Anda di halaman 1dari 19

2015

PUSAT PEMANFAATAN
PENGINDERAAN JAUH

LAPAN

PEDOMAN PENGOLAHAN DATA SATELIT


MULTISPEKTRAL SECARA DIGITAL
SUPERVISED UNTUK KLASIFIKASI
LI 1 02 002 01 01

PEDOMAN PENGOLAHAN DATA


SATELIT MULTISPEKTRAL
SECARA DIGITAL SUPERVISED
UNTUK KLASIFIKASI

PUSAT PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH


LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL
2015
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT bahwa Panduan Penyusunan Pedoman


Pengolahan Data Penginderaan Jauh telah dapat diselesaikan dengan baik.

Pedoman ini disusun sebagai salah satu tugas Pusat Pemanfaatan Penginderaan
Jauh (Pusfatja) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk
merumuskan Pedoman Pengolahan Data Satelit Multispektral Secara Digital
Supervised Untuk Klasifikasi berbasis penginderaan jauh sebagai amanat Undang-
Undang No. 21 tahun 2013.

Berbagai pihak yang telah memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak
langsung dalam membuat buku penyusunan pedoman ini, untuk itu perkenankan
kami mengucapkan terimakasih kepada :

1. Segenap pimpinan LAPAN yang telah memberikan segala bentuk naungan


dan dukungan dalam kegiatan ini.
2. Para narasumber yang telah mencurahkan segala kemampuan dan ilmunya
demi terwujudnya buku panduan penyusunan podoman ini.
3. Tim penyusun, tim verifikasi dan tim pelaksana dari instansi sektoral terkait
maupun dari kalangan intern yang telah bekerja keras hingga
terselesaikannya buku panduan penyusunan pedoman ini.

Akhir kata, tak ada gading yang tak retak, kritik dan saran kami harapkan demi
perbaikan buku pedoman ini pada masa yang akan datang. Semoga buku ini dapat
bermanfaat bagi para pengguna.

Jakarta, 14 Desember 2015


Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh
DAFTAR ISI
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
Kepala

Dr. M. Rokhis Khomarudin, M.Si


NIP : 197407221999031006

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii


DAFTAR ISI v
Bab I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
1.3 Ruang lingkup 1
1.4 Pengertian 1
Bab II TAHAPAN PENGOLAHAN 3
2.1 Pemetaan Unit Pedoman 3
2.2 Diskripsi Unit 3
2.3 Prosedur / Metode 4
2.3.1 Perencanaan Dan Persiapan 4

2.3.2 Pengumpulan Data 5


2.3.3 Peralatan 5

2.3.4 Pengolahan Data 6

Bab III PENUTUP 8


3.1 Ucapan Terimakasih 8
3.2 Lampiran 8
DAFTAR PUSTAKA

iii
Pedoman Pengolahan Data Satelit Multispektral
Secara Digital Supervised Untuk Klasifikasi

Bab I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang


Informasi spasial penutup lahan merupakan salah satu informasi yang sangat
penting untuk berbagai keperluan dalam pembangunan nasional di berbagai sektor.
Informasi penutup lahan ini telah banyak diproduksi baik oleh instasi pemerintah
maupun swasta. Akan tetapi informasi penutup lahan yang dihasilkan tersebut
berbeda-beda, hal ini disebabkan adanya sumberdaya, teknik pengolahan yang
digunakan dan penyajian hasil akhir yang diinginkan berbeda sesuai tujuan dan
selera masing-masing. Kesamaan hasil informasi penutup lahan sangat diperlukan
agar dapat digunakan pengguna baik instansi pemerintah maupun swasta secara
nasional.
Teknologi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi
penutup lahan dengan cakupan yang luas, cepat, efektif dan efisien. Dengan
memanfaatkan data dan teknologi pengolahan yang standard maka diharapkan
mampu mengatasi permasalahan perbedaan dalam membuat informasi penutup
lahan.
Sejak tahun 2013 Lapan diamanatkan untuk melaksanakan UU No. 21 tahun
2013 tentang Keantariksaan dan khusus penginderaan jauh terdapat dalam bagian
ketiga Penginderaan Jauh mulai dari pasal 15 sampai pasal 22. Salah satu amanat
pada Pasal 20 ayat 3 huruf (a) agar Lembaga bertugas melakukan pembinaan,
menetapkan standardisasi data dan produk informasi serta metode pengolahan
penginderaan jauh nasional.

1.2. Tujuan
Memberikan pedoman atau panduan untuk pengolahan klasifikasi penutup
lahan secara digital menggunakan data satelit penginderaan jauh bagi pengguna
baik instansi pemerintah maupun swasta di tingkat Propinsi / Kabupaten /Kota.

1.3. Ruang Lingkup


Pedoman pengolahan klasifikasi penutup lahan secara digital meliputi :
1. Perencanaan dan Persiapan
2. Pengolahan Awal Data Penginderaan Jauh
3. Proses Pengolahan Data Penginderaan Jauh
4. Pengolahan Akhir dan Analisis

1.4. Pengertian
1. Penginderaan jauh yang dimaksud dalam UU adalah penginderaan jauh satelit.
2. Penginderaan Jauh adalah teknologi untuk memperoleh informasi tentang
obyek, wilayah, atau gejala dengan menggunakan sensor yang terletak pada
wahana satelit dengan cara menganalisis data yang diperoleh tanpa kontak
langsung.
1
3. Data Penginderaan Jauh adalah liputan atau rekaman suatu sensor berbentuk
numerik yang merupakan gambaran dari suatu objek berupa citra satelit/foto
dan citra digital.
4. Pengolahan Digital adalah proses pengolahan terhadap data citra digital
penginderaan jauh dengan menggunakan computer.
5. Resolusi adalah ukuran terkecil obyek yang dapat direkam oleh suatu sistem
sensor. Resolusi dalam penginderaan jauh terdapat 4 macam yaitu resolusi
spasial, resolusi temporal, resolusi spectral dan resolusi radiometric.
6. Resolusi spasial ukuran obyek terkecil di lapangan yang diwakili oleh satu nilai
pixel/pixel value yang mampu disajikan oleh citra sebagai ukuran ketelitian data
citra.
7. Resolusi temporal kemampuan satelit untuk kembali merekam daerah yang
sama
8. Resolusi radiometric ukuran bit/binary digit yang mampu disajikan oleh citra.
9. Resolusi spektral kemampuan sensor menangkap panjang gelombang yang
dipantulkan oleh obyek di muka bumi.
10. Sensor merupakan alat perekam obyek, dimana setiap sensor mempunyai
kepekaan terbatas dalam menangkap spektral dan terbatas kemampuannya
untuk mengindera obyek.
11. Klasifikasi adalah pengelompokan objek-objek ke dalam kelas-kelas
berdasarkan persamaan sifatnya, atau kaitan antara objek-objek tersebut
12. Penutup Lahan adalah perwujudan secara fisik (kenampakan), benda alami dan
unsur-unsur budaya yang ada dipermukaan bumi tanpa mempermasalahkan
kegiatan manusia terhadap objek tersebut.
13. Struktur klasifikasi suatu sistematika hirarkis/berjenjang yang dapat memberikan
informasi tentang kemampuan penyajian informasi penutupan lahan untuk
sumber data dan skala yang berbeda.
14. Wahana adalah suatu alat/sistem tempat sensor penginderaan jauh.

2
Bab II
Tahapan Pengolahan

2.1. Pemetaan Unit Pedoman


Kode Unit : LI 1 02 002 01 01
Judul Unit : Klasifikasi Digital Multispektral

2.2. Diskripsi Unit


Analisis citra multispectral secara digital secara terselia (supervised) untuk
menghasilkan informasi spasial penutup lahan.
Tahapan Uraian
1. Menyiapkan 1.1. Perangkat keras dan perangkat lunak
perangkat dan bahan pengolahan citra yang diperlukan disiapkan
pengolahan data 1.2. Perangkat lunak untuk koreksi ditentukan
1.3. Metode yang akan digunakan diidentifikasi
1.4. Citra yang akan digunakan ditentukan sesuai
kebutuhan
1.5. Data atau peta referensi disiapkan
1.6. Skema klasifikasi penutup lahan ditentukan
2. Melakukan pemilihan 2.1. Pemasukan citra multifpektral kedalam perangkat
kanal untuk proses computer dilaksanakan
klasifikasi digital 2.2. Salinan data citra yang akan diklasifikasi
multispektral ditampilkan pada layar dan dibuka menggunkan
perangkat lunak yang telah ditentukan.
2.3. Kaekteristik setaip kanal diindetifikasi
berdasarkan statistic setiap kanal dan statistic
multikanal (correlation matrix dan variance-
covariance matrix)
2.4. Kanal-kanal citra yang akan diklasifikasi
ditentukan.
3. Melakukan klasifikasi 3.1. Citra dengan kanal-kanal terpilih ditampilkan
terselia (Supervised) pada layar
3.2. Objek-objek diidentifikasi mengacu ke skema
kalsifikasi yang ada
3.3. Training area didefinisikan berdasarkan data
referensi yang telah ditetapkan dan dengan
jumlah piksel persampel yang memenuhi syarat.
3.4. Statistik sampel dievaluasi
3.5. Training area diedit dan direvisi
3.6. Proses klasifikasi terselia dilaksankan dengan
menggunakan algoritma yang telah ditentukan.
3.7. Kelas-kelas hasil klasifikasi ditampilan pada
layar monitor
3.8. Kelas-kelas hasil interpretasi diidentifikasi dan
dinilai secara kualitati mengacu ke kenampakan
pada citra komposit dan atau pada peruntukan.
3.9. Proses editing sampel dan atau pengambilan
3
sampel tambahan dilakukan
3.10. Eksekusi klasfifikasi terselia menggunakan
algoritma yang sudah ditentukan dilaksanakan
3.11. Hasil klasifikasi ulang reklasifikasi ditampilkan
pada layar monitor
3.12. Strategi penggunakan kelas-kelas spectral
sementara ke kelas-kealas penutup lahan
menurut skema klasifikasi
3.13. Penggabungan kelas-kealas (class merging)
dilakukan
3.14. Hasil penggabungan kelas ditampilkan pada
layar monitor sebagai hasil klasifikasi akhir
4. Uji akurasi hasil 4.1. Pengambilan sampel acuan untuk uji akurasi
klasifikasi telah dilakukan berdasarkan informasi
lapangan, citra pendukung dan atau peta
tematik yang relevan
4.2. Sampel acuan penguji akurasi telah diplot di
atas citra hasil klasifikasi multispectral
4.3. Nilai akurasi totol (overall accuracy), akurasi
menurut klasifikasi (producers accuracy) dan
indeks Kappa telah dihasilka
4.4. Hasil klasifikasi multispectral terselia beserta
legenda dan laporan uji akurasi disimpan
5. Penyimpanan data 5.1. Media penyimpanan disiapkan sesuai dengan
hasil klasifikasi kapasitas yang ditentukan
5.2. Metadata citra hasil klasifikasi ditentukan
5.3. Data disimpan sesuai dengan standard
penamaan dan permohonan yang telah
dilakukan.

2.3. Prosedur / Metode

2.3.1 Perencanaan Dan Persiapan


2.3.1.1 Perencanan
Perencanaan merupakan bagian penting dalam setiap tindakan terhadap apa
yang dilakukan sehingga menjadi jelas agar mencapai tujuan. Perencanaan harus
memberikan peningkatan produktivitas kerja dan membuat pekerjaan lebih efektif.
Dalam pedoman ini perencanaan kerja minimal terdiri dari inventarisasi dokumen,
rekrutmen SDM dan menyusunan persiapan tahapan kerja.

a. Inventarisasi Dokumen Teknis


Dokumen teknis terkait dengan pengolahan digital klasifikasi penutup lahan
menggunakan data penginderaan jauh diinventarisir untuk digunakan sebagai
referensi atau acuan. Dokumen teknis bisa berupa laporan teknis, literature media
cetak maupun media elektronik.

4
b. Sumberdaya Manusia
Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh pengolah dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan. Pengolah dalam hal ini personel /
sumberdaya manusia yang berkompeten sangat dibutuhkan dalam bidang
penginderaan jauh sangat penting. Kompetensi sumberdaya manusia yang
dibutuhkan dalam pengolahan data penginderaan jauh minimal memiliki keahlian
bidang penginderaan jauh, memiliki kemampuan dan ketrampilan komputer.

2.3.1.2 Persiapan
Persiapan kerja yang terkait dengan pengolahan klasifikasi penutup lahan
secara digital menggunakan penginderaan jauh disiapkan secara komprehensif,
teratur dan terarah agar pelaksanaan pekerjaan lebih mudah mencapai tujuan.
Persiapan kerja yang perlu dilakukan antara lain : menyiakan data penginderaan
jauh dan data pendukunnya, mempersiapkan alat pengolah baik perangkat keras
maupun perangkat lunak, menyiapkan metode yang efektif dan efisien yang dimiliki
untuk pengolahan dan penyajian hasil.

2.3.2 Pengumpulan Data


2.3.2.1 Kreteria Data Penginderaan Jauh
Dalam melakukan klasifikasi suatu objek dari data penginderaan jauh, data yang
digunakan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Data penginderaan jauh yang dipilih sudah dikoreksi baik geometrik maupun
radiometrik menurut standar yang telah ditetapkan oleh lembaga.
b. Data penginderaan jauh yang akan digunakan harus disesuaikan lokasi / area
yang akan diklasifikasi.
c. Jika dalam proses klasifikasi mengunakan data geospasial lainnya, maka
kualitas data yang digunakan wajib mengikuti standar dan aturan yang berlaku.
d. Data penginderaan jauh yang akan digunakan harus sesuai dengan kesetaraan
skala yang akan dibuat.

Tabel. 2.2. Kesataraan Penginderaan Jauh dengan Skala Pemetaan

Jenis Resolusi Jenis Satelit Skala Pemetaan


NOAA AVHRR, Terra MODIS 1 : 1.000.000 s/d
Resolusi Rendah
dan Aqua MODIS 1 : 250.000
Resolusi ASTER, LANDSAT 7/8 dan
1 : 250.000 s/d 1 :100.000
Menengah CBERS-2, SPOT4
GeoEye-1, WorldView-2, World
Resolusi Tinggi View-1, QuickBird, IKONOS, 1 : 100.000 s/d 1 : 5.000
FORMOSAT-2, and SPOT-5/6

2.3.2.2 Kriteria Data Pendukung


Data pendukung atau acuan yang digunakan dapat berupa peta tematik atau
data citra resolusi yang lebih tinggi dan informasi lapangan yang telah tervalidasi
akurainya.

5
2.3.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan berupa perangkat keras dan perangkat lunak yang
memiliki spesifikasi memadai untuk pengolahan data penginderaan jauh dan system
informasi spasial.

2.3.3.1 Perangkat Keras


Perangkat Keras yang digunakan minimal memiliki spesifikasi yang mampu
memproses pengolahan data penginderaan jauh antara lain :
- 1 unit Monitor ;
- 1 unit CPU ; atau
- 1 unit Laptop

2.3.3.2. Perangkat Lunak


Perangkat Lunak yang digunakan minimal memiliki spesifikasi :
- Perangkat Lunak memiliki fasilitas pengolahan data citra
- Perangkat Lunak memiliki fasilitas pengolahan GIS dan kartografi.
- Perangkat Lunak memiliki fasilitas konversi poligon jadi vector dan sebaliknya

2.3.4 Pengolahan Data


2.3.4.1 Pengolahan Data Awal
a. Koreksi Radiometrik dan Geometrik
Data proses penginderaan jauh yang digunakan telah terkoreksi Radiomatrik
dan Geometrik dengan berpedoman pada standard yang telah ditetapkan oleh
lembaga (Pedoman Pengolahan Koreksi Radiomatrik dan Geometrik Data
Penginderaan Juah, Pustekdata-Lapan).

b. Pemilihan Optimum Index Factor (OIF)


Optimum Index Factor (OIF) sebagai metode untuk menentukan kombinasi
band yang memaksimalkan variabilitas dalam sebuah adegan multispektral tertentu.
OIF didasarkan perbedaan pada jumlah total dan korelasi di antara semua
kombinasi band dalam suatu data. Meskipun metode OIF dikembangkan untuk data
Landsat TM, konsep dan metodologi yang berlaku untuk setiap dataset multilayer.

2.3.4.2 Pengolahan Data (Image Proscesing) Lanjut


a. Pengambilan Training Sample
Training sample wajib ditetapkan dalam klasifikasi metode terbimbing/terawasi
(Supervised) dan benar-benar merupakan objek yang dimaksud. Keterpisahan pixel-
pixel training sampel harus dapat dievaluasi, diuji, dibahas, diperiksa dan
dipertimbangkan dalam bentuk nilai statistik yaitu rata-rata, standar deviasi, variansi,
dan derajat kepercayaan, melalui algoritma pemilihan ciri antar band.
Pengambilan training sampel, yang perlu diperhatikan adalah jumlah poligon
sampel harus memenuhi persyaratan akurasi, dengan jumlah minimal 3 (tiga)
poligon setiap objek. Di dalam poligon minimal 9 pixel, syarat pixel-pixelnya memiliki
kemiripan dan keseragaman nilai keabuan / rona sesuai dengan informasi kelas
objek. Pengambilan sampel dilaksanakan dengan cara acak (random) tanpa melihat
bentuk poligon.

6
b. Uji Training Sample
Jumlah luasan training sample kira-kira minimal 10% dari total luas cakupan
data yang akan diklasifikasi. Penetapan training sample dapat dilakukan dengan
menggunakan data acuan berupa peta, survey lapangan, data penginderaan jauh
resolusi lebih tinggi dan pengenalan objek secara visual. Tingkat keterpisahan
training sample digunakan teknik statistik pada perangkat lunak dan hasilnya
(Producer accuracy) harus lebih dari 90%.

c. Klasifikasi
Dalam klasifikasi objek penutup lahan, diperlukan suatu metode yang tepat
untuk menentukan objek yang di maksud. Pemilihan metode klasifikasi pada
dasarnya dilakukan untuk meningkatkan tingkat akurasi dari hasil klasifikasi objek.
Standard metode klasifikasi objek penutup lahan tersebut harus mengikuti standard
klasifikasi yang telah ditetapkan oleh lembaga. Pada pedoman ini menganjurkan
menggunakan metode umum, simpel yang terdapat pada beberapa aplikasi
perangkat lunak dan mudah dijangkau pengguna. Terdapat beberapa metode
klasifikasi yang umum digunakan pengguna antara lain metode Maximum
Likelihood, Mahalanobis Distance, Berbasis Objek dan metode yang lain sesuai
dengan kemampuan perangkat lunak yang dimiliki. Adapun metode klasifikasi yang
disarankan dalam pedoman ini adalah metode klasifikasi terawasi maximum
likelihood.

2.3.4.3 Pengolahan Data Akhir dan Analisis.


Hasil pengolahan klasifikasi penutup lahan dengan menggunakan data
penginderaan jauh secara digital kadang tidak sempurna yang diharapkan. Pada
paska pengolahan data dan analisis dilakukan untuk perbaikan hasil klasifikasi
penutup lahan dan akurasinya perlu ditingkatkan dengan cara filtering dan editing.

a. Filtering
Filtering dilakukan untuk mengenaralisasi objek yang terklasifikasi tetapi kurang
dari 9 pixel. Banyak metode dan analisa filtering yang dapat digunakan diantaranya
adalah metode Mayority, Minority, Mean, Median dan lain-lain. Pada pedoman ini
disarankan menggunakan metode filter mayority dengan windows 3 x 3.

b. Editing
Editing dilakukan jika terjadi kesalahan klasifikasi setelah verifikasi maupun
validasi berdasarkan data acuan. Maksud dan tujuan dilakukan editing terhadap
hasil klasifikasi penutup lahan secara digital untuk memperbaiki kualitas dan akurasi
hasil kalasifikasi tersebut.

c. Uji Akurasi
Uji akurasi klasifikasi penutup lahan menggunakan data penginderaan jauh
wajib dilakukan dalam proses klasifikasi untuk mengetahui tingkat keakuratan
metode yang dipilih. Dalam uji akurasi, Training sample yang sudah digunakan untuk
klasifikasi tidak boleh digunakan kembali dalam perhitungan akurasi. Training
sample untuk menguji akurasi klasifikasi diperoleh dari training sampel baru
berdasarkan pada data acuan. Akurasi klasifikasi penutup lahan yang
diperkenankan adalah rata-rata di atas 75%. Penilaian uji akurasi dapat
menggunakan matrik kontingensi yaitu matrik bujur sangkar yang memuat jumlah
7
piksel yang terklasifikasi yaitu overall accuracy, kappa acuuracy, producer accuracy
dan user accuracy. Producer accuracy (omission error) adalah membagi piksel yang
benar dengan jumlah total piksel traning sampel per kelas, sedang user accuracy
(commission error) adalah jumlah piksel yang benar dengan total piksel dalam
kolom. Uji ukarasi setelah divalidasi dengan data lapangan yang diperkenankan
90%.

2.3.4.4 Penyajian Hasil


Hasil klasifikasi penutup lahan disajikan dalam bentuk analog maupun digital.
Berdasarkan sistem klasifikasi penutup lahan dan kesetaraan data penginderaan
jauh dengan pemetaan, maka tingkat dan jumlah kelas penutup lahan yang
disesuaikan dengan kemampuan data penginderaan jauh. Penyajian kelas penutup
lahan sebaiknya berpedoman pada SNI 7645-2010 Klasifikasi penutup lahan.

Tabel. 3.1. Sistem Klasifikasi Penutup Lahan Berbasis Penginderaan Jauh

Tingkat 1 Tingkat 2 Tingkat 3


Resolusi Rendah Resolusi Menengah Resolusi Menengah/Tinggi
1. Air 1.1. Perairan Laut 1.1.1. Air Laut Dalam
1.1.2. Air Laut Dangkal
1.2. Perairan Darat 1.2.1. Danau
1.2.2. Waduk
1.2.3. Setu
1.2.4. Rawa
1.2.5. Tambak
1.2.6. Sungai
2. Vegetasi 2.1. Hutan 2.1.1.Hutan Lahan Basah
2.1.2.Hutan Lahan Kering
2.1.3.Belukar/Semak
2.2. Perkebunan 2.2.1. Perkebunan Industri
2.2.2. Perkebunan Campuran
2.3. Pertanian 2.3.1. Sawah
2.3.2. Tegalan/Ladang
3. Tanah 3.1.Lahan Terbangun 3.1.1. Permukiman Kota
3.1.2. Permukiman Desa
3.1.3. Fasilitas Umum
3.2.Lahan Terbuka 3.1.1. Pasir
3.1.2. Galian Tambang
3.1.3. Endapan Lahar
3.1.4. Batuan
3.1.5. Gosong

8
Bab III
Penutup

3.1 Ucapan Terimakasih


Terimakasih kami ucapkan pada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam
menyelesaikan pedoman ini. Pedoman ini dibuat sebagai panduan untuk
pengolahan klasifikasi penutup lahan secara digital dengan menggunakan data
penginderaan jauh bagi pengguna baik instansi pemerintah pusat dan daerah
maupun swasta. Sangat disadari bahwa pedoman ini masih banyak kekurangannya
sehingga perlu masukan dan saran dari berbagai pihak yang berkepentingan.

3.2. Lampiran
Lampiran 1. Diagram tahapan pengolahan klasifikasi penutup lahan
Lampiran 2. Tabel Hirarki dan Sistem Klafikasi Penutup Lahan

Daftar Pustaka
BSN, 2007, PSN 08:2007, Jakarta
BSN, 2010, SNI 7645-2010 Klasifikasi penutup lahan, Jakarta
BSN, 2002, SNI 19-6728.1-2002:Penyusunan Sumberdaya Bagian 1: Sumberdaya
Air Spasial, Jakarta
BSN, 2002, SNI 19-6728.2-2002:Penyusunan Sumberdaya Bagian 2: Sumberdaya
Hutan Spasial, Jakarta
BSN, 2002, SNI 19-6728.3-2002: Penyusunan Sumberdaya Bagian 3: Sumberdaya
Lahan Spasial., Jakarta
Pradhan, Rm, K. Ghose, Jeyaram, 2010, Land Cover Classification of Remotely
Sensed Satellite Data using Bayesian and Hybrid classifier, Department of
Computer Science and Engineering, Sikkim Manipal Institute of Technology,
Rangpo, Sikkim, INDIA.
Vogelmann, J.E, Sohl, P.V Regional, Campbell, Shaw, Land Cover Characterization
Using Landsat Thematic Mapper Data And Ancillary Data Sources , EROS
Data Center, Hughes-STX Corporation, USGS.

9
Lampiran 1
Diagram tahapan pengolahan klasifikasi penutup lahan

Kreteria Data
Jumlah Minimum
Poligon/objek
Jumlah Minimum Training
Pixel/Poligon Sampel
Data acuan Tidak Memenuhi
Uji
Kreteria Trainin
Uji Tingkat
g Memenuhi
Keterpisahan sampel 90 Metode Klasifikasi
%
Sampel
Proses Supervised (Max
Klasifikasi Likelihood)
Unspervised Isodata
Dokumen Berbasis Objek
Klasifikasi dll

Metode Filtering
Mayority, Minority,
Mean, Median Filtering dan Editing
Editing
Data Acuan
Tidak Memenuhi
Uji
Kreteria Akurasi
Matrix Konjungasi
Uji Tingkat Memenuhi
Akurasi 75 % Jumlah Kelas sesuai skala
Penutup Lahan Warna Kelas disesuaikan
standar BIG

10
Lampiran 2
Tabel Hirarki dan Sistem Klafikasi Penutup Lahan

No. Kelas Penutup Diskripsi


Lahan
1. Air Semua kenampakan perairan baik di laut maupun
di darat
1.1. Perairan Laut Kenampakan perairan di laut
1.1.1. Perairan Laut Dalam wilayah laut yang memiliki kedalaman antara 200
m hingga lebih 1800 m. Wilayah ini tidak dapat
tertembus sinar matahari, wilayah ini suhunya
sangat dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan.
1.1.2. Perairan Laut Wilayah laut dari batas wilayah pasang surut
Dangkal hingga kedalaman 200 m, wilayah masih dapat
ditembus oleh sinar matahari sehingga terdapat
berbagai jenis kehidupan baik hewan maupun
tumbuh-tumbuhan.
1.2. Perairan Darat Kenampakan perairan di darat
1.2.1. Danau Area perairan yang bersifat alami, dengan
penggenangan air yang dalam dan permanen, dan
penggenangan dangkal, termasuk fungsinya
1.2.2. Waduk Area perairan yang bersifat artifisial/buatan,
dengan penggenangan air yang dalam dan
permanen, dan penggenangan dangkal, termasuk
fungsinya
1.2.3. Setu Area perairan yang bersifat alami atau buatan,
penggenangan air yang dalam atau dangkal dan
permanen dengan area tidak terlalu luas, termasuk
fungsinya
1.2.4. Rawa Genangan air tawar atau payau yang luas dan
permanen di daratan
1.2.5. Tambak Aktifitas untuk perikanan dan penggaraman yang
tampak dengan pola pematang di sekitar pantai.
1.2.6 Sungai Tempat mengalir air yang bersifat alamiah
2. Vegetasi Semua kenampakan bervegetasi di permukaan
bumi
2.1. Hutan Vegetasi yang tumbuh dan berkembang di wilayah
yang tidak diusahakan untuk budidaya tanaman
pangan dan holtikultura baik di dataran rendah
maupun di dataran tinggi.
2.1.1. Hutan Lahan Basah Hutan yang tumbuh berkembang pada habitat
lahan basah berupa rawa payau dan rawa gambut.
Wilayah lahan basah berkarakteristik dataran
rendah sepanjang pesisir dan wilayah berelevasi
rendah.
2.1.2. Hutan Lahan Kering Hutan yang tumbuh berkembang pada habitat
lahan kering yang dapat berupa hutan dataran
11
rendah, perbukitan dan pegunungan, atau hutan
tropis dataran tinggi yang mengalami intervensi
manusia dengan kenampakan alur dan bercak
bekas tebang
2.1.3. Semak / Belukar Hutan lahan kering yang telah tumbuh kembali
(mengalami suksesi ) namun belum / tidak optimal,
atau lahan kering dengan liputan pohon jarang
(alami) atau lahan kering dengan dominasi vegeasi
rendah (alami).
Kenampakan ini biasanya tidak menunjukkan lagi
adanya bekas / bercak tebangan
2.2. Perkebunan Lahan yang digunakan untuk kegiatan pertanian
tanpa penggantian tanaman selama 2 tahun.
2.2.1. Perkebunan Industri Tanaman budidaya tahunan yang dikelola oleh
perusahaan, biasanya dengan kenampakan alur
jalan atau petak kebun secara teratur
2.2.2. Perkebunan Lahan yang ditanami tanaman keras lebih dari satu
Campuran jenis atau tidak seragam menghasilkan bunga,
buah , serta getah dan panen bukan dengan
menebang pohon, biasanya berasosiasi dengan
pemukiman dan diusahakan secara tradisional
oleh penduduk.
2.3. Pertanian Areal yang diusahakan untuk budidaya tanaman
pangan dan holtikultura. Vegetasi alamiah telah
dimodifikasi atau dihilangkan dan diganti dengan
tanaman anthrogenik dan memerlukan campur
tangan manusia untik menunjang kelansungan
hidupnya.
2.3.1. Sawah Areal pertanian yang digenangi air atau diberi air,
baik dengan teknologi pengairan, tadah hujan
maupun pasang surut. Areal pertanian dicirikan
oleh pola pematang dan ditanami jenis tanaman
pangan berumur pendek (padi).
2.3.2. Tegalan/Ladang Pertanian lahan kering yang ditamani semusim,
terpisah dengan halaman sekitar rumah serta
pengggunaannya tidak berpindah-pindah.
Tanaman selain padi, tidak memerlukan pengairan
secara ekstensi, vegetasinya bersifat artifisial dan
memerlukan campur tangan manusia untuk
menunjang kelangsungan hidupnya.
3 Tanah Kenampakan permukaan bumi yang tidak ditutupi
oleh vegetasi maupun genangan air.
3.1. Lahan Terbangun Area yang mengalami substitusi penutup lahan
alamiah dengan penutup lahan buatan yang
biasanya bersfiat kedap air dan relative permanen
3.1.1. Pemukiman Kota Areal atau lahan yang digunakan sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
dan tempat kegiatan (industri, perkantoran, pasar)
12
untuk mendukung kehidupan dengan cakupan
area luas dengan kerapatan padat .
3.1.2. Pemukiman Desa Areal atau lahan yang digunakan sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian
dengan area tidak luas dan kerapatan jarang.
3.1.3. Fasilitas Umum Areal atau lahan yang digunakan untuk sarana
keperluan umum, seperti bandara, perlabuhan,
terminal.
3.2. Lahan Terbuka Lahan tanpa tutupan lahan baik yang bersifat
alamiah, semialamiah, maupun artifisial
3.2.1 Pasir Lahan terbuka yang berasosiasi dengan aktifitas
kelautan dengan material penyusun berupa pasir
3.2.2 Galian Tambang Lahan terbuka akibat aktivitas petambangan,
dimana penutup lahan ataupun material bumi
lainnya dipindahkan oleh manusia
3.2.3. Endapan Lahar Lahan terbuka bekas aliran lahar dan lava dari
gunung berapi
3.2.4. Batuan Batuan adalah salah satu elemen kulit bumi yang
terdiri dari kumpulan-kumpulan atau agregat dari
mineral-mineral yang sudah dalam kedaan
membeku/keras.
3.2.5 Gosong Bagian dataran alluvial luas, relative rendah dari
sekitarnya (pulau kecil), bervegatasi rendah
campur rumput dan pasir.
Sumber : SNI 19-6728.1,2,3-2002, SNI 7645-2010

13
PUSAT PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH - 2015