Anda di halaman 1dari 74

TUGAS AKHIR

MENGHITUNG ANDONGAN KAWAT PENGHANTAR PADA SALURAN TRANSMISI 150 KV

Diajukan untuk memenuhi syarat guna menyelesaikan program Strata Satu (S1)

memenuhi syarat guna menyelesaikan program Strata Satu (S1) Oleh : Nama : HARMAIN SAID NIM :

Oleh :

Nama

: HARMAIN SAID

NIM

: 0140311-129

Peminatan

: TEKNIK TENAGA LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA

2007

LEMBAR PENGESAHAN

Tugas akhir ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar sarjana, pada jurusan

Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana. Judul Tugas Akhir :

MENGHITUNG ANDONGAN KAWAT PENGHANTAR PADA SALURAN

TRANSMISI 150 KV

Nama

: Harmain Said

NIM

: 0140311-129

Peminatan

: Teknik Tenaga Listrik

Telah Disetuji dan Diterima Oleh :

Pembimbing

Koordinator Tugas Akhir

Ir. Badaruddin

Ir. Yudhi Gunardi, MT.

Mengetahui

Ketua Jurusan Teknik Elektro

Ir. Budi Yanto Husodo, Msc.

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir yang berjudul :

MENGHITUNG

ANDONGAN

TRANSMISI 150 KV

KAWAT

PENGHANTAR

PADA

SALURAN

Adalah benar karya pribadi saya dan sepanjang sepengetahuan saya belum pernah

dipublikasikan oleh orang lain dan bukan duplikasi karya tulis yang sudah dipakai untuk

mendapatkan gelar sarjana di Universitas lain, kecuali pada bagian-bagian sumber

informasi dicantumkan dengan cara referensi yang semestinya.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya.

Jakarta, 21 April 2007

Penulis

Harmain Said

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap Bismillaahirrahmaanirrahiim penulis mencoba memulai

penulisan Skripsi ini. Syukur yang sedalam-dalamnya penulis panjatkan kehadirat

Allah SWT yang telah memberi rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan,

kesempatan dan kelapangan pikiran kepada penulis hingga akhirnya Skripsi ini

selesai. Serta shalawat beriring salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad

SAW.

Penulisan Skripsi ini dimaksudkan untuk membantu pemahaman dan

pengertian mengenai pentingnya andongan pada sistem transmisi. Dalam hal ini

penulis

mengambil

pembahasan

tentang ‘

MENGHITUNG

ANDONGAN

KAWAT PENGHANTAR PADA SALURAN TRANSMISI 150 KV’

Pada penulisan Skripsi ini penulis banyak mendapat dukungan serta

bimbingan yang diberikan sehingga memungkinkan bagi penulis untuk dapat

menyelesaikan Skripsi ini sesuai dengan rencana. Maka dengan segala ketulusan

dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Ayahanda

(Alm)

H.

Baharuddin

Said

yang

terus

memberikan

dukungan

serta

doa

restunya.

Semoga

Allah

SWT

memberikan

karunia-Nya dan memberikan tempat yang baik di sisi-Nya.

2.

Ibunda

Hj,

Nurdahlena

Siregar

serta

saudara-saudara

saya

yang

tercinta yang tidak pernah lelah memberikan dukungan serta doanya.

3.

Bapak

Ir.

Badaruddin

selaku

Pembimbing

saya

yang

selalu

memberikan masukan-masukan untuk penulisan Skripsi saya ini.

4. Bapak Ir. Budi Yanto Husodo, M.Sc selaku Ketua Jurusan Teknik

Elektro Universitas Mercubuana.

5. Bapak Ir. Yenon Orsa, MT selaku Direktur Perkuliahan Sabtu Minggu

Universitas Mercubuana yang selalu aktif memberi masukan kepada

mahasiswanya untuk dapat menyelesaikan perkuliahan ini.

6. Seluruh Dosen dan Staf karyawan di Fakultas Teknologi Industri

Jurusan Teknik Elektro Universitas Mercubuana.

7. Buat adik Sapitri yang tidak bosan memberikan dukungan dan doanya

hingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

8. Buat semua sahabat-sahabat dekat saya yang selalu membantu.

9.

Buat

rekan-rekan mahasiswa

Fakultas

Teknologi

Industri

Jurusan

Teknik Elektro Universitas Mercubuana dan semua pihak yang turut

memberikan bantuan, saran dan kritikan demi sempurnya Skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyajian Skripsi ini baik tulisan

maupun materi masih jauh dari kesempurnaan yang disebabkan oleh keterbatasan

kemampuan penulis. Sehingga kemungkinan dijumpai kekurangan-kekurangan

dalam Skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan memohon maaf yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung

maupun tidak langsung selama penulis menyusun Skripsi ini. Semoga Penulisan

Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Jakarta, 20 May 2007

Penulis

Harmain Said NIM : 0140311-129

ABSTRACT

The transmission lines was something that was very absolute in some

system the electricity power.In the distribution of the electricity power from the

centres of the generator to the burden (the consumer), where his distance quite far

then was carried out through the transmission channel. In this transmission lines

the voltage was increased from the centre of the generator through the transformer

to the value of the voltage that was wanted.

To

more

optimised

results

that

will

be

received

in

building

a

transmission lines, here the writer tried to discuss the mechanical criterion in

transmission planning especially in “ Count Andongan the escort's Wire to the

Transmission Lines 150 of kVA “ as well as several of his supportive aspects like

the escort's clearance, strong attracted the escort and the geographical situation.

So as eventually will be received by results that were more optimal to build the

transmission lines that in accordance with his geographical condition in order to

satisfies the requirement for the electricity power that increasingly increased

ABSTRAK

Saluran transmisi adalah suatu hal yang sangat mutlak dalam suatu system

tenaga listrik. Dalam penyaluran tenaga listrik dari pusat-pusat pembangkit ke

beban (konsumen), dimana jaraknya cukup jauh maka dilakukan lewat saluran

transmisi. Pada saluran transmisi ini tegangan dinaikkan dari pusat pembangkit

melalui transformator ke harga tegangan yang diinginkan.

Untuk

lebih

mengoptimalkan

hasil

yang

akan

diperoleh

dalam

membangun sutau saluran transmisi, disini penulis mencoba membahas kriteria

mekanis dalam perencanaan transmisi khususnya dalam “ Menghitung Andongan

Kawat Penghantar Pada Saluran Transmisi 150 kVA “ serta beberapa aspek yang

mendukungnya seperti jarak antara penghantar, kuat tarik penghantar dan keadaan

geografis.

Sehingga nantinya akan diperoleh hasil yang lebih optimal untuk membangung

saluran transmisi yang sesuai dengan kondisi geografisnya guna memenuhi

kebutuhan tenaga listrik yang semakin meningkat.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………

i

LEMBAR PERNYATAAN ……………………………………………

ii

KATA PENGANTAR …………………………………………………

iii

ABSTRACT ……………………………………………………………

vi

ABSTRAK ………………………………………………………………

vii

DAFTAR ISI …………………………………………………………….

viii

BAB I

PENDAHULUAN ………………………………………. 1

1.1.

Latar Belakang ……….………………………

1

1.2.

Tujuan Penulisan …… …………………………….2

1.3.

Batasan Masalah ………………………………….

3

1.4

Metode Penulisan ………………………………… 3

1.5.

Manfaat Penulisan ……………………………

4

1.5.

Sistematika Penulisan ……………………………. 4

BAB II

SISTEM SALURAN TRANSMISI……………………

6

2.1. Umum …………………………………………….

6

2.2. Diagram Satu Garis Sistem Daya ………………

7

2.3. Saluran Transmisi ……………………………

8

2.4. Klasifikasi Saluran Transmisi …………………… 9

 

2.4.1 Berdasarkan Jenis Arus …………………

9

2.4.2 Berdasarkan Tegangan Transmisi ………

10

2.4.3 Berdasarkan Fungsinya Dalam Operasi ….

10

BAB III

PENGHANTAR SALURAN TRANSMISI……………

12

3.1. Kawat Penghantar …………

……………………

12

3.1.1 Pengertian ………………………………

12

3.1.2 Bahan ……………………………………

12

3.1.3 Jenis Kawat Penghantar …………………

13

3.1.4 Tegangan Tarik Pada Penghantar …………. 14

3.2. Jarak Antar Penghantar …………………………

16

3.2.1 Jarak Horizontal …………………………… 16

3.2.2 Jarak Vertikal ……………………………… 17

3.3. Menara Transmisi ………………………………… 18

3.4. Tekanan Angin …………………………………

19

3.5. Jarak antara Tiang (Span) ………………………

20

3.6. Andongan Kawat Penghantar

…………………… 20

3.6.1 Kedua Menara Sama Tinggi ………………. 21

3.6.2 Kedua Menara Tidak Sama Tinggi ……… 22

3.7. Rentangan Vertikal ………………………………

24

3.8. Template untuk Penempatan Menara……………….27

3.8.1 Penggambaran Template …………………. 28

3.9. Pemakaian Template ………………………………30

BAB IV

MENGHITUNG ANDONGAN KAWAT PENGHANTAR

PADA SALURAN TRANSMISI 150 KV………………

35

4.1. Menghitung Andongan Kawat Penghantar ACSR Pada

Saluran Transmisi 150 kV ……………………

36

4.1.1.

Perhitungan Andongan Untuk Menara

Sama Tinggi ……………………………

36

4.1.2. Perhitungan Andongan Untuk Menara

Tidak Sama Tinggi …………………………39

 

4.2.

Menghitung Andongan Kawat Penghantar AAC Pada

 

Saluran Transmisi 150 kV ……………………

42

4.2.1 Perhitungan Andongan Untuk Menara

Sama Tinggi ……………………………

43

4.2.2 Perhitungan Andongan Untuk Menara

Tidak Sama Tinggi …………………………46

BAB V

PENUTUP ………………………………………

50

 

5.1.

Kesimpulan ……………………………………

50

5.2.

Saran …………………………………………….

50

DAFTAR PUSAKA ……………………………………………………

52

DAFTAR TABEL ……………………………………………………

xi

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………

xx

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Karakteristik mekanik kawat aluminium Hard Drawn

Luas

Diamater

 

Kuat Tarik (kg)

Penampang

(mm)

Berat (kg/km)

   

(mm

2 )

Minimum

Rata-Rata

15,90

4,5

42,93

257

268

13,85

4,2

37,40

224

234

12,57

4,0

33,94

203

212

11,34

3,8

30,62

183

191

10,75

3,7

29,03

178

185

9,621

3,5

15,98

159

169

8,042

3,2

21,71

133

141

6,605

2,9

17,83

111

118

5,309

2,6

14,33

91,5

97,0

4,155

2,3

11,22

74,5

78,9

3,142

2,0

8,48

58,5

61,9

Tabel 2. Karakteristik mekanik kawat aluminium campuran Hard Drawn

Luas Penampang

Terhitung

Diamater

Berat

Kuat Tarik

Tegangan Tarik Minimum (kg/mm 2 )

(mm

2 )

(mm)

(kg/km)

(kg)

19,64

5,0

53,03

619

31,5

15,90

4,5

42,93

501

31,5

12,57

4,0

33,94

396

31,5

10,75

3,7

29,03

339

31,5

9,621

3,5

25,98

303

31,5

8,042

3,2

21,71

253

31,5

6,605

2,9

17,83

208

31,5

5,309

2,6

14,33

167

31,5

4,155

2,3

11,22

131

31,5

3,142

2,0

8,48

99

31,5

Tabel 3. Karakteristik mekanik kawat baja galvanisasi siberlilit

Ukuran Luas

 

Luas

     

Penampang

Nominal

Jumlah

Diamater

Penampang

Terhitung

Diameter

Luar

Berat

(kg/km)

Kuat Tarik

(kg)

(mm

2 )

(mm)

(mm

2 )

(mm)

135

7/5,0

137,4

15,0

1092

15400

110

7/4,5

11,3

12,5

884,4

12500

90

7/4,0

87,99

12,0

698,7

9800

70

7/3,5

67,35

10,5

535,0

7560

55

7/3,2

56,30

9,6

447,3

6300

45

7/2,9

46,24

8,7

367,3

5200

38

7/2,6

37,1

7,8

295,3

4180

30

7/2,3

29,09

6,9

231,0

3270

22

7/2,0

21,99

6,0

174,7

2470

Tabel 4. Karakteristik mekanik kawat baja galvanisasi siberlilit Hard Dawn

Ukuran Luas

 

Luas

     

Penampang

Nominal

Jumlah

Diamater

Penampang

Terhitung

Diameter

Luar

Berat

(kg/km)

Kuat Tarik

(kg)

(mm

2 )

(mm)

(mm

2 )

(mm)

500

61/3,2

490,6

28,8

1351

13890

400

61/2,9

402,9

26,1

1109

11420

400

37/3,7

397,8

25,9

1092

11290

360

37/3,5

356,0

24,5

977,6

10900

300

37/3,2

297,6

22,4

816,9

8420

240

19/4,0

238,6

20,0

652,6

6770

200

37/2,6

196,4

18,2

539,2

5560

200

19/3,7

204,3

18,5

558,2

5800

180

19/3,5

182,8

17,5

499,5

5180

150

19/3,2

152,8

16,0

417,4

4330

125

19/2,9

125,5

14,5

342,8

3560

100

19/2.6

100,9

13,0

275,5

2860

90

7/4,0

87,99

12,0

240,4

2490

70

7/3,5

67,35

10,5

184,0

1910

55

7/3,2

56,29

9,6

153,8

1590

45

7/2,9

46,24

8,7

126,3

1310

38

7/2,6

37,16

7,8

101,5

1050

30

7/2,3

29,09

6,9

79,5

825

22

7/2,0

21,99

6,0

60,1

624

16

3/2,6

15,93

5,6

43,5

451

12

3/2,3

12,47

5,0

34,1

354

10

3/2,0

9,43

4,3

25,7

267

Tabel 5. Karakteristik mekanik kawat tembaga berlilit

Ukuran Luas

 

Luas

     

Penampang

Nominal

Jumlah

Diamater

Penampang

Terhitung

Diameter

Luar

Berat

(kg/km)

Kuat Tarik

(kg)

(mm

2 )

(mm)

(mm

2 )

(mm)

1000

127/3,2

1021

41,6

9135

40100

850

127/2,9

838,8

37,7

7651

33000

725

91/3,2

731,8

35,2

6655

28700

600

91/2,9

601,1

31,9

5466

23700

500

61/3,2

490,6

28,8

4448

19300

400

61/2,9

402,9

26,1

3654

15900

325

61/2,6

323,8

23,4

2937

12900

250

61/2,3

253,5

20,7

2298

10200

240

37/2,6

196,4

18,2

1776

7830

150

37/2,3

153,7

16,1

1390

6160

125

19/2,9

125,5

14,5

1129

4960

100

19/2,0

100,9

13,0

907,6

4020

80

19/2,3

78,95

11,5

710,3

3160

60

19/2,0

59,70

10,0

537,0

2410

38

7/2,6

37,16

7,8

334,4

1480

30

7/2,3

29,09

6,9

261,7

1170

22

7/2,0

21,99

6,0

197,9

888

14

7/1,6

14,08

4,8

126,7

574

8

7/1,2

7,92

3,6

71,1

326

Tabel 6. Karakteristik mekanik kawat tembaga berlilit Hard Dawn

Ukuran Luas

 

Luas

     

Penampang

Nominal

Jumlah

Diamater

Penampang

Terhitung

Diameter

Luar

Berat

(kg/km)

Kuat Tarik

(kg)

(mm

2 )

(mm)

(mm

2 )

(mm)

240

19/4,0

238,8

20,0

2148

9180

200

19/3,7

204,3

18,5

1838

7910

180

19/3,5

182,8

17,5

1645

7120

150

19/3,2

152,8

16,0

1375

5990

125

19/2,9

125,5

14,5

1129

4960

100

7/4,3

101,6

12,9

914,5

3880

75

7/3,7

75,25

11,1

677,0

2910

55

7/3,2

56,29

9,6

506,4

2210

45

7/2,9

46,24

8,7

416,0

1830

38

7/2,6

37,16

7,8

334,4

1480

30

7/2,3

29,09

6,9

261,7

1170

22

7/2,0

21,99

6,0

197,9

890

Tabel 6. Karakteristik mekanik kawat tembaga berlilit Hard Dawn

Ukuran

Luas

Konstruksi

(Jumlah/Diameter

dalam mm)

Luas Penampang Terhitung (mm 2 )

Kuat

Tarik

Diamater Luar (mm)

Berat

Penampang

Nominal

(mm

2 )

Aluminium

Baja

Aluminium

Baja

Minimum

(kg)

Aluminium

Baja

(kg/km)

680

54/4,0

19/2,4

678,8

85,96

20310

36,00

12,0

2556

610

54/3,8

7/3,8

612,4

79,38

18150

34,20

11,4

2320

590

30/5,0

19/3,0

589,0

134,3

24250

35,00

15,0

2688

520

54/3,5

7/3,5

519,5

67,35

15600

31,50

10,5

1969

480

30/4,5

19/2,7

477,0

108,8

20160

31,50

13,5

2176

430

54/3,2

7/3,2

434,3

56,29

13080

28,80

9,6

1645

420

30/4,2

19/2,5

415,5

93,27

17390

29,30

12,5

1883

410

26/4,5

7/3,5

413,4

67,35

13890

28,50

10,5

1673

380

30/4,0

19/2,4

377,1

85,96

15930

28,00

12,2

1720

360

54/2,9

7/2,9

356,7

46,24

11010

26,10

8,7

1351

330

26/4,0

7/3,1

326,8

52,84

10930

25,30

9,3

1320

330

54/2,8

7/2,8

332,5

43,11

10290

25,20

8,4

1260

320

30/3,7

7/3,7

322,5

75,25

13630

25,90

11,1

1484

290

30/3,5

7/3,5

288,6

67,35

12170

24,50

10,5

1328

290

54/2,6

7/2,6

286,7

37,16

8964

23,40

7,8

1086

250

26/3,5

7/2,72

250,1

40,80

8670

22,16

8,16

1013

240

30/3,2

7/3,2

241,3

56,29

10210

22,40

9,6

1110

210

26/3,2

7/2,49

209,1

34,09

7260

20,27

7,47

847,0

200

30/2,9

7/2,9

198,2

46,24

8620

20,30

8,7

911,7

170

26/2,9

7/2,26

171,7

28,08

6010

18,38

6,78

696,2

160

30/2,6

7/2,6

159,3

37,16

6990

18,20

7,8

732,8

140

26/2,6

7/2,02

138,0

22,44

4860

16,46

6,06

558,1

120

30/2,3

7/2,3

124,7

29,09

5590

16,10

6,0

573,7

120

12/3,5

7/3,5

115,5

67,35

9590

17,50

10,5

848,1

110

26/2,3

7/1,79

108,0

17,61

3960

14,57

5,37

437,0

97

12/3,2

7/3,2

96,50

56,29

8050

16,00

9,6

708,9

95

6/4,5

1/4,5

95,40

15,90

3180

13,50

4,5

358,2

90

6/4,3

1/4,3

87,12

14,52

2910

12,90

4,5

351,8

80

6/4,2

1/4,2

83,10

13,85

8770

12,60

4,3

335,5

79

12/2,9

7/2,9

79,26

46,24

6820

14,50

4,2

582,1

75

6/4,0

1/4,0

75,42

12,57

2510

12,00

8,7

304,6

64

12/2,6

7/2,6

63,71

37,16

5510

13,00

4,0

468,0

58

6/3,5

1/3,5

57,73

9,621

1980

10,50

7,8

233,1

50

12/2,3

1/2,3

49,86

29,09

4340

11,50

3,5

366,3

48

6/3,2

1/3,2

48,25

8,042

1660

9,6

6,9

194,8

40

6/2,9

1/2,9

39,63

6,605

1400

8,7

3,2

196,0

32

6/2,6

1/2,6

31,85

5,309

1140

7,8

2,6

128,6

25

6/2,3

1/2,3

24,93

4,155

907

6,9

2,3

100,7

19

6,20

1,20

18,85

3,142

698

6,0

2,0

76,12

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Diagram Satu Garis Sistem Daya

Gambar 2.2. Saluran Transmisi Rangkaian Tunggal

Gambar 2.3. Gambar Saluran Transmisi Rangkaian Ganda

Gambar 3.1. Kedua Menara Sama Tinggi

Gambar 3.2. Kedua Menara Tidak Sama Tinggi

Gambar 3.3. Rentangan Vertikal

Gambar 3.4. Pergeseran Titik Terendah pada Rentangan

Gambar 3.5. Rentangan Vertikal Berdasarkan Pergeseran Titik Terendah

Gambar 3.6. Jarak Bebas Penghantar Terhadap Permukaan Bumi

Gambar 3.7. Template

Gambar 3.8. Pemakaian Template

Gambar 3.9. Lengkungan Penghantar yang Tidak Memenuhi Persyaratan Jarak

Bebas

Gambar 3.10. Pemakaian Menara yang Lebih Tinggi

Gambar 3.11. Penambahan Satu Menara

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perencanaan

merupakan

suatu

kegiatan

pemikiran

yang

sistematis,

berjangka panjang, berorientasi rasional akan pembangunan, tugas, tujuan dan

kebutuhan masa depan dalam rangka mengambil langkah-langkah atau tindakan-

tindakan pelaksanaan yang perlu ditempuh dalam persiapan sebelumnya guna

mencapai sasaran yang telah ditetapkan secara optimal.

Perencanaan transmisi yang terdiri atas kriteria listrik dan kriteria mekanis

mempunyai tujuan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan pengadaan saluran

transmisi seoptimal mungkin guna memenuhi kebutuhan akan tenaga listrik yang

terus menerus meningkat membuat perusahaan listrik yang ada lebih memaksimal

potensi yang ada lebih memaksimalkan potensi yang ada, antara lain dengan

mengurangi rugi-rugi yang timbul pada saat penyaluran tenaga listrik. Salah satu

cara adalah dengan memperhatikan sistem transmisi yang merupakan bagian dari

system tenaga listrik untuk menyalurkan daya listrik dari pusat pusat tenaga listrik

ke gardu induk yang selanjutnya didistribusikan kepada konsumen.

Pada perencanaan mekanis adanya tekanan angin yang merupakan gaya-

gaya mekanis pada menara dan penghantar perlu diperhitungkan. Penghantar yang

digunakan

harus

memiliki

kekuatan

mekanis

yang

baik.

Pemakaian

kawat

penghantar dibatasi oleh karakteristik mekanis serta beratnya sendiri yang dapat

menyebabkan andongan yang berlebihan pada suatu rentangan. Di samping itu

penghantar dapat berayun melebihi batas-batas yang telah ditetapkan bila ditiup

angina dan mengganggu jarak bebas.

Pada daerah-daerah dimana permukaan bumi tidak rata, misalnya daerah

pegunungan, andongan kawat dapat mendekati permukaan bumi pada bagian-

bagian yang tinggi diantara dua menara. Untuk mencegah hal ini, diperlukan

penampang

peta

lokasi

saluran

udara

dan

pemakaian

template

agar

pada

pemasangan kawat pada suatu rentangan, diperoleh andongan dengan jarak bebas

dari permukaan bumi.

Pada skripsi ini, penulis mencoba menjelaskan bagian dari perencanaan

saluran transmisi yaitu “ Menghitung Andongan Kawat Penghantar Pada Saluran

Transmisi 150 kV” yang dapat dipakai sebagai acuan dalam pembangunan saluran

transmisi.

1.2 Tujuan Penulisan

Untuk memperoleh hasil yang optimal dari saluran transmisi, maka perlu

diperhatikan beberapa hal yang erat kaitannya dengan pembangunan saluran

transmisi itu sendiri. Dalam Skripsi ini penulis mencoba menguraikan cara

menghitung andongan kawat penghantar yang sebagai perbandingan penulis

mengambil data-data di PT. PLN (Persero) P3B Region Jakarta Banten, Cililitan

Jakarta

Timur,

yang

nantinya

dapat

digunakan

sebagai

acuan

atau

bahan

pertimbangan dalam membangun saluran transmisi sehingga akan diperoleh hasil

yang lebih optimal.

1.3

Batasan Masalah

Sesuai

denan

judul

skripsi

ini,

yaitu

Menghitung

Andongan

Kawat

Penghantar Pada Saluran Transmisi 150 kV ” , maka penulisan Skripsi ini hanya

terbatas

pada

aspek-aspek

yang

berhubungan

dengan

perencanaan

saluran

transmisi khususnya perhitungan andongan kawat penghantar sesuai dengan

kondisi menara. Hal ini bertujuan agar dalam penulisan Skripsi ini lebih terarah

dan lebih mudah dipahami yang juga karena kemampuan dari penulis yang

terbatas.

1.4 Metode Penulisan

Dalam

penulisan

tugas

penelitian sebagai berikut :

akhir

ini,

penulis

menggunakan

metode-metode

a. Studi literature, yaitu dengan mengumpulkan, membaca, mengolah data

dari buku buku referensi, jurnal, artikel dan lain lain yang berhubungan

dengan tugas akhir ini.

b. Mengadakan wawancara dan diskusi, yaitu dengan meminta penjelasan

mengenai informasi dan data-data yang diperlukan baik secara langsung

dengan pimpinan (Kabag) maupun dari petugas terkait PT.PLN (Persero)

dan diskusi dengan rekan-rekan mahasiswa.

c. Memformulasikan masalah dengan memasukkan rumus-rumus yang akan

digunakan dalam analisa.

d. Menganalisa dan memahami hasil-hasil yang diperoleh dari data-data yang

dimasukkan kedalam formulasi yang sudah dibuat.

1.5

Manfaat Penulisan

Skripsi ini diharapkan bermanfaat bagi :

1. Mahasiswa yang ingin mempelajari hal yang sama.

2. sendiri, untuk menambah pengetahuan dan

Penulis

pengalaman agar

mampu

melakukan

penghitungan

andongan

kawat

penghantar.

Dan

sebagai

bahan

masukan

dan

bahan

bandingan

kelak

ketika

terjun

kelapangan.

1.6 Sistematika Penulisan

Skripsi ini terdiri dari 5 (lima) bab, uraian dan isi secara ringkas adalah sebagai

berikut :

BAB I

Pendahulan

Bab ini menerangkan mengenai latar belakang pemilihan judul,

pembatasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan

sistematika pembahasan.

BAB II

Sistem Saluran Transmisi

Bab ini menerangkan tentang sistem saluran transmisi, diagram

satu garis dari sistem daya, serta klasifikasi saluran transmisi.

BAB III

Penghantar Saluran Transmisi

Bab ini menerangkan

tentang bagian penting dari penghantar

saluran transmisi berupa jenis penghantar, tegangan tarik pada

penghantar, jarak antar penghantar dan menara transmisi.

BAB IV

Menghitung Andongan Kawat Penghantar Pada Saluran Transmisi

150 kV

Bab ini menguraikan perhitungan andongan kawat penghantar yang

meliputi tekanan angina, jarak gawang (span), template untuk

penempatan menara dan andongan penghantar.

BAB V

Penutup

Bab ini merupakan bab akhir dari penulisan yang merupakan

intisari dari Skripsi ini yang berisi Kesimpulan dan Saran .

BAB II

SISTEM SALURAN TRANSMISI

2.1. Umum

Tenaga listrik dapat dibangkitkan dengan mudah dan ekonomis hanya

pada tempat-tempat dimana sumber dari pembangkit tenaga seperti batubara dan

air tersedia. Ini jelas bahwa sumber dari tenaga listrik tersebut tersedia tidak

tersedia pada seluruh tempat, karena itu lokasi pembangkitan dibangun pada

tempatyang benar-benar tersedia kebutuhan-kebutuhan untuk pembangkitan itu

sendiri. Dan melalui saluran transmisi inilah penyaluran tenaga listrik ini sampai

pada konsumen. Adapun komponen utama dari saluran transmisi itu sendiri

adalah :

a. Menara transmisi atau tiang transmisi beserrta pondasinya,

b. Isolator,

c. Kawat penghantar (conductor),

d. Kawat tanah (ground wire).

Pusat-pusat

tenaga

listrik,

terutama

yang

menggunakan

air

(PLTA)

umumnya terletak jauh dari tempat-tempat dimana tenaga listrik digunakan atau

pusat-pusat beban (Load Centers).

Dengan demikian tenaga listrik yang dibangkitkan harus disalurkan menggunakan

kawat-kawat atau saluran trasnsmisi.

Dalam transmisi energi listrik, tegangan yang digunakan adalah tegaangan

tinggi agar diperoleh aliran arus yang rendah dan berarti mengurangi rugi daya

(Head Loass) I² R yang menyertainya. Mengingat tegangan generator yang

dihasilkan pada umumnya rendah, antara 6 – 20 KV, maka tengangan ini biasanya

dinaikkan ketingkat yang lebih tinggi antara 30 -500 KV dengan menggunakaan

transformator penaik tegangan (Step-Up Transformator). Hal ini dilakukan untuk

meningkatkan keandalan sistem tenaga pembangkit yang saling berjauhan dan

saling berinterkoneksi. Dan ketika saluran transmisi mencapai pusat beban,

tegangan tersebut akan diturunkan kembali menjadi tegangan menengah dengan

menggunakan transformator penurun tegangan (Step-Down Transformator).

2.2. Diagram Satu Garis Sistem Daya

Diagram satu garis sistem daya ditunjukkan pada Gambar 2.1. Diagram

satui garis ini terdiri dari sistem transmisi yang dibagi atas:

1. Transmisi sisi primer

Pengiriman daya secara besar-besaran dari pusat pembangkit primer

gardu induk (Primery Substation), ataupun untuk kerjasama antar

beberapa buah (unit) pusat pembangkit (Inter Connection System).

2. Transmisi sisi sekunder

Pengiriman daya listrik dari gardu induk sisi sekunder (Secondary

Substation) ke pusat-pusat beban.

Step Up Step Down Transformator Transformator Transmissi on line Sisi Skunder Sisi Primer
Step Up
Step Down
Transformator
Transformator
Transmissi
on line
Sisi Skunder
Sisi Primer

Gambar 2.1. Diagram satu garis sistem daya

2.3. Saluran Transmisi

Transmisi terdiri dari seperangkat konduktor yang membawa energi listrik dan

mentransmisikan dari pusat pembangkit ke gardu induk primer. Konduktor dari

saluran transmisi tersebut digantungkan pada isolator yang dikaitkan dengan

menara. Gambar 2.2 dan 2.3 menunjukkan sketsa dari saluran transmisi. Gambar

2.2

memperlihatkan

bagian

dari

menara

yang

membawa

tida

bagian

dari

konduktor (3) tiga phasa R, S dan T, ini disebut rangkaian tunggal. Gambar 2.3

menunjukkan menara yang membawa 6 (enam) konduktor. Keenam konduktor ini

tersusun diatas dua rangkaiaan yang terpisah, masing-masing kawat debgab phasa

R, S dan T. Tipe yang ditunjukkan pada Gambar 2.3 disebut dengan saluran

transmisi rangkaian ganda. R S T
transmisi rangkaian ganda.
R
S
T

Gambar 2.3 Saluran transmisi rangkaian tunggal

R2 S2 R1 T2 S1 T1 Gambar 2.3 Saluran Transmisi rangkaian Ganda
R2
S2
R1
T2
S1
T1
Gambar 2.3 Saluran Transmisi rangkaian Ganda

2.4. Klasifikasi Saluran Transmisi

Saluran transmisi dapat diklarifikasikan (dibagi) menjadi beberapa bagian,

yaitu :

2.4.1.

Berdasarkan Jenis Arus

Menurut jenis arus dikenal sistem arus bolak-balik (AC) dan sistem arus

searah (DC). Sistem arus bolak-balik merupakan sistem yang banyak digunakan

saat ini mengingat beberapa kelebihan-kelebihannya seperti :

o

mudah pembangkitannya

o

mudah pengaturan tegangannya

o

dapat menghasilkan medan putar

o

dengan sistem tiga phasa, daya yang disalurkan melalui jaringan lebih

besar.

Bukan berarti saluran DC tidak mempunyai kelebihan bila dibandingkan

dengan saluran AC, seperti : isolasinya yang lebih sederhana, daya guna (efisiensi)

yang lebih tinggi (karena power faktornya 1) serta tidak ada masalah stabilitas

sehingga dimunggkinkan untuk penyaluran jarak jauh. Akan tetapiu masalah

ekonomisnya masih harus diperhitungkan. Penyaluran energi listrik dengan sistem

DC harus dapat dianggap ekonomis bila jarak saluran udara lebih jauh, antara 400

– 600 km, atau untuk saluran bawah tanah lebih panjang dari 50 km. Ini

disebabkan karena biaya peralatan pengubah AC ke DC dan sebaliknya yang

cukup tinggi.

2.4.2. Berdasarkan Tegangan Transmisi

Di Indonesia standar tegangan transmisi adalah :70 KV, 150 KV, 275 KV

dan 500 KV, Penentuan tegangan transmisi ini dengan memperhitungkan daya

yang disalurkan, jumlah rangkaian, jarak penyaluran, keandalan, biaya peralatan

serta tegangan-tegangan yang sekarang dan yang direncanakan. Kecuali itu,

penentuan tegangan harus dilihat dari standarisasi peralatan yang ada.

2.4.3. Berdasarkan Fungsinya Dalam Operasi

Berdasarkan fungsinya dalam operasi , saluran transmisi sering diber nama

antara lain :

1. Transmisi yang menyalurkan daya besar dari pusat-pusat pembangkit ke

daerah beban, antaraa dua atau lebih sistem.

2. Sub transmisi, biasanya merupakan transmisi pencabangan dari saluran

yang lebih tinggi ke saluran yang lebih rendah.

3.

Distribusi di Indonesia telah ditetapkan bahwa tegangan distribusi adalah

20 KV.

BAB III

PENGHANTAR SALURAN TRANSMISI

3.1.

Kawat Penghantar

3.1.1

Pengertian

Kawat penghantar

adalah

kawat

untuk

menghantarkan arus

listrik dan

mempunyai

sifat-sifat daya

hantar

listrik yang baik

dan tahan panas

serta

mempunyai daya mekanis yang baik. Penghantar untuk saluran transmisi adalah

kawat

tanpa

isolasi

(bare)

yaang

terbuat

dari

bahan

tembaga,

perunggu,

alumunium, logam biasa dan logam campuran yang berbentuk padat, berlilit dan

berongga.

Pada sistem tegangan listrik , kawat penghantar yang bertegangan dapat

dijumpai pada saluran transmisi, gardu induk dan panel daya.

3.1.2 Bahan

Bahan kawat penghantar yang digunakan untuk saluran energi listrik perlu

memiliki sifat-sifat berikut :

a. Konduktivitas tinggi

b. Kekuatan tarik mekanikal yang tinggi

c. Mempunyai titik berat

d. Biaya murah (rendah), dan

e. Tidak mudah patah

Untuk keperluan ini yang paling banyak digunakan adalah tembaga aluminium

dan berbagai kombinasi dari kedua bahan tersebut. Untuk saluran udara biasanya

digunakan kawat yang tidak solid, melainkan terdiri atas jalinan beberapa kawat.

Kawat penghantar jalinan (stranded wires) biasanya terdiri atas sebuah kawat

berpusat dengan sekelilingnya lapisan-lapisan 6,12,18 atau 24 kawat, untuk n

lapisan, jumlah kawat adalah sebanyak [3n(n+1)+1]. Bilamana tiap kawat adalah

d, maka diameter kawat jalinan seluruhnya adalah (2n+1)d.

3.1.3 Jenis Kawat Penghantar

Jenis kawat penghantar yang biasa digunakan pada saluran transmisi

adalah kawat tembaga dengan konduktivitas 100 % (CU 100%), kawat tembaga

yang konduktivitasnya 97,5% atau kawat aluminium dengan konduktivitas 61%

(Al 61%).

Kawat

penghantar aluminium terdiri

dari berbagai jenis dengan

lambang sebagai berikut :

a. AAC

= “All Aluminium Conductor”,

Yaitu

kawat

aluminium.

penghantar

yang

seluruhnya

terbuat

dari

b. AAAC

= “ All Aluminium Alloy Conductor”,

Yaitu kawat penghantar yang seluruhnya terbuat dari

c. ACSR

campuran aluminium.

= “ Aluminium Conductor Steel Reinforced”,

Yaitu kawat penghantar aluminium berinti kawat baja.

d. ACAR

= “ Aluminium Conductor Alloy Reinforced “,

Yaitu kawat penghantar aluminium yang diperkuat dengan

logam campuran.

Kawat tembaga mempunyaai beberapa kelebihan dibandingkan dengan

kawat aluminium karena konduktivitas dan kuat tariknya lebih tinggi. Tetapi

kelemahannya ialah, untuk besar tahanan yang sama, kawat tembaga lebih berat

dari kawat aluminium dan juga lebih mahal. Oleh karena itu kaawat aluminium

telah menggantikan kedudukan kawat tembaga. Untuk memperbesar kuat tarik

dari kawat aluminium digunakan campuran aluminium (Aluminium Alloy). Untuk

saluran transmisi teganggan tinggi, dimana jarak antara 2 (dua) tiang

/ menara

jauh (ratusan meter), dibutuhkan kuat tarik yang lebih tinggi, untuk itu digunakan

kawat ACSR.

3.1.4 Tegangan Tarik Pada Penghantar

Penghantar yang digunakan harus cukup aman dalam menyalurkan tenaga

listrik. Untuk itu daya kerja maksimum pada kawat karus ditambah kan dengan

faktor keamanan 2,2 untuk kawat tembaga tarikan keras (hard drawn) dan 2,5

untuk kawat ACSR serta kawat-kawat lainnya. Bila tarikan sehari-hari pada kawat

besar, maka penghantar mudah menjadi letih karena getaran. Hal ini perlu

diperhatikan dalam mempertimbangkan besarnya kekuatan kerja maksimum.

Apabila tegangan kerja maksimum telah ditetapkan, maka andongan dan

tegangan tarik kawat dalam berbagai kondisi dapat dihitung. Untuk kawat yang

membentuk lengkungan parabolis andongan dan tariknya adalah :

Untuk mencari tegangan tarik kawat dipergunakan rumus 2) :

f 2 ² { f1 ² + ( K – tE ) } = M

Dimana

f

1

= Tegangan kerja kawat penghantar [ kg/mm² ]

(3.1)

f

2

t

E

α

K

M

= Tegangan tarik terhadap andongan [ kg/mm² ]

=

=

=

=

=

Suhu maksimum pada andongan tertentu [/˚C]

Koefisien elastisitas penghantar [kg/mm 2 ]

Koefisien permulaan linier [/˚C]

Koefisien tegangan tarik [kg/mm 2 ]

Tegangan tarik kawat [kg/mm 2 ]

Untuk mencari andongan (D) dipergunakan rumus 2) :

D =

Dimana

δq

2 S

2

8 f

2

D Andongan [m]

=

δ Berat konduktor perluas penampang [kg/mm² ]

=

q

2

=

1,37 untuk ketegangan maksimum

q

2

=

1 untuk menghitung andongan

S

=

Rentangan [m]

(3.2)

Untuk mencari koefisien tegangan tarik kawat (K) dipergunakan rumus 2) :

K

=

f

1

(

q δ

1

)

2

S

2

E

f

1

2

(3.3)

Sehingga berdasarkan rumus-rumus diatas didapat rumus untuk mencari tegangan

tarik kawat (M) yaitu :

M =

(

q δ

2

)

2

S

2

E

f

1

2

(3.4)

Untuk mencari berat konduktor perluas penampang (δ )

δ =

W

A

Dimana :

W Berat Penghantar persatuan panjang [kg/m]

=

A Luas Penampang penghantar [mm 2 ]

=

(3.5)

Untuk mencari tegangan kerja kawat penghantar (

f

1

=

T

A

3.2 Jarak Antar Penghantar

Dalam

perencanaan

saluran

transmisi,

f

1

) dipergunakan rumus :

(3.6)

jarak

antar

penghantar

harus

diperhitungkan dengan kemungkinan penghantar saling mendekat terutama di

tengah rentangan di mana andongan maksimum. Lompatan api tidak boleh terjadi

bila penghantar saling mendekat. Untuk itu harus ditentukan jarak minimal antar

kawat sehingga terhindar dari kemungkinan adanya loncatan api.

Karena andongan kawat tergantung dari beberapa factor misalnya ukuran

dan jenis penghantar, rentangan, cuaca dan lain sebagainya, maka sulit diadakan

standar untuk jarak tersebut. Karena itu factor pengalaman sangat penting artinya

dalam menentukan jarak antar penghantar. Di bawah ini diterangkan beberapa

jarak antar penghantar.

3.2.1 Jarak Horizontal

a. Rentangan Standar

2.5. Rangkaian Tunggal (Konfigurasi Horizontal) 1)

C

h

=

0,4 +

Dimana

v

1,1k

1

C h

= jarak horizontal [m]

v =

k 1

=

rentangan nominal [m]

konstanta [20~30]

(3.7)

2.6. Rangkaian Ganda (Konfigurasi Vertikal)

C

h

=

1,5 +

Dimana

v

1,1k

C

v

h

k 2

2

=

=

=

jarak horizontal [m]

rentangan nominal [m]

konstanta [20~30]

b. Rangkaian Besar

C

h

= 0,0625 D + 0,021 v

Dimana

C

h

=

v

D

=

=

jarak horizontal [m]

rentangan nominal [m]

andongan [m]

3.2.2. Jarak Vertikal

a. Rentangan Standar

C

v

=

1,0 +

Dimana

v

1,1k

C

v

v

3

= jarak horizontal [m]

=

rentangan nominal [m]

(3.8)

(3.9)

(3.10)

k 3

=

b. Rentangan Besar

C

v

=

2,0 +

Dimana

v

1,1k

C

v

v

k 4

4

=

=

=

3.3 Menara Transmisi

konstanta [40~50]

jarak horizontal [m]

rentangan nominal [m]

konstanta [50~60]

(3.11)

Menara atau tiang transmisi merupakan suatu bangunan penopang

saluran transmisi berupa menara baja, tiang baja, tiang beton dan tiang kayu.

Menurut karakteristiknya menara transmisi terbagi atas :

a. Menara kayu (rigid)

b. Menara Lentur (flexible)

c. Menara setengah lentur (semi flexible)

Pemilihan menara untuk transmisi dilakukan secara ekonomis dengan

memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :

a. Lokasi Saluran

b. Pentingnya Saluran

c. Umur Saluran

d. Pengadaan material

e. Keadaan Cuaca

f. Biaya Pendidikan

g. Sistem tegangan

Untuk menghitung tinggi menara saluran transmisi, maka harus diperhitungkan

jarak

bebas

terhadap

permukaan

bumi, jarak

penghantar dengan kawat tanah.

Secara matematis dapat dituliskan 2) :

T

m =

jb

+

2 j

+

jt

+

D

max

antar penghantar dan jarak

(3.12)

Dimana :

T

m

jb

=

=

j =

jt =

D max

=

tinggi minimum [m]

jarak bebas terhadap permukaan bumi [m]

jarak antar penghantar [m]

jarak antar penghantar dengan kawat tanah [m]

andongan maksimum [m]

Untuk saluran transmisi 150 kV dipakai menara baja karena menara

baja

dapat

menahan

beban

mekanis

yang

besar

yang

disebabkan

oleh

pemakaian kawat besar, tekanan angin yang besar serta rentangan yang jauh.

Usianya dapat mencapai 45 tahun dengan pemeliharaan yang tidak terlalu ketat

serta biaya perawatan yang rendah.

3.4 Tekanan Angin

Dalam perencanaan transmisi cenderung dipakai tegangan yang lebih

dengan pemakaian penghantar yang memiliki diameter lebih kecil sehingga

tekanan angin pada kawat penghantar dapat dikurangi, karena tekanan angin ini

dapat mempengaruhi tegangan dan andongan kawat. Besarnya tekanan angin

tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan berikut 2) :

P = 0,025v

2

α

(4.1)

Dimana

:

P

= tekanan angin [ kg/m 2 ]

v

= kecepatan angin [ m/det ]

= faktor keefektifan angin [ < 1 ]

Tekanan angin standar ini digunakan untuk perencanaan jenis konstruksi

penampang dan jenis kawat direntang.

Untuk perencanaan nilai faktor keefektifan angin ( ) diambil 0,6 untuk kecepatan

angin sekitar 30 m/det.

Dalam penerapan di Indonesia perlu diadakan koreksi

terhadap nilaiu yang diperoleh bila digunakan nilai faktor keefektifan angin = 0.6

karena kecepatan angin = 0.6 karena kecepatan angin rata-rata di Indonesia adalah

20 m/det.

3.5 Jarak antara Tiang ( Span)

Penentuan jarak antara tiang (span) sangat penting dalam perencanaan

saluran transmisi secara keseluruhan.

ditinjau

dari

segi

teganga,

konstruksi

keadaan udara serta keadaan tanah.

3.6 Andongan Kawat Penghantar

Oleh sebab itu hal ini harus ditetapkan

penghantar,

tinggi

menara

transmisi,

Kawat penghantar yang direntangkan antara dua menara transmisi tidak

akan mengikuti garis lurus, akan tetapi karena beratnya sendiri akan melengkung

kebawah.

Itulah

yang

dikatakan

dengan

andongan.

Besar

lengkungan

ini

tergantung dari berat dan panjang dari kawat penghantar itu sendiri. Secara

matematis, lengkungan tersebut dapat dinyatakan dengan persamaan-persamaan

tertentu sesuai dengan keadaan dan kondisi menara.

3.6.1

Kedua Menara Sama Tinggi

Dengan menganggap bahwa penghantar adalah satu jenis ( homogen ) ,

maka kurva yang terbentuk merupakan logam lengkungan sempurna.sehingga

pada setiap titik yang terletak pada kurva berlaku persamaan-persamaan berikut :

Pada Gambar 4.1 1)

:

y = c

cosh

x

(4.2)

 

c

l = c

cosh

x

(4.3)

 

c

d = y-c = c ( cosh

x

-

1 )

(4.4)

c

Dimana :

l

d

= panjang garis lengkung dan titik terendah, sampai suatu

titik dengan korodinat( ( x, y)

= andongan pada titik dengan koordinat (x,y)

Dimensi c memberi nilai yang nyata pada kurva terhadap gaya tarik pada

penghantar, maka :

 

T

c =

[m]

(4.5)

 

W

Dimana :

T

= gaya tarik horizontal pada penghantar [kg]

W

= berat penghantar per satuan panjang [ kg/m]

c

= dimensi [m]

Pada umumnya lengkungan penghantar dapat dinyatakan sebagai suatu

lengk