Anda di halaman 1dari 27

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH NAD
POLRES BANDA ACEH
`

NASKAH KARYA PERORANGAN (NKP)


JUDUL :

OPTIMALISASI KEGIATAN PATROLI WILAYAH MELALUI


SINERGITAS KEPOLISIAN YANG PROAKTIF DALAM
MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA
POLSEK ULEE KARENG

PENULIS :
Nama
Jabatan

: AKP M RIZKY CHOLID


: KAPOLSEK ULEE KARENG

Jambi,

Maret 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar belakang
Dalam era globalisasi dewasa saat ini salah satau tantangan besar
yang dihadapi oleh Kepolisian negara republik indonesia bagaimana
menampilkan anggota polri yang profesional, memiliki etos kerja yang tinggi,
keunggulan kompetitif, dan kemampuan memegang teguh etika birokrasi
dalam menjalankan tugas dan fungsinya dan memenuhi aspirasi masyarakat
serta terbebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Tantangan tersebut
merupakan hal yang beralasan mengingat secara empirik masyarakat
menginginkan anggota Polri mampu menjalankan tugas pokoknya, bekerja
secara optimal dan akhirnya memberikan pelayanan yang terbaik kepada
masyarakat.
Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan pada masa
reformasi saat ini telah dapat memberikan manfaat dan kemajuankemajuan yang cukup besar serta dapat dirasakan oleh masyarakat luas,
namun dengan kemajuan-kemajuan tersebut muncul pula tantangan dan
dampak baru yang harus dihadapi. Pembangunan nasional Bangsa
Indonesia dewasa ini menitikberatkan pada pembangunan di bidang
ekonomi walaupun tidak serta merta meninggalkan pembangunan bidang
lainnya dan disisi lain kemajuan sektor industri serta perdagangan
maupun pengaruh-pengaruh hasil pembangunan di bidang lainnya telah
mengakibatkan

meningkatnya kebutuhan ekonomi, namun dalam

perkembangannnya
terutama

menengah

menjadikan
ke

bawah

sebuah
akan

tuntutan
berusaha

dari

masyarakat

untuk

memenuhi

kebutuhan dasar tersebut dengan berbagai cara. Hal ini menimbulakan


permasalahan sosial dengan munculnya berbagai tindak kejahatan di
tengah masyarakat.
Polsek sebagai ujung tombak pelayanan Polri dalam melaksanakan
tugas pokok Polri sebagaimana diatur dalam Pasal 13 Undang-Undang No 2
Tahun 2002 tentang Polri adalah untuk memelihara keamanan dan ketertiban
2

masyarakat,

menegakan

hukum,

dan

memberikan

perlindungan,

pengayoman serta pelayanan kepada masyarakat. Tugas pokok dilaksanakan


oleh fungsi utama kepolisan yakni fungsi preemtif, fungsi preventif dan fungsi
represif. Pemeliharaan kamtibmas pada hakekatnya merupakan rangkaian
upaya pemeliharaan ketertiban umum, penanggulangan kejahatan dan
perlindungan warga terhadap kejahatan dan bencana alam.
Pelaksanaan tugas pokok Polri ini, dibutuhkan profesionalisme dari
anggota Polri,

Profesionalisme ini sangat ditentukan oleh kemampuan

seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan menurut bidang tugas dan


tingkatannya masing-masing. Hasil dari pekerjaan itu lebih ditinjau dari segala
segi sesuai porsi, objek, bersifat terus-menerus dalam situasi dan kondisi
yang bagaimanapun serta jangka waktu penyelesaian pekerjaan yang relatif
singkat (Suit Almasdi, 2000 : 99). Hal diatas dipertegas kembali oleh Thoha
(2000 : 1) bahwa untuk mempertahankan kehidupan dan kedinamisan
organisasi, setiap organisasi mau tidak mau harus adaptif terhadap
perubahan organisasi. Birokrasi yang mampu bersaing dimasa mendatang
adalah birokrasi yang memiliki sumberdaya manusia berbasis pengetahuan
dengan memiliki berbagai keterampilan dan keahlian.
Salah satu harapan masyarakat adalah menginginkan adanya rasa
aman yang terdapat di lingkungannya. Dimana kehadiran secara fisik anggota
Polri di tengah masyarakat sangat dibutuhkan. Melalui kegiatan patroli
Polsek, baik dengan berjalan kaki, kendaraan roda 2 maupun roda 4
merupakan kegiatan Polsek yang mengedepankan dalam upaya Preventif
untuk menjaga kamtibmas. Manfaat yang dapat ditimbulkan dengan adanya
kehadiran anggota Polri ditengah masyarakat adalah meniadakan PH, AF dan
Gangguan Nyata. hal ini juga akan mencegah bertemunya niat dan
kesempatan untuk melakukan kejahatan.
Namun dalam kenyataannya hal tersebut tidaklah mudah untuk
terbentuk dengan sendirinya. Banyak hal yang terjadi malah sebaliknya,
dimana banyak anggota Polri kurang mampu dalam menyelenggarakan
kegiatan pelayanan kepada masyarakat dengan kredibilitas yang tinggi,
sehinggga proses pelayanan yang diberikan kepada masyarakat menjadi
relatif kurang optimal. Berbagai permasalahan yang menjadikan kendala
dalam setiap pelaksanaan alangkah baiknya untuk disikapi sebagai
3

kekurangan dari organisasi melalui terobosan alternatif yang mampu menjadi


sebuah solusi sebuah permasalahan tersebut. Dalam melayani masyarakat,
tidak bisa dihindarkan banyak berbagai komplain dari masyarakat yang
memberikan masukan bahwa dengan kondisi pelayanan yang relatif belum
memuaskan. Hal ini terutama berkaitan dengan baik buruknya sumber daya
polri yang profesional.

2.

Permasalahan
Dari uraian latar belakang tersebut, dapat dirumuskan suatu pokok
permasalahan dalam penulisan NKP ini adalah: OPTIMALISASI KEGIATAN
PATROLI

WILAYAH

MELALUI

SINERGITAS

KEPOLISIAN

YANG

PROAKTIF DALAM MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA POLSEK ULEE


KARENG.
3.

Persoalan
Dari permasalahan tersebut di atas, maka dapat diuraikan beberapa
pokok-pokok persoalan sebagai berikut :
a. Kurangnya kemampuan anggota Sabhara Polsek dalam melaksanakan
tugas pokok.
b. Kurangnya dukungan anggaran dalam pelaksanaan tugas Patroli di
tingkat Polsek.
c. Belum optimalnya peran anggota Sabhara dalam pelaksanaan Patroli
wilayah..

4.

Ruang lingkup
Ruang lingkup pembahasan dalam NKP ini dibatasi pada peranan Unit
Patroli Sabhara Polsek Ulee Kareng dalam rangka mewujudkan pelayanan
prima kepolisian.

5.

Maksud dan tujuan


a.

Maksud

Maksud dari penulisan NKP ini adalah untuk memenuhi


persyaratan seleksi masuk pendidikan STIK-PTIK Polri dan sekaligus
sebagai

bahan

referensi

bagi

kesatuan

dalam

meningkatkan

kemampuan anggota Polsek.


b.

Tujuan
Tujuan dari penulisan NKP ini adalah sebagai suatu sumbangan
pemikiran

dan

masukan

bagi

Pimpinan

dalam

meningkatkan

kemampuan dan profesionalisme anggota satuan lalu lintas dalam


pelaksanaan tugas pokok guna mewujudkan pelayanan prima
kepolisian.
6.

Metode dan pendekatan


a.

Metode
Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode deskriptif
analisis, yaitu berdasarkan data-data yang ada pada Polsek Ulee
Kareng, kemudian dibahas secara deduktif guna menemukan rumusan
masalah secara umum dan dianalisis ke hal yang lebih konseptual
dalam pemecahan masalah yang kemudian diambil kesimpulan secara
khusus mengenai upaya yang harus dilakukan.

b.

Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan ini adalah
menggunakan pendekatan tugas, dimana penulis mengacu pada
literatur dan pengalaman pada saat berdinas sebagai Kapolsek Ulee
Kareng.

7.

Sistematika
BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

LANDASAN TEORI

BAB III

KONDISI ANGGOTA POLSEK SAAT INI

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

BAB V

KONDISI ANGGOTA POLSEK YANG DIHARAPKAN

BAB VI

PENINGKATAN KEMAMPUAN ANGGOTA POLSEK DALAM


DALAM PELAKSANAAN TUGAS POKOK

BAB VII

PENUTUP
5

8.

PENGERTIAN-PENGERTIAN
1) Peranan adalah Peranan berasal dari kata peran. Peran memiliki makna
yaitu

seperangkat

tingkat

diharapkan

yang

dimiliki

oleh

yang

berkedudukan di masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2007:


845) peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilksanakan.
2) Pengamanan adalah segala usaha dan kegiatan melindungi dan
mengamankan suatu objek, manusia, kegiatan dari setiap gangguan
keamanan dan ketertiban serta pelanggaran hukum (umumnya preventif).
3) Patroli adalah suatu bentuk kegiatan petugas kepolisian yang dilakukan
secara dinamis dari sutau tempat ke tempat tertentu untuk mencegah
terjadinya suatu tindak kriminal, memberikan rasa aman, pelindung dan
pengayom kepada masyarakat. Contoh :Patroli jalan kaki, patroli Ranmor
R-2, patroli Ranmor R-4.
4) Peningkatan adalah proses, cara perbuatan meningkatkan (usaha,
kegiatan, dsb). (Kamus Bahasa Indonesia Online).
5) Kemampuan (Ability) adalah kecakapan atau potensi seseorang individu
untuk menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerrjakan beragam
tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan
seseorang.
6) Profesionalisme Polri adalah dasardasar sikap, cara berfikir,
tindakan, perilaku yang dilandasi oleh ilmu kepolisian yang
diabdikan pada kemanusiaan dalam wujud terselenggaranya
keamanan serta tegaknya kebenaran dan keadilan.
7) Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatankegiatan pada satuan yang terpisah untuk mencapai tujuan organisasi
secara efektif dan efisien.
8) Polsek adalah unsur pelaksanan tugas kewilayahan yang berada dibawah
Kapolres yang bertugas menyelenggarakan tugas pokok Polri dalam
pemeliharaan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum dan
pemberian perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat
serta tugas-tugas Polri lain dalam wilayah hukumnya, sesuai ketentuan
hukum dan peraturan serta kebijakan yang berlaku dalam organisasi Polri.
Polsek dipimpin oleh Kapolsek, yang bertanggung jawab kepada Kapolres

BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
1.

Konsep Analisis SWOT


Analisis SWOT merupakan suatu alat perencanaan strategik yang penting
untuk membantu perencana untuk membandingkan kekuatan dan kelemahan
internal oerganisasi dengan kesempatan dan ancaman dari ekternal. Teori
analisis swot menurut Kurtz (2008;45) strenghts (kekuatan), opportunities
(peluang), weaknesses (kelemahan), dan Threats (ancaman), Lebih lanjut
Kurtz menjelaskan
kekuatan,

langkah-langkah

mengidentifikasi

dari

kelemahan,

SWOT yaitu
mengidentifikasi

mengidentifikasi
peluang

dan

mengidentifikasi ancaman. Preoses pengambilan keputusan strategis berkaitan


dengan pengembangan misi, tujuan dan menganalisis faktor strategis
organisasi (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman) yang disebut analisi
SWOT (Rangkuti, 2009;19). Ada empat komponen dalam Analisis SWOT yang
dijelaskan sebagai berikut:
1. Strengths (kekuatan) merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam
organisasi, kekuatan yang dianalisis merupakan faktor internal organisasi.
2. Weakness (kelemahan) merupakan kondisi kelemahan yang terdapat
dalam organisasi, kelemahan yang dianalisis juga merupakan faktor
internal organisasi
3. Opportunities (peluang) merupakan kondisi eksternal organisasi yang
memberikan peluang kepada organisasi dalam rangka mengmbangkan
diri.
4. Threats (ancaman) merupakan kondisi eksternal yang mengancam
aktivitas

organisasi.

Ancaman

ini

juga

akan

berdampak

pada

keberlangsungan hidup organisasi.


2.

Teori Manajemen Goerge Terry


Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan
bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang ke arah tujuantujuan organisasional atau maksud-maksud nyata. Manajemen adalah ilmu
pengetahuan maupun Seni (Goerge Teary, 2012:2). Manajemen sebagai ilmu
pengetahuan yang menjelaskan manajemen dengan pengacuan pada
kebenaran-kebenaran umum. Manajemen sebagai seni dimana manajemen
8

merupakan kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan, dan


pelajaran, serta kemampuan menggunakan pengetahuan manajemen.
Dalam manajemen terdapat lima fungsi pokok yang membentuk proses
unik dari manajemen. Manajer dalam melaksanakan pekerjaannya harus
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang dinamakan fungsi-fungsi
manajemen yang terdiri dari:
1) Planning merupakan kegiatan yang menentukan tujuan-tujuan yang
hendak dicapai selama suatu masa yang akan datang dan apa yang
harus diperbuat agar dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut.
2) Organizing merupakan kegiatan untuk mengelompokan

dan

menentukan berbagai kegiatan penting dan memberikan kekuasaan


untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan itu.
3) Staffing merupakan kegiatan untuk menentukan keperluan-keperluan
sumber

daya

manusia,

pengerahan,

penyaringan,

latihan

dan

pengembangan tenaga kerja.


4) Motivating merupakan kegiatan untuk mengarahkan atau menyalurkan
perilaku manusia ke arah tujuan-tujuan.
5) Controlling merupakan kegiatan untuk mengukur pelaksanaan dengan
tujuan-tujuan menentukan sebab-sebab penyimpangan-penyimpangan
dan mengambil tindakan-tindakan korektif dimana perlu.
3.

Teori Manajemen Strategi


Manajemen strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan
pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai
penetapan

cara

melaksanakannya,

yang

dibuat

oleh

pimpinan

dan

diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk


mencapai tujuan.Pengertian Manajemen Strategik menurut beberapa ahli
(dalam Aulia,2010) adalah sebagai berikut:
1) Menurut Pearch dan Robinson (1997) dikatakan bahwa manajemen
strategik adalah kumpulan dan tindakan yang menghasilkan perumusan
(formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang
dirancang untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi.
2) Menurut Nawawi adalah perencanaan berskala

besar

(disebut

perencanaan strategi) yang berorientasi pada jangkauan masa depan


yang jauh (disebut visi), dan ditetapkan sebagai keputusan pimpinan
9

tertinggi

(keputusan

yang

bersifat mendasar dan

prinsipil),

agar

memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut misi), dalam


usaha

menghasilkan

sesuatu

(perencanaan

operaional

untuk

menghasilkan barang dan atau jasa serta pelayanan) yang berkualitas,


dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut strategis)
dan berbagai sasaran (tujuan operasional) organsasi.
Manajemen strategik dapat dipandang sebagai hal yang mencakup tiga
macam elemen utama. Terdapat adanya analisisstrategik dimana penyusun
strategi (strategis) yang bersangkutan berupayauntuk memahami posisi
strategik organisasi yang bersangkutan. Terdapatpula adanya pilihan strategik
yang berhubungan dengan perumusan anekamacam arah tindakan, evaluasi,
dan pilihan antara mereka. Akhirnyaterdapat pula implementasi strategi yang
berhubungan

denganmerencanakan

bagaimana

pilihan

strategi

dapat

dilaksanakan. Adapun fokus manajemen strategik adalah pada lingkungan


eksternaldan

pada

operasi-operasi

pada

masa

datang.

Manajemen

strategikmendeterminasi arah jangka panjang organisasi yang bersangkutan


danmenghubungkan

sumber-sumber

daya

organisasi

yang

ada

denganpeluang-peluang pada lingkungan yang lebih besar.


4.

Teori Profesionalisme
Menurut Kunarto

bahwa

Profesionalisme

Polri

adalah

dasardasar sikap, cara berfikir, tindakan, perilaku yang dilandasi


oleh ilmu kepolisian yang diabdikan pada kemanusiaan dalam wujud
terselenggaranya

keamanan

serta

tegaknya

kebenaran

dan

keadilan.
Profesionalisme aparat penegak hukum adalah kemampuan
dan ketrampilan serta loyalitas setiap aparat penegak hukum dalam
menerapkan

nilai-nilai

kebenaran

baik

prosedural

maupun

substansial yang diwujudkan dalam tugas pokok penegakan hukum


guna melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat yang
berlandaskan suatu pengetahuan, peraturan perundang-undangan
dan HAM.
5. Teori Pelayanan Prima
10

Perkembangan tuntutan pelayanan saat ini adalah pelayanan


prima atau pelayanan yang dapat memenuhi harapan masyarakat
atau

lebih

baik

dari

standar

dan

asas-asas

pelayanan

publik/pelanggan. Dalam organisasi publik hal ini sebenarnya telah


menjadi tuntutan sejak munculnya teori negara baru (Frederickson)
tentang azas keadilan. Oleh sebab itu dalam pelayanan prima pun
perlu adanya

standar pelayanan sebagai ukuran yang telah

ditentukan untuk pembakuan pelayanan yang baik dan berkeadilan.


Bila seluruh pelayanan telah memiliki standar maka akan lebih
mudah memberikan pelayanan yang lebih baik, sehingga secara
kontinyu akan dapat disebut prima.
Sementara itu pelayanan prima di sektor seringkali terjadi
adanya kesenjangan alam kualitas pelayanan (Service Quality
Concept). Konsep ini memformulasikan dalam tingkat kualitas
pelayanan yang diinginkan oleh pelanggan. Terdapat 5 (lima)
macam gap/kesenjangan yang menjadi ukuran kepuasan.
Gap 1: Tidak memahami kehendak konsumen. Gap ini terjadi
akibat pihak manajemen tidak dapat merasakan secara tepat apa
yang dikehendaki atau menjadi pertimbangan konsumen. Hal ini
disebabkan kurangnya riset konsumen (masyarakat/pelanggan),
kurang interaksi antara manajemen dan konsumen, serta terlalu
banyak level of management antara management puncak dan
pelaksana yang berhubungan langsung dengan pelanggan.
Gap 2: Penerapan standar kualitas tidak tepat. Gap ini
menunjukkan

adanya

perbedaan

persepsi

manajemen

dan

penetapan spesifikasi standar pelayanan untuk memenuhi kehendak


konsumen. Hal ini disebabkan kurang komitmen pelayanan, kurang
tepatnya hasil studi kelayakan, dan tidak tepatnya standarisasi
tugas pelaksanan pelayanan.
Gap 3: Kurangnya pemenuhan pelayanan. Gap ini terjadi jika
pelaksana tidak mampu menyampaikan pelayanan sebagaimana
mestinya

seperti

yang

telah

ditetapkan

manajemen.

Hal

ini
11

disebabkan kurangnya pelatihan bagi pelaksana atau beban kerja


yang terlalu berat serta peralatan kerja yang kurang tepat.
Gap 4: Pelayanan tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Harapan

konsumen

juga

dipengaruhi

oleh

janji-janji

yang

disampaikan pada saat terjadi komunikasi. Gap ini timbul jika


pelayanan yang disampaikan ternyata tidak sesuai dengan yang
dijanjikan. Hal ini bisa diakibatkan kurangnya komunikasi horizontal
antara sesama pelaksana.
Gap 5: Pelayanan yang tidak memuaskan. Terjadi apabila
pelayanan yang dirasakan konsumen tidak seperti yang diharapkan.
Penyebabnya adalah satu atau lebih gabungan gap-gap lain. Gap 5
ini dapat diukur dengan menggunakan dimensi kualitas layanan
yaitu Tangible, Empathy, Reability, Responsiveness, dan Assurance.
Kelima dimensi tersebut di atas dapat digunakan untuk mengukur
kualitas

layanan

yang

diberikan

pada

pelanggan/masyarakat.

Indikator ini juga dapat digunakan sebagai indikator akuntabilitas


layanan secara konkrit.

12

BAB III
KONDISI POLSEK SAAT INI
Tugas dan fungsi satuan lalu lintas diatur dalam pasal 59 Perkap No 23
Tahun 2010 tentang susunan tata kerja dan organisasi tingkat Polres dan
Polsek. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut diperlukan dukungan
dari fungsi pembinaan yakni sumber daya manusia, dukungan anggaran, dan
dukungan sarana dan prasarana serta metode yang digunakan dalam
melaksanakan tugas dan fungsi tersebut. Tugas dan fungsi Unit patroli
Sabhara belum dapat berjalan secara optimal karena kurangnya dukungan
dari fungsi pembinaan. Permasalahan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Kurangnya dukungan anggota Polsek
1) Jumlah anggota satuan lalu lintas yang masih minim hanya
berjumlah 55 orang. Jumlah personil ini terbagai dalam unit yang
ada di satuan lalu lintas.
2) Kemampuan anggota yang belum memenuhi standar karena sedikit
anggota yang mengikuti pelatihan Patroli Sabhara.
3) Kurangnya bimbingan dan arahan terhadap anggota sehingga
anggota dalam melaksanakan tugasnya belum terarah dan bahkan
merasa diabaikan. Hal ini dapat mengurangi motivasi anggota
dalam bekerja.
4) Jumlah anggota yang sedikit akan berdampak pada beban kerja
yang tinggi sehingga akan mengakibatkan kejenuhan kepada
anggota.
b. Kurangnya dukungan anggaran
Anggaran memiliki peranan yang sangat penting dalam
menentukan

keberhasilan

tugas

pelaksananan

tugas

personil

anggoota Patroli Sabhara Polsek, karena dengan anggaran dan biaya


operasional yang memadai akan menimbulkan semangat untuk
bekerja dengan baik. Kurangnya perhatian Polri terhadap anggaran
dapat menimbulkan potensi adanya penyimpangan dari anggota dan
bisa menimbulkan menurunnya kinerja personil.
c. Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai

13

Peranan sarana dan prasarana adalah penyediaan untuk


mewujudkan materil, fasilitas dan jasa untuk mendukung kebutuhan
sarana mobilitas, komlek, peralatan khas kepolisian yang berteknologi
kepolisian dan fasilitas markas atau ruang kerja atau tempat tinggal
serta kesejahteraan personil. Hal ini merupakan salah satu fungsi
pembinaan

yang

memiliki

peranan

dalam

mendukung

fungsi

operasional. Dukungan sarana dan prasarana di Polsek belum optimal


hal ini dapat dilihat masih minimnya pengadaan untuk perlengkapan
personil polrsi sehingga para anggota masih melakukan pengadaan
sendiri.

Padahal

pengadaan

untuk

perlengkapan

sendiri

akan

menimbulkan dilema bagi anggota polri.


d. Belum optimalnya metode yang digunakan
Metode dalam pelaksanaan tugas dan fungsi sabhara di polsek
hanya mengembangkan metode yang sudah ada secara turun temurun
sesuai dengan petunjuk teknis atau peraturan lain yang ditetapkan. ini
disebabkan kurangnya pelatihan dan sosialisasi tentang metode dan
petunjuk teknis sesuai dengan perkembangan pada saat ini yang
disesuaikan dengan perkembangan masyarakat sehingga dalam
pelaksanaan tugasnya lebih efektif dan efisien.

14

BAB

IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


Untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam meningkatkan
profesionalisme dalam mewujudkan pelayanan prima kepolisian, maka dapat
dijelaskan berdasarkan teori analisis SWOT menurut Kurtz (2008;45) strenghts
(kekuatan),

opportunities (peluang), weaknesses (kelemahan),

dan Threats

(ancaman), yakni sebagai berikut :


1.

Faktor Internal.
a.

1)

Kekuatan (Strengths).

Adanya Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara


Republik Indonesia, dimana dalam pasal 13 secara eksplisit menyebutkan
tugas pokok Polri dalam memelihara kemanan dan ketertiban masyarakat
serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kemudian dijabarkan

2)

dalam pasal 14 dan 15 mengenai tugas dan wewenang Polri.


Adanya Peraturan Kapolri No. 23 tahun 2010 tentang susunan organisasi dan
tata kerja anggota Polri, yang mengatur secara rinci tugas dan fungsi satuan

3)

lalu lintas.
Motivasi dan

dedikasi

serta

loyalitas

anggota

terhadap

tugas

dan

tanggungjawab tugas pokok kepolisian masih terpelihara dengan upaya


pemberian tanggung jawab Perwira sebagai pengendali lapangan.
b.

Kelemahan (Weaknesses).
1)

Terbatasnya

anggaran

Polsek

terutama

bidang

Patroli

dibandingkan dengan biaya operasional guna terciptanya


2)

keamanan dan ketertiban masyarakat.


Masih terbatasnya alat khusus dan sarana komunikasi yang
mampu

menghubungkan

memberikan

percepatan

setiap

anggota

penyampaian

yang

informasi

mampu
dalam

bertindak di lapangan.

2.

Faktor Eksternal.
a.

Peluang (Opportunities).

15

1) Situasi kamtibmas di wilayah hkum polsek yang kondusif


memberikan dukungan kelancaran pada pelaksanaan tugas
pokok Polri.
2) Polri memperoleh dukungan sarana dan prasarana dari
pemerintah daerah dalam melaksanakan tugas pokok sehingga
membantu terciptanya pelayanan prima kepolisian.
3) Kepedulian masyarakat dalam memberikan informasi pada
setiap PH dan kejadian kriminalitas ditengah masyarakat
sehingga dapat dijadikan bahan masukan bagi Polsek untuk
memploting wilayah yang dilalui oleh Patroli Polsek.
b.
1)

Ancaman (Threats).

Adanya ancaman aksi Gam yang menjadi bahaya laten bagi keutuhan negara
republik Indonesia yang sampai saat ini menunggu kelengahan dari anggota

2)

Polri.
Fasilitas lampu penerangan jalan yang terletak di persawahan dan
perkebunan pedesaan menjadikan daerah tersebut memiliki PH yang tinggi
bila tidak ditindaklanjuti akan menjadi gangguan nyata atau tindak
kriminalitas.

16

BAB V
KONDISI UNIT PATROLI YANG DIHARAPKAN

Fungsi Sabhara merupakan sebagian Fungsi Kepolisian yang bersifat


preventif yang memerlukan keahlian dan keterampilan khusus yang telah
dikembangkan lagi mengingat masing-masing tugas yang tergabung dalam fungsi
Samapta perlu menyesuaikan dengan tuntutan perkembangan masyarakat.
Perumusan dan pengembangan Fungsi Samapta meliputi pelaksanaan tugas polisi
umum, menyangkut segala upaya pekerjaan dan kegiatan pengaturan, penjagaan,
pengawalan, patroli, pengamanan terhadap hak Penyampaian Pendapat Dimuka
Umum (PPDU), Pembinaan polisi pariwisata, pembinaan badan usaha jasa
pengamanan ( BUJP ), SAR terbatas, Tptkp, Tipiring dan Gak Perda, pengendalian
massa ( dalmas ), negosiasi, pengamanan terhadap proyek vital / obyek vital dan
pemberdayaan

masyarakat,

pemberian

bantuan

satwa

untuk

kepentingan

perlindungan, pengayoman dan pelayanan. pertolongan dan penertiban masyarakat.


Giat bergerak/dinamis dari suatu tempat ke tempat tertentu yang dilakukan
oleh Petugas guna mencegah terjadinya suatu tindak kriminal, memberikan rasa
aman, pelindung dan pengayom kepada masyarakat yang bersifat Multifungsi.
Peningkatan kemampuan anggota Polsek dalam pelaksanaan patroli pengamanan
wilayah perlu mendapat dukungan sebagai berikut:

1.

Dukungan Sumber daya manusia.


Dalam melaksanakan tugas pokok demi terwujudnya pelayanan prima
diharapkan adanya dukungan sumber daya manusia secara optimal baik dari
segi kuantitas maupun kualitas antara lain sebagai berikut:
a.

Kekuatan personil Polsek yang terbatas secara kuantitas diharapkan

b.

adanya penambahan personil.


Peningkatan kualitas anggota Polsek dengan memberikan pelatihan
dalam meningkatkan kemampuan dan pelaksanaan pendidikan

c.

kejuruan guna meningkatkan pengetahuan.


Peningkatan kualitas dalam hal budi pekerti baik guna memperbaiki
tingkah laku personil.
17

2.

Adanya dukungan anggaran.


Dukungan

anggaran

menjadi

salah

satu

faktor

pendukung

meningkatkan kinerja anggota yang sedang bertugas dalam melaksanakan


tugas pelayanan, diharapkan memiliki anggaran yang cukup.
Kegiatan patroli pengamanan wilayah merupakan kegiatan rutin
kepolisian yang sudah terdaftar di pagu polsek dengan demikian anggaran
patroli pengaman didukung oleh anggaran Polri dalam menciptakan
keamanan dan ketertiban masyarakat. Anggaran menjadi sangat penting
karena salah satu fungsi anggaran adalah untuk memberikan motivasi
kepada anggota dalam melaksanakan pengamanan. Dengan mengetahui
anggaran pengamanan yang memadai, maka anggota dapat melaksanakan
tugas pengamanan dengan optimal.
3.

Dukungan sarana dan prasarana yang memadai


Sarana dan prasarana diperlukan untuk mendukung pelaksanaan
patroli keamanan. Seperti halnya dengan anggaran, sarana dan prasara
berperan untuk memberikan dukungan dalam pelaksanaan tugas patroli.
Untuk mencapai tujuan patroli pengamanan yang terlah ditetapkan maka
diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang
dibutuhkan berkaitan dengan pelaksanaan tugas patroli adalah mobil patroli
Polsek, Sepeda motor patroli polsek, kit TPTKP, dan sebagainya.

4.

Metode dalam pelaksanaan tugas Patroli.


Peranan anggota Polsek dalam melaksanakan pengamanan sesuai
dengan tugas dan fungsi pokoknya. Tugas dan fungsi pokok fungsi Sabhara
secara umum adalah menjamin kemanan dan ketertiban masyarakat.
Peranan anggota polsek perlu untuk ditingkatkan dalam rangka mencapai
tujuan dari pengamanan wilayah. Dengan demikian diperlukan metode yang
memadai dalam pelaksanaan pengamanan. Metode dalam meningkatkan
peranan dan sinergitas pelaksanaan pengamanan yakni sebagai berikut:
a. Adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) tugas Patroli pengamanan
yang dipahami oleh setiap anggota.

18

b. Meningkatkan kemampuan teknis anggota Polsek melalui kegiatan


pelatihan dan simulasi untuk memberikan bekal kepada anggota dalam
melaksanakan tugas.
c. Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas anggota di lapangan sebagai
kontrol untuk mendeteksi kesalahan untuk segera dapat dilakukan
perbaikan.
d. Hubungan tata cara kerja (HTCK) dengan fungsi operasional lainnya
dalam pelaksanaan tugas pengamanan yang komprehensif.

19

20

BAB VI
UPAYA MENINGKATKAN PROFESIONALISME ANGGOTA POLSEK DALAM
MEWUJUDKAN PELAYANAN PRIMA
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme anggota dalam pelaksanaan
tugas pokok guna menciptakan pelayanan prima, maka perlu mengoptimalkan
kekuatan internal yang yang dimiliki oleh polsek dan peluang yang ada dari eksternal
Polres berupa lingkungan dan masyarakat. Kekuatan yang dimiliki adalah
kewenangan Polri sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No 2 Tahun 2002
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas dan dedikasi serta komitmen setiap
anggota dalam mewjudkan pelayanan prima. Sedangkan peluang yang ada adalah
terbukanya peluang untuk mendapat dukungan dari instansi yang terkait dan
masyarakat untuk sama.
Berdasarkan faktor-faktor pendukung dan peluang yang dimiliki tersebut
maka dapat disusun perencaaan strategis dalam mengoptimalkan profesionalisme
anggota polsek dengan langkah-langkah sebagai berikut: visi, misi, tujuan, sasaran,
kebijakan, strategi dan action plan. Masing-masing langkah tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.

Visi dan Misi


Visi adalah gambaran kondisi masa depan yang belum nampak sekarang,
yang merupakan konsepsi yang dapat dibaca oleh setiap orang. Konsep
dalam visi harus jelas untuk dapat dipahami sehingga setiap orang dalam
organisasi dapat menterjemahkan tindakannya berdasarkan visi organisasi.
Dengan demikian visi pelaksanaan pelayanan prima yaitu mewujudkan
pelayan prima demi kepuasan masyarakat yang tercipta rasa aman bagi
masyarakat dengan kehadiran Polri ditengah masyarakat.
Dari visi tersebut kemudian disusun misi yang merupakan penjabaran
mengenai visi tersebut. Misi dalam dalam pelaksanaan pelayanan prima
adalah:
a. Menyelenggarakan pelayanan masyarakat prima dengan memberikan
pelayanan yang terbaik kepada masyarakat secara profesional.
b. Menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan guna meningkatkan
kemampuan, pengetahuan, dan tingkah laku anggota Polsek dalam
rangka menyiapkan anggota yang profesional dan bermoral.
21

c. Menciptakan rasa aman dan tentram di tengah masyarakat melalui


kehadiran polisi di tengah masyarakat.
d. Menghilangkan PH guna mencegah terjadinya tindak kriminalitas
2.

ditengah masyarakat.
Tujuan
Tujuan dapat diartikan sebagai kondisi jangka panjang yang diinginkan, yang
dinyatakan dalam istilah yang umum dan kualitatif. Tujuan ini diturunkan dari
misi yang telah disusun.
Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan pelayanan prima kepolisian
adalah:
a. Terselenggaranya pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat
sehingga memberikan kepuasan rasa aman dan tenteram terhadap
masyarakat.
b. Meningkatkan kemampuan dan profesionalisme anggota Polri yang
mandiri dan bermoral dalam melayani dan mengayomi masyarakat.
c. Meningkatkan kerjasama dan koordinasi yang proaktif dengan instansi
yang terkait dalam mewujudkan pelayanan prima guna tercipta sinergitas
polisional.

3.

Sasaran
Sasaran merupakan konsentrasi atau arah dari pelayanan prima kepolisian.
Sasaran yang ditetapkan pelaksanaan pengamanan wilayah Polsek melalui
kegiatan Patroli di wilayah polsek dengan mengutamakan keamanan kepada
empat hal, yaitu pengamanan orang, benda-benda, lokasi, dan pengamanan
kegiatan masyarakat.

4.

Kebijakan
Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal
organisasi, yang bersifat mengikat, yang mengatur perilaku dalam mencapai
suatu tujuan. Kebijakan akan menjadi rujukan utama bagi anggota dalam
melaksanakan

patroli

pengamanan

wilayah.

Kebijakan

Polri

dalam

pengamanan kepada masyarakat adalah Penguatan kemampuan personil


untuk mendukung pelaksanaan patroli pengamanan baik secara kualitas
maupun kuantitas sebagai landasan profesional.
5.

Strategi
Untuk mencapai kebijakan tersebut makan perlu ditetapkan strategi. Strategi
yang perlu ditetapkan adalah sebagai berikut:
22

a. Meningkatkan kemampuan operasional personil dalam melaksanakan


pengamanan dengan memberikan pelatihan dan simulasi, sehingga
anggota dilapangan dapat melaksanakan tugas dengan profesional.
b. Strategi melalui pembinaan personil dengan memberikan motivasi melalui
pemberian insentif dari anggaran pengamanan yang diperoleh.
c. Strategi sinergitas polisional melalui menjalin kerjasama dengan instansi
terkait untuk mendukung pelaksanaan pengamanan.
d. Strategi pengawasan untuk menjamin terselenggaranya pelaksanaan
patroli pengamanan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Pengawasan ini juga bertujuan untuk mendeteksi kesalahan secara dini
dan usulan upaya perbaikan sehingga pelaksanaan sesuai dengan SOP
yang telah ditetapkan.
6.

Rencana Aksi
Rencana aksi merupakan rencana operasional yang dijabarkan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Rencana aksi berkaitan dengan
pelaksanaan patroli pengamanan kewilayahan melalui optimalisasi peran
anggota Polsek dan sinergitas dengan instansi terkait. Adapaun rencana aksi
peranan anggota Polsek dalam pelaksanaan Patroli pengamanan adalah
sebagai berikut:
a. Menetapkan jumlah anggota Polsek yang akan ditunjuk sebagai petugas
Patroli kewilayahan Polsek sesuai dengan luas wilayah Polsek.
b. Menetapkan rute dan sasaran dari pelaksanaan Patroli pengamanan
Polsek berdasarkan prioritas tingkat kerawanan suatu wilayah
c. Menyusun cara bertindak dari anggota dalam melaksanaan patroli
pengamanan. Cara bertindak ini dapat ditetapkan dengan berbagai
alternatif sesuai dengan perkembangan situasi. Kemudian cara bertindak
ini disusun secara tertulis menjadi sebuah SOP sehingga dapat menjadi
pedoman anggota dalam melaksanakan tugas di lapangan.
d. Mengidentifikasi dan menginventarisasi lokasi yang berpotensi gangguan
kemanan berdasarkan jumlah kejadian kejahatan yang muncul.
e. Melakukan kerjasama dan koordinasi dengan instansi terkait dengan
melaksanakan patroli gabungan dengan instansi terkait TNI maupun Polisi
Syariah guna menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat.
f. Menyusun sarana prasarana yang akan digunakan untuk mendukung
pelaksanaan patroli pengamanan.

23

24

BAB VII
PENUTUP
1.

Kesimpulan.
a.

Kemampuan sumber daya manusia yang dimiliki oleh anggota polsek


baik secara kuantitas dan kualitas masih terasa sangat minim dan
belum sesuai DSP ideal dalam menciptakan keamanan dan ketertiban
masyarakat di wilayah Polsek. Diharapkan peningkatan dalam jumlah
anggota

dan

kemampuan

yang

dimiliki

oleh

setiap

personil.

Peningkatan kemampuan personil dapat dilakukan dengan cara


pelatihan dan pengembangan profesi bagi anggota polsek. Kemudian
dalam

mempersiapkan

tugas

Patroli

pengamanan

diberikan

pengarahan akan tugas dan wewenang anggota polri selama


melaksanakan Patroli.
b.

Dukungan anggaran Polsek dalam mendukung pelaksanaan tugas


operasional Patroli Sabhara masih belum optimal disesuaikan dengan
tuntutan kebutuhan tugas dan tanggungjawab tugas Polri. Masih
minimnya biaya operasional yang diberikan Polri terutama BBM dalam
mendukung pelaksanaan tugas Patroli pengamanan.

c.

Dukungan sarana dan prasarana masih kurang terutama kebutuhan


personil sehingga masing-masing anggota melakukan pengadaan
sendiri. Dalam pelaksanaan patroli dengan daerah rawan GAM sangat
terbatas dukungan saran dan prasarana Rompi anti peluru diharapkan
dapat dipenuhi untuk mendukung pelaksanaan pengamanan tugas.

c.

Metode pelaksanaan tugas dan fungsi Patroli Sabhara hanya


berdasarkan pentunjuk teknis atau peraturan lain dalam pelaksanaan
pengamanan disusun metode sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Metode dikembangkan melalui penyusunan standar operasional
prosedur sebagai pedoman anggota dalam melaksanakan tugas patroli
pengamanan.

2.

Rekomendasi.
Dari

uraian

pembahasan

tersebut

diatas,

maka

perlu

direkomendasikan beberapa usulan untuk meningkatkan profesionalisme

25

anggota Polsek dalam melaksanakan tugas pengamanan wilayah Polsek


guna menciptakan kemanan dan ketertiban masyarakat sebagai berikut:
a. Kemampuan personil Polri merupakan komponen yang sangat paling
berpengaruh terhadap kemajuan organisasi Polri. Sebagai organisasi
yang memiliki personil begitu besar yang tersebar disetiap daerah, dan
kesatuan Polsek sebagai ujung tombak pelayanan kepada masyarakat,
diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan profesi yang
mampu meningkatkan kepercayaan dari masyarakat.
b. Dukungan anggaran yang telah disiapkan oleh organisasi Polridalam
mendukung pelaksanaan tugas patroli pengamanan wilayah Polsek
untuk dapat ditingkaktkan, mengingat dalam kesatuan terdepan untuk
dapat meningkatkan fungsi preventif melalui kegiatan tugas Patroli di
wilayah

Polsek.

Dengan

hadirnya

Polri

ditengah

masyarakat

diharapkan mampu mencegah bertemunya niat dan kesempatan


melakukan kejahatan.
c. Polri sebagai stakeholder sektor pengamanan kepada masyarakat
berperan aktif dalam membina kerjasama dengan instansi terkait, baik
dengan TNI / Koramil dan Polisi Syariah dimana rasa aman merupakan
suatu kebutuhan dan tanggungjawab bersama. Sehingga perlu adanya
kerjasama yang sinergis untuk menciptakan keamanan dan ketertiban
masyarakat.

26

Daftar Pustaka

Aulia.2010.Manajemen Strategik. Diambil dari


Freddy

Rangkuti,

Analisis

SWOT

Tehnik

Membedah

Kasus

Bisnis,

Gramedia, 2001
Goerge R Terry dan Leslie W. Rue. 2012. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi
Aksara
http://tugasmagic.wordpress.com/category/manajemen-strategik/pengertianmanajemen-strategik-manajemen-strategik/tanggal 21 Pebruari 2014
Karyoso.2005. Manajemen Perencanaan dan Penganggaran. Jakarta: PTIK Press
dan Restu Agung.
Max

Sudirno

Kaghoo.

2010.

Terori

Sosiologi.

Diambil

dari

http://kaghoo.blogspot.com/2010/11/pengertian-peranan.html pada tanggal 21


Pebruari 2024.
Perkap No 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat
Kepolisian Resor Dan Kepolisian Sektor
Perkap No 7 tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan Implementasi
Pemolisian Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Tugas Polri
Suit, dan Almasdi. 2000, Aspek Sikap Mental Dalam Manajemen Sumber Daya
Manusia. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Undang-Undang No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
Web Kamus Bahasa Indonesia Online http://kamusbahasaindonesia.org

27