Anda di halaman 1dari 25

CEKUNGAN MINYAK DAN GAS BUMI YANG ADA DI

INDONESIA

Indonesia adalah negara yang sangat besar, hal ini terbukti lebih dari 17.508 pulau
yang saling berjajar rapi dikelilingi bentangan 3,9 juta km luas lautan. Luas perairan di
seluruh Nusantara sebesar 7,9 juta km temasuk Zona Ekonomi Eksklusif. Indonesia memiliki
garis pantai terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada dengan panjang 81.000 km. Prof.
Dr. Laode M. Kamaluddin (2002) mengemukakan bahwa Nusantara memiliki
keanekaragaman yang sangat besar. Disamping mempunyai variasi iklim dan terjadi El Nino
serta La Nina, Indonesia mempunyai struktur pinggiran yang berpotensi mengandung
sumber-sumber daya alam seperti mineral, air, uap alam, minyak dan gas alam.
Data Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa sumber
daya minyak bumi di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 56,6 milyar barel.

Indonesia memiliki 60 cekungan minyak bumi yang tersebar di berbagai pelosok


Nusantara.Dari jumlah itu, baru 23 persen atau 14 cekungan yang sudah dieksplorasi dalam
30 tahun terakhir.Akibatnya, cadangan minyak bumi di 14 cekungan terkuras habis dan
tinggal tersisa sembilan miliar barrel. Dengan laju produksi minyak 1,3 juta barrel per hari,
jumlah itu hanya mencukupi kebutuhane bahan bakar beberapa tahun ke depan. Tak heran
mengapa Indonesia harus keluar dari OPPEC.

Cadangan tersebut bertambah dengan ditemukannya sebuah cekungan cadangan


minyak bumi berpotensi raksasa di lepas pantai arah Barat Propinsi NAD Nangroe Aceh
Darusslam. Penemuan tidak sengaja ketika ekspedisi geologi kapal riset BPPT Baruna Jaya
pada akhir tahun 2007 dalam rangka riset geologi kelautan pasca Gempa-Tsunami Aceh di
seputar wilayah P.Simeulue.
Prakiraan pada temuan awal mengindikasikan potensi cadangan berkisar antara 107
320 milyar barrel cadangan minyak / gas bumi.Prakiraan angka terbilang fantastis disaat
semakin langka penemuan sumber minyak bumi & gas di bumi Indonesia, apalagi mengingat
bahwa temuan cadangan minyak bumi & gas terkini yang dimiliki Indonesia di Blok Cepu
Banyuurip, Propinsi Jawa Tengah, adalah 450 juta barrel. Negeri petro-dollar Saudi Arabia
sebagai negara terbesar penyimpan minyak bumi sedunia memiliki cadangan kandungan
minyak & gas bumi sebesar: 264 milyar (setara 20% dari angka cadangan minyak bumi
global).
Ladang-ladang minyak yang telah dieksplorasi di Indonesia tersebar di seluruh
nusantara, mulai dari Sabang sampai Marauke mempunyai andil dalam kebutuhan energi
yang tak terbarukan ini. Pulau Sumatra terdiri dari Aceh yaitu Rantau, Lepas pantai Langsa,
kemudian Riau yaitu Duri, Dumai, Minas, Kotabatak, Bekasap, Zamrud, Petani, Ampuh,
Petapahan, Pedada, Balam, Bangko, di Sumatra selatan yaitu Ramba serta Suban, Tg Jabung
di Jambi, dll. Jawa dan Bali terdiri dari Lepas pantai sebelah utara Jawa Barat,
Tambun,Bekasi, Cilamaya, Karawang, Subang, Jatibarang, Lepas pantai Laut Jawa, Lepas
pantai Kepulauan Seribu, Cepu, Jawa Tengah. Sedangkan Kalimantan, Sulawesi, Maluku,
dan Papua terdiri dari Badak, Kalimantan Timur, Delta Mahakam, Lepas pantai Selat
Makasar, Sulawesi Tengah (Banggai, Donggi, Tiaka) dan Salawati di Papua.Ladang tersebut
ditambah dengan 25 sumur yang telah di setujui pemertintah untuk di eksplor.

Ladang sumur dan cadangan minyak di Indonesia paling banyak terdapat di dasar laut atau
biasa disebut offshore, sehingga diperlukan teknologi yang tinggi untuk memproduksi
minyak tersebut. Hal ini belum lagi pengeboran laut dalam yang enggan dilakukan
pemerintah mengingat teknologi offshore relatif muda yaitu pada tahun 2001 pertama kali
diterapkan di Indonesia.
Lokasi dan Status Cekungan
Sedimen
Status Cekungan / Basin
Sudah Beroperasi

Indonesia Barat
Sumatera Utara

Indonesia Timur
Seram

Sumatera Tengah
Sumatera Selatan
Sunda
Bagian Utara Jawa Barat
Bagian Utara jawa Timur
Laut Bagian Utara Jawa
Timur
Natuna Barat
Tarakan
Kutai
Barito
11

Salawati
Bintuni
Bone

Sibolga
Natuna Timur
Bengkulu
Pati
4

Banggai
Sula
Blak
Timor
4

Sudah Dibor

Biliton
Jawa Selatan
Melawai
Asem-asem

Sub Total

Akimegah - Sahul
Buton - Sawu
Manui - Spermonde
Makasar Selatan - Waipoga
Missol - Lairing
Palung Aru
11

Belum Dieksplorasi

Pambuang
Ketungau

Sub Total
Sudah Dibor Belum Produksi

Sub Total

Sub Total
TOTAL
Energi Fosil
Minyak Bumi
Gas Bumi
CBM

Sumber Daya
87,22 miliar barel
594,43 TSCF
453 TSCF

Cadangan
7,76 miliar barel
157,14 TSCF

Lombok Bali - Sula Selatan


Flores - Buru
Gorontalo - Buru Barat
Salabangka - Halmahera Utara
Weber Barat - Halmahera Timur
Halmahera Selatan - Halmahera
Selatan
Weber - Obi Utara
Waropen - Obi Selatan
Tiukang Besi - Seram Selatan
Tanimbar - Jayapura
20

Produksi
346 juta barel
2,90 TSCF

Rasio C/P
22
54

Dari 60 cekungan sedimen yang berpotensi mengandung hidrokarbon, 22 cekungan sedimen


sama sekali belum pernah dilakukan kegiatan pengeboran eksplorasi. Ditinjau dari rasio
penemuan cadangan, Indonesia termasuk wilayah yang cukup menjanjikan dibanding negaranegara di Asia Tenggara, yaitu mencapai rata-rata sekitar 30%. Faktor keberhasilan (Success
Ratio) dari kegiatan eksplorasi, termasuk deliniasi rata-rata mencapai 38%, sedangkan
keberhasilan untuk sumur taruhan (wild cat) rata-rata lebih tinggi dari 10%.
Sebagian besar lokasi cekungan yang menarik untuk pengembangan blok baru tersebut
terletak di kawasan Timur Indonesia dan berlokasi di offshore. Diantara lokasi cekungan
sedimen tersebut adalah di sekitar pulau Sulawesi Offshore, Nusa Tenggara Offshore,
Halmahera dan Maluku, serta Papua Offshore. Disamping rasio penemuan yang kompetitif,
biaya penemuan (Finding ) Cost untuk cekungan di kawasan yang sebagian besar berlokasi di
offshore, juga relatif lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lain di Asia Tenggara.
Dengan rata-rata biaya penemuan migas yang rendah, berdampak pada resiko investasi
terutama untuk modal awal yang besar pada lokasi offshore. Dengan kondisi-kondisi diatas,
Indonesia bisa dibilang sebagai wilayah yang sangat menjanjikan bagi investasi migas.
Sampai dengan akhir tahun 2010 status Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) berjumlah
246 KKKS.
Produksi Minyak Bumi
Produksi minyak bumi dan kondensat pada tahun 2010 mencapai 346,38 ribu barrel
dengan produksi harian sebesar 944,9 ribu bph, mengalami penurunan sebesar 3.900 bph
dibandingkan produksi minyak bumi dan kondensat tahun 2009 sebesar 948,8 ribu bph.
Penurunan produksi tersebut disebabkan antara lain karena mundurnya jadwal produksi awal
beberapa KKKS, penurunan produksi alamiah, dan permasalahan teknis operasional.
Produksi Gas Bumi
Produksi gas bumi pada tahun 2010 sebesar 9.336 MMSCFD , mengalami kenaikan
sebesar 1.034 MMSCFD dari 8.302 MMSCFD pada tahun 2009. Kenaikan produksi tersebut
antara lain karena mulai berproduksinya beberapa lapangan gas baru dan optimalisasi
produks.
Perkembangan permintaan Gas Bumi di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa semakin
meningkat guna memenuhi kebutuhan industry dan pembangkit listrik. Pada tahun 2020
diperkirakan permintaan gas akan mencapai 10,7 TCF (skenario rendah) atau 12 TCF
(skenario
tinggi).
Dari sisi pasokan, cadangan gas Indonesia diperkirakan masih cukup untuk 50 tahun
ke depan apabila dilihat dari rasio cadangan terhadap produksi (Reserve to Production ).
Sebagian cadangan gas Indonesia terletak di luar Pulau Jawa, yaitu di Natuna (51,46 TCF),
Kalimantan Timur (18,33 TCF), Sumatera Selatan (17,90 TCF), dan Papua (24,32 TCF).
Terdapat hubungan antara cekungan minyak bumi yang berkembang di berbagai
tempat dengan elemen-elemen tektonik yang ada. Cekungan-cekungan besar di wilayah Asia
Tenggara mempresentasikan kondisi setiap elemen tektonik yang ada, yaitu cekungan busur
muka (forearc basin), cekungan busur belakang (back-arc basin), cekungan intra kraton

(intracratonic basin), dan tepi kontinen (continent margin basin), dan zona tumbukan
(collision zone basin).

Berdasarkan data terakhir yang dikumpulkan dari berbagai sumber, telah diketahui bahwa ada
sekitar 60 basin yang diprediksi mengandung cebakan migas yang cukup potensial.
Diantaranya basin Sumatera Utara, Sibolga, Sumatera Tengah, Bengkulu, Jawa Barat Utara,
Natuna Barat, Natuna Timur, Tarakan, Sawu, Asem-Asem, Banda, dll.

Cekungan Di Paparan Sunda

Gambar-1 Lokasi Cekungan South Sumatera

Gambar-2 Kolom Stratigrafi Cekungan South Sumatera (Bishop 2000)

Cekungan Sumatra Utara


Pola geologi dan tatanan stratigrafi regional cekungan Sumatra Utara secara umum
telah banyak diketahui berkat hasil aktivitas eksplorasi minyak dan gas alam serta pemetaan
bersistem pulau Sumatra dalam skala 1:250.000. Keith (1981)dalam google.co.id/cekungan
sumatera membuat pembagian stratigraf Tersier Cekungan Sumatra Utara menjadi tiga
kelompok yaitu Kelompok I sebagai fase tektonik, pengangkatan dan pengerosian, berumur
Eosen hingga Oligosen Awal. Kelompok II merupakan fase genang laut yang dimulai dengan
pembentukan formasi-formasi dari tua ke muda yaitu Formasi Butar, Rampong, Bruksah,
Bampo, Peutu dan Formasi Baong. Kelompok III adalah perioda regresif dengan
pembentukan kelompok Lhoksukon.
Jika dilihat dari proses sedimentasi di cekungan sumatera utara. Kecepatan
sedimentasi dan penurunan dasar sedimen ataupun cekungan pada awal pembentukan
cekungan relatif lambat kemudian dilanjutkan dengan kecepatan sedimentasi lambat tetapi
kecepatan penurunan dasar sedimen ataupun cekungan sangat cepat antara 15.5-12.4 juta
tahun lalu.
Penurunan cepat dasar cekungan tersebut merupakan akibat mulainya rifting di laut
Andaman dan pada saat inilah terbentuk serpih laut dalam Formasi Baong yang kaya material
organik dan menjadi salah satu batuan induk potensial di daerah Aru. Periode antara 12.410.2 juta tahun lalu ditandai dengan kecepatan sedimentasi cukup besar tetapi penurunan
dasar sedimen atau cekungan lebih lambat sebagai awal pengangkatan Bukit Barisan atau
dikenal sebagai tektonik Miosen Tengah. Batupasir Baong Tengah terbentuk pada periode ini
dan merupakan salah satu batuan waduk (reservoir) daerah Aru. Pada 9.3-8.3 juta tahun lalu
kecepatan sedimentasi sangat besar tetapi diikuti pula penurunan dasar sedimen atau
cekungan yang sangat besar sehingga penurunan sangat dipengaruhi. oleh pembebanan
sedimen disamping akibat penurunan tektonik. Pada waktu tersebut terbentuk endapan klastik
kasar Keutapang Bawah, diendapkan dalam lingkungan delta atau laut dangkal dan
merupakan juga batuan waduk (reservoir)penting di daerah Aru.
Model penurunan tektonik daerah Aru pada awalnya menunjukkan penurunan lambat
dilanjutkan penurunan sangat cepat antara 12.4-10.2 juta tahun lalu akibat rifting di Laut
Andaman. Pada Miosen Tengah atau antara 12.4-9.3 juta tahun lalu pola penurunan relatif
lambat, stabil atau terjadi pengangkatan akibat tektonik Miosen Tengah. Penurunan kembali
cepat antara 9.3-8.3 juta tahun lalu dan menjadi sangat lambat antara 5.3-4.4 juta tahun lalu
sebelum terjadi pangangkatan Pilo Pleistosen.

Cekungan Sumatra Tengah

Lokasi cekungan Sumatra Tengah dan batas batasnya

Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil


hidrokarbon terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra
tengah merupakan cekungan belakang busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi
regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya Sesar Sumatra yang terbentuk pada
zaman kapur. Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir
sama dengan cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang
berupa struktur Barat laut-Tenggara dan Utara-Selatan (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo,
1995 dalam www.google.co.id/cekungan sumatera). Walaupun demikian, struktur berarah
Utara-Selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat lautTenggara. Sejarah
tektonik cekungan Sumatra tengah secara umum dapat disimpulkan menjadi beberapa tahap,
yaitu :
Konsolidasi Basement pada zaman Yura, terdiri dari sutur yang berarah Barat laut-Tenggara.
Basement terkena aktivitas magmatisme dan erosi selama zaman Yura akhir dan zaman
Kapur.
Tektonik ekstensional selama Tersier awal dan Tersier tengah (Paleogen) menghasilkan
sistem graben berarah Utara-Selatan dan Barat laut-Tenggara. Kaitan aktivitas tektonik ini
terhadap paleogeomorfologi di Cekungan Sumatra tengah adalah terjadinya perubahan
lingkungan pengendapan dari longkungan darat, rawa hingga lingkungan lakustrin, dan
ditutup oleh kondisi lingkungan fluvial-delta pada akhir fase rifting.

Selama deposisi berlangsung di Oligosen akhir sampai awal Miosen awal yang
mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik Sumatra relatif
tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah
Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut
Pulau Sumatra menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah UtaraSelatan. Kondisi sedimentasi pada pertengahan Tersier ini lebih dipengaruhi oleh fluktuasi
muka air laut global (eustasi) yang menghasilkan episode sedimentasi transgresif dari
kelompok Sihapas dan Formasi Telisa, ditutup oleh episode sedimentasi regresif yang
menghasilkan Formasi Petani.
Akhir Miosen akhir volkanisme meningkat dan tektonisme kembali intensif dengan
rejim kompresi mengangkat pegunungan Barisan di arah Barat daya cekungan. Pegunungan
Barisan ini menjadi sumber sedimen pengisi cekungan selanjutnya (later basin fill). Arah
sedimentasi pada Miosen akhir di Cekungan Sumatra tengah berjalan dari arah selatan
menuju
utara
dengan
kontrol
struktur-struktur
berarah
utara
selatan.
Tektonisme Plio-Pleistosen yang bersifat kompresif mengakibatkan terjadinya inversi-inversi
struktur Basement membentuk sesar-sesar naik dan lipatan yang berarah Barat laut-Tenggara.
Tektonisme Plio-Pleistosen ini juga menghasilkan ketidakselarasan regional antara formasi
Minas dan endapan alluvial kuarter terhadap formasi-formasi di bawahnya.
Cekungan Sumatra Selatan
Geologi Cekungan Sumatera Selatan adalah suatu hasil kegiatan tektonik yang
berkaitan erat dengan penunjaman Lempeng Indi-Australia, yang bergerak ke arah utara
hingga timurlaut terhadap Lempeng Eurasia yang relatif diam. Zone penunjaman lempeng
meliputi daerah sebelah barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa. Beberapa lempeng
kecil (micro-plate) yang berada di antara zone interaksi tersebut turut bergerak dan
menghasilkan zone konvergensi dalam berbagai bentuk dan arah. Penunjaman lempeng IndiAustralia tersebut dapat mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik dan struktur di
Sumatera Selatan. Tumbukan tektonik lempeng di Pulau Sumatera menghasilkan jalur busur
depan, magmatik, dan busur belakang.
Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier berarah
barat laut - tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah barat daya,
Paparan Sunda di sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah tenggara yang
memisahkan cekungan tersebut dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan
Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat laut yang memisahkan Cekungan Sumatra Selatan
dengan Cekungan Sumatera Tengah. Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan
Sumatera Selatan merupakan cekungan busur belakang berumur Tersier yang terbentuk
sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda (sebagai bagian dari lempeng kontinen
Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini meliputi daerah seluas 330 x 510
km2, dimana sebelah barat daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier Bukit Barisan, di sebelah
timur oleh Paparan Sunda (Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh

Menurut Salim et al. (1995) Cekungan Sumatera Selatan terbentuk selama Awal
Tersier (Eosen Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben berkembang sebagai reaksi sistem
penunjaman menyudut antara lempeng Samudra India di bawah lempeng Benua Asia.
Menurut De Coster, 1974 (dalam Salim, 1995), diperkirakan telah terjadi 3 episode orogenesa
yang membentuk kerangka struktur daerah Cekungan Sumatera Selatan yaitu orogenesa
Mesozoik Tengah, tektonik Kapur Akhir Tersier Awal dan Orogenesa Plio Plistosen.
Episode pertama, endapan endapan Paleozoik dan Mesozoik termetamorfosa,
terlipat dan terpatahkan menjadi bongkah struktur dan diintrusi oleh batolit granit serta telah
membentuk pola dasar struktur cekungan. Menurut Pulunggono, 1992 (dalam Wisnu dan
Nazirman ,1997), fase ini membentuk sesar berarah barat laut tenggara yang berupa sesar
sesar geser.
Episode kedua pada Kapur Akhir berupa fase ekstensi menghasilkan gerak gerak
tensional yang membentuk graben dan horst dengan arah umum utara selatan.
Dikombinasikan dengan hasil orogenesa Mesozoik dan hasil pelapukan batuan batuan Pra
Tersier, gerak gerak tensional ini membentuk struktur tua yang mengontrol pembentukan
Formasi Pra Talang Akar.
Episode ketiga berupa fase kompresi pada Plio Plistosen yang menyebabkan pola
pengendapan berubah menjadi regresi dan berperan dalam pembentukan struktur perlipatan
dan sesar sehingga membentuk konfigurasi geologi sekarang. Pada periode tektonik ini juga
terjadi pengangkatan Pegunungan Bukit Barisan yang menghasilkan sesar mendatar
Semangko yang berkembang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan. Pergerakan horisontal
yang terjadi mulai Plistosen Awal sampai sekarang mempengaruhi kondisi Cekungan
Sumatera Selatan dan Tengah sehingga sesar sesar yang baru terbentuk di daerah ini
mempunyai perkembangan hampir sejajar dengan sesar Semangko. Akibat pergerakan
horisontal ini, orogenesa yang terjadi pada Plio Plistosen menghasilkan lipatan yang
berarah barat laut tenggara tetapi sesar yang terbentuk berarah timur laut barat daya dan
barat laut tenggara. Jenis sesar yang terdapat pada cekungan ini adalah sesar naik, sesar
mendatar dan sesar normal.
Kenampakan struktur yang dominan adalah struktur yang berarah barat laut
tenggara sebagai hasil orogenesa Plio Plistosen. Dengan demikian pola struktur yang terjadi
dapat dibedakan atas pola tua yang berarah utara selatan dan barat laut tenggara serta pola
muda yang berarah barat laut tenggara yang sejajar dengan Pulau Sumatera .
Batuan sedimen tersebut telah mengalami gangguan tektonik sehingga terangkat
membentuk lipatan dan pensesaran. Proses erosi menyebabkan batuan terkikis kemudian
membentuk morfologi yang tampak sekarang. Cekungan Sumatera Selatan dan Cekungan
Sumatera Tengah merupakan satu cekungan besar yang dipisahkan oleh Pegunungan
Tigapuluh. Cekungan ini terbentuk akibat adanya pergerakan ulang sesar bongkah pada
batuan
pra
tersier
serta
diikuti
oleh
kegiatan
vulkanik.
Daerah cekungan Sumatera Selatan dibagi menjadi depresi Jambi di utara, Sub
Cekungan Palembang Tengah dan Sub Cekungan Pelembang Selatan atau Depresi Lematang,
masing-masing dipisahkan oleh tinggian batuan dasar (basement).Di daerah Sumatera
Selatan terdapat 3 (tiga)antiklinurium utama, dari selatan ke utara: Antiklinorium Muara

Enim, Antiklinorium Pendopo Benakat dan Antiklinorium Palembang. Pensesaaran batuan


dasar mengontrol sedimen selama paleogen. Stratigrafi normal memperlihatkan bahwa
pembentukan batubara utara-selatan dimana pada bagian barat daerah penyelidikan sungaisungai mengalir kearah sungai Semanggus, sedangkan pada bagian timur daerah penyelidikan
sungai sungai mengalir ke arah timur dengan Sungai Baung dan Sungai Benakat sebagai
sungai Utama.

CEKUNGAN KALIMANTAN TIMUR UTARA (CEKUNGAN TARAKAN)


Cekungan Kalimantan Timur Utara yang dikenal juga dengan Cekungan Tarakan
(IBS, 2006) merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di Kalimantan Timur
bagian utara. Cekungan Tarakan dapat dibagi menjadi 4 sub-cekungan yaitu: Sub-cekungan
Tidung, Sub-cekungan Berau, Sub-cekungan Tarakan, dan Sub-cekungan Muara (Biantoro
dkk., 1996; IBS, 2006). Batas-batas dari empat sub-cekungan tersebut adalah zona-zona sesar
dan tinggian. Bagian utara dari Cekungan Kalimantan Timur Utara dibatasi oleh Tinggian
Samporna yang terletak sedikit ke utara dari perbatasan wilayah Indonesia dan Malaysia.
Bagian barat ke arah Kalimantan dibatasi oleh Punggungan Sekatak-Berau. Sedangkan di
bagian selatan, terdapat Punggungan Mangkalihat yang memisahkan Cekungan Tarakan
dengan Cekungan Kutai. Batas timur dan tenggara dari cekungan ini berupa laut lepas Selat
Makasar.

Gambar 1. Peta lokasi Sub-Cekungan Tarakan (Biantoro dkk., 1996).

Tektonik Regional Cekungan Tarakan


Perkembangan struktur-struktur di Sub-cekungan Tarakan, Cekungan Tarakan
berlangsung dalam beberapa tahapan yang mempengaruhi pengendapan sedimen pada area
tersebut. Konfigurasi secara struktural sudah dimulai oleh rifting sejak Eosen Awal.
Pemekaran (rifting) pada sub-cekungan ini disebabkan oleh pembentukan sesar-sesar normal.
Pergerakan dari sesar-sesar tersebut menghasilkan daerah-daerah rendahan yang kemudian
terisi oleh sedimen-sedimen tertua pada sub-cekungan ini, seperti Formasi Sembakung (akhir
Miosen Awal-Miosen Tengah). Sedimen-sedimen pra-Tersier tidak terpenetrasi pada banyak
sumur yang dibor pada sub-cekungan ini, namun keberadaannya terdeteksi pada data seismik
(Biantoro dkk., 1996).
Proses Rifting berjalan dengan terus menerus disertai dengan adanya pengangkatan
secara lokal di bagian barat dari sub-cekungan mengontrol siklus-siklus pengendapan
sedimen pada sub-cekungan ini. Pengendapan pada sub-cekungan ini dapat dibagi menjadi 4
siklus berhubungan dengan beberapa kejadian tektonik pada regional. Pengendapan sedimensedimen siklus yang pertama (Siklus 1) terjadi pada saat terjadinya pengangkatan pada Eosen
Tengah yang menyebabkan erosi di Tinggian/Punggungan Sekatang.
Pengendapan siklus yang kedua (Siklus 2) dimulai sejak pengangkatan Oligosen Awal
pada fasa transgresif, dengan sedimen yang diendapkan secara tidakselarasan terhadap Siklus
.Fasa ini berubah menjadi regresif ketika proses rifting berakhir dan pengangkatan mencapai
puncaknya pada akhir dair Miosen Akhir. Pengangkatan yang kedua ini berbeda dengan
proses pengangkatan pertama karena berkembang ke arah timur dan menghasilkan
Punggungan Dasin-Fanny. Proses rifting yang kedua ini menghasilkan sesar-sesar normal
yang memiliki arah timurlaut-baratdaya.

Gambar 2. Tektonik Sub-Cekungan Tarakan (Modifikasi dari Biantoro dkk., 1996).


Proses-proses rifting, pengangkatan, dan reaktivasi sesar-sesar tua mempengaruhi
perkembangan struktur dan siklus pengendapan di Sub-Cekungan Tarakan. Pengendapan
Siklus 3 yang regresif berlangsung pada lingkungan transisional-deltaik. Sedimen-sedimen
yang diendapkan dalam jumlah yang besar menyebabkan rekativasi dari sesar-sesar tua yang
terbentuk selama Oligosen sampai Miosen Awal yang berkembang menjadi growth fault.
Petumbuhan dari sesar-sesar tersebut berhenti untuk sementara waktu pada awal
pengendapan dari Formasi Santul dikarenakan oleh terjadinya fasa trangresif yang pendek.
Pensesaran tersebut berlangsung selama Pliosen ketika siklus pengedapan keempat (Siklus 4),
yaitu Formasi Tarakan diendapkan.
Aktivitas Tektonik pada Pliosen Akhir-Pleistosen bersifat kompresif dan
menghasilkan sesar-sesar strike-slip. Di beberapa tempat, kompresi ini menginversikan sesarsesar normal menjadi sesar-sesar naik (Biantoro dkk., 1996). Kegiatan tekonik yang
menyebabkan pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran keseluruhan Cekungan Tarakan pada
Pliosen Akhir kemudian menyebabkan munculnya ketidakselarasan di beberapa daerah secara
lokal. Pada Siklus 5 yang merupakan siklus pengendapan terakhir pada sub-cekungan ini,
diendapakan Formasi Bunyu.

Stratigrafi Regional Cekungan Tarakan


Batuan dasar pada cekungan Kalimantan Timur Utara terdiri dari sedimen-sedimen berumur
tua, meliputi Formasi Danau (Heriyanto dkk., 1991) atau disebut juga Formasi Damiu (IBS,
2006), Formasi Sembakung, dan Batulempung Malio. Sedimen-sedimen tersebut telah
terkompaksi, terlipatkan, dan tersesarkan.

Gambar 3. Kolom Stratigrafi Cekungan Kalimantan Timur Utara (kiri:


dimodifikasi dari Heriyanto dkk., 1991; kanan: IBS, 2006)

CEKUNGAN KUTAI
Cekungan Kutai merupakan cekungan dengan luas 165.000 km2 dan memiliki
ketebalan sedimen antara 12.000-14.000 meter. Hal ini menyebabkan Cekungan Kutai
dikatakan sebagai cekungan terluas dan terdalam di Indonesia yang terletak di pantai timur
Kalimantan dan daerah paparan sebelumnya. Cekungan Kutai merupakan cekungan
hidrokarbon yang berumur Tersier dimana
minyak dan gas bumi terperangkap pada batupasir berumur Miosen dan Pleistosen. Cekungan
ini terbentuk pada batupasir berumur Miosen dan Plestosen. Cekungan ini terbentuk dan
berkembang akibat proses-proses pemisahan diri akibat tegangan di dalam lempeng Mikro
Sunda yang menyertai interaksi antara lempeng Sunda dan lempeng Pasifik disebelah timur.
Lempeng Hindia-Australia
di selatan, dan lempeng Laut Cina selatan di utara (Satyana, et. Al., 1999).
Secara tektonik, pada bagian utara Cekungan Kutai terdapat Cekungan
Tarakan yang dipisahkan oleh punggungan Mangkalihat yang merupakan suatu
daerah tinggian batuan dasar yang terjadi pada Oligoser. Di sebelah selatan, cekungan
ini dijumpai Cekungan Barito yang dibatasiSesar Adang, yang terjadi pada Zaman
Miosen Tengah. Pada bagian tenggara cekungan ini, terdapat paparan Paternoster dan
gugusan penggunungan Meratus, sedangkan batas barat dari cekungan adalah daerah
tinggi Kuching (pegunungan Kalimantan Tengah) yang berumur Pra-Tersier dan
merupakan bagian dari inti benua. Tinggian ini menghasilkan sedimen tebal yang
berumur Neogen. Pada bagian timur daricekungan ini terdapat delta Mahakam yang
terbuka ke Selat

Gambar 3.1 Fisiografi Cekungan Kutai (Peterson dkk., 1997 dalam Mora
dkk.,2001)

a. Batuan Induk
Batuan induk utama pada Cekungan Kutai adalah batuan berumur Miosen
yaitu mudstone, serpih, lempung, dan batubara. Batuan induk ini terbentuk pada
lingkungan pengendapanparalic, delta, sampai laut dangkal. Analisa geokimia
pada serpih, lempung, dan batubara Miosen menunjukkan bahwa batuan induk
ini dapat menghasilkan waxy oil dan gas dari percampuran kerogen dengan tipe
yang berbeda. Nilai TOC berkisar antara 0.14 15.37% dan rata rata berkisar
antara 0.5 1.0%. Endapan serpih organic dari delta plain bawah sampai
lingkungan delta front diketahui sebagai batuan induk pada barat laut
Kalimantan dan Cekungan Kutai. Serpih memuat 2 3% produksi karbon organic
dari kategori tipe III (Anshary, 2008).
b. Batuan Reservoar
Akumulasi minyak dan gas bumi yang terdapat di daerah Mahakam,
umumnya ditemukan pada reservoir yang berumur Miosen Tengah sampai
Miosen Akhir pada Formasi Balikpapan. Reservoar karbonat tidak terlalu banyak
mengandung akumulasi hidrokarbon bernilai ekonomis. Akumulasi hidrokarbon
justru ditemukan dalam endapan turbidit. Pada lapangan minyak yang berada di
darat (onshore), reservoar pada umumnya terdiri dari sedimen sedimen fluvial
dan distributary channel, dimana jarak antara tubuh batupasir dan jumlah
akomdasi sedimen sangat mengontrol konektivitas dari reservoar reservoar
tersebut (Anshary, 2008). Reservoar yang terdapat pada bagian dalam lepas
pantai (inner offshore) terdiri dari sedimen sedimen lower delta plain dan
sedimen sedimen delta front. Sedimen sedimen distributary channel juga
hadir dengan dimensi yang sama denngan reservoar darat namun lebih jarang
muncul. Reservoar pada delta front terdiri dari sedimen sedimen mouthbar
(Anshary, 2008).
c. Perangkap (Trap), Sekat (Seal), dan Lapisan Penutup
Lapangan lapangan minyak dan gas yang berada di Delta Mahakam memiliki perangkap
struktur dan stratigrafi. Reservoar reservoar yang berupa endapan fluvial, distributary channel, dan
mouth bar biasanyaterdapat di bagian sayap dari antikllin dan dapat juga muncul sebagai perangkap
campuran antara struktur dan stratigrafi. Komponen komponen stratigrafi di bagian utara dan selatan
Sungai Mahakam Modern, dimana paleo-channel-nya miring terhadap sumbu struktur. Perangkap
struktur terbentuk pada Miosen Akhir karena adanya pergerakan tektonik yang mendesak batuan dasar
dan batuan sedimen di atasnya, pergerakan tersebut berarah ke barat menghasilkan pengangkatan dan
erosi 1.000 kaki sedimen berumur Oligosen dan Miosen (Anshary, 2008). Lapisan penutup yang
berada di Delta Mahakam umumnya berupa batulempung-serpih sedangkan di
bagian laut didominasi oleh sejumlah besar mudstone

d. Migrasi
Paleogen Play
Migrasi primer hidrokarbon terjadi pada batuan induk Eosen Tengah Eosen
jalur migrasi vertical dari Paleogen Kitchen terjadi sesar sesar berarah NNE SSW menuju
reservoar lowstand berumur Miosen Tengah Miosen Akhir. Migrasi lateral dari daerah mature
kitchen juga difasilitasi melalui reservoar lowstand yang miring ke timur menuju perangkap stratigrafi
atau struktur yang ada pada daerah tersebut.
Neogen Play
Migrasi hidrokarbon dari batuan induk berumur Miosen Awal Miosen Tengah
terjadi setelah Miosen Tengah. Jalur migrasi pada umumnya vertical dan mungkin
memiliki migrasi lateral yang berasal dari pusat cekungan. Pembentukan
perangkap terjadi sejak Miosen Tengah sampai sekarang (Anshary, 2008).

CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA


Cekungan Jawa Barat Utara (North West Java Basin) merupakan cekungan
sedimen Tersier yang terletak tepat di bagian barat laut Pulau Jawa (Gambar
1) yang sudah terbukti dapat menghasilkan hidrokarbon. Cekungan ini
memiliki penyebaran dari wilayah daratan dan lepas pantai Serang di sebelah
barat membentang ke arah timur sampai Cirebon dan terdiri dari beberapa
sub

Gambar 1. Cekungan Jawa Barat Utara (Noble dkk., 1997).


Tektonik Regional
Cekungan Jawa Barat Utara secara geodinamik saat ini berada pada posisi
belakang busur dari jalur vulkanik Jawa yang merupakan hasil dari subduksi
lempeng India-Australia di selatan terhadap lempeng Eurasia (Paparan
Sunda) di utara. Beberapa peristiwa tektonik yang terjadi sejak Tersier
mempengaruhi pembentukan struktur dan pola sedimentasi pada cekungan
ini.

Gambar 2. Jalur subduksi Meratus (Kapur Akhir-Tersier Awal) dan jalur subduksi Tersier Akhir
(Hutchison, 1982). Panah hijau menunjukan arah tegasan utama (kompresif) pada masing-masing
periode subduksi.
Selama periode Kapur Akhir sampai Eosen Awal* 1, berlangsung subduksi
yang dikenal dengan subduksi Meratus pada batas selatan Paparan Sunda
dengan jalur gunung apinya melewati Cekungan Jawa Barat Utara (Gambar
2). Menurut Gresko dkk. (1995), keberadaan subduksi Meratus tersebut
mempengaruhi keadaan geologi cekungan. Terjadinya metamorfisme regional
pada Kapur Akhir, deformasi pada Paleosen, serta vulkanisme sampai
Oligosen Awal diperkirakan berhubungan dengan kegiatan subduksi Meratus.
Metamorfisme dan magmatisme yang berlangsung menghasilkan batuan
metamorf dan intrusi batuan beku yang kemudian menyusun batuan dasar
pada Cekungan Jawa Barat Utara, sedangkan deformasi yang terjadi
menyebabkan pengangkatan dan erosi pada Kala Paleosen.

Gambar 3. Peta struktur dan tektonik Oligosen Awal Cekungan Jawa Barat Utara (Gresko dkk.,
1995).
Jalur subduksi Meratus yang berarah relatif baratdaya-timurlaut memberikan
tegasan utama kompresif yang berarah baratlaut-tenggara, menghasilkan

struktur sesar-sesar normal (turun) berarah baratlaut-tenggara di daerah


penelitian. Pemekaran (rifting) yang diakibatkan pergerakan dari sesar-sesar
turun tersebut menyebabkan terbentuknya daerah-daerah rendahan
(Gambar 3) yang kemudian diisi oleh endapan-endapan yang dihasilkan oleh
kegiatan vulkanisme yang sedang berlangsung (Formasi Jatibarang).

Gambar 4. Pergerakan fragmen benua dari selatan dari Kapur sampai Eosen Awal(kanan) yang
kemudian menumbuk batas selatan Paparan Sunda (Sribudiyani dkk., 2003).
Pemekaran pada Cekungan Jawa Barat Utara kemudian berhenti pada Oligosen Awal*. Menurut
Sribudiyani dkk. (2003), sebuah fragmen benua yang berasal dari selatan bergerak menuju ke
jalur subduksi Meratus dan mulai menumbuk jalur subduksi tersebut pada Eosen Awal.
Tumbukan tersebut mengakibatkan berhentinya aktivitas magmatisme sebelumnya (periode
Subduksi Meratus) dan terjadinya pengangkatan kompleks subduksi membentuk Pegunungan
Meratus di Kalimantan dan Kompleks Melange Luk Ulo di Jawa Tengah (Gambar 4), serta
menyebabkan berhentinya pemekaran di Cekungan Jawa Barat Utara.
Setelah berlangsungnya tumbukan fragmen benua dengan tepi tenggara
paparan Sunda, jalur subduksi baru yang dikenal dengan jalur subduksi Jawa
yang berarah barat-timur kemudian muncul. Jalur subduksi Jawa ini berada di
selatan jalur subduksi Meratus dan menghasilkan jalur gunung api yang
berada di selatan terhadap jalur gunung api akibat subduksi Meratus,
sehingga Cekungan Jawa Barat Utara berada di belakang busur sejak
Oligosen (Gambar 2).

Gambar 5. Cekungan-cekungan pull apart yang terbentuk pada Eosen Tengah danOligosen Akhir
(Daly dkk., 1987). Biru: pull apart basin yang terbentuk pada masing-masing periode
Daly dkk. (1987) menyatakan bahwa konvergensi India dengan Asia sejak
Eosen Akhir menyebabkan ekstrusi Asia Tenggara melalui beberapa sesar
geser utama. Sesar geser Bangka (Bangka Shear) dan zona sesar Sumatra
(SFZ) merupakan dua sesar geser utama yang dianggap berperan dalam
menimbulkan fase transtensional yang berperan dalam membentuk
cekungan-cekungan di regional Sumatra dan Jawa (Sribudiyani dkk., 2003).
Rendahan-rendahan yang diakibatkan pergerakan sesar-sesar normal utama
berarah relatif utara-selatan muncul di Sumatera pada Eosen Tengah* 3/40jtl
dan di Jawa Barat Utara pada Oligosen/30jtl (Gambar 5). Cekungan Jawa
Barat Utara berkembang menjadi pull apart basin yang terdapat di belakang
busur sejak Oligosen.

Gambar 6. Penampang barat-timur Cekungan Jawa Barat Utara (Patmosukismo dan Yahya, 1974)
Pembentukan struktur sesar-sesar normal utama (Oligosen Akhir* 4) tersebut
menyebabkan terjadinya pemekaran yang diikuti oleh penurunan dari dasar
cekungan. Beberapa tinggian dan rendahan yang terbentuk mengontrol
penyebaran dari sedimen serta membagi Cekungan Jawa Barat Utara menjadi
beberapa sub-cekungan, seperti: Sub-cekungan Ciputat, Sub-cekungan
Pasirputih, dan Sub-cekungan Jatibarang (Gambar 6). Namun pengisian
cekungan yang berjalan dengan cepat yang disertai dengan adanya
pengangkatan bagian selatan cekungan menjadi daratan pada Plio-Plistosen
mengakibatkan terjadinya peristiwa penutupan cekungan untuk Cekungan
JawaBarat Utara.

CEKUNGAN BOGOR
Secara tektonis, Cekungan Bogor merupakan Cekungan Busur-Belakang (Back-Arc Basin)
terhadap busur vulkanik Oligo-Miosen yang berada di selatannya. Aktivitas tektonik yang
terjadi di Jawa telah menyebabkan terbentuknya unsur - unsur tektonik berupa zona akresi,
cekungan, dan busur magmatik. Evolusi tektonik Jawa Barat menyebabkan posisi cekungan
yang telah terbentuk dapat erubah kedudukannya terhadap busur magmatik. Cekungan Bogor
pada kala Eosen-Oligosen merupakan cekungan busur muka magmatik, namun pada kala
Oligo-Miosen posisi cekungan berubah menjadi cekungan busur-belakang. Kegiatan tektonik
Plio-Plistosen Cekungan Bogor ditempati oleh jalur magmatik hingga kini (Satyana &
Armandita, 2004).
Daerah paparan (Northwest Java Basin) yang berada di utara Cekungan Bogor - Kendeng
pada awalnya (Eosen - Oligosen) juga merupakan daerah cekungan busur muka dalam bentuk
terban yang diisi oleh endapan Paleogen nonmarin vulkanosklatika dan endapan lakustrin
Formasi Jatibarang serta endapan fluviatil, kipas aluvial, fluvio deltaik, dan material lakustrin
Formasi Talang Akar (Sudarmono drr., 1997, op. cit. Ryacudu drr., 1999). Dalam
perkembangannya, pascatektonik Oligo-Miosen, daerah ini menjadi paparan hingga
lingkungan laut dangkal sebagai tempat diendapkannya sedimen Miosen Formasi Baturaja
(karbonat), Formasi Cibulakan, dan Formasi Parigi (karbonat) yang berpotensi sebagai
reservoir.