Anda di halaman 1dari 3

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan darah rutin.


o Leukopeni

(47% dari kasus) 2000 - 3000 sampai dengan 5000/mm3. Bila ada

leukositosis (4% dari kasus) hati-hati ada penyulit, perforasi atau infeksi
sekunder.
o Limfositosis

relatif (pasien tetap leukopeni tetapi persentasi limfosit lebih

banyak dari normal).


o Aneosinofilia.

2. Pemeriksaan bakteriologik
o Biakan

Gall, untuk diagnosa pasti! Biakan dapat diambil dari :

Sumsum tulang

(90% ketelitian) pada minggu ke I dan minggu ke II.

Darah

pada minggu ke I dan minggu ke II (70% - 90%) minggu ke II


sampai minggu ke III (30% - 40%).

o Biakan

pada agar SS bahan diambil dari :

Tinja

pada minggu ke II sampai minggu ke III.

Urine pada
Jangan
o Bila

minggu ke III sampai minggu ke IV.

menggunakan Gall culture, Rose spot boleh di Gall kultur.

Gall positif diagnosa pasti dari tiphoid abdominalis, tetapi bila negatif

belum tentu bebas tiphoid abdominalis tergantung dari teknik pengambilan


bahan, waktu perjalanan penyakit, post vaksinasi.
3. Pemeriksaan serologik
o Test

aglutinasi mikroskopik cepat, nilai positif bila terjadi penggumpalan,

pemeriksaan ini berguna untuk identifiksai pendahuluan pada biakan kuman.


o Test Widal

(Aglutinasi pengenceran pada tabung)

Yang

diukur adalah aglutinasi antigen H (flagela, suatu protein yang


spesies spesifik), dan antigen O (somatik, suatu lipopolisakarida
(endotoksin) group spesifik)

Interpretasi hasil

pemeriksaan:

Positif

bila titer O meningkat lebih dari 1/160 atau peningkatan >


4x pada pengambilan serum yang berangkaian.

Nilai

O 1/80 menunjukkan suggestif tifoid. sedangkan untuk titer


H nilai positif adalah > 1/800 semua hasil tersebut dengan
syarat tidak menerima vaksinasi typhoid dalam 6 bulan
terakhir.

Peninggian

titer H > 1/160 menunjukkan bahwa penderita


pernah divaksinasi atau terinfeksi Salmonella typhi.

Titer

Vi (antigen kapsul) meninggi pada pembawa kuman atau


karier.

Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi
dan Penyakit Tropis. Edisi pertama. 2002. Jakarta ;Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI: 367-375
2.
Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam Pediatrics
Update. Cetakan pertama. 2003. Jakarta ;Ikatan Dokter Anak Indonesia: 37-46

Pemeriksaan Laboratorium.

Kadar leukosit normal ataupun leukositosis.

Trombositopenia.

Anemia ringan.

SGOT & SGPT seringkali meningkat, tetapi akan kembali menjadi normal setelah sembuh.
Jadi tidak perlu dilakukan penanganan khusus terkait kenaikan SGOT & SGPT.

Uji widal.
Uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum pasien penderita demam tifoid yaitu:

Aglutinin O (dari tubuh kuman).

Aglutinin H (flagela kuman).

Aglutinin Vi (simpai kuman).

Dari ketiga aglutinin hanya aglutinin O & H yang dipakai untuk diagnosis demam tifoid.

Pada fase akut awalnya aglutinin O, kemudian diikuti aglutinin H.


Pada pasien yang sudah sembuh aglutinin O masih tetap ditemukan setelah 4-6 bulan, sedang pada aglutinin H
menetap lebih lama sekitar 9-12 bulan. Oleh sebab itu, uji widal bukan untuk menentukan kesembuhan
penyakit.

Kultur darah.
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid.
Dear sejawat, untuk itu agar dapat diberikan terapi yang tepat & memimalkan terkena komplikasi maka
penegakan diagnosis demam tifoid sedini mungkin harus dilakukan.

Demam tifoid. Djoko Widodo (ed). 2006. BAIPD. Jilid I. Edisi IV. Jakarta: FKUI p1752-395