Anda di halaman 1dari 11

Retak (Crack) : Overview

Retak Non-Struktural pada Slab on-Ground

Di bagian ini hanya akan diulas secara singkat bagaimana mengidentifikasi dan membedakan jenis retak non-struktural pada plat
lantai atau jalan beton bertipe slab on-ground.

Ulasan mengenai penyebab, pencegahan dan penanganannya akan dibahas terpisah.

Retak Susut Plastis (Plastic Shrinkage Crack)

Retak susut plastis terjadi pada saat beton masih dalam keadaan plastis sampai waktu final setting terjadi, dan mempunyai ciri :

berpola sejajar dengan jarak yang hampir sama atau tidak beraturan

umumnya hanya terdapat pada bagian tengah modul plat beton dan tidak mencapai tepi plat.

Ukuran atau panjang retakan dapat bervariasi panjang dan lebar celahnya.
Retak Susut Pengeringan (Drying Shrinkage Crack)
Merupakan salah satu jenis retak susut, yang dapat dikenali dengan ciri pada ujung retakan :

retakan muncul dari satu sisi permukaan, menjalar tidak teratur di permukaan lalu menghilang dan muncul retakan yang
berdampingan di ujung retakan awal

ujung retakan, umumnya sejajar dengan retakan yang berdampingan (overlapping) -- walaupun kadang hanya pendek, baru
kemudian berbelok dan menjalar tidak teratur di permukaan beton
lebar pada dua jalur retakan yang berdampingan (overlapping), jika dijumlahkan kira-kira sama dengan lebar retakan tunggal
di belakang atau di depannya.

Retak susut pengeringan ini terjadi setelah beton mengeras dengan sempurna dan dalam proses mencapai kekuatan karakteristiknya
mengalami susut sehingga dapat timbul retakan jika tidak dilakukan curing dengan baik atau tidak terdapat contaction maupun
expansion joint yang baik (jarak dan kedalaman yang cukup).

Retak Penurunan Plastis (Plastic Settlement Crack)


Retak jenis termasuk jenis retak susut plastis yang mempunyai pola mengikuti lapis tulangan atas -- salah satu penyebabnya adalah selimut beton ya

Retak Kulit Telur/Buaya (Crazing)


Retak kulit telur/buaya (crazing) merupakan salah satu jenis retak permukaan.
Cirinya adalah retakan umumnya halus/retak rambut dan berpola seperti retakan pada permukaan keramik.

retak kulit telur


Dinding merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan rumah. Keberadaan dinding
pada rumah memiliki beberapa fungsi penting, diantaranya:

1. Pemikul beban di atasnya

2. Penutup dan pembatas ruangan

3. Perlindungan bagi penghuni, misalnya melindungi dari panas matahari dan dinginnya
udara.

Namun adakalanya kita dipusingkan dengan timbulnya masalah pada dinding rumah yang
ditempati. Salah satunya adalah retak pada dinding. Meskipun tidak semua retakan pada dinding
berbahaya, namun kita harus tetap mewaspadainya.

Retak yang timbul pada dinding rumah ada berbagai bentuk. Ada yang membentuk sudut 45
derajat, ada yang berbentuk lurus dan mengarah ke bawah serta ada pula retakan yang sangat
lembut dengan jumlah yang banyak serta memiliki arah yang tidak beraturan. Anda tidak perlu
bingung. Langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah memantau dan memperhatikan
retaknya. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui jenis retakan yang terjadi serta bagaimana pula
solusinya.

Secara umum ada 2 jenis retak pada dinding yaitu retak struktur dan retak nonstruktur. Kedua
jenis retak ini memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda.

1. Retak Struktur

Retak struktur merupakan jenis retak yang berbahaya terhadap kekokohan sebuah bangunan.
Ciri utamanya adalah terjadi keretakan dengan lebarnya lebih dari 2 mm dan tembus pada sisi
dinding lainnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya retak struktur ini,
diantaranya:

1. Adanya penurunan atau pergeseran pada pondasi karena daya dukung tanah yang kurang
baik. Penyebabnya bisa bermacam-macam antara lain karena terjadinya perubahan
karakteristik tanah akibat kejadian alam seperti banjir, pergerakan tanah ataupun gempa.

2. Ukuran pondasi yang tidak sesuai dengan beban yang dipikulnya atau
kekurangsempurnaan pada saat proses pengerjaan bangunan.

3. Kerusakan pada kolom (tiang) serta balok yang disebabkan adanya keretakan atau
bengkok karena kurangnya jumlah atau ukuran tulangan besi utama dan besi pengikat
(sengkang). Faktor penyebab lain adalah rendahnya kualitas/mutu beton yang digunakan
serta kekurangsempurnaan pada saat proses pengerjaan.
Retak struktur

Retak struktur memerlukan penanganan serius, bahkan tidak jarang membutuhkan dana yang
cukup banyak untuk membuat perkuatan agar struktur bangunan tidak mengalami pergerakan.
Retak struktur bisa dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

- Retak Tarik

Penyebab utama retak tarik yaitu adanya penurunan permukaan tanah. Sebenarnya proses
penurunan pada bangunan merupakan hal yang lumrah, namun bisa menjadi masalah jika
penurunan ini terjadi tidak secara bersamaan (serentak). Kondisi tersebut mengakibatkan
perubahan elevasi pada bangunan yang tidak sama (seragam). Karakteristiknya yang bisa
dikenali yaitu keretakan akan lebih lebar pada bagian atas dan semakin menyempit pada bagian
bawahnya. Faktor penyebabnya antara lain, pemadatan yang tidak merata, erosi tanah di bawah
pondasi akibat adanya aliran air di dalamnya, pembebanan pada dinding yang tidak merata
sehingga menimbulkan beban terkonsentrasi pada satu bagian serta dapat pula disebabkan karena
adanya getaran gempa ringan.

- Retak Tekan

Retak tekan terjadi karena adanya tekanan dari atas (beban berat yang harus dipikul oleh
dinding) dan dari bawah dinding (desakan dari atas tanah) yang berkerja secara bersama-sama.
Terjadinya retak tekan bermula karena kolom pada bangunan yang tidak bisa bekerja secara
maksimal. Kondisi ini berakibat sebagian bebannya harus dipikul oleh dinding (seharusnya
beban tersebut didistribusikan oleh ringbalk menuju kolom-kolom dinding dan diteruskan oleh
sloof yang ada di bawahnya) sementara dari bawah ada desakan ke atas karena adanya
pergerakan dari tanah. Proses inilah yang menyebabkan terjadinya retak tekan.

Ada beberapa solusi apabila terjadi retak struktur yaitu :

- Apabila keretakan terjadi akibat pondasi yang mengalami penurunan maka Anda dapat
membuat pondasi baru di dekatnya dengan terlebih dahulu mendeteksi keretakan terparah pada
dinding di atasnya. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memadatkan tanah di bawah
pondasi baru kemudian buatlah kolom/tiang baru untuk membantu penyaluran beban dari sloof
serta balok lantai di atasnya.

- Apabila keretakan terjadi karena rusaknya struktur pada balok maka jika kondisinya
memungkinkan bisa ditambahkan kolom/ tiang di bawahnya sehingga penyaluran beban balok
menjadi berkurang . Jika tidak memungkinkan maka balok dapat disuntik/digrouting dengan
epoxy (cairan kimia khusus yang memiliki sifat mengikat dan cepat kering) kemudian dilakukan
pembesaran ukuran (dimensi) balok dengan perkuatan dari luar.

Proses grouting pada balok

- Apabila keretakan terjadi karena rusaknya struktur pada kolom maka Anda dapat
membuat kolom tambahan di dekat kolom yang retak. Kolom tambahan tersebut berfungsi untuk
membagi pembebanan pada kolom yang rusak. Cara lain yang bisa dilakukan yaitu memperkuat
kolom melalui cara menyuntiknya dengan cairan epoxy kemudian memperlebar ukuran (dimensi)
kolom.

- Apabila terjadi keretakan kecil pada kolom dan balok, Anda cukup menutupnya dengan
plesteran agar tulangan besi yang ada di dalamnya tidak berhubungan dengan udara luar dan
menyebabkan terjadinya perkaratan.

- Melakukan kontrol terhadap aliran air di sekitar pondasi, agar tidak menyebabkan erosi
tanah di bawah pondasi yang berakibat timbulnya retak pada dinding di atasnya.
Proses grouting pada dinding dengan memasukkan cairan kimia khusus (epoxy)

2. Retak Non Struktur

Retak non struktur umumnya tidak membahayakan namun terkadang mengurangi nilai estetis
dari bangunan. Ciri utamanya adalah timbulnya garis lembut dengan arah yang tidak beraturan.
Menurut Syarif Hidayat dalam Semen, Jenis & Aplikasinya ,retak non struktur terbagi menjadi 3
macam, yaitu:

- Crazing

Retak jenis ini terjadi karena plesteran yang terlalu banyak di trowel serta pasir yang digunakan
banyak mengandung butiran halus. Ciri-ciri retak crazing adalah :

1. Membentuk jaringan retak yang halus, dangkal dan tidak bersambung

2. Membentuk pola hexagonal denga jarak retak 5 mm-75 mm

3. Terjadi dalam selang waktu beberapa jam setelah aplikasi plesteran

Solusi mengatasi retak jenis crazing ini adalah dengan mengorek retakannya kemudian
menutupnya dengan dempul.

- Map cracking

Retak jenis ini terjadi karena penggunaan semen yang terlalu banyak serta plesteran yang
dibiarkan terlalu cepat mengering. Ciri-ciri retak jenis map cracking adalah :

1. Pola retakan menyerupai peta (map)

2. Membentuk pola heksagonal dengan jarak hingga 200 mm

3. Struktur retak cenderung lebih dalam dan bersambung


Map Cracking pada dinding karena penggunaan semen yang terlalu banyak

- Retak susut (shrinkage)

Retak ini terjadi akibat kandungan semen yang tinggi, mutu pasir yang buruk serta plesteran
yang diaplikasikan terlalu tebal. Solusi perbaikannya adalah dengan menggunakan dempul.
Berdasarkan faktor penyebabnya, retak susut dapat dibedakan menjadi beberapa tipe,
diantaranya:

Retak susut plastis yang terjadi pada sudut jendela

a. Susut Plastis

Susut plastis terjadi akibat hilangnya kadar air yang berlebih saat plaster masih dalam kondisi
plastis atau awal aplikasi. Retak ini biasa terjadii pada sudut jendela.
b. Susut Kering (drying shrinkage)

Retak susut terjadi akibat kandungan semen yang tinggi, mutu pasir yang buruk serta plester
yang diaplikasikan terlalu tebal

1. Susut yang disebabkan karena perubahan volume plesteran maupun beton pada saat
terjadi proses reaksi kimia antara semen dan air

2. Susut karena karbonasi

Susut ini terjadi pada saat dinding/beton yang sudah mengeras akibat masuknya gas
karbondioksida (CO2) ke dalam pori plesteran/beton

Semoga dengan mengenal dan memahami berbagai jenis retak pada dinding serta bagaimana
pula solusinya, rumah yang kita tempati akan tetap terjaga kekuatan dan keindahannya. (Gambar
diolah dari berbagai sumber)

*Tulisan ini telah dimuat di Tabloid Hunianku edisi 28, November 2011. Tulisan yang termuat
silakan klik di sini.