Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Otomikosis atau yang dikenal juga dengan fungal otitis externa merupakan
infeksi jamur yang sering terjadi pada telinga luar, terutama pinna
(auricula) dan meatus acusticus externus. Otomikosis sering terjadi di
negara tropis dan subtropis, dan pada kebanyakan kasus, jamur penyebab
tersering infeksi ini merupakan isolat dari Aspergillus (niger, fumingatus,
flavescens, albus) atau Candida spp.1,2
Kasus otomikosis tersebar di seluruh belahan dunia. Sekitar 5-25% dari
total kasus otitis eksterna merupakan kasus otomikosis. Frekuensi
terjadinya infeksi ini bervariasi berdasarkan perbedaan area geografis yang
dihubungkan dengan faktor lingkungan (temperatur, kelembaban relatif)
dan dihubungkan juga dengan musim. Faktor-faktor ini berkontribusi
terhadap peningkatan keringat dan kelembaban mengubah lingkungan
epitel permukaan canalis accusticus externus.7 Di Inggris, diagnosis otitis
eksterna yang disebabkan oleh jamur ini sering ditegakkan pada saat
berakhirnya musim panas.3,4,5 Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa
gejala. Gejala yang paling sering terjadi adalah pruritus. Namun dapat pula
terjadi gejala lain seperti otalgia, otorrhea, kehilangan pendengaran, dan
tinnitus. Faktor predisposisi terjadinya otomikosis meliputi hilangnya
lapisan serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur, dan
trauma

lokal,

yang

biasanya

sering

disebabkan oleh

kebiasaan

membersihkan telinga secara rutin menggunakan cotton buds dan


penggunaan alat bantu dengar.1,6
Serumen memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan
pertumbuhan bakteri dan jamur. Olahraga air misalnya berenang dan

berselancar sering dihubungkan dengan keadaan otomikosis oleh karena


paparan ulang dengan air sehingga kanal menjadi lembab dan dapat
mempermudah jamur tumbuh. Bisa juga disebabkan oleh
prosedur

adanya

invasif pada telinga seperti munggunakan cotton buds yang

dapat mengangkat film layer sehingga serumen keluar atau penggunaan


antibiotik dan steroids yang dapat menurunkan jumlah flora normal, dan
dapat juga terjadi pada penderita eksema, rhinitis allergika, dan asthma.5
1.2

Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui penyebab, diagnosis dan penatalaksanaan penyakit
pada pasien tersebut sudah tepat atau tidak berdasarkan hasil anamnesis
dan pemeriksaan fisik serta membandingkan antara teori-teori yang telah
ada dengan keadaan yang sebenarnya.

BAB II
LAPORAN KASUS (CASE REPORT)
Identitas
Nama

: Tn. R

Umur

: 67 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku bangsa

: Lampung

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Kelumbayan, Tanggamus

Anamnesis
Anamnesis pada pasien dilakukan secara Autoanamnesa pada tanggal 19
Agustus 2016
Keluhan Utama:
Gatal pada telinga kanan dan kiri sejak 3 hari yang lalu.
Keluhan Tambahan :
Nyeri pada telinga kiri, rasa penuh di telinga, pendengaran menurun
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poli THT RSUD Abdul Moeloek dengan keluhan gatal pada
telinga kanan dan kiri sejak 3 hari yang lalu. Awalnya, pasien sering
membersihkan laing telinganya menggunakan cotton bud atau lainnya. Hal ini
dilakukan sekitar 2 kali dalam 2 minggu. Kemudian beberapa hari terkahir ini
telinga pasien terasa gatal. Gatal ditelinga kiri dirasakan lebih berat
dibandingkan dengan gatal di telinga kanan. Gatal dirasakan terus-menerus
dan memberat setelah pasien mengorek-ngorek telinganya karena terasa gatal.
Pasien mengatakan, dengan mengorek telinga pasien merasa nyaman tetapi
setelah itu gatal terasa memberat. Selain itu, pasien juga mengeluh nyeri pada

telinga kirinya. Keluhan nyeri tidak menjalar dan dirasakan seperti ditusuktusuk. Keluahn nyeri dirasakan memberat setelah mengorek telinga. Pasien
juga mengeluhkan pendengaran pada telinga kiri terasa penuh dan sedikit
menurun dibandingkan sebelah kanan. Pasien merupakan petani dan bekerja
pada pagi hingga siang hari. Pasien mengatakan sering mengorek kuping
menggunakan cotton bud sekitar 1-2 kali setiap 2 minggu. Keluhan ini
mengganggu aktivitas dan istiraha pasien. Pasien menyangkal riwayat keluar
cairan dari dalam telinganya dan tidak merasa nyeri saat membuka mulut.
Tidak ada riwayat telinga berdenging. Tidak ada keluhan pusing (perasaan
berputar) ataupun sakit kepala. Pasien tidak mengeluhkan demam. Riwayat
trauma pada telinga disangkal. Rasa nyeri pada wajah disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan belum pernah mengalami penyakit telinga sebelumnya.
Riwayat penyakit diabetes mellitus (-), riwayat penyakit hipertensi (-),
riwayat batuk dan pilek (-), riwayat BAB cair berkepanjangan (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama
dengan pasien.
Riwayat Alergi
Pasien memiliki tidak memiliki riwayat alergi.
Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat untuk mengatasi keluhannya.
Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,50C

Status Generalis
Kepala

: Tidak ada kelainan

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Thorak

: Jantung dan paru dalam batas normal

Abdomen

: Hepar dan lien tidak teraba, bising usus (+), normal

Ekstremitas

: Edema tidak ada, perfusi jaringan baik

Status Lokalis THT


Telinga
KANAN

TELINGA LUAR

KIRI

Normotia

Bentuk telinga luar

Normotia

Deformitas (-),nyeri
tarik (-),warna kulit
sama dengan sekitarnya,
edema (-)

Daun telinga

Deformitas (-), nyeri tarik


(-), warna kulit sama dengan
sekitarnya, edema (-)

Warna kulit sama


dengan sekitar, nyeri
tekan tragus (-), fistula
(-), edema (-), abses (-)

Preaurikular

Warna kulit sama dengan


sekitar, nyeri tekan tragus
(-), fistula (-), edema (-),
abses (-)

Hiperemis (-),nyeri
tekan (-), benjolan (-),
fistula (-)

Retroaurikular

Hiperemis (-),nyeri tekan (-),


benjolan (-),fistula (-)

Tidak ada

Tumor

Tidak ada

KANAN

LIANG TELINGA

KIRI

Lapang

Lapang / Sempit

Sempit

Warna menyerupai
kulit

Warna Epidermis

Hiperemis

Tidak ada

Sekret

Gambaran massa putih


keabu-abuan dengan bintik
hitam dan filamen halus
(Debris (+), hifa (+), spora
(+))
5

Ada

Serumen

Ada

Tidak ada

Tumor

Tidak ada

Tidak ada

Edema

Ada

KANAN

MEMBRAN TIMPANI

KIRI

Putih mutiara

Warna

Sulit dinilai

(+) arah jam 5

Reflek Cahaya

Sulit dinilai

(-)

Perforasi

Sulit dinilai

Retraksi (-), bulging


(-)

Bulging/Retraksi

Sulit dinilai

Kesan :
- Telinga kiri canalis auricularis eksternus sempit, edema (+),
hiperemis (+), hifa (+), spora (+), membran timpani sulit dinilai
-

Telinga kanan dalam batas normal

Hidung
KANAN

HIDUNG LUAR

KIRI

Warna sama dengan


sekitarnya

Kulit

Warna sama dengan


sekitarnya

Normal

Bentuk Hidung Luar

Normal

Tidak ditemukan

Deformitas

Tidak ditemukan

Tidak ada
Tidak ada

Nyeri Tekan
Dahi

Tidak ada
Tidak ada

Pipi
Tidak ditemukan

Krepitasi

Tidak ditemukan

Tidak ditemukan

Tumor , Fistel

Tidak ditemukan

Rhinoskopi Anterior
Kanan
Hiperemis (-)
Tidak ada
Tidak berbau
Mukosa hiperemis (-),

Mukosa Cavum Nasi


Sekret
Bau
Konka inferior

Kiri
Hiperemis (-)
Tidak ada
Tidak berbau
Mukosa hiperemis (-),

eutrofi
Sulit dinilai
Tidak ada

Konka media
Ada deviasi septum nasi
Krista, abses, massa

eutrofi
Sulit dinilai
Tidak ada

Rhinoskopi Posterior (Nasofaring)


Tidak dilakukan pemeriksaan
Cavum Oris
CAVUM ORIS

Hasil Pemeriksaan

Mukosa

Tidak hiperemis

Gingiva

Ulkus (-), edema (-)

Gigi

Karies (-)

Lidah

Bentuk normal, Ulkus (-), Plak (-)

Palatum durum

Permukaan licin

Palatum mole

Permukaan licin

Uvula

Posisi ditengah

Tumor

Tidak ada

FARING

Hasil Pemeriksaan

Dinding Faring

Tidak oedem, tidak bergranular

Mukosa

Tidak hiperemis

Uvula

Ditengah

Arkus Faring

Simetris, tidak hiperemis

Sekret

Tidak ada

TONSIL

Hasil Pemeriksaan

Pembesaran

T1-T1

Kripta

Tidak melebar

Destritus

Tidak ada

Perlekatan

Tidak ada

Faring

Tonsil

Sikatrik
Pemeriksaan Laring

Tidak ada

Tidak dilakukan pemeriksaan


7

Pemeriksaan Nervi Kranialis


Tidak dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening Leher
Inspeksi : Tidak terlihat pembesaran kelenjar getah bening
Palpasi

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening.

Resume
Dari anamnesis didapatkan seorang pasien laki-laki, berusia 67 tahun dengan
keluhan gatal pada telinga kiri dan kanan sejak 3 hari yang lalu. Nyeri pada
telinga kiri

(+), riwayat dikorek-korek dengan cotton bud (+), riwayat

berenang (-), riwayat alergi (-), riwayat DM (-) riwayat HT (-). Pemeriksaan
fisik telinga kiri ditemukan CAE hiperemis (+), edema (+), debris hifa (+),
spora (+).
Pemeriksaan Anjuran
Pemeriksaan KOH
Diagnosa Kerja
Otomikosis auris sinistra
Diagnosa Banding
- Otomikosis auris sinistra
- Otitis eksterna auris sinistra ec bakteri
Penatalaksanaan
Medikamentosa
- Membersihkan liang telinga dari debris dan hifa jamur
- Clotrimazole salep 2x1
- Natrium diklofenak 50 mg 2 x 1 tablet
Nonmedikamentosa
Edukasi:
- Pasien dianjurkan untuk tidak mengorek-ngorek liang telinga.

- Sebaiknya kedua telinga tidak terkena air dulu. Bila mandi, kedua telinga

ditutup.
- Jika pasien merasa ada cairan yang keluar dari telinga, atau telinga
kemasukan air, gunakan tisu yang telah dipotong dan dibentuk meruncing
ujungnya, dimasukkan ke dalam liang telinga untuk menyerap cairan.
- Istirahat yang cukup.

- Konsumsi makanan yang bergizi cukup.


- Menggunakan obat sesuai anjuran
- Kontrol 3-7 hari
Prognosa
Quo ad Vitam

: Ad bonam

Quo ad Functionam

: Ad bonam

Quo ad Sanationam

: Ad bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

DEFINISI
Otitis eksterna fungi atau otomikosis adalah infeksi akut, subakut, dan
kronik pada epitel skuamosa dari pinna dan kanalis akustikus eksterna oleh
ragi dan filamen jamur. Jamur adalah penyebab utamanya, namun penyakit
ini juga dapat terjadi akibat infeksi bakteri kronis pada kanalis auditorius
eksternus atau telinga tengah yang menyebabkan menurunnya imunitas
lokal sehingga memudahkan terjadinya infeksi jamur sekunder. Pada kasus
dengan perforasi membran timpani, jamur juga dapat menyebabkan infeksi
pada telinga tengah.8,9,10,11

2.2

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi otitis eksterna fungi bervariasi sesuai dengan keadaan geografis
dan faktor predisposisi pasien dan merupakan 9-50% dari seluruh kasus
otitis eksterna. Umumnya ototitis eksterna fungi lebih sering dijumpai
pada daerah tropis dan sub tropis seperti Mesir, India, Birma, Pakistan,
Bahrain, Israel dan Indonesia berhubungan dengan faktor lingkungan
yakni suhu dan kelembaban di daerah-daerah tersebut.8,12
Lingkungan yang lembab dengan iklim tropis meningkatkan insiden otitis
eksterna fungi karena kontribusinya dalam meningkatkan produksi
keringat dan mengubah permukaan epitel kanalis akustikus eksterna
sehingga menjadi media yang baik bagi pertumbuhan dan proliferasi
jamur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih
sering didapati pada wanita dan lebih sering terjadi pada orang dewasa
dibandingkan anak-anak. Otitis eksterna fungi unilateral dilaporkan pada

10

90% dari kasus dan tidak menunjukkan sisi mana yang lebih sering
terjadi.8
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa otitis eksterna fungi lebih sering
ditemukan pada pasien dengan penyakit penyerta dibetes melitus tipe 2.
Hal ini dikarenakan pada diabetes melitus tipe 2 terjadi penurunan
imunitas seluler yang berdampak pada mudahnya infeksi dan proliferasi
jamur, keadaan hiperglikemia juga dapat membentuk lingkungan yang
baik bagi pertumbahan jamur. Otitis eksterna fungi pada pasien dengan
diabetes melitus tipe 2 membutuhkan pengobatan dan pemantauan dalam
jangka panjang karena mudah mengalami rekurensi dan resisten oleh
karena pada diabetes melitus tipe 2 terjadi gangguan mikrovaskular yang
dapat memperburuk perfusi aliran darah perifer.13
2.3

FAKTOR PREDISPOSISI9
a.

Kelembaban
Saluran telinga mudah terinfeksi karena gelap dan hangat, sehingga
pada keadaan kelembaban yang tinggi dan cuaca yang panas dapat
memudahkan terjadinya pertumbuhan dan proliferasi bakteri dan
jamur dalam saluran telinga. Hal ini terutama terjadi di daerah tropis

b.

dan subtropis.
Pasien imunokompromis
Pada pasien dengan imunokompromis, infeksi jamur menjadi lebih
mudah terjadi karena sistem imun pasien tidak mampu melindungi

c.

tubuhnya.
Penggunaan jangka panjang tetes telinga antibiotik
Keadaan normal telinga dan sel epitel mukosa saluran telinga dapat
mengalami perubahan akibat penggunaan jangka panjang tetes telinga
antibotik, sehingga memudahkan terjadi pertumbuhan dan proliferasi
jamur. Perubahan tersebut juga dapat mengakibatkan flora normal
dalam saluran telinga berubah menjadi patologis.

d.

Perenang
Jika terlalu banyak air masuk ke dalam saluran telinga, misalnya saat
berenang,

terutama

di

air

yang

mengandung

klorin

atau

11

membersihkan

telinga

dengan

air

pada

saat

mandi

akan

memudahkan jamur bertumbuh dan berproliferasi karena air tersebut


meningkatkan kelembaban, meningkatkan pH dan membersihkan
serumen yang melengket pada mukosa saluran telinga yang pada
keadaan

normal

sebenarnya

berfungsi

melindungi

dan

mempertahankan mukosa saluran telinga. Dengan demikian,


perenang sebaiknya menggunakan ear plug atau penyumbat telinga
e.

pada saat berenang.


Terlalu sering membersihkan telinga
Terlalu sering membersihkan telinga menggunakan cotton bud dapat
mengakibat trauma lokal pada saluran telinga sehingga memudahkan
terjadinya infeksi, pertumbuhan dan proliferasi bakteri dan jamur.

2.4

ETIOLOGI
Sebagian besar kasus otitis eksterna fungi disebabkan oleh jamur
Aspergillus spp. dan Candida. Aspergillus niger adalah yang paling sering
ditemui pada pemeriksaan kultur karena jumlahnya yang mendominasi
kanalis auditoris eksterna,

jenis jamur lain yang dapat menyebabkan

otomikosis adalah A. flavus, A. fumigatus, A. terreus (jamur filamentosa),


Candida albicans dan C. parapsilosis (jamur ragi). Selain itu beberapa
jamur lain yang juga dapat menyebabkan otitis eksterna fungi namun
jarang ditemukan ialah jamur jenis Phycomycetes, Rhizopus, dan
Penicillium.8
Pada penelitian yang dilakukan Kumar (2005) pada pasien otitis eksterna
fungi menunjukkan bahwa jenis jamur yang paling sering ditemui, yakni
Aspergillus niger (52,43%), Aspergillus fumigates (34,14%), Candida
albicans (11%), Candida pseudotropicalis (1,21%). Beberapa peneliti juga
melaporkan jamur kausatif yang lain, yakni jenis Penicillium sp. dan jenis
Candida yang lain dalam berbagai persentase. Umumnya penelitianpenelitian tersebut menunjukkan bahwa persentase jenis jamur Aspergillus
lebih banyak dibandingankan Candida. Meskipun demikian, pada keadaan
imunokompromis atau dengan penyakit penyerta tertentu, misalnya

12

diabetes melitus tipe 2, jenis jamur Candida justru lebih sering


ditemukan.8,13
2.5

PATOFISIOLOGI8
Patofisiologi otitis eksterna fungi berkaitan dengan anatomi, fisiologi dan
histologi kanalis akustikus eksterna. Kanalis akustikus eksterna adalah
sebuah saluran atau kanal dengan panjang rata-rata 2,5 cm dan lebar ratarata 7,9 mm pada orang dewasa. Saluran atau kanal ini berbentuk silinder
dan dilapisi dengan epitel berlapis gepeng bertanduk hingga ke bagian luar
membrana timpani. Bagian depan dari resesus membrana timpani, hingga
isthmus sering menjadi tempat akumulasi debris keratin dan serumen dan
sulit dibersihkan.
Serumen memiliki suatu zat antimikotik, bakteriostatik dan insect
repellent. Serumen terdiri dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas,
mineral, lisosim, imunoglobulin, dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak
tak jenuh rantai panjang yang terdapat pada kanalis akustikus eksterna
yang normal dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Komposisi
hidrofobik ini memungkinkan serumen berperan dalam mengeluarkan air
dari kanalis akustikus eksterna, serta membuat permukaan kanalis tidak
permeabel, dan mencegah maserasi dan kerusakan epitel.
Flora normal atau komensal yang terdapat di dalam kanalis akustikus
eksterna diantaranya, Staphylococcus epirdemidis, Corynebacterium sp,
Bacillus sp, Gram positive cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus
sp, non-pathogenic micrococci), Gram negative bacilli (Pseudomonas
aeruginosa, Escherichia coli, Hemophilus influenza, Morazella catarrhalis,
etc) dan jenis jamur miselia dari genus Aspergillus dan Candida sp. Flora
normal atau komensal ini tidak bersifat patogen apabila lingkungan kanalis
aksutikus eksterna dan keseimbangan antara bakteri dan jamur tetap
terjaga.

13

Faktor faktor yang berperan dalam perubahan lingkungan kanalis


akustikus eksterna yang kemudian mengakibatkan jamur saprofit menjadi
patogen, diantaranya faktor lingkungan (suhu dan kelembaban), perubahan
pada epitel kanalis akustikus eksterna akibat dermatitis atau trauma mikro,
peningkatan pH, penurunan kualitas dan kuantitas serumen, faktor
sistemik (imunokompromis, neoplasma, diabetes melitus, penggunaan
antibiotik lama, agen sitostatik dan kortikosteroid), riwayat otitis eksterna
bakteri atau otitis media supuratif, dermatomikosis, serta kondisi sosial.
2.6

Diagnosis Otomikosis
Otomikosis bisa terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala yang paling
sering terjadi adalah rasa gatal atau pruritus. Penderita mengeluh rasa
penuh dan sangat gatal di dalam telinga. Liang telinga merah sembab dan
banyak krusta. Inflamasi disertai eksfoliasi permukaan kulit atau
pendengaran dapat terganggu oleh karena liang telinga tertutup oleh massa
kotoran kulit dan jamur. Infeksi jamur dan invasi pada jaringan di bawah
kulit menyebabkan nyeri dan supurasi. Bila infeksi berlanjut, eksema dan
likenifikasi dapat jelas terlihat dan kelainan ini dapat meluas ke telinga
bagian luar hingga bawah kuduk. Tulang rawan telinga dapat juga
terserang.6,16 Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan umum pada
tahap awal dan sering mengawali terjadinya rasa nyeri. Rasa sakit pada
telinga bisa bervariasi mulai dari hanya berupa perasaan tidak enak pada
telinga, perasaan penuh dalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga
berdenyut diikuti nyeri yang hebat. Keluhan rasa sakit yang dikeluhkan
sering menjadi gejala yang mengelirukan, walaupun rasa sakit tersebut
merupakan gejala yang dominan. Derajat rasa sakit belum bisa
menggambarkan derajat peradangan yang terjadi. Hal ini dijelaskan
bahwasanya kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan
periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis akan menekan
serabut saraf yang mengakibatkan rasa nyeri. Selain itu, kulit dan tulang
rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan
daun telinga, sehingga gerakan dari daun telinga akan mengakibatkan rasa

14

sakit yang hebat pada kulit dan tulang rawan di liang telinga luar.
Kurangnya pendengaran mungkin dapat terjadi akibat edema kulit liang
telinga, sekret yang purulen, atau penebalan kulit yang progresif yang bisa
menutup lumen dan mengakibatkan gangguan konduksi hantaran suara.

17

Pada pemeriksaan menggunakan otoskopi, umumnya akan didapatkan


lumen MAE mengalami edema ringan, eritem, dan terlihat debris atau
sekret jamur berwarna putih, keabuan, atau hitam. Pasien biasanya sudah
menggunakan berbagai obat tetes telinga antibiotik maupun per oral,
namun keluhan tidak berkurang.9
Karateristik pada otitis eksterna fungi ialah pada infeksi akibat Aspergillus
umumnya akan terlihat hifa halus dan spora (konidiofor) sedangkan pada
infeksi akibat Candida akan terlihat miselia yang panjang yang jika
bercampur dengan serumen akan berwarna kekuningan. Infeksi akibat
Candida lebih sulit diidentifikasi secara klinis karena kurangnya tampilan
klinis seperti pada infeksi akibat Aspergillus.8
Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan mengidentifikasi komponen jamur
menggunakan tes KOH atau menggunakan kultur jamur yang positif.
Namun, kultur sangat jarang dibutuhkan dan umumnya tidak mengubah
terapi karena jamur yang menyebabkan otomikosis kebanyakan adalah
jamur jenis saprofit yang merupakan jenis flora normal/komensal dalam
MAE normal. Morfologi dari koloni juga dapat memudahkan untuk
membedakan yeast like fungi atu jamur ragi dan filamentous fungi atau
jenis jamur filamentosa. Koloni yang berwarna putih atau putih
kekuningan, halus dan kadang-kadang kasar, adalah jenis jamur ragi.
Sedangkan jenis jamur filamentosa berbentuk seperti kumpulan debu, kain
wol, atau kain beludru yang dilipat. Koloni ini dapat menampilkan berbagi
jenis warna seperti, hitam, putih, kuning, hijau, biru, dan biru kehijauan.8

15

Gambar 1. Otomikosis Aspergillus niger (kanan) dan Otomikosis-Aspergillus


speciea (kiri).18

Gambar 2. Otomycosis-aspergillus fumigatus (kanan) Severe otomycosisAspergillus Niger (kiri)18

16

Gambar 3. Histopathology-Aspergillus Niger18

Gambar 4. Otomikosis- Candida albicans18

Gambar 5. Candida Albicans-Plate culture (kanan) Candida AlbicansHistopathology (kiri)18

17

Gambar 6. Gambaran hifa dan filamen pada tes KOH19


2.7

TERAPI
Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan beberapa obat baik
topikal maupun per oral yang dapat digunakan dalam penanganan otitis
eksterna fungi, namun belum ada konsesus yang memuat mengenai obat
dan cara yang paling efektif diantara yang lain. Penanganan yang sering
dilakukan saat ini adalah dengan pemberian antifungi topikal dan
pembersihan liang telinga dari debris dan sekret jamur yang terbukti dapat
memberikan hasil yang baik, walaupun membutuhkan waktu yang cukup
lama.8
Banyak peneliti meyakini bahwa hal terpenting dalam penanganan otitis
eksterna fungi adalah dengan mengidentifikasi jamur penyebab untuk
memberikan terapi medikamentosa yang adekuat. Untuk saat ini, belum
ada terapi khusus yang direkomendasikan untuk otitis eksterna fungi
karena banyaknya antifungi yang dapat digunakan klinisi secara luas yang
membuktikan bahwa terapi ini juga tergantung pada pasien sebagai
individu.8
Sediaan antifungi dapat dibagi menjadi dua bagian, yakni antifungi
spesifik dan non spesifik. Antifungi non spesifik diantaranya adalah
larutan asam dan pembersih:8

18

Boric acid adalah medium asam dan sering digunakan sebagai


antiseptik dan insektisida. Dapat diberikan bila penyebabnya adalah

Candida albicans.
Gentian Violet yang disediakan dalam bentuk larutan konsentrasi
rendah. Misalnya 1% dalam air. Gentian violet bersifat antibakteri,
antifungi,

antiinflamasi

dan

antiseptik.

Beberapa

penelitian

menunjukkan efektivitas agen ini hingga 80%.


Castellanis paint (acetone, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol)
Cresylate (merthiolate, M-cresyl acetate, propyleneglycol, bric acid,

dan alkohol)
Merchurochrome yang merupakan antiseptik topikal dan antifungi.
Penelitian menunjukkan efektivitasnya hingga 93, 4%.

Antifungi spesifik, diantaranya8,11,15:


-

Nystatin adalah antibiotik makrolid polyene yang dapat menghambat


sintesis sterol di membran sitoplasma. Keuntungan dari nistatin adalah
tidak diserap oleh kulit yang intak. Dapat diresepkan dalam bentuk

krim, salep, atau bedak. Efektif hingga 50-80%.


Azole adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol,
sterol esensial pada membran sitoplasma normal.
1. Clotrimazole digunakan secara luas sebagai topikal azole. Efektif
hingga 95-100%. Clotrimazole memiliki efek bakterial dan ini
adalah keuntungan untuk mengobati infeksi campuran bakterijamur. Clotrimazole tersedia dalam bentuk bubuk, lotion, dan
solusio dan telah dinyatakan bebas dari efek ototoksik.
2. Ketokonazole dan fluconazole memiliki spektrum

luas.

Ketokonazole (2% krim) efektif hingga 95-100% melawan


Aspergillus dan C. Albicans. Fluconazole topikal efektif hingga
90% kasus.
3. Miconazole (2% krim) adalah imidazole yang telah dipercaya
kegunaannya selama lebih dari 30 tahun untuk pengobatan
penyakit superfisial dan kulit. Agen ini dibedakan dari azole yang
lainnya dengan memiliki dua mekanisme dalam aksinya.
Mekanisme pertama adalah

inhibisi dari sintesis ergosterol.

Mekanisme kedua dengan inhibisi dari peroksida, dimana

19

dihasilkan oleh akumulasi peroksida pada sel dan menyebabkan


kematian sel. Efektif hingga 90%.
4. Bifonazole. Solusio 1% memiliki potensi sama dengan klotrimazol
dan miconazole. Efektif hingga 100%.
5. Itraconazole memiliki efek in vitro dan in vivo melawan spesies
Aspergillus. Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan
Venkataramanan dan Kumar (2016) menunjukkan pemberian
itrakonazole per oral pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan
otitis eksterna fungi rekuren selama 5 hari sangat efektif.
Tabel 2.1 Obat yang digunakan pada kasus otomikosis dan efikasinya 20

Bentuk salep lebih memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan


formula tetes telinga karena dapat bertahan di kulit untuk waktu yang
lama. Salep lebih aman pada kasus perforasi membran timpani karena
akses ke telinga tengah sedikit diakibatkan tingginya viskositas.
Penggunaan cresylate dan gentian violet harus dihindari pada pasien
dengan perforasi membran timpani karena memiliki efek iritasi pada
mukosa telinga tengah. Serta menghentikan penggunaan antibiotik topikal
bila dicurigai sebagai penyebabnya.Pada pasien immunocompromised,
pengobatan otomikosis harus lebih kuat untuk mencegah komplikasi
seperti hilangnya pendengaran dan infeksi invasif ke tulang temporal.7

20

Otomikosis terkadang sulit diatasi walaupun telah diobati dengan


pengobatan yang sesuai. Maka dari itu perlu ditentukan apakah kondisi ini
akibat penyakit otomikosis itu sendiri atau berhubungan dengan gangguan
sistemik lainnya atau hasil dari gangguan immunodefisiensi yang
mendasari. Pengobatan lain selain medikamentosa yaitu menjaga telinga
tetap kering dan mengarahkan pada kembalinya kondisi fisiologis dengan
mencegah gangguan pada kanalis akustikus eksternus.8
2.8

KOMPLIKASI
Perforasi membran dapat terjadi sebagai komplikasi dari otomikosis yang
bermula pada telinga dengan membran timpani intak. Insidens perforasi
timpani pada mikosis ditemukan menjadi 11%. Perforasi lebih sering
terjadi pada otomikosis yang disebabkan oleh Candida albicans.
Kebanyakan perforasi terjadi bagian malleus yang melekat pada membran
timpani. Mekanisme dari perforasi dihubungkan dengan trombosis mikotik
dari pembuluh darah membran timpani, menyebabkan nekrosis avaskuler
dari membran timpani. Enam pasien pada grup immunocompromised
mengalami perforasi timpani. Perforasi kecil dan terjadi pada kuadran
posterior dari membran timpani. Biasanya akan sembuh secara spontan
dengan pengobatan medis. Jarang namun jamur dapat menyebabkan otitis
eksterna invasif , terutama pada pasien immunocompromised. Terapi
antifungal sistemik yang adekuat sangat diperlukan pada pasien ini.8

BAB IV
PEMBAHASAN

21

Seorang laki-laki usia 67 tahun datang ke poli THT luar dengan keluhan utama
gatal di telinga kanan dan kiri dengan disertai keluhan nyeri, terasa penuh di liang
telinga dan gangguan pendengaran. Menurut penelitian yang dilakukann Bayati
dkk di Iran didapatkan gejala dari otomikosis adalah pruritus (65%), otalgia
(55%), rasa penuh ditelinga (46%), otorrhea (40%) and kehilangan pendengaran
(33%).1 Ho mencatat bahwa pruritus ditemukan 23% kasus, otalgia dan otorrhea
adalah 48%, gangguan pendengaran ditemukan pada 45% kasus. Mirip dengan
penelitian yang dilakuakn Ozcan yang ditemukan sebagian besar kasus memiliki
gejala aural seperti gatal, otalgia, gangguan pendengaran, discharge telinga dan
tinnitus. Otomycosis ditemukan pada semua kelompok usia.21,22
Kebiasaan membersihkan telinga dengan bulu, batang korek api dan ujung jari
yang terkontaminasi dapat mendorong inokulasi dan pertumbuhan spora jamur
pada CAE terutama pada pasien dengan hygiene pribadi yang buruk. 3 Saluran
telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit
yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran
telinga dengan cotton buds (kapas pembersih) dapat mengganggu mekanisme
pembersihan ini dan dapat mendorong sel-sel kulit yang mati beserta serumen ke
arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan sel-sel
kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air yang masuk ke
dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembab pada
saluran telinga akan lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur. 23
Temuan massa putih keabu-abuan dengan bintik hitam dan filamen halus yang
khas untuk otomikosis. Diagnosis pasti dapat dibantu dengan pemeriksaan KOH
untuk mengidentifikasi elemen jamur atau melalui kultur jamur. Kumar
menemukan jamur dari isolat pasien otomikosis sebanyak 43 kasus (52,43%).
Kumar juga mengisolasi Aspergillus niger (52.43%), Aspergillus fumigates
(34.14%), C.albicans (11%), C.pseudotropicalis (1.21%) and Mucor sp (1.21%).
Ahmad et al (1989) yang mempublikasi sebuah karya prospective study pada 53

22

pasien di poli THT FK UI juga membuktikan bahwa spesies yang sering terisolasi
adalah Aspergillus sp. dari pada Candida sp. 3
Tidak ada antifungal telinga yang disetujui FDA (Food and Drugs Approval
Bureau in United States) untuk pengobatan otomikosis. Banyak agen dengan
berbagai properti antimycotic telah digunakan dan dokter telah berjuang untuk
mengidentifikasi agen yang paling efektif untuk mengobati kondisi ini. Selain
terapi topikal, beberapa literatur menekankan kebersihan telinga pada pengobatan
otomikosis sebagai pendukung ototopical untuk membuat lingkungan liaang
telinga yang lebih kering dan membantu kerja obat untuk membersihkan obat
sekresi dan debris.3,20,21,22,
Golongan azole merupakan agen sintetik yang dapat mengurangi konsentrasi
ergosterol, yaitu sterol esensial yang terdapat pada membran sitoplasma normal.
Clotrimazole adalah golongan azole yang paling sering digunakan karena
efektifitasnya yang tinggi dalam mengobati otomikosis. Clotrimazole juga
memiliki efek antibakteri sehingga sering digunakan untuk pengobatan infeksi
bakteri-jamur, dan ia tidak memiliki efek ototoksisitas. Ketokonazole dan
flukonazole merupakan antifungal spektrum luas dan komponen kimianya efektif
mengobati penyebab umum otomikosis seperti Aspergillus dan Candida albicans.
Klotrimazole merupakan anti jamur spektrum luas yang umum digunakan.
Klotrimazol bekerja dengan meningkatkan permeabilitas membran fungi sehingga
menyebabkan kematian pada jamur. Penanganan ditujukan untuk mengeradikasi
jamur penyebab dan mengembalikan kanalis akustikus eksterna dalam kondisi
normalnya serta mengurangi keluhan pasien. Mukosa kanalis pasien mengalami
tanda-tanda inflamasi seperti nyeri, hiperemis dan edema ringan, sehingga
diberikan antiinflamasi per oral yaitu kalium dikofenak 50 mg 2 kali sehari.20
Otomikosis bisa tanpa gejala tetapi jika tidak ditangani dapat menyebabkan
morbiditas seperti kehilangan pendengaran. Dalam studi baru-baru ini 56 pasien
(14,8%) memiliki berbagai derajat tuli konduktif. Prognosis pada pasien ini baik
tetapi perlu follow up dan mengobserviasi tingkat rekurensinya.

23

BAB IV

24

KESIMPULAN
1. Diagnosis kasus adalah otomikosis sesuai dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.
2. Faktor predisosisi yang menyebabkan penyakit pada kasus ini adalah
kebiasaan mengorek telinga. Penyebab terbanyak kasus otomikosis adalah
Aspergillus sp. dan Candida sp.
3. Terapi yang digunakan adalah pemberian klotrimazole, NSAID dan
memberishkan liang telinga.
4. Perlu kepatuhan dan edukasi yang adekuat untuk mencegah kekambuhan
kasus.

DAFTAR PUSTAKA

25

1. Barati, B. Dkk. Otomycosis in Central Iran: A Clinical and Mycological


Study. Iran Red Crescent Med J 2011; 13(12):873-876. Vol.13.
www.ircmj.com, diakses pada tanggal 20 agustus 2016
2. Sanna, M. Color Atlas of Otoscopy: From Diagnosis to Surgery. New
York: Thieme Stuttgart. 1999
3. Kumar, Ashish. Fungal Spectrum in Otomycosis Patients. JK Science. Vol.
7 No. 3, July-September 2005. Diakses pada tanggal 20 agustus 2016
4. Gutirrez, P.H, dkk. Presumed Diagnosis: Otomycosis. A Study of 451
Patients. Acta Otorrinolaringol Esp 2005; 56: 181-186. Diakses pada 20
agustus 2016
5. Knott,
Laurence.
Fungal
Ear
Infection
(Otomycosis).http://www.patient.co.uk/doctor/Fungal-Ear-Infection
(Otomycosis).htm diakses pada tanggal 20 agustus 2016.
6. Ballenger, James. Jr, Snow. Manual of Otorhinolaryngology Head and
Neck Surgery. London: BC Decker. 2002
7. Lee KJ. Infection of the ear. In: Lee KJ, editor. Essential otolaryngology
Head & Neck surgery. New York: McGraw Hill;2003:p.462-511.
8. Edward Y, Irfandy D. 2013.
Otomycosis. Available at:
http://repository.unand.ac.id/17717/1/crotomycosis.pdf
9. Anwar K, Gohar MS. 2014. Otomycosis: clinical features, presdisposing
factors,
and
treatment
implications.
Available
at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4048507/pdf/pjms-30564.pdf
10. Chaudhry
A.
Otomycosis.
Available
at:
http://www.rmc.edu.pk/Otomycosis.pdf
11. Khan F, Muhammad R, Khan MR Rehman F. 2013. Effifacy of Topical
Clotrimazole in Treatment of
Otomycosis. Available at:
http://www.ayubmed.edu.pk/JAMC/25-1/Farida.pdf
12. Ahmad A. 2014. Ketepatan Diagnosis Otomikosis di Bagian THT R. S.
DR. Ciptomangunkusumo Jakarta. Available at: http://lib.ui.ac.id/file?
file=pdf/abstrak-78798.pdf
13. Bhat VS, Bhat SP, Rao H, Bhandary SK. 2015. External Ear Infections in
Diabetics Challenges in Management. K S Hedge Medical Academy.
Available
at:
http://www.alliedacademies.org/articles/external-earinfections-in-diabetics-challenges-in-management.pdf
14. Satish HS, Viswanatha B, Manjuladevi M. A. 2013. Clinical Study of
Otomycosis. Journal of Dental and Medical Sciences. Available at:
http://www.iosrjournals.org/iosr-jdms/papers/Vol5-issue2/L0525762.pdf
15. Venkataramanan R, Kumar RS. 2016. Efficiency of 5 Day Course Oral
Itraconazole in Management of Recurrent Otomycosis in Diabetic
Patients- a Randomized Control Clinical Trial. Available at:
http://www.worldwidejournals.com/paripex.pdf
16. Boeis, Lawrence R. Adams, George L. BOEIS Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi 6. Jakarta: EGC. 1997

26

17. Abdullah , Farhaan. Uji Banding Klinis Pemakaian Larutan Burruwi


Saring dengan Salep Ichthyol (Ichthammol) pada Otitis Eksterna Akut.
www.USUdigitallibrary.com . 2003.
18. http://eac.hawkelibrary.com/otomycosis
19. Edward Y, Irfandy Y. Otomycosis. Jurnal Kesehatan Andalas. 2012; 1(2)
20. Munguia, Raymundo. Daniel, Sam J. Ototopical Antifungal and
Otomycosis: A Riview. International Journal of Pediatric
Otorhinolaryngology. 2008. 72, 453459. www.elsevier.com/locate/ijporl
21. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis : Clinical features and
treatment implications. Otolaryngol-Head Neck Surg. 2006;135:787-91.
22. Ozcan K, Ozcan M, Karaarslan A, Karaarslan F. Otomycosis in Turkey;
Predisposing Factors,Etiology and Therapy. J Laryngol & Otol 2003; 117:
39-42.
23. Bailey, BJ. Johnson, JT. Newlands, SD. Head and Neck SurgeryOtolaryngology. 4th Edition. Volume 2. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins. 2006

27