Anda di halaman 1dari 17

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DAERAH KALIMANTAN BARAT

Naskah Akademik
SINERGITAS TNI-POLRI DALAM PENYELENGGARAAN PENGAMANAN PILEG
DAN PILPRES MELALUI DEMOCRATIC POLICING DI KALIMANTAN BARAT

A. Pendahuluan
Pemilihan umum (Pemilu) tahun 2019 merupakan Pesta demokrasi Indonesia
yang akan menjadi tonggak sejarah demokrasi yang tidak raja akan menjadi warisan
kebanggaan bagi generasi penerus bangsa, akan tetapi juga akan menjadi sorotan
mata dunia internasional yang telah menjadikan demokrasi sebagai pilihan tatanan
politik negara yang terbaik saat ini.
Pemilu kali ini dilaksanakan secara serentak yakni 5 (lima) jenis pemilihan
akan dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan yaitu pemilihan Presiden/Wakil
Presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota. Bentuk pemilihan serentak seperti ini adalah yang pertama kali
dilaksanakan di Indonesia, bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada hari Senin, 25 Juli
2018 lalu pernah mengatakan bahwa penyelenggaraan Pemilu serentak 2019 ini
merupakan pemilihan umum yang paling rumit di dunia, karena dalam satu
kesempatan, pemilih harus mencoblos 5 (lima) kertas suara. Dunia internasional
akan menyoroti pelaksanaan pesta demokrasi ini. Keberagaman adat istiadat dan
luasnya wilayah Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, hampir 4%
dari jumlah penduduk di dunia, tentunya memberikan daya tarik tersendiri bagi para
pengamat.
Provinsi Kalimantan Barat merupakan peringkat ketiga dengan indeks
kerawanan pemilu 3,041 . Indeks kerawanan pemilu di Kalimantan Barat masuk
kategori sedang. Penilaian itu tidak sama pada saat pilkada serentak kemarin.
Kalimantan Barat masuk dalam kategori rawan. Pemetaan kerawanan pemilu sudah
dilakukan. Hasilnya Kalimantan Barat masuk dalam kategori sedang berdasarkan

1
Kompas.com, "Ini 10 Provinsi dan Kabupaten/Kota yang Rawan Saat Tahun Politik ", https:
//nasional.kompas.com/read/2018/03/08/11410741/.

1
indeks kerawanan pemilu. Kalbar penilaiannya 47,31 persen. Dari presentasi itu
Kalbar masuk dalam kategori rawan sedang terhadap konflik pemilu. Penilaian
berdasarkan indeks kerawanan pemilu itu menjadia acuan bagi Bawaslu untuk
melakukan pengawasan. Hasil penilaian itu juga disampaikan kepada TNI/Polri,
sebagai pihak yang ikut serta mensukseskan pemilu dari sisi pengamanan. Dalam
indeks kerawanan pemilu dimensi yang dinilai adalah kontestasi dan partisipasi. Pada
dimensi kontestasi merupakan hak politik, representasi minoritas, dan proses
pencaloan. Lalu dimensi partisipasi kandidit publik dan partisipasi dari partai partai
politik. Dari dimensi itu juga diketahui bahwa, bahwa hanya Sanggau saja, sebagai
kabupten yang masuk kategori rawan tinggi. Kabupatan lain, IKP-nya sedang, yang
tinggi itu hanya Kabupaten Sanggau.
Dalam penyelenggaraan pengamanan Pileg dan Pilpres dibutuhkan sinergitas
TNI dan Polri. Hal ini disebabkan TNI dan Polri memiliki jumlah anggota yang besar
dengan segala periengkapan dan peralatan yang modern, serta kewenangan yang
dimiliki sangat besar, maka sangatlah berbahaya jika kedua organisasi ini terlibat
konflik dan atau juga tidak netral dengan memihak kepada salah satu kelompok yang
sedang berkompetisi dalam pesta demokrasi ini. Sukses atau tidaknya perhelatan
demokrasi mill sangat tergantung kepada semua pihak yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung. Tidak saja anggota partai politik dan masyarakat yang
dituntut untuk taat dan patuh pada berbagai ketentuan yang ada, akan tetapi juga
pihak penyelenggara yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU RI), Badan Pengawas
Pemilu (Bawaslu RI), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) selaku wasit
dalam kompetisi inipun wajib hukumnya menunjukkan kinerja yang obyektif dan
transparan. Tidak ketinggalan tentunya fungsi dan peran TNI - Polri yang berada di
luar lingkup penyelenggara Pemilu, akan tetapi sangat menentukan suksesnya
keberlangsungan Pemilu yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia,
jujur, dan adil.
Seiring dengan hal tersebut, telah dikeluarkan Peraturan Presiden nomor 72
tahun 2018 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2019 dengan tema
"Pemerataan Pembangunan untuk Pertumbuhan Berkualitas", dimana pemerintah
mencanangkan 5 (lima) program prioritas tahun 2019. TNI-Polri menjadi salah satu
leading sector dalam Program Prioritas kelima yakni Stabilitas Keamanan Nasional
dan Kesuksesan Pemilu, dimana program ini memiliki 5 (lima) arah kebijakan yaitu
2
Memantapkan Kamtibmas dan Keamanan Siber, Menyukseskan Pemilu, Memperkuat
Pertahanan Wilayah Nasional, Meningkatkan Kepastian Hukum dan Reformasi
Birokrasi, dan Meningkatkan Efektifitas Demokrasi.
Dalam hal ini aparat TNI-Polri harus mampu mengidentifikasi dan memetakan
potensi kerawanan dan ancaman yang ada, serta berupaya semaksimal mungkin
untuk menjamin terlaksananya 5 (lima) arah kebijakan tersebut dan juga mendukung
kementerian dan lembaga lain menuntaskan 4 (empat) Program Prioritas lainnya
dalam rangka keberlangsungan pembangunan nasional. TNI Polri dengan segala
kemampuannya dapat menyelenggarakan pengamanan untuk melaksanakan Pemllu
serentak yang tentunya memiliki tingkat kesulitan yang iauh lebih tinggi dlbanding
dengan bentuk Pemilu sebelumnya.
Terkait pelaksanaan Pemilu tahun 2019, perlu dilakukan deteksi dini dan
pencegahan dini agar berbagai potensi kerawanan yang ada tidak berkembang
menjadi ancaman faktual dalam Pemilu nanti. Bawaslu RI melalui Komisioner
Mochammad Afifuddin, pada tanggal 25 september 2018 telah merilis Indeks
Kerawanan Pemilu (IKP) 2019. Terdapat sekurangnya 8 (delapan) potensi kerawanan
yang berujung pada tindak pidana Pemilu yakni Integritas dan profesionalitas
penyelenggara, kontestasi, partisipasi, netralitas ASN, politik uang, gangguan
kamtibmas, politik identitas, dan media sosial. Di dalam IKP 2019, Bawaslu RI
menggunakan empat dimensi utama yang dijadikan alat ukur untuk mclihat potensi
hambatan dan kerawanan Pcmilu 2019, sehingga akan menghasilkan Pemilu yang
demokratis, berkualitas, dan bermartabat. Keempat dimensi tersebut, yaitu konteks
sosial politik, penyelenggaraan pemilih yang bebas dan adil, kontestasi, dan
partisipasi. Dimana dalam konteks sosial politik diuraikan ke dalam beberapa
subdimensi yakni Keamanan, Otoritas Penyelenggara Pemilu, dan Penyelenggara
Negara.
Dalam hiruk pengamanan Pileg dan Pilpres, Sinergitas Polri dan TNI harus
dikuatkan dengan democratic policing. Jika community policing dipergunakan sebagai
filosofi dari kinerja Polri, maka democratic policing lebih pada tataran manajemen
dan pengelolaan dari senirgitas tersebut. Paradigma democratic policing sejalan
dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 yang menegaskan bahwa salah satu
tugas polisi memelihara kamtibmas, sehingga logislah apabila dalam menjalankan
tugasnya polisi harus berada di tengah-tengah masyarakat. Democratic policing
3
menyangkut kesiapan Polri dalam memberikan rasa aman dan jaminan keamanan
terhadap warganegara tidak terkecuali pada pengamanan Pileg dan Pilpres 2019.
Wilayah hukum Polda Kalbar pada setiap pelaksanaan Pemilu dan Pilkada
menyimpan potensi kerawanan tersendiri yang dipengaruhi kondisi geografis dan
demografis. Histori konflik SARA yang selama ini melatarbelakangi situasi sosial dan
politik menjadi issue yang mulai hangat menjelang pelaksanaan Pemilu. Bukan hanya
aspek kerawanan aspek sosial. Kerawanan dari aspek yuridis dan politik uang juga
dapat mengemuka menjadi konflik perlu untuk diantisipasi. Pengerahan massa dan
mobilisasi massa pun perlu untuk diwaspadai.
Oleh karena itu, dalam mewujudkan sinergitas Polri dan TNI dalam
penyelenggaraan Pemilu melalui democratic policing, perlu adanya konsolidasi
internal kedua institusi yang mempererat jalinan kerjasama keduanya yang lebih
balk, dipandang perlu menyamakan kembali persepsi dan langkah ke depan.

B. Pokok Permasalahan
Dari uraian latar belakang di atas pokok permasalahan yang diambil adalah
bahwa sinergitas TNI-Polri pada penyelenggaraan pengamanan Pileg dan Pilpres
yang dilaksanakan oleh di wilayah Polda Kalbar perlu ditingkatkan.

C. Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan Naskah akademik ini
adalah, sebagai bahan masukan dan saran pemikiran kepada lembaga maupun
pimpinan Polri untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka menentukan
kebijakan lebih lanjut berkaitan dengan upaya mengoptimalkan sinergitas TNI-Polri
pada penyelenggaraan pengamanan Pileg dan Pilpres yang dilaksanakan oleh di
wilayah Polda Kalbar.

D. Metode dan Pendekatan.


Dalam membahas upaya mengoptimalkan sinergitas TNI-Polri pada
penyelenggaraan pengamanan Pileg dan Pilpres yang dilaksanakan oleh di wilayah
Polda Kalbar maka penulis akan menggunakan metode dan pendekatan, sebagai
berikut:

4
1. Metode
Metode yang digunakan dalam penulisan Naskah Akademik ini adalah
metode deskriptif analisis yaitu menggambarkan fakta-fakta yang selanjutnya
dianalisis untuk mendapatkan solusi pemecahan serta upaya yang dapat
dilakukan.

2. Pendekatan.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan
menggunakan studi kepustakaan yaitu mempelajari referensi-referensi yang
terkait dengan permasalahan dan artikel-artikel yang berkaitan dengan upaya
sinergitas TNI-Polri pada penyelenggaraan pengamanan Pileg dan Pilpres yang
dilaksanakan oleh di wilayah Polda Kalbar.

E. KONSEPTUAL DAN PENGERTIAN


1. Sinergitas
Sinergitas dalam capaian hasil berarti kerjasama berbagai unsur
atau bagian atau kelompok atau fungsi atau instansi atau lembaga untuk
mendapat capaian hasil yang lebih baik dan lebih besar. Banyak yang di
hasilkan dari bersinergi diantaranya adalah terciptanya saling menghargai
dan pelaksanaan tugas atau kewajiban menjadi lebih maksimal dan
efisien. Dalam naskap ini konsep yang digunakan adalah teori kerjasama
yang berkaitan dengan sinergitas TNI dan Polri. Pamudji menyatakan
bahwa Kerjasama pada hakekatnya mengindikasikan adanya dua pihak
atau lebih yang berinteraksi secara dinamis untuk mencapai suatu tujuan
bersama..2 Kerjasama memiliki derajat yang berbeda, mulai dari
komunikasi dan koordinasi sampai pada derajat yang lebih tinggi yaitu
kolaborasi. Dimana perbedaan terletak pada kedalaman interaksi,
integrasi, komitmen dan kompleksitas.3
2. Pengamanan
Pengamanan adalah segala urusan pekerjaan dan kegiatan
mengenai pengumpulan, pengolahan dan penafsiran data untuk

2
Pamudji. Kerjasama Antar Daerah Dalam Rangka Pembinaan Wilayah. Jakarta: Bina Aksara.
1985. hlm.. 12-13.
3
Soerjono Soekanto,Sosiologi Suatu Pengantar, PT Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hlm. 12.
5
memungkinkan perencanaan dan pengambilan tindakan guna
penyelenggaraan pengembangan terhadap personal, material, bahan
keterangan dan kegiatan/ operasi
3. Pileg dan Pilpres
Pileg dan Pilpres adalah bagian dari Pemilihan Umum. Pemilihan
umum (disebut Pemilu) adalah proses memilih orang untuk mengisi
jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-
ragam, mulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan,
sampai kepala desa. Pemilu merupakan salah satu usaha untuk
memengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan
kegiatan retorika, hubungan publik, komunikasi massa, lobi dan lain-lain
kegiatan. Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat
dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan
teknik propaganda banyak juga dipakaioleh para kandidat atau politikus
selalu komunikator politik.4
4. Democratic Policing
Democratic policing sebagai paradigma pemolisian pada era
demokrasi membangun landasan filosofis mengenai pemolisian yang
memberikan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) dan Hak
Ecosoc sebagai salah satu kovenan Hak Asasi Manusia (HAM) yang
memuat penegasan hak-hak dasar ekonomi, sosial dan budaya setiap
manusia. Oleh karena itu, democratic policing merupakan konsep
pemolisian yang mengacu pada orientasi utama penegakan hukum (rule
of law) dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.5

F. PEMBAHASAN
Berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penanganan
Gangguan Keamanan Dalam Negeri Tahun 2013 telah memerintahkan kepada
Pejabat Kementerian dan Lembaga Negara yakni Polri dan TNI serta Para Kepala
Daerah (Gubernur dan Bupati/Walikota) untuk lebih meningkatkan keterpaduan dan

4
Arifin, Anwar. Pencitraan dalam politik, Jakarta: Pustaka Indonesia, 2006,hlm.39
5
Muhammad Tito Karnavian dan Hermawan Sulistyo, Democratic Policing, Jakarta:Pensil 324,
2017.
6
sinergitas dalam rangka menjamin terciptanya kondisi sosial, hukum, dan keamanan
dalam negeri yang kondusif dalam mendukung kelancaran pembangunan nasional
yang merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah. Dalam rangka penghentian
tindak kekerasan maka dalam keadaan tertentu sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan, Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan
tugas memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dibantu oleh unsur Tentara
Nasional Indonesia, unsur Kementerian/Lembaga terkait dan unsur Pemerintah
Daerah.6
Wacana Perpolisian Demokratik (Democratic Policing) menguat dan
menjadi pembicaraan di institusi keamanan, baik TNI, Polri, maupun Badan Intelijen
Negara (BIN) serta para peneliti dan kajian pertahanan dan keamanan. Bahkan
dengan bantuan media sosial, wacana democratic policing tersebut viral ke banyak
grup komunikasi dan keluar dari konteks democratic policing itu sendiri. Bahkan,
karena berdekatan dengan pelaksanaan Pemilu Serentak 2019, wacana democratic
policing harus dipahami sebagai upaya dari Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Polri) untuk menempatkan posisinya di semua level, mulai yang strategis hingga
tahapan teknis. Hal tersebut menyudutkan Polri yang dianggap akan mengubah
paradigma dan esensi keamanan nasional, yang mana kewenangan keamanan dan
pertahanan sudah menjadi domain masing-masing institusi.7
Menurut Muradi wacana democratic policing justru menguatkan paradigma
dan esensi keamanan nasional, bukan untuk menggeser peran aktor dan atau
mengubah paradigma dan esensi keamanan nasional yang ada selama ini. Hal itu
semata-mata adalah perubahan paradigma personel kepolisian dari paradigma lama
kepada paradigma kepolisian demokratik yang tunduk dan patuh pada otoritas sipil
beserta nilai-nilai yang ada di dalamnya. Perdebatan peran dan fungsi TNI dan Polri
yang mengemuka pasca-pemisahan kedua institusi tersebut tuntas saat kedua
institusi tersebut fokus pada peran dan fungsinya, Polri fokus pada Keamanan Dalam
Negeri (Kamdagri) dan TNI lebih kepada peran dan fungsi pertahanan negara. 8

6
Instruksi Presiden RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan Keamanan Dalam
Negeri Tahun 2013, bagian ketiga.
7
Muradi, “Democratic Policing" dan Keamanan Nasional” https://nasional.sindonews.com/read
/1365975/18/democratic-policing-dan-keamanan-nasional-1545843859.
8
Muradi, “Democratic Policing" dan Keamanan Nasional” https://nasional.sindonews.com/read
/1365975/18/democratic-policing-dan-keamanan-nasional-1545843859

7
Namun demikian, pembagian peran dan fungsi tersebut, isu tentang upaya
masing-masing institusi untuk berupaya mengambil peran dan fungsi yang bukan
menjadi bagiannya terus mengemuka hingga saat ini. Tak heran apabila kemudian
wacana democratic policing dikemas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab
seolah-olah ada ambisi besar Polri untuk mengubah paradigma dan esensi dari
keamanan nasional, yang mana akan mereduksi peran dan fungsi TNI sebagai
bagian dari perubahan paradigma tersebut.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Polri, berkaitan dengan keberadaan dan
posisi Polri di bawah langsung Presiden yang terus dipertanyakan. Hal itulah yang
kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang tidak ingin agar TNI dan Polri dapat berbagi
peran dalam menjaga Indonesia khususnya pada penyelenggaraan Pemilu 2019,
termasuk wacana democratic policing yang dikemas seolah akan mengubah
paradigma dan esensi keamanan nasional.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan, Polri dan Tentara Nasional
Indonesia (TNI) menguatkan koordinasi bersama guna memaksimalkan pengamanan
Pemilu 2019. Sebab, kedua lembaga ini ingin Pemilu 2019 berjalan dengan tertib dan
damai. Kapolri menegaskan Polri dan TNI tak bergerak sendiri dalam mengamankan
Pemilu 2019. Selain menyusun strategi dan operasi terpusat, Polri dan TNI akan
melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk memaksimalkan pengamanan. Polri
dan TNI juga akan melibatkan tokoh masyarakat, ormas, semua pihak yang peduli
pemilu aman dan damai, Hal ini disebabkan adanya polarisasi masyarakat akibat
Pemilu 2019 tak terhindarkan. Polri melihat peranan elemen masyarakat seperti
tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ormas berperan strategis untuk mencegah
konflik secara langsung. Selain itu, diperlukan pembangunan narasi-narasi positif
oleh elemen masyarakat agar Pemilu 2019 berjalan damai. 9

Potensi terjadinya berbagai gangguan keamanan pada tingkat nasional


terjadi hampir disetiap wilayah hukum di Indonesia, tidak terkecuali di wilayah
hukum Polda Kalimantan Barat, munculnya gangguan keamanan dapat
mempengaruhi kondisi Kamtibmas secara menyeluruh, khususnya menjelang
pelaksanaan Pemilihan Umum 2009. Ancaman kejahatan yang terjadi dalam suasana

9
Kompas.com "Polri dan TNI Rancang Strategi Bersama Pengamanan Pemilu 2019, https: //
nasional.kompas.com/read/2018/09/13/13584591/polri-dan-tni-rancang-strategi-bersama-peng
amanan-pemilu-2019.
8
Pemilu 2019. Secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi situasi
kamtibmas dalam penyelenggaraan Pemilu diantaranya:
1. Ancaman Terorisme
2. Adanya pengrusakan terhadap fasilitas umum
3. Terjadinya pengeroyokan, penganiayaan, pembunuhan, penculikan atau
persekusi yang berkaitan datau berlatar belakang politik (Pemilu)
4. Terjadinya penipuan dan atau penggelapan
5. Terjadinya pencurian, penjambretan, pada kegiatan yang melibatkan
massa.10

Telah banyak upaya yang dilakukan oleh Polda Kalbar dalam menanggulangi
gangguan keamanan, seperti melalui kegiatan operasi rutin, menempatkan personil
Polri berseragam ditempat-tempat tertentu, dan sebagainya. Namun demikian, angka
kejahatan tetap saja tidak mengalami penurunan secara signifikan bahkan terkesan
semakin meningkat. Potensi tingginya gangguan keamanan di tengah-tengah
keterbatasan sumber daya yang dimiliki aparat Polri, seperti sumber daya manusia,
sarana prasarana serta anggaran, tentu mendorong perlunya semua pihak untuk ikut
terlibat di dalamnya. Mengharapkan aparat keamanan untuk dapat mengatasi semua
bentuk ancaman dan gangguan Kamtibmas bukanlah pilihan yang bijaksana Di
samping itu, pengalaman membuktikan, bahwa pelibatan pihak lain, misalnya
anggota masyarakat dalam menjaga Kamtibmas merupakan cara yang paling efektif,
mengingat masyarakat sendirilah yang mengetahui secara tepat kondisi wilayah
dimana mereka tinggal, sehingga setiap potensi terjadinya ancaman dan gangguan
Kamtibmas lebih mudah untuk dideteksi serta diantisipasi.
Pendekatan Democratic Policing untuk saat ini masih mengepankan Polmas.
Sekalipun konsep Polmas telah tersusun dengan baik bahkan telah memperoleh
dasar pijakan yuridis yang kuat dengan keluarnya Peraturan Kepala Kepolisian
Negara Republik Indonesia No. 7 Tahun 2008 tentang Pedoman Dasar Strategi dan
Implementasi Pemolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri, namun
tidak berarti Polmas mudah untuk diimplementasikan, terbukti dalam praktiknya
banyak kendala yang dihadapi, di antaranya: masih muncul pemikiran sempit dari
sebagian anggota masyarakat bahwa Polmas dibentuk sebagai upaya menandingi
10
Biro Ops Polda Kalbar, “Mengawal Demokrasi Kalbar”, 2018
9
Bintara Pembina Masyarakat (Babinsa) yang dibentuk oleh Tentara Nasional
Indonesia (TNI). Akibat cara pandang seperti ini memunculkan sikap saling curiga
mencurigai di antara kedua institusi terkait pelaksanaan tugas dalam menjaga
Kamtibmas.
Cara pandang sempit demikian tentu menyebabkan munculnya kondisi
disharmonis antara Polisi dan TNI dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya guna memelihara dan menjaga keamanan nasional. Padahal idealnya
diantara kedua institusi ini terjalin hubungan sinergitas yang saling melengkapi
menuju tujuan yang sama sebagaimana menjadi cita-cita bersama yaitu terwujudnya
Masyarakat Indonesia yang aman dan damai.
Dalam tulisan naskah akademik ini, penulis akan menggambarkan secara
singkat beberapa hal terkait upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan
sinergitas antara Polri dan TNI dalam penyelenggaraan Pileg dan Pilpres di wilayah
hukum Polda Kalbar melalui democratic policing, dengan harapan melalui uraian ini
akan diperoleh pencerahan pada kita semua bahwa antara Polri dan TNI tidak terjadi
rivalitas sebagaimana yang selama ini berkembang di tengah-tengah masyarakat,
namun sebaliknya keduanya saling melengkapi.
Munculnya permasalahan terkait sinergitas TNI-Polri pada penyelenggaraan
pengamanan Pileg dan Pilpres yang dilaksanakan oleh di wilayah Polda Kalbar,
sejatinya tidak perlu terjadi apabila masing-masing institusi memiliki pemahaman
yang tepat terkait tugas dan tanggung jawabnya. Belum baiknya kerjasama dan
koordinasi antara instansi terlihat dari hal-hal sebagai berikut:
1. Komunikasi antara anggota Polda Kalbar dengan anggota TNI di level
bawah masih menunjukan kurang intensif yang disebabkan sikap saling
menonjolkan diri pada penguasaan kemampuan dalam menanggulangi
gangguan keamanan. Selain itu komunikasi juga dilihat dari lemahnya
rasa kesatuan untuk mencegah terjadinya konflik antar institusi. Sehingga
idealnya komunikasi dapat dibangun dengan memperkuat Nota
Kesepahaman antara TNI dan Polri nomor B/360/I/2013 tanggal 28
Januari 2013 tentang Perbantuan TNI kepada Polri dalam menghadapi
gangguan keamanan, Adanya MoU tersebut setidaknya dapat
meningkatkan komunikasi antara kedua intistusi. Dalam mengaplikasikan
mekanisme perbantuan TNI terhadap Polri dilihat dari Hubungan
10
kerjasama antara TNI dan Polri sangat diperlukan dalam menciptakan
situasi kamtibmas yang yang kondusif. Kerjasama TNI dan Polri tersebut
dapat berupa penyelesaian perselisihan yang terjadi di masyarakat,
pelaksanaan pengamanan kegiatan kemasyarakatan serta kegiatan-
kegiatan lainnya yang dapat dilakukan dalam rangka menjaga stabilitas
keamanan yang kondusif. Namun pelaksanaan kerjasama tersebut tidak
boleh menyimpang dari tugas dan wewenang dari masing-masing instansi,
yang mana TNI dan Polri mempunyai tugas dan tanggung jawab serta
wewenang masing-masing. Disamping kerjasama yang telah terbangun,
wujud kerjasama antara TNI dan Polri selama ini juga diperkuat dalam
Rapat antar Pimpinan Nasional (Rapimnas) TNI dan Polri pada tanggal 29
Januari 2013 tentang evaluasi dalam penanganan gangguan masyarakat
agar aparat lebih profesional dan cepat bertindak. Berdasarkan MoU yang
sudah dibuat oleh Polri dan TNI pada tanggal 28 Januari 2013, terdapat 5
(lima) jenis tugas perbantuan meliputi :
a. Menghadapi unjuk rasa maupun mogok kerja
b. Menghadapi kerusuhan massa;
c. Menangani konflik sosial;
d. Menangani kelompok kriminal bersenjata; dan
e. Mengamankan kegiatan masyarakat atau pemerintah yang bersifat
lokal, nasional maupun internasional yang mempunyai kerawanan.

2. Koordinasi antara TNI dengan anggota Polda Kalbar kurang ditandai


terciptanya koordinasi dalam satu komando pengendalian (Kodal) pada
suatu operasi kewilayahan misalanya Operasi Mantab Brata dimana Polri
dapat meminta perbantuan dari TNI. dengan catatan, TNI di bawah
koordinasi Polri di daerah Kalbar. Permintaan bantuan ini dimaksudkan
untuk memperkuat atau mengoptimalkan kemampuan dalam
menyelesaikan masalah yang ada di tengah masyarakat. Sehingga
diharapkan dapat menghilangkan keengganan Polri untuk meminta
bantuan kepada TNI dan TNI sendiri selalu siap diminta maupun tidak
untuk berperan aktif memberikan bantuan kepada Polri. Tugas pokok TNI
berdasarkan UU No. 34 Tahun 2004 adalah menegakan kedaulatan
11
negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan
Pancasila dan UUD tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap
keutuhan bangsa dan negara, serta salah satu tugas TNI dalam Operasi
Militer Selain Perang adalah membantu kepolisian negara republik
indonesia dalam rangka tugas kamtibmas yang diatur dalam UU
berdasarkan kebijakan dan keputusan politik Negara. Pelaksanaan tugas
perbantuan TNI kepada Polri mempunyai perbedaan dengan tugas yang
lainnya, komando operasional oleh kapolri yang menerima perkuatan
satgas TNI, sehingga dalam pelaksanaan sangat perlu pemahaman dari
kedua belah pihak dan koordinasi yang akurat mulai dari tahap
perencanaan sampai dengan pelaksanaan. Referensi tentang perbantuan
TNI kepada Polri dalam rangka tugas kamtibmas diatur dalam beberapa
ketentuan perundangan dan pedoman, yaitu :
a. Pasal 7 ayat (2) a. 10 UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI disebutkan
bahwa salah satu tugas TNI adalah membantu Kepolisian Negara
Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban
masyarakat yang diatur dalam undang-undang.
b. Perpang TNI Nomor Perpang/71/VIII/2011 tgl 19 Agustus 2011
Tentang Bujuklak Perbantuan TNI kepada Polri dalam rangka tugas
Kamtibmas
c. Nota Kesepahaman antara Polri dengan TNI Nomor:B/4/I/2013 dan
Nomor : B/360/I/2013 tgl 28 Januari 2013
Adanya reformasi nasional di bidang keamanan diharapkan akan
mengarahkan masing-masing institusi atau faktor keamanan pada fungsi
masing-masing. Adapun perbantuan TNI terhadap Polri dalam bidang
Harkamtibmas berpedoman kepada :
a. Kriteria ancaman, yaitu :
1) Gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat berbentuk
kerusuhan massa dan pelanggaran hukum, apabila tidak segera
diatasi dapat berkembang menjadi ancaman terhadap
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

12
2) Intensitas pelanggaran dan kejahatan serta kualitas ancaman
yang meresahkan masyarakat dan dapat merongrong
kredibilitas pemerintah dan atau yang mengarah kepada
disintegrasi bangsa
3) Adanya kegiatan masyarakat atau pemerintah yang berskala
besar dan nasional sehingga memerlukan pengerahan bantuan
TNI kepada Polri.
b. Kriteria kemampuan Polri, yaitu :
1) Terbatasnya personel Polri baik kualitas maupun kuantitas
untuk mengatasi gangguan keamanan dan ketertiban
masyarakat
2) Sarana dan prasarana pendukung operasional Polri dinilai tidak
cukup untuk mengatasi gangguan keamanan dan ketertiban
masyarakat
3) Keadaaan geografis yang tidak memungkinkan Polri bertindak
segera, sehingga membutuhkan bantuan TNI setempat untuk
mengatasi gangguan keamanan dan ketertiban.

3. Kolaborasi unsur pimpinan masing-masing unsur baik dari tingkat


pimpinan dan anggota kurang berjalan baik, karena adanya sikap
menonjolkan kemampuan yang mendukung keharmonisan diantara
keduanya. Konflik yang melibatkan antar kesatuan merupakan indikasi
atas merosotnya “esprit de corps” (semangat jiwa korsa), yang justru
merupakan hal utama dalam human relationship (hubungan antar
manusia) alat-alat negara bersenjata tersebut. Masalah hubungan antara
manusia prajurit TNI dan anggota Polri, merupakan inti dari leadership
(kepemimpinan), sedangkan kepemimpinan merupakan inti dari
manajemen, dan manajemen merupakan inti dari administrasi Negara
Republik Indonesia. Administrasi pemerintahan Republik Indonesia yang
menempatkan TNI di bawah supervisi Menteri Pertahanan sedangkan Polri
langsung di bawah Presiden, dirasakan mempengaruhi psikologi para
prajurit yang semakin condong ke arah pudarnya rasa ikatan jiwa korsa
dengan anggota-anggota Polri sesama alat negara.
13
Sehingga kondisi ideal bentuk kolaborasi antara Polda Kalbar dan
TNI, dapat dijadikan sebagai aktualisasi dari revolusi mental, sehingga
diharapkan dapat terwujud dengan perubahan. Perubahan yang tidak
mengarah ke kemajuan dan mempertahankan sikap dan cara-cara lama
yang tidak efisien bukanlah suatu perubahan. Kehadiran Negara untuk
melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh
warga Negara sangat dibutuhkan masyarakat Kalbar, sehingga tanpa ada
visi kerjasama yang terpadu, maka pengamanan Pemilu melalui
democratic policing masih sulit mencapai keberhasilan yang optimal, maka
diperlukan kesadaran masing-masing unsure baik Polri maupun TNI.
Sehingga diharapkan dengan adanya revolusi mental sebagai program
Presiden Joko Widodo dapat menyatukan persepsi dan tujuan yang
menjadi sasaran pada setiap pelaksanaan operasi.
4. Deteksi dini terhadap potensi kriminalitas di wilayahnya seringkali
dilakukan secara parsial, tanpa ada kerjasama dan koordinasi yang baik
5. Masing-masing institusi dalam menjalankan kewenangannya masih
bersifat sektoral tidak dalam keterpaduan sistem.

Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut maka upaya yang dapat


dilakukan adalah
1. Meningkatkan Komunikasi, Koordinasi dan Kolaborasi pada Pengamanan
Pileg dan Pilpres di Kalbar
a. Komunikasi
1) Sosialisasi Mou Perbantuan TNI terhadap Polri, dengan
melakukan upaya antara lain:
a) Menyusun buku saku tentang MOu TNI dengan Polri yang
dapat digunakan masing-masing iinstansi sebagai
pedoman dalam pelaksanaan tugas.
b) Melaksanakan sosialisasi dan internalisasi terkait SOP
masing-masing tentang mekanisme perbantuan kepada
seluruh personel guna menimalisir terjadinya perbedaan
persepsi pada level pelaksana

14
c) Menanamkan nilai-nilai etos kerja kepada seluruh personel
dibawahnya dengan berlandaskan pada semangat
ketulusan, keikhlasan, profesionalisme dan ketakwaan
kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan
pengabdian kepada bangsa dan negara.
d) Interaksi dan komunikasi dua arah sehingga pimpinan
dapat menyampaikan pokok-pokok keinginannya sekaligus
mendapatkan masukan dari bawahan serta dapat
meningkatkan rasa empati pimpinan terhadap
permasalahan yang berkembang dan dialami oleh
bawahan.
e) Menguatkan nilai-nilai jati diri prajurit sesuai Sapta Marga,
Sumpah Prajurit, delapan Wajib TNI dan Tri Brata dengan
mengutamakan pembentukan watak, sikap dan perilaku
personel Polri dan TNI yang berperilaku benar, jujur,
dapat dipercaya dan komunikatif.
b. Koordinasi
1) Para personel unsur pimpinan Polda Kalbar dan Pimpinan TNI
yang dilibatkan pada Operasi Mantab Brata Pemilu 2019
menyatukan pola pembinaan dan pelaksanaan operasi
penanganan terorisme secara terpadu yang dalam kendali
operasinya berada dibawah Polri upaya yang dilakukan
2) Melakukan kooordinasi dengan unusr TNI setempat untuk
meningkatkan kerjasama yang sudah terjalin dalam
pengamanan Pemilu, sehingga diharapkan dapat mengurangi
ego sektoral
3) Pembinaan rohani dan mental bersama, untuk menguatkan
soliditas bagi personel yang dilibatkan pada Operasi
Pengamanan Pemilu.

15
c. Kolaborasi
1) Perencanaan dan pelaksanaan latihan gabungan guna
menghadapi berbagai persoalan bangsa dengan menguji
Standart Operasional Procedure penanganan tugas bersama.
2) Unsur pimpinan Polda dan unsur pimpinan TNI, melaksanakan
diskusi formal dan informal dalam rangka meningkatkan
kewaspadaan bersama menyikapi perkembangan lingkungan
strategis yang tidak menutup kemungkinan adanya pihak-pihak
yang menghendaki TNI dan Polri tidak kompak yang bermuara
pada instabilitas nasional.
3) Unsur pimpinan Polda dan unsur pimpinan TNI, melaksanakan
rapat analisa dan evaluasi dengan tujuan merencanakan agar
dilakukan pelatihan gabungan antara unsur TNI dengan Polda
Kalbar, selain itu kepada personel yang dilibatkan juga
melakukan pelatihan gabungan dengan mengikuti SOP yang
sudah diterapkan.
2. Polda Kalbar bekerjasama dengan TNI melakukan pemetaan terhadap
berbagai masalah yang biasa muncul dalam penyelenggaraan ketertiban
dan ketenteraman masyarakat.
3. Polda Kalbar secara periodik melakukan pertemuan dengan TNI, baik
formal maupun informal guna bersama-sama dengan masyarakat
melakukan upaya pengamanan pada Pileg dan Pilpres.
4. Polda Kalbar khususnya Fungsi Intelkam melakukan kerjasama dengan
Bagian Intel TNI di wilayah Kalbar untuk melakukan Deteksi dini terhadap
potensi kriminalitas di wilayahnya.

G. Penutup
1. Kesimpulan
Wilayah hukum Polda Kalbar pada setiap pelaksanaan Pemilu dan
Pilkada menyimpan potensi kerawanan tersendiri yang dipengaruhi kondisi
geografis dan demografis. Sehingga diperlukan adanya sinergitas TNI-
Polri dalam penyelenggaraan pengamanan. Dalam mewujudkan sinergitas
Polri dan TNI dalam penyelenggaraan Pemilu melalui democratic policing,
16
perlu adanya konsolidasi internal kedua institusi yang mempererat jalinan
kerjasama keduanya yang lebih balk, dipandang perlu menyamakan
kembali persepsi dan langkah ke depan. Namun masih terdapat kendala
baik dalam komunikasi, koordinasi dan kolaborasi antara kedua institusi
tersebut.

2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka saran yang diberikan adalah:
a. Polri mengusulkan agar dalam setiap penyusunan Perundang-
undangan yang berkaitan dengan ketertiban dan ketenteraman
masyarakat Polri dan TNI dilibatkan dalam pembahasannya;
b. Polri mengusulkan kepada TNI agar masing-masing institusi secara
periodik memberitahukan setiap operasi/kegiatan penertiban yang
dilakukan oleh aparatnya guna menghindarkan munculnya
penyalahgunaan wewenang
c. Agar menyusun rencana koordinasi yang efektif dengan fungsi Polri
lainnya dan unsur TNI melalui rencana latihan bersama agar dapat
terwujud sinergitas polisional yang efektif

Referensi:

Arifin Anwar. Pencitraan dalam politik, Jakarta: Pustaka Indonesia, 2006.


Biro Ops Polda Kalbar, “Mengawal Demokrasi Kalbar”, 2018
Muhammad Tito Karnavian dan Hermawan Sulistyo, Democratic Policing,
Jakarta:Pensil 324, 2017.
Pamudji. Kerjasama Antar Daerah Dalam Rangka Pembinaan Wilayah. Jakarta: Bina
Aksara. 1985.
Soerjono Soekanto,Sosiologi Suatu Pengantar, PT Bumi Aksara, Jakarta, 2000.
Instruksi Presiden RI Nomor 2 Tahun 2013 tentang Penanganan Gangguan
Keamanan Dalam Negeri Tahun 2013
Kompas.com, "Ini 10 Provinsi dan Kabupaten/Kota yang Rawan Saat Tahun Politik
", https: //nasional.kompas.com/read/2018/03/08/11410741/.
Kompas.com "Polri dan TNI Rancang Strategi Bersama Pengamanan Pemilu 2019,
https: //
nasional.kompas.com/read/2018/09/13/13584591/polri-dan-tni-rancang-strategi-
bersama-peng amanan-pemilu-2019
Muradi, “Democratic Policing dan Keamanan Nasional” https://nasiona.sindonews.
com/read/1365975/18/democratic-policing-dan-keamanan-nasional-154584385
59.

17