Anda di halaman 1dari 130

BAHAN KULIAH

MEKANIKA FLUIDA (MEC 3403 P)

Ir. SUDARJA, M.T.

JURUSAN TEKNIK MESIN, FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2016

i
ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Definisi Fluida


Fluida adalah suatu zat yang mengalami perubahan bentuk secara kontinyu
apabila terkena tegangan geser (shear stress) betapapun kecilnya. Definisi
lain mengatakan bahwa fluida adalah zat yang mampu mengalir, sehingga
fluida juga sering disebut zat alir. Perhatikan gambar berikut ini :

Gb. 1.1.1. Deformasi akibat gaya geser

Bayangkan bahwa ada suatu zat yang diletakkan diantara dua plat. Plat
bawah ditahan diam (fixed),dan plat atas diberi gaya geser sebesar F ( F
cukup kecil ). Kita tinjau elemen abcd. Sesaat setelah F bekerja pada plat
atas, maka elemen abcd berubah bentuk menjadi ab'c'd, dan pada saat
selanjutnya akan berubah bentuk lagi secara kontinyu selama F masih
bekerja pada pelat atas. Apabila gaya F dihilangkan (removed) maka elemen
yang kita tinjau tersebut tidak akan kembali lagi ke bentuk semula (abcd).
Semua zat yang mempunyai sifat demikian dapat disebut sebagai fluida
(fluid).

1
1.2. Mekanika Fluida dan Lingkup Penerapannya.
Mekanika fluida adalah suatu pengetahuan teknik yang mempelajari tingkah
laku fluida baik dalam keadaan diam maupun bergerak.
Prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam mekanika fluida adalah :
a. Hukum kekekalan massa (hukum kontinyuitas)
b. Hukum kekekalan energi (hukum Thermodinamika I)
c. Hukum kekekalan momentum (perubahan momentum dan impuls)
Penggunaan atau penerapan dari mekanika fluida antara lain adalah pada :
a. Pemindahan fluida (fluid transport), dari suatu tempat ke tempat yang
lain, contoh:
- Pasokan air minum
- Pasokan gas alam
- Pemipaan zat-zat kimia pada pabrik kimia.
Untuk keperluan ini peralatan yang diperlukan antara lain: pompa,
kompresor, pipa-pipa, katub (valves) dll.
b. Pembangkit Tenaga Listrik
Disini fluida digunakan untuk sarana membangkitkan tenaga listrik.
Peralatan yang digunakan adalah: Turbin air (fluidanya air) untuk PLTA
(Water power Plant Station), turbin uap (fluidanya uap) untuk PLTU
(Steam Power Plant Station), atau turbin gas (fluidanya gas hasil
pembakaran) untuk PLTG (Gas Power Plant Station ).
c. Pengendalian lingkungan (Environmental Control)
Prinsip-prinsip mekanika fluida digunakan dalam perencanaan pengaliran
refrigeran di dalam sistim pengkondisian udara, pengaliran air panas ke
kamar mandi, pengaliran udara panas masuk ke ruang bakar ketel uap
dll.
d. Transportasi
Perencanaan semua peralatan transportasi baik di darat,laut maupun
udara menggunakan prinsip-prinsip mekanika fluida, yaitu terbentuknya
garis alir (stream line) sedemikian rupa sehingga gaya yang berlawanan
arah dengan arah gerakan kendaraan (drag) dapat diminimalkan . Pada

2
transportasi air (laut), gaya apung (buoyant Force) harus diperhitungkan
sebaik mungkin supaya kendaraan stabil dan tidak tenggelam. Pada
transportasi udara (pesawat terbang), konstruksi pesawat dan profil dari
aerofoil harus direncanakan untuk mendapatkan gaya angkat (lift) yang
memadai agar pesawat tidak jatuh.
Disamping hal- hal diatas, masih banyak lagi penerapan dari prinsip-
prinsip mekanika fluida dalam kehidupan sehari- hari baik di dalam
dunia industri maupun dalam rumah tangga.

1.3. Dimensi dan Satuan


Dimensi dasar yang digunakan dalam mekanika fluida adalah panjang (L),
massa (M), waktu (T), temperatur atau suhu ( ), dan gaya (F).
Dari dimensi- dimensi dasar tersebut dapat diturunkan menjadi berbagai
dimensi atau besaran untuk memenuhi keperluan ilmu teknik, dan disebut
besaran turunan (derived dimension), misalnya: kecepatan, percepatan,
volume, kerapatan dan lain- lain.
Satuan dari besaran- besaran tersebut tergantung dari sistim yang digunakan.
Ada beberapa sistim satuan yang digunakan dalam ilmu- ilmu teknik, yaitu:
1. BG (British Gravitational) atau USC (US Costumary) atau sistim British/
Inggris.
2. SI (System Internationale)
3. US Inconsistent
4. Metric, cgs
5. Metric, mks
Kita perhatikan satuan dari besaran- besaran pokok dalam berbagai sistim
satuan :

3
Tabel 1.3.1. Besaran pokok dan satuannya dalam berbagai sistim satuan
US Incon Metric Metric
Besaran Dimensi BG SI
sistent cgs mks
Massa M Slug kg Lbm g kg
Panjang L Ft m ft cm m
Waktu T Dt dt dt dt dt
Temperatur o
R K o
R K K
Gaya F Lb N lb dyne Kgf
o
Catatan : pada tahun 1967 satuan ( K) diganti menjadi (K)

Dari berbagai sistim satuan diatas, yang paling banyak digunakan adalah
sistim SI dan BG. Berbagai besaran turunan dalam sistim SI dan BG
ditunjukkan pada tabel 1.3.2 di bawah.
Dalam sistim satuan SI, gaya merupakan besaran turunan berbentuk MLT -2,
satuannya newton, yaitu gaya yang diperlukan untuk mempercepat benda
dengan massa 1 kilogram pada tingkat percepatan 1 meter per detik per
detik.
1 N = (1kg)(1m/dt2)
Sedangkan pada sistim satuan BG (=USC), gaya merupakan besaran pokok
dan massa merupakan turunan (F/a) dan berbentuk FL-1T2, satuannya slug,
yaitu suatu massa dimana percepatannya 1 ft per detik per detik pada waktu
dikenai gaya sebesar 1lb. Di masyarakat cukup populer atau cukup banyak
yang menggunakan kg untuk satuan berat (gaya). Ini adalah kesalahan yang
lazim terjadi. Sebenarnya yang dimaksudkan adalah kgf ( satuan gaya berat
dalam sistim metrik, mks). Bila seseorang membeli 1 kg gula, maka artinya
ia membeli gula dengan massa 1 kg, dan gaya dari 1 kg massa tersebut
adalah 1 kgf = (1 kg) (9,81m/dt2) ekuivalen dengan 9,81 N. Karena 1 lb
berat mempunyai massa sekitar 0,4536 kg, maka faktor konversinya adalah
1,00/0,4536 = 2,205 lb/kgf.

4
Tabel 1.3.2. Besaran- besaran turunan dan satuannya dalam sistim satuan BG dan SI
Satuan pada Satuan pada
Besaran Notasi Dimensi
sistim BG sistim SI
Luas A L2 ft2 m2
Kecepatan u atau
LT-1 ft/dt (=fps) m/dt
v
Percepatan a LT-2 ft/dt2 m/dt2
Volume V L3 ft3 m3
Kerapatan ML-3 slug/ft3 kg/m3
Berat Jenis FL-3 lb/ft3 (=pcf) N/m3
Tekanan P FL-2 lb/in2 (=psi) N/m2
Viskositas FTL-2 lb.dt/ ft2 N.dt/m2
Viskositas
L2 T-1 ft2/dt m2/dt
Kinematis
Daya P FL T-1 ft.lb/dt N.m/dt (=Watt)
Laju Aliran Q L3 T-1 ft3/dt (=cfs) m3/dt
Energi E FL ft.lb N.m (=J)
Frekuensi F T-1 cycle/dt (=dt-1) Hz (=hertz= dt-1)

Oleh karena itu di dalam ilmu- ilmu teknik kita harus berhati- hati dan
konsisten dalam pemakaian konsep massa dan berat, yaitu kg untuk massa
dan newton untuk berat atau gaya pada sistim satuan SI, sedangkan dalam
sistim satuan BG, slug untuk massa dan lb untuk berat atau gaya.

1.4. Massa (m), dan Berat (W)


Massa suatu zat yang dinotasikan dengan m adalah suatu ukuran
kelembaman dari zat itu sendiri. Satuan massa adalah: kilogram (kg), slug.
Untuk keperluan praktis, 1 kg massa adalah massa dari 1/1000 m3 air suling
pada 4 oC. Massa suatu zat tidak berubah dimanapun berada. Berat suatu zat
adalah gaya gravitasi yang bekerja pada massa tersebut. W = m.g ; dengan

5
g = percepatan gravitasi. Satuan berat adalah newton ( = N = kg.m/dt 2)
dalam sistim satuan SI, dan lb dalam sistim satuan BG . Berat suatu zat akan
berubah bila berada pada daerah dengan percepatan gravitasi yang berbeda.
Contoh :
2
Suatu benda di daerah A yang percepatan gravitasinya g = 9.806 m/dt
mempunyai berat 10 N. Berapa berat benda tersebut seandainya berada di
daerah B yang percepatan gravitasinya g = 9,7 m /dt 2 ?
Jawab : m = W/g = 10/9,806 kg ; W di B = (10/9,806)(9,7) = 9,892 N

1.5. Skala Tekanan

Gb.1.5.1. Skala pengukuran tekanan

Standard atmospheric pressure adalah tekanan rata-rata pada permukaan air


laut.

Untuk titik 2
pabs = pbar + pgage (1.5.1)
Untuk titik 1
pabs = pbar + (-pgage) = pbar - pgage (1.5.2)

Tekanan lokal (local atmospheric pressure) diukur dengan barometer air


raksa.

6
Contoh:
Tekanan atm lokal = 720 mm Hg
Tekanan gage = 100 mm Hg
Maka tekanan abs = 820 mm Hg

Tekanan atm. lokal =720 mm Hg


Tekanan absolut = 460 mm Hg
Maka tekanan gage = -260 mm Hg
= 260 mm Hg vakum (suction).

1.6. Suhu (Temperature)


Satuan temperatur yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari- hari
adalah o C dan o
F. Hubungannya adalah :
o 9 o
F= ( C) + 32
5
o 5 o
C= ( C - 32 )
9
Sedangkan didalam perhitungan- perhitungan teknik, yang digunakan
adalah temperatur absolut, yaitu Kelvin ( K ) untuk sistim satuan SI, dan
derajat Rankin ( o R ) untuk sistim satuan BG.
o o
R= F + 460
o
K = C + 273

7
BAB II
SIFAT- SIFAT FLUIDA

2.1. Massa Jenis atau Kerapatan (),Volum Jenis (v), dan Berat Jenis
Kerapatan (density) suatu zat adalah ukuran untuk konsentrasi zat tersebut
dan dinyatakan dengan massa per satuan volume.
= m / V ( 2.1.1)
Satuan kerapatan yaitu : kg/m3, slug/ft3
Kerapatan relatif antara zat 1 dan 2 adalah perbandingan antara kerapatan
zat 2 terhadap zat 1.
2
21 = ( 2.1.2 )
1
Biasanya kerapatan relatif menggunakan air sebagai acuannya sehingga

r = .. ( 2.1.3 )
.air

Kerapatan relatif juga sering disebut gravitasi jenis (S) = ( 2.1.4 )
.air
Volume Jenis (specific volume) dari suatu zat (v) adalah volume yang
ditempati oleh satu satuan massa zat tersebut atau merupakan kebalikan dari
kerapatan.
v = V / m .. ( 2.1.5 )
v = 1 / ( 2.1.6 )
Berat jenis (specific weight) dari suatu zat adalah gaya gravitasi terhadap 1
satuan volume zat tersebut.
= .g = g / v . ( 2.1.7 )

2.2. Viskositas
Viskositas adalah ukuran ketahanan fluida terhadap deformasi (perubahan
bentuk) akibat tegangan geser ataupun deformasi sudut (angular
deformation). Timbulnya viskositas disebabkan oleh gaya kohesi dan
pertukaran momentum dari molekul-molekul fluida.

8
Gb 2.2.1. Profil kecepatan dan gradien kecepatan

Menurut Newton, tegangan geser dalam suatu fluida sebanding dengan laju
perubahan kecepatan normal terhadap aliran. Laju kecepatan ini juga
sering disebut gradien kecepatan.
Gradien kecepatan pada setiap harga y didefinisikan
du u
= lim ( 2.2.1 )
dy y
y0
Tegangan geser yang timbul :
du
= . ( 2.2.2 )
dy
Persamaan ( 2.2.2 ) disebut persamaan Newton untuk Viskositas.Fluida
yang memenuhi persamaan ini disebut fluida newton (Newtonion fluid)
du
dimana viskositas tidak tergantung pada besarnya deformasi ; contoh:
dy
air, udara, gas. Zat-zat yang tidak memenuhi persamaan tersebut disebut
non Newtonion, dapat bersifat plastis (pasta gigi), shear thinning (kecap)
atau shear thickening.
Hubungan antara tegangan geser dan deformasi ditunjukkan pada gambar
berikut.

Gb 2.2.2. Diagram rheologi

9
Faktor proporsional pada persamaan ( 2.2.2 ) disebut viskositas absolut
(absolute Viscosity) atau viskositas dinamis (dynamic viscosity) atau
coefficient of viscocity, untuk selanjutnya disebut viskositas. Timbulnya
viskositas disebabkan oleh adanya kohesi dan pertukaran momentum dari
molekul-molekul fluida.
Persamaan ( 2.2.2 ) dapat juga ditulis:

= ( 2.2.3 )
du
dy
F/A
= ( 2.2.4 )
du
dy
Perubahan tekanan dan suhu dapat mempengaruhi besarnya viskositas.
Dalam perhitungan praktis, perubahan viskositas karena perubahan tekanan
bisa diabaikan karena sangat kecil, yang sangat berpengaruh adalah karena
perubahan suhu.
Untuk zat cair (Liquid) :
Viskositas banyak dipengaruhi oleh gaya kohesi antar molekul. Bila suhu
naik gaya kohesi akan berkurang sehingga viskositasnya akan berkurang.
Jadi kenaikan suhu pada zat cair akan menurunkan viskositasnya.
Untuk Gas
Viskositas banyak dipengaruhi oleh pertukaran momentum antar
molekul. Bila suhu naik, pertukaran momentum antar molekul akan
bertambah sehingga viskositasnya juga akan bertambah. Jadi kenaikan
suhu pada gas akan menaikkan viskositas.
Satuan dan dimensi Viskositas
Dari persamaan ( 2.2.3 )
F/A m.a / A
= = =
du / dy du / dy du / dy

10
Dalam Satuan Britis
lb f / ft 2 lb f dt
= = 2 ; 1 lbf= 1 slug ft /dt 2 , sehingga
( ft / dt ) / ft ft



F / A F / L2
= = L
2
FL T
du / dy
T L

Dalam Satuan metrik, cgs :


gr.Cm / dt 2



Cm 2
Cm / dt

=
gr
Cm.dt
= ML1T 1
Cm

dyne.dt 2 cm
1 gr = 1 atau 1 dyne = 1 gr. 2
cm dt
dyne.dt 2 dyne.dt
= = = Poise atau P
cm.cm.dt cm 2
Dalam Satuan SI :
kg .(m / dt 2 )
= m2 kg
=
= ML1T 1
m / dt m.dt
m
Viskositas kinematis adalah perbandingan (ratio) antara Viskositas dinamis
dengan massa jenisnya.

= .. ( 2.2.5 )

gr /(cm.dt ) cm 2
Satuan dalam cgs : = 3
= = [Stokes]
gr / cm dt

ft 2
Satuan Britis =
= L2T 1
dt
air udara
air udara

11
2.3. Gas Ideal (Perfect Gas)
Gas ideal adalah zat yang memenuhi persamaan keadaan gas ideal
(sempurna)
p.v = R T . ( 2.3.1 )
dengan ; p: tekanan absolute
v : Volume jenis
R : Konstanta gas
T : Temperatur absolut
Gas ideal mempunyai viskositas dan oleh karena itu mampu menimbulkan
tegangan geser. Berdasarkan persamaan ( 2.3.1 ), maka gas ideal bersifat
1
mampu mampat (compressible). Karena = , maka persamaan ( 2.3.1 )

dapat ditulis:
p = RT ( 2.3.2 )
p
R= ( 2.3.3 )
T

N kg
Jika p dalam paskal 2 ; dalam 3 dan T dalam K maka satuan R
m m
dalam satuan SI adalah :
N m3 m.N
R= 2
. = atau m N/kg K
m kg .K kg .K
Dalam satuan USC
lb ft 3 ft .lb
R= 2
. 0
=
ft slug. R slug .0 R
Untuk gas dengan massa m ; maka persamaan ( 2.3.1 ) menjadi
p V = m RT ; V = m.v ( 2.3.4 )
Bila dinyatakan dalam berat molekul
p.vm = MRT ( 2.3.5 )
p V = n MRT ( 2.3.6 )
dengan: vm = Volume per mole

12
M = Berat molekuler; misal : 1kg mole O2 = 32 kgf
n = jumlah mole
n.M = m
pV
Dari persamaan ( 2.3.6 ) terlihat bahwa MR konstan, karena = konstan
nT
untuk gas ideal. MR disebut konstanta gas universal (universal gas
constant), dan sering ditulis dengan Ro
R0
Ro = MR maka R = ( 2.3.7 )
M
8312
Dalam satuan SI R= m N / Kg K ( 2.3.8 )
M
49.709
Dalam satuan USC R = ft lb / slug 0R ( 2.3.9 )
M
1545
Dalam pound massa R = ft lb/lbm 0R. ( 2.3.10 )
M
Contoh :
Gas dengan berat molekul 44 pada tekanan 0.9 MPa dan suhu 20 0C,
Hitung kerapatannya.
Penyelesaian :
8312
Dari persamaan ( 2.3.8 ) ; R = = 188.91 mN / kg K
44
P
Kemudian dari persamaan ( 2.3.2 ); =
RT
=
0.9(10 6 N / m 2 )
(188.91.mN / kg 0 K )(( 273 20) 0 K )
kg
= 16.26
m3

13
2.4.Tekanan Penguapan (Vapor pressure)
Cairan menguap disebabkan oleh lepasnya molekul-molekul cairan dari
permukaan cairan. Molekul uap itu akan menimbulkan tekanan parsiil dalam
ruangan di atas permukan itu, dan inilah yang disebut tekanan uap (Vapor
pressure)
Jika ruangan di atas permukaan cairan tersebut cukup sempit/ terbatas,
setelah beberapa waktu, sejumlah molekul zat cair akan menekan
permukaan zat cair dan mulai mengembun sedemikian rupa sehingga pada
suatu saat tertentu jumlah bagian yang mengembun sama dengan jumlah
bagian yang meninggalkan permukaan sehingga tercapai suatu
keseimbangan.
Karena peristiwa ini tergantung pada aktivitas molekul yang merupakan
fungsi suhu, maka tekanan uap dari suatu fluida akan tergantung pada
suhunya. Tekanan uap akan naik bila suhunya naik. Jika tekanan di atas
cairan sama dengan tekanan penguapan dari cairan tersebut, maka cairan
tersebut mendidih.
Pendidihan air pada suhu kamar dapat terjadi bila tekanannya diturunkan
sampai mencapai tekanan penguapannya. Hal ini karena aktivitas molekul
naik dengan naiknya suhu dan turunnya tekanan. Sebagai contoh air pada
suhu 200 C mempunyai tekanan penguapan 2340 Pa absolut (= 2340 N/m2
absolut) dan untuk air raksa = 0.17 Pa

Tabel 2.4.1.Tekanan penguapan dari beberapa jenis cairan pada suhu 20 0C (=68 0F)

Zat Psia N/m2 abs m bar abs

Air raksa 0.000025 0.17 0.0017


Air 0.339 2 340 23.4
Mimyak tanah 0.46 3 200 32
Bensin 8.0 55 000 550

14
Penguapan dan pengembunan yang terlalu cepat dari suatu cairan
bertekanan rendah disebut Kavitasi (Cavitation). Gelembung-gelembung
uap yang terjadi pada proses kavitasi akan berekspansi cepat ketika cairan
berpindah ke daerah yang bertekanan lebih tinggi dari tekanan
penguapannya. Hal ini akan mengakibatkan erosi terhadap permukaan zat
padat dan vibrasi. Dalam perencanaan pompa dan turbin, kavitasi harus
dihindari karena akan sangat mengganggu performencenya.
Contoh :
Berapa suhu didih air a). Pada permukaan air laut
b). Pada ketinggian 3 km dari permukaan air laut
Penyelesaian :
a). Dari tabel terlampir, pada permukaan air laut (elevasi = 0) tekanan
atmosfir standard = 101.33 Kpa abs. Suhu didih air pada tekanan atmosfir
standard 101.33 Kpa abs adalah 100 oC
b). Dari tabel terlampir, pada ketinggian 3 km, tekanan atmosfir standard
70,121 Kpa abs adalah 91 oC.

2.5. Bulk Modulus of Elasticity (K)


Apabila cairan dengan volume V diberi tambahan tekanan sebesar dp maka
volumenya akan berkurang sebesar dV .
dp
K=- .. ( 2.5.1 )
dV / V
Atau
Vdp
K=- ( 2.5.2 )
dV
Tanda (-) menunjukkan hubungan berlawanan antara perubahan tekanan dan
perubahan volume. Nilai K menunjukkan sifat kompresibilitas suatu fluida.

Contoh :
Cairan ditekan pada sebuah silindir dengan volume 1 liter (1 liter = 1000
cm3 ) pada tekanan 1 MN / m2. Pada waktu ditekan 2 MN / m2 , volumenya

15
berkurang menjadi 995 cm3. Berapa Bulk modulus of elasticity dari cairan
tersebut ?
Penyelesaian :
p = 2 MN/m2 - 1 MN/m2 = 1 MN/m2
V = 995 cm3 - 1000 cm3 = -5 cm3
V = 1000 cm3
Dari persamaan ( 2.5.1 )
1
K = MN / m2
5 / 1000
MN
= + 200
m2

2.6. Tegangan Permukaan dan Kapilaritas


Gerakan molekul di dalam cairan menimbulkan sifat kohesi dan adhesi.
Kohesi adalah sifat tarik menarik antar molekul pada cairan yang
bersangkutan, sedangkan adhesi adalah sifat tarik menarik antara molekul
cairan dengan zat yang berbatasan dengannya. Kohesi memungkinkan
cairan dapat menahan tegangan tarik dan adhesi mendorong cairan tersebut
menempel pada zat yang berbatasan.
Pada antar muka cairan dan gas, dan antar muka antara dua cairan yang
tidak tercampur (immiscible), perbedaan gaya gerak antar molekul
membentuk lapisan imaginer yang dapat menahan tegangan. Sifat fluida
demikian ini disebut tegangan permukaan (surface tension).

Gb 2.6.1. Kapilaritas pada tabung gelas

16
Terjadinya kapilaritas (Capilarity) disebabkan oleh tegangan permukaan
dan oleh harga relatif antara kohesi cairan dan adhesi anatara cairan dan zat
padat. Jika kohesi cairan lebih kecil dari adhesinya maka cairan akan
membasahi permukaan zat padat dan permukaannya akan naik pada titik
kontaknya. Contoh fluida yang bersifat demikian adalah air. Sebaliknya jika
kohesi lebih besar dari adhesinya maka permukaan cairan akan turun pada
titik kontaknya, contoh : air raksa (mercury).
Permukaan cairan yang melengkung (keatas atau kebawah) disebut
meniscus.

Gb 2.6.2. Kapilaritas naik.

Gaya keatas karena tegangan permukaan sama dengan berat kolom zat cair
dalam tabung.
2 r cos = r 2 h
2 cos
h= ( 2.6.1 )
.r
satuan.gaya
dengan = tegangan permukaan
satuan. panjang
= sudut pembahasan
= berat jenis cairan
r = jari-jari tabung
h = kenaikan kapilaritas (meniscus diukur pada titik pusat tabung)

17

Suatu cairan disebut membasahi (wetting) sebuah permukaan bila <
2

, Apabila > zat tersebut tidak membasahi (non wetting). Sudut kontak
2
antara air, udara dan permukaan kaca yang bersih = 0o dan air raksa
sekitar 140o
Bila diameter tabung (tube) lebih besar dari 1/2 inchi, efek kapilaritas
diabaikan.
Untuk air dan gelas = 0 cos = 1
2
h= . ( 2.6.2)
.r
Untuk tetesan (droplet)


Tinjau


p d 2 = .d
4
4. 2.
p= =
d r
Untuk Pancaran Silindris

2.
pLd = 2L p = =
d r

18
Contoh :
Sebuah tabung kaca bersih berdiameter 2 mm dimasukkan kedalam air
bersuhu 20 oC.
Berapa kenaikan air dalam tabung.

Penyelesaian :
N
air pada suhu 20 oC, adalah 9789
m3
N
Tegangan permukaan air = 0.074
m
Sudut permukaan air pada tabung kaca bersih = 0o cos = 1
2 (2).(0.074 N / m)
h= =
.r (9787 N / m 3 ).(0.001m)
= 0,01512 m
= 15,12 mm

19
BAB III
STATIKA FLUIDA

Bab ini menguraikan tingkah laku fluida dalam keadaan diam (tidak ada gerakan
relatif antara lapisan-lapisan fluida) sehingga tegangan geser ( ) = 0. Oleh karena
itu gaya yang bekerja pada permukaan -permukaan fluida hanyalah gaya-gaya
normal atau gaya-gaya tekan.
3.1. Tekanan Pada Suatu Titik.
Tekanan pada suatu titik merupakan limit dari suatu gaya normal per satuan
luas, dimana luasnya mendekati ukuran dari titik tersebut.
Tinjau elemen kecil dari suatu fluida yang berbentuk segitiga

W = berat elemen
= volume
x.y
= .1
2
1
= . x y
2
Gb 3.1.1 Diagram benda bebas s sin = y

s cos = x
Persamaan gerak - hukum II Newton
F=m.a
x.y
dengan m =
2
Karena yang ditinjau adalah fluida statis (tidak ada gerakan) maaka F = 0

Untuk arah - x
x.y
Fx = px y - ps s sin = ax = 0
2
karena fluida diam, ax = 0
px y - ps s sin = 0

20
px y - ps y = 0
px = ps (3.1.1)

Untuk arah -y
x.y x.y
Fy = py x - ps s cos - = ay
2 2
karena fluida diam, maka ay = 0
x.y
py x - ps x - =0
2
x dan y sangat kecil (ukuran suatu titik) maka
x.y
0 (diabaikan)
2
py x - ps x = 0
py = ps (3.1.2)
Dari persamaan (3.1.1) dan (3.1.2),
py = py = ps (3.1.3)
Berarti untuk x dan y mendekati 0 (ukuran suatu titik ) maka tekanan
pada suatu titik di dalam fluida diam akan sama besarnya pada setiap arah
(tidak tergantung pada arah). Untuk fluida bergerak, akan timbul tegangan
geser dan gaya normal yang pada setiap arah besarnya belum tentu sama.

Gb. 3.1.2 Distribusi tegangan


Notasi :
yx : tegangan geser pada bidang yang tegak lurus sumbu y, kearah x.
yy : tegangan normal pada bidang yang tegak lurus sumbu y, kearah y.

21
Tegangan normal, positif jika arahnya meninggalkan bidang.
Tekanan positif jika arahnya menuju pusat masa.
Harga rata-rata dari tegangan normal disebut Bulk Stress, .
1
Jadi : p = - = - ( xx + yy + zz) (3.1.4)
3

3.2.Variasi Tekanan
Kita tinjau elemen fluida dengan bentuk kubus pada koordinat Cartesian xyz.
Ada dua macam gaya yang bekerja pada elemen fluida tersebut yaitu gaya
permukaan
(surface forces) dan gaya berat elemen (Body forces)

Gb. 3.2.1. Elemen diferensial fluida statis

Fluida yang ditinjau adalah fluida diam, maka kesetimbangan gaya-gayanya


sebagai berikut:

22
Pada arah y
p
Fy = - xyz - xyz (3.2.1)
y
Pada Arah x
p
Fx = - xyz (3.2.2)
x
Pada arah z
p
Fz = - xyz (3.2.3)
z
Vektor gaya F dari ketiga komponen gaya tersebut
F = i Fx + j Fy + k Fz
dengan i,j dan k adalah vektor satuan, maka
p p p
F = - i j k xyz - j xyz (3.2.4)
x y z
xyz = V sangat kecil, sehingga lim V 0 maka gaya resultan per
satuan volume
F
= - i j k p-j (3.2.5)
V x y z


sedangkan i j k = (3.2.6)
x y z

F
maka = - ( p) -j (3.2.7)
V
- p adalah vector field f dari gaya tekan permukaan per satuan volume

f = - p (3.2.8)
F
= f -j (3.2.9)
V
Untuk fluida statis (diam)
F
=0
V
f-j =0 (3.2.10)

23
Persamaan (3.2.10) adalah persamaan umum dari variasi tekanan fluida statis
(diam).
p p p
- i j k - j = 0
x y z

p p p
- i j k = j
x y z
Variasi tekanan kearah x dan z = 0, atau tidak ada perubahan tekanan pada
arah horizontal (hukum Pascal)
p p
0 , maka :
x z
p
-j =j
y
p
= -
y
dp = - dy (3.2.11)
Persamaan (3.2.11) menunjukkan bahwa variasi tekanan kearah vertikal
tergantung pada berat jenis fluida, berlaku untuk fluida compressible dan
incompressible.
Untuk fluida bergerak yang tanpa viscositas atau fluida yang bergerak
sedemikian rupa sehingga di setiap tempat tegangan geser = 0, maka :

F = m.a (hukum II newton )

F m
= . a
V V
dF
= a
dV
f - j = a (3.2.12)
Persamaan (3.2.12) merupakan persamaan dasar gerakan fluida tanpa
viskositas, digunakan pada keseimbangan relatif dan penurunan persamaan
Euler.

24
3.2.1. Variasi Tekanan Pada Fluida tak mampu mampat (incompressible)
Jika persamaan (3.2.12) diintegralkan, akan didapat :
p = - y+c
dengan c adalah konstanta integrasi. Bila fluida homogen( tidak tergantung
pada y), maka integrasi dari persamaan(3.2.11) adalah
p2 y2

p1
dp = -
y1
dy

(p2 -p1) = - (y2 -y1) (3.2.13)


Jika y diukur dari permukaan cairan
y = -h ; h disebut kedalaman.

Po pA = - (-h) + c ; c = P0
pA = h + P0 (3.2.14)
h

A
Gb.3.2.1. Kedalaman
Hukum hidrostatis mengenai variasi tekanan sering ditulis
p= h (3.2.15)
Untuk fluida yang tidak homogen (sebagai contoh air laut) yang berat
jenisnya ( ) tergantung y

dp = - .dy (3.2.16)

3.2.2. Variasi Tekanan Pada Fluida mampu mampat (Compressible)


Jika fluidanya merupakan gas ideal, maka pv = RT
p
= RT

Dalam keadaan isothermal (T konstan);
p p
= 0
.0
0
= .p (3.2.17)
p0

25
Jika persamaan (3.2.17) masuk ke persamaan (3.2.11)

0
dp = - .g.p.dy
p0

p dp
dy = - 0
g. 0 p
y p0 p
y0 dy = -
g 0
ln
p0

p p
(y -y 0 ) = - 0 ln (3.2.18)
g. 0 p0

p y y0
ln
p0 p0
g. 0

y y0

p .0
g . 0
p
e
p0

y y0

p .0
g . 0

p = p 0 .e atau


y y0
p = p 0 exp (3.2.19)
p.0
g . p 0

Persamaan (3.2.19) adalah persamaan variasi tekanan gas ideal terhadap
ketinggian dalam keadaan isothermal. Untuk atmosfer suhunya akan berubah
terhadap ketinggian (jadi tidak isothermal)
T = T0 + y
= gradien suhu (lapse Rate) = - 0.0065 0C/m = 0.00357 0F/ft.

26
Gb. 3.2.2. Variasi temperatur dan tekanan pada udara standard Amerika Serikat

dp = - dy ; = .g
= - g dy
Udara memenuhi persamaan gas ideal
pv = RT
p p
= RT
RT
p
(3.2.20)
R (T0 y)
pg
Sehingga, dp = - dy
R (T0 y)
dy R dp

(T0 . y ) g p

27
y p
dy R dp 1 R
y (T0 .y) g p p (T0 .y)
y p
ln p
g po
0 0 yo

T .y .R p
ln 0 = - ln
T0 . y 0 g p0

g T .y p
ln 0 ln
.R T0 . y 0 p0
g
p T0 . y . R
ln = ln
p0 T0 . y 0
g
p T .y . R
= 0
p0 T0 . y 0
g
. R
T .y
p = p 0 0 (3.2.21)
T0 . y 0
g
T .y .R
p 0 0
T0 . y 0
(3.2.22)
R(T0 . y )

Kalau ketinggiannya diukur dari permukaan air laut, y 0 = 0

T .y g
p = p 0 0 .R

T0

g
p = p 0 1 y .R
(3.2.23)
T0
g g
.R
.R
p0 1 y p0 1 y
T0 T0

RT0 . y
RT0 1 y
T0
1 g
. R
p
0 1 y
RT0 T0

28
p0
0
RT0

1 g
.R

0 1 y (3.2.24)
T.0

3.3. Tekanan dinyatakan dengan ketingian kolom fluida


Tekanan fluida pada kedalaman h dari permukaan, sebagaimana ditunjukkan
oleh persamaan (3.2.15), p = .h
Jika dianggap konstan, maka ada hubungan linier antara p dan h. Maka
tekanan (gaya persatuan luas) adalah ekuivalen dengan ketinggian h dari
sejumlah fluida dengan berat jenis konstan. Oleh karena itu akan lebih mudah
untuk menyatakan tekanan dengan ketinggian kolom fluida dari pada gaya
persatuan luas.

Gb 3.3.1 Tekanan dinyatakan dalam ketinggian fluida


Dari persamaan (3.2.15), maka
p
h= (3.3.1)

Hubungan antara p dan h pada persamaan (3.3.1) ini bisa digunakan apabila
menggunakan sistim satuan yang konsisten. Jika p dalam lb/ ft2, harus
dalam lb/ ft3, h akan ketemu dalam ft. Dalam satuan SI, p dinyatakan dalam
kilo Paskal (= kN /m2), dalam kN/m3, maka h dalam meter. Apabila
tekanan dinyatakan dalam psi maka faktor konvensinya adalah sbb:

29
144 psi
h (ft H2O) = 2,308 psi
62,4
kPa
h (m H2O) = 0,1020 kPa
9,81
pA pB
yA yB konstan (3.3.2)

3.4. Hidrostatiska
Persamaan (3.2.13) dapat juga ditulis daalam bentuk;
p1-p2 = (y2-y1) = g (y2-y1) (3.4.1)
atau lebih umum dinyatakan sebagai p .h (3.4.2)
dengan h beda tinggi antara titik-titik yang akan dihitung beda tekanannya.
p
Suku = pressure head

y = potential head terhadap suatu datum sembarang
p
+ y = piezometric head

Jika dituliskan (p2 - p1) / = -(y2 - y1) artinya peningkatan pressure head
sama dengan penurunan potensial head
p1 p2
Jika dituliskan y1 y 2 artinya piezometric head dalam zat cair

diam yang homogen selalu konstan. Hal ini ditunjukkan dalam gambar 3.4.1.a
pB pA
Pressure head pada B adalah dan pada A adalah . Intensitas tekanan

p
p atau pressure head , tentu saja lebih besar di A dari pada di B. Demikian

pula potential head y lebih besar di B dari pada di A.Akan tetapi jumlah
antara Pressure head dan potential head yang disebut piezometric head
(yang diukur dengan piezometer di B dan A) sama besar.
Kalau dalam sebuah wadah terdapat beberapa zat cair dengan kerapatan
berbeda dan semua dalam keadaan diam, zat cair yang bermacam-macam
tersebut akan membentuk lapisan-lapisan horizontal dengan zat cair yang

30
kerapatannya paling tinggi terdapat di paling bawah. Sedangkan yang
kerapatannya paling rendah terletak di paling atas, dengan catatan masing-
masing tidak melarutkan yang lainnya. Ini bisa dilihat pada gambar 3.4.1.b

(a) (b)

Gbr 3.4.1 Piezometric head dalam zat cair diam.


(a) Zat cair homogen.(b) Beberapa zat cair dengan kerapatan berbeda.

Jika kerapatan zat cair yang paling ringan adalah 1 dan kedalamannya h1
yang berikutnyaa 2 dan h2 dan seterusnya. Tekanan pada antarmuka yang
pertama adalah:
p1 = p0 + 1 gh1
dengan p0 tekanan pada permukaan zat cair yang lebih atas. Tekanan pada
antarmuka kedua adalah:
p2 = p1 + 2 gh2 = p0 + 1 gh1 + 2 gh2 dan seterusnya.

31
Contoh:
Batas kedalaman yang boleh ditempuh dengan aman oleh seorang penyelam
adalah sekitar 50 meter. Berapakah intensitas tekanan pada kedalaman itu
dalam (a) air tawar, (b) air laut.
Penyelesaian :
a. Dari persamaan (3.4.2), p = gh = (1000)(9.81)(50) = 4.91x 105 pa ukur
b. Gravitasi jenis air laut 1.025, maka
p = (1.025)(1000)(9.81)(50) = 5.03 x 105 pa ukur

3.5. Manometer
Manometer adalah alat untuk mengukur perbedaan tekanan antara suatu titik
dengan tekanan atmosfir lokal dengan cara mengukur tinggi kolom cairan.
3.5.1.Manometer Standard
Type manometer yang paling sederhana adalah piezometer (gb 3.5.1).
Manometer tipe ini hanya dapat mengukur tekanan diatas tekanan atmosfir
lokal dan tidak dapat mengukur tekanan negatif, karena udara akan mengalir
masuk dalam kontainer melalui tabung. Juga tidak praktis untuk mengukur
tekanan yang besar karena membutuhkan tabung vertikal yang sangat
panjang.

Gb.3.5.1. Manometer sederhana


Jika gravitasi jenis cairan S, maka tekanan pada titik A adalah
pA = h = air.Sh

32
Untuk mengukur tekanan positif atau negatif yang kecil digunakan
manometer seperti gb. 3.5.1.b,dimana posisi meniscus mungkin berada di
bawah A. Karena tekanan pada meniscus sama dengan nol gage, pA + h =
patm
pA
pA = - h (gage) Sh
air
Untuk pengukuran tekanan positif atau negatif yang lebih besar digunakan
manometer seperti gambar 3.5.1.c, yang menggunakan fluida kedua yang
gravitasi jenisnya lebih besar.
pA + 1h2 - 2h1 = patm.
pA = patm + 2h1 - 2h1 (abs)
pA
= S2 h1 - S1 h2 (gage) (3.5.1)
air
Jika fluida di A adalah gas, h2 s1<<< h1s2 maka
pA
= S2 h1 (gage) (3.5.2)
air

3.5.2. Manometer Diferensial (Differential Manometer)


Manometer jenis ini digunakan hanya untuk mengetahui perbedaan tekanan
antara dua titik A dan B, dan tidak mengukur tekanan aktual dari tiap- tiap
titik tersebut.

Gb. 3.5.2. Manometer Diferensial

33
Dari gambar a:
pA- h1 1 - h2 2 + h3 3 = pB
pA - pB = h1 1 + h2 2 - h3 3 . (3.5.3)
atau
hA - hB = h1S1 + h2S2 - h3S3 (kolom air) (3.5.4)
Dari gambar b:
pA+ h1 1 - h2 2 + h3 3 = pB
pA- pB = - h1 1 + h2 2 + h3 3 (3.5.5)
atau
hA - hB = - h1S1 + h2S2 + h3S3 (3.5.6)
Manometer diferensal sering digunakan untuk mengukur perbedaan tekanan
pada tabung venturi

Gb. 3.5.3. Manometer diferensial pada meter venturi

pA + yA - h 1 - (yB -h) = pB
pA- pB = h 1 + (yB -h) - yA
pA- pB = h ( 1 - ) + (yB - yA) (3.5.7)

pA pB
= h 1 1 + yB - yA (3.5.8)

dengan mengingat

34
1 S1
, maka
S
pA pB S1
=h( -1) + yB - yA (3.5.9)
S
3.5.3Manometer Mikro (Micromanometer)
adalah alat yang digunakan untuk mengukur perbedaan tekanan yang kecil
dengan ketelitian tinggi.

1- 1 : Level cairan pada reservoir pada saat


normal (belum dihubungkan ke titik
pengukuran)
0 - 0 : Level cairan tabung U (S3) sebelum
dihubungkan ke titik pengukuran.
A : Luas penampang riservoir
a : Luas penampang tabung U

Gb 3.5.4. Manometer Mikro

Bila C" dan D" dihubungkan ke titik pengukuran, maka :


Cairan S2 : kiri : turun sejauh y
kanan : naik setinggi y
1
Cairan S 3 : kiri : turun sejauh 2 R
1
kanan : naik setinggi 2 R

R Ra
y.A = a y =
2 2A
Persamaan untuk manometer, didasarkan dari titik C

35
R R
pC + (k1 + y ) 1+ (k2 - y + ) 2 - R 3 - (k2 - + y ) 2
2 2
- (k1 - y) 1 = pD
pC - pD = -2 y 1+ 2 y 2 - R 2 + R 3 (3.5.10)
a a
pC- pD = R( 3 - 2(1 - ) - 1 ) (3.5.11)
A A
Parameter di dalam kurung bernilai konstante maka perbedaan tekanan
proporsional terhadap R
pC- pD = (K)R (3.5.12)

3.5.4. Manometer miring (inclined manometer)

Gb. 3.5.5. Manometer Miring


Manometer ini sering dipakai untuk mengukur perbedaan tekanan yang kecil
dari tekanan gas.
3.6. Gaya hidrostatis pada bidang datar yang tenggelam

Gb. 3.6.1. Gaya hidrostatis pada bidang datar yang tenggelam

36
Berat jenis fluida dianggap konstan, dan tekanan bervariasi secara linier
terhadap kedalaman. Persoalan hidrostatis disederhanakan sedemikian rupa
sehingga hanya melibatkan pusat luasan (centroid) dan momen inersia dari
luasan penampang bidang yang bersangkutan.
Sekarang kita tinjau elemen A dari luasan bidang tersebut dengan
kedalaman h, maka tekanan pada titik tersebut adalah
p = pa + h
Total gaya hidrostatis pada satu sisi plat:
F= p.dA

= (pa + h) dA

= paA + h dA (3.6.1)

Bentuk integral had diselesaikan dengan memperhatikan gambar di

atas.
h = l sin dan
1
lCG =
A ldA

ldA = A lCG

maka persamaan (3.6.1) akan menjadi:


F = pa A + sin ldA

= pa A + sin lCGA
= pa A + hCG A
= pa + hCG) A
F = pCG A (3.6.2)
Jadi gaya hidrostatis pada suatu bidang permukaan yang tenggelam pada
fluida yang seragam (uniform) besarnya sama dengan tekanan pada pusat
luasan bidang tersebut dikalikan luas bidang dan tidak tergantung pada
bentuk bidang dan sudut kemiringan ( ).

37
Akan tetapi titik tangkap gaya resultan F tidak pada sentroid CG tetapi pada
titik CP yang disebut pusat penekanan (center of pressure) . Jika koordinat
CP terhadap CG adalah xCP dan yCP, maka untuk mendapatkan xCP dan yCP,
kita menjumlahkan momen-momen akibat gaya elemen p A dan hasilnya
disamakan dengan momen akibat gaya resultan F terhadap sentroid.
F yCP = y pdA (3.6.3)

1
yCP =
F y pdA

1
=
F y (pa + h )dA

1
yCP =
F
[ pa y dA + y hdA .. (3.6.4)

y dA = 0 ; karena terhadap sumbu sentroid

h = l sin
1
yCP =
F
sin y ldA (3.6.5)

Tinjau bentuk y ldA = y (lCG - y ) dA

= lCG y dA - y2 dA

= - y2 dA

Ixx = y2 dA

Maka - y2 dA = -Ixx

Sehingga persamaan (3.6.5) menjadi


1
yCP = - sin Ixx (3.6.6)
F
. sin ..Ixx
atau yCP= - (3.6.7)
p CG A
(-) menunjukkan bahwa CP berada dibawah CG

38
Menentukan xCP
F xCP = - xp dA (3.6.8)

1
xCP =
F x(pa + h)dA

1
F
= [ pa x dA + sin x (lCG -y) dA]

1
=
F
[ sin -xy dA]

1
=- sin Ixy
F

1
Jadi xCP= - sin Ixy (3.6.9)
F
Ixy
atau xCP= - sin (3.6.10)
p CG .A
Ixx selalu positif, sehingga yp selalu negatif. Ini berarti CP selalu berada
dibawah CG. Ixy bisa positif, negatif atau nol, sehingga CP bisa di kanan , di
kiri atau tepat dibawah CG (sesumbu dengan sumbu y).

Bila ada beberapa lapis zat cair


2> 1

gaya resultan F = F1 + F2
= Fi

F1 = PCG1. A1
F2 = PCG2. A2
F res = PCGi. Ai

(3.6.11)

39
Gb. 3.6.2. Gaya hidrostatis dari beberapa lapis zat cair
Untuk mendapatkan posisi CP dari masing-masing bagian:
i . sin .Ixxi
yCPi = (3.6.12)
p CGi .Ai

i . sin .Ixyi
xCPi = (3.6.13)
p CGi .Ai
CP untuk gaya resultan F dicari dengan menyamakan momen karena gaya F
dan jumlah dari momen-momen akibat gaya -gaya Fi terhadap permukaan zat
cair.

yCP =
F .y
i CPi
(3.6.14)
F

xCP =
F .x
i CPi
(3.6.15)
F

3.7. Gaya hidrostatis pada bidang lengkung (curved surface)

Gaya horizontal
FH : gaya pada bidang proyeksi dari bidang
lengkung, pada bidang datar A' B'
FH = pCG. AA'B' = hCG A A'B' (3.7.1)
Titik tangkap FH adalah pada jarak yCP dari
sentroid bidang CG
. sin .Ixx
yp = . (3.7.2)
p CG .A
Untuk bidang tegak =900 sin =1

Gb.3.7.1 Gaya hidrostatis pada bidang lengkung

40
Gaya Vertikal
dFv = p dA cos
Fv = p cos dA

p =h
dA cos = proyeksi bidang lengkung pada bidang horizontal
Fv = h cos dA

Fv = d V (3.7.3)

Titik tangkap Fv dicari dengan keseimbangan momen


Fv .xCP = x dV


xCP =
Fv x dV (3.7.4)

Contoh :
Tentkan gaya-gaya pada bidang lengkung AB pada gambar berikut:

Penyelesaian :

41
1,5
hCG = 24 - = 23,25 m.
2
FH = pCG. AA'B'
= hCG. AA'B'
= 10 (23,25) (1,5 x 1)
kN
= 348,8
meter lebar
sin .Ixx
yCP = ; = 900 sin = 1
pCG . A

. sin .Ixx
=
FH
1
(10)(1)( )(1)(1,5) 3
= 12
348,8
= 0,008 m
= 8 mm
hCP = 23,25 + 0,008 = 23,258 m
1 kN
Fv = 10 (1,5) 2 (22,5)(1,5) x1 = 355
4 m lebar
Fv bekerja pada pusat volume dari bagian ABCDA
1
V
xCP = xd V

1
xCP =
A xdA

xCP A = xCP1 A1+ xCP 2 A2


1
A1 = luas lingkaran = (1,5)2
4 4
1 4 r
xCP1 = Jarak CG lingkaran terhadap garis Bc = . (meter)
4 3
A2 = luas AA'CDA = (1,5) (22,5) meter
xCP2 = Jarak CG dari AA'CDA terhadap garis BC = 0,75 meter

42
4 r
(xCP) (355) = (1,5) 2 (0,75).(1,5).(22,5)
3 4
xCP = 0,745 meter

Fv FH
2 2
FR =

= (355) 2 (348,8) 2

= 397,68 kN / m lebar

3.8. Tegangan Tarik pada Pipa Bertekanan


Jika sebuah pipa silindris mendapat tekanan dari dalam, maka pipa itu akan
menderita tegangan tarik pada kelilingnya. Perhatikan gambar berikut ini:

Gb 3.8.1 Tegangan tarik pada pipa bertekanan

FH = p CG.A
= p.(2r x 1);
FH = 2 r p (3.8.1)
dengan : p: tekanan di dalam pipa
r : Jari-jari dalam dari pipa

Gaya tarik per satuan panjang pipa (T):


T1 = T2 ; karena FH pada pusat pipa
T1 +T2 = FH
2 T = FH

43
FH
T =
2
T = r.p (3.8.2)
Jika tebal dinding pipa = e, maka tegangan tarik pada dinding pipa ( )
adalah
T rp
= (3.8.3)
e e
Untuk variasi tekanan yang cukup besar antara bagian atas dan bawah dari
pipa, maka pusat penekanan (y) dapat ditentukan dengan dua persamaan
sebagai berikut:
T1 +T2 = 2rp
2rT1 - 2rpy = 0
Dari dua persamaan tersebut didapatkan:
T1 = p y . (3.8.4)
T2 = p (2r- y) (3.8.5)

3.9. Tegangan Tarik pada Bola Bertekanan


Gaya pada dinding dalam FH = p ( r2)
Gaya yang ditahan oleh dinding bola FH' = (2 r) e ; dengan e = tebal
dinding bola
FH = FH'
p ( r2) = (2 r) e
rp
= (3.9.1)
2e
Jadi untuk tekanan yang sama, tegangan geser pada dinding pipa silindris
sama dengan dua kali tegangan geser pada dinding bola.

3.10.Gaya Apung (Buoyancy)


Apabila sebuah benda dimasukkan kedalam zat cair maka pada tiap bagian
benda yang bersentuhan dengan fluida akan mendapat gaya tekan dari fluida
dari segala arah. Besarnya gaya tekan dipengaruhi oleh berat jenis fluida dan

44
jaraknya dari permukaan fluida. Gaya-gaya yang arahnya horizontal saling
meniadakan karena besarnya sama tetapi arahnya saling berlawanan, atau
dengan kata lain resultan gaya-gaya horizontal bernilai nol. Sedangkan gaya-
gaya yang arahnya vertikal besarnya tidak sama untuk bagian atas dan bagian
bawah dari benda tersebut, karena jaraknya dari permukaan fluida tidak sama.
Kita perhatikan gambar berikut, dan ditinjau elemen prisma dengan luas
penampang A .

Gb. 3.10.1. Gaya vertikal pada benda yang tenggelam atau terapung

Gaya tekanan di bagian atas benda (arahnya ke bawah).


F1 = p1 A = g h1 A (3.10.1)
Gaya tekan di bagian bawah benda (arahnya ke atas)
F2 = p2 A = g h2 A (3.10.2)
F2 selalu lebih besar dari F1 karena h2 lebih besar dari h1. Selisih antara gaya-
gaya vertikal bagian bawah dan bagian atas ini disebut gaya apung (FB).
FB = + F2 - F1
= g ( h2 - h1) A
= h A

FB = hdA = hA = V (3.10.3)

dengan V adalah volume dari benda tersebut.

45
Dari persamaan (3.10.3) di atas terlihat bahwa prinsip gaya apung ini sesuai
dengan hukum Archimedes:
"Gaya apung dari sebuah benda yang dimasukkan ke dalam suatu fluida
sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda tersebut"
Garis kerja gaya apung FB terletak pada jarak xB dari titik referensi O. Harga
xB dapat dihitung sbb:

xB . FB =
V
dV x

1
xB =
FB

V
x dV

1
xB =
V
V
x dV (3.10.4)

Titik tangkap dari gaya . FB disebut Center of Buoyancy . Hidrometer adalah


suatu alat untuk mengukur specific gravity zat cair dengan menggunakan
prinsip-prinsip Buoyancy.
Perhatikan gambar berikut ini.

Gb 3.10.2 Hidrometer

Stem dari hidrometer luas penampangnya = a.

Keterangan gb a (kiri) :
Cairannya adalah air (S = 1)
Hidrometer akan mengapung seimbang jika
V0 = W (3.10.5)

dengan V0 = volume hidrometer yang tenggelam

46
= berat jenis
W = berat hidrometer
Posisi permukaan air pada stem diberi tanda 1.0 (menunjukkan specific
gravity air)

Keterangan gb b (kanan) :
Sekarang hidrometer dimasukkan ke fluida yang lain dengan specivic gravity
S. Ternyata posisi tanda [1.0] tidak tepat pada permukaan cairan, tetapi
terangkat naik sejauh h .
Persamaan keseimbangan:
( V0 - V ) S =W (3.10.6)

dengan V = a. h .
Dari persamaan (3.10.5) dan (3.10.6)
( V0 - a h) S = V0 (3.10.7)

V0 S 1
h = (3.10.8)
a S

atau
V0
S= (3.10.9)
V0 ah

3.11.Stabilitas Benda Terapung / Tenggelam


Suatu benda yang terapung pada cairan statis (diam) mempunyai stabilitas
vertikal. Sedikit pergeseran keatas, akan memperkecil volume cairan yang
terpindahkan akibatnya timbul gaya ke bawah untuk mengembalikan benda
tersebut ke posisi semula. Sebaliknya sedikit pergeseran kebawah , akan
menghasilkan gaya apung keatas yang lebih besar dan mengembalikan benda
tersebut ke posisi semula.
Suatu benda dikatakan memiliki stabilitas linier jika pada waktu terjadi
sedikit pergeseran ke suatu arah, ada gaya yang mengembalikan ke posisi

47
semula. Dan memiliki stabilitas rotasi (rotational stability) jika ada momen
kopel yang mengembalikan posisinya pada waktu terkena pergeseran sudut
(angular displacement). Dalam hal stabilitas rotasi, ada 3 macam
keseimbangan pada benda terapung yaitu:
- Keseimbangan stabil
- Keseimbangan tidak stabil
- Keseimbangan netral
Benda dikatakan dalam keadaan keseimbangan tidak stabil apabila dengan
sedikit pergeseran sudut, terjadi momen kopel yang akan cenderung akan
memperbesar pergeseran sudut tersebut. Sedangkan keseimbangan netral
adalah apabila dengan pergeseran sudut tertentu tidak terjadi momen kopel
sama sekali, sehingga benda tetap berada pada posisi terakhir, karena tidak
ada kopel yang mengembalikan ke posisi semula maupun kopel yang
meneruskan pergeseran sudut tersebut.
Gambar dibawah ini (gb 3.11.1) merupakan ilustrasi dari ketiga macam
keseimbangan di atas, yaitu sebatang kayu ringan yang pada ujungnya
ditempelkan logam (metal) dan sebuah bola homogen.

Gb 3.11.1 Ilustrasi dari ketiga macam keseimbangan

(a) Jika logam berada dibawah, keseimbangannya stabil


(b) Jika logam berada diatas, benda dalam keadaan keseimbangan tidak
stabil, karena jika ada sedikit pergeseran sudut maka benda tersebut akan
ke posisi (a).

48
(c) Bola padat homogen dalam keseimbangan netral
Suatu benda yang tenggelam dalam keadaan stabil secara rotasi hanya jika
pusat berat benda (G) berada dibawah titik apung (B). Tinjau gambar
dibawah ini

Gb 3.11.2 Keseimbangan rotasi benda yang tenggelam

Jika benda diputar sedikit berlawanan arah jarum jam, maka gaya apung dan
berat benda akan membentuk kopel searah jarum jam.

Gb 3.11.3 Stabilitas dari sebuah benda berbentuk prisma

Gambar (3.11.3) adalah benda dengan penampang melintang persegi panjang


terapung pada suatu cairan. Pusat apung selalu pada sentroid dari volume
fluida yang dipindahkan, yaitu sentroid dari luas penampang dibawah
permukaan cairan. Jika benda tersebut dimiringkan seperti gambar (b) diatas,

49
pusat apung berada pada B'' yaitu sentroid dari trapesium ABCD. Arah gaya
apung ke atas melalui B', arah gaya berat ke bawah melalui G, yaitu pusat
berat (center of gravity) dari benda. Apabila dari B' ditarik garis tegak keatas
maka akan memotong garis pusat aslinya (melalui G) di titik M. Kopel yang
terjadi akan mengembalikan posisi benda ke posisi semula, maka benda
tersebut berada pada keseimbangan stabil.
Titik M disebut metasenter.
Bila M terletak diatas G : keseimbangan stabil
Bila M terletak dibawah G : keseimbangan tidak stabil
Bila M terletak pada G : keseimbangan netral.
Jarak MG disebut tinggi metasenter yang merupakan ukuran stabilitas dari
suatu benda. Besarnya kopel yang mengembalikan ke posisi semula sebesar
W MG sin , dengan : pergeseran sudut dan W adalah berat benda.
Contoh :
Sebuah benda berbentuk balok dengan panjang 15 ft, lebar 9 ft dan tinggi 4 ft
terbuat dari material yang dengan = 45 lb/ft3. Balok tersebut dimasukkan ke
dalam air (lihat gambar dibawah).
a. Berapa kedalaman benda yang tenggelam?
b. Jika dimiringkan terhadap sumbu memanjang dengan sebuah kopel (tidak
ada gaya sisa) pada sudut 120, berapa besar kopel yang mengembalikan ke
posisi semula?

Penyelesaian :
a. Benda mengapung. Dalam keadaan seimbang (diam)
W = FB.

50
(15) (9)(4) (45) = (15) (9) (d) (62,4)
d = 2,885 ft ; d : kedalaman benda tenggelam

b. Pada kemiringan 120 , AD menjadi garis muka air (water line).


Untuk mempermudah perhitungan, gaya apung dibagi menjadi dua
komponen yaitu B1 untuk bagian segiempat AEHK dan B2 untuk bagian
segitiga ADE.
DE = 2e = b tg 120 = 9 tg 120 = 1,913 ft.
NI = e = 0,957 ft
Karena tidak ada gaya sisa MN = d = 2,885 ft. Oleh karena itu :
c = IM = MN-NI = 2,885-0,957 = 1,928 ft
B1 adalah sentroid dari AEHK, maka :
GB1 = 1/2(h-c) = 1/2(4-1,928) = 1,036 ft
a1 = GB1 sin 12O = 0,215 ft
F1 = Lbc = (45)(15)(9)(1,928) = 11,710 lb
B2 adalah sentroid dari segitiga ADE, maka :
JE = b/3 = 3 ft; IJ = b/6 = 1,5 ft ; B2J = 2/3 e = 0,638 ft
G adalah sentroid dari segi empat keseluruhan, maka
MG = h/2 = 2 ft
GI = MG - MI = MG - c = 2 - 1,928 = 0,0719 ft
a2 = IJ cos 12o + (B2J - GI) sin 12o = 1,585 ft
F2 = Lbe = (45)(15)(9)(0,957) = 5810 lb
Momen pada G berlawanan arah jarum jam :
= F2a2 - F1a1 = (5810)(1,585) - (11710)(0,215)
= 6690 lbft

3.12.Keseimbangan Relatif (Relative Equilibrium)


Suatu fluida yang bertranslasi dengan percepatan linier seragam (uniform
linear acceleration) atau berrotasi seragam (uniform rotation) terhadap
sumbu tegak masih dapat mengikuti hukum-hukum variasi tekanan seperti

51
pada fluida statis. Untuk menuliskan persamaan gerak dari fluida ini, maka
dapat kita gunakan persamaan dasar pada fluida statis.
Gerakan fluida pada dua kasus diatas dikatakan bahwa fluidanya berada
dalam keseimbangan relatif.

(i) Fluida yang Mengalami percepatan Linier Konstan.


Suatu cairan di dalam bejana terbuka diberi percepatan konstan a seperti
gambar dibawah. Setelah beberapa waktu cairan berada pada suatu
percepatan dimana cairan bergerak seperti benda padat.; dengan demikian
jarak antara dua partikel fluida tetap sehingga tidak timbul tegangan geser.

3.12.1 Percepatan dengan permukaan bebas

f. -j = - p - j = a (3.12.1)
p = - (j + a)
Permukaan-permukaan dengan tekanan konstan termasuk permukaan bebas
berada tegak lurus terhadap p. Untuk mendapatkan ekspresi aljabar
mengenai variasi tekanan pada arah x, y, dan z; p = p(x, y, z), maka:
p p p
p = i +j +k = - j - (i.ax + j ay)
x y z g
p
=- ax
x g

p ay
= (1 + )
y g
p
=0
z

52
karena p merupakan fungsi dari posisi (x, y, z), total diferensialnya adalah:
p p p
dp = dx + dy + dz.
x y z
Substitusi untuk diferensial parsiil, didapatkan
ay
dp = - ax dx - (1 + )dy (3.12.2)
g g
Untuk fluida tidak mampat (incompassible) persamaan (3.12.2) dapat
diintegralkan:
ax ay
p=- x - (1 + )y+c
g g
c = konstanta integrasi, dicari dengan syarat batas, misal pada
pada x = 0,dan y = 0, harga p = p0 maka c = p0
ax ay
p = p0 - x - (1 + )y ... (3.12.3)
g g
Pada permukaan bebas, p = 0, maka persamaan (3.12.3) dapat dinyatakan
dalam bentuk:
ax p0
y=- x+ (3.12.4)
ay g ay
.(1 )
g
Persamaan ini adalah persamaan garis linier yang menunjukkan lapisan-
lapisan fluida dengan tekanan konstan, yang mempunyai kemiringan (sloop) -
ax
ay g
Contoh :
Sebuah tanki diisi minyak dengan gravitasi jenis 0,8 dan dipercepat seperti
terlihat pada gambar di bawah. Ada lubang kecil pada tangki di titik A
a. Hitung tekanan pada titik B dan C
b. Hitung percepatan ax yang diperlukan agar tekanan di B sama dengan 0.

53
Gb 3.12.2 Tank diisi penuh dengan cairan

Penyelesaian :
a. Titik A sebagai referensi, ay = 0
N m
(0,8)(9806 )(4,903 2 )
a m 3
dt x 0,8(9806 N ) y
p=- x x- y=-
g m m3
9,806 2
dt
atau
p = - 3922,4 x - 7844,8 y [Pascal]
Pada titik B, x = 1,8 m, y = -1,2m p = 2,36 k Pascal
Pada titik C, x = - 0,15 m, y = -1,35m p = 11,18 k Pa
c. Untuk tekanan di B = 0, dengan titik referensi di A
N
(0,8)(9806 )
0=0- m 3 (1, 8) (ax) - (0,8) (9806 N ) (-1,2)
m m3
9,806 2
dt
m
ax = 6,537
dt 2

ii ) Rotasi Uniform terhadap Sumbu Vertikal


Rotasi suatu fluida yang bergerak seperti benda padat terhadap suatu sumbu
pusaran paksa (Forced vortex). Dalam keadaan ini tiap partikel fluida
mempunyai kecepatan sudut yang sama. Hal ini berbeda dengan pusaran
bebas (Free Vortex motion) dimana tiap prtikel fluida bergerak dalam lintasan

54
berbentuk lingkaran kecepatan-kecepatannya yang berbeda-beda, berbanding
terbalik dengan jaraknya dari pusat putaran.
Suatu fluida di dalam suatu kontainer bila diputar terhadap sumbu vertikal
dengan kecepatan sudut ( ) konstan akan bergerak seperti gerakan benda
padat setelah interval waktu tertentu. Pada gerakan ini tidak terjadi tegangan
geser, dan percepatan yang terjadi arahnya menuju sumbu rotasi.

Gb 3.12.3 Rotasi fluida terhadap sumbu vertikal

Sumbu koordinat seperti pada gambar di atas, vektor satuan i arahnya radial
dan vektor satuan j arahnya vertikal. Persamaan dasar variasi tekanan fluida
statis
p = - j - a
Untuk kecepatan sudut yang konstan , mak setiap partikel fluida
mempunyai percepatan radial sebesar 2 r , maka a = i 2 r
p p p
p = i +j +k = - j - (i 2 r) = - j + i 2 r
r y z
p
= 2r
r g
p
= -
y
p
=0
z

55
Karena p hanya fungsi r dan y, maka diferensial totalnya :
p p
dp = dy + dr
y r
sehingga
2
dp = - dy + r dr (3.12.5)
g
untuk fluida dengan konstan, maka hasil integrasinya :
2
r
p = 2 2 .y c
g
c = konstanta integrasi, dicari dengan syarat batas, yaitu :
pada r = 0, y = 0, p = p0 , maka c = p0
2
2 r
p = p0 + . 2 - y (3.12.6)
g

Gb 3.12.4 Rotasi sebuah silinder terhadap sumbunya

Pada suatu bidang horisontal tertentu (y = 0), p0 = 0, maka naiknya permukaan


fluida dari vertex pada dinding silinder :
p 2r 2
h= = (3.12.7)
2g
Persamaan di atas menunjukkan bahwa head atau kedalaman vertikal
bervariasi sebagai fungsi kuadrat dari radius. Permukaan-permukaan dengan
tekanan yang sama berupa bidang paraboloida

56
Volume cairan di atas bidang horisontal lewat vertex sama dengan volume
silinder mula-mula di atas bidang horisontal lewat vertex.
Volume paraboloida adalah setengah luas alas dikalikan tingginya, maka
garis permukaan horisontal aslinya berada tepat ditengah-tengah antara titik
tertinggi dan terendah dari permukaan bebas.
Penurunan permukaan fluida pada sumbu rotasi
h0 2 r 2
.. (3.12.8)
2 4g
Demikian juga kenaikan permukaan fluida pada dinding silinder mempunyai
h0
harga yang sama yaitu .
2

57
BAB IV
KONSEP ALIRAN FLUIDA DAN PERSAMAAN-
PERSAMAAN DASAR.

4.1. Klasifikasi Aliran


Aliran dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kategori sebagai berikut:
a. Berdasarkan konfigurasi dari lapisan-lapisan fluida selama bergerak: aliran
laminer dan aliran turbulen
b. Berdasarkan perubahan variabel di suatu titik pada saat yang berbeda
var iabel
( ) : aliran steady dan aliran unsteady.
t
c. Berdasarkan perubahan variabel dititik-titik yang berbeda pada saat yang
var iabel
sama ( ): aliran uniform dan aliran non uniform.
s
d. Berdasarkan karakter fluidanya : aliran fluida ideal dan aliran fluida riil.
e. Berdasarkan dimensi dari variasi variabel (kecepatan, tekanan dan lain-
lain).
Aliran 1 dimensi, 2 demensi, dan 3 dimensi.

a. Aliran Laminer dan Turbulan


Pada aliran laminer partikel fluida bergerak pada lintasan yang halus (smooth)
berbentuk lamina-lamina atau lapisan-lapisan dimana satu lapis fluida
bergerak secara smooth diatas lapisan yang lain. Dalam aliran laminer
pengaruh viskositas akan meredam kecenderungan adanya turbulensi (swirling
motion). Aliran laminer menjadi tidak stabil pada kondisi : viskositas rendah
dan kecepatan tinggi. Dalam kondisi seperti ini aliran akan cenderung untuk
menjadi aliran turbulen.
Keadaan aliran turbulen merupakan hal yang paling banyak kita jumpai
dalam bidang teknik. Pada aliran turbulen partikel fluida bergerak dalam

58
lintasan yang tidak teratur yang menyebabkan terjadinya pertukaran
momentum dari satu bagian fluida kebagian fluida yang lain. Partikel fluida
yang bergerak tidak teratur ini bisa dalam ukuran kecil (hanya ribuan molekul
fluida saja) sampai ukuran sangat besar (misalnya pusaran air sungai, angin
ribut dan lain-lain). Pada aliran turbulen, tegangan geser yang timbul akan
relatif lebih besar dari pada aliran laminer, sehingga kerugiannyapun juga
lebih besar. Kalau kerugian pada aliran laminer sebanding dengan V, maka
pada aliran turbulen sebanding dengan V (1,7 s/d 2 ).
Perhitungan tegangan geser pada aliran turbulen t merupakan persoalan yang
sangat sulit. Tetapi dengan menganalogikan pada aliran laminer dan hukum
Newton mengenai viskositas sesuai dengan konsep dari teori-teori statistik
atau kinetik dari gerakan partikel maka pendekatan Boussinesq dapat dan
sering digunakan untuk menganalisis aliran turbulen.
u
t = = xy (4.1.1)
y
Disebut viskositas Eddy (Eddy viscossity)
Viskositas Eddy bukan merupakan sifat fluida seperti masa jenis, viskositas
dan lain-lain, tetapi merupakan faktor yang tergantung dari gerakan dan sifat-
sifat aliran fluida.
Suatu aliran termasuk aliran laminer atau turbulen, tergantung bilangan
Reynold (Reynold number)nya.
V.d. V.d
Re = = (4.1.2)

Re di bawah 2000 : aliran laminer
Re = 2000 sampai dengan 4000 : transisi, cenderung berubah menjadi turbulen
Re di atas 4000 : aliran turbulen penuh

b. Aliran stedi (steady flow) dan Aliran tidak stedi (Unsteady flow)
Aliran stedi terjadi bila kondisi pada suatu titik dalam suatu fluida (misalnya
massa jenis, tekanan, suhu, konsentrasi, kecepatan) tidak berubah terhadap
waktu.

59
p T C v
=0, = 0, = 0, = 0, =0
t t t t t
Pada aliran yang turbulen, karena gerak partikel fluidanya tidak teratur, maka
selalu timbul fluktuasi kecil pada suatu titik. Kecepatan rata-rata pada saat
tertentu adalah:
1 ttp
v
tp
t
vdt

Contoh aliran steady adalah air yang dipompa dengan kapasitas konstan pada
suatu sistim yang tetap.
Aliran disebut tidak stedi apabila keadaan pada suatu titik berubah terhadap
waktu.
p T C v
0, 0, 0, 0, 0
t t t t t
Contoh: Air yang dipompakan pada suatu sistim yang tetap dengan kapasitas
yang berubah-ubah.

c. Aliran Seragam (Uniform) dan Aliran Tidak Seragam (Non Uniform)


Aliran Seragam terjadi apabila pada setiap titik fluida mempunyai vektor
kecepatan atau variabel lain yang sama (besar dan arahnya) pada suatu saat
v
tertentu. Dalam bentuk persamaan = 0, dengan s adalah perpindahan pada
s
sembarang arah. Aliran yang vektor kecepatannya bervariasi di beberapa titik
v
pada saat yang sama ( 0) disebut aliran non uniform.
s
Dari uraian diatas, sudah dapat dijelaskan beberapa contoh dibawah ini:
- Cairan mengalir melalui pipa panjang dan lurus dengan debit konstan:
aliran steady Uniform.
- Cairan mengalir melalui pipa panjang dan lurus dengan debit berubah-
ubah: aliran unsteady Uniform.
- Cairan mengalir melalui pipa yang diameternya membesar dengan debit
konstan : aliran steady non Uniform.

60
- Cairan mengalir melalui pipa yang diameternya membesar dengan debit
berubah-ubah : aliran Unsteady non Uniform.

d. Aliran Fluida Ideal dan Riil


Fluida ideal adalah fluida tanpa gesekan (frictionless) dan tidak mampat
(incompressible). Pengasumsian suatu fluida sebagai fluida ideal dimaksudkan
untuk membantu menganalisis kondisi aliran yang mengalami ekspansi cukup
besar, seperti lautan. Fluida frictionless berarti tidak viskos (nonviscos) dan
proses alirannya mampu balik (reversible) atau tanpa kerugian (lossfree).
Sedangkan fluida riil adalah fluida yang tidak memenuhi persyaratan-
persyaratan sebagai fluida ideal.

e. Aliran Satu Dimensi, Dua Dimensi dan Tiga Dimensi


Aliran satu dimensi (1D) yaitu aliran yang mengabaikan variasi tekanan,
kecepatan, dan lain-lain pada arah selain arah alirannya sendiri. Kondisi pada
suatu penampang melintang dinyatakan dengan mengambil harga rata- rata
dari kecepatan, tekanan, massa jenis dll diseluruh potongan melintang yang
tegak lurus arah aliran utama tersebut. Aliran melewati pipa dapat dianggap
sebagai contoh aliran satu dimensi. Pada aliran dua dimensi (2D), semua
partikel fluida diasumsikan mengalir pada bidang-bidang paralel yang serupa
sepanjang aliran, jadi tidak ada perubahan parameter pada arah normal
terhadap bidang-bidang tersebut. Perubahan yang terjadi hanya pada arah
vertikal dan horisontal yang searah dengan arah aliran.
Sedangkan aliran 3 dimensi (3D) adalah aliran yang mengalami perubahan
pada ketiga arah yaitu kearah x, y, dan z. Aliran tiga dimensi merupakan
aliran paling kompleks dan paling sulit analisis maupun penyelesaiannya,
sehingga diperlukan penyederhanaan- penyederhanaan supaya persoalan
aliran dapat diselesaikan dengan satu atau dua dimensi.
Contoh aliran tiga dimensi adalah aliran air sungai.

61
4.2. Konsep Aliran Fluida
Dari gambar 4.2.1 (a) terlihat bahwa pada gerakan benda padat, jarak dan
kedudukan relatif antara partikel-partikelnya konstan. Perubahan posisi,
momentum linier, dan energinya dapat didiskripsikan dengan hukum-hukum
mekanika zat padat yang sederhana.
Sedangkan untuk fluida yang bergerak (gb 4.2.1.b), jarak dan kedudukan
relatif antar partikel-partikelnya akan berubah. Yang disebut sisitim dalam
aliran fluida adalah fluida yang kita tinjau dan bermassa tetap serta tidak
tercampur dengan zat-zat disekelilingnya (surrounding). Antara sistim dan
sekeliling dibatasi oleh suatu lapis batas (boundary).
Lapis batas dari suatu sistim membentuk suatu permukaan tertutup, dan
bidang ini dapat berubah dari waktu ke waktu sedemikian rupa sehingga
massa yang terdapat didalam sistim tersebut selalu sama atau konstan.

Gb. 4.2.1 Gerakan zat padat dan fluida.

62
dm
0 (4.2.1)
dt
Hukum II Newton untuk suatu gerakan biasanya dinyatakan:
d
F=
dt
(mv) (4.2.2)

dengan F = resultan dari seluruh gaya-gaya luar yang bekerja pada

sistim, termasuk gaya berat.


m = massa sistim yang konstan
v = kecepatan dari pusat massa sistim.

4.3. Stream Line dan Streak Line


Stream line adalah garis kontinyu yang ditarik pada suatu medan aliran,
dimana setiap titik pada garis itu menyatakan arah vektor kecepatan dari
aliran. Oleh karena itu stream line tidak mungkin saling berpotongan. Pada
aliran stedi, karena pada semua titik tidak ada perubahan kecepatan terhadap
waktu, maka pola stream line setiap saat bentuknya tetap.

Fig
Gb 4.3.1 Streamline untuk aliran stedi di sekitar silinder antara dua dinding paralel

Setiap partikel fluida bergerak (melintas ) pada arah sesuai streamline pada
suatu saat, dan berpindah sejauh s . s searah dengan v, maka operasi cross
vektor vX s = 0

63
v = iu + jv +kw
s = i dx + j dy + k dz
i j k
vX s = u v w =0
dx dy dz

i(v.dz-w.dy)-j(u.dz-w.dx)-k(u.dy-v.dx) = 0
dz dy
v.dz = w.dy =
w v
dz dx
u.dz = w.dx =
w u
dy dx
u.dy = v.dx =
v u

Akhirnya didapatkan
dx dy dz
... (4.3.1)
u v w
Persamaan ini merupakan persamaan umum streamline pada aliran tiga
dimensi. Bidang yang dibentuk oleh beberapa streamline disebut stream
surface. Bila bidang yang dibentuk merupakan bidang tertutup, maka saluran
dalam bidang tersebut dinamakan streamtube. Pada streamtube tidak ada
komponen kecepatan yang menembus dindingnya, alirannya searah dengan
arah saluran. Dengan pengertian ini maka pipa yang dialiri fluida dimana
tidak ada komponen fluida yang menembus dindingnya, dapat dipandang
sebagai streamtube
Streakline adalah tempat kedudukan sesaat semua partikel fluida. Kalau
bahan pewarna disuntikkan kedalam sebuah aliran fluida dari sebuah titik
tertentu dalam aliran itu dan kemudian difoto, maka gambar yang dihasilkan
akan memperlihatkan sebuah streakline. Dan jika alirannya tidak stedi maka
foto yang didapat pada saat yang berlainan akan memperlihatkan streakline
yang berbeda-beda.

64
4.4 Volume Kendali (Control Volume)
Suatu control volume merupakan suatu daerah di dalam ruang dimana aliran
dapat masuk dan keluar dari ruangan tersebut. Batas (boundary) dari control
volume disebut control surface. Control volume selalu fixed terhadap sistim
koordinat xyz. Perhatikan gambar berikut:
Jika N adalah suatu besaran (misalnya: massa, energi atau momentum) dari
N
sistim pada saat t, dan adalah besaran N per satuan massa atau ,maka
m
laju membesarnya N di dalam sistim dapat diformulasikan dalam control
volume.

N sis ( t t ) N sis ( t ) dV dV dV
II III t t II t
dengan dV = elemen volume

Gb. 4.4.1 Control volume pada sebuah sistim

65
Bila ruas kanan ditambah dan dikurangi dengan dV kemudian
I t t
semua ruas dibagi dengan t , maka :

dV dV dV
N sis ( t t ) N sis ( t ) II I t t II t

t t
dV dV
III t t I t t
. (4.4.1)
t t
Ruas kiri dari persamaan (4.4.1) menyatakan laju membesarnya N dalam
dN
sistim selama t . Untuk t mendekati nol, maka limitnya menjadi .
dt
Sedangkan dua integral pertama diruas kanan (A) adalah besaran N dalam cv
saat (t + t ), integral ketiga (B) menyatakan besaran N dalam cv saat (t).

lim A-B =
t 0 t ..dV
cv

Integral keempat (c) adalah laju keluarnya N dari cv saat (t + t )


lim C-D =
t 0 ..v.dA
cs

maka limit dari persamaan (4.4.1) menjadi


dN
dt

t ..dV + ..v.dA
cv cs
(4.4.2)

4.5. Konservasi Massa


Prinsip konservasi massa adalah: pada suatu sistim, massa tidak pernah
dm
berubah terhadap waktu; 0 . Maka variabel- variabel pada persamaan
dt
(4.4.2), adalah : N = massa atau m
= massa/massa satuan = 1
= kerapatan

66
V = volume
v = kecepatan;

dm
dt t cv
maka: .dV .v.dA 0 .. (4.5.1)
cs

Persamaan kontinyuitas untuk control volume menyatakan bahwa laju


bertambahnya massa terhadap waktu di dalam suatu control volume ditambah
laju massa netto yang meninggalkan control volume lewat permukaan sama
dengan nol. Tinjau: aliran stedi lewat suatu
streamtube

Gb. 4.5.1. Control volume dari aliran lewat tube

Untuk aliran stedi:



t cv
( . dV ) = 0

Persamaan kontinyuitas :
0+ .v.dA = 0
CS
. (4.5.2)

Persamaan ini harus digunakan pada setiap control surface dimana massa
fluida masuk dan keluar. Oleh karena itu :

v .dA
CS!
1 1 + v
CS 2
2 .dA 2 = 0 ; dot product dari vektor- vektor ini

67
- v1dA1 +
CS!
v dA
CS 2
2 2 =0

sehingga v dA
CS!
1 1 = v dA
CS 2
2 2 .. (4.5.3)

Jika 1 dan 2 konstan pada penampang melintang sisi masuk dan sisi

keluar, maka 1 v1dA1 =


CS1
2 v dA
CS 2
2 2

Akan lebih baik jika dinyatakan dengan kecepatan rata- rata (V), yaitu
1
V=
A
A
v. dA

maka V1A1 =
CS1
v dA 1 1 dan V2A2 = v dA
CS 2
2 2

sehingga 1 V1A1 = 2 V2A2 = m . (4.5.4)


dengan m adalah laju aliran massa (mass flow rate) dalam kg/dt atau slug/dt.
Untuk aliran stedi laju aliran massa konstan. Jika laju aliran volumetrik (Q)
dedefinisikan sebagai Q = AV dan untuk fluida incompressible, maka Q =
V1A1 = V2A2 sehingga persamaan kontinyuitas dapat dinyatakan dalam
bentuk:
m = 1 Q1 = 2 Q2 (4.5.5)
Contoh :
Pada bagian 1 dari sebuah pipa yang dialiri air (gb 4.5.2) kecepatannya adalah
3 ft/dt dan diameternya 2 ft. Pada bagian 2 diameternya 3 ft. Hitung laju
aliran volumetrik dan kecepatan pada bagian 2.

68
Gb 4.5.2 Control volume untuk aliran melalui pipa secara seri

Penyelesaian :

Q = V1A1 = (3ft) (2ft)2 = 9,42 ft3/dt
4
Q 4
V2 = = (9,42ft3/dt) = 1,33 ft/dt
A2 (3ft ) 2

Gb. 4.5.3. control volume untuk aliran multi inlet

69
Jika ada beberapa sisi masuk (inlet) dan atau sisi keluar (outlet), maka
persamaan control volume harus dikembangkan, misalnya pada interseksi
berbentuk T pada gambar (4.5.3), persamaan kontinyuitasnya menjadi:
- 1V1A1 - 3V3A3 + 2V2A2 = 0
V1A1 + V3A3 = V2A2 (4.5.6)
Q1+ Q3 = Q2 (4.5.7)
Kesimpulan : pada sebuah control volume debit aliran masuk sama dengan
debit aliran keluar.
4.6. Persamaan Momentum Linier
Hukum II Newton digunakan untuk dasar perhitungan bentuk control volume
dari persamaan momentum linier. Disini variabel N adalah momentum linier
.v
dari sistim (mv) dan adalah momentum linier persatuan massa ( = =

v); maka persamaan (4.4.2) akan berbentuk
d (mv)
t cv
F= = v dV + v v. dA (4.6.1)
dt CS

Dari persamaan ini dapat dikatakan bahwa gaya resultan yang bekerja pada
suatu control volume sama dengan laju membesarnya momentum linier
ditambah laju netto momentum yang meninggalkan control surface.
Pernyataan ini dapat digunakan untuk menjabarkan persamaan gerak fluida
sepanjang garis alir (persamaan Euler) yang akan diuraikan pada bab
berikutnya.

70
Gb. 4.6.1. control volume untuk aliran lewat pipa
Gb. (4.6.1) menunjukkan sebuah control volume untuk aliran melalui pipa
dengan titik 1 sebagai sisi masuk dan titik 2 sebagai sisi keluar.
Jumlah vektor gaya-gaya luarnya:
F = W + Fp1 + Fp2 + F o + Fw
Dengan :
W = gaya berat = volume dari control volume x berat jenis
Fp1 = gaya tekan pada sisi masuk
Fp2 = gaya tekan pada sisi keluar
Total vektor gayanya adalah
Fp = p.dA p.n.dA
cs cs

n adalah vektor satuan yang normal terhadap permukaan, positif jika aliran
meninggalkan permukaan. Fp = pA

Fo = gaya geser pada dinding


Fw = gaya tekan

71
Pertukaran momentum pada sisi masuk M1 dan sisi keluar M2 dapat
dianalisis dengan asumsi alirannya stedi. Maka ruas kanan dari persamaan
(4.6.1) dapat ditulis:
M1 + M2 =
cs .1
v1 ( 1 v1. dA ) +
cs 2
v2 ( 2 v2. dA) (4.6.2)

M1 + M2 = -( V1 A1) V1 + ( V2 A2.) V2 (4.6.3)


M1 = - 1 Q V1 (4.6.4)
M2 = 2 Q V2 (4.6.5)
Oleh karena itu pada setiap luasan, M tegak lurus permukaan dan arahnya
meninggalkan control surface baik pada sisi masuk maupun sisi keluar. Dari
hukum II Newton, bentuk akhir dari control volume yang stedi.
W + Fp1 + Fp2 + F = M1 + M2 (4.6.6)
Faktor Koreksi Momentum
Apabila kecepatan bervariasi pada penampang melintang dari control surface,
faktor koreksi momentum harus diperhitungkan, sebelum menggunakan
kecepatan rata-rata.


A
v2 dA = V2 A (4.6.7)

1 v2
=
A
A
dA
V
(4.6.8)

Maka persamaan (4.6.6) akar terkonveksi menjadi


W + Fp1 + Fp2 + F = 1 M1 + 2 M2 .. (4.6.9)
4
Untuk aliran laminier dalam pipa bulat yang lurus = . Dan apabila
3
alirannya uniform = 1. tidak pernah berharga kurang dari 1.
Aplikasi dari persamaan momentum linier ini adalah pada analisis aliran yang
dibelokkan, fixed and moving vanes, propeler, dsb.

72
4.7. Persamaan Energi
Hukum pertama thermodinamika menyatakan bahwa panas QH yang
ditambahkan pada suatu sistim dikurangi kerja yang dilakukan oleh sistim
(W) hanya tergantung pada keadaan awal dan akhir dari sistim.
QH - W = E2 - E1 (4.7.1)
Dengan E = energi dalam (internal Energy). Jika energi dalam per massa
satuan disebut e maka dalam persamaan (4.4.2), N = E dan = e
dE
dt
=
t edV +
CV CS
ev.dA . (4.7.2)

atau dengan menggunakan persamaan (4.7.1)


QH W dE
- = =
t t dt t edV +
CV CS
ev.dA .. (4.7.3)

Kerja yang dilakukan oleh sistim pada sekeliling dapat diuraikan menjadi
dua, yaitu kerja Wpr yang dilakukan oleh gaya-gaya tekan pada lapis batas
yang bergerak, dan kerja Ws yang dilakukan oleh gaya-gaya geser seperti
torsi yang timbul pada poros yang berputar. Kerja yang dilakukan oleh gaya-
gaya tekan selama t adalah :
Wpr = t pv. dA ( 4.7.4)

Dengan menggunakan definisi kerja, maka persamaan (4.7.3) menjadi :


QH Ws p
t
-
t
=
t edV + e v.dA
CV CS
(4.7.5)

Jika tidak ada efek nuklir, listrik, magnetik dan tegangan permukaan, energi
dalam (e) suatu zat murni adalah jumlah energi potensial, energi kenetik dan
inergi intrinsik. Energi intrinsik per satuan massa u disebabkan oleh gaya
molekuler (bergantung pada p, atau T). Maka internal energi didefinisikan :

V2
e = gz + + u (4.7.6)
2
Apabila alirannya stedi, maka persamaan (4.7.5) menjadi :
QH Ws p
t
-
t
= e v.dA ..
CS
(4.7.7)

73
Penerapan persamaan (4.7.6) pada masing-masing control surface:
QH Ws p p2
- = 1 e1 1 v1 .dA1 + CS2 2 2 v 2.dA 2 .
e
t t CS1 1
2

(4.7.8)
Vektor kecepatan tegak lurus dengan luasan maka dot product pada
sisi masuk v1.dA1 bertanda negatif
QH Ws p1 p2
t
-
t
=-
CS1 1
e1 1 v1 .dA1 +
CS 2
2
e 2 2 v 2. dA 2

Substitusi e (persamaan 4.7.6) ke dalam persamaan diatas didapatkan:
QH Ws p1 v1
2

- =- gz 1
u 1 1 v1dA1 +
t t
CS1 1
2

p2 v2

CS 2
gz 2 2 u 2 2 v 2 .dA 2 ..
2 2
(4.7.9)

Persamaan enargi pada keadaan stedi.


Asumsi-asumsi yang digunakan :
1. Alirannya uniform, maka u konstan sehingga uv.dA = u v.dA (4a)
CS CS

2.
CS
gz v.dA = gzc
CS
v.dA (4b)

zc = ketinggian sentroid dari luasan inlet


p p
3.
CS

v.dA =

CS
v.dA (4c)

p p
4.
CS
(

+ gz) v.dA = ( + gz)

CS
v.dA (4d)

1 v3
5. Faktor koreksi untuk energi kenetik = dA (4e)
A V

V2
adalah energi kinetik rata-rata per satuan massa yang melewati
2
penampang aliran.
6. v.dA = VA = m (= laju aliran massa) (4f)

74
QH p V2
+ 1 gz 1 1 1 u 1 1V1. A1 = Ws +
t 1 2 t

p2 v 22
gz2 2 u 2 .2 v 2 .dA2 (4.7.10)
.2 2
persamaan ini akan lebih baik jika dinyatakan per laju massa aliran, sehingga
persamaannya menjadi :
p V2 p2 v2
qH + 1 gz1 1 1 u1 = ws + gz2 2 2 u 2 (4.7.11)
.1 2 .2 2
qH = panas yang ditambahkan per massa satuan.
ws = kerja poros per massa satuan, positif untuk turbin, negatif untuk pompa.
Persamaan (4.7.7) dapat dikembangkan untuk inlet dan atau outlet jamak
(multiple inlet and our outlet), maka persamaan (4.7.12) menjadi:

QH p V2 p V2
+ 1 gz 1 1 1 u 1 1 V1 A 1 + 3 gz 3 3 3 u 3 3 V3 A 3
t 1 2 3 2

Ws p 2 v 22
=
+ gz u 2 2 V2 A 2 . (4.7.13)
t 2
2 2
2

Kemampubalikan (Reversibility), Ketakmampubalikan (irreversibility)


dan kerugian (losses)
Proses biasanya menyebabkan suatu perubahan pada sekelilingnya, misalnya
memindahkan panas ke atau dari lapis batasnya. Apabila proses itu dapat
balik, yakni kembali ke keadaan awal tanpa perubahan akhir pada sistim dan
sekelilingnya, maka proses seperti ini disebut mampu balik (Reversible).
Proses mampu balik merupakan keadaan ideal, yang pada aliran nyata dari
fluida riil tidak pernah tercapai, dikarenakan adanya gesekan, viskositas dan
lain-lain. Setiap proses nyata tidak mampu balik (irreversible). Oleh karena
itu di dalam perancangan perlu diusahakan agar keadaannya mendekati
mampu balik.

75
Ketakmampubalikkan suatu proses adalah beda antara banyaknya kerja yang
dapat dilakukan oleh suatu zat yang berubah dari keadaan satu ke keadaan
lainnya melalui suatu lintasan secara mampu balik terhadap kerja nyata yang
dihasilkannya untuk lintasan yang sama. Dalam kondisi tertentu,
ketakmampubalikan suatu proses disebut kerja hilang (losses work).
Persamaan energi untuk control volume yang menyertakan kerugian (secara
empirik) untuk massa satuan.
V2
qH + (u2 - u1) = K (4.8.1)
2
K disebut koefisian kerugian atau koefisien kehilangan (loss coefficient) yang
didapat dari eksperimen laboratorium. Ini merupakan kerugian lokal yang
terjadi pada aliran yang mengalami perubahan secara cepat, misalnya pada
difuser, elbow dan outlet. Maka persamaan (4.7.11) akan menjadi (dinyatakan
dalam bentuk energi per massa satuan):
p1 V2 p V2 V2
gz 1 1 1 = ws + 2 gz 2 2 2 u 2 + K ...

1 2
2 2 2

(4.8.2) dengan V: kecepatan rata-rata antara sisi (1) dan sisi (2) dimana
kerugian tersebut terjadi. Persamaan diatas juga dapat dinyatakan dalam
bentuk energi per berat satuan dengan cara membaginya dengan g.
2
p1 V p V2 V2
+ z1 + 1 1 = Hs + 2 + z2 + 2 2 + K .. (4.8.3)
1 2g 2 2g 2g
Pada persamaan ini satuannya menjadi N.m/N atau ft.lb/lb. Hs menyatakan kerja
poros ws dibagi g, disebut head dari poros. Hs dapat mewakili head pompa (harga
negatif) dan head turbin (harga positif).

76
BAB V
KONSERVASI ENERGI MEKANIK DAN PERSAMAAN
BERNOULLI

5.1. Persamaan Euler Sepanjang Garis Aliran


Gambar 5.1.1 di bawah merupakan ilustrasi dari sebuah control volume
berbentuk prisma yang berukuran kecil, dengan luas penampang melintang
A dan panjang s . Kecepatan fluida mengikuti garis aliran s.

Gb. 5.1.1. Penerapan persamaan kontinyuitas dan persamaan momentum


pada aliran melalui volume kendali pada garis aliran s.

Dengan asumsi bahwa fluida tanpa gesekan (viskositasnya nol), gaya-gaya


yang bekerja pada volume kendali dalam arah s hanyalah gaya-gaya ujung
(end forces) dan gaya beratnya. Persamaan momentum diterapkan pada
volume kendali pada komponen s.


Fs = t
(v)sA + vv. dA ( 5.1.1)
cs

77
s dan A bukan merupakan fungsi waktu.
Gaya-gaya yang bekerja adalah:
p
Fs = p A - ( pA s sA ) - gs.A cos
p z
=- s.A - g sA (5.1.2)
s s
Karena bila s bertambah, koordinat vertikal bertambah sedemikian rupa
hingga
z
cos =
s
Dalam laju bersih aliran momentum s keluar harus memperhitungkan aliran
yang melalui permukaan silinder mt, maupun aliran yang melalui permukaan
- permukaan ujung (gb.c).

vv. dA = mt v - Av
cs
2
+ Av 2 (Av 2 )s (5.1.3)
s
Untuk menentukan nilai mt, kita mempergunakan persamaan kontinyuitas
pada volume kendali (gb.d)

0= As m t (v)A.s .. ( 5.1.4)
t s
Pelenyapan mt pada persamaan (5.1.3) dan ( 5.1.4) serta penyederhanaan,
menghasilkan:
v
v v.dA = v s v t A.s
cs
(5.1.5)

Substitusi persamaan (5.1.3) dan persamaan (5.1.5) ke persamaan (5.1.1)


menghasilkan :
p z v v
g v A.s 0
s s s t
setelah pembagian seluruhnya dengan As dan pengambilan limit untuk
A serta s mendekati nol, maka persamaan tersebut menjadi
1 p z v v
g v + = 0 . (5.1.6)
s s s t

78
Kita telah membuat dua asumsi, yaitu (1) bahwa alirannya mengikuti garis
aliran dan (2) alirannya tanpa gesekan. Jika aliran tersebut juga stedi, maka
persamaan (5.1.6) menjadi lebih sederhana lagi.
1 p z v
g v = 0 ( 5.1.7)
s s s
Kini s adalah satu satunya variabel bebas, maka diferensial - diferensial
parsiil dapat diganti dengan diferensial total.

dp
gdz vdv 0 ( 5.1.8)

Persamaan (5.1.8) ini disebut "Persamaan Euler sepanjang garis aliran"

5.2. Persamaan Bernoulli


Untuk kerapatan yang konstan, maka integrasi persamaan Euler sepanjang
garis aliran (pers 5.1.8) berbentuk:
v2 p
gz + = konstan ( 5.2.1)
2
Persamaan (5.2.1) ini disebut "Persamaan Bernoulli".
Konstanta integrasi (disebut konstanta Bernoulli) berubah dari satu garis
aliran ke garis aliran lainnya, tetapi tetap konstan sepanjang garis aliran
dalam aliran yang stedi, tanpa gesekan dan tak mampu mampat. Pada waktu
menerapkan persamaan ini kita memerlukan serta harus mengingat ke-empat
asumsi ini.
Masing-masing suku pada persamaan (5.2.1) berdimensi (L/T)2, satuannya
meter- newton per kilogram.
m.N m.kg .m / dt 2 m 2
2 karena 1 N = 1 kg. m/dt2
kg kg dt
Persamaan (5.2.1) dalam bentuk energi per massa satuan. Bila persamaan ini
dibagi dengan g maka akan didapatkan :
v2 p
z+ = konstan (5.2.2)
2g

79
Persamaan ini dalam bentuk energi per berat satuan, dengan satuan meter -
Newton per Newton (atau foot- pound per pound). Bentuk tersebut baik
sekali untuk menyelesaikan persoalan - persoalan fluida dengan permukaan
bebas.

Setiap suku dari persamaan Bernoulli (5.2.2) dapat diinterpretasikan dalam


bentuk energi yang tersedia. Persamaan ini juga disebut persamaan
konservasi energi mekanis.
Jika persamaan (5.2.1) dikalikan dengan , kita memperoleh

v 2
z p = konstan (5.2.3)
2
yang mudah digunakan untuk aliran gas, karena perubahan ketinggian
seringkali tidak penting dan z dapat dihilangkan. Dalam bentuk ini masing-
masing suku adalah dalam meter Newton per meter kubik, foot pound per
foot kubik atau energi per volume satuan.

Dengan menggunakan persamaan (5.2.2) untuk 2 titik pada streamline


2 2
p1 v1 p v
z1 + = z2 + 2 2 . (5.2.4)
2g 2g
atau :
p1 p 2 v1 v 2
2 2

z1 - z2 + = 0 . (5.2.5)
2g
Persamaan ini menunjukkan bahwa perbedaan energi antara dua titik terdiri
dari perbedaan energi potensial, energi aliran dan energi kinetik. (z1 - z2)
adalah perbedaan ketinggian antara kedua titik terhadap datum yang sama.
p1 p 2
Sedangkan merupakan perbedaan head tekanan yang dinyatakan

dalam satuan panjang kolom zat yang mengalir.

80
Contoh :
Air mengalir pada suatu saluran terbuka (open channel) seperti gambar
dibawah dengan kedalaman 2 meter dan kecepatannya 3 meter/detik.
Kemudian megalir turun melalui saluran yang miring dan selanjutnya
mengalir mendatar lagi. Jika diinginnkan kecepatan kecepatan akhir 10
meter/detik dan kedalaman 1 meter, hitunglah perbedaan ketinggian (y).
Asumsikan bahwa aliran tanpa gesekan (frictionless).

Penyelesaian :
Kecepatan- kecepatan diasumsikan seragam pada seluruh penampang
melintang. Titik 1 dan 2 dapat dipilih sebagai permukaan bebas. Jika
perbedaan ketinggiannya adalah y , maka persamaan Bernoulli menjadi :
2 2
V1 p V p
1 z1 = 2 2 z 2
2g 2g
kemudian, z1 = y+2 ; z2 =1 ; V1 = 3 m/dt ; V2 = 10 m/dt dan p1 = p2 = 0
32 10 2
+0+y+2= +0+1
2(9,806 ) 2(9,806 )
maka y = 3,64 meter

5.3 Penerapan Persamaan Bernoulli


Persoalan-persoalan mekanika fluida yang menggunakan persamaan
Bernouli antara lain:
- Pengukuran kecepatan dengan tabung pitot
- Pengukuran debit aliran dari reservoir melalui Orifis.
- Pengukuran debit aliran dengan meter Venturi.
- Pengukuran debit aliran lewat sekat atau bendung (weir).

81
5.3.1. Pengukuran Kecepatan Dengan Tabung Pitot (Pitot Tube).

Pitot tube merupakan alat atau cara paling tepat untuk mengukur kecepatan.
Gb 5.3.1.a menggambarkan sebuah pitot tube dengan tabung kaca dengan
belokan yang digunakan untuk mengukur kecepatan v di dalam suatu
saluran terbuka.
Lubang tabung diarahkan ke hulu sehingga fluida mengalir ke dalam tabung
tersebut sampai tekanan di dalam tabung meningkat sedemikian rupa
sehingga cukup untuk menahan dampak kecepatan terhadapnya. Tepat di
depan lubang tersebut fluida tidak bergerak. Garis aliran yang melalui 1
melintas ke titik 2 yang disebut titik stagnasi, tempat fluida tidak bergerak,
dan di titik 2 aliran melintas di sekitar tabung. Tekanan di titik 2 diketahui
dari kolom cairan di dalam tabung.

Gb 5.3.1.a Pitot tube sederhana


Disini persamaan Bernouli diterapkan antara titik 1 dan titik 2 (titik
stagnasi). Kedua titik terletak pada ketinggian yang sama.
2
v1 p p
1 2 h 0 h
2g
p1
karena h0

2
v1 v2
maka = h ( 5.3.1.a)
2g 2g

82
v= 2 gh . ( 5.3.1.b)
Dalam prakteknya, sangat sulit untuk membaca h dari permukaan bebas.
Tabung pitot mengukur tekanan stagnasi. Tekanan total terdiri dari tekanan
statik h0 dan tekanan dinamik h yang dinyatakan dalam panjang kolom
fluida yang mengalir (gb 5.3.1.a). Tekanan dinamik berkaitan dengan head
kecepatan (pers 5.3.1.a).
Dengan mengkombinasikan pengukuran tekanan statik dan pengukuran
tekanan total, yaitu dengan mengukurmasing- masing tekanan dan
menghubungkannya dengan kedua ujung sebuah manometer deferensial,
akan didapatkan head tekanan dinamik. Suatu susunan digambarkan pada
gambar 5.3.1.b.

Gb 5.3.1.b Tabung pitot dan tabung piezometer

Persamaan Bernoulli yang diterapkan dari titik 1 ke 2 adalah:


2
v1 p p
1 2 ( 5.3.1.c)
2g
Persamaan untuk manometer dalam satuan panjang air.
p1 p
S kS R ' S0 (k R ' )S 2 S

Jika disederhanakan, akan menghasilkan
p 2 p1 S
R ' 0 1 (5.3.1.d)
S

83
p 2 p1
Substitusi pada persamaan (5.3.1.d) ke persamaan ( 5.3.1.c)

S
menghasilkan : v1 = v = 2gR ' 0 1 (5.3.1.e)
S
Gb. (5.3.1.c) adalah tabung pitot statik yang merupakan gabungan dari
tabung statik dan tabung pitot. Analisis pada sistim ini tepat sama dengan
yang dilakukan pada tabung pitot sebelumnya. Segala ketidakpastian dalam
pengukuran tekanan statik memerlukan diterapkannya koefisien koreksi C,
sehingga persamaan (5.3.1.e) menjadi :

S
v = C 2gR ' 0 1 (5.3.1.f)
S

Gb 5.3.1.c Tabung Pitot Statik


Konstanta C untuk setiap jenis tabung pitot berbeda-beda.
Untuk suatu bentuk khusus tabung pitot statik dengan hidung tumpul, yaitu
tabung Prandtl, yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga gangguan-
gangguan yang disebabkan oleh hidung dan kaki saling meniadakan
sehingga dalam persamaan tersebut C = 1.

5.3.2. Pengukuran Debit Aliran Dari Riservoir Melalui Orifis


Orifis adalah lubang pada tangki tempat fluida mengalir keluar, dapat
terletak di bagian samping atau di bagian bawah tangki, biasanya
berpenampang lingkaran yang dapat digunakan untuk mengukur debit aliran

84
yang keluar dari tangki atau reservoir tersebut. Tepi orifis dapat berbentuk
siku atau dibulatkan.
Luas penampang orifis adalah luas penampang lubang. Dalam orifis yang
bertepi siku terjadi penyempitan (kontraksi) jet fluida di sebelah hilir dari
lubang sepanjang sekitar setengah kali diameter.Bagian aliran yang datang
menyusur dinding tidak dapat membelok 90o pada dinding dan karenanya
mempunyai komponen kecepatan radial yang mempersempit luas jet.
Penampang yang penyempitannya maksimum disebut Vena kontrakta (vene
contracta). Di penampang ini garis- garis aliran sejajar di seluruh jet dan
tekanannya adalah tekanan atmosfir. Tinggi tekan H di orifis diukur dari
titik pusat orifis sampai permukaan bebas. Tinggi tekan tersebut
diasumsikan dipertahankan konstan.

Gb. 5.3.2.a. orifis pada reservoar

Persamaan Bernouli yang diterapkan dari titik 1 pada


permukaan bebas sampai titik pusat vena kontrakta, dan 2, dengan tekanan
atmosfir lokal sebagai datum dan titik 2 sebagai datum ketinggian (elevasi)
dengan mengabaikan kerugian :

2
V1 p V2 p
1 z1 2 2 z 2
2g 2g

85
V22
0+ 0 + H = +0+0
2g

V2 = 2 gH (5.3.2.a)
Kecepatan ini merupakan kecepatan teoritis Vt, karena mengabaikan
kerugian antara kedua titik tersebut. Kecepatan aktual dititik 2 adalah:
V2a = Cv 2 gH (5.3.2.b)

Va
Dengan Cv = = koefisien kecepatan. Debit nyata Qa dari Oritis sama
Vt
dengan hasil kali kecepatan nyata dari vena kontrakta dan luas jet.
Perbandingan luasan jet A2 di vena kontrakta terhadap luasan Orifis A0
disebut koefisien kontraksi Cc
A2
Cc = (5.3.2.c)
A0
Luas vena kontrakta adalah Cc.A0 sehingga debit nyata
Qa = Cv Cc A0 2 gH (5.3.2.d)
Cv Cc = Cd disebut koefisien debit, maka :
Qa = Cd A0 2 gH ... (5.3.2.e)
Cv didapatkan dari eksperimen yang besarnya bervariasi antara 0,95 dan
0,99 untuk orifis bertepi siku maupun yang dibulatkan.
Bagi kebanyakan orifis, seperti yang bertepi siku, besarnya kontraksi tidak
dapat dihitung dan harus menggunakan hasil percobaan (test). Terdapat
beberapa cara untuk memperoleh satu atau lebih koefisien- koefisien
tersebut, Dengan mengukur luas penampang Ao, tinggi H dan debit Qa
(dengan sarana gravimetrik atau volumetrik) kita memperoleh Cd dari
persamaan (5.3.2.e). Maka pentuan Cv atau Cc memungkinkan
ditentukannya koefisien yang lain dari persamaan (5.3.2.d). Berikut ini
beberapa metode tersebut :
Metode lintasan.
Dengan mengukur posisi sebuah titik pada lintasan jet bebas di sebelah hilir
vena kontrakta (gb 5.3.2.a), kita dapat menentukan kecepatan nyata Va jika

86
tahanan udara diabaikan. Komponen x kecepatan tidak berubah, oleh karena
itu Va.t = xo, disini t adalah waktu yang diperlukan suatu partikel fluida
untuk melintas dari vena kontrakta ke titik 3. Waktu yang diperlukan oleh
suatu partikel untuk penurunan sejauh yo karena aksi gravitasi bila tidak
mempunyai kecepatan awal dalam arah itu dinyatakan dengan yo = gt2/2.
Setelah t dilenyapkan dari kedua persamaan tersebut maka :
xo
Va =
2 yo / g

dengan V2t yang ditentukan dari persamaan (5.3.2.a), maka didapatlah


perbandingan Va / Vt
Pengukuran langsung terhadap Va
Dengan tabung pitot yang ditempatkan di vena kontrakta, dapat ditentukan
kecepatan nyata Va.
Pengukuran langsung terhadaap garis tengah jet
Dengan jangka (kaliper) luar, garis tengah jet di vena kontrakta dapat diukur
secara kasar. Pengukuran ini tidak teliti dan pada umumnya kurang
memuaskan jika dibandingkan dengan metode- metode lain.
Menggunakan persamaan momentum
Bila reservoar cukup kecil untuk digantung pada mata pisau seperti gambar
5.3.2.b, maka dimungkinkan untuk menentukan gaya F yang menimbulkan
momentum di dalam jet. Dengan lubang orifis ditutup, tangki diposisikan
mendatar dengan menambahkan atau mengurangka pemberat- pemberat.
Dengan orifis mengeluarkan debit, suatu gaya menimbulkan momentum di
dalam jet dan suatu gayaa F' yang sama besar tetapi arahnya berlawanan
beraksi terhadap tangki. Dengan menambahkan pemberat- pemberat W
secukupnya, tangki dibuat mendatar lagi. Dari gambaar, F' = W.xo/yo.
Dengan persamaan momentum :
Q W.xo Qa..Va
F x
g
(Vxout Vxin ) atau
yo

g

87
karena Vxin adalah nol dan Va adalah kecepatan akhir. Karena debit nyata
tersebut diukur, maka Va merupakan satu- satunya besaran yang belum
diketahui pada persamaan itu, sehingga akan dapat dihitung.

Kerugian di dalam aliran Orifis.

Kerugian tinggi tekan di dalam aliran melalui Orifis ditentukan dengan


penerapan persamaan energi dengan suku kerugian untuk jarak antara titik 1
dan 2 (gb5.3.2.a)
V1 a 2 p1 V2 a 2 p 2
z1 = z 2 + kerugian
2g 2g

Gb 3.5.2.b Metode momentum untuk mendapatkan harga Cv dan Cc

Dengan substitusi nilai- nilai untuk kasus ini menghasilkan:


V2 a 2 V a2 1
Kerugian = H - = H (1- C v2 ) = 2 ( 2 -1) (5.3.2.f)
2g 2g Cv
Disini persamaan (5.3.2.c) telah digunakan untuk memperoleh kerugian
sebagai fungsi H dan Cv atau V2a dan Cv.
Contoh :
Sebuah orifis yang bergaris tengah 75 mm di bawah tinggi tekanan sebesar
4,88 mm mengeluarkan debit air sebesar 8900 N dalam waktu 32,6 detik.

88
Lintasan jet telah ditentukan dengan mengukur xo = 4,76 m untuk
penurunan sebasar 1,22 m. Tentukanlah Cv, Cc, Cd, kerugian tinggi
tekanan per berat satuan, dan kerugian daya.
Penyelesaian :
Kecepatan teoritis V2t adalah :
V2t = 2gH = (2).(9,806 ).(4,88) = 9,783 m/dt
Kecepatan nyata ditentukan dari lintasan. Waktu untuk menurun 1,22 m
adalah :

2.yo 2.(1,22)
t= = = 0,499 dt
g 9,806
dan kecepatan dinyatakan dengan
xo = V2a.t
4,76
V2a = = 9,539 m/dt
0,499
V2 a 9,539
Cv = = = 0,975
V2 t 9,783
Debit nyata Qa adalah :
8900
Qa = = 0,0278 m3/dt
(9806 ).(32,6)
Dari persamaan (5.3.2.e)
Qa 0,0278
Cd = = 0,643
Ao. 2gH (0,0375 ) 2.(9,806 ).(4,88)
2

Maka dari persamaan (5.3.2.d)


Cd 0,643
Cc = = 0,659
Cv 0,975
Dari persamaan (5.3.2.f), kerugian tinggi tekanan adalah :
Kerugian = H(1-Cv2) = 4,88.(1 - 0,9752) = 0,241 m.N / N
Besarnya kerugian daya
Q. .(kerugian) = (0,0278).(9806).(0,241) = 65,7 W

89
Aliran Orifis Tak Stedi Dari Reservoar
Dalam pembahasan terdahulu, asumsi yang dipakai antara lain adalah bahwa
permukaan cairan di reservoar konstan atau dalam keadaan stedi. Tetapi
dalam kenyataanya sering dijumpai permukaan cairan turun seiring dengan
berkurangnya volume cairan yang tersisa di dalam reservoar, sehingga
keadaan alirannya tidak stedi. Padahal secara teoritis persamaan Bernoulli
hanya berlaku untuk aliran stedi. Dalam hal penurunan elevasi permukaan
cairan yang lambat, maka persamaan Bernoulli dapat diterapkan dengan
kesalahan yang kecil dan dapat diabaikan.

Gb 5.3.2.c Notasi untuk tinggi cairan yang menurun


Volume yang dilepaskan dari orifis dalam waktu t adalah Q t , yang harus
tepat sama dengan perkurangan volume di reservoar dalam inkremen waktu
yang sama (gb 5.3.2.c), AR(- y) , dengan AR sebagai luas permukaan cairan
pada ketinggian y diatas orifis. Dengan mempersamakan kedua persamaan
tersebut kita dapatkan:
Q t = -AR y
Dengan menyelesaikan t dan mengintegrasi dengan batas- batas y = y1
untuk
t = 0 ,dan y = y2 untuk t = t maka diperoleh :
t y2
A R dy
t = dt
0 y1
Q

Debit orifis Q adalah Cd.Ao 2gy . Setelah persamaan ini dimasukkan,


maka

90
y2
1
t=-
Cd A o 2g
A
y1
R y1 / 2 dy . (5.3.2.g)

Bila AR sebagai fungsi y diketahui, maka integral tersebut dapat ditentukan


nilainya.
Jika luas penampang tangki konstan, maka
y2
1 2A R
t=-
Cd A o 2g
A
y1
R y1 / 2 dy =
Cd.Ao 2g
( y1 y 2 ) (5.3.2.h)

Contoh :
Sebuah tangki mempunyai luas penampang horisontal 2 m2 pada ketinggian
orifis. Pada 3 m diatas orifis, luas penampangnya 1 m2 , dan luas permukaan
linier terhadap ketinggian. Untuk orifis bergaris tengah 100 mm, Cd = 0,65,
hitunglah waktu untuk menurunkan permukaan tersebut dari 2,5 m diatas
orifis sampai 1m diatas orifis.
Penyelesaian :
y
AR =( 2 - ) m2 , maka :
3
1
1 y
(2 3 ) y
1/ 2
t= dy = 73,8 dt
0,65..(0,05 ). 2.(9,806)
2
2,5

5.3.3. Pengukuran Debit Aliran Dengan Meter Venturi (Venturi Meter)


Meter venturi digunakan untuk mengukur laju aliran di dalam pipa. Alat
ukur ini terdiri dari : (1) bagian hulu, yang berukuran sama dengan pipa,
mempunyai lapisan perunggu, dan mempunyai cincin pizometer guna
mengukur tekanan statik, (2) daerah kerucut konvergen, (3) leher yang
berbentuk silindris dengan lapisan perunggu yang mempunyai cincin
pizometer, dan (4) daerah kerucut yang berdivergensi secara berangsur-
angsur menjadi bagian yang berbentuk silinder yang berukuran sama
dengan pipa. Sebuah manometer deferensial dipasang pada kedua cincin

91
pizometer. Ukuran meter venturi dispesifikasikan dengan diameter pipa
dan diameter leher, misalnya 6 x 4 inci, artinya meter venturi cocok
untuk pipa berdiameter 6 inci dan diameter lehernya 4 inci.
Agar hasilnya tepat maka meter venturi hendaknya dipasang setelah
sekurang- kurangnya 10 diameter pipa lurus. Dalam aliran dari pipa ke
leher, kecepatan sangat meningkat dan sesuai dengan hal itu tekanan
sangat berkurang. Debit dalam aliran tak mampat merupakan fungsi dari
pembacaan manometer.

Gb 5.3.3.a. Meter venturi


Tekanan di penampang hulu dan leher adalah tekanan aktual, dan
kecepatan- kecepatan dari persamaan Bernoulli adalah kecepatan teoritis.
Bila dalam persamaan energi kerugian diperhitungkan, maka kecepatan-
kecepatan merupakan kecepatan aktual. Pertama, dengan persamaan
Bernoulli (tanpa suku kerugian head) kita memperoleh kecepatan teoritis
di leher. Dengan mengalikan kecepatan ini dengan koefisien kecepatan
Cv, kita mendapatkan kecepatan aktual. Kemudian kecepatan aktual
dikalikan luas aktual dari leher didapatkan debit aktual. Dari gambar
5.3.3.a
2 2
V1t p V p
1 h 2 t 2 . (5.3.3.a)
2g 2g

92
Disini datum diambil melalui titik 2. V1 dan V2 adalah kecepatan rata-
rata di penampang 1 dan 2 berturut- turut. 1 dan 2 diasumsikan sama
dengan 1. Dengan persamaan kontinuitas
V1D12 = V2D22
2
V1
2
V
2
D2
2 (5.3.3.b)
2g 2g D1
yang berlaku untuk kecepatan aktual maupun kecepatan teoritis.
Persamaan (5.3.3.a) dapat diselesaikan untuk V2t :

V2 t D 2 p 2 p1
2 4

1 h
2g D1

dan
2gh p1 p 2 /
V2t = .. (5.3.3.c)
1 D 2 / D1
4

V2a = CvV2t
2gh p1 p 2 /
V2a = Cv .. (5.3.3.d)
1 D 2 / D1
4

Setelah dikalikan dengan A2, Debit aktual Q dapat ditentukan dengan :


2gh p1 p 2 /
Q = Cv A2 (5.3.3.e)
1 D 2 / D1
4

Beda pengukuran R' kini dapat dihubungkan dengan beda tekanan


debgan menuliskan persamaan untuk manometer. Dalam satuan panjang
kolom air, dimana S1 adalah specific gravity dari fluida yang mengalir
dan S0 adalah specific gravity dari fluida manometer :
p1 p
S1 h k R 'S1 R ' S0 KS1 2 S1

Penyederhanaan persamaan ini menghasilkan :
p1 p 2 S
h+ R ' 0 1 . (5.3.3.f)
S1

93
Substitusi persamaan ini ke persamaan (5.3.3.e)
2gR ' (S0 / S1 1)
Q = CvA2 (5.3.3.g)
1 D 2 / D1
4

Persamaan (5.3.3.g) merupakan persamaan meter venturi untuk aliran tak


mampu mampat. Koefisien kontraksi sama dengan 1, maka Cv= Cd. Perlu
dicatat bahwa h hilang dari persamaan. Besarnya debit dipengaruhi oleh
beda pembacaan R' bagaimanapun orientasi meter venturinya, baik
horisontal, vertikal atau miring, dan persamaan tersebut tetap berlaku.
Cv ditentukan dengan kalibrasi, yaitu dengan mengukur debit serta beda
pembacaan (relatif) dan menyelesaikan persamaan untuk memperoleh
Cv, yang biasanya digambar terhadap bilangan reynold. Gambar 5.3.3.b
menunjukkan hasil percobaan untuk meter venturi, yang berlaku untuk
D2/D1 dari 0,25 sampai dengan 0,75 dengan batas toleransi yang
ditunjukkan oleh garis titik- titik.

Gb 5.3.3.b Koefisien Cv untuk meter venture

5.3.4. Pengukuran Debit Aliran Dengan Bendung (Weir)


Weir dapat digunakan untuk mengukur debit aliran pada saluran terbuka.
Weir adalah rintangan di dalam saluran terbuka yang menyebabkan cairan
menggenang di depannya serta mengalir diatasnya atau melaluinya.

94
Dengan mengukur ketinggian permukaan cairan hulu, kta dapat
menentukan laju aliran. Bendung yang terbuat dari lembaran logam atau
bahan lain sedemikian rupa sehingga jet atau cairan luapan meloncat bebas
pada waktu meninggalkan muka hulu disebut bendung bermecu tajam
(sharp crested weir). Bendung jenis lain seperti bendung bermercu lebar
(broad crested weir) mendukung aliran pada arah membujur yang lebih
panjang.

Gb 5.3.4.a Bendung segi empat bermercu tajam

Gb 5.3.4.b Cairan- luapan bendung tanpa kontraksi


Bendung segi empat bermercu tajam (gb 5.3.4.a) mempunyai mercu
horisontal. Cairan luapannya berkontraksi di bagian atas dan bagian

95
bawahnya seperti ditunjukkan dalam gambar. Persamaan untuk debit dapat
diturunkan jika kontraksi tersebut diabaikan. tanpa kontraksi, aliran akan
tampak seperti gb 5.3.4.b. Cairan luapan mempunyai garis- garis aliran
sejajar dengan tekanan atmosfir di seluruh aliran.
Persamaan Bernoulli yang diterapkan antara titik 1 dan 2 menghasilkan :
v2
H00 Hy0
2g
Disini head kecepatan di titik 1 diabaikan. Penyelesaian persamaan diatas
untuk v adalah :
v 2gy
Debit teoritis Qt adalah :
H H
2
vdA vLdy 2g .L y dy
1/ 2
Q= 2g LH 3 / 2
0 0
3

dengan L adalah lebar weir. Jika hasil ini kita bandingkan dengan hasil
eksperimen, maka terlihat bahwa eksponen dari H sudah betul, tetapi
koefisiennya terlalu besar. Kontraksi dan kerugian memperkecil debit
nyata menjadi 62 persen dari debit teoritisnya, atau :
Q = 3,33 L H3/2 untuk satuan USC dan
Q = 1,84 L H3/2 untuk satuan SI (5.3.4.a)
Bila bendung tidak terentang sepenuhnya selebar saluran, maka bendung
itu mempunyai kontraksi ujung- ujung, seperti terlihat pada gambar
5.3.4.c. Koreksi empiris untuk perkurangan aliran tercapai dengan
mengurangi harga L dengan 0,1 H untuk masing- masing kontraksi ujung.

Gb 5.3.4.c Bendung horisontal dengan kontraksi ujung

96
Bendung dalam gambar 5.3.4.a dikatakan mempunyai kontraksi ujung-
ujung yang ditekan (suppressed). Tinggi cairan H diukur di sebelah hulu
bendung pada jarak tertentu untuk menghindari kontraksi permukaan. Bila
tinggi bendung P (gb 5.3.4.a) kecil, maka head kecepatan di titik 1 tidak
dapat diabaikan. Oleh karena itu perlu ditambahkan faktor koreksi untuk
ketinggian tersebut :

3/ 2
V2
Q = CL H . (5.3.4.b)
2g

Disini V adalah kecepatan dan lebih besar dari 1, biasanya diambil 1,4;
untuk memperhitungkan distribusi kecepatan yang tidak seragam.

Bendung takik - V (V-notch weir) seperti gambar 5.3.4.d sangat cocok


digunakan untuk debit yang kecil. Kontraksi cairan luapan diabaikan dan
debit teoritis dihitung sebagai berikut :

Gb 5.3.4.d V-notch weir

97
Kecepatan pada kedalaman y adalah v = 2gy dan debit teoritisnya :

H
Qt = vdA vxdy
0

Dengan segitiga- segitiga sebangun, x dapat dihubungkan dengan y

x L

Hy H

Setelah rumus x dan v dimasukkan,

H
2g y1 / 2 H y dy
L 4 L
Qt = 2g H 5 / 2
H0 15 H

Dengan menyatakan L/H sebagai fungsi sudut takit V, yaitu , kiata


mendapatkan

L
tan
2H 2

8
Maka : Qt = 2g tan H 5 / 2
15 2

Dibadingkan dengan hasil eksperimen, pangkat di dalam persamaan


tersebut benar, tetapi koefisiennya harus diperkecil kurang lebih 42 persen
karena pengaruh kontraksi yang pada perhitungan diatas masih diabaikan.
Sehingga persamaan yang lebih tepat untuk bendung takik 900 adalah:

Q = 2,50 H2,50 dalam satuan USC, dan

Q = 1,38 H2,50 dalam satuan SI (5.3.4.c)

98
Bendung bermercu lebar (broad- crested weir) yang ditunjukkan pada
gambar 5.3.4.e mendukung cairan luapan sedemikian rupa sehingga variasi
tekanan di penampang 2 adalah hidrostatik. Persamaan Bernoulli yang
diterapkan antara titik 1 dan 2 dapat digunakan untuk mencari kecepatan
v2 pada ketinggian z.

2
v2
H+0+0= + z + (y-z)
2g

maka : v2 = 2g(H y)

Dengan hilangnya z pada persamaan diatas berarti kecepatan di


penampang 2 adalah konstan. Untuk bendung dengan lebar L yang tegak
lurus terhadap bidang gambar, besarnya debit teoritis adalah :

Q = v2Ly = Ly 2g(H y) .. (5.3.4.d)

Gb 5.3.4.e Bendung bermercu lebar

Gb 5.3.4.e kanan adalah diagram debit - kedalaman untuk H konstan.


Untuk mendapatkan suatu kedalaman yang dapat menghasilkan debit
maksimum, dihitung sbb :

99
dQ 1 2g
0 L 2g(H y) Ly
dy 2 2g(H y)

2
maka y= H dan ini disebut kedalaman kritis (critical depth)
3

Dengan memasukkan nilai H, yaitu 3y/2 ke dalam persamaan untuk v2,


maka

v2 = gy

dan dengan memasukkan nilai y ke dalam persamaan (5.3.4.d) diperoleh :

Qt = 3,09 LH3/2 untuk satuan USC, dan

Qt = 1,705 LH3/2 untuk satuan SI . (5.3.4.e)

Eksperimen menunjukkan bahwa untuk tepi hulu yang dibulatkan dengan


baik, besarnya debit adalah :

Q = 3,03 LH3/2 untuk satuan USC, dan

Q = 1,67 LH3/2 untuk satuan SI . (5.3.4.f)

Karena viskositas dan tegangan permukaan mempunyai pengaruh terhadap


koefisien debit bendung (walaupun hanya kecil) maka sebaiknya bendung
dikalibrasi terlebih dahulu dengan cairan yang akan diukur.

100
BAB VI
KESERUPAAN DAN ANALISIS DIMENSIONAL

6.1 Diskripsi dan Penggunaan


Perhitungan dan analisis mengenai aliran fluida yang sesungguhnya sangat
sulit dilakukan dengan teori fluida secara murni, dan sangat dipengaruhi oleh
banyaknya percobaan yang dilakukan untuk mendapatkan nilai yang akurat.
Jumlah percobaan dapat dikurangi dengan penggunaan analisis dimensi dan
hukum-hukum keserupaan secara sistimatis., yang berarti dapat mengurangi
biaya yang dikeluarkan.
Adanya hukum-hukum keserupaan memungkinkan kita melakukan percobaan-
percobaan dengan fluida yang aman dan memenuhi syarat ( air, udara ), dan
menggunakan hasilnya untuk fluida-fluida yang kurang aman bagi
keselamatan dan kesehatan kita, seperti hydrogen, uap, minyak dll. Juga pada
percobaan-percobaan hidraulik dan aeronotik, biaya dapat ditekan dengan
menggunakan model skala kecil dari pada ukuran aslinya (prototype). Atau
sebaliknya aliran di dalam karburator dapat dipelajari dengan model yang jauh
lebih besar. Dengan hukum keserupaan kita dapat memprediksi performa dari
sebuah prototype dengan percobaan yang menggunakan model. Tetapi perlu
ditegaskan bahwa model tidak harus berbeda dengan prototipenya, bisa jadi
model dan prototipenya sama, dalam hal ini variabelnya adalah kecepatan atau
sifat - sifat fisik fluida.

6.2. Keserupaan Geometrik (Geometric Similarity)


Keserupaan Geometrik adalah kesamaan bentuk antara model dengan
prototipenya, tetapi berbeda ukurannya. Selain itu bentuk alirannya juga harus
serupa. Jika subskrip p untuk prototype dan m untuk model, maka kita dapat
mendefinisikan rasio skala (scale ratio) sebagai berikut :

101
Lp
Lr (6.2.1)
Lm

Persamaan di atas adalah perbandingan dimensi linier dari prototype terhadap


dimensi yang berkoresponden pada model, misalnya panjang prototype dibagi
panjang model. lni akan diikuti dengan dimensi luas dengan rasio skala Lr2
dan volume Lr3. Akan tetapi keserupaan geometris secara sempurna
(complete) tidak mudah untuk diterapkan. Sebagai contoh kekasaran
permukaan model tidak dapat diperkecil secara proporsional karena akan
menghasilkan permukaan yang jauh lebih halus dari prototipenya. Untuk
kasus-kasus semacam ini, perlu digunakan model yang didistorsi (distorted
model) dalam arti skala vertical lebih besar dari pada skala horizontalnya.
Kemudian, jika rasio skala horizontal dinotasikan Lr dan rasio skala vertical
Lr', maka rasio luas penampang menjadi Lr.Lr'.

6.3. Keserupaan Kinematis (Kinematic Similarity)


Keserupaan kinematis berkaitan dengan kecepatan. Rasio kecepatan pada
setiap titik yang berkoresponden dalam suatu aliran selalu sama. Besarnya
rasio kecepatan :

Vp
Vr (6.3.1)
Vm
Harga perbandingan di atas selalu konstan untuk keserupaan kinematis.
Dimensi untuk waktu adalah L/V, maka skala waktu adalah :

Lr
Tr ..(6.3.2)
Vr
Dan skala percepatan menjadi :

Lr Vr 2
ar 2 (6.3.3)
Tr Lr

102
6.4. Keserupaan Dinamis (Dynamic Similarity)
Dua sistim dikatakan mempunyai keserupaan dinamis apabila perbandingan
gaya pada titik - titik yang berkoresponden dari kedua sistim tersebut sama.

Fp
Ratio gaya Fr ..(6.4.1)
Fm

Gaya- gaya yang bekerja pada elemen fluida meliputi gaya yang disebabkan
oleh gravitasi (FG), tekanan (FP), viskositas (FV), elastisitas (FE) dan juga gaya
yang disebabkan oleh tegangan permukaan (F) yaitu jika elemen fluida
berada pada antar muka (interface) cair- gas. Apabila jumlah gaya- gaya pada
elemen fluida tidak sama dengan nol, maka element fluida tersebut akan
berakselerasi berdasarkan hukum Newton. Sistim dengan gaya- gaya tidak
seimbang (unbalance) seperti ini dapat diubah menjadi sistim yang seimbang
dengan menambahkan gaya inersia FI yang besarnya sama tetapi arahnya
berlawanan dengan resultan gaya- gaya yang bekerja. Maka secara umum
dapat dituliskan :
F = FG + FP + FV + FE + F = resultan
FI = - resultan
Jadi: FG+FP+FV+FE+F+FI = 0
Gaya- gaya ini dapat dinyatakan dalam bentuk yang sederhana sbb :
Gravitasi : FG = m.g = .L3g
Tekanan : FP = (p)A = (p)L2
du du
Viskositas : FV A L2 VL
dy dy
Elastisitas : FE = EVA = EvL2
Teg. Permukaan : F = L
L
Inersia : FI ma L3 L4 T 2 V2 L2
T2

103
Gb. 6.4.1 Keserupaan dinamik antara prototype dan model

Dalam beberapa persoalan aliran, sebagian gaya- gaya diatas tidak ada atau tidak
signifikan. Pada gambar di atas ditunjukkan dua sistim aliran yang mempunyai
keserupaan geometric dan kinematik. Gaya- gaya yang bekerja pada elemen fluida
adalah FG, Fp, Fv, dan Fl. Kemudian keserupaan dinamik terpenuhi jika :
FGP FPp FVp FIp
Fr
FGM FPm FVm FIm
Hubungan inijuga dapat ditulis :
FI F FI F F F
p I m ; p 1 m ; 1 p I m
FG FG FP FP FV FV
Semua harga dari perbandingan diatas tanpa dimensi. Dengan 4 gaya yang bekerja,
ada 3 persamaan bebas (independent expresion) yang memadai; dengan 3 gaya ada
2 persamaan bebas yang memadai, dan seterusnya.

Bilangan Reynolds(Reynolds Number)


Pada aliran fluida melalui konduit, dimana konduit tersebut terisi penuh, gravitasi tidak
begitu berpengaruh pada bentuk aliran (flow pattern). Juga karena tidak ada
permukaan bebas, maka efek kapilaritas dapat diabaikan. Oleh karena itu gaya yang
signifikan adalah inersia dan gesekan fluida karenaa viskositas. Rasio antara gaya-
gaya inersia dengan gaya- gaya viskos disebut bilangan Reynolds ( R ). Rasio dari
kedua jenis gaya- gaya tersebut adalah :

104
FI L2 V 2 LV LV
R .(6.4.2)
FV LV v
L adalah dimensi untuk panjang, jadi untuk pipa yang terisi penuh L adalah
diameter atau jari- jari pipa. Dan R = DV / = DV / .
Apabila ada dua sistim yaitu model dan prototipe atau dua sistim perpipaan
dengan fluida yang berbeda, dengan kondisi gaya- gaya yang dominan adalah
gaya inersia dan viskos, maka dua sistem tersebut mempunyai keserupaan
dinamik jika harga R nya sama. Jadi untuk kasus di atas, keserupaan dinamik
terpenuhi apabila :

LV LV
Rm Rp .(6.4.3)
m p

Bilangan Froud (Froud Number)


Bilangan Froud adalah akar dari rasio antara gaya-gaya inersia terhadap gaya-
gaya
gravitasi. Perbandingan gaya-gaya tersebut adalah :
L2 V 2 V 2

gL3 gL
maka Froud Number
V
F ..(6.4.4)
gL
Sistim yang melibatkan gaya-gaya inersia dan gravitasi misalnya : aliran air
pada saluran terbuka, aliran jet dari orifis, gelombang air akibat kapal yang
lewat dan kasus- kasus lain dimana gravitasi merupakan factor dominan.
Untuk perhitungan F, panjang L harus merupakan suatu dimensi linier yang
sangat signifikan pada bentuk aliran, misalnya pada aliran pada saluran
terbuka, L adalah kedalaman dari aliran.
Pada suatu kondisi dimana gaya- gaya inersia dan gravitasi dominan,
keserupaan dinamik tercapai apabila:

105
V
Fm Fp V (6.4.5)
gL gL
m p

Dari persamaan (6.4.4), V bervariasi sebagai gL , dan jika g dianggap

sama untuk model dan prototipe, dan dari persamaan (6.3.1),

Vp Lr
Vr (untuk F dan yang sama)
Vr l

dan dari persamaan (6.3.2), rasiowaktu antara prototipe dan model adalah :

Tp Lr Lr
Tr (untuk F dan g yang sama)
Tm Vr l
Vr
dan a r 1 (untuk F dan g yang sama)
Tr

Karena kecepatan bervariasi sebagai Lr dan luas penampang bervariasi


sebagai Lr2 , maka akan diikuti oleh variasi Q berbentuk :
Qp Lr 5/2
Qr (untuk F dan g yang sama)
Qm l

Bilangan Mach (Mach Number)


Pada waktu kompresibilitas merupakan suatu hal penting yang harus
diperhitungkan, maka perlu mempertimbangkan rasio antara gaya-gaya inersia
terhadap gaya-gaya elastik. Bilangan Mach didefinisikan sebagai akar kuadrat
dari rasio ini.

V2 L2 V V
M 2
(6.4.6)
EvL E v / c

Dengan Ev adalah modulus elastisitas volume, dan c kecepatan suara. Jadi bilangan
Mach adalah rasio antara kecepatan fluida (atau kecepatan suatu benda di dalam
fluida diam) terhadap kecepatan suara di dalam media yang sama). Jika M kurang
dari 1 alirannya disebut subsonik, jika sama dengan 1 disebut sonik, jika lebih besar

106
dari 1 disebut supersonik dan jika harga M sangat tinggi disebut hipersonik. Kuadrat
dari bilangan mach sama dengan bilangan Cauchy.

Bilangan Weber (Weber Number)


Fenomena tegangan permukaan merupakan hal yang penting di dalam aliran flu ida,
walaupun kadang-kadang diabaikan. Rasio antara gaya-gaya inersia dan tegangan
permukaan adalah V2L2 / L . Akar kuadrat dari rasio ini disebut bilangan Weber,

V
W ..(6.4.7)
/L

Bilangan Euler (Euler Number)


Bilangan Euler adalah rasio antara gaya- gaya inersia terhadap gaya- gaya
akibat
tekanan,
V V
E (6.4.8)
2p / p
2 g

Jika yang mempengaruhi aliran hanya tekanan dan inersia, bilangan Euler akan
konstan. Tetapi apabila ada parameter lain yang mempengaruhi bentuk aliran
(viskositas, gravitasi, dsb), E akan berubah.
Dari persamaan (6.4.8), dapat dituliskan bentuk 1/E2, yang disebut koefisien
tekanan (pressure coefficient),

p
Cp l/E 2 ...(6.4.9)
1
2 V2

Jika p mengacu pada tekanan penguapan pv, koefisien tekanan menjadi bentuk tak
berdimensi yang disebut bilangan kavitasi (Cavitation Number).
p - pv
C ..(6.4.10)
1
2 V 2

Dengan catatan kedua tekanan harus absolut.

107
6.5 Ratio Skala (Scale Ratio)
Bilangan- bilangan Reynold, Froude dan Mach adalah parameter- parameter tak
berdimensi yang paling menonjol di dalam mekanika fluida. Pada pembahasan di
depan rasio skala untuk kecepatan, waktu dan percepatan berdasar pada bilangan
Reynold dan Froud sudah diformulasikan. Rasio skala untuk parameter- parameter
lain dirumuskan dengan cara yang sama dan hasilnya ditunjukkan pada table 6.5.1 di
bawah. Tabel ini akan memudahkan untuk mendapatkan dengan cepat rasio skala
untuk parameter yang diperlukan, hila diketahui bilangan tak berdimensi yang sama
dari prototipe dan model. Jadi aspek terpenting dalam pembuatan model dari
fenomena fluida adalah mengetahui bilangan tak berdimensi.

108
109
6.6 Analisis Dimensional (Dimensional Analysis)
Analisis dimensional adalah suatu metode untuk menyelesaikan persoalan-
persoalan mekanika fluida dengan cara matematis yang menitik beratkan pada
peninjauan dimensinya. Analisis dimensional berhubungan erat dengan
keserupaan, akan tetapi pendekatannya berbeda. Pada analisis dimensional,
dari pengetahuan umum mengenai fenomena yang terjadi pada fluida,
pertama- tama diprediksi parameter- parameter fisik yang akan mempengaruhi
fenomena tersebut, dan kemudian dengan mengelompokkan parameter-
parameter tersebut dalam kombinasi tak berdimensi, sehingga akan diperoleh
konsep hubungan antar parameter itu menjadi lebih baik.

Analisis dimensional sangat membantu dalam kegiatan penelitian (percobaan),


karena memberikan petunjuk pada hal- hal yang mempengaruhi fenomena
secara signifikan, jadi dapat memberikan indikasi (petunjuk arah) bagaimana
seharusnya suatu kegiatan eksperimen dilakukan.

Konsep Dasar
Semua persamaan yang berhubungan dengan parameter fisik harus berdimensi
sama (homogen). Sebagai contoh dalam dalam pemakaian persamaan
Bernoulli semua suku berdimensi panjang (L). Prinsip ini disebut prinsip
homogenitas dimensional (Principle of dimensional homogeneitjl or PDH).
Karena semua suku dalam sebuah persamaan berdimensi sama, maka apabila
dibagi dengan suatu suku atau parameter tertentu yang sama, akan menjadi tak
berdimensi.
Sebagai ilustrasi dari konsep dasar analisis dimensional,
menyelidikipersamaan untuk kecepatan gelombang V dari suatu benda yang
melintas di dalam suatu fluida. Untuk menganalisis hal ini, haruslah terlebih
dahulu divisualisasikan persoalan fisiknya untuk menentukan faktor- faktor
yang mempengaruhi kecepatan V. Faktor- faktor tersebut adalah : E , dan .
Dimensi dari faktor- faktor ini adalah:

110
L F M M L2
V ; Ev 2 2 ; 3 ; v
T L LT L T

Terlihat bahwa dengan operasi penjumlahan dan pengurangan saja dari


sejumlah parameter, tidak akan menghasilkan persamaan- persamaan yang
homogen. Oleh karena itu harus mengalikannya sedemikian rupa sehingga
dapat dituliskan :
V = C EVa bvd
Dengan C adalah konstanta tak berdimensi. Dengan cara mensubstitusikan
dimensi- dimensi diatas, diperoleh bentuk :
d
L M M L
a b 2

T LT 2 L3 T

Untuk mendapatkan dimensi yang homogen, eksponen dari tiap-tiap dimensi
harus sama pada kedua ruas dari persamaan.
M: 0=a+b
L: 1 = -a 3b + 2d
T: -1 = -2a-d
Penyelesaian dari ketiga persamaan diatas menghasilkan
a=;b=-;d=0
maka:

EV
VC

Teorema Pi (The Pi Theorem)


Metode yang paling banyak dipakai pada analisis dimensional adalah teorema pi
atau The Buckingham Pi Theorem. Pada teorema ini variabel tak berdimensi diatur
(dikelompokkan) menjadi beberapa grup yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah
variabel itu sendiri.

Andaikan XI, X2, X3, ..,Xn menunjukkan sejumlah n variabel berdimensi,


seperti : kecepatan, kerapatan, viskositas dll yang terlibat dalam suatu fenomena

111
fisika Persamaan homogen dimensional yang berkaitan dengan variable- variable
tersebut dapat dituliskan :

f(X I ,X2,X3,,Xn) = 0 dimana tiap- tiap suku mempunyai dimensi


yang sama. Persamaan tersebut diatas dapat juga ditulis dalam bentuk:
(1 , 2 .n-k) = 0

Setiap adalah variabel bebas tak berdimensi hasil pengelompokan dari beberapa
variabel X. Pengurang k (dari n menjadi n-k) biasanya sama atau kurang dari
jumlah dimensi dasar (fundamental dimension) m yang terlibat pada semua
variabel.

Untuk penggunaan teorema pi, ada 7 langkah (steps) yang harus dilakukan. Dalam
pembahasan tahapan-tahapan berikut, langsung diterapkan pada sebuah contoh
persoalan yaitu gaya hambatan (drag forces) Fo yang timbul pada sebuah benda
berbentuk bola yang bergerak di dalam fluida viskos.

Langkah 1
Visualisasikan fenomena fisiknya, kemudian tentukan faktor- faktor yang
berpengaruh. Didapatkan n variabel. Dalam contoh ini faktor- faktor fisik yang
mempengaruhi drag force adalah ukuran dari bola tersebut, kecepatan bola dan
sifat-sifat fluidanya, yaitu kerapatan dan viskositas.
Jadi dapat dituliskan : f (FD, D, V, , ) = 0. Disini D adalah diameter untuk
mewakili ukuran bola dan f menunjukkan suatu fungsi n = 5.

Langkah 2
Tentukan sistim dimensi yang dipakai (MLT atau FLT) dan tuliskan dimensi dari
tiap-tiap variabel. Cari jumlah dimensi dasar (m) yang terlibat pada semua
variable. Pada contoh ini dipilih sistim ML T, maka dimensi- dimensinya adalah :

112
ML
Untuk FD
T
Untuk D L
L
Untuk V
T
M
Untuk
L3
M
Untuk
LT

terlihat bahwa dimensi- dimensi dasar yang terlibat adalah M,L dan T. Maka m =
3

Langkah 3
Mencari bilangan pengurang k. Biasanya sama dengan atau lebih kecil dari m.
Untuk menentukan k, dicoba untuk menghitung m variable berdimensi yang tidak
dapat dibentuk menjadi grup tak berdimensi. Jika m didapatkan, maka k = m, dan
jika tidak maka k = m-l dan dicoba lagi. Dalam contoh ini ada 3 variabel
M L
berdimensi yaitu , D, V dengan dimensi 3
; L; yang tidak dapat dibentuk
L T
menjadi grup n tak berdimensi karena M dan L tidak dapat saling
menghilangkan (cannot cancel among them) ; maka k = 3

Langkah 4
Hitung n - k = 5 - 3 = 2, artinya akan ada 2 . Maka dapat dituliskan:
(1 , 2) = 0

Langkah 5
Dari daftar variabel berdimensi diatas, pilih sejumlah k variabel untuk dijadikan
variabel primer (primary or repeating variables). lni harus terdiri dari sejumlah m
dimensi dasar, dan harus tidak membentuk sebuah antar variabel tersebut.
Dalam hal ini akan lebih menguntungkan jika dipilih variabel primer yang

113
berhubungan dengan massa, geometri dan kinematik. Bentuklah grup- grup n
dengan cara perkalian variabel primer berpangkat (exponens) yang belum
diketahui, dengan variabel sisa. Dipilih . D,dan (seperti langkah 3) sebagai
variable primer, dan persamaan nya adalah :

1 = a1Db1Vc1
2 = a2Db2Vc2FD

Langkah 6
Selesaikan persamaan- persamaan diatas dengan cara menyamakan ruas kanan
dengan M0L0T0 supaya menjadi bilangan tak berdimensi.

Pada contoh ini, pada 1


a1 c1
M L M
M 0 L0T 0 3 Lb1
L T LT
M 0 = A1 + 1
L 0 = -3a1 + b1 + c1-1
T 0 = -c1 -1
Penyelesaian dari persamaan ini menghasilkan :
al = -1
b1 = -1
c1 = 1

1
1 1 1 DV
Jadi 1 D V
DV

DV
Perlu dicatat bahwa adalah bilangan Reynold (R).

maka 1 = R-1

114
FD
Dengan cara yang sama,akan didapatkan 2
D2 V 2

Langkah 7
Atur kembali grup-grup pi. Teorema pi menyatakan bahwa pi - pi saling
berhubungan dan dapat dinyatakan sebagai f1(p1, p2, , pn-k) dsb .

Dalam contoh ini, karena yang kita tinjau adalah Fo, maka kita dapat menuliskan
2 = (1-1 )
FD
Atau (R)
D2 V 2
maka FD = (R) D2V2

Perlu digaris bawahi bahwa analisis dimensional tidak menghasilkan penyelesaian


menyeluruh terhadap persoalan- persoalan fluida, tetapi hanya mendapatkan
penyelesaian parsial. Tingkat keberhasilan dalam analisis dimensional tergantung
sepenuhnya pada kemampuan seseorang dalam menentukan parameter- parameter
yang digunakan. Jika seseorang membuang variabel penting, maka hasilnya akan
tidak lengkap dan dapat mengakibatkan kesimpulan yang salah. Sebagai contoh
pada fluida kompresibel pada kecepatan tinggi, efek kompresibilitas menjadi
signifikan modulus volume Ev dari fluida harus dipertimbangkan sebagai sifat
fisik yang penting. Jika Ev dilibatkan pada contoh sebelumnya dan analisis
dimensional untuk drag dari bola, maka drag akan tergantung dari bilangan Mach
dan bilangan Reynolds.

Sebaliknya jika seseorang melibatkan variabel yang sama sekali tidak berkaitan
dengan persoalan, maka akan dihasilkan tambahan grup tak berdimensi yang
signifikan.
Jadi untuk dapat menggunakan analisis dimensional dengan baik, seseorang harus
familier dengan fenomena fluida yang terlibat.

115
BAB VII
ALIRAN VISKOS DI DALAM PIPA & SALURAN

7.A. Persamaan Navier Stokes


Hukum Viskotas Newton untuk aliran 3 dimensi

xy u v
y x

yz v w ..............................................................(7. A.1)
z y
w u
zx
x z

Indeks pertama : arah tegak lurus terhadap tempat komponen tegangan itu
bekerja.
Indeks kedua : arah komponen tegangan yang bersangkutan
Misal : xy = tegangan geser pada bidang yang tegak lurus sumbu x pada

arah y.
Persamaan Navier Stokes : persamaan gerakan untuk fluida nyata dengan
memperhatikan gaya-gaya yang bekerja pada suatu elemen kecil fluida, termasuk
tegangan-tegangan geser fluida yang dibangkitkan oleh gerakan serta viskositas
fluida.
1
du
p h 2 u (7.A.2)
dt x
1
dv
p h 2 v (7.A.3)
dt y
1
dw
p h 2 w .. (7.A.4)
dt z
= Viskositas kinematis
d
= diferensiasi terhadap gerakan
dt

116
d
u v w
dt x y z t

2 2 2
2
x 2 y 2 z 2

Bagi aliran fluida nyata 1 dimensi seperti gambar dibawah dalam arah ,
dengan h vertikal keatas dan y tegak lurus terhadap , maka :
v0
w0
u
0

sehingga persamaan Navier stokes dapat disederhanakan menjadi :


u 1
p h u2 ;
2
p h 0 (7.A.5)
t y y

p h 0 .. (7.A.6)
z
untuk aliran stedi (ajeg)
2u
p h 2 (7.A.7)
y
dan p h fungsi saja. Karena u merupakan fungsi y saja, maka untuk
aliran 1 dimensi
d

du
dan
d
p h . (7.A.8)
dy dy d

117
Gambar 7.A.1 Aliran antara plat-plat miring sejajar dengan plat atas yang
bergerak

7.B. Aliran stedi, tak mampu mampat, Laminar antara pelat-pelat sejajar

Dalam gambar 7.A.1 pelat atas bergerak sejajar dengan arah aliran, dan
terdapat perubahan tekanan dalam arah .
Pandang lapisan tipis dengan lebar satuan sebagai suatu benda bebas. Dalam
aliran staedi lapisan itu bergerak dengan kecepatan u yang konstan.
Persamaan gerakan

p
py - py y y y sin 0
y
Kalau persamaan diatas disederhanakan, dibagi dengan volume elemen serta
h
mengganti sin dengan didapatkan :


p h
y

118
d
karena u merupakan fungsi y saja, dan karena p+ h tidak berubah
y dy
nilainya dalam arah y (tidak terdapat percepatan) maka p+ h adalah fungsi
saja, maka
p h d p h
dan
d
d d 2u d
2 p h (7.B.1)
dy dy d
integrasi persamaan (7.B.1) terhadap y menghasilkan

y p h A
du d

dy d
integrasi lagi ke y menghasilkan :

u
1 d
p h y 2 A y B
2 d
A dan B adalah konstanta integrasi yang dapat dicari dengan syarat batas
untuk y =0 u =0
didapatkan B=0
untuk y = a u U

U
1 d
p h a 2 Aa 0
2 d
Aa
U
1 d
p h a 2
2 d
U
A
1 d
p h a 2
a 2 d a

A
y

Uy 1 d
p h ay
a 2 d
sehingga :

u
Uy 1 d

a 2 d

p h ay y 2 (7.B.2)

119
untuk pelat horizontal maka h =C. Dalam kasus tanpa gradien yang
disebabkan oleh tekanan atau ketinggian, yaitu distribusi tekanan hidrostatik
maka p+ h=C dan kecepatan mempunyai distribusi garis lurus. Untuk pelat-
pelat yang tetap maka U 0 dan distribursi kecepatannya parabolik.
Debit melalui suatu penampang tertentu diperoleh dari integrasi persamaan
(7.B.2) terhadap y :

Q 0a dy
Ua

1 d
p h a 3 . (7.B.3)
2 12 d

Contoh Soal :
Pada gambar 7.B.1 dibawah, satu pelat bergerak relatif terhadap yang lain.
=0,80 P dan = 850 Kg/m3.
Tentukan : - distribusi kecepatan
-debit
-tegangan geser yang terjadi pada pelat atas

Penyelesaian :
Di titik tertinggi
p+ h= 1400 Pa + (850 Kg/m3)(9,806 m/s2)(3 m)
= 26 405 Pa
Di titik terendah
p+ h= 800 Pa

120
Terhadap dentum yang sama, maka :
d
p h 800 Pa - 26405 Pa
d 3 2m
= - 6035 N/m3
Dari gambar a= 0,006 m
U= -1 m/s
Dari persamaan (7.B.2)

u
1m / s ym 6035 N/m 3
0,006 y y 2 m 2
0,006 m 20,08 N s/m 2
= 59,646 y -37718 y 2 m/s
du
Kecepatan max terjadi apabila 0 atau y =0,00079 m
dy
m
Yaitu u max = 0,0236
s
Debit per meter lebar adalah :
Q 00,006 udy 29,823 y 2 12573 y 3 0 , 006
0 0,00164 m 3 / s keatas

Tegangan geser terhadap pelat atas


du
y 0 , 006 59,646 75436 y y 0 , 006 392,97 s 1
dy

0,08 392,97 31,44 Pa


du

dy
Tegangan geser terhadap pelat tersebut adalah 31,44 Pa yang memberikan
tahanan terhadap gerakan pelat itu.

7.C. ALIRAN TAK MAMPAT MELALUI SISTIM PIPA SEDERHANA


Kerugian Tinggi Tekan Akibat Gesekan
Dalam aliran inkompresibel stedi di dalam pipa, ketak mampu balikan
(irreversibility) dinyatakan dalam kerugian tinggi tekan atau penurunan garis
p
gredien hidrolik (hydraulic grade line atau HGL). HGL terletak di atas

121
p
sumbu pipa. Jika Z adalah ketinggian sumbu pipa, maka Z adalah

p
ketinggian suatu titik pada HGL. Harga-harga Z sepanjang jalur pipa

menggambarkan garis gradien hidrolik. Kerugian menyebabkan garis ini
menurun dalam arah aliran.
Untuk perhitungan aliran di dalam pipa pada umumnya dipakai
persamaan Darcy-Weisbach :
L V2
hf f (7.C.1)
D 2g
Dengan :
hf : kerugian tinggi tekan
L : Panjang pipa
D : Diameter dalam dari pipa
V : Kecepatan rata-rata
f : factor gesekan

hf mempunyai dimensi panjang dan dinyatakan dalam [ft. 1b/1b] atau [M. N/N].
Faktor gesekan f adalah suatu factor tanpa dimensi yang diperlukan untuk
membuat persamaan tersebut memberikan harga kerugian yang besar.
Semua besaran dalam persamaan (7.C.1) dapat diukur secara eksperimental
kecuali f.

Peralatan untuk ekperimen tersebut adalah seperti gambar berikut :

Gbr. 7.C.1. Peralatan Uji Kerugian Tinggi Tekan dalam Pipa

122
Dari ekperimen yang dilakukan oleh Blasius, disimpulkan bahwa untuk pipa licin
dalam aliran turbulen, besarnya faktor gesekan adalah
0,316
f (7.C.2)
R1 / 4

VD
dengan : R yaitu bilangan Reynolds

Persamaan (7.C.2) tesebut disebut persamaan Blasius dan hanya berlaku untuk
pipa-pipa licin pada aliran dengan bilangan Reynold di bawah 100.000.
Sedangkan untuk pipa yang kasar, tingkat kekasaran pipa dinyatakan dengan
kekasaran relatif (relative Roughness). Kekasaran relatif = / D . Hal ini
diungkapkan oleh Nikuradse.
Dengan = Ukuran tonjolan kekasaran
D = Diameter dalam pipa
Faktor gesekan untuk pipa kasar dipengaruhi oleh bilangan Reynold (R) dan
kekasaran relatif / D atau dapat dituliskan : f = f (R, / D )
Selanjutnya Moody membuat suatu diagram hubungan antara f, R dan / D yang
mudah untuk digunakan. Diagram tersebut disebut diagram Moody (Gbr. 7.C.2)

123
Gbr. 7.C.2. Diagram Moody

Pada gambar 7.C.2, garis lurus yang diberikan tanda aliran laminar adalah
persamaan Hagen Poiseuille)
Pro 2 v 8 L
v atau P (7.C.3)
8 L ro 2
P
Karena P = .hf atau hf

V8 L 64 L V 64 L V2
Maka : hf
ro 2 D D 2g DV/ D 2g
L V 2 64 L V 2
hf f
D 2g R D 2g
64 Catatan / keterangan :
f ro 2
1 2
D
R 4
1
g 2g
2

Persamaan ini berupa garis lurus dan dapat digunakan untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan aliran laminar dalam pipa.

124
Contoh Soal :
Tentukan kerugian tinggi tekan (energi) untuk aliran minyak dengan debit 140
ltr/detik; = 0,00001 m2/dt melalui pipa dengan diameter dalam 200 mm
sepanjang 400 m. bahan pipa dari besi tuang.
Penyelesaian :
Pada persoalan semacam ini, kita menggunakan persamaan kontinuitas,
persamaan Darcy Weisbach dan diagram Moody.
Q Q 4Q
Q VA V
A /4D 2
D2
Bilangan Reynold :
DV D.4Q 4Q
R
D 2
D
4(0,140 m 2 /dt)
R 89127
(0,2m) (0,00001m 2 /dt)
Bahan pipa dari besi tuang, maka = 0,25 mm (tabel pd gbr 7.C.2)
0,25 mm
Kekasaran relatif /D 0,00125
200 mm
Dari gambar 7.C.2
R = 89127
Maka didapatkan f = 0,023
/D = 0,00125
Dari persamaan 7.C.1 :
2
0,14
2
L V 2
400 m (/4(0,2 m)
hf f . . 0,023.
D 2g 0,2 m 2. (9,806 m/dt 2 )
hf = 46,58 mN/N.
atau hf = 46,58 m

7.D. KERUGIAN KERUGIAN KECIL (MINOR LOSSES)


Yang dimaksud dengan Minor Losses adalah kerugian yang terjadi pada fiting
pipa yaitu karena belokan, siku, katup, reducer dsb.

125
Minor Losses yang terjadi pada belokan, katup, siku dsb tersebut didapatkan
dari ekperimen, akan tetapi kerugian tinggi tekan yang disebabkan oleh
Pembesaran mendadak (sudden expansion) diperoleh dari analisis:
2
v1 D1
2 2
(v1 v2 ) 2 v1 A1
2 2
he 1 1
2g 2g A2 2g D2

2
v1
atau dapat ditulis he K (7.D.1)
2g
dengan
2
D 2
K 1 1 (7.D.2)
D 2

Kerugian tinggi tekan yang disebabkan pembesaran berangsur (termasuk


gesekan pipa sepanjang pembesaran) diteliti oleh Gibson dan hasilnya
ditunjukan pada gambar 7.D.1.
kerugian tinggi tekannya :
(v1 v 2 ) 2
hl K (7.D.3)
2g

Gbr. 7.D.1. Koefisien


kerugian untuk
pembesaran yang
berbentuk kerucut
(gradual expansion)
Kerugian tinggi tekan yang disebabkan oleh penyempitan mendadak (Sudden
Contraction) dari penampang pipa yang digambarkan pada gb.7.D.2, dilakukan
analisis yang sama seperti pembesaran mendadak asalkan besarnya penyempitan
jet diketahui.

(Vo V 1) 2
hc
2g

126
Dengan persamaan kontinuitas
Vo . Cc. A2 = V2 A2 dengan Cc sebagai koefisien
penyempitan atau kontraksi yaitu luas jet di
penampang O dibagi luas penampang di titik 2.
2
1 V2 2
Maka hc 1 (7.D.4)
Cc 2g

Koefisien penyempitan Cc untuk air telah ditentukan oleh Weisbach :


Tabel 7.D.1. Koefisien Kontraksi Cc
A2/A1 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0
Cc 0,624 0,632 0,643 0,659 0,681 0,712 0,755 0,813 0,892 1,00

Untuk Lubang masuk pipa dari reservoir

V2
hc K (7.D.5)
2g

harga K tergantung dari bentuk lubang antara pipa dan reservoir seperti
ditunjukkan pada Gb. 7.D.3.

(a) Siku (b) Dibulatkan (c) Masuk-balik (Rc entrant)


K = 0,5 K = 0,01 0,05 K = 0,8 1,0

Gambar. 7.D.3. Koefisien kerugian tinggi tekan K


aliran dari reservoir ke pipa

Pada pada perlengkapan pipa (pipe fitting), harga K ditunjukkan pada tabel
berikut :

127
Tabel. 7.D.2. Koefisien kerugian tinggi-tekan K
yang khas untuk berbagai lengkapan.

Lengkapan (Fitting) K
Katup bola 58) (terbuka penuh) 10,0
Katup sudut 59) (terbuka penuh) 5,0 58) globe valve
Katup searah ayun 60) (terbuka penuh) 2,5 59) angle valve
Katup gerbang61) (terbuka penuh) 0,19 60) swing check valve
61) gate valve; katup stop pelat
Belokan balik berdekatan62) 2,2 62) close return bend
T standar 1,8 63) long sweep elbow
Siku standar 0,9
Siku Lekuk menengah 0,75
Siku lekuk panjang63) 0,60

V2 (7.D.6)
h fitting K
2g

Kerugian kecil (minor losses) dapat dinyatakan dalam panjang pipa ekvivalen
(Le), yang mempunyai kerugian tinggi tekan dalam m N/N atau ft 1b/1b yang
sama untuk debit yang sama ; jadi :
Le V 2 V2
f. K
D 2g 2g
dengan K yang dapat terkait dengan sebuah kerugian tinggi tekan kecil atau
jumlah dari beberapa kerugian.

KD
Le (7.D.7)
f
Contohnya, jika kerugian-kerugian kecil disuatu jalur pipa berdiameter 12 inci
(=1ft) berjumlah K = 20, dan jika f = 0,020 untuk jalur tersebut, maka pada jalur
20 x 1
pipa yang sebenarnya dapat ditambahkan 1000 ft , dan panjang tambahan
0,020
atau ekuivalen ini menimbulkan tahanan terhadap aliran yang sama besarnya
dengan yang disebabkan oleh kerugian-kerugian kecil tersebut.

128