditempuh melalui jalur hukum.
b.

Diharapkan terwujud uraian kerja masing-masing personil


Polda dalam memberdayakan ADR sehingga akan terlihat jelas
siapa berbuat apa, mengapa berbuat, bagaimana berbuat, apa
dasar

hukumnya,

dan

bagaimana

dampaknya

terhadap

penegakan hukum. Proses ADR dilakukan agar supaya


masyarakat terlibat aktif dalam suatu kesepakatan perdamaian
sehingga

akan

merasa

berkepentingan

untuk

menjaga

berbagai kesepakatan dalam perjanjian perdamaian. Sebagai


contoh kasus konflik antar kampung yang dipicu oleh persoalan
sepele, misalnya rebutan pacar, selisih paham antar pemuda,
dll, yang semuanya dikedepankan melalui ADR bersama-sama
dengan komponen masyarakat.
c.

Diharapkan terjalin kerjasama yang harmonis dengan berbagai


instansi / pihak / lembaga lintas sektoral, khususnya terhadap
semua komponen masyarakat dan berbagai potensi pranata
sosial kemasyarakatan yang berkembang sehingga dapat
mempercepat pemberdayaan ADR di tengah masyarakat.

30

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN MASALAH

18.

Visi
Visi yang ditetapkan adalah sebagai berikut : Mewujudkan
pemberdayaan alternative dispute resolution (ADR) yang optimal di
wilayah Polda Jawa Timur melalui peningkatan kompetensi personil
dan pengembangan sismet yang sempurna sehingga akan dapat
menciptakan kepastian hukum yang tepat dalam rangka terciptanya
keadilan sosial.

19.

Misi
a.

Mewujudkan kompetensi personil yang mumpuni, professional,


dan berkualitas dalam melaksanakan ADR sehingga akan
mampu mendukung penegakan hukum yang berkeadilan di
tengah masyarakat.

b.

Mewujudkan sismet yang sempurna, baik, dan lengkap sehingga


akan mampu mendorong proses penegakan hukum yang
transparan

dan

akuntabel

dalam

rangka

meningkatkan

kepercayaan masyarakat.
20.

Tujuan
a.

Menciptakan sebuah penegakan hukum yang berkeadilan di


tengah masyarakat dengan menggali potensi kearifan lokal
masyarakat sehingga akan mampu menciptakan kepastian
hukum.

b.

Menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat dalam proses


penanganan berbagai perkara, tindak pidana, dan kejahatan
yang terjadi di tengah masyarakat dengan memberdayakan
masyarakat lokal.

31

21.

Sasaran
a.

Terciptanya pemahaman personil tentang mekanisme teknis


ADR sehingga dapat diterapkan dan diaplikasikan kedalam
proses penegakan hukum di tengah masyarakat.

b.

Terciptanya

kesadaran

masyarakat

dalam

menyelesaikan

masalah melalui mediasi Polri sehingga akan menciptakan


budaya penyelesaian masalah secara damai tanpa adanya
penggunaaan kekerasan dan anarkisme.
22.

Kebijakan
a.

Kebijakan pembinaan. Melakukan pemberdayaan terhadap


sumber daya organisasi, baik sumber daya personil, anggaran,
sarana prasarana dan sismet dalam rangka mendukung
optimalisasi pelaksanaan ADR di wilayah Polda Jawa Timur.

b.

Kebijakan operasional. Melakukan pemberdayaan

satuan

operasional / fungsional seperti reskrim, lantas, binmas,


intelkam, dan sabhara, dalam mendukung implementasi ADR di
wilayah Polda Jawa Timur.
23.

Strategi
a.

Strategi Jangka Pendek. Melakukan sosialisasi ADR kepada


semua personil Polda Jawa Timur secara rutin sehingga
terwujud pemahaman yang sama dalam melaksanakan ADR.

b.

Strategi Jangka Sedang. Melakukan operasionalisasi ADR


secara

konsisten

di

tengah

masyarakat

dengan

memberdayakan polsek, petugas polmas, dan babinkamtibmas


sebagai ujung tombak di lapangan.
c.

Strategi Jangka Panjang. Melakukan evaluasi pelaksanaan


ADR secara rutin dengan pemberian reward and punishment
sehingga ADR dapat dilaksanakan secara baik dan benar.

32

24.

Upaya
a.

Upaya Meningkatkan Kompetensi Personil / Anggota Dalam


Memberdayakan Mekanisme ADR
Upaya yang harus dilakukan oleh Kapolda dalam
meningkatkan kompetensi personil guna memberdayakan
mekanisme ADR di Polda Jawa Timur adalah dengan cara
antara lain :
1)

Pimpinan memberikan pengarahan kepada setiap personil


Polda tentang pengetahuan yang berhubungan dengan
ADR, seperti apa itu ADR, apa latar belakang munculnya,
bagaimana mekanisme kerjanya dan bagaimana posisi
Polri dalam mekanisme ADR tersebut dalam menghadapi
sengketa di tengah masyarakat.

2)

Pimpinan memberikan pembekalan kepada setiap personil


Polda tentang bagaimana langkah yang harus dilakukan
secara teknis oleh setiap personil dalam menerapkan
mekanisme

ADR,

bagaimana

persyaratan

ADR,

bagaimana mediator ADR, dan bagaimana mengikat


kesepakatan antara pihak yang bersengketa di tengah
masyarakat.
3)

Pimpinan memberikan sosialisasi kepada personil Polda


tentang tindak pidana atau masalah atau sengketa apa
saja yang dapat ditempuh melalui mekanisme ADR
sehingga ketika personil di lapangan dapat menerapkan
ADR secara detail, jelas dan tepat.

4)

Pimpinan

menyelenggarakan

simulasi

penerapan

mekanisme ADR dalam penanganan sengketa di tengah


masyarakat, misalnya sengketa tanah atau sengketa
konflik antar kampong, sehingga dapat melatih keahlian
personil dalam menerapkan mekanisme ADR di tengah
masyarakat.

33

5)

Pimpinan menyelenggarakan pelatihan kepada personil


Polda tentang bagaimana menggali potensi yang ada di
tengah masyarakat, seperti forum RW, forum desa,
Musyawarah adat, dan berbagai resolusi konflik yang ada
di tengah masyarakat untuk ditransformasikan menjadi
mekanisme ADR yang baik bagi terjadinya sengketa di
kemudian hari.

6)

Pimpinan melakukan pembinaan kepada setiap personil


Polda untuk memahami berbagai nilai kearifan lokal yang
berkembang di masyarakat, seperti adat istiadat, bahasa,
kebiasaan, kultur, dan budaya yang berkembang sehingga
setiap persoalan yang terjadi di tengah masyarakat dapat
didekati dengan pendekatan sosial budaya masyarakat /
pendekatan adat istiadat / pendekatan kearifan lokal,
sebagai bagian dari rekayasa sosial.

7)

Pimpinan memberikan pembinaan mental, rohani, dan


spiritual kepada setiap personil Polda agar supaya sikap,
perilaku, dan perbuatannya di tengah masyarakat diterima
oleh semua pihak sehingga menjadi modal untuk menjadi
mediator / penengah apabila terjadi sengketa antar pihak
di tengah masyarakat.

b.

Upaya

Meningkatkan

Sistem

Dan

Metode

Yang

Dikembangkan Dalam Memberdayakan ADR


Upaya yang harus dilakukan oleh Kapolda dalam
meningkatkan sistem dan metode yang dikembangkan Polda
Jawa Timur guna memberdayakan ADR, adalah dengan cara
antara lain :
1)

Pimpinan membuat regulasi berupa menyusun buku


petunjuk / SOP tentan penanganan sengketa melalui ADR
sehingga dapat dijadikan sebagai pegangan bagi setiap
personil dalam menerapkan ADR di tengah masyarakat.

34

2)

Pimpinan menyusun juklak / juknis / jukmin tata cara


teknis

penerapan

ADR

yang

menguraikan

tentang

pembagian kerja dan siapa berbuat apa serta bagaimana


cara mengerjakannya terhadap setiap personil sehingga
setiap personil jelas kewenangan, peran, tugas, dan
posisinya dalam mekanisme ADR.
3)

Pimpinan menekankan kepada setiap personil agar


supaya

mengutamakan

menegakan

hukum.

tindakan

Artinya,

preemptif

Jajaran

Polda

dalam
harus

melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada seluruh


komponen masyarakat agar supaya mereka memahami
dan menyadari permasalahan hukum secara menyeluruh
sehingga tidak melakukan protes, unjuk rasa, dan
demonstrasi ketika ada temannya atau kelompoknya yang
ditangkap

karena

melakukan

pelanggaran

hukum,

misalnya melakukan pemukulan, perjudian, atau tindakan


anarkisme lainnya, dengan catatan apabila cara-cara
mekanisme ADR tidak bisa lagi dilakukan.
4)

Kapolda menekankan kepada setiap personil agar supaya


mengutamakan tindakan preventif dalam menegakan
hukum. Artinya, jajaran Polda harus mengembangkan
program Polmas secara cepat di tengah masyarakat
sehingga

terbentuk

masyarakat

kewaspadaan

terhadap

dan

kepedulian

lingkungannya

berupa

pemberdayaan siskamling, ronda, pamswakarsa, dan lainlain dalam kerangka pencegahan tindak pidana. Apabila
terjadi sengketa, maka dikedepankan mekanisme ADR
sehingga setiap masalah diselesaikan dengan cara
musyawarah,

dan

kalau

mekanisme

ADR

tidak

menyelesaikan masalah maka baru ditempuh jalur hukum.


5)

Pimpinan

merancang

sistem

yang

mengedepankan

petugas polmas dengan perangkat FKPM dan BKPM nya

35

untuk

dijadikan

sebagai

ujung

tombak

dalam

pemberdayaan ADR di tengah masyarakat sehingga


setiap sengketa yang muncul dapat diselesaikan melalui
mediasi oleh petugas polmas.
6)

Pimpinan melakukan kemitraan / kerjasama / komunikasi /


koordinasi

dengan

berbagai

komponen

masyarakat

sehingga mekanisme ADR dapat diterapkan, antara lain,


sebagai berikut :
a)

Komponen masyarakat, seperti Ormas, dalam hal ini


misalnya,

NU

dan

Muhammadiyah,

telah

memberikan dukungan dan partisipasi yang sangat


besar kepada Polda dalam menciptakan kerukunan
antar umat beragama di wilayah Jawa Timur. NU dan
Muhammadiyah

selalu

menyelenggarakan

melakukan

sosialisasi

misi

sosial

pentingnya

hidup

rukun dan melakukan advokasi terhadap konflikkonflik yang berbau agama, sehingga mempengaruhi
Polda Jawa Timur dalam menegakan hukum.
b)

Komponen masyarakat, seperti LSM/NGO, misalnya


ICW, IPW, Walhi, Kontras, dan lain-lain, telah
memberikan bantuan yang sangat besar kepada
Polda dalam menangani konflik-konflik sosial di
tengah masyarakat sekaligus memberikan informasi,
data, fakta tentang potensi ancaman terhadap
Kamtibmas. Komunitas LSM selalu memberikan
masukan data dan informasi tentang berbagai hal,
baik dalam hal praktek korupsi, penyakit sosial di
tengah masyarakat, aksi kejahatan di jalanan, dan
premanisme di tempat umum sehingga dapat
dijadikan sebagai deteksi dini. Komunitas LSM juga
melakukan advokasi, mediasi, dan pendampingan

36

terhadap korban

konflik sosial

sehingga

akan

mendukung upaya Polri dalam menegakan hukum.


c)

Komponen masyarakat, seperti tokoh masyarakat


yang

ada

di

tingkat

RT

dan

RW

mampu

menyelenggarakan sistem keamanan lingkungan


(Siskamling) di daerahnya masing-masing sehingga
akan mendukung Polri (program Polmas) dalam
menciptakan

kamtibmas.

Siskamling

yang

merupakan wujud nyata kearifan lokal masyarakat


Indonesia akan menjadikan masyarakat sebagai
polisi di lingkungannya masing-masing, sehingga
akan sangat membantu Polri dalam menegakan
hukum.
d)

Komponen masyarakat, seperti tokoh adat, akan


mendukung dalam menyelesaikan persoalan dan
permasalahan masyarakat di wilayah pedalaman
atau wilayah pesisir yang masih memegang nilai-nilai
adat yang kuat. Melalui peranan tokoh adat, setiap
konflik sosial akan dapat diselesaikan secara adat,
penyakit adat di budaya masyarakat tertentu, seperti
perjudian, sabung ayam dan minum tuak, dapat
diselesaikan melalui eksistensi tokoh adat, sehingga
akan memberikan kontribusi yang besar kepada Polri
dalam memberdayakan mekanisme ADR.

e)

Komponen masyarakat, seperti tokoh agama, dapat


membantu memberdayakan ADR, khususnya dalam
penyelesaian konflik yang bersentuhan dengan
agama maupun dalam menengahi atau menangani
konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Dalam
masyarakat

yang

masih

primitif,

masyarakat

cenderung lebih percaya dan mengikuti perkataan


dan petuah para tokoh agama dibandingkan dengan

37

pejabat kelurahan atau desa setempat. Hal ini tentu


potensial untuk dimanfaatkan oleh Polri untuk
menegakan hukum melalui mekanisme ADR.
f)

Komponen masyarakat, seperti tokoh pemuda dan


organisasi kepemudaan, akan mampu bersinergi
dalam memberdayakan ADR. Tokoh pemuda yang
tergabung dalam KNPI, Kosgoro, FKPPI, MKGR,
Karang Taruna, dan para pemuda yang tergabung
dalam Banser NU, Pemuda Muhammadiyah, satgas
partai politik, dan satgas ormas lainnya, dapat
memberikan pengaruh positif dalam melakukan
pemberdayaan ADR dan menciptakan rasa aman
masyarakat dari aksi kejahatan, aksi narkoba, aksi
terorisme,

aksi

Miras,

dan

lain-lain,

sehingga

membantu tugas pokok Polri. Berbagai komunitas


dan organisasi kepemudaan dapat dijadikan sebagai
wahana untuk kegiatan yang positif di tengah
masyarakat sehingga akan menghindarkan dari aksi
anarkisme massa, kerusuhan massal, dan tawuran
antar siswa, pelajar maupun mahasiswa.

38

BAB VII
PENUTUP

25.

Kesimpulan
a.

Kompetensi personil / anggota dalam memahami, menguasai,


menghayati, dan menerapkan mekanisme ADR terhadap
sengketa yang terjadi di tengah masyarakat masih lemah
sehingga kurang mendukung kepastian hukum. Oleh karena
itu, langkah yang perlu dilakukan Kapolda adalah melakukan
pengarahan, pembekalan, sosialisasi, simulasi, komunikasi dan
koordinasi.

b.

Sistem

dan

metode

yang

dikembangkan

dalam

memberdayakan ADR masih belum lengkap dan belum


sempurna sehingga menyulitkan bagi setiap personil Polda
dalam menerapkan mekanisme ADR apabila terjadi sengketa di
tengah masyarakat. oleh karena itu, langkah yang perlu
dilakukan Kapolda adalah melakukan regulasi, komunikasi,
koordinasi, dan pembuatan piranti lunak / SOP lainnya.

26.

Rekomendasi
a.

Perlunya Mabes Polri membuat semacam buku pedoman /


petunjuk pelaksanaan / SOP mengenai tata cara teknis
penerapan ADR yang didalamnya berisi tentang bagaimana
proses penyelesaian sengketa di luar pengadilan, bagaimana
peran Polri, bagaimana agar bersifat mengikat kesepakatan
antar pihak, dan bagaimana kompetensi potensi lokal dalam
mekanisme ADR, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman
bagi Polda dalam memberdayakan ADR.

b.

Dalam merumuskan Alternative Dispute Resolution (ADR)


memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1) Membuat dan menyusun mekanisme penyelesaian secara

39

musyawarah

mufakat

melalui

Alternative

Dispute

Resolution (ADR) yang berisikan antara lain.


a)

Inisiatif penyelesaian masalah muncul dari kedua


belah pihak yang bersengketa.

b)

Kepentingan korban terpenuhi.

c)

Penyelesaian masalah didampingi oleh pihak ketiga


yang ditokohkan oleh masyarakat.

d)

Penyelesaian kasus melalui musyawarah mufakat


bersifat final

e)

Penyelesaian kasus merupakan crime clearance

2) Menyusun perkara - perkara yang menjadi ruang lingkup


penyelesaian secara musyawarah mufakat antara lain
tindak pidana ringan dan perkara yang tidak ringan tetapi
nilai ekonominya sangat murah dan perkara lainnya yang
menurut pihak pelapor dan terlapor telah memenuhi rasa
keadilan bagi keduanya.
3) Melaksanakan sosialisasi mekanisme penyelesaian perkara
secara

musyawarah

mufakat

Alternative

Dispute

Resolution (ADR).
4) Melaksanakan inventarisasi terhadap tokoh - tokoh (Tokoh
agama, Tokoh masyarakat, Tokoh Adat dan lainnya) yang
dapat

menjadi

mediator

dan

saksi

dalam

proses

penyelesaian masalah.
c.

Perlunya Pemda dan DPRD Propinsi Jawa Timur membuat dan


mengesahkan Perda Tentang Penyelesaian Sengketa Diluar
Pengadilan dengan mengundang dan meminta masukan dari
unsur CJS (Polda, kejari, dan pengadilan negeri) sehingga
akan menguatkan proses penegakan hukum di Indonesia.

40

DAFTAR PUSTAKA

1.

Widnyana, I Made. 2007. Arternatif Penyelesaian Sengketa (ADR).


Jakarta: Indonesia Business Law Center (IBLC) bekerjasama dengan
Kantor Hukum Gani Djemat & Partners.

2.

Hadimulyo.

1997.

Mempertimbangkan

ADR

(Kajian

Alternatif

Penyelesaian Sengketa di Luar Peradilan). Jakarta: Lembaga Studi


dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).
3.

Laporan Satuan Polda Jawa Timur, Tahun 2012

4.

Sadjiono, Polri Dalam Perkembangan Hukum Indonesia, Yogyakarta,


Laksbang Pressindo, 2008

5.

Sadjiono, Etika Profesi Hukum, Malang, UMM Press, 2006

6.

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/01/18/289202/polri-akuipelayanan-penegak-hukum-buruk/

7.

http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2021924penanganan-masalah-melalui-alternative-dispute/

8.

http://fhunipassingaraja.blogspot.com/2010/02/pengaturan-alternativedispute.html

9.

http://www.kesimpulan.com/2009/04/alternatif-penyelesaiansengketa.html