Anda di halaman 1dari 23

Karakteristik struktur , sifat keramik dan Teknik pemerosesan keramik

I. Karakteristik struktur keramik

Struktur kristal keramik (terdiri dari berbagai ukuran atom yang berbeda atau minimal terdiri
dari 2 jenis unsur) merupakan salah satu yang paling kompleks dari semua struktur bahan.
Ikatan antara atom-atom ini umumnya ikatan kovalen (berbagi elektron, sehingga ikatan ini
kuat) atau ion (terutama ikatanantara ion bermuatan, sehingga ikatan ini kuat). Ikatan ini jauh
lebih kuat daripada ikatan logam. Akibatnya, sifat-sifat seperti kekerasan dan ketahanan
panas dan listrik secara signifikan lebih tinggi keramik dari pada logam. Keramik dapat
berikatan kristal tunggal ataudalam bentuk polikristalin. Ukuran butir mempunyai pengaruh
besar terhadap kekuatan dan sifat-sifat keramik; ukuran butir yang halus (sehingga dikatakan
keramik halus), semakin tinggi kekuatan dan ketangguhannya.
Kebanyakan bahan pembentuk keramik memiliki ikatan ion, ikatan kovalen dan ikatanantara.
Sebagai missal, bagian ikatan ion dalam sistem Mg-O, Al-O, Zn-O dan Si-O dapat dikatakan
masing-masing 70%, 60%, 60% dan 50%. Yang sangat menarik adalah bahwa pada
ReO3,V2O3 dan TiO, yang merupakan oksida dan tidak pernah menunjukkan sifat liat
ataudapat di deformasikan, tetapi memiliki hantaran listrik yang relatif dapat disamakan
dengan logam biasa.
Dalam Kristal yang rumit, berbagai macam atom berperan dan ikatannya merupakan ikatan
campuran dalam banyak hal. Struktur Kristal demikian dapat dimengerti apabila mengingat
bahwa Kristal tersusun oleh kombinasi dari polyhedron koordinasi, dimana satuan kecil dari
kation dikelilingi oleh beberapa anion. Salah satu contoh adalah silikat yang merupakan
bahan baku penting bagi keramik.

II. Sifat-sifat keramik


Secara umum kramik merupakan paduan antara logam dan non logam , senyawa paduan
tersebut memiliki ikatan ionik dan ikatan kovalen . untuk lebih jelasnya mengenai sifat-sifat
kramik berikut ini akan dijelaskan lebih detail.
a. Sifat Mekanik
Keramik merupakan material yang kuat, keras dan juga tahan korosi. Selain itu keramik
memiliki kerapatan yang rendah dan juga titik lelehnya yang tinggi. Keterbatasan utama
keramik adalah kerapuhannya, yakni kecenderungan untuk patah tiba-tiba dengan deformasi
plastik yang sedikit. Di dalam keramik, karena kombinasi dari ikatan ion dan kovalen,
partikel-partikelnya tidak mudah bergeser.
Faktor rapuh terjadi bila pembentukan dan propagasi keretakan yang cepat.Dalam padatan
kristalin, retakan tumbuh melalui butiran (trans granular) dan sepanjang bidang cleavage
(keretakan) dalam kristalnya. Permukaan tempat putusyang dihasilkan mungkin memiliki
tekstur yang penuh butiran atau kasar. Material yang amorf tidak memiliki butiran dan bidang
kristal yang teratur, sehingga permukaan putus kemungkinan besar terjadi. Kekuatan tekan
penting untuk keramik yang digunakan untuk struktur seperti bangunan. Kekuatan tekan
keramik biasanya lebih besar dari kekuatan tariknya. Untuk memperbaiki sifat ini biasanya
keramik di-pretekan dalam keadaan tertekan
b. Sifat Termal
Sifat termal bahan keramik adalah kapasitas panas, koefisien ekspansitermal, dan
konduktivitas termal. Kapasitas panas bahan adalah kemampuan bahan untuk mengabsorbsi
panas dari lingkungan. Panas yang diserap disimpan olehpadatan antara lain dalam bentuk
vibrasi (getaran) atom/ion penyusun padatantersebut.
Keramik biasanya memiliki ikatan yang kuat dan atom-atom yang ringan. Jadigetaran-getaran
atom-atomnya akan berfrekuensi tinggi dan karena ikatannya kuat maka getaran yang besar
tidak akan menimbulkan gangguan yang terlalu banyak padakisi kristalnya.
Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada temperatur
yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah tekanan
tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan
keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat
keramik pecah.
c. Sifat elektrik
Sifat listrik bahan keramik sangat bervariasi. Keramik dikenal sangat baik sebagai solator.
Beberapa isolator keramik (seperti BaTiO 3) dapat dipolarisasi dan digunakan ebagai
kapasitor. Keramik lain menghantarkan elektron bila energi ambangnya dicapai, dan oleh
karena itu disebut semikonduktor. Tahun 1986, keramik jenis baru, yakni superkonduktor
temperatur kritis tinggi ditemukan. Bahan jenis ini di bawah suhu kritisnya memiliki
hambatan = 0. Akhirnya, keramik yang disebut sebagai piezoelektrik dapat
menghasilkan respons listrik akibat tekanan mekanik atau sebaliknya.
Elektron valensi dalam keramik tidak berada di pita konduksi,sehingga sebagian besar
keramik adalah isolator. Namun, konduktivitas keramik dapat ditingkatkan dengan
memberikan ketakmurnian. Energi termal juga akanmempromosikan elektron ke pita
konduksi, sehingga dalam keramik, konduktivitasmeningkat (hambatan menurun) dengan
kenaikan suhu.
Beberapa keramik memiliki sifat piezoelektrik, atau kelistrikan tekan. Sifat ini merupakan
bagian bahan canggih yang sering digunakan sebagai sensor. Dalambahan piezoelektrik,
penerapan gaya atau tekanan dipermukaannya akan menginduksipolarisasi dan akan terjadi
medan listrik, jadi bahan tersebut mengubah tekananmekanis menjadi tegangan listrik. Bahan
piezoelektrik digunakan untuk tranduser,yang ditemui pada mikrofon, dan sebagainya.
Dalam bahan keramik, muatan listrik dapat juga dihantarkan oleh ion-ion. Sifat ini dapat
diubah-ubah dengan merubah komposisi, dan merupakan dasar banyakaplikasi komersial,
dari sensor zat kimia sampai generator daya listrik skala besar.Salah satu teknologi yang
paling prominen adalah sel bahan bakar.
d. Sifat Optik
Bila cahaya mengenai suatu obyek cahaya dapat ditransmisikan, diabsorbsi, ataudipantulkan.
Bahan bervariasi dalam kemampuan untuk mentransmisikan cahaya, danbiasanya
dideskripsikan sebagai transparan, translusen, atau opaque. Material yang transparan, seperti
gelas,mentransmisikan cahaya dengan difus, seperti gelasterfrosted, disebut bahan translusen.
Batuan yang opaque tidak mentransmisikan cahaya.Dua mekanisme penting interaksi cahaya
dengan partikel dalam padatan adalahpolarisasi elektronik dan transisi elektron antar tingkat
energi. Polarisasi adalahdistorsi awan elektron atom oleh medan listrik dari cahaya. Sebagai
akibat polarisasi,sebagian energi dikonversikan menjadi deformasi elastik (fonon), dan
selanjutnya panas.
e. Sifat kimia
Salah satu sifat khas dari keramik adalah kestabilan kimia. Sifat kimia dari permukaan
keramik dapat dimanfaatkan secara positif. Karbon aktif, silika gel, zeolit, dsb, mempunyai
luas permukaan besar dan dipakai sebagai bahan pengabsorb. Kalau oksida logam dipanaskan
pada kira-kira 500 C, permukaannya menjadi bersifat asam atau bersifat basa. Alumina g ,
zeolit, lempung asam atau S 2O 2 TiO 2 demikian juga berbagai oksida biner dipakai
sebagai katalis, yang memanfaatkan aksi katalitik dari titik bersifat asam dan basa pada
permukaan.
f. Sifat fisik
Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material lain
seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki
densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat.
Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah
berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum
oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan
menghaluskan material-material keras lain.
III. Contoh
Keramik adalah material anorganik dan non-metal. Umumnya keramik adalah senyawa
antara logam dan non logam. Untuk mendapatkan sifat-sifat keramik biasanya diperoleh
dengan pemanasan pada suhu tinggi. Keramik:tradisional , modern .
Keramik tradisional :biasanya dibuat dari tanah liat .
Contoh: porselen, bata ubin, gelas dll.
Keramik modern : mempunyai ruang lingkup lebih luas dari keramik tradisional dan
mempunyai efek dramatis pada kehidupan manusia seperti pemakaian pada bidang
elektronik, komputer, komunikasi, aerospace dll.
IV. Teknik pemerosesan keramik
a. Pembubukan
Bahan-bahan dasar keramik umumnya berbentuk bubukan. Bahan dasar tersebut dapat
diperoleh dengan metode konvensional atau non konvensional. Metode konvensional
misalnya kalsinasi; yaitu menguraikan suatu bahan padatan menjadi beberapa bagian yang
lebih sederhana; Milling yaitu menggiling atau menghaluskan bahan; mixing yaitu
mencampurkan beberapa bahan menjadi satu bahan. Sedangkan metode nonkonvensional
misalnya teknik larutan sepaerti metode sol-gel, metode fase uap, atau dekomposisi garam.
Dalam proses pembubukan tersebut , seringkali harus ditambahkan bahan penstabil agar suhu
dapat diturunkan atatu bahan organik yang berfungsi sebagai pengikat atau pelunak bubukan
sehingga mudah dibentuk.
b. Pembentukan
Metode pembentukan ini bermacam-macam, misalnya metode pres isostatik dan aksial;
metode cetak lepas, yaitu dicetak hingga kering lalu dilepas; metode cetak balut yaitu bahn
dibiarkan tetap berada daalm cetakn atau cetak injeksi yaitu bahan dimasukan ke dalam
cetakan dengan cara diinjeksikan ke dalamnya.
c. Penekanan
Penekanan atau disebut juga kompaksi dilaukan untuk membentuk serbuk keramik menjadi
suatu bentuk padatan berupa pelet mentah. Pelet mentah adalah serbuk yang telah menjadi
bentuk padat tetapi belum disinter. Prosedur dasar penekanan dibagi menjadi 3 yaitu:

Uniaxial

Serbuk dibentuk dalam cetakan logam dengan penekanan satu arah. Penenkanan ini dapat
memproduksi banyak pelet dan tidak mahal dibanding metode lain. Berdasarka cara kerjanya,
penekanan ini dibagi menjadi 3 yaitu : single action uniaxial pressing, double action uniaxial
pressing, dan uniaxial pressing with a floating mould or die.

Isostatik: Penekanan serbuk dilakukan dengan menggunakan cairan.

Hot pressing:Penekanan dilakukan secar simultan denga perlakuan panas pada serbuk.

d. Sintering
Sintering adalah metode pemanasan yang dilakukan terhadap suatu material ( biaasnya dalam
bentuk serbuk) pada suhu dibawah titik lelehnya sehingga menjadi bentuk padatan . Serbuk
berubah menjadi padatan karena pada suhu tersebut partikel-partikel akan saling melekat.
Setelah disintering bentuk porositas berubah cenderung berbrntuk bola. Selain itu semakin
lama dipanaskan bentuk pori akan semakin kecil. Karena itu ukuran sampel yang telah
disinter akan semakin kecil juga.
Sintering terbagi menjadi 2 jenis, yaitu berdassarkan ada tidaknya fase cair selama proses
sintering. Sintering yang terjadi disertai adanya fase cair disebut sintering fase cair, dan
sintering yang terjadi tanpa fase cair disebut sintering padat.
Tahap sintering dilakukan untuk memadat kompakan bahan, yang sudah dicetak dan
dikeringkan dengan suhu tinggi.
e. Anneling dan Aging
Anealing adalah proses pemanasan yang lebih rendah dari sebelumnya. Dengan maksud agar
parameter dan sifat yang diinginkan mencapai optimum. Sedangkan aging adalah proses
pendinginan selama beberapa waktu tertentu.
f. Tahap akhir
Pada tahap ini, bahan keramik dikenakan berbagai perlakuan akhir sehingga sipa dipalikasika
sesuai dengan sifat bahan yang diinginkan. Perlakuan tersebut misalnya mengasah, memoles,
memberi lapisan logam, memberi mantel untuk perlindungan dan lain-lain.
Secara bagan proses pembuatan bahan keramik adalah :
Proses pembubukan atau penghalusan > Pembentukan > Pengeringan > sintering >
anealing dan aging > Aplikasi akhir.
Tentang iklan-iklan ini
Material teknik mengalami perkembangan yang begitu pesat. Perkembangan tersebut
meliputi di dalam struktur, komposisi, sifat-sifat fisik dan mekanik. Sifat-sifat fisik yaitu
berkaitan dengan berat jenis material tersebut, manakala sifat mekanik berkaitan dengan
kemampuannya untuk digunakan di dalam produk teknik. Para engineer material sedang giat-
giatnya mengadakan penelitian terhadap bahan-bahan yang terbuat daripada non metal. Salah
satunya adalah keramik.

Keramik tidak lagi hanya terbatas penggunaanya untuk keperluan tradisional seperti tersebut
di atas, malah sekarang keramik telah mengalami kemajuan dan di kenal dengan bahan
keramik termaju. Bahan keramik sudah di gunakan dalam bidang Teknik Elektro, Sipil,
Mekanik, Nuklir bahkan bahan keramik ini di gunakan juga dalam bidang Kedokteran.

Pada beberapa tahun terakhir ini telah dikembangkan pula berbagai produk baru sesuai
dengan perkembangan kebutuhan akan bahan yang tahan suhu yang lebih tinggi, tekanan
yang lebih besar, sifatsifat mekanik yang lebih baik, serta karakteristik listrik yang khusus,
atau tahan terhadap bahan kimia yang korosif. Hingga saat ini terdapat beberapa jenis
keramik seperti : keramik putih (whiteware), produk- produk lempung stuktural, refraktori,
dan email.

2.1 Pengertian Keramik

Keramik adalah sejenis bahan yang telah lama di gunakan, yaitu sejak 4000 SM. Keramik
pada awalnya berasal dari bahasa Yunani keramikos yang artinya suatu bentuk dari tanah liat
yang telah mengalami proses pembakaran. Kamus dan ensiklopedi tahun 1950-an
mendefinisikan keramik sebagai suatu hasil seni dan teknologi untuk menghasilkan barang
dari tanah liat yang dibakar, seperti gerabah, genteng, porselin, dan sebagainya. Tetapi saat ini
tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Definisi pengertian keramik terbaru mencakup
semua bahan bukan logam dan anorganik yang berbentuk padat.

Umumnya senyawa keramik lebih stabil dalam lingkungan termal dan kimia dibandingkan
elemennya. Bahan baku keramik yang umum dipakai adalah felspard, ball clay, kwarsa,
kaolin, dan air. Sifat keramik sangat ditentukan oleh struktur kristal, komposisi kimia dan
mineral bawaannya. Oleh karena itu sifat keramik juga tergantung pada lingkungan geologi
dimana bahan diperoleh. Secara umum strukturnya sangat rumit dengan sedikit elektron-
elektron bebas.

Kurangnya beberapa elektron bebas keramik membuat sebagian besar bahan keramik secara
kelistrikan bukan merupakan konduktor dan juga menjadi konduktor panas yang jelek. Di
samping itu keramik mempunyai sifat rapuh, keras, dan kaku. Keramik secara umum
mempunyai kekuatan tekan lebih baik dibanding kekuatan tariknya.

Material yang digunakan untuk membuat keramik ini biasanya digali dari perut bumi dan
dihancurkan hingga menjadi bubuk. Produsen seringkali memurnikan bubuk ini dengan
mencampurkannya dengan suatu larutan hingga terbantuk endapan pengotor. Kemudian
endapan tadi disaring dan bubuk material keramik dipanaskan untuk menghilangkan impuritis
dan air. Hasilnya, bubuk dengan tingkat kemurnian tinggi dan berukuran sekitar 1 mikrometer
(0.0001 centimeter).

2.2 Klasifikasi Proses

Keramik di bagikan kepada dua kumpulan utama yang berdasarkan jenis bahan, metode
pembuatannya dan jenis penggunaannya. Dua kumpulan tersebut adalah:

2.2.1 Keramik Konvensional

Keramik ini biasanya di bagikan kepada empat bagian mengikut fungsinya:

a. Keramik Berstruktur

Keramik jenis ini mempunyai sifat mekanik yang baik. Antara bahan yang termasuk di dalam
golongan ini ialah alumina, silicon karbida, silicon nitrida, komposite dan bahan yang di
lapisi dengan keramik. Bahan ini sangat potensi di gunakan di dalam mesin diesel sebagai
piston dan ruang pra pembakaran, turbo charge dan turbin gas. Ia di gunakan juga sebagai
bahan penyekat ruang pembakaran bersuhu tinggi dan mata pahat potong logam (Cutting
tool).
b. Keramik Putih

Yaitu jenis keramik yang biasanya berwarna putih dan mempunyai tekstur jaringan yang
halus. Keramik ini dibuat dari bahan dasar lempung kualitas terpilih dan fluks dalam jumlah
bervariasi yang dipanaskan pada suhu 1200-1500oC di dalam tanur (kiln). Contohnya
keraamik tanah, porselin, keramik china, ubin keramik putih,dsb.

c. Keramik Refraktori

Yakni keramik yang mencakup bahan bahan yang digunakan untuk menahan pengaruh
termal, kimia dan fisik. Refraktori dijual dalaam bentuk bata tahan api, bata silica,
magnesit,dsb.

d. Keramik Listrik

Yang termasuk dalam kategori keramik ini mempunyai fungsi electromagnet dan optic dan
juga fungsi kimia yang berkaitan dengan penggunaannya secara langsung. Keramik ini
digunakan sebagai bahan penyekat, magnet, tranducer, dan pensemikonduksi.

2.2.2 Keramik Termaju

Di bagi kepada empat jenis berdasarkan bahan dasarnya.

Keramik oksida: Alumina, zirkonia, titania, barium titanat.

Keramik bukan oksida: Silikon karbida, silicon nitrida, borida dll

Keramik komposit: Fiber reinforced composite, whisker-reinforced composite.

Keramik kaca: Silika, natrium oksida, kalium oksida, kalsium oksida, kobalt oksida dll.

2.3 Bahan Baku Keramik


Tiga bahan baku utama yang digunakan untuk membuat produk keramik klasik, atau
triaksial, adalah lempung, feldspar dan pasir. Lempung adalah aluminium silikat hidrat
yang tidak terlalu murni yang terbentuk sebagai hasil pelapukan dari batuan beku yang
mengandung feldspar sebagai salah satu mineral asli yang penting. Reaksinya dapat
dilukiskan sebagai berikut :

K 2O Al2O3.6SiO2 + CO2 + 2H2O --> K 2CO3 + Al 2 O3.2SiO 2.2H 2O + 4SiO2

Ada sejumlah spesies mineral yang disebut mineral lempung (clay mineral) yang
mengandung terutama campuran kaolinit (Al2O3.SiO2.2H2O), montmorilonit
[(Mg,Ca)O.Al2O3.5SiO2.nH2O], dan ilit (K2O, MgO, Al2O3, SiO2, H2O ) masing masing
dalam berbagai kuantitas. Dari sudut pandang keramik, lempung berwujud plastik dan bisa
dibentuk bila cukup halus dan basah, kaku bila kering, dan kaca (vitreous) bila dibakar pada
suhu yang cukup tinggi. Prosedur pembuatannya mengandalkan kepada sifat sifat tersebut
diatas.

Penyusun keramik yang ketiga yang penting adalah pasir atau flin (flint). Sifat-sifatnya yang
penting dari segi industri keramik dirangkum bersama sifat-sifat lempung dan feldspar pada
tabel 2.1. Untuk membuat produk keramik yang berwarna muda, harus dipilih produk
keramik yang kandungan besinya rendah.

Di samping ketiga bahan pokok tersebut di atas, berbagai macam mineral lain, garam, dan
oksida juga digunakan sebagai bahan fluks dan sebagai perawis (ingredient) refraktori.

Diantara bahan Boraks (Na2B4O7.10H2O) Fluorspar (CaF 2)

Asam borat (H3BO3) Kriolit (Na 3AlF6)

Soda abu (Na2CO3) Oksida besi

Natrium nitrat (NaNO3) Oksida antimonium

Abu mutiara (K2CO3) Oksida timbal

Nefelin syenit [(Na, K)2 Al2Si2O8] Mineral litium

Tulang kalsinasi Mineral barium

Apatit [Ca5(F, Cl, OH)(PO4)3]


Fluks yang biasa dipakai untuk menurunkan suhu vitrifikasi, suhu lebur, dan suhu reaksi
adalah :

Beberapa perawis refraktori khusus adalah

Alumina (Al2O3) Alumina silikat (Al2O3.SiO2)

Olivin [(FeO, MgO) 2 SiO2] Dumortirit (8 Al2O3.B22O3.6SiO2.H2O)

Kromit (FeO.C2O3) Karborundum (SiC)

Magnesit (MgCO3) Mulit (3 Al2O3.2SiO2)

Gamping (CaO) dan batu gamping Dolomit [CaMg(CO3)2]

(CaCO3) Toria (ThO2)

Zirkonia (ZrO2) Titania (TiO2)

Magnesium silikat hidro, misalnya talk (3MgO.4SiO2.H2O)

Adapun bahan baku penyusun keramik :

a. Lempung atau tanah liat ialah kata umum untuk partikel mineral berkerangka dasar silikat
yang berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Lempung mengandung leburan silika dan/atau
aluminium yang halus. Unsur-unsur ini, silikon, oksigen, dan aluminum adalah unsur yang
paling banyak menyusun kerak bumi. Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika
oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi.

Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air. Sifat
ini ditentukan oleh jenis mineral lempung yang mendominasinya. Mineral lempung
digolongkan berdasarkan susunan lapisan oksida silikon dan oksida aluminium yang
membentuk kristalnya. Golongan 1:1 memiliki lapisan satu oksida silikon dan satu oksida
aluminium, sementara golongan 2:1 memiliki dua lapis golongan oksida silikon dan satu lapis
oksida aluminium. Mineral lempung golongan 2:1 memiliki sifat elastis yang kuat, menyusut
saat kering dan membesar saat basah. Karena perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat
membentuk kerutan-kerutan atau "pecah-pecah" bila kering. Lempung memiliki sifat-sifat
fisika yang beraneka ragam dan ketidakmurnian dari lempung itu sendiri. Sehingga
diperlukan langkah langkah untuk menyingkirkan pasir dan mika dari lempung untuk
meningkatkan mutunya. Proses itu disebut benefisiasi. Proses benefisiasi ini menyangkut
perubahan fisika, atau satuan operasi (operasi teknik), misalnya pemisahan menurut ukuran
dengan pengayakan atau pengendapan selektif, penyaringan, dan pengeringan. Namun, sifat
sifat koloidanya dikendalikan dengan berbagai aditif yang sesuai, misalnya natrium silikat
dan alum. Proses benefisiasi menyangkut juga flotasi buih (frofh flotation). Pemurnian secara
kimia dilakukan untuk mendapatkan bahan bahan yang sangat murni seperti alumina dan
titania.

b. Kalsit adalah sebuah mineral karbonat dan polimorf karbonat kalsium (CaCO3) paling
stabil. Polimorf lain adalah mineral aragonit dan vaterit. Aragonit akan berubah menjadi
kalsit pada suhu 380-470 C[5], sementara vaterit justru kurang stabil.

c. Feldspar (KAlSi3O8 NaAlSi3O8 CaAl2Si2O8) adalah kelompok mineral tektosilikat


pembentuk batu yang membentuk 60% kerak Bumi. Feldspar mengkristal dari magma pada
batuan beku intrusif dan ekstrusif dalam bentuk lapisan, dan juga ada dalam berbagai jenis
batuan metamorf. Batu yang hampir seluruhnya terbentuk dari feldspar plagioklas kalsium
dikenal sebagai anortosit. Feldspar juga ditemukan di berbagai jenis batuan sedimen.

d. Lanau adalah tanah atau butiran penyusun tanah/batuan yang berukuran di antara pasir dan
lempung. Beberapa pustaka berbahasa Indonesia menyebut objek ini sebagai debu. Lanau
dapat membentuk endapan yang mengapung dipermukaan air maupun yang tenggelam.

e. Kalsit adalah sebuah mineral karbonat dan polimorf karbonatkalsium (CaCO3) paling
stabil. Polimorf lain adalah mineral aragonit dan vaterit. Aragonit akan berubah menjadi
kalsit pada suhu 380-470 C[5], sementara vaterit justru kurang stabil.

f. Dolomit adalah mineral yang berasal dari alam yang mengandung unsur hara magnesium
dan kalsium berbentuk tepung dengan rumus kimia CaMg(CO3)2.

g. Pasir adalah contoh bahan material butiran. Butiran pasir umumnya berukuran antara
0,0625 sampai 2 milimeter. Materi pembentuk pasir adalah silikon dioksida, tetapi di
beberapa pantai tropis dan subtropis umumnya dibentuk dari batu kapur. Pasir tidak dapat di
tumbuhi oleh tanaman, karena rongga-rongganya yang besar-besar.

2.4 Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku dan Produk


2.4.1 Bahan baku

Ada tiga bahan utama yang digunakan untuk membuat produk keramik klasik, yaitu lempung,
feldspar, dan pasir. Lempung adalah aluminium silikat hidrat yang tidak terlalu murni yang
terbentuk sebagai hasil pelapukan dari bahan beku yang mengandung feldspar sebagai salah
satu mineral asli yang penting. Reaksinya dilukiskan sebagai berikut :

K2CO3 + Al2O3.2SiO2.2H2O + 4 SiO2 --> K2O.Al2O3.6SiO2 + CO2 + 2H2O

Terdapat tiga jenis lempung/tanah liat utama yang di bedakan oleh warna, ukuran partikel,
sifat keliatan dan komposisi kimianya yaitu :

Tanah liat kaolin berwarna putih, berukuran partikel sederhana, kurang keliatannya/sifat
plastis. Dan mengandungi komposisi besi yang kurang dari 1%.

Tanah liat bola (ball clay) berwarna hitam atau kelabu, berukuran partikel halus, keliatan
yang tinggi, dan kandungan besi oksida diantara 0 2 %.

Tanah liat api (fire clay) berwarna kemerahan, berukuran partikel antara sederhana dan besar
dan komposisi besi oksida yang tinggi.

Kedua-dua tanah liat kaolin ini kebanyakan di gunakan dalam industri keramik konvensional
seperti industri pembuatan piring, mangkuk, peralatan kamar mandi, lantai dan dinding,
perhiasaan rumah seperti pot bunga porselin, peralatan listrik untuk voltan rendah dan tinggi.

Beraneka ragamnya sifat fisik lempung dan kandungan tak kemurniannya, sehingga biasanya
harus ditingkatkan mutunya terlebih dahulu melalui prosedur benafisiasi, yaitu
menyingkirkan pasir dan mika dari lempung.

Ada tiga jenis feldspar yang umum, yaitu potas (K2O. Al2O3.SiO2), soda (NaO.
Al2O3.6SiO2), dan gamping (CaO. Al2O3.6SiO2), yang kesemuanya dipakai dalam produk
keramik. Feldspar sendiri berfungsi sebagai pemberi sifat fluks dalam formulasi keramik.

Bahan bahan ini termasuk bahan mentah yang di gunakan dalam pembuatan barang
keramik konvensional seperti, feldspar, silicon, kalsium karbonat. Selain dari pada bahan di
atas, berbagai mineral lain, seperti garam dan oksida juga digunakan sebagai bahan fluks dan
perawis refraktori.
Seperti Alumina, Zirkonia, Silicon karbida, Silicon nitrida, Barium titanat adalah merupakan
sebahagian barangan keramik berteknologi tinggi. Bahan mentah ini mempunyai kemurnian
yang tinggi, mahal dan kegunaannya tertumpu kepada industri teknik, mekanik, biological,
elektronik dan listrik.

Bahan-bahan ini mempunyai potensi dan reputasi masa depan yang tinggi bagi menggantikan
bahan-bahan yang telah ada seperti besi dan baja. Hasil penggunaan bahan mentah ini dapat
membentuk komponen atau produk yang mempunyai sifat-sifat kekuatan yang amat tinggi,
kekerasan yang kuat, tidak bertindak balas dengan bahan kimia, kadar kehalusan yang
rendah, mempunyai unsur ketahanan panas dan temperatur cair yang tinggi.

Diantara bahan fluks yang biasa digunakan untuk menurunkan suhu vitrifikasi, suhu lebur,
dan suhu reaksi adalah boraks (Na2B4O7. 10H2O), soda abu (Na2CO3), tulang kalsinasi,
fluorspar (CaF2), kriolit (Na3AlF6), oksida besi, mineral litium, dll. Sedangkan beberapa
bahan perawis refraktori khusus misalnya alumina (Al2O3), magnesit (MgCO3), zirnkonia
(ZrO2), titania, alumunium silikat, dll.

Berikut ini adalah bahan baku dasar pembuatan keramik, beserta sifat-sifat lempung dan
feldspar.

Kaolinit Feldspar Pasir/ Flin

- Rumus Al2O3.2SiO2.2H2O K2 O.Al2O3.6SiO2 SiO2

- Plastisitas Plastic Non plastic Non plastic

- Fusibilitas Refraktori Perekat mudah lebur Refraktori

- Titik cair 1785oC 1150oC 1710oC

- Ciut pada pembakaran Sangat ciut Lebur Tidak ciut

Banyak lagi bahan baku lain yang digunakan daalam berbagai susunan, sedikitnya 450
macam yang sudah diklasifikasi.

2.4.2 Produk
Sifat sifat umum keramik :

Tahan terhadap suhu tinggi

Dapat digunakan sebagai bahan insulasi listrik atau semikonduktor denagn variasi sifat sifat
magnetic dan dielektrik.

Tahan erhadap demormasi, rapuh.

Ketergantungan rendah

Kekerasan tinggi.

2.5 Konversi Kimia, Termasuk Kimia Keramik Dasar

Semua produk keramik dibuat dengan mencampurkan berbagai kuantitas bahan baku yang
tersebut di atas, membentuknya, lalu memanaskan sampai suhu pembakaran. Suhu ini
mungkin hanya 700 oC untuk beberapa jenis glasir luar, tetapi banyak pula vitrifikasi yang
dilakukan pada suhu setinggi 2000 oC. Pada suhu vitrifikasi terjadi sejumlah reaksi, yang
merupakan dasar kimia bagi konversi kimia.

1. Dehidrasi, atau penguapan air kimia pada suhu 150 sampai 650 C

2. Kalsinasi, misalnya CaCO3 pada suhu 600 sampai 900 C

3. Oksidasi besi fero dan bahan organik pada suhu 350 sampai 900 C

4. Pembentukan silika pada suhu 900 C atau lebih

Beberapa di antara perubahan awal tersebut cukup sederhana, misalnya kalsinasi CaCO3 dan
dehidrasi serta dekomposisi kaolinit. Reaksi reaksi lain, misalnya pembentukan silikat,
cukup rumit dan berubah-ubah sesuai dengan suhu dan perbandingan penyusunnya.
Mengenai sistem Al2O3.SiO2 telah menghasilkan pengembangan penting dalam proses
pembuatan refraktori mulit. Diagram tersebut menunjukkan bahwa berapa persen pun
likuefaksi bisa didapatkan, bergantung pada suhu, kecuali pada beberapa titik nonvarian. Jadi,
jika peleburan yang berangsur dijaga agar tidak berlanjut terlalu jauh dengan mengendalikan
kenaikan suhu, akan tertinggal massa dan jumlah yang cukup untuk menjadi kerangka yang
memegang massa panas tersebut. Diagram Al2O3.SiO2 itu menunjukkan bahwa mulit adalah
satu satunya senyawa alumina dan silika yang stabil pada suhu tinggi.

Produk keramik hampir semuanya mempunyai sifat refraktori, artinya tahan terhadap panas,
dan tingkat kerefraktorian dari suatu produk tertentu bergantung pada perbandingan kuantitas
oksida refraktori terhadap oksida fluks di dalamnya. Oksida refraktori yang terpenting adalah
SiO2, Al 2 O3, CaO dan MgO disamping ZrO2, TiO2, Cserta BeO yang lebih jarang dipakai.
Oksida fluks yang terpenting adalah Na 2O, K2O , B2O3 dan SnO2, disamping fluorida yang
juga digunakan dalam komposisi beberapa fluks tertentu.

Keseluruhan badan keramik akan mengalami vitrifikasi, atau pembentukan kaca, pada waktu
pemanasan, dan tingkat vitrifikasi ini bergantung pada perbandingan kuantitas oksida
refraktori dan oksida fluks di dalam komposisinya pada suhu dan pada waktu pemanasan.
Fase kekaca memberikan sifat sifat yang dikehendaki pada keramik, misalnya berfungsi
sebagai perekat dan memberikan sifat translusen (tembus cahaya) pada keramik cina
(chinaware). Bahkan dalam refraktori pun vitrifikasi ini dikehendaki sebagai perekat, tetapi
vitrifikasi yang terlalu jauh akan memusnahkan sifat refraktorinya. Jadi, jelaslah bahwa
badan keramik terdiri dari matriks kekaca plus kristal, dimana dua yang terpenting adalah
mulit dan kristobalit.

Derajat vitrifikasi, atau berkurangnya porositas secara brangsur merupakn dasra yang berguna
untuk menggolongkan produk keramik sebagai berikut :

Keramik putih. Kuantitas fluks beragam, pemanasan pada suhu tinggi sedang, vitrifikasi
beragam.

Produk lempung berat. Fluks banyak, pemanasan pada suhu rendah, vitrifikasi sedikit.

Refraktori. Sedikit fluks, pemanasan pada suhu tinggi, sedikit vitrifikasi.

Email. Sangat banyak fluks, pemanasan pada suhu sedang, vitrifikasi sempurna.

Kaca. Fluks sedang, pemanasan pada suhu tinggi, vitrifikasi sempurna.

2.6 Macam-macam Keramik

Keramik adalah semua benda-benda yang terbuat dari tanah liat/lempung yang mengalami
suatu proses pengerasan dengan pembakaran suhu tinggi. Pengertian keramik yang lebih luas
dan umum adalah Bahan yang dibakar tinggi termasuk didalamnya semen, gips, metal dan
lainnya.

a. Gerabah (Earthenware), dibuat dari semua jenis bahan tanah liat yang plastis dan mudah
dibentuk dan dibakar pada suhu maksimum 1000C. Keramik jenis ini struktur dan
teksturnya sangat rapuh, kasar dan masih berpori. Agar supaya kedap air, gerabah kasar harus
dilapisi glasir, semen atau bahan pelapis lainnya. Gerabah termasuk keramik berkualitas
rendah apabila dibandingkan dengan keramik batu (stoneware) atau porselin. Bata, genteng,
paso, pot, anglo, kendi, gentong dan sebagainya termasuk keramik jenis gerabah. Genteng
telah banyak dibuat berglasir dengan warna yang menarik sehingga menambah kekuatannya.

b. Keramik Batu (Stoneware), dibuat dari bahan lempung plastis yang dicampur dengan
bahan tahan api sehingga dapat dibakar pada suhu tinggi (1200-1300C). Keramik jenis ini
mempunyai struktur dan tekstur halus dan kokoh, kuat dan berat seperti batu. Keramik jenis
termasuk kualitas golongan menengah.

c. Porselin (Porcelain), adalah jenis keramik bakaran suhu tinggi yang dibuat dari bahan
lempung murni yang tahan api, seperti kaolin, alumina dan silika. Oleh karena badan porselin
jenis ini berwarna putih bahkan bisa tembus cahaya, maka sering disebut keramik putih. Pada
umumnya, porselin dipijar sampai suhu 1350C atau 1400C, bahkan ada yang lebih tinggi
lagi hingga mencapai 1500C. Porselin yang tampaknya tipis dan rapuh sebenarnya
mempunyai kekuatan karena struktur dan teksturnya rapat serta keras seperti gelas. Oleh
karena keramik ini dibakar pada suhu tinggi maka dalam bodi porselin terjadi penggelasan
atau vitrifikasi. Secara teknis keramik jenis ini mempunyai kualitas tinggi dan bagus,
disamping mempunyai daya tarik tersendiri karena keindahan dan kelembutan khas porselin.
Juga bahannya sangat peka dan cemerlang terhadap warna-warna glasir.

d. Keramik Baru (New Ceramic), adalah keramik yang secara teknis, diproses untuk
keperluan teknologi tinggi seperti peralatan mobil, listrik, konstruksi, komputer, cerobong
pesawat, kristal optik, keramik metal, keramik multi lapis, keramik multi fungsi, komposit
keramik, silikon, bioceramic, dan keramik magnit. Sifat khas dari material keramik jenis ini
disesuaikan dengan keperluan yang bersifat teknis seperti tahan benturan, tahan gesek, tahan
panas, tahan karat, tahan suhu kejut seperti isolator, bahan pelapis dan komponen teknis
lainnya.

Badan keramik adalah bagian utama dalam pembuatan keramik dan bahan utamanya biasa
disebut dengan bahan mentah keramik. Contoh bahan mentah keramik alam seperti kaolin,
lempung, felspar, kuarsa, pyrophillit dan sebagainya.

Sedangkan bahan keramik buatan seperti mullit, SiC, Borida, Nitrida, H3BO3 dan
sebagainya.

Bahan mentah keramik digolongkan menjadi 5 (lima) yaitu :


1) Bahan Pengikat Contoh : kaolin, ball clay, fire clay, red clay,

2) Bahan Pelebur Contoh : felspar, kapur,

3) Bahan Pengisi Contoh : silika, grog (samot),

4) Bahan Tambahan Contoh : water glass, talk, pyrophillit, dan

5) Bahan Mentah Glasir. (Bahan yang membuat lapisan gelas pada permukaan benda keramik
setelah melalui proses pembakaran pada suhu tertentu), diantaranya adalah :

a) Bahan mengandung SiO2 pasir kuarsa lempung feldspar,

b) Bahan mengandung oksida basa potas felspar batu kapur soda abu,

c) Bahan mengandung Al2O3 kaolin feldspar,

d) Bahan tambahan Contoh : bahan pewarna ( senyawa cobalt, senyawa besi,

e) Bahan perekat Contoh : gum,

f) Bahan penutup Contoh : Oksida sirkon, oksida seng,

g) Bahan pelebur Contoh : asam borat, borax, Na2CO3, K2CO3, BaCO3

h) Bahan opacifer : SnO2, ZrO dan sebagainya

2.7 Pembuatan Keramik

Semua produk keramik dibuat dengan mencampurkan berbagai kuantitas bahan baku yang
sudah disebutkan di atas, membentuknya lalu memanaskan sampai suhu pembakaran. Suhu
ini mungkin hanya 7000C untuk beberapa glasir luar, tetapi banyak pula vitrifikasi yang
dilakukan pada suhu 2000oC. Pada suhu vitrifikasi terjadi sejumlah reaksi, yang merupakan
dasar kimia bagi konversi kimia:

1. Dehidrasi, atau penguapan air kimia pada suhu 150-650oC

2. Kalsinasi, misal CaCO3 pada suhu 600-900oC

3. Oksidasi besi fero dan bahan organic pada suhu 350-900 oC

4. Pembentukan silica pada suhu 900oC lebih.

5. Tahapan proses dalam membuat keramik saling berkaitan antara satu dengan lainnya.
Proses awal yang dikerjakan dengan baik, akan menghasilkan produk yang baik juga.
Demikian sebaliknya, kesalahan di tahapan awal proses akan mengasilkan produk yang
kurang baik juga.

Tahap-tahap membuat keramik :

Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat suatu produk keramik,
yaitu:

1. Pengolahan Bahan

Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang
belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan
dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering, dengan cara manual ataupun masinal.
Didalam pengolahan bahan ini ada proses-proses tertentu yang harus dilakukan antara lain
pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan (mixing), dan
pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dapat dilakukan dengan penumbukan atau
penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan
ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang
lazim digunakan adalah 60 100 mesh.

Pencampuran dan pengadukan bertujuan untuk mendapatkan campuran bahan yang


homogen/seragam. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan
blunger maupun mixer.

Pengurangan kadar air dilakukan pada proses basah, dimana hasil campuran bahan yang
berwujud lumpur dilakukan proses lanjutan, yaitu pengentalan untuk mengurangi jumlah air
yang terkandung sehingga menjadi badan keramik plastis. Proses ini dapat dilakukan dengan
diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filterpress.

Tahap terakhir adalah pengulian. Pengulian dimaksudkan untuk menghomogenkan massa


badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak.
Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam
agar didapatkan keplastisan yang maksimal.
2. Pembentukan

Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi
benda-benda yang dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda
keramik: pembentukan tangan langsung (handbuilding), teknik putar (throwing), dan teknik
cetak (casting).

a. Pembetukan Tangan Langsung

Dalam membuat keramik dengan teknik pembentukan tangan langsung, ada beberapa metode
yang dikenal selama ini: teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), dan teknik lempeng
(slabbing).

b. Pembentukan dengan Teknik Putar

Pembentukan dengan teknik putar adalah keteknikan yang paling mendasar dan merupakan
kekhasan dalam kerajinan keramik. Secara singkat tahap-tahap pembentukan dalam teknik
putar adalah: centering (pemusatan), coning (pengerucutan), forming (pembentukan), rising
(membuat ketinggian benda), refining the contour (merapikan).

c. Pembentukan dengan Teknik Cetak

Dalam keteknikan ini, produk keramik tidak dibentuk secara langsung dengan tangan; tetapi
menggunakan bantuan cetakan/mold yang dibuat dari gipsum. Teknik cetak dapat dilakukan
dengan 2 cara: cetak padat dan cetak tuang (slip). Pada teknik cetak padat bahan baku yang
digunakan adalah badan tanah liat plastis sedangkan pada teknik cetak tuang bahan yang
digunakan berupa badan tanah liat slip/lumpur. Keunggulan dari teknik cetak ini adalah
benda yang diproduksi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis. Berbeda dengan
teknik putar atau pembentukan langsung,

3. Pengeringan
Setelah benda keramik selesai dibentuk, maka tahap selanjutnya adalah pengeringan. Tujuan
utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik.
Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting:

Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai akhirnya
partikel-partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti;

Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut; dan

Air yang terserap pada permukaan partikel hilang. Tahap-tahap ini menerangkan mengapa
harus dilakukan proses pengeringan secara lambat untuk menghindari retak/cracking terlebih
pada tahap 1 (Norton, 1975/1976).

Karena produk keramik hampir semuanya punya sifat refraktori, artinya tahan terhadap panas
dan sifaat ini bergantung pada oksida refraktori terhadap oksida fluks di dalamnya.

Efek dari pemanasan yang utama yaitu mendorong air hidrasi keluar , ini terjadi pada suhu
600-650oC dengan menyerap sejumlah besar kalor, meninggalkan suatu campuaran amorf
alumunia dan silica, seperti terlihat dari penelitian dengan sinar X.

Al2O3 + 2SiO2 + 2H2O --> Al2O3.2SiO2.2H2O

Keseluruhan reaksi yang terjadi pada pemanasan lempung adalah :

3Al2O3.2SiO2 + 4SiO2 + 6H2O --> 3 (Al2O3.2SiO2.2H2O)

Kaonit Munit kristobalit

4. Pembakaran

Pembakaran merupakan inti dari pembuatan keramik dimana proses ini mengubah massa
yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah
tungku/furnace suhu tinggi.
Pembakaran biscuit

Pembakaran biskuit merupakan tahap yang sangat penting karena melalui pembakaran ini
suatu benda dapat disebut sebagai keramik. Biskuit (bisque) merupakan suatu istilah untuk
menyebut benda keramik yang telah dibakar pada kisaran suhu 700 1000oC. Pembakaran
biskuit sudah cukup membuat suatu benda menjadi kuat, keras, kedap air. Untuk benda-benda
keramik berglasir, pembakaran biskuit merupakan tahap awal agar benda yang akan diglasir
cukup kuat dan mampu menyerap glasir secara optimal.

5. Pengglasiran

Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda
keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk
benda-benda kecil-sedang pelapisan glasir dilakukan dengan cara dicelup dan dituang; untuk
benda-benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada
produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan
menambahkan efek-efek tertentu sesuai keinginan.

K2OAl3O3 6SIO2 + CO2 + H2O -> K2CO3 + Al2O3 2SIO2 2H2O + 4SIO2

K2OAl3O3 6SIO2 + CO2 + H2O -> K2CO3 + Al2O3 2SIO2 2H2O + 4SIO2

2.8 Kegunaan Keramik

Keramik dinilai dari propertinya. Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan


kemampuan dan daya tahannya. Keramik dengan properti elektrik dan magnetik dapat
digunakan sebagai insulator, semikoncuktor, konduktor dan magnet. Keramik dengan properti
yang berbeda dapat digunakan pada aerospace, biomedis, konstruksi bangunan, dan industri
nuklir.

Beberapa contoh penggunaan keramik industri:

Peralatan yang dibuat dari alumina dan silikon nitrida dapat digunakan sebagai pemotong,
pembentuk dan penghancur logam.

Keramik tipe zirconias, silikon nitrida maupun karbida dapat digunakan untuk saluran pada
rotorturbocharger diesel temperatur tinggi dan Gas-Turbine Engine.
Keramik sebagai insulator adalah aluminum oksida (AlO3). Keramik sebagai semikonduktor
adalah barium titanate (BaTiO3) dan strontium titanate (SrTiO3). Sebagai superkonduktor
adalah senyawa berbasis tembaga oksida.

Keramik dengan campuran semen dan logam digunakan untuk pelapis pelindung panas pada
pesawat ulang-alik dan satelit.

Keramik Biomedical jenis porous alumina digunakan sebagai implants pada tubuh manusia.
Porous alumina dapat berikatan dengan tulang dan jaringan tubuh.

Butiran uranium termasuk keramik yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir.
Butiran ini dibentuk dari gas uranium hexafluorida (UF6).

Keramik berbasis feldspar dan tanah liat digunakan pada industri bahan bangunan.

Keramik juga digunakan sebagai coating (pelapis) untuk mencagah korosi. Keramik yang
digunakan adalah jenis enamel. Peralatan rumah tangga yang menggunakan pelapisan enamel
ini diantaranya adalah kulkas, kompor gas, mesin cuci, mesin pengering.

2.9 Produk Keramik Khusus

(1). Komposit Keramik

Struktur sarang lebah atau jaringan logam, yang diserap dengan fase keramik, mengandung
sifat-sifat kekuatan dari logam paduan tinggi dan sifat-sifat termal yang baik dari busa
keramik. Komposit keramik-logam dengan ikatan reaksi dibuat dengan reaksi yang
mengikatkan dua bahan bila dipanaskan pada suhu yang lebih rendah dari titik cair masing-
masing. Keramik juga berfungsi sebagai katalis yang mendorong korosi logam menjadi
oksida logam.

(2). Keramik Fereoelektrik dan Feromagnetik

Keramik yang paling umum yang termasuk golongan ini ialah barium titanat (BaTiO3).
Titania dan senyawanya mempunyai sifat istimewa yang sangat berguna dalam penerapan
listrik, yang terpenting diantaranya ialah yang menyangkut kapasitas tinggi pada berbagai
frekuensi.

(3). Keramik Alumina Tinggi

Bahan ini kuat dan padat (rapat), tidak seperti refraktori yang biasanya berpori. Kebanyakan
keramik alumina tinggi digunakan untuk memanfaatkan sifat tahan ausnya serta sifat-sifat
tahan korosi, dan stabilitas dimensinya, dan bukan karena ketahanannya menanggung suhu
yang tinggi.

2.10 Keramik Putih

Keramik putih (whiteware) adalah nama umum yang diberikan untuk sejenis produk keramik
yang biasanya berwarna putih dan mempunyai tekstur (jaringan) halus. Keramik ini dibuat
dari bahan dasar lempung yang berkualitas terpilih dal fluks dalam jumlah bervariasi yang
dipanaskan dalam suhu yang lebih tinggi (1200 sampai 1500C) di dalam tanur (kiln). Jenis-
jenis ini dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Keramik tanah (carthenware) disebut barang pecah belah semi kekaca (semivitreous
dinnerware), adalah keramik berpori dan tidak translusen dengan glasir lunak.

Keramik cina (chinaware) adalah keramik vitrifikasi translusen dengan glasir sedang dan
tahan terhadap abrasi tertentu; digunakan untuk tugas non teknik.

Porselin (porcelain) adalah keramik vitrifikasi translusen dengan glasir keras yang tahan
abrasi pada tingkat maksimum. Dalam kelompok ini termasuk porselin kimia, isolasi, dan
dental (pergigian).

Keramik saniter (sanitary ware), dulu dibuat dari lempung, biasdanya berpori; oleh karena itu
sekarang menggunakan komposisi kekaca. Kadang-kadang bersama komposisi triaksial
ditambahkan juga grog kekaca ukuran tertentu yang telah mengalami pembakaran
pendahuluan.

Keramik batu (stone ware), adalah jenis yang tertua di antara barang keramik, yang telah
digunakan jauh sebelum pengembangan porselin; bahkan keramik ini dapat dianggap sebagai
porselin kasar yang pembuatannya tidak dilakukan dengan teliti dan terbuat dari bahan baku
bermutu rendah.

Ubin keramik putih (white ware tile) terdapat dalam berbagai jenis khusu, biasanya
dikelompokkan atas ubin lantai yang tahan terhadap abrasi dan kedap terhadap peresapan
noda, ada yang diglasir ada yang tidak; dan ubin dinding yang juga mempunyai permukaan
keras dan permanen dengan berbagai macam warna dan tekstur.

Pengglasiran itu sangat penting dalam hal keramik putih, terutama untuk barang pecah belah.
Glasir adalah lapisan salut dari kaca yang dilebur diatas permukaan barang keramik yang
agak berpori. Glasir mengandung 2 jenis perawis yang amat berbeda, yang dicampurkan
dalam bermacam macam perbandingan. Bahan refraktori seperti feldspar, silika, lempung
cina dan fluks seperti soda, potas, flourspar dan boraks. Teknik yang digunakan untuk
pembakaran glasir ini adalah pembakaran glast. Pembakaran glasir keramik tanah dilakukan
pada suhu 1050C sampai 1100 C ; keramik batu antara 1250 oC sampai 1300 oC