Anda di halaman 1dari 6

Endoftalmitis

Endoftalmitis adalah peradangan supuratif intraocular yang melibatkan segmen anterior dan posterior
mata. Sering dihubungkan dengan infeksi bakteri atau jamur. Berdasarkan etiologinya terbagi menjadi
pasca-operasi, pasca-trauma dan endogen.
1. Pasca-operasi terbagi menjadi akut (dalam 6 minggu pasca-operasi) dan kronis (di atas 6 minggu
pasca-operasi).
a. Endoftalmitis akut pasca-operasi: Staphyloccus aureus koagulase negative, Streptoccus sp.,
dan bakteri gram negatif
b. Endoftalmitis kronis pasca-operasi: Porpionibacterium aknes, Staphyloccus koagulase negatif
dan jamur
2. Endoftalmitis endogen
a. Bakteri gram: Streptoccus sp., Staphyloccus aureus, dan Bacillus sp.
b. Bakteri gram negatif: Neisseria meningitides
Endoftalmitis akut pasca-operasi sering disebabkan oleh flora normal konjungitiva dan kelopak mata.
Operasi yang paling sering dikaitkan dengan endoftalmitis adalah operasi katarak. Operasi lain yang
berkaitan dengan endoftalmitis adalah glaucoma filtering surgery, vitrektomi pars plana, retinopeksi
pneumatic, dan keratoplasti penetrative. Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran hematogen
mkiroorganisme yang mengakibatkan peradangan intraocular.
Anamnesis
Riwayat operasi dan trauma sebelumnya serta penyakit sistemik yang mendasari
Pemeriksaan fisik mata
Pada pemeriksaan mata dapat ditemukan:

Segmen anterior
1. Pembengkakan dan spasme kelopak mata
2. Konjungtiva hiperemis (injeksi konjungtiva dan silier), khemosis, dan edema kornea
3. Bilik mata depan: sel(+), flare (+), fibrin, dan hipopion
Segmen posterior
1. Kekeruhan vitreus
2. Nekrosis retina

Diagnosis
Gejala endoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan, mata merah, floaters, fotofobia dan nyeri. Untuk
mencari etiologi infeksi dapat dilakukan pembiakan kuman dari vitreus dan atau aqueous humor , selain itu
dapat pula dipakai sebagai panduan tata laksana antimikroba yang tepat.
Diagnosis banding
Terapi
Glaukoma Akut

Glaukoma akut merupakan presentasi klinis dari glaucoma sudut tertutup. Kondisi ini merupakan keadaan
gawat darurat. Keadaan ini mungkin disebabkan adanya blockade aliran aqueous yang mengakibatkan
peningkatan tekanan intraocular (TIO) secara mendadak. Mekanisme terjadinya penutupan sudut antara
lain karena blok pupil , iris yang mendatar, diinduksi oleh lensa, dan atau berbagai kausa yang ditemukan
di belakang lensa (retrolentikuler). Penutupan sudut akut terjadi saat iris bombe terbentuk dan
mengakibatkan oklusi sudut bilik mata depan oleh iris perifer. Hal ini mengakibatkan blockade aliran keluar
aqueous humor dan meningkatkan TIO dengan cepat sehingga menimbulkan. Terdapat beberapa faktor
pencetus seperti menonton televise di ruang gelap , membaca, midriatikum, stres emosional, dan
terkadang obat sistemik agonis parasimpatik atau simpatik dan topiramat.
Anamnesis
Anamnesa yang khas sekali berupa nyeri pada mata yang mendapat serangan yang berlangsung
beberapa jam dan hilang setelah tidur sebentar. Melihat pelangi (halo) sekitar lampu dan keadaan ini
merupakan stadium prodromal. Terdapat gejala gastrointestinal berupa enek dan muntah yang kadanagkadang mengaburkan gejala daripada serangan glaucoma akut. . serangan glaucoma akut yang terjadi
secara tiba0tiba dengan rasa sakit hebat dimata dan dikepala, perasaan mual dengan muntah, bradikardi
akibat refleks okulokardiak,
Pemeriksaan Mata
Terlihat tanda-tanda radang pada mata dengan kelopak mata bengkak, mata merah, tekanan bola mata
sangat tinggi yang mengakibatkan pupil lebar kornea suram dan edem, iris sembab meradang, papil saraf
optic hiperemis, edem dan lapang pandang menciut berat. Iris bengkak dengan atrofi dan sinekia posterior
dan lensa menjadi keruh
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan melalui anamensis dan pemeriksaan fisik mata
Diagnosis Banding
1. Iris akut: mengakibatkan fotofobia yang lebih nyata tanpa peningkatan TIO, disertai kornea yang
tidak edem
2. Konjungtivitis akut: nyeri tidak ada atau minimal, terjadi bilateral, terdapat secret dari mata dan
konjungtiva yang meradang. Tekanan intraokuler normal, refleks pupil normal, dan kornea jernih.
Terapi

Pasien diposisikan pada posisi supinasi untuk membairkan lensa tertarik oleh gravitasi menuju
posterior
Berikan asetazolamid 500mg IV apabila TIO > 50mmHg atau oral apabila TIO < 50mmHg. Apabila
diberikan IV dapat ditambahkan dosis oral 500mg
Alternative obat hiperosmolar lain: mannitol 20% 1 2 g/KgBB, gliserol oral 50% 1 1,5 g/KgBB
(kontraindikasi: diabetes mellitus) atau isosorbid oral 1,5 2,5 g/KgBB
Berikan apraclonidine 1%, timolol 0,5%, prednisolon 1% atau deksametason 0,1% pada mata yang
mengalami serangan
Pilokarpin 2 4% satu tetes diberikan pada mata yang menglami serangan, diulangi diulangi
setelah setengah jam dan satu tetes pilokarpin 1% sebagai profilaksis pada mata kontralateral

Analgesic dan antipiretik

Ulkus kornea
Anamnesis
Anamensis yang sering didapatkan pada pasien adalah mata merah berair dengan nyeri hebat, ada sensai
benda asing, terdapat secret, kelopak mata yang bengkak, nyeri apabila melihat cahaya terang
Pemeriksaan Fisik Mata
1. Pemeriksaan tajam penglihatan dengan menggunakan snellen chart dan pinhole. Bisa menurun
sesuai dengan lokasi ulkus dan perjalanan penyakit.
2. Pemeriksaan tekanan intraocular (TIO) dengan menggunakan tonomotri non kontak atau dengan
palpasi. Tonometri kontak dikontraindikasi pada keadaan ini
3. Pemeriksaan slit lamp untuk melihat adanya hipopian, infiltrate, dan segmen anterior
4. Pemeriksaan oftalmoskop untuk menilai bagian posterior mata
Diagnosis
Ulkus kornea didefiniskan sebagai diskontinuitas jaringan kornea akibat tejadinya defek epitel.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan gram, pemeriksaan mikroskopis
langsung dengan bantuan KOH 10% dan biakan dengan specimen kerokan kornea. Diagnosis ditegakkan
melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik mata dan pemeriksaan penunjang
Diagnosis Banding

Terapi
Terapi yang baik harus esuai dengan etiologinya. Terapi pertama kali berdasarkan pada hasil pemeriksaan
gram dan KOH 10%. Hasil kultur digunakan sebagai dasar terapi lanjutan

Terapi antiiotuka local


1. Terap empirik: florokuinolon (0,3%)
2. Kokus gram positif: cefuroksim (0,3%), vankomisin (5%)
3. Batang gram negatif: gentamisin (1,5%), florokuinolon (0,3%), atau selfazidim (5%)
4. Kokus gram negatif: florokuinolon (0,3%), seftriakson (5%)
5. Mycobacterium : amikacin (2%), klaritromisin (1%), atau trimetropin-sulfametoksazol (1,6% ;
1,8%)
terapi antifungal local
1. Candida: amphotericin B 0,15%, natamycin 5%, atau fluconazole 2%
2. Kapang: natamisin 5%, amfoteresin B 0,15%, atau miconazole 1%
Terapi antiviral local
1. Herpes simpleks: salep asiklovir 3%
2. Varicella zoster: asiklovir oral 800mg/hari selama 7-10 hari

Pertimbangkan terapi oral sesuai dengan tingkat keparahan penyakit. Berikan agen antiglaukoma apabila
ulkus melewati 1/3 stroma. Terbentuknya atau perforasi merupakan indikasi tindakan bedah.

Ablasio Retina
Anamnesis
1. Fotopsia: merupakan sensasi subjektif seperti melihat kilatan cahaya. Biasanya berlangsung
singkat pada lapang pandang temporal, terlihat terutama saat gelap, dan setelah pergerakan mata.
Hal ini menggambarkan proses traksi dari tempat adhesi vitreoretina
2. Floaters: sesasi subjektif seperti melihat objek bertebrangan berwarna gelap yang terjadi di viterus
3. Defek lapang pandang: dideskripsikan sebagian lapang pandang seperti tertutup tirai gelap
Pemeriksaan Fisik Mata
1.
2.
3.
4.
5.

Relative afferent papillary defect: muncul pada mata dengan ablasio retina ekstensif
Tekanan intraocular: lebih rendah 5mmHg dibandingkan mata yang tidak mengalami ablasio
Iritas ringan seringkali ditemukan
Gambaran tobacco dust terdiri atas sel pigmen yang terlihat pada vitreus anterior
Robekan retina Nampak seperti diskontinuitas dari permukaan retina berwarna kemerahan pada
funduskopi
6. Kelainan pada retina sesuai dengan lamanya ablasio retina yang terjadi
a. Ablasio retina baru, dapat ditandai dengan
Ablasio retina memiliki konfigurasi konkeks dan tampilan yang sedikit opak karena edema
retina
Cairan subretina dapat meluas sampai ora serata
b. Ablasio retina lama, dapat ditandai dengan
Kekeruhan vitreus
Retina yang pucat dan didapatkan proliferative vitreoretinophaty (PVR)
Garis demarkasi subretina yang diakibatkan oleh proliferasi dari sel pigmen retina pada
sambungan retina
Diagnosis
Diagnosis Banding
Tata Laksana
Tatat laksana adalah dengan pembedahan.
Trauma Tembus Bola Mata
Anamnesis
Bila pada anamesis trauma disebabkan oleh benda tajam atau benda asing masuk ke dalam bola mata
maka akan mengakibatkan robekan pada konjungtiva dan pasien akan mengalami penurunan tajam
penglihatan
Pemeriksaan Fisik Mata
Pada pemeriksaan dapat ditemukan,
1. Tajam penglihatan menurun

2.
3.
4.
5.
6.

Tekanan bola mata rendah


Bilik mata dangkal
Bentuk dan letak pupil berubah
Teradapat jaringan yang di proplaps seperti cairan mata, iris, lensa, badan kaca, atau retina
Konjungtiva komutis

Diagnosis

Diagnosis Banding

Terapi
Apabila terlihat tanda-tanda pada pemeriksaan fisik mata diatas atau dicurigai terjadi perforasi bola mata
maka secepatnya dilakukan pemberian antibiotika topical dan mata ditutup dan segera rujuk pada dokter
mata untuk dilakukan pembedahan.
Trauma Kimia (asam dan basa)
Terapi
Luka bahan kimia harus dibilas secepatnya dengan memakai garam fisiologik atau air bersih lainnya
selama mungkin dan paling sedikit 15-30menit. Untuk bahan asam digunakan larutan natrium bikarbonat
3%, sedang untuk basa larutan asam borat, asam asetat 0,5% atau bufer asam asetat pH 4,5% untuk
mentralisir. Untuk bahan basa diberikan EDTA. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topical,
siklopegik dan bebat mata masih sakit. Regenasi epitel akibat asam lemah dan alkali sangat lambat yang
biasanya sempurna 3-7 hari
Hifema
Riwayat Klinis
Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh
darah iris atau badan siliar. Glaucoma akut dapat terjadi apabila anyaman trabekular tersumbat oleh fibrin
dan sel atau bila pembentukan bekuan darah menimbulkan blockade pupil
Diagnosis
Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat
menurun. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan dan hifema
dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang dapat terlihat iridoplegia dan iridodialisis
Terapi
Pasien dengan hifema yang tampak mengisi lebih dari 5% bilik mata depan sebaiknya diistirahatkan.
Pemberian steroid tetes harus segera dimulai. Aspirin dan antiinflamasi nonsteroid harus dihindari. Pasien
diposisikan dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat, diberi koagulasi dan mata ditutup.