Anda di halaman 1dari 7

DIAGNOSA KLINIK

PEMERIKSAAN SARAF PADA HEWAN KECIL

EDWIN KRISNANDAR NDAWA LU


1409010002

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Sebagai Diagnostik klinik merupakan rangkaian pemeriksaan medik terhadap fisik
hewan hidup untuk mendapatkan kesimpulan berupa diagnosis sekaligus pemeriksaan
dengan menggunakan alat bantu diagnostika sebagai pelengkap untuk mendapatkan
peneguhan diagnosis.
Sistem saraf merupakan suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar
dapat bekerja secara serasi. Sistem saraf itu bekerja untuk menerima rangsangan,
mengolahnya dan kemudian meneruskannya untuk menaggapi rangsangan tadi. Setiap
rangsangan-rangsanga yang kita terima melalui indera kita, akan diolah di otak. Kemudian
otak akan meneruskan rangsangan tersebut ke organ yang bersangkutan. Setiap aktivitas
yang terjadi di dalam tubuh, baik yang sederhana maupun yang kompleks merupakan hasil
koordinasi yang rumit dan sistematis dari beberapa sistem dalam tubuh.
Sistem koordinasi pada hewan meliputi sistem saraf beserta indera dan sistem
endokrin(hormon). Sistem saraf merupakan sistem yang khas bagi hewan, karena sistem
saraf ini tidak dimiliki oleh tumbuhan. Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda,
semakin tinggi tingkatan hewan semakin komplek sistem sarafnya.

1.2.

Tujuan.
Mengetahui cara pemeriksaan system saraf pusat pada hewan kecil.

BAB II
PEMBAHASAN
Hal yang pertama di lakukan dalam dalam pemeriksaan pada hewan kecil :
Restrain hewan kecil ; hal tersebut merupakan salah satu unsur lancarnya proses
pemeriksaan pada hewan tersebut,
Pemeriksaan Umum hewan kecil
Setelah dilakukan sinyalemen/registrasi dan anamnesa maka selanjutnya dilakukan
pemeriksaan umum yang meliputi;
1. Inspeksi dan adspeksi diantaranya melihat, membau, dan mendengarkan tanpa alat bantu.
Usahakan agar hewan tenang dan tidak menaruh curiga kepada pemeriksa. Lakukan
inspeksi dari jauh dan dekat terhadap pasien secara menyeluruh dari segala arah serta
perhatikan keadaan sekitarnya. Perhatikan ekspresi muka, kondisi tubuh, pernafasan,
keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara (Boddie. 1962).
2. Pulsus dan nafas diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur. Nafas
diperiksa dengan menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan melihat
kembang-kempisnya daerah thoraco-abdominal dan menempelkan telapak tangan di
depan cuping bagian hidung (Boddie. 1962).
3. Selaput lendir, Conjunctiva Diperiksa dengan cara menekan dan menggeser sedikit saja
kelopak

mata

bawah.

Conjunctiva

kedua

mata

harus

diperiksa,

sehingga

keabnormalitasan tertuju sebagai local disease dinilai dan tidak dirancukan dengan gejala
klinik umum. Penampakan conjunctiva noramal berbeda- beda pada tiap hewan. Pada
kuda berwarna pink pucat, pada sapid an domba warnanya lebih pucat daripada milik
kuda, pada babi adalah warna kemerahan, pada kucing tampak pucat. Variasi warna pada
hewan yang berbeda ini sebaiknya dihafalkan. Membrane mukosa yang tampak Anemi
(warna pucat) dan lembek merupakan indikasi anemia. Intensitas warna conjunctiva
dapat menunjukkan kondisi peradangan akut seperti enteritis, encephalonitis dan kongesti
pulmo akut. Cyanosis (warna abu- abu kebiruan) dikarenakan kekurangan oksigen dalam
darah, kasusnya berhubungsn dengan pulmo atau system respirasi. Jaundice (warna
kuning) karena terdapatnya pigmen bilirubin yang menandakan terdapatnya gangguan
pada hepar. Hiperemi (warna pink terang) adanya hemoragi petechial maenyebabkan

hemoragi purpura dan ingusan pada kuda atau septisemia hemoragi pada ternak (Boddie.
1962).
4. Mukosa Hidung, Pemeriksaan yang dilkukan adalah dengan melihat apakah terdapat
kepucatan, leleran, perubahan warna, petechiasi atau ulserasi. Perubahan ini penting
untuk identifikasi conjunctiva. Ulserasi pada mukosa hidung adalah karakteristik gejala
klinik ingusan pada kuda (Boddie. 1962).
5. Mulut, Pemeriksaan mulut dengan cara inspeksi membrane mukosa dan jaringan lain di
dalam mulut, palpasi lidah dengan paksaan dan deteksi abnormalitas sepeti trismus.
Diperiksa apakah ada iritasi local seperti ulserasi, vesikel, penyakit pada lidah, pipi atau
rahang atau trauma langsung pada mulut. Ulserasi mungkin dikarenakan gigi yang sudah
tidak berfungsi, pada anjing dapat terjadi pada toksemia yang dikarenakan nephritis akut,
infeksi lepstospira, dan defisiensi vitamin akut (Boddie. 1962).
6. Mata, Penampakan mata normal sehat adalah jernih dan basah. Penampakan mata yang
tidak normal dapat menandakan adanya dehidrasi pada jaringan tubuh. Adanya lesi pada
kornea, seperti keratitis dan corneal opacity, kemungkinan merupakan luka yang bersifat
local, tetapi lesi dapat terjadi juga merupakan gejala klinik dari penyakit yang spesifik
seperti canine distemper, dan lain-lain. Respon pada mata dapat dengan menggunakan
cahaya dari penlight, jika cahaya didekatkan pada mata maka aka nada reaksi dari pupil
yaitu pupil akan berdilatasi, namun jika tidak terdapat reaksi apa- apa berarti
kemungkinan adanya gangguan pada system saraf pusat dan berakibat pada system
refleknya (Boddie. 1962).
Khusus Pada Sistem Syaraf
Syaraf pusat
1. N. olfactorius (pembau). Pada anjing dan kucing dengan cara mendekatkan ikan, daging
dan lain sebagainya yang merangsang syaraf pembau tanpa mendengar atau melihat.
2. N. opticus (penglihatan). Gerakkan jari telunjuk di muka matanya, perhatikan apakah
hewan mengikuti gerakan telunjuk, dan perhatikan reaksi pupil.
3. N. oculomotorius, N. trochlearis, N. abducens. Perhatikan pergerakan palpebrae atas, dan
gerakan bola mata serta pupil. Untuk pemeriksaan pupil tutup salah satu mata, buka cepat
dan perhatikan reaksinya terhadap sinar.
4. N. trigeminus untuk sensorik, mototrik, dan sekretorik. Lakukan rangsangan dan
perhatikan reaksinya pada otot-otot daerah kepala dan mata, perhatikan saliva dan
lakrimasi. Perhatikan adanya hyperaesthesi, paralisa dan adanya sekresi yang berlebihan
atau berkurang, perhatikan cara mastikasi juga.

5. N. facialis (wajah). Perhatikan kontur m. facialis, apakah lumpuh bilateral atau


muka/bibir menggantung sebelah pada kelumpuhan unilateral.
6. N. auditorius (pendengaran/keseimbangan). Perhatikan apakah hewan miring sebelah,
sempoyongan, dan panggil namanya. Pada telinga pakai lampu (penlight) atau otoscope,
periksa adanya radang, cairan, kotoran, dan pertumbuhan abnormal.
7. N. glossopharingeal. Pada anjing buka mulut rangsang bagian belakang pharynx. Pada
hewan besar perhatikan cara menelan.
8. N. vagus (organ dalam) untuk sensorik dan motorik, pada jantung kerjanya inhibitor.
9. N. spinal accessories. Perhatikan scapulae, pada paralisa unilateral salah satu scapulae
menggantung (kelumpuhan syaraf yang menginervasi m. trapezius/m. sternocephalicus).
10. N. hypoglossus. Perhatikan lidah apakah menjulur keluar (paralisa bilateral) atau

menjulur ke salah satu mulut (paralisa unilateral) (Boddie. 1962).


Syaraf Perifer

Perhatikan aktifitas otot, stimulasi dengan meraba, memijit, menusuk, mencubit dengan jari
atau arteri klem atau pinset chirurgis.
1. Reflex superficial; Conjungtiva (untuk serabut sensorik dari cabang ophthalmic dan
cabang maxillaries syaraf cranial V). Cornea (untuk serabut sensorik dari cabang
ophthalmic dan maxillaris cabang syaraf cranial V). Pupil (N. opticus: sensorik, N.
oculomotorius: motorik). Perineal (N. spinalis) sentuh perineum, perhatikan reaksinya.
Pedal (arcus reflex): sentuh, pijit, pinset (cubit) telapak kaki/interdigiti, perhatikan reaksi
menarik pada kaki.
2. Reflex profundal; patella, pada hewan kecil dilakukan dalam keadaan berbaring, pukul
pada ligamentum patellae mediale. Bila reflex bagus m. quardriseps femoris akan
berkontraksi mendadak/menendang. Tarsal, lakukan perkusi pada tendo achilles, bila
refleksnya bagus maka m. gastrocnemius akan berkontraksi (tampak menendang).
3. Reflex organic; menelan (koordinasi neuromuscular di daearah pharynx dan oesophagus,
gangguan mekanisme ini terjadi pada tetanus, keracunan strichnin, tetani, paralyse N. XII
dan N. X). respirasi (pusat reflex di medulla oblongata, otak, medulla spinalis daerah

thorax). Defekasi (syaraf yang menginervasi spincter ani) (Boddie. 1962).


Tranquillezers

Disebut juga ataraktika atau anxiolitika khususnya obat benzo relaksasi otot, khususnya
menakan SSP (sistem saraf pusat) dengan khasiat sedatif dan hipnotis. Tranquillezers juga dapat
digunakan sebagai premedika: yakni obat-obatan yang diberikan sebelum anastesi. Sebagai efek

sedative (obat yang menenangkan hewan tanpa menyebabkan tidur) menyebabkan hewan kurang
responsif terhadap lingkungan dari luar karena aktivitas motorik mulai berkurang pada dosis
besar dapat menyebabkan hipnose (tidur, namun bila dibangunkan akan cepat bangun). Pada
umumnya diberikan pada semua jenis hewan (Rock., 2007).
Klasifikasi TRanquillezer
1. Mayor transquillezer: digunakan untuk transportasi hewan karena menimbulkan efek
menenangkan.
Golongan phenotiazine: klorpromazine, promazin, prometazin
Golongan butyrophenon: haloperodrol, droperidrol
Folongan alkaloid : reserpin, zylasin
2. Minor transquillezer: digunakan sebagai pengendali kerisauan dan histeria. Contoh :
Benzodiazepam
Medobromad
Kedua macam obat ini menyebabkan sedasi, hewan acuh, kurang responsive, dan terjadi
pengurangan aktivitas lokomotor.
Kloropromazine merupakan senyawa yang mempunyai spektrum kerja yang amat luas
yaitu bekerja menekan sistem SSP dan anti-psikotik, di samping itu juga anti-emetik lokal
anastesi, pemblok ganglion, antikolinergik, adrenolitik dan anti histamine, senyawa ini juga
menggangu pengaturan panas dengan mempengaruhi pusat panas (Rock., 2007).

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan.

Pada dasarnya pemeriksaan pada hewan perlu dilakukan secara beruntu, dari kepala hingga
ke ekor, dan juga dari luar ke bagian dalam. Untuk pemeriksaan system saraf terbagi menjadi 2
antara lain : saraf pusat dan saraf perifer.

DAFTAR PUSTAKA
Rock., A. 2007. Veterinary Pharmakologi. London: Elsecler
Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B.
Lippincott Company.