Anda di halaman 1dari 63

TUGAS BIOFARMASETIKA TERAPAN

Dosen Pengampu : Andhi Fahrurroji, M.Sc., Apt.

Nama : Agung Arif Perkasa


NIM : I4041161001
1. Suatu industry farmasi akan memproduksi suatu sedian kapsul salah satu syarat yang
harus dipenuhi adalah uji disolusi. Dibawah ini alat manakah yang harus digunakan?
a. Uji disolusi tipe 1
b. Uji disolusi tipe 2
c. Uji disousi tipe 3
d. Uji disolusi tipe 4
e. Uji disolusi tipe 5
Sumber : Z. Paradiba. Uji disolusi pada kapsul lansoprazol. Universitas Sumatera
Utara.2011
2. Suatu industri farmasi akan membuat tablet hisap vitamin C 1000 mg untuk pasien
dewasa. Dari data CoA dan MSDS vitamin C di dapatkan informasi sifat fisika dan kimia
zat sebagai berikut : berbentuk granulat, sifat kompresibilitas baik, larut air, termobilitas
rendah.
Dari penjelasan diatas, metode pembuatan tablet apakah yang paling sesuai?
A. Granulasi Kering
B. Granulasi Basah
C. Fast melt granulation
D. Metode kempa langsung
E. Spray dried method
Sumber : Niazi,K.S,2009,Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations
Compressed Solid Product, Vol 1, 2nd Ed, InformaHealthcare.,USA.
3. Penderita sesak nafas dengan BB 60 kg akan diberikan sediaan aminofilin per oral.
Ketersediaan hayati obat tersebut sempurna (100%), dan theofilin terdistribusi ke dalam
volume 0,5L/kgBB, diberikan dengan kecepatan 40mL/jam per kgBB pada pasien
tersebut. Sudah 2 hari pasien tidak minum theofilin. Berapakah besar loading dose agar
tercapai kadar theofilin dalam darah 10mg/L?
A. 375 mg
B. 360 mg
C. 450 mg
D. 300 mg
E. 500 mg
Sumber : Niazi,K.S,2009,Handbook of Pharmaceutical Manufacturing Formulations
Compressed Solid Product, Vol 1, 2nd Ed, InformaHealthcare.,USA.
4. Seorang apoteker diminta untuk memberi pelayanan farmasi terhadap 2 orang pasien
anak-anak berusia 10 tahun. Kedua pasien tersebut mengalami gejala demam seperti
panas tinggi dan sakit kepala. Pasien pertama diberikan parasetamol dengan dosis 250
mg sebanyak 3 kali sehari. Pasien kedua diberikan dosis sebesar 300 mg sebanyak 3 kali
sehari. Setelah beberapa hari pasien pertama membaik dalam 2 hari, sedangkan pasien
kedua baru membaik setelah 4 hari.
Jelaskan kaitannya terhadap nilai harga MEC dan MTC obat yang berbeda antara tiap
pasien. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Jawaban:
Daerah antara MEC dan MTC merupakan daerah kisar terapeutik.kisar terapeutik
sifatnya tidak absolut untuk setiap orang karena tergantung dari variable internal dan
eksternal masing-masing. Kisar terapeutik hanya digunakan sebagai panduan awal dalam
penentuan dosis, setelah penentuan dosis maka dilakukan monitoring terhadap efek obat
bagi pasien, sehingga dari perkembangan penyakit dapat diambil keputusan bhwa
pengobatan harus ilanjutkan, dikurangi atau bahkan dihentikan. Dengan kiata lain, dalam
pengobatan/penanganan pasien bersifat individual.
Sumber : Rahul Pandey, Asgar Ali, Mohammad Aqil. Development of Bioequivalent
Extended Release Tablets of Verapamil Hydrochloride and Its Quality Control. Department of
Pharmaceutics, Faculty of Pharmacy, Jamia Hamdard, New

Nama : Ammy Okta Prayuda


NIM : I4041161002
1. Fenomena pengangkutan fisiologis yang mempengaruhi mekanisme obat melewati membran
sel yang diperantarai oleh pembawa yang berperan penting dalam sekresi ginjal dan bilier
dari berbagai obat dan metabolit disebut...
a. Difusi pasif
b. Transport aktif
c. Difusi terfasilitasi
d. Pinositosis
e. Transport melalui pori
2. Nifedipin digunakan untuk obat angina dan hipertensi pada golongan Calcium Channel
Blocker. Nifedipin memiliki waktu paruh 2-4 jam, dosis yang biasa diberikan sebanyak 10-
30 mg. Nefedipin terabsorpsi baik di lambung. Sebuah industri farmasi ingin
mengembangkan produk nifedipin menjadi bentuk sediaan sustained release. Sebelum siap
dipasarkan produk ini harus melalui uji pelarutan. Metode resmi yang paling sesuai untuk
melaksanakan uji pelarutan produk ini sesuai USP/NF ialah...
a. Rotating basket
b. Paddle
c. Reciprocating cyllinder
d. Flow-Through-Cell
e. Paddle-over-Disk
3. Pertimbangan dalam merancang sebuah sediaan obat merupakan langkah awal untuk
menjamin keamanan dan keefektifan obat. Pertimbangan yang dikaitkan dengan waktu
paruh eliminasi obat dan konsentrasi terapeutik obat ialah...
a. Pertimbangan penderitaan
b. Pertimbangan dosis
c. Pertimbangan frekuensi pemberian dosis
d. Pertimbangan terapeutil
e. Pertimbangan efek samping dalam saluran cerna
4. Gambarkan proses laju bioavailabilitas obat secara sederhana!
Jawaban :
Pelepasan dengan Pelarutan Absopsi
cara penghancuran
Obat dalam Partikel obat Obat dalam Obat dalam
produk obat padat larutan tubuh

Sumber: Shargel, I., dan Andrew B.C.Yu. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.

Nama : Ariq Alauddin


NIM : I4041161003
1. Jumlah dan kecepatan absorbsi obat dari saluran pencernaan dipengaruhi oleh berbagai
faktor, salah satu faktornya adalah
a. Berat molekul
b. Fisikokimia
c. pKa
d. Penetapan kadar
e. Semua jawaban benar
2. Terdapat banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam melakukan penetapan kadar obat
di dalam darah, kecuali :
a. Bagaimana manfaat dan resikonya, termasuk ada tidaknya hubungan antara kadar
obat
plasma dengan respon farmakologi dan toksikologinya
b. Kadar obat dalam plasma cukup dilakukan sekali untuk keamanan pasien
c. Pengambilan darah untuk menetapkan kadar obat plasma memerlukan izin dokter
yang merawat pasien
d. Jawaban A dan B benar
e. Bukan salah satu jawaban diatas
3. Bioavaibilitas setiap obat berbeda dengan adanya perbedaan bentuk sediaan. Parameter
bioavaibilitas yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi
sistemik adalah
a. AUC
b. MEC
c. CpMaks
d. tMaks
e. MTC
4. Suatu obat X dibuat menjadi bentuk extendet release. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan efek yang maksimal dari obat tersebut. Akan tetapi, tidak semua obat dapat
dijadikan bentuk extended releas. Hanya obat yang memenuhi persyaratan yang dapat
dibuat menjadi bentuk sediaan tersebut. Apa syarat suatu obat dapat dibuat menjadi
bentuk sediaan extended release ?
Jawabanya adalah Dapat diabsorbsi secara beragam di saluran cerna

Nama : Ciptayuni Eka Wijayanti


NIM : I4041161004
1. Zat aktif A memiliki kelarutan dalam air dan bioavailabilitas yang rendah. Untuk
meningkatkan kelarutan dan bioavailabilitasnya, dilakukan modifikasi kimiawi denan
penambahan gugus ester pada strukturnya. Zat termodifikasi ini baru dapat menimbulkan
efek farmakologis setelah mengalami penghilangan gugus ester secara enzimatik dalam
hati. Bentuk modifikasi obat yang dimaksud disebut sebagai....
a. Metabolit
b. Garam
c. Ester
d. Prodrug
e. Polimer
Sumber : Martin, A; Swarbick, J; Cammarata,A. Farmasi Fisik: Dasar-dasar Farmasi Fisik
dalam Ilmu Farmasetik. Edisi III. Jilid 2. UI Press, 1993: 1199.
2. Pasien angina akut membutuhkan penanganan cepat. Sediaan antiangina yang tepat
digunakan adalah ....
a. ISDN 20 mg
b. ISDN 10 mg
c. ISDN 5 mg
d. Nitrogliserin 2,5 mg
e. Nitrogliserin 5 mg
Sumber : Suyatna FD. Antiangina. Dalam Farmakoloi dan Terapan. Edisi V. FKUI, 2009 :
461-462.
3. Pelepasan obat dalam dari sediaan dipengaruhi oleh ukuran partikel obat. Selain itu, juga
mempengaruhi kestabilan fisik dan respon farmakolois yang ditimbulkan. Penentuan
ukuran partikel menggunakan coulter counter merupakan cara penentuan ukuran partikel
dengan metode ....
a. Mikroskopi optik
b. Pengayakan
c. Impuls
d. Pengendapan
e. Pengukuran volume partikel
Sumber : Voight, R. Buku Pelajaran Teknoloi Farmasi. Edisi II. UGM Press, 1995.
4. Kesalahan penggunakan obat terjadi pada penggunaan tablet metronidazol dalam
penanganan luka. Tablet metronidazol yang ditujukan sebagai penggunaan peroral
digunakan secara topikal sebagai serbuk tabur. Hal ini memicu terjadi resistensi
metronidazol pada pasien.
Bagaimana pengaruh perbedaan bioavailabilitas tablet metronidazol peroral dibandingkan
sebagai serbuk tabur yang dapat memicu resistensi obat tersebut?
Jawaban : Absorbsi metronidazol secara topikal lebih rendah 10 kali dibandingkan
sediaan peroral. Tingkat absorbsi yan rendah menyebabkan bioavailabilitas obat dalam
tubuh menurun. Kadar antibiotik yang terlalu rendah menjadi salah satu penyebab
terjadinya resistensi antibiotik.
Sumber :
Katzung, B. G. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VIII. Jilid 3. Salemba Medika, 2004:
37-41.
Nama : Dea Thendriani
NIM : I4041161005
1. Ranitidin (biasa digunakan dalam pengobatan tukak (ulcer) merupakan salah satu obat
yang tidak dapat berpenetrasi melewati membran dengan cara difusi pasif. Hal ini
dikarenakan sifat ranitidin yang ...
a. Larut lipid
b. Tidak terionisasi
c. Hidrofobik
d. Hidrofilik
e. Ampifilik
2. Seorang pasien yang datang ke apotek Husada diberikan antifungi Griseofulvin dalam
bentuk tablet. Griseofulvin diketahui memiliki kelarutan yang rendah (tergolong BCS
Kelas II) sehingga absorpsinya di saluran cerna juga rendah; di mana absorpsinya dapat
dipengaruhi oleh makanan, terutama makanan berlemak.
Bagaimana pengaruh makanan terhadap absorpsi griseofulvin?
a. Adanya makanan meningkatkan absorpsi griseofulvin sehingga griseofulvin
sebaiknya diberikan 2 jam sebelum makan
b. Adanya makanan meningkatkan absorpsi griseofulvin sehingga griseofulvin
sebaiknya diberikan bersamaan dengan makanan
c. Adanya makanan menurunkan absorpsi griseofulvin sehingga griseofulvin sebaiknya
diberikan 2 jam sebelum makan
d. Adanya makanan menurunkan absorpsi griseofulvin sehingga griseofulvin sebaiknya
diberikan 2 jam setelah makan
e. Adanya makanan menurunkan absorpsi griseofulvin sehingga griseofulvin sebaiknya
diberikan bersamaan dengan makanan
3. Koefisien partisi merupakan indikasi lipofilisitas suatu obat. Semakin lipofil suatu obat,
umumnya semakin mudah obat tersebut untuk berpenetrasi melewati membran dan
sampai di tempat kerjanya. Obat A diketahui memiliki koefisien partisi <1. Dilihat dari
koefisien partisi obat A tersebut, maka dapat dikatakan bahwa obat A memiliki...
a. Kelarutan yang tinggi
b. Kelarutan yang rendah
c. Permeabilitas yang tinggi
d. Permeabilitas yang rendah
e. Kelarutan dan permeabilitas yang sama tinggi
4. Suatu larutan obat mengandung 800 satuan tiap mL. Pada saat dibuat, larutan tersebut
dianalisis selama 60 hari dan ditemukan terkandung 350 satuan per mL. Apabila
penguraian berjalan dengan orde 1, pada saat kapan obat telah terurai setengahnya dari
konsentrasi awal?
Diketahui: [A]0 = 800 satuan/mL
[A] = 350 satuan/mL
Orde penguraian = orde 1
t= 60 hari
Ditanya : t1/2?
Jawab :
Orde 1
Ln [A] = ln [A]0 kt
Ln [350]= ln [800] k . 60
k. 60 = ln 800 ln 350
k. 60 = ln 800/350
k. 60 = 0,82667
k = 0,82667/60
k = 0,0137/hari

t1/2 = 0,693/k
t1/2 = 50,5839 hari atau 50,58 hari
Jadi, obat tersebut telah terurai setengahnya dari konsentrasi awal pada hari ke 50,58.
References
1. Siew A, Le H, Thiovolet M, Gellert P, Schatzlein A, Uchegbu I. Enhaced oral absoption
of hydrophobic and hydrophilic drugs using quarternary ammonium palmitoyl glycol
chitosan nanoparticles. Mol Pharm. 2012; 9(1):14-28
2. Romich JA. Fundamentals of pharmacology for veterinary technicians. USA: Delmar
Cengage Learning; 2010. 61 p.
3. Fujioka Y, Kadono K, Kimura T. Prediction of oral absorption of griseofulvin, a BCS
class II drug, based on GITA model: Utilization of a more suitable medium for in-vitro
dissolution study. J Control Release. 2007; 119(2):222-8
4. Kabasakalian P, Katz M, Rozenkratz B, Townley E. Parameters affecting absorption of
griseofulvin in a human subject using urinary metabolite excretion data. J Pharm Sci.
1970; 59(5):595-600
5. Khalafalla N, Elgholmy ZA, Khalil SA. Influence of high fat diet on GI absorption of
griseofulvin tablets in man. Pharmazie. 1981; 36(10):692-3
6. Agoes G. Pengembangan sediaan farmasi. Bandung: Penerbit ITB; 2008. Hal. 9
7. Shargel L, Andrew BCYU. Biofarmasetika dan farmakokinetika terapan. Surabaya:
Airlangga University Press; 2005. Hal. 24-29
8. Martin A, Swarbrick J, Cammarata A. Farmasi fisik. Jakarta: UI-Press; 2008. Hal 739-
743

Nama : Dini Sepkawila Caturizani


NIM : I 4041161006
1. Propanolol HCl mrupakan senyawa pemblok reseptor beta non-selektif dalam pengobatan
hipertensi dan memiliki waktu paru eliminasi pendek sekitar 3 jam. Untuk mengurangi
frekuensi pemberian, meningkatkan kenyamanan pasien dan menjaga konsentrasi dalam
darah dalam jendela terapeutik. Bentuk sediaan apakah yang dapat dibuat untuk obat ini?
a. Tablet salut selaput
b. Tablet floating
c. Tablet salut enterik
d. Tablet salut gula
e. Tablet lepas lambat
Dapus : Gohel, M.C., Mehta, P.R., Dave, R.K., Bariya, N.H., 2004, A More Relevant
Dissolution Method For Evaluation Of Floating Drug Delivery System, Disolution
Technologies, vol. 11, issue 4, 22-26
2. Natrium diklorofenak adalah obat anti infamasi non-steroid yang merupakan senyawa
aktif dengan efek farmakologis sebagai analgetik, antipiretik, dan antiradang. Mekanisme
diklorofenak yaitu menghambat sintesa prostaglandin.natrium diklorofenak mempunyai
waktu paruh yang pendek sekitar 1-2 jam. Dari prnjelasan tersebut maka, bentuk sediaan
apakah yang dapat dibuat untuk obat ini?
a. Tablet salut selaput
b. Tablet floating
c. Tablet salut enterik
d. Tablet salut gula
e. Tablet lepas lambat
Dapus : Hardman, j.g., (Eds). 2001. The Pharmalogical Basis of Terapeutics 10 th ed.
McGraw-Hillpub, 688, 709-710
3. Rute biofarmasetika yang dialami oleh suatu formula obat dan tablet khususnya dapat
diuraikan dalam 3 tahap secara berurutan yaitu:
a. Disolusi, liberalisai dan absorbs
b. Liberalisasi, absrbsi dan disolusi
c. Liberalisasi, disolusi dan absorbs
d. Absorbsi, liberalisasi dan disolusi
e. Absorbs,disolusi dan liberalisasi
Dapus : Notari, R.E. 1980. Biofarmaceutical Clinical Pharmacokinetics 3 rd ed, New York:
Marcel Danker Inc., 152-157
4. Sebutkan dan jelaskan mekanisme dari dua klasifikasi Floating system..
a. Non-effervecent system : Hidrokoloid akan mengembang ketika kontak dengan cairan
lambung setelah pemberian oral, tinggal dengan bentuk yang utuh dan bulk
densitynya dari kesatuan lapisan luar gel.
b. Effervescent system : matriks yang ketika kontak dengan cairan lambung akan
membentuk gel, dengan adanya gas yang dihasilkan dari system effervescent, maka
gas akan terperangkap dalam gelyfiedhydrocolloid, akibatnya tablet akan mengapung,
meningkatkan pergerakan sediaan, sehingga akan mempertahankan sediaan, sehingga
akan mempertahankan daya mengapungnya.
Nama : Farhanisa
Nim : I4041161007
1. Industri farmasi sedang mengembangkan bentuk sediaan larutan dengan bahan aktif
ibuprofen. Ibuprofen memiliki sifat sukar larut dalam air. Oleh karena itu untuk
meningkatkan kelarutan ditambahkan polimer hidrofilik. Metode apakan yang
digunakan?
a. Kosolvensi d. dispersi padat
b. Solubilisasi e. pembentukan garam
c. Kompleks inklusi
2. Seorang wanita berusia 70 tahun, dirawat di rumah sakit karena penyakit jantung yang di
deritanya, dia mendapatkan terapi digoksin untuk penyakit jantungnya. Dibawah ini
manakah fisiologi/ metabolism yang dapat mempengaruhi farmakokinetik dari digoksin?
a. Penurunan a-glukoprotein d. penaikan pH
b. Penurunan fungsi hepar e. penurunan fungsi ginjal
c. Penurunan pH
3. Suatu industri farmasi memproduksi fenofibrate 200mg yang merupakan pengembangan
dari produk 100mg. agar produk tersebut dapat diedarkan maka harus dilakukan uji
ekuivalensi. Uji ekuivalensi apa yang harus dilakukan?
a. Uji kandungan senyawa aktif d. uji permeabilitas in vitro
b. Uji disolusi terbanding e. uji absopsi in situ
c. Uji bioavailabilitas
4. Formulasi obat eritromisin dari bentuk ester dan garam mempunyai perbedaan
bioavailabititas yang bermakna. Eritromsin tidak stabil dalam media masam. Usulkan
metode untuk mencegah timbulnya masalah bioavailabilita yang potensial untuk obat ini?
Jawaban:
Dalam salah satu contoh pilip dan kawan-kawan merangcang suatu metode dengan
menggunakan media pelarut dapat fosfat 6,6 sebagai pengganti HCl 0,1 N, di maksudkan
untuk menghindari ketidak stabilan obat. Dengan menggunakan suhu 22 C dan metode
paddle USP pada rpm, pelarut dari berbaggai tablet eritromisin bervariasi dengan asal
serbuk obat. Laju pelarutan dari serbuk eritromisin bervariasi dari 100% terlarut dengan 1
jam menjadi kurang dari 40% terlarut dalam 1 jam. Pelarutan bahan baku yang lambat
juga mengahasilkan laju pelarutan produk obat yang lambat. Oleh karena itu, pelarutan
serbuk bahan baku merupakan suatu metode yang sangat berguna secara in vitro untuk
memprakirakan masalah bioavailabilitas dari produk eritromisin dalam tubuh.
Daftar pustaka:
1. Margaret. Peningkatan Ibuprofen Dengan Metode Dispersi Padat Menggunakan
Polietilenglikol 6000. Skripsi. Universitas Indonesia; Depok: 2008.
2. Shargel, Leon. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapi. Airlangga University Press;
Surabaya: 2005.
3. Philip J, Dayly RE. Test For Selection of Eritromycin Stearate Bulk Drud For Tablet
Preparation. J Pharm Sci 72:979-980,1983.
Nama : Hendra Kurniawan
NIM : I4041161008
1. Industri farmasi akan melakukan riset formulasi pada penggunaan obat Furosemid.
Furosemid merupakan salah satu zat aktif yang memiliki sifat kelarutan praktis tidak larut
dalam air. Dalam sistem klasifikasi biofarmasetika (BCS), obat yang memiliki sifat
kelarutan sangat kecil, proses disolusi menjadi tahap penentu (rate limiting step) absorbsi
obat. Untuk meningkatkan kecepatan disolusi suatu obat, dapat dilakukan dengan
menambahkan suatu bahan amorf untuk membentuk dispersi padat. Polimer apa yang
digunakan untuk membuat sediaan tersebut?
a. MCC d. CMC
b. HPMC e. PVP
c. Selulosa
2. Industri farmasi akan membuat sediaan teofilin, Teofilin merupakan obat yang memiliki
indeks terapi yang sempit, dimana konsentrasi dalam plasma yang melebihi 10 g/ml
akan menyebabkan efek samping. Teofilin akan diproduksi diharapkan dapat memberikan
konsentrasi zat aktif dalam plasma yang adekuat dalam jangka waktu yang panjang tanpa
menyebabkan efek samping. Oleh karena itu, teofilin sebaiknya dibuat dalam bentuk.
a. Sediaan lepas terkendali d. Sediaan bukal
b. Sediaan salut gula e. Sediaan sublingual
c. Sediaan salut enteric
3. Industri farmasi memproduksi sediaan paracetamol. Untuk mengetahui sifat fisik tablet
dapat menggunakan alat seperti Monsanto tester, Pfizer tester, dan Strong cobb hardness
tester. Alat-alat tersebut digunakan untuk mengetahui salah satu evaluasi tablet yaitu...
a. Keseragaman ukuran tablet d. Keseragaman bobot
b. Waktu hancur e. karapuhan
c. Kekerasan
4. Seorang apoteker akan membuat sediaan tablet paracetamol dengan metode granulasi
basah, namun dalam pembuatannya terdapat masalah dalam pembuatan tabletnya.
Sebutkan dan jelaskan masalah dalam pembuatan tablet?
1. Capping
Tablet terpisah sebagian atau seluruhnya atas dan bawah
2. Lamination
Tablet pecah menjadi beberapa lapisan. Pecahnya tablet terjadi segera setelah
kompressi atau beberapa hari kemudian.
3. Sticking
Keadaan dimana granul menempel pada dinding die sehingga punch bawah
tidak bebas bergerak.
4. Picking
Perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan
punch.
5. Filming
Adanya kelembapan yang tinggi dan suhu tinggi akan melelehkan bahan dengan
titik lebur rendah seperti lemak/wax.
6. Chipping dan Cracking
Pecahnya tablet disebabkan karena alat dan tablet retak di bagian atas karena
tekanan yang berlebih.
7. Binding
Kesulitan mengeluarkan tablet karena lubrikan yang tidak cukup.
8. Molting
Distribusi zat warna yang tidak homogen. Penyebabnya adalah migrasi zat
warna yang tidak seragam (atas kering duluan yang bawah masih basah).
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. V, No. 1, April 2008, 01 08
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. VII, No. 1, April 2010, 49-62
Sulaiman, T.N.S., 2007, Teknologi & Formulasi Sediaan Tablet, Pustaka Laboratorium
Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Wade, Ainley and Paul J Weller. 1994. Handbook of Pharmaceutical
excipients, Ed II. The Pharmaceutical Press Department of Pharmaceutical Sciences.
London
Nama : Hendri Wijaya
NIM : I4041161009
1. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan obat, semakin mudah larut. Dengan
memperkecil ukuran partikel, dosis obat yang diberikan dapat diperkecil pula, sehingga
signifikan dari segi ekonomis. Salah satu factor yang mempengaruhi bioavaibilitas
berdasarkan uraian tersebut adalah.
a. Kelarutan obat
b. Ukuran partikel
c. Bentuk fisik obat
d. Dosage form
e. Excipient
2. Suatu pengujian terhadap sediaan transdermal untuk melihat profil kelarutan yang
menunjukkan pelarutan obat yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat menjelaskan
peningkatan atau penurunan kecepatan rotasi menggunakan metode.
a. Paddle over disk
b. Rotating basket
c. Paddle
d. Flow cell
e. Reciprocoating disk
3. Seorang Apoteker akan membuat tablet asam mefenamat. Asam mefenamat merupakan
obat dengan golongan BCS kelas II yang memiliki kelarutan rendah tetapi permeabilitas
baik sehingga dengan tingkat kelarutan yang rendah itu, laju pelarutannya menjadi tahap
yang paling lambat dan menjadi penentu laju absorpsi obat. Berat molekul asam
mefenamat adalah 241,3, BM ini tergolong memiliki ukuran partikel yang besar sehingga
akan bermasalah dengan kelarutannya dalam air yang juga dapat mempengaruhi
bioavailabiitas asam mefenamat. HPMC merupakn polimer yang tepat untuk membawa
obat asam mefenamat. salah satu efek samping dari asam mefenamat adalah dapat
mengiritasi lambung. Untuk memperbaiki bioavaibilitas obat dan menurunkan efek
samping pada saluruan cerna, maka sediaan apa yang tepat?
a. Nanopartikel
b. Kapsul Cangkang
c. Tablet
d. Emulsi
e. Suspensi
4. Amoksisilin (-aminohidroksi benzilpenisil-lin) adalah antibiotik semisintetik yang
termasuk dalam golongan -laktam, yang efektif untuk peng-obatan infeksi bakteri
terutama infeksi bakteri Heli-cobacter pylori yang merupakan bakteri penyebab utama
penyakit radang lapisan lambung (gastritis). Umumnya amoksisilin memiliki waktu
tinggal yang pendek di lambung. Karena itu diperlukan waktu tinggal yang lebih lama
oleh agen antimikroba yang diinginkan agar lebih efektif untuk memb-rantas bakteri
Helicobacter pylori. Untuk mencapai tujuan di atas, maka amoksisilin harus diformulasi
dalam suatu bentuk sediaan yang dapat bertahan lama di lambung. bentuk sediaan apakah
yang sesuai ?
Jawab : Salah satu jenis sediaan tablet gastro-retentive adalah floating system, yang
merupakan sistem dengan densitas yang kecil, yang memiliki kemampuan mengambang
kemudian mengapung dan tinggal di lambung untuk beberapa waktu. Pada saat sediaan
mengapung di lambung, obat dilepaskan perlahan dengan kecepatan yang dapat
ditentukan. amoksisilin trihidrat sebagai bahan aktif dapat dikombinasi dengan HPMC
dan natrium CMC sebagai ba-han matriks, magnesium stearat dan talk sebagai bahan
pelincir dan pelicin, serta laktosa sebagai bahan pengisi.
Sumber :
Hasyim N, Mirawati 2, dan Sulistiana S. 2012. Pengembangan Formulasi Tablet Matriks
Gastroretentive Floating dari Amoksisilin Trihidrat. Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 16,
No.3 hlm. 131 138
Nama : Juli Safriani
NIM : I4041161010
1. Glimepirid (GMP) merupakan generasi ketiga sulfonilurea yang digunakan dalam
pengobatan DM tipe II. GMP memiliki permeabilitas yang tinggi namun kelarutannya
rendah.
Obat tersebut dikategorikan dalam Sistem Klasifikasi Biofarmasetika (BCS) kelas...
a. I
b. II
c. III
d. IV
e. V
(Sinko, 2006)
2. Asam mefenamat merupakan analgetik yang praktis tidak larut dalam air, sehingga
kecepatan obat melarut didalam tubuh sangat mempengaruhi kecepatan absorpsinya.
Teknik yang paling sesuai untuk meningkatkan laju disolusi dari obat tersebut adalah ....
a. Prodrug Approach
b. Salt Synthesis
c. Particle Size Reduction
d. Solid Dispersions
e. Spray Dryng
(Rao & Nagabhushanam, 2003)
3. Sebuah industri farmasi ingin membuat sediaan tablet katopril lepas lambat. Katopril
dikombinasikan dengan bahan matriks yang dapat memperlambat pelepasannya dari
sediaan tablet. Metode yang digunakan dalam pembuatan tablet adalah granulasi basah.
Berdasarkan penjelasan di atas, pengujian disolusi yang paling sesuai dilakukan
menggunakan alat disolusi tipe ....
a. Tipe 1
b. Tipe 2
c. Tipe 3
d. Tipe 4
e. Tipe 5
(Lachman et al, 1986)
4. Apa yang dimaksud dengan bioavailabilitas serta tujuan dilakukannya uji
bioavailabilitas?
Jawaban:
Bioavailabilitas adalah jumlah dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat
yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh atau aktif setelah
pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau
dari ekskresinya dalam urin. Tujuan dilakukannya uji bioavailabilitas adalah untuk
pengembangan ilmu, pengembangan produk/formulasi, pengembangan senyawa baru,
serta jaminan mutu produk (Quality Control). (BPOM, 2004; Shargel, 1999)
Nama : Kris Natalia Manihuruk
NIM : I4041161011
1. Furosemid merupakan salah satu obat yang memiliki sifat praktis tidak larut dalam air.
Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecepatan disolusi tersebut
dapat ditambahkan polimer hidrofilik seperti polivinilpirolidon. Apakah metode yang
dapat digunakan?
a. Kompleksasi
b. Dispersi padat
c. Pembentukan garam
d. Pengecilan ukuran partikel
e. Pembentukan prodrug
(Referensi : Sutiyo, dkk. 2008. Pengembangan Sediaan dengan Pelepasan Dimodifikasi
Mengandung Furosemid Sebagai Model Zat Aktif Menggunakan Sistem Mukoadhesif.
Majalah Ilmu Kefarmasian, V(1), 01-08.)
2. Seorang farmasis akan membuat formulasi sediaan dengan menggunakan bahan ekstrak
tanaman yang memiliki efek sebagai antidiabetes. Apa jenis sediaan yang sesuai jika
sistem penghantaran dimaksudkan untuk memperpanjang waktu absorbsi obat dengan
mukus yang telah diformulasi dengan adanya bantuan polimer?
a. Tablet floating
b. Tablet bukal
c. Tablet mukoadesif
d. Tablet salut enteric
e. Tablet salut gula
(Referensi : Fithriyani, Lia Nadia, dkk. 2014. Formulasi tablet mukoadesif ekstrak etanol
daun mangga (Mangifera indica L.Bapang) sebagai antidiabetes menggunakan matriks
guar gum. Jurnal Ilmu Kefarmasian, 12(2), 176-182.)
3. Suatu proses perlintasan membran oleh molekul-molekul besar dan terutama oleh
molekul yang tidak larut, di mana perlintasan terjadi dengan pembentukan vesikula
(bintil) yang melewati membran merupakan salah satu jenis mekanisme transpor
membran ...
a. Transpor aktif
b. Difusi pasif
c. Pinositosis
d. Difusi terfasilitasi
e. Transpor oleh pasangan ion
(Referensi : Syukri, Y. 2002. Biofarmasetika. Yogyakarta : UII Press.)
4. Penggunaan obat generik untuk terapi suatu penyakit terkadang sering dipertanyakan
dalam hal mutu. Hal ini karena harga obat generik relatif lebih murah dibandingkan
dengan harga obat paten, sehingga muncul anggapan bahwa bioavailabilitas obat generik
lebih rendah dibandingkan obat paten. Berikan tanggapan terhadap pernyataan tersebut
mengenai apa langkah yang seharusnya dilakukan untuk membuktikan adakah
perbandingan bioavailabilitas antara kedua jenis obat tersebut?
Jawaban :
Untuk mengetahui perbandingan kualitas obat sediaan generik dengan sediaan paten perlu
diketahui bioekuivalensi antara dua sediaan tersebut. Masing-masing sediaan diukur
bioavailabilitasnya. Perbandingan bioavailabilitas ini disebut bioekivalansi obat. Dasar
untuk menentukan bioavailabilitas suatu obat terlebih dahulu harus diketahui profil
disolusinya. Disolusi tablet ialah jumlah atau persen zat aktif dari sediaan padat yang
larut pada waktu tertentu dalam kondisi baku. Kondisi yang dimaksud misalnya, dalam
suhu, kecepatan, pengadukan, dan komposisi media tertentu. Uji disolusi merupakan
suatu metode fisika kimia yang penting sebagai parameter dalam pengembangan produk
dan pengendalian mutu sediaan obat yang didasarkan pada pengukuran kecepatan
pelepasan dan melarut zat aktif dari sediaannya di mana uji disolusi digunakan untuk uji
bioavailabilitas secara in vitro, karena hasil uji disolusi berkorelasi dengan ketersediaan
hayati obat dalam tubuh.
Referensi :
- Sunoko, Henna Rya. Calculations Associated with Drug Availability and
Pharmacokineticsin Strategy to Improve Drug Rationality. Medical Faculty Diponegoro
University. Semarang. 2004. pages 26-40.
- Stoklosa MJ, Ansel HC. Pharmaceutical Calcutations 9th. London: Lea & Febiger. 1991.
Pages 74-89.
Nama : Muhammad Hafizh
NIM : I4041161012
1. Digoksin merupakan salah satu contoh obat yang diberikan pada kondisi darurat. Obat ini
diketahui diabsorpsi di bagian usus. Pada pasien yang mengalami gastroenteritis seperti
diare, akan mengalami peningkatan motilitas usus yang berlebihan dan obat akan
mengalami kontak lebih singkat dengan dinding usus, akibatnya obat yang dikonsumsi
akan mengalami penurunan absorpsi. Bagaimana bentuk sediaan tablet digoksin agar
dapat diabsorpsi secara efektif dan aman?
a. Tablet delayed-release
b. Tablet extended-release
c. Tablet immediate-release
d. Tablet prolonged-release
e. Tablet slow-release
2. Beberapa hal dapat memengaruhi laju disolusi suatu sediaan sehingga berakibat pada
rendahnya bioavailibilitas obat tersebut. Hal tersebut dapat berupa sifat fisikokimia zat
aktif itu sendiri ataupun teknik pembuatan sediaan. Salah satu teknik pembuatan obat
yang dapat menurunkan laju disolusi sediaan adalah
a. Penambahan jumlah zat pengisi
b. Peningkatan kompresi saat pencetakan tablet
c. Pengurangan jumlah lubrikan
d. Komponen lubrikan ditiadakan
e. Peningkatan desintegran
3. Sejumlah faktor telah menunjukkan pengaruh terhadap waktu pengosongan lambung.
Beberapa faktor yang cenderung menghambat pengosongan lambung meliputi konsumsi
makanan dengan lemak tinggi, minuman dingin, dan obat-obat antikolinergik. Obat-obat
yang tidak stabil pada pH asam, seperti penisilin dapat terurai jika pengosongan lambung
tertunda. Bagaimana bentuk sediaan yang sesuai agar zat aktif tersebut tidak terurai?
a. Tablet salut gula
b. Tablet salut enterik
c. Tablet bukal
d. Tablet sublingual
e. Tablet floating
4. Furosemid merupakan salah satu obat yang termasuk dalam klasifikasi BCS kelas IV.
Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut?
Modifikasi yang dapat dilakukan antara lain mengubah bentuk sediaan dan
memanfaatkan Drug Delivery System yang sesuai. Untuk meningkatkan kecepatan
disolusi obat, salah satunya dengan membentuk disperse padat dengan suatu bahan amorf
misalnya Polivinilpirolidon (PVP). Untuk meningkatkan tingkat permeabilitasnya, maka
dapat dibuat sediaan mikrogranul yang bersifat mukoadhesif pada mukosa lambung atau
usus, sehingga dapat meningkatkan waktu tinggal obat.
Pengembangan Sediaan dengan Pelepasan Dimodifikasi Mengandung Furosemid
sebagai Model Zat Aktif Menggunakan Sistem Mukoadhesif. Sutriyo, Hasan Rachmat,
Mita Rosalina. Departemen Farmasi FMIPA UI.
Nama : Muhammad Indra Santoso
NIM : I4041161013
1. Seorang pasien laki-laki usia 35 tahun datang ke apotek dengan keluhan ada rasa
kesemutan pada tangan dan kakinya. Pasien adalah penderita tuberkulosis dan sedang
menjalani terapi kombinasi dosis tetap antituberkulosis sejak 2 bulan yang lalu. Saudara
memperrkirakan pasien mengalami neuropati perifer akibat salah satu obat yang
dikonsumsinya.
Obat manakah yang menyebabkan efek samping tersebut?
a. Etambutol
b. Isoniazid
c. Rifampisin
d. Pirazinamid
e. Streptomisin
Ref : Pharmaceutical care untuk penyakit tuberkulosis, Binfar & Alkes, Depkes, Hal 72.
2. Dalam Biopharmaceutical Klassification System (BCS) zat aktif obat dibagi menjadi
beberapa kelas, contoh obat furosemide termasuk kedalam kelas berapa?
a. Kelas I
b. Kelas II
c. Kelas III
d. Kelas IV
e. Kelas V
Ref : Understanding drug release : 250
3. Seorang pasien laki-laki, usia 40 tahun masuk ke klinik, diagnosis dokter pasien
mengalami infeksi sistemik. Kepada pasien akan diberikan injeksi antibiotik ampisilin.
Ternyata persediaan aqua pro injeksiuntuk merekonstitusi obat habis.
Cairan apakah yang dapat saudara gunakan untuk pengganti aqua pro injeksi ini?
a. Aqua demineralisata
b. Ringer Laktat
c. Aquabidest
d. Infusi asam amino
e. Larutan dekstrosa 10%
Ref :Depkes RI. 1995. Farmakope IndonesiaEdisi IV.
4. Apa yang dimaksud dengan Biopharmaceutics Classification System (BCS), dan
sebutkan klasifikasi serta contoh obat dalam Biopharmaceutics Classification System
(BCS) ?
Jawab : - System klasifikasi biofarmasetika atau yang dikenal dengan
BCS merupakan suatu sistem dimana dijelaskan bahwa sangat
pentingnya kelarutan dan permeabilitas dalam pengiriman suatu obat.
Inti dari baiknya efek terapi obat adalah biovabilitas yang merupakan
parameter yang digunakan untuk menilai efektivitas suatu sediaan
farmasi. Yang dimana biovabilitas bergantung kepada permeabilitas
obat melintasi membrane sel dan pelarutan suatu obat dalam cairan
fisiologis.

- BCS diklasifikasikan menjadi 4 kelas diantaranya : Kelas 1


permeabilitas tinggi, kelarutan tinggi dimana menunjukan penyerapan
yang tinggi dan disolusi yang tinggi sehingga pengosongan obat dari
lambung sangat cepat. Contoh obat antara lain : metoprolol,
verapamil, diltiazem dll.

Kelas 2 permeabilitas tinggi, kelarutan rendah dimana


menunjukan penyerapan yang tinggi dan disolusi yang rendah, jadi
absorbsinya lebih lambat dari kelas 1. Contoh obat : fenitoin, danazol,
nicardipin, ketokonazol dll.

Kelas 3 permeabilitas rendah, kelarutan tinggi dimana


menunjukan penyerapan yang tinggi dan disolusi yang tinggi dimana
obat menunjukkanrvariasi tingkat penyerapan obat yang bervariasi.
Contoh obat : asiklovir, kaptopril, neomisin dll.

Kelas 4 permeabilitas rendah, kelarutan rendah dimana


menunjukan biovabilitas yang sangat buruk yang dimana biasanya
tidak diserap baik dalam mukosa usus. Dan sangat sulit untuk
diformulasikan. Contoh obat : furosemide, cefuroxime dll
(Understanding Drug Release : 250).
Nama : Muhammad Irvan
NIM : I4041161014
1. Tranport aktif bisa mengalami kejenuhan kaena
a. transport aktif perlu energi
b. transport aktif perlu carier
c. Pertanyaan salah, transport aktif tidak bisa mengalami kejenuhan
d. transport aktif untuk senyawa polar
e. Jawaban a dan b benar
(Shargel, L, Wu-Pong, S , Yu, A.B.C., 2005, Applied Biophamaceutics and
Pharmacokinetics, Fifth Ed., Apleton & Lance Nortwolk)
2. Jumlah dan kecepatan absorbsi obat dari saluran pencernaan dipengaruhi oleh banyak
faktor, diantaranya adalah faktor fisikokimia, yang bukan termasuk faktor fisikokimia
a. Berat molekul
b. Derajad ionisasi
c. Kelarutan
d. Ph saluran cerna
e. Bobot jenis
(Banker G.S. dan Rhodes C.T., 1995, Modern Pharmaceutics, edisi 3, Marcel Dekker,
New York)
3. Difusi pasif asam salisilat dari dan ke kompartemen tertutup dengan pH yang berbeda
akan berhenti jika
a. Konsentrasi total asam salisilat dalam dua kompartemen sama
b. Membran telah mati
c. Konsentrasi ion salisilat dalam dua kompartemen sama
d. Konsentrasi molekul asam salisilat dalam dua kompartemen sama
e. Konsentrasi molekul asam salisilat dan ion salisilat
(Shargel, L, Wu-Pong, S , Yu, A.B.C., 2005, Applied Biophamaceutics and
Pharmacokinetics, Fifth Ed., Apleton & Lance Nortwolk)

4. Apa yang dimaksud dengan koefisien partisi dan hubungannya dengan


kemampuan obat melintasi membran

Jawab : Koefisien partisi minyak/air merupakan suatu ukuran kelarutan


relatif solut dalam membran. Koefisin partisi untuk obat pada
antarmuka jaringan-darah telah dianggap sebagai ekspresi
peningkatan konsentrasi obat pada permukaan jaringan. Semakin
meningkat koefisien partisi dari permeant, proses difusi menjadi lebih
dan lebih di bawah kendali lapisan berair (Understanding Drug
Release : 306).

Nama : Novita Sari


NIM : I4041161016
1. Sebuah industri farmasi ingin memproduksi tablet teofilin, namun dalam pembuatan tablet
teofilin memiliki banyak kesulitan karena daya alir (fluiditas) dan kompaktibilitas teofilin
yang rendah sehingga dapat menimbulkan kesulitan sewaktu pengempaan, oleh karena itu
diperlukan upaya untuk meningkatkan kompaktibilitas dan fluiditasnya agar dapat dibentuk
menjadi tablet dengan sifat fisik yang baik. Metode apa yang paling tepat untuk membuat
tablet dengan sifat kompaktibilitas dan fluiditas yang rendah?
a. wet granulation
b. dry granulation
c. direct compression
d. foam granulation
e. fluid bed granulation
(Sheth, B.B., Bandelin, F.J., and Shangraw, R.F., 1980, Compressed Tablets in
Pharmaceutical Dosage Forms: Tablets, Marcel Dekker Inc, New York)
2. Seorang apoteker ingin melakukan uji disolusi pada tablet loratadin dengan menggunakan
alat uji disolusi tipe 2 dengan kecepatan putar dayung 50 rpm dengan media disolusi 900 ml
HCl 0,1N. Hasil penetapan kadar dari uji disolusi tablet loratadin meningkat seiring
meningkatnya waktu pengambilan. Berapakah kadar loratadin pada uji disolusi dalam waktu
60 menit dengan alat uji disolusi tipe 2 menurut USP?
a. > 40%
b. > 50%
c. > 60%
d. > 70%
e. > 80%
( Raini, M., Mutiatikum, D., dan Lastari, P. 2010. Uji Disolusi dan Penetapan Kadar
Tablet Loratadin Inovator dan Generik Bermerek. Artikel Puslitbang Biomed dan
Farmasi. Media Litbang Kesehatan Vol.XX (2). )
3. Seorang apoteker di industri farmasi ingin mengembangkan bentuk sediaan dipiridamol.
Dipiridamol terabsorbsi paling baik di lambung sehingga untuk meningkatkan ketersediaan
hayati, waktu tinggal tablet di lambung harus diperpanjang. Upaya apa yang dapat digunakan
oleh apoteker tersebut untuk memperpanjang waktu tinggal tablet di lambung sebagai metode
yang paling efektif dan aplikatif dalam mengatasi masalah bioavailabilitas tersebut dengan
menggunakan bahan pembantu seperti turunan selulosa, yaitu avicel (pengisi), Ac-di-sol
(penghancur) dan HPMC (pengikat)?
a. Mukoadhesi
b. Pengapungan
c. Pengendapan
d. Pengembangan
e. Modifikasi bentuk
( Wikarsa, S., dan Valentina, L.M. 2011. Formulasi Tablet Lepas Lambat Dipiridamol
dengan Sistem Mengapung. Makara, Kesehatan. Vol 15 (1). 15-20. )
4. Obat-obat dengan frekuensi penggunaan yang tinggi seringkali membuat pasien lalai dalam
menggunakan obat sehingga dapat menggagalkan proses terapi. Untuk mengatasinya, suatu
obat dapat dimodifikasi menjadi sediaan lepas lambat (sustained-release). Apa saja
keuntungan yang diperoleh jika sediaan tersebut dimodifikasi menjadi sedian sustained-
release?
Jawab:
Sediaan lepas lambat (sustained-release) memberikan keuntungan lebih banyak dibanding
bentuk sediaan konvensional, antara lain (Ansel et al, 1999 dan Shargel et al, 2005):
Mengurangi fluktuasi kadar obat dalam darah sehingga efek farmakologisnya lebih stabil.
Mengurangi frekuensi pemberian.
Meningkatkan kepuasan dan kenyamanan pasien.
Mengurangi efek samping yang merugikan.
Kondisi pasien lebih cepat terkontrol.
Meningkatkan bioavailabilitas pada beberapa obat.
Mengurangi biaya pemeliharaan kesehatan karena lebih sedikit satuan dosis yang
harus digunakan.
( Ansel, H.C., Allen, I.V., dan Popovich, N.G., 1999, Pharmaceutical Dosage Form and Drug
Delivery Systems, Lippincott Williams dan Wilkins, Philadelpia.
Shargel, L., dan Yu, A.B.C. 2005. Biofarmasetika and Farmakokinetika Terapan. Edisi II.
Jakarta: Airlangga University Press. )
Nama : Nur Afifah
NIM : I 4041161017
1. Uji disolusi ialah suatu metode fisika-kimia yang digunakan dalam pengembangan produk
dan pengendalian mutu sediaan obat berdasarkan pengukuran parameter kecepatan pelepasan
dan melarut zat berkhasiat dari sediaannya.
Uji disolusi ini dapat digunakan untuk mengetahui bioavailabilitas suatu obat, karena hasil
disolusi berkorelasi secara erat dengan...
A. Aktivitas suatu obat di dalam tubuh
B. Ketersediaan hayati suatu obat di dalam tubuh
C. Kelarutan suatu obat di dalam tubuh
D. Kadar suatu obat di dalam tubuh
E. Ukuran partikel suatu obat di dalam tubuh
2. Simetidin merupakan suatu obat antagonis reseptor histamin H2 yang berfungsi sebagai obat
untuk penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi asam lambung. Simetidin memiliki
produk generik dan produk paten di pasaran. Untuk mengetahui perbandingan kualitas obat
sediaan generik dengan sediaan paten perlu diketahui bioekuivalensi antara dua sediaan
tersebut. Masing-masing sediaan diukur bioavailabilitasnya. Perbandingan bioavailabilitas ini
disebut bioekivalansi obat.
Dasar untuk menentukan bioavailabilitas suatu obat terlebih dahulu harus diketahui...
A. Profil absorpsi
B. Profil formulasi
C. Profil fisikokimia
D. Profil disolusi
E. Profil distribusi
3. Furosemid merupakan salah satu obat antidiuretik turunan asam antranilat yang memiliki
sifat kelarutan praktis tidak larut dalam air. Dalam sistem klasifikasi biofarmasetika (BCS),
obat yang memiliki sifat kelarutan sangat kecil, proses disolusi menjadi tahap penentu (rate
limiting step) absorpsi obat.
Untuk meningkatkan kecepatan disolusi suatu obat dapat dilakukan dengan cara...
A. Membentuk dispersi padat
B. Meningkatkan konsentrasi
C. Memperbesar koefisien difusi
D. Menambah tebal lapisan difusi
E. Meningkatkan kelarutan
4. Absorpsi obat-obatan yang kelarutannya rendah dalam air berpengaruh terhadap rendahnya
bioavaibilitas obat tersebut dalam tubuh yang mempengaruhi efek terapeutik obat. Salah
satu metode untuk meningkatkan kelarutan adalah dengan penambahan polimer kombinasi
-siklodekstrin dan hidroksi propil metilselulosa menggunakan metode pencampuran
kneading.
Mengapa pembuatan kompleks inklusi dengan siklodekstrin dapat meningkatkan
kelarutan obat-obat yang memiliki kelarutan rendah di dalam air?
JAWABAN :
Hal ini disebabkan karena adanya interaksi antara molekul tamu dengan siklodekstrin.
Pembentukkan kompleks inklusi yang terjadi dalam rongga hidrofobik di bagian dalam dan
gugus hidrofilik di bagian luar permukaan siklodekstrin dapat menyebabkan modifikasi sifat
kimia dan fisik dari molekul tamu, sehingga terjadi peningkatan stabilitas, kelarutan dalam
medium berair dan bioavailabilitas obat.
DAFTAR PUSTAKA
PG 1 Nugraheni D. Perbandingan Bioavailabilitas Alopurinol Dalam Sediaan Generik
Dan Paten Secara In Vitro. Semarang. Universitas Diponegoro; 2006.
PG 2 Ardiarini A. Perbandingan Bioavailabilitas ( Bioekivalensi ) Obat Cimetidine
Dalam Sediaan Generik Dan Paten Secara In Vitro. Semarang. Universitas
Diponegoro; 2006.
PG 3 Sutriyo, Rachmat H, Rosalina M. Pengembangan Sediaan Dengan Pelepasan
Dimodifikasi Mengandung Furosemid Sebagai Model Zat Aktif Menggunakan
Sistem Mukoadhesif. Depok. Universitas Indonesia. 2008: V(1): 1-8.
Essay Sabrina, Anggraeni Y, Puspitasaril B, Kardono LBS. Solubility Enhancement of
Ethyl Acetate Fraction of The Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg Leaves with
Addition of -CyclodextrinHPMC by Using Kneading Method. Jakarta. 2013: 3(2):
51-60.
Nama : Nur Anisyah
NIM : I4041161018
1. Fase biofarmasetik melibatkan seluruh unsur-unsur yang terkait mulai saat permberian
obat hingga terjadinya penyerapan zat aktif. Peristiwa tersebut tergantung pada cara
pemberian dan bentuk sediaan. Fase biofarmasetik dapat diuraikan dalam tiga tahap
utama diantaranya ...
a. Liberasi, disolusi, dan absorpsi
b. Liberasi, absorpsi, disolusi
c. Disolusi, liberasi, dan absorpsi
d. Disolusi, liberasi, distribusi
e. Disolusi, liberasi, absorpsi, distribusi
Sumber : Aiache, J.M. (1993). Farmasetika 2 Biofarmasi. Edisi ke-2. Penerjemah: Dr.
Widji Soeratri. Surabaya: Penerbit Airlangga University Press.
2. Proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat kedalam larutan pada suatu medium
merupakan pengertian dari proses...
a. Liberasi
b. Disolusi
c. Absorpsi
d. Distribusi
e. Metabolisme
Sumber : Syukri. 2002. Biofarmasetika. UII Press. Yogyakarta.
3. Glimepirid (GMP) merupakan generasi ketiga sulfoniurea yang digunakan dalam
pengobatan diabetes melitus tipe II. GMP berupa serbuk kristalin putih, tidak berbau,
titik lebur 207 0 C, bersifat asam lemah ( pKa 6,2 ). GMP praktis tidak larut dalam air,
sukar larut dalam methanol, etanol, etil asetat, dan aseton, agak sukar larut dalam
diklorometan, larut dalam dimetilformaldehid. GMP termasuk kedalam obat kelas II
dalam Biopharmaceutical Clasification System (BCS). GMP memiliki kelarutan rendah
dan permeabilitas tinggi. Berdasarkan uraian di atas, GMP termasuk BCS kelas ...
a. BCS kelas I
b. BCS kelas II
c. BCS kelas III
d. BCS kelas IV
e. BCS kelas V
Referensi : Biswal dkk., 2009. Physycochemical Properties of Solid Dispersions of
Glicazide in Polyvinylpyrolidone K90, AAPS PharmSciTech, Vol.10. No. 2 . 329-334.
4. Sebutkan empat system klasifikasi dalam BCS (Biopharmaceutical Clasification
System) .
Jawaban :
Kelas I (Kelarutan tinggi dan permeabilitas tinggi)
Kelas II (permeabilitas tinggi dan kelarutan rendah)
Kelas III (permeabilitas rendah dan kelarutan tinggi)
Kelas IV (permeabilitas rendah dan kelarutan rendah)
Referensi : Wagh P., Millind., & Patel, Jatis. 2010. Biopharmaceutical Classification
System: Scientific Basis for Biowaiver Extensions. International Journal of Pharmacy and
Pharmaceutical sciences, 2(1), 12-19.
Nama : Nur Has Dina Oktapiana
NIM : I4041161019
1. Industri farmasi ingin mengembangkan bentuk sediaan larutan dengan bahan aktif
trimetoprim, dengan sifat sukar larut air, untuk meningkatkan kelarutan maka digunakan
polimer hidrofilik. Metode apa yang sesuai untuk pengembangan sediaan tersebut?
a. Kosolven
b. Solubilisasi
c. Kompleks inklusi
d. Disperse padat
e. Pembentukan garam
Zainil erizal, Halim Auzal, Soewandhi, Setyawan Dwi. Peningkatan Laju Pelarutan
Trimetoprim Melalui Metode Ko-Kristalisasi Dengan Nikotinamida. Jurnal Farmasi
Indonesia Vol. 5 No. 4 Juli 2011: 205 -212
2. Dalam suatu industri farmasi, seorang farmasis di bagian R&D dituntut untuk mengatasi
permasalahan obat yang diberikan secara oral, dimana obat yang diberikan secara oral
memiliki keterbatasan dalam hal lamanya obat (residence time) berada dalam saluran
pencernaan, khususnya pada daerah-daerah terjadinya absorbsi. Sistem penghantaran obat
yang akan dimodifikasi tersebut ialah Furosemid, yang mana akan dimodifikasi dengan
tujuan obat tinggal di lambung. Furosemid merupakan obat antihipertensi dengan
mekanisme diuretik kuat lebih baik dibandingkan dengan tiazin. Namun, furosemid
mempunyai sifat kelarutan praktis tidak larut dalam air. Salah satu teknik yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kecepatan disolusi adalah sistem dispersi padat. Sistem
penghantaran apa yang akan diterapkan oleh farmasis tersebut jika polimer yang
disediakan ialah polimer carbopol 934 P, dimana sebelumnya furosemid dibentuk
menjadi dispersi padat menggunakan polivinil pirolidon?
a. Swelling System
b. Floating System
c. Mukoadhesif System
d. High Density System
e. Slow Density System
Sutriyo, Rosalina Mita. Pengembangan Sediaan Dengan Pelepasan Dimodifikasi
Mengandung Furosemid Sebagai Model Zat Aktif Menggunakan Sistem Mukoadhesif.
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. V, No. 1, April 2008, 01 08
3. Asam mefenamat merupakan analgetik yang praktis tidak larut dalam air dan termasuk
dalam kelas II Sistem Klasifikasi Biofarmasetika, sehingga kecepatan obat melarut di
dalam tubuh sangat mempengaruhi kecepatan absorbsinya dan ketersediaan hayati. Untuk
meningkatkan kecepatan disolusi suatu obat dapat dilakukan dengan cara...
a. Kosolven
b. Solubilisasi
c. Kompleks inklusi
d. Disperse padat
e. Pembentukan garam
Windriyanti Ninik Yulias, Sugiyono, Sunarliawati Lies. Disolusi Asam Mefenamat dalam
Sistem Dispersi Padat dengan PEG 4000. e-Publikasi Ilmiah. UNWAHAS. 2014
4. Piroksikam merupakan obat antiinflamasi non-steroid yang yang memiliki kelarutan
dalam air rendah sehingga mempengaruhi laju disolusinya. Piroksikam juga termasuk
obat dosis rendah dengan dosis lazim 10-20 mg per hari sehingga jumlah dan macam
eksipien yang digunakan dalam formulasi tablet berpengaruh besar terhadap efektifitas
obat ini. Jelaskan salah satu upaya untuk meningkatkan disolusi piroksikam!
Jawab : salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dengan menambahkan eksipien.
Eksipien yang dapat digunakan untuk meningkatkan laju disolusi adalah surfaktan.
Penambahan suatu surfaktan dapat meningkatkan laju disolusi tablet dengan cara
menurunkan tegangan permukaan. Salah satu surfaktan yang dapat digunakan adalah
polisorbat 80, yang merupakan salah satu surfaktan non ionik.
Sumber : Gunawi Ratih, Kurniawan Dhadhang, Utami Vitis. Peningkatan Laju Disolusi
Tablet Piroksikam Menggunakan Polisorbat 80. Purwokerto. Universitas Jendral
Soedirman. 2016
Nama : Nur Has Dini Oktapiani
NIM : I4041161020
1. Berikut ini merupakan produk obat yang tidak memerlukan uji ekivalensi ialah:
a. Produk obat copy untuk penggunaan intravena.
b. Produk obat copy yang hanya berbeda kekuatan
c. Produk obat non-oral dan non-parenteral yang didesain untuk bekerja sistemik.
d. Produk obat lepas lambat atau termodifikasi yang bekerja sistemik.
e. Produk obat oral lepas cepat yang bekerja sistemik.
Sumber (Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pedoman Uji Bioekivalensi. Nomor :
HK.00.05.3.1818)
2. Seorang apoteker akan melakukan peningkatan disolusi asam mefenamat dalam dispersi
padat dengan PEG 4000. Maka uji disolusi yang dilakukan pada serbuk asam mefenamat
menggunakan alat disolusi
a. Apparatus 1 dengan medium disolusi dapar fosfat pH 7,4.
b. Apparatus 2 dengan medium disolusi dapar fosfat pH 7,4.
c. Apparatus 3 dengan medium disolusi dapar fosfat pH 7,4.
d. Apparatus 4 dengan medium disolusi dapar fosfat pH 7,4.
e. Apparatus 5 dengan medium disolusi dapar fosfat pH 7,4.
Sumber (Windriyanti Ninik Yulias, Sugiyono, Sunarliawati Lies. Disolusi Asam Mefenamat
dalam Sistem Dispersi Padat dengan PEG 4000. e-Publikasi Ilmiah. UNWAHAS. 2014)
3. Obat berikut ini merupakan senyawa pemblok reseptor beta non-selektif dalam
pengobatan hipertensi dan mempunyai waktu paruh eliminasi pendek sekitar 3 jam.
Dengan waktu eliminasi yang pendek memungkinkan obat tersebut dibuat sediaan lepas
lambat. Obat yang dimaksud ialah:
a. Nadolol
b. Karteolol
c. Karvedilol
d. Penbutolol
e. Propanolol
Sumber (Saifullah S, Syukri Yandi, Utami Rini. Profil Pelepasan Propanolol HCl dari Tablet
Lepas Lambat dengan Sistem Floating menggunakan matriks methocel K15M. Majalah
Farmasi Indonesia. 2007. 48-55)
4. Kalsium atorvastatin merupakan obat antihiperlipidemia golongan statin. Berdasarkan
Biopharmaceutical Classification System (BCS), atorvastatin termasuk dalam golongan
obat kelas II yang memiliki kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi. Atorvastatin
memiliki bioavailabilitas sebesar 12%. Suatu obat yang memiliki laju disolusi rendah
dapat mengakibatkan penurunan daya absorbsi. Jelaskan upaya apa yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan laju disolusi atorvastatin!
Jawaban:
Salah satu cara untuk meningkatkan laju disolusi adalah dengan mengurangi ukuran
partikel, yang akan meningkatkan total luas permukaan, sehingga obat akan mudah
melarut. Teknik yang dapat digunakan salah satunya ialah dengan melakukan
mikrokristalisasi menggunakan alat ultra-homogenizer kecepatan tinggi (13.500 rpm dan
24000 rpm) sehingga didapatkan kristal berukuran kecil, yang kemudian dilakukan
stabilisasi partikel menggunakan suatu bahan polimer seperti CMC. Dengan teknik ini,
ukuran partikel yang dihasilkan lebih seragam dibandingkan dengan metode penggilingan
(milling). Proses mikronisasi dengan menggunakan penggilingan (milling) sangat tidak
efisien karena memerlukan energi yang besar. Di sisi lain, gangguan dalam kisi kristal
dapat menyebabkan ketidak stabilan fisika dan kimia, karena ketidakteraturan bentuk
akan menghasilkan produk yang secara termodinamika tidak stabil.
Sumber (Gozali D, Tandela R, Wardhana YW. Karakterisasi dan Peningkatan Disolusi
Kalsium Atorvastatin melalui Proses Mikrokristalisasi. Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu
Hayati dan Fisik. 2014. 16-20)
Nama : Patrisia Halla
NIM : I4041161021
1. Hitunglah dosis pemeliharaan aminofilin untuk pasien S.C, yakni seorang yang dewasa,
obes dengan berat badan total ideal 60 kg, agar tercapai konsentrasi keadaan tunak
teofilin pada 10 mg/ L ?
a. 15 mg aminofilin per jam
b. 20 mg aminofilin per jam
c. 25 mg aminofilin per jam
d. 30 mg aminofilin per jam
e. 35 mg aminofilin per jam
2. Hitunglah perkiraan waktu paruh teofilin pasien R.J dengan mengasumsikan klirens 2,6
L/jam dan volume distribusi 40 L (1) ?
a. 6 jam
b. 9 jam
c. 11 jam
d. 16 jam
e. 18 jam
3. Obat yang dapat menurunkan klirens teofilin pada pasien adalah(1)
a. Simetidin
b. Ranitidin
c. Famotidin
d. Nizatidin
e. Bismut Nitrat
4. Keputusan di ambil untuk menambahkan asam valproat dalam upaya mendapatkan
pengendalian kejang yang lebih baik. Pasien N.S kembali ke klinik 2 minggu kemudian.
Pasien mengeluh bahwa dia sering merasa mengantuk dan merasa aneh akhir akhir
ini. Sampel konsentrasi karbamazepin diambil dan dilaporkan bernilai 9 mcg/ ml.
Apakah penjelasan Anda (1)?
Jawaban :
Karena penambahan asam valproat, yang merupakan suatu inhibitor enzim CYP 3A4,
metabolisme karbamazepin menurun sehingga meningkatkan konsentrasi asam
karbamazepin dan karbamazepin-10,11-epoksida, yang juga memiliki aktivitas. Kondisi
ini dapat menyebabkan sedasi yang lebih lama daripada yang terlihat dari dosis
karbamazepin yang lebih rendah. Setelah kadar dalam serum stabil, tubuh akan
menyesuaikan terhadap kadar obat yang lebih tinggi dan rasa mengantuk pasien akan
menjadi efek samping yang tidak terlalu dirasakan lagi.
Selain itu, asam valproat dapat menghambat metabolism karbamazepin melalui enzim
CYP 3A4 dan dapat menggantikan karbamazepin dari tempat pengikatan pada protein
sehingga fraksi bebas karbamazepin meningkat. Asam valproat juga dapat meningkatkan
pembentukan metabolic epoksida yang juga dapat terdeteksi pada pengujian
karbamazepin (sekitar 7 %). Faktor faktor ini dapat meningkatkan serum karbamazepin,
yang dapat menimbulkan efek samping seperti rasa mengantuk.
DAFTAR PUSTAKA
Winter, Michael. E. Farmakokinetika Klinis Dasar. Edisi 5. Jakarta: EGC. 2012.
Nama : Puryanto
NIM : I4041161022
1. Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukkan ke dalam beaker yang berisi air
atau dimasukkan ke dalam saluran saluran cerna (saluran gastrointestin), obat tersebut
mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya adalah pengertian dari.....
a. deagregasi
b. disintegrasi
c. disolusi
d. absorbsi
e. difusi
2. Disolusi suatu obat dari suatu matriks padat, pada antarmuka permukaan padat dan
lapisan difusi, obat dalam bentuk padat berada dalam keseimbangan dengan obat dalam
lapisan difusi, dengan nilai x sebesar.....
a. 0
b. 1
c. 2
d. 3
e. 0.5
3. Alat keranjang putar didalam USP dikenal sebagai alat disolusi...
a. 1
b. 2
c. 3
d. 4
e. 5
4. Suatu sediaan granul obat seberat 0,55 g dan luas permukaannya 0,28 m2 (0,28 x 104 cm2)
dibiarkan melarut dalam 500 ml air pada 25 oC. Sesudah menit pertama, jumlah yang ada
dalam larutan adalah 0,76 gram. Kuantitas D/h dikenal sebagai konstanta laju disolusi, k.
n Jika kelarutan Cs dari obat tersebut adalah 15 mg/ml pada 25 oC, bearapakah nilai k....
dM 760 mg
= =12,67 mg/detik
dt 60 detik
12,67 mg/detik = k x 0,28 x 104 cm2 x 15 mg/cm3
K = 3,02 x 10 4 cm/detik
DAFTAR PUSTAKA
Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik, jilid II Edisi III. Jakarta: UI-Press.
Nama: Putri Dwi Awaliah
Nim: 14041161023
1. Setelah pemberian profilaksis amoksisilin, pasien menjadi hipotensi, gatal dan
mengalami kesulitan bernafas. Dari hal berikut, mana yang mungkin sebagian besar
terjadi?
a. Limfosit CD4 yang mensekresi limfokinmenimbulkan edem
b. IgG dan komplemen yang menginduksi kemotaksis neutrofil dari pembuluh.
c. Amoksisilin bereaksi dengan IgE dan mengaktifkan Tcells sitotoksik untuk
melepaskan limfokin.
d. IgE terikat pada hasil antigen dalam pelepasan histamine dari sel mast.
e. Amoksisilin bereaksi dengan IgG.
2. Dalam merancang bentuk sediaan obat cair untuk meningkatkan kelarutan dan absorbsi
dapat dilakukan dengan cara?
a. Memilih bahan obat dalam bentuk garamnya
b. Memperkecil ukuran partikel
c. Menambah cosolven
d. Memilih bahan obat dalam bentuk esternya
e. Semua jawaban benar
3. Seorang penderita mengeluh rasa tidak enak diperut dan rasa perih pada sisi kiri dari
perut bilamana terlambat makan selama beberapa hari ini, apakah obat yang tepat
diberikan pada pasien tersebut?
a. Analgetik
b. Antipiretik
c. Diuretic
d. Antasida
e. Antiinflamasi
4. Sebutkan dan jelaskan komponen dan sifat cairan gastrointestinal yang berpengaruh
terhadap bioavailabilitas?
Jawab:
PH berpengaruh pada kecepatan disolusi yaitu pada kelarutan obat, juga
berpengaruh pada ratio ion molekul (koef partisi) dan stabilitas obat.
garam empedu, menagndung surfakatan (garam dari asam glikokolat dan asam
taurokolat), membantu pembasahan obat lipofil seperti griseofulvin, maka
pemakaiannya dianjurkan setelah makan supaya merangsang pengeluaran getah
empedu.
secret pancreas mengandung enzim enzim yang dapat menghidrolisis obat
seperti kloramphenicol palmitat. Enzim pankreatin dan tripsin dapat
mendeasetilasi obat dengan gugus N-asetil.
viskositas masa dilambung/ diusus, ditentukan oleh makanan dan mucus, mucus
sangat kental mengganggu proses disolusi berpengaruh terhadap kecepatan
disolusi, kecepatan pengosongan lambung, dean transit intestinal.
DAFTAR PUSTAKA
Sharge, L, Wu-pong, S, Yu, A.B.C., 2005, Applied Biopharmaceutical
Notarit, E.,R., 1980, Biopharmaceutical and Clinical Pharmacocinetics, Marcel
Dekker, New york

Nama : Rendy Asmiry


NIM : I4041161024
1. Seorang bapak terkena penyakit gangguan pernafasan dan di beri obat salbutamol. Obat
salbutamol tersebut memiliki Vd= 250 mL, bioavalbilitas 25% dan konsentrasi plasma
150 g/mL. Berapa dosis awal morfin yang diberikan ? (1)
a. 20 30 mg
b. 30 40 mg
c. 40 50 mg
d. 50 60 mg
e. 60 70 mg
2. Seorang pasien laki-laki mengalami kecelakaan lalu lintas dan segera di berikan infus,
dengan jumlah yang diketahui k=0,07/jam; Vd=40L; Cpss=20mg/L; kosentrasi obat
dalam plasma karena sisa regimen obat=10mg/L. Berapa kecepatan infusnya (mg/jam)?
(2)
a. 18
b. 20
c. 28
d. 56
e. 76
3. Metrodinazol merupakan salah satu antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi
bakteri anaerob seperti Helicobacter pylory. Adapun data fisikokimia metrodinazol
yaitu ; pKa 2,5 ; berat molekul 171,2 ; log P -0,02 dan kelarutan dalam pH 1 sebesar 30,6
mg/mL.
Seorang apoteker ingin membuat sediaan dengan memanfaatkan kelarutannya yang tinggi
di lambung dan memberikan efek lokal dalam mengatasi infeksi Helicobacter pylory.
Sediaan yang cocok dan yang akan dibuat oleh apoteker tersebut adalah.? (3)
a. Tablet salut
b. Floating Tablet
c. Kapsul
d. Tablet Konvensional
e. Tablet Bukal
4. Industri farmasi meletekan product recall (penarikan kembali produk) tablet diazepam,
karena tidak memenuhi syarat kadar. Produk tersebut harus dimusnakan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Bagaimana cara pemusnahan produk tersebut.? (4)
Jawaban : Dibakar dengan insenerator
1. Shargel L., Yu ABC, 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan
diterjemahkan oleh Fasich, Airlangga University Press, Surabaya, hal 86-87.
2. Aiache., 1982, Biofarmasetika Edisi II, diterjemahkan oleh Widji Soeratri, Airlangga
Press, Jakarta, hal 438-460.
3. Idzon, B., dan Lazarus, J., 1986, Semi Solid dalam Lachman, L. Lieberman, H.A.,
Kanig, J. L., The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lea and Fibiger,
Philadelphia, hal 1091-1099.
4. Lachman, L., Lieberman, H. A., and Kanig, J. L., 1994, Semi padat, Teori dan Praktek
Farmasi Industri Edisi III, diterjemahkan oleh Suyatmi S, Universitas Indonesia Press,
Jakarta, hal 1091-1095

Nama : Rofifah
NIM : I4041161025
1. Glimepirid merupakan generasi ketiga sulfonilurea yang digunakan dalam pengobatan
Diabetes Melitus tipe II. Glimepirid digolongkan ke dalam BCS kelas II karena memiliki
kelarutan yang rendah dan permeabilitas yang tinggi. Kelarutan yang rendah akan
mempengaruhi proses absorbsi obat dan ketersediaan hayati obat dalam tubuh. Jika peneliti
ingin meningkatkan kelarutan obat tersebut dengan cara pengurangan ukuran partikel obat,
pengaruh solubilisasi pembawa, dan peningkatan daya keterbasahan . Metode apakah yang
paling cocok digunakan oleh peneliti ?
a. Metode Dispersi padat
b. Metode Pelarutan
c. Metode Peleburan
d. Metode Pelarutan-Peleburan
e. Metode Dispersi Polimer
Sumber : Novita SE, Darusman F, Darma EGC. Prosiding penelitian SpeSIA
UNISBA. Bandung: ISSN: 2460-6472. 2015.
2. Kecepatan disolusi dan waktu tinggal obat menjadi faktor yang berpengaruh terhadap
efektifitas suatu sediaan farmasi. Parameter yang digunakan untuk menilai efektifitas suatu
sediaan farmasi tersebut adalah ?
a. Farmakokinetik
b. Farmakodinamik
c. Bioavaibilitas
d. Absorbsi Obat
e. Biofarmasetika
Sumber : Sutriyo, Rachmat H, Rosalina M. Majalah Ilmu Kefarmasian. Depok :
ISSN : 1693-9883. 2008: 5 (1): 01-08.
3. Faktor fisikokimia yang mempengaruhi bioavaibilitas suatu obat adalah ?
a. Absorbsi Obat
b. Koefisien Partisi
c. Interaksi Obat
d. Konsentrasi Obat
e. Ukuran Partikel.
Sumber : http://farmasi.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/10-PARENTERAL.pdf
4. Suatu senyawa obat X dengan pemerian berbentuk kristalin putih, tidak berbau, dan bersifat
asam lemah. Berat molekul : 490,62, kerapatan : 1,29 g/cm3 dan titik lebur ; 207 C.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam metanol, etanol, etil asetat dan
aseton, dan agak sukar larut dalam diklorometan, larut dalam dimetil fornamida.
Berdasarkan karakteristik di atas, jelaskan tergolong BCS kelas berapakah senyawa obat X
tersebut, dan metode apa yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan senyawa obat
X tersebut !
Jawaban : Senyawa obat X tergolong ke dalam BCS kelas II, yaitu memiliki
permeabilitaa yang tinggi, namun kelarutannya rendah. Salah satu metode yang
bisa digunakan untuk meningkatkan kelarutan senyawa obat X adalah metode
dispersi padat.
Sumber : Novita SE, Darusman F, Darma EGC. Prosiding penelitian SpeSIA
UNISBA. Bandung: ISSN: 2460-6472. 2015.
Nama : Rommy
NIM : I4041161026
1. Seorang apoteker yang bekerja pada suatu industri farmasi ingin mengembangkan bentuk
sediaan dari Natrium Diklofenak. Karakteristik yang dimiliki meliputi nilai pKa 4,51,
nilai log 4,51 yang membuat sediaan tersebut terdegradasi dalam asam. Sediaan akan
dibuat sebagai sediaan lepas terkendali yang lepas perlahan didalam usus.
Sediaan apakah yang sesuai untuk kriteria zat aktif diatas?
a. Tablet Salut gula
b. Tablet Salut Enterik
c. Tablet Bukal
d. Tablet Sublingual
e. Tablet Floating
2. Seorang pasien yang telah menggunakan metformin dalam jangka waktu singkat
merasakan ketidak praktisannya terhadap obat tersebut. Pasien tersebut menginginkan
penggunaan obat yang tidak terlalu sering namun efek obat tersebut dapat bertahan lama
di dalam tubuh.
Sediaan apa yang dapat digunakan oleh pasien tersebut?
a. Tablet Extended release
b. Tablet prolonged release
c. Tablet delayed release
d. Tablet Immediate release
e. Tablet slow release
3. Epinefrin merupakan suatu hormon yang diproduksi didalam ubuh dalam rangka
meningkatkan tekanan darah. Sediaan epinefrin merupakan vasopressor yang umumnya
digunakan pada saat shock anafilaktik dan dalam operasi untuk menaikkan tekanan darah
pasien. Epinefrin juga dapat ditemukan dalam bentuk pen autoinjector.
Bentuk injeksi apakah yang terdapat dalam pen auto injector tersebut?
a. Intravenous
b. Intramuscular
c. Intradermal
d. intraosseus
e. Subcutaneous
4. Klopidogrel diketahui memiliki beberapa bentuk polimorfisme, seperti klopidogrel
bisulfat dan klopidogrel besilat. Klopidogrel bisulfat dan klopidogrel besilat diketahui
memiliki compliance yang baik terhadap pasien namun tidak memiliki perbedaan
signifikan secara statistik satu sama lain, namun memiliki profil farmakokinetik dan
farmakokinetik yang baik. (http://dx.doi.org/10.1016/j.clinthera.2009.04.017)
Apa yang perlu diperhatikan oleh seorang farmasis dalam menggunakan bahan aktif yang
memiliki polimorfisme?
a. Polimorfisme merupakan senyawa kimia yang sama namun memiliki bentuk tiga
dimensi/struktur kimia yang berbeda dalam bentuk padat.
b. Hal yang perlu diperhatikan antara lain
i. profil farmakokinetik dan farmakodinamik
ii. safety
iii. stability
iv. manufacturability
v. solubility
vi. physicochemical traits
Nama : Rudiansyah
NIM : I4041161027
1. Glibenklamid merupakan senyawa obat golongan sulfonilurea yang digunakan sebagai
antidiabetik oral.Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS) Glibenklamid
termasuk dalam BCS Kelas II yang memiliki permeabilitas baik namun kelarutan yang
rendah. Hal ini dapat menimbulkan masalah obat dalam proses .
A. Absorpsi
B. Distribusi
C. Metabolisme
D. Eksresi
E. Efek
(Sumber : PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 5 No. 1 FEBRUARI 2016
ISSN 2302-2493142 FORMULASI GLIBENKLAMID DENGAN METODE
SELFEMULSIFYING DRUG DELIVERY SYSTEM (SEDDS) DAN UJI INVITRO DISOLUSI)
2. Glibenklamid memiliki kelarutan yang praktis tidak larut air, dimana hanya sekitar 45% dari
dosis oral yang dapat diserap melalui saluran gastrointestinal, sehingga menunjukkan
ketersediaan hayati rendah. Untuk mengatasi kelarutan obat ini. Sediaan apakah yang dapat
dibuat ,..
A. solutio
B. Suspensi
C. Emulsi
D. Sirup
E. Injeksi
( Sumber : Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 5 No. 1 FEBRUARI 2016 ISSN
2302-2493142FORMULASI GLIBENKLAMID DENGAN METODE SELFEMULSIFYING
DRUG DELIVERY SYSTEM (SEDDS) DAN UJI INVITRO DISOLUSI)
3. Propanolol HCl merupakan senyawa pemblok reseptor beta non-selektif dalam pengobatan
hipertensi dan mempunyai waktu paruh eliminasi pendek sekitar 3 jam.Untuk mengurangi
frekuensi pemberian,meningkatkan kenyamanan pasien dan menjaga konsentrasi obat dalam
darah tetap dalam jendela terapeutik. Sediaan apakah yang dapat mengontrol penghantaran
obat yang memiliki jendela terapeutik sempit dan absorsinya baik didalam lambung
A. Tablet dengan sistem sustained release
B. Tablet dengan sistem delayed release
C. Tablet dengan sistem extended release
D. Tablet dengan sistem floating
E. Tablet dengan sistem controlled release
( Sumber : Profil pelepasan propanolol HCl dari tabletlepas lambat dengan sistem
floatingmenggunakan matriks methocel K15M,Majalah Farmasi Indonesia, 18(1), 2007)
4. Absorbsi obat merupakan faktor yang sangat penting dalam memilih cara pemberian obat
yang tepat dan dalam merancang bentuk sediaan yang paling bagus, yang pada akhirnya
menentukan keberhasilan terapi obat. Proses absorbsi yang terjadi sangat ditentukan oleh sifat
fisiko kimia dari satu molekul obat, seperti kelarutan obat. Obat-obat yang memiliki kelarutan
kecil di dalam air akan menyebabkan jumlah obat yang diabsorbsi menjadi kecil. Oleh karena
itu, perlu adanya suatu metoda yang dapat meningkatkan kelarutan dan laju disolusi senyawa
obat di dalam tubuh yaitu dengan cara ..
Jawaban : Sistem dispersi padat adalah suatu sistem dispersi satu atau lebih zat aktif
dalam pembawa inert atau matriks pada keadaan padat yang dibuat dengan metode
pelarutan(solvent method), metode peleburan (meltingmethod), dan metode campuran
(meltingsolvent method). Teknologi sistem dispersi padat merupakan suatu metode
sederhana yang dapat meningkatkan kecepatan melarut zat-zat yang sukar larut, sehingga
dapat meningkatkan laju disolusi dan bioavailabilitasnya.
( Sumber : Chiou W.L., & Riegelman, S. (1971). Pharmaceutical applications of Solid
Dispersion System. J. Pharm. Sci, 60, (9), 1281-1302.)
Nama : Ruth Haryati B.
NIM : I4041161028
1. Sebuah industri farmasi ingin mengembangkan sediaan yang dapat melepaskan obat bila
digunakan dengan makanan dan memperpanjang waktu tinggal obat dalam lambung.
Sediaan yang akan dibuat dalam bentuk akan lepas secara berangsur-angsur. Sediaan
apakah yang sesuai yang direkomendasikan?
a. Tablet floating
b. Tablet bukal
c. Tablet sublingual
d. Tablet salut enteric
e. Tablet salut gula
2. Suatu pengujian terhadap sediaan transdermal untuk melihat profil kelarutan yang
menunjukkan pelarutan obat yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat menjelaskan
peningkatan atau penurunan kecepatan rotasi menggunakan metode...
a. Paddle over disk
b. Rotating basket
c. Paddle
d. Flow cell
e. Reciprocoating disk
3. Suatu sediaan yang dapat digunakan untuk penghantaran obat lokal atau sistemik dan
lebih disukai untuk obat-obat yang tidak dapat ditoleransi secara oral. Sediaan obat dibuat
untuk menghindari first pass-effects oleh enzim. Sediaan apakah yang direkomendasikan?
a. Sediaan Rektal
b. Sediaan Kolonik
c. Sediaan Parenteral
d. Sediaan Nasal
e. Sediaan Sublingual
4. Metode penilaian bioavailabilitas dari suatu produk obat dapat ditetapkan dengan
membandingkan faktor apa saja?
Jawab :
1.Data plasma meliputi :
i.Waktu konsentrasi plasma (darah) mencapai puncak (Tmax)
ii.Konsentrasi plasma puncak (Cp max)
iii.Area di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu (AUC)
2.Data urine :
i.Jumlah kumulatif obat yang diekskresi dalam urnie (Du)
ii.Laju ekskresi obat dalam urine (dDu/dt)
iii.Waktu untuk terjadi ekskresi obat maksimal dalam urine
3. Efek farmakologis obat
4. Pengamatan klinik
Daftar Pustaka:
Shargel L, Wu-Pong S, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi Kelima.
Surabaya : Airlangga University Press ; 2012
Shargel L, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi Kedua. Surabaya :
Airlangga University Press ; 1988
Nama : Shinta Anggraini
NIM : I4041161029
1. Seorang farmasis ingin membuat sediaan obat dengan mempertimbangkan peruraian obat
yang terjadi melalui katalisis asam atau basa. Seperti pada penggunaan obat eritromisin
yang mempunyai profil stabilitas yang bergantung ph. Dalam suatu media yang bersifat
asam seperti lambung, peruraian eritromisin terjadi secara cepat, sedangkan pada ph
netral atau alkali obat tersebut relatif stabil. Obat eritromisin tersebut ingin dibuat untuk
melindungi kerusakan terhadap asam lambung. Sediaan apakah yang sesuai untuk
direkomendasikan pada farmasis tersebut?
a. Tablet salut enteric
b. Tablet Bukal
c. Tablet Salut Gula
d. Tablet Sublingual
e. Tablet Floating
Sumber : Shargel L, Wu-Pong S, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi
Kelima. Surabaya : Airlangga University Press ; 2012.
2. Sebuah industri farmasi ingin mengembangkan tablet salut enterik yang merupakan
contoh dari jenis pelepasan tertunda dari bentuk sediaan dengan pelepasan yang
dimodifikasi. Seperti pada penggunaan tablet Mesalamin (asam 5-amino salisilat) yang
merupakan suatu tablet pelepasan tertunda yang disalut dengan suatu resin akrilik yang
menunda pelepasan mesalamin sampai mencapai ileum terminal dan kolon. Produk obat
dengan pelepasan seperti apa yang sesuai dengan obat tersebut?
a. delayed-release
b. controlled-release
c. targeted-release
d. extended-release
e. sustained-release
Sumber : Shargel L, Wu-Pong S, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi
Kelima. Surabaya : Airlangga University Press ; 2012.
3. Suatu pengujian terhadap sediaan suspensi dapat dilihat profil kelarutan yang
menunjukkan pelarutan pada obat tersebut terlalu lambat atau terlalu cepat yang
menjelaskan peningkatan atau penurunan kecepatan rotasi. Metode pelarutan apa yang
sesuai terhadap sediaan suspensi tersebut?
a. Metode cyllinder
b. Metode Flow cell
c. Metode Rotating basket
d. Metode Paddle
e. Metode Reciprocating disk
Sumber : Shargel L, Wu-Pong S, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi
Kelima. Surabaya : Airlangga University Press ; 2012.
4. Penentuan bioavailabilitas dari data ekskresi urine kurang memuaskan dibandingkan bila
menggunakan data darah karena studi ekresi urine yang akurat. Faktor apa saja yang
dibutuhkan?
Jawaban :
a. Pengumpulan cuplikan urine secara lengkap.
b. Fungsi renal yang normal atau mendekati normal.
c. Obat diekresikan dalam bentuk utuh secara lengkap oleh ginjal.
Keterangan :
Data ekskresi obat lewat urine dapat dipakai untuk memperkirakan bioavailabilitas
agar dapat perkiraan yang sahih, obat harus diekresikan dalam jumlah yang bermakna di
dalam urine dan cuplikan urine harus dikumpulkan secara lengkap. Ginjal sebagai organ
eliminasi utama obat harus berfungsi sebagaimana mestinya jika obat dieliminasi secara
efisien. RBF (Renal Blood Flow) dan GFR (Glomerular filtration) akan relatif konstan jika
fungsi ginjalnya normal, namun jika fungsi ginjalnya tidak normal menyebabkan volume
dan Ph urine bervariasi, hal ini menyebabkan perubahan kecepatan urine yang signifikan.
Untuk data ekskresi urine, hanya diperlukan jumlah yang signifikan dari obat yang
diekresikan secara utuh (tidak berubah), tidak harus semuanya (lengkap).
Sumber : Shargel L, Andrew BC. Biofarmasetika & Farmakokinetika Terapan Edisi Kedua.
Surabaya : Airlangga University Press ; 1988.
Nama : Sri Mulyana
NIM : I4041161030
1. Suatu obat dapat mencapai tempat kerja di jaringan atau organ jika obat tersebut dapat
melewati membran sel yang bertindak sebagai membran lipid semipermeabel. Mekanisme
vaksin polio oral (sabin) dapat terabsorbsi setelah melewati membran sel terjadi melalui
proses(1) ..
a. Difusi pasif
b. Transpor aktif
c. Pinositosis
d. Difusi terfasilitasi
e. Transpor melalui pori
2. Uji pelarutan in vitro merupakan uji yang bertujuan untuk mengukur jumlah pelarutan obat
dalam suatu media aqueos. USP-NF telah menetapkan syarat pelarutan produk yang diuji
menggunakan metode keranjang dan dayung. Jika kriteria penerimaan masing-masing unit
tidak kurang dari Q+15%, berapa banyakkah jumlah produk yang harus diuji(1)..
a. 6
b. 9
c. 12
d. 15
e. 18
3. Kloramfenikol merupakan obat yang dapat dipilih pada pengobatan infeksi mata. Diketahui
kelarutan kloramfenikol didalam air sangat rendah yaitu sebesar 0,25%, sehingga digunakan
polimer berupa PEG 300 dan gliserin dalam fomulasi sediaannya. Tujuan penambahan
polimer tersebut untuk meningkatkan kelarutan kloramfenikol. Apa teknik dari peningkatan
kelarutan kloramfenikol yang disebabkan oleh polimer tersebut ..
a. Peningkatan pH sediaan
b. Kompleksasi
c. Pelarutan misellar
d. Ionisasi
e. Kosolvensi
4. Bagaimana pengaruh antara nilai pKa obat dan pH medium tempat obat terlarut pada obat
yang bersifat elektrolit lemah ? berikan contohnya! (1)
Nilai pKa dan pH suatu medium dapat mempengaruhi jumlah obat yang terionisasi. Jika suatu
obat elektrolit lemah memiliki pKa yang lebih kecil dibandingkan pH mediumnya maka akan
mengakibatkan semakin besar obat tersebut terionkan sehingga semakin kecil konsentrasi
obat yang dapat diabsorbsi. Namun jika pH medium lebih kecil dibandingkan dengan nilai
pKa obat maka jumlah obat yang teriokan semakin kecil dan semakin besar konsentrasi obat
bebs yang dapat diabsorbsi. Contohnya adalah asam salisilat memiliki nilai pKa 3 sangat
banyak terionisasi pada cairan plasma tubuh yang memiliki pH 7,4, namun pada lambung
dengan pH 1,2 asam salisilat akan mudah terabsorbsi.
Referensi Literatur :
1. Shargel, Leon dan Andrew B.C Yu. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Edisi 2.
Surabaya : Airlangga University Press.2005.
2. Jithan, A.V, C. Krishna Mohan dan M. Vimaladevi. Development and Evaluation of a
Chloramphenicol Hypertonic Ophtalmic Solution. IJPS. 2008 : 70 : 66-70.
Nama : Sri Rahayu
NIM : I4041161031
1. Seorang peneliti ingin memformulasikan ketoprofen yang digunakan untuk mengobati
gangguan muskoloskaletal dan sendi. Ketoprofen memiliki kelarutan yang rendah, dimana hal
tersebut mengakibatkan laju disolusi obat rendah sehingga mempengaruhi absorbsi dan
bioavaibilitas ketoprofen didalam tubuh. Berdasarkan biopharmaceutis classification system
(BCS), ketoprofen termasuk kelompok obat BCS kelas berapa(1) ..
a. Kelas 1
b. Kelas 2
c. Kelas 3
d. Kelas 4
e. Kelas 5
2. Mekanisme absorbs obat melalui system gastrointestinal dapat terjadi melalui berbagai cara.
Karakteristik yang mempengaruhi absorbs secara difusi pasif adalah(2)..
a. pKa obat
b. Diameter pori
c. Protein barrier
d. Jumlah pori
e. Muatan elektrik
3. Seorang peneliti ingin menguji bioekivalensi antar produk obat bermerk dan generik berlogo
tablet furosemid secara in vitro. Sebagai uji pendahuluan bioavabilitas dan bioekivalensi
produk obat diperlukan uji disolusi. Uji disolusi yang tepat adalah(3)..
a. Tipe 1
b. Tipe 2
c. Tipe 3
d. Tip3 4
e. Tipe 5
4. Jelaskan alasan peningkatan dosis rimpaficin pada pasien TB(2)!
Penggunaan rimpaficin dalam waktu yang lama dengan dosis tetap akan mengakibatkan
penurunan kadar rimpaficin yang terdapat di dalam darah. Penurunan ini disebabkan oleh
enzim pemetabolisme ripamficin yang diinduksi sendiri (self induction) didalam tubuh. Oleh
karena itu untuk mendapatkan efek terapi yang sama besar dosis penggunaan ripamficin harus
dinaikkan dari waktu ke waktu selama penggunaan agar kemampuan membunuh
mikroorganisme tidak berkurang dan tidak menimbulkan resistensi.
Referensi Literatur :
1. Shohin IE, Kulinich JI, Ramensyaka GV, Vasilenko GF. Evaluation of In Vitro
Equivalence for Drugs Containing BCS class II Compound Ketoprofen, Disolution
Technologies. 2011 : 26-29.
2. Hakim, Lukman. Farmakokinetik Klinik. Bursa Ilmu. Yogyakarta. 2006.
3. Aryani, Ni Luh Dewi, Christina Avanti, Siti Aisyah dan Anis Thohiroh. Uji Bioekivalensi
In Vitro Produk Obat Bermerk dan Generik Berlogo Yang Mengandung Furosemid.
Fakultas Uiversitas Surabaya. 2006.
Nama : Suntoro
NIM : I4041161032
1. Pembentukan garam ambroksol menjadi ambroksol HCl akan memperbaiki
bioavailabilitasnya karena.
a. Proses transport menjadi transport aktif karena ion ambroksol-H + tidak bisa larut
dalam membran
b. Disolusi menjadi cepat karena obat menjadi mudah larut
c. Fraksi obat dalam bentuk molekul lebih banyak daripada jika diberikan dalam bentuk
basa bebasnya
d. Permeabilitas menjadi lebih besar karena pH medium menjadi lebih kecil
e. Pernyataan soal salah, bioavailabillitas turun karena terbentuk ion lebih banyak
padahal ion sulit larut dalam membran.
2. Pembentuika dispersi padat parasetamol (kelarutan 1: 70) dengan PVP sangat
menguntungkan karena
a. Disolusi semakin baik karena peningkatan harga A
b. Disolusi semakin baik karena peningkatan harga Cs
c. Justru merugikan karena parasetamol menjadi terikat dengan PVP yang BM nya
besar sehingga D turun
d. Justru merugikan karena PVP bersifat viskous sehingga harga D turun
e. Biaya tidak sebanding dengan peningkatan bioavailabilitas karena parasetamol tidak
bermasalah dengan disolusi.
3. Pengaruh koefisien partisi obat terhadap bioavailabilitas sediaan tablet oral
a. Untuk obat yang rate limiting stepnya pada tahap disolusi, semakion tinggi koefisien
partisi bioavailabilitasnya semakin baik
b. Untuk obat yang rate limiting stepnya pada tahap permeasi, semakin tinggi koefisien
partisi bioavailabilitasnya semakin jelek
c. Semakin tinggi harga koefisien partisi , bioavailabilitasnya semakin baik, dan teus
semakin baik
d. Semua jawaban salah
4. Pembentukan kompleks antara furosemide dengan PEG justru menurukan
bioavailabilitas furosemide, karena furosemide justru terikat dengan PEG suatu molekul
besar yang bersifat polar. Senyawa ini (kompleks furosemide dan PEG mempunyai
koefisien difusi dalam medium disolusi maupun dalam membrane yang kecil karena
besarnya jari-jari molekul. Juga mempunyai koefisien partisi yang kecil karena kepolaran
PEG
Terangkan bahwa pernyataan di atas salah!
Ikatan kompleks obat dengan senyawa polar diharapkan berrsifat reversible. Kelarutan
akan meningkat dengan pembentukan kompleks ini, sehingga bioavailabilitasnya juga
meningkat. Kompleksasi yang bersifat reversible tidak mengurangi absorbsi karena
ikatan ini nanti nya akan pecah pada proses pelarutan kemudian obat bebasnya diabsobsi.
Pengurangan obat bebas karena terabsorbsi akan menyebabkan lepasnya ikatan obat
dengan kompleksan yang baru sedemikian sehingga harga konstanta kompleksasi
kembali ke semula.
REFERENSI
Banker G.S. dan Rhodes C.T., 1995, Modern Pharmaceuticsd, edisi 3. Marcel Dekker, New York
Shargel, L, Wu-Pong, S, Yu, A.B.C., 2005, Applied Biopharmaceutical and Pharmacokinetics,
Fifth ed, Apleton and Lance Nortwolk
Notari, E., R ., 1980 Biopharmaceutical and Clinical Pharmacokinetics: An Introduction, # rd
edition, Marcel Dekker, New York
Nama : Tesah
NIM : I4041161033
1. Peningkatan kecepatan aliran darah akan meningkatkan kecepatan absobsi secara
signifikan jika ......
a. Rate Limiting step obat pada tahap permeasi menembus membran.
b. Obat mempunyai permeabilitas membran yang tinggi
c. Transport berlangsung pada kondisi sink
d. Koofisien partisi lipid air obat kecil
e. Obat susah terdisolusi
2. Fase Biofarmasetika yang dialami oleh suatu formula Obat dan Tablet Khususnya, dapat
di uraikan dalam tiga tahap secara berurutan yaitu,....
a. Disolusi, liberasi, dan absorbsi
b. Liberasi, absorbsi, dan disolusi
c. Liberasi, disolusi dan absorbsi
d. Absorbsi, liberasi, dan disolusi
e. Disolusi, absorbsi, dan liberasi
3. Berikut adalah pernyataan yang benar mengenai volume distribusi adalah...
a. Volume distribusi berbanding lurus Cp ( Konsentrasi Plasma )
b. Volume distribusi obat yang bersifat lipofil akan lebih kecil pada pasien yang
mengalami obesitas.
c. Volume distribusi berbanding terbalik dengan dosis obat
d. Volume distribusi berbanding terbalik dengan Cp ( Konsentrasi Plasma ).
e. Volume distribusi bukan gambaran volume Cairan tubuh yang sebenarnya.
4. Jelaskan Sifat Fisika Kimia Zat Aktif Dalam Pemilihan Zat Pembawa
Jawaban :
1. Zat Aktif larut air, lebih disukai menggunakan basis berlemak dengan suhu lebur
lebih kecil dari suhu rektum
2. Zat Aktif sukar larut maka harus menggunakan partikel yang halus.
3. Zat Aktif dalam bentuk cairan, maka harus dipilih pembawa yang mempunyai suhu
lebur lebih tinggi dari Zat Aktif.
4. Bila terdapat senyawa hidrofil maka dipilih pembawa yang dapat diemulsikan dengan
cepat.
5. Bila bobot jenis sangat tinggi maka sebaiknya dipilih bahan pembawa dengan laju
pelarutan yang cepat.
Daftar Pustaka
Leon Shargel, dan Andrew B.C.Yu Biofarmasetika Ed.Kedua
Notari, E.R. 1980 , Biopharmaceutic and Clinical Pharmacocinetic : An Introduction, 3 rd Edition,
Marcel Dekker, New York
Nama : Urai Rini Harviani
NIM : I4041161034
1. MDI adalah alat terapi inhalasi dengan dosis yang terukur yang disemprotkan dalam
bentuk gas ke dalam mulut dan dihirup. Dalam menyemprotkannya didorong
menggunakan....
a. Propelan
b. Spacer
c. Ultrasonic Nebulizer
d. Nebulizer
e. Jet Nebulizer
(Milala Sembiring, A, 2013, Inhalasi Serbuk Kering sebagai Sistem Penghantaran Obat
Pulmonar, Vol 6, No 02, Nephrology & Hypertension Division, Department of Internal
Medicine, Fakultas Farmasi Universitas Surabaya).
2. Perbedaan pokok antara mekanisme transport difusi pasif dengan transport konvektif
adalah
a. Transport konvektif pada membran yang hidup sedangkan difusi pasif tidak
b. Difusi pasif mengikuti kinetika ordo pertama sedangkan transport aktif mengikuti
kinetika ordo ke-nol
c. Difusi pasif bisa mengalami kejenuhan sedangkan transport konvektif tidak
d. Transport konvektif perlu energi sedangkan difusi pasif tidak
e. Difusi pasif obat larut dalam membran, transport aktif obat melewati pori membran
(Banker G.S. dan Rhodes C.T., 1995, Modern Pharmaceutics, edisi 3, Marcel Dekker,
New York)
3. Pembentukan garam ambroksol menjadi ambroksol HCl akan memperbaiki
bioavailabilitanya karena
a. Proses transport menjadi transport aktif karena ion ambrolsol-H + tidak bisa larut
dalam membran
b. Disolusi semakin cepat karena obat menjadi mudah larut
c. Fraksi obat dalam bentuk molekul lebih banyak dari pada jika diberikan dalam
bentuk basa bebasnya
d. Permeabilitas menjadi lebih besar karena pH medium semakin kicil
e. Pernyataan soal salah, bioavailabilitas turun karena terbentuk ion lebih banyak,
padahal ion susah
(Natori, E, R, 1980, Biopharmaceutics and Clinical Pharmacocinetics : An Introduction,
3rd Edition, Marcel Dekker, New York)
4. Apa perbedaan bioavaibilitas dan bioekivalensi, kapan di perlukannya pengujian
bioavabilitas dan bioekivalensi?
Jawaban :
Bioavailabilitas adalah Persentase dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang
mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif setelah pemberian
produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari
ekskresinya dalam urin.
Bioavailabilitas absolut : bila dibandingkan dengan sediaa intravena yang
bioavailabilitasnya 100%
Bioavailabilitas relatif : bila dibandingkan dengan sediaan bukan intravena.

Bioekivalensi Dua produk obat disebut bioekivalen jika keduanya mempunyai ekivalensi
farmaseutik atau merupakan alternatif farmaseutik dan pada pemberian dengan dosis
moral yang sama akan menghasilkan biovailabilitas yang sebanding sehingga efeknya
akan sama, dalam hal efikasi maupun keamanan. Jika bioavailabilitasnya tidak memenuhi
kriteria bioekivalen maka kedua produk obat tersebut disebut bioinekivalen.
dilakukan uji bioavalabilitas dan bioekivalensi karena uji BA difokuskan pada penentuan
bagaimana obat dilepas dari sediaan dan bergerak ke tempat kerjanya. Dokumentasi uji
BA dapat digunakan untuk menilai kinerja produk obat yang digunakan dalam uji klinis
untuk mendapatkan bukti keamanan dan efikasinya. uji BE juga bisa diterapkan jika
terjadi perubahan pada formulasi dan/atau proses manufaktur, sepanjang daur hidup
produk. FDA memberikan pedoman tingkat perubahan untuk menentukan apakah
perubahan tersebut mengharuskan uji BE ulang atau cukup dengan uji komparasi in vitro
FDA (2003a) Guidance for Industry : Bioavailability and Bioequivalence Studies for Orally
Administered Drug Products - General Considerations.
http://www.fda.gov/ohrms/dockets/ac/03/briefing/3995B1_07_GFI-BioAvail-BioEquiv.pdf

Nama : Vinsensius Agus


NIM : I4041161035
1. Obat antihipertensi ini jika diberikan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan
efek samping batuk yang berkepanjangan adalah ?
a. Propanolol
b. Metildopa
c. Captopril
d. Amlodipin
e. Furosemid
Daftar pustaka : Heri fitrianto, dkk., 2014, Penggunaan obat hipertensi pada pasien
hipertensi esensial.
2. Terapi ini diberikan kepada pasien diabetes militus Tipe 2 tanpa komplikasi yang gagal
dikendalikan dengan diet dan obat DM golongan sulfonilurea terutama diberikan pada
pasien obesitas adalah ?
a. Pioglitazon
b. Akarbose
c. Sitagliptin
d. Metformin
e. Glimepirid
Daftar Pustaka : Restyana Noor F, 2015, Diabetes Militus Tipe 2 , Lampung.
3. Obat antihipertensi ini bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit pada sistem
tubulus, dengan begitu osmolalitas lumen dipertinggi sehingga pengambilan cairan
ditekan dan dapat mengurangi terjadinya udema adalah ?
a. Diuretik
b. Alpha blocker
c. Beta blocker
d. Angiostensin reseptor blocker
e. Ace inhibitor
Daftar Pustaka : Shargel, L, Wu-pong, S, Yu, A.B.C., 2005, Applied
Biophamaceutics and Pharmacokinetics, fifth Ed., Apleton & Lance Nortwolk.
4. Faktor-faktor dan sifat bahan obat yang membantu dalam setiap tahapan yang dilalui obat
dari sediaan hingga mencapai sirkulasi sistemik adalah ? terdapat beberapa faktor yang
turut campur dalam penurunan proporsi obat dalam mencapai sirkulasi sistemik,
diantaranya yaitu tidak lengkapnya penyerapan melalui membran GIT (Gastrointestinal
Tract), keseluruhan dosis harus melalui hati, dan first-pass effect bertanggung jawab
dalam ekskresi dan metabolisme hati yang merupakan faktor utama dalam pengurangan
bioavailabilitas obat yang bersifat lipofilik, first-pass effect tambahan yang mengarah ke
metabolisme dapat terjadi di GIT sendiri. Sehingga, faktor-faktor diatas harus dihindari
atau diminimalisir agar dapat membantu obat mencapai sirkulasi sistemik,
( Understanding Drug Release : 251)
Nama : Wiwin Anditasari
NIM : I4041161036
1. Propanolol HCl merupakan senyawa pemblok reseptor beta non-selektif dalam
pengobatan hipertensi yang dapat diformulasi dalam bentuk sediaan sustained release.
Kriteria apakah yang dimiliki propanolol sehingga cocok untuk dibuat sediaan sustained
release?
a. Memiliki aksi lokal di lambung
b. Absorbsi baik di lambung
c. Tidak stabil dan terdegradasi didalam saluran intestinal/kolon
d. Kelarutannya rendah pada PH tinggi
e. Diabsorbsi cepat dilambung
2. Dekstrometorfan merupakan obat yang berkhasiat menekan rangsangan batuk. Untuk
menutupi rasa pahit dan memperpanjang lama kerja obat dekstrometorfan telah
diformulasikan dengan menggunakan salah satu prinsip sediaan pelepasan terkendali.
Jenis produk pelepasan terkendali apakah yang digunakan pada formulasi
dekstrometorfan?
a. Sediaan lepas lambat jenis pellet
b. Tablet prolonged-action
c. Sediaan ion exchange
d. Tablet berinti
e. Tablet matriks jenis gom.
3. Obat yang merupakan diuretik kuat, terutama diberikan pada penderita hipertensi. Obat
ini sukar larut dalam air dan termasuk ke dalam Biopharmaceutical Classification System
(BCS) Class IV. Obat apakah ini?
a. Furosemide
b. Captopril
c. Hidroklorthiazid
d. Spironolakton
e. Klortalidon
4. Sebagian besar obat berikatan atau membentuk kompleks dengan protein dengan proses
reversibel. Salah satu faktor yang mempengaruhi ikatan obat protein yaitu kondisi
patofisiologik pasien. Bagaimana ikatan obat protein pada penderita uremia dan penderita
dengan penyakit hati?
Jawaban:
Ikatan obat protein pada penderita uremia dan penderita dengan penyakit hati dapat
menurun. Penurunan ikatan protein dapat mengakibatkan kenaikan konsentrasi obat
bebas yang akan memungkinkan lebih banyak obat melewati membran sel dan
didistribusikan ke semua jaringan.
Sumber:
1. T.N. Saifullah. S., Yandi Syukri, Rini Utami. Profil Pelepasan propanolol HCl dari tablet
lepas lambat dengan system floating menggunakan matriks methocel K15M. Majalah
Farmasi Indonesia. 2007
2. Shargel, Leon., Andrew B.C.YU. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya : Airlangga University Press. 2005.
3. Ellies Tianti, Annas Binarjo, Tdjo Yuwono. Ketersediaan Hayati Dispersi Padat
Furosemid dengan polietilenglikol 400 ( PEG 400 ) Pada Kelinci Jantan. Majalah
Farmasi Indonesi. 2005.
Nama : Yoga Pratama L Tobing
NIM : I4041161037
1. Atorvastatin merupakan obat kolesterol golongan Statin. Obat tersebut memiliki kelarutan
yang rendah, namun memiliki permeabilitas yang tinggi. Sehingga obat tersebut tergolong
ke dalam BCS II. Oleh sebab itu rate limiting step dari atorvastatin adalah...
a. Disolusi
b. Absorbsi
c. Distribusi
d. Metabolisme
e. Eksresi
Aini, Nurul., Ratih D.S., dan Intan S.O. Profil Disolusi Terbanding, Penetapan Kadar, dan
Kualitas Fisik Tablet Atorvastatin Inovator, Generik Bernama Dagang, dan Generik.
Jurnal Farmasi Indonesia, 5(2): 90-7.
2. Metformin merupakan obat diabetes golongan sulfonilurea yang bekerja secara ekstra
pankreatik. Obat tersebut tidak dimetabolisme pada daerah pencernaan. Oleh sebab itu,
dalam upaya agar metformin dapat dimetabolisme di dalam daerah pencernaan dapat
digunakan bentuk sediaan...
a. Delayed released dan Site specific released
b. Delayed released dan Programmed released
c. Delayed released dan Extended released
d. Site specific released dan Programmed released
e. Site specific released dan Extended released
Buse, J.B., R.A. DeFronzo, J. Rosentock, T. Kim, dkk. The Primary Glucose-Lowering Effect of
Metformin Resides in the Gut, Not the Circulation: Results From Short-term
Pharmacokinetic and 12-Week Dose-Ranging Studies. Diabetes Care; 39(2016): 198-205.
3. Salah satu startegi Fixed dose combination adalah dengan menentukan jumlah studi
bioekivalensi terhadap kekuatan dosis obat terhadap biowaiver. Kombinasi amlodipin dan
atovastatin dalam foxed dose combination merupakan salah satu kombinasi yang berhasil
dikembangkan dari teknik tersebut. Amlodipin yang umumnya beredar yaitu dengan dosis
terkecil 2,5 mg dan terbesar 20 mg. sedangkan atrovastatin yaitu 10 mg hingga 80 mg.
berdasarkan teknik biowaiver dan studi ekivalensi, berapa jumlah kombinasi amlodipin-
atorvastatin yang dapat dikembangkan...
a. 7
b. 8
c. 9
d. 10
e. 11
Kota, Jagannath., Paninatha S.A., dan Rama S. Development of Orally Administered Fixed Dose
Combination (FDC) Products: Pharmacokinetic And Biopharmaceutical Considerations.
IJPSR, 6(8); 3161-73
4. Fixed dose combination merupakan salah satu upaya pengembangan obat untuk memenuhi
kebutuhan obat, efikasi yang lebih baik dan mengurangi adverse effect. Secara
biofarmasetika terdapat 3 permasalah tidak dapat ditentukan fixed dose combination yaitu?
a. Dosis yang terlalu besar
b. Inkompatibiltas sifat fisikokimia hasil kombinasi
c. Dibutuhkan formulasi khusus seperti eksipien khusus, maupun proses manufaktur khusus
Kota, Jagannath., Paninatha S.A., dan Rama S. Development of Orally Administered Fixed Dose
Combination (FDC) Products: Pharmacokinetic And Biopharmaceutical Considerations.
IJPSR, 6(8); 3161-73
Nama : Yuli Evi Yanti
NIM : I4041161038
1. Industri farmasi akan membuat obat dalam bentuk sediaan oral yang memiliki permeabilitas
tinggi dan kelarutan yang rendah.Obat tersebut dikategorikan dalam Sistem Klasifikasi
Biofarmasetika (BCS) kelas II.
Manakah obat yang dimaksud ?
a. Propanolol
b. Asam mefenamat
c. Ranitidin
d. Metoprolol
e. Verapamil
(FDA,2008)
2. Sebuah industri telah memproduksi produk obat dalam bentuk tablet yang siap dipasarkan.
Untuk menjamin kualitas produk obat, dilakukanlah uji stabilias jangka panjang sampai
dengan waktu kadaluarsa yang tertera pada kemasan. Uji stabiltas jangka panjang dengan
penyimpanan pada suhu kamar untuk sediaan tablet dilakukan pada kondisi:
a. Suhu 250 dan RH 75
b. Suhu 300 dan RH 65
c. Suhu 300 dan RH 75
d. Suhu 400 dan RH 75
e. Suhu 400 dan RH 65
(Forced Degradation Studies: Regulatory considerations and Implementation).
3. Glimepirid merupakan obat antidiabetik oral golongan sulfonil urea generasi ketiga. Obat ini
termasuk dalam BCS kelas II. Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan
absorpsi dan disolusi obat ini dapat dibuat dalam bentuk
a. Suspensi
b. Ko-kristal
c. Floating tablet
d. Dispersi padat
e. Tablet
(Nurjanah Gina, 2015)
4. Faktor apa saja yang mempengaruhi biofarmasetika zat aktif obat yang akan masuk kedalam
aliran darah?
Jawab:
a. Sifat fisika kimia obat
b. Ukuran partikel
c. Bentuk Kristal
d. Ukuran molekul
e. Stabilitas obat
f. Sifat asam basa.