Anda di halaman 1dari 25

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI 1

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN

TOPIK : II
MANAJEMEN LOGISTIK TERHADAP PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
MANAJEMEN POLRI
JUDUL
OPTIMALISASI PENYUSUNAN PERENCANAAN KEBUTUHAN SARPRAS IT
DI POLRES TABALONG
GUNA MENDUKUNG PELAYANAN TMC
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KAMSELTIBCAR LANTAS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Polisi lalu litas merupakan garda terdepan dalam penata laksanaan lalu
lintas di jalan. Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 2 Tahun 2002
tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, tugas dan peran Polri adalah
memelihara kamtibmas, menegakkan hukum serta memberikan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Dalam
melaksanakan tugas pokok tersebut, Polri bertugas antara lain
menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan, ketertiban,
dan kelancaran lalu lintas di jalan. Untuk mewujudkan keamanan,
keselamatan, ketertiban, kelancaran lalu lintas (kamseltibcar lantas) harus
didukung dengan perilaku manusia sebagai pengguna jalan yang tentu
sudah memiliki kompetensi dan tingkat disiplin yang memadai.
Sejalan dengan hal tersebut diatas, untuk mewujudkan kamseltibcar
lantas telah ditegaskan pula secara rinci tugas Polri dibidang LLAJ yang
tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 yaitu:
penyelenggaraan kegiatan Edukasi, Enginering, Enforcement, Registrasi
Identifikasi serta Managemen Operasional Lalu Lintas, yang merupakan core
bisnis Polisi lalu lintas. Berdasarkan amanat tersebut, maka Polres Tabalong
mendukung komitmen pimpinan menuju pelayanan prima dengan
membangun suatu pelayanan Sistem Management Informasi Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan terintegerasi yang dinamakan pelayanan TMC (traffic
management centre). Adapun fungsi dan peran pelayanan TMC tersebut

1
2

adalah : (1) memantau dan memonitor kondisi lalu lintas melalui cctv, (2)
mewujudkan dan memelihara Kamseltibcar Lantas, (3) meningkatkan
kualitas keselamatan dan menurunkan tingkat fatalitas korban kecelakaan (4)
Membangun budaya tertib lalu lintas, (5) meningkatkan kualitas pelayanan
kepada masyarakat di bidang lalu lintas, (6) pusat data lalu lintas dan
kriminalitas; dan (7) pusat penerima dan pemberi informasi dari dan kepada
masyarakat.
Menyikapi hal tersebut diatas, guna mendukung pelayanan TMC yang
maksimal, maka perlu didukung dengan penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT yang memadai baik dalam bentuk alat komunikasi, alat
utama, alat pemantau, alat transportasi maupun alat pendukung lainnya.
Dalam prosesnya, penyusunan perencanaan sarana prasarana tersebut
dilaksanakan dengan mengacu pada sistem dan manajemen sarpras yang
berlaku dilingkungan Polri dengan mengedepankan prinsip tepat jenis, tepat
jumlah, tepat waktu, tepat mutu / kualitas serta tepat harga sehingga
distribusi sarana prasarana tersebut memiliki nilai-nilai unggul (value
advantage) serta mampu meningkatkan produktifitas kegiatan penyidikan
(productivity value). Namun pada faktanya pelaksanaan tugas Polri
dilapangan khususnya Polres Tabalong, pendayagunaan sarana prasarana
tersebut seringkali kurang mendapatkan perhatian yang semestinya,
sehingga berdampak pada kurang optimalnya penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT.

B. Pokok Permasalahan
Permasalahan yang relevan dengan judul penulisan adalah :
“Bagaimana penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong agar dapat mendukung pelayanan TMC sehingga
kamseltibcar lantas dapat terwujud ?”.

C. Pokok-pokok Persoalan
Sesuai pokok permasalahan, maka sebagai pokok – pokok persoalan
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana proses dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras
IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC ?
3

2. Bagaimana pelaksanaan dalam penyusunan perencanaan kebutuhan


sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC ?

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembahasan pada naskah ini, dibatasi pada upaya
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT oleh Subag Sarpras melalui
proses dan pelaksanaan guna mendukung pelayanan TMC khususnya di
Polres Tabalong dalam rangka terwujudnya kamseltibcar lantas T.A. 2018.

E. Maksud, Tujuan Dan Manfaat


1. Maksud
Maksud dari penulisan naskah ini adalah untuk memberikan
gambaran tentang upaya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras
IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC dalam
melaksanakan tugas yang ditinjau berdasarkan konsep strategic
analysis.
2. Tujuan
Tujuan dari penulisan Naskah ini adalah sebagai gagasan atau ide
pemikiran kepada institusi Polri terkait upaya penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan
TMC untuk mewujudkan kamseltibcar lantas
3. Manfaat
Manfaat dari penulisan Naskah ini adalah memberikan banyak
informasi tentang upaya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras
IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC

F. Metode Dan Pendekatan Penulisan


Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah deskriptif analisis
yaitu menggambarkan tentang uraian masalah, penjabaran alternatif solusi,
dan pemilihan strategi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan.
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam
naskah ini adalah dengan mengedepankan konsep strategic analysis.
4

G. Tata Urut (Sistematika)


Penulisan NKP ini disusun dengan urutan yang terdiri dari Bab I
Pendahuluan; Bab II Landasan Pemikiran; Bab III Kondisi Faktual
Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT Di Polres Tabalong; Bab IV
faktor-faktor yang mempengaruhi; Bab V Kondisi Ideal Penyusunan
Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT Di Polres Tabalong; Bab VI Pemecahan
Masalah Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT Di Polres
Tabalong; dan Bab VII Penutup

H. Pengertian - Pengertian
1. Optimalisasi, Menurut Winardi (1996:363) adalah ukuran yang
menyebabkan tercapainya tujuan. Secara umum optimalisasi adalah
pencarian nilai terbaik dari yang tersedia dari beberapa fungsi yang
diberikan pada suatu konteks.
2. Perencanaan, adalah suatu proses menentukan hal-hal yang ingin
dicapai (tujuan) di masa depan serta menentukan berbagai tahapan
yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
3. Sarana Dan Prasarana, Menurut KBBI Sarana adalah segala sesuatu
yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan.
4. IT, merupakan suatu studi perancangan, implementasi,
pengembangan, dukungan atau manajemen sistem informasi berbasis
komputer, terutama pada aplikasi hardware (perangkat keras) dan
software (perangkat lunak komputer)
5. Traffic Management Centre (TMC) merupakan pusat dari
Management lalu lintas di Polda Metro Jaya yang mempunyai fungsi
sebagai K 31 (Komando, Komunikasi, Koordinasi, dan Informasi).
Komando merupakan perintah dan pengendalian bagi petugas-petugas
yang ada di lapangan/lokasi-likasi yang rawan terjadinya masalah-
masalah lalu lintas.
6. Kamseltibcar Lantas, adalah situasi dan kondisi penggunaan lalu
lintas merasa baik dengan atau tanpa kendaraan; merasa aman karena
terbebas dari rasa ketakutan, tidak adanya ancaman hambatan
maupun gangguan kapan saja dan dimana saja.
5

BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN

A. Teori/Konsep Identifikasi Permasalahan


1. Teori Perencanaan (Grand Teori)
Menurut SP. Siagian perencanaan adalah keseluruhan proses
pemikiran dan pelaksanaan secara matang menyangkut hal-hal yang akan
dikerjakan di masa datang dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Teori ini digunakan sebagai grand teori pokok
permasalahan, di mana terdapat beberapa kata kunci pada teori tersebut
yaitu diantaranya proses dan pelaksanaan yang menjadi breakdown pokok-
pokok persoalan
2. Teori Proses (middle teori)
Soewarno Handayaningrat dalam bukunya yang berjudul “Pengantar
Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen” mengatakan bahwa Proses adalah
sesuatu tuntutan perubahan dari suatu peristiwa perkembangan sesuatu
yang dilakukan secara terus-menerus. (Aoewarno, 2007:21). Teori tersebut
digunakan sebagai middle teori untuk menganalisa pokok persoalan pertama
yang akan dibahas di Bab III dan Bab V penulisan NKP ini.
3. Teori Pelaksanaan (middle teori)
Menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of
Management (Sukarna, 2011: 82) mengatakan bahwa pelaksanaan adalah
membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok agar supaya
berkehendak dan berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan dengan
ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian
dari pihak pimpinan. Teori tersebut digunakan sebagai middle teori untuk
menganalisa pokok persoalan kedua yang akan dianalisa pada Bab III dan
Bab V penulisan NKP ini.

B. Teori/Konsep pengumpulan data


Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan
tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen

5
6

pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti


untuk mengumpulkan data.

C. Teori/Konsep analisis dan manajemen strategis


1. Analisa SWOT
Menurut DR. Setyo Riyanto, Analisa SWOT merupakan sebuah
konsepsi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor
secara sistematis guna merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada
logika untuk mengidentifikasikan kekuatan (strength) dan kelemahan
(weakness) serta peluang (opportunity) dan ancaman (threats) secara
sistematis. Teori analisis SWOT digunakan sebagai metode untuk
menguraikan indikator hal-hal yang mempengaruhi untuk dioperasionalkan
menggunakan metode IFAS internal factors analysis summary dan EFAS
eksternal factors analysis summary dan di proses sebagai dasar
menempatkan kuadran grand strategy dan kata operasional judul serta
merumuskan strategi dan pemecahan masalah menggunakan SFAS
(strategic factors analysis Summary).
Landasan Teori ini digunakan di Bab IV (empat) dan Bab VI (enam)
yaitu faktor faktor yang mempengaruhi, dimana Teori Analisa SWOT ini
menghasilkan faktor internal dan faktor eksternal.
2. Teori Manajemen Strategi
Manajemen strategi adalah kumpulan keputusan dan tindakan yang
menghasilkan perumusan dan penerapan strategi yang didesain/dirancang
untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi (Pearce dan Robinson, 1988).
Menurut David (Fred R. David, 2008,8), Semua organisasi memiliki kekuatan
dan kelemahan dalam area fungsional.
Teori manajemen Strategik ini digunakan di Bab VI (enam) yaitu upaya
pemecahan masalah, dimana teori ini menghasilkan visi, misi, tujuan,
sasaran dan strategi.
7

BAB III
KONDISI FAKTUAL PENYUSUNAN PERENCANAAN KEBUTUHAN SARPRAS
IT DI POLRES TABALONG

Menyusun perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres Tabalong sangat


penting dalam mendukung pelaksanaan tugasnya, dimana dengan sarana dan
prasarana yang baik dan memadai maka pelaksanaan tugas personil dilapangan
dapat dilaksanakan secara efektif dan efesien. Namun dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT di pengaruhi oleh beberapa factor internal
yang meliputi kekuatan, seperti: komitmen pimpinan, visi misi Kapolri dalam
program promoter, diberlakukannya SAKIP, system pengadaan Bottom Up dan
adanya Subag sarpras. Selain itu ada juga kelemahan dalam mempengaruhi
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres Tabalong seperti:
terbatasnya kompetensi personel, belum adanya dukungan anggaran khusus,
belum memiliki SOP, kurang dilaksanakan pemberian proposal serta terbatasnya
dukungan sarana prasarana dinas. Disamping itu ada juga factor eksternal yang
mempengaruhi dalam penerapan uji kompetensi diantaranya ada peluang seperti:
dukungan pemerintah, harapan masyarakat, dukungan stake holder, lembaga
pengawasan eksternal dan perkembangan Iptek. Namun fakta yang dilapangan
ada juga ancaman seperti adanya intervensi pihak luar, kondisi geografis yang
memiliki jarak cukup jauh, belum adanya regulasi khusus, adanya labeling
masyarakat terhadap citra Polri melalui media massa serta pengaruh
perkembangan media social.
Namun pada kenyataannya kinerja personel Polres Tabalong belum
seluruhnya dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, hal ini terlihat dari
masih adanya ketidak sesuaian dalam penyusunan perencanaan kebutuhan
sarpras IT berupa cctv. Mendasari hal tersebut, adapun data-data kecelakaan lalu
lintas dan kebutuhan cctv dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :
Table 3.1
Data Kecelakaan Lalu Lintas
NO TAHUN JML MD LB LR KERUGIAN
1 2 3 4 5 6 7
1 2011 96 56 78 40 Rp. 679.150.000,-
2 2012 95 42 76 29 Rp. 434.150.000,-

7
8

3 2013 102 42 46 69 Rp. 479.200.000,-


4 2014 83 46 46 70 Rp. 734.900.000,-
5 2015 74 42 38 52 Rp. 435.700.000,-
6 2016 61 46 22 32 Rp. 502.850.000,-
7 Okt 2018 34 33 4 1 Rp. 256.700.000,-
Sumber : Data Satlantas Polres Tabalong Tahun 2018
Table 3.2
Data Kebutuhan Sarpras 2018
JUMLAH KEBUTUHAN JUMLAH SARPRAS
NO. SARPRAS
SARPRAS YANG ADA
1 CCTV 126 66
2 LED 50 25
3 PLANAR 65 30
4 VMS 25 15
5 ANALOG KAMERA 60 45
6 HT 120 80
Sumber : Data Satlantas Polres Tabalong Tahun 2018

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa jumlah tingkat kecelakaan lalu lintas
yang terjadi tidak stabil. Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas
diakibatkan karena Polres Tabalong kekurangan sarana prasarana yang memadai,
secara kuantitas kebutuhan sarpras anggota Polres Tabalong belum sesuai
dengan yang diharapkan, yang mana pada tahun 2018 seharusnya jumlah
kebutuhan cctv sebanyak 126 untuk ditempatkan di beberapa wilayah rawan
kecelakaan lalu lintas namun jumlah cctv yang ada hanya 66. Kemudian jumlah
LED yang dibutuhkan adalah sebanyak 50, namun LED yang tersedia hanya 25,
lalu PLANAR yang dibutuhkan sebanyak 65 yang ada 30, kemudian Polres
Tabalong membutuhkan VMS sebanyak 25 namun yang ada hanya 15 dan analog
kamera yang dibutuhkan adalah sebanyak 60, namun faktanya hanya ada 45 serta
Polres Tabalong membutuhkan HT sebanyak 120 akan tetapi jumlah HT yang ada
hanya 80 saja. Melihat kondisi di atas akan mempengaruhi terhadap penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT yang tidak sesuai dengan harapan, hal ini
dapat dilihat ditinjau dari aspek proses dan pelaksanaan sebagai berikut :

A. Proses Dalam Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT Di


Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC Saat Ini
1. Dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT tidak
melibatkan seluruh personel Subag Sarpras yang ada, hal ini mungkin
9

disebabkan kurangnya pemahaman personel terhadap mekanisme


perencanaan kebutuhan.
2. Indeks kebutuhan sarpras tidak realistis, artinya kebutuhan sarpras
yang disusun tidak dapat memenuhi kebutuhan program kerja yang
diusulkan.
3. Selama ini dalam kegiatan pelayanan TMC belum disusun
perencanaan strategi dan Rengiat dan telah digariskan sedemikian
rupa, sehingga dibuat alakadarnya hanya memenuhi kewajiban
sehingga tidak terukur, tidak dapat dikontrol, dan tidak realistis serta
tidak didukung dengan kebutuhan sarpras yang proporsional.
4. Masih terbatasnya kemampuan personel Subag Sarpras dalam
menyusun perencanaan kebutuhan sarpras IT terkait pelayanan TMC
5. Belum adanya Penentuan target secara spesifik yang harus dicapai
oleh Polres Tabalong dalam penyusunan perencanaan kebutuhan
sarpras IT terkait pelayanan TMC, sehingga tidak ada standar
keberhasilan yang dapat dijadikan pedoman petugas

B. Pelaksanaan Dalam Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT


Di Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC Saat Ini

1. Masih belum adanya sistem penyusunan perencanaan kebutuhan


sarpras IT secara online sehingga terkesan tidak transparan.
2. Penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT seringkali tidak sesuai
dengan kebutuhan program kerja sehingga kurang dapat diberdaya
gunakan dalam mendukung pelayanan TMC.
3. Dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT kurang
mengikuti siklus logistik TMC.
4. Kurang dilakukannya pengawasan pada penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras baik melalui pengawasan fungsional maupun
pengawasan melekat sehingga dapat meminalisir berbagai bentuk
penyimpangan dan penyalahgunaan sarpras IT.
5. Kurang adanya HTCK yang secara jelas memuat hubungan koordinatif
antara petugas TMC dengan personel sebagai bahan rentang komando
dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
10

C. Implikasi Dari Kurangnya Penyusunan Perencanaan Kebutuhan


Sarpras IT Di Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC
1. Kurangnya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong maka berimplikasi pada tidak terdukungnya pelayanan TMC
2. Kurangnya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong maka berimplikasi pada tidak terwujudnya kamseltibcar
lantas.
11

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

A. Faktor Internal
1. Kekuatan
a. Adanya komitmen pimpinan menuju pelayanan prima dalam
pengelolaan sarpras IT
b. Adanya visi misi Kapolri yang di jabarkan dalam program
promoter.
c. Diberlakukannya sistem akuntabilitas dan transparansi (SAKIP)
dilingkungan Polri dalam kegiatan operasional maupun pembinaan
termasuk dalam penyusunan perencanaan sarana prasarana IT
d. Adanya system pengadaan Bottom Up dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT guna mendukung pelayanan
TMC
e. Adanya peran Subag Sarpras sebagai jembatan dalam memenuhi
segala kebutuhan sarpras IT
2. Kelemahan
a. Masih terbatasnya kompetensi personel Subag Sarpras dalam
melakukan penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
b. Belum adanya dukungan anggaran khusus dalam pelaksanaan
pelayanan TMC
c. Polres Tabalong belum memiliki pedoman tetap berupa SOP yang
memuat secara detail tentang mekanisme penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT
d. Kurang dilaksanakannya pemberian proposal dan rencana kerja
guna mendapatkan bantuan dari pihak ketiga dan instansi samping
dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT guna
mendukung pelayanan TMC.
e. Terbatasnya dukungan sarana prasarana dinas sehingga kurang
mendukung penyelenggaraan penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT.

11
12

B. Faktor Eksternal
1. Peluang
a. Adanya dukungan pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan
dukungan logistic maupun anggaran.
b. Harapan masyarakat terhadap Polri agar dapat mewujudkan
kamseltibcar lantas
c. Adanya dukungan Stakeholder dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras terkait penyelenggaraan TMC
d. Banyaknya lembaga pengawasan eksternal, seperti LSM,
Indonesian Police Watch, Ombudsman, Kompolnas
e. Perkembangan Iptek dapat dimanfaatkan secara optimal guna
menyusun perencanaan kebutuhan sarpras IT dalam rangka
mendukung pelayanan TMC

2. Ancaman
a. Adanya intervensi pihak luar sehingga seringkali mempengaruhi
kebijakan yang dapat menghambat kemajuan Polres dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT.
b. Kondisi geografis wilayah Polres Tabalong yang memiliki jarak
jauh tidak sebanding dengan pengembangan dukungan logistik.
c. Belum adanya regulasi yang secara khusus dapat dijadikan
sebagai pedoman pertanggung jawaban penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT terkait pelayanan TMC.
d. Masih adanya lebelling masyarakat terhadap citra Polri serta
adanya kelompok tertentu yang menciptakan opini negatif melalui
media massa terhadap kinerja polisi lalu lintas sehingga
masyarakat bersikap pesimis terhadap pelayanan TMC.
e. Adanya pengaruh perkembangan media social yang memberikan
citra negative terhadap Polri dalam pelayanan TMC.
13

BAB V
KONDISI IDEAL PENYUSUNAN PERENCANAAN KEBUTUHAN SARPRAS IT
DI POLRES TABALONG

Keberhasilan pelaksanaan tugas Polri khususnya di wilayah hukum Polres


Tabalong dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan
hukum, dan melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat terkait dengan
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT guna mendukung pelayanan
TMC dibutuhkan anggota personel yang professional dalam melaksanakan
tugasnya.
Untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien, maka dalam
melaksanakan tugas-tugas dan di dukung dengan adanya kekuatan yang harus
ditingkatkan dari Polres Tabalong seperti : komitmen pimpinan, visi misi Kapolri
dalam program promoter, diberlakukannya SAKIP, system pengadaan Bottom Up
dan adanya Subag sarpras. Kelemahan di dalam dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT yang menjadi point penting untuk di optimalkan seperti:
terbatasnya kompetensi personel, belum adanya dukungan anggaran khusus,
belum memiliki SOP, kurang dilaksanakan pemberian proposal serta terbatasnya
dukungan sarana prasarana dinas. Selain dari faktor internal ada juga faktor
eksternal yaitu peluang mempengaruhi dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT yang dapat dimanfaatkan seperti : dukungan pemerintah,
harapan masyarakat, dukungan stake holder, lembaga pengawasan eksternal dan
perkembangan Iptek. Selain itu ada juga yang menjadi ancaman harus di
hilangkan dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong seperti: adanya intervensi pihak luar, kondisi geografis yang memiliki
jarak cukup jauh, belum adanya regulasi khusus, adanya labeling masyarakat
terhadap citra Polri melalui media massa serta pengaruh perkembangan media
social.

A. Proses Dalam Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT Di


Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC Yang Diharapkan
1. Dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT melibatkan
seluruh personel Subag Sarpras yang ada, sehingga pemahaman

15
14

personel terhadap mekanisme perencanaan kebutuhan sarpras


meningkat.
2. Indeks kebutuhan sarpras realistis, artinya kebutuhan sarpras yang
disusun dapat memenuhi kebutuhan program kerja yang diusulkan.
3. Selama ini dalam kegiatan pelayanan TMC telah disusun perencanaan
strategi dan Rengiat dan telah digariskan sedemikian rupa, sehingga
dapat memenuhi kewajibannya secara terukur, terkontrol, dan realistis
serta didukung dengan kebutuhan sarpras yang proporsional.
4. Meningkatnya kemampuan personel Subag Sarpras dalam menyusun
perencanaan kebutuhan sarpras IT terkait pelayanan TMC
5. Adanya Penentuan target secara spesifik yang harus dicapai oleh
Polres Tabalong dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
terkait pelayanan TMC, sehingga ada standar keberhasilan yang dapat
dijadikan pedoman petugas

B. Pelaksanaan Dalam Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sarpras IT


Di Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC Yang Diharapkan

1. Adanya sistem penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT secara


online sehingga terkesan transparan.
2. Penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT sesuai dengan
kebutuhan program kerja sehingga dapat diberdaya gunakan dalam
mendukung pelayanan TMC.
3. Dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT telah mengikuti
siklus logistik TMC.
4. Mulai dilakukannya pengawasan pada penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras baik melalui pengawasan fungsional maupun
pengawasan melekat sehingga dapat meminalisir berbagai bentuk
penyimpangan dan penyalahgunaan sarpras IT.
5. adanya HTCK yang secara jelas memuat hubungan koordinatif antara
petugas TMC dengan personel sebagai bahan rentang komando dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
15

C. Kontribusi Dari Meningkatnya Penyusunan Perencanaan Kebutuhan


Sarpras IT Di Polres Tabalong Guna Mendukung Pelayanan TMC
1. Meningkatnya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di
Polres Tabalong maka berkontribusi pada terdukungnya pelayanan
TMC.
2. Meningkatnya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di
Polres Tabalong maka berkontribusi pada terwujudnya kamseltibcar
lantas.
16

BAB VI
UPAYA PEMECAHAN PENYUSUNAN PERENCANAAN KEBUTUHAN
SARPRAS IT DI POLRES TABALONG

Berdasarkan analisis kondisi faktual dan faktor-faktor yang


mempengaruhinya, serta kondisi ideal yang diharapkan, maka dalam pemecahan
masalah terkait upaya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong dalam mendukung transparansi pelayanan TMC, dirumuskan melalui
tahapan formulasi strategi sebagai berikut:
Tabel 6.1
Eksternal Factors Analysis Summary
N Faktor-Faktor Kunci Eksternal Bobot Peringkat Skor
o. Peluang (Wegihted) (Rating) (Score)
1 Adanya dukungan pemerintah dalam bentuk pemberian bantuan
0,106 6 0,64
. dukungan logistic maupun anggaran.
2 Harapan masyarakat terhadap Polri agar dapat mewujudkan
0,095 6 0,57
. kamseltibcar lantas
3 Adanya dukungan Stakeholder dalam penyusunan perencanaan
0,106 7 0,74
. kebutuhan sarpras
4 Banyaknya lembaga pengawasan eksternal, seperti LSM,
0,094 7 0,66
. Indonesian Police Watch, Ombudsman, Kompolnas
5 Perkembangan Iptek dapat dimanfaatkan secara optimal guna
0,099 6 0,60
. menyusun perencanaan kebutuhan sarpras IT
0,500 3,200
Ancaman
1. Adanya intervensi pihak luar sehingga seringkali mempengaruhi
0,067 2 0,13
kebijakan yang dapat menghambat kemajuan Polres
2. Kondisi geografis wilayah Polres Tabalong yang memiliki jarak
0,089 2 0,18
jauh tidak sebanding dengan pengembangan dukungan logistik.
3. Belum adanya regulasi yang secara khusus dapat dijadikan
0,097 4 0,39
sebagai pedoman pertanggung jawaban
4. Masih adanya lebelling masyarakat terhadap citra Polri serta 0,134 2 0,27
adanya kelompok tertentu yang menciptakan opini negatif
5. Adanya pengaruh perkembangan media social yang memberikan
0,114 4 0,46
citra negative terhadap Polri dalam pelayanan TMC
0,500 1,422
1.000 4,622

Tabel 6.2
Internal Factors Analysis Summary
Faktor-Faktor Kunci Internal Bobot Peringkat Skor
No.
Kekuatan (Wegihted) (Rating) (Score)
1. Adanya komitmen pimpinan menuju pelayanan prima dalam
pengelolaan sarpras IT 0,118 7 0,83
2. Adanya visi misi Kapolri 0,103 8 0,82
3. Diberlakukannya sistem akuntabilitas dan transparansi (SAKIP)
dilingkungan Polri 0,089 6 0,53
4. Adanya system pengadaan Bottom Up dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT 0,094 8 0,75
5. Adanya peran Subag Sarpras sebagai jembatan dalam memenuhi
segala kebutuhan sarpras IT 0,096 7 0,67
0,500 3,608
Kelemahan

16
17

1. Masih terbatasnya kompetensi personel Subag Sarpras dalam


melakukan penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT 0,117 2 0,23
2. Belum adanya dukungan anggaran khusus dalam pelaksanaan
pelayanan TMC 0,098 4 0,39
3. Polres Tabalong belum memiliki pedoman tetap berupa SOP 0,114 4 0,46
4. Kurang dilaksanakannya pemberian proposal dan rencana kerja
guna mendapatkan bantuan dari pihak ketiga 0,101 4 0,40
5. Terbatasnya dukungan sarana prasarana dinas 0,069 3 0,21
0,500 1,696
1,000 5,304

Tabel 6.3
Posisi Organisasi

5.304

A. Visi
Terwujudnya penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong dalam mendukung pelayanan TMC.

B. Misi
1. Mewujudkan proses dalam penyusunan perencanaan kebutuhan
sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC.
2. Mengefektifkan pelaksanaan dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan
TMC.

C. Tujuan
1. Terwujudnya proses dalam penyusunan perencanaan kebutuhan
sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC.
18

2. Tercapainya pelaksanaan dalam penyusunan perencanaan kebutuhan


sarpras IT di Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC.

D. Sasaran
1. Jangka pendek (0-3 bulan)
a. Mengatasi labeling masyarakat terhadap citra Polri
b. Meningkatkan kemampuan personel
c. Merealisasikan pedoman SOP
d. Mengefektifkan perkembangan media sosial
e. Mengefektifkan pelaksanaan pemberian proposal
2. Jangka menengah (0-6 bulan)
a. Mengefektifkan dukungan pemerintah
3. Jangka Panjang (0-12 bulan)
a. Merealisasikan komitmen pimpinan
b. Mengefektifkan dukungan stake holder
c. Merealisasikan visi misi Kapolri dalam program promoter
d. Meningkatkan perkembangan Iptek

Tabel 6.4
Strategic Factors Analysis Summary
STRATEGI
NO SFAS BOBOT RATING SCORE
KADEK KAMEN KAJANG
1 pemantapan dukungan masyarakat 0,0484 2 0,0969
penerapan sistem Bottom Up dalam
2 0,1235 7 0,8644
penyusunan perencanaan kebutuhan
3 Peningkatan kompetensi personel 0,0763 2 0,1526
4 menyusun SOP 0,0666 4 0,2663
memanfaatkan perkembangan media
5 0,0655 4 0,2622
sosial
6 meningkatkan dukungan pemerintah 0,1119 6 0,6712
meningkatkan pelibatan dukungan stake
7 0,1330 7 0,9312
holder
8 melaksanakan program promoter d 0,1390 8 1,1120
menyusun proposal dan rencana kerja
9 agar mendapat bantuan dari instansi 0,1019 4 0,4074
samping
memanfaatkan perkembangan Iptek
10 dalam penyusunan perencanaan 0,1339 6 0,8036
kebutuhan sarpras IT d

E. Strategi
Berdasarkan hasil perhitungan EFAS, IFAS, dan SFAS yang kemudian
diformulasikan kedalam matriks TOWS, maka strategi yang diangkat dalam
naskah ini adalah sebagai berikut:
19

Tabel 6.4
Matrik Tows
INTERNAL FACTOR STRENGHT (S) WEAKNESSES (W)
ANALISYS (IFAS)
1. Komitmen pimpinan 1. Terbatasnya kompetensi pers
2. promoter 2. Blm adanya dukgar khusus
3. SAKIP 3. Blm memiliki SOP
EKSTERNAL FACTOR
4. Bottom Up 4. proposal
ANALISYS (EFAS)
5. Peran Subag Sarpras 5. terbatasnya duk sarpras dinas
OPPORTUNITY (O) STRATEGY SO STRATEGY WO
1. dukungan pemerintah
2. harapan masyarakat
3. dukungan stake holder ( KUAT – KUAT ) ( LEMAH – KUAT )
4. lembaga pengawasan eksternal
5. perkembangan Iptek
THREATS (T) STRATEGY ST STRATEGY WT
1. intervensi
2. kondisi geografis
3. regulasi ( KUAT – LEMAH ) ( LEMAH – LEMAH )
4. labeling masy
5. media sosial
STRENGHT (S)
1. Komitmen pimpinan
2. promoter
3. SAKIP
4. Bottom Up
5. Peran Subag Sarpras
THREATS (T) STRATEGY ST
1. Intervensi 1. S1 - T1 (komitmen – intervensi) = pemantapan
2. kondisi geografis 2. S1 - T2 (komitmen – kondisi geografis) = pembinaan
3. regulasi 3. S1 - T3 (komitmen – regulasi)= pemberdayaan
4. labeling masy 4. S1 - T4 (komitmen – labeling masy) = internalisasi
5. media sosial 5. S1 - T5 (komitmen – medsos) = sinkronisasi

6. S2 - T1 (promoter– intervensi) = internalisasi


7. S2 - T2 (promoter – kondisi geografis) = pembinaan
8. S2 - T3 (promoter – regulasi) = internalisasi
9. S2 – T4 (promoter –labelling masy) = pemberdayaan
10. S2 – T5 (promoter – medsos) = pembinaan

11. S3 - T1 (SAKIP– intervensi) = internalisasi


12. S3 - T2 (SAKIP – kondisi geografis) =singkronisasi
13. S3 - T3 (SAKIP – regulasi) = pemberdayaan
14. S3 – T4 (SAKIP – labelling masy) = antisipasi
15. S3 – T5 (SAKIP – medsos) =pembinaan

16. S4 - T1 (Bottom Up – intervensi) = singkronisasi


17. S4 - T2 (Bottom Up – kondisi geografis) = pembinaan
18. S4 - T3 (Bottom Up – regulasi) = pemberdayaan
19. S4 – T4 (Bottom Up – labelling masy) = pembinaan
20. S4 – T5 (Bottom Up – medsos) = pembinaan

21. S5 - T1 (Subag Sarpras– intevensi) = antisipasi


22. S5 - T2 (Subag Sarpras – kondisi geografis) = pembinaan
23. S5 - T3 (Subag Sarpras – regulasi) = internalisasi
24. S5 – T4 (Subag Sarpras – labelling masy) = pembinaan
25. S5 – T5 (Subag Sarpras – medos) = pemantapan
1. Strategi Jangka pendek (0-3 bulan)
a. pemantapan dukungan masyarakat dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras
20

b. Pemantapan kompetensi personel melalui serangkaian


pembinaan, pelatihan dan pendidikan yang diselenggarakan
secara indikatif dan berkelanjutan
c. Internalisasi pembuatan SOP yang dijadikan pedoman tugas
dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
d. Pemberdayaan perkembangan media sosial dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT
e. Internalisasi penyusunan proposal dan rencana kerja agar
mendapat bantuan dari instansi samping terkait kebutuhan
sarpras IT dalam mendukung pelayanan TMC
2. Strategi Jangka Menegah (0-6 bulan)
a. Pemberdayaan dukungan pemerintah dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT
3. Strategi Jangka Panjang (0-12 bulan)
a. Pemberdayaan penerapan sistem Bottom Up dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT
b. Pemberdayaan pelibatan dukungan stake holder pada
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT.
c. Sinkronisasi program promoter dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT terkait pelayanan TMC yang modern
d. Pemantapan memanfaatkan perkembangan Iptek dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT

F. Kebijakan
Mengoptimalkan penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di
Polres Tabalong melalui proses dan pelaksanaan guna mendukung
pelayanan TMC sehingga kamseltibcar lantas dapat terwujud

G. Action Plan
1. Strategi Jangka pendek (0-3 bulan)
a. pemantapan dukungan masyarakat dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras :
1) Program
- Pembinaan dan penyuluhan kepada masyarakat
21

2) kegiatan
- Kapolres melalui Kasi Humas untuk bekerjasama
denagan media massa agar memberitakan hal yang
baik terkait perencanaan kebutuhan sarana prasana
sehingga tidak timbul persepsi negatif dari masyarakat
3) Indicator
- Terwujudnya kepercayaan masyarakat
b. Pemantapan kompetensi personel melalui serangkaian
pembinaan, pelatihan dan pendidikan yang diselenggarakan
secara indikatif dan berkelanjutan.
1) Program
- Pemenuhan personel sesuai dengan DSP serta
meningkatkan pemahaman personel mengenai
manajemen logistik
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kabag Sumda untuk melakukan
pembenahan dan penyempurnaan terhadap pendidikan
dan pelatihan mulai dari pendidikan dan pembentukan,
pendidikan pengembangan, dan pendidikan kejuruan.
3) Indikator
- Terpenuhinya DSP serta meningkatnya pengetahuan
dan kemampuan personel dalam pelaksanaan tugas
c. Internalisasi pembuatan SOP yang dijadikan pedoman tugas
dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT dalam
mendukung pelayanan TMC
1) Program
- Pembenahan system dan metode.
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kasubag Sarpras untuk
menyusun SOP yang memuat tentang rincian tugas
dan mekanisme penyusunan perencanaan kebutuhan
sarpras IT di Polres Tabalong
22

3) Indicator
- Terwujudnya sistem dan metode secara komprehensi
dan integratif
d. Pemberdayaan perkembangan media sosial dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT
1) Program
- Mensosialisasikan program-program dalam manajemen
logistik
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kasubag Sarpras untuk
membangun jaringan internet guna mensosialisasikan
program-program manajemen logistic Polri.
3) Indikator
- Terwujudnya Polres Tabalong yang modern
e. Internalisasi penyusunan proposal dan rencana kerja agar
mendapat bantuan dari instansi samping terkait kebutuhan
sarpras IT dalam mendukung pelayanan TMC
1) Program
- Melakukan pembenahan fasilitas Polres Tabalong
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kasubag Sarpras untuk
menyiapkan ruang khusus serta mengembangan
sistem dan jaringan internet dan komputer dilingkungan
Polres Tabalong.
3) Indikator
- Tersedianya fasilitas yang memadai dalam
pelaksanaan tugas
f. Kapolres pimpin rapat anev terhadap pelaksanaan action plan
yang telah dilakukan pada jangka pendek

2. Strategi Jangka Menengah (0-6 bulan)


a. Pemberdayaan dukungan pemerintah dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT.
23

1) Program
- Peningkatan dukungan anggaran
2) Kegiatan
- Menugaskan Subbag Sarpras untuk melakukan
koordinasi dengan Pemda guna mendapatkan
dukungan peralatan teknis dan anggaran dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
3) Indicator
- terdukungnya kebutuhan dalam pelaksanaan tugas
b. Kapolres pimpin rapat anev terhadap pelaksanaan action plan
yang telah dilakukan pada jangka menengah
3. Strategi Jangka Panjang (0-12 bulan)
a. Pemberdayaan penerapan sistem Bottom Up dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras IT dalam mewujudkan komitmen
pimpinan
1) Program
- Menyusun perencanaan kebutuhan secara efektif
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kasubag Sarpras untuk untuk
menyusun daftar susunan perlengkapan dalam
mendukung pelaksanaan TMC sehingga dapat
diakomodasi dari mata anggaran DIPA
3) Indicator
- Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan
komprehensif
b. Pemberdayaan pelibatan dukungan stake holder pada
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
1) Program
- Peningkatan kerjasama dengan instansi terkait
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan kasubbag Sarpras untuk
melaksanakan pertemuan rutin dengan ULP Pemkab
24

Tabalong guna membahas tentang sistem dan


prosedur penyelenggaraan kebutuhan sarpras IT.
3) Indicator
- Terjalinnya kerjasama yang diharapkan
c. Sinkronisasi program promoter dalam penyusunan perencanaan
kebutuhan sarpras IT terkait pelayanan TMC yang modern
1) Program
- Pemberdayaan regulasi dalam penyusunan
perencanaan kebutuhan sarpras
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kabag Sumda melaksanaan
pembinaan melalui kegiatan coaching clinic guna
meningkatkan pemahaman personel Bag Sumda terkait
berbagai peraturan dan perundangan yang mengatur
mekanisme manajemen logistic
3) Indicator
- Terwujudnya profesionalisme personel Polres Tabalong
d. Pemantapan memanfaatkan perkembangan Iptek dalam
penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT dalam pelayanan
TMC
1) Program
- Membangun sistem informasi terpadu yang terintegras
2) Kegiatan
- Kapolres menugaskan Kasubbag Sarpras untuk
menyelenggarakan sistem administrasi logistik berbasis
teknologi/IT dalam pelaksanaan manajemen logistik
dapat mengikuti perkembangan kemajuan iptek.
3) Indicator
- Memantapkan transparansi dan akuntabilitas dalam
manajemen logistik
e. Kapolres pimpin rapat anev terhadap pelaksanaan action plan
yang telah dilakukan pada jangka Panjang.
25

BAB VII
PENUTUP

A. Simpulan
1. Proses dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di Polres
Tabalong guna mendukung pelayanan TMC dirasa masih belum sesuai
dengan harapan, seperti masih terbatasnya kemampuan personel
Subag Sarpras dalam menyusun perencanaan kebutuhan sarpras IT,
maka dari itu untuk diperlukan upaya dengan cara, Kapolres
menugaskan Kabag Sumda untuk melakukan pembenahan dan
penyempurnaan terhadap pendidikan dan pelatihan mulai dari
pendidikan dan pembentukan, pendidikan pengembangan, dan
pendidikan kejuruan.
2. Pelaksanaan dalam penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT di
Polres Tabalong guna mendukung pelayanan TMC dirasa masih belum
optimal, seperti penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan program kerja sehingga
kurang dapat diberdaya gunakan dalam mendukung pelayanan TMC.
Oleh karena itu diperlukan upaya melalui, Kapolres menugaskan
Kasubag Sarpras untuk menyusun SOP yang memuat tentang rincian
tugas dan mekanisme penyusunan perencanaan kebutuhan sarpras IT
di Polres Tabalong dalam mendukung pelayanan TMC

B. Rekomendasi
1. Merekomendasikan kepada Kapolda up Karo SDM untuk
melaksanakan pelatihan pengadaan barang/jasa di Polda yang diikuti
oleh Polres jajaran dan dilakukan ujian sertifikasi dengan demikian
diharapkan semua Polres memilki anggota yang sudah lulus sertifikasi
sehingga ULP tidak lagi dilakukan oleh Personel Polda.
2. Merekomendasikan kepada Kapolda up. Karo Sarpras untuk menyusun
SOP tentang penyusunan perencanaan kebutuhan sarana prasarana
operasional Polri yang dapat dijadikan sebagai pedoman Subbag
Sarpras.

25