Anda di halaman 1dari 4

Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid

... Ringkasan Buku ...


http://buku-islam.blogspot.com

Judul : Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid


Penulis : Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penerbit : Pustaka At Taqwa
Cetakan : Pertama, November 2008
Halaman : 128

Buku ini memuat dalil dalil yang terang dan begitu gamblang tentang hukum lagu, musik, dan
nasyid. Banyak hal yang dibahas dalam buku ini diantaranya adalah status hukum nyanyian dan
musik; nyanyian dan alat musik yang dibolehkan syari'at; hukum nyanyian tanpa alat musik;
hukum nyanyian shufi dan nasyid Islami; dll.
Pada ringkasan ini hanya penulis kutipkan sebagiannya saja. Dalil dalil dari al Qur'an yang
penulis kutipkan hanya satu saja dari tiga yang ada. Dalil dalil dari As Sunnah pun hanya satu
saja dari enam hadits yang dibawakan di buku tersebut. Kemudian untuk perkataan para ulama
tentang hal ini, penulis kutipkan sebagiannya saja dari jumlah semuanya yaitu 23. Dan footnote
yang ada hanya saya sertakan sebagiannya saja. Semuanya ini demi ringkasnya tulisan ini.

[DALIL DALIL DARI AL QUR'AN TENTANG


HARAMNYA NYANYIAN DAN MUSIK ]
--------------------------Firman Allah Tabaaraka wa Ta'ala:
"Dan diantara manusia ada orang orang yang membeli perkataan yang tidak berguna (lahwal
hadiits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah
sebagai olok olokan. Mereka itu memperoleh adzab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan
kepadanya ayat ayat Kami, dia berpaling dan menyombongkan diri seolah olah dia tidak
mendengarnya, seakan akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia
dengan adzab yang pedih." (QS. Luqman: 6-7).
Kalimat lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) dalam ayat di atas ditafsirkan oleh para
ulama tafsir dengan nyanyian.
a. Dari Abu Shahba' al Bakri rahimahullah bahwasanya ia mendengar 'Abdullah bin Mas'ud
radhiyallahu'anhu ditanya tentang tafsir dari ayat ini, beliau radhiyallahu'anhu mengatakan,

"Lahwal hadiits (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian. Demi Dzat yang tidak ada ilah
selain Dia." Beliau mengulang perkataannya tiga kali. (Lihat Tafsiir ath Thabari (X/202-203, no.
28040)).
b. Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhu (wafat th. 68 H) juga menafsirkan lahwal hadiits dengan
nyanyian dan sejenisnya.
c. Mujahid bin Jabr rahimahullah (wafat th. 103 H) seorang imam ahli tafsir ternama di kalangan
Tabi'in, dalam menafsirkan ayat ini beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lahwal
hadiits adalah nyanyian.
d. 'Ikrimah rahimahullaah (wafat th. 105 H) seorang murid Ibnu 'Abbas juga menafsirkan lahwal
hadiits dengan nyanyian.
e. Ibnu Jarir ath Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullaah telah menyebutkan beberapa perkataan
para ulama Salaf yang mengatakan bahwa maksud dari lahwal hadiits adalah semua perkataan
(pembicaraan) yang melalaikan seseorang dari jalan Allah Ta'ala serta yang dilarang oleh Allah
dan Rasul-Nya. Termasuk juga nyanyian.
f. Imam al Wahidi rahimahullaah (wafat th. 468 H) berkata, "Ayat ini, menurut tafsir ini (yakni
tafsir para Shahabat), menunjukkan tentang haramnya nyanyian."
g. Imam asy Syaukani rahimahullaah (wafat th. 1255 H) mengatakan dalam kitab tafsirnya
bahwa makna dari lahwal hadiits adalah semua yang melalaikan seseorang dari kebaikan,
contohnya seperti nyanyian, permainan, dongeng dongeng, dan setiap perbuatan munkar. Beliau
rahimahullaah mengatakan, "Imam al Qurthubi rahimahullaah (wafat th. 671 H) mengatakan,
'Sesungguhnya tafsir yang tepat untuk lahwal hadiits adalah nyanyian, dan ini merupakan tafsir
para shahabat dan tabi'in.'"

[DALIL DALIL DARI AS SUNNAH TENTANG


HARAMNYA NYANYIAN DAN MUSIK]
--------------------------Diriwayatkan dari 'Abdurrahman bin Ghanm al Asy'ari, dia berkata, "Abu 'Amir atau Abu Malik
al Asy'ari radhiyallahu'anhu telah menceritakan kepadaku, demi Allah, dia tidak berdusta
kepadaku, dia telah mendengar Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
'Sungguh, benar benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan
kemaluan (zina), sutera, khamr, dan alat alat musik. Dan beberapa kelompok orang benar benar
akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, seorang yang fakir
mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, 'Kembalilah kepada kami pada

esok hari.'
Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka
serta Allah mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat."
Diriwayatkan oleh al Bukhari secara mu'allaq dengan lafazh jazm (pasti) (no. 5590/Fathul Baari
X/51), Ibnu Hibban (no. 6719), al Baihaqi (X/221), Abu Dawud (no. 4039).
Hadits ini SHAHIH. Karena itulah para imam ahlul hadits menghukumi hadits ini dengan
keshahihannya.
1. Dishahihkan oleh al Bukhari, Ibnu Hibban, al Barqani, dan Abu 'Abdillah al Hakim.
2. Ibnush Shalah mengatakan, "Hadits ini shahih."
3. Ibnu Taimiyyah berkata mengenai hadits ini, "Apa yang diriwayatkan oleh al Bukhari adalah
shahih."
4. Dishahihkan juga oleh al Isma'ili dan Abu Dzarr al Harawi.
5. Ibnul Qayyim mengatakan, "Hadits ini shahih."
6. An Nawawi berkata, "Hadits ini shahih."
7. Ibnu Rajab mengatakan, "Maka hadits ini adalah shahih."
8. Ibnu Hajar mengatakan, "Dalam hadits ini shahih, tidak ada cacat dan celaan padanya."
9. Asy Syaukani mengatakan, "Hadits ini shahih, diketahui sanadnya yang bersambung
berdasarkan syarat ash Shahiih."
10. Dan ad Dahlawi mengatakan, "(Sanadnya) bersambung dan shahih."

[PENJELASAN PARA ULAMA TENTANG


HARAMNYA NYANYIAN DAN MUSIK]
----------------------------3. Imam Abu Hanifah rahimahullaah (wafat th. 150 H).
Beliau adalah orang yang sangat membenci nyanyian, dan beliau mengatakan bahwa
mendengarkan nyanyian adalah perbuatan dosa. (Talbiis Ibliis (hal. 236)).
4. Imam Adh Dhahhak bin Mujahim rahimahullaah (wafat th. 102 H).
Beliau mengatakan, "Nyanyian itu merusak hati dan mendatangkan kemurkaan Allah."
6. Imam Malik bin Anas rahimahullaah (wafat th. 179 H).
Beliau mengatakan, "Nyanyian itu hanyalah dilakukan oleh orang orang fasiq di daerah kami."
(al Amru bil Ma'ruuf wan Nahyi 'anil Munkar (no. 165) karya al Khallal).
7. Imam asy Syafi'i rahimahullaah (wafat th. 204 H).
Beliau mengatakan, "Nyanyian adalah satu permainan yang tidak aku sukai, yang menyerupai
kebathilan dan tipu daya. Barang siapa sering melakukannya, maka dia adalah orang yang bodoh
dan persaksiannya ditolak." (Talbiis Ibliis (hal. 236), Ighaatsatul Lahfaan (I/413)).

8. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah (wafat th. 241 H).


Beliau mengatakan, "Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati. Aku tidak
menyukainya." (al Amru bil Ma'ruuf wan Nahyi 'anil Munkar (no. 164) karya al Khallal).
14. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah (wafat th. 728 H).
Beliau mengatakan, "Empat Imam Madzhab berpendapat bahwa semua alat musik adalah
haram.... Al Ma'aazif adalah alat alat musik sebagaimana yang disebutkan oleh para pakar bahasa
Arab, bentuk jamak dari ma'zifah, yaitu alat yang dibunyikan. Dan tidak ada perselisihan sedikit
pun dari pengikut para imam (tentang haramnya alat musik)." (Majmuu' Fataawaa (XI/576)).