Anda di halaman 1dari 53

PENGARUH RASIO PROFITABILITAS DAN RASIO LEVERAGE TERHADAP

HARGA SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA


(BEI)
(Periode Tahun 2009-2012)

SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Meraih Derajat Sarjana Ekonomi Dan Bisnis
Program Studi Akuntansi

Disusun Oleh:
ZIA ARNANTO
115020307111068

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Harga saham merupakan nilai suatu saham pada saat tertentu. Nilai harga
saham dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan eksternal.
Harga saham memiliki sifat pergerakan yang fluktuatif atau berubah-ubah.
Perubahan harga saham tidak selalu bernilau positif namun dapat juga bernilai
negatif, sehingga terbentuk pergerakan harga saham yang naik turun tidak
beraturan. Pergerakan harga saham tersebut dimanfaatkan oleh para pelaku pasar
yaitu trader atau investor untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli
saham dengan harga jual saham.
Perusahaan membutuhkan modal yang tidak sedikit untuk mengembangkan
usahanya. Banyak dari perusahaan yang harus mencari tambahan modal supaya
kebutuhan modal perusahaan dapat terpenuhi sehingga perusahaan dapat berjalan
dengan baik. Kebutuhan tambahan modal tersebut dapat diperoleh dengan banyak
cara salah satunya adalah dengan hutang atau menambah jumlah kepemilikan
saham dengan melakukan penerbitan saham baru. Pasar modal merupakan tempat
bagi perusahaan menghimpun dana yang berfungsi untuk membiayai secara
langsung kegiatan perusahaan dengan cara melakukan penawaran saham kepada
masyarakat di bursa efek yang sering disebut go public.
Pasar modal dapat menjadi salah satu tempat untuk menyalurkan investasi
masyarakat. Saham merupakan salah satu instrumen di pasar modal yang paling
populer. Saham menjadi sarana investasi yang banyak dipilih oleh para investor
karena dapat memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Disisi lain, saham

merupakan salah satu sekuritas yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi karena
ketidakpastian return yang dapat diterima oleh investor nantinya. keadaan tidak
pasti ini membuat investor yang rasional untuk selalu mempertimbangkan tingkat
resiko dan expected return setiap sekuritas. Secara teoritis tingkat resiko
berbanding lurus dengan tingkat expeted return.
Perusahaan go public penting untuk mengamati bagaimana pergerakan saham
dan seberapa besar kenaikan atau penurunan harga saham perusahaan tersebut.
Semakin meningkat nilai saham suatu perusahaan maka investor akan tertarik
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut dengan cara memiliki
saham suatu perusahaan yang telah terdaftar di pasar modal karena investor
mengharapkan keuntungan dari penanaman modal yang dilakukanya tersebut.
Menilai atau meramal pergerakan harga saham pada periode berikutnya dapat
dilakukan dengan dua analisa. Pertama analisa teknikal, Husnan (2005:341)
menjelaskan bahwa analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan
harga saham (kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga saham (kondisi
pasar) di waktu yang telah lampau. Analisa kedua yaitu dengan analisa
fundamental, Husnan (2005:307) menjelaskan apabila analisis fundamental
mencoba memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang dengan
mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham
dimasa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut
sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Laporan keuangan atau laporan keuangan tahunan perusahaan dibutuhkan
oleh investor sebagai informasi dan melakukan analisa keuangan. Laporan

keuangan perusahaan diharapkan dapat memberikan informasi keadaan suatu


perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan calon investor dan calon kreditur
untuk mengambil keputusan investasi yang akan dilakukan. Dari analisa laporan
keuangan maka para pemangku kepentingan dapat dengan lebih mudah mencerna
infor masi laporan keuangan.
Salah satu alat untuk menganalisis harga saham adalah dengan analisis rasio
keuangan. Analisis rasio merupakan alat analisis laporan keuangan perusahaan
untuk mengetahui bagaimana keadaan perusahan. Terdapat beberapa aspek
mengukur keberhasilan perusahaan, diantaranya adalah aspek keuangan yang
dapat dilihat dari bagaimana kinerja perusahaan. Salah satu cara untuk mengetahui
kinerja keuangan suatu perusahaan yang sehat adalah dengan melihat bagaimana
kemampuan perusahaan dalam memperoleh profit melalui rasio profitabilitas
yaitu Earning Per Share (EPS) dan Return On Asset (ROA). Sartono (2011:138)
menyatakan, rasio profitabilitas merupakan tolak ukur utama keberhasilan suatu
perusahaan. Tingkat profitabilitas yang konsisten akan menjadi tolak ukur
bagaimana perusahaan tersebut mampu bertahan dalam bisnisnya.
Earning Per Share (EPS) atau laba per lembar saham merupakan data yang
banyak digunakan sebagai alat analisis keuangan perusahaan. Earning Per Share
(EPS) dengan ringkas menyajikan bagaimana kinerja perusahaan dikaitkan
dengan saham beredar. Rasio Earning Per Share (EPS) juga menjadi salah satu
indikator yang diperhatikan oleh investor sebelum menentukan investasinya.
Salah satu alasan investor membeli saham adalah untuk mendapatkan deviden,
besarnya pendapatan perusahaan akan berbanding lurus dengan besarnya deviden
yang akan diterima investor. Dapat dikatakan investor akan lebih berminat
3

terhadap saham yang memiliki tingkat rasio Earning Per Share (EPS) tinggi
dibandingkan saham yang memiliki Earning Per Share (EPS) rendah. Semakin
banyak investor yang berminat terhadap saham tersebut, maka akan membuat
harga saham naik. Earning Per Share (EPS) yang rendah cenderung membuat
harga saham turun.
Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.
Dari pengertian tersebut, maka rasio ini sering juga disebut Return On Asset
(ROA) karena menghubungkan laba dengan investasi, yaitu mengukur efektivitas
perusahaan memanfaatkan aset untuk menghasilkan laba. Investor akan
menanamkan modalnya tentunya dengan harapan akan mendapatkan imbal hasil
(return) yang besar. Menurut Dendawijaya (2005:118) rasio Return On Asset
(ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam
memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan.
Return On Assets (ROA) yang tinggi akan menarik investor untuk
menanamkan modalnya kepada perusahaan karena dianggap dapat berhasil
menghasilkan laba yang tinggi dan nantinya akan berdampak kepada deviden
yang akan diterima oleh investor. Semakin banyak yang tertarik akan membuat
permintaan terhadap saham tersebut meningkat, sehingga membuat harga saham
perusahaan akan menjadi meningkat juga. Perusahaan selalu berupaya agar Return
On Asset (ROA) dan Earning Per Share (EPS) dapat selalu ditingkatkan karena
semakin tinggi Return On Asset (ROA) dan Earning Per Share (EPS) maka dapat
menunjukkan semakin efektif perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk
menghasilkan laba bersih setelah pajak, dengan semakin meningkatnya Return On
4

Asset (ROA) dan Earning Per Share (EPS) maka profitabilitas perusahaan akan
semakin baik.
Selain profitabilitas, rasio lain yang dapat mempengaruhi harga saham adalah
rasio leverage dimana rasio ini berkaitan dengan kemampuan perusahaan
mengembalikan hutangnya. Perusahaan yang mampu mengembalikan hutangnya
dengan baik akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan yang
akan meningkatkan nilai perusahaan. Pada penelitian ini leverage diukur dengan
Debt Equity Ratio (DER) yaitu perbandingan antara total hutang dengan total
modal. Rasio ini berguna untuk mengetahui tingkat jumlah dana yang disediakan
peminjam (kreditur) dibandingkan dengan modal yang dimiliki perusahaan.
Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Tingkat keamanan dan resiko akan mempengaruhi harga saham nantinya.
Apabila nilai Debt Equity Ratio (DER) menunjukkan angka yang tinggi, akan
membuat tingkat resiko semakin besar dan membuat investor takut menanamkan
modalnya sehingga harga saham menjadi turun. Penelitian yang dilakukan oleh
Soliha dan Taswan (2002) memberikan hasil bahwa kebijakan penggunaan hutang
berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap harga saham manufaktur.
Penelitian yang dilakukan oleh Suaryana dan Dewi (2013) diperoleh
kesimpulan bahwa Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif dan signifikan
terhadap harga saham, dan Debt Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif
signifikan terhatap harga saham perusahaan. Begitu juga penelitian yang pernah
dilakukan oleh Stella (2009) dengan judul Pengaruh Price Earning Ratio (PER),

Debt Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA) dan Price to Book Value
(PBV) terhadap harga pasar saham, hasil penelitiannya membuktikan bahwa
Return On Asset (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap harga pasar
saham, sedangkan Debt Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga
pasar saham.
Dari beberapa penelitian diatas menunjukan bahwa adanya beberapa variabel
bebas beberapa diantaranya yaitu Return On Asset (ROA), dan Earning Per Share
(EPS) yang mempengaruh secara positif dan signifikan terhadap harga saham dan
Debt Equity Ratio (DER) yang berpengaruh negatif terhadap harga saham.
Penelitian ini bertujuan melakukan kajian empiris tentang pengaruh Return On
Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Debt

Equity Ratio (DER),

khususnya pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Berdasarkan


beberapa hasil penelitian terdahulu yang telah dijelaskan, variabel-variabel
tersebut tidak selalu memberikan hasil yang konsisten sehingga perlu pengujian
kembali.
Pada tahun 2009 sampai dengan tahun 2012 kondisi pasar modal berkembang
dari tahun ke tahun. Dari indeks harga saham gabungan dapat dilihat peningkatan
yang terjadi dari tahun ke tahun 2009 sampai dengan tahun 2012. Indeks harga
saham gabungan Indonesia menempati peringkat ke tiga se Asia tenggara pada
tahun 2014.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh profitabilitas dilihat dari ROA terhadap harga


saham pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia?
2. Apakah terdapat pengaruh profitabilitas dilihat dari EPS terhadap harga
saham pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia?
3. Apakah terdapat pengaruh leverage dilihat dari DER terhadap harga saham
pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sebagai kajian akademik dibidang akuntansi manajemen
keuangan serta untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan
Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Debt Equity Ratio (DER)
terhadap harga saham. Secara terperinci tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Untuk menguji pengaruh profitabilitas dilihat dari ROA terhadap harga
saham pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia.
2) Untuk menguji pengaruh profitabilitas dilihat dari EPS terhadap harga
saham pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia.
3) Untuk menguji pengaruh leverage dilihat dari DER terhadap harga saham
pada perusahaan manufaktur di bursa efek Indonesia.
1.4 Kontribusi Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:
1) Kontribusi teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menyediakan bukti empiris sebagai
bahan masukan pembaca yang membutuhkan referensi mengenai

pengaruh rasio profitabilitas dan rasio leverage terhadap harga


saham yang dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian
selanjutnya.
b. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat menyediakan
bukti sebagai wacana keilmuan pengembangan konsep terkait
akuntansi keuangan dan pasar modal khususnya mengenai
pengaruh rasio profitabilitas dan rasio leverage terhadap harga
saham.
2) Kontribusi praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan
wacana bagi para pengambil keputusan (manajemen perusahaan,
pemerintah, investor, calon investor) untuk mengevaluasi keuangan
perusahaan sehingga dapat mengambil langkah tepat untuk tujuan
finansial, investasi maupun untuk tujuan yang lainnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan alat yang berguna untuk memperoleh informasi
keuangan perusahaan bagi pihak yang berkepentingan atau membutuhkan.
Informasi yang dapat diperoleh dari laporan keuangan antara lain yaitu informasi
mengenai posisi keuangan perusahaan dan kinerja keuanganya. Laporan keuangan
juga dapat menjadi alat bagi manajemen perusahaan sebagai pertanggungjawaban
pengelolaan perusahaan yang telah dipercayakan kepadanya.
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan sebuah
perusahaan. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan hasil
proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai sarana mengkomunikasikan
informasi keuangan terutama kepada pihak eksternal. Menurut PSAK No.1
paragraf ke 7 (2009), Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstuktur dari
posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Menurut Susanto (1995:1)
laporan keuangan adalah neraca dan perhitungan laba-rugi serta keteranganketerangan yang dimuat dalam lampiran-lampirannya antara lain laporan sumber
dan penggunaan dana. Menurut PSAK 1 (2013), komponen dari laporan keuangan
adalah laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif
lain, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan,
laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif. Berdasarkan penjelasan

tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah alat


memberikan informasi mengenai bagaimana

posisi

yang

keuangan pada periode

tertentu yang terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, laporan laba ditahan, laporan
perubahan posisi keuangan serta catatan atas laporan keuangan.
2.1.2 Tujuan Laporan Keuangan
Penyusunan laporan keuangan ditujukan untuk menyediakan informasi
terhadap pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Menurut PSAK
No.1 paragraf ke 7 (2009), tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang
bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan sebagai pertimbangan
pembuatan

keputusan.

pertanggungjawaban

Laporan

manajemen

keuangan
atas

juga

penggunaan

menunjukkan
sumber

daya

hasil
yang

dipercayakan kepada mereka.


Menurut PSAK No.1 paragraf ke 7 (2009), untuk mencapai tujuan laporan
keuangan, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang
meliputi aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, beban termasuk keuntungan dan
kerugian, kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya
sebagai pemilik dan arus kas. Informasi tersebut beserta informasi lainnya yang
terdapat pada catatan atas laporan keuangan membantu pengguna laporan untuk
memprediksi arus kas masa depan dan khususnya dalam hal waktu dan kepastian
diperolehnya kas dan setara kas.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa informasi
mengenai posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan sangat

10

diperlukan

untuk

dapat

melakukan

penilaian

kemampuan

perusahaan

menghasilkan kas dan setara kas. Informasi kinerja juga diperlukan untuk menilai
perubahan sumber daya ekonomi yang mungkin dapat dikendalikan di masa
mendatang.
2.1.3 Analisa Laporan Keuangan Menggunakan Rasio Keuangan
Analisis laporan keuangan adalah proses mempelajari data-data keuangan
agar dapat dipahami dengan mudah untuk mengetahui posisi keuangan, hasil
operasi, dan perkembangan suatu perusahaan dengan cara mempelajari hubungan
data keuangan serta kecenderungannya terdapat dalam suatu laporan keuangan.
Analisis laporan keuangan dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan dan juga melakukan analisisnya tidak akan
lepas dari peranan rasio-rasio laporan keuangan, dengan melakukan analisis
terhadap rasio-rasio keuangan akan dapat menentukan suatu keputusan yang akan
diambil. Selain digunakan oleh manajemen internal perusahaan di dalam
menganalisa sejauh mana kinerja dan pencapaian perusahaanya, analisa laporan
keuangan juga digunakan oleh pihak eksternal salah satunya investor.
Analisis laporan keuangan sangat diperlukan oleh investor. Investor
menjadikan analisis laporan keuangan sebagai salah satu indikator pengambilan
keputusan ketika akan melakukan investasi. Analisis rasio keuangan digunakan
investor untuk melihat bagaimana posisi perusahaan saat ini. Analisis laporan
keuangan juga digunakan untuk menganalisa bagaimana posisi perusahaan di
masa yang akan datang.

11

2.2 Analisis Rasio Keuangan


Rasio menggambarkan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan
jumlah lainya. Menggunakan alat analisis berupa rasio keuangan akan dapat
menjelaskan dan menggambarkan kepada penganalisa baik atau buruknya
keadaan posisi keuangan suatu perusahaan. Menurut Gitman (2006:54) analisis
rasio keuangan adalah metode untuk menghitung dan mengintepretasikan rasio
keuangan untuk menganalisis dan mengawasi kinerja perusahaan. Analisis rasio
merupakan cara penting untuk menyatakan hubungan-hubungan yang bermakna
di antara komponen-komponen dari laporan keuangan.
Analisis rasio keuangan digunakan oleh investor sebagai salah satu indikator
melakukan penilaian suatu perusahaan dan prospeknya di masa yang akan datang.
Analisis rasio keuangan ini adalah salah satu cara pemrosesan dan
penginterpretasian informasi akuntansi, yang dinyatakan dalam artian relatif
maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara angka yang satu
dengan yang lainya di dalam laporan keuangan tersebut. Analisis rasio laporan
keuangan menggunakan data laporan keuangan yang telah ada sebagai dasar
penelitianya. Penelitian ini didasarkan dari data yang telah lalu, tetapi analisis
rasio keuangan ini dimaksudkan untuk meneliti atau menilai resiko dan peluang
pada masa yang akan datang. Pengukuran dan hubungan satu pos dengan pos lain
dalam laporan keuangan yang tampak dalam rasio-rasio keuangan dapat
memberikan kesimpulan berarti dalam penentuan tingkat kesehatan keuangan
suatu perusahaan.

12

Menurut Riyanto (2010:331), umumnya rasio dapat dikelompokkan dalam


empat tipe dasar, yaitu rasio likuiditas, rasio profabilitas, rasio leverage, dan rasio
aktivitas. Rasio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Rasio ini antara lain meliputi
Gross Profit Margin (GPM), Operating Profit Margin (OPM), Net Profit Margin
(NPM), Return On Asset (ROA), dan Return On Equity (ROE), Earning Per
Share (EPS).
Rasio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
menjamin kewajiban-kewajiban lancarnya. Rasio ini antara lain meliputi rasio kas
(cash ratio), rasio cepat (quick ratio), rasio lancar (current ratio).

Rasio

profitabilitas digunakan untuk untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam


menghasilkan laba selama periode tertentu. Rasio leverage, digunakan untuk
mengukur tingkat pengelolaan sumber dana perusahaan. Rasio aktivitas adalah
rasio yang menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam
menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, dan kegiatan
lainnya.
Penulis menggunakan dua tipe aspek rasio yaitu menggunakan aspek rasio
profitabilitas dan leverage di dalam melakukan penelitian. Rasio profitabilitas
yang digunakan peneliti terdiri dari Return On Asset (ROA), dan Earning Per
Share (EPS). Rasio leverage yang digunakan peneliti adalah Debt Euity Ratio
(DER).

13

2.2.1

Rasio Profitabilitas

Perusahaan yang bersifat profit oriented akan berusaha menghasilkan laba


yang maksimal dengan menggunaka aset-aset yang dimiliki. Rasio profitabilitas
merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran
tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.
Menurut Brigham dan Houston (2006:107) rasio profitabilitas akan menunjukan
efek dari likuiditas, manajemen aktiva, dan utang pada hasil operasi. Rasio ini
digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan menghasilkan laba atau
seberapa efektif pengelolaan manajemen perusahaan. Efektivitas manajemen
disini dapat dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi
perusahaan.
Rasio profitabilitas memiliki beberapa jenis rasio yaitu Gross Profit Margin
(GPM), Net Profit Margin (NPM), Rentabilitas Ekonomi (RE), Return On
Investment (ROI), Return On Equity (ROE), Return On Asset (ROA), Earning
Per Share (EPS). Rasio profitabilitas ini sangat dibutuhkan bagi investor dalam
menilai keuntungan yang akan mungkin diterimanya di masa depan dengan
bentuk deviden. Peneliti menggunakan dua jenis rasio profitabilitas di dalam
melakukan penelitianya, yaitu Return On Asset (ROA), dan Earning Per Share
(EPS).
2.2.2 Rasio Leverage
Rasio leverage menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap
modal atau asset yang dimiliki perusahaan dan seberapa besar kebutuhan dana

14

perusahaan yang dibiayai dengan hutang. Ada bebrapa rasio yang digunakan
untuk mengukur tingkat leverage pada suatu perusahaan. Menurut Husnan dan
Pudjiastuti (2004:70-71) jenis-jenis rasio leverage adalah Debt Equity Ratio
(DER), Time Interest Earned (EBIT), dan Debt Service Converange (DSC).
Rasio leverage juga biasa disebut rasio solvabilitas. Suatu perusahaan yang
solvable adalah perusahaan yang mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup
untuk membayar semua hutang-hutangnya begitu pula sebaliknya perusahaan
yang tidak mempunyai kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya
disebut perusahaan yang insolvable. Peneliti di dalam penelitian ini hanya
menggunakan satu jenis rasio laverage yaitu Debt Equity Ratio (DER).
2.3 Return On Asset
Return On Asset (ROA) merupakan dari rasio profitabilitas dalam
menganalisa laporan keuangan atas kinerja keuangan perusahaan. ROA
menunjukan laba bersih yang diperoleh perusahaan apabila diukur dari nilai
tingkat aset yang dimilikinya. Semakin tinggi tingkat rasio maka perusahaan
dianggap semakin mampu menggunakan aset secara efektif untuk menghasilkan
profit bagi perusahaan.
ROA berfungsi untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan
laba dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar tingkat ROA
yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, maka dapat dikatakan semakin efisien
penggunaan aktiva yang dimilikinya sehingga akan memperbesar laba perusahaan.
Rumus yang digunakan untuk menghitung adalah sebagai berikut:

15

Laba Bersih
ROA = -----------------------Total Aset
2.4 Earning Per Share
Earning Per Share (EPS) merupakan rasio keuangan yang menunjukan besar
keuntungan yang diperoleh investor per lembar saham. EPS dapat secara ringkas
menyampaikan bagaimana kinerja perusahaan apabila dikaitkan dengan saham
yang beredar. Rasio ini menjadi salah satu indikator yang diperhatikan oleh
investor di dalam mempertimbangkan pengambilan keputusanya. Laba per lembar
saham atau EPS dapat diperoleh dari laba yang tersedia bagi pemegang saham
biasa dibagi dengan jumlah rata-rata saham biasa yang beredar.
Mendapatkan deviden dari saham yang telah diperolehnya menjadi alasan
investor menanamkan saham. Nilai laba per saham berpengaruh terhadap jumlah
deviden yang akan dibagikan. Apabila nilai laba per saham kecil maka deviden
yang akan dibagikan kepada pemegang saham akan kecil, sebaliknya apabila nilai
laba per saham besar maka kemungkinan deviden yang akan dibagikan kepada
pemegang saham akan besar juga.
Indra (2006) menyatakan bahwa:
Informasi Earning Per Share suatu perusahaan menunjukkan besarnya
laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham
perusahaan. Besarnya EPS suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi
laporan keuangan perusahaan. Meskipun tidak semua perusahaan
mencantumkan besarnya EPS perusahaan bersangkutan dalam laporan
keuangannya, besarnya EPS dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan
laporan rugi laba perusahaan.
EPS dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

16

Laba Bersih
EPS = -----------------------------Jumlah Saham Beredar
Laba per saham dapat mengukur perolehan tiap unit investasi pada laba bersih
badan usaha pada periode tertentu. Besar kecilnya nilai laba per saham ini
dipengaruhi oleh variabel-variabelnya. Setiap perubahan laba bersih atau jumlah
saham akan mempengaruhi nilai Earning Per Share (EPS). Nilai laba per lembar
saham ini digunakan oleh investor sebagai indikator tingkat nilai perubahaan.
Laba per lembar saham digunakan untuk mengukur keberhasilan tingkat
pengembalian dalam mencapai keuntungan bagi para pemilik saham perusahaan.
2.5 Debt Equity Ratio
Leverage atau kebijakan hutang adalah hasil dari penggunaan dana dengan
biaya tetap untuk meningkatkan tingkat keuntungan kepada pemegang saham.
Perubahan leverage menghasilkan perubahan dalam tingkat keuntungan dan
risiko. Pada umumnya, peningkatan leverage menghasilkan peningkatan tingkat
keuntungan dan risiko, sebaliknya penurunan leverage menghasilkan penurunan
tingkat keuntungan dan resiko. Semakin tinggi tingkat rasio leverage maka
semakin besar resiko yang akan dihadapi oleh perusahaan. Resiko yang tinggi
juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva
dan berdampak terhadap harga saham Brigham (2006:155). Rasio total hutang
terhadap ekuitas mengukur tingkat resiko struktur modal perusahaan punya
hubungan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang membutuhkan dana.

17

Tinggi rendahnya komposisi hutang yang ada menunjukkan besarnya resiko


yang akan dihadapi investor karena investor harus mengantisipasi apabila
kemungkinan perusahaan tersebut dikemudian hari mengalami kebangkrutan.
Rasio yang tinggi dapat mengindikasikan bahwa tuntutan dari pihak lain relatif
lebih besar daripada aset yang dimiliki oleh perusahaan untuk menutupinya,
meningkatkan resiko bahwa tuntutan kreditor kemungkinan tidak dapat tertutup
secara penuh apabila terjadi kebangkrutan pada perusahaan. Semakin rendah
rasionya, maka semakin sedikit kewajiban yang dimiliki perusahaan di masa yang
akan datang. Rasio tersebut berdampak secara langsung maupun tidak langsung
terhadap harga saham.
Menurut Riyanto (2010:331), rasio leverage adalah rasio yang dimaksudkan
untuk mengukur seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang
perusahaan. Debt Equity Ratio (DER) mengukur resiko struktur modal, dengan
membandingkan dana dari kreditur

dengan investor. Semakin tinggi tingkat

hutang yang dimiliki perusahaan, maka semakin besar juga tingkat resiko
perusahaan karena pada dasarnya kewajiban pada kreditur harus diprioritaskan
terlebih dahulu daripada pemilik.
Menurut Sutrisno (2003: 249), Debt Equity Ratio (DER) atau rasio hutang
dengan modal sendiri merupakan perbandingan antara hutang yang dimiliki oleh
perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti jumlah modal
sendiri semakin sedikit dibanding dengan hutangnya. Bagi perusahaan, sebaiknya
besarnya hutang tidak boleh melebihi modal yang dimiliki perusahaan supaya
beban terhadap hutangnya tidak terlalu tinggi, sehingga resiko perusahaan tidak

18

dapat mengembalikan kewajibanya tetap terjaga. Untuk menunjukkan ukuran dari


rasio Debt Equity Ratio (DER) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Total Utang
DER = ---------------------Ekuitas
Debt Equity Ratio (DER) dapat diperoleh dengan membaagi total utang
dengan ekuitas. Debt Equity Ratio (DER) atau rasio hutang terhadap ekuitas
adalah suatu upaya untuk memperlihatkan proporsi relatif dari tuntutan pemberi
pinjaman terhadap hak kepemilikan, dan digunakan sebagai ukuran peranan
hutang. Dapat disimpulkan bahwa Debt Equity Ratio (DER) merupakan rasio
perbandingan hutang jangka panjang dan pendek terhadap modal sendiri.
2.6 Harga Saham
Harga saham merupakan nilai suatu saham pada saat tertentu. Nilai harga
saham dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Suatu perusahaan dapat menjual hak kepemilikannya melalui penerbitan
saham di pasar modal. Pemilik saham suatu perusahaan disebut pemegang saham
merupakan pemilik perusahaan jika dilihat berdasarkan dari saham perusahaan
yang dimilikinya. Tanggung jawab pemilik perusahaan yang berbentuk perseroan
terbatas hanya terbatas pada modal yang disetorkan. Di dalam pasar modal saham
yang diterbitkan dan dijual memiliki ukuran nilai tertentu.
Pada suatu saham terdapat tiga macam nilai yaitu:
1. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum pada saham tersebut.

19

2. Nilai efektif adalah nilai yang tercantum pada kurs resmi apabila saham
tersebut dipegangkan di bursa.
3. Nilai intrinsik adalah nilai saham pada saat diperdagangkan.
Secara umum harga saham menggambarkan perkembangan pasar modal
sebuah negara. Nilai saham suatu perusahaan belum tentu mencerminkan nilai
perusahaan itu sesungguhnya. Nilai perusahaan yang sesungguhnya dapat
ditentukan dengan menentukan nilai wajar (fair value) atau nilai intrinsik
(intrinsic value) saham perusahaan yang bersangkutan.
Terdapat dua jenis harga saham yaitu harga bid dan offer. Bid dan offer adalah
seperti layaknya proses tawar menawar dalam membeli barang biasa. Harga bid
adalah harga saham yang ditentukan oleh para calon pembeli saham atau harga
dari permintaan sang pembeli saham. Harga offer adalah harga saham yang sudah
ditentukan oleh si pemegang saham, dalam hal ini si penjual saham. Penentuan
harga saham dari suatu saham yang diperdagangkan saat itu yang telah melalui
proses transaksi penjualan adalah harga saham yang berlaku pada saat itu juga.
Harga saham dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal, faktor ini ini dipengaruhi dari kemampuan suatu
perusahaan tersebut dalam menangani kinerja perusahaan baik ekonomi dan
manajemen finansialnya. Bagaimana perusahaan tersebut bisa memanajemen
modal yang ada, mengatur kegiatan dari operasioanal perusahaan tersebut,
bagaimana perusahaan tersebut bisa menarik keuntungan dari operasionalnya.
Faktor eksternal, faktor ini meliputi faktor-faktor yang berasal dari luar
perusahaan, biasanya dikaitkan dengan kondisi ekonomi atau keadaan lain yang
sedang terjadi di suatu negara. Seperti contohnya di Indonesia, harga saham bisa

20

saja dipengaruhi oleh kondisi kurs rupiah dan tingkat inflasi yang terjadi. Keadaan
politik yang sedamg terjadi di suatu negara juga kerap dapat mempengaruhi harga
saham. Selain itu kondisi alam dan keadaan lainya juga dapat ikut mempengaruhi
apabila dilihat dari faktor eksternal ini
2.6.1 Analisa Saham
Analisa saham digunakan untuk menilai bagaimana keadaan suatu perusahaan
pada saat ini dan masa mendatang. Menurut Husnan (2001:315) ada dua
pendekatan dasar dalam melakukan analisa dari pemilik saham yaitu analisa
fundamental dan analisa teknikal. Penelitian ini menggunakan analisa
fundamental di dalam melakukan penelitianya. Husnan (2005:307) menjelaskan
apabila analisis fundamental mencoba memperkirakan harga saham dimasa yang
akan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang
mempengaruhi harga saham dimasa yang akan datang dan menerapkan hubungan
variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
2.7 Kerangka Pemikiran
Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pelaporan
transaksi-transaksi keuangan suatu organisasi dengan cara-cara tertentu yang
sistematis, serta penafsiran terhadap hasilnya. Proses akuntansi perusahaan besar
telah berkembang dari teknik-teknik akuntansi tradisional untuk kepentingan,
pencatatan, penganalisaan, dan penafsiran data keuangan guna memenuhi
kebutuhan berbagai pihak internal maupun eksternal yang berkepentingan dan
membutuhkan informasi tersebut.
Analisis laporan keuangan adalah proses penelitian laporan keuangan dan
semua unsurnya untuk mengevaluasi

hasil yang telah dicapai oleh suatu

21

perusahaan. Analisis laporan keuangan dapat digunakan sebagai alat yang


menyampaikan masalah-masalah dan peluang-peluang yang terdapat pada laporan
keuangan. Kerangka pemikiran dapat menyampaikan bagaimana alur logika
berjalanya variabel dalam penelitian. Berdasarkan landasan teoritis yang dijadikan
rujukan konsepsional variabel penelitian, maka dapat disusun kerangka pemikiran
sebagai berikut:
GAMBAR 2.1
KERANGKA PEMIKIRAN
Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek
Indonesia

Fenomena : terjadi kenaikan deviden share , Net Profit Margin (NPM), Return on Equity (ROE) berpengaruh
positif terhadap harga saham yang diuji secara parsial maupun simultan.
Pengaruh yang tidak konsisten ROA, EPS dan DER terhadap harga saham yang diuji secara parsial.

Akuntansi Keuangan

Analisa Laporan
Keuangan

Husnan (2004:70) menjelaskan


bahwa debt to equity ratio
(DER)
menunjukan
perbandingan antara hutang
dengan modal sendiri.

Return On Asset (ROA),


Sartono (2011:138) menyatakan
rasio profitabilitas merupakan
tolak ukur utama keberhasilan
suatu perusahaan.

Indra (2006) menyatakan bahwa


Informasi Earning Per Share (EPS)
suatu
perusahaan
menunjukkan
besarnya laba bersih perusahaan yang
siap dibagikan bagi semua pemegang
saham perusahaan.

HARGA SAHAM
Harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu oleh
pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran
saham yang bersagktuan dipasar modal.
Pengaruh ROA,EPS, dan DER secara
parsial terhadap harga saham.

22

2.8 Pengembangan Hipotesis Penelitian


Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang akan
diteliti. Hipotesis akan menjadi teruji atau diterima apabila hasil dari penelitian
tidak bertentangan dengan hipotesis tersebut. Hipotesis penelitian ini adalah
sebagai berikut:
2.8.1 Return On Asset (ROA) Berpengaruh Positif Terhadap Harga Saham
Kinerja

manajemen

menggunakan

aktiva

yang

dimilikinya

untuk

menghasilkan laba dapat dilihat dari hasil pengembalian aktiva atau total
investasi. Hasil pengembalian aktiva dapat menunjukan bagaimana kinerja
manajemen perusahaan untuk menghasilkan laba. Perusahaan mengharapkan
adanya pengembailian sebanding dengan dana yang digunakan. Keefektifan
pengembalian aktiva sangat diharapkan oleh perusahaan. Seperti yang dijelaskan
Astuti (2004) salah satu ukuran keefektifan, semakin tinggi tingkat pengembalian
maka sepanding tinggi juga tingkat keefektifan perusahaan.
Efektivitas kinerja perusahaan dapat mempengaruhi harga saham. Semakin
tinggi tingkat rasio maka perusahaan dianggap semakin mampu menggunakan
aset secaara efektif dalam menghasikan laba. Begitu juga sebaliknya, semakin
rendah tingkat rasio maka semakin rendah juga perusahaan dianggap mampu
menghasilkan laba secara efektif. Hasil penelitian Susilawati (2005) dan Husaini
(2012) telah membuktikan bahwa harga saham dipengaruhi oleh ROA.
Berdasarkan dengan uraian tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:
H1: Return On Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap harga saham.
23

2.8.2 Earning Per Share (EPS) Berpengaruh Positif Terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) secara ringkas menyajikan kinerja perusahaan yang
dikaitkan dengan saham beredar. EPS banyak digunakan sebagai alat analisis
keuangan perusahaan. EPS yang dikaitkan dengan harga pasar saham dapat
memberikan gambaran bagaimana kinerja perusahaan dibanding dengan
penanaman uang pemilik perusahaan.
Informasi keuangan perusahaan yang terdapat pada laporan keuangan
perusahaan salah satunya adalah

EPS yang diperhatikan untuk menganalisis

tingkat kinerja perusahaan pada saat ini dan masa mendatang. Nilai EPS
perusahaan yang tinggi mengindikasikan perusahaan mampu mengalokasikan
dana yg diperoleh secara efektif dan efisien. Dengan hal itu investor akan merasa
yakin bahwa perusahaan memiliki potensial yang bagus di masa mendatang.
Semakim tinggi EPS maka akan semakin menarik investor untuk membeli saham
suatu perusahaan. Begitu juga sebaliknya semakin rendah nilai EPS maka tidak
akan menarik investor untuk membeli saham suatu perusahaan tersebut.
Bandi, Aryani dan Rahmawati (2002) melakukan pengujian mengenai
pengaruh EPS terhadap harga saham. Hasil penelitian menyatakan bahwa variabel
EPS mempunyai koefisien positif dan berpengaruh terhadap harga saham. Begitu
juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Suaryana dan Dewi (2013) yang
memberikan kesimpulan bahwa EPS berpengaruh positif. Berdasarkan dengan
uraian tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap harga saham.

24

2.8.3 Debt Equity Ratio (DER) Berpengaruh Negatif Terhadap Harga Saham
Investor memperhatikan tingkat resiko yang dimiliki oleh perusahaan ketika
akan menginvestasikan modal mereka kepada perusahaan tersebut. Rasio DER
mencerminkan seberapa besar modal perusahaan sendiri untuk memenuhi
kewajiban-kewajiban perusahaan. Semakin tinggi DER maka semakin tinggi pula
tingkat resiko pada perusahaan tersebut. Resiko yang tinggi juga menunjukan
proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva.
Semakin rendah DER maka menunjukan semakin rendah resiko pada
perusahaan tersebut dan menunjukan semakin tinggi tingkat modal perusahaan
untuk membiayai aktiva. Investor akan menghindari perusahaan yang memiliki
tingkat resiko tinggi dan akan lebih mempertimbangkan perusahaan yang
memiliki tingkat resiko yang rendah. Penelitian Stella (2009) menyimpulkan
bahwa terdapat pengaruh negatif DER terhadap harga saham, begitu juga dengan
penelitian Suaryana dan Dewi (2013) yang menyimpulkan DER berpengaruh
negatif terhadap harga saham. Berdasarkan dengan uraian tersebut maka dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Debt Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga saham.

25

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian deskriptif
kuantitatif. Metode pendekatan deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan
untuk menjelaskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau
bidang tertentu secara faktual dan cermat yang kemudian akan dianalisis dengan
pendekatan kuantitatif yaitu dengan menggunakan alat statistik. Penelitian ini
akan dilakukan hipotesis testing yang digunkan untuk menjelaskan bagaimana
hubungan kausal antar variabel-variabel penelitian. Penelitian ini mengidentifikasi
data atau fakta sebagai variabel yang dipengaruhi variabel dependen dan
melakukan penyelidikan terhadap variabel yang mempengaruhi variabel
independen.
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang go public
di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2009-2012. Teknik penarikan sampel
yang digunakan adalah dengan menggunakan metode sampel non probabilitas,
yaitu bahwa teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau
kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih
menjadi sampel. Sedangkan tipe non probabilitas yang dipilih dalam penelitian ini
adalah tipe purposive sampling (sampel bertujuan) atau disebut juga judgement
sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

26

Berdasarkan pertimbangan di atas maka jumlah sampel yang digunakan


dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI). Sampel tersebut ditentukan dengan kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan manufaktur yang memberikan laporan keuangan per 31
Desember yang lengkap dan terdaftar secara berturut-turut di BEI dari tahun
2009-2012.
2. Perusahaan manufaktur yang memiliki laba negatif secara bertutu-turut.
3. Perusahaan memiliki data-data lengkap terkait dengan variabel yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu harga saham, ROA, EPS, dan DER.
4. Data berdistribusi normal atau tidak merupakan data pencilan.
3.3. Ruang Lingkup Penelitian
Fokus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya ROA, EPS, DER
serta harga saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Selain itu juga untuk mengetahui pengaruh ROA, EPS, DER terhadap harga
saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Inddonesia (BEI) secara
parsial. Secara parsial yaitu pengaruh setiap variabel independen terhadap variabel
dependendnya.
3.4. Metode Pengumpulan dan Jenis Data
Data yang digunakan penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh
dari publikasi, khususnya laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan oleh
Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teknik dokumentasi. Data yang digunakan penelitian ini

27

adalah data perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI)
tahun 2009 sampai dengan tahun 2012.
3.5 Metode Analisa Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis
data kuantitatif dengan menggunakan statistik inferensial, yaitu metode analisis
yang digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk
populasi. Sebelum dilakukan analisis data maka data yang dikumpulkan diolah
terlebih dahulu agar siap untuk dianalisis. Tahapan pengolahan data yang
diterapkan dalam penelitian ini adalah entri data atau memasukkan data
merupakan proses mengumpulkan informasi yang telah diperoleh kedalam media
agar informasi tersebut mudah dipahami.
Analisis data penelitian ini menggunakan tehnik regresi linier berganda.
Teknik analisis regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel
bebas (eksogen) dengan variabel terikat (endogen). Model persamaan yang
diperoleh dari pengolahan data diupayakan normal dan terbebas dari asumsi.
3.5.1

Statistik Diskriptif

Pengolahan data setelah memperoleh sampel yang digunakan dalam


pengujian, maka pengolahan data pertama yang dilakukan adalah pengolahan
statistik deskriptif. Statistik deskriptif adalah pengujian yg secara umum bertujuan
untuk melihat distribusi data dari variabel yang digunakan sebagai sampel dalam
penelitian ini. Data yang diperoleh akan menunjukan nilai maksimum, rata-rata,
nilai terendah, dan standar deviasi dari setiap variabel yang diteliti.

28

Analisis ini berkaitan dengan metode-metode pengumpulan dan penyajian


data sehingga dapat memberikan informasi yang berguna. Statistik deskriptif
hanya memberikan informasi mengenai data dari variabel yang dignakan sebagai
sample penelitian dan tidak menarik kesimpulan apapun. Melalui statistik ini data
yang digunakan akan tersaji secara rapi dan ringkas.
3.5.2

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada
analisis regresi linear berganda. Uji asumsi klasik digunakan untuk memastikan
bahwa model telah memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator (BLUE).
Adapun uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah sebuah data
berdistribusi normal atau tidak. Uji ini digunakan untuk mengetahui
apakah variabel bebas dengan variabel terikat mempunyai distribusi
normal atau tidak. Uji normalitas dinyatakan normal apabila nilai
signifikan lebih besar dari 0,05. Uji yang dilakukan untuk melihat
normalitas adalah dengan menggunakan uji kolmogorov smirnov (Santoso,
2010:90).
2. Uji Multikoliniaritas
Multikoliniaritas adalah suatu keadaan yang menyatakan bahwa
variabel-variabel

independen

pada

persamaan

regresi

mempunyai

hubungan yang kuat satu sama lain. Uji multikoliniaritas bertujuan untuk

29

menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel


bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara
variabel bebas. Apabila variabel bebas saling berkorelasi maka variabelvariabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang
nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya multikoliniaritas di dalam model regresi
adalah sebagai berikut (Ghozali, 2005:92).
1. Mempunyai angka tolerence diatas (>) 0,1
2. Mempunyai nilai VIF di bawah (<) 10.
3. Uji Heteroskedatistas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan pada
pengamatan yang lain. Apabila varians dari residual satu pengamatan pada
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homokedastisitas

atau

tidak

terjadi

heteroskedastisitas

(Ghozali,

2005:105). Dasar pengambilan keputusan:


1. Apabila terdapat pola tertentu, seperti titik-titik (point-point) yang
ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang,
melebar

kemudian

menyempit),

maka

telah

terjadi

heteroskedastisitas.
2. Apabila tidak terdapat pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di
atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.

30

4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk melihat apakah pada model regresi
terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pada periode t-1. Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui
apakah model mengandung autokorelasi atau tidak, yaitu adanya hubungan
diantara variabel untuk mempengaruhi variabel dependen. Pada penelitian
ini untuk menguji ada tidaknya autokorelasi baik positif atau negatif,
peneliti menggunakan uji durbin-watson (DW) dengan alat bantu SPSS 17
for windows.
3.5.3

Uji Hipotesis

Pada analisis jalur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dibagi
menjadi dua, yaitu pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Pengaruh
langsung variabel bebas terhadap variabel terikat dapat diuji dengan pengujian
seperti berikut:
1. Uji Regresi Berganda
Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk
menguji apakah terdapat pengaruh atau hubungan secara linier antara
variabel bebas ROA (X1), EPS (X2) dan DER (X3) terhadap variabel
terikat harga saham (Y). Adapun persamaan regresi linier berganda
yang digunakan untuk mengukur pengaruh tersebut adalah sebagai
berikut:
= a0 + a1X1 + a2X2+ a3X3+ e

31

Keterangan:

X1
X2
X3
a0
a1
a2
a3
e

= Harga saham
= ROA
= EPS
= DER
= Konstanta
= Koefisien X1
= Koefisien X2
= Koefisien X3
= eror

2. Uji t
Uji statistik t dilakukan untuk mengetahui tingkat signifikansi
setiap variabel bebas yaitu ROA, EPS, dan DER terhadap variabel
terikat harga saham secara terpisah. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
a. Menetapkan besarnya nilai statistik t dengan ketentuan tingkat
signifikansi (level of significance -) yaitu harus di bawah dari
0,05.
b. Mengambil Keputusan
1. Apabila tingkat signifikansi nilai statistik t menurut hasil
perhitungan lebih kecil daripada 0,05, maka H0 ditolak dan
H1 diterima. Artinya ada pengaruh secara parsial variabel
bebas terhadap variabel terikat.
2. Apabila tingkat signifikansi nilai statistik t menurut hasil
perhitungan lebih besar daripada 0,05, maka H0 diterima
dan H1 ditolak. Artinya tidak ada pengaruh secara parsial
variabel bebas terhadap variabel terikat.

32

3.5.4 Uji Koefisien Determinasi (R2)


Uji koefisian determinasi (R2) merupakan suatu ukuran yang penting dalam
regresi karena dapat menginformasikan baik atau tidaknya model regresi yang
terestimasi, atau menginformasikan angka tersebut dapat mengukur seberapa
dekatkah garis regresi yang terestimasi dengan data sesungguhnya. Koefisien
determinasi pada regresi berganda dapat menunjukan seberapa besar kemampuan
semua variabel bebas dalam menjelaskan varians dan variabel terikatnya.
Koefisien determinasi dihitung dengan menguadratkan koefisien korelasi (R), Hal
tersebut mencerminkan seberapa besar variasi dari variabel terikat (Y) dapat
diterangkan oleh variabel bebas (X).
Adapun kerangka pengujian dapat digambarkan sebagai berikut:
GAMBAR 3.1
KERANGKA PENGUJIAN

Return on Assets
(ROA) (X1)

Harga Saham
(Y)

Earning Per Share


(EPS) (X2)

Leverage (DER)
(X3)

Model kerangka pengujian di atas dapat menjelaskan bahwa terdapat tiga


variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel bebas dalam kerangka pengujian

33

diberi kode X yaitu ROA, EPS, DER, sedangkan untuk variabel terikatnya
menggunakan kode Y yaitu harga saham. Dari kerangka tersebut dapat dilihat
bahwa variabel X yang meliputi return on asset (X1), earning per share (X2) dan
leverage (X3) memiliki pengaruh terhadap variabel Y yaitu harga saham.

34

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Statistik Deskriptif


Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Return On Assets (ROA),
Earning Per Share (EPS), dan Debt Equity Ratio (DER) terhadap harga saham
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan hasil pemilihan sampel dengan menggunakan metode purposive
sampling diperoleh sampel penelitian dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 4.1
Jumlah Sampel Berdasarkan Kriteria Seleksi Sampel
No

Kriteria

Jumlah

Jumlah perusahaan publik pada tahun 2009-2012

507

Jumlah perusahaan nonmanufaktur

362

Jumlah perusahaan manufaktur 2009-2012

145

Jumlah perusahaan manufaktur yang melakukan

21

delisting periode 2009-2012


2

Perusahaan yang memiliki rata-rata laba negaiif

23

Perusahaan yang memiliki data ekstream

29

Jumlah akhir sampel penelitian

70

(Sumber : Hasil Pengolahan Data)

Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah perusahaan manufaktur sebanyak


145. Pada periode penelitian terdapat 21 perusahaan yang melakukan delisting
sehingga jumlah sampel penelitian selama tahun 2009-2012 sebanyak 124
perusahaan. Selanjutnya perusahaan yang memiliki laba negatif sebanyak 23
perusahaan. Berdasarkan hasil analsis uji normalitas sementara diketahui terdapat
29 data ekstrim yang mengganggu normalitas data, sehingga peneliti memutuskan
35

untuk membuang ke 29 sampel perusahaan tersebut. dari seluruh rangkaian


kriteria tersebut didapatkan 70 perusahaan yang menjadi sampel penelitian.
Langkah selanjutnya adalah melakukan pengumpulan data. Data dalam penelitian
ini diperoleh dari laporan keuangan dipublikasikan di website resmi Bursa Efek
Indonesia (BEI). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan software
SPSS 17.0 for windows.
Setelah memperoleh sampel yang akan dijadikan sebagai data pengujian,
maka pengolahan data pertama yang dilakukan adalah melakukan pengolahan
data statistik deskriptif. Statistik deskriptif merupakan pengujian statistik secara
umum yang bertujuan untuk melihat distribusi data dari variabel yang digunakan
sebagai sampel dalam penelitian ini. Data yang diperoleh dari hasil analisis
deskriptif, menunjukkan nilai tertinggi (maximum), nilai terendah (minimum),
rata-rata (mean) dan standar deviasi dari setiap variabel yang diteliti. Hasil
analisis deskriptif dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2
Hasil Analisis Deskriptif Data Penelitian
Statistik Diskriptif
Minimal

Maksimal

Rata-rata

Standar
deviasi

ROA

70

0,40

34,55

11,47

8,26

EPS

70

-2,00

1.368,67

231,52

317,66

DER

70

-0,11

3.92

1,03

0,79

Hrg_Saham

70

205,00

15.850,00

2.465,74

3.165,23

Valid N (listwise)

70

(Sumber : Hasil Pengolahan Data)

36

Keterangan Notasi :
ROA
= return on assets
DER
= debt to equity ratio
EPS
= earning per share
Hrg_Saham = Harga Saham
Variabel Return On Assets (ROA) memiliki nilai minimum sebesar 0,40
dengan nilai maksimum 34,55. Nilai rata-rata Return On Assets (ROA) sebesar
11,47 dengan standar deviasi sebesar 8,26. Hasil uji statistik deskriptif
menunjukan bahwa variabel Earning Per Share (EPS) memiliki nilai minimum
sebesar -2,00 dengan nilai maksimum 1.368,67. Nilai rata-rata Earning Per Share
(EPS) sebesar 231,52 dengan standar deviasi sebesar 317,66. Variabel Debt
Equity Ratio (DER) memiliki nilai minimum sebesar -0,11 dengan nilai
maksimum 3,92. Nilai rata-rata Debt Equity Ratio (DER) sebesar 1,03 dengan
standar deviasi sebesar 0,79. Variabel harga saham memiliki nilai minimum
sebesar 205,00 dengan nilai maksimum 15.850,00. Nilai rata-rata harga saham
sebesar 2.465,74 dengan standar deviasi sebesar 3.165,22.
4.2 Hasil Uji Asumsi Klasik
Syarat untuk dapat menggunakan persamaan regresi berganda adalah
terpenuhinya uji asumsi klasik. Persyaratan uji asumsi klasik yang harus dipenuhi
adalah:
a. Berdistriusi normal. Distribusi normal merupakan distribusi teoritis
variabel random yang kontinyu.
b. Non multikolinieritas, dimana diantara variabel independen satu dengan
variabel yang lainnya dalam model regresi tidak saling berhubungan
secara sempurna atau mendekati sempurna.

37

c. Homoskedastisitas, dimana varian variabel independen adalah sama


untuk setiap nilai tertentu variabel independen.
d. Non autokorelasi, dimana kesalahan atau gangguan yang masuk kedalam
fungsi regresi populasi adalah random atau tidak berkorelasi.
4.2.1 Hasil Pengujian Normalitas
Uji normalitas bertujuan menguji apakah dalam model penelitian variabel
terdistribusi secara normal. Uji normalitas data dalam penelitian ini menggunakan
pengujian grafik normal PP Plot dan one-sample kolmogorov smirnov test yang
terdapat dalam program SPSS 17.0 for windows. Menurut Ghozali (2005) data
dikatakan terdistribusi dengan normal apabila residual terdistribusi dengan normal
yaitu memiliki tingkat signifikansi diatas 5%.
Pengujian normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual yang
diperoleh dari model mengikuti distribusi normal atau tidak. Residual
berdistribusi normal dapat dilihat sebaran titik-titik pada gambar. Berdistribusi
normal apabila titik-titik mengikuti atau menyebar pada pola garis. Hasil
pengolahan data pada data ini menunjukan hasil bahwa data berdistribusi normal.
Hal tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian grafik normal PP Plot pada
gambar 4.1 berikut.

38

Gambar 4.1
Uji Normalitas Dengan PP Plot Residual

(Sumber: Hasil pengolahan Data)

Dari gambar 4.1. dapat dilihat titik-titik berada di sekitar garis diagonal.
Titik- titik yang menyebar disekitar garis diagonal menunjukkan residual
berdistribusi normal. Uji normalitas juga dapat dilihat dengan menggunakan uji
one sample kolmogorov-smirnov seperti Tabel 4.3
Tabel 4.3
Hasil Pengujian Normalitas
Dengan Uji One Sample Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Residual tidak
Standar
N
Parameter normal

70
a

Rata-rata

0,00

Standar deviasi

1.945,75

Perbedaan yang paling

Absolut

0,15

ekstrim

Positif

0,15

Negatif

-0,13

Kolmogorov-Smirnov Z

1,25

Asymp. Sig. (2-tailed)

0,087

a. Tes distribusi adalah normal.

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

39

Dari Tabel 4.3, besarnya nilai kolmogorov-smirnov Z adalah 1,25 dan nilai
signifikansi sebesar 0.087 > Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,05. Dengan
demikian dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan distribusi residual dengan distribusi
normal, atau dapat dikatakan residual berdistribusi normal.
4.2.2 Hasil Pengujian Multikolinieritas Model Pertama
Hasil pengujian asumsi multikolinieritas menunjukkan di dalam model
tidak terjadi multikolinieritas. Hal ini dapat dilihat dari matriks korelasi antara
variabel bebas pada Tabel 4.4

Tabel 4.4
Hasil Pengujian Multikolinieritas
Coefficients
Koefisien tidak

Koefisien

standar

Standar

Standar
Model
1

B
(Constant)

kesalahan

174,140

578,914

ROA

82,956

29,692

EPS

7,221

DER

-322,253

Statistik Collinearity
Statistik

Beta

Nilai
Probabilitas Toleransi

VIF

0,301

0,765

0,216

2,794

0,007

0,954

1,048

0,758

0,725

9,524

0,000

0,989

1,011

307,947

-0,081

-1,046

0,299

0,963

1,038

a. Variabel Terikat: Hrg_Saham

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Pengujian multikolinieritas dapat diketahui dengan melihat VIF dan nilai


toleransi yang diperoleh. Jika nilai nilai toleransi lebih besar dari 0,10 dan nilai
VIF lebih kecil dari 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinieritas.
Dari hasil pengujian diketahui bahwa seluruh nilai VIF lebih kecil dari 10 dan
nilai toleransi lebih besar dari 0,10 sehingga disimpulkan bahwa tidak terjadi
40

multikolinieritas. Nilai VIF dan toleransi untuk masing-masing variabel antara


lain ROA sebesar 1,048, EPS sebeasar 1,011, dan DER sebesar 1,038. Dan
keseluruhan nilai toleransi di atas 0,10.
4.2.3 Hasil Pengujian Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak
heteroskedastisitas. Uji heterokesdaksitas dalam penelitian ini diuji dengan
scaterplots. Hasil uji heteroskedastisitas dengan uji scaterplots dapat dilihat pada
gambar berikut ini:
Gambar4.2
Uji Heteroskedastisitas dengan Scatterplot

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Hasil uji heteroskedastisitas menunjukan bahwa titik-titik tersebar di atas dan


di bawah angka nol. Titik-titik pada gambar menyebar dan tidak membentuk pola

41

tertentu yang teratur. Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa dalam
model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.2.4 Hasil Pengujian Autokolerasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi terdapat
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1. Autokorelasi dalam penelitian ini dideteksi dengan
menggunakan uji durbin watson yaitu dengan membandingkan nilai durbin
watson hitung (d) dengan nilai durbin watson tabel yaitu batas lebih tinggi (upper
bond atau du) dan batas lebih rendah (lower bond atau d1). Santoso (2000)
menyatakan bahwa angka durbin watson mendekati dari 2 menunjukan tidak
terjadinya autokorelasi. Hasil uji autokorelasi dengan durbin watson dapat dilihat
pada tabel berikut ini :

Tabel 4.5
Hasil Pengujian Autokolerasi
b

Model Summary

Standar

Model

0,789

R kuadrat
a

R Kuadrat

Kesalahan

Disesuaikan

Estimasi

0,622

0,605

1.989,48030

Durbin-Watson
1,998

a. Predictors: (Constant), DER, EPS, ROA


b. Variabel Terikat: Hrg_Saham

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Hasil uji autokorelasi dengan menggunakan uji durbin watson menunjukan


nilai durbin watson hitung sebesar 1,998. Hasil durbin watson hitung mendekati
2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model regresi tidak terjadi
autokorelasi.

42

4.3 Hasil Analsis dan Intrepretasi


4.3.1 Hasil Pengujian Regresi Berganda
Analisis regresi berganda ditujukan untuk mengetahui pengaruh lebih dari
satu variable bebas yakni ROA (X1), EPS (X2), dan DER (X3) terhadap variabel
terikat (Y) berupa harga saham. Untuk memperoleh hasil yang lebih akurat,
penulis menggunakan bantuan program software SPSS versi 17.00 for windows.
Hasil analsis regresi berganda dapat dilihat dari Tabel coefficient maka dihasilkan
output pada tabel 4.6 berikut ini:

Tabel 4.6
Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficients
Model

Koefisien tidak

Standar

Statistik

Nilai

Standar

koefisien

Probabilitas

Standar

Beta

kesalahan
1

(Constant)

174,140

578,914

0,301

0,765

ROA

82,956

29,692

0,216

2,794

0,007

EPS

7,221

0,758

0,725

9,524

0,000

DER

-322,253

307,947

-0,081

-1,046

0,299

a. variabel terikat: Hrg_Saham

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Berdasarkan hasil pegolahan data seperti terlihat pada Tabel 4.6 kolom koefisien
tidak standar bagian B diperoleh persamaan regresi linier sebagai berikut:
Y= a + bx1 + bx2 + bx3 + e
Y= 174,140 + 82,956 ROA+ 7,221 EPS - 322,253 DER + e
Berdasarkan persamaan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
a.

Konstanta (a)= 174,140. Ini mempunyai arti bahwa apabila variabel X


yaitu ROA, EPS, dan DER adalah adalah nol maka harga saham (Y)

43

harga saham memiliki nilai sebesar 174,140. Artinya jika variabel


harga saham (Y) tidak dipengaruhi variabel X1, X2, maupun variabel
X3 maka nilai konstantanya adalah 174,140.
b.

Koefisien (b1) ROA = 82,956. Pengaruh variabel ROA (X1) terhadap


harga saham (Y) didapatkan koefisien regresi sebesar 82,956
mempunyai arti bahwa setiap terjadi peningkatan variabel ROA (X1)
sebesar 1 satuan, maka harga saham akan meningkatkan sebesar 82,956.
Dari angka tersebut dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh positif
ROA (X1) terhadap harga saham (Y) yang berarti dengan adanya
kenaikan ROA akan diikuti oleh peningkatan harga saham.

c.

Koefisien (b2) EPS = 7,221. Pengaruh variabel EPS (X2) terhadap harga
saham (Y) didapatkan koefisien regresi sebesar 7,221 mempunyai arti
bahwa setiap terjadi peningkatan variabel EPS (X2) sebesar 1 satuan,
maka harga saham akan meningkat sebesar 7,221. Dari angka tersebut
dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh positif

dana EPS (X2)

terhadap harga saham (Y) yang berarti dengan adanya kenaikan EPS
akan diikuti oleh kenaikanharga saham.
d.

Koefisien (b3) DER = -322,253. Pengaruh variabel DER (X3) terhadap


harga saham (Y) didapatkan koefisien regresi sebesar -322,253
mempunyai arti bahwa setiap terjadi peningkatan variabel DER (X3)
sebesar 1 satuan, maka harga saham akan menurun sebesar -322,253.
Dari angka tersebut dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh negatif
DER (X3) terhadap harga saham (Y) yang berarti dengan adanya
kenaikan DER akan diikuti oleh penurunan harga saham.

44

e.

Nilai e (Standar eror) didapatkan sebesar 578,914.

4.3.2 Uji t
Uji t pengujian yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel
independen secara parsial yang berpengaruh signifikan atau tidak terhadap
variabel dependen, derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai
signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis
alternatif yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial
mempengaruhi variabel dependen secara nyata dan konsisten.
Menurut kriteria pengujian:
H0 ditolak apabila statistik t hitung > t tabel
Ha diterima apabila statistik t hitung < tabel
Berdasarkan hasil uji SPSS 17 maka hasil dari uji t terdapat pada tabel
berikut.
Tabel 4.7
Uji t
a

Koefisien
Model

Koefisien tidak

Standar

Statistik

Nilai

Standar

Koefisien

Probabilitas

Standar

Beta

kesalahan
1

(Consta

174,140

578,914

ROA

82,956

29,692

EPS

7,221

DER

-322,253

nt)

0,301

0,765

0,216

2,794

0,007

0,758

0,725

9,524

0,000

307,947

-0,081

-1,046

0,299

a. Variabel Terikat: Hrg_Saham

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa variabel ROA (X1) memiliki nilai statistik t
sebesar 2,794 dimana hasil yang didapatkan lebih besar dari nilai statistik t tabel

45

untuk sampel sebanyak 70 adalah (1,667) dengan nilai probabilitas 0,007 < 0,05
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat berpengaruh yang nyata (signifikan)
ROA terhadap harga saham dengan taraf kebenaran 95%.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Husaini (2012) menunjukkan bahwa
kinerja keuangan yang terdiri dari variabel Return On Assets (ROA) dan Earning
Per Share (EPS) secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap harga
saham. Begitu juga penelitian yang pernah dilakukan oleh Stella (2009) dengan
judul Pengaruh Price Earning Ratio (PER), Debt Equity Ratio (DER), Return On
Asset (ROA) dan Price to Book Value (PBV) terhadap harga pasar saham, hasil
penelitiannya membuktikan bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap
harga pasar saham, sedangkan DER berpengaruh negatif terhadap harga pasar
saham.
Untuk daerah penolakan dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.3
Daerah Penolakan dan Penerimaan Hipotesis Secara One Tailed Variabel
ROA
Daerah penerimaan
Ho dan penolakan Hi

2,794
Daerah Penolakan Ho dan
Penerimaan Hi

1,664

(Sumber : Hasil Pengolahan Data)

Selanjutnya variabel EPS (X2) memiliki nilai statistik t hitung sebesar 9,524
dimana hasil yang didapatkan lebih besar dari nilai statistik t tabel (1,667) dengan

46

nilai probabilitas 0,00 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
berpengaruh yang signifikan atau nyata EPS terhadap harga saham dengan taraf
kebenaran 95%.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian Husaini (2012) menunjukkan bahwa
kinerja keuangan yang terdiri dari variabel Return On Assets (ROA) dan Earning
Per Share (EPS) secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap harga
saham. Begitu juga penelitian yang pernah dilakukan oleh Stella (2009) dengan
judul Pengaruh Price Earning Ratio (PER), Debt Equity Ratio (DER), Return on
Asset (ROA) dan Price to Book Value (PBV) terhadap harga pasar saham, hasil
penelitiannya membuktikan bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap
harga pasar saham.
Gambar 4.4
Daerah Penolakan dan Penerimaan Hipotesis Secara One Tailed Variabel
EPS
Daerah penerimaan
Ho dan penolakan Hi

9,424
Daerah Penolakan Ho dan
Penerimaan Hi

1,660

(Sumber : Hasil Pengolahan Data)

Selanjutnya variabel DER (X3) memiliki nilai statistik t hitung sebesar -1,046
dimana hasil yang didapatkan lebih kecil dari nilai statistik t tabel (1,667) dengan
nilai probabilitas 0,299 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat

47

perpengaruh negatif yang tidak signifikan Debt Equity Ratio (DER) terhadap
harga saham dengan taraf kebenaran 95%.
Hal tersebut didukung oleh penelitian Suaryana dan Dewi (2013) Debt
Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap harga saham. Sesuai juga
dengan sesuai dengan hasil penelitian Stella (2009) yang memberikan hasil bahwa
kebijakan penggunaan hutang Debt

Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif

terhadap harga saham manufaktur.


Gambar 4.5
Daerah Penolakan dan Penerimaan Hipotesis Secara One Tailed Variabel
DER
Daerah penerimaan
Ho dan penolakan Hi

-1,046

Daerah Penolakan Ho dan


Penerimaan Hi

1,664

(Sumber : Hasil Pengolahan Data)

4.3.3 Uji Koefisian Determinasi (R2)


Koefisien determinasi pada regresi berganda sering diartikan sebagai seberapa
besar kemampuan semua variabel bebas dalam menjelasakan varians dan variabel
terikatnya.

Secara

sederhana

koefisien

determinasi

dihitung

dengan

menguadratkan koefisien korelasi (R) ini mencerminkan seberapa besar variasi


dari variabel terikat Y dapat diterangkan oleh variabel bebas X. Bila nilai
koefisien determinasi sama dengan 0 (R2 = 0), artinya variasi dari Y tidak dapat
diterangkan oleh X sama sekali. Sementara bila R2 = 1, artinya variasi dari Y

48

secara keseluruhan dapat diterangankan atau dipengaruhi oleh variabel X. Hasil


uji determinasi (R2) terdapat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.8
Koefisien Determinasi R2
b

Model Summary

Model
1

R
0,789

R kuadrat

Standar kesalahan

Kuadrat

disesuaikan

dari estimasi

0,622

0,605

1.989,48

a. Predictors: (Constant), DER, EPS, ROA


b. Variabel Terikat: Hrg_Saham

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diinterpretasikan nilai R kuadrat sebesar 0,622


menunjukkan bahwa variabel harga saham (Y) dipengaruhi atau dapat dijelaskan
oleh ROA, EPS, DER (X1,2,3) mempengaruhi harga saham sebesar 62,2%, dan
sisanya 38,8% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dihitung dalam penelitian
ini. standat kesalahan dari estimasi artinya mengukur variasi dari nilai yang
diprediksi. Nilai standat kesalahan dari estimasi 1.989,48 semakin kecil standat
kesalahan dari estimasi berarti model semakin baik.
4.4 Ikhtisar Pengujian Hipotesis
Dari hasil pengujian hipotesis yang telah dilakukan maka akan dapat
diperoleh kesimpulan apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hasil pengujian
hipotesis dapat dilihat pada tabel ikhtisar pengujian hipotesis dibawah ini.

49

Tabel 4.9
Ikhtisar Pengujian Hipotesis
Hipotesis
H1
H2
H3

Keterangan

t
statistik
2,794

ROA berpengaruh positif


terhadap harga saham.
EPS berpengaruh positif
terhadap harga saham.
DER berpengaruh
negatif terhadap harga
saham.

(Sumber: Hasil Pengolahan Data)

50

Nilai
Kesimpulan
Probabilitas
0,000
H1 diterima

9,524

0,000

H2 diterima

-1,046

0,299

H3 ditolak

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh return on assets, earning per
share, dan debt equity ratio terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2012.

Analisis data

dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS 17 for


windows. Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa :
1. Return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham,
dimana setiap kenaikan return on asset akan diikuti oleh kenaikan harga
saham. Semakin besar return on asset maka semakin besar harga saham.
Hasil penelitian ini di dukung penelitian Susilawati (2005) dan Husaini
(2012).

2. Earning per share berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga


saham, dimana setiap kenaikan earning per share

akan diikuti oleh

kenaikan harga saham. Semakin besar earning per share maka semakin
besar harga saham. Hasil penelitian ini di dukung penelitian dan Stella
(2009) dan Suaryana, Dewi (2013).

3. Debt rquity ratio berpengaruh negatif namun pengaruh tersebut tidak


signifikan terhadap harga saham, dimana setiap kenaikan debt equity ratio
akan diikuti oleh penurunan harga saham namun kenaikan harga saham
penurunan labil atau tidak konsisten. Hasil ini didukung oleh penelitian
Stella (2009) dan Suaryana, Dewi (2013) yang memberikan hasil bahwa

51

kebijakan penggunaan hutang debt equity ratio berpengaruh negatif


terhadap harga saham.
5.2 Keterbatasan
1. Periode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini relatif pendek yaitu
dari tahun 2009 sampai dengan 2012.
2. Penelitian ini hanya menggunakan jenis perusahaan dari sektor
manufaktur.
5.3 Saran
1. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperpanjang periode dan rasio
penelitian.
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti pengaruh rasio ini
terhadap jenis perusahaan sektor yang lain.

52